Inspirasi Islam

Cara Menghadapi Syi’ah, Mencontoh Sikap Ulama Aswaja

Nama Ali tak terhitung jumlahnya untuk nama anak-anak di kalangan kaum Ahlussunnah. Bukankah ini bukti nyata tak terbantahkan bahwa Ahlussunnah bukan pembenci Ahli Bait Nabi? Jadi, ini juga sekaligus peringatan bagi kaum Syi’ah jangan lagi menggelari Ahlussunnah sebagai kaum Nawaashib.

 

Pergesekan Sunni – Syi’ah adalah sejarah panjang dalam dunia Islam, dimulai sejak konflik antara Sahabat Ali dengan Mu’awiyah. Gesekan ini tidak terbatas pada perbedaan faham agama, tetapi sebenarnya juga persinggungan di sisi politisnya. Akibatnya sampai jangka panjang membawa dua kelompok ini menjadi aliran faham, menjebak keduanya dalam konflik perbedaan yang tajam dengan munculnya orang-orang ekstrim.

Di zaman sekarang, persinggungan dari perbedaan itu jika tidak disikapi secara bijak maka terjadilah seperti apa yang terjadi di Irak, Suriah, Libanon, Mesir, Yaman, dan lainnya. Jangan sampai Indonesia kecolongan sehingga para pengadu domba masuk mengarahkan sesama muslim terjadi konflik Sunni – Syi’ah seperti di Timur Tengah. Oleh karena itu, umat Islam yang mayoritas Aswaja ini jangan ada merasa diri paling benar sehingga sombong merasa mewakili kebenaran, sebaliknya kita harus bisa menyikapi Syi’ah dengan bijaksana. Jangan ikut-ikutan mengatakan

Bagaimana seharusnya cara kita dalam menyikapi kaum Syi’ah? Cara menghadapi Syi’ah sebenarnya sudah ada rujukan dari sikap Ulama Aswaja (Ahlussunnah wal Jama’ah) tempo dulu. Kita tinggal meniru dan mengembangkannya agar sesuai dengan kekinian. Intinya, sikap ulama Aswaja tempo dulu punya sikap toleransi yang tinggi terhadap kaum Syi’ah. Bahkan para Ulama Aswaja terkemuka di zaman ini pun tetap sama dengan Ulama tempo dulu (Salaf) dalam bersikap terhadap Syi’ah.

BACA :  Aswaja: Ahlussunnah Wal Jamaah, Siapa Mereka?

Bisa kita lihat bagaimana sikap Ulama Aswaja terkini semisal Habib Umar bin Hafidz, Habib Munzir al-Musawa, Habib Ali Al-Jufri, Syaikh Ali Jumah, Dr. Ahmad Muhammad Ahmad Al-Tayyib, KH Aqil Sroj, Prof. Quraisy Syihab, Dr Syaikh Ahmad Badruddin Hassoun, Syaikh Said Ramadhon al-Buthi, dan ribuan lainnya di seluruh dunia, mereka tidak mengkafirkan, tidak menyesat-nyesatkan, tidak memvonis bahwa Syi’ah bukan Islam.

Jadi, seharusnya kaum Aswaja zaman sekarang tidak ikut-ikutan memusuhi kaum Syi’ah secara hantam kromo terhadap Syi’ah. Kaum Aswaja di zaman modern ini, di mana dunia seakan selebar daun kelor, mestinya tidak ikut-ikutan cara kaum Nawaashib Wahabi memandang Syi’ah secara “gebyah uyah podo asine”. Jangan ikut-ikutan menggeneralisasi bahwa semua Syi’ah adalah Rafidhoh yang harus dimusuhi, sehingga di Indonesia ini ada organisasi ANNAS, yaitu Aliansi Nasional Anti Syi’ah. Dari namanya saja, organisasi ini sudah melanggar “Hak Asasi” kaum Syi’ah. Di situ juga mengandung semangat permusuhan yang keras terhadap sesama muslim.

Oleh karena itulah, umat Islam yang merasa bukan termasuk kaum Nawaashib, segeralah menyadari, faktanya tidak semua Syi’ah itu pasti Rafidhoh. Dalam hal ini umat Islam seharusnya mengikuti kaum Aswaja dalam menyikapi kaum Syi’ah. Jangan sebaliknya, kaum Aswaja ikut-ikutan kaum pembenci Ahlul Bait Nabi secara hantam kromo. Karena sejarah membuktikan Kaum Aswaja selalu konsisten menjadikan Umat Islam sebagai “ummatan wasathan” (moderat, umat yang tengah-tengah, tidak ekstrim kiri tidak ekstrim kanan). Ulama Ahlussunnah mengajarkan prinsip dari Imam Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah yang sangat terkenal: “Undzur ma qala, wala tandzur man qala.”

BACA :  Di Iran: Ternyata Ada 9 Masjid Ahlus Sunnah di Teheran
banner gif 160 600 b - Cara Menghadapi Syi'ah, Mencontoh Sikap Ulama Aswaja

Bagaimana contoh Ulama Ahlussunnah dalam memghadapi Syi’ah? Untuk merangkul kaum Syiah agar tidak menjauh, ulama-ulama Aswaja tempo dulu sudah mengajari kita untuk memanggil sahabat Ali dan cucu Rasulullah Saw dengan sebutan “Imam”. Dalam kitab-kitab ulama Aswaja bisa banyak ditemukan sebutan-sebutan yang indah untuk Ahlul Bait Nabi, karena sesungguhnya Ulama Ahlussunnah juga sangat cinta dengan Ahlul Bait Nabi. Bahkan khusus Sahabat Ali kita diajari memanggil dengan gelar “Karramallaahu wajhah” bukan “radhiyallahu ‘anhu” sebagai bentuk penghormatan khusus terhadap Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang sangat dihormati kaum Syi’ah.

Dalam khutbah Jum’at di kalangan masjid kaum Aswaja, kenapa para khotibnya dalam menyebut nama-nama sahabat Khulafaur Rasyidin dengan menambah Sayyidina di depan namanya? Itu ternyata ada asal usulnya. Itu adalah ajaran para ulama Aswaja tempo dulu untuk menunjukkan bahwa di antara ke- empat sahabat Nabi Saw itu semuanya adalah tokoh-tokoh terhormat. Jadi bukan hanya Sayyidina Ali yang layak dijunjung dan dihormati sebagaimana yang dilakukan mayoritas kaum Syi’ah di masa lalu.

Contaho ajaran kepada kaum Ahlussunnah yang dicontohkan oleh para ulama Aswaja tempo dulu itu untuk menjaga kerukunan di antara sesama umat Islam. Dan ajaran itu terus diwariskan ke
generasi aswaja turun temurun sampai zaman sekarang. Sehingga ketika anda mengikuti khutbah Jum’at yang khotibnya adalah khotib Aswaja, maka kita akan mendengar dari lisannya tak akan melewakan kata “Syyidina” di depan nama-nama figur Sahabat Nabi Muhammad Saw. Bukan saja terbatas kepada 4 Khulafa’urrasyidin, tetapi juga Sahabat yang lainnya, tak terkecuali Bilal bin Rabbah akan disanjung dengan menyebutnya Sayyidina Bilal.

BACA :  Muktamar Aswaja Sedunia Bikin Wahabi Kebakaran Jenggot

Selain itu, ulama Ahlussunnah jarang menyebut kebaikan dari sahabat Mu’awiyyah bahkan meletakkan posisi Mu’awiyyah “agak antagonis” sehingga sampai saat ini di kalangan kaum Ahlussunnah tidak pernah ditemukan seorang pun di Indonesia, dari dulu sampai sekarang, yang memberi nama anaknya dengan nama Mu’awiyyah.

Sebaliknya nama Ali tak terhitung jumlahnya untuk nama anak-anak di kalangan kaum Ahlussunnah. Bukankah ini bukti nyata tak terbantahkan bahwa Ahlussunnah bukan pembenci Ahli Bait Nabi? Jadi, ini juga sekaligus peringatan bagi kaum Syi’ah jangan lagi menggelari Ahlussunnah sebagai kaum Nawaashib. Kalian seharusnya tahu siapa kaum Nawaashib itu, jangan lagi main hantam kromo terhadap Ahlussunnah dengan menyebutnya Nawaashib.

Di Indonesia orang Islam sebaiknya tidak perlu memberi label Sunni atau Syi’ah seperti di Timur Tengah. Di abad 18 M banyak kaum Syi’ah seperti di Sumatera, akhirnya mengikuti faham Sunni, dalam hal ini pahamnya kaum Aswaja. Karena mereka merasa tidak berbeda dengan Ahlussunnah (di Sumbar, Bengkulu dan Aceh ada acara adat kaum Aswaja memperingati hari Asyura). Jadi ini sebuah bukti kaum Aswaja mampu mempersatukan Umat Islam. Itu terjadi di Indonesia tempo dulu.

Bagaimana dengan Kaum Aswaja di zaman sekarang? Awas, jangan ikut-ikutan terbawa arus kebencian kaum Nawaashib terhadap muslim Syi’ah.

 

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker