Salafi Wahabi

Astaghfirullah…, Ulama Wahabi Salafi Mensifati Allah dengan Sifat Bosan

Ulama Wahabi Salafi Mensifati Allah dengan Sifat Bosan, Astaghfirullah…!

Seorang ulama wahabi salafi, pengikut paham Muhammad bin Abdul Wahhab dan yang selalu diagung-agungkan oleh para pengekornya yaitu Muhammad bin Sholeh bin Utsaimin mengeluarkan fatwa yang cukup berani dan lancang tentang kemaha sucian Allah Swt. Dengan bangga dan tanpa rasa malu ia berani mengatakan bahwa Allah Swt memiliki sifat bosan atau malas. Lagi-lagi didasari salah fatal di dalam memahami makna hadits Nabi Saw.

Berikut petikan fatwanya dalam kitab kumpulan fatwa-fatwanya sendiri yang berjudul “ Fatawi Al-Aqidah “ cetakan Darul Jeil Bairut tahun 1414 H, halaman : 51 -52 :

س: هل نفهم من حديث “إن الله لا يمل حتى تملوا”- متفق عليه- أن الله يوصف بالملل؟
الجواب: من المعلوم أن القاعدة عند أهل السنة والجماعة أننا نصف الله تبارك وتعالى بما وصف به نفسه من غير تمثيل ولا تكييف، فإذا كان هذا الحديث يدل على أن لله مللا فإن ملل الله ليس كمثل مللنا …فإنه ملل يليق به عز وجل ولا يتضمن نقصا بوجه من الوجوه

Terjemahnya :

Soal : Apakah kita boleh memahami hadits ini “ Sesungguhnya Allah tidak akan merasa bosan terlebih dahulu hingga kalianlah yang merasa bosan terlebih dahulu “, bahwa Allah boleh disifati dengan sifat bosan ?

Jawab : Sudah maklum bahwa kaidah menurut Ahlus sunnah waljama’ah bahwa kita boleh mensifati Allah Swt dengan apa yang Allah mensifati diri-Nya tanpa perumpamaan dan bagaimananya. Maka jika hadits ini menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat bosan, maka sifat bosan Allah tidak seperti sifat bosan kita. Sifat bosan Allah adalah sifat bosan yang layak bagi Allah Swt dan tidak mengandung kekurangan dari segi manapun “.

BACA JUGA:  Pusat Fatwa Mesir: Kesesatan Aqidah Rububiyah – Uluhiyah Wahabi

Sekarang kita tengok pendapat para ulama Ahlus sunnah waljama’ah yang sebenarnya ( Ulama Aswaja yang asli ) :

– Seorang ulama yang mendapat jabatan Amirul mukminin fil hadits (Masternya ahli hadits) Al-Imam Ibnu Hajar Al-Atsqalani di dalam mengomentari hadits tersebut dalam kitab Fathul Barinya :

( قوله: (لا يمل الله حتى تملوا) هو بفتح الميم في الموضعين، والملال استثقال الشيء ونفور النفس عنه بعد محبته، وهو محال على الله تعالى باتفاق. قال الإسماعيلي رحمه الله وجماعة من السلف المحققين : إنما أطلق هذا على جهة المقابلة اللفظية مجازا.

Hadits Nabi Saw “ Sesungguhnya Allah tidak akan merasa bosan terlebih dahulu hingga kalianlah yang merasa bosan terlebih dahulu “ dengan difathah huruf mimnya di dalam dua tempat.

Bosan adalah merasa berat atas sesuatu dan larinya jiwa darinya setalah mencintainya. Maka dengan sepakat hal ini mustahil bagi Allah Swt.  Al-Isma’ili dan sekelompok ulama salaf berkata “ Sesungguhnya digunakan kata seperti itu dari segi penyesuaian lafadz adalah hanya sekedar majaz/kiasan (bukan hakekatnya)“.

BACA JUGA:  Ancaman Global Wahabi VS Islam Nusantara untuk Dunia

– Pendapat ulama ahli tafsir, imam Qurthubi :

قال القرطبي : وجه مجازه أنه تعالى لما كان يقطع ثوابه عمن يقطع العمل ملالا عبر عن ذلك بالملال من باب تسمية الشيء باسم سببه

“ Arah majaznya bahwasanya Allah Swt ketika memutus pahala dari orang yang memutus amal karena bosan / malas, digunakan dengan kata bosan atau malas adalah karena segi penamaan sesuatu dengan nama sebabnya “.

(Fathul Bari hal : 126)

– Pendapat imam Nawawi :

قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( فَإِنَّ اللَّه لَا يَمَلّ حَتَّى تَمَلُّوا
هُوَ بِفَتْحِ الْمِيم فِيهِمَا ، وَفِي الرِّوَايَة الْأُخْرَى : ( لَا يَسْأَم حَتَّى تَسْأَمُوا ) وَهُمَا بِمَعْنًى قَالَ الْعُلَمَاء : الْمَلَل وَالسَّآمَة بِالْمَعْنَى الْمُتَعَارَف فِي حَقّنَا مُحَال فِي حَقِّ اللَّه تَعَالَى ، فَيَجِب تَأْوِيل الْحَدِيث . قَالَ الْمُحَقِّقُونَ : مَعْنَاهُ لَا يُعَامِلكُمْ مُعَامَلَة الْمَالِّ فَيَقْطَع عَنْكُمْ ثَوَابه وَجَزَاءَهُ ، وَبَسَطَ فَضْله وَرَحْمَته حَتَّى تَقْطَعُوا عَمَلكُمْ

Sabda Nabi Saw “ Sesungguhnya Allah tidak akan merasa bosan terlebih dahulu hingga kalianlah yang merasa bosan terlebih dahulu “. Dengan fathah huruf mimnya. Dalam riwayat lain Nabi bersabda “ Tidaklah Allah malas sampai kamu malas “. Keduanya bermakna sama.

Bosan dan malas satu makna yang sama yang ada pada diri kita dan mustahil bagi Allah Swt, maka hadits tersebut wajib ditakwil. Para ulama muhaqqiq berkata “ Makna hadits tersebut adalah “ Bahwa Allah tidak akan bermuamalah dengan kalian jika kalian malas atau bosan, maka Allah akan memutus pahala dan ganjaran-Nya. Dan Allah membentangkan keutamaan dan rahmat-Nya sampai kalian memutus amal kalian “.

BACA JUGA:  Kaidah Wahabi yang Terus Digembar-gemborkan di Tengah Muslimin

Catatan :

– Lagi-lagi para pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pandai di dalam memahami hadits-hadits Nabi Saw yang mutasyabih. Hanya mengandalkan dhahirnya makna maka mereka terjerumus dalam tasybih dan tajsim.

– Mereka ( wahabi salafi ) telah menyalahi pendapat mayoritas ulama ahlu sunnah waljama’ah dalam makna hadits tersebut dan hadits-hadits lain yang semisalnya.

– Apakah para ulama ahlus sunnah tidak memahami sifat-sifat Allah Swt sehingga tidak bisa memahami hadits tersebut di atas ? dan datang di akhir zaman ini ulama yang lebih memahami sifat-sifat Allah ketimbang ulama-ulama besar sebelumnya ?

– Siapakah yang kalian ( Wahabi Salafi ) ikuti, ulama besar seperti Imam Ibnu Hajar sang master ahli hadits, imam Nawawi, imam Qurthubi dan yang lainnya dari ulama Ahlus sunnah walama’ah ataukah mereka yang mengaku-ngaku pengikuit salaf belakangan ini ?

 

(Al-Katibiy, 14-03-2012)

Oleh: Ibnu Abdillah Al-Katibiy

https://www.facebook.com/ibnu.alkatibiy

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - Astaghfirullah..., Ulama Wahabi Salafi Mensifati Allah dengan Sifat Bosan
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.
Tags

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

61 thoughts on “Astaghfirullah…, Ulama Wahabi Salafi Mensifati Allah dengan Sifat Bosan”

  1. he..he..he… maklum wahabi salafi (SALAh FIkir??) tu hanya bisa pahami teks2 scara dhohir.. bahkan terkadang dengan teks dzohir pun belum paham dan masih minta “DI CONTOH’ kan.. hemmm.. jadi ingat waktu ngajari anak2 TK. dikit2…coontoh.. klw perlu mesti pake alat peraga..

    1. ada tidak nukilan perkataan ulama-ulama salaf selain, Ibnu Hajar Atsqalani, Imam An Nawawi, Imam Al Qurthubi tentang hal ini(menafsirkan ayat-ayat asma dan sifat Allah)??
      kalau ada tolong dipostingkan juga ya supaya lebih mantap, karena kalau cuma itu doank, terasa kurang pas gitu ya. karena keempat ulama tsb. memang terkenal/populer akan kesalahannya yang berupa menafsirkan ayat-ayat Asma’ Was Sifat…

      dan kalian alangkah baiknya jangan memamamfaatkan kesalahan-ulama-ulama kita…!

      1. Syathir Salaman…., makanya di akhir artikel ditanyakan kepada kalian penganut Wahabisme (Salafy Wahabi), “Siapakah yang kalian ( Salafi Wahabi ) ikuti, ulama besar seperti Imam Ibnu Hajar sang master ahli hadits, imam Nawawi, imam Qurthubi dan yang lainnya dari ulama Ahlus sunnah walama’ah ataukah mereka yang mengaku-ngaku pengikuit salaf belakangan ini ?”

        Dasar Wahabi songong banget Nte, ke empat Ulama Besar Ahluusunnah tsb Nte katain banyak salahnya, lalu yg bener itu bin Baz dan Utsaimin? Adaada aja nih Wahabi…

        1. @della mariska tampubolon…
          silahkan baca kembali dengan seksama tulisan saya di atas!!

          saya tidak mengatakan bahwa ke empat ulama tersebut banyak salahnya… saya hanya berkata,”keempat ulama tsb. memang terkenal/populer akan kesalahannya yang berupa menafsirkan ayat-ayat Asma’ Was Sifat…”

          ke empat ulama –semoga Allah merahmati mereka- tersebut terjerumus kedalam kesalahan yang berupa menafsirkan/menakwilkan ayat-ayat asma dan sifat Allah..,

          kamu berkata: Dasar Wahabi songong banget Nte, ke empat Ulama Besar Ahluusunnah tsb Nte katain banyak salahnya, lalu yg bener itu bin Baz dan Utsaimin? Adaada aja nih Wahabi…

          Aku Jawab:
          – saya bukan wahabi, saya adalah salafy, perkataan yang paling benar yaitu Firman Allah, dan Sabda Rasul-Nya, kedua wahyu ini difahami dengan mengikuti pemahaman para sahabat, setiap perkataan bisa saja diterima atau ditolak kecuali perkataan Allah dan Rasul-Nya. jadi, siapapun orangnya, bila pekataannya sesuai dengan kedua wahyu tersebut, maka kami terima, dan apabila tidak sesuai, maka kami tolak,
          (apakah itu ibnu Bazz, Ibnu Utsaimin, Iman An Nawawi, Ibnu Hajar, dan lain-lain, ….serta nte)

          dan Bukan urusanku bila kamu tidak mengerti..

  2. wah …wah…wah mungkin orang2 dari golongan salafy ada yang belum tahu kalau Muhammad Nashirudin Al albani yang kata mereka (Salafi) kepandaian al Albani dalam ilmu Hadist sederajat dengan keilmuan Imam Bukhari pada jamanya,mengakui bahwa sesungguhya Beliau (al Albani) tidak hafal 10 Hadist pun dengan sanad muttashil (bersambung)sampai kepada Rasulullah,jadi wajarlah kalau golongan orang salafi itu adalah kumpulan orang keras kepala,dungu,dan goblok,lebih anehnya gobloknya itu lho dari jaman abdul wahab sampai sekarang kog masih dipelihara He..he…he…

  3. @ Hendra:
    kang…tolong dong jangan pakai kata2 kasar. nanti hati ente jd mengeras…
    jengkel/marah boleh, tapi kudu tahan dr godaan memaki…oche kang Hendra? jangan smp kang Hendra jd dosa gara2 maki2 orang…

  4. @syatir salman
    klw ente mw lebih banyak baca, ente akan menemukan banyak sahabat n ulama salaf yg melakukan penakwilan.. klw diposting smua bisa jadi buku beberapa jilid? hampir smua kitab tafsir yang ada saat ini, dipenuhi dengan takwil2 yg sesuai dengan kaidah tatabahasa dan sastra arab 😀 belum pernah ngaji kitab tafsir ya??:(

    1. @ASY-SAIDANI
      kamu berkata: klw ente mw lebih banyak baca, ente akan menemukan banyak sahabat n ulama salaf yg melakukan penakwilan…
      saya jawab: betul, betul, betul, bahwa klw saya lebih banyak baca, saya akan menemukan banyak sahabat dan ulama salaf yang melakukan penakwilan, akan tetapi yang saya maksud di sini adalah khusus penakwilan mereka dalam hal ayat-ayat asma was sifat…
      jadi yang saya minta untuk dipostingkan di sini adalah nukilan perkataan ulama-ulama salaf yang menafsirkan atau menakwilkan ayat-ayat asma dan sifat Allah. dan sekali lagi, takwilan mereka terhadap ayat-ayat asma dan sifat Allah…
      karena tafsir yang benar terhadap ayat-ayat asma dan sifat Allah adalah “membacanya dan kemudian diam”.

  5. @kang Syatir

    jutru yg gak diam bukannya ulama2 Salafi, kang?
    coba anda baca tulisan ustadz2 anda bbrp thn yg lalu…keras2 kang..
    “Barangsiapa yg tidak tahu Allah ada dimana maka dia telah kafir!” itu yg ngomong ulama Salafi di internet bbrp thn yg lalu…trus pk fatwa2 syekh2 Arab Saudi yg takfiri…
    cuma skr emang lebih halus gara2 byk yg protes sama hobby takfiri cuma gara2 bahas ayat2 mustasyabihat.
    jadi tulisan anda gak konsisten….
    krn pd kenyataannya justru ulama2 anda yg mem-blow up masalah asma wa sifat ini di internet, memperbincangkan dan gak mau diam, plus vonis2 kafir bagi yg berbeda pandangan.

    makin lama makin ngeri aja ulama anda…malah ada yg berpandangan bhw Allah punya kemaluan…tapi pake ditutupi dg kata “Laisa kamitslihi syai’un”.
    saya baca http://www.wildwestwahabi.wordpress.com
    makin lama akidahnya jd mirip Yahudi aja kang….

    Kalau anda konsisten dg ucapan anda yg menatakan bahwa para ulama salaf berakidah sama dg anda…harusnya anda menerima akidahnya Imam Ali bin Abi Thalib yg mengatakan bahwa “Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah”.

    Inget kang…ada aksi pasti ada reaksi…

    1. -yang di maksud diam di sini adalah diam dari membicarakan bagaimana Asma dan sifat Allah, tidak memikirkan bagaimana Asma dan sifat Allah,
      kata diam disini bukan berarti diam total dari membicarakan Asma dan sifat Allah., artinya kita hanya membicarakan-Nya sebatas yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya.

      thx

    2. Dari Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy -pemilik kitab Al Fiqhul Akbar-, beliau berkata,

      Aku bertanya pada Abu Hanifah mengenai perkataan seseorang yang menyatakan, “Aku tidak mengetahui di manakah Rabbku, di langit ataukah di bumi?” Imam Abu Hanifah lantas mengatakan, “Orang tersebut telah kafir karena Allah Ta’ala sendiri berfirman,

      “Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”.[QS. Thaha: 5.] Dan ‘Arsy-Nya berada di atas langit.” Orang tersebut mengatakan lagi, “Aku berkata bahwa Allah memang menetap di atas ‘Arsy.” Akan tetapi orang ini tidak mengetahui di manakah ‘Arsy, di langit ataukah di bumi. Abu Hanifah lantas mengatakan, “Jika orang tersebut mengingkari Allah di atas langit, maka dia kafir.”[Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, Adz Dzahabi, hal. 135-136, Maktab Adhwaus Salaf, Riyadh, cetakan pertama, 1995.]

  6. Sorry…untuk kalimat terakhir diralat…

    kalau kang Syathir konsisten dg ucapannya yg katanya ngikutin ulama Salaf…harusnya kang Syatir berakidah yg sama dg akidahnya Imam Ali bin Abi Thalib, yg notabene mengatakan bhw “Allah ada tanpa tempat dan tanpa aah”.

    Nah…Imam Syafi’i akidahnya “Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah”, pastinya beliau ngikutin gurunya yaitu Imam Malik… Sedangkan Imam Malik ngikutin gurunya yg juga bapaknya sendiri yaitu Anas bin Malik…
    Anas bin Malik ini bukannya anak angkat Rasulullah Saw????
    Itulah perlunya madzhab….

  7. @syatir
    ===karena tafsir yang benar terhadap ayat-ayat asma dan sifat Allah adalah “membacanya dan kemudian diam”.==
    —- >ana sepakat juga, tapi apakah kata “membacanya dan kemudian diam” sama dengan menetapkan artinya secara hakikat? Sehingga pd kasus ini bisa dikatakan allah mempunyai sifat bosan atw pd kasus ayat yg lain allah mempunyai sifat lupa? Menurut pemahaman ana kata“membacanya dan kemudian diam” sama dengan tafwidl”. Namun bukankah tafwidl ini oleh sebagian ulama wahabi dikatakan bid’ah sesat?

  8. kata “membacanya dan kemudian diam” sama dengan menetapkan artinya secara hakikat. Sehingga pd kasus ini bisa dikatakan Allah mempunyai sifat bosan atw pd kasus ayat yg lain Allah mempunyai sifat tidak lupa. kata“membacanya dan kemudian diam” TIDAK sama dengan tafwidl” karena kita diperintahkan membahas-Nya sebatas yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya. telah diketahui bahwa Allah ta’ala memerintahkan untuk memahami Al-Qur’an dan mendorong kita untuk memikirkan dan memahaminya. Maka bagaimana kita dibolehkan berpaling dari mengenal, memahami dan memikirkan ?”. kita diam di sini dalam hal bagaimana-Nya.

    Imam Malik pernah ditanya dalam majelisnya tentang ayat Allah:
    “Ar-Rahman bersemayam di atas ‘Arsynya”.(Thaha:5),
    bagaimana caranya Allah bersemayam?. Maka Imam Malik menjawab:” Bersemayam itu maklum (diketahui maknanya), bagaimananya (caranya) tidak diketahui, menanyakan bagaimananya adalah bid’ah, dan saya memandang kamu (penanya) sebagai orang yang sesat, kemudian memerintahkan untuk mengeluarkan penanya tersebut dari majelis.

  9. @Syatir
    ==kata “membacanya dan kemudian diam” sama dengan menetapkan artinya secara hakikat.
    — > ha..ha.. ha.. menggelikannya ente? “diam” kok sama dengan menetapkan artinya secara hakikat. Bagaimana orang2 yg berakal sehat mengucapkan hal kontradiktif begini tampa malu2. Juga, hakikat yg mana yg ente maksud? Hakikat syar’iyah, lughowiyah, ‘urfiyah?
    == Sehingga pd kasus ini bisa dikatakan Allah mempunyai sifat bosan atw pd kasus ayat yg lain Allah mempunyai sifat lupa.
    — > ha.. ha.. ha..ha.. allah bosan? Lupa? Sakit?
    == telah diketahui bahwa Allah ta’ala memerintahkan untuk memahami Al-Qur’an dan mendorong kita untuk memikirkan dan memahaminya.
    —- > klw ente mau berfikir maka ente akan paham bahwa allah tidak mngkin PELUPA juga TIDAK BOSANAN.
    == Maka bagaimana kita dibolehkan berpaling dari mengenal, memahami dan memikirkan ?”.
    — > ya akhi.. betapa mudahnya mengenali Allah klw hanya sekedar mengatakan allah punya 2 tangan, 2 kaki, 2 lambung, 2 mata, 2telinga, 1 hidung, 1 mulut, 1 kepala dst…masih mengelakkah klw ente dikatakan MUJASSIMAH- MUSYABBIHAH?
    == kita diam di sini dalam hal bagaimana-Nya.
    — > bukankah definisi LUPA itu sudah jelas?

  10. @kang Syatir
    secara tidak sadar, anda telah mentakwilkan scr lahiriah kpd Allah Swt.
    dan untuk orang2 tertentu yg akalnya tidak jalan, mrk tentu akan membayangkan bentuk2 Allah jk dikatakan Allah memiliki tangan, kaki, lambung, geraham, mulut, hidung, mata, memiliki ukuran, bentuk, dsb. Ini adalah efek psikologis dr takwil lahiriah yg kalian sematkan kpd Allah Swt.

    Tahukah anda, Al-Qur’an itu adalah sastra kelas tinggi…di dalamnya banyak kata2 kiasan yg memukau para sastrawan di jaman Rasulullah Saw hidup. sehingga pd saat Al-Qur’an diperdengarkan kpd kaum jahiliyah di masa Nabi Saw hidup, mrk sangat terpesona dg gaya bahasa Al-Qur’an yg tinggi.

    Skr muncul umat Islam yg tidak berilmu, memahami ayat2 Al-Qur’an secara tekstual….kemudian menakwilkan scr lahiriah…tanpa mengadakan penyelidikan dahulu, apakah kalimat tsb berbentuk kiasan atau tidak…

    sampai2 saking hobby mengartikan ayat scr tekstual, ungkapan2 puitis ulama sufi yg menggunakan kata2 kiasan pun diartikan scr lahiriah/tekstual….kemudian menuduh mrk semua sesat…kafir…dsb

  11. @Asy-Saidani
    saya katakan kepada anda:
    – kata diam disini telah saya rincikan pada komentar di atas.-silahkan baca kembali dengan seteliti mungkin- yang saya maksud diam di sini adalah diam dari membicarakan bagaimana Asma dan sifat Allah, kata diam disini bukan berarti diam total dari membicarakan Asma dan sifat Allah., artinya kita hanya membicarakan-Nya sebatas yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya. DIAM DI SINI ARTINYA TIDAK BICARA
    -kalau saya diam, apakah saya tidak bisa menetapkan ayat-ayat yang berbicara tentang sifat Allah, dan saya pun mengetahui makna hakikinya sebagaimana yang ditetapkan Oleh Allah Bagi Diri-Nya? sebatas yang di maukan oleh Allah Dan Rasul-Nya? Dengan menjaga batasan-batasan yang telah yang digariskan Allah?dengan cara/jalan yang telah dilalui orang-orang mukmin? jelas-jelas saya bisa -dengan pertolongan Allah-. mau tau bagaimana saya menetapkan makna ayat-ayat Asma’ dan Sifat Allah dalam kedaan diam? mau tau? pengen tau? ingin tau? inilah jawabannya… SAYA MENULISNYA DALAM KEADAAN DIAM, SAYA MENETAPKAN ARTINYA/MAKNANYA SECARA HAKIKAT DALAM KEADAAN DIAM DENGAN CARA MENULISNYA…
    DENGAN DEMIKIAN, JIKALAU SAYA BERKATA, “kata “membacanya dan kemudian diam” sama dengan menetapkan artinya secara hakikat,” ITU TIDAKLAH MENGAPA… HANYA SAJA KALAU SAYA BERKATA SEPERTI INI, BIASANYA SAPI TIDAK MENGERTI. BUKAN KEWAJIBANKU YA, BILA SAPI TIDAK MENGERTI.
    adapun Hakekat yang saya maksud adalah Asal makna dari satu perkataan, yaitu makna yang langsung bisa tertangkap dari pembicaraan.
    Banyak dalil yang menerangkan akan hal itu, untuk selengkapnya silahkan klik http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/03/at-tafwidl.html

    -lanjut di bawah-

  12. @Asy-Saidani
    saya katakan kepada anda:
    – kata diam disini telah saya rincikan pada komentar di atas.-silahkan baca kembali dengan seteliti mungkin- yang saya maksud diam di sini adalah diam dari membicarakan bagaimana Asma dan sifat Allah, kata diam disini bukan berarti diam total dari membicarakan Asma dan sifat Allah., artinya kita hanya membicarakan-Nya sebatas yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya. DIAM DI SINI ARTINYA TIDAK BICARA
    -kalau saya diam, apakah saya tidak bisa menetapkan ayat-ayat yang berbicara tentang sifat Allah, dan saya pun mengetahui makna hakikinya sebagaimana yang ditetapkan Oleh Allah Bagi Diri-Nya? sebatas yang di maukan oleh Allah Dan Rasul-Nya? Dengan menjaga batasan-batasan yang telah yang digariskan Allah?dengan cara/jalan yang telah dilalui orang-orang mukmin? jelas-jelas saya bisa -dengan pertolongan Allah-. mau tau bagaimana saya menetapkan makna ayat-ayat Asma’ dan Sifat Allah dalam kedaan diam? mau tau? pengen tau? ingin tau? inilah jawabannya… SAYA MENULISNYA DALAM KEADAAN DIAM, SAYA MENETAPKAN ARTINYA/MAKNANYA SECARA HAKIKAT DALAM KEADAAN DIAM DENGAN CARA MENULISNYA…
    DENGAN DEMIKIAN, JIKALAU SAYA BERKATA, “kata “membacanya dan kemudian diam” sama dengan menetapkan artinya secara hakikat,” ITU TIDAKLAH MENGAPA… HANYA SAJA KALAU SAYA BERKATA SEPERTI INI, BIASANYA SAPI TIDAK MENGERTI. BUKAN KEWAJIBANKU YA, BILA SAPI TIDAK MENGERTI.
    adapun Hakekat yang saya maksud adalah Asal makna dari satu perkataan, yaitu makna yang langsung bisa tertangkap dari pembicaraan.
    Banyak dalil yang menerangkan akan hal itu, untuk selengkapnya silahkan klik http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/03/at-tafwidl.html

    lanjut di bawah

  13. anda telah berkata:
    == Sehingga pd kasus ini bisa dikatakan Allah mempunyai sifat bosan atw pd kasus ayat yg lain Allah mempunyai sifat lupa.
    — > ha.. ha.. ha..ha.. allah bosan? Lupa? Sakit?
    == telah diketahui bahwa Allah ta’ala memerintahkan untuk memahami Al-Qur’an dan mendorong kita untuk memikirkan dan

    memahaminya.
    —- > klw ente mau berfikir maka ente akan paham bahwa allah tidak mngkin PELUPA juga TIDAK BOSANAN.
    == Maka bagaimana kita dibolehkan berpaling dari mengenal, memahami dan memikirkan ?”.
    — > ya akhi.. betapa mudahnya mengenali Allah klw hanya sekedar mengatakan allah punya 2 tangan, 2 kaki, 2 lambung, 2 mata,

    2telinga, 1 hidung, 1 mulut, 1 kepala dst…masih mengelakkah klw ente dikatakan MUJASSIMAH- MUSYABBIHAH?
    == kita diam di sini dalam hal bagaimana-Nya.
    — > bukankah definisi LUPA itu sudah jelas?
    saya jawab:
    hanya satu hal yang akan saya komentari disini, yaitu hasil baca anda ini pada komentar saya di atas, “Sehingga pd kasus ini

    bisa dikatakan Allah mempunyai sifat bosan atw pd kasus ayat yg lain Allah mempunyai sifat lupa.” seperti itukah komentar

    saya yang tertera di atas?? seperti itukah??? silahkan buka kedua bola mata anda lebar-lebar. kalau perlu gunakan kaca

    pembesar(lensa)!! tapi tidak usah pakai teropong ya!!

    sekarang sudah jelas bukan?? bahwa teks komentar saya tidak seperti yang kamu baca, tidak seperti yang kamu harapkan. karena yang saya tulis adalah “…Sehingga pd kasus ini bisa dikatakan Allah mempunyai sifat bosan atw pd kasus ayat yg lain Allah mempunyai sifat tidak lupa…”

    ADA KATA “TIDAK” SEBELUM KATA “LUPA” (TIDAK LUPA, TIDAKLAH TUHANMU KUPA)

    Kebenaran dan kebaikan yang anda dapatkan dari komentar saya di website ini datangnya dari Allah Ta’ala, adapun yang berupa kesalahan datangnya dari syaithan, dan kami berlepas diri dari kesalahan tersebut ketika kami masih hidup ataupun ketika sudah mati.

    SELESAI

    1. (EDISI REVISI)
      anda telah berkata:
      == Sehingga pd kasus ini bisa dikatakan Allah mempunyai sifat bosan atw pd kasus ayat yg lain Allah mempunyai sifat lupa.
      — > ha.. ha.. ha..ha.. allah bosan? Lupa? Sakit?
      == telah diketahui bahwa Allah ta’ala memerintahkan untuk memahami Al-Qur’an dan mendorong kita untuk memikirkan dan

      memahaminya.
      —- > klw ente mau berfikir maka ente akan paham bahwa allah tidak mngkin PELUPA juga TIDAK BOSANAN.
      == Maka bagaimana kita dibolehkan berpaling dari mengenal, memahami dan memikirkan ?”.
      — > ya akhi.. betapa mudahnya mengenali Allah klw hanya sekedar mengatakan allah punya 2 tangan, 2 kaki, 2 lambung, 2 mata,

      2telinga, 1 hidung, 1 mulut, 1 kepala dst…masih mengelakkah klw ente dikatakan MUJASSIMAH- MUSYABBIHAH?
      == kita diam di sini dalam hal bagaimana-Nya.
      — > bukankah definisi LUPA itu sudah jelas?
      saya jawab:
      hanya satu hal yang akan saya komentari disini, yaitu hasil baca anda ini pada komentar saya di atas, “Sehingga pd kasus ini

      bisa dikatakan Allah mempunyai sifat bosan atw pd kasus ayat yg lain Allah mempunyai sifat lupa.” seperti itukah komentar

      saya yang tertera di atas?? seperti itukah??? silahkan buka kedua bola mata anda lebar-lebar. kalau perlu gunakan kaca

      pembesar(lensa)!! tapi tidak usah pakai teropong ya!!

      sekarang sudah jelas bukan?? bahwa teks komentar saya tidak seperti yang kamu baca, tidak seperti yang kamu harapkan. karena yang saya tulis adalah “…Sehingga pd kasus ini bisa dikatakan Allah mempunyai sifat bosan atw pd kasus ayat yg lain Allah mempunyai sifat tidak lupa…”
      ADA KATA “TIDAK” SEBELUM KATA “LUPA” (TIDAK LUPA, TIDAKLAH TUHANMU LUPA)

      Kebenaran dan kebaikan yang anda dapatkan dari komentar saya di website ini datangnya dari Allah Ta’ala, adapun yang berupa kesalahan datangnya dari syaithan, dan kami berlepas diri dari kesalahan tersebut ketika kami masih hidup ataupun ketika sudah mati.

      SELESAI

  14. @kang Syatir
    sebenarnya, anda sadar gak dg yg anda tulis dan katakan?
    anda mengatakan seolah2 Imam Malik anti takwil dg menyitir pendapat beliau ttg surah At-Thaha:5
    Imam Malik pernah ditanya dalam majelisnya tentang ayat Allah:
    “Ar-Rahman bersemayam di atas ‘Arsynya”.(Thaha:5),
    bagaimana caranya Allah bersemayam?. Maka Imam Malik menjawab:” Bersemayam itu maklum (diketahui maknanya), bagaimananya (caranya) tidak diketahui, menanyakan bagaimananya adalah bid’ah, dan saya memandang kamu (penanya) sebagai orang yang sesat, kemudian memerintahkan untuk mengeluarkan penanya tersebut dari majelis.]]]

    padahal kenyataannya, Imam Malik pun mentakwil hadist2 dan ayat seputar asma wa sifat. contoh, Imam Malik menakwilkan hadist ttg turunnya Allah ke langit dunia di 1/3 malam terakhir sebagai “turunnya perintah-Nya”.

    sebenarnya anda yg tidak mengerti maksud dr Imam Malik, atau memang anda taklid buta thdp ulama2 Salafi/Wahabi???

    1. …Astaghfirullah…Na’udzubillahi min dzalik, sungguh berat dan besar perkara tuduhan kamu…
      Rupanya inilah ajaran ahli hakekat??? seenaknya menuduh2 org sembarangan tanpa bukti, seenaknya menuduh2 org yg diluar ajarannya itu taklid buta thdp ulama2 Salafi.
      Astaghfirullah…org yg menuduh hendaknya mendatangkan bukti bila tidak mau disebut fitnah.

  15. Kelihatan rendah sekali ilmu penulis artikel diatas. Banyak-banyak belajar ya kang…Orang-orang yang berilmu tidak akan terpengaruh dengan penipuan anda.

  16. @prabu
    Saya berlindung kepada Allah Ta’ala dari tuduhan yg kamu berikan bahwa ((sebenarnya saya yg tidak mengerti maksud dr Imam Malik, atau memang saya taklid buta thdp ulama2 Salafi/Wahabi.))

    memangnya darimana kamu tahu bahwa((( Imam Malik mentakwil hadist2 dan ayat seputar asma wa sifat. contoh, Imam Malik menakwilkan hadist ttg turunnya Allah ke langit dunia di 1/3 malam terakhir sebagai “turunnya perintah-Nya”.)))?? siapa yang meriwayatkan?? dimana kamu dapat??? bagaimana dengan sanad-nya??? shahih-kah???

    begitu pula dengan perkataan Anda berikut.
    (((kalau kang Syathir konsisten dg ucapannya yg katanya ngikutin ulama Salaf…harusnya kang Syatir berakidah yg sama dg akidahnya Imam Ali bin Abi Thalib, yg notabene mengatakan bhw “Allah ada tanpa tempat dan tanpa aah”.

    Nah…Imam Syafi’i akidahnya “Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah”, pastinya beliau ngikutin gurunya yaitu Imam Malik… Sedangkan Imam Malik ngikutin gurunya yg juga bapaknya sendiri yaitu Anas bin Malik…
    Anas bin Malik ini bukannya anak angkat Rasulullah Saw????
    Itulah perlunya madzhab….))??? siapa yang meriwayatkan?? dimana kamu dapat??? bagaimana dengan sanad-nya??? shahih-kah???

    jikalau kamu tidak tahu mengenai SANAD-NYA, bagaimana kamu bisa meyakini kebenarannya??

    SIAPAKAH YANG TAQLID BUTA?
    SIAPAKAH YANG TIDAK SADAR?

    ==>>Barangsiapa yang menjadikan burung gagak sebagai dalil, maka ia akan membawanya melewati bangkai-bangkai anjing

    BEGINI SAJA SAUDARAKU

    jikalau kamu memang membutuhkan penjelasan, silahkan klik

    http://abiubaidah.com/turunnya-allah-ke-langit-dunia.html/

    Orang yang menuduh Salafiyun sebagai Wahhaby mujassimah adalah orang yang tidak paham dengan apa yang mereka tuduhkan…

  17. @kang Syatir:
    Punten ya kang, kalau anda tersinggung…
    tapi terus terang saya mah heran dgn kekerasan hati anda yg hanya memakai satu riwayat ttg Imam Malik, tanpa membandingkan dg riwayat yg lainnya.

    ini saya copy ya, dr blog tetangga:
    Ta’wil imam malik bin anas ra, terhadap hadis ” allah turun di setiap
    sepertiga malam” adalah, yanzilu amrihi ( turunya perintah dan rahmat allah ) pada setiap sepertiga malam “adapun allah azza wajallah, adalah tetap
    tdk bergeser dan tidak berpindah, maha suci Allah yg tiada tuhan selainya ,liat ( attamhid 8/143,}liat {siyaru a’lamun nubala’ 8/105 ) lihat juga ( arrisalatul wafiyah hal 136 karangan abi umar addani ) dan dalam kitab ( syarah an-nawawi ala shohih muslim 6/37,) dan juga ( al-inshaaf karangan ibnu sayyit al-bathliyusi hal 82)

    1. @PRABU
      Salah satu prinsip Ahlus-Sunnah dalam perkara sifat-sifat Allah adalah beriman kepada sifat-sifat (Allah) tersebut sebagaimana yang terdapat dalam Kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam tanpa tahrif (penyelewengan makna), ta’thil (meniadakannya), takyif (menanyakan bagaimana/kaifiyyah), dan tamtsil (mempermisalkannya/menyamakannya dengan makhluk); dan mengimani bahwa Allah subhaanahu wa ta’ala tidak serupa dengan sesuatu apapun, Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Mereka (Ahlus-Sunnah) tidak menafikkan dari-Nya apa-apa yang Allah sifatkan bagi diri-Nya, tidak menyelewengkan kalimat dari makna asalnya, dan tidak pula berbuat ilhad (menentang) terhadap nama-nama dan ayat-ayat Allah, dan tidak pula menanyakan bagaimana (kaifiyah) dan menyamakan sifat-sifat-Nya dengan sifat-sifat makhluk-Nya [sebagaimana perkataan Ibnu Taimiyyah dalam kitab Al-‘Aqiidah Al-Waasithiyyah – melalui At-Ta’liiqaatuz-Zakiyyah ‘alal-‘Aqiidah Al-Waasithiyyah oleh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahmaan Al-Jibriin, 1/81-88; Daarul-Wathaan, Cet. 1/1419].

      Adapun yang anda katakan:
      [[Ta’wil imam malik bin anas ra, terhadap hadis ” allah turun di setiap
      sepertiga malam” adalah, yanzilu amrihi ( turunya perintah dan rahmat allah ) pada setiap sepertiga malam “adapun allah azza wajallah, adalah tetap
      tdk bergeser dan tidak berpindah, maha suci Allah yg tiada tuhan selainya ,liat ( attamhid 8/143,}liat {siyaru a’lamun nubala’ 8/105 ) lihat juga ( arrisalatul wafiyah hal 136 karangan abi umar addani ) dan dalam kitab ( syarah an-nawawi ala shohih muslim 6/37,) dan juga ( al-inshaaf karangan ibnu sayyit al-bathliyusi hal 82)]]
      saya tidak mengetahui apapun tentangnya

      Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(QS. A L – I S R A ‘ ayat 36)

  18. ane moe nanya nih… muhammad abdul wahab dan al-bani sanadnya didapat darimana ???…tolongan beritahukan ane kalau ada yang mengetahui, karena sepengetahuan ane, m. abdul wahab dan albani SANADNYA KAGAK JELASS !!, pintarnya semi-otodidak, maka menurut ane orang beginian kagak perlu di ikutin.. kalo gak yaa… GOBLOK !!!!

  19. tambahin coment nih.. ane satuju dengan kang prabu.. karena kalau kita ngikutin paham mujassimah… maka itu sama berarti menjerumuskan masyarakat awam kepada hal yang lebih syirik… daripada syirik yang dituduhkan oleh wahabi kepada kelompok lain diluar kelompoknya… RENUNGKANLAH OLEH KALIAN SEMUA !!!.. semoga ALLAH SWT menyelematkan kita dari tersesatnya Akidah yang disebabkan oleh paham Mujassimah.. AAMIIN.

  20. @Syatir
    he..he..he… mencermati komen2 ente yang demikian panjang itu … kayaknya cuma sekedar retorika2 yg dihalus2kan tapi kok jauh dari logika ya? he..he..he..

  21. @SYATIR
    == yang saya maksud diam di sini adalah diam dari membicarakan bagaimana Asma dan sifat Allah, kata diam disini bukan berarti diam total dari membicarakan Asma dan sifat Allah
    — > berarti beda dg DIAM yg dimasud oleh kebanyakan ulama salaf. Karena “diam” menurut ulama salaf terkait ayat musytabihat dlm sifat2 allah artinya membaca dan mengimani bhw itu ayat allah, adapun arti sesungguhnya “hanya Allah yg tahu”
    == artinya kita hanya membicarakan-Nya sebatas yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya.
    — > kok ente jadi merasa tahu dg yg “dimaukan Allah” ya? Bodoh gak ketulungan? He..he..
    == DIAM DI SINI ARTINYA TIDAK BICARA,
    — > iya, klw pake pemahaman anak TK
    == kalau saya diam, apakah saya tidak bisa menetapkan ayat-ayat yang berbicara tentang sifat Allah,
    — > kata “klw saya “ dan “apakah saya” apa hubungannya?

    == dan saya pun mengetahui makna hakikinya sebagaimana yang ditetapkan Oleh Allah Bagi Diri-Nya? sebatas yang di maukan oleh Allah Dan Rasul-Nya?
    — > sok tahu dari orang yg merasa tahu! Terlalu pandai atw Bodoh gak ketulungan?
    == Dengan menjaga batasan-batasan yang telah yang digariskan Allah?dengan cara/jalan yang telah dilalui orang-orang mukmin?
    — > klaim kosong tak berbobot.. bicara tanpa dalil n logika?

    1. comment anda:
      == yang saya maksud diam di sini adalah diam dari membicarakan bagaimana Asma dan sifat Allah, kata diam disini bukan berarti diam total dari membicarakan Asma dan sifat Allah
      — > berarti beda dg DIAM yg dimasud oleh kebanyakan ulama salaf. Karena “diam” menurut ulama salaf terkait ayat musytabihat dlm sifat2 allah artinya membaca dan mengimani bhw itu ayat allah, adapun arti sesungguhnya “hanya Allah yg tahu”
      saya jawab:
      Al-Walid bin Muslim berkata : Aku pernah bertanya kepada
      Al-Auza’iy, Malik bin Anas, Sufyan Ats-Tsauriy, dan Al-Laits bin Sa’d tentang hadits-hadits yang berkenaan dengan sifat, maka setiap dari mereka menjawab : “Perlakukanlah (ayat-ayat tentang sifat Allah) sebagaimana datangnya tanpa tafsir” [Diriwayatkan oleh Adz-Dzahabi dalam Al-‘Ulluw, berserta Mukhtashar-nya oleh Al-Albani hal. 142 no. 134 dengan sanad shahih; Al-Maktab Al-Islamy, Cet. 1/1401].
      Maksudnya, perlakukanlah ayat-ayat sifat sesuai dengan dhahir makna yang termuat di dalamnya, tanpa tafsir ke makna-makna selainnya atau menanyakan kaifiyah-nya.[6] Sebab, sesuatu yang telah jelas, tidak perlu penjelasan/tafsir lagi. Apabila diperlukan penjelas/tafsir, maka kembalinya pun pada dhahir bacaan nash itu sendiri sebagaimana dikatakan oleh Sufyaan bin ‘Uyainah :
      “Segala sifat yang Allah sifatkan bagi diri-Nya di dalam Al-Qur’an, penafsirannya adalah (dhahir) bacaannya dan diam terhadapnya” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-I’tiqaad hal. 118 no. 296, tahqiq : Ahmad ’Ishaam Al-Kaatib, Daarul-Aafaaq, Cet. 1/1401; dan Al-Asmaa’ wa Shifat 2/307 no. 869, tahqiq : ‘Abdullah bin Muhammad Al-Hasyidi; Maktabah As-Suwadiy. Atsar ini shahih].
      Makna ‘diam terhadapnya’ yaitu menetapkannya, tidak menambah-nambah, dan tidak menanyakan kaifiyah dari sifat-sifat tersebut.

      Mereka bukanlah orang-orang yang bodoh yang tidak mengerti tentang makna sifat-sifat Allah ketika menetapkannya – sebagaimana anggapan paham Mufawwidlah dari sebagian kalangan Asy’ariyyah.

    2. == artinya kita hanya membicarakan-Nya sebatas yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya.
      — > kok ente jadi merasa tahu dg yg “dimaukan Allah” ya? Bodoh gak ketulungan? He..he..
      saya jawab:
      Allah berfirman:
      dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. (S U R A T A L – A N ‘ A A M :153)

      == DIAM DI SINI ARTINYA TIDAK BICARA,
      — > iya, klw pake pemahaman anak TK
      == kalau saya diam, apakah saya tidak bisa menetapkan ayat-ayat yang berbicara tentang sifat Allah,
      — > kata “klw saya “ dan “apakah saya” apa hubungannya?
      saya jawab:
      “Segala sifat yang Allah sifatkan bagi diri-Nya di dalam Al-Qur’an, penafsirannya adalah (dhahir) bacaannya dan diam terhadapnya” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-I’tiqaad hal. 118 no. 296, tahqiq : Ahmad ’Ishaam Al-Kaatib, Daarul-Aafaaq, Cet. 1/1401; dan Al-Asmaa’ wa Shifat 2/307 no. 869, tahqiq : ‘Abdullah bin Muhammad Al-Hasyidi; Maktabah As-Suwadiy. Atsar ini shahih].
      Makna ‘diam terhadapnya’ yaitu menetapkannya, tidak menambah-nambah, dan tidak menanyakan kaifiyah dari sifat-sifat tersebut.

    3. == dan saya pun mengetahui makna hakikinya sebagaimana yang ditetapkan Oleh Allah Bagi Diri-Nya? sebatas yang di maukan oleh Allah Dan Rasul-Nya?
      — > sok tahu dari orang yg merasa tahu! Terlalu pandai atw Bodoh gak ketulungan?
      saya jawab:
      Mereka(Ahlus Sunnah) menetapkan ayat-ayat yang berbicara tentang sifat Allah, dan mereka pun mengetahui maknanya – sebagaimana hal itu menjadi konsekuensi ayat-ayat yang telah disebutkan. Dan penunjukkan (dilalah) dari ayat-ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah terhadap sifat-sifat Allah menunjukkan (makna) hakekatnya – sebagaimana hal itu juga menjadi prinsip dasar dalam syari’at-syari’at lainnya. Asal makna dari satu perkataan adalah hakekatnya, yaitu makna yang langsung bisa tertangkap dari pembicaraan. Allah ta’ala telah berfirman :
      “Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami-(nya)” [QS. Az-Zukhruf : 3].

    4. == Dengan menjaga batasan-batasan yang telah yang digariskan Allah?dengan cara/jalan yang telah dilalui orang-orang mukmin?
      — > klaim kosong tak berbobot.. bicara tanpa dalil n logika?
      saya jawab:
      cara/jalan yang telah dilalui orang-orang mukmin yaitu Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
      contohnya:
      Ibnu Abi Haatim berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Yahyaa bin ‘Abdak Al-Qazwiiniy : Telah memberitakan kepada kami Al-Muqri’ – yaitu Abu ‘Abdirrahman – ‘Abdullah bin Yaziid : Telah menceritakan kepada kami Harmalah – yaitu Ibnu ‘Imraan At-Tajiibiy Al-Mishriy – : Telah menceritakan kepada kami Abu Yuunus : Aku mendengar Abu Hurairah membaca ayat : ‘‘Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” hingga pada ayat : ‘Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat’ (QS. An-Nisaa’ : 58), lalu ia (Abu Hurairah) meletakkan ibu jari tangannya ke telinganya, dan yang lain (telunjuk) ke matanya, lalu berkata : “Demikianlah aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membacanya dimana beliau juga meletakkan dua jarinya”. Abu Zakariyya berkata : “Al-Muqri’ menyifatkan/memperagakan hal itu kepada kami”. Lalu Abu Zakariyya meletakkan ibu jari tangan kanannya ke mata kanannya dan jari yang lain ke telinga kanannya, dan kami melihatnya, lalu Al-Muqri’ berkata : “Demikianlah, demikianlah”.[2]
      Diriwayatkan pula oleh Abu Daawud, Ibnu Hibbaan dalam Shahih­-nya, Al-Haakim dalam Mustadrak-nya, dan Ibnu Mardawaih dalam Tafsir-nya, dari Abu ‘Abdirrahman Al-Muqri’ dengan sanad semisal. Abu Yuunus ini adalah maula Abu Hurairah, namanya Sulaim bin Jubair” [selesai – Tafsir Ibni Katsiir, 2/341-342, tahqiq : Saamiy bin Muhammad Salaamah; Daaruth-Thayyibah, Cet. 2/1420].

    5. Dapat kita lihat dari ayat, hadits, amalan shahabat, dan juga ulama setelahnya; mereka semua memahami sifat mendengar (as-sam’u) dan mendengar (al-bashar) dengan makna hakekatnya. As-sam’u dinisbatkan untuk sifat Maha Medengar (As-Samii’) terhadap semua perkataan makhluk-Nya, baik yang nampak ataupun tersembunyi; sedangkan Al-bashar dinisbatkan untuk sifat Maha Melihat (Al-Bashiir) terdapat semua perbuatan makhluk-Nya, baik yang nampak ataupun tersembunyi. Pengisyaratan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (yang kemudian diikuti oleh Abu Hurairah dan Ibnu Muqri’) terhadap telinga dan mata bukan untuk menyamakan (tasybiih) sifat Allah dengan makhluk, namun sebagai penjelas bahwa yang dimaksud adalah makna hakiki (dhahir) yang jika sifat itu dinisbatkan kepada manusia, maka itu merujuk pada telinga dan mata mereka. Allah ta’ala berfirman :
      “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [QS. Asy-Syuuraa : 11].
      Allah ta’ala telah menetapkan sifat mendengar dan melihat, dan bersamaan dengan itu Dia menafikkan penyamaan dua sifat tersebut dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Allah Maha Tinggi dengan segala kesempurnaan sifat-sifat-Nya.

  22. @SYATIR
    == jelas-jelas saya bisa -dengan pertolongan Allah-. mau tau bagaimana saya menetapkan makna ayat-ayat Asma’ dan Sifat Allah dalam kedaan diam? mau tau? pengen tau? ingin tau? inilah jawabannya… SAYA MENULISNYA DALAM KEADAAN DIAM, SAYA MENETAPKAN ARTINYA/MAKNANYA SECARA HAKIKAT DALAM KEADAAN DIAM DENGAN CARA MENULISNYA…
    — >jelas2 perkataan orang yg gk paham dg apa yg diucapkannya..

    == DENGAN DEMIKIAN, JIKALAU SAYA BERKATA, “kata “membacanya dan kemudian diam” sama dengan menetapkan artinya secara hakikat,” ITU TIDAKLAH MENGAPA… HANYA SAJA KALAU SAYA BERKATA SEPERTI INI, BIASANYA SAPI TIDAK MENGERTI. BUKAN KEWAJIBANKU YA, BILA SAPI TIDAK MENGERTI.
    — > kata2 SAPI yg mengangap majikannya sbg sapi
    === selengkapnya silahkan klik
    — > abul jauza? Ana kasih dia 3 pertanyaan, gak satupun yg dijawab?

    1. == jelas-jelas saya bisa -dengan pertolongan Allah-. mau tau bagaimana saya menetapkan makna ayat-ayat Asma’ dan Sifat Allah dalam kedaan diam? mau tau? pengen tau? ingin tau? inilah jawabannya… SAYA MENULISNYA DALAM KEADAAN DIAM, SAYA MENETAPKAN ARTINYA/MAKNANYA SECARA HAKIKAT DALAM KEADAAN DIAM DENGAN CARA MENULISNYA…
      — >jelas2 perkataan orang yg gk paham dg apa yg diucapkannya..
      saya jawab:
      saya memahami apa yang saya ucapkan itu.
      “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”(S U R A T Y U N U S :36)

  23. @satir
    BONUS EDISI
    == silahkan buka kedua bola mata anda lebar-lebar. kalau perlu gunakan kaca pembesar(lensa)!! tapi tidak usah pakai teropong ya!!
    — > he..he..Silahkan buka otak ente, biar paham dg arah pembicaraan orang lain.
    ==ADA KATA “TIDAK” SEBELUM KATA “LUPA” (TIDAK LUPA, TIDAKLAH TUHANMU LUPA)
    —- > bukankah allah berfirman” pada hari ini Aku (Allah) melupakan kalian sebagaimana kalian telah melupakan pertemuan hari ini (Kiamat). Mengapa ente mengatakan allah tidak lupa? Takwil ya? Apa Tafwidl?
    ===, adapun yang berupa kesalahan datangnya dari syaithan,
    — > yang berupa kesalahan datang dari kebodohan ente krn taklid pd tokoh2 salafi gadungan (wahabi) dan tidak mau ikut pd ulama salafi yg sesungguhnya?
    === dan kami berlepas diri dari kesalahan tersebut ketika kami masih hidup ataupun ketika sudah mati.
    — > gk tanggung jawab ya?

    1. ==ADA KATA “TIDAK” SEBELUM KATA “LUPA” (TIDAK LUPA, TIDAKLAH TUHANMU LUPA)
      —- > bukankah allah berfirman” pada hari ini Aku (Allah) melupakan kalian sebagaimana kalian telah melupakan pertemuan hari ini (Kiamat). Mengapa ente mengatakan allah tidak lupa? Takwil ya? Apa Tafwidl?
      saya jawab:
      ayat yang saya maksud yaitu:
      Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa.(S U R A T M A R Y A M 19:64)
      (TIDAK LUPA, TIDAKLAH TUHANMU LUPA)
      saya berkata: tidak ada kontradiksi pada ayat di atas,
      Allah berfirman:
      Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.(S U R A T A Z – Z U M A R :9)

    2. Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan kebathilan madzhab tafwidl ini dengan perkataannya :
      ”Adapun kelompok yang ketiga adalah Ahlut-Tajhiil. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang berintisab kepada Sunnah yang mengaku mengikuti kaum Salaf dan mengatakan : ”Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam tidak mengetahui makna-makna ayat-ayat sifat yang diturunkan kepada beliau. Demikian juga Jibril ’alaihis-salaam, ia tidak mengetahui makna-makna ayat tersebut, tidak juga orang-orang yang pertama masuk Islam itu mengetahui maknanya. Demikian juga dengan pendapat mereka mengenai hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah, sebab makna-makna yang terkandung di dalamnya tidak ada yang tahu kecuali hanya Allah semata, padahal Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam telah menyinggung masalah ini sejak semula” [Majmua’ Al-Fataawaa, 5/31-34].

      ”Adapun Tafwidl (menyerahkan makna kepada Allah), sesungguhnya telah diketahui bahwa Allah ta’ala memerintahkan untuk memahami Al-Qur’an dan mendorong kita untuk memikirkan dan memahaminya. Maka bagaimana kita dibolehkan berpaling dari mengenal, memahami dan memikirkan ?”.

      Hingga beliau berkata dengan tegas dalam permasalahan ini :
      ”Maka jelas bahwa Ahlut-Tafwidl yang menyangka dirinya mengikuti As-Sunnah dan As-Salaf adalah seburuk-buruk perkataan Ahlul-Bid’ah dan ilhad” [lihat selengkapnya dalam Dar’ut-Ta’arudl Al-’Aql wan-Naql juz 1 bagian 16 hal. 201-205 – dinukil melalui perantaraan Al-Ajwibatul-Mufiidah Cet. 3, catatan kaki atas pertanyaan no. 40].[7]

  24. @kang Syatir..
    kang Syatir menulis:
    Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(QS. A L – I S R A ‘ ayat 36)

    tanggapan saya:
    sadar nggak kang dengan yg anda tulis???
    anda sendiri tanpa ilmu, hanya mengikuti perkataan Abujauza…jelas Abu Jauza mengakatakan bhw org yg menakwil adalah ahlubid’ah, syubhat, dsb…intinya Abu Jauza mengatakan scr halus bhw org yg melakukan pentakwilan itu sesat dan dianggap menentang ayat2 Allah Swt.
    dan anda, tanpa ilmu yg cukup hanya mengamininya bukan???

    anda sendiri berarti scr tidak sadar telah menuduh para ulama yg melakukan takwil sbg ahlu bid’ah, ahlu syubhat dan sesat…
    artinya scr gak sadar anda telah menuduh Ibnu Abbas Ra (sahabat baginda Rasul Saw) sebagai org yg sesat, krn beliau menakwil ayat2 mustasyabihat

    Imam Syafi’i mengikuti perkataan Imam Malik seputar ayat2 mustasyabihat ttg surah At- thaha 5, namun Imam Syafi’i menjelaskan dlm bukunya bahwa Allah itu berbeda dari makhluk2-Nya yaitu tidak membutuhkan tempat, dan tanpa arah.
    Ulama2 Salaf mereka diam terhadap ayat2 msutasyabihat, namun mereka menyerahkan maknanya kpd Allah Swt. Mrk tidak berkeyakinan bahwa Allah memiliki bentuk…bahkan mengecam org2 yg menyatakan bhw Allah memiliki bentuk.

    tahukah anda, akibat ilmu yg sedikit namun berani berfatwa,
    akibatnya ada kaum Wahabi/Salafi yg melenceng jauh, dengan mengatakan
    bahwa Allah Swt memiliki wajah…namun wajah-Nya berbeda dg wajah makhluk-Nya. Allah Swt memiliki ke dua tangan di kanan semua, namun seperti apa tangan-Nya dan bagaimana tangan-Nya hanya Allah yg tahu, dsb..

    Padahal jika maksudnya berdiam diri seperti ulama Salaf, seharusnya tidak berkata2 yg demikian. Cukup mengatakan, yg mengetahui maknanya hanya Allah Swt.

    1. —>sadar nggak kang dengan yg anda tulis???
      anda sendiri tanpa ilmu,
      saya jawab:
      Allah berfirman:
      Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.(Al Baqarah:9)
      Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.(Al Baqarah:12)

      Anda mengatakan bahwa saya tidak punya ilmu?
      anda telah mendustakan nikmat yang telah Allah berikan kepada Orang lain…
      Bukankah menulis juga termasuk ilmu? bukankah mengatakan saya tidak tahu termasuk ilmu?
      Allah Berfirman dalam S U R A T A R – R A H M A A N:
      Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

    2. ==hanya mengikuti perkataan Abujauza…
      saya katakan:
      saya hanya berusaha mengikuti sunnah kemana pun dia beredar
      ==jelas Abu Jauza mengakatakan bhw org yg menakwil adalah ahlubid’ah, syubhat, dsb…
      ->yang benar adalah Abu Jauza mengatakan bhw org yg menakwil(ayat-ayat atau hadits2 yang tidak boleh ditakwil) adalah orang yang melakukan kebid’ahan akan tetapi orang tsb belum tentu dapat dikatakan(dikategorikan) sebegai ahlubid’ah, syubhat, dsb… karena hal ini membutuhkan banyak perincian.
      ==intinya Abu Jauza mengatakan scr halus bhw org yg melakukan pentakwilan itu sesat dan dianggap menentang ayat2 Allah Swt.
      –>yang benar adalah intinya Abu Jauza mengatakan bhw org yg melakukan pentakwilan itu belum tentu dapat dikategorikan sebagai orang sesat dan belum tentu dapat dianggap/dikategorikan sebagai orang yang menentang ayat2 Allah subhanahu wata’ala karena beberapa alasan syar’i.(akan tetapi bukan disini tempat menjelaskan alasan/perincian itu, -pent.)
      ==dan anda, tanpa ilmu yg cukup hanya mengamininya bukan???
      –>yang benar adalah dan anda(orang awam dan tidak sombong) yang ilmunya kurang dari cukup, seharusnya tidak mengucapkan ‘amiin’, karena Abul Jauza tidak sedang menjadi imam shalat berjama’ah yang sedang selesai membaca surat Al Fatihah(yang bacaannya dikeraskan, -pent).

  25. @kang Syatir
    mengapa para ulama spt Ibnu Abbas Ra (ulama Salaf), Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Al-Ghazalli, Imam Nawawi, dan hampir seluruh ulama di jaman keemasan menakwil ayat2 mustasyabihat? Karena mrk tidak ingin umat Islam terjebak pd kekafiran…mereka tidak ingin umat Islam terjebak pd akidah mujasimmah. Sehingga mrk menakwil ayat2 mustasyabihat dg sifat2 Allah Swt. Namun mereka serahkan makna yg sebenarnya hanya kpd Allah Swt.

    Berbeda dg yg ditangkap oleh kaum yg ngaku2 Salaf…kaum ini justru menjelek2an org yg melakukan takwil meski tujuannya baik, sehingga scr tidak sadar mrk menjelek2an ulama Salaf spt Ibnu Abbas Ra….namun di sisi lain mrk mengaku2 mengikuti manhaj Salaf. sungguh kontradiksi yg nyata

  26. Maaf ngikut nimbrung,abis gemes baca komen2nya…
    Ngakunya ngikuti salaf soleh..eh, gak taunya malah salah noleh ..jadinya bukan pemahaman salaf yang di dapat,tapi pemahaman kalap…
    Pengikut Ulama salaf sholeh yang asli tentu tidak mudah membual. Apalagi dengan kata2 berpotensi menyakiti hati sodara semuslimnya.Dan tuduhan kafir trhadap ssama muslim,itu sungguh ter..la..lu..Klo gak mau dibilang kebablasan. Krna ulama yang bener2 salaf,berakhlak luhur. Tidak mudah men-judge kpd sesama manusia,apalagi sesama muslim..
    Setiap muslim memang harus cari ilmu biar pinter,tapi klo sudah punya ilmu, ya jangan keminter…nanti ndak keblinger.
    Lha klo menyampaikan ilmu itu memang wajib,masalah yg menerima ilmu itu mau terima atw tidak,bukan hak yg menyampaikannya.
    Klo sseorang dipaksa suruh ngikut pemahaman sseorang,itu namanya kemlelet..ndisik i kersane Gusti Alloh..

    Maaf klo salah..it’s just my opinion

  27. untuk renungan bersama, saya ambil dari mutiara zuhud

    Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir.“
    Seseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”
    Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran.
    Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya
    dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.”

    ps:
    sekarang, siapakah firqoh yg menyifati Allah dgn sifat2 benda dan anggota2 tubuh??? ini tentunya akibat salah menafsirkan
    ayat…berhati2lah saudara2ku seiman, jangan mengartikan ayat2 dan hadist scr tekstual, karena anda akan terjebak pd kesesatan.
    Selamatkan anak cucu kita…

  28. kang @syathir

    maaf kang…boleh nanya…sampeyan bilang kalau pemahaman sampeyan inikan salafy artinya mengikuti salaf

    nah saya cuma mau bertanya…terkait dg artikel diatas….. bolehkah saya tau generasi salaf yg mana yang pernah mengatkan bosan adalah salah satu dari sifat Allah?

    monggo mz kita tunggu jwabannya…dikitab apa juga kalau boleh

  29. Lho, kok, jadi bingung ya belajar Islam sekarang? Pada ngaku bener. Terus yang bener mana? Terus berarti Ebit G. Ade itu Wahhabi donk? Kan Ebit bilang di lirik lagunya, “Mungkin Tuhan Mulai BOSAN.”

    1. Weh. hebat dong ada Wahabi jadi penyayi? Yang jelas bukan dong, pasti saya yakin Ebite G Ade juga yang dimaksud BOSAN dalam lirik lagunya tsb BOSAN dalam arti kiasan ato majazi. Lha beliau itu kan penyntyanyi yang pinter dan puitis-puitis lagu2nya? Kalo puitis itu tentunya tidak lepas dari majazi-majazi, gitu kang CeTe (Cinta Tauhid kali ya kang?)

  30. Ga mungkin Ebit G. Ade itu Wahhaby. Yah kalo Wahhaby, pasti juga nyuruhnya baca kitabnya Utsaimin ato Bin Bazz ato siapalah. Khan Ebiet itu nyuruhnya cuma bertanya pada “rumput yang bergoyang”.

    1. Pasti ini wong Wahabi, baru muncul langsung bikin fitnah, memang sudah demikian karakternya. Rasulullah saw menyebut orang2 ini sebagai Fitnah Najd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker