Iman

Contoh Para Sahabat dan Salaf Sholih dalam Bertawassul (Bagian 1)

Tawassul Dengan Nabi Saw Ketika Beliau Masih Hidup

Berdo’a dengan metode tawassul juga telah diajarkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, diantara sahabat yang berdo’a dengan cara tawassul adalah kisah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Hakim dan Imam At Tirmidzi.

‘Utsman bin Hunaif mengisahkan bahwa pada suatu ketika ada seorang lelaki buta mengadu kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, ia berkata kepada Rosululloh :

يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ وَقَدْ شَقَّ عليَّ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ :اِئْتِ الْمِيْضأةَ فَتَوَضَّأْ ثُمَّ صَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ فَيُجْلِي لِي عَنْ بَصَرِي ، اللَّهُمَّ شَفِّعْهُ فِيَّ وَشَفِّعْنِي فِي نَفْسِي ، قَالَ عُثْمَانُ : فَوَاللهِ مَا تَفَرَّقْنَا وَلَا طَالَ بِنَا الْحَدِيْثُ حَتَّى دَخَلَ الرَّجُلُ وَكَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بِهِ ضَرَرٌ

“Ya Rosulalloh, sungguh saya tidak memiliki penuntun dan saya merasa berat,” kata laki-laki buta tersebut. Kemudian Rosululloh memerintahkan : “Pergilah ke tempat wudhu dan berwu-dhulah, kemudian sholatlah dua roakaat.”

Selanjutnya laki-laki tersebut berdo’a : “Ya Alloh, sungguh saya memohon kepada-Mu dan bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu Muhammad, Nabi rohmat. Wahai Muhammad saya bertawassul denganmu kepada Tuhanmu agar Dia menyembuhkan pandanganku. Ya Alloh, terimalah syafa’atnya untukku dan terimalah syafaatku untuk diriku.”

Utsman (yang meriwayatkan hadits) berkata : “Maka demi Alloh, kami belum bubar dan belum lama obrolan selesai, sampai lelaki buta itu masuk seolah ia belum pernah mengalami kebutaan.”

Imam Al Hakim meriwayatkan hadits diatas dalam Al Mustadrok, dan beliau berkata bahwa hadits tersebut shohih, sedang Imam At Tirmidzi menilai hadits diatas sebagai hadits hasan shohih yang ghorib.

Perlu dicatat, bahwa dalam redaksi hadits tersebut tidak terdapat keterangan bahwa Rosululloh mendo’akan laki-laki tersebut, Rosululloh hanya menyuruhnya berwudhu, kemudian sholat dua roka’at dan mengajari berdo’a sebagaimana dalam hadits diatas.

 

Tawassul Dengan Nabi Sesudah Wafatnya Beliau

Utsman bin Hunaif Mengajarkan Tawassul

Dalam riwayat Imam At Thobaroni, sahabat ‘Utsman bin Hunaif menuturkan sebuah kisah yang berkaitan dengan hadits diatas:

أَنَّ رَجُلاً كَانَ يَخْتَلِفُ إِلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي حَاجَةٍ لَهُ ، وَكَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِ وَلَا يَنْظُرُ فِي حَاجَتِهِ ، فَلَقِيَ الرَّجُلُ عُثْمَانَ بْنَ حُنَيْفٍ فَشَكَا ذَلِكَ إِلَيْهِ ، فَقَالَ لَهُ عُثْمَانُ بْنُ حُنَيْفٍ : اِئْتِ الْمِيْضأةَ فَتَوَضَّأْ ثُمَّ ائْتِ الْمَسْجِدَ فَصَلِّ فيه رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قُلْ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ فَيَقْضِي حَاجَتِي . وَتَذْكُرُ حَاجَتَكَ. فَانْطَلَقَ الرَّجُلُ فَصَنَعَ مَا قَالَ لَهُ ، ثُمَّ أَتَى بَابَ عُثْمَانَ فَجَاءَ الْبَوَّابُ حَتَّى أَخَذَ بِيَدِهِ فَأَدْخَلَهُ عَلَى عُثْمَانَ فَأَجْلَسَهُ مَعَهُ عَلَى الطَّنْفَسَةِ وَقَالَ : مَا حَاجَتُكَ ؟ فَذَكَرَ حَاجَتَهُ فَقَضَاهَا لَهُ ، ثُمَّ قَالَ: مَا ذَكَرْتَ حَاجَتَكَ حَتَّى كَانَتْ هَذِهِ السَّاعَةُ ثُمَّ قَالَ: مَا كَانَتْ لَكَ حَاجَةٌ فَائْتِنَا ، ثُمَّ إِنَّ الرَّجُلَ لَمَّا خَرَجَ مِنْ عِنْدِه لَقِيَ عُثْمَانَ بْنَ حُنَيْفٍ وَقَالَ لَهُ : جَزَاكَ اللهُ خَيْراً مَا كَانَ يَنْظُرُ فِي حَاجَتِي وَلَا يَلْتَفِتُ إِلَيَّ حَتَّى كَلَّمْتَهُ فِيَّ ، فَقَالَ عُثْمَانُ بْنُ حُنَيْفٍ: وَاللهِ مَا كَلَّمْتُهُ ، وَلَكِنْ شَهِدْتُ رَسُوْلَ اللهِ وَأَتَاهُ رَجُلٌ ضَرِيْرٌ فَشَكَا إِلَيْهِ ذِهَابَ بَصَرِهِ ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ :أَوَ تَصْبِرُ ؟ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ وَقَدْ شَقَّ عليَّ ، فَقَالَ لَهُ النَّبِي :اِئْتِ الْمِيْضأةَ فَتَوَضَّأْ ثُمَّ صَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ ادْعُ بِهَذِهِ الدَّعَوَاتِ ،فَقَالَ عُثْمَانُ بْنُ حُنَيْفٍ: فَوَاللهِ مَا تَفَرَّقْنَا وَلَا طَالَ بِنَا الْحَدِيْثَ حَتَّى دَخَلَ الرَّجُلُ وَكَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بِهِ ضَرَرٌ قَطُّ

banner 2 2 - Contoh Para Sahabat dan Salaf Sholih dalam Bertawassul (Bagian 1)

bahwasannya pada masa pemerintahan Kholifah ‘Utsman bin ‘Affan, Seorang lelaki berulang-ulang datang kepada ‘Utsman ibn ‘Affan untuk keperluannya. ‘Utsman sendiri tidak pernah menoleh kepadanya dan tidak mempedulikan keperluannya. Lalu lelaki itu bertemu dengan ‘Utsman ibn Hunaif. Kepada Utsman ibn Hunaif ia mengadukan sikap Utsman ibn ‘Affan kepadanya.
‘Utsman bin Hunaif menyuruh laki-laki tersebut : “Pergilah ke tempat wudlu, lalu masuklah ke masjid untuk sholat dua raka’at. Kemudian bacalah doa’ : Ya Alloh sungguh saya memohon kepada-Mu bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu Muhammad, Nabi rahmat. Wahai Muhammad, saya menghadap kepada Tuhanmu denganmu. Maka kabulkanlah keperluanku. ” Dan sebutkanlah keperluanmu.
Lelaki itu pun pergi melaksanakan saran dari Utsman ibn Hunaif. Kemudian ia datang menuju pintu gerbang Utsman ibn Affan yang langsung disambut oleh penjaga pintu. Dengan memegang tangannya, sang penjaga langsung memasukkannya menemui Utsman ibn Affan. Kholifah (Utsman Ibn Affan) kemudian mempersilahkan keduanya duduk di atas permadani bersama dirinya. “Apa keperluanmu?” tanya Kholifah. Lelaki itu pun menyebutkan keperluannya, kemudian Kholifah memenuhinya. “Engkau tidak pernah menyebutkan keperluanmu hingga tiba saat ini.” kata Utsman, “Jika kapan-kapan ada keperluan datanglah kepada saya,” lanjut Utsman Ibn Affan.
Setelah keluar, lelaki itu berjumpa dengan Utsman ibn Hunaif dan menyapanya, ia mengira sebelum dirinya bertemu Kholifah, terlebih dahulu ‘Utsman bin Hunaif telah menemui sang Kholifah guna menyampaikan hajatnya, akan tetapi ‘Utsman bin Hunaif menolak prasangka leleki tersebut, dan berkata : “Demi Alloh, saya tidak pernah berbicara dengan Utsman ibn Affan. Namun aku menyaksikan Rosululloh didatangi seorang lelaki buta yang mengadukan matanya yang buta. “Adakah kamu mau bersabar?” kata Nabi. “Wahai Rosululloh, saya tidak memiliki penuntun dan saya merasa kerepotan,”katanya. Maka Nabi berkata padanya : “Datanglah ke tempat wudlu’ lalu berwudlu’lah kemudian sholatlah dua roka’at. Sesudahnya bacalah do’a ini.” Utsman ibn Hunaif berkata: “Maka demi Alloh, kami belum bubar dan belum lama obrolan selesai, akhirnya lelaki buta itu masuk seolah ia belum pernah mengalami kebutaan.” (HR. At Thobaroni.) Setelah menyebut hadits ini At Thobaroni berkomentar, “Status hadits ini shohih.”

• Umar Ibn Khotthob Bertawassul Dengan Paman Nabi

Pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar Ibn Khotthhob -rodhiyallohu ‘anhu- penduduk Madinah dilanda paceklik, kemudian Umar Ibn Khotthob memohon kepada Alloh agar diturunkan hujan, dan redaksi do’a yang diucapkan oleh Umar Ibn Khotthob sebagaimana dalam hadits yang diriwayat-kan oleh Imam Bukhori dengan sanad yang bersambung sampai pada Anas bin Malik adalah :

اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا

“Ya Alloh sesungguhnya kami pernah bertawassul pada-Mu dengan perantara Nabi kami, maka Engkau turunkan hujan pada kami, dan sekarang kami bertawassul pada-Mu dengan perantara paman Nabi kami maka turunkanlah hujan pada kami “. Setelah itu mereka dituruni hujan. (HR. Al Bukhori)

Sayyid Muhammad Ibn Alwi Al Maliki menjelaskan dalam kitabnya Mafaahim Yajibu An Tushohhah ; bahwasannya ‘Umar Ibn Khotthob -rodhiyallohu ‘anhu- bertawassul dengan wasilah Abbas Ibn Abdil Muttholib -rodhiyallohu ‘anhu- karena kedudukannya sebagai paman Nabi, dengan demikian Umar Ibnu Khotthob hakekatnya bertawassul dengan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dengan cara paling baik.

Ibnu Abi Syaibah juga meriwayatkan dengan sanad yang shohih sampai kepada Malik Ad Dari (penjaga gudang pada masa pemerintahan Umar Ibn Khotthob) tentang praktek tawassul yang dilakukan oleh seorang sahabat untuk tujuan yang sama, yakni meminta hujan.

أَصَابَ النَّاسَ قَحْطٌ فِي زَمَنِ عُمَرَ فَجَاءَ رَجُلٌ إِلَى قَبْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ اِسْتَسْقِ لِاُمَّتِكَ فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوْا فَأُتِيَ الرَّجُلُ فِي الْمَنَامِ فَقِيْلَ لَهُ اِئْتِ عُمَرَ

Pada masa pemerintahan Umar Ibn Khotthob penduduk Madinah dilanda paceklik, seorang sahabat (bernama Bilal bin Harits Al Muzani sebagaimana riwayat dari Saif) datang ke pusara Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, ia berkata : “Ya Rosulalloh, mintakanlah hujan untuk ummatmu, sungguh mereka telah mengalami kerusakan.”

Kemudian lelaki tersebut didatangi (Rosululloh) dalam mimpinya dan dikatakan padanya : “Datangilah Umar ! “ (Fathul Bari, vol. 4, hal. 496)

Kisah tawassulnya Bilal bin Harits tersebut, disebutkan lebih lengkap oleh Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Bidayah Wan Nihayah.

أَصَابَ النَّاسَ قَحْطٌ فِي زَمَنِ عُمَرَ فَجَاءَ رَجُلٌ إِلَى قَبْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ اِسْتَسْقِ لِاُمَّتِكَ فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوْا فَأَتَاهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَنَامِ فَقَالَ: اِئْتِ عُمَرَ فَأَقْرِئْهُ مِنِّي السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّهُمْ مُسْقَوْنَ، وَقُلْ لَهُ: عَلَيْكَ بِالْكَيِّسْ اَلْكَيِّسَ. فَأَتَى الرَّجُلُ فَأَخْبَرَ عُمَرَ ، فَقَالَ : يَارَبِّ ! مَا آلُو إِلَّا مَا عَجزْتُ عَنْهُ .

Pada masa pemerintahan Umar Ibn Khotthob penduduk Madinah dilanda paceklik, seorang sahabat (bernama Bilal bin Harits Al Muzani sebagaimana riwayat dari Saif) datang ke pusara Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, ia berkata : “Ya Rosulalloh, mintakanlah hujan untuk ummatmu, sungguh mereka telah mengalami kerusakan.”

Kemudian Bilal bin Harits di datangi Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dalam mimpinya, beliau bersabda : “Datangilah Umar, sampaikan salam dariku kepadanya, kabarkan kepada penduduk bahwa mereka akan diberi hujan, dan katakan kepada Umar: “Tetaplah engkau sebagai orang yang pintar !”

Selanjutnya Bilal bin Harits mendatangi Umar dan menceritakan apa yang dialaminya, Umar pun merespon dengan berdo’a: “Ya Tuhanku, saya tidak menyia-nyiakan kecuali terhadap sesuatu yang saya tidak mampu untuk mengerjakannya.” (Al Bidayah Wan Nihayah, vol. I, hal. 91)

Seandainya apa yang dilakukan oleh Bilal bin Harits Al Muzani tersebut termasuk perbuatan syirik, niscaya Umar Ibn Khotthob –rodhiyallohu ‘anhu- sudah pasti memperingatkannya, akan tetapi faktanya tidak demikian.

Bersambung ke bagian 2

 

Oleh Ustadz Abu Hilya

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker