sapi qurban 2017 di jakarta
Hosting Unlimited Indonesia
akidah

Bukti Kebenaran Akidah Asy’ariyyah Sebagai Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah

ID FashionWeek 300x250 - Bukti Kebenaran Akidah Asy'ariyyah Sebagai Akidah Ahlussunnah Wal Jamaahaff i?offer id=7474&file id=157046&aff id=176058 - Bukti Kebenaran Akidah Asy'ariyyah Sebagai Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah

DI ANTARA BUKTI KEBENARAN AKIDAH ASY’ARIYYAH

(Mewaspadai Akidah Sesat Wahabi)

oleh: Abou Fateh

Akidah Asy’ariyyah adalah terbukti secara kuat sebagai perwujudan dari akidah Ahlussunnah Wal Jamaah. Banyak sekali bukti-bukti tekstual, baik dari al-Qur’an maupun dari hadits, memberikan isyarat akan kebenaran akidah Asy’ariyyah sebagai akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Oleh karena sangat banyak, maka kita tidak hendak mengutip semuanya, namun paling tidak beberapa yang akan kita sebutkan di bawah ini adalah sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang memegang teguh akidah Asy’ariyyah bahwa mereka berada di dalam kebenaran.

masjid - Bukti Kebenaran Akidah Asy'ariyyah Sebagai Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah

Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ (المائدة: 54)

“Wahai sekalian orang beriman barang siapa di antara kalian murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang  Dia cintai dan kaum tersebut mencintai Allah, mereka adalah orang-orang yang lemah lembut kepada sesama orang mukmin dan sangat kuat -ditakuti- oleh orang-orang kafir. Mereka kaum yang berjihad dijalan Allah, dan mereka tidak takut terhadap cacian orang yang mencaci-maki”. QS. al-Ma’idah: 54

IDSmartphonesYearEndSale370x300 - Bukti Kebenaran Akidah Asy'ariyyah Sebagai Akidah Ahlussunnah Wal Jamaahaff i?offer id=3733&file id=76783&aff id=176058 - Bukti Kebenaran Akidah Asy'ariyyah Sebagai Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah

Dalam sebuah hadits Shahih diriwayatkan bahwa ketika turun ayat ini, Rasulullah memberitahukan sambil menepuk pundak sahabat Abu Musa al-Asy’ari, seraya bersabda: “Mereka (kaum tersebut) adalah kaum orang ini!”.

Dari hadits ini para ulama menyimpulkan bahwa kaum yang dipuji Allah dalam ayat di atas tidak lain adalah kaum Asy’ariyyah. Karena sahabat Abu Musa al-Asy’ari adalah moyang dari al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari.

Dalam penafsiran firman Allah di atas: (Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan kaum tersebut mencintai Allah) QS. Al-Ma’idah: 54, al-Imam Mujahid, murid sahabat ‘Abdullah ibn ‘Abbas, berkata: “Mereka adalah kaum dari negeri Saba’ (Yaman)”. Kemudian al-Hafizh Ibn ‘Asakir dalam Tabyin Kadzib al-Muftari menambahkan: “Dan orang-orang Asy’ariyyah adalah kaum berasal dari negeri Saba’” (Tabyin Kadzib al-Muftari Fi Ma Nusiba Ila al-Imam Abi al-Hasan al-Asy’ari, h. 51).

Penafsiran ayat di atas bahwa kaum yang dicintai Allah dan mencintai Allah tersebut adalah kaum Asy’ariyyah, telah dinyatakan pula oleh para ulama terkemuka dari para ahli hadits lainnya, selain al-Hafizh Ibn ‘Asakir. Namun, lebih dari cukup bagi kita bahwa hal itu telah dinyatakan oleh al-Imam al-Hafizh Ibn ‘Asakir dalam kitab Tabyin Kadzib al-Muftari. Beliau adalah seorang ahli hadits terkemuka (Afdlal al-Muhaditsin) di seluruh daratan Syam (sekarang Siria, Palestina, Lebanon, Yordania) pada masanya.

Al-Imam Tajuddin as-Subki dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah menuliskan:

“Ibn ‘Asakir adalah termasuk orang-orang pilihan dari umat ini, baik dalam ilmunya, agamanya, maupun dalam hafalannya. Setelah al-Imam ad-Daraquthni tidak ada lagi orang yang sangat kuat dalam hafalan selain Ibn ‘Asakir. Semua orang sepakat akan hal ini, baik mereka yang sejalan dengan Ibn ‘Asakir sendiri, atau mereka yang memusuhinya” (Thabaqat asy-Syafi’iyyah, j. 3, h. 364).

Set1 niagahoster 600x400 - Bukti Kebenaran Akidah Asy'ariyyah Sebagai Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah 
11 11 600x300 - Bukti Kebenaran Akidah Asy'ariyyah Sebagai Akidah Ahlussunnah Wal Jamaahaff i?offer id=2&file id=10&aff id=28020 - Bukti Kebenaran Akidah Asy'ariyyah Sebagai Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah

Lebih dari pada itu, al-Hafizh Ibn ‘Asakir sendiri dalam kitab Tabyin tersebut telah mengutip pernyataan para ulama hadits terkemuka (huffazh al-hadits) sebelumnya yang telah menafsirkan ayat tersebut demikian. Di antaranya adalah seorang ahli hadits terkemuka yang merupakan pimpinan mereka; al-Imam al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi, penulis kitab Sunan al-Baihaqi.

Al-Hafizh Ibn ‘Asakir dalam Tabyin Kadzib al-Muftari menuliskan pernyataan al-Imam al-Baihaqi dengan sanad-nya dari Yahya ibn Fadlillah al-‘Umari, dari Makky ibn ‘Allan, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami al-Hafizh Abu al-Qasim ad-Damasyqi, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami Syaikh Abu ‘Abdillah Muhammad ibn al-Fadl al-Furawy, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami al-Hafizh Abu Bakar Ahmad ibn al-Husain ibn ‘Ali al-Baihaqi, berkata:

“Sesungguhnya sebagian para Imam kaum Asy’ariyyah, –Semoga Allah merahmati mereka–, memberikan pelajaran kepada kami tentang sebuah hadits yang diriwayatkan dari ‘Iyadl al-Asy’ari, bahwa ketika turun firman Allah: (Fa Saufa Ya’tillahu Bi Qaumin Yuhibbuhum Wa Yuhibbunahu…) QS. Al-Ma’idah: 54, Rasulullah berisyarat kepada sahabat Abu Musa al-Asy’ari, seraya berkata: “Mereka adalah kaum orang ini”. Bahwa dalam hadits ini terdapat isyarat akan keutamaan, keagungan dan derajat kemuliaan bagi al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Karena tidak lain beliau adalah berasal dari kaum dan keturunan sahabat Abu Musa al-Asy’ari. Mereka adalah kaum yang diberi karunia ilmu dan pemahaman yang benar. Lebih khusus lagi mereka adalah kaum yang memiliki kekuatan dalam membela sunnah-sunnah Rasulullah dan memerangi berbagai macam bid’ah. Mereka memiliki dalil-dalil yang kuat dalam memerangi bebagai kebatilan dan kesesatan.

Dengan demikian, pujian dalam ayat di atas terhadap kaum Asy’ariyyah bahwa mereka kaum yang dicintai Allah dan mencintai Allah, adalah karena telah terbukti bahwa akidah yang mereka yakini sebagai akidah yang hak, dan bahwa ajaran agama yang mereka bawa sebagai ajaran yang benar, serta terbukti bahwa mereka adalah kaum yang memiliki kayakinan yang sangat kuat. Maka siapapun yang di dalam akidah mengikuti ajaran-ajaran mereka, artinya dalam konsep keyakinan meniadakan keserupaan bagi Allah dengan segala makhluk-Nya, dan dalam metode memegang teguh al-Qur’an dan Sunnah, sesuai dan sejalan dengan faham-faham Asy’ariyyah maka ia berarti termasuk dari golongan mereka” (Tabyin Kadzib al-Mufari, h. 49-50. Tulisan al-Hafizh Ibn ‘Asakir ini dikutip pula oleh Tajuddin as-Subki dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah, j. 3, h. 362-363).

Al-Imam Tajuddin as-Subki dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra mengomentari pernyataan al-Imam al-Baihaqi di atas, beliau berkata sebagai berikut:

“Kita katakan; -tanpa kita memastikan bahwa ini maksud Rasulullah-, bahwa ketika Rasulullah memukul punggung sahabat Abu Musa al-Asy’ari, sebagaimana dalam hadits di atas, seakan beliau sudah mengisyaratkan adanya kabar gembira bahwa kelak akan lahir dari keturunannya yang ke sembilan yaitu al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Sesungguhnya Rasulullah itu dalam setiap ucapannya terdapat berbagai isyarat yang tidak dapat dipahami kecuali oleh orang-orang yang mendapat karunia petunjuk Allah. Dan mereka itu adalah orang yang kuat dalam ilmu (ar-Rasikhun Fi al-‘Ilm) dan memiliki mata hati yang cerah. Firman Allah: (Seorang yang oleh Allah tidak dijadikan petunjuk baginya, maka sama sekali ia tidak akan mendapatkan petunjuk) QS. An-Nur: 40” (Thabaqat asy-Syafi’iyyah, j. 3, h. 363).

300 250 - Bukti Kebenaran Akidah Asy'ariyyah Sebagai Akidah Ahlussunnah Wal Jamaahaff i?offer id=2&file id=6&aff id=28020 - Bukti Kebenaran Akidah Asy'ariyyah Sebagai Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah

Al Hamdulillah, Allah telah mengaruniakan iman dan tauhid yang suci ini kepada kita dengan mengenal Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah di atas jalan al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari.

 

 SILAHKAN KLIK DAN BACA JUGA:

FAKTA: SEKTE SALAFY WAHABI TIDAK LAYAK MENGAKU AHLUSSUNNAH WALJAMAAH

IDSmartphonesYearEndSale370x300 - Bukti Kebenaran Akidah Asy'ariyyah Sebagai Akidah Ahlussunnah Wal Jamaahaff i?offer id=3733&file id=76783&aff id=176058 - Bukti Kebenaran Akidah Asy'ariyyah Sebagai Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah
Tags
kirim email unlimited

Related Articles

107 thoughts on “Bukti Kebenaran Akidah Asy’ariyyah Sebagai Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah”

    1. Wah iya neh, mantab banget, bisa makin mati kutu neh para Penganut Wahabi yg ngaku-ngaku Ahlussunnah Waljamaah. Sudah kebongkar tipu daya salafy Wahabi yg menganggap sesat Aqidah Asy’ariyah. Tuh buktinya ada, sangat jelas dan gamblang alias cetho welo-welo tak ada samar sedikit pun tentang kebenaran aqidah Asy’ariyah.

  1. Asy ariyah merupakan pegangan mayoritas ulama, sejak zaman imam asy ari hingga sekarang. Mengapa mayoritas ulama memegang akidah asy ariyah ? Karena akidah ini adalah sesuai dengan akidah sahabat dan salaf umat ini. Para ulama yg memegang akidah ini sebagiannya adalah ulama-ulama mujtahid yg tingkat ilmu dan kesalehannya sangat tinggi, maka mereka merupakan contoh dan panutan kita. Alhamdulillah. Rasulullah telah menyatakan bahwa mayoritas ulama tidak akan sepakat dalam kesesatan. Nabi juga menyatakan bahwa kita harus mengikuti kelompok mayoritas. Jadi tidak ada lagi keraguan akan kebenaran, setelah ada isyarat nabi setelah artikel diatas dan isyarat nabi lainnya tentan umat mayoritas.

    1. Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

      Betul, al-Imaam abu al-hasan al-Asy’ariy rahimahullah kembali ke aqidah salaf ahlussunnah wal jama’ah yang mana sebelumnya beliau berpegang pada faham mu’tazilah. Namun yang perlu digaris bawahi adalah aqidah salafnya al-Imaam abu al-hasan al-Asy’ariy rahimahullah bukanlah aqidah salafnya kaum salafy wahhabiyyun. Justru yang menjadi aqidah beliau adalah aqidahnya kaum ahlussunnah wal jama’ah yang sangat bertolak belakang dengan aqidah kaum musyabbihah mujassimah wahhabiyyah.

    2. Oleh karenanya al-Imaam Abu al-Hasan al-Asy’ari rahimahullah rujuk kepada akidah salaf…tapi kalian wahai wahhabiyyuun bagaimana??? kenapa malah berakidah musyabbihah mujassimah ???

      Kenapa kalian wahhabiyyuun tidak mengikuti akidah yang diusung oleh al-Imaam Abu al-Hasan al-Asy’ari rahimahullah, yang pernah diisyaratkan oleh Rasulullaah Shollallaah ‘alaih wa sallam di dalam hadits tentang asbaab an-Nuzul Surat Al-Maa’idah ayat 54, bahwa aqidah yang diusung al-Imaam Abu al-Hasan al-Asy’ari rahimahullah adalah aqidah yang haq. Bahwasanya Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda, “Mereka adalah kaum orang ini” sembari menepuk punggung shohabat Abu Musa Al-Asy’ariy radhiyallaah ‘anhu sebagai sebuah isyarat akan keutamaan dari kaum yang mengikuti keturunan Shohabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallaahu ‘anhu.

      Dan memang isyarat Rasulullah shollallaah ‘alaih wa sallam terbukti menjadi kenyataan, dari keturunan Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallaahu ‘anhu terlahirlah al-imaam Abu al-Hasan al-Asy’ari rahimahullah, yang mengusung aqidah ahlussunnah wal jama’ah dan menjadi ikon dalam permasalahan aqidah yang menyangkut prinsip di dalam “berke-Tuhanan.”

      1. Jundumuhammad@

        Mantab n sepakat, memang Salafy Wahabi tidak layak mengaku Ahlussunnah Waljama’ah yg diperjuangkan dan dibela oleh Imam Abu Hasan Al-Asy’ari di hadapan kaum Mu’tazilah. Tidak ada ciri-ciri kesamaan antara Salafy Wahabi dg Ahlussunnah Wal-Jamaah.

        Salafy Wahabi adalah kaum sempalan yg terpencil dari pergaulan Ummat Islam Mayoritas (Ahlussunnah WalJamaah) di seluruh dunia.

  2. @irfan, imam asy ari ketika keluar dari muktazilah sudah rujuk kepemahaman salaf. Jadi asy ariyah maupun akidah imam asy ari di kitab al ibanah adalah sama. Menakwil dgn takwil yg benar yg sesuai kaidah bahasa maupun tawfidh sama sama akidah salaf. Yg bukan akidah salaf adalah tajsim dan tasybih.

  3. ane semakin mantap dengan akidah abul hasan al asy’ari. NU sebagai pengusung akidah ini ditentang oleh orang salafi. Berarti Salafi mengingkari rasulullah. Yang mengingkari Rasulullah berarti.. Na’udzu billah..

  4. Udah deh, dijamin Salafy Wahabi semakin tak berkutik. Sekte sesat mau dibungkus pakai apapun biar tersamar kelihatan lurus akan tetap terdeteksi dengan jelas bahwa Salafy Wahabi adalah sekte yg menyimpang jauh dari Sunnah Nabi Saw. Mereka adalah ahli bid’ah yg sesungguhnya.

    1. Benar Mas Eka, bau bangkai walaupun ditutup-tutupi akhirnya akan tercium juga kebusukannya, begitu juga wahabi walau bagai manapun berkilah dan membantah serta mengaku lurus dan benar akhirnya ketahuaan juga belangnya ibaratnya musang tetap musang meski berbulu domba.

  5. ‘AJARAN WAHIDIYAH’
    LILLAH: segala perbuatan daniati ibadah pd Alloh SWT, kecuali yg dilarang, kecuali yg tdk diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SWT,
    BILLAH : segala perbuatan disadari dirasakan bahwa yang menciptakan segala sesuatu adalah Alloh SWT.(termasuk gerakan kita)
    LIRROSUL: segala perbuatan diniati mengikuti Rosuulalloh SAW, kecuali yg dilarang/ yg tdk diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SWT,
    BIRROSUL : segala gerak perbuatan di sadari bahwa mendapat jasa dari Rosuulalloh SAW, kecuali yg tdk diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SWT,
    http://WWW.WAHIDIYAH.ORG

  6. dodi@

    Dodi, nte yg seharusnya mikir, atau sudah tak mampu mikir akibat dicekoki ajaran sesat Wahabi? Imam Syafi’i aqidahnya adalah aqidah yg diajarkan oleh Nabi Saw. Dalam proses perkembangan zaman ketika itu hingga ke Zaman Imam Asy’ari, maka aqidah ajaran Nabi yg dianut oleh Imam Syafi’i itu dirusak oleh kaum seperti Mu’tazilah dll. Begitupun Imam Asy’ari ketika itu juga Mu’tazilah, yg kemudian tobat kembali ke Aqidah yg dianut oleh Imam Syafi’i. Ketika itu aqidah ajaran Nabi sudah langka karena digerus oleh berkembangnya pemikiran aqidah yg bermacam-macam. Nah, Imam Asy’ari kemudian tampil sebagai perumus Ilmu Aqidah yg berdasar AlQur’an dan Hadits Nabi (ajaran Nabi Saw) yg dianut Imam Syafi’i. Karena Pada Zaman Imam Asy’ari aqidah yg sesuai ajaran Nabi Saw sudah mulai langka, maka Imam Asy’ari merumuskannya kembali yg kemudian dikenal dengan AQIDAH AHLUSSUNNAH WALJAMAAH, yg sesuai ajaran Nabi Saw dan para Sahabatnya.

    Karena ketika itu Imam Asy’ari yg merumuskannya kembali dan membelanya di hadapan kaum Mu’tazilah dll, maka aqidah ini selain dikenal sebagai aqidah ASWAJA juga dikenal sebgai aqidah Asy’ariyah. Kalau di zaman ini ada yg bilang aqidah Asy’ariyah makayg dimaksud adalah Aqidah ASWAJA (ahlussunnah waljamaah). Kalau kalian para pengikut Wahabi/Salfy Wahabi menganggap sesat Asy’ariyah maka kalian juga otomatis mengannggap sesat Aqidah Ahlussunnah Waljamaah yg sesui ajaran Nabi Saw yg diperjuangkan dan dibela oleh Imam Abul Hasan Al-Asy’ari, yang mana aqidah seperti inilah yg dianut Imam Syafi’i. Jadi untuk menjawab pertanyaan Nte: “kalo imam asysyafi’i aqidahnya asyariah bukan ya?” Maka jawabannya tidak sederhana, sebab harus membuka sejarah dulu.

    Yang ngawur dan malu-maluin itu adalah Salafy Wahabi yg tiba-tiba muncul dan mengaku Ahlussunnah Waljamaah, itu sejarahnya bagaimana Dodi? Sebab faktanya Ajaran Aqidah Wahabi itu ternyata juga melenceng jauh dari ajaran Nabi Saw? Ngaku-ngaku boleh, tapi faktanya gemana kok nggak sesuai ajaran Nabi Saw?

  7. yaa Alloh…..yaa Alloh ….yaa Alloh………setiap detak jantung kita menyebut Alloh dari pada meladeni para wahabi ngeyel …..2,3,4 kali tanya jawab cukup jangan ladenin lagi selebihnya syetan ikutan provokasi ……..semoga Alloh selalu memberikan kekuatan iman dan islam kita semua amiin yaa robbal ‘allamiin …..

  8. ‘AJARAN WAHIDIYAH’
    LILLAH: segala perbuatan daniati ibadah pd Alloh SWT, kecuali yg dilarang, kecuali yg tdk diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW,
    BILLAH : segala perbuatan disadari dirasakan bahwa yang menciptakan segala sesuatu adalah Alloh SWT.(termasuk gerakan kita)
    LIRROSUL: segala perbuatan diniati mengikuti Rosuulalloh SAW, kecuali yg dilarang/ yg tdk diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW,
    BIRROSUL : segala gerak perbuatan di sadari bahwa mendapat jasa dari Rosuulalloh SAW, kecuali yg tdk diridloi Alloh SWT wa Rosuulihi SAW,
    http://WWW.WAHIDIYAH.ORG

        1. Benar Mas Mamo, al albani, imamnya dodi dan lebih diikuti dan dihormati para wahabiyun ketimbang Nabi Muhammad s a w, ibnu wahab diperingati 7hari 7malam maulidnya di arab saudi sana sedangkan maulid Nabi Saw katanya bid’ah.
          jadi kesimpulannya wahabiyun umat wahabi bukan umat Muhammad SAW.

  9. dodi@
    Aqidah Imam Asy’ari adalah estafet dari aqidah Imam Syafi’i dan terus sampai ke Rasulullah Saw. Kenapa kok kemudian tidak disebut Aqidah Imam Syafi’i, ini berkaitan dg sejarah perkembangan ilmu Aqidah. Pada Zaman Imam Syafi’i Ilmu aqidah masih searagam belum ada perbedaan, baru pada zamannya Imam Asy’ari terjadi perbedaan yg tajam akibat berkembangnya pemikiran Ilmu aqidah. Karena pada Masa itu Imam asy’ari tampil sebagai pejuang dan pembela aqidah ajaran Nabi Saw dihadapan Mu’tazilah dll, maka hasil perjuangannya dikenallah sebagai aqidah Asy’ari. Jika akhir-akhir ini ada orang-orang menyebut aqidah asy’ari yg dimaksud adalah aqidah ajaran Nabi Saw yg juga dikenal sebagai Aqidah Ahlussunnah Waljamaah. Makanya jangan sembarangan Wahabi bilang Aqidah Asy’ari itu sesat, apakah Nte tidak berpikir pengikut Wahabi sendiri justru yg sesat? Karena pengakuan Salafy Wahabi sebagai Ahlussunnah Waljamaah tidak memiliki sejarah, justru dalam sejarah Wahabi dikenal sebagai pembantai ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah.
    Baca sejarahnya klik

    Ketika akhir-akhir ini tiba-tiba Salafy Wahabi ngaku-ngaku sebagai Ahlussunnah Waljamaah, tentunya Ummat Islam di seluruh dunia tidak akan tinggal diam, apakah dikira Ummat Islam tidak tahu sejarah Wahabi yg sarat dg kebatilan?

  10. Kelemahan orang Sa-Wah di Indonesia adalah mereka ude kagak mau belajar sejarah dengan benar. Padahal Bangsa ini mempunyai semboyan terkenal dari Bung Karno, yaitu : “JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN SEJARAH” dan “BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI JASA PARA PAHLAWANNYA”. Nah, Sejarah Islam di Indonesia yg bawa siape…??? sampe Indonesia menjadi Bangsa Muslim TERBESAR di Dunia, Bukannye Saudi Arabia bang…. Trus Pahlawan2 Islam yg juga Ulama pada saat itu, fahamnye Aswaja tuh bang, bukannye Wahabiyyuuun…Nah terus jaman sekarang, antum enak2nye nyalah2in faham Aswaja dan ikut2an menyalah2kan Ulama2 dulu. Ude ngaji kemane aje ente..? berape hadits yg ente hafal..? berape Juz di Al-Qur’an yg ente hafal..? berape…berape..berape..???

    Gak use ngebandingin ame Ulama yg zaman dahulu banget deh. Entu Ustadz2 yg antum bilang SALAFY dan katenye juga AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH seberape ‘alim sih kalo dibandingin ame Syekh Abdussomad Al-Falembani, Syekh Yasin Al-fadani, Habib Utsman bin Yahya, dan Ulama Besar Syafiiyyah abad ini Habib Umar bin Hafizh bin Salim bin Syekh Abu Bakar. Terus antum gampang aje gitu bilang beliau2 para Alim Ulama yg sesat..??? karena gak sesuai Manhaj antum….???

    Jadi bisa dibilang MANHAJ SALAFI yg antum bangga2in pake sistem DOKTRIN DOOOONGG…??? artinye kagak mau tau ape kate orang mo bener mo salah pokonye BID’AH YA BID’AH ARTINYE SESAT ARTINYE NERAKA….??? Mending zaman dulu orang cerdas dalam berfikir, zaman canggih gini masih ade tuh namenye DOKTRIN. Cuappe dyehhh….

    1. @ dodi
      siapa yang anda maksud ulama salaf ? ibnu abdul wahabkah, al albanikah, bin bazkah dll lagi ulama2 wahabi yg bercokol di arab saudi sana, kalo itu bukan ulama salaf tapi ulama Kalap (alias suka ngamuk hilang ingatan) makanya tauhidnya tauhid tiga(trinitas). yang merasa paling benar sendiri dan gampang mengkafirkan orang yg tidak sefaham dengannya. itukah ulama2 panutan dodi ? kalo gitu semoga selamat jadi umat wahabi alias wahabiyun. bukan umat Muhammad SAW.

  11. dedeuh teuing silaing dulur,,,naha ari maneh ngaji ka jurig mana atuh,,,kieu we lur, ari organisasi islam terbesar di indonesia naon??? tah eta organisasi mazhab akidah jeung fiqih na naon??? sakitu weh buktina mah,,,mun maneh can nyaho keneh,,emang bener bolon silaing mah…mohon maaf lahir batin lur.

  12. udah kasian …..mas dodi jngan di keroyok terus2an tar bisa2 dia nangis n ngadu ke saudi….kacian amat si mas dodi gak ada yg ngebela…mkanya tinggalin tuh aqidah wahabi n kmbali ke aqidah aswaja asy ariyyah yg diridloi alloh

  13. Saudara sekalian janganlah saling menyudutkan orang lain,cobalah bacalah kitab AL IBANAH karya Imam Abu Hasan al asy’ari ,anda akan menemukan apa aqidahnya Imam Abu Hasan Al Asy’ari,smoga bermanfaat,Jazakallohi khairon katsiron

    1. ali@

      Antum sudah baca kitab AL IBANAH karya Imam Abu Hasan al asy’ari, terus isinya apa tentang aqidah Imam Abu Hasan al asy’ari? Tanya beneran nih Mas, aku masih awam beneran pngin tahu yg sebenarnya.

  14. dodi@ ieu blog mah lain jang raramean jang,mere informasi tentang mana nu bener jeung mana nu sempalan,mun nt rek nga hujjah,sok atuh geura…justru nu kudu dipiceun ka wadah runtah mah,blog-blog nu eusina akidah sempalan nu ngaku2 paling salaf…nyaaaa model2 maneh lah,jeung balad maneh si abahna jibril.wawuh meureun !

  15. cicing euy kabeh,ieu urusan orang kulon jeung wetan,sukapakir@maneh sok pa’r’kir dimana euy,masih keneh datang ka kuburanna mbah jamrong teu?pan cenah ngan ukur wasilah,heueuh.uing geus tobat euy.jeung moal deui2,ziarah kakuburan keramat.bisi syirik heueuh,uing di n.u mah baheula lieur loba teuing ibadah nu euweuh dalilna.lieur euy.hampura dulur banyol.

  16. kuburan mbah jamrong??? teu wawuh euy jeung mbah jamrong mah. maneh sok ka mbah jambrong nya? pantes atuh mengkol kitu silaing mah. heueuh sukur ari maneh geus tobat ti mbah jambrong mah.ari ayeuna kumaha? ka mbah wahabi nya? sarua lieurna atuh breg…maneh baheula en-u euy? ayeuna naon? eMyU tow PERSI(B)S??? ooh, ayeuna mah SAWAH nya. heueuh alus jang,geura tobat we ti jurig SAWAH. hampura dulur banyol

  17. lain euy dulur,ari nulain kamarana weuh nu komentar,aneh aswaja teh kamarananya,si syahid ge weuh,apa keur merenung mikiran aqidahna nu dikritik ku abah jibril.lain dulur ari nte timana naha palid ka dunia maya,ri uing mah ti cianjur .

    1. Benar Mas Redhy, kita tentu beriman dengan Istiwa Allah di atas arsy. Istiwa dengan makna yang layak sesuai dengan keagungannya.. Lalu mengapa Istiwa bermakna Allah bertempat atau menetap di atas arsy? sedangkan Allah yang menciptakan tempat dan Arsy, Allah tidak butuh tempat dan Arsy, Allah juga tidak berubah menjadi bertempat, atau menetap, sifat Allah tidak berubah, bila Dia sebelumnya tidak bertempat, Qiyamuhu binafsihi, maka selamanya tidak bertempat.

      Salam

    1. Benar Mas Redhy, Tempat, arah, waktu, hanya bagi makhluk, karena mahluk yang berjasad atau materi mesti bergantung pada tempat, arah dan waktu yang juga mahluk . Sedangkan Allah tidak bergantung pada tempat, arah dan waktu, malah tempat, arah dan waktu bergantung kepada-Nya. Segala sesuatu (mahluk) bergantung pada Allah. Maka Allah tidak mungkin dinisbatkan sifat kepada sesuatu yang bergantung pada-Nya dan apa-apa yang diciptakan-Nya. Wallahu alam.

  18. diath@maha suci Allah,dari fantasi2 kalian yang menganggap kalau Allah bersemayam diatas arsy,berarti Allah memerlukan tempat,.kami hanya mengimani apa yg dikabarkan dari alquran dan hadist.dan kami tdk menanyakan ttg bagaimana duduknya,kata imam Malik hal itu adalah bid’ah.jadi bgmn kalian bisa menuduh kami mujassim atau musyabbihah .

    1. Mas Dodi, kami bukan berfantasi, kami berusaha menjelaskan agar kita tidak terjebak paham mujasim dan musyabihan, dan kami tidak menanyakannya bagaimana. justru ada sebuah kelompok yang mengarahkan ke pertanyaan bagaimana dan mengarahkan orang untuk berfantasi sebagaimana dapat kite temui dibanyak situs tentang artikel “dimana Allah”, tidak ada penjelasan lagi kalau disitu pertanyaan “dimana” adalah majasi dan bukan hakiki. Ada pula kaidah mereka yang mengatakan, mengambil lahiriyah nash Quran dan hadist, yang mengarahkan orang untuk berfantasi dan menanyakan bagaimana, ada juga yang menjelaskan seperti ini : manusia punya tangan, monyet juga punya tangan, tetapi hakikat tangan manusia dan tangan monyet beda….?? Apa ini bukan membuat orang berfantasi ? dan membayangkan ?

    2. Bang Dodi, orang aswaja sok lebih mengenal Allah…
      Makanya Allah gak di Arasy, gak punya tangan, gak punya kaki, gak punya wajah,..gak bertempat gak berarah…Padahal itu dalil dari al qur’an..
      Nanti mereka akan bingung sendiri.,, apa Allah itu ada apa enggak..???
      wkwkwkwkwkwkw,,,

      1. Allah itu ada tanpa jisim dan anggota tubuh layaknya mahluk hidup ciptaanNya, tanpa tempat dan arah. Jisim, anggota tubuh, tempat dan arah adalah ciptaanNya, maka Allah bukan seperti ciptaanNya. Ruh, cahaya, energi itu ada tanpa jism dan anggota tubuh seperti manusia, Allah bersifat Qidam, sebelumnya tanpa tempat dan arah, mustahil Allah bertempat dan berarah setelah ada tempat dan arah. Sifat Allah tidak berubah.

        1. Satu pertanyaan buat loe bro..loe jawab ya,,,
          Waktu Isra’ Mi’raj yang loe rayain tiap tahun, waktu Rasul mau bertemu Allah di bawa ke mana?. kelangit khan? Langit di mana? ke arah atas khan? atas itu bukan arah?..jawab ya..!

          1. Rasul ‘bertemu” Allah dibawa ke langit, langit yang mana saya tidak tahu, yang namanya langit tentu saja arah atas, atas adalah arah. Tetapi langit atau di atas langit bukan tempat bagi Allah.

            “Maha Suci Allah yang menjalankan hambanya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram (di Makkah) ke Masjidil Aqsa (di Palestin) yang Kami berkati sekelilingnya untuk memperlihatkan kepadanya tanda-tanda (kekuasaan dan kebesaran) Kami. Sesungguhnya, Allah jualah yang amat mendengar lagi maha mengetahui.” – Al Isra’

            Allah membawa nabi ke langit untuk memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaranNya, bukan memperlihatkan tempat bagiNya. Karena langit, surga dan neraka serta pertemuan denganNya adalah tanda-tanda kekuasaan dan kebesaranNya.

          2. @Budi ana mau tanya nt sekolah nggak ????? bumi bulat apa datar ????? kalau ana bilang bumi itu bulat sesuai fakta dan bukti ……nah kalau nt nunjuk atas bagaimana belahan bumi lawan dari nt nunjuk ??? dia bilang juga atas ……..kalau nggak maksud nt ambil bola ….naaaaah atas , langit , itu mana buuuuud ?????

          3. Mas Mamo, ikutkan saja si Budi, toh tidak akan bisa membuktikan Zat Allah mempunyai arah. Karena di atas langit itu sebuah ungkapan akan ketinggian Zat Allah, kemulyaan dan dan keagunganNya yang melebihi apapun juga ibarat langit yang tanpa batas bagi indra kita menunjukkan ketinggian dan kebesaran, maka kebesaran, ketinggian, kemulyaan dan keagungan Allah melebihi apapun. arah atas menunjuk kepada sesuatu diatas tubuh bagian ats tubuh kita yaitu kepala, arah bawah menunjukkan arah dibawah bagian bawah tubuh kita yaitu kaki. Maka arah atas dan bawah ada karena tubuh kita juga mempunyai bagian atas dan bawah yaitu kepala yang kita sebut bagian atas dan kaki yang kita sebut bagian bawah. Maha suci Allah dari bagian atas dan bawah, bila Zat Allah berarah diatas yaitu diatas langit berarti diatas kita secara indrawi, maka Allah mempunyai bagian bawah (kaki?) karena kita ada dibawah Zat Allah. Saya berlindung kepada Allah dari itikad demikian. Saya rasa hal ini tidak perlu kita bahas lagi terlalu dalam, segala makna saya serahkan kepada Allah, hanya Dia lah yang mengetahui dirinNya dan hanya Dialah yang memberikan ilmu dan pengenalan DiriNya kepada hamba-hambaNya.

      2. Kami semua beriman kepada apa yang Allah kabarkan tentang tangan, wajah dan Istiwa Allah. Maka sebagaimana salaf kita bisa mengikuti mereka dengan menyerahkan makna yang sebenarnya kepada Allah tanpa memaknai secara zhahir sebagaimana pemahaman kita terhadap tangan, wajah dan bersemayam. Dan kita juga membenarkan dan bisa mengikuti takwil yang sesuai dengan kaidah bahasa yang dilakukan oleh ulama-ulama yang mendalam ilmunya.

      3. Budi@

        Sampeyan jangan berfantasi tentang Allah Swt, ora pareng Mas Budi, dosa lho.

        Ayat2 Qur’an itu ada yg bermakna majz ada yg hakiki. Ayat2 tentang hal2 yg sampeyan sebut itu tentang fisik Allah Swt itu bermakna majaz. Kalau sampeyan memaknai secara hakiki bisa terjerumus pada fantasi-fantasi tentang dzat Allah Swt. Ini dilarang, sebab apa-apa yg sampeyan fantasikan tentang Allah pastilah Allah swt bukan yg seperti yang sampeyan-sampeyan fantasikan itu. Karena Allah Swt adalah laitsa kamitslihi syai’un….. Tidak ada yg serupa dg Allah walaupun apa yg sekedar sampeyan fantasikan itu.

    1. Begitulah Mas, mereka mengatakan kita berfantasi padahal kita menjelaskan sesuatu yang bisa dijelaskan. Justu merekalah yang membuat fantasi dengan pertanyaan “dimana Allah” tanpa penjelasan bahwa pertanyaan itu bukan bermakna zahir mengambil tempat dan arah bagi Allah. Bukankah pertanyaan “dimana” secaara zhahir itu adalah pertanyaan tempat dan arah ? dan bukankah itu pertannyan tentang zat Allah ? tapi mereka tidak mau mengakuinya, mereka tidak paham apa yang mereka bicarakan.

    1. Busyet, loe harus mencabut kata-kata loe bro…
      Rasul dalam hadist riwayat Muslim juga bertanya di mana Allah kepada seorang budak wanita…jadi menurut loe Rasul itu sedang menuju jurang kekufuran,,? kaget ane dengarnya..
      Nabi loe sendiri loe anggap sedang menuju jurang kekufuran..?

      1. Untuk saudaraku Budi

        Kok tuduhan anda terlampau jauh ya, saya mengatakan demikian bertujuan untuk mencegah kita memasuki wilayah yang kita tidak ahli untuk menghindari kesesatan. Hadits yang anda sampaikan itu saya percaya kok tetapi itu masih perlu dipahami secara mendalam dengan hati bersih. Pertanyaan ‘dimana Allah’ untuk jaman ini tentu akan banyak menimbulkan FITNAH yang luar biasa yang merugikan umat Islam.

      1. Maksud Mbah Redhy adalah menanyakan Dimana Allah secara hakiki, yaitu pertanyaan arah atau tempat bagi Zat Allah. Bukankah pertanyaan tentang zat Allah terlarang. “Berfikirlah tentang makhluk ALLAH dan jangan sekali-kali berfikir tentang Dzat ALLAH,kerana kalian tidak akan dpt menduga-duga dengan sebenar-benarnya.”.

        Sebagian ulama menafsirkan pertanyaan Nabi kepada budak jariyah tersebut adalah untuk mengetahui apakah budak tersebut menyembah berhala yang diungkapkan sebagai berhala atau tuhan di bumi, atau menyembah Allah, yang diungkapkan dengan Tuhan yang dilangit. Dimana ungkapan dibumi menunjukkan sesuatu yang rendah dan hina, sedangkan dilangit menunjukkan Kemulyaan dan ketinggian derajat. Nabi bicara sesuai pemahaman seorang budak yang tentu saja belum mengenal agama secara sempurna sesuai dengan penalarannya. Nabi adalah orang yang bijaksana, anda tentu tahu. Di banyak kisah, nabi meminta orang untuk mengucapkan syahadat atau menanyakan tentang syahadat kepada seseorang untuk membuktikan keislamannya bukan bertanya dimana Allah. Penjelasan kang MZ tentu bisa anda pahami.

  19. @mas dodi, semua yg dirumuskan dalam akidah tentulah mempunyai dalil, dan akal kita pakai untuk memahami dalil dgn metode dan logika yg benar, oleh karena itulah Justru para ulama telah mewariskan kita ilmu kalam. kalau kita memahami semua dalil secara zhahir, maka tentu bisa saling bertentangan.

  20. @mas redhy, setiap manusia memiliki kecenderungan yg berbeda dalam memahami tuhannya. Ada yg cenderung tekstualis, ada yg cenderung rasionalis, ada yg berusaha menggabungkan keduanya. Dari dahulu hingga sekarang pertarungan dan pertentangan ini akan selalu ada. Mas redhy, ternyata ada jalan lain buat kita untuk memahami dan mengenal tuhan, yaitu jalan ruhani. Dimana kita berharap limpahan karuniaNya kepada kita untuk mengenalkan diriNya melalui hati nurani kita, melalui jiwa kita. Itulah jalan sufi. Tarekat yg bersanad ke rasulullah. Semoga kita dirahmati olehNya.

  21. @dodi. Dalil Al Quran dan Al Hadist itu suci dan utk memahami dibutuhkan hati yg seharusnya suci dan akal yg jernih biar pemahaman yg muncul jg benar dan shahih. Akal semata tdk mampu memahami scr total slrh kandungan Al Quran dan Hadist.

  22. Wah, rupanya komen saya dipahami salah ya sama mas Budi yang baik.
    Begini mas Budi, bukankah syariat telah melarang kita berpikir tentang Dzat Allah ? Nah, komen saya kemarin itu bertujuan untuk mencegah hal-hal yang dilarang oleh syariat karena yang jelas “pertanyaan tentang dimana Allah’ akan cenderung mengarahkan pembicaraan atau perdebatan tentang masalah kalam Ketuhanan. Dan kita yang disini semua adalah kaum awam dan tentu saja akan SANGAT berbahaya.
    APAKAH ANDA TIDAK MENCEMASKAN TENTANG HAL INI SAUDARAKU….?
    Sejauh pemahaman dan pengetahuan saya, tidak ada PERINTAH syairiat yang suci untuk menanyakan ‘dimana Allah”. Bukankah kalau kita munculkan pertanyaan itu, kita masuk area BID’AH yang jelas dan nyata?
    Saya juga percaya hadits Jariyah tentang budak wanita yang anda jadikan rujukan itu tetapi saya tidak menggunakan akal saya yang lemah dan kotor ini untuk menafsiri sendiri.
    Saudaraku Budi yang baik, apakah tidak anda pahami bahwa kita semua ini sejatinya makhluk yang lemah, hina, kotor. Apakah manusia yang lemah ini akalnya mampu memahami Allah swt yang MAHA SUCI, MAHA BESAR, MAHA TINGGI…..

    Kalaulah anda tetap meyakini Allah bertempat dilangit, itu hak anda sepenuhnya yang kelak anda pertanggungjawabkan kepada Allah swt. Tetapi saya tetap yakin Allah Yang Maha Besar tidak membutuhkan tempat.

    AKAL SAYA YANG LEMAH INI TIDAK AKAN MENGUTIK-UTIK HAK KETUHANAN, DAN CUKUPLAH SAYA MENGIKUTI PETUNJUK PARA GURU DAN ULAMA YANG AHLI SEKALIGUS ARIFBILLAH.

  23. SEANDAINYA SAYA ULAMA, JIKA ADA MURID YANG BERTANYA ‘DIMANA ALLAH’ MAKA PERTAMA-TAMA SAYA TAMPAR DIA LALU SAYA SURUH TAUBATAN NASUHA.

    PERTANYAAN ITU MERUPAKAN BENTUK KEKURANG AJARAN SEORANG HAMBA KEPADA TUHANNYA.

  24. Ping-balik: Mengaku Ahlussunnah Waljama’ah, Tapi Kok Menganggap Sesat Asy’ariyyah Maturidiyyah ??? « UMMATI PRESS
    1. @ mbah redhy abu jamal
      video diatas itu tentang kebenaran tauhid sifat 20, kok diblang video sampah. saya udah donload video itu dan di copy dgn ceramah ustadz sahul hamid yang membongkar wahabi dan udah dibagi-bagikan keorang yg terkena virus wahabi disekitar kampung saya.

Tinggalkan Balasan

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker