Inspirasi Islam

Belajar Toleransi dari Tragedi Syi’ah Sampang 2012

Ketua Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Ketua Majelis Ulama Indonesia KH Umar Shihab menjelaskan dengan menegaskan bahwa Syi'ah tidak sesat.

Empat tahun yang lalu, di Sampang Madura telah terjadi kekerasan terhadap sekelompok kaum Syi’ah. Ketika itu memang sedang ramai-ramainya penyebaran isu-isu sektarian yang mengiringi dahsyatnya perang Suriah. Diberitakan dengan gencar bahwa di Suriah telah terjadi pembantaian besar-besaran terhadap kaum Sunni oleh kaum Syi’ah. Presiden Suriah Bashar al-Assad yang Syi’ah digambarkan sebagai mewakil Syi’ah yang kejam, bengis, haus darah.

Sabda Nabi Saw: “Sungguh, aku tinggalkan pada kalian dua pusaka penting (tsaqalain): kitab Allah dan ahlul baitku. Sungguh keduanya tidak akan berpisah sehingga datang menjumpaiku di telaga al-Haudh.”

Lebih dari itu, bahkan Presiden Assad telah diberitakan mengaku sebagai Tuhan. Sungguh berita yang tak masuk akal, karena fakyanya Bashar al-Assad masih rajin ke masjid dalam acara Maulid Nabi saw, Acara Peringatan Nuzulul Qu’an, Shalat Idul Fitri, Shalat Idul Adha, dll. Bagaimaan orang yang sudah mengaku Tuhan itu Shalat berjama’ah di masjid bersma Imam Sunni?

Sementara itu, di Sampang yang berpenduduk mayoritas Sunni (Aswaja NU) dan ada sedikit kaum Syi’ah di tengah-tengah mereka, kemudian dipanas-panasi dengan isu-isu bahwa Syi’ah kafir, Syi’ah bukan Islam, Syi’ah dianggap sesat dan menyesatkan, dan ini menjebak masyarakat semakin benci dengan Syi’ah. Isu-isu itu terus berkembang yang kemudian menjadi semakin panas. Memasuki tahun baru 2012, konflik Syi’ah – Sunni akhirnya pecah di Sampang, kekerasan atas nama agama menimpa kaum Syi’ah.

Serombongan orang yang jumlahnya mencapai ratusan, ramai-ramai membakar pesantren, mushala, dan rumah warga di Kecamatan Omben, Sampang, Madura. Kesalahan mereka, karena pesantren yang dipimpin Ustaz Tajul Muluk itu mengajarkan Islam berfaham Syi’ah yang dianggap sesat. Begitulah yang terjadi, tanpa ada pihak yang mencegahnya.

BACA :  Al-Quran Syiah Ternyata Sama dengan Al-Quran Sunni

Setelah peristiwa yang mengenaskan itu, reaksi pun kemdian datang dari berbagai pihak. Ketua Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Ketua Majelis Ulama Indonesia KH Umar Shihab menjelaskan dengan menegaskan bahwa Syi’ah tidak sesat.

Ormas Islam terbesar di dunia, NU, juga ikut bereaksi sambil mengingatkan akan bahaya besar di balik peristiwa itu. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengingatkan ada desain besar di balik itu karena sejak dulu tak pernah ada perselisihan Sunni dan Syi’ah di Madura. Kiyai Said Aqil menduga ada pihak yang ingin merusak suasana damai di Indonesia. ”Salah satunya lewat kasus pembakaran pesantren Syi’ah di Sampang,” katanya.

Dugaan tersebut logis belaka. Sebab, Syi’ah Dua Belas Imam (Itsna ’asyariyah) memiliki banyak kesamaan dengan madzhab Syafi’i, salah satu mazhab Ahlus-Sunnah (Sunni) yang menjadi panutan mayoritas Nahdliyin di Indonesia. Tradisi NU juga sangat mencintai Ahli Bait (keluarga) Nabi Muhammad SAW dan dzurriyah (keturunan) Rasulullah Saw.

Amalan Tawassul, Tabarruk, Peringatan Maulid Nabi Saw, Peringatan haul, acara tahlil orang meninggal tiga hari, 40 hari, dan sebagainya, yang banyak dilakukan warga NU,  sesungguhnya serupa dengan upacara-upacara Syi’ah. Nahdliyin juga pantang menikahkan anak atau berpesta gembira ria pada hari Asyura, yang merupakan hari-hari kesedihan mengenang syahidnya cucu Nabi Saw, Al-Husain (Imam Syi’ah ketiga). Di kalangan NU juga sering dibacakan Shalawat Diba’, di mana di dalamnya disebutkan nama-nama tokoh yang dianggap sebagai Imam Syi’ah dan keistimewaan Ahlul Bait nabi Saw.

BACA :  Kenapa MusliModerat Sering Ungkap Kejahatan Wahabi dan NUGL ?
banner gif 160 600 b - Belajar Toleransi dari Tragedi Syi'ah Sampang 2012

Walhasil, jika Syi’ah yang secara tradisi dan kultur mirip dengan Aswaja NU saja diserang, ada apa sebenarnya di balik ini semua? Bagaimana dengan pengikut ajaran lain, misalnya Wahabi yang punya aqidah berbeda dengan Sunni tapi mengaku Sunni, yang punya lebih banyak perbedaan dengan Aswaja NU kok bisa aman-aman saja?Ada apa ini sebenarnya?

Kita harus belajar dari tragedi Syi’ah Sampang. Hal itu tidak akan terjadi jika kita menyadari adanya perbedaan Madzhab yang seharusnya saling menghormati. Selayaknya semua pihak menyadari bahwa berbagai mazhab dalam Islam sendiri baru muncul setelah masa tabi’in, sekitar abad kedua Hijriah. Di kalangan Sunni sendiri terdapat puluhan mazhab, termasuk empat Madzhab yang mu’tabar: Malikiyah, Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hambaliyah.

Kaum Syi’ah juga percaya pada hadits pentingnya al-Quran dan al-Sunnah

Menyadari beragamnya madzhab itu, sejak dulu para ulama Sunni dan Syi’ah menekankan perlunya persatuan ukhuwah Islamiyah. Dimulai sejak era 2000-an upaya persatuan itu diperkuat dengan hadirnya lembaga Pendekatan Antar-Madzhab Dunia (Al-Majma’ al-Alamy lit-Taqrib baina al-Madzaahib), ada banyak sidangnya juga dihadiri ulama-ulama dari Indonesia.

Maka, dalam konteks persatuan Islamiyah, tokoh Sunni, seperti Prof DR Quraish Shihab, mengingatkan umat Islam tidak boleh main tuduh sembarangan. Prof Quraish Shihab mengatakan, ”Jangan sampai menuduh seorang Muslim dengan kekufuran, bid’ah, atau pengekor hawa nafsu hanya disebabkan dia berbeda dengan kita dalam pandangan Islam yang bersifat teoritis….” (Shihab, 2007).

BACA :  Pentingnya Bermazhab Bagi Ummat Islam, Agar Selamat

Begitulah yang dikatakan sebagai perbedaan itu sebenarnya tidak terlalu berbeda, yang diperlukan hanyalah ‘saling memahami’ sehingga perbedaan itu tidak jadi masalah. Beberapa ulama mengatakan  bahwa perbedaan itu hanya soal cabang agama (furu’), dan bukan masalah pokok agama (ushuluddin). Karena aqidah Sunni dan Mayoritas Syi’ah sama dalam hal Ketuhanan. Tak heran jika tokoh toleransi terkemuka Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) mengakui bahwa Syi’ah adalah madzhab kelima dalam Islam.

Sebagaimana saudaranya Kaum Sunni, Kaum Syi’ah juga percaya pada hadits tentang pentingnya al-Quran dan al-Sunnah. Namun, berbeda dengan Sunni, Syi’ah lebih kuat memegang pada hadits lain (yang diriwayatkan juga dalam hadits Sunni) yang mengharuskan berpegang kepada Al Quran dan Ahlul Bait, yang mana keduanya tidak akan berpisah hingga akhir zaman sehingga tidak akan tersesat siapa pun yang berpegang pada keduanya (Al Quran dan Ahlul Bait Nabi).

Sabda Nabi Saw: “Sungguh, aku tinggalkan pada kalian dua pusaka penting (tsaqalain): kitab Allah dan ahlulbaitku. Sungguh keduanya tidak akan berpisah sehingga datang menjumpaiku di telaga al-Haudh.” Hadits sahih dari Nabi Muhammad Saw di atas diriwayatkan oleh lebih dari 30 Sahabat Nabi dan dicatat oleh banyak ulama Sunni.

Nah, ketika hadits ini adalah hadits shahih di Sunni, bukankah seharusnya kaum Sunni menghormatinya ketika dibuat pegangan kaum Syi’ah? Wallohu a’lam ….

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker