akidah

BENARKAH SALAFI WAHABI ITU AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH ?

Golongan Syi’ah yang cukup besar dan populer ternyata tidak ikut-ikutan berkompetisi mangaku sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah.

BENARKAH SALAFI WAHABI ADALAH AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH ? Sebagaimana dimaklumi bersama berdasar kepada Hadits Nabi Saw. Bahwa dari 73 golongan umat Islam yang ada di tengah umat Islam hanya satu golongan yang selamat yaitu golongan Ahlussunnah Wal Jamaah. Walaupun demikian dari 73 golongan yang ada  tidak semuanya berlomba-lomba mengaku sebagai penyandang nama Ahlussunnah Wal Jamaah. Contohnya, Golongan Syi’ah yang cukup besar dan populer ternyata tidak ikut-ikutan berkompetisi mangaku sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah.

Pernah terjadi sebuah diskusi seputar Ahlussunnah Wal Jamaah yang diadakan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Barat (NTB) di Sumbawa Barat dan Praya, Lombok Tengah sekitar Maret 2012. Sebuah diskusi untuk bekal pengutan aqidah Aswaja di Ormas NU.  Dari ajang diskusi ini muncul fakta, ternyata dari 73 golongan tersebut, selain umat Islam mayoritas bermadzhab al-Asy’ari dan al-Maturidi yang sejak ribuan tahun dikenal sebagai representasi golonga Ahlussunnah Wal Jamaah, akhir-akhir ini ada satu lagi golongan yang mengklaim sebagai Ahlus sunnah Wal Jamaah. Siapakah mereka, tidak lain adalah kaum Salafi Wahabi yang awal kemunculannya baru dimulai sekitar 200 tahun yang lalu.

BACA JUGA:  Aqidah Sifat 20, Ajaran Aqidah Ahlusunnah Waljama'ah

Golongan Salafi Wahabi yang sejak kemunculannya di Najd dirintis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al Najdi. Di mana Syaikh Muhammad BAW Al Najdi ini di-inspirasi oleh faham aqidahnya Syaikh Ibnu Taimiyah al-Harrani. Golongan inilah yang dewasa ini dikenal dengan nama aliran Salafi Wahabi. Demi kelancaran missinya di tengah Umat Islam, mereka juga tak segan-segan mengklaim sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah. Dan menjadi rival satu-satunya bagi Ahlussunnah Wal Jamaah dari Al Asy’ari – Al maturidi yang sudah berumur seribu tahun lebih.

BACA JUGA:  Wahhabi Adalah Ahlus Sunnah Waljamaah, Benarkah?

Golongan Salafi Wahabi mengklaim sebagai Golongan Ahlussunnah Wal Jamaah

Di buku ini dipaparkan, bagaimana dari kedua golongan yang sama-sama mengaku sebagai representasi Ahlussunnah Wal Jamaah di atas, ternyata madzhab aqidah al-Asy’ari dan al-Maturidi jauh lebih unggul dan diuntungkan oleh sejarahnya yang sudah berumur lebih seribu tahun. Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang di-representasikan oleh Al Asy’ariyah – Al Maturidiyyah selalu lebih kuat dalam setiap pertarungan aqidah melawan rival satu-satunya. Yaitu golongan Wahabi yang mana akhir-akhir juga menyebut dirinya sebagai Salafi.

Selain itu, dalam buku ini juga dijelaskan banyak argumentasi ilmiah, baik dari al-Qur’an, al Hadits maupun bukti-bukti kesejarahan, bahwa madzhab al-Asy’ari dan al-Maturidi lebih berhak menyandang nama Ahlussunnah Wal Jamaah, daripada Salafi Wahabi yang baru berumur sekitar 200 tahun sejak kemunculannya di Najd oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Najdi.

BACA JUGA:  STOP PRESS!!!

Kelebihan buku ini selain ditulis dengan narasi yang mengalir lancar, juga dilengkapi dengan scan dari kitab-kitab Salafi Wahabi, yang menguatkan bahwa Salafi Wahabi  bukan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Sehingga buku ini sangat cocok sebagai materi pemantapan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah bagi Umat Islam dewsa ini.

Laa khaula walaa quwwata illa billah, Wal hamdilillahi robbil alamin….

Bekal Pembela Ahlussunnah wal Jamaah - BENARKAH SALAFI WAHABI ITU AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH ?Bekal Pembela Ahlusunnah Wal Jamaah Menghadapi Radikalisme Salafi Wahabi

Oleh: Muhammad Idrus Ramli

Penerbit: Aswaja NU Center

Harga: Rp. 35.000,-

 

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - BENARKAH SALAFI WAHABI ITU AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH ?
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.
Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

196 thoughts on “BENARKAH SALAFI WAHABI ITU AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH ?”

  1. Meng-klaim dirinya yang paling benar, tapi kerjaannya Idrus Ramli cuma tukang fitnah…Setiap fitnah yang dilontarkan oleh Idrus dan kemudian diikuti oleh yang lain dan diikuti lagi oleh yang lain, maka idrus akan menanggung dosanya.

    1. Aswaja : “Yang tukang fitnah wahabi kalee”.

      Wahabi : “Nggak, kamu yg tukang fitnah..!!”.

      Aswaja : “Kamu…!!”

      Wahabi : “Kamuuuu….!!!”

      Aswaja : “Kamu…!!”

      Wahabi : “Kaaamuuuuuuu…..!!”

      Aswaja : ?@*!?!@#*/?!??

      1. ummu hasanah ama eko (yg sindir2 melulu kerjaannya) klo ente wahabiyun yh? tobat ente, emang ada hadistnya umat islam disuruh memerangi golongan wahabi ini kok

    2. @Ummu Hasanah,
      Baru dipromosikan satu baku saja anda sudah kebakaran jenggot (kalau punya) dan menuduh Ustadz Idrus Ramli sebagai tukang fitnah. Padahal kalau kita masuk ke toko buku besar macam Gramedia atau toko buku Wali Songo, di sana akan kita jumpai jauh lebih banyak buku-buku Wahabi yg berisi FITNAH terhadap Ahlussunnah wal Jama’ah, ajarannya serta Ulama-ulamanya. Maka kalau dengan satu buku Aswaja saja anda sudah ketakutan, sementara anda punya banyak buku, berarti buku2 Wahabi selama ini isinya memang tak lebih dari tukang tipu saja, sehingga dengan satu buku Aswaja lagi yg terbit, anda (dan juga teman2 anda pastinya) makin ketakutan saja bahwa kebohonongan wahabi thd awam selama ini akan makin terbongkar.

      1. yang kebakaran Jenggot swaminya UH
        kalo UH kebakaran hati yg Hitam dan berkerak JAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIILLLL

  2. ajaran wahabi tauhid dibagi 3, sama seperti NASRANI Ke Tauhidan NASRANI adalah TRINITAS……..banyak paham wahabi jadi teroris, belum lama dah beberpa orang ditangkap tim Densus 88, kita Masyarakat Indonesia Serempak dan HARUS BERSAMA-SAMA Membumi Hanguskan SEGERA Paham Wahabi dari Muka Bumi Indonesia Tercinta ini…….

  3. ummu hasanah@ daripada anda menuduh ustd Idrus Ramli tukang fitnah, mending anda susun buku sanggahan apalah githu! bwt nempertahankan faham anda. bagi saya sikap ustd Idrus Ramli sprti ini adalh jihad dlm arti sesungguhnya,. bukan dg sesat-menyesatkan tradisi umat yg slama ini tlah mnjadi trdisi amal baik sprti tahlilan, dll. yg semuanya itu sudah ada dalilnya, yg sudah dipaparkan Idrus Ramli dlm buku-bukunya.

  4. @ummu hasanah

    Al-Imâm Tajuddin as-Subki (w 771 H) dalam Thabaqât asy-Syâfi’iyyah mengutip perkataan al-Imâm al-Ma’ayirqi; seorang ulama terkemuka dalam madzhab Maliki, menuliskan sebagai berikut: “Sesungguhnya al-Imâm Abu al-Hasan bukan satu-satunya orang yang pertama kali berbicara membela Ahlussunnah. Beliau hanya mengikuti dan memperkuat jejak orang-orang terkemuka sebelumnya dalam pembelaan terhadap madzhab yang sangat mashur ini. Dan karena beliau ini maka madzhab Ahlussunnah menjadi bertambah kuat dan jelas. Sama sekali beliau tidak membuat pernyataanpernyataan yang baru, atau membuat madzhab baru.

    Al-Imâm al-Hâfizh Muhammad Murtadla az-Zabidi (w 1205 H) dalam pasal ke dua pada Kitab Qawâ-id al-‘Aqâ-id dalam kitab Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn Bi Syarh Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, menuliskan sebagai berikut: “Jika disebut nama Ahlussunnah Wal Jama’ah maka yang dimaksud adalah kaum Asy’ariyyah dan kaum Maturidiyyah”.

    Asy-Syaikh Ibn Abidin al-Hanafi (w 1252 H) dalam kitab Hâsyiyah Radd al-Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr, menuliskan: “Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah kaum
    Asy’ariyyah dan Maturidiyyah”.

    Asy-Syaikh al-Khayali dalam kitab Hâsyiyah ‘Alâ Syarh al-‘Aqâ’id menuliskan sebagai berikut: “Kaum Asy’ariyyah adalah kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah. Madzhab ini sangat mashur di wilayah Khurrasan (Iran), Irak, Syam (Siria, Lebanon, Yordania, dan Pelestina), dan di berbagai penjuru dunia. Adapun di wilayah seberang sungai Jaihun (Bilâd Mâ Warâ’ an-Nahr) Ahlussunnah lebih dikenal sebagai kaum al-Maturidiyyah; para pengikut al-Imâm Abu Manshur al-Maturidi”.

    Asy-Syaikh al-Kastuli al-Hanafi (w 901 H) juga dalam kitab Hasyiah ‘Alâ Syarh al-‘Aqâ-id menuliskan: “Yang dikenal sangat mashur sebagai Ahlussunnah di wilayah Khurrasan, Irak, Syam, dan di berbagai penjuru dunia adalah kaum Asy’ariyyah; para pengikut al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari. Beliau adalah orang yang pertama kali menentang faham-faham Ali al-Jubba’i (pemuka kaum Mu’tazilah) dan keluar dari madzhabnya. Al-Imâm al-Asy’ari kemudian kembali kepada jalan sunnah, jalan yang telah digariskan oleh Rasulullah, setelah sebelumnya ikut faham al-Jubba’i. Dan maksud dari al-Jama’ah adalah para sahabat Rasulullah dan orang-orang yang mengikuti mereka. Adapun di wilayah seberang sungai Jaihun, Ahlussunnah lebih dikenal sebagai kaum al-Maturidiyyah, para pengikut al-Imâm Abu Manshur al- Maturidi. Perbedaan antara keduanya hanya dalam beberapa masalah saja yang bukan dalam masalah-masalah prinsip. Karena itu kedua kelompok ini tidak pernah saling menyesatkan satu sama lainnya hanya karena perbedaan tersebut”.

    Al-‘Ârif Billâh al-Imâm as-Sayyid Abdullah ibn Alawi al-Haddad (w 1132 H), Shâhib ar-Râtib, dalam karyanya berjudul Risâlah al-Mu’âwanah menuliskan sebagai
    berikut: “Hendaklah engkau memperbaiki akidahmu dengan keyakinan yang benar dan meluruskannya di atas jalan kelompok yang selamat (al-Firqah an-Nâjiyah). Kelompok yang selamat ini di antara kelompok-kelompok dalam Islam adalah dikenal dengan sebutan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Mereka adalah kelompok yang memegang teguh ajaran Rasulullah dan para sahabatnya. Dan engkau apa bila berfikir dengan pemahaman yang lurus dan dengan hati yang bersih dalam melihat teks-teks al-Qur’an dan Sunnah-Sunnah yang menjelaskan dasar-dasar keimanan, serta melihat kepada keyakinan dan perjalanan hidup para ulama Salaf saleh dari para sahabat Rasulullah dan para Tabi’in, maka engkau akan mengetahui dan meyakini bahwa kebenaran akidah adalah bersama kelompok yang dinamakan dengan al-Asy’ariyyah, golongan yang namanya dinisbatkan kepada asy-Syaikh Abu al-Hasan al-Asy’ari -Semoga rahmat Allah selalu tercurah baginya-. Beliau adalah orang yang telah menyusun dasar-dasar akidah Ahl al-Haq dan telah memformulasikan dalil-dalil akidah tersebut. Itulah akidah yang disepakati kebenarannya oleh para sahabat Rasulullah dan orang-orang sesudah mereka dari kaum tabi’in terkemuka. Itulah akidah Ahl al-Haq setiap genarasi di setiap zaman dan di setiap tempat. Itulah pula akidah yang telah diyakini kebenarannya oleh para ahli tasawwuf sebagaimana telah dinyatakan oleh Abu al Qasim al-Qusyairi dalam pembukaan Risâlah-nya (ar-Risâlah al-Qusyairiyyah). Itulah pula akidah yang telah kami yakini kebenarannya, serta merupakan akidah seluruh keluarga Rasulullah yang dikenal dengan as-Sâdah al-Husainiyyîn, yang dikenal pula dengan keluarga Abi Alawi (Al Abî ‘Alawi). Itulah pula akidah yang telah diyakini oleh kakek-kakek kami terdahulu dari semenjak zaman Rasulullah hingga hari ini. Dan ketahuilah bahwa akidah al-Maturidiyyah adalah akidah yang sama dengan akidah al-Asy’ariyyah dalam segala hal yang telah kita sebutkan”

    Al-Imâm al-Hâfizh Ibn ‘Asakir dalam kitab Tabyin Kadzib al-Muftari menuliskan: “Tidak mungkin bagiku untuk menghitung bintang di langit, karenanya aku
    tidak akan mampu untuk menyebutkan seluruh ulama Ahlussunnah di atas madzhab al-Asy’ari ini; dari mereka yang telah terdahulu dan dalam setiap masanya, mereka berada di berbagai negeri dan kota, mereka menyebar di setiap pelosok, dari wilayah Maghrib (Maroko), Syam (Siria, lebanon, Palestin, dan
    Yordania), Khurrasan dan Irak”.

    TAPI, MENURUT UMMU HASANAH ASY’ARIYYAH ITU SESAT. JADI UMMU HASANAH……?

  5. Agung, walaupun berapa kali juga di copas, tetap aja enggak ada mutu.
    Semua pendapat manusia (ulama, syaikh, kyai) bisa diambil pendapatnya atau bisa ditinggalkan kecuali Rasulullah Sholallahu alaihi wasalam.

    1. Bismillah

      Saudariku Ummu Hasanah@, ketika kami ajukan hadits Nabi, anda menolak dan minta penjelasan para Ulama… lihat comment anda berikut :

      ummu hasanah says:
      April 22, 2013 at 4:50 pm

      kl pihak kaum salaf yg menyampaikan ayat Al Qur’an atau hadist Nabi yg shohih di blog ini pasti langsung disanggah. Katanya begini : Kalian ini sok pinter ya…memahami ayat/ hadist sendiri seperti ulama saja.
      Sy belum liat nih ada komen yg kayak begitu terhdp abdusysyukur dan mamak yg langsung mengutip tanpa ada syarahnya

      dan ketika mas Agung menyampaikan pandangan para ulama, anda katakan :

      Agung, walaupun berapa kali juga di copas, tetap aja enggak ada mutu.
      Semua pendapat manusia (ulama, syaikh, kyai) bisa diambil pendapatnya atau bisa ditinggalkan kecuali Rasulullah Sholallahu alaihi wasalam.

      Sesungguhnya siapa yang ahlul hawa, yang menerima hadits Nabi atau pendapat para Ulama jika sesuai selera ?
      Terlebih sejak pertama anda hadir disini, tidak satupun kami mendapati comment anda yang ilmiyah melainkan hanya mencaci, merendahkan dll…
      Sebenarnya apa yang sedang anda cari ? Berfikirlah selagi ada kesempatan… Semoga Alloh berkenan membimbing anda…

    2. @Ummu Hasanah. Iya bener,semua pendapat bisa ditolak, termasuk pendapatnya ibnu taimiyah,MBAW,bin baz, albani, usaimin, yazid jawaz, abdul hakim,firanda. Semuanya bisa kita tolak ocehan mereka kecuali Rasul ya khan ummu?

  6. Betul Mas Eko ,tapi bagi Mbak Umm Hasanah ada perkecualian yaitu :jika pendapatnya ibnu taimiyah,MBAW,bin baz, albani, usaimin, yazid jawaz, abdul hakim,firanda dan yang lain ulama wahabi,maka boleh diterima walaupun tidak langsung dari Rasul,karena wahibi itu istimewa dan ahli kebenaran,bukan begitu Mbak Ummiiiiiiiii…..yang lain minggiir haaa…haaa

  7. alhamdulillah akhirnya artikel terbaru ummati terbit.. syukron terhadap mas admij yang baru..

    untuk UMU HASANAH kami cuma bisa mengatakan. BIARKAN ANJING MENGGONGGONG KAFILAH TETAP BERLALU

    masih ku tunggu komentnya umuhasanah yang berkelas.. monggo….

  8. ooooh ummu seorang wahabiyun (pasti pemikirannya dah jumud/kaku), percuma dong dia disodori kebenaran (hadist2 shahih di luar karangan ibnu taymiyah) ke depan matanya,soalnya dia pasti cari pembenaran yg sejalan dgn pemikirannya, tp knp cari pembenarannya ke web ini (aswaja) yh? ga ke firanda.com ato binbaz.org

        1. ummu hasanah yang paling merasa benar dan pintar karena berguru langsung ke Al Qur’an dan kanjeng Nabi, makanya dia merasa setingkat Mujtahid, ulama 4 mazhab masih dibawah dia.

  9. ummu hasanah ooohhh ummu hasanah ohhhh.,

    kapan anda pandainya …? kapan anda mendapat hidayah-Nya…?, kapan pulau anda di sadarkan oleh sang pencipta..?, kalau anda tidak mau berusaha melepaskan diri dari jeratan islam versi yahudi, anda dicekoki fakwa2 yahudi yg hanya menolak dan menyalahkan pendapat orang lain, seakan-akan anda sendiri yg maha benar dan tidak mau berusaha menerima kebenaran, saya sarankan belajarlah ilmu torikhoh biar hatimu lunak dan lembut, supaya mudah menerima hidayah. lihat vidio ini…islam versi yahudi yg menggrogoti dari dalam..! http://www.youtube.com/watch?v=0jcoxRZcylE

  10. untuk ummu hasanah….anda memang benar-benar sesat menyesatkan….hati-hati anda manusia tak lebih dari seorang ulama…apalagi orang maksum….kalo anda mengaku seoarang ulama beraapa hadist yg sdh dihafal.itu hadist nemu dimana.apakah anda sdh hafal Alqur’an, berapa buku yg sdh kau tulis.berapa lama anda belajar dengan ulama,apakah anda umurnya lebih dari 50 th,.kalo blum berarti anda hanyalah seorang pembual wal wal wal 100000X

  11. wahabinya pada kabur semua ya… ???!!!!!! ayo ibnu ilyas, ibnu suradi, umuhasanah, wis pokoe yang fan berat wahabi semuanya kalau perlu firanda di ajak sekalian. .. PERTANGUNG JAWBKAN KOMENT-KOMENT KALIAN di hadapan anak2 aswaja….

  12. kasian yah ummu hasanah…
    seandainya engkau masih lajang,mungkin aku akan menyelamatkanmu dengan menikahimu wahai hasanah….
    #Tapi Nikah Kontrak yah…
    boleh kan…?????

  13. adouhhh…….sambil tepak jidad,,,,

    Yaa Allah…. Ummu hasanah ……. mudah2an cahaya hidayah menaungi anda karena selalu hadir di ummati press… mungkin ummati press ini menjadi wasilah untuk ummu hasanah untuk mendapatkan hidayah meninggalkan agama wahabi… mari kita doakan beliau agar kembali kepada ahlussunnah yg sesungguhnya ….yg dibawa oleh ulama2 yg nasab keilmuanya sampai rosululloh saw

    salam
    Naufal

  14. Kawan-kawan semua,

    Biar jelas dan tidak saling klaim sebagai Ahlussunnah, sebaiknya dijelaskan dengan gamblang arti dan maksud kata “sunnah” dalam frasa “Ahlussunnah wal jamaah”. Monggo.

    Wallaahu a’lam.

    1. Ibnu Suradi@

      kang ibnu suradi,
      Wahabi itu baru dua ratus tahun usianya sejak kemunculannya di Najd, sedangkan Asy’ariyyah adalah sudah 1000 tahun lebih, dari sini bagi orang2 yg cara mikirnya komprehensif pastilah akan mudah menemukan mana Ahlussunnah Wal Jamaah yang Asli yang sudah berestafet selama ribuanm tahun sampai hari ini.

      Tokoh2nya, dari zaman ke zaman sudah sangat terkenal, seperti ulama2 Malikiyah, Syafi’iyyah, Hanafiyah dan hambaliyyah, turun temurun baersambung sampai hari ini.

      Sedangkan Wahabi, bagaimana sejarahnya kok tiba2 belakangan ini mengklaim sebgai Ahlussunnah Wal Jama’ah tapi pemahamannya tentang agama selalu bertentangan dengan Aswaja yang sudah 1000 tahun lebih???

      Monggo dipikir kang Ibnu Suradi….

    2. tambahan:
      Coba kang Ibnu suradi baca komentarnya mas agung di atas, semuanya itu adalah testimonial dari para Ulama yg sangat kredibel.

      Semoga cepat dapat hidayah sehingga bisa bebas dari nas hadits Nabi tentang kaum Muda yg lemah akal yg berkata dg perkataan terbaik (Al Qur’an dan Hadits/Sunnah) tetapi keluar dari islam bagai panah menembus binatang buruan.

      Kan kasihan saya kalau sampai antum masuk dalam golongan yg di-nas dalam hadits tentang kaum muda lemah akal tsb? Tapi semuanya kan terserah antum, ya apa nggak kang?

      Maaf saya cuma mengingatkan saja, jangan marah, ok?

    3. @ibnu suradi
      to the point aja, menurut aku mas ibnu suradi definisi sunnah itu ucapan, tindakan dan persetujuan pribadi maksum, gimana setuju?

      1. Mas Maghribill,

        Kalau merujuk definisi kata sunnah menurut anda, maka kita tinggalkan mencocokkan cara beragama kita dengan perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Mari kita periksa lagi apakah keyakinan kita dan cara ibadah kita sesuai dengan perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullaah. Bila cocok atau sesuai, maka kita masuk Ahlussunnah wal Jamaah tidak peduli apakah kita NU, Muhammadiyah, Habibiyah, dll.

        Wallaahu a’lam.

        1. Bismillaah,

          Koreksi:

          Kata “tinggalkan” dalam komentar saya: “Kita tinggalkan mencocokkan …..” seharusnya “tinggal”. Jadi komentar yang benar adalah: “Kita tinggal mencocokkan …….”

          Wallaahu a’lam.

  15. Mamak telah mencampur adukkan 2 komment sy dari dua hal yg berbeda permasalahannya. Inikah cara anda dalam memahami suatu masalah? dengan cara mencampur adukkan? pantes aja sesat terus.

    1. Bismillah,

      Saudariku Mbak Ummu Salamah@, yang kami pertanyakan adalah sikap anda :
      Dalam masalah “A” anda enggan menerima hadits secara langsung, dan secara tidak langsung anda menuntut penjelasan para ulama’…
      sedang dalam masalah “B” (yang lain) sikap anda secara tidak langsung menyepelekan pandangan para ulama…dan itulah faktanya !! maka pertanyaannya :

      – Dalam masalah apa saja kita harus merujuk kepada Qur’an-Hadits secara langsung dan menganggap pendapat para ulama dapat kita abaikan ?
      – Dalam masalah apa saja kita membutuhkan penjelasan para ulama’ atas sebuah nash ?

  16. Jangan sandarkan aswaja anda kepada ahlussunnah-nya syaikh Abul Hasan rohimahullah. Krn dari keduanya sungguh jauh berbeda, bagai antara langit dan bumi, antara timur dan barat, wal baina al haq wal bathil.

  17. wahabi membuat cerita, kalau imam abu hasan al asy’ary melalui 3 fase pemikiran. padahal, d karya ulama terdahulu, hanya menjelaskan beliau telah bertobat dari paham muktazilah. mereka berpegang pada kitab al ibanah palsu.

  18. @ibnu suradi
    jngn lupa bos, bila tidak ada keterangan dari al-qur’an dan sunnah, maka d perbolehkan berijtihad. benar tidak bos?

  19. @ibnu suradi
    masalah aqidah, ahlussunah sepakat, Allah mahasuci dari tempat dan arah, dan tidak ada satupun yg serupa dngnNya.

  20. @ibnu suradi
    Allah subhanahu wa taala itu bersifat qadim, terdahulu, tak memiliki permulaan, dan tidak ada satupun yg menyertaiNya, termasuk langit, ‘arasy dan tempat. Benar tidak bos?

  21. Assalamu’alaikum, ane kira blog ummati sdh mati setelah adminnya pergi,heee, eh ternyata masih ada n masih sama pembahasannya tentang fitnah terhadap syekh Muhammad bin Abdul Wahab,heee.
    To > Ummu Hasanah
    Sabar.
    To > Ibnu Suradi
    sy sependapat dengan ente, tinggal sesuaikan amal ibadah kita dengan apa yang diamalkan oleh Rosulullah beserta para Sahabatnya, memang klo sesuai dialah Ahlusunnah ga perduli dari status saosialnya itu sebagai apa, mau jadi tukang jam, mau jadi tukang parkir, atau mau jadi tukang kayu, ga perduli dia berada di ORMAS mana mau dia Di NU, Muhammadiayah, Persis, Al-Irsyad atw dimana saja.
    adapun pesan sy; jalankan saja sunnah2 Rosulullah yang ada dan jangan membuat syariat2 yang bru atau membuat tandingan2 terhadap syariat yg sudah Rosulullah dan para sahabatnya lakukan.wallahu ta’ala ‘alam

  22. Bismillaah,

    Jadi, bila anda mengaku Ahlussunnah wal Jamaah, maka cocokkanlah cara beragamu, akidahmu dan cara ibadahmu dengan sunnah atau perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan jamaahnya yakni para sahabatnya. Golongan yang selamat bulanlah NU, Muhammadiyah, Habibiyah dan lain-lainnya, tapi hanya Ahlussunnah wal Jamaah.

    Wallaahu a’lam.

    1. Bismillah,

      Pak Ibnu Suradi@,anda katakan :

      Jadi, bila anda mengaku Ahlussunnah wal Jamaah, maka cocokkanlah cara beragamu, akidahmu dan cara ibadahmu dengan sunnah atau perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan jamaahnya yakni para sahabatnya

      Gimana pak cara nyocokkannya?…

  23. Bismillaah,

    Pak Mamad,

    Anda setuju kan bahwa agar tidak sekedar pengakuan, orang yang mengaku Ahlussunnah wal Jamaah musti mencocokkan cara beragamanya, akidahnya, acara ibadahnya dan lainnya dengan dengan sunnah atau perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan jamaahnya yakni para sahabatnya.

    Cara mencocokkan cara beragama anda dengan cara beragama Rasulullaah adalah anda musti bertanya kepada guru anda. Bila guru anda tidak mengetahuinya, cari guru yang yang lain. Bila guru baru tidak mengetahuinya juga, anda musti terus mencari guru yang baru hingga anda menemukan guru yang dapat menjelaskan bagaimana mencocokkan cara beragama anda, akidah anda, acara ibadah anda dan lainnya dengan dengan sunnah atau perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan jamaahnya yakni para sahabatnya.

    Wallaahu a’lam.

    1. Bismillah,

      Pak Ibnu Suradi@, terimakasih sarannya, selanjutnya ingin kami tanyakan :

      – Bagaimana cara kami mengetahui bahwa guru yang kami tanyai menyampaikan/menjelaskan sesuatu tentang agama sesuai apa yang dikehendaki Rosululloh ?
      – Apa yang kami jadikan standard dalam mengoreksi penjelasan seorang guru, bahwa penjelasan tersebut telah sesuai atau malah menyimpang dengan apa yang dinginkan Rosululloh ?

  24. aneh, ibnu suradi dan abu dzar hanya membatasi pada zaman Nabi Muhammad dan sahabat. Pantas saja wahabi menganggap mazhab yg empat adalah syirik.

  25. ustadz ibu suradi, abu dzar dan umu hasanah… kok pertanyaan saya tidak di jawab… ???? oke saya ulangi lagi “THUMA’NINAH MENURUT KANJENG NABI MUHAMMAD ITU BAGAIMANA???” gimana nich..
    ya udah lah.. oke sekarang yang kita bahas pertama kali yang mana? jangan meloncat2.. kasihan saya yang masih awam.. jadinya gak bisa ngikuti perkembangan diskusi

  26. mas alfeyd, mungkin sebaikny mereka jawab dulu pertanyaan saya tentang sifat qadim Allah subhanahu wa ta’ala. Kita lihat dulu aqidahny mereka.

  27. Wahabi nggak akan mengerti dg pertanyaan mas Agung dan mas Alfayd, sebab apa, karena mereka tidak punya dasar ilmu tentang hal-hal seperti itu. Salah pendidikan dasarnya, maka seperti itulah yg terjadi.

    Dulu sudah saya sarankan kepada pak Ibnu Suradi untuk belajar di madrasah ibtida’iyah lebih dulu, tentunya biar mengerti ilmu2 dasar terlebih dulu.

    1. kwk kwk kwk…. Mbak aryati kartika bisa aja koment-nya, tapi saya setuju….

      Ilmu dasar itu penting sebelum melangkah ke ilmu2 lanjutan. Tanpa ilmu dasar ibarat pemain silat tapi tidak memiliki kuda-kuda yg kuat, langkah-langkah dan jurusnya pasti terlihat rapuh tapi sok jagoan.

  28. Ibn Suradi, Abu Dzar, Mas Agung Mas Mamak,
    Ijin nyimak ada 2 topik menarik disini.
    1. Akidah & Cara Ibadah yg mana yg sesuai Ahlussunnah Waljamaah
    2. Sifat Allah yang Qodim
    Senang sekali jika diskusi ini dilanjutkan agar supaya semua pengunjung blog ini bisa mengambil manfaatnya…Monggo Mas-Mas…
    Assalamualaikum…

  29. saya ini orang awam, yg tidak bisa mengambil ilmu dari Nabi Muhammad n sahabat. Jd, yg menyelisih imam mazhab dlm masalah aqidah, maka iya sesat.

  30. setahu saya, mazhab besar itu cuma ada empat yg d akui eksistensiny. namun, skrng ada yg namany manhaj salaf, mazhab salaf. anehny, mereka yg mengaku bermanhaj salaf, bukanlah generasi salaf seperti imam yg empat. ibnu taymiyyah, abdul wahab, al bani, bin baz, utsmaini, apa lg firanda dkkny, bukanlah generasi salaf.

  31. Bismillaah,

    Mas Mamak,

    Anda pasti ingat hadits: “Sebaik-baik manusia adalah yang belajar Qur’an dan mengajarkannya.” Kalau ada guru yang mengajarkan Islam kepada muridnya dengan menyampaikan penjelasan yang disertai ayat Qur’an dan hadits sebagai dasarnya secara konsisten, maka ikutilah dia. Dia akan bisa menjelaskan bagaimana mencocokkan cara beragama, akidah, acara ibadah dan lainnya dengan sunnah atau perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan jamaahnya yakni para sahabatnya.

    Bila anda menjumpai seorang guru yang tidak pernah menyampaikan ayat Qur’an dan hadits dalam menjelaskan masalah agama Islam kepada muridnya, maka anda sebaiknya meninggalkannya. Guru tersebut kemungkinan besar tidak bisa menjelaskan masalah tersebut.

    Wallaahu a’lam.

    1. Bismillah,

      Pak Ibnu Suradi@, Sebagaimana anda maklum, bahwa setiap ustadz/guru yang menyampaikan sebuah ayat atau hadits pasti disertai penjelasan… maka pertanyaan sederhananya adalah :

      – Bagaimana cara untuk mengetahui bahwa penjelasan seseorang atas sebuah ayat atau hadits yang beliau sampaikan telah sesuai atau menyimpang dari maksud ayat atau hadits yang ia jadikan pijakan penjelasannya ?

      1. kejar teruuuusssss…

        Saya sebenarnya sangat menikmati diskusi semacam ini, hanya sebagai audiens saja, sesuai dengan kapasitas ilmu saya.
        Tapi sayangnya, dari yg sudah2, biasanya bakal ada yg gak nglanjutin komennya, lempar topik lain, kasih jawaban normatif, lari ke postingan lain trs komen di sana, atau apapun lah yang tidak seharusnya dilakukan dalam sebuah diskusi. Tidak jarang juga keluar senjata pamungkas dengan menukil hadits “tinggalkanlah debat” (come on!! Dipilah dong debat mana yg sesuai hadits tsb, lagipula tidak sedikit dari debat di blog ini dimulai dari pihak yg menukil hadits “tinggalkanlah debat”).

        Semoga saja diskusi kali ini dan selanjutnya bisa tuntas, tidak ada yg WO.

        1. Bismillaah,

          Mas Awan Sekalee,

          Saya pernah diskusi di situs ini dengan topik: “Tatacara Shalat Raulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari Berdiri hingga Salam”. Pembahasan baru sampai surat-surat yang biasa dibaca Rasulullaah saat shalat wajib. Namun Ustadz Mas Derajat waktu memerintahkan kawan-kawan untuk menghentikan diskusi dengan alasan diskusi tersebut saya setir. Lalu Mas Abu Hilya menawarkan saya untuk diskusi berdua di rumahnya. Saya menolak karena tidak ada manfaat untuk orang banyak terutama para pengunjung situs ini.

          Kalau kawan-kawan ingin membuka kembali diskusi dengan topik “Tatacara Shalat Raulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari Berdiri hingga Salam”, silahkan. Saya akan sangat gembira untuk mengikutinya sampai akhir asal yang didiskusikan tatacara shalat Rasulullaah, bukan tatacara shalat Albani, Hasan Assaqaf, Habib Munzir, Din Syamsudin, Said Aqil Siraj, Muhammadiyah, NU, dll.

          Wallaahu a’lam.

          1. @ibnu suradi

            ucapan ente

            “Saya menolak karena tidak ada manfaat untuk orang banyak terutama para pengunjung situs ini.”

            klise banget sih kang…! khan waktu itu udah ada yang siap mendokumentasikan pake kamera lalu di posting di blog ini tapi kan ente tetep ga mau, padahal manfaatnya lebih banyak ketimbang cuma tulisan tanpa memperlihatkan prakteknya!
            saran saja buat ente, ada ustad agung tuh yang kayaknya mau ngeladenin ente coba ente diskusi sampai selesai dan tunjukan sama para pengujung blog ini bahwa ente siap diskusi sampai selesai suatu masalah

          2. @ibnu Suradi

            Misal, seseorang berwudhu dengan mengusap sebagian kepala, tapi ketika sholat orang tersebut tidak membaca basmallah pada surah al-fatihah. maka sholatnya, menurut mazhab maliki tidak sah, karena membasuh kepala itu wajibnya adalah seluruhnya, sedangkan menurut mazhab syafi’i wajibnya adalah sebagian. Sedangkan menurut mazhab syafi’i sholatnya juga tidak sah karena basmallah merupakan bagian dari sural al-fatihah, sedangkan menurut mazhab maliki, basmallah bukan bagian dari surah al-fatihah dan hukum membacanya adalah makruh.

            lalu siapa yang akan bertanggung jawab atas wudhu dan sholatnya? ia butuh sanad yang ia pegang bahwa ia berpegangan pada sunnah Nabi saw dalam wudhu dan sholatnya, sanadnya berpadu pada Imam Syafii atau pada Imam Malik? atau pada lainnya? atau ia tak berpegang pada salah satunya sebagaimana contoh diatas.

            Sahabat saya pernah berkata, sebagian besar Habaib bermazhab Syafi’i, begitupun dengan NU. Kami sholat berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist menurut pemahaman mazhab Syaf’i’i. Kami yang ada di sini orang awam, tidak sampai pada derajat mujtahid. kami juga tidak dapat mentarjih mana pendapat yg lebih kuat karena keterbatasan ilmu kami. satu mazhab saja kami tidak menguasai, apa lagi jika diharuskan belajar mazhab yang lain, tentu kami akan mengalami kesulitan. Namun, jika saudara mampu mentarjih sendiri karena ilmu saudara yang sudah begitu tinggi dan hebatnya, ya kami persilahkan, tapi jangan paksa kami mengikuti pemahaman anda.

          3. Kalau yg anda maksud itu perkataan Mas Derajad yang ini:
            http://ummatipress.com/2012/04/15/apa-itu-ahlussunnah-wal-jamaah/comment-page-4/#comment-24318
            ya jelas aja dong lawan diskusi anda memilih tidak melanjutkannya. Seperti alasan yang anda katakan bahwa diskusi tersebut anda setir (mungkin penggunaan kata ini agak tajam), anda menolak pendapat ulama2 mu’tabar yang diakui secara luas di seluruh dunia, anda hanya menerima pendapat ulama2 versi anda sendiri. Mungkin itulah sebenarnya saat yang tepat untuk mengeluarkan hadits ‘tinggalkanlah debat’.

            Dan anda pun sudah ditawari untuk bertatap muka secara langsung dan DIDOKUMENTASIKAN hasilnya untuk diposting nantinya di sini. Bukankah itu dapat membawa manfaat untuk orang banyak, terutama orang yang mengunjungi situs ini?

          4. kalau yang anda maksud itu perkataan Mas Derajad yang ini:
            http://ummatipress.com/2012/04/15/apa-itu-ahlussunnah-wal-jamaah/comment-page-4/#comment-24318
            ya jelas aja dong lawan diskusi anda memilih tidak melanjutkan debat. Seperti alasan yang anda katakan bahwa debat tersebut anda setir (mungkin kata ini agak tajam), anda menolak pendapat ulama2 yang diakui kapasitasnya secara luas di seluruh dunia, dan anda hanya menerima pendapat ulama2 versi anda sendiri. Mungkin itulah sebenarnya saat yang tepat untuk mengeluarkan hadits ‘tinggalkanlah debat’.

            Dan anda pun sudah ditawari untuk bertatap muka secara langsung untuk mendiskusikannya dan akan DIDOKUMENTASIKAN hasilnya untuk diposting hasilnya di situs ini nantinya. Bukankah ini akan membawa manfaat untuk orang banyak terutama para pengunjung situs ini?

    2. To Ibnu suradi
      Saya setuju dengan anda tentang pencarian guru yang bisa menjelaskan agama/syariat berdasarkan Quran hadit, tapi tahukan anda wahai saudaraku rentan waktu/masa antara kita dan rosulullah begitu jauhnya sehingga kemurnian pemahaman quran dan hadist yg di jelaskan guru kepada kita tentunya akan mengalami korosi, lebih2 guru yg tak bersanad, guru yg memahami secara otodidak, guru yg hafal quran hadis yg paham secara textualnya saja, dan guru yg jauh mendapat bimbingan dan ridlo dari Allah SWT, sekarang ini tentunya org2 semacam ini banyak di sekeliling kita, jadi tak heran ini di jadikan oleh org2 yionis untuk merusak islam dengan memberdayakan mereka dengan dalil kembali ke quarn dan hadit dengan berguru seperti tersebut, Rosul Bersanda “Al hadidu laisa bil Hadidi” Batu itu tdk bisa di hancurkan kecuali dengan sejenis batu itu, karenanya wahai saudaraku pelajari dulu guru2 kita sebelum kita belajar ilmunya.

  32. @ibnu suradi
    dari mana kita tahu bahwa penjelasn al bani tentang tata cara sholat yg d ambilny dari al quran dan hadist adalah benar?

  33. Bismillaah,

    Mas Mamak,

    Guru yang benar senantiasa menyampaikan ayat Qur’an dan hadits karena keduanya adalah rujukan utama agama Islam. Ia juga menyampaikan atsar sahabat dan pendapat para ulama sebagai penjelas dari ayat Qur’an dan hadits. Guru yang demikian inilah yang akan menuntun kita menempuh jalan golongan yang selamat: Ahlussunnah wal Jamaah.

    Saya pernah punya pengalaman mengikuti pengajian di masjid di kampung saya pada suatu malam Ahad bulan lalu. Sang ustadz hanya berbicara dari awal hingga akhir tanpa menyampaikan ayat Qur’an, hadits, atsar dan pendapat ulama. Ini sangat memprihatinkan.

    Wallaahu a’lam.

    1. Bismillah,

      Pak Ibnu Suradi@, Tentang jawaban anda :

      Guru yang benar senantiasa menyampaikan ayat Qur’an dan hadits karena keduanya adalah rujukan utama agama Islam. Ia juga menyampaikan atsar sahabat dan pendapat para ulama sebagai penjelas dari ayat Qur’an dan hadits. Guru yang demikian inilah yang akan menuntun kita menempuh jalan golongan yang selamat: Ahlussunnah wal Jamaah.

      Sebelumnya kami sampaikan terimakasih, namun jawaban anda tersebut masih sulit untuk kami realisasikan mengingat :

      – Tentang ustadz yang telah menyampaikan al qur’an atau hadits tersebut yang kemudian menuqil pernyataan para sahabat juga para ulama sebagai penjelasannya… Bagaimana cara kami mengetahui bahwa sang ustadz/guru tersebut tidak mendistorsi pernyataan/atsar para sahabat atau penjelasan para ulama ? Sedang semua atsar dan mayoritas penjelasan para ulama berbahasa arab ?

      selanjutnya tentang kisah yang anda sampaikan :

      Saya pernah punya pengalaman mengikuti pengajian di masjid di kampung saya pada suatu malam Ahad bulan lalu. Sang ustadz hanya berbicara dari awal hingga akhir tanpa menyampaikan ayat Qur’an, hadits, atsar dan pendapat ulama. Ini sangat memprihatinkan.

      Dalam kesimpulan kami : berarti menurut anda seorang ustadz ketika menyampaikan materi kajiannya wajib baginya menyampaikan al qur’an dan atau hadits… Adakah memang demikian menurut anda ? jika memang demikian, maka pertanyaannya adalah :

      – Adakah dalil yang menunjukkan akan hal itu ?
      – Berdosakah seseorang yang menyampaikan urusan agama dimana materi yang disampaikan telah sesuai dengan al qur’an dan atau as sunnah, namun dalam penyampaiannya beliau tidak menyertakan dalil (qur’an atau hadits) yang jadi pijakannya ? (Seperti kitab sulam safinah, Sullamut Taufiq, atau kitab-kitab dasar yang lain)…..
      – Jika menurut anda tidak berdosa, lantas apa yang membuat anda prihatin ?

      Terimakasih… Semoga anda dapat menjelaskannya dan bermanfaat bagi kami…

  34. @ ibnu suradi :Ingatlah Hadist Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam “Aku menjamin sebuah rumah di pinggir jannah (surga) bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan berkepanjangan meskipun ia dalam kebenaran (al haq), juga sebuah rumah di tengah jannah bagi siapa saja yang meninggalkan berbohong walaupun ia sedang bercanda, serta sebuah rumah di puncak jannah bagi siapa saja yang berakhlak mulia”
    (HR. Abu Dawud, Dinyatakan Hasan shahih oleh Syaikh Al Albani)

    @ Ummu Hasannah : Sama seperti ucapan Abu Dzar ….yang sabar dan jaga lisan kita, ini bulan Rajab dimana salah satu bulan yang Haram disisi Allah ‘azza wa jalla

    smoga Allah ‘azza wa jalla senantiasa membasahkan lidah kalian berdua dengan perkataan yang baik

  35. Abu Dzar dan AbDzikri, terima kasih atas perhatiannya…
    Ibnu Suradi, jangan ngoyo banget ah, percuma… lha wong mrk ini gak bisa diberitahu koq. Mau hujjah yang antum ambil dari ayat Al Qur’an dan hadist Shohih dibantah pake syair orang nashrani?
    Coba deh tanya mrk tentang makna istawa. Pasti mrk mengartikan dengan istawla, yg dikutip dr syair yang dibuat oleh org Nashrani. (bisa dilihat dari kitab Aqidah Al washitiyah Syaikh Islam Ibnu Taymiyah dengan Syarah Syaikh Al Utsaimin)
    Lebih baik doakan aja mrk agar dapat hidayah untuk beragama sesuai dengan Al Qur’an dan hadist shohih atas pemahaman salafush sholih seperti kita ini.

    1. @Ummu Hasanah

      Dalam kitab Dafu Syubah al-Tasybih bi-Akaffi al-Tanzih karya Imam Ibnul Jauz dijelaskan sebagai berikut :

      Ketahuilah, kata Istawâ “استوى” dalam bahasa Arab memiliki berbagai macam arti, di antaranya bermakna I’tadala “اعتدل”; artinya “sama sepadan”. Dalam makna ini sebagian kabilah Bani Tamim berkata:

      فَاسْتَوَى ظَالِمُ العَشِيْرَةِ وَالْمَظْلُوْمُ

      [Artinya “Menjadi sama antara orang yang zalim dari kaum tersebut dengan orang yang dizaliminya”. Kata Istawâ dalam bait sya’ir ini artinya “sama sepadan”].

      Kata Istawâ dapat pula bermakna tamma “تمّ” ; artinya sempurna. Dalam makna ini seperti firman Allah tentang Nabi Musa:

      وَلَمّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى ءَاتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا (القصص: 14)

      [”Ketika dia (Nabi Musa) telah mencapai kekuatannya dan telah sempurna Kami (Allah) berikan kepadanya kenabian dan ilmu”]. (QS. Al-Qashash: 14).

      Kata Istawâ dapat pula bermakna al-Qashd Ilâ asy-Syai’ “القصد إلى الشىء” artinya; bertujuan terhadap sesuatu. Dalam makna ini seperti firman Allah:

      ثُمّ اسْتَوَى إلَى السّمَاء (فصلت: 11)

      [Yang dimaksud Istawâ dalam ayat ini ialah qashada “قصد”, artinya bahwa Allah berkehendak (bertujuan) untuk menciptakan langit].

      Kata Istawâ dapat pula dalam makna al-Istîlâ’ ‘Alâ asy-Syai’ “الاستيلاء على الشىء” artinya; menguasai terhadap sesuatu. Dalam makna ini sebagaimana perkataan seorang penyair:

      إذَا مَا غَزَا قَوْمًا أبَاحَ حَرِيْمهُمْ وأضْحَى عَلى مَا مَلَكُوْهُ قَدِ اسْتَوَى

      [Maknanya: “Apa bila ia memerangi suatu kaum maka ia mendapatkan kebolehan atas sesuatu yang terlarang dari mereka, dan jadilah ia terhadap apa yang mereka miliki telah menguasai”].

      Sekarang menurut jeng ummu hasanah, apa makna istawa?

    2. @Ummu Hasanah

      Saya pernah membaca, bahwa ibnu taimiyyah dalam banyak karyanya seperti Muwafaqat Sharih al-Ma’qul Li Shahih al-Manqul[1], Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah[2], Kitab Syarh Hadits an-Nuzul[3], Majmu’ al-Fatawa[4], Kitab Syarh Hadits ‘Imrah ibn al-Hushain[5], dan Kitab Naqd Maratib al-Ijma’[6]. alam ini tidak memiliki permulaan, ia azali atau qadim sebagaimana Allah Azali dan Qadim. Menurutnya, yang baharu dan memiliki permulaan dari alam ini adalah materi-materinya saja (al-Maddah atau al-Afrad), sementara jenis-jenisnya adalah sesuatu yang azali.

      Benar tidak pernyataan ibnu taimiyyah tersebut?

      karena kalian tidak pernah menjawab pertanyaan saya seputar sifat Allah subhanahu wa ta’ala yang qadim azali. Maknanya tidak memiliki permulaan. Makna, al-Azali dan atau al-Qadim dalam pengertian ini secara mutlak hanya milik Allah saja. Tidak ada suatu apapun dari makhluk Allah yang memiliki sifat seperti ini. jangan jangan ummu hasanah, abu dzar, ibnu suradi dkknya mengikuti paham ibnu taimiyyah juga.

    3. @Ummu Hasanah

      Al Imam Ali -semoga Allah meridlainya- mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya” (diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq, hal. 333)

      “ Ar-Rahman beristiwa di Arsy “ (QS. Thaha : 5), memang ada yang mengatakan bahwa salah seorang sahabat Ibnu Abbas menafsirkannya : “ Istaqarra / bersemayam “. Namun, dalam kitab Al-Asmaa wa ash-Shifat, imam al-Baihaqi : 383, maktabah al-Azhar li at-Turats, mengatakan bahwa riwayat tersebut adalah mungkar.

    4. iyah ummu berdoa aj supaya ummu dpt hidayah dlm mengkaji Alquran & Hadist secara mendalam

      al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki,berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut:

      هَذِهِ اْلآَيَةُ نَزَلَتْ فِي الْخَوَارِجِ الَّذِيْنَ يُحَرِّفُوْنَ تَأْوِيْلَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَيَسْتَحِلُّوْنَ بِذَلِكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمْوَالَهُمْ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ اْلآَنَ فِيْ نَظَائِرِهِمْ وَهُمْ فِرْقَةٌ بِأَرْضِ الْحِجَازِ يُقَالُ لَهُمُ الْوَهَّابِيَّةُ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ عَلىَ شَيْءٍ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ. (حاشية الصاوي على تفسير الجلالين، ٣/٣٠٧).

      “Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307).

  36. Untuk teman2 wahabi, @Ibn Suradi cs…

    Sejauh ini antum dan teman2 wahabi selalu merasa bahwa wahabi salafy adalah yang paling sesuai dengan pemahaman Nabi Saw dalam berbagai hal (Aqidah, Fiqh (baca: sholat dsb), Akhlak, dll),…. Nah, teman2 Aswaja mencoba menguji validitasnya dengan mempertanyakan:
    1) Jika benar pemahaman M. Ibn Abdul Wahab (pendiri wahabism) tentang Akidah 3 (konsep Ibn Taimiyah) itu yang paling sesuai dengan yang diajarkan Nabi dahulu. Maka tolong dibuktikan secara ilmiah bagaimana M. Ibn Abdul Wahab mendapatkan pemahaman tsb dengan rantai sanad keguruan setiap generasi yang shohih dan bisa dipertanggungjawabkan sampai Rasululloh Saw? karena kalau tidak, maka pengakuan wahabi yang disandarkan Nabi tidak shohih (dhoif/tertolak). Dan gugurlah semua pendapatnya…. karena Agama yang mulia ini terjaga lewat SANAD….

    2) Dalam berbagai hal termasuk memahami hadits dan al-qur’an, teman2 wahabi mengutip dan memahami kedua sumber hukum islam tersebut secara langsung (bahkan “letter lux/ sesuai terjemahannya”) sehingga kadang menimbulkan kontradiksi antara hadits atau ayat yang satu dengan yang lainnya. Sama sekali tidak mengacu kepada Ilmu ulumul Qur’an (untuk memahami al-Qur’an) dan Mustholahul Hadits (untuk memahami hadits) yang telah disusun oleh para ulama mu’tabar. Oleh karenanya teman2 Aswaja menanyakan Apakah Derajat rekan2 wahabi tsb sdh mencapai derajat MUJTAHID? Tahukah syarat2 MUJTAHID itu apa saja? Apa landasan Ilmiah mereka melakukan hal tersebut?
    Karena setiap sesuatu yang disandarkan kepada Nabi, padahal tidak sesuai dengan apa yang kehendaki Nabi (termasuk pemahaman yang keliru…), maka itu dicela oleh Nabi.. Sedangkan mana mungkin kita mengetahui status hukum, serta sanad dan matannya jika tidak melalui lisan dan karya para ulama yang mu’tabar…

    ——————————————-

    Untuk teman2 Aswaja,

    Bersabarlah karena tugas teman2 semua hanya menyampaikan yang haq lewat cara yang santun tetapi komprehensif sebagaimana para ulama2 kita terdahulu bersikap… karena Hidayah adalah semata hak Allah Azza wa Jalla…

  37. Assalamu’alaikum…

    Salam kenal saudaraku ASWAJA semua… sebenarnya sudah agak lama aku berkunjung ke web ini, namun sebatas sebagai pengunjung pasive, maklum sangat minim ilmu… namun ada yang menarik ketika aku mencermati gaya/metode diskusi mas mamak@, baik ketika berdiskusi dengan mas abu aisyah atau yang sekarang sedang berdiskusi dengan pak Ibnu Suradi…

    Jika aku cermati, gaya/methode diskusi yang dipakai oleh mas mamak agak mirip dengan gaya/methode diskusi yang di praktekkan oleh Syaikh Sa’id Romdhon Al Bhuthi -rahimahullah- khususnya ketika beliau berdiskusi dengan Syekh Albani…

    Methode yang beliau gunakan nampaknya di duplikat oleh mas mamak@, yakni dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan guna membongkar kontradiksi pemahaman lawan diskusinya…
    Dan jika kita mencermati pertanyaan terakhir yang diajukan oleh mas Mamak kepada Pak Ibnu Suradi, nampaknya hanya akan memberikan dua pilihan buat Pak Ibnu Suradi :

    Pertama : Pak Ibnu Suradi akan memaksa menjawab pertanyaan tersebut, akan tetapi hal ini justru akan semakin menampakkan kontradiksinya pemikiran beliau, dan nampaknya itulah yang dimaksud mas mamak. Ibarat main catur mas mamak sedang pegang kendali…
    Mirip dengan pertanyaan Syaikh Al Buthi kepada Syekh Albani : “Berdosakah seseorang yang menetapi hanya pada satu madzhab ?”
    Kedua : Pak Ibnu Suradi akan menghentikan diskusi ini…. (kayaknya inilah pilihan yang paling masuk akal)…
    Wallohu a’lam…

    1. Bismillah,

      Mas Mudzoffar@, kami hanyalah pelajar awam biasa, sungguh sangat jauh bila dibanding syaikh al buti, nggak nyampai seujung kuku…

  38. Syaikh al Islam al Hafidz al Baihaqi –semoga Allah merahmatinya- mengatakan tentang hal itu: “Secara umum wajib diketahui bahwa istiwa’ Allah subhanahu wa ta’ala bukanlah istiwa’ lurus dari bengkok, tidak bersemayam pada suatu tempat, dan tidak menempel pada sesuatu dari makhlukNya akan tetapi Allah istawa ‘ala al Arsy sebagaimana Dia kabarkan tanpa disifati dengan sifat makhluk dan tanpa tempat. Maji’Nya bukan datang dari satu tempat ke tempat lain dan bukan bergerak. Nuzulnya bukan dengan berpindah, Dzatnya bukanlah jisim, wajhNya bukanlah bentuk/gambar, yadNya bukanlah anggota badan dan bahwa ‘ain Nya bukanlah kelopak mata. Sifat-sifat ini tauqifi, maka kita mengimaninya dan menafikan penyerupaannya dengan sifat makhluk. Allah ta’ala telah berfirman: ( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْء (الشورى: 11 Maknanya: “Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah dari satu segi maupun semua segi”. Allah juga berfirman: ( وَلمَْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ (الإخلاص: 4 Maknanya: “Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. Allah juga berfirman: ( هَ لْ تَ عْ ل مُ ل ه سمَِ ا (مريم: 65 Maknanya: Tidak ada serupa bagi-Nya (Allah). (Al Baihaqi, al Iqtiqad wa al Hidayah, hal. 72)

  39. Dalam naskah Taurat palsu yang menjadi dasar agama mereka disebutkan dalam Safar al Muluk al Ishhah 22 no.19-20 orang-orang Yahudi semoga Allah melaknat mereka mengatakan: “Maka dengarkanlah kata-kata Tuhan, kamu telah melihat Tuhan duduk di atas kursiNya dan seluruh tentara langit berdiri di kanan dan kiriNya“. Dan dalam buku yang mereka beri nama Safar Mazamir: al Ishhah 47 no.8 orang-orang Yahudi –semoga Allah melaknat mereka- mengatakan: “Allah duduk di atas kursi kesucian- Nya”.

    Dalam kitab yang mereka namakan Safar Tastniyat al Ishhah 4 nomor 15-16 kaum Yahudi mengatakan: “Sesungguhnya apabila kalian tidak melihat bentuk yang ada pada hari Tuhan berkata kepada kalian di haurip di tengah-tengah api agar kalian tidak sesat dan memahat patung untuk diri kalian seperti laki-laki atau perempuan”.

    Dalam naskah Taurat palsu yang mereka namakan dengan Safar at-Takwin al Ishhah 11 nomor 5 kaum Yahudi mengatakan: “Kemudian Tuhan turun untuk melihat kota dan tugu yang keduanya dibangun oleh anak Adam”.

    Dalam kitab yang disebut dengan Safar Isyiya’ al Ishhah 25 nomor 10 kaum yahudi berkata: “Karena tangan Tuhan bersemayam pada gunung ini”.

    Dalam agama kristen pun dikenal denga konsep trinitas, mereka mengatakan bahwa Isa Al Masih adalah Tuhan, semoga laknat Allah atas mereka. mereka menggambarkan bahwa Tuhan mereka memilki tangan, bertempat, berpindah, dan segenap sifat sifat makhluk lainnya yang termanifestasi dalam sosok Nabi Isa Al Masih ‘Alaihissalam.

    Sekarang saya tanya kepada Ummu Hasanah, abu dzar, dkknya, siapa yang telah mengambil kekufuran dari kaum Yahudi dan Nasrani, kami (asy’ariyyah maturidiyyah) atau kalain salafi wahabi?

    1. semoga mas Agung berkenan mengisi blog ini dengan artikel khusus ttg Taurat Palsu yg ternyata banyak persamaannya yg mengimani bahwa Allah duduk diatas arasyNya yg dipahami oleh sebagian golongan “minor/nyempal” dewasa ini…

  40. Mas Agung, Sy mah sederhana saja. Orang berilmu itu hanya bisa tersenyum jika diajak berdebat dengan orang jahil.

    1. @Ummu Hasanah

      Benar itu bos, saya memang tidak berilmu, karena bodoh, maka saya lebih suka menukil pendapat para ulama yang muktabar, dibandingkan harus menggali langsung dari Al-Qur’an dan hadist. Beda dengan kalian, ummu hasanah, abu dzar, ibnu suradi cs yang ilmunya sudah begitu hebatnya, jadi dapat berhukum langsung dengan Al-Qur’an dan Hadist, minimal dapat mentarjih sendiri mana pendapat yang lebih kuat.

      Kalau begitu, bagi bagi ilmu dong, minimal anda menjawab semua pernyataan saya, kan aqidah kalian paling “murni”.

      1. @ummu hasanah

        mantap salut buat ummu hasanah dengan sikap sombong, mulut besar, merendahkan orang, ngeyel, caci maki dll, anti adalah indikator bahwa dakwah para ustad disini masih panjang
        ditunggu caci maki, sombong dan merendahkan orang selanjutnya wkwkwk

    2. umuhssanah berkata “Mas Agung, Sy mah sederhana saja. Orang berilmu itu hanya bisa
      tersenyum jika diajak berdebat dengan orang
      jahil”

      saya: beranikah anda kami uji ??? kok ketoe sampean sangat bangga dengan ilmu yang cuma secuil..
      kamu ingin diuji masalah apa…?? yang penting ilmu agama biar gak bid’ah hehe
      … biarkan saya yang bodoh ini menguji sampean.
      monggo

  41. semoga saja dihati kecilnya yg paling dalam ummu hasanah bisa menerima kekeliruannya selama ini, jika tidak maka lebih pantas jadi ummu jamil..

  42. Contoh Manusia yang merasa berilmu dan akhirnya sesat adalah Ummu Abdillah. Menurut Ummu Abdillah, riwayat yang dibawakan oleh Abdullah bin Naafi’ adalah shahih. Namun, disisi lain Ummu Abdillah pun mengakui, bahwa ada juga ahli hadist yang mengkritik hapalan Ibnu Naafi’ seperti Abu Haatim, Al-Bukhaariy, Ad-Daaruquthniy, dan Abu Zur’ah dalam riwayatnya yang lain. Namun, kemudian ummu abdillah ini meneliti riwayat tersebut, dan mengemukakan beberapa pendapat dari para ulama, akhir kesimpulan ummu abdillah adalah : “Seandainya tidak bisa dihukumi shahih, maka ia tidak jatuh dari derajat hasan.”

    —————————————————————————————————————————————————————————————————————————————
    Sedangkan al-Imâm al-Hâfizh al-Faqîh al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab al-Faqîh Wa al-Mutafaqqih, sebagai berikut:Bahkan jika ada hadits yang menyebutkan tentang sifat Allah dan para perawi hadits tersebut masih diperselisihkan, walaupun kemudian hadits ini dikuatkan dengan adanya hadits lain (yang semakna dengannya dengan jalur yang berbeda), hadits ini tetap tidak bisa dijadikan dalil untuk menetapkan sifat Allah”.

    Ummu Hasanah ini, apakah saudaranya ummu abdillah?

  43. Penyesalan yang terberat adalah ketika berbuat kesalahan tetapi sudah tidak dapat diperbaiki lagi (yaitu ketika mempertanggungjawabkan semua perbuatan di depan Sang Khalik, Allah Azza Wa Jalla…)… lihat bagaimana al-Qur’an menggunakan kata “laita” (“seandainya” yang tidak dapat diubah atau diperbaharui lagi).. dalam ayat, “Yaa laitani kuntu turoobaa”……. bukan menggunakan kata “la’alla” (“seandainya” yang masih bisa diperbaiki/diperbaharui)….

    Mudah2an Allah SWT memberikan seluas-luasnya hidayah utk mereka yang mau melihat kebenaran ilahi yang indah… Agar beruntung dan selamat hidup dunia dan akhirat…

  44. RENUNGAN YANG KESEKIAN KALINYA UNTUK HUMUHASANAH DKK..
    Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu , Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    faqiihun waahidun asyaddu ala al syaithoni min alfi ‘ibaadin (rowahu al Tirmidzi wa Ibnu Majah)

    pengertian orang yang Faqih : orang yang mengetahui ilmu Fiqh yaitu ialah ilmu yang menerangkan hukum-hukum syari’at Islam yang diambil dari dalil-dalilnya yang terperinci.
    Fiqh artinya faham atau tahu. Menurut istilah
    yang digunakan para ahli Fiqh (fuqaha ). Fiqh itu
    ialah ilmu yang menerangkan hukum-hukum syari’at Islam yang diambil dari dalil-dalilnya
    yang terperinci.
    Menurut Hasan Ahmad Al-Khatib: Fiqhul Islami ialah sekumpulan hukumbsyara’, yang sudah dibukukan dalam berbagai madzhab, baik dari madzhab yang empat atau dari madzhab lainnya, dan yang dinukilkan dari fatwa-fatwa sahabat thabi’in, dari fuqaha yang tujuh di Makkah, di Madinah, di Syam, di Mesir, di Iraq, di Bashrah dan sebagainya. Fuqaha yang tujuh itu ialah Sa’id Musayyab, Abu Bakar bin Abdurrahman, ’Urwah bin Zubair, Sulaiman Yasar, Al-Qasim bin Muhammad, Charijah bin Zaid, dan Ubaidillah Abdillah.
    Dilihat dari segi ilmu pengetahuan yangg
    berkembang dalam kalangan ulama Islam, fiqh
    itu ialah ilmu pengetahuan yang
    membiacarakan/membahas/memuat hukum-
    hukum Islam yang bersumber pada
    Al-Qur’an, Sunnah dalil-dalil Syar’i yang lain;
    setelah diformulasikan oleh para ulama dengan
    mempergunakan kaidah-kaidah Ushul Fiqih.
    setelah kita mengetahui ilmu fiqih dengan pengertian di atas maka kalau kita ingin menggali hukum dari nash langsung kita harus mengetahui syarat2nya,
    Berkata al-Allamah Syeikh Muhammad al-
    Khazraji di dalam kitabnya al-Qaul al-Badi Fi
    ad-Radd Ala al-Qailin Bi al-Tabdi mengenai
    syarat-syarat seorang mujtahid:
    01. Mengetahui asal-usul perkataan-perkataan Arab dan yang berkongsi makna dengan
    perkataan-perkataan Arab yang lain.
    02. Mengetahui makna-makna huruf-huruf al-Jar.
    03. Mengetahui makna-makna huruf-huruf istifham dan nama-namnya serta huruf-huruf Syarat.
    04. Hendaklah seorang yang alim dengan kitab
    Allah Taala dan sebab-sebab turunnya (asbab
    al-nuzul) ayat-ayat, nasikh mansukh, al-muhkam dan al-mutasyabih yang umum, khas, mutlak, muqayyat, isi kandungan kitab, kitab al-taklif (kewajipan), kitab berasaskan suasana,
    mafhum al-muwafaqah dan mafhum al-
    mukhalafah.
    05. Juga seorang yang alim mengenai Sunnah
    Nabi S.A.W. iaitu menguasai ilmu al-riwayat
    dan al-dirayah, mampu melihat maslahah-
    maslahah am, istihsan, ististab al-asal, manarik
    maslahah-maslahah dan menolak kerosakan.
    06. Alim dalam ijmak dan qiyas.
    Jika kita perhatikan dan meneliti syarat-syarat
    di atas maka ketahuilah oleh kita akan
    layakkah seseorang itu digelari mujtahid
    ataupun tidak. Ketahuilah oleh kita bahwa
    ulama-ulama muktabar dahulu (terutamanya
    imam-imam empat mazhab) mereka menguasai lebih dari ilmu-ilmu yang disebutkan di atas. Namun saya bercenderung mengatakan bahwa amatlah susah bagi masyarakat kini untuk mencapai tahap seorang mujtahid muktabar sebagaimana imam-imam yang empat atau mungkin hampir mustahil walaupun mungkin dikatan “pintu ijtihat masih dibuka hingga kini”. Oleh kerana itulah maka janganlah kita bersangka salah kepada hasil2 ijtihat yang dikeluarkan oleh ulama-ulama muktabar, qoidah fiqih mengatakan AL IJTIHAD LA YUNQODLU BIL IJTIHAD.
    Sesungguhnya amatlah besar sumbangan mereka sehingga terbentuknya mazhab-mazhab muktabar hingga ke waktu ini.
    Dan setelah saya mengikuti perkembangan blog ummati ini, dialog anak2 aswaja vs umuhasanah, ibnu suradi, ibnu ilyas dll maka saya membuat satu kesimpulan bahwa “KITA JAUUUUUUUH DARI DERAJAT MUJTAHID” hal tersebut terbukti mereka para wahabi selalu menghindar ketika diajak diskusi perihal ilmu alat bahasa arab, mafhum manthuq, pengertian/devinisi atau arti dari sebuah bahasa dan tata cara penggunaannya.
    Oleh sebab itu wahai saudaraku umuhasanah,ibnu suradi dll pelajarilah islam mulai dasar tangga kemudian ke atasnya dan ke atasny lagi secara bertahap satu demi satu.

    1. kang Alfeid:

      Oleh sebab itu wahai saudaraku umuhasanah,ibnu suradi dll pelajarilah islam mulai dasar tangga kemudian ke atasnya dan ke atasny lagi secara bertahap satu demi satu.

      Seperti itulah sedari dulu saya sering lihat komnt Mbak Aryati Kartika yg menganjurkan anak wahabi semacam Ibnu Suradi agar belajar ilmu2 dasar. Tanpa ilmu dasar diibaratkan pemain silat yg tak punya kuda-kuda yg baik. Ibarat bangunan tak punya pondasi. Itulah sebabnya kenapa ustadz2 Wahabi kalau debat dengan ustadz2 Aswaja semacam Muhammad Idrus Ramli atau Buya Uahya selalu mudah dijungkir balikkan, akhirnya KO dan tak berani debat lagi. Kapoook?!

  45. Otak IBNU SURADI dan UMMU HASANAH MIRIP OTAK YAHUDI yang meracuni OTAK KHOWARIJ, OTAK SYIAH dan OTAK WAHABY = SUPER NGEYEL , MAKIN KELIHATAN GUOBLOKNYA……!!!!!

  46. mas jabir sebenarnya saya juga insyaAlloh mengikuti komen2 mbak aryati… saya sekedar ngestokne dawuh guru2 saya agar tidak bosan untuk mengajak mereka supaya kembali ke jalan yang benar.. jalan yang telah ditempuh Ulama’ salaf sesungguhnya bukan salaf gadungan.. ALLOHUMMA IHDI QOUMII FAINNAHUM LAA YA’LAMUUN.. amin.. afwan

    1. Mas alfeyd@

      Sebenarnya saya mengutip koment antum di atas bertujuan mengekspos koment antum tsb agar lebih kelihatan. Bahwa selain koment antum yg menggaris bawahi pentingnya ilmu2 dasar, ternyata sebelumnya Mbak Aryati juga sering menganjurkan kepada anak2 Wahabi agar belajar ilmu2 dasar terlebih dulu.

      Mas Alfeyd, maju terus sebab saya terus terang sangat menggemari koment2 antum, melihat koment2 antum yang santun, saya jadi teringat kepada ustadz Lasykar. Sama2 santun dan berbobot, juga mas Mamak, dan yang lainnya.

  47. @Ummu Hasanah, Ibnu Suradi, Abu Dzar cs

    Imam An Nawawi menyatakan dalam Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab (1/71), mengenai tingkatan mufti dalam madzhab As Syafi’i. Merujuk kepada pendapat Al Hafidz Ibnu Shalah, beliau membagi mufti dalam madzhab menjadi beberapa kelompok:

    1. Mufti Mustaqil
    2. Mujtahid Madzhab
    3. Ashab Al Wujuh
    4. Mujtahid Fatwa
    5. Mufti Muqallid

    1. Mufti Mustaqil

    Mufti mustaqil adalah mufti yang berada dalam peringkat tertinggi dalam madzhab, Ibnu Shalah juga menyebutkannya sebagai mujtahid mutlaq. Artinya, tidak terikat dengan madzhab. Bahkan mujtahid inilah perintis madzhab. Tentu dalam Madzhab As Syafi’i, mufti mustaqil adalah Imam As Syafi’i. Imam An Nawawi sendiri menyebutkan pendapat beberapa ulama ushul bahwa tidak ada mujtahid mustaqil setelah masa As Syafi’i. (lihat, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/72)

    Keistimewaan mufti mustaqil yang tidak dimiliki oleh tingkatan mufti di bawahnya adalah kemampuannya menciptakan metode yang dianut madzhabnya.

    2. Mujtahid Madzhab

    Yakni, mufti yang tidak taklid kepada imamnya, baik dalam madzhab (pendapat) atau dalilnya namun tetap menisbatkan kepada imam karena mengikuti metode imam. ( lihat, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzadzab, 1/72)

    Contoh ulama Syafi’iyah yang sampai pada derajat ini adalah Imam Al Muzani dan Al Buwaithi, sebagaimana disebutkan Nawawi Al Bantani dan Syeikh Ba’alawi (lihat, Nihayah Az Zain, hal. 7 dan Bughyah Al Mustarsyidin, hal. 7)

    Sedangkan Imam An Nawawi juga menyebutkan bahwa Abu Ishaq As Syairazi yang masa hidupnya jauh dari masa Imam As Syafi’i mengaku sampai pada derajat ini. ( lihat, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzadzab, 1/72)

    Di kalangan muta’akhirin Imam As Suyuthi juga mengaku sampai pada derajat ini, sebagaimana disebutkan Syeikh Ba’alawi. (lihat, Bughyah Al Mustarsyidin, hal. 7)

    Mufti golongan inilah yang relevan bagi mereka perkataan Imam As Syafi’i yang melarang taklid, baik kepada beliau maupun kepada para imam lainnya, sebagaimana disebutkan Imam An Nawawi (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73).

    Dan hal itu tidak berlaku kepada ulama yang berada di bawah level ini, sebab itulah Ibnu Shalah sendiri berpendapat bahwa pelarangan taklid dari para imam tidak bersifat mutlak. (lihat, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/72).

    Golongan ini pula yang menurut Ibnu Shalah dan Imam An Nawawi yang berhak mengoreksi pendapat Imam, di saat mereka mengetahui ada hadits shahih yang bertantangan dengan pendapat imam. Kenapa harus mereka? Karena bisa jadi imam sengaja meninggalkan hadits walau ia shahih dikarenakan manshukh atau ditakhsis, dan hal ini tidak akan diketahui kecuali yang bersangkutan telah menela’ah semua karya As Syafi’i dan para pengikutnya, dan hal ini amatlah sulit, menurut penilaian ulama sekaliber Imam An Nawawi sekalipun. (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/99 dan Ma’na Al Qaul Al Imam Al Muthallibi Idza Shahah Al Hadits fa Huwa Madzhabi)

    Jika sesorang sampai pada derajat ini, ia bisa menyelisihi pendapat imamnya sendiri, dan hal ini tidaklah jadi persoalan, karena sudah sampai pada derajat mujtahid walau tetap memakai kaidah imam. Tak heran jika beberapa pendapat Imam Al Muzani berbeda dengan pendapat Imam As Syafi’i seperti dalam masalah masa nifas, Imam As Syafi’i berpendapat bahwa maksimal masa nifas 60 hari sedangkan Al Muzani 40 hari. (lihat, Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 2/106)

    3. Ashab Al Wujuh

    Ashab Al Wujuh, yakni mereka yang taklid kepada imam dalam masalah syara’, baik dalam dalil maupun ushul Imam. Namun, mereka masih memiliki kemampuan untuk menentukan hukum yang belum disebutkan imam dengan menyimpulkan dan menkiyaskan (takhrij) dari pendapat Imam, sebagaimana para mujtahid menentukannya dengan dalil. Biasanya mereka mencukupkan diri dengan dalil imam. (lihat Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73)

    Imam An Nawawi menyebutkan bahwa para ulama As Syafi’iyah yang sampai pada derajat ini adalah ashab al wujuh. Yakni mereka yang mengkiyaskan masalah yang belum di-nash oleh imam kepada pendapat imam. Sehingga, orang yang merujuk fatwa mereka pada hakikatnya tidak bertaklid kepada mereka, namun bertaklid kepada imam. (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73)

    Contoh dari para ulama yang mencapai derajat ini adalah Imam Al Qaffal dan Imam Abu Hamid atau Ahmad bin Bisyr bin Amir, Mufti Syafi’iyyah di Bashrah, sebagaimana disebutkan Syeikh Muhammad bin Sulaiman Al Qurdi (lihat, Mukhtashar Al Fawaid Al Makiyyah, hal.53).

    4. Mujtahid Fatwa

    Golongan ini termasuk para ulama yang tidak sampai pada derajat ashab al wujuh, namun menguasai madzhab imam dan dalilnya serta melakukan tarjih terhadap pendapat-pendapat dalam madzhab. (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73)

    Perlu diketahui, dengan adanya mufti-mufti yang berada di atas tingkatan ini, dalam madzhab sudah banyak terjadi khilaf, baik antara imam dengan mujtahid madzhab juga disebabkan perbedaan kesimpulan para ashab al wujuh terhadap pendapat imam. Disinilah ulama pada tingkatan ini berperan untuk mentarjih.

    Nawawi Al Bantani dan Syeikh Ba’alawi menyebutkan bahwa yang berada dalam tingkatan ini Imam Ar Rafi’i dan Imam An Nawawi yang dikenal sebagai mujtahid fatwa.(lihat, An Nihayah, hal. 7 dan Al Bughyah, hal. 7)

    Hal ini nampak dalam corak karya Ar Rafi’i seperti Al Aziz fi Syarh Al Wajiz, juga karya Imam An Nawawi seperti Raudhah At Thalibin dan Minhaj At Thalibin. Sehingga bagi para penuntut ilmu jika ingin mengetahu perkara yang rajih dalam madzhab bisa merujuk kepada buku-buku tersebut.

    5. Mufti Muqallid

    Tingkatan mufti dalam madzhab yang paling akhir adalah mereka yang menguasa madzhab baik untuk masalah yang sederhana maupun yang rumit. Namun tidak memiliki kemampuan seperti mufti-mufti di atasnya. Maka fatwa mufti yang demikian bisa dijadikan pijakan penukilannya tentang madzhab dari pendapat imam dan cabang-cabangnya yang berasal dari para mujtahid madzhab. (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/74)

    Ibnu Hajar Al Haitami, Imam Ar Ramli dan As Subramilsi termasuk kelompok mufti Muqallid, walau sebagian berpendapat bahwa mereka juga melakukan tarjih dalam beberapa masalah. (lihat, Nihayah Az Zain, hal. 7 dan Bughyah Al Mustarsyidin, hal 7)

    Jika tidak menemui nuqilan dalam madzhab, maka ia tidak boleh mengeluarkan fatwa, kecuali jika mereka memandang bahwa masalahnya sama dengan apa yang nash madzhab, boleh ia mengkiyaskannya. Namun, menurut Imam Al Haramain, kasus demikian jarang ditemui. (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73).

    Namun tentunya tidak boleh berfatwa dengan semua pendapat tanpa melihat mana yang rajih menurut madzhab. Syeikh Ba’ alawi menilai orang yang demikian sebagai orang yang bodoh dan menyelisihi ijma. (lihat, Bughyah Al Mustarsyidin, hal. 9)

    Jika demikian, para mufti yang berada di jajaran ini akan banyak berinteraksi dengan karya-karya para mujtahid fatwa, yang telah menjelaskan pendapat rajih dalam madzhab.

    Imam An Nawawi menyebutkan bahwa para mufti selain mufti mustaqil, yang telah disebutkan di atas termasuk mufti muntasib, dalam artian tetap menisbatkan diri dalam madzhab. Dan semuanya harus menguasai apa yang dikuasai oleh mufti muqallid. Barang siapa berfatwa sedangkan belum memenuhi syarat di atas, maka ia telah menjerumuskan diri kepada hal yang amat besar! (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/74

    Tentu, amat tidak mudah untuk masuk jajaran mufti di atas hatta mufti muqallid jika orang sekaliber Ibnu Hajar Al Haitami dan Imam Ar Ramli masih dinilai berada dalam tingkatan itu! Namun ironisnya banyak anak-anak muda yang baru mencari ilmu dengan tanpa beban menyesat-nyesatkan siapa saja yang bertaklid. Kemudian menyerukan untuk mentarjih pendapat sesuai berdasarkan dalil yang ia pahami seakan-akan ia setingkat dengan Imam An Nawawi, atau bahkan menggugurkan pendapat mujtahid mustaqil dengan berargumen, idza shahah al hadits fahuwa madzhabi, seakan-akan ia satu level dengan Imam Al Muzani! Padahal yang bersangkutan belum menghatamkan dan menguasai kitab fiqih yang paling sederhana sekalipun dalam madzhab.

    Sekarang saya mau bertanya kepada Ummu Hasanah, Abu Dzar, dan Ibnu Suradi cs, ibnu taimiyyah, ibnu qayyim, utsmaini, bin baz, al bani cs, kira kira, mereka itu sebanding dengan siapa dalam mazhab syafi’i?

  48. @Ummu Hasanah, Abu Dzar, Abu Aisyah cs

    Kalian berkata dalam mensikapi hadits-hadist mutasyâbihât: “Kita harus pahami semua teks itu dalam makna zahirnya”, Lihat, ketika Nabi Isa disebut sebagai “Ruh Allah”; orang-orang Nasrani –laknat Allah atas mereka– meyakininya dalam makna zahir bahwa Allah adalah ruh yang telah menyatu dengan Maryam.

    firman Allah:

    فَنَفَخْنَا فِيْها مِنْ رُوْحِنَا (الأنبياء: 91)

    [Makna literal ayat ini tidak boleh kita ambil, makna literalnya mengatakan: ”Maka Kami (Allah) tiupkan padanya (Maryam) dari ruh Kami”. Makna literal ini seakan mengatakan bahwa Allah adalah ruh yang sebagian dari ruh tersebut adalah ruh Nabi Isa].

    [Makna ayat ini bukan seperti pemahaman sesat kaum Musyabbihah yang mengatakan bahwa Allah adalah ruh yang kemudian sebagian ruh tersebut dibagikan kepada Nabi Isa saat menciptakannya].

    sedangkan menurut ahlussunah wal jama’ah, Para ahli tafsir berkata: ”Yang dimaksud ”Min Rûhinâ” , ”من روحنا” adalah ”Min Rahmatinâ”, ”من رحمتنا” ; artinya bahwa Allah memberikan rahmat dan kemuliaan bagi Nabi Isa. Adapun penyebutan kata ”روح” dalam ayat tersebut dengan disandarkan kepada Allah (yaitu kepada zhamîr ”نا”) adalah karena kejadian peristiwa tersebut (penciptaan Nabi Isa) dengan perintah Allah.

    Jadi, siapa yang telah mengambil kekufuran dari kaum Nasrani, yang memahami ayat ayat mutasyabihat secara zhahir dan hakikatnya! kami (Asy’ariyyah Maturidiyyah) atau kalian salafi wahabi?

  49. @Mas gandi:
    Neng ummu hasanah atau ibnu suradi dkk cuma ada 2 kemungkinan:
    1. Kabur ngacir utk kemudian dengan ilmu NINJANYA akan nongol di artikel lain.
    2. menjawab tapi tidak pas ATAU bikin kabur masalah dengan meyodorkan masalah baru yg DIBIKIN2 seolah ADA KORELASINYA.
    KITA NANTIKAN SAJA….!!!!!
    memang itulah ciri2 otak keracunan YAHUDI yang telah banyak meracuni SYIAH, KHOWARIJ dan WAHABY. Mereka setali 3 uang.

  50. @Mas gandi:
    Neng ummu hasanah atau ibnu suradi dkk cuma ada 2 kemungkinan:
    1. Kabur ngacir utk kemudian dengan ilmu NINJANYA akan nongol di artikel lain.
    2. menjawab tapi tidak pas ATAU bikin kabur masalah dengan meyodorkan masalah baru yg DIBIKIN2 seolah ADA KORELASINYA.
    KITA NANTIKAN SAJA….!!!!!
    memang itulah ciri2 otak keracunan YAHUDI yang telah banyak meracuni SYIAH, KHOWARIJ dan WAHABY. Mereka setali 3 uang……..!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  51. @Mas gandi:
    Neng ummu hasanah atau ibnu suradi dkk cuma ada 2 kemungkinan:
    1. Kabur ngacir utk kemudian dengan ilmu NINJANYA akan nongol di artikel lain.
    2. menjawab tapi tidak pas ATAU bikin kabur masalah dengan meyodorkan masalah baru yg DIBIKIN2 seolah ADA KORELASINYA.
    KITA NANTIKAN SAJA….!!!!!
    memang itulah ciri2 otak keracunan YAHUDI yang telah banyak meracuni SYIAH, KHOWARIJ dan WAHABY. Mereka setali 3 uang…….!!!!!

  52. tampaknya ummu hasanah cs ini jika ada dalil dibalas dalil ga pernah mempan, tapi klo dibals pake kitab dari agama lain baru diam seribu bahasa… mudahan ini menjadi awal baik bagi mereka dan segera mengakui kekeliruannya selama ini….
    Trima kasih mas Agung ats penjelasannya, hal ini menambah keyakinan kami yg amat sangat awam …

  53. Mari kita susun aturannya untuk debat. Dengan satu syarat jika siapa saja yg pendalilannya kalah, maka ia harus ruju’. OK?

    1. Ummu Hasanah

      ingatlah pesan dari ulam’ agung dalam kitab bidayatul hidayah “man zdada ilam walam yazdad hudan illa bu’dan minallah” barang siapa bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya pasti… orang itu jauh dari Allah, indikator orang yg jauh dari Allah sulit untuk menerima ilmu, dan sulit untuk menerima pemahaman.

    2. Ummu hasanah kok masih BESAR KEPALA aja? Padahal dari perkataan anda sampai sejauh ini tidak menunjukkan kalau anda seorang yg mumpuni. Na’udzu billah min dzaalik.

      Coba simak komnet2 antum selama ini di beberapa postingan sebelumnya, bagaimana anda tidak berkutik melawan hujjah mas Agung atau mas Mamak, kenapa anda tidak menyadarinya? Apakah karena hati sudah sekeras batu kok masih “NYOMBONG” ? Mestinya anda sudah rujuk sejak dulu2, tapi karena KIBR sudah demikian menguasai hati maka menjadi semakin keras saja jadinya. Wallohu a’lam.

    1. @ummu hasanah

      buat koment n tantangannya “gw suka gaya lo”
      tapi buat syaratnya qo saya mencium akal2an ya, kata ruju disitu, ruju versi siapa…?
      kalo ruju versi wahabi kalopun anda kalah dalil anda akan tetep jadi wahabi, saran saya barangkali kata ruju’nya dulu yang harus di sepakati n kalo bisa face to face n di dikumentasikan biar jelas semuanya ok

  54. aduh gw bingung, artikelnya tentang penjelasan ahlusunnah, tapi lari2 nya mas agung ke perkara yng sama juga tentang sifat Allah, padahal di tempat yng lain sudah di bahas panjang lebar tentang istiwa, ya klo mas agung g terima yo wies, la iqroha fiddien mas

  55. Ruju’ kepada aqidah yang haq, yang dibawa oleh Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa salam, yang murni. Jangan yang sudah terkontaminasi oleh bid’ah, ilmu kalam dan lain-lain buatan manusia.
    Yang sesuai dengan risalah yang diajarkan Allahu subhanahu wa ta’ala kepada Rasulullahu sholallahu ‘alahi wa salam dan dipraktekkan oleh para shahabat ridwanallahu alaihim jami’an diikuti oleh tabi’in dan tabi’uttabi’in.

    1. @ummu hasanah

      nah cakep tuh kembali kepada aqidah yang haq, ” gw makin suka gaya lo”
      dari hulunya memang yang harus sesuai dengan yang diajarkan Allah dan rosulnya tapi ke hilirnya itu pake pemahaman siapa? saya persempit saja biar ga ribet pake pemahaman ibnu taimiyah dkk atau abu hasan al’asary dkk?
      klo anti pake pemahaman ibnu taimiyah dkk percuma anti ngajak debat syaratnya yang kalah ruju, karena kalaupun anti kalah maka anti ruju sesuai pemahaman anti jadi buat apa ada debat. saran saya coba anti tanya dulu sama ustadz2 disini versi ruju mereka sama ga dengan versi ruju anti klo ga sama cari jalan tengah lalu sepakatin dulu yang itu ok
      owya tentang face to face nya itu gmn..?

  56. ummu hasanah@,
    Apa gak kebalik, Agama Wahabi ngakunya Islam paling murni, tapi sudah terkontaminasi ajaran nasrani dan yahudi, bagaimana tidak tauhidnya dibagi 3 (trinitas) yg tasyabuh dgn trinitasnya nasrani, dauroh ahad pagi mirip dengan kebaktian minggu pagi atau sekolah minggunya nasrani. adakah semua itu contohnya dari Nabi SAW. kalau gak ada, itulah bid’ah dolalah.

  57. jabir
    “Laa iqroha fiddin, itu karena kalian tidak dalam posisi yg menguntungkan, coba kalau posisi kalian memungkinkan, pastilah pedang / senjata bicara buat memaksa, seperti yg terjadi di Suriah.”
    mungkin info terbaru di suriah kbtulan minggu kmrin teman sy pulang ke indonesia setelah menjadi relawan tenaga medis di suriah, dia menceritakan kebrutalan tentara syuriah yg membunuh warganya bahkan ga peduli mereka tentara suriah mengorok leher anak kecil yg g thu apa. padahal rosulullah sendiri melarang membunuh anak kecil, orang tua jompo, para wanita, lalu siapakah yang kejam mas, padahal sy tidak menemukan di kitab nya syekh muhammad bin abdul wahab yg mengajarkan kebrutalan tersebut mas.

    1. abu dzar,
      Biasanya…. seperti yg saya lihat di You Tobe, kekejaman Wahabi dilemparkan ke Pemerintah, itulah Taqiyah Wahabi dan Syi’ah sama2 tukang taqiyah. Banyak Video emmbuktikan bagaimana kejamnya Wahabi di Suriah.

      Tentang penggunaan senjata kimia, yang tadinya dilemparkan ke pemerintah Suriah akhirnya terbukti Wahabi lah pelakunya. Begitu juga tentang penggorokan-penggorokan kaum musl;imin hampir semuanya Wahabi lah pelakunya. Banyak sekali pekaunya terungkap dalam tayangan video berdsar laporan masyarakat setempat.

      Wahabi itu sesungguhnya lebih kejam daripada Syi’ah, tentunya jika Wahabi punya peluang untuk berbuat kejahatan, yg di mata mereka sebgai pelaksanaan hukum Allah.

      INI BUKTI TEANTARA SURIAH MENCINTAI DAN DICINTAI RAKYANYA, Video dirilis 19 Mei 2013:

    2. @abu dzar
      Dari kalangan ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, sebagai berikut:

      عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ سُلَيْمَانَ التَّمِيْمِيُّ النَّجْدِيُّ وَهُوَ وَالِدُ صَاحِبِ الدَّعْوَةِ الَّتِيْ انْتَشَرَشَرَرُهَا فِي اْلأَفَاقِ لَكِنْ بَيْنَهُمَا تَبَايُنٌ مَعَ أَنَّ مُحَمَّدًا لَمْ يَتَظَاهَرْ بِالدَّعْوَةِ إِلاَّ بَعْدَمَوْتِ وَالِدِهِ وَأَخْبَرَنِيْ بَعْضُ مَنْ لَقِيْتُهُ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ عَمَّنْ عَاصَرَ الشَّيْخَ عَبْدَالْوَهَّابِ هَذَا أَنَّهُ كَانَ غَاضِبًا عَلىَ وَلَدِهِ مُحَمَّدٍ لِكَوْنِهِ لَمْ يَرْضَ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالْفِقْهِكَأَسْلاَفِهِ وَأَهْلِ جِهَتِهِ وَيَتَفَرَّسُ فِيْه أَنَّهُ يَحْدُثُ مِنْهُ أَمْرٌ .فَكَانَ يَقُوْلُ لِلنَّاسِ: يَا مَا تَرَوْنَ مِنْ مُحَمَّدٍ مِنَ الشَّرِّ فَقَدَّرَ اللهُ أَنْ صَارَ مَاصَارَ وَكَذَلِكَ ابْنُهُ سُلَيْمَانُ أَخُوْ مُحَمَّدٍ كَانَ مُنَافِيًا لَهُ فِيْ دَعْوَتِهِ وَرَدَّ عَلَيْهِ رَدًّا جَيِّداًبِاْلآَياَتِ وَاْلآَثاَرِ وَسَمَّى الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ رَدَّهُ عَلَيْهِ ( فَصْلُ الْخِطَابِ فِي الرَّدِّ عَلىَمُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ ) وَسَلَّمَهُ اللهُ مِنْ شَرِّهِ وَمَكْرِهِ مَعَ تِلْكَ الصَّوْلَةِ الْهَائِلَةِ الَّتِيْأَرْعَبَتِ اْلأَبَاعِدَ فَإِنَّهُ كَانَ إِذَا بَايَنَهُ أَحَدٌ وَرَدَّ عَلَيْهِ وَلَمْ يَقْدِرْ عَلَى قَتْلِهِ مُجَاهَرَةًيُرْسِلُ إِلَيْهِ مَنْ يَغْتَالُهُ فِيْ فِرَاشِهِ أَوْ فِي السُّوْقِ لَيْلاً لِقَوْلِهِ بِتَكْفِيْرِ مَنْ خَالَفَهُوَاسْتِحْلاَلِ قَتْلِهِ. اهـ (ابن حميد النجدي، السحب الوابلة على ضرائح الحنابلة، ٢٧٥).

      “Abdul Wahhab bin Sulaiman al-Tamimi al-Najdi, adalah ayah pembawa dakwah Wahhabiyah, yang percikan apinya telah tersebar di berbagai penjuru. Akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Padahal Muhammad (pendiri Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang ayah. Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.” Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi. Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya. Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya.” (Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275).(sumber ;www.sarkub.com)

  58. nasir eks wahabi
    tapi sudah terkontaminasi ajaran nasrani dan yahudi, bagaimana tidak tauhidnya dibagi 3 (trinitas) yg tasyabuh dgn trinitasnya nasrani, dauroh ahad pagi mirip dengan kebaktian minggu pagi atau sekolah minggunya nasrani. adakah semua itu contohnya dari Nabi SAW. kalau gak ada, itulah bid’ah dolalah.
    al jawab
    pernyataan ente konyol bro, dri segimana persamaannya mas? antara tauhid terbagi menjadi 3 dengan trinitasnya orang nashrani dan yahudi?mongo mas.
    dauroh hari ahad sama dengan kebaktian minggu pagi, ini juga konyol banget mas. eks wahabi, berarti mantan ya ente belajr lagi ya, biar faham tentang pembagian tauhid, klo masalh dauroh tidak pernah sy mendengar dari para ust yg mengkhususkan hari minggu, mslhnya para pekerja libur hari minggu, dan terkadang mengadakn kajian juga bukan hari minggu, terkadang hari libur,heee, eks wahabi mau ikut ga?
    klo maslah terkontaminasi kenapa anda ga mengkritik kepada org2 yg diagungkan sebagai ulama yg masuk kedalam partai politik? bknkah partai adobsi dri nasrani, bukan kan hukum demokrasi adobsi dari nasrani yg dicetuskan oleh Marthin luther???? knapa anda tidak mengkritik mereka,??? atau pmahaman anda sama seperti mereka????///

  59. dari awal gw koment di blog ini, yg di permaslahkan oleh blog ini salh satunya adalah masalah tuduhan musyabih, mujasimah, mungkin kita persamakan persepsi dlu apa yg dimaksud yg demikian?

    1. Kalian yg memulai wahai para wahabiyun, menuduh aswaja yg tahlilan mendoakan keluargannya yg meninggal pada hari kesatu sampai ketujuh tasyabuh dgn hindu, padahal diagama hindu tdk ada yg demikian.
      Menuduh orang sering tawasul dan ziarah kubur dengan menyembah kuburan (kuburiyyun), kalianlah para pe pengikut agama wahabi laknatuLLAH gegabah menuduh kafir, musrik, bid’ah kepada orang2 yg tidak sepemahaman dengan kalian, kata2 bid,ah, musrik, kafir, murtad dll kata umpatan adalah zikir kalian se-hari2.

      1. kwk kwk kwk…. mas Nasir, mereka anti dzikir yg sesuai sari’at dang menggantinya dg dzikir “bid’ah, syirik dan kafir dan kuburiyun…”, yg mana dzikir semacam ini sama sekali bukan ajaran islam dan menyalahi syariat karena tidak ada perintah, justru larangannya yg banyak terdapat di hadits2 Nbai saw.

        Orang2 semacam kaum Wahabi yyg suka mempermasalahkan amalan kaum muslimin di-cap Nabi sebagai penjahat terbesar. Mereka mengharamkan yg tidak haram, ini jelas melanggar dan menginjak-injak syari’at itu sendiri.

        Mereka tidak sadar akan perbuatannya yg benar2 menyimpang akibat akalnya yg lemah, sebagaimana sabda Nabi saw: “Diriwayatkan dari Ali ra katanya: Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Pada akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akalnya. Mereka berkata-kata seolah-olah mereka adalah manusia yang terbaik. Mereka membaca al-Quran tetapi tidak melepasi kerongkong mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembus binatang buruan. Apabila kamu bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka karena sesungguhnya, membunuh mereka ada pahalanya di sisi Allah pada Hari Kiamat. [HR. Bukhari dan Muslim].

  60. sedikit kutipan dari dawuh imam Al Ghozali dalam kitab Iljamul ‘Awam ‘Ala ‘Ilmil Kalam

    Ketahuilah: Sungguh! Yang benar, jelas dan tidak ada perdebatan sama sekali menurut Ahli Bashoir yakni Madzhab Salaf. Yang aku maksud adalah madzhab sahabat dan Tabi’in . Ingat! Aku akan menyampaikan penjelasan sekaligus dalilnya. (oleh karena itu) Aku tuturkan: Hakikat madzhab salaf -Inilah yang benar, menurutku- bahwa, sesungguhnya setiap orang yang menerima hadist-hadist (dan ayat-ayat Mutasyabbihat) ini, (sedangkan dia) dari golongan masyarakat awam, maka wajib (berpegang) pada tujuh metode ini: Taqdis (Men-sucikan) , kemudian Tashdiq (Membenarkan) , kemudian I’tiroof bil ‘Ajzi (mengakui lemah) , kemudian As Sukuut (Diam) , kemudian Al Imsaak (menahan diri) , kemudian Al Kaff (mencegah) dan kemudian at Taslimu li ahlil Ma’rifat (menyerahkan pada ahlinya).

    oleh sebab itu saya tidak ingin mengupas masalah tauhid sebab saya menyadari keadaan diri yang masih terlalu awam..
    sedikit pembuka pertanyaan untuk UMU HASANAH
    1. dasar pengambilan hukum dalam islam ada berapa?

  61. mas abu dzar :la iqroha fiddien

    saya: sedikit koreksi buat mas abu dzar yang benar trsanlatenya adalah laa ikrooha fi al diin, dengan menggunakan KAF (K) bukan QOF (Q) dari akroha yukrihu ikroohan. Sedangkan lam nya adalah LAA li nafyil jinsi dengan bukti lafadl ikrooha dibaca nashob, hal tersebut berbeda arti kalau laa tadi cuma laa nafi saja, contoh: laa rojula fi al dari (tidak ada orang laki2 sama sekali di dalam rumah ini) dan laa rojulun fi al dari (tidak ada satu orang laki2 di dalam rumah ini) coba perhatikan perbedaan harokat saja ternyata memberi efek arti yang tidak sama.
    Adapun al pada AL DIIN ialah Al li al ‘ahdi dzihni.. sehingga insyaAlloh memberi arti TIDAK ADA PAKSAAN SAMA SEKALI DALAM AGAMA INI (ISLAM). mohon maaf bila salah

  62. Aneh, Abi Raka takut diajak ruju’ kepada yang Al Haq. Cukuplah ayat ini menjelaskan sikap abi raka :
    QS An Nisa 115
    Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

    1. ummu hasanah@
      ruju’ adalah sepasang suami istri yg sudah cerai lalu menikah lagi, itulah ruju’, kwk kwk…..

      apakah kang Abi rakla pernah menikah dg ummu hasanah? Hayooooo … jawaaabb….

      Dalam kaitannya dg diskusi di sini, saya kira yg paling tepat itu menggunakan istilah “TOBAT”, seandainya Ummu Hasanah merasa telah berbuat dosa (menyalahi sari’atitu dosa), maka cepat lah TOBAT.

    2. @ummu hasanah

      wow amazing jadi cinta saya ama ummu hasanah, ini yang saya tunggu kesimpulan yang ngawur dan sombongnya itu loh wuiiih mantap…!
      saya nanya apa anti jawab apa..! ga nyambungnya itu loh wuiih bagus sekali…! yo wislah yang waras ngalah

  63. Wahaby TUKANG PALSU kitab dengan dalih takhrij …..ujung2nya ikut moyangnya juga yaitu YAHUDI. gak ada bedanya wahaby, yahudi dan syiah tukang PALSU….!!! Judulnya itu PEMALSU BERKEDOK….!!!!!!
    DEBAT KOK AMA TUKANG PALSU…YANG GAK AMANAH…..RUGI BESAR……!!!!!!

  64. Bismillah,

    Pak abu dzar, saudariku ummu hasanah@, saya siap belajar kepada anda berdua, dan saya pribadi siap rujuk (menerima syarat anda), asal anda dapat membuktikan kebenaran aqidah dan ajaran anda tanpa kontradiksi….

  65. Alhamdullilah mas Mamak bersedia diskusi dengan Pak Abu Dzar dan Ummu Hasanah, semoga diskusi ini bisa berlanjut dan kami bisa ikut menimba ilmunya…monggo dilanjut…

    1. Mas Mamak@

      Syarat “tanpa kontardiksi”, itulah yg tidak mungkin bisa dipenuhi oleh anak2 Wahabi dan seluruh kaum Wahabi. Ajarannya sudah terlanjur KONTRADIKTIF dari sono-nya, karena apa, sebab ajaran mereka dibangun di atas kedustaan-kedustaan.

      Di web Ummati ini sudah begitu banyak mempertontonkan tentang kedustaan-kedustan ajaran Wahabi.

      1. oooooo …..udah tua ya bang ? kirain masih imut….. soalnya ngebaca dari koment n gaya nya ummu hasanah kaya masih gadis .. he he.. …. maaf mpok ummu hasanah

  66. to jabir
    info yg sy dptkan dan sy ceritakan kpda ente bkn dari you tube mas, tpi dari kwan lgsung yg menjadi relawan tenaga medis disana yg baru pulang minggu yg lalu, beliau menceritakan kebrutalan tentara2 suriah.
    to Alfredy
    Jazakallah khoiron katsiron ats koreksiannya mas, tapi InsyaAllah yg ane maksud bkn apa yg ente artikan atw maksudkan, coz bginilah bahasa arab sulit untuk di latinkan kedalm bahsa indonesia, dan mohon ente jg bisa kasih masukan kepada penulis2 buku yg menyingkat dengan SWT atau SAW, atau dengan kta Allah cba ente baca kalimat tersebut apakah ada bahsa arab yg begitu??? atau penulis bku menulis surat Arrahman apakh ada huruf ra dlm bahsa arab???? dan hal ini juga apa yg diingini umuhasanah tentang penulisan ruju’ bkn apa yg mas2 ingini, oleh sebab itu ada orang yg ikut yasinan dia ga bisa ngaji akhirnya dia baca latinnya, kemungkinan besar huruf yg keluar pun bisa jadi salah, ya paling tidak diajari dlu lah.okay

  67. to zaka
    gak ada bedanya wahaby, yahudi dan syiah tukang PALSU….!!!
    jawab
    alhamdulillah, kita masih punya kesamaan yaitu sama-sama membenci syiah.

    1. MUI tidak pernah mempatwaksn syiah kapir, karena syiah berpegang pada tukun iman dan rukun islam. Agar antum semus tahu apapun di belahsn arab ini khusus penyebab kerusuhan
      ataupun perang saudara di Irak,Libya terakhir di Suriah adalah Yahudi dan anteknya. Yahudi menggandeng negara wahabi saudi arabia, dengan memunculkan perbedaan aliran dan pandangan dalm agama. namun sesungguh nya yang terjadi adalah negara arab monarcy, takut kehilangan kekuasaan karena penyebaran. sistem demokrasi yang telah menyebar di negara arab lainnya. Untuk mempertahankan sistem monarcy ini ,(kerajaan) lalu mereka mempertahankan diri dg melakukan penyebaran terhadap paham waahabi, dan dan dengan dalih syrik dan bid,ah,mereka lalu mengkafirkan penganut paham lainnya. Lantas karena negara yang ditakuti oleh negara arab monarcy adalah juga musuh Israel, maka Arab bersatu menggebuk warga muslim lainnya.

  68. mamak
    Pak abu dzar, saudariku ummu hasanah@, saya siap belajar kepada anda berdua, dan saya pribadi siap rujuk (menerima syarat anda), asal anda dapat membuktikan kebenaran aqidah dan ajaran anda tanpa kontradiksi….
    jawab
    mas klo anda belajar kpda sy anda keliru mas, wong sy ini bkn orang alim, sy ini cma buruh yg berangkat pagi pulang malam,klo belajr kpda ust yg keilmuannya sudah terbukti, nti deh klo ada kajian di jakarta sy undang ente, blh thu no telpn nya???

  69. nasir eks wahabi
    Kalian yg memulai wahai para wahabiyun, menuduh aswaja yg tahlilan mendoakan keluargannya yg meninggal pada hari kesatu sampai ketujuh tasyabuh dgn hindu, padahal diagama hindu tdk ada yg demikian.
    Menuduh orang sering tawasul dan ziarah kubur dengan menyembah kuburan (kuburiyyun), kalianlah para pe pengikut agama wahabi laknatuLLAH gegabah menuduh kafir, musrik, bid’ah kepada orang2 yg tidak sepemahaman dengan kalian, kata2 bid,ah, musrik, kafir, murtad dll kata umpatan adalah zikir kalian se-hari2.
    jawab
    alhamdulilah, ternyata dari jawaban ente membuktikan klo komen ente hanya sebatas tuduhan karena ingin membalas, heee. mas nenek saya pernah beragama hindu dan ibu sy pernah bercerita tentang ritual 1 hari, 3harian, 7 harian bahkan ada yg 1000 hari dan ini pun sudah tradisi adat istiadat masyarakat terutama di jawa + penjelasan guru antropologi sy ketika sy masih SMA, bahwa hal itu tradisi orang dlu yg mayoritas beragama hindu dan budha, bkn penjelasan ust lho tpi guru antropologi.
    adapun kami silahkan anda mau mendoakan keluarga pada malam hari hari keempat atw yg lainnya silahkan, tetapi klo anda menetapkan hari tersebut memiliki keutamaan atau anda menetukan bilangan harinya karena menyakini memiliki keutamaan maka hal tersebut perlu adanya dalil yg shohih dan penjelasan para ulama, gitu loh, atau pernakah rosulullah melakukan hal tersebut atau para sahabat melakukan hal tersebut???
    adapun tentang ziarah kubur sehingaga kalian menuduh syekh Muhammad bin abdulwahab memusyrikan orang2 yg ziarah kubur atau mengkafirkan orang yg berziarah kubur sebatas kalimat tersebut maka sy katakana anda keliru mas, oleh sebab itu samakan dlu persepsi anda dengan sy tentang apa yang dimaksud dengan syirk atau apakah boleh seseorang mengkafirkan perorangan????gthu mas jadi cek n ricek dlu apakah benar seperti itu atau tidak.jgn katanya katanya.

  70. mas abu dzar, kalau anda benar2 mau mencari ilmu seharusnya ketika ada orang yang mengingatkan sampean tidak perlu mencari-cari kesalahan orang lain.. bagi kami itu merupakan bentuk kesombongan.. cukup sampean katakan matur suwun titik.. dan mengenai translate Alloh ditulis “Allah” atau Arrohman ditulis “Arrahman” itu memang banyak yang menggunakan tapi kalau translate kaf “k” ditulis qof “q” baru 2 kali saya temukan yang pertama ketika teman anda menulis ihya ulumiddin dengan “iqya” dan yang kedua adalah anda.
    Metode translate adalah penggunaan suatu bentuk huruf yang paling mendekati terhadap huruf arab..adapun KAF dengan QOF sangat jaaaaaauuuuh mas.. sehingga bagi kami kemampuan bahasa orab seseorang dapat kami lihat dari cara orang tersebut mentrasnlatenya… dan kalau kemampuan kita dalam bahasa arab cuma segitu lantas kenapa anda dan golongan anda berani mngartikan NASH tanpa mau melihat pendapat ahlinya..???
    sehingga kami ingatkan kepada anda kalau anda tidak becus nahwu sorof pelajarilah ilmu itu..
    ISLAM BUKAN ILMU ISNTAN, ISLAM BUKAN TERJEMAHAN,
    DALAM ALQUR-AN DAN AL HADIST terkandung banyak ilmu.. nahwu, shorof,manthiq,balagoh,bayan ma’ani,fiqih,filsafat (dengan batasan yang sangat ketat dan telah dirumuskan ulama aswaja),matematika,akhlaq,tashowuf dll…
    dan kenapa kalian menyinggung yasinan segala.. sayapun kalau ada orang membaca salah insyaAlloh akan saya ingatkan mereka dengan ta’dzim dan ramah tidak sperti kalian yang mencak2..

  71. alfredy masukan sy tol ente beristigfar ente sdh ndh sy sombong, bakan kah diawal komen sy, sy mendoakan ente??? lalu sp kah yg sombong????bkan kah diakhir kt komen ente brkata seperti ini”mohon maaf bila salah” sy hanya sebatas mengingatkan klo mau kritk jgn sy aja tol kpada yg lain yg menulisnya salah dalam melatinkan tulisan arab, atau anda menulis artikel tentang bab ini.
    adapun nahwu dan shorof sepertinya anda lebih faham, dan dari prilaku ente sepertinya ente mendukung tentang penghianaan syekhul islam ibnu taimiyah, syekh muhammad bin abdul wahab dll, dan sepertinya ente lebih berilmu dari pada mereka.heee. adapun penggunaan qof menjadi kaf didalam bahasa indonesia, waktu sy SD buku agamanya klo menyebutkan hati dengan kata kalbu bknkh itu berbeda makna, tol diingetin DEPAG nya, heee.

  72. Adeeh …payah. udah keliatan sesatnya. sebab udah gak mau ruju’. mungkin kalian berpikir mendingan dibilang enggak berani debat daripada entar ruju’ kpd aqidah yg al haq. ooouuuhh indahnya talbis syayatiin

    1. Bismillah,

      Saudariku ummu hasanah@, sudah baca respon kami apa belum? Coba anda baca….
      Membaca comment anda, kami semakin ragu bahwa anda beraqidah yang haq, tak satupun kami tahu ada salaf berakhlaq seperti anda… maaf kami jadi nggak tertarik diskusi dengan anda, kecuali anda menggunakan akhlaq yang baik…

    2. @ummu hasanah, bukankah mas Mamak sudah sangat santun ingin “ngaji” dengan anda dan abu dzar, alangkah indahnya jika anda memulai diskusinya dgn mas Mamak juga dgn santun, saya yakin mas Mamak tdk keberatan jika anda memilih topik ttg apa saja.
      Di comment anda sebelumnya juga anda menuduh kami bahwa kami sukanya klo menjawab hadist dibalas pake syair nasrani kemudian mas Agung memberikan byk statement2 secara konkret bahwa gol. anda lah yg ternyata menyerupai kaum nasrani… setelah sekian hari tdk ada satu bantahan pun dari anda atas komennya mas Agung, bukankah berarti hal ini anda telah RUJU’ bahwa andalah yg mirip dengan kaum nasrani. Kami hanya bisa mengingatkan jika anda pernah nulis sesuatu mbok ya diinget, jgn nulis A besok sudah lupa trus nulis B lusa udah lupa lagi dst, kan kasian temen2 mu yg lain jika kami sama ratakan bahwa golongan anda adalah golongan orang2 yg plin plan… afwan…

    3. @ummu hasanah

      ooouuh akhirnya keluar juga si eneng, masih dalam format yang sama yaitu caci maki, sombong dan ga nyambung hihihi
      tapi makin mantap caci makinya bawa 2 setan segala ngeri banget, biasanya yang bawa2 setan tuh temennya setan xixixi
      neng ummu hasanah tercantik anti pengen menang, yaudah anggap aja anti udah menang dan saya ucapkan selamaaaaat…..!

      @all aswaja

      ngadepin mahluk yang bernama ummu hasanah itu jangan terlalu serius yang ada kita kesel, gondok dll. dan ketika kita kesel, gondok, sebel, pengen bales maka sebenarnya tercapailah tujuan si eneng ummu hasanah tercantik. menyadarkan orang stress itu emang susah kudu sabar, santai dan telaten bravo aswaja

  73. Ma’af ikutan nimbrung ya.. Saya punya temen dari kalangan “salaf” dan NU, jadinya saya tidak berpihak pada masing2, maklum ilmu baru secuil.. Buat para salaf yang “kekeuh”, tolong jawab pertanyaan saya, mengapa ulama2 salafi mengganti bangunan2 sejarah Islam di sekitar ka’bah..?? berdalih menghindari kemusyrikan..?? Kenapa ngg sekalian saja ka’bah digusur diganti menara WTC yg lebih tinggi..?? Toh itu juga material duniawi tidak lebih dari ka’bah yang cuman onggokan batu bata..?? Kenapa di dalam perbedaan pendapat selalu menganggap bid’ah padahal 4 imam kita berbeda pendapat fine2 saja? Saya lihat rabi2 yahudi berpakaian sangat mirip dengan syekh bin baz dan murid2nya, siapa yg tasyabuh..??

  74. mas abu dzar : dan mohon ente jg bisa kasih
    masukan kepada penulis2 buku yg menyingkat
    dengan SWT atau SAW, atau dengan kta Allah

    saya: apakah anda konsisten dengan slogan “kembali kepada al Qur-an dan al Hadist” ? pertanyaannya sebutkan dalil nash yang melarang penulisan SWT, SAW !!
    ataukah anda mengakui bahw sumber hukum islam tidaklah AL QUR-AN dan AL HADIST saja? ?? hehe semakin keliatan kontradiktifnya….

    abu dzar: bkan kah diakhir kt komen ente
    brkata seperti ini”mohon maaf bila salah” sy
    hanya sebatas mengingatkan klo mau kritk jgn
    sy aja tol kpada yg lain yg menulisnya salah
    dalam melatinkan tulisan arab, atau anda

    SAYA: maksudnya saya mohon maaf kepada para ahli ilmu kalau saja penjelasan saya mengenai nahwu ada yang salah.. hehe pede sekali…
    dan apakah kalau saya mengkritik mereka harus memberitahu kepada anda…?? silhkan pertanyaan saya di atas mengenai penulisan SWT / SAW di jawab.. insyaAlloh nanti ketemu maksud mereka menulis seperti itu..

    abu dzar: adapun nahwu dan shorof sepertinya andalebih faham, dan dari prilaku ente sepertinya
    ente mendukung tentang penghianaan syekhul
    islam ibnu taimiyah, syekh muhammad bin
    abdul wahab dll, dan sepertinya ente lebih
    berilmu dari pada mereka.heee.

    saya: kalau anda merasa belum tau nahwu shorof mbok yao belajar…
    apakah ada ucapan saya yang mengatakan menghina mereka?? sekarang yang menuduh siapa hayo.. hehe
    dan umpama saya lebih ngalim dari mereka apakah anda tidak suka? ??
    mas mas mencetak orang ngalim tu mudah asalkan iqiunya jos kemauan dapat dan mempengnya oke.. tapi kalo mencetak orang yang NGERTI dalam artian bisa memposisikan dirinya kalau dia tidak mampu, kalau di atas langit masih ada langit yg laen, kalau di atas ilmu msih ada ilmu yang laen dst..dst.. la itu yang sulit, kayak yang paling cantik di blog ini ni.. hehe

    abu dzar: adapun penggunaan qof menjadi kaf didalam bahasa indonesia, waktu sy SD buku agamanya klo menyebutkan hati dengan kata kalbu bknkh
    itu berbeda makna, tol diingetin DEPAG nya,
    heee.
    saya: apakah saya juga perlu menjelaskan kepada anda bahwa dalam tata bahasa arab ada 3 macam bahasa 1. ARAB (murni dari tanah arab) 2. ‘AJAM (bahasa non arab) 3. MU’AROB (bahasa non arab tapi diarabkan) dan semua bahasa tadi sering di gunakan oleh orang arab contoh kerupuk (arb:karufuk) ibrohim dll.. sedangkan KALBU itu adlah bahsa indonesi yang diadopsi dari bahsa arab atau arab yang diIndonesiakan contoh lain “pak saya mau ijin ke belakang” hehe… lemes lemes

    Kunyah saya alfeyd mas.. bukan alfredy afwan

  75. abu dzar : dan mohon ente jg bisa kasih
    masukan kepada penulis2 buku yg menyingkat
    dengan SWT atau SAW, atau dengan kta Allah

    saya: apakah anda konsisten dengan slogan “kembali kepada al Qur-an dan al Hadist” ? pertanyaannya sebutkan dalil nash yang melarang penulisan SWT, SAW !!
    ataukah anda mengakui bahw sumber hukum islam tidaklah AL QUR-AN dan AL HADIST saja? ?? hehe semakin keliatan kontradiktifnya….

    abu dzar: bkan kah diakhir kt komen ente
    brkata seperti ini”mohon maaf bila salah” sy
    hanya sebatas mengingatkan klo mau kritk jgn
    sy aja tol kpada yg lain yg menulisnya salah
    dalam melatinkan tulisan arab, atau anda

    SAYA: maksudnya saya mohon maaf kepada para ahli ilmu kalau saja penjelasan saya mengenai nahwu ada yang salah.. hehe pede sekali…
    dan apakah kalau saya mengkritik mereka harus memberitahu kepada anda…?? silhkan pertanyaan saya di atas mengenai penulisan SWT / SAW di jawab.. insyaAlloh nanti ketemu maksud mereka menulis seperti itu..

    abu dzar: adapun nahwu dan shorof sepertinya andalebih faham, dan dari prilaku ente sepertinya
    ente mendukung tentang penghianaan syekhul
    islam ibnu taimiyah, syekh muhammad bin
    abdul wahab dll, dan sepertinya ente lebih
    berilmu dari pada mereka.heee.

    saya: kalau anda merasa belum tau nahwu shorof mbok yao belajar…
    apakah ada ucapan saya yang mengatakan menghina mereka?? sekarang yang menuduh siapa hayo.. hehe
    dan umpama saya lebih ngalim dari mereka apakah anda tidak suka? ??
    mas mas mencetak orang ngalim tu mudah asalkan iqiunya jos kemauan dapat dan mempengnya oke.. tapi kalo mencetak orang yang NGERTI dalam artian bisa memposisikan dirinya kalau dia tidak mampu, kalau di atas langit masih ada langit yg laen, kalau di atas ilmu msih ada ilmu yang laen dst..dst.. la itu yang sulit, kayak yang paling cantik di blog ini ni.. hehe

    abu dzar: adapun penggunaan qof menjadi kaf didalam bahasa indonesia, waktu sy SD buku agamanya klo menyebutkan hati dengan kata kalbu bknkh
    itu berbeda makna, tol diingetin DEPAG nya,
    heee.
    saya: apakah saya juga perlu menjelaskan kepada anda bahwa dalam tata bahasa arab ada 3 macam bahasa 1. ARAB (murni dari tanah arab) 2. ‘AJAM (bahasa non arab) 3. MU’AROB (bahasa non arab tapi diarabkan) dan semua bahasa tadi sering di gunakan oleh orang arab contoh kerupuk (arb:karufuk) ibrohim dll.. sedangkan KALBU itu adlah bahsa indonesi yang diadopsi dari bahsa arab atau arab yang diIndonesiakan contoh lain “pak saya mau ijin ke belakang” hehe… lemes lemes

    Kunyah saya alfeyd mas.. bukan alfredy afwan

  76. Kesimpulan buat pak abu dzar
    1. Islam itu agama yang rohmatan li al ‘alamin, kalau anda ikut2tan golongan anda yang sering membid’ahkan, mengkufurkan, menuduh sesat dll coba anda gambarkan kepada saya bentuk rohmatnya islam itu dimana?
    2. Perbedaan adalah rohmat
    3. Al Qur-an AlHhadist adalah sumber segala ilmu
    4. Pelajarilah islam mulai dasar, jangan anggap enteng agama islam hanya dengan membaca terjemahan dan tidak mau meneliti
    5. Hormati para Ulama’ sholih dengan mempelajari karangannya secara lkhlas jangan sepotong-potong..
    6. Islam itu adalah ilmu maka carilah seorang guru yang mempunyai sanad sampai Rosululloh
    7. Di pondok kecil tempat saya menimba ilmu kami selalu diberi pesan untuk bisa memposisikn diri dengan benar dengan akhlaqul karimah dan diltih untuk mengabaikan hawa nafsu. Berujar “tidak mengikuti hawa nafsu” itu mudah mas.. tapi kalau kita mempraktekannya sungguh sangat suliiiiiiiiiiiiiiiiiittt sekali dan saya pun juga masih dalam tahap belajar mengekang hawa nafsu..
    Kiyai saya mengatakan “jadilah orang yang seperti paku” ini merupakan bentuk filosofi yang penuh dengan ma’na ketawadlu-an.. paku tidak akan protes ketika dipukul, paku tidak akan protes ketika tidak tampak yang penting baginya adalah sebagai pengait antar satu dengan yang lain bahkan ketika paku terlihat justru dia akan membuat bangunan tampak jelek.. coba kita perhatikan adakah inti sari pelajaran paku kita jumpai diselain diinul Islam ya’lu wala yu’la alaih..???? Walaupun guru2 kami kiyai2 kami begitu bijaknya dalam memecahkan masalah yang sesuai dengan ajaran islam… kenapa golongan anda tidak mau menerima??
    Semoga dikalbu kita masih terdapat nurani..
    Wallohu ‘alam

  77. Bismillaah,

    @Alfeyd :
    apakah anda konsisten dengan slogan “kembali kepada al Qur-an dan al Hadist” ? pertanyaannya sebutkan dalil nash yang melarang penulisan SWT, SAW !!

    ” Lhooo kok anda yang minta dalil ke abu dzar ??? Kalo kang alfeyd mau arti dari SWT dan SAW mengandung unsur ibadah dan amaliyah ya situ yang kasih dalil donk….. ibadah asalnya haram sampai masuknya dalil yang menghalalkan ibadah tersebut, kecuali kl mau arti SWT dan SAW tidak menjadi nilai ibadah seperti dll, dsb, etc ya ga masalah “

    1. Abu Dzikri As Sundawi @

      SWT itu singktan…, dan dalam membaca SWT tsb selalu dibaca Subhanahu Wa ta’ala.
      SAW juga dibaca Sallallahu alaihi wassalam, jadi kalau Wahabi-wahabi suka mempermasalhkan hal ini, memang kalian ini suka mempermasalahkan hal-hal yg sebanarnya tidak perlu dipermasalahlan. Itu hanya perbuatan orang2 yg ingin sok kelihatan pinter aja, tetapi ….

  78. mas abu dzikri, istidlal itu menurut sampen pengertiannya bagaimana to? kalau anda konsisten dengan golongan anda mestinya gak usah balik nanya.. silahkan langsung dijawab beres to..
    kalau kita mau jujur memahami perkataan pak abu dzar ” dan mohon ente jg bisa kasih
    masukan kepada penulis2 buku yg menyingkat dengan SWT atau SAW, ” maka akan terbesit sebuah dugaan bahwa yang dilakukan seorang penulis tersebut menyalahi aturan.. sedangkan menurut saya permasalahan itu dalam lingkup ijtihadiyah..
    makanya saya minta dalil nash yang menjelaskan ketidak bolehan menulis SWT, SAW, dengan huruf shod dll.. juga “mungkin” pak abu dzar secara tidak langsung menghakimi penulis tadi tidak ta’dzim kepada ALLOH dan NABI MUHAMMAD.. apakah kenyataannya seperti itu? hanya Alloh yang tau
    sehingga wajar ketika ada orang beranggapan seprti itu kami merasa di lecehkan seolah2 yang tau hukumnya hanya golongan anda (maaf itu hanya asumsi saya)

    atau mungkin sampaian juga sebenarnya mengakui bahwa dasar hukum islam yang disepakati itu ada Al Qur-an, Al Hadist, Ijma’, Qiyas.. dan yang masih menjadi perbedaan diantara para ulama’ adalah Al-Istihsan, Al-Maslahah Mursalah, Al Ihtishhab, Al-Urf, Madzhab Shahabi, dan Syaru Man Qablana .
    adapun mengenai ibadah anda ingin membahsnya sampai berapa kali??? anda berkunjung ke blog umati ini sudah berapa kali?
    afwan

  79. mas abu dzikri coba panjenengan hayati copasan artikel ini “Adapun secara istilah syari’at, para ulama
    memberikan beberapa definisi yang
    beraneka ragam. Di antara definisi terbaik
    dan terlengkap adalah yang disampaikan
    oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.”
    sumber catatansahabatsantri.blogspot.com/2012/10/pengeertian
    apakah artikel tadi bukan sebuah kesombongan? ? atau kah mereka tidak pernah belajar cara menghormati ulama lain…??
    cukup bagi kami bila mau menyikapi perbedaan para ulama bersandar pada dawuh “AL IJTIHAD LAA YUNQODLU BI AL IJTIHAD” karena bagi kami DEVINISI, TA’RIF, PENGERTIAN adalah bersifat ijtihadiy..
    wallohu ‘alam

  80. abu dzikri coba panjenengan hayati copasan artikel ini “Adapun secara istilah syari’at, para ulama
    memberikan beberapa definisi yang
    beraneka ragam. Di antara definisi terbaik
    dan terlengkap adalah yang disampaikan
    oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.”
    sumber catatansahabatsantri.blogspot.com/2012/10/pengeertian
    apakah artikel tadi bukan sebuah kesombongan? ? atau kah mereka tidak pernah belajar cara menghormati ulama lain…??
    cukup bagi kami bila mau menyikapi perbedaan para ulama bersandar pada dawuh “AL IJTIHAD LAA YUNQODLU BI AL IJTIHAD” karena bagi kami DEVINISI, TA’RIF, PENGERTIAN adalah bersifat ijtihadiy..
    wallohu ‘alam

  81. saya mau minta tolong kepada mas admin
    kenapa membuka islam institute. com lewat HP sulit sekali dan kalau sudah masuk trus pengen koment selalu gagal? ? atas pencerahanya matur suwun

    1. alfeyd@

      Baik Mas alfeyd, ini mungkin disebabkan template yang kurang responsif dg HP. Kami sedang merancang template yang lebih cocok, dan ringan, mungkin nantinya sejenis template UmmatiPress.

      Oh ya Mas alfeyd dan teman-teman yang lain, apakah template (tampilan) semacam yg digunakan UmmatiPress ini cukup mudah diakses dg HP? syukron infonya.

      Prosesnya mungkin agak lama sebab dikerjakan di tengah kesibukan kerja cari nafkah, he he he….

      http://www.islam-institute.com

  82. Alhamdulillah, pagi ini Khazanah Trans 7 bagus benar yaitu tentang Fitnah Khawarij dan siapakah Aswaja.
    Mudah2an di youtube gak lama lagi ada unggahannya, kalo ada mau di unduh untuk koleksi.

  83. alhamdulillah.. geh mas admin kalau template model ummati alhamdulillah mudah dan ringan di akses lewat HP, soale saya hanya punya HP saja hehehe syukron katsiro

  84. Maaf mas admin islaminstitute, mas alfeyd, ini sekedar info ternyata IslamInstitute.com bisa dg mudah saya akses pakai HP, lancar car car…. nggak masalah.

    Mungkin mas alfeyd gagal koment kemungkinan akibat tersambar “aki ismet” sang penagkal Spam. Saya sarankan, coba test koment pakai nama lain dan email yg beda dan jangan sertakan link apapun. demikian sekedar TIPS.

    Tapi kalau mas admin mau ganti templatenya, its ok2 aja, selalu saya tunggu perkembangannya. Kan perjalanan baru saja dimulai beberpa langkah, semoga sukses membac-up ajaran2 Aswaja dari rong-rongan setan2 Najd.

  85. maaf sy masih awam Khawarij itu apa siapa dan bagaimana apakah sama dengan wahabi ? atau syiah terimakasih sebelumnya untuk infonya

  86. Jika kalian merasa benar, ummu hasanah, abu dzar, abu dzikri as sundawi, ibnu suradi CS, tolong jelaskan ayat dan hadist berikut, menurut pemahaman kalian..

    فَنَفَخْنَا فِيْها مِنْ رُوْحِنَا (الأنبياء: 91) [Makna literal ayat ini tidak boleh kita ambil, makna literalnya mengatakan: ”Maka Kami (Allah) tiupkan padanya (Maryam) dari ruh Kami”. Makna literal ini seakan mengatakan bahwa Allah adalah ruh yang sebagian dari ruh tersebut adalah ruh Nabi Isa]. ”Apa yang dimaksud ”Min Rûhinâ” , ”من روحنا”

    ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?,tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim)

    Bagaimana cara menyikapi kedua hadist berikut ini, yg secara dzhahir dan hakikat, saling bertentangan?

    Abdullah bin ‘Umar dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: ‘Pada hari kiamat kelak, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melipat langit. Setelah itu, Allah akan menggenggamnya dengan tangan kanan-Nya sambil berkata: ‘Akulah Sang Maha Raja. Di manakah sekarang orang-orang yang selalu berbuat sewenang-wenang? Dan di manakah orang-orang yang selalu sombong dan angkuh? ‘ Setelah itu, Allah akan melipat bumi dengan tangan kiri-Nya sambil berkata: ‘Akulah Sang Maha Raja. Di manakah sekarang orang-orang yang sering berbuat sewenang-wenang? Di manakah orang-orang yang sombong? “ (HR Muslim 4995).

    dengan

    Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb dan Ibnu Numair mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari ‘Amru -yaitu Ibnu Dinar- dari ‘Amru bin Aus dari Abdullah bin ‘Amru, -dan Ibnu Numair dan Abu Bakar mengatakan sesuatu yang sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dalam haditsnya Zuhair- dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang yang berlaku adil berada di sisi Allah di atas mimbar (panggung) yang terbuat dari cahaya, di sebelah kanan Ar Rahman ‘azza wajalla -sedangkan kedua tangan Allah adalah kanan semua-, yaitu orang-orang yang berlaku adil dalam hukum, adil dalam keluarga dan adil dalam melaksanakan tugas yang di bebankan kepada mereka.” (HR Muslim 3406)

    Hadits pertama (HR Muslim 4995) kalau dipahami dengan makna dzahir maka Allah ta’ala mempunyai dua buah tangan di mana tangan kanan untuk melipat dan menggenggam langit sedangkan tangan kiri untuk melipat bumi

    Hadits kedua (HR Muslim 3406) kalau dipahami dengan makna dzahir maka Allah ta’ala mempunyai dua buah tangan di mana kedua-duanya kanan.

    Mohon penjelasan kepada saudara abu dzar, ummu hasana, dkknya.

  87. Wahaby pakai jurus NINJA……slap…..slap…..MENGHILANG……!!!!! KABUR……….rrrrrRrrrRrrRrrrrrrr>>>>>>>>……..!!!!!!

    PERHATIKAN nanti pasti tiba2 nongol kalo dah AMAN…..!!!! bisa dibuktikan di artikel2 lain…..!!!!!
    jurus yang paling hebat punya wahaby adalah HIT AND RUN……!!!!!

  88. Seseorang yang telah yakin dengan kebenaran Al Quran dan Assunnah serta mampu mengamalkannya Insya Alloh kebahagiaan akhirat akan diperolehnya!

  89. mas,nur : Seseorang yang telah yakin dengan
    kebenaran Al Quran dan Assunnah
    serta mampu mengamalkannya dst..

    saya: yang benar , Seseorang yang telah yakin dengan kebenaran Al Quran dan Assunnah sesuai dengan pemahaman ulama’ salaf
    serta mampu mengamalkannya Insya Alloh…dst..

  90. Mas Agung, Mas Alfeyd dll… Terimakasih penjelasan-penjelasannya… Sangat bermanfaat dan pasti akan sangat membuka mata dan hati orang-orang yang bersedia terbuka. Hanya orang-orang yang menutup diri dan membutakan mata hati yang terus-terusan menghujat tanpa dasar yang kuat.

  91. mas Achmad Mudrikah, sama-sama semoga kita bisa mengambil manfa’at dari hasil diskusi di web ini, dan semoga kita tidak termasuk golongan orang2 berdebat/mujadalah yang diharomkan … amin…

  92. Pertanyaan saya kapankah setiap Manusia yang hidup, Mengakui Allah.S.W.T dan Rosullullah Muhammad.S.A.W pertama kali? Ataukah kita Islam karena orang tua kita Islam, Bagaimana manusia yang terlahir dari Orang tua yang tidak Islam?

  93. ada buku baru judulnya ” mendamaikan dua ahlu sunnah di bumi nusantara ” bedah bukunya silahkan lihat di youtube , menurut pendapat saya buku ini adalah upaya agar wahabi ” diterima sebagai ahlu sunnah ” ,

    aqidah tasybih dan tajsim kok ahlu sunnah…..?

    kelakuan khowarij kok ahlu sunnah…..?

    kalo wahabi ya wahabi ajalah , ahlul bid`ah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker