Kajian Ilmiyah

Ayo Tahlilan, Tahlilan Itu Sunnah !

Islam-Institute, jakarta – Kajian ilmiyyah tentang Tahlilan berikut ini membongkar rahasia ternyata Tahlilan itu bukan bid’ah (haram) tetapi justru disunnahkan Tahlilan (selametan dan kenduri) untuk orang meninggal. Adakah dalilnya? Kajian ilmiyyah berikut ini memberi jawaban tuntas, silahkan baca selengkapnya, semoga bermanfaat…..

 

Ayo+Tahlilan - Ayo Tahlilan, Tahlilan Itu Sunnah !

 

Tahlil secara harfiyah ialah membaca LAA ILAAHA ILLALLAAH,
kemudian digunakan nama acara kenduri (selamatan) atau sebuah acara
yang di dalamnya membaca ayat-ayat Qur’an, dzikir tasbih dan sebagainya,
yang semua pahalanya dikirimkan untuk orang yang sudah meninggal,
terlebih untuk mengiringi malam pertama di alam kubur terlebih lagi
dilanjutkan malam berikutnya sesuai kemampuan. Hukumnya ialah SUNNAH.

Hukum sunnah ini berdasarkan :

PERTAMA :

مَا
الْمَيِّتُ فِي الْقَبْرِ إِلَّا كَالْغَرِيقِ الْمُتَغَوِّثِ، يَنْتَظِرُ
دَعْوَةً تَلْحَقُهُ مِنْ أَبٍ أَوْ أُمٍّ أَوْ أَخٍ أَوْ صَدِيقٍ،
فَإِذَا لَحِقَتْهُ كَانَتْ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا
فِيهَا، وَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيُدْخِلُ عَلَى أَهْلِ الْقُبُورِ
مِنْ دُعَاءِ أَهْلِ الْأَرْضِ أَمْثَالَ الْجِبَالِ، وَإِنَّ هَدِيَّةَ
الْأَحْيَاءِ إِلَى الْأَمْوَاتِ الِاسْتِغْفَارُ لَهُمْ

Tidaklah semata-mata mayat di
alam kubur melainkan laksana orang yang sedang tenggelam yang minta
bantuan, mereka menanti do’a (pahala) yang dilakukan orang hidup yang
disampaikan kepadanya, baik dari bapak, ibu, saudara atapun kawan.
Apabila ada do’a dan pahala kebaikan dikirimkan kepadanya maka itulah
yang mereka sukai daripada dunia beserta isinya. Sesungguhnya Allah akan
memasukkan kepada penghuni kubur daripada do’a-do’a penghuni bumi
seperti gunung kebaikan, sesungguhnya pemberian hadiah orang hidup
terhadap orang mati ialah memohonkan ampunan untuk mereka.
(HR Al-Baihaqi, Ad-Daelami) Sumber: Kitab Syu’bul-Iman Al-Imam Al-Baihaqi

KEDUA :

لا يأتي على الميت أشد من الليلة الأولى فارحموا بالصدقة من يموت

Tidaklah
datang kepada mayat yang lebih dahsyat keresahannya melainkan di malam
pertama, maka kasihanilah mereka dengan bersedekah atas nama orang yang
meninggal itu
. Sumber: Nihayatuz-zein Syekh Nawawi

Adapaun rangkaian tahlil dalam
jumlah ke-3 harinya atau ke-7 harinya, bahkan ke-40 harinya, ialah
sebuah anjuran untuk melakukan kebaikan sebanyak mungkin. Dalam jumlah
ganjil ada makna bahwa sesungguhnya Allah itu ganjil (tunggal/esa) dan
menyukai yang ganjil, sedang jumlah 40 hari ialah batas banyak minimal
yang akan mengandung nilai sempurna hikmah di pandang dari sisi hitungan
jumal kabir. (Ilmu Hikmah)

Membaca Surat Yasiin Untuk Orang Meninggal


عَنْ
مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ اَلنَّبِيَّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اقْرَؤُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ

يس رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ (وأخرجه أحمد 20316 وأبو داود رقم 3121 وابن ماجه رقم 1448 وابن حبان رقم 3002 والطبرانى رقم 510 والحاكم رقم 2074 والبيهقى رقم 6392 وأخرجه أيضاً الطيالسى رقم 931 وابن أبى شيبة رقم 10853 والنسائى فى الكبرى رقم 10913)

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal dan al-Hakim melalui jalur : 

  1. Sulaiman bin Tharkhan al-Taimi, dan 
  2. Abu Utsman dari ayahnya Ma’qil bin Yasar.

Albani (ulama wahabi) berkata dalam kitabnya Irwa’ al-Ghalil hadis ini dlaif,
karena mengandung tiga illat; 1) Abu Utsman dan 2) ayahnya, adalah
perawi yang tidak diketahui keadaannya. Dan 3) hadis ini mudltharib,
terjadi kesimpangsiuran. (Irwa’ al-Ghalil 3/15)

Tentu saja pandangan Albani ini
ditolak. Hadis ini telah dinilai sahih oleh Ibnu Hibban (al-Ihsan no
3002) dan dinilai hasan oleh al-Hafidz al-Mundziri (Takhrij Ahadits
al-Muhadzdzab, sebagaimana dikutip oleh al-Hafidz Ibnu al-Mulaqqin dalam
al-Badzr al-Munir 5/194) dan al-Hafidz as-Suyuthi dalam al-Jami’
ash-Shaghir 1/52. Sementara al-Hakim dan adz-Dzahabi tidak
mengomentarinya.

Meneliti Perawi Sanad.

  1. Sulaiman
    bin Tharkhan al-Taimi telah disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam
    Taqrib al-Tahdzib (2575) masuk dalam generasi keempat, yaitu generasi
    tabi’in yang menjumpai sejumlah orang sahabat. Sehingga ada dugaan kuat,
    bahwa 
  2. Abu Utsman yang menjadi sumber hadis tersebut adalah termasuk
    generasi senior tabi’in. Ibnu Hibban memasukkan Abu Utsman ini dalam
    golongan perawi yang dipercaya dalam kitab al-Tsiqat (7/664) dan menilai
    sahih hadisnya. Sedangkan perawi darinya, yaitu Sulaiman al-Taimi juga
    perawi tsiqah, dipercaya. Dengan demikian kecenderungan menerima
    hadisnya memiliki dasar yang kuat.

Disisi lain hadis ini memiliki penguat eksternal (syawahid). Ahmad bin Hanbal (Diriwayatkan juga oleh Ibnu Sa’d dalam al-Thabaqat 7/443 dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya)

حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللهِ حَدَّثَنِي أَبِي ثَنَا أَبُوْ الْمُغِيْرَةِ ثَنَا
صَفْوَانُ حَدَّثَنِي الْمَشِيْخَةُ اَنَّهُمْ حَضَرُوْا غُضَيْفَ بْنَ
الْحَرْثِ الثَّمَالِيَ حِيْنَ اشْتَدَّ سَوْقُهُ فَقَالَ هَلْ مِنْكُمْ
أَحَدٌ يَقْرَأُ يس قَالَ فَقَرَأَهَا صَالِحُ بْنُ شُرَيْحٍ السُّكُوْنِي
فَلَمَا بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ فَكَانَ الْمَشِيْخَةُ
يَقُوْلُوْنَ إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ
عَنْهُ بِهَا قَالَ صَفْوَانُ وَقَرَأَهَا عِيْسَى بْنُ الْمُعْتَمِرِ عِنْدَ بْنِ مَعْبَدٍ (مسند أحمد بن حنبل 17010)

“Para guru bercerita bahwa
mereka mendatangi Ghudlaif bin Hars al-Tsamali ketika penyakitnya sangat
parah. Shafwan berkata: Adakah diantara anda sekalian yang mau
membacakan Yasin? Shaleh bin Syuraih al-Sukuni yang membaca Yasin.
Setelah ia membaca 40 dari Surat Yasin, Ghudlaif meninggal. Maka para
guru berkata: Jika Yasin dibacakan di dekat mayit maka ia akan
diringankan (keluarnya ruh) dengan Surat Yasin tersebut. (Begitu pula)
Isa bin Mu’tamir membacakan Yasin di dekat Ibnu Ma’bad” (Musnad Ahmad No 17010)

Al-Hafidz Ibnu Hajar menilai atsar ini:

وَهُوَ حَدِيْثٌ حَسَنُ اْلإِسْنَادِ (الإصابة في تمييز الصحابة للحافظ ابن حجر 5 / 324)

“Riwayat ini sanadnya adalah hasan” (al-Ishabat fi Tamyiz al-Shahabat V/324)

Ahli hadis al-Hafidz Ibnu Hajar
juga menilai riwayat amaliyah ulama salaf membaca Yasin saat Ghudlaif
akan wafat sebagai dalil penguat (syahid) dari hadis riwayat Ma’qil bin
Yasar yang artinya: Bacakanlah Surat Yasin di dekat orang yang
meninggal. (Raudlah al-Muhadditsin X/266)

Al-Hafidz Ibnu Hajar memastikan Ghudlaif ini adalah seorang sahabat:

هَذَا
مَوْقُوْفٌ حَسَنُ اْلإِسْنَادِ وَغُضَيْفٌ صَحَابِىٌّ عِنْدَ
الْجُمْهُوْرِ وَالْمَشِيْخَةُ­ الَّذِيْنَ نَقَلَ عَنْهُمْ لَمْ
يُسَمُّوْا لَكِنَّهُمْ مَا بَيْنَ صَحَابِىٍّ وَتَابِعِىٍّ كَبِيْرٍ
وَمِثْلُهُ
لاَ يُقَالُ بِالرَّأْىِ فَلَهُ حُكْمُ الرَّفْعُ (روضة المحدثين للحافظ ابن حجر 10 / 266)

“Riwayat sahabat ini sanadnya
adalah hasan. Ghudlaif adalah seorang sahabat menurut mayoritas ulama.
Sementara ‘para guru’ yang dikutip oleh Imam Ahmad tidak disebut
namanya, namun mereka ini tidak lain antara sahabat dan tabi’in senior.
Hal ini bukanlah pendapat perseorangan, tetapi berstatus sebagai hadis
yang disandarkan pada Rasulullah (marfu’)” (Raudlah al-Muhadditsin X/266)

Atsar dari Ghudlaif al-Tsumali
diatas memiliki jalur lain yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam
Tarikhh Dimasyqi (48/82) dari jalur Said bin Manshur, dari Faraj bin
Fudlalah dari Asad bin Wada’ah. Sanad atsar ini lemah, karena Faraj bin
Fudlalah bin Nu’man dlaif. Akan tetapi kelemahan sanad ini diperkuat
oleh sanad Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Sa’d diatas yang dinilai hasan
oleh al-Hafidz Ibnu Hajar.

al-Hafidz Ibnu Hajar juga meriwayatkan hadis tentang bacaan Surat Yasin:

وقال
ابن أبي عمر حدثنا عبد المجيد بن أبي رواد عن مروان بن سالم عن صفوان بن
عمرو عن شريح بن عبيد عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى
الله عليه وسلم « ما من ميت يموت ويقرأ عنده يس إلا هون الله تعالى عليه »
(المطالب العالية للحافظ ابن حجر العسقلاني
816)

Hadis ini dinilai dlaif oleh
al-Hafidz al-Bushiri dalam Mukhtashar al-Ithaf, karena lemahnya Marwan
bin Salim. Akan tetapi hadis ini diperkuat dengan hadis yang
diriwayatkan Ashabus Sunan dan disahihkan oleh Ibnu Hibban diatas.

Berikut kutipan selengkapnya
dari kitab Musnad Ahmad mengenai pembacaan Yasin di samping orang yang
akan meninggal yang telah menjadi amaliyah ulama terdahulu dan terus
diamalkan oleh warga NU:

ثُمَّ
قَالَ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ حَدَّثَنَا عَارِمٌ حَدَّثَنَا ابْنُ
الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ التَّيْمِي عَنْ أَبِي عُثْمَانَ
-وَلَيْسَ بِالنَّهْدِي- عَنْ أَبِيْهِ عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ
قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “اِقْرَؤُوْهَا
عَلَى مَوْتَاكُمْ” يَعْنِي يس. وَرَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالنَّسَائِي
فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ وَابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيْثِ عَبْدِ اللهِ
بْنِ الْمُبَارَكِ بِهِ إِلاَّ أَنَّ فِي رِوَايَةِ النَّسَائِي عَنْ أَبِي
عُثْمَانَ عَنْ مَعْقِلٍ بْنِ يَسَارٍ. وَلِهَذَا قَالَ بَعْضُ
الْعُلَمَاءِ مِنْ خَصَائِصِ هَذِهِ السُّوْرَةِ أَنَّهَا لاَ تُقْرَأُ
عِنْدَ أَمْرٍ عَسِيْرٍ إِلاَّ يَسَّرَهُ اللهُ. وَكَأَنَّ قِرَاءَتَهَا
عِنْدَ الْمَيِّتِ لِتُنْزَلَ الرَّحْمَةُ وَالْبَرَكَةُ وَلِيَسْهُلَ
عَلَيْهِ خُرُوْجُ الرُّوْحِ وَاللهُ أَعْلَمُ. قَالَ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ
رَحِمَهُ اللهُ حَدَّثَنَا أَبُوْ الْمُغِيْرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ
قَالَ كَانَ الْمَشِيْخَةُ يَقُوْلُوْنَ إِذَا قُرِئَتْ – يَعْنِي يس-
عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا (تفسير ابن كثير
6 / 562)

“Imam Ahmad berkata (dengan
meriwayatkan sebuah) bahwa Rasulullah Saw bersabda: Bacalah surat Yasin
kepada orang-orang yang meninggal (HR Abu Dawud dan al-Nasa’i dan Ibnu
Majah). Oleh karenanya sebagian ulama berkata: diantara keistimewaan
surat yasin jika dibacakan dalam hal-hal yang sulit maka Allah akan
memudahkannya, dan pembacaan Yasin di dekat orang yang meninggal adalah
agar turun rahmat dan berkah dari Allah serta memudahkan keluarnya ruh.
Imam Ahmad berkata: Para guru berkata: Jika Yasin dibacakan di dekat
mayit maka ia akan diringankan (keluarnya ruh) dengan bacaan Yasin
tersebut” (Ibnu Katsir VI/342)

Terkait dengan tuduhan anti
tahlil yang mengutip pernyataan beberapa ulama bahwa sanad hadis riwayat
Ma’qil ini goncang, redaksi hadisnya (matan) tidak diketahui dan
sebagainya, maka cukup dibantah dengan pendapat ahli hadis al-Hafidz
Ibnu Hajar dalam Bulugh al-Maram I/195:

عَنْ
مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ اَلنَّبِيَّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اقْرَؤُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس رَوَاهُ
أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ (وأخرجه أحمد
20316 وأبو داود رقم 3121 وابن ماجه رقم 1448 وابن حبان رقم 3002 والطبرانى رقم 510 والحاكم رقم 2074 والبيهقى رقم 6392 وأخرجه أيضاً الطيالسى رقم 931 وابن أبى شيبة رقم 10853 والنسائى فى الكبرى رقم 10913)

“Dari Ma’qil bin Yasar bahwa
Rasulullah Saw bersabda: ‘Bacalah surat Yasin di dekat orang-orang yang
meninggal.’ Ibnu Hajar berkata: Diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Nasa’i
dan disahihkan oleh Ibnu Hibban” (Hadis ini juga diriwayatkan oleh
Imam Ahmad No 20316, Abu Dawud No 3121, Ibnu Majah No 1448, al-Thabrani
No 510, al-Hakim No 2074, al-Baihaqi No 6392, al-Thayalisi No 931, Ibnu
Abi Syaibah No 10853 dan al-Nasa’i dalam al-Sunan al-Kubra No 10913)

Dalam kitab tersebut al-Hafidz
Ibnu Hajar tidak memberi komentar atas penilaian sahih dari Ibnu Hibban.
Sementara dalam kitab beliau yang lain, Talkhis al-Habir II/244,
kendatipun beliau mengutip penilaian dlaif dari Ibnu Qattan dan
al-Daruquthni, di saat yang bersamaan beliau meriwayatkan atsar dari
riwayat Imam Ahmad diatas.


Pemahaman Imam Ahmad Bin Hanbal Tentang Tahlil (Kenduri)

Mengapa para ulama mengajarkan kepada umat Islam agar selalu mendoakan
keluarganya yang telah meninggal dunia selama 7 hari berturut-turut? 

Imam Ahmad bin Hanbal, seorang ahli hadits kenamaan mengatakan bahwa beliau mendapatkan riwayat dari Hasyim bin al-Qasim, yang mana beliau meriwayatkan dari Al-Asyja’i, yang beliau sendiri mendengar dari Sofyan, bahwa Imam Thawus bin Kaisan radliyallahu ‘anhu pernah berkata: 

 إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا، فكانوا يستحبون أن يطعم عنهم تلك الأيام 

“Sesungguhnya orang mati
difitnah (diuji dengan pertanyaan malaikat) didalam quburnya selama 7
hari, dan “mereka” menganjurkan (mensunnahkan) agar memberikan makan
(pahalanya) untuk yang meninggal selama 7 hari tersebut”. 

Riwayat ini sebutkan oleh Imam Ahmad Ahmad bin Hanbal didalam az-Zuhd.

[1]. Imam Abu Nu’aim al-Ashbahani (w. 430 H) juga menyebutkannya didalam Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiyah.


[2] Sedangkan Thawus bin Kaisan al-Haulani al-Yamani adalah seorang
tabi’in (w. 106 H) ahli zuhud, salah satu Imam yang paling luas
keilmuannya.


[3] Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974) dalam al-Fatawa al-Fiqhiyyah
al-Kubraa dan Imam al-Hafidz as-Suyuthi (w. 911 H) dalam al-Hawil
lil-Fatawi mengatakan bahwa dalam riwayat diatas mengandung pengertian
bahwa kaum Muslimin telah melakukannya pada masa Rasulullah, sedangkan
Rasulullah mengetahui dan taqrir terhadap perkara tersebut. Dikatakan
(qil) juga bahwa para sahabat melakukannya namun tidak sampai kepada
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Atas hal ini kemudian
dikatakan bahwa khabar ini berasal dari seluruh sahabat maka jadilah itu
sebagai Ijma’, dikatakan (qil) hanya sebagian shahabat saja, dan
masyhur dimasa mereka tanpa ada yang mengingkarinya.


[4] Ini merupakan anjuran (kesunnahan) untuk mengasihi (merahmati)
mayyit yang baru meninggal selama dalam ujian didalam kuburnya dengan
cara melakukan kenduri shadaqah makan selama 7 hari yang pahalanya untuk
mayyit. Kegiatan ini telah dilakukan oleh para sahabat, difatwakan oleh
mereka. Sedangkan ulama telah berijma’ bahwa pahala hal semacam itu
sampai dan bermanfaat bagi mayyit.


[5] Kegiatan semacam ini juga berlangsung pada masa berikutnya,
sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam al-Hafidz as-Suyuthiy;
“Sesungguhnya sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai
kepadaku (al-Hafidz) bahwa sesungguhnya amalan ini berkelanjutan
dilakukan sampai sekarang (masa al-Hafidz) di Makkah dan Madinah. Maka
secara dhahir, amalan ini tidak pernah di tinggalkan sejak masa para
shahabat Nabi hingga masa kini (masa al-Hafidz as-Suyuthi), dan
sesungguhnya generasi yang datang kemudian telah mengambil amalan ini
dari pada salafush shaleh hingga generasai awal Islam. Dan didalam
kitab-kitab tarikh ketika menuturkan tentang para Imam, mereka
mengatakan “manusia (umat Islam) menegakkan amalan diatas kuburnya
selama 7 hari dengan membaca al-Qur’an’.


[6] Shadaqah seperti yang dilakukan diatas berlandaskan hadits Nabi yang banyak disebutkan dalam berbagai riwayat.


[7] Lebih jauh lagi dalam hadits mauquf dari Sayyidina Umar bin
Khaththab, disebutkan dalam al-Mathalib al-‘Aliyah (5/328) lil-Imam
al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852) sebagai berikut: 

قال أحمد بن منيع حدثنا يزيد بن
هارون حدثنا حماد بن سلمة عن علي بن زيد عن الحسن عن الحنف بن قيس قال كنت
أسمع عمر رَضِيَ الله عَنْه يقول لا يدخل أحد من قريش في باب إلا دخل معه
ناس فلا أدري ما تأويل قوله حتى طعن عمر رَضِيَ الله عَنْه فأمر صهيبا
رَضِيَ الله عَنْه أن يصلي بالناس ثلاثا وأمر أن يجعل للناس طعاماً فلما
رجعوا من الجنازة جاؤوا وقد وضعت الموائد فأمسك الناس عنها للحزن الذي هم
فيه فجاء العباس بن عبد المطلب رَضِيَ الله عَنْه فقال يا أيها الناس قد
مات الحديث وسيأتي إن شاء الله تعالى بتمامه في مناقب عمر رَضِيَ الله
عَنْه 

Ahmad bin Mani’ berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Ali bin Zayd, dari al-Hasan, dari al-Ahnaf bin Qays,
ia berkata: aku pernah mendengar ‘Umar radliyallahu ‘anh mengatakan,
seseorang dari Quraisy tidak akan masuk pada sebuah pintu kecuali
seseorang masuk menyertainya, maka aku tidak mengerti apa maksud
perkataannya sampai ‘Umar radliyallahu ‘anh di tikam, maka beliau
memerintahkan Shuhaib radliyallahu ‘anh agar shalat bersama manusia
selama tiga hari, dan juga memerintahkan agar membuatkan makanan untuk
manusia. Setelah mereka kembali (pulang) dari mengantar jenazah, dan
sungguh makanan telah dihidangkan, maka manusia tidak mau memakannya
karena sedih mereka pada saat itu, maka sayyidina ‘Abbas bin Abdul
Muththalib radliyallahu ‘anh datang, kemudian berkata; wahai.. manusia
sungguh telah wafat..”
(Al-Hadits), dan Insya Allah selengkapnya dalam Manaqib ‘Umar radliyallah ‘anh”.

Hikmah dari hadits ini adalah
bahwa adat-istiadat amalan seperti Tahlilan bukan murni dari bangsa
Indonesia, melainkan sudah pernah dicontohkan sejak masa sahabat, serta
para masa tabi’in dan seterusnya. Karena sudah pernah dicontohkan inilah
maka kebiasaan tersebut masih ada hingga kini.

Riwayat diatas juga disebutkan
dengan lengkap dalam beberapa kitab antara lain Ithaful Khiyarah (2/509)
lil-Imam Syihabuddin Ahmad bin Abi Bakar al-Bushiriy al-Kinani (w.
840). 

وعن الأحنف بن قيس قال: “كنت أسمع
عمر بن الحنطاب- رضي الله عنه- يقول: لا يدخل رجل من قريش في باب إلا دخل
معه ناس. فلا أدري ما تأويل قوله، حتى طعن عمر فأمر صهيبا أن يصلي بالناس
ثلاثا، وأمر بأن يجعل للناس طعاما، فلما رجعوا من الجنازة جاءوا وقد وضعت
الموائد فأمسك الناس عنها للحزن الذي هم فيه، فجاء العباس بن عبد المطلب
قال: يا أيها الناس، قد مات رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فأكلنا بعده
وشربنا، ومات أبو بكر فأكلنا بعده وشربنا، أيها الناس كلوا من هذا الطعام.
فمد يده ومد الناس أيديهم فأكلوا، فعرفت تأويل قوله “.رواه أحمد بن منيع
بسند فيه علي بن زيد بن جدعان 

“Dan dari al-Ahnaf bin Qays,
ia berkata: aku mendengar ‘Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anh
mengatakan, seseorang dari Quraisy tidak akan masuk pada sebuah pintu
kecuali manusia masuk bersamanya. Maka aku tidak maksud dari
perkataannya, sampai ‘Umar di tikam kemudian memerintahkan kepada
Shuhaib agar shalat bersama manusia dan membuatkan makanan hidangan
makan untuk manusia selama tiga hari. Ketika mereka telah kembali dari
mengantar jenazah, mereka datang dan sungguh makanan telah dihidangkan
namun mereka tidak menyentuhnya karena kesedihan pada diri mereka. Maka
datanglah sayyidina ‘Abbas bin Abdul Muththalib, seraya berkata: “wahai
manusia, sungguh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah wafat,
dan kita semua makan dan minum setelahnya, Abu Bakar juga telah wafat
dan kita makan serta minum setelahnya, wahai manusia.. makanlah oleh
kalian dari makanan ini, maka sayyidina ‘Abbas mengulurkan tangan
(mengambil makanan), diikuti oleh yang lainnya kemudian mereka semua
makan. Maka aku (al-Ahnaf) mengetahui maksud dari perkataannya. Ahmad
bin Mani telah meriwayatkannya dengan sanad didalamnya yakni ‘Ali bin
Zayd bin Jud’an”.

Disebutkan juga Majma’ az-Zawaid
wa Manba’ul Fawaid (5/159) lil-Imam Nuruddin bin ‘Ali al-Haitsami (w.
807 H), dikatakan bahwa Imam ath-Thabrani telah meriwayatkannya, dan
didalamnya ada ‘Ali bin Zayd, dan haditsnya hasan serta rijal-rijalnya
shahih; Kanzul ‘Ummal fiy Sunanil Aqwal wa al-Af’al lil-Imam ‘Alauddin
‘Ali al-Qadiriy asy-Syadili (w. 975 H); Thabaqat al-Kubra (4/21)
lil-Imam Ibni Sa’ad (w. 230 H); Ma’rifatu wa at-Tarikh (1/110) lil-Imam
Abu Yusuf al-Farisi al-Fasawi (w. 277 H); Tarikh Baghdad (14/320)
lil-Imam Abu Bakar Ahmad al-Khathib al-Baghdadi (w. 463 H). 

Wallahu A’lam.

 

BACA JUGA:  Siapakah Kaum Ahlussunnah Wal Jamaah ?

Referensi:

[1] Lihat: Syarah ash-Shudur
bisyarhi Hal al-Mautaa wal Qubur; Syarah a-Suyuthi ‘alaa Shahih Muslim,
Hasyiyah as-Suyuthi ‘alaa Sunan an-Nasaa’i dan al-Hafi lil-Fatawi
lil-Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi; Lawami’ al-Anwar al-Bahiyyah
(2/9) lil-Imam Syamsuddin Muhammad as-Safarainy al-Hanbali (w. 1188 H);
Sairus Salafush Shalihin (1/827) lil-Imam Isma’il bin Muhammad
al-Ashbahani (w. 535 H); Imam al-Hafidz Hajar al-Asqalani (w. 852 H)
didalam al-Mathalibul ‘Aliyah (834).

[2] Lihat: Hilyatul Auliya’ wa
Thabaqatul Ashfiyaa’ lil-Imam Abu Nu’aim al-Ashbahaniy: “menceritakan
kepada kami Abu Bakar bin Malik, menceritakan kepada kami Abdullah bin
Ahmad bin Hanbal, menceritakan kepada kami ayahku (Ahmad bin Hanbal),
menceritakan kepada kami Hisyam bin al-Qasim, menceritakan kepada kami
al-Asyja’iy, dari Sufyan, ia berkata: Thawus telah berkata:
“sesungguhnya orang mati di fitnah (diuji oleh malaikat) didalam
kuburnya selama 7 hari, maka ‘mereka’ menganjurkan untuk melakukan
kenduri shadaqah makan yang pahalanya untuk mayyit selama 7 hari
tersebut”.

[3] Lihat: al-Wafi bil Wafiyaat
(16/236) lil-Imam ash-Shafadi (w. 764 H), disebutkan bahwa ‘Amru bin
Dinar berkata: “aku tidak pernah melihat yang seperti Thawus”. Dalam
at-Thabaqat al-Kubra li-Ibni Sa’ad (w. 230 H), Qays bin Sa’ad berkata;
“Thawus bagi kami seperti Ibnu Siirin (sahabat) bagi kalian”. 

[4] Lihat; al-Fatawa
al-Fiqhiyyah al-Kubra (2/30-31) lil-Imam Syihabuddin Syaikhul Islam Ibnu
Hajar al-Haitami ; al-Hawi al-Fatawi (2/169) lil-Imam al-Hafidz
Jalaluddin as-Suyuthiy.

[5] Lihat: Syarah Shahih Muslim (3/444) li-Syaikhil Islam Muhyiddin an-Nawawi asy-Syafi’i.

[6] Lihat: al-Hawi al-Fatawi (2/179) lil-Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi.

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker