Berita Fakta

Bantahan Terhadap Buku “Hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia”

Sepertinya jika di Indonesia nggak ada Wahabi, mungkin Ummat Islam akan tidur nyenyak setelah asyik masyuk beribadah kepada Allah swt. Tentu saja karena  segala apa yang diamalkannya tidak ada yang ngrecoki, tidak ada yang membid’ah-bid’ahkan. Tetapi setelah munculnya kaum Wahabi dan ajaran Wahabisme di Indonesia yang membawa missi “memurnikan tauhid” dan “memberantas Bid’ah”, maka Ummat Islam yang jadi sasaran Missionaris Wahabi,  seakan tersentak dan bangkit meneliti sumber-sumber hukum dari amalan sehari-hari yang telah mentradisi di kalangan ummat Islam. Dan salah satu dari hasil kebangkitan itu adalah terbitnya buku-buku bantahan ilmiyyah atas kesombongan buku-buku yang diterbitkan oleh kaum Wahabi.

Di bawah ini adalah sinopsis dari sebuah buku sangat penting sebagai bantahan ilmiyyah atas sebuah buku kaum Wahabi: “Hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia”

Judul : Meluruskan Vonis Bid’ah; Bantahan terhadap Buku “Hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia”

Oleh : Nur Hidayat Muhammad

Cetakan : I,  April 2012

Tebal : xix + 300 halaman

Penerbit : Nasyrul Ilmi Publishing

Harga : Rp. 50.000,-

Kemunculan buku “Hadis Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia” karya Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Yusuf memunculkan keresahan mendalam. Lantaran banyak hadits-hadits tersebut digunakan oleh mayoritas umat Islam Indonesia, secara khusus kaum Nahdliyyin, sebagai hujjah dalam amal ibadahnya sebab terdapat fadhilah. Sebagai wujud kehati-hatian dalam menilai suatu hadits, sebab kita semua memang tidak tahu, apakah hadits yang kita anggap dha’if atau bahkan palsu bukan dari Rasulullah, masih ada kemungkinan hadits tersebut benar-benar dari Rasulullah.

BACA JUGA:  Sadar Bahaya Wahabi, Tunisia Sita 25 Ton Buku Wahabi

Bagaimana natinya, jika hadits tersebut benar dari Rasulullah, kemudian kita dustakan. Maka jalan terbaik yang diambil oleh ulama ahlussunnah waljama’ah dengan mengamalkan hadits dh’aif sebagai kehati-hatian dengan tidak menisbatkan bahwa hadits tersebut benar-benar dari Rasulullah, sebab belum tentu hadits tersebut dari Rasulullah. Kenapa hadits dha’if diamalkan, sebagai upaya menjaga kemungkinan bahwa hadits tersebut benar-benar dari Rasulullah. Buakankah sebuah dusta besar jika kemudian hadits yang nyata-nyata dari Rasulullah, kemudian kita anggap sebagai hadits yang bukan dari Rasulullah. Karenanya, sebagai kehati-hatian untuk mejembatani dua kemungkinan, maka jalan terbaik dengan tetap mengamalkan, hadits dha’if tetapi tidak dinisbatkan kepada Rasulullah, kalaupun itu salah pelakunya tidak berdosa, sebab tidak menisbatkan tindakannya pada Rasulullah. Juga sebagai kehati-hatian siapa tahu hadits tersebut benar-benar dari Rasulullah.

Sebab itu, kemunculan buku ini, mencoba meluruskan salah paham yang dilakukan oleh Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Yusuf dalam bukunya “Hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia”. Banyak sekali kerancuan dalam buku tersebut, ringkasnya saya bagi tiga bagian kritik yang diuarikan oleh Nur Hidayat Muhammad di dalam buku ini. Pertama, dalam bukunya, Ahmad Sabiq merasa bahwa hasil ijtihadnya lebih baik dari pada ulama’ yang kapasitas keilmuannya sudah tidak diragukan lagi, serta merasa ilmu haditsnya lebih baik dari para ulama’ besar, termasuk mazhab Syafi’i. Dia juga merasa jika pendapat Salafi Wahabi paling absolut kebenarannya, yang lain tercela dan sesat.

BACA JUGA:  Debat Seru Tentang Maulid Nabi di Facebook

Kedua, banyak hadits yang hanya dha’if atau sangat dha’if dinilai palsu karena mengikuti pendapat Muhammad Nashiruddin al-Albani. Bahkan Ia sering terjebak pada penilai al-Abbani, dan mengindahkan pandangan ulama’ lain yang kreadibiltas keilmuannya lebih mapan. Hadis muaquf yang populer dinisbatkan pada Rasulullah kadang diklaim hadits palsu, padahal pendapat tersebut menyalahi pendapat para ulama’ yang mengatakan bahwa menempatkan hadits mauquf dalam ketegori hadis maudhu’ merupakan kesalahan. Dalam menentukan status hadits palsu, kadang-kadang menggunakan standar karena perawinya pendusta, padahal perawi yang dicurigai pendusta tidak masuk hadits palsu, hanya hadits matruk. Banyak sekali alasan hadits yang dicetuskan sering tidak singkron.

BACA JUGA:  Doktrin Wahabi Sebabkan Kontradiksi Kronis dalam Memahami Ajaran Islam

Ketiga, tidak mengindahkan kaidah ulama’ bahwa hadits dha’if yang diamalkan dan dibuat fatwa ulama’ derajatnya semakin kuat. Pula tidak mengindahkan hadits dha’if yang derajatnya terangkat karena terdapat riwayat hadits shahih atau hasan, maka riwayat yang dha’if selalu dikesampingkan, tanpa melihat kaidah ushulul hadits yang disepakati para ulama’. Kadang pula tidak mengindahkan derajat hadtis yang terangkat derajatnya karena banyaknya syawahid.

Untuk Lebih jelasnya, dalam buku “Meluruskan Vonis Wahabi: Bantahan terhadap Buku “Hadits Lemah dan Palsu yang Polpuler di Indonesia” pembaca akan diajak oleh Nur Hidayat Muhammad menelusuri secara detail kesalah-kesalahan yang dikakukan Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Yusuf dalam bukunya Hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia, dengan bantahan ilmiah dan sumber rujukan yang jelas. Buku ini patut kita apresiasi bersama, sebagai wadah intlektual dalam meluruskan salah paham yang dilakukan kelompok tertentu, tidak seperti kelompok radikalis, yang selama ini sering melakukan cara-cara kekerasan dalam meluruskan kesalahan seseorang.

 

 

(Resensi Masduri, NU Online)

 

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - Bantahan Terhadap Buku "Hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia"
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.
Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

10 thoughts on “Bantahan Terhadap Buku “Hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia””

  1. Mau tanya Admin, bagaimana kalau ane mau OFF lagu2 Baratnya bisa nggak?, Maaf, soalnya sangat mengganggu konsentrasi sekali saat sedang baca2 artikel2nya yg bagus2 ini.

    Ane juga mau rekomendasikan situs ini ke beberapa teman yg hampir terinfiltrasi faham Wahabi karena di lingkungan kantornya khususnya kantor2 di Jakarta dan BUMN2, “dakwah” Salafi-Wahabi ini sangat marak & agresif sekali. Tapi tunggu lagu Baratnya ilang dulu ya 🙂

    1. akhi…. kalau bagi saya sendiri kok enak2 aja ya, lagu2 nya slow dan enak di telinga saya.

      Mungkin Adminnya jam segini lagi pergi kerja cari nafkah mungkin Mas? Tapi kalau antum mau off radionya, sangat mudah lho, tinggal klik stop di Radio Defaultnya.

      Antum Scroll web ke bawah dan temukan Default Radio di urutan ketiga, klik Stop maka akan berhenti. Sangat mudah sekali, akhi….

  2. Makasih ukhti..ane dah klik radio yg ketiga…Skrng udh tenang (Off)….tapi kalau boleh usul, lagu defaultnya klu bisa ‘Shalawatan’ aja, yg ‘slow’ kan juga banyak spt Shalawatan by Habib Syeikh Solo 🙂
    Atau kalau mo lagu Barat yg spt lagu2 Maher Zain geto (Maksa). Kok jadi spt pesen lagu di radio aja ya.. :mrgreen:
    Skali lagi trims.

  3. Bismillah,

    mas @admin, mohon maaf sebelumnya, ini kenapa tampilannya koq berubah-ubah? dan sekarang semua baik artikelnya, maupun kolom diskusinya ada disebelah kiri semua, numpuk jadi satu…

    maaf merepotkan, terimakasih sebelumnya

    1. Ya,benar ustadz Abu Hilya, untuk itu kami mohon maaf karena telah menyebabkan ketidak-nyamanan antum dan juga pengunjung yang lain. Kami telah salah dalam menulis kode script untuk widget menyebabkan tampilan web jadi kocar-kocar.

      Alhamdulillah, tadi malam jam satu berhasil dipebaiki, dan tampilan menjadi normal kembali seperti sekarang.

  4. Assalamu’alaikum wr. wb….

    Ada beberapa pengunjung bertanya via “CONTACT US”, baik dari Salafi atau Aswaja menanyakan cara mendapatkan buku di atas.
    Untuk pemesanan buku tersebut antum bisa hubungi penerbit “Nasyrul ‘Ilmi Publishing”

    silahkan konfirmasi ke nomor ini: 085655684452 (mas Musthofa Murtadlo)

  5. Muslim bin Al-Hajjaaj rahimahullah berkata :
    وإنما ألزموا أنفسهم الكشف عن معايب رواة الحديث ، وناقلي الأخبار ، وأفتوا بذلك حين سئلوا لما فيه من عظيم الخطر ، إذ الأخبار في أمر الدين إنما تأتي بتحليل أو تحريم أو أمر أو نهي أو ترغيب أو ترهيب
    “Mereka (para ulama) hanyalah menetapkan pada diri mereka untuk menyingkap aib-aib para perawi hadits dan periwayat khabar, serta berfatwa dengan hal tersebut ketika mereka ditanya, karena besarnya bahaya yang ada padanya. Dikarenakan khabar termasuk perkara agama, maka ia datang dengan penghalalan, pengharaman, perintah, larangan, targhiib, dan tarhiib” [Muqaddimah Shahiih Muslim, hal. 31].

    Madzhab Muslim sangat terlihat jelas dalam muqaddimah kitab Shahiih-nya bahwasannya ia mencela para perawi dla’iif sekaligus menolak penggunaan hadits dla’iif secara mutlak. Oleh karena itu, Ibnu Rajab rahimahullah berkata :
    وظاهر ما ذكره مسلم في مقدمة كتابه يقتضي أنه لا يروي أحاديث الترغيب والترهيب إلا عمن تروى عنه الأحكام
    “Dan yang nampak dari yang disebutkan Muslim dalam muqaddimah kitab-nya menunjukkan bahwa ia tidak meriwayatkan hadits-hadits targhiib dan tarhiib, kecuali dari orang yang diriwayatkan darinya hadits-hadits ahkaam” [Syarh ‘Ilal At-Tirmidziy, 1/373].

    bnu Abi Haatim rahimahullah berkata :
    سَمِعْتُ أَبِي، وَأَبَا زُرْعَةَ، يَقُولَانِ: ” لَا يُحْتَجُّ بِالْمَرَاسِيلِ وَلَا تَقُومُ الْحُجَّةُ إِلَّا بِالْأَسَانِيدِ الْصِّحَاحِ الْمُتَّصِلَةِ “، وَكَذَا أَقُولُ أَنَا
    “Aku mendengar ayahku (Abu Haatim Ar-Raaziy) dan Abu Zur’ah berkata : ‘Tidak boleh berhujjah dengan hadits-hadits mursal, dan tidaklah tegak hujjah kecuali dengan hadits dengan sanad yang shahih lagi muttashil (bersambung)’. Dan demikian juga yang aku (Ibnu Abi Haatim) katakan” [Al-Maraasiil no. 15].

    1. @Abu Abdullah

      Mas, pada diskusi sebelumnya, anda kan ditanya, siapa ulama salaf yg membagi tauhid menjadi 3? Satu lagi, apakah benar, kaum musryikin masih bertauhid, yaitu tauhid rububiyah?

    2. Bismillah,

      mas @abu abdullah,

      Sikap para ulama’ terhadap hadits-hadits dho’if sebenarnya beragam, setidaknya kami menemukan tiga sikap :

      1. Menolak secara mutlak hadits-hadits dho’if, baik yang berkaitan dengan hukum maupun fadhoil a’mal (keutamaan amal), sikap ini dipelopori tokoh-tokoh besar seperti Imam Bukhori, Muslim, Yahya ibn Ma’in dll. Sikap ini bersandar pada firman Alloh: “Janganlah kamu berpijak pada sesuatu yang kamu tidak memilki pengetahuan tentangnya” (QS, Al Isro :36). sebagaimana terungkap dalam pengamatan Ahmad Umar Hasyim dalam kitabnya “Qowa’idu Ushuluil Hadits”.

      2. Menerima secara mutlaq hadits-hadits dho’if, baik yang berkaitan dengan hukum maupun yang berkaitan dengan keutamaan amal (fadhoilul a’maal) selama tidak tidak ditemukan dalil yang shohih atas sebuah masalah. Sikap ini sebagaimana disampaikan Imam Suyuthi, konon dinisbatkan kepada Imam Abu Dawud dan Imam Ahmad, dimana beliau berdua berargumentasi dengan “LEBIH BAIK BERSANDAR PADA HADITS DHO’IF ATAS SEBUAH MASALAH DARIPADA BERSANDAR PADA RO’YU (AKAL PIKIRAN”. (Qowa’idut Tahdits)

      3. Boleh mengamalkan hadits-hadits dho’if khusus dalam masalah Fadho’ilul A’mal (keutamaan amal), Targhib (motivasi kebaikan), Tarhib (ancaman keburukan) atau semisal. Hadits dho’if menurut pendapat ini tidak dapat digunakan dalam dua masalah, yakni aqidah dan hukum.
      Sikap ini yang dinilai Mu’tamad oleh Jumhur sebagaimana Imam Nawawi dalam Taqrib-nya, Al ‘Iroqiy dalam Alfiyah-nya, al ‘Asqolani dalam Syarah Nukhbah, Zakariya al Anshori dalam Syarah Alfiyah Al ‘Iroqiy, as Suyuthi dalam At Tadrib, Ibnu Hajat Al Haitami dalam Syarah Arba’in. Sikap ketiga ini juga dinisbatkan pada tokoh-tokoh besar semisal Abdurrohman ibn Mahdi, Ahmad ibn Hanbal, dan Ibnu Mubarok.

      sikap ketiga ini memberi catatan dalam mengamalkan hadits-hadits dho’if sebagai berikut:

      – Hadits tersebut tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan atau hukum syara’, namun hanya berkaitan dengan masalah-masalah seperti Fadhoilul A’maal, At Targhib, At tarhib atau yang semisal.
      – Kualitas hadits tersebut tidaklah terlalu dho’if. Dengan demikian hadits-hadits yang diriwayatkan oleh seorang pendusta, atau tertuduh dusta tidaklah dapat diamalkan kendati dalam masalah Fadhoilul A’maal.
      – Isi / kandungan haditsnya masih tercakup dibawah dalil-dalil ‘Am (umum) yang shohih, baik al qur’qn, atau hadits-hadits yang shohih maupun hasan. Sehingga kandungan haditsnya tidak Syadz atau diluar koridor Syara’.
      – Dalam mengamalkannya tidak boleh meyakini bahwa hal tersebut benar-benar dari Nabi saw, akan tetapi tujuan pengamalannya adalah dalam rangka Ihtiyath (hati-hati) karena boleh jadi hadits dho’if yang dimaksud memang benar dari Nabi saw.

      Wallohu A’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker