Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Berita Timur Tengah

Ashabul Fitnah dan Takfiri Sebab Hancurnya Negara Timur Tengah

Syiria NYTimes 438x250 - Ashabul Fitnah dan Takfiri Sebab Hancurnya Negara Timur Tengah


Islam-Institute, Timur tengah – Negara-negara Timur Tengah Hancur itu karena munculnya ashabul fitnah dan kaum takfiri. Ketika baru-baru ini seorang ‘ustadz’ di laman facebooknya memosting
gambar Imam Besar Universitas Al-Azhar sedang berciuman dengan Paus
Fransiskus banyak orang langsung menuduh bahwa sang ustadz sedang
menyebar fitnah. Setelah dilaporkan ke polisi atas tuduhan mencemarkan
nama baik, sang ustadz tidak bisa mengelak; seakan mengakui telah
menyebar foto palsu ia segera menghapus alat fitnah tersebut dari laman
facebooknya. Tapi ironisnya ia tidak mengakui kesalahannya, tetapi
justru menyampaikan bahwa ia memosting foto tersebut dengan ‘niat baik’
mengingatkan umat Islam agar menolak upaya berdamai dengan penganut
Syiah sebagaimana pesan Sang Imam.


Apa yang dilakukan sang ustadz bukanlah kejadian yang baru dan jarang
terjadi. Belakangan media sosial seakan penuh sesak dengan berita dan
tulisan-tulisan yang didasarkan pada fakta palsu dan disinformasi. Apa
yang sedang terjadi? Apakah penyebaran fitnah hanyalah ekspresi
kebencian dan kemarahan yang tidak terkendali dari orang-orang yang
merasa keyakinanya terganggu?


Seorang ulama dari negara Timur Tengah yang juga Professor di Universitas Damaskus
Suriah, baru-baru ini berkeliling memberi ceramah di sejumlah
universitas di Indonesia. Di Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Taufiq
Al-Buthi yang merupakan putra dari almarhum Syaikh Ramadhan Al-Buthi,
ulama Suriah yang meninggal karena dibunuh pada Malam Jum’at (21/3/2013)
saat sedang mengajar/ceramah di masjid Al-Iman Damaskus, memberi pesan
berharga bagi Indonesia.


Mengacu pada pengalaman Suriah, salah satu negara Timur Tengah yang kini hancur oleh perang,
Al-Buthi menekankan pentingnya mewaspadai bahaya fitnah bagi
keberlangsungan sebuah bangsa. Kelompok ekstrem, menurut Al-Buthi
menggunakan fitnah sebagai senjata utama untuk merongrong fondasi
sebuah bangsa. Fitnah dianggap mempunyai kekuatan untuk menciptakan
jurang yang membelah kekuatan-kekuatan sosial-politik penopang keutuhan
bangsa; ia mendorong posisi ekstrim dan pada akhirnya menggoyah pondasi
bangsa. Dalam situasi ini, kelompok ekstrim yang pada umumnya adalah
kelompok kecil akan memetik keuntungan karena bisa memainkan peran
kunci. Keberadaannya dianggap penting oleh masyarakat luar sebagai alat
koreksi.


Jadi, fitnah bukanlah sekedar ekspresi kemarahan dan kebencian buta,
tetapi lebih dari itu adalah sebuah strategi yang didasarkan pada
kesadaran taktis.


Karakteristik Ashabul Fitnah 


Dalam Bahasa Arab, Al-Buthi menyebut kelompok ekstrem yang menggunakan strategi fitnah sebagai Ashabul Fitnah. Ada tiga karakter yang menandai kelompok ini.

Pertama, mudah mengafirkan kelompok yang berseberangan baik
secara agama dan politik. Dalam Islam, tindakan mengafirkan Muslim lain
sangat dilarang; bahkan secara keras Nabi Muhammad pernah mengingatkan
bahwa barang siapa mengafirkan Muslim lain maka tuduhan itu bisa
berbalik pada dirinya sendiri. Mereka yang suka mengafirkan bisa jadi
dia sendirilah yang kafir.


Kedua, sifat takfiri ini berkaitan dengan dengan karakter
kedua yakni kecenderungan untuk menciptakan polarisasi berdasarkan
aliran (mazhab) dan identitas keagamaan. Polarisasi ini dianggap penting
karena pada umumnya tidak ada bangsa yang sepenuhnya homogen. Sejarah
sebuah bangsa biasanya dibentuk oleh proses negosiasi dan kompromi di
antara kekuatan-kekuatan sosial politik yang berbeda. Dengan demikian
dimungkinkan terjadinya koeksistensi damai antar masyarakat yang
berbeda identitas dan keyakinan. Di Suriah, menurut Al-Buthi, relasi
antar warga tidak dipengaruhi oleh perbedaan agama dan aliran. Adalah
hal yang biasa bahwa satu apartemen menjadi tempat tinggal bersama
warga yang berbeda keyakinan.


Ashabul Fitnah menyadari pentingnya legasi koeksistensi ini
bagi keberlangsungan sebuah bangsa. Karena itu, mereka menyasar pondasi
ini dengan menyebarkan rumor dan cara pandang sempit untuk membangun
tembok yang membelah masyarakat berdasarkan perbedaan agama dan aliran.


Ketiga, tantangan utama kelompok ekstrem dalam menciptakan
polarisasi adalah tokoh atau ulama moderat. Ulama moderat menjadi
kekuatan penting karena merekalah yang memberikan basis legitimasi bagi
koeksistensi damai. Dalam teori perdamaian tokoh moderat mewakili salah
satu prasyarat koeksistensi damai yang disebut “critical mass of peace enhancing leaders.”
Dalam sebuah masyarakat multikultur, selalu ada kekuatan yang kritis
dan ekstrim. Tokoh pembawa damai dalam jumlah yang cukup kuat (critical mass)
menjadi kunci keberlangsungan pluralitas dalam masyarakat tersebut
karena merekalah yang bisa membendung rumor dan agitasi yang mengancam
kemapanan basis koesistensi.


Karena itu, ashabul fitnah menjadikan tokoh moderat sebagai
sasaran. Dalam situasi ekstrim seperti Suriah upaya ini bisa dilakukan
dengan membunuh ulama-ulama moderat; tetapi di negara di mana kekerasan
fisik beresiko secara hukum, upaya menyerang tokoh moderat bisa
dilakukan dengan membunuh karakter mereka misalnya dengan memberikan
label-label antagonis seperti liberal, syiah, dan sekuler.


Anti-Virus Fitnah

Fitnah layaknya sebuah virus yang menyerang sendi-sendi utama yang
menopang sebuah tubuh. Virus tidak berbentuk luka pada bagian luar tubuh
yang nampak secara nyata dan karena itu memicu reaksi cepat. Karena
tidak nampak virus seringkali diremehkan, sebelum ia tumbuh berkembang
dan menciptakan rasa sakit yang mengganggu gerak tubuh.


Kesadaran tentang ancaman fitnah sudah mulai menguat belakangan; bisa
jadi karena ibarat virus fitnah sudah tumbuh berkembang dan mulai
mengganggu gerak maju bangsa. Contoh paling nyata adalah Surat Edaran
yang dikeluarkan Kapolri pada tahun 2015 yang menginstruksikan aparat
kepolisian untuk mengambil tindakan terhadap apa yang disebut dengan
istilah ujaran kebencian (hate speech). Surat Edaran ini tidak
serta-merta membuat polisi menangkap para pengujar kebencian yang memang
tidak mudah dihentikan. Tetapi paling tidak kita melihat langkah maju
untuk menghambat persebaran virus fitnah. Situs-situs dan media sosial
yang menjadi arena pertempuran ashabul fitnah sedikit-demi
sedikit mulai dibatasi. Kementerian Komunikasi dan Informasi mulai
bertindak menutup situs-situs ekstrim. Selain itu, kesadaran publik
terhadap ancaman fitnah juga mulai muncul. Inisiatif untuk
melaporkan fitnah berupa gambar Imam Al-Azhar berciuman dengan Paus
adalah contoh nyata yang patut diikuti.


Langkah-langkah seperti di atas adalah anti-virus fitnah yang perlu
diperkuat. Kini banyak orang baik bahkan tokoh moderat yang ikut larut
dalam arus taktik ashabul fitnah. Hal ini bisa dilihat dari
masuknya tema-tema sektarian di kalangan masyarakat yang pada dasarnya
moderat. Kekhawatiran dan ketakutan yang terbangun terhadap isu-isu
keagamaan seperti ‘bahaya’ Syi’ah, aliran sesat Kristenisasi
dan Islamisasi tidak bisa dipungkiri sangat menguntungkan agenda ashabul fitnah untuk menciptakan polarasi sektarian di negeri ini.


Anti-virus fitnah lain yang ditegaskan oleh Al-Buthi adalah tashih
berita atau kesadaran tentang pentingnya menerima berita secara kritis.
Dalam ilmu studi perdamaian, anti-virus ini disebut “membunuh rumor.”
Istilah membunuh mungkin terasa keras tetapi ini merefleksikan
pentingnya merespon dengan tegas persebaran fitnah dan berita palsu yang
bertujuan untuk menciptakan kebencian dan polarisasi komunal.


Langkah “membunuh rumor” tidak harus dilakukan dengan melarang
aktivitas penyebar rumor, tetapi dengan menyediakan alternatif informasi
yang bisa menguji keabsahan rumor. Di sejumlah negara, langkah ini
diwakili misalnya oleh keberadaan sejumlah lembaga ‘Fact Check” yang bisa menangkal disinformasi.


Pesan penting yang disampaikan ulama dari negara Timur Tengah, Taufiq Al-Buthi di atas seperti
menohok jantung sumber ancaman terhadap keutuhan Indonesia sebagai
negara kesatuan yang sejak berdiri begitu bangga dengan identitas
Bhineka Tunggal Ika.


Tentu ada yang patut menjadi catatan kritis dari  ceramah Al-Buthi
yang menjadi inspirasi tulisan ini. Catatan khususnya terkait dengan
posisi politik Al-Bouthi  yang tampak mengesampingkan pelanggaran HAM
pemerintahan Bashar Al-Asad. Al-Bouthi kerap memberikan argumen yang
sepenuhnya negatif terhadap negara-negara Barat, seakan fitnah dan
kehancuran yang terjadi di Suriah adalah sepenuhnya ulah “konspirasi
Barat.” Cara pandang esensialis demikian mengesampingkan keragaman dari
apa yang secara sederhana disebut “Barat” dan “Islam”.


Terlepas dari itu, pengalaman negara Timur Tengah khususnya Suriah sebagai sebuah bangsa yang hancur karena polarisasi sektarian patut menjadi pelajaran berharga agar Indonesia tetap utuh.”


*Penulis adalah Staff Pengajar di Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), UGM. via http://crcs.ugm.ac.id

Source link

BACA JUGA:  Kanada dan Hubungan Khusus Dengan Israel Berakhir
Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker