Berita Arab Saudi

Arab Saudi: Mohammed Bin Salman VS Mohammed Bin Nayef

Arab Saud Terkini: Sedang Berlangsung Persangan Mohammed Bin Salman VS Mohammed Bin Nayef

Di sisi lain persaingan, di dalam keluarga kerajaan diam-diam muncul sentimen dan rasa tidak senang mengenai penanganan Mohammed bin Salman dalam serangan Saudi di Yaman. Sebagai Menteri Pertahanan, Mohammed bin Salman menjadi komandan terkemuka Operasi Badai Yang Menentukan, sebuah operasi militer besar pertama Arab Saudi pada abad ke-21 terhadap warga sipil Yaman.

Islam-Institute, RIYADH – Kasus pecopotan pangeran Muqrin bin Abdulaziz al-Saud menunjukkan bahwa posisi wakil putra mahkota, menempatkan dirinya dalam kondisi bahaya, dan membantu memperjelas alasan mengapa Mohammed bin Salman terus memperkuat posisinya.

Gemuruh persaingan kekuasaan dan konflik menyeruak diantara dua pangeran gagah perkasa Bani Saud disaat istana menghadapai tantangan terbesar dalam abad 21. Intervensi berdarah-darah di Yaman, di Suriah, Irak dan Indonesia adalah beberapa badai yang mereka ciptakan, disusul turunnya harga minyak dan melonjaknya kekerasan kelompok-kelompok teroris takfiri binaan mereka.

Ini semua bermula dari sembilan bulan lalu, ketika Raja Salman diangkat menjadi raja menggantikan raja Abdullah bin Abdul Aziz al-Saud tewas.

Tak cukup sampai disitu, penguasa kerajaan juga menghadapi kritik tajam dunia internasional atas tragedi Mina bulan lalu yang menurut pejabat asing, menewaskan lebih dari 2.200 orang dalam aksi injak-injak.

Belum lagi soal kekhawatiran rebutan kekuasaan, Salman yang berumur 79 tahun, dengan tubuh renta, diterpa berbagai macam jenis penyakit kronis, sisi lain dipusara kekuasaan, ada dua ahli waris yang siap bersaing untuk menduduki tahta jika Salman mati.

Putra Mahkota Mohammed bin Nayef, berumur 56 tahun, keponakan raja, dibaris pertama yang akan mencicipi legitnya takhta. Sisi lain, Mohammed bin Salman, berumur 30 tahun, anak raja yang ditunjuk sebagai Wakil Putra Mahkota saat ini sedang menghimpun kekuatan.

Menurut ahli Timur Tengah, persaingan pangeran Mohammed bin Nayef yang menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, dan Mohammed bin Salman yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan, sangat tajam yang benar-benar telah menganggu kebijakan dalam dan luar negeri.

“Persaingan keduanya bahkan sampai mengganggu kebijakan luar negeri dan internal”, kata Frederic Wehrey, Analis Timur Tengah dan Pakar Politik Teluk di Washington.

Menunjuk tindakan tidak bertangungjawab intervensi Saudi di Yaman yang menurut Wehrey, bahkan negara-negara Barat, sekutu utama kerajaan menganggap telah melenceng jauh dari rencana awal, reformasi dan mengembalikan kekuasaan Abd Rabbuh Mansur Hadi.

Ketegangan dan persaingan antara kedua pangeran itu bermula ketika terjadi ledakan peristiwa penghapusan posisi Muqrin bin Abdulaziz al-Saud oleh Salman, yang saat itu ditunjuk oleh Raja Abdullah sebagai Deputi Putera Mahkota dan menjadikannya sebagai orang kedua dalam garis suksesi setelah saudaranya, Salman. Diganti oleh Mohammed bin Nayef yang ditunjuk oleh pamannya, raja Salman.

Sejak saat itu, pangeran muda, Mohammed bin Salman menduduki posisi Deputi Putra Mahkota yang ditunjuk oleh ayahnya sendiri.

“Kebanyakan orang melihat hal ini sebagai semacam kudeta … dan itu merupakan salah satu faksi untuk mengambil kekuasaan demi dirinya sendiri,” kata Stephane Lacroix, Pakar Arab Saudi di universitas Sciences Po di Paris.

Kasus pecopotan pangeran Muqrin bin Abdulaziz al-Saud menunjukkan bahwa posisi wakil putra mahkota, menempatkan dirinya dalam kondisi bahaya, dan membantu memperjelas alasan mengapa Mohammed bin Salman terus memperkuat posisinya.

banner gif 160 600 b - Arab Saudi: Mohammed Bin Salman VS Mohammed Bin Nayef

Tidak merasa cukup menjabat sebagai Menteri Pertahanan, Mohammed bin Salman juga mengangkangi beberapa jabatan strategis lain, termasuk sebagai Wakil Perdana Menteri Kedua, Ketua Mahkamah Kerajaan, Penasehat Khusus Pelayan Dua Tanah Suci dan mengawasi langsung badan usaha negara Saudi Aramco, perusahaan minyak negara sebagai eksportir minyak terbesar di dunia.

“Mohammed bin Salman jelas-jelas menghimpun kekuatan yang luar biasa, dan pengaruh yang sangat cepat. Ini jelas akan mengganggu ketenangan para pesaingnya,” tambah Wehrey.

Mohammed bin Salman, harus memenuhi kebutuhan ini untuk menguatkan struktur posisinya, kelak saat ayahnya meninggal supaya tak tergantikan, karena ia tidak mempunyai jaminan tentang bagaimana ambisi Mohammed bin Nayef ketika menjabat sebagai raja, dan bagaimana Mohammed bin Nayef akan memperlakukan terhadap dirinya.

Dengan posisi dan jabatan berlimpah dan kuat, ditambah kedekatan hubungan dengan ayahnya, Mohammed bin Salman bertindak seolah-olah dirinya adalah ahli waris yang jelas, jadi ini jelas-jelas menciptakan ketegangan semakin meningkat.

Pendongkelan posisi Saad al-Jabiri sebagai Menteri Negara dan Anggota Kabinet oleh Salman pada bulan September terkait erat dengan Mohammed bin Nayef yang merupakan salah satu indikasi dimulainya pergumulan dalam istana.

Namun sejauh ini belum ada langkah-langkah dan pergerakan lebih luas yang dilakukan Menteri Dalam Negeri, yang relatif masih dihormati di luar negeri karena diyakini sedang memimpin upaya melawan al-Qaeda dan kelompok jihad lainnya.

“Dia dihormati. Dia adalah satu orang yang dipercayai Barat, terutama soal isu kontra-terorisme. Saya pikir mereka akan menembak kaki mereka sendiri jika sampai menurunkan Mohammed bin Nayef dari posisinya,” kata analis politik.

Saat ini Putra Mahkota mempunyai pasukan yang loyal di departemen kementerian dalam negeri, bahkan sebagian besar anggota keluarga kerajaan akan mendukung dirinya sebagai Raja, dan itu dipandang sebagai sesuatu yang normal.

Faksi kuat pimpinan Mohammed bin Salman bisa  bergerak kapan saja untuk melawan saat Tragedi Mina, sementara kepolisian dibawah komando Putra Mahkota dan bertanggung jawab atas keamanan haji, maka tragedi injak-injak di Mina, merupakan momen tepat untuk mendongkel Mohammed bin Nayef. Sebab tragedi itu bisa dijadikan alasan dan kambing hitam.

Sejauh ini, AS masih mendukung Mohammed bin Nayef yang dianggap berjasa menjaga kepentingan Barat dalam isu kontra terorisme. Selain itu, Muhammad bin Nayef pernah menghabiskan umurnya di Amerika Serikat, mengambil pelatihan di Lewis & Clark College dan kursus keamanan FBI dari tahun 1985-1988 yang dilatih di unit anti-terorisme Scotland Yard dari tahun 1992 sampai 1994.

Di sisi lain persaingan, di dalam keluarga kerajaan diam-diam muncul sentimen dan rasa tidak senang mengenai penanganan Mohammed bin Salman dalam serangan Saudi di Yaman. Sebagai Menteri Pertahanan, Mohammed bin Salman menjadi komandan terkemuka Operasi Badai Yang Menentukan, sebuah operasi militer besar pertama Arab Saudi pada abad ke-21 terhadap warga sipil Yaman.

Beberapa analis poltik berpendapat, operasi di Yaman, sepenuhnya semata-mata dimanfaatkan untuk menopang profil menteri pertahanan, meski Putra Mahkota juga menjadi komandan Operasi berdarah-darah itu.

Perang yang dikobarkan di Yaman dengan biaya yang masih belum terungkap nominalnya, pembiayaan tak terhingga kepada kelompok-kelompok teroris ekstrim di Suriah, Irak, dan termasuk Indonesia dengan membentuk unit-unit rekrument atas nama Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS), defisit anggaran, penerbitan obligasi dan turunnya harga minyak, adalah ancaman-ancaman nyata yang akan memperpendek umur kerajaan Bani Saud.

Untuk saat ini, pendukung kerajaan Bani Saud al-Wahabi masih boleh tersenyum, tetapi, dalam jangka relatif pendek, persaingan dan gejolak hebat yang muncul dari dalam perut istana, mau tidak mau, suka atau tidak suka, akan segera meledak dan melahirkan puing-puing kerajaan properti pribadi Bani al-Saud. (al/Sfa/MM)

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker