Kajian Ilmiyah

Bid’ah ! Akibat Salah Memahami Bid’ah Akhirnya Muncul Fitnah Bid’ah

Memahami Bid’ah. Akibat Salah Memahami Bid’ah Akhirnya Muncul Fitnah Bid’ah. Amalan bid’ah di dalam ibadah adalah perkara yang harus dihindari oleh kaum muslimin. Semua kita tahu bahwa kita harus hati-hati dengan amalan ibadah yang bid’ah (dholalah) sebab  akan sia-sia karena ditolak oleh Allah Swt. Ini berarti  amalan tersebut tanpa menghasilkan pahala sebagai “ganjaran” dari amalan ibadah kita. Alias capek doangan.

Dus, dengan demikian sudah pasti setiap muslim akan selalu berusaha membersihkan  perkara bid’ah (dholalah) dalam setiap amalan ibadahnya. Kita tidak ingin beramal ibadah tetapi sia-sia tanpa pahala.  Karena itulah memahami perkara-perkara  yang berkaitan dengan thema kebid’ahan menjadi sangat diperlukan;  urgensi  mempelajarinya menempati posisi  sedemikian penting lebih-lebih di zaman fitnah Islam yang semakin meruncing.

Banyak hadits Nabi Saw  yang isinya memberitahukan tentang perkara bid’ah, dan para ulama salaf  kita telah pula memperjelas secara lebih detail tentang apa-apa yang dimaksud dengan bid’ah. Kita tinggal mengikutinya karena kita percaya kepada para Ulama Faqih yang sholih itu, semisal Imam Syafi’i.  Tapi kemudian di akhir zaman ini ada golongan  (firqah) yang berusaha secara leterleg  “ittiba”,  dan praktiknya cenderung tanpa ilmu yang memadai.

Sehingga Mereka menganggap bahwa setiap bid’ah adalah sesat karena ada hadits Nabi Saw yang mengatakan demikian secara harfiyah, yaitu kullu bid’atin dholalah. Dari  sinilah bermula  akan  munculnya fitnah-fitnah bid’ah  akibat dari berbagai kesalah-pahaman dalam memahami  bid’ah oleh firqah tersebut.  Padahal para Ulama Salafuna Shalih sudah dengan begitu gamblang dan transparan  dalam menjelaskan perkara bid’ah tersebut.

Nah, dalam rangka lebih memperjelas penjelasan para Ulama Salaf  yang  sholih itulah tampil seorang facebooker bernama  Imam Nawawi memberikan tutorialnya bagaimnana memahami perkara bid’ah secara benar. Mari kita ikuti paparannya yang sangat menarik dan bermanfaat berikut ini …..

bidah - Bid'ah ! Akibat Salah Memahami Bid'ah Akhirnya Muncul Fitnah Bid'ah
Memahami Bid’ah – CC BY-NC by Swamibu

KESALAH-PAHAMAN SALAFI WAHABI MEMAHAMI BID’AH

Oleh:  Imam Nawawi

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Dengan rahmat dan hidayah Allah, ana paparkan kesalahan “kaum wahhabi”:

1. Tidak memperdulikan sabda Sahabat Umar “Ni’matul bid’atu hadzihi” (alangkah bagus bid’ah ini).

2. Memberi makna “kullu” hanya satu macam, yaitu “tiap-tiap/semua”.  Padahal arti “kullu” itu ada dua, yaitu : “tiap-tiap” dan “sebagian”

Seperti kita maklumi, menurut istilah ilmu manthiq:

– “kullu” yang berarti “tiap-tiap” disebut “kullu kulliyah”

– “kullu” yang berarti “sebagian” disebut “kullu kully”

contoh “kullu kulliyah”

BACA :  Buku-buku Sesat Tentang Kyai NU Buatan Para Aktifis Wahabi di Indonesia

firman Allah: “Kullu nafsin dza’iqotul maut”  yang artinya “tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”

contoh “kullu kully”

firman Allah: “wa ja’alnaa minal maa’i kulla syai’in hayyin” yang artinya “Dan telah kami jadikan dari air sebagian makhluk hidup”.

kalau “kulla syai’in” di sini diartikan “tiap-tiap/semua” maka bertentangan dengan kenyataan, bahwa ada makhluk hidup yang dijadikan Allah tidak dari air,  seperti malaikat dari cahaya, dan jin juga syetan dari api.

firman Allah: “wa kholaqol  jaanna min maarijin min naar”  yang artinya “Dan Allah telah menjadikan semua jin itu dari lidah api”

Jelaslah bahwa arti “kullu” itu ada dua yaitu “tiap-tiap” dan “sebagian”.

Kesalahan kaum Salafi wahhabi, karena mengartikan “kullu” hanya satu macam, yaitu “tiap-tiap”, sehingga dengan  dalil “kullu bid’atin dlolalah” mereka menganggap semua bid’ah sesat tanpa kecuali.

Kesalahan Kaum Wahabi yang lain dalam memahami bid’ah:

kaum wahhabi menganggap “bid’ah” itu hanyalah pada urusan “ibadah”. Pada selain urusan ibadah mereka anggap tidak ada bid’ahnya. Kata kaum wahhabi: Ibadah itu tak boleh diubah, ditambah, dikurangi atau diciptakan sendiri,  kesemuanya harus berbentuk asli dari Nabi.

Adapun urusan “selain ibadah” kata kaum Salafi wahhabi bolehlah berubah menurut keadaan zaman. Terhadap anggapan ini mereka terapkan hadits Nabi saw:

“Jika ada soal-soal agamamu, serahkanlah ia kepadaku. Jika ada soal-soal keduniaanmu, maka kamu lebih mengetahui akan soal-soal duniamu itu”

Secara dangkal,  sepintas lalu anggapan Wahhabi ini seperti benar. Tetapi sebenarnya salah, karena:

-“Bid’ah” itu selain urusan “ibadah” juga terdapat di dalam urusan “mu’amalah” (pergaulan masyarakat).  Seperti: pementasan lakon-lakon Nabi dalam drama, baik bersifat hiburan atau komersil.

-sasaran hadits di atas sebenarnya bukan mengenai “Bid’ah” melainkan mengenai “hukum” dan “teknis”

contoh:

banner gif 160 600 b - Bid'ah ! Akibat Salah Memahami Bid'ah Akhirnya Muncul Fitnah Bid'ah

-Hukum membangun masjid adalah urusan agama, harus dikembalikan kepada Nabi, artinya harus bersumber dari Qur’an dan sunnah. Sedang teknik pembangunannya adalah “urusan dunia” dan ini diserahkan kepada  ummat, terserah menurut perkembangan peradaban manusia.

-Hukum pertanian adalah urusan agama. Harus bersumber dari Qur’an atau Sunnah. Teknik cocok-tanamnya adalah urusan dunia. Terserah kepada  perkembangan peradaban.

Di dalam pengertian inilah Nabi menyabdakan Hadits di atas. Bukan di dalam pengertian “kaum wahhaby” di atas.

Kesalahan wahhaby yang lain, adalah mereka menganggap bahwa “ibadah” itu hanya satu macam, yang semua bentuknya harus asli dari Nabi saw. Padahal tidak demikian. Yang benar “ibadah” itu ada dua macam, yaitu:

BACA :  Pemahaman Firanda Soal "Syubhat Ketiga" Bid'ah Hasanah yang Wajib Diluruskan

1. Ibadah Muqoyyadah (Ibadah yang terikat) seperti:

– Sholat wajib 5 waktu

– Zakat wajib

– Puasa Ramadhan

– Haji, dsb…..

Ibadah-ibadah ini mempunyai keasalannya (keasliannya) dari Nabi saw dalam segala-galanya, hukumnya, teknis pelaksanaannya, waktu dan bentuknya. Kesemuanya diikat (muqoyyad) menurut aturan-aturan tertentu. Tidak boleh dirubah.

2. Ibadah Muthlaqoh (Ibadah yg tdk terikat secara menyeluruh), seperti:

– Dzikir (lisan atau hati) kepada Allah SWT.

– Tafakkur tentang makhluk Allah.

– Belajar atau Mengajar ilmu agama.

– Berbakti kepada ayah dan ibu (birrul walidain)

– dsb……

Ibadah-ibadah  ini mempunyai keasalan dari Nabi saw.  dalam beberapa hal, sedang mengenai bentuk dan teknik pelaksanaannya tidak diikat dengan aturan-aturan  tertentu, terserah kepada ummat,  asal tidak melanggar garis-garis  pokok “Syari’at Islam”.  Pada ibadah muthlaqoh inilah kadang terjadi “bid’ah hasanah”.   Demikianlah paham Ahlussunnah wal jama’ah yang jelas bertentangan dengan  paham “kaum wahhabi”.

*****

Sebagai tambahan ana paparkan contoh-contoh  bid’ah hasanah:

– Membendel Qur’an menjadi kitab (mushaf) diawali dengan  Fatihah dan diakhiri dengan  an-Naas

– Memberi titik-titik dan syakal pada tulisan al-Qur’an (Pada masa Nabi saw. tidak ada titik dan syakalnya)

– Membuat istilah hadits shohih, hadits hasan, hadits dloif,  dsb. (Pada masa Nabi ini juga tidak ada)

– Mengajar/belajar agama di Madrasah-madrasah  secara klasikal (ber-kelas-kelas) dan bertingkat-tingkat  dari dasar, menengah sampai universitas.

– Peringatan Maulid Nabi saw dalam segala bentuk yang tidak bertentangan dengan garis-garis  Syari’ah Islam

Demikian paparan ana semoga bermanfaat dan ana berharap dengan  do’a semoga kita semua dijauhkan Allah dari kesesatan kaum wahhaby ini sampai akhir hayat nanti…. Aamiin Allaahumma Aamiin

*****

Sebagai tambahan lagi,  inilah penjelasan Ulama’-ulama’  ahlussunnah wal jama’ah mengenai pembagian bid’ah.

Pembagian Bid’ah

1. Menurut Imam Syafii

“Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama sesuatu yang baru yg menyalahi Qur’an atau Sunnah atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dlolalah. Kedua, sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi Qur’an, Sunnah dan Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela (bid’ah hasanah).”  (Kitab Manaqib Syafii, karya Imam Baihaqi juz 1 hal. 469)

2. Menurut Imam Ibn Abdilbarr (seorang hafidz {hafal lebih dari 400 ribu hadits} dan faqih dari Madzhab Maliki)

BACA :  Hobi Baru Wahabi: Gemar Menuduh Syiah ke Umat Islam

“Adapun perkataan Umar, sebaik-baik bid’ah, maka bid’ah berdasar lisan arab (bahasa arab) adalah menciptakan dan memulai sesuatu yang belum pernah ada. Maka apabila bid’ah tersebut dalam masalah agama menyalahi sunnah yang telah berlaku, maka itu bid’ah yang tidak baik, wajib mencela dan melarangnya, menyuruh menjauhinya dan meninggalkan pelakunya apabila telah jelas keburukan alirannya. Sedangkan bid’ah yang tidak menyalahi syari’at dan sunnah, maka itu (termasuk) sebaik-baik bid’ah (bid’ah hasanah) (Kitab al-Istidzkaar juz 5 hal. 152)

3. Menurut Imam Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi (Imam Nawawi)

“Bid’ah terbagi  menjadi dua, bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah qobihah (buruk) (Kitab Tahdzibil-asmaa’ wal-lughot, karya Imam Nawawi juz 3 hal. 22)

4. Menurut Imam Hafidz Ibn Atsir al-Jazari dlm kitabnya an-Nihayah fi ghoribil-hadits wal-atsar.

“Bid’ah ada dua macam; bid’ah huda (sesuai petunjuk agama) dan bid’ah dlolal (sesat)

5. Menurut Imam Qodhi Abu Bakar Ibn Arabi al-Maliki (Ibn Arabi) dlm kitab karyanya “Aridzat al-Ahwadzi Syarh Jami’ al-Tirmidzi,

“Umar berkata: “Ini sebaik-baik bid’ah”. Bid’ah yg dicela hanyalah bid’ah yang menyalahi sunnah.

6. Menurut Imam Ibn Hajar Al-Atsqolani dlm kitabnya Fathul Bari juz 4 hal. 253

“Sebenarnya, apabila bid’ah itu masuk dlm naungan sesuatu yang dianggap baik menurut syara’, maka disebut bid’ah hasanah. Bila masuk dlm naungan sesuatu yang dianggap buruk oleh syara’, maka disebut bid’ah mustaqbahah (tercela).”

7. Menurut Imam al-‘Aini (762-855 H) seorang hafidz (yg hafal ratusan ribu hadits) dan faqih yang bermadzhab Hanafi berkata dlm kitabnya ‘Umdat al-Qori juz 11 hal. 126:

“Bid’ah pada mulanya adalah mengerjakan sesuatu yang belum pernah ada pada masa Rosulullah saw. Kemudian bid’ah itu ada dua macam. Apabila masuk dlm naungan sesuatu yang dianggap baik oleh syara’ maka dsebut bid’ah hasanah, Apabila masuk dibawah naungan sesuatu yang dianggap buruk oleh syara’, maka disebut bid’ah mustaqbahah (tercela).”

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa menurut para Ulama’ Ahlussunnah wal Jama’ah, bid’ah terbagi menjadi dua, yaitu:

1. Bid’ah Hasanah (bid’ah yg sesuai dg dalil syara’/Qur’an dan Hadits Nabi saw.)

2. Bid’ah Dlolalah (bid’ah yg bertentangan dg dalil syara’/Qur’an dan Hadits Nabi saw.)

Alhamdulillaahirobbil’aalamiin….

sumber

 

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

103 thoughts on “Bid’ah ! Akibat Salah Memahami Bid’ah Akhirnya Muncul Fitnah Bid’ah”

    1. Nte dan ustadz2 Nte tak bakalan bisa membantah kebenaran artikel di atas. Coba bantah kalau merasa Nte orang yg tidak bahlul.

  1. Alhamdulillah, penjelasannya Kang Imam Nawawi sangat jelas. Matur nuwun…..

    Kalau orang-orang Wahabi masih ngotot menganggap semua bid’ah adalah sesat, artinya mereka memang benar-benar orang2 bodoh murokkab sebab anggapan seperti itu secara otomatis memvonis sesat kepada para Imam Madzhab sebagai ahlul bid’ah.

    Silahkan baca artikel di atas lebih teliti biar pada paham dengan pemahaman yg benar.

  2. mohon perhatiannya dari semua saudara2 ku…ada blog yg bgtu kurang ajar menghina ISLAM sehina hinanya nama blog tsbt forum murtadin indonesia/faith freedom indonesia..saya sdh info kan k radio2 islam jakarta u menyebarkannya, saya juga berniat melaporkan ke MUI, DEPKOMINFO, PBNU,FPI, dan organisasi islam lainnya krna sangat berbahayanya tulisan di blog tsbt…pnlis artikel di blog tsbt bnyk memutar balikan tafstir qur’an dan hadits…

    1. setuju bro cuman kita ngga usah nanggepin terlampau jauh …….sebab tujuan mereka hanya memancing umat islam . jikalau kita nangepin maka MEREKA BERHASIL ……..kalau di laporkan ana sepakat bro .

  3. alhamdulillah…. Sangat jelas dan jangan salah paham lagi sebab bisa menimbulkan fitnah bagi kaum muslimin semuanya, karena itu jengan sembarangan ngatain bid’ah pada amalan ibadah ummat islam.

  4. @Sudah banyak masalah bid’ah dibahas. Tetapi pembahasan kali ini begitu mudah dipahami oleh awam sekalipun. Hanya orang yang terhijab hatinya yang menolak definisi bid’ah dalam artikel di atas. Wahai saudaraku, tidak bisakah saudaraku menghormati sikap saudaramu yang benar-benar ikhlas mengikuti pendapat para imam yang disebutkan artikel di atas?

  5. Artikel yang top abis. Tambahan buat kesalahan wahabi, mereka menuhankan pemahamannya sendiri sehingga dengan mudahnya mengadili muslim/mukmin yg lainnya

  6. Dengan paparan artikel di atas yg sangat praktis untuk dipahami maka tidak ada alasan lagi untuk salah paham. Kelebihan artikel di atas adalah dari segi tutur kalimatnya yg sederhana namun mudah dimengerti, baik oleh yg sudah advance ataupun yg masih awam sekalipun. Luar biasa mudah, ajiiib deh.

    Keep blogging, semangat terus menebarkan ilmu yg bermanfaat, semoga Allah Swt meridhai usaha kita semua dalam memahami agama ini dg benar, amin…..

    1. Emang ada yang salah dengan artikelnya? sudah dibuat penjelasan yang sederhana, lugas dan mudah dimengerti aja, masih tidak mengakui bahwa bid`ah itu adapula yang hasanah.

    2. Jika sudah diberi penjelasan dg kalimat sederhana yg mudah dipahami tetapi kok masih belum mengerti juga, ini membuktikan bahwa orang tersebut memang “bekepala batu”. Semoga kita diselamatkan dari orang-orang berkepala batu, sebab biasanya mereka memiliki sifat fatalistik yg menjadi asbab perilaku sebagai DESTROYER. Na’dzu billah, laa khaula walaa quwwata illa billah….

  7. Yang tidak setuju adalah ahlul bid’ah dholalah yang sebenarnya. Sebab para Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dari kalangan salaf sholih justru melegalkan Bid’ah Hasanah.
    Titik.

  8. Boleh nih menambahkan:
    Sulthan al-`Ulama al-`Izz ibn `Abd al-Salam mengatakan pada bagian akhir kitabnya, Al-Qawa`id, “Bid`ah itu terbagi menjadi: yang harus (wajib), yang dilarang (haram), yang dianjurkan (sunnah), yang tidak dianjurkan (makruh), dan yang boleh (mubah). Cara mengetahui yang mana yang masuk ke salah satu dari kelimanya adalah dengan mencocokkannya dengan hukum agama.” (hal.16, Maulid dan Ziarah ke Makam Nabi karya Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (terj.), pen.SERAMBI Jakarta th.2007)

  9. Singkat, padat, jelas. Insya Allah dapat dipahami oleh orang awam sekalipun, kecuali yg telah tertutupi hatinya 🙂
    Syukran @Ummati

    1. dan yang otaknya terkena virus wahabi sangat parah, sehingga tidak ada lagi akal sehat untuk berfikir waras serta hati nurani telah beku tak dapat lagi merasakan keindahan akan kebenaran sejati.

  10. Assalkamu’alaikum,
    apa kabar teman-teman semuanya?

    Ya, dari dulu ana sering bingung soal bid’ah, bahkan sampai ana menemukan blog Ummati ini pun ana masih bingung walaupun dalam hati membenarkan karena cocok dg tema-tema yg diangkat di sini. Nah…. artikel tentang bid’ah di atas adalah sebuah uraian yg sangat mudah dimengerti, kalimatnya jelas, sederhana dan tidak berbelit. Hanya ada sedikit kekurangan yaitu tidak disertakan teks Arabnya, tapi tidak mengapa mungkin ini hanya kendala teknik penulisan sang penulisnya Ustadz Imam Nawawi, mungkin keyboardnya tidak mendukung penulisan arab. Tapi dg itu malah tulisan di atas terkesan orisinalnya.

    Lebih dari itu, ana semakin yakin kebenaran tentang adanya bid’ah hasanah, sebab para Imam madzhab menjelaskan demikian dan sejalan dg fakta dimasyarakat betapa banyaknya bid’ah hasanah.

    Syukron ya @UMMATI, semoga tetap eksis. Ana selalu menyimak postingan terbaru, dan selalu menunggu artikel selanjutnya.

    1. setuju sama ummu aiman,,dulu ane pengikut setia kaum wahabi,tapi setelah banyak penjelasan dari para Ulama Ahlussunnah dan menunjukan akhlak yang lembut, ane tambah yakin kalo Ulama Ahlussunnah jalan yang benar..

    1. apakah antinu lebih pandai dan lebih alim daripada al-imaam asy-Syafi’i rahimahullaah?
      yang nyata-nyata beliau mengatakan bid’ah itu ada dua macam, bid’ah hasanah dan bid’ah madzmumah?

  11. @antinu, bid’ah adalah sesuatu yang baru, bukan kesesatan. Pahami maknanya dengan baik, baca artikel diatas dan pahami maksudnya, anda insyaallah akan mengerti. Semoga Allah memberi anda kesadaran.

  12. @antinu: kalau menurut ente bidah tidak dibagi-bagi. Tolong BUKTIKAN kalau al-Imaam asy-Syafi’i rahimahullaah TIDAK MEMBAGI bid’ah menjadi dua, bid’ah hasanah dan bid’ah madzmumah.

    Apakah SALAH seorang muslim mengikuti pendapat al-Imaam asy-Syafii rahimahullaah di dalam permasalahan bid’ah ini????

    Kemudian, apakah SALAH al-Imam asy-Syafi’i rahimahullaah membagi bid’ah menjadi dua macam, bid’ah hasanah dan bid’ah madzmumah????

    Satu lagi, TOLONG BUKTIKAN kalau Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam TIDAK MELAKUKAN PEMBAGIAN BID’AH.

  13. alhamdulillahirobbil’alamin… artikel diatas benar-benar membuka mata hati dan pikiran saya….. sekarang saya sadar bahwa ilmu yang saya terima selama inisangatlah cetek sehingga selama ini saya berani mengatakan sesat pada orang yang bertawasul, maulidan, ziarah kubur bahkan saya katakan penyembah kubur… astaghfirullahaladzim….. ternyata banyak sekali yang masih harus saya pelajari dan saya harus banyak belajar lagi dan menimba ilmu dari berbagai sumber. tidak seperti selama ini saya hanya menurut apa kata usatdz salafi saya saja. terima kaih admin atas artikelnya semoga bisa mencerahkan dan membuka hati saudara-saudara saya yang masih suka membidahkan, mensesatkan dan mengkafirkan saudara muslim yang bertawasul, maulidan, ziarah kubur dll. karena ternyata itu semua ada ilmunya. buat saudara-saudara aswaja mohon maaf atas komentarkomentar saya selama ini yang sering diluar batas dan tanpa kendali. saya akan sering-sering mengunjungi blog ini untuk menambah ilmu.

    1. @ Sufrit
      Alhamdulillah ente telah terbuka mata hatinya sehingga ente bisa terlepas dari jeratan pemahaman wahabi. teruslah belajar dengan menyambangi situs2 anti wahabi seperti ummati ini dan bacalah kitab2 ulama wahabi yang asli jangan tertipu dgn buku ASWAJA palsu yg diterbitkan oleh penerbit2 wahabi.

      1. Ralat komentar saya diatas :
        “dan bacalah kitab2 ulama wahabi yang asli”

        maksud saya yg benar adalah :
        dan bacalah kitab2 ulama ASWAJA yang asli

        Wasalam Wr Wb.

    2. alhamdulillah, semoga kang @Sufrit istiqamah dalam kebenaran Ahlussunnah Waljama’ah (ASWAJA). Sering dengar tausiah Habib sangat menyejukkan hati, ana sudah merasakannya sendiri.

    3. sufrit@

      Sukur alhamdulillah @Mas Sufrit sudah tergugah hatinya, semoga tidak salah paham lagi. Antum benar, intinya adalah jangan menutup diri terhadap informasi, buka pikiran dan hati insyaallah hidayah akan dianugrahkan kepada kita semua.

      Ngomong-ngomong berarti antum sudah stop jadi pengacau di blog kita ini ya? Semoga tidak terjerumus lagi dalam “Pemahaman Ekstreem”. Oh ya Mas, kalau tidak keberatan tolong ceritakan pengalaman antum, bagaimana antum bisa berubah sedemikian drastis, biar nanti kami share sebagai postingan di blog kita ini. Syukron akhi …..

  14. bid’ah (baru)dlm agama,sesuatu yng baru dlm agama yng tdk ad perintahnya
    tertolak.rosululloh dlm hadistnya mengatakan ‘setiap bentuk bid’ah adlh sesat’ bkn saya yng mengatakan tp belìu Rosululloh

    1. “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari? pahalanya, dan barang siapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi).

      Wallahu ta’ala a’lam

  15. [buat admin: Comment saya kenapa tidak muncul-muncul, jika ada duplikasi tolong dihapus saja]

    dan jangan lupa pula, Rasulullah shollallaah ‘alaih wa sallam juga bersabda:

    ?????? ????????? ???????? ????????? ??? ???????? ????? ???????????? ????? ???????? ?????? ?????? ???? ?????? ????? ??? ???????? ?????? ???? ????????? ???????? ???????
    ???? ???????
    “Dan barang siapa mengadakan sebuah bid’ah dhalaalah (sesat), yang tidak diridhai Allah dan Rasul-Nya, maka dia memperoleh dosa sebanyak dosa orang yang mengamalkannya tanpa sedikit pun mengurangi dosa-dosa mereka.”
    (HR. Tirmidzi)

    Dalam hadits di atas disebutkan, “Barang siapa mengadakan sebuah bid’ah dhalaalah (yang sesat).” Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua bid’ah sesat. Andaikata semua bid’ah sesat, tentu Beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam akan langsung bersabda:

    “Barang siapa mengadakan sebuah bid’ah.”

    Dan tidak akan menambahkan kata dhalaalah dalam sabdanya tersebut. Dengan menyebut kalimat “Bid’ah dhalaalah (yang sesat),” maka logikanya ada bid’ah yang tidak dhalaalah (yang tidak sesat).

    Ini yang bersabda Rasulullaah shollallaah ‘alaih wa sallam lho.

  16. @antinu, ‘bukan sy yg mengatakan tp beliau rasulullah’ memang rasul yg mengatakan, tp anda yg memberikan pemahamannya. Sedangkan kami punya pemahaman yang berbeda atas ucapan rasul, terutama maksud kata ‘kullu’ sebagaimana artikel diatas. Sudah dijelaskan bukan? Itulah maksud perkataan rasul menurut pemahaman kami sebagaimana pemahaman ulama.

    1. sip kang dianth,
      yang jelas kita emang kudu banyak2 ngaji nya,biar tahu,nggak dablek en gampang mudeng nya jika di kasih tahu sama yg berilmu,begitu gampang nya he..he…
      salam kang dr ane…

  17. Akhiy antinu silahkan dengarkan penjelasan Mufti Syaikh Aliy Jum’ah Muhammad tentang bid’ah

    Semoga bermanfaat

  18. barang siapa membuat baik dlm islam mk akn mendpat pahala…ana tanya baik menurt siapa?memurut manusia /ALLOH ?baik menurut manusia blm tentu baik menurut ALLOH AZZA WA JALLA ,imam syafi’i plng memusuhi bid’ah ap mungkin beliau menjalankan bid’ah ,beliau membagi mjd 2 ,memang benar tp ap pemahaman kita sesuai dng pemahaman beliau soal bid’ah

    1. makanya ngaji yang bener biar sesuai pemahamannya bro ………bemahzab aja nt kata bid’ah kok bawa2 nama Imam Syafi’i ?????

    2. @a-nu
      assalamualaikum..
      telah jelas dan gamblang di atas di paparkan,walaupun secara ringkas,
      ikutuilah penjabaran/penjelasan ulama yg benar2 jelas keilmuanya dan ketaqwaannya,lalu bandingkan dengan keilmuan dan ketaqwaannya ulama yg sekarang ente ikuti,Insya Allah tercerahkan…
      Amiiin..

    3. antum tanya baik menurt siapa?
      Ana jawab->Menurut pemahaman para ulama berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah.

      Catatan-Antum jangan mudah menggelari muslimin lain hal-hal yang negatif seperti syirik, ahli bid’ah dll jika antum sendiri belum paham betul syari’at Islam.

      Wallahu ta’ala a’lam
      Saya ada sesuatu buat antum, add saya afevpoenya@yahoo.com

  19. antinu@tetaplah istiqomah,pemahaman bid’ah menurut mereka,kalau bukan karena riwayat maudlu atau berdasar hawa nafsu mereka

  20. @kabayan, perkataan ente adalah palsu dan memperturutkan hawa nafsu ente yg suka berprasangka jelek terhadap kaum muslimin dan ulama yg berbeda dgn pemahaman ulama-ulama ente. Kenyataannya mayoritas ulama telah menerima pembagian masalah bidah ini, dan kenyataannya lagi para ulama zaman sekarang telah mempelajari dan mengkaji masalah ini secara komprehensif. Perkataan ente adalah bidah, karena dari zaman salaf, tidak ada ulama salaf yg menuduh pemahaman ulama lainnya mengikuti riwayat maudhu apalagi menurutkan hawa nafsu. Kalau pendapat kami menurut pemahaman ulama ente salah, katakan saja salah, tp tak usah bawa2 riwayat palsu apalagi menurutkan hawa nafsu. Na’udzubillah.

    1. yang memaki-maki nick name sufrit palsu diatas, kayaknya antinu yg menyamar sufrit. itu terliahat garafatarnya yang sama dengan antnu.

  21. @kabayan
    kalo menurut ente, hadits riwayat muslim yg ditulis mas afif tgl 27 Mei 2011 pukul 9:57 pm | #40 itu hadits maudlu, gitu ya?

  22. @mamo
    ana tanya bid’ah yng sesat cnthnya apa?
    krna imam syafi’ì plng memusuhi bid’ah bkn mendukung bid’ah wlpun beliau menbgi bid’ah mjd 2.

    1. bid’ah sesat adalah bid’ah yang tidak sesuai(menyalahi) dgn AL Qur’an n Al Sunah kalau bid’ah namun nggak ada larangan (menyalahi) dgn Al Qur’an n Al Sunnah boleh …….Imam as Syafii ra berkata “Apa yang baru terjadi dan menyalahi kitab al Quran atau sunnah Rasul atau ijma’ atau ucapan sahabat, maka hal itu adalah bid’ah yang dlalalah. Dan apa yang baru terjadi dari kebaikan dan tidak menyalahi sedikitpun dari hal tersebut, maka hal itu adalah bid’ah mahmudah (terpuji).

      Hadist Nabi yang menyatakan bahwa setiap bid’ah itu adalah sesat, adalah masih dapat menerima pengecualian, karena lafadz kullu bid’atin adalah isim yang dimudlafkan kepada isim nakirah, sehingga dlalalah-nya adalah bersifat ‘am (umum). Sedangkan setiap hal yang bersifat umum pastilah menerima pengecualian. Untuk itulah dijelaskan oleh hadits yang lain dengan istilah “di dalam Islam” atau “urusan kami”. nah pahami lah mas antinu@ apa masih kurang jelas bro ?????
      ngaji lagi sana biar nggak bingung …….wassalam

    1. @ kabayan
      link yang anda berikan diatas, udah saya kunjungi dan koment saya udah muncul disana ternyata dihapus. kok gitu ya blog “wahabi” komentar yg kritik dihapus tapi yang pro dimuat ? gak kayak disini yg pro maupun yg anti tetap dimuat walaupun koment para wahabiyun penuh cacimaki dgn kata2 kotor tetap dimuat.

  23. @antinu kalau nt benar2 tau Imam Syafi’i plg memusuhi bid’ah kenapa nt nggak bermahzab dan mempelajari hasil ijtihadnya beliau ? dan nggak mengambil sepotong2 ilmunya bro ????? (admin coment ana ditelan askimet )

  24. @kabayan, Nabi SAAW membagi sunnah menjadi 2, yaitu sunnah hasanah dan sunnah sayiah, coba sebutkan contoh sunnah hasanah dan sunnah sayiah dalam kehidupan sehari-hari yang dimaksud oleh Nabi SAAW menurut ente ( pemahaman ulama salaf )

  25. abh asra@ae tak pernah memaki2 si sufrit jngn asal tuduh
    @mamo
    AL-Imam asy-syathibi berkta tentang syrah hdst diats’hadist ini mnrt para ulama dibwa pd keumuman,tdk dikecualikan drnya appun sma sekali dan tdk ad dari bid’ah yng bgs sama sekali…
    AL-Fatawa.180-181,ILmu ushul Bida’91

  26. @kabayan, anda boleh saja menolak penjelasan Imam Nawawi, tetapi perlu anda ketahui juga banyak ulama yg membagi bidah ini, termasuk wahabi yg membagi bidah menjadi 2, urusan agama dan urusan dunia. padahal pembagian ini juga hasil pemikiran dan melihat kenyataan bahwa tak mungkin maksud ‘kullu’ adalah semua secara mutlak tanpa kecuali, kenyataannya urusan dunia juga bisa hasanah dan dholalah. Maka kalau bidah yg bertentangan dgn syariat atau hukum2 agama dan mematikan sunnah, jelaslah itu bidah dholalah, baik urusan agama maupun urusan dunia.

    1. Adakah ulama salaf dan khalaf yang menyesatkan para sufi yang berpegang dengan Alqur’an dan Sunnah?

      Syaikh Junaid Al Baghdadiy adalah salah satu tokoh sufi yang berpegang teguh kepada Alqur’an dan Sunnah

      Wallahu ta’ala a’lam

  27. @antinu, anda bisa saja berpendapat menurut perkataan Imam Syatibi, tp kalau anda konsisten menetapkan perkataan Imam Syatibi menurut pemahaman antum, maka tidak ada namanya bidah diniyah dan duniawi.

  28. Saya jadi bertanya-tanya urusan dunia mana yg bukan jadi urusan agama? Lalu apakah perkara baru dalam ‘urusan dunia’ semuanya baik? Melihat kenyataan ini saya lebih meyakini kebenaran pembagian bidah menjadi hasanah dan dholalah. Kenyataannya para ulama yg membagi bidah seperti ini juga memerangi bidah (dholalah) dan menegakkan sunnah. Maka aneh juga bila ada yg mengaku menegakkan sunnah hanya gara-gara melarang tawasul, tahlilah, sholawatan, maulidan, zikir berjamaah, dsbgnya. Padahal semua itu ada kesesuaian dgn sunnah, dan bentuk pengamalan sunnah. adapun masalah urutan, waktu pelaksanaan, penambahan dan variasi yg tidak melanggar syar’i adalah termasuk hal-hal yg tidak ada hukum kepastian thrdp masalah tsb, bahkan berdasarkan dalil umum semua itu diperbolehkan.

  29. Sejujurnya ana katakan dari lubuk hati yg paling dalam, ilmu-ilmu yg dipegang oleh Wahabi/salafy adalah ilmu-ilmu yg kontradiktif. Hal ini bisa diketahui hanya oleh orang-orang yg mau memikirkan dan merenungkannya.

    Sebagai contoh, mereka mendifinisakan setiap bid’ah adalah sesat. Tetapi kemudian mereka membagi menjadi bid’ah dunia dan bid’ah agama.

    Sebenarnya apa yg ditulis oleh Imam Nawawi di atas adalah mudah dipahami, tapi kenapa masih saja ada ngeyel ya? Ataukah yg ngeyel tersebut belum baca artikel di atas? Sebaiknya baca dulu, kalau ada yg salah dari artikel tsb silahkan dikritik, insyaallah nanti ada yg menjelaskannya di sini. Semoga kita semuanya mendapat hidayah-NYA, syaratnya bukalah hati dan fikiran kita seperti yg dianjurkan oleh @Admin Ummati pada koment no. 39 di atas, mengenai anjurannya kepada Mas @Sufrit.

  30. Dalam kaidah syari’ah ditetapkan bahwa tidak boleh mengingkari perbuatan yang masih diperselisihkan, yang boleh adalah mengingkari perbuatan yang telah disepakati keharamannya. Dan barang siapa yang mengamalkan-bid’ah hasanah- dan selalu melaksanakanya maka orang itu dalam kebaikan dan sesuai dengan Sunnah. Dan barang siapa yang enggan melaksanakannya karena mentaklid ulama yang mengingkarinya, maka tidak apa-apa, dengan catatan tidak boleh mengingkari orang yang melakukannya.

    Wallahu subhanahu wata’ala a’lam

  31. All Pengunjung@

    Bid’ah adalah hal baru yg tidak ada di zaman Rasul Saw. Yang perlu digaris-bawahi adalah bahwa: “bid’ah itu bukan hukum syari’at”.
    Justru bid’ah itu bisa dihukumi haram, makruh, mubah, sunnah, bahkan wajib.

    Hayo, adakah teman-teman bisa kasih contoh dari statement di atas? Atau adakah statement di atas salah?

  32. Ummati@

    Memang seperti itu menurut madzhab Imam Syafi’i, bid’ah itu bukan hukum. Tapi justru bisa dihukumi haram, wajib dll.

    * Contoh bid’ah yg haram: “banyak sekali”.

    * Contoh bid’ah wajib misalnya belajar ilmu nahwu yang sangat vital untuk memahami kitabullah dan sunnah rasulnya.

    * Contoh bid’ah haram misalnya pemikiran dan fikrah yang sesat seperti Qadariyah, Jabariyah, Murjiah dan Khawarij.

    * Contoh bid’ah sunnah (mandub) misalnya mendirikan madrasah, membangun jembatan dan juga shalat tarawih berjamaah di satu masjid.

    * Contoh bid’ah makruh misalnya menghias masjid atau mushaf Al-Quran. Sedangkan
    * contoh bid’ah mubah misalnya bersalaman setelah shalat.

  33. Imam Syafi’i, pionir madzab Syafi’iyyah, mempunyai jawaban yang tegas dan lugas, bahwa bid’ah diklasifikasikan menjadi dua ketegori: mahmudah (bidah yanag terpuji) dan madzmumah (bidah yang jelek). Maka, setiap yang sesuai dengan Al-Qur’an/Hadits itulah bidah mahmudah dan yang bertentangan dengan qur’an/sunnah itulah bidah madzmumah.”

    Secara lebih terperinci, Imam Asy-Syafi’i mendeteksi bid’ah yang sesat dengan gejala-gejala sbb: tidak berlandaskan Alquran, hadits, ijma’, dan atsar. Bila ciri-ciri tersebut terdapat dalam praktik ibadah umat, maka itulah bid’ah yang dlalalah (sesat). Namun, ketika tidak melanggar Alquran, hadits, ijma’, dan atsar, maka itu merupakan bid’ah yang mahmudah. Artinya, tidak sesat.

    Nah, kalau secara terperinci lagi maka seperti yg dikatakan @Admin Ummati, bahwa bid’ah itu bukan hukum syara’ tetapi bid’ah bisa dihukumi secara syara’ menjadi bid’ah haram, wajib, sunnah (mandzub) dll, seperti yg telah dicontohkan oleh Mas @JOYO MARTO.

    Silahkan dilanjut diskusinya…..

  34. Very…very…very…Smart Mas Imam Nawawi. Singkat, Padat dan Hebat dalam menjelaskan definisi Bid’ah. Tapi nih asal antum pade tau ye, jangankan artikel yg singkat kayak gitu. Ditibanin Kitab satu Kontainer juga kagak bakalan melek mata hatinye. Buat pemahaman mereka, yang namanye Bid’ah ya Bid’ah alias sesat, titik dan kagak bise dibagi-bagi. Tapi ade kutipan lucu nih dari salah satu blog orang SaWah tentang Bid’ah Hasanah :

    “Sebenarnya ungkapan bid’ah hasanah ini muncul ketika Umar r.a mendapati suatu kaum muslimin pada zamannya melakukan shalat tarawih pada malam bulan Ramadhan dengan sendiri-sendiri dan bahkan ada yang berjama’ah hanya dengan beberapa orang saja dan ada yang berjama’ah dengan jumlah besar. Keadaan ini terus berlangsung hingga Amirul Mu’minin Umar r.a mengumpulkan mereka kepada satu Imam, lalu beliau radhiallahu ‘anhu berkata: Yang kemudian bisa dijadikan pertanyaan adalah apakah benar qiyamul lail dengan berjama’ah di bulan Ramadhan itu temasuk bid’ah yang dikatagorikan kepada bid’ah yang menyesatkan? Hal ini dijawab oleh Syaikh Muhammd bin Shalih al Utsaimini bahwa hal tersebut bukan bid’ah akan tetapi termasuk sunnah Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam, berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan muslim dari Aisyah r.a, bahwa nabi pernah melakukan qiyamul lail di bulan Ramadhan dengan para sahabat selama tiga malam berturut-turut, kemudian beliau sholallahu ‘alaihi wasallam tidak melakukannya pada malam berikutnya dan bersabda: “Sesungguhnya aku takut kalau shalat tersebut diwajibkan atas kamu lalu kamu tidak akan sanggup melaksakannya”. Disini jelas sekali bahwa Umar r.a tidaklah mengada-ada atau membuat ajaran baru berupa qiyamul lail dibulan Ramadhan secara berjama’ah dengan satu imam, akan tetapi beliau r.a mencoba ingin menyatukan orang-orang yang shalatnya bersendiri-sendiri dan sebagian yang lain berjama’ah. Tidak mungkin apa yang Umar r.a ucapkan “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini (shalat taraweh secara berjama’ah)” adalah bid’ah yang sebagimana yang disabdakan Nabi: Setiap bid’ah itu adalah sesat.” Juga sesuatu yang tidak mungkin jikalau Umar r.a melakukan sesuatu yang dilarang oleh Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam, karena beliau adalah salah seorang hamba dikalangan sahabat yang mendapat jaminan masuk surga dan beliau juga dikatagorikan sebagai golongan generasi terbaik dan termasuk Khulafa Arasyidin yang lurus dan adil”.

    Kembali ke konteks Bid’ah nih, menurut orang SaWah kan yg namanye Bid’ah ya Bid’ah artinye sesat artinye neraka. Nah ketika Khalifah Umar r.a jelas mengatakan :“Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini (shalat taraweh secara berjama’ah)” Tapi entu orang2 SaWah malah cari pembenaran bahwa itu bukan Bid’ah yg dimaksud dalam Hadits Nabi SAW…?????

  35. Afwan ade yg ketinggalan kalimatnye :

    ……Keadaan ini terus berlangsung hingga Amirul Mu’minin Umar r.a mengumpulkan mereka kepada satu Imam, lalu beliau radhiallahu ‘anhu berkata: “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini (shalat taraweh secara berjama’ah)”. Yang kemudian bisa dijadikan pertanyaan adalah……

    nyok deh ditunggu sanggahannye dari Orang SALAHFI….

  36. @sufrit orsinil, yah kagak use belingsatan kayak gitu nape…biasa aje, cool man. Mo ente orsinil ape bukan kagak use diributin. Intinye, nih masalah Bid’ah ude jadi permasalahan dari jaman doeloe ampe sekarang. Cuman sekarang aje nih banyak anak bau kencur lulusan dari Universitas2 SALAHFI ngangkat2 tema Bid’ah dan ngobok-ngobok aqidah Asy’ariyah di Indonesia. Dan tujuan mereka cuman atu, ingin menjadikan negeri ini berfaham SALAHFI WAHABI. Tapi, permasalahannye yang mereka adepin entu Ummat Islam yang ‘Aqidah Asy’ariyahnye ude kuat banget ditambah lagi dinaungi oleh Ormas Islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdhatul Ulama. Makanye entu orang SaWah paling benci ame NU karena semakin kuat NU semakin sulit mereka menghancurkan Aqidah Asy’ariyah di Indonesia. Gile bener yeh SALAHFI….!!!

  37. Yah neh Bang Nur, gile bener yeh SALAFY WAHABI ne???? Kalau berani-berani ngancurin makam orang-orang Shalih di Indonesia, awas yeh, usir aja mereka dari Indonesia dan suruh mereka minggat aja ke Arabia Saudia. Gitu aja biar gak repot.

  38. @sufrit orisinil (apanya yang orisinil nih ?) ane udh keluar dari kelompok wahabi , ane udh kagak ngikutin kajian-kajian mereka lagi…. krn makin sering ikutan kajian salafy wahabi hati ane malah ga tenang, jadi penuh kedengkian, krn doktrin ustadz-2 begitu. selalu anggap orang lain yang ga sepaham salah, bid’ah, syirik, kafir . ane pikir buat apa ngikutin kajian yang begitu ? bukannya ane makin tahu kekurangan ane biar interospeksi n nambah ilmu agama tapi malah ane didoktrin jadi sok paling muslim, sok paling bener n sok-sok lainnya….tp kalo ane pas dengerin ceramah di tv (sekali-kali sufrit orisinil dengerin juga ya)beda banget…. paling tidak ane ngerasa hati jd adem dan oh ternyata islam itu indah.
    BTW sekarang ane tetep punya jenggot (rapi lho) cuma bedanya skrg ane ga ikutan kajian salafi wahabi lagi, dan ane ga mau ikut-ikutan men syirikkan, membid’ahkan dan mengkafirkan muslim yang lainnya….

    jadi kalo lo bilang skrg ane Aswaja…….. ya Alhamdu……lillah.

    1. @ sufrit
      Alhamdulillah ente udah keluar dan selamat dari jurang hitam nan gelap pemahaman sesat wahabi, mudah2an yg masih memaki-maki dan berkata kotor pengikut wahabi di blog ini akan segera sadar dam terbuka hatinya mengikuti mas sufrit keluar dari jurang faham sesat wahabi.

  39. sufrit@

    Mas Sufrit, akur deh ane. Thank yo, pencerahannya cukup sederhana tapi mengena sasaran. Oke banget deh, ane dukung, he he he….

  40. Asy’ari (A) : ente ade acara gak malem rebo tanggal 28 Juni 2011 nanti.

    Wahab (W) : kayaknye sih kagak ada acara, mang knape..?

    A : Majelis Rasuluullah SAW ngadain Dzikir Akbar malam Isra’ Mi’raj di Monas. Kalo ente ade waktu dan ingin hadir nanti kite bareng aje abis pulang kerja.

    W : afwan, kalo acara kayak gituan sih ane gak bise hadir. Bukannye itu semua termasuk Bid’ah. Dan Bid’ah itu berarti kite berada dalam kesesatan dan amalnye tertolak.

    A : maksud ente Bid’ah…???

    W : Lha emangnye ente belon tau haditsnye…? bahwa Rasulullah SAW bersabda, yang artinye : “Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yg baru, krn sesungguh mengadakan hal yg baru ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat”. [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih]. Hadits yang laennye, “Barangsiapa mengadakan hal yg baru yg bukan dari kami maka peruntukan tertolak”. Dan dalam riwayat lain disebutkan “Barangsiapa beramal suatu amalan yg tdk didasari oleh urusan kami maka amalan tertolak”. Nah dari hadits tersebut menunjukkan bahwa segala yg diada-adakan dalam Ad-Dien (Islam) ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat dan tertolak.

    A : Oh kalo hadits entu sih ane juga tau.

    W : Nah kalo ude tau nape ente masih aje lakuin..?

    A : Jadi menurut Hadits yang ente sebutin tadi, zikir berjama’ah adalah suatu kesesatan karena Nabi SAW tidak pernah contohkan dan amalan yang tertolak.

    W : Yap, bener banget tuh. Jelas banget kan bahwa amalan-amalan ibadah yang Nabi SAW tidak pernah contohkan adalah Bid’ah dan sesat.

    A : Nah terus definisi Bid’ah itu sebenernye apa dong…?

    W : Bid’ah adalah sesuatu perbuatan yang di zaman Nabi SAW tidak pernah dicontohkan dan dilakukan. Barangsiapa ada yang berbuat Bid’ah maka dia berada dalam kesesatan.

    A : Tapi menurut ilmu yang ane terima dari Ustadz ane bahwa Bid’ah entu terbagi menjadi 2. Yaitu Bid’ah Hasanah dan Dholalah berdasarkan pendapatnye Imam Syafi’i. Dan dzikir berjama’ah entu termasuk Bid’ah Hasanah.

    W : Oh, ente salah mengartikan Bid’ah. Bid’ah entu kagak bise dibagi-bagi dan Bid’ah entu yah sesat titik.

    A : Bukan pendapat ane, atau Ustadz ane tapi Imam syafi’i. Kalo ane mana berani berhujjah emang ane siape…???

    W : tapi pendapat Imam Syafi’i itu kan pendapat manusia juga, bukankah beliau sendiri menganjurkan untuk berpaling dari pendapatnya jika ada Hadits yang lebih shohih dan kuat dari pendapatnya…?

    A : Jadi menurut ente Imam Syafi’i masih kurang ilmunye dalam memahami Hadits Rasulullah SAW. Wah hebat ente, ngaji dimane ente bise ngomong kayak gitu. Kalo ane sih bermadzhab Syafi’i dan Istiqomah dalam syariahnye.

    W : Wah entu juge salah tuh, kite kagak dianjurin untuk bermadzhab karena kite kagak boleh Taqlid buta kepada satu Ulama. Karena Ulama juga manusia biasa yang bise salah bisa juge bener karena segala sesuatunye harus berlandaskan Qur’an dan Hadits. Apalagi yang dikit-dikit bilang kata Ustadz ane…kata Ustadz ane. Kalo bicara agama tuh harus pake ilmu yang bener.

    A : Wah repot dong kalo begitu, pegimane caranye kalo kite mo ibadah harus mencari2 dulu dalil Qur’an dan Haditsnye. Ibarat mo makan nasi kite kudu nanem padi dulu trus nunggu panen, nah lho pegimane tuh…?

    W : Yah itulah makanye kite dituntut untuk menuntut ilmu supaye kite cerdas dalam beragama.

    A : Ane rasa sih ente bukannye cerdas, tapi keblinger ame ilmu. Agama itu mudah dan jangan dipersulit. Artinye ilmu agama ini sudah diatur oleh Ulama-ulama yang ‘alim berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits makanye ada Ijma’ dan Qiyas. Nah kite sebagai ummat sekarang tinggal pake karya Ulama-ulama salaf bukan malah meninggalkan mereka.

    W : Wah justru kami ini yang mengikuti Ulama-ulama Salaf, makanye manhaj kami dikenal dengan SALAFI.

    A : Hah, manhaj SALAFI. Berarti ente ude melakukan Bid’ah tuh. Pan zaman Nabi kagak ade Manhaj apelagi dinamain SALAFI.

    W : Zaman Nabi memang kagak ade sebutan Manhaj Salafi, tapi ini bertujuan untuk menegakkan dakwah Tauhid dan Sunnah-sunnah Rasulullah SAW dan membedakan kami dengan golongan yang lain. Dan hal ini bukan Bid’ah cuma karena di zaman Nabi kagak ade. Sebab peruntukkan bid’ah sendiri ade secara adat/kebiasaan dan Agama/syariah. Bid’ah secara adat/kebiasaan seperti ada penemuan-penemuan baru dibidang IPTEK (juga termasuk didalam penyingkapan-penyingkapan ilmu dgn berbagai macam-macamnya). Ini ialah mubah (diperbolehkan) krn asal dari semua adat istiadat (kebiasaan) ialah mubah. Sedangkan peruntukan bid’ah di dalam Ad-Dien (Islam) hukum haram, krn yg ada dalam dien itu ialah tauqifi (tdk bisa dirubah-rubah). Bid’ah Dalam Ad-Dien (Islam) Ada Dua Macam :

    [1] Bid’ah qauliyah ‘itiqadiyah : Bid’ah perkataan yg keluar dari keyakinan, seperti ucapan-ucapan orang Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Rafidhah serta semua firqah-firqah (kelompok-kelompok) yg sesat sekaligus keyakinan-keyakinan mereka.

    [2] Bid’ah fil ibadah : Bid’ah dalam ibadah : seperti beribadah kpd Allah dgn apa yg tdk disyari’atkan oleh Allah : dan bid’ah dalam ibadah ini ada beberapa bagian yaitu :

    [a]. Bid’ah yg berhubungan dgn pokok-pokok ibadah : yaitu mengadakan suatu ibadah yg tdk ada dasar dalam syari’at Allah Ta’ala, seperti mengerjakan shalat yg tdk disyari’atkan, shiyam yg tdk disyari’atkan, atau mengadakan hari-hari besar yg tdk disyariatkan seperti pesta ulang tahun, kelahiran dan lain sebagainya.

    [b]. Bid’ah yg bentuk menambah-nambah terhadap ibadah yg disyariatkan, seperti menambah rakaat kelima pada shalat Dhuhur atau shalat Ashar.

    [c]. Bid’ah yg terdpt pada sifat pelaksanaan ibadah. Yaitu menunaikan ibadah yg sifat tdk disyari’atkan seperti membaca dzikir-dzikir yg disyariatkan dgn cara berjama’ah dan suara yg keras. Juga seperti membebani diri (memberatkan diri) dalam ibadah sampai keluar dari batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    [d]. Bid’ah yg bentuk menghususkan suatu ibadah yg disari’atkan, tapi tdk dikhususkan oleh syari’at yg ada. Seperti menghususkan hari dan malam nisfu Sya’ban (tanggal 15 bulan Sya’ban) untuk shiyam dan qiyamullail. Memang pada dasar shiyam dan qiyamullail itu di syari’atkan, akan tetapi pengkhususan dgn pembatasan waktu memerlukan suatu dalil.

    A : Lah pegimane, tadi ente bilang Bid’ah ya Bid’ah artinye sesat dan kagak ade pembagiannye. Nah entu ente bagi-bagi…

    B : Emang begitu kate Ustadz ane, makanye ente sekali-kali hadir di kajian sunnah yang Ustadz ane bimbing. Beliau lulusan Arab Saudi lho dan sudah bergelar Lc.

    A : Ane kagak ngaruh ame titel, yang penting sanad keilmuannye jelas sampe ke Rasulullah SAW. Lha tadi katanye kagak boleh ngomong kate Ustadz ane…kate Ustadz ane. Buktinye ente terime gitu aje omongan dari Ustadz ente. Waaahh kagak beres dah ngomong ame ente muter-muter. Dibilang setiap perkara baru adalah Bid’ah dan tidak ade pembagiannye, tapi ente bagi-bagi juga sampe-sampe kagak mo terime pendapat Imam Syafi’i yang membagi Bid’ah menjadi dua. Nah terus kagak boleh Taqlid ame satu Ulama apalagi Ustadz. Tapi setiap Ustadz ente ajarin langsung ente telen mentah-mentah. Harusnye begitu Ustadz ente ajarin, ente cari lagi dalil-dalil Qur’an dan Haditsnye jangan langsung gampang aje percaye ame omongan Ustadz ente. Udah deh kalo emang ente kagak mau ikut ane dzikir akbar di Monas, kagak ape-ape. Asal jangan nyalah-nyalahin kite yang pade dzikir bareng. Daripade ngurusin amaliyah orang lain bid’ah ape kagak, mending ente dakwahin tuh orang-orang yang masih pade doyan maksiat. Nah nih Majelis (Majelis Rasulullah SAW) ude ngelakuin hal tersebut. Ude banyak orang-orang yang Tobat dari maksiat kembali ke jalan yang lurus di bawah bimbingan keluhuran dakwah Nabawiy Habib Munzir Al Musawa. Bahkan juga ude beberapa kali ade orang Murtad yang Bersyahadat di hadapan Habibana dan Jama’ah Majelis Rasulullah SAW. JADI TINGGAL PILIH AJE, ENTE MO DAKWAH MENGISLAMKAN YANG KAFIR APE MENGKAFIRKAN YANG ISLAM….????

    1. ajib bang Nur, cerdas dialognya …. 🙂 lanjutkan, Emang begitu kali ya polah lakunya orang-orang wahabi, bisanya nyalahin orang, pas dibalikin, malah muter2 jawabannya. siip Bang Nur!

  41. @Bang Nur, trims atas pencerahannya. Ane jadi teringat acara Senin Malam Selasa di Al Munawar, beberapa kali Ane menyaksiskan pemuda-pemuda yang mengucapkan kalimat syahadat di hadapan Habibuna.

  42. Manntap bang, Semoga Allah melimpahkan segala kebaikan kepada Bang Nur dan seluruh Aswaja, di seluruh dunia, Aaamin…

  43. @Jafar, mamo, Bima dan ferry…Nyok deh kite dukung terus dakwah Ummati ini untuk mencerahkan sodare-sodare kite yg masih terjebak dalam “kesesatan” dakwah SALAFI WAHABI dengan cara-cara yang santun, cerdas dan dalam keluhuran dakwah yang Nabawiy…. Semoga Allah SWT terus membimbing kite dalam Islam yang rahmatan lil ‘alamiien..

    Shollu ‘alaa Sayyidina Muhammad…

    1. sudah saya baca, benar menggelikan akhi@jundumuhammad, ya begitulah ternyata emang wataknya wahabi, sudah jelas sejelasnya diterangkan, dia minta hadits sohih, dikasih, minta atsar sohih, dibabarkan,e ternyata masih ngeyel juga. Hmmm, kiranya semoga Allah `Azza wa Jalla memberikan Hidayah dan Inayah-Nya pada kita semua, Amin.

  44. ” sungguh besarnya fitnah yang menghampiri umat islam dewasa ini, tiada lain berdebat hanya untuk menjatuhkan lawan, bukan mencari kebenaran…
    hal ini akan terus terjadi bila kalian sibuk membenahi rumah, hingga mengabaikan orang yang di luar sana
    orang2 yang mau bertamu pun enggan,, karena melihat kesibukan kalian membangun keindahan rumah, supaya di akui tempat paling indah untuk berteduh di dunia dan akhirat… wahai kalian, jadikan golongan sebagai kendaraan yang membawa kalian menuju keridhoanya… yang menyelamatkan diri diri kalian dari kewajiban beban amar makruf nahi munkar… bukan sebagi tempat kembali maupun membela diri… saatnya membenahi masyarakat secara KAFFAh, bukan dengan golong2an, tapi dengan Meneggakan Al Qur’anNya… sebagi Hukum, bukan sekedar di baca, atau hanya di bunyikan … STOPPPPP…. saatnya menyatukan hati, pikiran, melepas baju golongan, untuk kembali berjalan, bersama sama melanjutkan Da’wah islam… sekalipun kendaraanya berbeda…

  45. PRINCE OBEY@

    Biasalah antum kan wahabi nyamar toh? Beginilah penganut wahabi seperti antum kalau suidah tak berkutik dalam diskusi ngajak persatuan. Coba kalau di atas angin, kalian jadi sombong dan mentang-mentang merasa paling pandai berdalil dan merasa satu-satunya golomgan penghuni surga.

    Semua orang maunya juga berbuat amal shalih, tapi bukan hanya ketika dalam keadaan kepepet saja. Ana jadi ingat sejarah Mu’awiyah ketika terdesak oleh Imam Ali bi Abi Thalib. Eh, Mu’awiyah ngajak damai tapi setelah tidak terdesak akhirnya berkhinat dan manikam dg tipu muslihatnya. Kira2 seperti itulah kalian wahai wahabiyyun…..

  46. @ antinu, kalau nt konsisten dengan bid’ah ala wahabi, kayaknya menempelkan kaki (kelingking) di dlm shaf sholat berjama’ah juga bid’ah ya….. Eh bid’ah g ya?….Terserah nt aja dah.

  47. kesalahan fatal kaum wahabi soal Bid`ah mendoktrin pengikutnya bahwa bid`ah hanya ada pada urusan Ibadah , padahal Rosulallah SAW mengatakan Fi amrina (urusan kami) urusan Rosulallah tentunya AGAMA bukan Fi Ibadatina (ibadah kami), urusan agama tentu jauh lebih luas ketimbang urusan Ibadah.

    kesalahan fatal lainnya kaum wahabi mendoktrin jika pernyataan sayidina Umar soal Bid`ah adalah Bid`ah menurut bahasa , seolah sayidina Umar adalah ahli bahasa yang tidak perduli dengan urusan agama Islam , seolah sayidina Umar bukan seorang Kholifah (pengganti) Rosulallah SAW dalam agama yang kita cintai ini, lebih parah lagi doktrin ini seolah menganggap sayidina Umar tidak Faham urusan Agama wal-Iadzu billah.

    1. Ya Mas Syahid, dan itulah salah satu di antara FITNAH-FITNAH WAHABI kepada SAHABAT tentang masalah bid’ah, yaitu Sahabat Umar bin Khottob dianggap bodoh tidak mengerti kalimat “fi amrina”.

      Ada Fitnah Wahabi lagi yg cukup populer kepada Sahabat Utsman bin Affan. Wahabi mengatakan bahwa mereka adalah pengikut Salaf, tetapi ketika Sayyidina Utsman memerintahkan adzan dua kali shalat Jum’at mereka anggap sebagai bid’ah. Jadi Sayyidina Utsman itu ahli bid’ah menurut Wahabi, dan itulah fitnah Wahabi kepada Sahabat pilihan Nabi Saw.

      Banyak sekali fitnah Wahabi kepada Islam, fitnah Wahabi kepada Allah Swt, fitnah Wahabi kepada Nabi Saw, fitnah Wahabi kepada Para Sahabt yg mylia, Fitnah Wahabi kepada para sholihin dan kaum muslimin.

      Wahabi itu emang FITNAH dari Nejed, begitu sabda Rasul Saw 14 abad yang lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker