Berita Arab Saudi

Arab Saudi Siap Invansi Suriah, Benarkah untuk Berantas ISIS

Arab Saudi siap invansi darat bersama AS ke Suriah, untuk berantas ISIS atau menabuh genderang perang dunia ketiga?

 

Islam-Institute, RIYADH Arab Saudi menyatakan kesiapannya berpartisipasi dalam operasi darat di Suriah, jika koalisi pimpinan AS memutuskan untuk memulai operasi darat mereka untuk memerangi teroris ISIS di Suriah. Hal ini aneh, karena ISIS sekarang ini sudah terdesak oleh tentara Suriah dan Rusia di seluruh wilayah Suriah.

“Kerajaan Saudi siap berpartisipasi dalam operasi darat bersama koalisi anti-terori di Suriah”, Brigadir Jenderal Ahmed Asseri, Penasihat Menteri Pertahanan Arab Saudi, mengatakan kepada TV Arabiya pada hari Kamis (4/02/16).

Asseri mengatakan Arab Saudi telah melakukan lebih dari 190 misi udara sebagai bagian dari koalisi pimpinan AS di Irak.

Dia mengatakan bahwa untuk mengalahkan teroris ISIS, koalisi pimpinan AS perlu meningkatkan serangan udara dengan operasi darat secara bersamaan. Rencana seperti ini bukankah sudah dilakukan oleh Rusia bersama tentara Suriah sejak 30 September 2015 yang lalu?  Dan hasilnya amat sangat signifikan membuat kerugian besar bagi teroris ISIS, baik kerugian luka dan tewasnya personil ISIS, basis-basis pertahanan hancur, dan peralatan militer yang rusak berat.

“Jika ada konsensus dari pimpinan koalisi, kerajaan Saudi bersedia berpartisipasi dalam upaya ini, karena kami percaya bahwa operasi udara bukan solusi yang ideal dan harus ada campuran operasi udara dan darat,” kata Brigadir Jenderal Ahmed Asseri.

BACA :  Pertemuan Rahasia PM Israel dan Mohammad bin Salman

Ditanya tentang pernyataan Arab Saudi baru-baru ini, juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan Washington mengapresiasi kesediaan Arab Saudi untuk terlibat dalam memerangi ISIS, dan menambahkan, ”Saya tidak ingin berkomentar secara khusus mengenai ini sampai kami punya kesempatan untuk meninjaunya”.

Arab Saudi adalah anggota dari koalisi pimpinan AS yang telah melakukan serangan udara terhadap apa yang diklaim sebagai posisi teroris di dalam wilayah Suriah tanpa otorisasi dari Damaskus atau mandat PBB sejak September 2014.

Serangan udara di Suriah merupakan perpanjangan dari serangan udara yang dipimpin AS terhadap posisi ISIS di Irak, yang dimulai pada bulan Agustus tahun 2014.

Serangan yang dipimpin AS pada banyak kesempatan telah menarget infrastruktur, gurun kosong, posisi tentara Suriah atau warga sipil, dan telah menyebabkan warga sipil tewas. Dalam banyak laporan, serangan udara pimpinan AS justru menyerang posisi tentara Suriah.

banner gif 160 600 b - Arab Saudi Siap Invansi Suriah, Benarkah untuk Berantas ISIS

Presiden Suriah Bashar al-Assad mengatakan dalam sebuah wawancara pada Maret 2015, bahwa serangan militer pimpinan AS tidak bertujuan untuk “menyingkirkan” ISIS dan teroris lainnya, mereka justru ingin memperkuat posisi kelompok-kelompok teroris di Suriah.

BACA :  Arab Saudi Evakuasi Warganya Dekat Perbatasan Yaman

Dalam perang 5 tahun di Suriah, Washington dan sekutu regionalnya, termasuk Turki dan Arab Saudi, telah mendukung militan teroris melawan pemerintah Suriah. Sejak konflik Suriah dimulai pada tahun 2011, mereka telah menyediakan bantuan militer dan keuangan kepada militan, yang kemudian para militan kini dituduh melakukan kejahatan perang mengerikan terhadap warga sipil.

Kelompok-kelompok teroris di Suriah dipengaruhi oleh Wahhabisme, ideologi radikal dan ekstrim yang mendominasi Arab Saudi.

Benarkah Arab Saudi ingin Berantas ISIS di Suriah?

Pernyataan penasehat Kementerian Pertahanan Saudi, Brigadir Jenderal Ahmed Asseri bukan tanpa koordinasi dengan AS. Pernyataan itu seirama dengan pernyataan John Kerry dan Erdogan yang menuduh Rusia dan Suriah berusaha menyelesaikan konflik di negara itu dengan operasi militer, dan berusaha menggagalkan dialog yang sedang berlangsung di Jenewa.

Pernyataan John Kerry dan Erdoga keluar setelah mereka mengetahui kelompok teroris yang didukungnya mengalami kekalahan besar di Suriah. Patahnya blokade kota Nubl dan Al-Zahra membuat AS dan Erdogan gusar, dan tamparan menyakitkan bagi Barat dan negara-negara yang mendukung kelompok-kelompok teroris di Suriah.

Nubl dan Al-Zahra adalah kota kunci yang menghubungkan para teroris dengan daerah-daerah lain yang dikuasainya. Ini berarti bahwa dengan jatuhnya kota kunci tersebut maka terputuslah jalur pasokan senjata dan logistik untuk para teroris. Tentu kondisi ini akan memperlemah para teroris, dan agenda mereka untuk menggulingkan presiden Assad hanya tinggal mimpi di siang bolong saja.

BACA :  Arab Saudi Eksekusi Sheikh Nimr al-Nimr dan 46 Tahanan Politik

Kondisi ini tentu tidak akan dibiarkan oleh AS dan sekutu mereka yang menginginkan presiden Assad jatuh dari kursi presiden. Salah satu upaya yang akan mereka mainkan adalah menceburkan Arab Saudi dalam konflik Suriah, untuk memancing konfrontasi antara Suriah dan Arab Saudi sehingga koalisi dapat bergerak bebas untuk ikut dalam konfrontasi itu. Sebenarnya, Turki dan Israel telah berkali-kali melakukan serangan udara ke wilayah Suriah, namun usaha mereka tidak berhasil memancing amarah Suriah, sehingga perang yang mereka inginkan belum juga terjadi.

Jika ini benar-benar terjadi, maka konfrontasi Suriah dan Arab Saudi akan membuka gerbang perang dunia ketiga. Koalisi pimpinan AS akan ikut bermain dalam perang ini, dan Rusia tidak akan membiarkan Suriah dihajar pasukan koalisi.

Jadi, Arab Saudi ke Suriah akan berantas teroris ISIS atau hanya akan menjadi penabuh genderang perang dunia ketiga(Al/ARN/AU/Ptv)

 

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker