akidah

Apa Itu Ahlussunnah Wal Jamaah?

Warning: Umat Yahudi telah pecah menjadi 71 golongan dan umat Nasrani terpecah menjadi 72 golongan. Sementara umat Nabi Muhammad Saw akan pecah menjadi 73 golongan.

Banyak orang Islam masih belum tahu apa itu Ahlussunnah Wal Jamaah? Bahkan mereka tertipu oleh aqidah Wahabi yg mengklaim sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah.

INILAH DEFINISI AHLUSUNNAH  WAL JAMAAH

Istilah “ Ahlussunnah Wal Jamaah ” adalah sebuah istilah yang dieja-Indonesiakan dan kata Ahlusunnah Waljamaah” اهل السنه والجماعه. Ia merupakan rangkaian dari kata-kata:

a. Ahl (Ahlun), berarti “galongan”atau “pengikut’

b. Al-Sunnah (al-Sunnatu), berarti “tabiat/perilaku jalan hidup/perbuatan yang mencakup ucapan dan tindakan Rasulullah SAW.

c. Wa, yang berarti “dan atau serta”

d. Al-Jamaa’ah (al-jamaah), berarti “Jamaah” yakni jamaah para sahabat Rasul SAW. Maksudnya ialah perilaku atau jalan hidup para sahabat.

Dengan demikian, maka secara etimologis, istilah “Ahlussunnah Wal Jamaah / golongan yang senantiasa mengikuti jalan hidup Rasul SAW dan jalan hidup para sahabatnya.” Atau, golongan yang berpegang teguh pada Sunnah Rasul dan Sunnah (Tariqah) para sahabat, lebih khusus lagi, sahabat empat (Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin ‘Affan, dan Ali bin Abi Talib).

Selanjutnya, jalan hidup Rasul SAW. tidak lain ialah ekspresi nyata dari isi kandungan al-Quran. Ekspresi nyata tersebut kemudian biasa diistilahkan dengan “al- Sunnah” atau “al-Hadits’ Kemudian, al-Quran sebagai Wahyu Ilahi, terkemas sendiri dalam mushaf al-Quran al Karim”,  sedangkan ekspresi nyatanya pada diri Rasul SAW. pun terkemas secara terpisah dalam “mushaf al-sunnah, al-hadits’ seperti dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, sunan Al Tirmizi, Sunan al-Nasai, dan Sunan Ibnu Majah, serta Kitab-kitab al Hadits yang disusun oleh para ulama lainnya.

Sementara itu, para sahabat, khususnya sahabat empat; adalah generasi pertama dan utama dalam melazimi “Perilaku Rasulullah SAW., sehingga jalan hidup mereka praktis merupakan penjabaran nyata dan petunjuk al-Quran dan al-Sunnah. Setiap langkah hidupnya, praktis merupakan aplikasi dari norma-norma yang terkandung dan dikehendaki oleh ajaran Islam, serta mendapat petunjuk dan kontrol langsung dari baginda Rasul SAW.

Oleh karena itu, jalan hidup mereka relatif terjamin kelurusannya dalam mempedomani ajaran Islam, sehingga jalan hidup mereka pulalah yang paling tepat menjadi rujukan utama setelah jalan hidup Rasul SAW.

Adapun wujud kongkritnya, Ahlussunnah Wal Jamaah tidak lain ialah golongan yang senantiasa berpegang teguh terhadap petunjuk al-Quran dan al Sunnah al Sahihah. Artinya dalam segala hal selalu merujuk kepada petunjuk al-Quran dan al-Sunnah.

Dengan kata lain, Ahlussunnah Wal Jamaah ialah golongan yang senantiasa mengikuti jejak hidup Rasul SAW. dan jejak hidup para sahabatnya, dengan senantiasa berpegang teguh kepada al-Qunan dan A-Sunnah.

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِفْتَرَ قَتْ الْيَهُوْدُ عَلَىءِاحْدَىوَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً, وَاَفْتَرَقَتْ النَّصَارَى عَلَى ائْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. وَتَفَرَّقَ اُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً (رواه الاربعه)

“Dari sahabat Abu Hurairah ra. dia berkata, bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda : Umat Yahudi telah pecah menjadi 71 golongan dan umat Nasrani terpecah menjadi 72 golongan. Sementara umatku bakal pecah menjadi 73 golongan” (Abu Dawud, al-Tirmizi, al-Nasa’i, Ibnu Majah).

BACA :  AS-SAWADUL A'DZOM Adalah Para Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah

Hadits ini, tidak secara tegas menyatakan adanya golongan yang disebut “Ahlussunnah Waljamaah”. Tetapi baru diisyaratkan bakal terpecahnya umat Rasulullah SAW menjadi 73 golongan (firqah). Maka golongan ahlussunnah Waljamaah berarti salah satu dari ke-73 golongan tersebut.

Hadits lain, yakni yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah Ibnu Umar ra., bahwasanya Nabi SAW. beriabda:

وَاِنَّ بَنِى اِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ اُمَّتِى عَلَى ثَلاَثِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً. كُلُّهُمُ فِى النَّارِ اِلاَمِلَّةً وَاحِدَةً. قَالُوْا: وَمَنْ هِيَ يَارَسُوْل اللهِ؟ قَالَ: مَا اَنَا عَلَيْهِ وَاَصْحَابِي (رواه الترمذى)

“… Dan sesungguhnya kaum Bani Israil telah terpecah menjadi 72 golongan. Sementara umatku bakal terpecah menjadi 73 golongan dan semuanya masuk neraka kecuali hanya satu golongan saja. Para sahabat bertanya: Siapakah yang satu golongan itu ya Rasulullah? jawabnya: Itulah golongan yang senantiasa mengikuti jejakku dan jejak para sahabatku”. (HR. Al Tirmizi).

Dalam teks hadits ini, meskipun belum secara tegas terungkap istilah “Ahlussunnah Waljamaah”; namun maknanya sudah tersirat di dalamnya, yakni bahwa golongan yang selamat dari ancaman neraka itu adalah golongan yang senantiasa mengikuti jejak (Jalan hidup) Rasulullah SAW. dan para sahabatnya. Padahal, makna yang demikian inilah yang kita maksudkan sebagai batasan (pengertian) Ahlussunnah Waljamaah.

Dengan demikian, maka golongan Ahlussunnah Wal jamaah ialah satu-satunya golongan umat Rasul yang selamat dari ancaman neraka. Hal ini lebih tegas lagi diungkapkan dalam hadits lain yang berbunyi:

وَالَّذِىْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ, لَتَفْتَرِقُ اُمَّتِى عَلىَ ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. فَوَاحِدَةً فَى الْجَنَّةُ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِى النَّارِ. قِيْلَ: مَنْ هُمْ يَارَسُوْلُ اللهِ؟ قَالَ: اَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ (رواه الطبرانى)

(Rasulullah SAW) bersumpah: Demi zat yang menguasai jiwa Muhammad, sungguh umatku bakal terpecah, menjadi 73 golongan. Maka yang satu golongan masuk syurga, sedangkan yang 72 golongan masuk neraka. Sedang sahabat bertanya : Siapakah golongan yang masuk itu ya Rasulullah? Jawabnya Yaitu golongan Ahlussunnah Waljamaah” (HR. al-Tabrani)

Teks Hadits secara langsung menyebutkan kata “Ahlussunnah Waljamaah” sebagai satu-satunya golongan yang dinyatakan bakal masuk surga.

banner gif 160 600 b - Apa Itu Ahlussunnah Wal Jamaah?

Berdasarkan ketiga hadits tersebut, jelaslah bahwa umat Islam akan terpecah ke dalam banyak golongan, Sebagaimana umat Yahudi dan Nasrani. Di antara sekian banyak (73) golongan itu, terdapat satu golongan yang selamat dari ancaman neraka, yakni golongan yang senantiasa mengikuti jejak hidup Rasulullah SAW. dan jejak hidup para sahabatnya. Dan golongan yang selamat (masuk surga) itu tidak lain ialah golongan Ahlussunnah Waljamaah.

فَعَلَيْكُمُ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيينَ, تَمَسَّكُوْابِهَا وَعَضُوْا عَلَيْهَا بِاالنَّوَاحِذِ (ابو داوود)

BACA :  JAWABAN IMAM AHLUSSUNNAH SELURUH DUNIA TENTANG SYI'AH

“….Maka berpegang teguhlah kalian terhadap Sunnah-ku serta sunnah Khulafa’ al-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk’ Pedomanilah sunnah (jalan hidup) mereka dan pegangilah erat-erat !“ (HR. Abu Dawud).

Penjelasan tentang Ahlussunnah Wal Jamaah

Penjelasan tentang Ahlussunnah Wal Jamaah di atas adalah benar sebatas tingkat  DEVINISI. Devinisinya memang benar seperti itu sebagaimana Ummat Islam Aswaja dan Salafy Wahabi juga demikian devinisinya. Akan tetapi, bagaimana Salafy Wahabi dengan tingkat prakteknya, apakah sudah benar? Sayangnya Salafy Wahabi tidak pernah menjelaskan  bagaimana praktek mengikuti Rasulullah dan Para Sahabat padahal ini yang terpenting. Hal ini sangat penting, mengingat kita ini sebagai penganut Ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah yang lahir ribuan tahun setelah kurun Nabi Muhammad dan para Sahabatnya.

Apakah bisa mengikuti secara langsung padahal kita tidak pernah bertemu Nabi dan para Sahabat? Atau cukupkah hanya dengan belajar sendiri (otodidak) dengan membaca buku-buku  hadits dan atsar para Sahabatnya lalu kita menjadi seorang Ahlussunnah Wal Jamaah? Tentu tidak demikian cara praktek mengikuti Nabi dan para Sahabatnya.

Kalau nekad mengikuti Nabi dan Sahabatnya secara otodidak, lebih-lebih jika yang dibacanya juga buku-buku dari mereka yang belajarnya juga secara otodidak maka bisa dijamin akan tersesat jalannya sehingga bukan Sunnah-sunnah  yang dijalaninya melainkan jalan syetan. Ingat, belajar agama Islam tanpa guru, gurunya adalah Syetan. Dan syetan adalah ahlul fitnah yang luar biasa liciknya.

Cara Praktek yang benar mengikuti Rasul dan para Sahabatnya yang lazim dijalani oleh para penganut Ahlussunnah Wal Jamaah adalah melalui jalan “guru” (sanad) yang bersambung sampai kepada Rasulullah Saw. Prakteknya untuk kasus di Indonesia bisa digambarkan sbb: kita belajar kepada guru, guru belajar kepada gurunya, gurunya belajar kepada Kiyai A, Kiyai belajar kepada gurunya, gurunya belajar kepada Syaikhnya, terus bersambung ke atas sampai ketemu Tabi’ut Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in belajar kepada Tabi’in, Tabi’in belajar kepada Sahabat Nabi, Sahabat Nabi belajar kepada Nabi Saw.

Demikian gambarannya bagaimana cara praktek mengikuti Nabi dan para Sahabat. Belajar agama Islam melalui guru tetapi kemudian menentang ajaran gurunya yang bersambung tsb, maka otomatis penentangannya menyebabkan dia memisahkan dirinya dari mata-rantai sanad ilmunya. Sehingga sanadnya terputus dan berjalan di atas sanad yang dirintisnya sendiri secara otodidak.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang otodidak

Jadi kalau ada seseorang belajar agama Islam secara otodidak maka dia akan memiliki faham tersendiri (eksklusif, menyempal) dan hasil pemahamannya akan bertentangan dengan Mayoritas Ulama Penganut Ahlussunnah wal Jamaah. Hal ini bisa kita lihat pada kasus Salafy Wahabi sekte sempalan yang selalu bertentangan dengan Para Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah, padahal Salafy wahabi merasa dirinya sebagai pengikut Ahlussunnah Wal Jamaah. Sepak terjang dakwah Salafy Wahabi menjadi fitnah terbesar bagi penganut ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah yang sebenarnya. Sehingga Ummat Islam Mayoritas (Assawadu Al A’dhom, Ahlussunnah Wal Jamaah) yang ada di seluruh dunia dibuatnya sibuk mengurus fitnah Wahabi.

BACA :  Bagaimana Sikap NU di Tengah Konflik Wahabi dan Syi'ah?

Sudah bukan rahasia lagi, bahwa perintis Wahabisme Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang otodidak yang merujuk kepada seorang otodidak klasik Syaikh Ibnu Taymiyyah. Maka wajar jika ajaran Wahabi menjadi eksklusif, menyempal dan bertentangan dengan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah. Juga sudah bukan rahasia lagi, bahwa Salafy Wahabi adalah sekte anti Madzhab karena madzhab dalam pandangan / persepsi Wahabi menjadi sebab terpecah-belahnya Ummat Islam.

Padahal faktanya para penganut Madzhab yang empat: Syafi’i, Maliki, Hambali dan Hanafi hidup rukun berdampingan saling menghargai dan bertoleransi sejak berabad-abad lamanya sampai sekarang. Karena para pengikut Madzhab Mu’tabar ini adalah wujud nyata dari para penganut Ahlussunnah Wal Jamaah, yaitu golongan yang selamat.

SILSILAH ULAMA AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH DI INDONESIA SAMPAI SANADNYA KE RASULULLAH SAW

1. Nabi Muhammad SAW
2. Sayidina Ali
3. Muhammad (Putra Sayidina Ali, dari istri kedua Kaulah bin Ja’far)
4. Wasil bin Ato’
5. Amr bin Ubaid
6. Ibrohim Annadhom
7. Abu Huzail Al-Alaq
8. Abu Hasi Adzuba’i
9. Abu Ali Adzuba’i
10. Imam Abu Hasan Ala’asyari (Pendiri Faham “AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH”) 234 H Karangannya: Kitab Maqolatul Islamiyin, Al Ibanah, Al Risalah, Al-Luma’, dll
11. Abu Abdillah Al Bahily
12. Abu Bakar Al Baqilany, karangannya: Kitab At Tamhid, Al Insof, Al bayan, Al Imdad, dll.
13. Abdul Malik Imam Haromain Al Juwainy, karangannya : Kitab Lathoiful Isaroh, As Samil, Al Irsyad, Al Arba’in, Al kafiyah.
14. Abu hamid Muhammad Al Ghozali. Karnannya: Kitab Ihya Ulumuddin, Misyakatul Anwar, Minhajul Qowim, Minhajul Abidin dll.
15. Abdul hamid Assyeikh Irsani. Karangannya: kitab Al Milal Wannihal, Musoro’atul Fulasifah dll.
16. Muhammad bin Umar Fakhruraazi, Karangannya: Kitab Tafsir Mafatihul Ghoib, Matholibul ‘Aliyah, Mabahisul Masyriqiyah, Al Mahsul Fi Ilmil Usul.
17. Abidin Al Izzy, karangannya: Kitab Al Mawaqit Fi Ilmil Kalam.
18. Abu Abdillah Muhammad As Sanusi, Karangannya: Kitab Al Aqidatul Kubro dll.
19. Al Bajury, karangannya: Kitab Jauhar tauhuid Dll.
20. Ad Dasuqy, karangannya: Kitab Ummul Barohin, dll.
21. Ahmad Zaini Dahlan, karanggannya: Kitab Sarah jurumiyah, Sarah Al Fiyah, dll.
22. Ahmad Khotib Sambas Kalimantan, Karangannya: Kitab Fathul ‘Arifin, dll.
23. Muhammad Annawawi Banten Karangannya: Syarah Safinatunnaja, Sarah Sulamutaufiq, dll.
Yang Mayoritas Ulama Di Indonesia memakai Karangan Syeikh Nawawi Albantaniy sebagai Kitab Rujukan.
24. Mahfud Termas, muridnya:
– Arsyad Banjarmasin
– Syech Kholil Bangkalan Madura
– Abdi Shomad Palembang
25. Hasyim Asy’Ari (Pendiri NU)

Wallohu a’lam….

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

498 thoughts on “Apa Itu Ahlussunnah Wal Jamaah?”

  1. Bismillaah,

    Bagaimana dengan seorang guru yang mengaku bersanad tapi mengajarkan ilmu yang tidak bersanad (tidak ada dalam Qur’an dan Hadits)? Lalu, bagaimana dengan seorang guru yang biasa saja namun mengajarkan ilmu yang bersanad (ada dalam Qur’an dan Hadits)?

    Mana yang dipilih?

    Wassalaam.

  2. Bismillaah,

    Definisi Ahlussunnah wal Jamaah seperti ini jarang atau malah tidak pernah disampaikan kepada umat islam kebanyakan di Indonesia. Selama ini, pengertian Ahlussunnah wal Jamaah yang sering disampaikan ustadz-ustadz di Indonesia kepada umat Islam yang awam adalah bahwa Ahlussunnah wal Jamaah adalah orang yang melakukan amalan maulidan, tahlilan, yasinan, ziarah kubur wali, bersalaman setelah shalat, dzikir jamaah setelah shalat, nujuh bulan, dll. Ustadz-ustadz menyampaikan bahwa amalan-amalan tersebut disebuta amalan ASWAJA. Dengan demikian, orang kebanyakan menganggap bahwa amalan-amalan tersebut merupakan ciri khas Ahlussunnah wal Jamaah.

    Jadi, kalau ada orang yang tidak melakukan amalan-amalan tersebut, maka mereka tidak dimasukkan dalam golongan Ahlussunnah wal Jamaah.

    Oleh karena itu, besar sekali jasa ummatipress atas upayanya dalam menyampaikan pengertian Ahlussunnah wal Jamaah yang sebenarnya. Umat Islam menjadi tahu bahwa Ahlussunnah wal Jamaah adalah orang yang mengikuti jalan hidup Rasulullaah dan para sahabat, yang melakukan amalan-amalan yang dilakukan Rasulullaah dan para sahabat, bukan amalan-amalan yang dilakukan kebanyakan orang.

    Wallaahu a’lam.

    1. Afwan kang Ibnu Suradi, ana jadi terpancing ikut nimbrung karena ana menagkap artikel di atas tidak seperti yang antum tangkap pemahamannya.

      Ana melihat artikel di atas bahwa Salafy Wahabi benar dalam sebatas Devinisi, dan Ahlussunnah Wal Jamaah memang seperti itu definisinya. Aswaja ya seperti itu kang Ibnu Suradi. Coba lihat artikel Ummati yg di sini http://ummatipress.com/2011/01/13/aqidah-ajaran-nabi-yang-dibilang-sesat-oleh-salafy-wahabi/#more-2585

      Cuma yg membedakan, Salafy Wahabi banyak bertentangan dengan Ahlussunnah Wal Jamaah yang Mayoritas. Dan itu kan terbukti seperti itu, Makanya sekarang di dunia ini ada pertentangan yg mencolok antara Aswaja Mayoritas dengan “Aswaja” Salafy wahabi yg minoritas. Kenapa bisa begitu Kang, karena Salafy Wahabi dalam prakteknya (ulamanya) bersumber dari belajar sendiri-sendiri. Ini bisa berakibat sombong merasa sdh ikut sunnah dan Qur’an, tapi begitu dihadapkan pada Pemahaman Ulama-Ulama mu’tabar akan kelihatan salahnya. Demikian, afwan….

  3. Bismillah,

    Ummu Aiman yang baik hati,

    Pengertian mayoritas dalam hadits tersebut musti dikaji dengan seksama. Apakah mayoritas adalah kebanyakan kaum muslim saat ini? Lalu bagaimana dengan firman Allah: “Janganlah engkau mengikuti kebanyakan orang karena kebanyakan orang menyesatkanmu.”?

    Atau mayoritas itu adalah Rasulullaah, para sahabat, tabiin, tabiut tabiin yang semua generasi yang mengikutinya hingga hari kiamat? Meski jumlahnya sedikit bahkan seorang diri, bila mereka dan dia mengikuti jalan hidup tiga generasi terbaik umat Islam: sahabat, tabiin dan tabiut tabiin melalui gurunya yang lurus, maka mereka dan dia adalah Ahlusuunah wal Jamaah.

    Hal ini sesuai dengan perkataan Ibnu Mas’ud: “Al-Jama’ah adalah apa yang sesuai dengan kebenaran meski engkau seorang diri”… dalam riwayat lain redaksinya: “Sesungguhnya al-Jama’ah adalah apa yang sesuai dengan ketaatan kepada Alloh” (Tahdzibul Kamal 22/264-265).

    Wallaahu a’lam.

  4. Bismillaah,

    Apa tanda-tanda guru yang bersanad bersambung kepada Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam?

    Soalnya, ada juga guru yang mengaku-aku bersanad. Ada juga guru yang mengarang nama-nama guru dalam rantai sanad hingga ke Rasulullaah.

    Wallaahu a’lam.

  5. Ibnu Suradi, lihat aja postingan di atas pada session ke-3, itu contoh sanad ajaran Aswaja sampai ke Rosululloh Saw.

    Apakah Salafy Wahabi Wahabi juga punya sanad semacam itu, yang asli misalnya? Tolong kasih Sanad Salafy Wahabi sampai ke Rosul saw semacam sanad Aswaja di atas. Syukron.

    Bukan ciri2nya yang perlu ditanyakan, tetapi golongannya lebih tepat. Kalau ciri2nya sulit bagi orang2 awam mengenalinya sebab semua juga bicara soal agama yg kelihatan sama kecuali orang2 yg mengerti yang tahu perbedaannya.

  6. Bismillaah,

    Mbak Lusi yang baik hati,

    Contoh rangkaian nama guru dalam sanad tersebut dapat dibuat dan direkayasa oleh orang yang ingin mendapatkan pengakuan dari masyarakat Muslim. Makanya perlu pembuktian kebenaran sanadnya. Untuk menelusuri biografi masing-masing guru dan hubungan antara guru yang satu dengan guru yang diatasnya dalam rangkaian sanad tersebut perlu waktu yang panjang.

    Bisakah anda memberikan cara pembuktian yang cepat?

    Wallaahu a’lam.

    1. Kang Ibnu Suradi, kami Aswaja sudah memberikan sanad seperti itu, kalau antum gak percaya silahkan selidiki dan bongkar di mana kekeliruan sanad tsb. Gampang kan?

      Atau antum gak percaya sanad Aswaja Indonesia tsb hanya karena Salafy Wahabi Indonesia gak mampu menunjukkan sanadnya? Coba kalau menurut antum sanad itu bisa dibikin silahkan bikin, gampang kan? Tapi walaupun gampang tetapi Salafy Wahabi Indonesia saya jamin gak bakalan mampu menunjukkan sanadnya sampai ke Rosulullah Saw. Allah Swt akan mempersulit seandainya ada Salafy Wahabi coba-coba bikin sanadnya sampai ke Rosululloh Saw. Sampai kiyamat salafy Wahabi tidak akan sanggup membuat sanad walaupun yg sekedar karangan sekalipun! Saya Jamin itu Kang!

      Sebab apa, karena Wahabi memang tak punya sanad sampai ke Rosululloh Saw kecuali sanad yg terputus cuma sampai ke Ibnu Taymiyyah. Hayyyoooo ngomong apa lagi Kang?

  7. Ping-balik: NU Sebagai Salah Satu Benteng Ahlussunnah wal Jamaah | UmmatiPress, Berita Fakta Inspirasional Islam
  8. Bismillaah,

    Mbak Lusi yang bersemangat belajar,

    Anda begitu yakin kalau Wahabi memang tak punya sanad sampai ke Rosululloh Saw. Anda banyak mengamabil sanad dari kalangan habib. Padahal, di Wahabi pun banyak habib. Ada baiknya bagi anda untuk membaca artikel berjudul “Nasihat Habib-Habib Wahabi kepada Habib Sufi” di http://www.firaanda.com.

    Wallaahu a’lam.

  9. Bismillaah,

    Mbak Lusi yang baiak hati,

    Semua guru yang bersanad pasti menyampaikan ilmu yang benar-benar berasal dari Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana mengetahui bahwa ilmu yang disampaikan oleh guru yang mengaku bersanad benar-benar berasal dari Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam? Apakah kita mempercayainya begitu saja tanpa menanyakan dalil yang mendasari perkataan yang disampaikan guru tersebut?

    Wallaahu a’lam.

    1. Assalamu alaikum..
      @Ibnu Suradi

      Ikut nimbrung..
      Coment anda pada April 16, 2012 at 1:48 pm
      “Jadi, kalau ada orang yang tidak melakukan amalan-amalan tersebut, maka mereka tidak dimasukkan dalam golongan Ahlussunnah wal Jamaah”

      Saya:
      Masa sih..saya tdk pernah dengar tuh.Siapa ulama yg berkata begitu ?.
      ==========================================================
      Coment anda pada April 19, 2012 at 1:39 pm “[..]Lalu bagaimana dengan firman Allah: “Janganlah engkau mengikuti kebanyakan orang karena kebanyakan orang menyesatkanmu.”?

      Saya:
      Surah apa, ayat berapa ?

      1. Kang M Husaini,
        Memang benar ada lho ayat seperti itu tetapi itu adalah maksudnya orang kafir di zaman Nabi ingin menyesatkan Nabi…. Jadi itu ayat untuk orang kafir. Tetapi Ibnu Suradi (kaum Salafy Wahabi) rupanya memahaminya sebgai kebanyakan muslimin itu menyesatkan. Begitulah kaum Wahabi itu selalu salah persepsi makanya tersesat jalannya. Walaupun tersesat tetapi tetap merasa paling benar, na’udzu billah min Wahabi.

        1. Assalamu alaikum
          @Joyo Marto
          Itulah yg saya maksud..kayanya ni orang suka hatamkromo. Seenaknya saja dalam meletakan suatu ayat tanpa memperhatikan mengapa dan utk siapa ayat itu turun. Makasih Kang Joyo M.

  10. Intinya adalah Salafy Wahabi tidak akan sanggup menunjukkan sanadnya yg sampai ke rosululloh Saw. Ya, karena sanad salafy Wahabi itu memang mentok cuma sampai ke Ibnu Taymiyyah, ini pun sanad skip (loncatan) sebab sanad tsb bukan sanad talaqqi (ketemu langsung) melainkan sanad melaui baca kitabnya doang tanpa ketemu langsung. Begitulah kenapa Salafy Wahabi itu menjadi sangat luar biasa sesatnya dan berlawanan dg Asswaadu Al a’dzom.

    Padahal Nabi berpesan kalau terjadi perpecahan Ummat Islam maka ikutilah Asawaadul a’dzom, yaitu para Ulama Aswaja yg diikuti oleh Mayoritas Ummat Islam di seluruh dunia. Yg jelas Wahabi itu bukan Asswadu al a’dzom sebab Wahabi itu kaum minoritas dalam jumlahnya, hanya sedikit pengikutnya secara Internasional. Tidak ada seujung kukunya jumlah Aswaja di seluruh dunia.

    Demikian semoga bisa dipahami karena ini sudah sangat jelas sekali.

  11. Walaupun Salafy Wahabi sedikit dalam jumah pengkutnya, tetapi dampak fitnah yg ditimbulkan dari pemahamannya yg sesat tsb sungguh sangat luar biasa terasa di tengah kaum muslimin. Ya, sebab mereka sudah disebut oleh Nabi sebagai pembawa fitnah Islam, lihat hadits tentang fitnah Tanduk syetan yg muncul di Najd. Dan Imam Wahabi itu benar2 muncul di Najd yaitu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najd.

    Ini sudah sangat jelas bagi orang2 yg berakal cerdas.

  12. Bismillaah,

    Kang Yanto Jenggot,

    Alhamdulillaah, anda berjenggot. Di Indonesia orang yang berjenggot itu Muslim minoritas di antara kebanyakan Muslim klimis. Anda tidak masuk dalam golongan mayiritas.

    Anda mengatakan: “Yg jelas Wahabi itu bukan Asswadu al a’dzom sebab Wahabi itu kaum minoritas dalam jumlahnya”

    Komentar:

    Apakah anda sudah mengetahui definisi mayoritas dalam hadits itu? Apakah anda menghiraukan definisi mayoritas sebagai berikut:

    “Mayoritas itu adalah Rasulullaah, para sahabat, tabiin, tabiut tabiin yang semua generasi yang mengikutinya hingga hari kiamat? Meski jumlahnya sedikit bahkan seorang diri, bila mereka dan dia mengikuti jalan hidup tiga generasi terbaik umat Islam: sahabat, tabiin dan tabiut tabiin melalui gurunya yang lurus, maka mereka dan dia adalah Ahlusuunah wal Jamaah.

    Hal ini sesuai dengan perkataan Ibnu Mas’ud: “Al-Jama’ah adalah apa yang sesuai dengan kebenaran meski engkau seorang diri”… dalam riwayat lain redaksinya: “Sesungguhnya al-Jama’ah adalah apa yang sesuai dengan ketaatan kepada Alloh” (Tahdzibul Kamal 22/264-265).

    Wallaahu a’lam.

  13. mungkin ada yg berfikir sanad itu gak penting kali yeee…
    ditanyain mana sanadnya tinggal njawab kok sulit yeeeeee….

    btw suradi nama bapaknya ya mas??maaf ada perasaan gak enak kalo manggil kang suradi, ndak sopan ma orang tua:)

  14. Bismillaah,

    Kang Masruri,

    Sanad itu penting sebab dalam sanad itu terdapat rangkaian orang-orang pembawa berita. Kalau berita tidak ada sumbernya (sanad), maka itu bukanlah berita tapi hanya sekedar rumor. Kalau sebuah hadits tidak ada sanadnya, maka ia bukanlah hadits.

    Ulama-ulama telah menulis banyak kitab yang mengklasifikasikan hadits dengan sanad shahih dan hadits dengan sanad dhaif. Itu akan membantu kita dalam mengetahui kebenaran sanad hadits.

    Lalu, apa tolok ukur untuk menentukan sanad seorang guru itu benar atau salah? Ciri-cirinya bagaimana guru yang benar-benar bersanad?

    Wallaahu a’lam.

    1. Assalamu alaikum
      @Ibnu Suradi
      Kalau anda tdk tahu tolak ukur untuk menentukan sanad seorang guru itu benar atau salah dan ciri-cirinya bagaimana guru yang benar-benar bersanad..tanyakan langsung kepada yg bersangkutan.

      Masalah sanad seorang ulama.. kalau boleh saya kasih perbandingan..maukah anda berbohong kepada khalayak ramai atau anak anda sendiri bahwa anda mempunyai sanad hingga Rasulullah..sedangkan kebohongan itu membawa anda keneraka.

  15. Ibnu Suradi:
    Bismillaah,

    Kang Masruri,

    Sanad itu penting sebab dalam sanad itu terdapat rangkaian orang-orang pembawa berita. Kalau berita tidak ada sumbernya (sanad), maka itu bukanlah berita tapi hanya sekedar rumor. Kalau sebuah hadits tidak ada sanadnya, maka ia bukanlah hadits.

    Ulama-ulama telah menulis banyak kitab yang mengklasifikasikan hadits dengan sanad shahih dan hadits dengan sanad dhaif. Itu akan membantu kita dalam mengetahui kebenaran sanad hadits.

    Lalu, apa tolok ukur untuk menentukan sanad seorang guru itu benar atau salah? Ciri-cirinya bagaimana guru yang benar-benar bersanad?

    Wallaahu a’lam.

    terimakasih, info yang bermanfaat insya Allah

    mengenai pertanyaan ciri2 saya ndak tahu, tpi spertinya udah di jawab yg diatas saya (kang M.Husaini)

    kalo boleh nanya, kitab hadits apa saat ini yg paling sohih??(setidaknya menurut pengalaman njenengan berkelana di rimba dunia perhaditsan<—ini bukan hinaan, jgn slh sangka)

  16. M.Husaini:
    Assalamu alaikum
    @Joyo Marto
    Itulah yg saya maksud..kayanya ni orang suka hatamkromo. Seenaknya saja dalam meletakan suatu ayat tanpa memperhatikan mengapa dan utk siapa ayat itu turun. Makasih Kang Joyo M.

    untuk mengingatkan diri saya sendiri, dn yg mau:P

    ada yg mengatakan (insya Allah, pd tahu siapa yg mengatakan, atau lihat saja yg dikatakan:P)

    “apa yang tersimpan dalam rahasia batin, pasti pengaruhnya tampak pada anggota lahir”

  17. Assalamu alaikum
    @all
    Maaf agak keluar dari bahasan(sanad),

    Ada yg menarik hadits dibawah ini(kutipan dari atas) :
    (Rasulullah SAW) bersumpah: Demi zat yang menguasai jiwa Muhammad, sungguh umatku bakal terpecah, menjadi 73 golongan. Maka yang satu golongan masuk syurga, sedangkan yang 72 golongan masuk neraka. Sedang sahabat bertanya : Siapakah golongan yang masuk itu ya Rasulullah? Jawabnya Yaitu golongan Ahlussunnah Waljamaah” (HR. al-Tabrani)

    Semua golongan merasa golongan merekalah yg dimaksud dengan hadits diatas..perbedaannya hanyalah ada golongan yg mengatakan apabila diluar golongan mereka..kafir.

    Pertanyaannya adalah:
    1.a)Apakah yg 72 golongan itu kafir ?
    b)Alasannya ?
    2.Bagaimana nasib orang yg mengaku golongan merekalah yg paling benar dan golongan yg lain kafir ?

  18. Bismillaah,

    Mas Husaini,

    Oleh karena semua golongan mengaku Ahlusunnah wal Jamaah, kita menjadi bingung memilih golongan mana yang benar-benar Ahlussunnah wal Jamaah, bukan sekedar pengakuan saja. Untuk itu, kita musti mengetahui ciri-ciri Ahlussunnah wal Jamaah. Bagaimana akidah, ibadah dan akhlak mereka?

    Wallaahu a’lam.

  19. Assalamu alaikum.
    @Ibnu Suradi,
    Terima kasih tanggapannya. Mengapa anda harus bingung memilih golongan mana yang benar-benar Ahlussunnah wal Jamaah ? Menurut saya pribadi seharusnya yg kita bingungkan adalah apakah kita sudah diakui Rasulullah sebagai “UMATKU” atau belum.

    Termasuk didalam golongan Ahlussunnah wal Jamaah menurut saya adalah bonus kalau melihat dari kehidupan umat muslim sekarang.

    Yang fatal adalah menyalahkan dan membenci “UMATKU”, tentu anda tahu resikonya. Sebagai catatan sebagaimana hadits diatas, yg 62 golongan itu masih diakui Rasulullah sebagai “UMATKU”
    ==============================================================
    Coment anda :
    “Untuk itu, kita musti mengetahui ciri-ciri Ahlussunnah wal Jamaah. Bagaimana akidah, ibadah dan akhlak mereka?”

    Saya :
    Melihat dari coment anda itu rasanya seperti suatu ke”MUSTAHIL”an anda akan menemukan ciri2 Ahlussunnah wal Jamaah kalau dilihat dari 3 kategori yg anda cantumkan….jawabannya adalah ” Manusia tempat khilaf dan salah “

  20. Bismillaah,

    Kang Husaini,

    Kalau membaca artikel di atas dengan seksama, maka anda akan mendapati bahwa Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam hanya mengakui Ahlussunnah wal Jamaah sebagai umatnya. Semua golongan mengaku Ahlulssunnah wal Jamaah, namun hanya satu yang benar. nah, kalau kita tidak mengetahui ciri-ciri Ahlussunnah, maka kita bisa salah pilih golongan dan bisa celaka di akhirat kelak.

    Jadi, penting bagi kita untuk mengetahui ciri-ciri Ahlussunnah agar kita dapat menemukannya. Sama seperti seorang anak yang mencari ayahnya yang belum pernah ia temui sejak lahir. Ia mengingat ciri-ciri ayahnya yang diceritakan oleh ibunya kepadanya. Dengan bekal pengetahuan tentang ciri-ciri tersebut, maka ia mencari ayahnya dan akhirnya menemukan ayahnya. Betapa bahagai anak itu.

    Wallaahu a’lam.

  21. @ibnu Suradi
    gue mau nanya nich. apa aja ciri2 ahalussunnah wal jama’ah itu. tlg sebutin ya, karna wahabi juga koar2 bilang mereka ahlusunnah wal jama’ah, bahkan sampe ngatain Ibnu Hajar dan Imam Nawawi bukan ahlusunnah karena sering mentakwil ttg sifat2 Allah. Gmn?

  22. Bismillaah,

    Mustinya ulama-ulama meninggalkan warisan berupa kitab yang menulis ciri-ciri Ahlussunnah wal Jamaah sehingga umat Islam mengetahui Ahlussunnah yaitu golongan yang benar, selamat dan ditolong Allah. Dengan demikian, umat Islam tidak salah memilih golongan.

    Mungkin kawan-kawan ada yang mengetahui kitab seperti itu. Mohon disampaikan isi buku tersebut kepada kita di forum ini.

    Wallaahu a’lam.

  23. Nanti juga akan tahu dengan sendirinya…dan tahu akan berdiri dimana…jika kita mau meluangkan waktu, tenaga dan pikiran kita, untuk mempelajari 72 golongan yang sesat.

    1. someone@

      tdk usah nanti-nanti, sekarang pun sdh ketahuan kok, Wahabi itu golongan tersendiri, ahlussunnah wal jamaah juga golongan tersendiri. Wahabi itu ya wahabi itu sendiri walaupun ngaku-ngaku ahlussunnah wal jamaah. Sedangkan ahlusunnah wal jamaah itu ya ahlussunnah wal jamaah walaupun Wahabi membajak nama besar ahlussunnah wal jamaah.

      Sangat jelas ciri-cirinya masing, sangat jelas track recordnya masing…. Wahabi dan aswaja itu golongan dg ciri-khasnya masing2.

  24. Bismillaah,

    Kang Amr,

    Jadi, anda sudah mengetahui ciri-ciri Ahlussunnah wal Jamaah. kalau begitu, mohon anda menyamapaiakannya kepada saya dan mungkin kawan-kawan yang sedang mencari siapa dan bagaimana Ahlussunnah wal Jamaah itu sesungguhnya.

    Jika tidak mengetahui ciri-ciri Ahlussunnah wal Jamaah, maka mustahil seseorang akan menemukan golongan yang selamat dan tertolong tersebut. Mustahil bagai seseorang dapat menemukan barang tertentu tapi tidak mengetahui ciri-ciri barang tersebut. Bisa jadi ia akan mengaku telah menemukan barang tersebut begitu ia menjumpai barang pada laangkah pertama dan menit pertama.

    Bila ada orang yang mengaku Ahlussunnah tapi tidak mengetahui ciri-ciri Ahlussunnah, bagaimana dia pertama kali menemukan Golongan Ahlussunnah wal Jamaah? Apakah dia hanya ikut-ikutan, lalu merasa dirinya Ahlussunnah wal Jamaah?

    Wallaahu a’lam.

    1. @ibnu suradi
      Yang paling utama ciri-ciri Ahlu Sunnah Wal Jamaah adalah pengakuan “Allah Ada tanpa tempat”

      Apa ente yakin sama hal itu ?

  25. Bismillah,

    Kang Ucep,

    Mengenai masalah pertanyaan: “Di mana Allah?”, maka kita serahkan saja pada apa kata Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Mungkin anda mengetahui hadits tentang masalah ini.

    Ahlussunnah senantiasa mendahulukan perkataan Allah dan RasulNya dalam masalah agama.

    Wallaahu a’lam.

    1. @ibnu suradi
      Makanya ente kudu banyak baca, terutama kitab-kitab yang berbahasa arab, apa ente dah mahir bahasa arab, sehingga jawaban ente tidak menjadi seorang yang pasrah ” “Di mana Allah?”, maka kita serahkan saja pada apa kata Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.
      Kitab-kitab / buku bahasa arab kan dah banyak di Indonesia!!!!

  26. Assalamu alaikum,
    @Ibnu Suradi
    Maaf baru bisa menanggapi, baru pulang cari nafkah.
    Kalau anda hanya mendapati pada hadits itu bahwa Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam hanya mengakui Ahlussunnah wal Jamaah sebagai umatnya. Perhatikan kata-kata berikut ” sungguh UMATKU bakal terpecah”. Walaupun dikatakan terpecah tapi tetap diakui sebagai UMATKU. Apakah anda berpikir “UMATKU” tdk ada yang masuk neraka ?

    Tentunya anda tahu dilain hadits dikatakan “Ahlussunnah wal Jamaah adalah GOLONGAN YANG SELAMAT”. Artinya apa ? Artinya golongan itu masuk sorga tanpa harus merasakan neraka dulu,itulah ahlussunnah wal Jamaah.

    Maaf bukan bermaksud menggurui, tapi kalau anda ingin menjadi “Ahlussunnah wal Jamaah” ..kerjakan perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya.
    Sudahkah itu anda lakukan ?
    Sebagai contoh..MENGHINA.
    Menghina tuhan agama lain saja dilarang oleh Allah SWT, tapi mengapa kita harus menghina amalan sesama muslim hanya dikerenakan berbeda dalam memahami suatu ayat atau hadits. Seperti acara maulid, maulid adalah suatu BENTUK rasa cinta kami kepada Rasulululah.Saya pertegas.. hanyalah suatu BENTUK. Jadi kalau anda punya BENTUK yg lain bagaimana cara menyintai Rasulullah silahkan dikerjakan. Kerena perbedaan itulah yg dikehendaki-Nya agar kita BERLOMBA-LOMBA DALAM KEBAJIKAN.

    Yang saya sangat sayangkan adalah ketika ada orang mengatakan(mengina) maulid adalah bid’ah. Kerena maulid dibolehkan oleh hasil dari IJTIHAD ulama terdahulu yg sudah memenuhi syarat utk berijtihad sebagai bentuk rasa cinta kepada Rasulullah.

    Sebagaimana hadits berikut : Dari ‘Amru bin Al-‘Aash radliyallaahu ‘anhu : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    “Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala”
    Jadi….
    Bisakah anda memberikan kepada saya suatu ayat atau hadits yg menyatakan berbuat kesesatan itu mendatangkan pahala, kalau maulid itu dianggap suatu kesesatan ?

    Maaf kalau ada salah kata.

  27. @M. Husain terima kasih atas pencerahannya yang terang seperti matahari di siang hari.
    @Jbnu Suradi
    Mohon diberikan satu saja pendapat ulama muktabar yang menyatakan, “bahwa membaca Qur’an tidak sampai tenggorokan” ditujukan kepada orang2 yang baca Yasinan seperti yang Anda sampaikan pada artikel yang lain. Katanya kalau beragama itu harus pakai dilil, gak asal ngomong.

  28. Bismillaah,

    Kang Husaini,

    Anda benar bahwa umat Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam itu terdiri dari 73 golongan namun yang selamat hanayalah Golongan Ahlussunnah wal Jamaah seperti yang sudah dijelaskan dalam artikel pada thread ini. Saya rujuk kepada apa yang anda sampaikan tentang umat Rasulullaah.

    Saya setuju dengan pendapat anda bahwa bila ingin menjadi Ahlussunnah wal Jamaah, maka kerjakanlah perintah Allah dan jauhi laranganNya sesuai dengan petunjuk Rasulullaah.

    Marilah kita cocokkan amal ibadah kita dengan petunjuk Rasulullaah.

    Wallaahu a’lam.

    Wallaahu a’lam.

  29. Assalamu alaikum
    @Ibnu Suradi

    Alhamdulillah ada kecocokan bahwa selain golongan ahlussunnah wal Jamaah yg 72 golonganpun masih merupakan “umatku”.

    Kalau boleh tahu….Menurut anda bagaimana seharusnya sikap seorang ahlussunnah wal jamaah terhadap 72 golongan itu apabila sebagian pendapat mereka ditolak oleh 72 golongan dengan alasan beda dalam memahami ayat atau hadits ?

    Dan sebagai pedakwah yg baik… ayat apa saja yg menjadi rujukan anda agar tdk keluar dari batasan seorang pendakwah dan tetap dijalur yg benar sesuai dgn perintah-Nya ?

    Senang berdiskusi dgn anda.
    ===========================================================
    @Bima AsSyafi’i, sama-sama terima kasih kang…Alhamdulillah.

  30. Bismillaah,

    Kang Husaini yang baik,

    Ahlussunnah wal Jamaah senantiasa istiqomah mengikuti Qur’an dan Sunnah hingga hari kiamat, meski ia sendirian dan ditentang oleh kebanyakan orang. Mereka hanya menginginkan ridho Allah, buka ridho manusia. Dalam memahami Qur’an dan Sunnah, mereka mengikuti pemahaman para sahabat, tabiin, tabiut tabiin dan semua orang yang mengikuti mereka dengan benar. Mereka memahami Qur’an dengan tafsran ayat dengan ayat, ayat dengan hadits, ayat dengan atsar sahabat dan bahasa Arab.

    Saya belajar dengan guru yang menafsirkan ayat dengan cara tersebut.

    Tentang ayat yang musti dipegang agar tetap di atas jalan dakwah yang selamat adalah banyak di antaranya yang berarti: “Katakanlah wahai Muhammad: ‘Jika engkau mencintai Allah, ikutilah aku.’ ” dan “Taatlah kepada Allah, taatlah kepada rasul dan penguasa yang sah.”

    Wallaahu a’lam.

  31. Assalamu alaikum
    @Ibnu Suradi
    Maaf..sepertinya anda belum menjawab pertanyaan saya yg pertama. Kalau saya baca…. penjelasan anda itu adalah merupakan PRINSIP bukan SIKAP seorang Ahlussunnah wal Jamaah. Yang saya tanyakan adalah SIKAP terhadap 72 golongan.

    Yg kedua….Apakah anda setuju ?
    Ayat yg dijadikan rujukan sebagai seorang pendakwah agar tdk keluar dari batasan seorang pendakwah yaitu dari sekian banyak ayat rujukan yg saya baca poinnya adalah “HANYA MENYAMPAIKAN” tdk lebih.
    Sebagai contoh:
    “[..] karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.(QS.13:40)

    Mengapa saya katakan “agar tdk keluar dari BATASAN”….terkadang seorang pendakwah melawati batas tugasnya. Yaitu menghukumi ….”kamu berdosa…kamu sesat…dll”. Padahal dari ayat diatas…jelas sekali yg berhak menghukumi itu hanya Allah SWT saja.

    Semoga anda mengerti apa yg saya maksud…agar Islam benar-benar menjadi Ramatan Lil ‘Alamin.

    Rahmat artinya kelembutan yang berpadu dengan rasa iba (Lihat Lisaanul Arab, Ibnul Mandzur). Atau dengan kata lain rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang.

    Maaf kalau ada salah kata.

  32. Bismillaah,

    Kang Husaini,

    Anda benar bahwa sikap Ahlussunnah terhadap 72 golongan adalah menyampaikan apa ayang ada dalam Qur’an dan Sunnah. Apakah mereka menerima penyampaian tersebut atau tidak, maka itu berkenaan dengan hidayah. Dan hidayah hanya milik Allah. Manusia tidak bisa memberikan hidayah kepada siapapun. Jangankan manusia, Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak bisa memberikan hidayah kepada pamannya, Abu Thalib, hingga pamannya tersebut meninggal.

    Dalam surat Al Mulk, Allah berfirman: “Katakanlah wahai Muhammad: ‘Sesungguhnya saya hanyalah seorang pemberi peringatan.’ ”

    Wallaahu a’lam.

  33. @Ibnu Suradi
    Lalu kenapa Anda menghukumi orang yang hafal Surat Yasin tapi tidak tahu maknanya dengan istilah “membaca Qur’an tidak melewati kerongkongan sesuai hadits Nabi”. Setahu saya Nabi tidak pernah menghukumi orang yang hafal Surat Yasin dengan sebutan demikian. Apakah semua orang Arab yang bisa membaca Quran dan mengerti artinya pasti lebih meresap ke dalam hatinya daripada orang yang hafal Surat Yasin tapi tidak tahu artinya? Setahu saya orang Arab di Saudi juga banyak yang memiliki akhlak tak terpuji.

  34. Bismillaah,

    Kang Bima,

    Saya ingin bertanya sekali lagi: “Bagaimana orang bisa meresapi apa yang dia katakan padahal dia tidak mengerti arti (meski hanya arti terjemahan) yang ia ucapannya?”

    Ada orang yang menyanyikan lagu berbahasa Inggris dengan penuh penghayatan. Namun saat ditanya apa arti lirik lagunya, ia menjawab tidak mengetahuinya.

    Saya meyakini bahwa membaca Qur’an itu berpahala. Namun jangan mencukupkan pada itu saja. Lebih baik kita mengajari orang menghafalkan Qur’an dan arti terjemahannya syukur-syukur tafsirannya. Jangan biarkan diri kita dan orang-orang lain terus.awam.

    Wallaahu a’lam.

  35. @Ibnu Suradi
    Saya tanya, apakah hadits Rasulullah itu benar-benar untuk orang yang hafal Yasin tapi tidak tahu artinya? Jangan asal-asalan mengatasnamakan Rasulullah. Apakah orang orang Arab yang ngerti terjemahan Al Qur’an pasti lebih meresap dan pastih lebih patuh dalam beragama mengenai perintah dan larangan?

  36. Bismillaah,

    Orang yang mengaku menghayati saat membaca Surat Yasin padahal ia tidak mengetahui arti terjemahannya itu sama saja dengan seorang penyanyi yang melantunkan lagu berbahasa Inggris tapi ia tidak mengetahui arti terjemahan liriknya.

    Bedanya, membaca Qur’an berpahala, sedangkan menyanyi lagu berbahasa Inggris saya tidak mengetahui apakah itu berpahala atau tidak.

    Wallaahu a’lam.

  37. @Ibnu Suradi
    Saya ulangi lagi peretanyaan saya, apakah hadits Rasulullah itu benar-benar untuk orang yang hafal Yasin tapi tidak tahu artinya. Atau hanya prasangka Anda yang mengatasnamakan Rasulullah? Jika Anda seorang pendakwah yang jujur, pasti Anda akan jawab yang sebenarnya.

  38. @Mas ferry ASWAJA
    Saya tetap yakin sih kalo Ibnu Suradi itu sangat-sangat paham Al Qur’an dan Hadits sesuai pemahaman Shohabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in. Soalnya terlihat dari tanggapannya atas setiap artikel di sini, dan selalu mengajak kita untuk ittiba kepada Rasulullah.

  39. @ibnu suradi
    Sekarang ini banyak Edisi terjemahan al Qur’an dan hadist, jadi setiap orang mudah untuk membaca dan tau akan arti dan makna isi Al qur’an, tanpa terlebih dulu belajar ilmu Qira’at, lughah, tajwid dan tafsir dll, Ini yang ente maksud, jadi dengan mudahnya orang belajar pemaknaan al Qur’an dan Hadist. sehingga juga mudah menjadi Muhadist dan mentafsir.
    Tulisan ente :“Bagaimana orang bisa meresapi apa yang dia katakan padahal dia tidak mengerti arti (meski hanya arti terjemahan) yang ia ucapannya?”
    Inilah yang sangat berbahaya, buat kaum muslimin, jika ada disatu kelurahan 100 orang yang membaca, maka mungkin akan terjadi 100 hujjah di kelurahan tersebut dan jika ada orang yang meminta fatwa, maka 100 hujjah akan disodorkan. Nauzubillah akan terjadi fitnah dimana-dimana.

    Benar yang dikatakan oleh Rasulullah saw dalam hadistnya : Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan menariknya dari hati hamba-hambanya (ulama) akan tetapi mengambil ilmu dengan mencabut nyawa ulama, sehingga apabila tidak terdapat ulama, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh (menjadi pegangan mereka), mereka bertanya hukum kepadanya, kemudian orang-orang bodoh itu berfatwa menjawab pertanyaan mereka, jadilah mereka sesat dan menyesatkan pula. (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi , Ibnu Majah. Ahmad, ad-Darimi).

    Inilah yang dimaksud oleh hadist yang ente bilang : “Membaca Al Qur’an tapi cuma sampai kerongkongan” hadist ini ada dalam bab tanda-tanda kiamat.

    Demikian juga Rasulullah mengatakan tanda-tanda kiamat :
    Dalam kitab muslim bab fitnah dan tanda-tanda qiamat : Telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Manshur telah mengkhabarkan kepada kami Abu Dawud Ath Thayalisi telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’ad dari ayahnya dari Abu Salamah dari Abu Hurairah berkata: Nabi saw bersabda : “Akan terjadi fitnah, orang tidur saat itu lebih baik dari orang terjaga, orang terjaga saat itu lebih baik dari orang yang berdiri dan orang yang berdiri saat itu lebih baik dari orang yang berjalan cepat. Barangsiapa menemukan tempat berlindung, hendaklah berlindung.” (HR Muslim)

    Jadi Menurut ente yang dimaksud dengan tau arti makna sebenarnya apa ?

  40. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Setiap Muslim berkewajiban belajar agama Islam sebagai pegangan hidupnya sebab Allah telah membekalinya dengan pendengaran, penglihatan dan hati / fikiran (af’idah) sehingga ia mampu belajar. Hanya saja cara belajarnya yang musti diperhatikan. Akan sangat berbahaya belajar sendiri tanpa bimbingan guru yang benar-benar menguasai masalah agama. Maka, setiap dari kita hendaknya belajar agama dengan guru yang memenuhi syarat.

    Kita yang terbatas kemampuan dalam agama ini, hanya bisa bertanya kepada guru: “Apa dalil yang mendasari amalan ini?” maka guru kita akan menunjukkan dalil yang kita minta.

    Wallaahu a’lam.

    1. @ibnu suradi
      “Setiap Muslim berkewajiban belajar agama Islam sebagai pegangan hidupnya sebab Allah telah membekalinya dengan pendengaran, penglihatan dan hati / fikiran (af’idah) sehingga ia mampu belajar. Hanya saja cara belajarnya yang musti diperhatikan. Akan sangat berbahaya belajar sendiri tanpa bimbingan guru yang benar-benar menguasai masalah agama. Maka, setiap dari kita hendaknya belajar agama dengan guru yang memenuhi syarat”.

      Nah begitulah, jangan sampai kita menjadi mu’tazilah2 cilik, yang langsung memaknai ayat al Qur’an dan as sunnah setelah kita membaca kitab terjemahan.
      Cari guru yang bersanad dan memenuhi syarat keilmuannya, jangan tanpa guru, nti gurunya setan. Gak ada yang belajar ilmu agama tanpa guru (secara otodidak), Rasulullah saw aja belajar dengan Malaikat Jibril. Apalagi kita yang jauh dengan Rasulullah.

  41. @ibnu suradi
    “hanya bisa bertanya kepada guru: “Apa dalil yang mendasari amalan ini?” maka guru kita akan menunjukkan dalil yang kita minta”.
    Atas dasar itu ente bilang : “Saya ingin bertanya sekali lagi: “Bagaimana orang bisa meresapi apa yang dia katakan padahal dia tidak mengerti arti (meski hanya arti terjemahan) yang ia ucapannya?”.
    Berarti ente telah menuduh kepada orang-orang yang telah hafal Surah Yasin sebagai amalannya.
    Ini ane kasih tau tentang bagaimana seseorang itu harus menghafal dulu baru mengerti tentangnya :
    Diriwayatkan dari Sa’id bin Jabir, dari Ibnu ‘Abbas ra berkata : Adalah Rasulullah saw ketika Allah menurunkan Al-Qur’an kepadanya, beliau menggerakkan lisannya untuk menghafalkannya, maka Allah menurunkan ayat : “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat menguasainya”. (HR Tirmidzi).

    Ane berharap ente kan muslim yang baik, jangan berprasangka bagi orang penghapal ayat Al Qur’an dan as Sunnah.

  42. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Ya, anda benar bahwa kita musti menghafal ayat Qur’an terlebih dahulu, lalu mencari tahu arti terjemahannya dan tafsirannya. Jangan sampai kita berhenti pada menghafal saja, tidak pernah beranjak menuju tahap pengkajian arti dan tafsirannya.

    Wallaahu a’lam.

  43. inti dari artikel diatas adalah

    kalau devinisi semua golongan insyaallah sama yg mnjdi msalah adalah pembuktian dlam praktek inilah yg akan membedakan ahlus sunnah wal jamaah atau tdk..
    artinya kata ahlus sunnah wal jamaah itu bukan hanya sekedar pegakuan tpi perlu dicek kembali kebenarannya atas pengakuan masing2 kelompok

    nah setau saya yg namanya ahlu sunnah wal jamaah itu mengikuti rasul n sahabt….. inilah letak pembuktian itu…bgaimana cara mengikuti rasul n sahabat?karna semua kelompok juga mengklaim seperti ini

  44. Bismillaah,

    Kang Senopati,

    Anda benar bahwa pengakuan seseorang sebagai Ahlussunnah wal Jamaah musti dibuktikan dalam praktek penghambaannya kepada Allah. Pengakuan tersebut musti dibuktikan dalam praktek penyembahan kepada Allah. Apakah praktek penyembahan kita kepada Allah sudah sesuai dengan contoh dari Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

    Biar tidak melebar, mari kita lihat apakah shalat kita sudah sesuai dengan contoh dari Rasulullaah dan para sahabatnya atau belum.

    Wallaahu a’lam.

  45. Ping-balik: NU Sebagai Salah Satu Benteng Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia « tafakuran
  46. Ping-balik: NU Sebagai Salah Satu Benteng Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia | Warta Dunia Islam
  47. Yach…. begitulah….. g bisa nyebutin sanad malah melebar ke hal yang lain…. kalau kayak gini namanya ngeyel. BERARTI SUDAH JELAS SAUDARA-SAUDARA, APAKAH YG TIDAK PUNYA SANAD BERSAMBUNG INI AKAN TERUS DIIKUTI??? JAWABNYA ADA PADA DIRI MASING-MASING… Wallahu a’lam bishshawab

  48. yang punya blog mengutip hadits dari riwayat abu dawud “Maka berpegang teguhlah kalian terhadap Sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ al- Rasyidin, yang mendapat petunjuk, Pedomanilah sunnah(jalan hidup) mereka dan peganglah erat erat….yang saya pahami dari hadits ini, berarti kita harus mengikuti sunnah Rasul dan kullafa al Rasyidin ( Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman dan Ali bin abu thalib). sahabat nabi sangat banyak, tapi yg harus iikuti ya harus mencocoki dari sunnah 4 sahabat itu saja. apakah 4 sahabat nabi itu melakukan yasinan, tahlilan, zikir berjamaah? klo ada, bawakan dimari riwayatnya….

    1. @Satyo :
      Untuk dzikir berjamaah terutama setelah selesai shalat, ada hadits diriwayatkan dari Ibnu Abbas R.A. :

      أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

      “Bahwasanya dzikir dengan suara keras setelah selesai shalat wajib adalah biasa pada masa Rasulullah SAW”. Kata Ibnu ’Abbas, “Aku segeratahu bahwa mereka telah selesai shalat, kalau suara mereka membaca dzikir telah kedengaran”.
      [Lihat Shahih Muslim I, Bab Shalat. Hal senada juga diungkapkan oleh al Bukhari(lihat: Shahih al Bukhari hal: 109, Juz I)]

      Untuk dzikir lain seperti Yasinan, Tahlilan, shalawatan itu hanya nama/sebutan lain dari dzikrullah jadi dasar haditsnya jelas, yaitu dalam Hadits Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan oleh Sahabat Abu Hurairah :

      عَنْ أبِيْ هُرَيْرَة(ر) قَالَ: رَسُولُ الل.صَ. : إنَّ اللهَ مَلآئِكَةً يَطًوفُونَ فِي الطُُّرُقِ يَلتَمِسُونَ أهْلِ الذّكْرِ, فَإذَا وَجَدُوا قـَوْمًا يَذْكُرُونَ اللهَ تَناَدَوْا : هَلُمُّـوْا إلَى حَاجَتِكُمْ, فَيَحُفّـُونَهُمْ بِأجْنِحَتِهِمْ إلَى السَّمَاءِ, فَإذَا تَفَرَّقُوْا عَرَجُوْا وَصَعِدُوْا اِلَى السَّمَاءِ فَيَسْألُهُمْ رَبُّـهُم ( وَهُوَ أعْلَمُ بِهِمْ ) مِنْ اَيْنَ جِئْتُمْ ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عَبَيْدٍ فِي الاَرْضِ يُسَبِّحُوْنَكَ وَيُكَبِّرُوْنَكَ وَيُهَلِّلُوْنَكَ. فَيَقُوْلُ : هَلْ رَأوْنِي؟ فَيَقُولُوْنَ : لاَ, فَيَقُوْلُ : لَوْ رَأوْنِي؟ فَيَقوُلُوْنَ : لَوْ رَأوْكَ كَانُوْا اَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً, وَ اَشَدَّ لَكَ تَمْجِيْدًا وَاَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيْحًا, فَيَقُوْلُ : فَمَا يَسْألُنِى ؟ فَيَقوُلُوْنَ : يَسْألُوْنَكَ الجَنَّةَ, فَيَقُوْلُ : وَهَلْ رَأوْهَا ؟ فَيَقُولُوْنَ : لاَ, فَيَقُوْلُ : كَيْفَ لَوْ رَأوْهَا ؟ فَيَقُولُوْنَ : لَوْ اَنَّهُمْ رَأوْهَا كَانُوْا اَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَ اَشَدَّ لَهَا طَلَبًا وَاَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً. فَيَقُوْلُ : فَمِمَّا يَتَعَوَّذُوْنَ ؟ فَيَقولُوْنَ : مِنَ النَّارِ, فَيَقُوْلُ : وَهَلْ رَأوْهَا ؟ فَيَقُولُوْنَ : لاَ, فَيَقُوْلُ : كَيْفَ لَوْ رَأوْهَا ؟ فَيَقُلُوْنَ : لَوْ رَأوْهَا كاَنُوْا اَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا, فَيَقُوْلُ : اُشْهِدُكُمْ اَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ, فَيَقُوْلُ مَلَكٌ مِنَ المَلاَئِكَةِ : فُلاَنٌ فَلَيْسَ مِنهُمْ, اِنَّمَا جَائَهُمْ لِحَاجَةٍ فَيَقُوْلُ : هًمْ قَوْمٌ لاَ يَشْقَى جَلِيْسُهُمْ.

      “Sesungguhnya Allah memilik sekelompok Malaikat yang berkeling dijalan-jalan sambil mencari orang-orang yang berdzikir. Apabila mereka menemu- kan sekolompok orang yang berdzikir kepada Allah, maka mereka saling menyeru :’Kemarilah kepada apa yang kamu semua hajatkan’. Lalu mereka mengelilingi orang-orang yang berdzikir itu dengan sayap-sayap mereka hingga kelangit. Apabila orang-orang itu telah berpisah (bubar dari majlis dzikir) maka para malaikat tersebut berpaling dan naik kelangit. Maka bertanyalah Allah swt. kepada mereka (padahal Dialah yan lebih mengetahui perihal mereka). Allah berfirman : Darimana kalian semua ? Malaikat berkata : Kami datang dari sekelompok hambaMu dibumi. Mereka bertasbih, bertakbir dan bertahlil kepadaMu. Allah berfirman : Apakah mereka pernah melihatKu ? Malaikat berkata: Tidak pernah ! Allah berfirman : Seandainya mereka pernah melihatKu ? Malaikat berkata: Andai mereka pernah melihatMu niscaya mereka akan lebih meningkatkan ibadahnya kepadaMu, lebih bersemangat memujiMu dan lebih banyak bertasbih padaMu. Allah berfirman: Lalu apa yang mereka pinta padaKu ? Malaikat berkata: Mereka minta sorga kepadaMu. Allah berfirman : Apa mereka pernah melihat sorga ? Malaikat berkata : Tidak pernah! Allah berfirman: Bagaimana kalau mereka pernah melihatnya? Malikat berkata: Andai mereka pernah melihanya niscaya mereka akan bertambah semangat terhadapnya, lebih bergairah memintanya dan semakin besar keinginan untuk memasukinya. Allah berfirman: Dari hal apa mereka minta perlindungan ? Malaikat berkata: Dari api neraka. Allah berfirman : Apa mereka pernah melihat neraka ? Malaikat berkata: Tidak pernah! Allah berfirman: Bagaimana kalau mereka pernah melihat neraka ? Malaikat berkata: Kalau mereka pernah melihatnya niscaya mereka akan sekuat tenaga menghindarkan diri darinya. Allah berfirman: Aku persaksikan kepadamu bahwasanya Aku telah mengampuni mereka. Salah satu dari malaikat berkata : Disitu ada seseorang yang tidak termasuk dalam kelompok mereka. Dia datang semata-mata karena ada satu keperluan (apakah mereka akan diampuni juga ?). Allah berfirman : Mereka (termasuk seseorang ini) adalah satu kelompok dimana orang yang duduk bersama mereka tidak akan kecewa”.

      Dalam riwayat Muslim ada tambahan pada kalimat terakhir : ‘Aku ampunkan segala dosa mereka, dan Aku beri permintaan mereka’.

      Itu dulu, sekarang saudara tunjukkan dalil yang melarang, jangan asal bicara saja.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

      1. @satyo
        Ini ane tambahain lagi biar komplit

        Abu Sa’id ra meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda : “Laksanakanlah al Baqiyat al Shalihat sebanyak-banyaknya”. Mereka bertanya : “Apakah al Baqiyat al Shalihat (Amal Shaleh yang kekal) itu ?. Nabi saw menjawab : “Takbir (Allahu Akbar), Tahlil (La illa ha ilallah), Tasbih (Subhanallah), Al Hamdulillah dan La hawla wa la quata illa billah”. (Ibn Hibban dalam kitabnya Shahih Ibn Hibban dikatakan Hadist tersebut Shahih).
        Dari Tsabit ra ia bekata, Ketika sahabat Salman Al-Farisi beserta kawan-kawannya sedang sibuk berkumpul berzikir, lewatlah Rasulullah saw dihadapan mereka. Maka mereka terdiam sebentar. Lalu beliau bertanya : “Apa yang sedang kalian lakukan?” Mereka menjawab : “Kami sedang berzikir”. Kemudian Rasulullah saw bersabda : “Sungguh aku melihat rahmat Allah turun di atas kalian, maka hatiku tertarik untuk bergabung bersama kalian membaca zikir”. Lantas beliau bersabda yang artinya “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan dari umatku orang-orang yang aku perintahkan duduk bersama mereka”. (Lihat Musnad Imam Ahmad bab Salman Al Farisi).

        Nah sekarang jawab pertanyaan @mas derajat, “Itu dulu, sekarang saudara tunjukkan dalil yang melarang, jangan asal bicara saja”.

  49. Bismillaah,

    Kang Satyo,

    Saya setuju komentar anda. Mari kita cocokkan jalan hidup beragama kita dengan jalan hidup beragama Rasulullaah shallallaahu alaihi wa sallam dan khulafa’ arrasyidin. Mari kita cocokkan shalat kita dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah kepada para sahabatnya.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi :
      Sebenarnya saya mau membahas komentar pertama saudara di artikel ini tentang SANAD keilmuan, khususnya Sanad Kitab Fiqh. Tapi karena saudara mengikuti komentar-komentar diatas, saudara berubah-ubah pokok bahasannya.

      Tapi baiklah, kita bahas tentang shalat, mungkin yang anda maksud tata cara shalat. Tapi kalau saya mengartikan shalat ya secara keseluruhan, yaitu Syarat, Rukun, dan Sunnah shalat termasuk larangan dalam shalat. Yang saudara permasalahkan mana ? Kalau memang mau bahas, ayo bahas satu-satu biar tidak lompat-lompat. Karena saudara yang beranggapan sudah shalat seperti Rasulullah SAW. monggo dibahas dari pandangan saudara dulu. 😀

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

      1. Bismillaah,

        Mas Derajad,

        Saya tidaklah mengaku bahwa shalat saya paling sesuai dengan shalat yang diajarkan oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Lihatlah komentar saya: “Mari kita cocokkan shalat kita dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah kepada para sahabatnya.” Saya gunakan kata “kita”, bukan “anda”. Kita adalah saya atau kami dan anda. Kalau saya menganggap bahwa shalat saya sudah sesuai dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah, maka saya pasti menggunakan kata “anda” sehingga komentar saya menjadi: “Cocokkanlah shalat anda dengan shalat Rasulullaah.”

        Saya sedang belajar tentang bagaimana Rasulullaah melakukan shalat dari berdiri hingga salam. Andaa memiliki usulan yang bagus untuk membahas shalat dari A hingga Z di sini. Saya berharap dapat ilmu dari anda.

        Biar fokus dan tidak bertele-tele, bagaimana kalaua pembahasan kita batasi pada gerakan shalat dari berdiri hingga salam? Setuju? Semoga diskusi ini bermanfaat bagi kita semua.

        Wallaahu a’lam.

        1. @Ibnu Suradi :
          Yah, namanya juga tulisan tidak mempunyai nilai “emosional” yang tampak. Saya hanya mengutip kata-kata saudara dalam menanggapi saudara Abuya yaitu

          “Anda yakin bahwa shalat anda sudah sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullaah kepada para sahabatnya? Buktinya apa?”

          Hanya Allah yang tahu hati dan fikiran seseorang. Kita serahkan saja kepada Allah. Kita tidak usah bahas lagi.

          Untuk permintaan saudara saya setuju, silahkan anda mulai mana gerakan A-Z yang menurut saudara kami Ahlus Sunnah Wal Jamaah tidak sesuai dengan tata cara Rasulillah Muhammad SAW. Monggo..!? 😀

          Kebenaran hakiki hanya milik Allah
          Hamba Allah yang dhaif dan faqir
          Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

          1. Bismillaah,

            Mas Derajad,

            Sebaiknya hindari kata-kata: “Mana gerakan A-Z yang menurut saudara kami Ahlus Sunnah Wal Jamaah tidak sesuai dengan tata cara Rasulillah Muhammad SAW.” Kalimat itu mengesankan bahwa: “Shalatku benar dan shalatmu shalah.” Lebih baik kita bahas gerakan shalat Rasulullaah dari berdiri hingga salam berdasarkan hadits-hadits tanpa celaan, tudingan dan tuduhan serta saling menyalahkan. Itu lebih bermanfaat bagi kita semua.

            Wallaahu a’lam.

          2. @Ibnu Suradi :
            Ya wis, monggo Mas Ibnu Suradi lanjut…. 😀

            Kebenaran hakiki hanya milik Allah
            Hamba Allah yang dhaif dan faqir
            Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  50. @satyo n @ibnu suradi
    Gak usah teriak-teriak cara Rasulullah dan Sahabat, sekarang ente jelasin Kata BID”AH yang ditanyakan @mas derajat dan mas @abu hilya.

  51. Bismillaah,

    Sebaiknya, Kang Ahmad Syahid, Mutiara Zuhud, Abu Zamil, Abu Dzar, Shabar, Dikn dan lain-lain bergabung dalam diskusi ini sehingga diskusi menjadi lebih rinci, lengkap dan mendalam.

    Wallaahu a’lam.

  52. Bismillaah,

    Marilah kita mulai dari cara berdiri untuk shalat. Kita kupas tuntas cara berdiri untuk shalat ini berdasarkan hadits-hadits tentang shalat. Apa saja yang musti kita perhatikan dalam masalah berdiri untuk shalat? Menghadap apa? Menghadap kemana? Bagaimana posisi kaki?

    Menghadap sutrah. Apa itu sutrah? Apa saja yang bisa dijadikan sutrah? Bagaimana sutrah shalat sendiri dan sutrah shalat berjamaah?

    Saya sudah mengawali diskusi yang saya yakin sangat bermanfaat ini dengan pembahasan mengenai sutrah. Silahkan kawan-kawan melengkapinya dengan hadits-hadits yang mendasarinya.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi :
      Dalam ilmu nahwu atau beberapa qamus mu’tamad yang benar adalah sutra (ستر), yang berarti menutupi. Adapun ta’rifnya adalah sesuatu yang dijadikan pembatas seseorang yang sedang shalat dengan orang yang berjalan di depannya.

      Ada beberapa pendapat ulama tentang sutra ini. Dalam salah satu kitab Induk Mazhab Syafi’i yaitu Kitab Fathul Mu’in, karya Syaikh Malibari, disebutkan bahwa urutan sutra yang mu’tamad adalah :
      1. Dinding atau tiang, yaitu segala sesuatu yang tingginya 2/3 hasta atau lebih, dan jaraknya dengan tumit paling jauh adalah 3 hasta.
      2. Jika tidak ada, bisa pakai tongkat yang ditancapkan
      3. Jika tidak ada, bisa dengan membetangkan sajadah/semacamnya
      4. Jika tidak ada, boleh dengan menggaris tempat didepannya sepanjang 3 hasta
      dalam teks aslinya kata jika tidak ada sebenarnya adalah jika tidak menemukannya/jika tidak memungkinkan.

      Sedang hukumnya adalah sunnah (Fathul Mu’in/24)

      Kesunahan ini bisa diterima, karena masa sekarang batas shaf di tiap Masjid/Mushalla dan lain sebagainya kebanyakan sudah ditandai, atau paling tidak sudah dibatasi dengan sajadah untuk shalat.

      Apa ada yang dipermasalahkan Saudara Ibnu Suradi ?

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

      1. Lanjut mas derajad, ini salah satu yang dipermasalahkan oleh Albani dalam Shalat al Nabi, dia melihat hadist dari Ibnu Umar “Jangan engkau shalat kecuali menghadap sutrah” (HR Muslim)
        Ane nyimak semoga bermanfaat.

  53. Bismillaah,

    Mas Derajad,

    Terima kasih atas diskusinya. Anda telah melengkapi pembahasan masalah sutrah dengan menyampaikan pendapat ulama yang sangat bermanfaat bagi kita semua.

    Berikut saya sampaikan hadits tentang sutrah:

    Dari Ibnu ‘Umar ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Janganlah engkau shalat kecuali menghadap sutrah (pembatas). Dan jangan engkau biarkan seorangpun lewat di hadapanmu (ketika engkau shalat). Jika ia enggan, maka perangilah ia, sesungguhnya ia bersama dengan qarin (syaithan)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah no. 800].

    Dalam hadits Shadaqah bin Yasaar (ia berkata) : Aku mendengar Ibnu ‘Umar berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Janganlah kalian shalat kecuali menghadap ke sutrah’. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang seseorang yang akan melakukan shalat kecuali menghadap sutrah; lantas bagaimana bisa beliau melakukan sesuatu yang beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri larang ?” [Shahih Ibni Khuzaimah, 2/27-28; Al-Maktab Al-Islaamiy].

    Dari Abu Sa’iid Al-Khudriy, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang di antara kalian shalat, hendaknya ia shalat dengan menghadap ke sutrah dan mendekatlah padanya” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 698].

    Dari Muusaa bin Thalhah, dari ayahnya, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang di antara kalian meletakkan sesuatu di depannya seukuran pelana kuda (untuk dijadikan sutrah), hendaknya ia shalat. Dan janganlah ia pedulikan orang-orang yang yang melintas di belakangnya (sutrah)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 241].

    Wallaahu a’lam.

  54. @Ibnu Suradi :
    Mengenai sutra (bukan kain sutra) ini cukup banyak hadits yang membahasnya, baik itu di Shahih Bukhari, Shahih Muslim,, Musnad Imam Abu Dawud, dan lain-lain. Demikian juga fatwa dan ijma’ ulama cukup banyak membahasnya seperti dalam kitab Fathul Mu’in yang saya sebut diatas, Fathul Bari, Raudlatut Thalibin Imam Nawawi dan lain-lainnya.

    Kita tidak sedang membahas hadits, dan karena definisinya sudah jelas, maka saya tidak perlu menunjukkan hadits maupun qaul ataupun ijma ulama tentang hal tersebut. Jadi menurut jumhur ulama, jelas bahwa shalat menghadap sutrah hukumnya sunnah.

    Agar tidak melebar, coba kita lebih fokus membahasnya dari perbedaan yang mungkin menurut saudara sangat berbeda. Karena cakupan masalahnya biar lebih tajam dan fokus. Setelah saudara sebut perbedaannya baru kita bahas dalil-dalinya. Bagaimana saudara Ibnu Suradi?

    Monggo dilanjut 😀

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  55. @kang derajad, salam untuk teman2 generasi muda aswaja/NU di Denpasar dan kawasan Indonesia Timur, kita adalah benteng NKRI, monggo dilanjut diskusinya, setelah menyimak diskusi ustadz Abu hilya vs Abu Zamil, skrg saya ikut nyimak diskusi Kang derajad vs Ibnu Suradi, cukup adil satu lawan satu biar diskusi tidak melebar kemana2.

    1. @Kakang Prabu Minakjinggo,

      Maturnuwun dukungannya. Salam untuk saudara-saudara Ahlus Sunnah Waljamaah Banyuwangi

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  56. @Ibnu Suradi :
    Saudara Ibnu Suradi, karena tidak ada lagi bantahan ataupun pembahasan saudara mengenai sunnatnya shalat menghadap (dibatasi) sutra (saya memberi kata tambahan agar tidak keluar dari rukun shalat yaitu menghadap kiblat), maka saya akan sampaikan hal tentang “Melafadzkan Niat Terkhusus Sebelum Takbiratul Ihram” yang biasanya dipermasalahkan oleh saudara kita dari faham Salafy Wahabi.

    Niat shalat hukumnya wajib, makanya dimasukkan dalam rukun shalat. Tempatnya adalah bersamaan dengan Takbiratul Ihram (Takbir Pertama dalam shalat). Hal ini telah disepakati oleh para ulama, terkhusus juga Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

    Didalam melakukan niat shalat (khususnya shalat fardlu), diwajibkan memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:
    – Qashdul fi’li (قصد فعل) yaitu menyengaja mengerjakannya, lafadznya seperti (أصلي /ushalli/”aku menyengaja”)
    – Ta’yin (التعيين) maksudnya adalah menentukan jenis shalat, seperti Dhuhur atau Asar atau Maghrib atau Isya atau Shubuh.
    – Fardliyah (الفرضية) maksudnya adala menyatakan kefardhuan shalat tersebut, jika memang shalat fardhu.
    Adapun jika bukan shalat fardhu (shalat sunnah) maka tidak perlu Fardliyah (الفرضية).
    Jadi berniat, semisal (ﺍﺼﻠﻰ ﻓﺮﺽ ﺍﻟﻈﻬﺮ ﺃﺩﺍﺀ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﻠﻰ/”Sengaja aku shalat fardhu dhuhur karena Allah”) saja sudah cukup.
    Sekali lagi, niat tersebut dilakukan bersamaan dengan Takbiratul Ihram. Yang dinamakan “bersamaan” atau biasa disebut Muqaranah (ﻣﻘﺎﺭﻧﻪ) mengadung pengertian seperti termaktub dalam Fathul Mu’in Bisyarhi Qurratu ‘Ayn, yaitu :
    . وفي قول صححه الرافعي، يكفي قرنها بأوله
    “Menurut pendapat (qoul) yang telah dishahihkan oleh Al-Imam Ar-Rafi’i. bahwa cukup dicamkan bersamaan pada awal Takbir”.

    وفي المجموع والتنقيح المختار ما اختاره الامام والغزالي: أنه يكفي فيها المقارنة العرفية عند العوام بحيث يعد مستحضرا للصلاة
    Didalam kitab Al-Majmu dan Tanqihul Mukhtar yang telah di pilih oleh Al-Imam Ghazali, bahwa “bersamaan” itu cukup dengan kebiasaan umum (‘Urfiyyah/ العرفية), sekiranya (menurut kebiasaan umum) itu sudah bisa disebut mencamkan shalat” (al-Istihdar al-‘Urfiyyah).

    Imam Al-Ibnu Rif’ah dan A-Imam As-Subki membenarkan pernyataan diatas, dan Al-Imam As-Subki mengingatkan bahwa yang tidak menganggap/menyakini bahwa praktek seperti atas (Muqaranah Urfiyyah ( ﻣﻘﺎﺭﻧﻪ ﻋﺭﻓﻴﻪ )) tidak cukup menurut kebiasaan), maka ia telah terjerumus kepada kewas-wasan.

    Pada dasarnya “bersamaan” atau biasa disebut Muqaranah (ﻣﻘﺎﺭﻧﻪ) adalah berniat yang bersamaan dengan takbiratul Ihram mulai dari awal takbir sampai selesai mengucapkannya, artinya keseluruhan takbir, inilah yang dinamakan Muqaranah Haqiqah ( ﻣﻘﺎﺭﻧﻪ ﺣﻘﻴﻘﺔ ).

    Namun, jika hanya dilakukan pada awalnya saja atau akhir dari bagian takbir maka itu sudah cukup dengan syarat harus yakin bahwa yang demikian menurut kebiasaan (Urfiyyah) sudah bisa dinamakan bersamaan, inilah yang dinamakan Muqaranah Urfiyyah ( ﻣﻘﺎﺭﻧﻪ ﻋﺭﻓﻴﻪ ).

    Menurut pendapat IMAM MADZHAB selain Imam Syafi’i, diperbolehkan mendahulukan niat atas takbiratul Ihram dalam selang waktu yang sangat pendek.

    Tempatnya niat adalah di dalam hati. Sebagaimana diterangkan dalam Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq, pada pembahasan فرائض الصلاة
    ومحلها القلب لا تعلق بها باللسان أصلا
    “niat tempatnya didalam hati, pada asalnya tidak terikat dengan lisan”

    Al-Allamah Al-Imam An-Nawawi, dalam kitab Al-Majmu’ (II/43) :
    فإن نوى بقلبه دون لسانه أجزأه
    “sesungguhnya niat dengan hati tanpa lisan sudah cukup”

    Al-Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qasim asy-Syafi’i, didalam Kitab Fathul Qarib, pada pembahasan Ahkamush Shalat ;
    اْلقَلْبُ مُحَلُّهَا بِفِعْلِهِ وَ الشَّيْءِ مُقْتَرَناً قَصْدُ هِيَ النِّيَةُ وَ
    “niat adalah memaksudkan sesuatu bersamaan dengan perbuatannya dan tempat niat itu berada di dalam hati.”

    Al-Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Husaini, didalam Kifayatul Ahyar, pada bab (باب أركان الصلاة)]
    واعلم أن النية في جميع العبادات معتبرة بالقلب فلا يكفي نطق للسان
    “Ketahuilah bahwa niat dalam semua ibadah menimbang dengan hati maka tidak cukup hanya dengan melafadzkan dengan lisan”

    Demikian juga dikatakan dalam kitab yang sama (Kifayatul Akhyar) pada باب فرائض الصوم
    لا يصح الصوم إلا بالنية للخبر، ومحلها القلب، ولا يشترط النطق بها بلا خلاف
    Tidak sah puasa kecuali dengan niat, berdasarkan khabar (hadits shahih), tempatnya niat didalam hati, dan tidak Syaratkan mengucapkannya tanpa ada khilaf”

    Keterangan : pada bab Fardhu PUASA ini, mengucapkan niat tidak disyaratkan artinya bukan merupakan syarat dari puasa. Dengan demikian tanpa mengucapkan niat, puasa tetap sah. Demikian juga dengan shalat, melafadzkan (mengucapkan) niat shalat bukan merupakan syarat dari shalat, bukan bagian dari fardhu shalat (rukun shalat). Jadi, baik melafadzkan niat (talaffudz binniyah) maupun tidak, sama sekali tidak menjadikan shalat tidak sah, tidak pula mengurangi atau menambah-nambah rukun shalat.

    Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy, didalam Tuhfatul Muhtaj (تحفة المحتاج بشرح المنهاج) [II/12] :
    والنية بالقلب
    “dan niat dengan hati”

    Al-Hujjatul Islam Al-’Allamah Al-Faqih Al-Imam Al-Ghazaliy, didalam kitab Al-Wajiz fi Fiqh Al-Imam Asy-Syafi’i, Juz I, Kitabus Shalat pada al-Bab ar-Rabi’ fi Kaifiyatis Shalat ;
    “niat dengan hati dan bukan dengan lisan”

    Semua keterangan diatas hanya menyatakan bahwa niat tempatnya didalam hati (tidak ada cap bid’ah), Amalan hati atau niat dengan hati. Demikian juga dengan niat shalat adalah didalam hati.
    Sedangkan melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) bukanlah merupakan niat, bukan pula aktifitas hati (bukan Amalan hati) namun aktifitas yang dilakukan oleh lisan.
    Niat dimaksudkan untuk menentukan sesuatu aktifitas yang akan dilakukan, niat dalam shalat dimaksudkan untuk menentukan shalat yang akan dilakukan. Dengan kata lain, niat adalah memaksudkannya sesuatu.
    Ibnu Manzur dalam kitabnya yang terkenal yaitu Lisanul ‘Arab (15/347) berkata ;
    ” Meniatkan sesuatu artinya memaksudkannya dan meyakininya. Niat adalah arah yang dituju”.

    Sebagaimana juga dikatakan didalam kitab Fathul Qarib :
    بِفِعْلِهِ وَ الشَّيْءِ مُقْتَرَناً قَصْدُ هِيَ وَ
    “niat adalah memaksudkan sesuatu bersamaan dengan perbuatannya”

    Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam asy-Syafi’i, pada pembahasan Arkanush Shalat ;
    بالنيات الأعمال إنما قول لها ودلي القلب ومحلها فعله أجزاء بأول الشَّيْءِ مُقْتَرَناً قَصْدُ هِيَ وَ
    “(Niat), adalah menyengaja (memaksudkan) sesuatu bersamaan dengan sebagian dari perbuatan,tempatnya didalam hati. dalilnya sabda Nabi SAW ; (“بالنيات الأعمال إنما”)”

    Maka, selagi lagi kami perjelas. Niat adalah Amalan hati, niat shalat dilakukan bersamaan dengan takbiratul Ihram, merupakan bagian dari shalat (rukun shalat), adapun melafadzkan niat (mengucapkan niat) adalah Amalan lisan (aktifitas lisan), yang hanya dilakukan sebelum takbiratul Ihram, artinya dilakukan sebelum masuk dalam bagian shalat (rukun shalat) dan bukan merupakan bagian dari rukun shalat. Niat shalat tidak sama dengan melafadzkan niat.

    Melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) hukumnya sunnah. kesunnahan ini diqiyaskan dengan melafadzkan niat Haji, sebagaimana Rasulullah dalam beberapa kesempatan melafadzkan niat yaitu pada ibadah Haji.
    (مسلم رواه)وَحَجًّا عُمْرَةً لَبَّيْكَ يَقُوْلُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ اللهُ صَلَّى اللهِ رَسُوْلَ سَمِعْتُ قَالَ عَنْهُ اللهُ رَضِيَ اَنَسٍ عَنْ
    “Dari sahabat Anas ra berkata : “Saya mendengar Rasulullah SAW mengucapkan “Aku memenuhi panggilan-Mu (Ya Allah) untuk (mengerjakan) umrah dan haji” (HR. Imam Muslim)

    Dalam buku Fiqh As-Sunnah I halaman 551 Sayyid Sabiq menuliskan bahwa salah seorang Sahabat mendengar Rasulullah SAW mengucapkan (الْحَجَّ نَوَيْتُ اَوْ الْعُمْرَةَ نَوَيْتُ) “Saya niat mengerjakan ibadah Umrah atau Saya niat mengerjakan ibadah Haji”

    Memang, ketika Rasulullah SAW melafadzkan niat itu ketika menjalankan ibadah haji, namun ibadah lainnya juga bisa diqiyaskan dengan hal ini, demikian juga Kesunnahan melafadzkan niat pada shalat juga diqiyaskan dengan pelafadzan niat dalam ibadah haji. Hadits tersebut merupakan salah satu landasan dari Talaffudz binniyah.

    Hal ini, sebagaimana juga dikatakan oleh al-‘Allamah al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami didalam Kitab Tuhfatul Muhtaj (II/12) ;
    يأتي في الحج ما على وقياسا وإن شذ أوجبه من خلاف من وخروجا القلب اللسان ليساعد (التكبير قبيل)بالمنوي (النطق ويندب)
    “Dan disunnahkan melafadzkan (mengucapkan) niat sebelum takbir, agar lisan dapat membantu hati dan juga untuk keluar dari khilaf orang yang mewajibkannya walaupun (pendapat yang mewajibkanini) adalah syad ( menyimpang), dan Kesunnahan ini juga karena qiyas terhadap adanya pelafadzandalam niat haji”

    Qiyas juga menjadi dasar dalam ilmu Fiqh,
    Al-Allamah Asy-Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz didalam Fathul Mu’in Hal. 1 :
    والقياس والاجماع والسنة من الكتاب واستمداده
    Ilmu Fiqh dasarnya adalah kitab Al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma dan Qiyas.

    Al-Imam Nashirus Sunnah Asy-Syafi’i, didalam kitab beliau Ar-Risalah :
    ليس لأحد أبدا أن يقول في شيء حل ولا حرم إلا من جهة العلم وجهة العلم الخبر في الكتاب أو السنة أو الأجماع أو القياس
    “Selamanya tidak boleh seseorang mengatakan dalam hukum baik halal maupun haram kecuali ada pengetahuan tentang itu, pengetahuan itu adalah al-Kitab (al-Qur’an), as-Sunnah, Ijma; dan Qiyas.”

    قلت لو كان القياس نص كتاب أو سنة قيل في كل ما كان نص كتاب هذا حكم الله وفي كل ما كان نص السنة هذا حكم رسول الله ولم نقل له قياس
    “Aku (Imam Syafi’i berkata), jikalau Qiyas itu berupa nas Al-Qur’an dan As-Sunnah, dikatakan setiap perkara ada nasnya didalam Al-Qur’an maka itu hukum Allah (al-Qur’an), jika ada nasnya didalam as-Sunnah maka itu hukum Rasul (sunnah Rasul), dan kami tidak menamakan itu sebagai Qiyas (jika sudah ada hukumnya didalam al-Qur’an dan Sunnah)”

    Maksud perkataan Imam Syafi’i adalah dinamakan qiyas jika memang tidak ditemukan dalilnya dalam al-Qur’an dan As-Sunnah. Jika ada dalilnya didalam al-Qur’an dan as-Sunnah, maka itu bukanlah Qiyas. Bukankah Ijtihad itu dilakukan ketika tidak ditemukan hukumnya/dalilnya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah ?

    Jadi, melafadzkan niat shalat yang dilakukan sebelum takbiratul Ihram adalah Amalan sunnah dengan diqiyaskan terhadap adanya pelafadzan niat haji oleh Rasulullah SAW. Sunnah dalam pengertian ilmu fiqh, adalah apabila dikerjakan mendapat pahala namun apabila ditinggalkan tidak apa-apa. Tanpa melafadzkan niat, shalat tetaplah sah dan melafadzkan niat tidak merusak terhadap sahnya shalat dan tidak juga termasuk menambah-nambah rukun shalat.

    Ulama Syafi’iyyah & ulama lainnya yang mensunnahkan melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) adalah sebagai berikut ;

    Al-Allamah asy-Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari (Ulama Madzhab Syafi’iiyah), dalam kitab Fathul Mu’in bi syarkhi Qurratul ‘Ain bimuhimmati ad-Din, Hal. 16 ;
    . (و) سن (نطق بمنوي) قبل التكبير، ليساعد اللسان القلب، وخروجا من خلاف من أوجبه.
    “Disunnahkan mengucapkan niat sebelum takbiratul ihram, agar lisan dapat membantu hati (kekhusuan hati), dan karena mengindari perselisihan dengan ulama yang mewajibkannya.”

    Al-Imam Muhammad bin Abi al-’Abbas Ar-Ramli/Imam Ramli terkenal dengan sebutan “Syafi’i Kecil” dalam kitab Nihayatul Muhtaj (نهاية المحتاج), juz I : 437 :
    وَيُنْدَبُ النُّطْقُ بِالمَنْوِيْ قُبَيْلَ التَّكْبِيْرِ لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ القَلْبَ وَلِأَنَّهُ أَبْعَدُ عَنِ الوِسْوَاسِ وَلِلْخُرُوْجِ مِنْ
    خِلاَفِ مَنْ أَوْجَبَهُ
    “Disunnahkan (mandub) melafadzkan niat sebelum takbiratul Ihram agar lisan dapt membantu hati (kekhusuan hati), agar terhindar dari gangguan hati (was-was) dan karena mengindari perselisihan dengan ulama yang mewajibkannya”.

    Asy-Syeikhul Islam al-Imam al-Hafidz Abu Yahya Zakaria Al-Anshariy (Ulama Madzhab Syafi’iyah) dalam kitab Fathul Wahab Bisyarhi Minhaj Thullab (فتح الوهاب بشرح منهج الطلاب) [I/38] :
    ( ونطق ) بالمنوي ( قبل التكبير ) ليساعد اللسان القلب
    “(Disunnahkan) mengucapkan niat sebelum Takbir (takbiratul Ihram), agar lisan dapat membantu hati..”

    Diperjelas (dilanjutkan) kembali dalam Kitab Syarah Fathul Wahab yaitu Hasyiyah Jamal Ala Fathul Wahab Bisyarhi Minhaj Thullab, karangan Al-’Allamah Asy-Syeikh Sulaiman Al-Jamal ;
    وَعِبَارَةُ شَرْحِ م ر لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ الْقَلْبَ وَلِأَنَّهُ أَبْعَدُ عَنْ الْوَسْوَاسِ وَخُرُوجًا مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَهُ انْتَهَتْ
    “dan sebuah penjelasan, agar lisan lisan dapat membantu hati, terhindar dari was-was, dan untuk mengindari perselisihan dengan ulama yang mewajibkannya. selesai”

    Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib Asy-Syarbainiy, didalam kitab Mughniy Al Muhtaj ilaa Ma’rifati Ma’aaniy Alfaadz Al Minhaj (1/150) ;
    ( ويندب النطق ) بالمنوي ( قبل التكبير ) ليساعد اللسان القلب ولأنه أبعد عن الوسواس
    “Disunnnahkan mengucapkan niat sebelum takbir, agar lisan dapat membantu hati dan sesungguhnya untuk menghindari kewas-was-was-an (gangguan hati)”

    Al-’Allamah Asy-Syekh Muhammad Az-Zuhri Al-Ghamrawiy, didalam As-Siraj Al-Wahaj (السراج الوهاج على متن المنهاج) pada pembahasan tentang Shalat ;
    ويندب النطق قبيل التكبير
    ليساعد اللسان القلب
    “dan disunnahkan mengucapkan (niat) sebelum takbiratul Ihram, agar lisan dapat membantu hati”

    Al-‘Allamah Sayid Bakri Syatha Ad-Dimyathiy, dalam kitab I’anatut Thalibin (إعانة الطالبين) [I/153] ;
    (قوله: وسن نطق بمنوي) أي ولا يجب، فلو نوى الظهر بقلبه وجرى على لسانه العصر لم يضر، إذ العبرة بما في القلب. (قوله: ليساعد اللسان القلب) أي ولانه أبعد من الوسواس. وقوله: وخروجا من خلاف من أوجبه أي النطق بالمنوي
    “[disunnahkan melafadzkan niat] maksudnya (melafadzkan niat) tidak wajib, maka apabila dengan hatinya berniat shalat dzuhur namun lisannya mengucapkan shalat asar, maka tidak masalah, yang dianggap adalah didalam hati. [agar lisan membantu hati] maksudnya adalah terhindari dari was-was. [mengindari perselisihan dengan ulama yang mewajibkan] maksudnya dengan (ulama yang mewajibkan) melafadzkan niat.”

    Al-‘Allamah Asy-Syekh Jalaluddin Al-Mahalli, di dalam kitab Syarah Mahalli Ala Minhaj Thalibin (شرح العلامة جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين) Juz I (163) :
    (وَيُنْدَبُ النُّطْقُ) بِالْمَنْوِيِّ (قُبَيْلَ التَّكْبِيرِ) لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ الْقَلْبَ
    “dan disunnahkan mengucapkan niat sebelum takbir (takbiratul Ihram), agar lisan dapat membantu hati”

    Didalam Kitab Matan Al-Minhaj lisyaikhil Islam Zakariyya Al-Anshariy fi Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i :
    “(disunnahkan) melafadzkan (mengucapkan) niat sebelum Takbir (takbiratul Ihram)”
    Kitab Safinatun Naja, Asy-Syaikh Al-‘Alim Al-Fadlil Salim bin Samiyr Al-Hadlramiy ‘alaa Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i ;
    النية : قصد الشيء مقترنا بفعله ، ومحلها القلب والتلفظ بها سنة
    “Niat adalah menyengaja sesuatu bersamaan dengan pekerjaannya, adapun tempatnya niat didalam hati sedangkan mengucapkan dengan lisan itu sunnah”

    Dalam kitab Nihayatuz Zain Syarh Qarratu ‘Ain, Al-’Allamah Al-’Alim Al-Fadil Asy-Syekh An-Nawawi Ats-Tsaniy (Sayyid Ulama Hijaz) ;
    أما التلفظ بالمنوي فسنة ليساعد اللسان القلب
    “adapun melafadzkan niat maka itu sunna supaya lisan dapat membantu hati”

    Dan sungguh begitu indahnya kata-kata ulama, mereka sebisa mungkin menghindari perselisihan bahkan dalam perkara yang seperti ini, tidak seperti saat ini, sebagian kelompok kecil yang begitu mudah membuat tuduhan bid’ah terhadap pendapat yang lainnya. Padahal dengan kata lain, tuduhan bid’ah yang mereka lontarkan, hakikatnya telah menghujat ulama dan menuduh ulama-ulama Madzhab yang telah mensunnahkannya.

    Kesunnahan melafadzkan niat dari ulama Syafi’iiyah juga dapat dirujuk pada pendapat dalam kitab ulama syafi’iiyah lainnya maupun kitab-kitab ulama madzhab yang lainnya.

    Melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) juga merupakan ucapan yang baik, bukan ucapan yang buruk, kotor maupun tercela. Sebagai sebuah perkataan yang baik maka tentunya diridhoi oleh Allah Subhanahu wa ta’alaa dan Allah senang dengan perkataan yang baik. Dengan demikian ucapan yang terlontar dari lisan seorang hamba akan dicatat oleh malaikat sebagai amal bagi hamba tersebut.

    Allah berfirman ;
    عَتِيدٌ رَقِيبٌ لَدَيْهِ إِلَّا قَوْلٍ مِن يَلْفِظُ مَا
    “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Al-Qaaf : 18)
    يَرْفَعُهُ الصَّالِحُ الْعَمَلُ وَ الطَّيِّبُ الْكَلِمُ يَصْعَدُ إِلَيْهِ اًجَمِيع الْعِزَّةُ فَلِلَّهِ الْعِزَّةَ يُرِيدُ كَانَ مَن
    ‘Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya” (QS. Al-Fathir 10)

    Maka demikian, melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) sebagai sebuah ucapan yang baik, juga memiliki nilai pahala sendiri disisi Allah berdasarkan ayat al-Qur’an diatas.

    Didalam madzhab lainnya selain madzhab Syafi’iiyah juga mensunnahkan melafadzkan niat, misalnya ; Mazhab Hanafi (Ulama Hanafiyah) berpendapat bahwa niat sholat adalah bermaksud untuk melaksanakan shalat karena Allah dan letaknya dalam hati, namun tidak disyaratkan melafadhkannya dengan lisan. Adapun melafadhkan niat dengan lisan sunnah hukumnya, sebagai pembantu kesempurnaan niat dalam hati.

    Ulama Maliki, Al-Imam Ad-Dasuqiy Al-Maliki rahimahullah didalam kitab Hasyiyahnya ‘alaa Syarh Al-Kabir berkata;
    قال الدسوقي رحمه الله تعالى في حاشيته على الشرح الكبير : لكن يستثنى منه الموسوس فإنه يستحب له التلفظ بما يفيد النية ليذهب عنه اللبس كما في المواق وهذا الحل الذي حل به شارحنا وهو أن معنى واسع أنه خلاف الأولى
    “dan tetapi dikecualikan bagi orang yang was-was maka sesungguhnya baginya di sunnahkan melafadzkan niat”
    Jadi, pendapat yang dianggap menyimpang/keliru adalah jika melafadzkan niat (talaffudz binniyah) dimasukkan sebagai bagian dari fardhu shalat atau shalat dianggap tidak cukup jika tanpa melafadzkan niat. Sebab mewajibkan talaffudz binniyah sama saja telah masukkannya sebagai bagian dari shalat. Maka yang sebenarnya tidak dikehendaki adalah dalam hal mewajibkannya bukan kesunnahan melafadzkan niat.
    Demikian kami sampaikan dengan sederhana masalah melafadzkan niat sebelum takbiratul Ihram. Mohon saudara-saudara dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah mengoreksi tulisan saya, karena beberapa bagian kami sadur dari beberapa hasil Bahtsul Masail beberapa Ponpes. Untuk beberapa khat huruf Arab maaf ada yang terbalik karena saya menulis ini di Micrsoft Word.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    1. Mantabbb kang derajad, kalau perlu tambahkan Ringkasan KITAB FIQIH MUHAMMADIYAH, penerbit Muhammadiyah Bagian Taman Poestaka Jogjakarta, jilid III, diterbitkan th 1343 H (sekitar th 1926) yang isinya antara lain :
      1. Niat solat pakai “USHOLLI FARDLA..” (hlm. 25)
      2. Setelah takbir baca “KABIRAN WAL HAMDULILLAHI KATSIRA..” (h. 25)
      3. Membaca al-Fatihah pakai “BISMILLAH” (h. 26)
      4. Setiap subuh baca QUNUT (h. 27)
      5. Membaca solawat pakai “SAYYIDINA”, termsk bacaan solawat dalam solat (h. 29)
      6. Setelah solat disunnahkan WIRIDAN: istighfar, allahumma antassalam, subhanalallah 33x,
      alhamdulillah 33x, Allahu Akbar 33x (h. 40-42)
      7. Salat tarawih 20 rokaat, tiap 2 rokaat 1 salam (h. 49-50)
      8. Tentang solat & khutbah jumat juga sama dg amaliah NU (h. 57-60).
      Yang semuanya itu diubah secara drastis setelah K.H. Ahmad Dahlan yang kita hormati wafat

    2. Ust. Derajad,

      Ahsantum Ustadz…tapi ana bingung, kenapa ya saudara-saudara kita seperti Abu Zamil, Abu Dzar, dink, gunawan, setyo atau yang lain, kok pada ngumpet setelah ditunjukkan hujjah-hujjah yang akurat…

  57. @Prabu Minak Jinggo dan @bu Hilya
    Sabar dulu saudaraku mungkin mereka sedang menelaahnya.

    Yang terpenting kita melakukan sesuatu atau melakukan tata cara Ibadah, baik itu syarat, rukun, sunnah dan larangan mengacu kepada Ajaran Rasulillah Muhammad SAW. yang diajarkan melalui para ulama’ yang mu’tabar dan jelas jalur sanadnya.

    Namun demikian, semoga Allah tidak menjadikan kita sombong dan riya’ dalam beribadah.

    Terpenting lagi, Indonesia sedang mengalami krisis multi dimensi, mulai dari disorientasi berbangsa, disintegrasi, radikalisasi dengan dasar agama, suku, ras dan antar golongan serta krisis yang lain termasuk ekonomi yang menjadi tolok ukur kemakmuran bangsa ini.

    Untuk itu mari kita, khususnya Warga NU, Warga Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan komponen Islam lainnya menjalin kerukunan, menebar kedamaian dan kebaikan paling tidak untuk keluarga kita, tetangga kita dan masyarakat sekitar kita, dengan harapan muncul ciri khas Islam Indonesia bukan Islam di Indonesia (saya kutip istilah ini dari Al Mukarram KH. Hasyim Muzadi) sebagai ciri penting membangun peradaban kemanusiaan yang bisa mendatangkan Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur, Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Kerta Raharja. Dari situlah nanti akan tersembul dengan sendirinya dari seluruh umat manusia bahwa Indonesia merupakan pengejawantahan Islam Yang Rahmatan Lil ‘alamin.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  58. Bismillaah,

    Dari Ibnu ‘Umar ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Janganlah engkau shalat kecuali menghadap sutrah (pembatas). Dan jangan engkau biarkan seorangpun lewat di hadapanmu (ketika engkau shalat). Jika ia enggan, maka perangilah ia, sesungguhnya ia bersama dengan qarin (syaithan)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah no. 800].

    Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam telah menjelaskan dosa bagi orang yang lewat dihadapan orang yang sholat, Beliau bersabda:

    “Seandainya seseorang yang lewat di hadapan orang yang sholat mengetahui (dosa) apa yang ditimpakan kepadanya, pasti dia berdiri selama empat puluh (hari) akan lebih baik ketimbang dia lewat di hadapan orang yang sedang sholat.”

    Abu al Nadlr (salah satu perawi hadits ini) berkata: “Aku tidak mengetahui, apakah Rasulullah mengatakan empat puluh hari, empat puluh bulan ataukah empat puluh tahun.” ( HR. al Bukhari dalah shahihnya (I/584) nomor 510 dan Muslim dalam shahihnya (I/363) nomor 507).

    Perintah Rasulullaah untuk menghadap sutrah saat shalat sepaket dengan perintah mencegah orang lewat di depan orang yang sedang shalat dan larangan lewat di depan orang shalat. Ini menunjukkan bahwa sutrah adalah salah satu cara untuk mencegah orang melewati oranmg yang sedang shalat.

    Kalau sutrahnya hanya garis atau batas sajadah, apakah ini bisa maksimal mencegah orang lain lewat di depan orang yang sedang shalat?

    Saya melihat banyak orang yang shalat sunnah di tengah-tengah masjid sehingga sering orang lain lewat di depannya. Mengapa mereka tidak menggunakan sutrah maksimal berupa dinidng depan, tiang, tas atau punggung orang sehingga bisa maksimal mencegah orang lain lewat di depannya?

    Wallaahu a’lam.

  59. Bismillaah,

    Berapa jarak antara tempat sujud dan sutrah?

    Daripada sahl bin Sa’d, “Jarak di antara tempat sujud Rasulullah dengan sutrah adalah sekira-kira mencukupi untuk laluan seekor anak kambing.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, no. 475)

    Kalau kita perhatikan shalat berjamaah di banyak masjid, kita bisa melihat bahwa jarak antara shaf satu dengan yang lainnya sangat dekat sehingga jarak tempat sujud dan sutrah yakni orang yang shalat di depannya tidak mencukupi untuk laluan anak kambing.

    Ini nusti menjadi perhatian kita semua agar melebarkan jarak antara shaf satu dengan shaf lainnya memenuhi syarat yang telah ditentukan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

    Wallaahu a’lam.

  60. Bismillaah,

    Cukup Dengan Satu Sutrah Bagi Satu Solat Jema’ah

    Daripada Ibnu ‘Umar, “Apabila Rasulullah keluar untuk melaksanakan Solat ‘Ied, dia memesan supaya membawa tombak dan ia diletakkan (ditancapkan) di hadapan tempat solat, dan beliau solat dengan menghadap ke arah posisi tersebut manakala para makmum di belakang beliau.” (Hadis Riwayat Muslim, Kitab Sholat, no. 1010)

    Berdasarkan hadis ini dan beberapa hadis yang lain seumpamanya, menunjukkan bahawa sutrah untuk imam adalah memadai buat makmum lain di belakangnya.

    Wallaahu a’lam.

  61. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Saya tidak membuat hal baru. Setiap orang yang akan shalat diperintahkan menghadap sutrah. Dalam shalat berjamaah, yang diperintahkan mencari sutrah adalah imam. Selanjutnya, imam menjadi sutrah bagi makmum yang ada di shaf pertama. Sedangkan, makmum shaf pertama menjadi sutrah bagi makmum shaf kedua. Begitu seterusnya.

    Wallaahu a’lam.

  62. Bismillaah,

    Dari Ibnu ‘Umar ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “……..Dan jangan engkau biarkan seorangpun lewat di hadapanmu (ketika engkau shalat). Jika ia enggan, maka perangilah ia, sesungguhnya ia bersama dengan qarin (syaithan)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah no. 800].

    Banyak orang yang belum mengetahui laraangan dalam hadits tersebut. Buktinya, masih banyak orang yang lewat di depan orang yang sedang shalat. Hal ini bukan saja kesalahan orang yang lewat di depan orang shalat, tapi juga kesalahan orang yang shalat. Orang yang shalat mungkin tidak mengetahui perintah menghadap sutrah atau mengetahuinya namun ia hanya menggunakan sutrah minimal berupa garis atau sajadah.

    Untuk dapat mencegah orang lewat di depan kita yang sedang shalat di masjid, kita hendaknya menghadap sutrah yang maksimal seperti dinding depan, tiang, punggung orang dan barang setinggi pelanan kuda. Penggunaan garis atau sajadah sebagai sutrah tidak dapat mencegah orang lewat kita secara maksimal.

    Wallaahu a’lam.

  63. @Ibnu Suradi :
    Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf Nawawi Ad Dimasqi Asy Syafii mengatakan dalam kitabnya :

    يستحب للمصلي أن يكون بين يديه سترة من جدار أو سارية ويدنو منها بحيث لا يزيد بينهما على ثلاثة أذرع وإن كان في صحراء غرز عصا ونحوها أو جمع شيئا من رحله أو متاعه وليكن قدر مؤخرة الرحل فإنلم يجد شيئا شاخصا خط بين يديه خطا أو بسط مصلى وقال إمام الحرمين والغزالي لا عبرة بالخط والصواب ما أطبق عليه الجمهور وهو الاكتفاء بالخط كما إذا استقبل شيئا شاخصا.

    “Disukai bagi orang yang shalat untuk membuat sutrah di hadapannya berupa dinding atau tiang dan mendekatinya, dengan keadaan antara keduanya tidak melebihi tiga hasta. Jika shalat di gurun hendaknya menancapkan tongkat dan yang semisalnya, atau dengan mengumpulkan sesuatu dari tunggangannya atau perhiasannya, hingga menjadi seukuran pelana kuda. Jika tidak menemukan suatu barang untuk sutrah, maka membuat garis di hadapannya, atau karpet tempat shalat. Berkata Imam Al Haramain dan Al Ghazali, tidak ada ‘ibrah dengan membuat garis (maksudnya tidak boleh). Yang benar adalah, apa yang diterapkan oleh jumhur, bahwa sudah mencukupi dengan garis sebagaimana jika dia berada di hadapan satu barang.” (Raudhatuth Thalibin, 1/108)

    Jadi sekali lagi saya tekankan sutrah dalam shalat adalah termasuk sunnah, bukan rukun, sehingga tidak akan membatalkan shalat. Karena itu pula seperti saya sampaikan dari Kitab Fathul Mu’in dan Kitab Raudhatut Thalibin diatas, bahwa sajadah merupakan salah satu batas shalat. Maka jika sajadah sudah digelar dan shalat dimulai maka sajadah merupakan batas shalat (tempat sujud), maka tidak boleh dilalui/dilewati hal ini sudah sangat jelas.

    Bahkan ada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA. :
    Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma:

    رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِمِنًى إِلَى غَيْرِ جِدَارٍ فَمَرَرْتُ بَيْنَ يَدَيْ بَعْضِ الصَّفِّ وَأَرْسَلْتُ الْأَتَانَ تَرْتَعُ فَدَخَلْتُ فِي الصَّفِّ فَلَمْ يُنْكَرْ ذَلِكَ عَلَيَّ

    “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat di Mina tanpa menghadap tembok, maka aku lewat di hadapan sebagian shaff lalu aku gembalakan keledaiku dahulu, lalu aku masuk ke barisan, namun tidak ada yang mengingkari itu.” (HR. Bukhari No. 76, 471, 823, 1758, 4150)

    Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan:

    “Maksud ,“tanpa menghadap tembok,” adalah tanpa menghadap sutrah, demikianlah perkataan Asy Syafi’i, dan bentuk kalimat menunjukkan hal itu. Lantaran Ibnu Abbas telah menyampaikan sisi pendalilannya tentang lewatnya dihadapan orang shalat tidaklah memutuskan shalat.

    Sekali lagi, maka kita perlu kembali menekankan kepada umat Islam tentang larangan keras melewati batas sujud orang yang sedang shalat merujuk pada hadits dari Rasulillah Muhammad SAW. :

    “Seandainya orang yang lewat di depan orang shalat mengetahui tentang dosanya, maka pastilah menunggu selama 40 lebih baginya dari pada lewat di depannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Tanggapan saya diatas saya rasa sudah cukup menjawab pertanyaan saudara diatas tentang garis/sajadah dan adanya orang yang anda lihat melewati batas sujud orang shalat.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  64. Bismillah,

    Mas Derajad,

    Saya setuju dengan pendapat anda bahwa kita perlu kembali menekankan kepada umat Islam tentang larangan keras melewati batas sujud orang yang sedang shalat merujuk pada hadits dari Rasulillah Muhammad SAW.

    Harus pula ditekankan bahwa orang yang akan shalat di masjid hendaknya berusaha sekuat tenaga untuk mencegah orang lewat di depannya dengan menghadap sutrah maksimal berupa tembok, tiang, punggung orang atau barang setinggi pelana kuda serta mengindari penggunaan garis atau sajadah sebagai sutrah yang mudah dilewati orang. Itulah tindakan preventif yang paling efektif dalam penegakan larangan Rasulullaah dari melewati di depan orang yang sedang shalat.

    Saya pernah mendengar bahwa hadits tentang shalat tanpa sutrah masih dipermasalahkan ulama.

    Wallaahu a’lam.

  65. Bismillaah,

    Barang yang dapat digunakan sebagai sutrah:

    1. Tiang masjid

    Tiang yang ada di masjid dapat dijadikan sebagai sutrah sebagaimana ditunjukkan dalam riwayat berikut. Yazid bin Abi ‘Ubaid berkata, “Adalah Salamah ibnul Akwa’ radhiyallahu ‘anhu memilih shalat di sisi tiang masjid tempat menyimpan mushaf. Maka aku tanyakan kepadanya, ‘Wahai Abu Muslim, aku melihatmu menyengaja memilih shalat di sisi tiang ini.’ Beliau menjawab:

    رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى الصَّلاَةَ عِنْدَهَا

    “Aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih shalat di sisinya.” (HR. Al-Bukhari no. 502 dan Muslim no. 1136)

    2. Tongkat yang ditancapkan

    Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma memberitakan:

    أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ يَوْمَ الْعِيْدِ أَمَرَ بِالْـحَرْبَةِ فَتُوْضَعُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَيُصَلِّي إِلَيْهَا وَالنَّاسُ وَرَاءَهُ وَكَانَ يَفْعَلُ ذلِكَ فِي السَّفَرِ

    “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila keluar ke tanah lapang untuk mengerjakan shalat Id, beliau memerintahkan pelayannya untuk membawa tombak lalu ditancapkan di hadapan beliau. Kemudian beliau shalat menghadapnya sementara manusia menjadi makmum di belakang beliau. Dan beliau juga melakukan hal tersebut dalam safarnya.” (HR. Al-Bukhari no. 494 dan Muslim no. 1115)

    3. Hewan tunggangan

    Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    أَنَّهُ كَانَ يُعَرِّضُ رَاحِلَتَهُ فَيُصَلِّي إِلَيْهَا

    “Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melintangkan hewan tunggangannya (antara beliau dengan kiblat), lalu shalat menghadapnya.” (HR. Al-Bukhari no. 507 dan Muslim no. 1117)

    4. Pohon

    Sekali waktu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat menghadap sebuah pohon, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad rahimahullahu (1/138) dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

    لَقَدْ رَأَيْتُنَا لَيْلَةَ بَدْرٍ، وَمَا مِنَّا إِنْسَانٌ إِلاَّ نَائِمٌ إِلاَّ رَسُوْلُ اللهِ n، فَإِنَّهُ كَانَ يُصَلِّي إِلَى شَجَرَةٍ وَيَدْعُو حَتَّى أَصْبَحَ

    “Sungguh aku melihat kami pada malam Badr, tidak ada seorang pun dari kami melainkan tertidur kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau sedang mengerjakan shalat menghadap ke arah sebuah pohon sebagai sutrahnya dan berdoa hingga pagi hari.” (Al-Imam Al-Albani rahimahullahu berkata: “Sanadnya shahih.” Lihat Ashlu Shifah Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/120)

    (Bersambung)

    Wallaahu a’lam.

  66. Bismillaah,

    Barang yang dapat digunakan sebagai sutrah (Lanjutan):

    5. Dinding/tembok

    Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Sahl bin Sa’d As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu yang telah disebutkan ketika membahas tentang mendekat dengan sutrah.

    6. Tempat tidur

    Pada kali yang lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan tempat tidur sebagai sutrahnya sebagaimana berita dari istri beliau, Aisyah radhiyallahu ‘anha:

    لَقَدْ رَأَيْتُنِي مُضْطَجِعَةً عَلَى السَّرِيْرِ فَيَجِيْءُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَتَوَسَّطُ السَّرِيْرَ فَيُصَلِّي

    “Sungguh aku melihat diriku dalam keadaan berbaring di atas tempat tidur lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, beliau berdiri menghadap bagian tengah tempat tidur, kemudian shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 508 dan Muslim no. 1144)

    Dalam lafadz lain, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

    لَقَدْ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَإِنِّي لَبَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ مُضْطَجِعَةٌ عَلَى السَّرِيْرِ

    “Sungguh aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat sementara aku berada di antara beliau dan kiblatnya dalam keadaan berbaring di atas tempat tidur.” (HR. Al-Bukhari no. 511 dan Muslim no. 1143)

    Wallaahu a’lam.

  67. @Ibnu Suradi :
    Yang dimaksud hadits riwayat Ibnu Umar diatas bukan ditekankan “tanpa sutrah / pembatas”. Pokok pembahasan hadits itu adalah tetap sahnya shalat tanpa mengahadap (dibatasi) sutrah.

    Terkait sutrah dengan garis, bahkan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, yang mungkin salah satu ulama yang saudara jadikan hujjah, menyebutkan dalam kitabnya Majmu’ Fatawa wa Maqalat, 23/385

    أما زعمهم أن الخط لا يجوز جعله سترة فهذا تقليد منهم لمن ضعف حديث الخط وزعم أنه مضطرب ، كابن الصلاح والعراقي ، والصواب أنه حديث حسن ليس فيه اضطراب ، كما أوضح ذلك الحافظ ابن حجر في ( بلوغ المرام ) حيث قال لما ذكره : رواه أحمد وابن ماجه وصححه ابن حبان ، ولم يصب من زعم أنه مضطرب ، بل هو حسن
    “Ada pun sangkaan mereka bahwa garis tidak boleh dijadikan sebagai sutrah, itu merupakan sikap taklid mereka terhadap pihak yang mendhaifkan hadits garis, mereka menyangka hadits tersebut mudhtharib (guncang), seperti Ibnush Shalah dan Al ‘Iraqi. Yang benar adalah bahwa hadits tersebut adalah hasan dan tidak ada keguncangan sebagaimana yang dijelaskan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram di mana dia berkata: “Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, dan dishahihkan Ibnu Hibban, dan tidak benar orang yang menyangka bahwa hadits ini mudhtharib, justru hadits ini hasan.

    Satu lagi ulama’ Salafy Wahabi yang juga sering dijadikan hujjah, yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, dalam kitabnya Fatawa Nur ‘Alad Darb No. 840 mengatakan :

    السترة للمأموم ليست بمشروعة لأن سترة الإمام سترةٌ له ولمن وراءه وأما للإمام والمنفرد فهي مشروعة فيسن أن لا يصلي إلا إلى سترة ولكنها ليست بواجبة على القول الراجح الذي عليه جمهور أهل العلم لحديث ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يصلي في منى إلى غير جدار وكان راكباً على حمار أتان أي أنثى فمر بين يديه بعض الصف فلم ينكر ذلك عليه أحد فقوله إلى غير جدار قال بعض أهل العلم إنما أراد رضي الله عنه إلى غير سترة لأن الغالب في عهد الرسول صلى الله عليه وسلم أن منى ليس فيها بناء ولحديث أبي سعيد إذا صلى أحدكم إلى شيء يستره من الناس فأراد أحد أن يجتاز بين يديه فليدفعه فقوله إذا صلى إلى شئٍ يستره يدل على أن الصلاة إلى السترة ليس بلازمة وإلا لما احتيج إلى القيد وعلى هذا فيكون الأمر بالسترة أمراً للندب وليس للوجوب هذا هو القول الراجح في اتخاذ السترة وأما قول السائل هل يكفي الخط فنقول إنه قد روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه أمر باتخاذ السترة وقال فإن لم يجد فليخط خطاً وهذا الحديث علله بعض العلماء وطعن فيه بأنه مضطرب ولكن ابن حجر في بلوغ المرام قال لم يصب من قال إنه مضطرب بل هو حسن ولهذا لو كان الإنسان ليس عنده ما يكون شاخصاً يجعله سترة فليخط خطاً وإذا لم يكن له سترة فله حق بمقدار ما ينتهي إليه سجوده وما وراء ذلك فليس له حقٌ في منع الناس من المرور به إلا إذا كان يصلي على سجادة أو نحوها فإن له الحق في منع من يمر على هذه السجادة.

    “Sutrah bagi makmum tidaklah disyariatkan, karena sutrahnya imam adalah sutrah baginya juga, dan orang-orang dibelakangnya. Ada pun bagi yang shalatnya sendiri, maka itu disyariatkan, maka disunahkan agar jangan shalat melainkan dengan adanya sutrah. Tetapi hal itu tidak wajib berdasarkan pendapat yang kuat yang menjadi pegangan jumhur (mayoritas) ulama. Sebagaimana hadits Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat di Mina tanpa menghadap dinding. Sebagian ulama mengatakan, bahwa maksud Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu adalah tanpa menghadap ke sutrah. Sebab, pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara umum kota Mina tidak memiliki bangunan. Juga hadits Abu Said, “Jika salah seorang kalian shalat maka hendaknya dia membuat penghalang dari manusia.” Maka, maksudnya adalah seorang boleh mencegah orang yang dihadapannya. Lalu sabdanya: “Jika shalat hendaknya membuat penghalang” menunjukkan bahwa sesungguhnya shalat menghadap sutrah bukanlah kelaziman, jika hal itu lazim kenapa pemakaiannya dikaitkan karena adanya kebutuhan? Oleh karena itu, urusan sutrah ini adalah sesuatu yang sunah bukan wajib, inilah pendapat yang kuat dalam hal pemakaian sutrah.
    Ada pun pertanyaan penanya, apakah cukup sutrah dengan membuat garis? Kami katakan: Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau memerintahkan menggunakan sutrah, beliau bersabda: jika tidak ada maka buatlah garis. Sebagian ulama ada yang menyatakan bahwa hadits ini cacat dan adanya penyakit di dalamnya, yakni mudhtharib (guncang). Tetapi Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram mengatakan: “Tidak benar orang yang mengatakan hadits ini mudhtharib, justru hadits ini hasan.” Oleh karena itu jika seseorang tidak memiliki sesuatu yang bisa dijadikan sutrah, maka hendaknya dia membat sutrah dengan membuat garis, jika dia tidak memiliki sutrah maka dia berhak untuk mencegah orang lewat sejauh ukuran tempat dia sujud. Sedangkan yang diluar batasan itu maka dia tidak berhak untuk mencegah manusia melewatinya, kecuali jika dia shalat menggunakan sajadah atau yang semisalnya, maka dia berhak untuk mencegah orang yang melewati sajadahnya.”

    Demikian saudara Ibnu Suradi, saya fikir ini semua sudah jelas. Bahkan saya coba menampilkan pendapat dari Imam hujjah kelompok Salafy Wahabi sendiri tentang hal tersebut.

    Jadi kalau sudah jelas, menurut saya alangkah lebih baik kita bahas selanjutnya uraian saya tentang “Melafadzkan Niat (Khususnya shalat karena kita membahas masalah shalat).

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  68. Bismillaah,

    Saya rasa diskusi mengenai sutrah sudah cukup. Banyak hadits dan pendapat ulama telah disampaikan. Semoga kita semua mendapatkan banyak manfaat dari diskusi.

    Selanjutnya, kita bahas masalah berdiri menghadap kiblat. Apa saja yang menghadap kiblat. badan, wajah, jari-jari kaki?

    Silahkan kawan-kawan lain bergabung dalam diskusi ini. Saya yakin kawan-kawan memilki informasi yang akan menambah lengkap diskusi ini.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi :
      Jadi pertanyaan saudara : “Kalau sutrahnya hanya garis atau batas sajadah, apakah ini bisa maksimal mencegah orang lain lewat di depan orang yang sedang shalat ?” apakah masih berlaku setelah saya sampaikan hujjah dari ulama kelompok Salafy Wahabi (yang pasti saudara ikuti) diatas ???

      Saya sampaikan pendapat ulama Salafy Wahabi karena mungkin saudara belum mau menerima hujjah yang sebelumnya saya sampaikan dari Imam Abu Zakaria Yahya Bin Syaraf Nawawi Asy Syafii (Salah satu Imam rujukan Mazhab Syafi’i yang pendapatnya sama yang memperbolehkan garis/sajadah sebagai batas orang shalat).

      Selanjutnya berarti saudara yang menentukan materinya ??? Tidak membahas masalah melafadzkan niat materi dari saya ??? Okelah kalau begitu. Monggo-monggo saja 😀

      Saya berharap dengan uraian terbuka ini, saudara dan kelompok saudara tidak mudah me-bid’ahkan/kafirkan kelompok yang lain, yang menurut saya hujjahnya sudah sangat kuat, karena masa ulama mazhab yang 4 (Imam Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali) sangat dekat dengan masa kerasulan, sahabat, dan tabi’ wa tabi’ tabi’in Rasulillah Muhammad SAW.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    2. @Ibnu Suradi :
      Sesuai pertanyaan saudara diatas yaitu “Apa saja yang menghadap kiblat. badan, wajah, jari-jari kaki?” Kalau saya tidak salah tanggap adalah “Anggota badan apa yang harus menghadap kiblat ?”. Semoga benar maksudnya.

      Dalam hasil Bahtsul Matsail suatu Ponpes Nahdhatul Ulama di Jawa Timur dijelaskan bahwa berdasarkan pada Hasyiyatul Qulyubi Wa’amirah Karya Syaikh Ahmad Salamah Qulyubi mengatakan bahwa :

      وَيُعْتَبَرُ الِاسْتِقْبَالُ بِالصَّدْرِ لَا بِالْوَجْهِ أَيْضًا لِأَنَّ الِالْتِفَاتَ بِهِ لَا يُبْطِلُ الصَّلَاةَ كَمَا يُؤْخَذُ مِمَّا سَيَأْتِي مِنْ كَرَاهَتِه
      “Yang dianggap menghadap qiblat adalah dada bukan wajah. Karena jika wajah berpaling dari arah qiblat tidak membatalkan shalat, berbeda jika sampai dada yang berpaling dari qiblat maka membatalkan”

      Demikian dulu tanggapan saya atas pertanyaan saudara Ibnu Suradi. Apa ada perbedaan ???

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  69. Bismillaah,

    Mas Derajad,

    Saya tidak mempermasalahkan sah tidaknya shalat dengan sutrah garis atau batas sajadah. Yang saya tekankan adalah efektivitas pencegahan orang melewati di depan orang yang sedang shalat. Dalam upaya pencegahan orang melewati di depan orang shalat, sutrah berupa dinding, tiang, punggung orang dan barang tentu lebih efektif daripada sutrah garis atau sajadah.

    Saya kira pembahasan tentang sutrah sudah cukup. Saya mendapatkan banyak manfaat dari ilmu yang Mas Derajad sampaikan dalam diskusi tentang sutrah ini. Untuk itu, saya ucapkan syukran katsiran, jazakallaah.

    Wallaahu a’lam.

    1. Untuk saudaraku Ustadz @bu Hilya, Kang Ucep, Prabu Minak Jinggo dan Pendukung Ahlus Sunnah, khususnya pendukung situs Ummati Press, saya mohon ikut serta dalam pembahasan materi-materi ini agar tidak tampak hanya saya dan Saudara Ibnu Suradi saja yang berdialog.

      Atas segala kebaikan dan keikhlasan saudaraku semua berbagi ilmu saya sampaikan :
      جزاك اللهُ خيراً, برك الله عليكم واهلكم واموالكم قي الدين والدنيا والاخراة

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

      1. Ustadz derajad,

        ‘Afwan minkum sebelumnya, silahkan diskusinya dilanjutkan biar disini giliran ana sebagai pemerhati saja, supaya diskusinya fokus dan bermanfaat…

        sekedar masukan kalo boleh dibahas dulu tentang makna Qiblah menurut pendapat para Ulama, berikut aplikasi dari cara berijtihad dalam menentukan arah qiblat…

        Syukron… lanjutkan Ust…

    2. @ibnu suradi

      Jika dalam shalat jama’ah, maka yang wajib memakai sutrah adalah imam, sedang makmum tidak disunahkan karena sutrah imam secara otomatis menjadi sutrah makmum juga. Adapun dalilnya adalah hadist Abdulah bin Abbas ra berkata :
      “Pada suatu hari aku datang dengan mengendarai keledai, pada waktu itu aku sudah dewasa. Ketika itu Rasulullah saw sedang shalat bersama para sahabat di Mina, kemudian aku lewat di depan shaf mereka, sedang keledainya aku biarkan makan, kemudian aku masuk ke dalam shaf dan tidak ada satupun yang mengingkari perbuatanku tadi”.(HR Muslim), juga hadist bukhari yang diterangkan oleh @mas derajat.

      Ini biasa terjadi di Makkah dan Madinah ataupun masjid-masjid besar, jika makmum yang datang belakangan dan dia melihat shaf yang kosong, maka makmum tersebut adalah WAJIB mengisi kekosongan shaf. Maka dia harus berjalan melewati shaf-shaf makmum.
      Mengisi shaf adalah lebih sunnah dari pada sutrahnya makmum.

  70. Bismillaah,

    Mas Derajad,

    Yang menghadap kiblat yakni Masjid Haram adalah wajah juga. Ini termaktub dalam ayat 150, Surat Al Baqarah yang artinya: ” dari arah mana saja kamu datang, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.” Hanya saja, mata memandang tempat sujud saat shalat.

    Ayat ini dan ayat-ayat lain sebelum dan sedudahnya menjelaskan perubahan arah kiblat umat Islam dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi :
      Dalam kajian fiqh ulama 4 Mazhab, 3 ulama Mazhab, yaitu Imam Maliki, Hanafi dan Syafi’i sepakat bahwa anggota tubuh yang menghadap kiblat adalah dada/perut, dan kaki (khusus kaki tambahan dari mazhab hanafi) sedangkan Mazhab Hambali memfatwakan semua anggota tubuh. Menghadap kiblat ini merupakan syarat sahnya shalat, jadi jika tidak dipenuhi, secara dhahir jelas akan membatalkan shalat itu sendiri, ini sepakat 4 mazhab.

      Mengenai wajah tidak termasuk, karena sepakat 4 mazhab yang empat, dengan 2 alasan, yaitu ada larangan mengangkat wajah waktu shalat dan waktu salam wajah menghadap tidak menghadap kiblat.

      Mengenai hujjah saudara dari Qur’an Surat Al Baqarah ayat 150 itu bukan dalil syarat sahnya shalat/menunjukkan anggota badan yang harus menghadap kiblat. Ayat tersebut merupakan hujjah berpindahnya kiblat yang sebelumnya ke baitul maqdis (Masjidil Aqsha) ke baitullah ka’bah al mukarramah (Masjidil Haram). Hal ini sangat terkait gunjingan kaum Yahudi yang mengatakan bahwa Rasukullahpun menghadap Baitul Maqdis. Bahkan perintah ini diulang tiga kali, dengan beberapa tafsir, yaitu penekanan pindahnya kiblat, adanya perintah untuk orang di wilayah mekah, diluar mekah,dan mengenai perjalanan. Silahkan dibaca di Kitab Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Qurtubi, dan Tafsir Jalalain.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  71. Ustad @mas derajat
    Silahkan berdiskusi, ane jadi pemerhati saja.
    Membahas arah qiblat mungkin Ustad @ahmad syahid bisa ikut nimbrung berdiskusi, karena ini bisa tidak terjadi titik temu, karena ayat-ayat wajah dan hadist-hadist wajah merupakan mutasyabihat (kudu hati-hati…).
    Seperti doa iftitah “Wajahtu wajhiyah lillaji fatharassamawati…..”.
    Jadi perlu yang ahli dalam membahas masalah ini.

    1. Ustadz Ucep,

      Syukran masukannya. Saudara Ibnu Suradi belum membahas takwil, nanti kalau masuk kesana saya akan bahas secara seksama. Sementara saya menggunakan pendekatan tafsir dulu, yaitu Ibnu Katsir (khususnya) tentang ayat yang dibawakannya, agar tidak semaunya menafsirkan ayat Qur’an. Untuk ayat tersebut juga lebih cocok tafsir Ibnu Katsir karena pembahasan Asbabun Nuzul, sehingga saya mencoba memberikan pemahamannya saudara Ibnu Suradi ini seoerti pemahaman Ustadz Ucep.

      Sekali lagi terimakasih banyak. Mohon tetap dukung dan ingatkan saya jika salah.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  72. Ustadz @bu Hilya,

    Sebelumnya terimakasih masukannya. Sebenarnya saya menginginkan materi yang dibahas hanya yang sering dipertentangkan saudara kita dari Salafy Wahabi saja, sehingga fokus masalahnya agar saudara kita itu tidak mudah menyebut bid’ah/kafir dls dari amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang sudah lama dan kuat hujjahnya.

    Namun demikian rupanya saudara Ibnu Suradi ini ingin menentukan materinya. Ya saya ikuti saja tadz,, semoga menjadi pelajaran juga bagi saya untuk bersabar. Mohon terus dukung saya, dan ingatkan saya jika salah.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  73. Subhanalloh sungguh suatu suguhan diskusi yg menyejukan hati… silahkan dilanjut Mas Derajad juga Mas Ibnu Suradi jangan sungkan-sungkan. hehe..!

  74. @Ibnu Suradi :
    Untuk materi : “Selanjutnya, kita bahas masalah berdiri menghadap kiblat. Apa saja yang menghadap kiblat. badan, wajah, jari-jari kaki?” dengan jawaban saya :

    1. Dalam hasil Bahtsul Matsail suatu Ponpes Nahdhatul Ulama di Jawa Timur dijelaskan bahwa berdasarkan pada Hasyiyatul Qulyubi Wa’amirah Karya Syaikh Ahmad Salamah Qulyubi mengatakan bahwa :

    وَيُعْتَبَرُ الِاسْتِقْبَالُ بِالصَّدْرِ لَا بِالْوَجْهِ أَيْضًا لِأَنَّ الِالْتِفَاتَ بِهِ لَا يُبْطِلُ الصَّلَاةَ كَمَا يُؤْخَذُ مِمَّا سَيَأْتِي مِنْ كَرَاهَتِه
    “Yang dianggap menghadap qiblat adalah dada bukan wajah. Karena jika wajah berpaling dari arah qiblat tidak membatalkan shalat, berbeda jika sampai dada yang berpaling dari qiblat maka membatalkan”

    Lalu pernyataan saudara Ibnu Suradi :

    “Yang menghadap kiblat yakni Masjid Haram adalah wajah juga. Ini termaktub dalam ayat 150, Surat Al Baqarah yang artinya: ” dari arah mana saja kamu datang, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.” Hanya saja, mata memandang tempat sujud saat shalat.

    Ayat ini dan ayat-ayat lain sebelum dan sedudahnya menjelaskan perubahan arah kiblat umat Islam dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram.

    Saya jawab :

    Dalam kajian fiqh ulama 4 Mazhab, 3 ulama Mazhab, yaitu Imam Maliki, Hanafi dan Syafi’i sepakat bahwa anggota tubuh yang menghadap kiblat adalah dada/perut, dan kaki (khusus kaki tambahan dari mazhab hanafi) sedangkan Mazhab Hambali memfatwakan semua anggota tubuh. Menghadap kiblat ini merupakan syarat sahnya shalat, jadi jika tidak dipenuhi, secara dhahir jelas akan membatalkan shalat itu sendiri, ini sepakat 4 mazhab.

    Mengenai wajah tidak termasuk, karena sepakat 4 mazhab yang empat, dengan 2 alasan, yaitu ada larangan mengangkat wajah waktu shalat dan waktu salam wajah menghadap tidak menghadap kiblat.

    Mengenai hujjah saudara dari Qur’an Surat Al Baqarah ayat 150 itu bukan dalil syarat sahnya shalat/menunjukkan anggota badan yang harus menghadap kiblat. Ayat tersebut merupakan hujjah berpindahnya kiblat yang sebelumnya ke baitul maqdis (Masjidil Aqsha) ke baitullah ka’bah al mukarramah (Masjidil Haram). Hal ini sangat terkait gunjingan kaum Yahudi yang mengatakan bahwa Rasukullahpun menghadap Baitul Maqdis. Bahkan perintah ini diulang tiga kali, dengan beberapa tafsir, yaitu penekanan pindahnya kiblat, adanya perintah untuk orang di wilayah mekah, diluar mekah,dan mengenai perjalanan. Silahkan dibaca di Kitab Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Qurtubi, dan Tafsir Jalalain.

    Saya tambahkan juga Riwayat dari Imam Baihaqi :
    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengalihkan pandangannya dari tempat sujud.” (HR. Baihaqi)
    Ini artinya disunnahkan mengarahkan pandangan ke tempat sujud bukan ke arah lain. Akan tetapi dalam Kitab Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar Asqalani memperbolehkan melihat ke Imam dengan maksud mengetahui gerakan Imam, bukan mengarahkannya ke depan lurus (menghadap kiblat).

    Hadits ini di beberapa situs dikatakan disahihkan oleh Albani. Saya sampaikan hal ini supaya saudara Ibnu Suradi mungkin lebih bisa menerima, karena Syaikh Albani adalah salah satu hujjah Salafy Wahabi, walaupun mohon maaf saya tidak menganggap dia sebagai muhaddits, karena hafalan dan bahasa Arab beliau diragukan (ditulis di beberapa situs). Berbeda dengan Ulama’ Muhadditsin seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Baihaqi, Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf Nawawi Ad Dimasyqi Asy Syafii dll. Hal ini juga dikarenakan beliau-beliau yang saya sebut masa hidupnya tidak terlalu jauh dari masa Rasulillah SAW. dibanding muhaddits baru yang sangat jauh masanya, hafalannya kacau, dan tidak mau tabarukan sanad ke ulama salafus shalih yang mu’tabar dan musalsal jalur sanadnya.

    Sedang untuk pembahasan masalah salam adalah :

    Dari Sa’ad bin Abi Waqqash -radhiallahu anhu- dia berkata:
    كُنْتُ أَرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ حَتَّى أَرَى بَيَاضَ خَدِّهِ
    “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi salam ke arah kanan dan kiri (dalam shalat) hingga aku melihat putihnya pipi beliau.” (HR. Muslim no. 582)

    Jadi disini jelas bahwa kepala menoleh/menengok ke kanan dan ke kiri sedangkan badan (dada/perut) tetap menghadap kiblat. Menghadapkan badan ke arah lain membatalkan puasa. Hal ini jelas sebagai syarat sahnya shalat.

    Lalu bagaimana saudara Ibnu Suradi, apakah ada yang masih saudara permasalahkan tentang hal ini ??? Kalau tidak monggo dilanjut ke materi lain. Khususnya yang mungkin sering dipermasalahkan oleh saudara dari Salafy Wahabi saja agar lebih fokus dan tajam pembicaraan kita. Monggo 😀

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  75. Ralat :

    Maaf ada kesalahan ketik yaitu :
    Menghadapkan badan ke arah lain membatalkan puasa. Hal ini jelas sebagai syarat sahnya shalat.

    yang benar adalah :
    Menghadapkan badan ke arah lain membatalkan shalat. Hal ini jelas sebagai syarat sahnya shalat.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  76. Bismillah,

    Ustadz Derajad dan Mas Ibnu Suradi, disini ana menyampaikan beberapa pertanyaan yang bisa dipertimbangkan sebagai bahan diskusi seputar QIBLAH, mudah-mudahan bermanfaat untuk semua…

    1. Dalam QS Al Baqoroh : 150 yang berbunyi :

    وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

    Dalam ayat diatas disebutkan kalimat Syathrol Masjidil Harom, apakah yang dimaksud kalimat tersebut adalah Masjidil Haram, atau Ka’bah?

    2. Bagi kita di Indonesia, atau kaum Muslimin diluar Makkah, apakah kewajiban berijtihad menentukan arah qiblah harus menghasilkan qiblah persisi atau boleh hanya menghasilkan qiblah Dhonni?

    3. Jika dalam perkembangannya ditemukan metode penentuan arah qiblah dengan menggunakan teknologi moderen yang memungkinkan dapat menghasilkan arah qiblah yang lebih persisi, apakah hasil ijtihad awal dalam menentukan arah qiblah harus diubah? Bagaimana dengan sholat kita yang menggunakan hasil ijtihad lama, apakah wajib di qodho’ jika ditemukan ternyata tidak lurus menghadap qiblah ?

    Mohon Ust. Derajad juga Mas Ibnu Suradi berkenan memberikan jawaban, semoga bermanfaat…..

  77. Izin copas untuk disebar luaskan, dan semoga diskusi menjadi ilmu yg bermanfaat sehingga bila sampai di tangan yglain bisa menjadikan amal yg mengalir terus walaupun kita tiada.

  78. Atas pertanyaan @bu Hiya di atas, kita ingin jawaban dari Ibnu Suradi dulu, karena yang paling merasa paling sunnah …. Karena jawaban orang lain pasti dibantah olehnya …

  79. بسم الله الر حمن الر حيم
    Terimakasih tambahan materinya Ustadz @bu Hilya semoga ini memperkaya hasanah fiqh kita.
    Karena kita tunggu-tunggu saudara Ibnu Suradi tidak/belum muncul, dan tanoa mengurangi hormat saya kepada saudara Bima AsSyafii perkenankankan saya menjawabnya, jika salah mohon koreksinya,
    1. Yang dimaksud dalam Qur’an Surat Al Baqarah:150 itu adalah Ka’bah yang ada didalam Masjidil Haram. Hal ini merujuk pada hadits Bukhari (390), yaitu
    “Telah meriwayatkan dari al-Barta’bin ‘Azib RA, dia berkata:
     كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَََلَّى نَحْوَبَيْتِ الْمَقْدِسِِ سِتَّةَ عَشَرَاَوْسَبْعَةَ عَشَرَشَهْرً، وَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ اَنْ يُوَجَهَ نَحْوَالْكَعْبَةِ، فَاَنْزَلَ اللهُ: قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاءِ، فَتَوَجَّهَ نَحْوَالْكَعْبَةِ 
    Pernah Rasulullah SAW shalat menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Sedang Rasulullah SAW menginginkan disuruh menghadap ke Ka’bah. Maka, Allah pun menurunkan “Sesungguhnya kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit……”Oleh karena itu, beliau pun menghadap ke Ka’bah. 
    Hadits ini juga terdapat dalam Shahih Muslim:25

    2. Terkait pertanyaan kedua pernah dibahas dalam Bahtsul Masail Ponpes NU terkenal di Jawa Timur, yaitu merujuk pada Kitab Bughyatul Murtasidin I/178, karya Abdurrahman Ibn Muhammad Ba’alawi :
    ‎(مسألة : ك) : الراجح أنه لا بد من استقبال عين القبلة ، ولو لمن هو خارج مكة فلا بد من انحراف يسير مع طول الصف ، بحيث يرى نفسه مسامتاً لها ظناً مع البعد ، والقول الثاني يكفي استقبال الجهة ، أي إحدى الجهات الأربع التي فيها الكعبة لمن بعد عنها… وهو قويّ ، اختاره الغزالي وصححه الجرجاني وابن كج وابن أبي عصرون ، وجزم به المحلي ، قال الأذرعي : وذكر بعض الأصحاب أنه الجديد وهو المختار لأن جرمها صغير يستحيل أن يتوجه إليه أهل الدنيا فيكتفى بالجهة ، ولهذا صحت صلاة الصف الطويل إذا بعدوا عن الكعبة ، ومعلوم أن بعضهم خارجون من محاذاة العين ، وهذا القول يوافق المنقول عن أبي حنيفة وهو أن المشرق قبلة أهل المغرب وبالعكس ، والجنوب قبلة أهل الشمال وبالعكس ، وعن مالك أن الكعبة قبلة أهل المسجد ، والمسجد قبلة أهل مكة ، ومكة قبلة أهل الحرم ، والحرم قبلة أهل الدنيا ، هذا والتحقيق أنه لا فرق بين القولين ، إذ التفصيل الواقع في القول بالجهة واقع في القول بالعين إلا في صورة يبعد وقوعها ، وهي أنه لو ظهر الخطأ في التيامن والتياسر ، فإن كان ظهوره بالاجتهاد لم يؤثر قطعاً ، سواء كان بعد الصلاة أو فيها ، بل ينحرف ويتمها أو باليقين ، فكذلك أيضاً إن قلنا بالجهة لا إن قلنا بالعين ، بل تجب الإعادة أو الاستئناف ، وتبين الخطأ إما بمشاهدة الكعبة ولا تتصوَّر إلا مع القرب ، أو إخبار عدل ، وكذا رؤية المحاريب المعتمدة السالمة من الطعن قاله في التحفة ، ويحمل على المحاريب التي ثبت أنه صلى إليها ومثلها محاذيها لا غيرهما.(مسألة : ك) : محل الاكتفاء بالجهة على القول به عند عدم العلم بأدلة العين ، إذ القادر على العين إن فرض حصوله بالاجتهاد لا يجزيه استقبال الجهة قطعاً ، وما حمل القائلين بالجهة على ذلك إلا كونهم رأوا أن استقبال العين بالاجتهاد متعذر ، فالخلاف حينئذ لفظي إن شاء الله تعالى لمن تأمل دلائلهم
    Menurut pendapat pertama :“Harus menghadap kiblat secara tepat walaupun bagi orang yang berada di luar kota makkah, berarti harus miring sedikit bagi mereka yang sholat dengan shof panjang meskipun jauh dari makkah sekira memeiliki dugaan kuat dia telah mengarah tepat kearah ka’bah”
    Menurut pendapat yang kedua“sudah dianggap cukup menghadap arah kiblat (meskipun tidak secara tepat) dalam arti bagi orang yang jauh dari ka’bah cukup mengahdap salah satu dari empat arah yang ka’bah berada disana, ini pendapat yang kuat yang di pilih oleh alGhozali di shahihkan oleh Imam alJurjani,Ibnu kaj dan Ab ‘ishruun, imam mahalli juga mantap memakai pendapat ini.Imam Adzru’I berkata “sebagian sahabat berkata, pendapat ini baru tapi pendapat yang di pilih karena bentuk ka’bah itu kecil yang mustahil seluruh penduduk dunia bias menghadapnya (secara tepat) maka cukuplah arahnya saja karenanya dihukumi sah orang-orang yang sholat dengan shof (barisan) yang panjang bila jauh dari ka’bah meskipun maklum bila sebagian dari mereka keluar dari kiblat (secara tepat)
    Pendapat ini sesuai dengan apa yang dinukil dari imam Abu hanifah “Arah timur adalah Qiblatnya penduduk barat dan sebaliknya, arah selatan adalah Qiblatnya penduduk utara dan sebaliknya” dan pendapat Imam malik “Ka’bah kiblatnya orang masjid (alharam), masjid (alharam) kiblatnya penduduk makah, makkah kiblatnya penduduk tanah haram sedang tanah suci haram kiblatnya kiblatnya penduduk dunia”
    Kitab tersebut menjadi rujukan Imam Mazhab yang empat walaupun penulisnya adalah dari Mazhab Syafii. Jadi kesimpulannya kiblat secara dzonni sejauh itu arahnya menuju ke Masjidil Haram walaupun tidak tepat betul, maka itu sah.
    3. Merujuk dari Kitab Bughyatul Murtasidin dan Bulughul Maram, maka shalat yang lalu tidak wajib diqadha’. Selain itu arah kiblat tidak perlu diubah secara ekstrim “persis” ke ka’bah, karena seperti termaktub dalam Kitab Al mawsu’at Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, jika penduduk Mekkah yang melihat langsung, maka wajib menghadap Ka’bah, sedang negeri yang jauh termasuk Indonesia, cukup “mengarah ke Ka’bah” karena tafsir syatrah adalah mengarah/dzonni. Ini didukung juga penjelasan dari Kitab Fathul Bary dan Subulus Salam. Demikian pendapat yang mu’tamad.

    Mohon koreksinya para Asatidz Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  80. @Ibnu Suradi :

    Saudara Ibnu Suradi, mengapa tidak ada commentnya ???

    Jika memang tidak ada tanggapan lagi, masih akan dilanjut atau bagaimana ??? Forum ini banyak yang attensi, jika sudah tidak dilanjut biar saudara lain melanjutkan. Paling tidak silahkan beri closing statement.

    Terimakasih.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  81. Bismillaah,

    Subhaanallaah, penjelasan Mas Derajad begitu detil menampilkan pendapat-pendapat ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Saya mengambil banyak manfaat dari penjelasan tersebut. Syukron katsiran. Jazakallaah.

    Pada prinsipnya, yang menghadap qiblat adalah badan yang memiliki anggota: wajah, dada, perut dan kaki yang meliputi jari-jari kaki. Saat akan memulai shalat, tentu wajah menghadap qiblat. Namun setelah takbir, maka wajah menghadap tempat sujud.

    Yang juga menghadap kiblat adalaah jari-jari kaki. Ini terkait dengan hadits merapatkan shaf shalat berjamaah dari Nu’man bin Basyir yang mengatakan: “Saya melihat setiap dari sahabat menempelkan bahunya dengan bahu kawannya dan mata kakinya dengan maa kaki kawannya.” Maaf bila terjemaahan hadits tersebut kurang tepat.

    Disyariatkannya jari-jari kaki menghadap qiblat juga ada kaitannya dengan disyariatkannya jari-jari kaki menghadap kiblat saat duduk dan sujud. Imam Bukhari meriwayatkan dari sahabat Abi Humaid yang berkata: “Yastaqbilu bi athrofi rijlaihi al qiblah (Beliau – Rasululullaah – menghadapkan jari-jari kakinya lurus ke kiblat).”

    Saat sujud dan duduk saja kita mampu menghadapkan jari-jari kaki ke kiblat. Saat berdiri, tentu kita lebih mampu menghadapkan jarijari kaki kita ke qiblat.

    Maaf, saya belum bisa menampilkan secara lengkap lafadz hadits-hadits yang saya sampaikan. Saya akan sangat senang sekali bila kawan-kawan bisa membantu saya untuk menampilkan lafadz lengkap hadits-hadits tersebut.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi, alangkah baiknya saudara tidak hanya mencantukan hadist, tapi jg pendapat ulama ulama yg muktabar seperti yg dilakukan oleh mas derajad. Karena, dari beberapa komentar anda, anda mencantumkan hadist tanpa mencantumkan pendapat ulama. terima kasih.

  82. @Ibnu Suradi :

    بسم الله الر حمن الر حيم
    Saudara Ibnu Suradi yang saya sampaikan tidak lain fatwa ulama’ dan hasil bahtsul masail ulama’-ulama’ Nahdiyin (NU), saya sendiri hanya taqlid pada beliau-beliau, karena kurangnya ilmu saya untuk mengambil hujjah langsung dari kitab khususnya kitab fatwa. Ngaji saya dulu hanya kitab-kitab kecil, kalaupun ada sedikit kemampuan saya dalam ilmu nahwu/sharaf dan balaghah, tetap saya tidak berani mengambil dari Kitab-kitab Induk karena kedhaifan saya. Makanya saya bersyukur di NU ada forum bahtsul masail yang hasilnya bisa diketahui oleh alumnus dan umum. Bagi saya ulama-ulama itu lebih mempunyai kemampuan untuk mengeluarkan fatwa, sedang saya manut saja, selama saya mengetahui ulama’ itu mu’tabar dan sanad keilmuannya jelas.

    Mengenai tanggapan saudara sudah cukup saya sampaikan diatas, bagi mazhab Maliki dan Syafi’i jelas yang harus menghadap ke kiblat (yang berhubungan dengan syarat sahnya shalat) adalah dada/perut, karena jika kedua bagian ini menghadap ke arah lain, maka batallah shalatnya, kecuali bagi orang yang sudah sakit parah. Jadi ini terkait mampunya berdiri, duduk, dan tidur menghadap kiblat. Mengapa Imam Syafi’i khususnya mengambil hanya dada dan perut, dikarenakan syarat sahnya shalat menghadapkan dada/perut ke kiblat ini tetap berlaku bagi yang shalatnya duduk dan tidur. Namun demikian, bukan berarti bagian tubuh lain seenaknya bisa kearah lain, namun dada/perut paling utama yang harus menghadap kiblat.

    Mengenai hadits Imam Bukhari itu betul, tapi tidak mengurangi keutamaan dada/perut yang menghadap kiblat, karena itu yang pokok.

    Jadi kesimpulan dari saya, pengikut Mazhab Syafi’i adalah yang pokok menghadap kiblat adalah dada/perut, tapi anggota badan yang lain harus juga khusyu’ menghadap kiblat sebagai prasyarat dari niat shalat yaitu yakin mengarah ke kiblat.

    Mengenai menempelkan bahu terdapat dalam shahih bukhari :

    عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّى أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِى » . وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ
    Dari Anas ra, dari Nabi Saw, beliau bersabda: “Luruskan shafmu karena sesungguhnya aku melihatmu dari belakang punggungku”. Anas berkata: “Salah seorang di antara kami menempelkan bahu kami dengan bahu yang lain (di sampingnya) dan kakinya dengan kaki yang lain (di sampingnya). HR. Al-Bukhari No. 725.

    وَقَالَ النُّعْمَانُ بْنُ بَشِيرٍ رَأَيْتُ الرَّجُلَ مِنَّا يُلْزِقُ كَعْبَهُ بِكَعْبِ صَاحِبِهِ .
    Al-Nu’man bin Basyir berkata: “Aku melihat seorang di antara kami menempelkan matakakinya dengan matakaki temannya. HR. Al-Bukhari No. 76

    Dari hadits diatas, menempelkan bahu dan kaki adalah karena perintah Rasulillah pada awal hadits yang diriwayatkan dari Anas RA. tersebut. Mengenai hal ini 4 mazhab sepakat yang dimaksud adalah dalam rangka meluruskan shaf shalat dan menempelkan bahu serta kaki ini bukan berhimpitan agar tidak mengganggu orang lain di sebelahnya. Lihat pembahasan Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  83. Bismillaah,

    Kalau kita memperhatikan beberapa hadits-hadits berikut:

    “Bila engkau berdiri untuk sholat, sempurnakanlah wudhu’mu, kemudian menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbirlah.” (HR. Bukhari & Muslim)

    Artinya : “Rapikan Shaf-shaf kalian, rapatkan diantara bahu-bahu kalian dan tutuplah celah-celah (dalam shaf) dan janganlah kalian tinggalkan sedikitpun celah untuk setan. barang siapa yang menyambung shaf maka Allah akan menyambung baginya, dan barang siapa yang memutuskan shaf maka Allah akan memutuskannya.” (HR Abu Dawud)

    Abi Humaid yang berkata: “Rasululullaah menghadapkan jari-jari kakinya lurus ke kiblat saat duduk dan sujud).” (HR. Bukhari)

    Maka, bisa ditemukan bahwa jari-jari kaki orang yang shalat mustinya lurus menghadap kiblat

    Wallaahu a’lam.

  84. Bismillah,..

    Kang Ibnu Suradi@

    Sebelum diskusi tentang sholat dilanjutkan, disini ana mengajukan beberapa pertanyaan berkenaan dengan uraian anda tentang sholat yang langsung merujuk pada qur’an dan hadits, (maaf tanpa maksud meragukan kapasitas anda dalam memahami nash) apakah mas Ibnu Suradi memang berkapasitas untuk memahami permasalahan agama ini khususnya dalam masalah sholat langsung dari sumber Nash?

    Berikut hadits yang ingin kami tanyakan penjelasannya dari anda :

    حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُونَ

    Dalam hadits diatas, setidaknya ada lima shighot amar atau kata yang berindikasi perintah, pertanyaanya adalah :

    1. Apakah semua shighot amar yang terdapat pada Hadits diatas berindikasi wajib?
    2. Jika dalam hadits diatas terdapat shighot amar yang tidak berindikasi wajib, berarti ia mengindikasikan apa?
    3. Bagaimana cara anda mengidentifikasi masing-masing dari shighot amar yang terdapat dalam hadits diatas?

    Sekian dulu pertanyaan dari ana, mohon penjelasannya…. sebelum dan sesudahnya kami sampaikan terima kasih…

    1. Bismillaah,

      Kang @bu Hilya,

      Bahasan diskusi ini adalah shalat yang diajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka dari itu, hendaknya disampaikan hadits dan atsar sahabat tentang apa saja yang disabdakan, diperbuat dan disetujui Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkaitan dengan shalat. Dari hadits dan atsar itulah, kita menjadi yakin bahwa shalat yang sedang kita pelajari benar-benar dari Rasulullaah.

      Kalau kita hanya menyampaikan pendapat orang tentang shalat, maka akan timbul pertanyaan: “Apakah shalat yang kita pelajari benar-benar shalat yang diajarkan Rasulullaah kepada para sahabatnya atau shalatnya orang yang punya pendapat tersebut, bukan shalat Rasulullaah?”

      Untuk mengetahui shalat yang diajarkan Rasulullaah, mau tak mau kita harus membaca dan mendengar hadits tentang cara shalat Rasulullaah. Bila ada masalah dalam memahami hadits, maka kita mencarai tahu penjelasan ulama tentang hadits tersebut.

      Wallaahu a’lam.

      1. Bismillah,

        Kang Suradi@,

        atas pernyataan dan pertanyaan anda :

        Kalau kita hanya menyampaikan pendapat orang tentang shalat, maka akan timbul pertanyaan: “Apakah shalat yang kita pelajari benar-benar shalat yang diajarkan Rasulullaah kepada para sahabatnya atau shalatnya orang yang punya pendapat tersebut, bukan shalat Rasulullaah?”

        Kami sampaikan bahwa, Para Ulama baik dari kalangan Syafi’iyah, Malikiyah, Hanafiyah, atau Hanbaliyah, tidak ada yang membuat cara sholat menurut mereka sendiri, setidaknya hal ini dapat anda jumpai dan anda buktikan lewat karya-karya mereka, semisal al Um, Al Majmu’, dll…

        Kami tidak menyalahkan orang yang belajar sholat atau ibadah yang lain langsung mengambil dari sumber asal yakni qur’an maupun hadits, masalahnya apakah ia punya kapasitas untuk itu?

        Bagaimana kalau terjadi pemahaman yang tidak pas atau salah atas sebuah nash akibat dari kurangnya sarana untuk memahaminya, apakah kita masih berani mengatakan bahwa ini adalah sholat yang diajarkan Rosululloh SAW?

        Bagi saya pribadi, saya lebih meyakini pemahaman seseorang yang telah terbukti kapasitasnya dalam memahami nash ketimbang bersumber dari nsh yang ana sendiri tidak memahaminya..

        Dalam comment anda yang kami blockquote diatas, boleh kiranya kami berpendapat bahawa :“Belum tentu cara sholat Rosululloh sebagaimana yang anda sampaikan, karena boleh jadi itu cara sholat menurut pemahaman anda atas nash-nash yang anda sampaikan”

  85. @Ibnu Suradi :
    Saudara Ibnu Suradi sudah saya katakan bahwa anggota badan yang harus menghadap kiblat ini adalah yang terkait syarat sahnya shalat. Mengenai kaki sudah saya katakan itu difatwakan oleh ulama Mazhab Hanafi dan Hambali. Sedang ulama Syafi’i dan Maliki hanya menekankan pada dada/perut. Wajah tidak termasuk dengan alasan yang sudah yang sudah saya kemukakan diatas. Sedangkan kaki menurut Mazhab Syafi’i kakipun juga tidak termasuk dengan alasan waktu dudu iftirasy dan duduk tahiyyat akhir posisi kaki juga diduduki, sedang dada dan perut tetap.

    Sebenarnya dari penjelasan saya diatas sudah jelas, pada prinsipnya waktu niat taqrirnya sudah meyakini menghadap kiblat artinya bahwa yakin secara fisik kita menghadap kiblat. Hanya penekanannya adalah bahwa dada/perut tidak boleh berubah arah, karena jika berubah batallah shalat. Lalu dari hal ini apa yang masih saudara permasalahkan ???

    Jika tidak ada, selanjutnya bagaimana ?

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  86. Bismillaah,

    Saya setuju bahwa dada dan perut wajib menghadap kiblat sebab pemalingan arah dada dan perut dari kiblat akan mengakibatkan bergesernya tubuh dari arah kiblat.

    Saya mengangkat masalah jari-jari kaki menghadap kiblat ini ada kaitannya dengan pelaksanaan hadits atau lebih tepatnya atsar menempelkan mata kaki orang yang shalat dengan mata kaki kawannya saat merapatkan shaf shalat berjamaah.

    Orang yang ingin menempelkan mata kakinya dengan mata kaki kawan yang ada di sampingnya, menemui masalah karena jari-jari kaki kawannya menyerong ke kanan dan ke kiri dari arah kiblat sebagai berikut:

    Pertama, mata kakinya tidak dapat ditempelkan ke mata kaki kawannya karena mata kaki kawannya berada agak ke dalam akibat posisi jari-jari kaki yang menyerong ke kiri dan kanan dari arah kiblat. Seandainya jari-jari kaki kedua orang tersebut sama-sama lurus menghadap kiblat, mata mata kaki masing-masing dapat saling menempel.

    Kedua, orang yang jari-jari kakinya menyerong ke kiri dan kanan dari arah kiblat sering merasa jari kelingkingnya terinjak. Akan menjadi masalah besar bila jari kelingkingnya sakit cantengan. Inilah yang menyebabkan banyak orang bilang: “Shalat kok injak-injak kaki.” Seandainya jari-jari kaki kedua orang tersebut sama-sama lurus menghadap kiblat, masalah injak kaki tidak akan terjadi.

    Ketiga, bila mata kaki tidak saling menempel, maka tersisa celah di antara kaki kedua orang tersebut. Di situlah syaitan masuk untuk mengganggu kekhusyu’an shalat kita.

    Maka dari itu, alangkah baiknya bila kita menghadapkan jari-jari kaki lurus ke kiblat sehingga ketiga masalah tersebut dapat dihindari.

    Wallaahu a’lam.

  87. ‘ jgn lupa hatinya juga dikasih ‘sutrah’ yaa biar betul2 ‘madep mantep’ tidak mblayang kemana2. “Shalat adalah Mi’raj nya Orang Mukmin” dan ” orang yang paling tinggi derajatnya adalah orang2 yang bertaqwa”. jgn sampe gara2 sibuk ngurusin kuantitas ee’ tibake kualitasnya malah ‘down’. hmmm…

  88. @Ibnu Suradi :
    بسم الله الر حمن الر حيم
    Posisi kaki makmum dalam shalat yang sesuai dengan kesunahan adalah mensejajarkan dengan rapat sekiranya tidak memungkinkan bagi orang lain untuk melewatinya atau berdiri di antaranya tanpa berlebihan hingga menginjak kaki makmum lain di sampingnya bahkan dikategorikan haram, karena mengganggu dan menyakiti orang lain apalagi sedang shalat. Jadi kuncinya adalah :
    1. Kaki disejajarkan dengan rapat dengan jamaah di sebelahnya sekiranya tidak memungkinkan bagi orang lain untuk melewatinya

    2. Tidak berlebihan (mbegagah) hingga menginjak makmum lain disampingnya bahkan dikategorikan haram karena mengganggu orang lain yang sedang shalat

    Jelasnya baca di Kitab Fathul Bari – Ibnu Hajar Atsqalani Juz 3 Halaman 77 yang teksnya saya tunjukkan berikut :
    بَاب إِلْزَاقِ الْمَنْكِبِ بِالْمَنْكِبِ وَالْقَدَمِ بِالْقَدَمِ فِي الصَّفِّ وَقَالَ النُّعْمَانُ بْنُ بَشِيرٍ رَأَيْتُ الرَّجُلَ مِنَّا يُلْزِقُ كَعْبَهُ بِكَعْبِ صَاحِبِهِ
    قَوْلُهُ : ( بَاب إِلْزَاق الْمَنْكِب بِالْمَنْكِبِ وَالْقَدَمِ بِالْقَدَمِ فِي الصَّفِّ ) الْمُرَاد بِذَلِكَ الْمُبَالَغَة فِي تَعْدِيلِ الصَّفّ وَسَدِّ خَلَلِهِ ، وَقَدْ وَرَدَ الْأَمْرُ بِسَدِّ خَلَل اَلصَّفّ وَالتَّرْغِيب فِيهِ فِي أَحَادِيثَ كَثِيرَةٍ أَجْمَعُهَا حَدِيث اِبْن عُمَر عِنْدَ أَبِي دَاوُد وَصَحَّحَهُ اِبْن خُزَيْمَةَ وَالْحَاكِمُ وَلَفْظُهُ ” أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ : أَقِيمُوا الصُّفُوف وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَل وَلَا تَذَرُوا فُرُجَات لِلشَّيْطَانِ ، وَمَنْ وَصَلَ صَفًا وَصَلَهُ اَللَّهُ ، وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ ” . قَوْلُهُ : ( وَقَالَ النُّعْمَان بْن بَشِير ) هَذَا طَرَفٌ مِنْ حَدِيثٍ أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ اِبْن خُزَيْمَةَ مِنْ رِوَايَةِ أَبِي الْقَاسِم الْجَدَلِيِّ وَاسْمُهُ حُسَيْن بْن الْحَارِث قَالَ ” اَلنُّعْمَان بْن بَشِير يَقُولُ : أَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ : أَقِيمُوا صُفُوفكُمْ ثَلَاثًا ، وَاَللَّهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اَللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ . قَالَ : فَلَقَدْ رَأَيْت الرَّجُلَ مِنَّا يَلْزَقُ مَنْكِبه بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ ” وَاسْتَدَلَّ بِحَدِيثِ النُّعْمَان هَذَا عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِالْكَعْبِ فِي آيَةِ الْوُضُوءِ الْعَظْم النَّاتِئ فِي جَانِبَيْ الرِّجْلِ – وَهُوَ عِنْدَ مُلْتَقَى السَّاقِ وَالْقَدَمِ – وَهُوَ الَّذِي يُمْكِنُ أَنْ يَلْزَقَ بِاَلَّذِي بِجَنْبِهِ ، خِلَافًا لِمَنْ ذَهَبَ أَنَّ الْمُرَادَ بِالْكَعْبِ مُؤَخَّر الْقَدَم ، وَهُوَ قَوْلٌ شَاذٌّ يُنْسَبُ إِلَى بَعْضِ الْحَنَفِيَّةِ وَلَمْ يُثْبِتْهُ مُحَقِّقُوهُمْ وَأَثْبَتَهُ بَعْضهمْ فِي مَسْأَلَةِ الْحَجِّ لَا الْوُضُوء ، وَأَنْكَرَ الْأَصْمَعِيّ قَوْل مَنْ زَعَمَ أَنَّ الْكَعْبَ فِي ظَهْر الْقَدَم

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  89. @ibnu suradi
    Ane rasa sangat jelas penjelasan ustad @mas derajat. bagaimana tanggapan selanjutnya.
    Dalam shalat kita diwajibkan untuk Tuma’ninah dalam melakukan gerakan shalat, jadi jangan ada yang mengganggu tuma’ninah seseorang. sekarang dimana letak Tuma’ninah menurut @ibnu suradi?
    Mungkin kalau sudah jelas mungkin ente bisa pada ketopik lain tentang posisi shalat.

  90. Bismillaah,

    Berdasarkan hadits Nu’man bin Basyir tentang merapatkan mata kaki dengan mata kaki, maka bisa diketahui bahwa:
    1. Jari-jari kaki musti lurus menghadap kiblat. Bila tidak lurus menghadap kiblat, maka mata kaki oraang yang shalat berjamaah tidak akan dapat menempel ke mata kaki kawan sebelahnya.
    2. Jarak kerenggangan telapak kaki adalah sejajar dengan bahu. Sebab bila kurang dari lebar bahu, maka mata kaki tidak akan saling menempel sebab tertahan oleh bahu yang saling bertemu.

    Oleh karena itu, sepanjang jari-jari kaki menyerong ke kanan dan kiri dari arah kiblat, maka masalah merapatkan shaf shalat berjamaah akan terus terjadi. Namun, bila jari-jari kaki lurus menghadap kiblat dan telapak kaki renggang sejajar dengan bahu, maka masalah merapatkan shaf yang sering terjadi tidak akan muncul.

    Wallaahu a’lam.

  91. Bismillaah,

    Dalil menghadapkan jari-jari kaki lurus ke kiblat saat berdiri dalam shalat saya temukan dalam hadits Nu’man bin Basyir tentang menempelkan mata kaki dengan mata kaki saat merapatkan shaf shalat berjamaah. Sedangkan dalil menyerongkan jari-jari kaki dari arah kiblat saya belum menemukannya.

    Barang kali Mas Derajad bisa menunjukkan hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullaah atau sahabatnya menyerongkan jari-jari kakinya ke kanan dan kiri dari arah kiblat.

    Wallaahu a’lam.

  92. @Ibnu Suradi :
    Sebelumnya saya mohon maaf menyampaikan ke saudara, bahwa itulah beda kami pengikut Ahlus Sunnah Wal Jamaah Asy’ariyah Wal Maturidiyah, yang menyerahkan pemahaman Qur’an dan Hadits kepada Ulama’-ulama’ kami dibanding, maaf, dengan kelompok Salafy Wahabi yang berani mengambil hukum tanpa ilmu yang jelas.

    Apa yang telah difatwakan oleh ulama’ khususnya ulama yang tergolong Imam Mujtahid (Imam Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali) serta Imam-imam berikutnya bagi kami sudah cukup. Mengapa demikian ? Karena beliau Imam-Imam Mujtahidlah yang memahami, mengerti dan bisa mengambil hukum dari kedua sumber itu, yaitu Qur’an dan hadits.

    Syarat seorang Mujtahid itu sangat berat dan tidak mungkin kami, khususnya saya mampu mendudukinya. Tidak kurang seorang Imam Mujtahid harus :
    1. Mengetahui bahasa Arab sedalam-dalamnya. Tidak hanya itu harus juga mengetahui qo’idahnya seperti Nahwu, Sharaf, Bayan, Badi’, Balaghah, Arudh dan Qawafi.
    2. Huffadzul Qur’an (Hafal Qur’an 30 Juz), berikut hukum-hukum yang ada didalamnya, baik yang jelas maknanya, nasikh mansukh, yang mujmal, yang mubayyan, yang muthlaq, yang muqoyyad, yang muhakkam, yang mutasabbih dll.
    3. Mengetahui Asbabun Nuzul ayat-ayat Qur’an dengan baik
    4. Menghafal hadits-hadits Rasulillah SAW. paling tidak yang ada di kitab hadits yang enam (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Tirmidzi, Shahih Nasa’i, Sunan Abu Dawud dan Sunan Ibnu Majah) sampai sanad dan matannya. Demikian juga dengan Kitab Musnad yang lain, misal; Musnad Ahmad, Mustadrak Hakim dan lain sebagainya.
    5. Mengerti dan memahami Ijma’ Ulama sebelumnya dengan baik agar tidak sembarangan mengeluarkan fatwa.
    6. Bisa memilih mana hadits yang shahih, hasan, maudu’, hasan dsb.
    Itu diantaranya syarat untuk menjadi Imam Mujtahid.

    Belum lagi Imam Mujtahid itu juga dalam mengeluarkan fatwa ada kelompoknya :
    1. Imam Mujtahid Mustaqill
    2. Imam Mujtahid Muthlaq Ghairu Mustaqill
    3. Imam Mujtahid Muqayyad
    4. Imam Mujtahid Tarjih
    5. Imam Mujtahid Fatwa
    6. Imam Mujtahid Muqallidin

    Dari enam yang ada diataspun saya tidak termasuk.

    Oleh karena itu lancang bagi saya jika sembarangan mengartikan hadits kemudian dijadikan hujjah dalam amalan kita tanpa Guru/Kyai/Habaib atau ulama’ yang mu’tabar dan jelas sanad keilmuannya.

    Maka saya mengajak Saudara Ibnu Suradi untuk menyampaikan pendapatnya berdasarkan pemahaman ulama’ yang benar. Tak kurang saya hanya menyampaikan hasil bahtsul masail ataupun dari kitab Imam Mujtahid yang bisa saya mengerti seperti Bulughul Maram, Safinatun Najah, Fathul Bari dll serta penjelasannya, karena kita belum mencapai derajat Mujtahid diatas.

    Apa yang kita bicarakan disini sudah ada fatwanya dari ulama’ yang mengerti betul hukum (fiqh) dan mengambilnya dari Qur’an dan Sunnah. Beliau-beliau kesehariannya memang penuh ilmu, tawadhu’, dan mengaji kepada ulama’-ulama’ terdahulu (Shalafus Shalih) dengan khusyu’. Lalu bagaimana kita yang kesehariannya sebagai pegawai, pedagang, tukang becak dll yang tidak memiliki keilmuan seperti mereka ? Jawabannya adalah taqlid kepada ulama’ yang mu’tabar dan jelas sanad keilmuannya dan jangan lancang mengambil hadits yang kita tidak tahu hubungannya dengan hadits lain yang sangat terkait, seperti saya sebutkan dari kutipan Kitab Fathul Bari diatas (Khat/Lafadz tanpa arti) dimana disitu disebutkan beberapa hadits yang saling berhubungan oleh Al Imam Ibnu Hajar Atsqalani.

    Demikian saudaraku, kalau memang ada penyampaian janganlah melebihi kapasitas kita sebagai orang awam yang seakan mengerti dan melebihi beliau sebagai seorang Hujjatul Islam dan Mujtahid Muthlaq. Tapi jika memang ada, khususnya pembanding dari ulama’ saudara, maaf, dari Salafy Wahabi, seperti Syaikh Utsaimin, Syaikh Bin Baz, Syaikh Ibnu Taimiyah dll (tidak termasuk Albani, yang bahasa Arabnya saja kacau dan Hafalan Haditsnya juga jauh dibawah standar tapi sudah berani menilai hadits Rasulillah SAW.) silahkan disampaikan agar berimbang sesama Ahli Hujjah.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  93. @mas derajat
    Itulah perbedaan antara Aswaja dengan kelompok mereka, tapi sejauh yang dikatakan oleh @ibnu suradi, ane belum pernah mendapatkan/melihat di masjid-masjid Haramain (madinah dan Mekah) tapi itulah perbedaan.

    Selanjutnya mungkin dibahas topik posisi sujud, karena sekarang cukup banyak muslim yang jidatnya menghitam (khususnya salafi), apakah tanda itu merupakan hasil khusu’nya shalat ?
    Bagaimana @ibnu suradi dan @mas derajat, agar diantara pemerhati disini dapat bertambah ilmu?.

  94. @Ibnu Suradi
    Kalau memang Anda sudah merasa sholat seperti Rasulullah, apakah itu pemahaman Anda sendiri atas Nash atau bagaimana? Kalau Ya, Anda termasuk kategori Imam Mujtahid yang mana? Atau kalau Anda merasa bersandar pada pendapat ulama, siapa Ulama yang Anda jadikan sandaran, sehingga begitu yakin bahwa pendapat ulama tersebut persis seperti yang dikehendaki Rasulullah? Apakah ulama tersebut termasuk Salafus Sholeh yang benar-benar memahami cara sholat Rasulullah? Mohon dijawab pertanyaan Mas Drajat di atas dengan jujur ya … jangan berbelit2

  95. Bismillaah,

    Dalam menjelaskan shalat yang diajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, saya yakin bahwa ulama Ahlussunnah wal Jamaah menyampaikan pendapat berdasar hadits-hadits tentang shalat Rasulullaah. Setiap Imam selalu menjunjukkan hadits yang dijadikan dasar untuk melakukan amal ibadah terutama shalat. Maka dari itu, penyampaian pendapat ulama hendaknya dilengkapi hadits-hadits yang dijadikan dasar pendapatnya. Dengan penyampaian hadits tersebut, maka kita menjadi yakin bahwa shalat yang dijelaskan oleh ulama tersebut adalah shalat yang diajarkan Rasulullaah kepada para sahabatnya.

    Untuk pembahasan dalam diskusi ini hendaknya berurutan satu per satu. Jangan melompat-lompat dari masalah cara berdiri Rasulullaah untuk shalat langsung ke masalah sujud. Masih ada masalah takbiratul ihram. Bagaimana tangan diangkat? Setinggi apa tangan di angkat? Lalu bagaimana bersedekap? Bersedekap di ada atau di perut? Dan kapan takbir diucapkan?

    Usahakan sebanyak mungkin kita menyampaikan hadits tentang masalah yang kita bahas, lalu juga pendapat ulama tentang hadits tersebut. Dengan demikian, kita menjadi tahu shalat yang diajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya berdasarkan hadits-hadits yang shahih dan penjelasan ulama.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi :
      Saudara Ibnu Suradi, sekali lagi saya sampaikan bukan kapasitas kita langsung mengambil hukum langsung dari Qur’an dan Sunnah, karena kita tidak memiliki kapasitas. Apalagi ini tentang fiqh shalat yang sudah difatwakan beberapa ulama melalui kitab-kitab beliau dan diikuti oleh Ulama-ulama berikutnya.

      Tidak kurang saya terakhir sudah menyampaikan fatwa dalam Kitab Fathul Bari – Ibnu Hajar Asqalan, tapi ternyata masih juga saudara bantah dengan ta’rif saudara sendiri tanpa ada qaul ulama yang saudara sebut. Pertanyaan saya, apakah saudara Ibnu Suradi sudah menduduki derajad Imam Mujtahid Muthlaq ? Jika ya, seharusnya pendapat saudara tidak bertentangan dengan fatwa ulama sebelumnya. Itu jika benar ?

      Jika tidak, dari syarat yang ada untuk seorang Imam Mujtahid, kriteria mana yang sudah saudara penuhi ? Kalau baru baca dari kitab terjemah (apalagi bahasa Indonesia) bagaimana saudara bisa mengambil suatu hukum ?

      Jadi silahkan saudara mengajukan tanggapan berdasarkan ulama hujjah saudara saja, agar berimbang. Saudara dan saya bukan dalam kapasitas mengambil langsung dari Qur’an dan Hadits. Tanpa qaul ulama’ saudara, mohon maaf saya tidak bisa melanjutkan diskusi, karena saya sangat memulyakan ulama-ulama kami, jika harus dibandingkan orang awam yang merasa bisa mengambil hukum langsung dari Qur’an dan Hadits.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  96. @Ibnu Suradi :
    Tambahan saja kepada saudara Ibnu Suradi mengenai peringkat fuqaha’ (Imam Mujtahid) yang saya sebut diatas, adalah berdasarkan Kitab/Buku yang ditulis oleh Syaikh Dr. Wahbah Az Zuhaili, Dekan dan Ketua Jurusan Fiqh Islami wa Madzahabih, Universitas Damaskus, beliau juga ulama fiqh kontemporer. Kutipan tentang Peringkat Fuqaha’ tersebut adalah sebagai berikut :

    مراتب الفقهاء

    لابد للمفتي أن يعلم حال يفتي بقوله, فيعرف درجته في الرواية وفي الدراية, وطبقته بين طبقات الفقهاء, ليميز بين الآراء المتعارضة, ويرجح أقواها

    ١. المجتهد المستقل : وهو الذي استقل بوضع قواعده لنفسه, يبني عليها الفقه, كأئمة المذاهب الأربعة. وسمى ابن عابدين هذه الطبقة : طبقة المجتهدين في الشرع.

    ٢. المجتهد المطلق غير المستقل : وهو الذي وجدت فيه شروط الاجتهاد التي اتصف بها المجتهد المستقل, لكنه لم يبتكر قواعد لنفسه, بل سلق طريق إمام من أئمة المذاهب في الاجتهاد, فهو مطلق منتسب, لا مستقل, مثل تلامذة الأئمة السابق ذكرهم كأبي يوسف محمد وزفر من الحنفية, وابن القاسم وأثهب وأسد بن الفرات من المالكية, والبويطى والمزني من الشافعية, وأبي بكر الأثرم, وأبي بكر المروذي من الحنابلة. وسمى ابن عابدين هذه الطبقة : طبقة المجتهدين في المذهب : وهم القادرون على استخراج الأحكام من الأدلة الفروع, لكن يقلدونه في قواعد الأصول. وهاتان المرتبتان قد فقدتا من زمان.

    ٣. المجتهد المقيد, أو مجتهد المسائل التي لا نص فيها عن صاحب المذهب أو مجتهد التخريج, كالخصاف والطحاوي والكرخي والحلواني والسرخسي والبزدوي وقاضي خان من الحنفية, وأبي إسحاق الشيرازي والروزي ومحمد بن جرير وأبي نصر وابن خزيمة من الشافعية, والقاضي أبي يعلى والقاضي أبي علي بن أبي موسى من الحنابلة. وهؤلاء يسمون أصحاب الوجوه, لأنهم يخرجمن ما لم ينص عليه على أقوال الإمام, ويسمى ذلك وجها في المذهب, أو قولا فيه.

    ٤. مجتهد الترجيح : وهو الذي يتمكن من ترجيح قول لإمام المذهب على قول آخر, أو الترجيح بين ما قاله الإمام وما قاله تلاميذه أو غيره من الأئمة, فشأنه تفضيل بعض الروايات على بعض, مثل القدوري والمرغيناني صاحب الهداية من الحنفية, والعلامة خليل من المالكية, والرفعي والنووي من الشافعية, والقاضي علاء الدين المرداوي منقح مذهب الحنابلة, وأبي الخطاب محفوظ بن أحمد الكلوذاني البغدادي (٥١٠ھ) المجتهد في مذهب الحنابلة.
    ٥. مجتهد الفتيا : وهو أن يقوم بحفظ المذهب ونقله وفهمه في الواضحات والمشكلات, ويميز بين الأقوى والقوى والضعيف, والراجح والمرجوح, ولكن عنده ضعف في تقرير أدلته وتحرير أقيسته, كأصحاب المتون المعتبرة من المتأخرين, مثل صاحب الكنز, وصاحب الدر المختار, وصاحب الوقاية, وصاحب مجمع الأنهر من الحنفية, والرافعي والنووي من الشافعية.

    ٦. طبقة المقلدين : الذين لا يقدرون على ما ذكر من التمييز بين القوي وغيره, ولا يفرقون بين الغث والسمين.

    هذا ولم يفرق الجمهور بين المجتهد المقيد, ومجتهد التخريج, وجعل ابن عابدين طبقة مجتهد التخريج مرتبة رابعة بعد المجتهد المقيد, ومثل له بالرازي الجصاص (المتوفى سنة ٣٧٠ھ) وأمثاله. اھ

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  97. Mau nyimak dl.

    Oo.. ya, dl aq pernah tanya sama kang @Ibnu Suradi:
    1. Siapa ulama’ salaf yang mengajarkan menggerak2kan jari tangan (dari awal thyat – akhir)
    nambah lagi dah :
    2. Siapa ulama’ salaf yang mengajarkan meletakkan tangan persis di atas dada
    3. Siapa ulama’ salaf yang mengajarkan meletakkan tanan telebih dahulu sebelum lutut

    siapa aja boleh jawab (buat referensi)

    thanks atas jawabannya.

  98. Bismillaah,

    Mas Derajad,

    Baiklah bila anda memilih menyampaikan pendapat atau fatwa ulama. Silahkan anda menyampaikan fatwa ulama dalam diskusi ini, namun anda hendaknya menyampaikan hadits yang mendasari fatwa ulama tersebut. Kitab-kitab ulama selalu seperti itu. Anda menyebutkan Kitab Fathul Bari karya Imam Ibnu Hajar. Kitab itu adalah kitab syarah atau penjelasan Kitab Shahih Bukhari. Sebelum menyampaikan syarahnya, beliau selalu menyampaikan hadits yang disyarah.

    Nah, penyampaian hujjah dalam diskusi itu hendaknya seperti itu. Sebutan haditsnya, kemudian penjelasannya atau fatwanya). Atau sebut fatwanya, lalu sampaikan hadits yang mendasari fatwa tersebut. Dengan demikian kita mengetahui dari mana fatwa ini diambil. Dari Qur’an dan Sunnah atau yang lain. Kalau dari Qur’an dan Sunnah, fatwa tersebut kita pakai. Tapi kalau belum jelas asalnya. kita hendaknya menahan diri dari menggunakan fatwa tersebut. Dan bila ketahuan asalnya dari selain Qur’an dan Sunnah, maka harus meninggalkan fatwa tersebut.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi :
      Jika saudara membaca Kitab Fathul Bari Juz 3 halaman 77 tersebut, maka saudara sudah mendapatkan hujjah dari apa yang kita bahas. Mengenai Fathul Bari adalah Kitab Syarah dari Shahih Bukhari itu memang jelas saya pun sudah tahu. Jadi sekali lagi didalam Juz 3 halaman 77 itu sudah dijelaskan apa yang kita bahas. Supaya diingat lagi berikut saya kutipkan isinya.

      بَاب إِلْزَاقِ الْمَنْكِبِ بِالْمَنْكِبِ وَالْقَدَمِ بِالْقَدَمِ فِي الصَّفِّ وَقَالَ النُّعْمَانُ بْنُ بَشِيرٍ رَأَيْتُ الرَّجُلَ مِنَّا يُلْزِقُ كَعْبَهُ بِكَعْبِ صَاحِبِهِ
      قَوْلُهُ : ( بَاب إِلْزَاق الْمَنْكِب بِالْمَنْكِبِ وَالْقَدَمِ بِالْقَدَمِ فِي الصَّفِّ ) الْمُرَاد بِذَلِكَ الْمُبَالَغَة فِي تَعْدِيلِ الصَّفّ وَسَدِّ خَلَلِهِ ، وَقَدْ وَرَدَ الْأَمْرُ بِسَدِّ خَلَل اَلصَّفّ وَالتَّرْغِيب فِيهِ فِي أَحَادِيثَ كَثِيرَةٍ أَجْمَعُهَا حَدِيث اِبْن عُمَر عِنْدَ أَبِي دَاوُد وَصَحَّحَهُ اِبْن خُزَيْمَةَ وَالْحَاكِمُ وَلَفْظُهُ ” أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ : أَقِيمُوا الصُّفُوف وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَل وَلَا تَذَرُوا فُرُجَات لِلشَّيْطَانِ ، وَمَنْ وَصَلَ صَفًا وَصَلَهُ اَللَّهُ ، وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ ” . قَوْلُهُ : ( وَقَالَ النُّعْمَان بْن بَشِير ) هَذَا طَرَفٌ مِنْ حَدِيثٍ أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ اِبْن خُزَيْمَةَ مِنْ رِوَايَةِ أَبِي الْقَاسِم الْجَدَلِيِّ وَاسْمُهُ حُسَيْن بْن الْحَارِث قَالَ ” اَلنُّعْمَان بْن بَشِير يَقُولُ : أَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ : أَقِيمُوا صُفُوفكُمْ ثَلَاثًا ، وَاَللَّهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اَللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ . قَالَ : فَلَقَدْ رَأَيْت الرَّجُلَ مِنَّا يَلْزَقُ مَنْكِبه بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ ” وَاسْتَدَلَّ بِحَدِيثِ النُّعْمَان هَذَا عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِالْكَعْبِ فِي آيَةِ الْوُضُوءِ الْعَظْم النَّاتِئ فِي جَانِبَيْ الرِّجْلِ – وَهُوَ عِنْدَ مُلْتَقَى السَّاقِ وَالْقَدَمِ – وَهُوَ الَّذِي يُمْكِنُ أَنْ يَلْزَقَ بِاَلَّذِي بِجَنْبِهِ ، خِلَافًا لِمَنْ ذَهَبَ أَنَّ الْمُرَادَ بِالْكَعْبِ مُؤَخَّر الْقَدَم ، وَهُوَ قَوْلٌ شَاذٌّ يُنْسَبُ إِلَى بَعْضِ الْحَنَفِيَّةِ وَلَمْ يُثْبِتْهُ مُحَقِّقُوهُمْ وَأَثْبَتَهُ بَعْضهمْ فِي مَسْأَلَةِ الْحَجِّ لَا الْوُضُوء ، وَأَنْكَرَ الْأَصْمَعِيّ قَوْل مَنْ زَعَمَ أَنَّ الْكَعْبَ فِي ظَهْر الْقَدَم

      Silahkan dibaca dan difahami baik-baik.

      Sekali lagi beliau adalah ulama ahli fiqih yang masuk sebagai Imam Mujtahid.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    2. @Ibnu Suradi :
      Tambahan saja :
      Maksud saya penjelasan didalam Kitab Fathul Bari Juz 3 halaman 77 itu sudah ada hadits-hadits yang menjelaskan sesuai penjelasan saya sebelumnya, termasuk yang diriwayatkan lewat Nu’man Bin Basyir. Jadi menurut saya penjelasan dari mushannif berikut dasar hujjahnya sudah sangat jelas, kalau dibahas lagi kita belum mencapai derajat beliau.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  99. Bismillaah,

    Saya setuju bila model penyampaian penjelasan dalam diskusi ini seperti di Kitab Fathul Bari. Disampaikan hadits, lalu disampaikan penjelasan ulama tentang hadits tersebut. Atau disampaikan fatwa ulama, lalu disampaikan hadits yang mendasari fatwa tersebut.

    kalau begitu mari kita teruskan ke bahasan takbiratul ihram. Setinggi apa tangan diangkat saat takbir? Sejajar dengan bahu atau telinga? Di mana meletakkan telapak tangan kanan di atas telapak tangan kiri? Di mana bersedekap tangan? Di dada atau perut? Lalu kapan kalimat takbir diucapkan? Bersamaan atau setelah gerakan takbir?

    Silahkan meneruskannya.

    Wallaahu a’lam.

  100. Bismillah,

    Kang Ibnu Suradi@

    Sebelum diskusi berlanjut pada materi Takbirotul Ikhrom dan masalah yang berkaitan dengan “Rof’ul Yadain” ketika takbir, saya perlu menanyakan beberapa hal terkait penjelasan anda. Dalam tulisan anda sbb:

    Berdasarkan hadits Nu’man bin Basyir tentang merapatkan mata kaki dengan mata kaki, maka bisa diketahui bahwa:
    1. Jari-jari kaki musti lurus menghadap kiblat. Bila tidak lurus menghadap kiblat, maka mata kaki oraang yang shalat berjamaah tidak akan dapat menempel ke mata kaki kawan sebelahnya.

    Apa maksud dari kata musti sebagaimana dalam poin 1 pada tulisan anda diatas? apakah ia berindikasi wajib, atau sunnah? jika ia bermakna wajib apakah termasuk rukunnya sholat atau syarat sahnya sholat, atau syarat sahnya berjama’ah atau apa? Jika ia bermana sunnah apakah ia behubungan dengan kesempurnaan sholat atau kesempurnaan afdholiyyah dalam berjama’ah?

    selanjutnya anda menjelaskan:

    2. Jarak kerenggangan telapak kaki adalah sejajar dengan bahu. Sebab bila kurang dari lebar bahu, maka mata kaki tidak akan saling menempel sebab tertahan oleh bahu yang saling bertemu.

    Apa konsekwensi jika sholat tidak sebagaimana penjelasan anda diatas? apakah sholatnya bathal, atau jama’ahnya yang bathal, atau apa?

  101. @Mas Derajad dan @bu Hiya
    Kalau bisa diskusi jangan dilanjutkan dulu sebelum Ibnu Suradi menyampaikan pendapat ulama panutannya yang katanya salafusholeh tentang hadits-hadits di atas. Kita juga ingin klrafikasi pernyataannya bahwa kita tidak boleh mengikuti pendapat manusia, karena akan tidak sesuai dengan sholat Rasulullah. Biar kita semua mendapatkan pencerahan.

  102. Bismillah

    @ibnu Suradi

    Assalamu’alaikum. kang ibnu suradi, semoga antum selalu istiqomah diatas manhaj yang benar ini yaitu manhaj yang selalu setia mengikuti sunnah rasululloh hingga akhir hayat kelak, dari awal ana melihat pembicaraan ini, dan ana melihat antum memiliki wawasan yang sgt luas dalam beragama, sangat bertata krama, tepat dlm memberi argumen, ya jelas argumen antum berdasar pd hadits2 Rasululloh shalallahu’alaihi wassalam…, sangat berbeda dgn argumen2 yang berdasar hanya pd sebatas guru2 semata, lanjutkan akhi perjuangannya.., mudah2n dengan memahami apa yg antum sampaikan, terbukalah hidayah bagi yang masih punya penyakit dalam hatinya, masih dangkal dlm memahami ilmu agamanya, masih ngotot/kukuh dalam menyanjung guru2nya, semangat ya akhi @ Ibnu Suradi….. Bravo… 🙂

    1. @amiq :
      Silahkan saudara pelajari lagi I’tiqad Ahlus Sunnah Waljama’ah Asy’ariyah Wal Maturidiyah sebelum komentar.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  103. Bismillah

    Ana akan coba menjawab masalah Takbiratulikhram dll. Dari uraian pertanyaan sdr @ Ibnu Suradi,
    Mudah2n bermanfaat, pabila ada kesalahan mohon koreksinya ya… 🙂

    1.Takbir
    Hadist yang diriwiyatkan oleh Bukhari dan Muslim : bahwasanya Rasululloh shalallahu’alaihi wassalam bersabda : “Jika Engkau hendak sholat sempurnakan wudhu, kemudian menghadaplah kekiblat, dan bertakbirlah”.
    Dalam hadits riwayat Muslim dan Ibnu Majah, disebutkan bahwa Rasulullah SAW membuka sholatnya dengan ucapan Allohu Akbar (Alloh Mahabesar). Beliaupun memerintahkan demikian kepada orang yang tidak benar dalam sholatnya, sebagaimana sabda Beliau SAW ”Tidaklah sholat seseorang itu menjadi sempurna sampai ia berwudhu dengan benar, lalu berkata Allohu Akbar” (HR Thabrani)
    Beliau SAW juga bersabda ”Kunci sholat adalah suci, tahrimnya (melarang perbuatan2 yg dilarang Alloh) pengharamannya adalah takbir dan thalilnya (menghalalkan apa saja yg dilakukan diluar sholat ), penghalalannya adalah salam.” (HR Abu Daud, Tirmidzi & Hakim).

    Dalam hadits riwayat Ahmad dan Hakim disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengangkat suaranya dalam takbir sehingga terdengar oleh orang-orang yang makmum dibelakangnya. Rasulullah SAW bersabda ”Apabila imam mengucapkan Allohu Akbar, maka katakanlah Allohu Akbar” (HR Ahmad dan Baihaqi).

    2.Mengangkat Tangan
    Terkadang Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya sambil mengucapkan takbir/bersamaan dengan membaca takbir (HR Bukhari &Abu Daud), dan terkadang mengangkatnya setelah takbir(HR Bukhari & Nasa’i), dan terkadang (mengangkat tangan) sebelum ucapan takbir(HR Bukhari Nasa’i).
    Beliau SAW mengangkat kedua tangannya dengan jari terbuka rapat serta jari-jarinya lurus keatas (tidak renggang dan tidak menggenggam)(HR Abu Daud, Ibnu Khuzaimah, & Hakim). Dan Rasulullah SAW mengangkatnya sampai sejajar dengan kedua bahunya (HR Bukhari & Abu Daud) dan terkadang sejajar dengan kedua telinganya (HR Bukhari & Abu Daud).

    3.Meletakkan Tangan Kanan Diatas Tangan Kiri (Bersedekap)
    Rasulullah SAW meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya (HR Bukhari, Muslim & Abu Daud). Beliau SAW bersabda ”Sesungguhnya para Nabi memerintahkan kepada kita agar mempercepat saat berbuka dan mengakhirkan waktu sahur dan agar meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri kita dalam sholat.” (HR Ibnu Hibban dan Dhiya).

    4.Meletakkan Kedua Tangan (Bersedekap) di Dada
    Nabi SAW meletakkan lengan kanan diatas punggung telapak kirinya, pergelangan dan lengan kirinya (HR Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah), dan memerintahkan demikian kepada sahabat-sahabatnya (HR Malik, Bukhari dan Abu ‘Uwanah). Terkadang Beliau SAW mengenggamkan jari-jari tangan kanannya pd hasta kirinya/lengan kirinya (HR Nasa’i dan Daruquthni). Beliau SAW meletakkan keduanya diatas dada / sedekap diatas dada ( HR Abu Daud & Ibnu Khuzaimah).

    Ada yg mau menambahkan ??? monggo………. 🙂

    1. @Abu Dzar :
      Saya hanya mau tanya, darimana saudara mengambil/mengutip hadits-hadits masalah Takbiratul Ihram dll tersebut ? COPAS (artikel situs lain) atau Kitab Langsung (Elektronik ataupun Fisik) atau hasil studi (elektronik ataupun fisik) ?

      Saya perlu menanyakan hal ini sehubungan dengan pernyataan saudara sebelumnya, yaitu :

      “Assalamu’alaikum. kang ibnu suradi, semoga antum selalu istiqomah diatas manhaj yang benar ini yaitu manhaj yang selalu setia mengikuti sunnah rasululloh hingga akhir hayat kelak, dari awal ana melihat pembicaraan ini, dan ana melihat antum memiliki wawasan yang sgt luas dalam beragama, sangat bertata krama, tepat dlm memberi argumen, ya jelas argumen antum berdasar pd hadits2 Rasululloh shalallahu’alaihi wassalam…, sangat berbeda dgn argumen2 yang berdasar hanya pd sebatas guru2 semata, lanjutkan akhi perjuangannya.., mudah2n dengan memahami apa yg antum sampaikan, terbukalah hidayah bagi yang masih punya penyakit dalam hatinya, masih dangkal dlm memahami ilmu agamanya, masih ngotot/kukuh dalam menyanjung guru2nya, semangat ya akhi @ Ibnu Suradi….. Bravo… :D”

      Monggo dijawab, saya ingin mengetahui saudara ahli mengambil langsung dasar uraian saudara dari Qur’an dan Sunnah atau sekedar COPAS. 😀 Ini penting lo ya agar saudara tidak sembarangan bicara. 😀

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

      1. Bismillah,

        Afwan akhi, itu memang COPAS lo, saya yakin juga kalo yg antum beberkan dari awal itu juga COPAS KAN ??? HAYOO…., ga mungkin dalil2 yang antum jabarkan dari awal antum yg bikin, IYA KAN??? HAYOO…. , btw masa antum ga bisa ngebedain mana yg “sembarangan bicara” dgn “Hadts2 Nabi” ?? katanya berilmu ?? semua yg antum sangka ana sembarangan bicara itu hadits2 Nabi lo…, itu semua RASULULLOH yg bilang lo, bukan ana….. , coba antum cari sendiri deh…. ana yakin antum pasti bisa, antum kan berilmu, kalau ana mah msh dikit ilmunya…. hayoo….:)

    2. @Abu Dzar, di atas anda mengatakan bahwa Meletakkan Kedua Tangan (Bersedekap) di Dada dengan mengutip beberapa hadist. Saya ingin bertanya, siapa ulama ulama muktabar yg mempraktikkan cara bersedekap seperti itu?

      Berikut cara bersedekap yg saya ketahui.
      Menurut madzhab Syafi’i, posisi bersedekap adalah tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri, kemudian diletakkan di atas pusar di bawah dada. Berikut ini penjelasan al-Imam an-Nawawi di dalam kitabnya Shahih Muslim Bi Syarh an-Nawawi juz 4 halaman 114: “Sunnah meletakkan tangan yang kanan di atas yang kiri, diposisikan di bawah dada di atas pusar. Ini adalah yang masyhur dalam madzhab Syafi’i, sejalan dengan pendapat mayoritas ulama. Sementara menurut Abu Hanifah, Sufyan ats-Tsauri, Ishaq ibn Rahawaih dan Abu Ishaq al-Marwazi dari kalangan Ash-haabusy-Syafi’i meletakkan kedua tangan tersebut di bawah pusar.” (Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawi juz 4 halaman 114)

      Al-Imam at-Turmudzi Rahimahullaahu Ta’aala berkata: “Cara ini telah diamalkan oleh ahli ilmu dari kalangan shahabat, tabi’in dan generasi sesudahnya. mereka semua meriwayatkan bahwa posisi bersedekap adalah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri. Di antara mereka ada yang meriwayatkan bahwa posisi kedua tangan itu adalah di atas pusar, sebagian yang lain mengatakan di bawah pusar.” (Sunan at-Tirmidzi, juz 2 halaman 32 [253])

      Abu Dawud juga meriwayatkan cara bersedekap yang diamalkan oleh sayyidina Ali Radhiyallaahu ‘anhu: “Dari ibn Jarir adh-Dhabbiy dari ayahnya, ia berkata, “Saya melihat sayyidina ‘Ali Radhiyallaahu ‘anhu ketika sholat memegang tangan kiri dengan tangan kanannya pada pergelangan tangan, di atas pusar. Imam Abu Dawud mengatakan, “Diriwayatkan juga dari Sa’id bin Jubair bahwa tangan itu diletakkan di bawah pusar”. Abu Mijlaz menyatakan tangan itu diletakkan di bawah pusar, dan itu juga diriwayatkan dari Abu Hurairah, namun riwayat ini tidak kuat.” (Sunan Abu Dawud, juz 1 halaman 260 [757])

  104. TO ALL…
    BISMILLAH..

    Rasululloh shalallahu’alaihi wassalam bersabda : “Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan bercerai-berai sehingga kedua-nya menghantarku ke telaga (Surga).” (Di-shahih-kan Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’)

    Dalam mengambil hujjah/dalil dari Al-Qur’an dan Habits dan menjadikan dasar (hukum) dalam beribadah apakah kita yg mengambilnya/berhukum padanya harus setingkat dengan Ulama atau Imam Mujtahid Muthlaq ??
    Jika belum mencapai tingkat itu berarti kita beridabah menurut cara siapa?? Para ulamakah?? Atau Baginda Rasululloh shalallahu’alaihi wassalam ?? Saya sangat setuju kalau cara2 beribadah kita sesuai dgn apa yg diajarkan/disampaikan oleh para ulama-ulama kita, itupun kalau pendapat para ulama tsb sesuai dengan apa yg disampaikan oleh Rasululloh, TAPI apabila pendapat para ulama-ulama kita tsb tidak sesuai/melenceng dgn Sunnah Rasul, masihkah kita mencontohinya (Para Ulama) ?? sedangkan kita (spt antum Mas Derajat bilang belum kapasitas kita berhukum pada Al-Qur’an dan Hadits Rasululloh), lalu dasar apa lagi yg akan kita jadikan hujjah ?? hehe…Aneh sekali ya…

    Al-Quran sebagai petunjuk ke jalan yang paling lurus bagi orang-orang mukmin, dan Alloh berfirman:

    “Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”(QS Al-Isra’ :9)

    Ayat diatas bahwa Al-Qur’an sbg petunjuk bagi orang-orang yang mukmin bukan terkhusus pada orang-orang tertentu saja, jikalau berhukum pada Al-Qur’an dan hadits dan mengamalkannya hanya boleh bagi org yang setingkat dgn ulama, siap-siap saja islam ini bakalan hancur.

    Alloh berfirman : “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan Sunnahnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an).” (QS an-Nisa` : 174).

    Saya sangat menghormati para ulama, mudah-mudahan beliau yang telah wafat akan ditempatkan disyurga-Nya Alloh dan yang masih hidup supaya selalu dituntun oleh Alloh kejalan yang lurus aamiin.

    Para Imam Abu Hanifah, Malik bin Anas, Imam Syafi’i, Ahmad bin Hambal, dll mereka sependapat :

    “Jika kalian mendapati dalam kitabku yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam maka ambillah sunnah Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam dan tinggalkanlah pendapatku. Dalam sebuah riwayat dikatakan ’Maka ikutilah dan janganlah kalian mengikuti pendapat siapapun’.

    ” Semua yang aku ucapkan sedangkan ada hadits Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam yang sahih bertentangan dengan pendapatku maka hendaknya diutamakan hadits Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam, janganlah bertaklid
    kepadaku.”

    “Janganlah bertaklid kepadaku, Malik, Syafi’i, Auza’i dan tidak pula Tsuri, ambillah dari apa
    yang meraka ambil. (Dalam sebuah riwayat dikatakan : Janganlah bertaklid dalam masalah
    agama kepada para Imam, ikutilah apa yang dapat dari Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam dan para sahabatnya.Sedangkan dari tabi’in boleh memilihnya (menolak atau menerima).”

    “Barangsiapa menolak hadits Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam maka ia berada di tepi kehancuran.”

    Ada tambahan dari kawan2 sekalian ??

    Ohya sdr yang baik @bu Hilya, Ana bukannya ngumpet sdrku, krn ada hal yg lebih baik lagi dari ini ketimbang berdiskusi ttg ibadah yg melenceng dari sunnah Rasul, mengapa perselisihan sangat banyak disini ?? krn pegangan sdr2ku yg lain hanya berhujjah pada fatwa para ulama saja bukan dari Rasul, ingat Ulama hanyalah manusia ada benar dan salahnya TETAPI RASULULLOH adalah seorang yang MAKSUM, ente tau maksum kaga ne?? Heheh… MAKSUM ARTINYA TERPELIHARA DARI KESALAHAN, Alloh lah yang memelihara Rasul dari kesalahan2, jadi apa2 yang disampaikan oleh Rasul dijamin pasti BENAR DAN TIDAK MUNGKIN SALAH, yang ana sampaikan di forum ini adalah Hujjah dari Al-Qur’an dan Hadits loo…krn itu sumber hukum islam tertinggi…..,

    Makanya pembahasan disini cukup panjang bangeeeet gituloh…, melebar kemana-mana… ya iyalah pembahasan yg dibahas berdasarkan pendapat para Ulama yang ada benar dan salahnya, dan pendapat antara ulama yg satu dgn lainnya berbeda, jadi gimana mau BERSATU pendapatnya…, hehee…..

    Jadi saran ana, ga usah pusing2 memaparkan dalil yg panjang2 kalaupun tidak dijamin keabsahannya…. TAPI berhukumlah pada AL-QUR’AN DAN HADITS….

    WASSALAM….

    1. Bismillah,

      Saudaraku Abu Dzar,

      Dalam kaitan dengan ilmu manusia memang ada empat macam, dan keempat macam tersebut Insya Alloh semuanya ada yang mewkili dalam tulisan-tulisan yang ada dalam forum diskusi ini. Mereka adalah :

      1. Al Insanu Yadri wa Yadri bi-annahu Yadri Manusi yang tahu dan menyadari bahwa dirinya berilmu. Kelompok ini dalam forum diskusi ini terwakili oleh para Ulama yang pendapat dan fatwanya diangkat dalam forum ini. Mereka adalah para Hamba yang Pinter dan Minterno

      2. Al Insanu Yadri wa La Yadri bi-annahu Yadri Manusi yang tahu dan dia tidak/belum menyadari bahwa dirinya berilmu.Biasanya mereka akan menjadi manusia yang Pinter dan Minteri

      3. Al Insanu La Yadri wa Yadri bi-annahu La Yadri Manusi yang tidak/belum tahu dan dia menyadari bahwa dirinya tidak/belum berilmu, kelompok ini terwakili oleh kehadiran para asatidz dan pengunjung awam seperti saya yang menyandarkan pemahaman agama ini pada para ulama, tentunya sambil terus belajar.

      4. Al Insanu La Yadri wa La Yadri bi-annahu La Yadri Manusi yang tidak/belum tahu dan tidak menyadari bahwa dirinya tidak/belum berilmu. Mereka menganggap paling tahu, bahkan merasa lebih faham tentang hadits-hadits dalam Shahih Bukhori ketimbang Imam Ibnu Hajar Al Asqolani pengarang fathul bari, bahkan merasa lebih faham ketimbang imam Bukhori-nya sendiri, merasa lebih faham tentang shahih muslim ketimbang Imam nawawi dan bahkan Imam Muslim sendiri, setidaknya mereka merasa sejajar dengan para Ulama karena sama-sama manusia yang tidak ma,shum. pendek kata mereka adalah orang-orang yang merasa paling tahu dalam kebodohannya alias Sok Tahu

      Semoga Alloh melindungi kita semua.

      1. Ustadz @bu Hilya benar.

        Sebaiknya kita menyampaikan uraian tidak melebihi batas kedudukan kita. Fatwa-fatwa ulama dalam kitab-kitab beliau sudah cukup untuk kita jadikan hujjah dalam ilmu fiqih khususnya shalat ini. Ikhtilaf pasti ada, namun ikhtilaf itu jika yang memandang ikhtilaf itu kedudukannya sejajar yaitu mereka yang sama-sama menduduki Mujtahid. Hujjah ulama itu sudah menjelaskan apa yang ada dalam Qur’an dan Sunnah, jadi kita jangan terlalu lancang mengambil proporsi mereka tanpa ilmu. Jika ada yang kurang/tidak mengerti lebih baik kita masuk dalam lingkungan Majlisil ‘Ilmi. Tidak kurang sebagai contoh Ponpes Tebu Ireng Jombang adalah salah satu pemegang sanad shahih Bukhari disana kita bisa mengaji secara mendalam, juga Ponpes Sidogiri Pasuruan pemegang beberapa sanad Kitab yang musalsal dan Ponpes lain yang sanad keilmuannya mu’tabar dan musalsal.

        Saya juga atas nama pribadi mohon maaf jika dalam penyampaian saya ada terkesan keras/arogan, semua itu semata kelemahan saya sebagai manusia dan umat yang awam haus ilmu dari ulama’. Saya adalah orang yang “manut” Kyai saya, yang beliau tidak mungkin menjerumuskan saya. Dan saya bukan sekedar manut, tapi memahami begitu dalamnya Ilmunya setelah saya memahami beberapa kitab.

        Kebenaran hakiki hanya milik Allah
        Hamba Allah yang dhaif dan faqir
        Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    2. Syarat Ijtihad :
      1. Mengetahui Nas Al-Qur’an dan hadist. Kalau tidak mengetahui salah satunya, maka iya bukan mujtahid, dan tidak boleh berijtihad. Menurut Al-Ghazali dan Ibn Arabi, ayat ayat yang harus diketahui yaitu kurang lebih 500 ayat, yaitu ayat-ayat mengenai hukum. Menurut As Syaukani, harus lebih banyak lagi daripada 500 ayat. Bahkan dari ayat ayat tentang cerita dan contoh, bisa juga ditetapkan hukum hukum.
      Jumlah hadist yg harus diketahui mujtahid, ada yg mengatakan harus 3000 buah. Ada pula yg mengatakan , harus 1.200 buah. Menurut As Syaukani, harus mengetahui hadist hadist yg ada dalam kitab yg enam. Baik tentang ayat ayat Al-Qur’an dan hadist, tidak disyaratkan hafal, tetapi cukup manakala dibutuhkan dapat mencari dalam Qur’an dan Hadist. Tentang Hadist, harus mengetahui shahih hasan, dhaif, serta maudhu’. Juga harus mengetahui keadaan para perawinya. Selain itu, juga harus menguasai ilmu tafsir Qur’an dan tafsir Hadist.

      2. Mengetahu soal soal ijma’, sehingga tidak memberikan fatwa yg berlawanan dengan ijma’.

      3. Mengetahui bahasa Arab, sehingga dapat mengerti idiom idiomnya. Mengerti pembicaraan yg jelas, yg zahir, yg mujmal, yg hakikat. yg majazi, yg ‘aam, yg chas, yg muckham, yg mutasyabih, yg mutlaq, yg muqaiyad, yg mantuq dan yg mafhum.

      4. Mengetahui ilmu ushul fiqih dan harus kuat dalam ilmu ini, karena ilmu ushul fiqih menjadi dasar dan pokok ijtihad.

      5. Mengetahui Nasach dan Mansuch.

      6. dsb.

      Mujtahid pun ada tingkatannya :
      1. Seperti Mujtahid Mutlaq, yaitu yg mempunyai syarat syarat ijtihad dan memberikan fatwa dalam segala hukum tanpa terikat oleh suatu mazhab.

      2. Mujtahid Muntasib, yaitu orang orang yg mempunyai syarat syarat ijtihad, tetapi menggabungkan dirinya kepada sesuatu mazhab, karena mengikuti jalan jalan yg telah dibentangkan oleh imam mazhab tersebut dalam berijtihad.

      3. dst.

      jadi, untuk saudara kami Abu Dzar, apakah saudara sudah mencapai derajat mujtahid? Tolong di jawab. Kalau anda merasa sudah menjadi seorang mujtahid, anda termasuk mujtahid yg mana?

      atas penjelasannya, saya ucapkan terima kasih.

  105. Ane rasa @ibnu suradi menjawab dulu pertanyaan ustad @abu hilya, jika tidak terjawab, maka diselesaikan saja, karena jika diteruskan akan rusak semuanya, jika ada salah satu yang tidak mengerti ilmu (tajwid, Lughah maupun arab gundul) dan terjadi HUJJAH maka dosa kita semuanya. Karena belum tentu shalat kita seperti Rasulullah SAW.

    @abu dzar, jangan mengambil langsung dari hadist, coba diterangkan menurut ulama yang ente pegang (ulama yang ente ikutin Ibn Taymiyah, Ben Baz atau Utsaimin). Masalahnya @ibnu suradi sudah sepakat dengan hujjah Imam2nya.

  106. @Abu Dzar :
    Nah ini dia orang yang hebat, bisa langsung mengambil hukum langsung melalui Qur’an dan Hadits. Sungguh telah lancang saudara berbicara seakan melebihi para ulama yang sudah membahas secara terang benderang hukum-hukum agama (Fiqhul Islam). Apa yang saya sampaikan adalah fatwa-fatwa ulama dalam kitab beliau masing-masing yang sudah jelas ada penjelasan dari Qur’an dan Sunnah (Hadits) yang disebutkan. Jelas sekali saudara tidak bisa baca Kitab, makanya berkomentar seenaknya. Rupanya saudara hanya tukang COPAS. Parahnya dari COPAS di Internet terjemah Bahasa Indonesia saudara jadikan hujjah. Sungguh berbahaya orang-orang seperti saudara ini.

    Hai Abu Dzar, mungkin saudara lupa “Ulama itu pewaris Nabi”. Kepatuhan kita kepada Ulama adalah sama dengan kepatuhan kita kepada Rasulillah Muhammad SAW. Tentunya kita bisa lihat ulama’ yang mu’tabar dan jelas jalur sanadnya. Tidak seperti Albani yang saudara sebut namanya, bahasa Arabnya saja kacau, hafalannya sangat rendah, belajarnya otodidak dari perpustakaan. Cocoklah dengan saudara kalau begitu.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    1. Afwan akhi, coba renugkan y akhi, ana tau kalau para ulama adalah pewaris nabi dan semoga para ulama yang berdiri diats manhaj yg benar (Al-Qur’an dan Hadits) semoga Alloh selalu merahmatinya, tapi kalau fatwa dari para ulama melenceng dari Al-qur’an dan hadits patutkan kita ambil ??? smentara banyak para ulama yg bilang seandainya fatwa saya menyelisihi sunnah, maka tinggalkan, dan jgn berfatwa pd saya, Ulama hanyalah manusia, sementara yg wajib kita ambil hujjanya adalah dari hadits2 Rasululloh sendiri, biar jela antara CAHAYA dan KEGELAPAN, kalau ada kata2 yg kurang berkenan ana mhn maaf pd antum2 sekalian krn tdk ada mksud melecehkan siapapun,

      Nb.: Kalo tuduhan antum COPAS !! ya jelas ana copas, krn ana bukan Ulama atau ustad, ana hanya berpegang pd Al-Qur’an dan sunnah, tapi ana juga yakin kalau antum2 semua juga COPAS…. jadi berilmu tdk harus sombong dgn merendahkan org lain COPAS sana COPAS sini, sementara diri kita saja tak mampu membuat suatu hujjah atau dalil, hehehe…, dan di dlm Forum ini tak ada satupun yang mnciptakan DALIL sendiri, semuanya COPAS/CONTOH/CONTEK ….benar tidak ????? 🙂

      1. @Abu Dzar
        Para Imam mazhab memang berkata : “apabila suatu hadits itu shahih, maka hadits itulah madzhabku”. Salah satu yg berkata demikian adalah Imam Syafe’i. Para ulama menjelaskan, bahwa maksud perkataan al-Imam al-Syafi’i, “Idza shahha al-hadits fahuwa madzhabi (apabila suatu hadits itu shahih, maka hadits itulah madzhabku)”, adalah bahwa apabila ada suatu hadits bertentangan dengan hasil ijtihad al-Imam al-Syafi’i, sedangkan al-Syafi’i tidak tahu terhadap hadits tersebut, maka dapat diasumsikan, bahwa kita harus mengikuti hadits tersebut, dan meninggalkan hasil ijtihad al-Imam al-Syafi’i. Akan tetapi apabila hadits tersebut telah diketahui oleh al-Imam al-Syafi’i, sementara hasil ijtihad beliau berbeda dengan hadits tersebut, maka sudah barang tentu hadits tersebut memang bukan madzhab beliau. Hal ini seperti ditegaskan oleh al-Imam al-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab.

        Al-Imam al-Hafizh Ibn Khuzaimah al-Naisaburi, seorang ulama salaf yang menyandang gelar Imam al-Aimmah (penghulu para imam) dan penyusun kitab Shahih Ibn Khuzaimah, ketika
        ditanya, apakah ada hadits yang belum diketahui oleh al-Syafi’i dalam ijtihad beliau? Ibn Khuzaimah menjawab, “Tidak ada”. Hal tersebut seperti diriwayatkan oleh al-Hafizh Ibn Katsir dalam kitabnya yang sangat populer al-Bidayah wa al-Nihayah (juz 10, hal. 253).

        Al-Imam Abu Yusuf salah seorang murid terbaik dan penyebar madzhab al-Imam Abu Hanifah. Dikatakan bahwa beliau telah mencapai derajat mujtahid mutaq, namun beliau masih tetap mengikatkan diri pada mazhab atau metode yg telah dibentangkan oleh gurunya.

        Imam Bukhori, penyusun kitab sohih bukhori, dimana kitabnya menempati urutan kedua setelah Al-Qur”an. Dalam masalah fiqih, beliau masih saja mengikuti mazhab Syafe’i.

        jadi, menurut saya aneh, bila ada orang awam, yg tidak mencapai derajat mujtahid, tapi mampu berkata “kalau fatwa dari para ulama melenceng dari Al-qur’an dan hadits patutkan kita ambil ???”. Dari mana anda mampu menilai bahwa pendapat seorang ulama telah melenceng dari Al-Qur’an dan hadist, sedangkan yg berkata itu bukanlah mujtahid.

      2. @Abu Dzar, diatas anda berkata : “Ulama hanyalah manusia, sementara yg wajib kita ambil hujjanya adalah dari hadits2 Rasululloh sendiri”.

        Pertanyaannya sekarang adalah, apakah cukup hanya dengan mengetahui hadist sohih, kemudian hadist tersebut bertentangan dengan pendapat salah sesorang Imam mazhab, kemudian ada orang yg mengatakan bahwa pendapat Imam ini tidak sesuai dengan hadist sohih?

        Maka ada baiknya kita mengutip pendapat Al-Imam al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali berkata dalam kitabnya, Bayan Fadhl ‘Ilm al-Salaf ‘ala ‘Ilm al-Khalaf (hal. 57):
        “Adapun para imam dan fuqaha ahli hadits, mereka mengikuti hadits shahih di mana pun berada, apabila hadits tersebut diamalkan oleh para sahabat dan generasi sesudahnya, atau diamalkan oleh sekelompok mereka. Adapun hadits shahih yang disepakati ditinggalkan oleh kaum salaf, maka tidak boleh diamalkan. Karena mereka tidak meninggalkan hadits tersebut, melainkan setelah mengetahui bahwa hadits tersebut memang tidak diamalkan. Umar bin Abdul Aziz berkata: “Ikutilah pendapat yang sesuai dengan pendapat orangorang sebelum kalian, karena mereka lebih tahu dari pada kalian.”

        Syaikh Ibn Taimiyah, menulis sebuah kitab berjudul Raf’u al-Malam ‘an al- Aimmah al-A’lam. Dalam kitab tersebut Ibn Taimiyah mengemukakan sepuluh alasan, mengapa seorang mujtahid terkadang menolak mengamalkan suatu hadits dan memilih berijtihad sendiri. Menarik untuk dikemukakan di sini, setelah memaparkan sepuluh alasan tersebut, Syaikh Ibn Taimiyah berkata begini:
        “Dalam sekian banyak hadits yang ditinggalkan, boleh jadi seorang ulama meninggalkan suatu hadits karena ia memiliki hujjah (alasan) yang kita tidak mengetahui hujjah itu, karena wawasan keilmuan agama itu luas sekali, dan kita tidak mengetahui semua ilmu yang ada dalam hati para ulama. Seorang ulama terkadang menyampaikan alasannya, dan terkadang pula tida menyampaikannya. Ketika ia menyampaikan alasannya, terkadang sampai kepada kita, dan terkadang tidak sampai. Dan ketika alasan itu sampai kepada kita, terkadang kita tidak dapat menangkap alasan yang sesungguhnya (maudhi’ ihtijajihi), dan terkadang dapat menangkapnya.” (Syaikh Ibn Taimiyah, Raf’u al-Malam ‘an al-Aimmah al-A’lam, hal. 35).

  107. Jadi wahabi ternyata memang gampang dan lucu yah? Bisa berhujjah semaunya tanpa harus menguasai dengan baik ilmu2 yang menjadi parameter atau syarat mutlaq seorang muthajid dalam dalam islam. Akhirnya jika semakin panjang berdiskusi dengan mereka jahilnya jadi semakin tampak ( ngak bisa baca kitab arab gundul ) 😛

    1. Mas @wahyuboes
      Tukang koran aja bisa berhujjah atas isi korannya.
      Jika ada 100 orang di satu kelurahan dan mereka masing-masing membaca al Qur’an dan Sunnah seperti Hujjahnya tukang koran, maka dikelurahan tersebut pasti ada 100 Hujjah, maka gak bisa diingkari pasti mereka pada RIBUT alias tawuran.
      Inilah yang dikatakan Al Qur’an dan sunnah hanya sampai kerongkongannya.

      1. afwan akhi, pasti ga bakalan ributlah antum, pasti mereka bersatu kalau mereka berhujjah pada Al-qur’an dan Hadits, krn hujjah yg diambilnya adalah bersumber dari Al-Qur’an dan hadits, mana ada isi dari Al-Qur’an dan Hadits berbeda???

        seandainya perselisihan yg terjadi, pasti mereka tdk berhujjah pd Al-qur’an dan Sunnah nabi, ana yakin mereka2 berhujjah pd kitab2 dan buku yg melenceng dari Al-qur’an dan hadits, jelas berselisih krn yg dipertentangkan kan pendapat2 semata…., sekiranya ada perbedaan pendapat sebanyak 1000 ulama, pastilah terjadi perpecahan….

        itukan perandaian saja… 🙂

        1. @Abu Dzar, diatas anda berkata : “pasti mereka bersatu kalau mereka berhujjah pada Al-qur’an dan Hadits, krn hujjah yg diambilnya adalah bersumber dari Al-Qur’an dan hadits, mana ada isi dari Al-Qur’an dan Hadits berbeda???”.

          Sekarang saya akan mencontohkan perbedaan pendapat dikalangan ulama salaf perihal buah zaitun. Berkata Nawawi : “mengenai zaitun, tidaklah wajib padanya zakat”. ini juga pendapat Hasan bin Shalih, Ibnu Abi Laila dan Abu Ubeid.

          Tetapi, Zuhri, Auza’i, Malik, Tsauri, Abu Hanifah dan Abu Tsaur mengatakan wajib zakat padanya.

          Lihatlah, para ulama ulama salaf pun berbeda pendapat, dan saya yakin, mereka berpendapat pasti bersumber kepada Al-Qur’an dan sunnah Nabi.

          Tapi, dari pernyataan anda diatas, seolah olah berbeda pendapat itu tercela dan tidak mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.

      2. Bismillaah,

        Kang Ucep,

        Lebih ribut lagi bila orang-orang sekelurahan itu berhujjah dengan kata-kata orang. Berhujjah dengan Qur’an saja masih bisa beda, apalagi berhujjah dengan kata-kata orang. Pasti jauh lebih berbeda.

        Wallaahu a’lam.

        1. @Ibnu Suradi, salah satu perusak agama itu adalah orang yg bodoh tapi berfatwa. Berhujjah dengan mengikuti pendapat Imam Imam yg muktabar itu lebih baik, daripada orang bodoh yg sok pintar dan berhujjah langsung dengan Al-Qur’an dan Hadist.

  108. Mas drajad@ mohon maaf saya komentar karena gak faham yg saya tahu ahlusunnah itu semenyara ini pendirinya abu hasan al asy ari ato abu mansur al maturidi..adapun sanad ilmu dari wasil bin ato pndiri muktazilah bukan? Kalo memang mau mencerahkan tinggal dsampaikan saja, sedikit saya baca tentang ahlussunah tapi blum pernah tahu sanad keilmuan sampe rasul, sampe ummati menyampaikan disini, sangat wajar to saya tanyakan wasil bin ato, mohon maaf sekali lagi saya bertanya karena benar-benar belum tahu, saya baca buku pemikiran kh. M. Hasyim as’ari tentang ahl sunnah waljamaah pda masalah geneologi keilmuan yang bahas mulai dari masa khatib al sambasi, sayyid ahmaf dimyati, sayyid ahmad zaini dahlan, syaikh al nahrawi turun ke syaikh nawawi al bantani, turun lagi ke mbah khalil bangkalan baru yai hasim dan jalur lain dari mbah sholeh darat, abu bakar bin sayyid muhammad shata, syaikh mahfudz tetmas, kemudian kh. Asnawi kudus baru mbah hasyim, jalur ke atas sampe rasul ya baru tahu dari ummati ini,

  109. Bismillaah,

    Mas Derajad dan lain-lain,

    Saya tidak menolak fatwa atau penjelasan ulama tentang shalat. Namun bila fatwa atau penjelasan tersebut tidak dilengkapi dengan hadits yang dijadikan dasar fatwa atau penjelasan ulama tersebut, bagaimana anda meyakinkan pembaca bahwa shalat yang difatwakan dan dijelaskan oleh ulama tersebut benar-benar shalat yang diajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya?

    Mustinya, dalam menjelaskan shalat Rasulullaah, ulama tersebut berfatwa bahwa Rasulullaah berkata begini, melakukan ini dan menyetujui ini tentang shalat.”

    Ulama memang bertugas menjelaskan hadits. Oleh karena itu, dalam diskusi ini, hendaknya kita menyampaikan penjelasan ulama dan hadits yang dijelaskan ulama.

    Jangan sampai kita menyampaikan penjelasan panjang lebar tentang hadits, namun tidak menyampaikan hadits yang dijelaskan. Ini sama saja dengan kita berbicara panjang lebar tentang sesuatu dengan seseorang namun kita tidak memberitahukan sesuatu itu. Orang yang diajak bicara itu dijamin bengong terus.

    Oleh karena itu, silahkan anda menyampaikan fatwa ulama namun hendaknya dilengkapi hadits yang dijadikan dasar fatwa tersebut. Berhujjahlah seperti cara penyampaian hujjah di Kitab Fathul Bari.

    Wallaahu a’lam.

    1. Na’am akhi,

      kalau hanya pendapat para ulama saja tnp dsertai dalil2yg sahih dari Nabi, pasti semua org berlainan pendapat dan cara pandang, ya spt inilah hasilnya di Forum ini….

      tapi kalau semua kita menyampaikan pendapat para ulama disertai dalil2 dari Hadits2 nabi, pasti kita akan menemui kesamaan, ga kan mungkin berbeda…

      itu saja, ga muluk2…., ana membaca dari awal hingga akhir juga Pening en Pusing, krn panjang banget penjabarannya, hehehe…. ya itulah aqidah mereka….

      1. @Abu Dzar : Menurut al-Hafizh al-Dzahabi
        dalam Siyar A’lam al-Nubala’ (juz 16, hal. 405), jika terdapat suatu hadits, sanadnya
        shahih, akan tetapi para ulama mujtahid tidak ada yang mengamalkannya, maka kita tidak boleh mengamalkan hadits tersebut. Jadi, hadits shahih saja, posisinya harus tidak diamalkan, ketika tidak seorang pun dari kalangan ulama mujtahid tidak mengamalkannya dalam ijtihad mereka.

        Umar bin Abdul Aziz berkata: “Ikutilah pendapat yang sesuai dengan pendapat orangorang sebelum kalian, karena mereka lebih tahu dari pada kalian.”

        Sekarang saya ingin bertanya, bila ada perbedaan pendapat dikalangan ulama, bagaimana cara anda mentarjih pendapat pendapat tersebut?

        Atas penjelasannya, saya ucapkan terima kasih

  110. @Ibnu Suradi dan Abu Dzar,

    Saya bingung dengan saudara berdua ini. Sudah saya katakan mengenai penjelasan jarak antar jamaah dalam satu shaf itu, terkait beberapa hadits dan penjelasannya termasuk fatwa Imam Ibnu Hajar Atsqalani dalam kitabnya Fathul Bari Juz 3 halaman 77 sudah jelas. Haditsnya jelas, penjelasannya pun jelas. Beliau itu ulama Mujtahid Muthlaq, hadits yang diangkat juga jelas (termasuk riwayat dari Nu’man Bin Basyir), fatwanyapun jelas, tidak seperti tafsir saudara Ibnu Suradi itu. Nah kalau saudara masih juga membantah/membuat tata cara baru itu namanya lancang, karena dari dasar syarat seorang Imam Mujtahid, mana yang sudah saudara penuhi ??? Saudara Abu Dzar juga curiga dengan mengatakan “tapi kalau fatwa dari para ulama melenceng dari Al-qur’an dan hadits patutkan kita ambil ??? “. Mana dari fatwa beliau yang melenceng ???

    Sekali lagi ini saya kutipkan isi dari Fathul Bari Juz 3 Halaman 77, kalau terjemahannya saudara terjemahkan sendiri, sambil saya ingin tahu pemahaman saudara dalam bahasa Arab kitab tersebut.

    Ini kutipannya :

    بَاب إِلْزَاقِ الْمَنْكِبِ بِالْمَنْكِبِ وَالْقَدَمِ بِالْقَدَمِ فِي الصَّفِّ وَقَالَ النُّعْمَانُ بْنُ بَشِيرٍ رَأَيْتُ الرَّجُلَ مِنَّا يُلْزِقُ كَعْبَهُ بِكَعْبِ صَاحِبِهِ
    قَوْلُهُ : ( بَاب إِلْزَاق الْمَنْكِب بِالْمَنْكِبِ وَالْقَدَمِ بِالْقَدَمِ فِي الصَّفِّ ) الْمُرَاد بِذَلِكَ الْمُبَالَغَة فِي تَعْدِيلِ الصَّفّ وَسَدِّ خَلَلِهِ ، وَقَدْ وَرَدَ الْأَمْرُ بِسَدِّ خَلَل اَلصَّفّ وَالتَّرْغِيب فِيهِ فِي أَحَادِيثَ كَثِيرَةٍ أَجْمَعُهَا حَدِيث اِبْن عُمَر عِنْدَ أَبِي دَاوُد وَصَحَّحَهُ اِبْن خُزَيْمَةَ وَالْحَاكِمُ وَلَفْظُهُ ” أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ : أَقِيمُوا الصُّفُوف وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَل وَلَا تَذَرُوا فُرُجَات لِلشَّيْطَانِ ، وَمَنْ وَصَلَ صَفًا وَصَلَهُ اَللَّهُ ، وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ ” . قَوْلُهُ : ( وَقَالَ النُّعْمَان بْن بَشِير ) هَذَا طَرَفٌ مِنْ حَدِيثٍ أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ اِبْن خُزَيْمَةَ مِنْ رِوَايَةِ أَبِي الْقَاسِم الْجَدَلِيِّ وَاسْمُهُ حُسَيْن بْن الْحَارِث قَالَ ” اَلنُّعْمَان بْن بَشِير يَقُولُ : أَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ : أَقِيمُوا صُفُوفكُمْ ثَلَاثًا ، وَاَللَّهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اَللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ . قَالَ : فَلَقَدْ رَأَيْت الرَّجُلَ مِنَّا يَلْزَقُ مَنْكِبه بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ ” وَاسْتَدَلَّ بِحَدِيثِ النُّعْمَان هَذَا عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِالْكَعْبِ فِي آيَةِ الْوُضُوءِ الْعَظْم النَّاتِئ فِي جَانِبَيْ الرِّجْلِ – وَهُوَ عِنْدَ مُلْتَقَى السَّاقِ وَالْقَدَمِ – وَهُوَ الَّذِي يُمْكِنُ أَنْ يَلْزَقَ بِاَلَّذِي بِجَنْبِهِ ، خِلَافًا لِمَنْ ذَهَبَ أَنَّ الْمُرَادَ بِالْكَعْبِ مُؤَخَّر الْقَدَم ، وَهُوَ قَوْلٌ شَاذٌّ يُنْسَبُ إِلَى بَعْضِ الْحَنَفِيَّةِ وَلَمْ يُثْبِتْهُ مُحَقِّقُوهُمْ وَأَثْبَتَهُ بَعْضهمْ فِي مَسْأَلَةِ الْحَجِّ لَا الْوُضُوء ، وَأَنْكَرَ الْأَصْمَعِيّ قَوْل مَنْ زَعَمَ أَنَّ الْكَعْبَ فِي ظَهْر الْقَدَم

    Monggo diterjemahkan dan difahami. 😀 Jangan terus mengeluarkan fatwa jika Ulama sudah jelas menerangkannya.

    Atau mungkin kalau Ahlul Hujjah Salafi Wahabi punya pembanding fatwa silahkan 😀

    Seperti juga kata Ustadz Ucep, Di Arab Saudi saja yang banyak Salafy Wahabi juga posisi kakinya tidak seperti yang saudara Ibnu Suradi sampaikan. Monggo Kang 😀

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    1. @Mas Derajad : memang susah mas menjelaskan kepada orang yg sudah merasa menjadi “Mujtahid”. Kita yg masih awam ini, lebih baik mengikuti para Imam Imam yg muktabar saja. Karena, selain Al-Qur’an dan Sunnah, Nabi jg meninggalkan ulama. Karena Nabi tahu bahwa tidak semua umatnya mampu menggali langsung hukum hukum islam dari Al-Qur’an dan Sunnah.

  111. Bismillaah,

    Bahasan diskusi ini adalah shalat yang diajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Jadi, mau tidak mau, kita harus menyampaikan hadits-tentangt tentang shalat Rasuulullaah. Boleh kita menyampaikan fatwa ulama, namun musti dilengkap dengan hadits sebagai dasar fatwa ulam tersebut.

    Kalau kita tidak menyampaikan hadits saat menjelaskan cara shalat Rasulullaah, orang sulit percaya bahwa yang kita jelaskan adalah cara shalat Rasulullaah.

    Penjelasan kita tentang cara shalat Rasulullaah harus disertai bukti. Buktinya apa? Buktinya adalah hadits yang meriwayatkan bahwa Rasulullaah mengatakan begini, melakukan ini dan menyetujui ini tentang shalat.

    Sebagian dari hadits-hadits yang disampaikan Akh Abu Dzar adalah hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Maka, kita tinggalkan mencari penjelasan Imam Ibnu Hajar tentang hadits-hadits itu di Kitab Fathul Bari.

    Kini giliran Mas Derajad dan kawan-kawan menyampaikan hujjahnya tentang takbiratul ihram. Silahkan sampaikan fatwa ulama, namun jangan lupa melengkapinya dengan hadits yang dijadikan dasar fatwa ulama terebut.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi, anda berkata : “Sebagian dari hadits-hadits yang disampaikan Akh Abu Dzar adalah hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Maka, kita tinggalkan mencari penjelasan Imam Ibnu Hajar tentang hadits-hadits itu di Kitab Fathul Bari”.

      Memangnya siapa Abu Dzar, sehingga anda lebih memilih Abu Dzar di banding Imam Ibnu Hajar dalam mensyarah sohih Bukhori?

      1. Bismillaah,

        Mas Agung dan lain-lainnya,

        Maaf, ada salah tulis dari komentar saya. Kata “tinggalkan” dalam komentar saya: “Maka, kita tinggalkan mencari penjelasan Imam Ibnu Hajar” seharusnya “tinggal”. Jadi komentar yang benar adalah: “Maka, kita tinggal mencari penjelasan Imam Ibnu Hajar.

        Dengan demikian, tidak ada kesan bahwa saya lebih memilih penjelasan Akh Abu Dzar daripada Imam Ibnu Hajar.

        Wallaahu a’lam.

  112. Bismillaah,

    Mas Derajad,

    Saya mengetahui anda memiliki ilmu yang banyak termasuk bahasa Arab sehingga anda mengutip pendapat ulama dalam bahasa Arabnya tanpa diterjemahkan.

    Menurut saya, diskusi ini bukan untuk mencari kemenangan namun untuk mengungkap shalat yang diajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Orang seperti saya dan juga mungkin lainnya akan mengambil manfaat dari diskusi ini.

    Oleh karena itu, kutipan bahasa Arab hendaknya diterjemahkan agar para peserta diskusi ini baik yang aktif maupun pasif yang tidak dapat berbahasa Arab bisa mengetahui arti kutipan tersebut. Dengan demikian, kita semua dapat mengetahui shalat yang diajarkan oleh Rasulullaah kepada para sahabatnya secara utuh.

    Kita luruskan niat kita dulu bahwa diskusi ini untuk saling tukar informasi mengenai cara shalat Rasulullaah.

    Biarlah Akh Abu Dzar menyampaikan hadits-hadits tentang takbiratulihram. Dan silahkan anda dan kawan-kawan menyampaikan fatwa ulama. Kita saling melengkapi. Biar para pembaca yang memutuskan menentukan hujjah pilihan mereka. Kita tidak usah menjustifikasi kebenaran.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi :
      Sebenarnya hal itu sudah saya jelaskan diatas. Tolong diperiksa lagi comment saya sebelumnya. Hanya waktu itu saudara masih kukuh pendapat tentang kaki musti/harus menghadap kiblat, padahal tidak ada dalam hukum syarat, rukun dan wajib shalat yang mengharuskannya, maka saya kutip dari Kitab Fathul Bari – Ibnu Hajar Atsqalani untuk memperkuatnya karena beliau adalah Imam Mujtahid Muthlaq yang berhak mengeluarkan fatwa berdasarkan keilmuannya. Tidak kurang itupun hasil dari bahtsul masail yang saya dapatkan. Semua Imam Mujtahid pasti menjawab hukum dari Qur’an dan Hadits, tidak seperti sangkaan saudara Abu Dzar. Jadi masalah posisi kaki dalam shalat sudah jelas penjelasannya seperti Kitab Fathul Bari, sebenarnya masih ada kitab-kitab lain, tapi saya rasa sudah sangat cukup dari kitab tersebut saja.

      Kalau melanjutkan pembahasan saya minta, jika suatu hukum sudah jelas dalam fatwa ulama’ yang membahasnya terutama terkait Qur’an dan Hadits, maka kita ikut ulama’ saja, kecuali saudara punya hujjah dari ulama saudara (Salafy Wahabi) yang tingkat keilmuannya sama, maka kita ajukan dalil-dalil tambahan. Jika setuju saya akan lanjutkan, jika tidak mohon maaf, karena saya sangat menghormati fatwa ulama yang jelas dasarnya dari Qur’an dan Hadits. Saya tunggu konfirmasinya. Terimakasih.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  113. @Mas Agung

    Terimakasih uraiannya ikut menjelaskan.

    Jazakallahu khairan katsiran

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  114. @ibnu Suradi
    Quraisy Shihab yang Doktornya 2 x, gak berani berhujah (ane punya beberapa kitabnya termasuk al Mishbah). Ente sama temen2 Wahabi hebat ya.
    Begini ada 2 hadist yang keduanya shahih :
    1. Kullu bidattin Dholalah (setiap bid’ah adalah sesat)
    2. Barangsiapa yang mengerjakan perbuatan (bid’ah) yang baik dan diikuti oleh orang yang mengikutinya maka dia mendapat pahala sampai hari kiamat, tanpa dikurangi …… dst

    Sekarang pertanyaannya : dari 2 hadist tersebut, mana yang ente ambil atau dipilih salah satunya sebagai hujjah ????

    @abu dzar :
    Dalam Al Qur’an dan Hadist dinyatakan bahwa Riba adalah Haram, apapun bentuknya
    Pertanyaannya : Bagaimana Hujjah ente tentang Riba (Bunga) Bank, baik simpanan kita maupun pinjaman dibank ?

  115. Bismillaah,

    Mas Derajad,

    Anda mengatakan: “Jika suatu hukum sudah jelas dalam fatwa ulama’ yang membahasnya terutama terkait Qur’an dan Hadits, maka kita ikut ulama’ saja, kecuali saudara punya hujjah dari ulama.”

    Saya setuju dengan peryataan anda itu. Namun, bila ada kawan kita yang menyampaikan hadits, biarlah dia melakukannya. Bisa jadi dia menunjukkan hadits yang dijadikan dasar fatwa ulama yang anda sampaikan. Penyampaian hadits dalam diskusi ini tidak dapat dielakkan sebab pembahasan diskusi ini adalah tata cara shalat Rasulullaah. Hanya melalui hadits yang disampaikaan dan dijelaskan oleh ulamalah kita dapat mengetahui tata cara shalat Rasulullaah.

    Akh Abu Dzar telah menyampaikan hadits-hadits yang menjelaskan takbiratulihram secara rinci. Maka, silahkan anda menyampaikan fatwa ulama tentang masalah ini. Saya yakin bahwa saya dan banyak kawan lainnya dapat mengaambil pelajaran dari hujjah yang anda berdua sampaikan.

    Wallaahu a’lam.

  116. Bismillah,

    Adalah sesuatu yang ceroboh, jika seseorang menolak pendapat para Ulama’ yang hafal qur’an, hafal ribuan hadits berikut sanadnya memahami fatwa-fatwa ulama lain berikut sumbernya dengan hanya bermodalkan terjemah satu dua hadits, dimana dia sendiri tidak memiliki sarana untuk mengoreksi terjemah tsb.

    Akankah nasib kita diakhirat kita tempuh dengan cara-cara ceroboh seperti itu?

  117. Bismillaah,

    Akh Abu Dzar telah menyampaikan hadits-hadits yang menjelaskan takbiratulihram secara rinci. Maka, silahkan anda menyampaikan fatwa ulama tentang masalah ini. Saya yakin bahwa saya dan banyak kawan lainnya dapat mengaambil pelajaran dari hujjah yang disampaikan di forum diskusi ini.

    Wallaahu a’lam.

  118. Oh … Ibnu Suradi itu ga bisa baca dan terjemahin “arab gundul” ya? Kok nekad mengambil hadits secara langsung? Pantas dia berani mengartikan hadits Rasulullah tentang “bacaan Quran tidak sampai kerongkongan” ditujukan kepada orang-opang yang hafal Surat Yasin. Dikasih pemahaman ulama Muktabar, tapi dibantah terus. Pantas Imam Syafi’i ga pernah menang kalau debat dengan orang bodoh. Alangkah baiknya kita renungkan pertanyaan Mas Agung di atas. Mudah2an kita bisa berkaca :
    @Ibnu Suradi, anda berkata : “Sebagian dari hadits-hadits yang disampaikan Akh Abu Dzar adalah hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Maka, kita tinggalkan mencari penjelasan Imam Ibnu Hajar tentang hadits-hadits itu di Kitab Fathul Bari”.
    Memangnya siapa Abu Dzar, sehingga anda lebih memilih Abu Dzar di banding Imam Ibnu Hajar dalam mensyarah sohih Bukhori?

    Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita semua?

    1. Bismillaah,

      Kang Bima,

      Apakah anda sudah membaca koreksi komentar saya sebagai berikut:

      Bismillaah,

      Mas Agung dan lain-lainnya,

      Maaf, ada salah tulis dari komentar saya. Kata “tinggalkan” dalam komentar saya: “Maka, kita tinggalkan mencari penjelasan Imam Ibnu Hajar” seharusnya “tinggal”. Jadi komentar yang benar adalah: “Maka, kita tinggal mencari penjelasan Imam Ibnu Hajar.

      Sebaiknya, hal-hal semacam itu tidak usah diulang-ulang untuk menghindari pemborosan ruang dan waktu diskusi. Bila mau, silahkan anda menyampaikan penjelasan tentang takbiratulihram sebagai pembanding atau pelengkap dari penjelasan Akh Abu Dzar tentang masalah tersebut.

      Wallaahu a’lam.

  119. Wah…. semakin mantab diskusinya, asyik sekali saya menyimaknya. Syukron abis buat Abu Hilya, Mas Derajad, Mas Ucep dan semuanya.
    Juga buat Mas Ibnu Suradi CS, thanks atas diskusinya dg shohib2 Ummati, itu semua semakin menunjukkan siapa hakekatnya para pengikut Salafy Wahabi…. Ahlussunnah palsu, itu aja yg bisa saya simpulkan.

    Matur nuwun….

  120. Bismillaah,

    Akh Abu Dzar sudah menyampaikan hadits-hadits tentang takbiratulihram. Kok Mas Derajad dan kawan-kawan belum menyampaikan penjelasan tentang takbiratulihram? Saya dan kawan-kawan setia menunggu penjelasan dari Mas Derajad dan kawan-kawan tentang masalah tersebut. Kalau Mas Derajad tak sempat karena kesibukannya, Kang @bu Hilya, Akh Ahmad Syahid, Kang Ucep dan lain-lain boleh menggantikannya.

    Monggo teman-teman sekalian.

    Wallaahu a’lam.

      1. Bismillah,

        Kang Agung,

        Dalam diskusi ini, kita sedang membahas tata cara shalat Rasulullaah. Akh Abu Dzar telah menyampaikan apa yang ia ketahui tentang tata cara shalat Rasulullaah terutama bagaimana beliau melaksanakan takbiratulihram. Kalau anda memiliki informasi lain tentang tata cara takbiratulihram Rasulullaah, silahkan menyampaikannya di forum ini.

        Adapun yang disampaikan oleh Akh Abu Dzar adalah sebagai berikut:

        Bismillah

        Ana akan coba menjawab masalah Takbiratulikhram dll. Dari uraian pertanyaan sdr @ Ibnu Suradi,
        Mudah2n bermanfaat, pabila ada kesalahan mohon koreksinya ya…

        1.Takbir
        Hadist yang diriwiyatkan oleh Bukhari dan Muslim : bahwasanya Rasululloh shalallahu’alaihi wassalam bersabda : “Jika Engkau hendak sholat sempurnakan wudhu, kemudian menghadaplah kekiblat, dan bertakbirlah”.
        Dalam hadits riwayat Muslim dan Ibnu Majah, disebutkan bahwa Rasulullah SAW membuka sholatnya dengan ucapan Allohu Akbar (Alloh Mahabesar). Beliaupun memerintahkan demikian kepada orang yang tidak benar dalam sholatnya, sebagaimana sabda Beliau SAW ”Tidaklah sholat seseorang itu menjadi sempurna sampai ia berwudhu dengan benar, lalu berkata Allohu Akbar” (HR Thabrani)
        Beliau SAW juga bersabda ”Kunci sholat adalah suci, tahrimnya (melarang perbuatan2 yg dilarang Alloh) pengharamannya adalah takbir dan thalilnya (menghalalkan apa saja yg dilakukan diluar sholat ), penghalalannya adalah salam.” (HR Abu Daud, Tirmidzi & Hakim).

        Dalam hadits riwayat Ahmad dan Hakim disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengangkat suaranya dalam takbir sehingga terdengar oleh orang-orang yang makmum dibelakangnya. Rasulullah SAW bersabda ”Apabila imam mengucapkan Allohu Akbar, maka katakanlah Allohu Akbar” (HR Ahmad dan Baihaqi).

        2.Mengangkat Tangan
        Terkadang Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya sambil mengucapkan takbir/bersamaan dengan membaca takbir (HR Bukhari &Abu Daud), dan terkadang mengangkatnya setelah takbir(HR Bukhari & Nasa’i), dan terkadang (mengangkat tangan) sebelum ucapan takbir(HR Bukhari Nasa’i).
        Beliau SAW mengangkat kedua tangannya dengan jari terbuka rapat serta jari-jarinya lurus keatas (tidak renggang dan tidak menggenggam)(HR Abu Daud, Ibnu Khuzaimah, & Hakim). Dan Rasulullah SAW mengangkatnya sampai sejajar dengan kedua bahunya (HR Bukhari & Abu Daud) dan terkadang sejajar dengan kedua telinganya (HR Bukhari & Abu Daud).

        3.Meletakkan Tangan Kanan Diatas Tangan Kiri (Bersedekap)
        Rasulullah SAW meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya (HR Bukhari, Muslim & Abu Daud). Beliau SAW bersabda ”Sesungguhnya para Nabi memerintahkan kepada kita agar mempercepat saat berbuka dan mengakhirkan waktu sahur dan agar meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri kita dalam sholat.” (HR Ibnu Hibban dan Dhiya).

        4.Meletakkan Kedua Tangan (Bersedekap) di Dada
        Nabi SAW meletakkan lengan kanan diatas punggung telapak kirinya, pergelangan dan lengan kirinya (HR Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah), dan memerintahkan demikian kepada sahabat-sahabatnya (HR Malik, Bukhari dan Abu ‘Uwanah). Terkadang Beliau SAW mengenggamkan jari-jari tangan kanannya pd hasta kirinya/lengan kirinya (HR Nasa’i dan Daruquthni). Beliau SAW meletakkan keduanya diatas dada / sedekap diatas dada ( HR Abu Daud & Ibnu Khuzaimah).

        Ada yg mau menambahkan ??? monggo……….

        Wallaahu a’lam.

  121. @ibnu Suradi n @abu dzar
    Jangan lah ente menafsirkan secara langsung dari Al Qur’an dan Hadist, kalau ente punya kitab, kalau punya bagus ada 9 jilid :
    – Judul “Al Hujjah ala Ahli al Madinah” pada jilid 1 hal 1-15 (bab : Ihtilaf Ahli Kuffah wa Ahli Madinah fi Shalat wa al Mawaqith) pengarang Al Imam al Hafidz al Mujtahid Ibn Abdullah Muhammad bin al Hasan al Syaibani (189 H) itu diterangkan bagaimana Imam Abu Hanifah betapa sulitnya berhujjah dengan melihat Al Qur’an dan memberikan hadist-hadist (32 hadist) baik dari rasulullah maupun sahabat yang berhubungan dengan shalat.
    Jadi betapa sulitnya menetapkan suatu Hujjah. Itu Imam Abu Hanifah (80 H) yang Ilmunya kita tidak bisa bayangkan, kalau kita bahasa Arab gondrong aja gak gableg apalagi yang gundul.

    Contoh buat ente : seperti koment ane diatas tentang bid’ah aja satu bab.
    ada 2 hadist yang keduanya shahih :
    1. Kullu bidattin Dholalah (setiap bid’ah adalah sesat)
    2. Barangsiapa yang mengerjakan perbuatan (bid’ah) yang baik dan diikuti oleh orang yang mengikutinya maka dia mendapat pahala sampai hari kiamat, tanpa dikurangi …… dst

    Nah kalau ente ambil salah satunya, maka ente inkarus sunnah, karena satu hadist ente tinggalin, kalau dua-duanya kita ambil maka kita termasuk orang bodoh lagi fasiq (seperti yang dikatakan ustad @abu hilya).
    Jadi kita ini kudu melihat Al Qur’an dan semua hadist yang berhubungan dalam menetapkan ilmu, makanya kita ini yang sudah ada ketetapannya dari orang-orang yang AHLI yaitu Ulama, kita pakai itu, Jangan tinggalkan Ulama. Ulama adalah pewaris Nabi Muhammad saw.

    Contoh lagi ayat al Qur’an : Dan barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). (Al–Isra’ : 72).
    Kalau ente langsung tafsirkan, apa kita gak dibilang sudah gila sama orang lain, paling sedikit orang buta pasti nimpukin kita.

    Jadi kita ini musti belajar dan belajar dari Orang-orang yang AHLI dalam ilmu Hadist, Tafsir, Lughah dll.

  122. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Akh Abu Dzar telah menyampaikan hadits-hadits yang menjelaskan takbiratulihram secara rinci. Maka, silahkan anda menyampaikan penjelasan tentang masalah ini. Saya yakin bahwa saya dan banyak kawan lainnya dapat mengambil pelajaran dari hujjah yang anda berdua sampaikan.

    Wallaahu a’lam.

    1. @ibnu suradi
      Begini yang diinginkan adalah kita masing-masing merujuk pada para imam, bukan langsung dari Al Qur’an maupun hadist.
      Menurut Imam Wahabi (Taimiyah, Ben Baz dan Utsaimin dll) seperti A, menurut Imam Aswaja seperti B. Nah seperti itu. Yang disebutkan @abu dzar kan dari Hadist Bukhari, Abu Dawud dan Imam Ahmad bin Hanbal.
      Kalau masing2 dari Imam kan baru jelas perbedaannya, ente shalat seperti Imam ente kan !!!. Apakah kaum Wahabi sudah gak percaya sama Imam nya sehingga Imam Wahabi diabaikan, atau memang langsung ke Hadist dan Al Qur’an ????

  123. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Sebaiknya jangan mengkotak-kotakkan antara imam Wahabi, NU, Muhammadiyah, Persis, Jamaah Tabligh, dll. Rujukan umat Islam adalah sama: Allah (Qur’an), Rasuluullaah (Hadits), para sahabat, tabiin, tabiut tabiin, imam madzhab dan ulama-ulama yang mengikuti mereka dengan benar.

    Sebenarnya cara penyampaian hadits-hadits tentang shalat termasuk takbiratulihram itu ada dua.

    Pertama, hadits disampaikan. Kemudian hadits itu dijelaskan dengan penjelasan ulama. Penjelasan ulama ini sangat dibutuhkan untuk memahami hadits-hadits yang sulit dipahami. Misalnya, ada hadits mengangkat tangan setinggi bahu saat takbiratulihram. Ada juga hadits mengangkat tangan setinggi telinga. Kita tentu bingung dalam menentukan mana yang benar. Mengangkat tangan setinggi bahu atau mengangkat tangan setinggi telinga? Ulama lalu menjelaskannya.

    Kedua, disampaikan fatwa ulama tentang mengangkat tangan saat takbiratulihram. Kemudian, disampaikan bahwa ulama menetapkan fatwa tersebut berdasarkan hadits. Lalu, disampaiknlah hadits yang menjadi dasar fatwa ulama tersebut.

    Daripada melantur tidak keruan, lebih baik kita mulai saja dari bahasan: “Seberapa tinggi tangan diangkat saat takbiratulihram? Sejajar bahu atau telinga atau di atas telinga?” Silahkan anda memulai dengan menyampaikan perkataan para imam tentang masalah ini. Jangan lupa sampaikan juga hadits yang dijadikan rujukan bagi ulama dalam membuat fatwa tersebut.

    Wallaahu a’lam.

  124. @ibnu Suradi
    Ente punya kitab “Hasyiyat Kitab al Tauhid (415 halaman)” karangan Muhammad bin Abdul Wahab (MAW) (Imam Wahabi) atau Kitab bahasa Indonesia nya “Fathul Majid (1024 halaman)” karangan MAW ?, MAW menulis dan selalu mengacu ke Imam nya Ibnu Taimiyah. (maaf ane punya 2 kitab itu, karena mertua ane senang baca).
    Pertanyaannya : KENAPA ENTE GAK MENGACU KE IMAM WAHABI, seperti Muhammad bin Abdul Wahab ??

    Ane simpulkan bahwa ente bukan Wahabi, ente Liberal / Bebas.
    Mohon Maaf Yang sebesar-besarnya ya, kalau perkataan dan tuduhan ane terlalu kasar semoga Allah melindungi Ane.

  125. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Bagi saya tidak masalah bila anda menyebut saya bukan Wahabi tapi liberal / bebas. Dari posisi yang bebas ini, saya dapat mengambil manfaat dari apa yang disampaikan oleh Mas Derajad dan Akh Abu Dzar. Dari Mas Derajad, saya dapat mengetahui fatwa-fatwa ulama tentang shalat. dari Akh Abu Dzar, saya dapat mengetahui hadits-hadits yang bisa jadi dijadikan dasar fatwa ulama tentang shalat.

    Saya dan mungkin kawan-kawan yang lain masih menunggu anda dan lainnya untuk menyampaikan fatwa-fatwa ulama tentang mengangkat tangan saat takbiratulihram setinggi bahu atau telinga.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi. Akh Abu Dzar menyampaikan hadist tanpa menyertakan pendapat ulama yg muktabar. jd alangkah baiknya disertakan jg pendapat ulama.

      Menurut al-Hafizh al-Dzahabi dalam Siyar A’lam al-Nubala’ (juz 16, hal. 405), jika terdapat suatu hadits, sanadnya
      shahih, akan tetapi para ulama mujtahid tidak ada yang mengamalkannya, maka kita tidak boleh mengamalkan hadits tersebut.

      Al-Imam al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali berkata dalam kitabnya, Bayan Fadhl ‘Ilm al-Salaf ‘ala ‘Ilm al-Khalaf (hal. 57): “Adapun para imam dan fuqaha ahli hadits, mereka mengikuti hadits shahih di mana pun berada, apabila hadits tersebut diamalkan oleh para sahabat dan generasi sesudahnya, atau diamalkan oleh sekelompok mereka. Adapun hadits shahih yang disepakati ditinggalkan oleh kaum salaf, maka tidak boleh
      diamalkan. Karena mereka tidak meninggalkan hadits tersebut, melainkan setelah mengetahui bahwa hadits tersebut memang tidak diamalkan.

      Umar bin Abdul Aziz berkata: “Ikutilah pendapat yang sesuai dengan pendapat orangorang sebelum kalian, karena mereka lebih tahu dari pada kalian.”

      Kesimpulannya : hadits shahih saja, posisinya harus tidak diamalkan, ketika tidak seorang pun dari kalangan ulama mujtahid tidak mengamalkannya dalam ijtihad mereka. Umar bin Abdul Aziz yg di ridhai Allah saja, tidak menyuruh kita langsung menggali sumber hukum dari Al-Qur’an dan hadist, tapi ambillah dari para ulama. Imam Bukhori adalah Imam dalam bidang hadist, tapi Imam Bukhori tidak banyak membahas masalah fiqih, dan dalam berfiqih, Imam Bukhori mengikuti Mazhab Syafe’i.

    2. “Angkatlah kedua tanganmu ketika takbiratul-ihram sampai lurus pada kedua pundakmu setelah sebelumnya tegak lurus ke bawah. Kedua tangan dibentangkan dan jari-jarinya diluruskan, tidak terlalu dirapatkan atau direnggangkan. Caranya adalah tangan diangkat hingga dua jempol bertemu dengan dua daun telinga, dan jari telunjuk berada di atas dua telinga dan telapak tangan berada di atas kedua pundak.” (Bidayah al-Hidayah halaman 45)

      Hal ini juga dilaksanakan ketika akan ruku’, I’tidal dan berdiri dari tasyahud awal. Didasarkan pada hadits shahih riwayat Abdullah ibn Umar Radhiyallaahu ‘anhu:
      Telah menceritakan kepada kami Abu al-Yaman ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari az-Zuhri ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Salim bin ‘Abdillah Radhiyallaahu ‘anhu, sesungguhnya Abdillah ibn Umar berkata: “Saya melihat Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam memulai sholat dengan takbiratul-ihram seraya mengangkat kedua tangannya hingga lurus pada kedua pundaknya. Hal itu dilakukan juga pada saat takbir untuk ruku’. Dan melakukannya ketika mengucapkan “sami’allaahu liman hamidah”, kemudian membaca “robanaa lakal-hamdu”. Tetapi Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengangkat kedua tangannya ketika akan sujud dan berdiri dari sujud.” (Shahih al-Bukhari, hadits no. 696)

      Setelah mengucapkan takbiratul-ihram, tangan bersedekap. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri. Dalam hadits shohih disebutkan :
      Dari Wa’il bin Hujr ia berkata, “Saya melihat Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam ketika berdiri di dalam sholat, beliau menggenggam tangan kanan atas tangan kirinya.” (Sunan an-Nasa’i, juz 2, halaman 125 [887], sunan ad-Daruquthni, juz 1, halaman 286 [11])

      Menurut madzhab Syafi’i, posisi bersedekap adalah tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri, kemudian diletakkan di atas pusar di bawah dada. Berikut ini penjelasan al-Imam an-Nawawi di dalam kitabnya Shahih Muslim Bi Syarh an-Nawawi juz 4 halaman 114:
      “Sunnah meletakkan tangan yang kanan di atas yang kiri, diposisikan di bawah dada di atas pusar. Ini adalah yang masyhur dalam madzhab Syafi’i, sejalan dengan pendapat mayoritas ulama. Sementara menurut Abu Hanifah, Sufyan ats-Tsauri, Ishaq ibn Rahawaih dan Abu Ishaq al-Marwazi dari kalangan Ash-haabusy-Syafi’i meletakkan kedua tangan tersebut di bawah pusar.” (Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawi juz 4 halaman 114)

      Lebih lanjut al-Imam Ghazali di dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan: “Kemudian meletakkan kedua tangan di atas pusar di bawah dada. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri untuk memuliakan yang kanan. Dengan cara ditekan dan membentangkan jari telunjuk dan jari tengah kanan di atas lengan, dan menggenggam pergelangan tangan dengan ibu jari, jari manis dan jari kelingking.” (Ihya’ Ulumiddin juz 2 halaman 274)

      Cara seperti inilah yang dianjurkan dalam bersedekap. Dan telah diamalkan oleh para shahabat Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam dan generasi sesudahnya. Al-Imam at-Turmudzi Rahimahullaahu Ta’aala berkata: “Cara ini telah diamalkan oleh ahli ilmu dari kalangan shahabat, tabi’in dan generasi sesudahnya. mereka semua meriwayatkan bahwa posisi bersedekap adalah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri. Di antara mereka ada yang meriwayatkan bahwa posisi kedua tangan itu adalah di atas pusar, sebagian yang lain mengatakan di bawah pusar.” (Sunan at-Tirmidzi, juz 2 halaman 32 [253])

      Mengukuhkan penjelasan at-Tirmidzi tersebut, Abu Dawud juga meriwayatkan cara bersedekap yang diamalkan oleh sayyidina Ali Radhiyallaahu ‘anhu: “Dari ibn Jarir adh-Dhabbiy dari ayahnya, ia berkata, “Saya melihat sayyidina ‘Ali Radhiyallaahu ‘anhu ketika sholat memegang tangan kiri dengan tangan kanannya pada pergelangan tangan, di atas pusar. Imam Abu Dawud mengatakan, “Diriwayatkan juga dari Sa’id bin Jubair bahwa tangan itu diletakkan di bawah pusar”. Abu Mijlaz menyatakan tangan itu diletakkan di bawah pusar, dan itu juga diriwayatkan dari Abu Hurairah, namun riwayat ini tidak kuat.” (Sunan Abu Dawud, juz 1 halaman 260 [757])

  126. @ibnu Suradi
    Mohon maaf ya sekali lagi, maksud ane Liberal/bebas adalah ente belum berilmu, maka pantas @mas derajat dan ustad @abu hilya menghentikan diskusi sama ente.
    Mohon maaf maaf maaf ya sekali lagi.
    Cobalah gentle dan besifatlah Tawadhu’ seperti Imam Malik bin Anas, kalau dia rahimatumullah gak tahu maka dijawab tidak tahu, kalau tahu sedikit ya bilang sebegini ana punya – Itulah Imam Malik ra saking tawadhu’ nya.
    Sekali lagi mohon maaf ya, terima kasih ya atas diskusinya. Silahkan dilanjut
    Wassalamualaikum.

  127. Bismillaah,

    Kang Agung,

    Terima kasih atas penyampaian pendapat ulama tentang takbiratulihram. Setelah Akh Abu Dzar menyampaikan hadits-hadits tentang takbiratulihram, Kang Agung menyampaikan pendapat ulama berdasarkan hadits tentang masalah tersebut.

    Dari penjelasan kawan berdua, saya mendapatkan gambaran yang semakin jelas tentang tata cara takbiratulihram Rasulullaah shallallaahu ‘alahi wa sallam. Barang kali ada kawan yang ingin menyampaikan pendapat ulama lainnya. Silahkan.

    Wallaahu a’lam.

  128. Bismillaah,

    Kang Agung,

    Maaf sebelumnya. Anda menyampaikan fatwa ulama dan hadits yang berbeda:

    Fatwa:

    “Angkatlah kedua tanganmu ketika takbiratul-ihram sampai lurus pada kedua pundakmu setelah sebelumnya tegak lurus ke bawah. Kedua tangan dibentangkan dan jari-jarinya diluruskan, tidak terlalu dirapatkan atau direnggangkan. Caranya adalah tangan diangkat hingga dua jempol bertemu dengan dua daun telinga, dan jari telunjuk berada di atas dua telinga dan telapak tangan berada di atas kedua pundak.” (Bidayah al-Hidayah halaman 45)

    Hal ini juga dilaksanakan ketika akan ruku’, I’tidal dan berdiri dari tasyahud awal. Didasarkan pada hadits shahih riwayat Abdullah ibn Umar Radhiyallaahu ‘anhu:

    Hadits:

    Telah menceritakan kepada kami Abu al-Yaman ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari az-Zuhri ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Salim bin ‘Abdillah Radhiyallaahu ‘anhu, sesungguhnya Abdillah ibn Umar berkata: “Saya melihat Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam memulai sholat dengan takbiratul-ihram seraya mengangkat kedua tangannya hingga lurus pada kedua pundaknya. Hal itu dilakukan juga pada saat takbir untuk ruku’. Dan melakukannya ketika mengucapkan “sami’allaahu liman hamidah”, kemudian membaca “robanaa lakal-hamdu”. Tetapi Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengangkat kedua tangannya ketika akan sujud dan berdiri dari sujud.” (Shahih al-Bukhari, hadits no. 696)

    Dalam fatwa tersebut, disebutkan bahwa tangan diangkat sejajar dengan telinga. Namun, dalam hadits, disebutkan tangan diangkat sejajar dengan pundak.

    Wallaahu a’lam.

  129. Bismillah,

    Kang Ibnu Suradi@

    Berikut kami sampaikan Hadits lain dari Malik bin Huwairits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam sohih-nya, pada bab Istihbabu Rof’il Yadain….

    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ فَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ

    “Sesungguhnya Rosululloh ketika takbir, beliau mengangkat kedua tangannya hingga lurus dengan dua telinganya, dan ketika ruku’ belaiau mengangkat dua tangannya hingga lurus dengan dua telinganya, dan ketika beliau bangun dari ruku’ maka beliau berkata : “Sami’allohu Liman Hamidah” dan melakukan hal yang sama” (HR.Muslim)

    Selanjutnya untuk memahami dua hadits tsb, yakni Hdzwa Mankibaihi dan Hadzwa Udzunaihi silahkan anda merujuk pada Fathul Bari-nya Ibnu Hajar dan Syarah Muslim-nya Imam Nawawi juga yang lain.

  130. @Ibnu Suradi
    Kan Anda paling sering mengaku sholat mengikuti Rasulullah! Terus Anda mengikuti yang mana? tangan sejajar pundak atau sejajar telinga? Atau Anda punya fatwa lain, sehingga sholatnya orang lain tidak mengikut Rasulullah?

  131. @Ibnu Suradi. mungkin penjelasan saudara saudara kita diatas dapat dijadikan rujukan. kalau anda sendiri bagaimana? fatwanya siapa yg anda jadikan rujukan?

  132. @ibnu suradi, mungkin masih kurang ? tambahan lagi agar banyak dan cepat berhujjah :
    Dari Abu Hurairah ra dia berkata:
    “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah masuk shalat, beliau mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya.” (HR. Abu Daud no. 753, At-Tirmidzi no. 240, dan dinyatakan shahih oleh Ahmad Syakir dalam tahqiqnya terhadap Sunan At-Tirmidzi).

  133. oleh karena itulah, bagi mereka yg bukan mujtahid, tidak mungkin dapat menggali langsung dari Al-Qur’an dan Sunnah. Bagi mereka yg bukan mujtahid, maka otomatis mereka adalah muqallid. Untuk mentarjih juga bukanlah perkara yg mudah. Salah seorang khotib jum’at pernah berkata, “Salah satu perusak agama adalah orang yg bodoh tapi berfatwa”.

  134. Mana sih “tukang fatwa” nih kok ga keluar-keluar? Ayo keluarkan fatwanya “cara sholat Rasulullah” dari Qur’an dan Sunnah serta pemahaman shalfussholeh! Ditunggu pencerahannya!

  135. Jadi ingat pernyataan2 sebelumnya. Teman Aswaja bilang, “kita orang awam tidak berani mengambil langsung sumber dari Qur’an dan Hadits, hanya berani mengikuti ulama”. Dijawab oleh “Mujtahid”, “kalo kita ikut orang ada kemungkinan salah, tetapi kalo kita ikut Rasul pasti benar”. Apabila ada dua atau lebih hadits shohih seperti di atas, apakah kita hanya akan pakai satu, yang lain kita buang? Atau kita ikut ijtihad Ulama “yang konon katanya orang”?

  136. Kalau dari satu masalah saja kang ibnu suradi sudah fanatik buta dengan hanya melihat satu dalil dan merasa paling mengikuti Nabi SAW, maka bagaimana dg masalah lain ? tentu sangat sulit bertukar pendapat dengan kang ibnu dan orang lain semacam dia, mudah2an Allah memberikan hidayah pada kang ibnu suradi sehingga memandang islam secara Kaffah tidak secara sempit dan terpotong2.

  137. Bismillaah,

    Bagi saya, tidak masalah orang mengangkat tangan setinggi pundak atau setinggi telinga karena dua-duanya ada dasarnya, yakni, hadits yang disampaikan oleh Akh Abu Dzar. Saya tidak setuju pada orang yang menyalahkan orang yang mengangkat tangan setinggi pundak atau setinggi telinga karena berlawanan dengan amalannya.

    Sebelum pindah ke bahasan lain, saya ingin bertanya kepada kawan-kawan semua tentang berpakaian dalam shalat. Saya pernah membaca Kitab Riyadhushshalihiin karya Imam Nawawi. Pada bab pakaian, saya membaca hadits Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullaah bersabda: “Allah tidak menerima shalat orang yang kain pakaiannya turun melebihi mata kaki.”

    Hal ini penting bagi saya untuk disampaikan karena saya melihat banyak orang yang pakaiannya turun melebihi mata kaki saat shalat.

    Wallaahu a’lam.

    1. @ibnu suradi
      Cape deh kalau cuma jawabannya seperti itu, ane pikir mau diskusi beneran tentang shalat….. Cape deh, mungkin ente takut berhujjah seperti sebelumnya.
      Tentang pakaian, di halaman-halaman lainnya kan dah pernah dibahas panjang lebar …. Cape deh

      Coba ente cari topik yang setiap pengunjung disini mendapat manfaat, bukan itu lagi itu lagi, cuma penuhin halaman.
      kalau mau topik bagaimana caranya shalat khusu’ bin khusu’, kalau bisa sampai menangis.

  138. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Termasuk bagian persiapan shalat adalah berpakaian. Dan ada sabda Rasulullaah khusus tentang orang yang yang pakaiannya turun melebihi mata kaki saat shalat. Ini musti diperhatikan oleh orang yang akan shalat.

    Mungkin menurut anda hal itu sepele. Tapi orang lain menganggapnya sangat penting karena menyangkut diterima-tidaknya shalat yang ia kerjakan.

    Wallaahu a’lam.

    1. @ibnu suradi
      Gini aja ente pakai GAMIS atau pakai celana ?, terus terang ane sejak th 1998 pakai Gamis plus 32 keluarga ane yang ex katolik roma pakai gamis, karena ane didik di Jamaah Tablig.
      Ente ribut buanget tentang pakaian, keluarga ente gimana udah disuruh pakai gamis belum?????
      Ane bilang sekali lagi lihat halaman-halaman sebelumnya, udah dibahas panjang lebar…. cape bahas lagi.

      1. Bismillaah,

        Kang Ucep,

        Ini adalah mengenai adab berpakaian dalam shalat. Dalam hadits tersebut, orang yang kain pakaiannya turun melebihi mata kaki diperintahkan oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam wudhu dan shalat lagi sampai tiga kali, kemudian Rasulullaah bersabda: “Allah tidak menerima shalat orang yang kain pakaiannya turun melebihi mata kaki.”

        Hal ini hendaknya sangat diperhatikan oleh orang yang akan shalat. Jangan sampai kain pakaiannya turun melebihi mata kaki.

        1. Bismillah,

          Saudaraku @Ibnu Suradi,

          Berikut redaksi Hadits yang kami temukan dalam kitab Riyadhus Sholihin-nya Imam Nawawi:

          وعن أَبي هريرة – رضي الله عنه – ، قَالَ : بينما رَجُلٌ يُصَلَّي مسبلٌ إزَارَهُ ، قَالَ لَهُ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : (( اذْهَبْ فَتَوَضَّأ )) فَذَهَبَ فَتَوَضّأَ ، ثُمَّ جَاءَ ، فَقَالَ : (( اذْهَبْ فَتَوَضّأ )) فَقَالَ لَهُ رجُلٌ : يَا رسولَ اللهِ ، مَا لَكَ أمَرْتَهُ أنْ يَتَوَضّأَ ثُمَّ سَكَتَّ عَنْهُ ؟ قَالَ : (( إنّهُ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ مُسْبِلٌ إزَارَهُ ، وَإنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ صَلاَةَ رَجُلٍ مُسْبلٍ )) رواه أَبُو داود بإسناد صحيح عَلَى شرط مسلم

          Berikut terjemahan hadits yang kami dapatkan redaksinya sebagaimana diatas, yang berbeda dengan penjelasan yang anda sampaikan, karena mungkin hadits yang anda maksud berbeda redaksinya dengan hadits yang kami temukan, oleh karenanya ada baiknya anda menyertakan redaksi haditsnya meski berupa translit latin.

          “Dari Abi Huroiroh RA, ia berkata: ‘Suatu ketika ada seorang lelaki sedang sholat seraya memelorotkan Izaar-nya (kain penutup badan), Rosululloh SAW, berkata padanya : “ Pergi dan berwudhu’lah !!”, maka laki-laki tsb pergi kemudian berwudhu, selanjutnya laki-laki tsb datang (kembali), maka Rosululloh SAW, bersabda : “Pergi dan berwudhu-lah !!” , maka bertanya seorang lelaki (lain) pada Rosululloh SAW, : “Yaa Rosulalloh, apa yang terjadi pada anda, engkau memerintahkan laki-laki tersebut untuk berwudhu kemudian engkau mendiamkannya?” Rosululloh SAW menjawab : “ sesungguhnya dia sholat seraya memelorotkan Izaar-nya, dan sesungguhnya Alloh tidak menerima sholat seseorang yang memanjangkan (memelorotkan pakainnya)”. (HR. Abu Dawud dengan sanad sohih berdasar syarat Imam Muslim)

          Letak perbedaan:

          – Kami tidak menemukan perintah Rosululloh SAW, untuk mengulang sholat, yang kami temukan Rosululloh SAW, memerintah mengulang Wudhu.
          – Kami juga tidak mendapati laki-laki tsb mengulang sholat, yang kami dapati, laki-laki tsb mengulang wudhu.
          – Kami tidak pula mendapati perintah Rosululloh SAW, berulang hingga tiga kali, yang kami temukan hanya dua kali.
          Penjelasan Hadits :

          Hadits tsb diperselisihkan sanadnya:

          – Hadits diatas dinyatakan sohih sanad-nya (bukan matan-nya) oleh Imam Nawawi berdasar syarat Imam Muslim
          – Imam Abu Dawud dalam sunan-nya menyatakan hadits tsb sebagai hadits dho’if

          – Ada ulama’ yang memandang hadits diatas sebagai hadits dho’if, yang berarti menurut mereka tidak terdapat implikasi hukum dari hadits tsb.
          – Ada sebagian lain yang berpandangan, hadits diatas adalah sohih, sehingga berkaitan dengan keabsahan sholat.
          – Para Ulama’ yang lain memandang, meskipun hadits diatas tidak dinyatakan shohih matannya, namun substansi/semangat dari hadits tsb senada dengan dua hadits sebelumnya, yakni haramnya memelorotkan/memanjangkan pakaian hingga dibawah mata kaki, karena identik dengan Fakhr atau kesombongan. Dan hadits diatas tidak berkaitan dengan keabsahan sholat, melainkan haramnya memakai pakaian hingga terjadi Isbal. Dan pendapat terakhir inilah yang Aqrob, Insya Alloh..

          Wallohu a’lam

        2. @ibnu Suradi
          Makanya pakai Gamis atau Kain sarung, karena hadist2 bunyinya pakai “Gamis dan kain Sarung”, jadi gak melorot.
          Jangan pakai celana cingkrang, kan diatas ente sudah diskusi sama @mas derajat dan ustad @abu hilya tentang merapatkan shaf, kiri kanan sudah rapat, eh iblisnya lewat bawah (karena mbegagah kata mas @prabu minakjinggo).

          Nah itu lagi ditunjukan oleh ustad @abu hilya tentang bunyi hadist yang ente cuma kira-kira, makanya ente banyak baca kitab supaya pintar.
          Islam ini sangat luas disemua lini kehidupan dan uptodate sampai hari kiamat, jangan mempersempit dengan memandang hanya kepada kata “BID’AH & SUNNAH”, sehingga ente jadi PARANOID kata bid’ah dan sunnah.

          1. Bismillaah,

            Kang Ucep,

            Kita tidak membicarakan masalah bid’ah dan sunnah tapi masalah tata cara shalat Rasulullaah. Jadi, semua yang dikatakan, diperbuat dan disetujui Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang shalat hendaknya kita ketahui termasuk sabda Rasulullaah: “Sesungguhnya dia sholat seraya memelorotkan Izaar-nya, dan sesungguhnya Alloh tidak menerima sholat seseorang yang memanjangkan (memelorotkan pakainnya)”. (HR. Abu Dawud dengan sanad sohih berdasar syarat Imam Muslim)

            Kita hendaknya juga mengetahui perkataan ulama tentang masalah itu sebagaimana yang disampaikan oleh Kang @bu Hilya sebagai berikut:

            “Para Ulama’ yang lain memandang, meskipun hadits diatas tidak dinyatakan shohih matannya, namun substansi/semangat dari hadits tsb senada dengan dua hadits sebelumnya, yakni haramnya memelorotkan/memanjangkan pakaian hingga dibawah mata kaki, karena identik dengan Fakhr atau kesombongan. Dan hadits diatas tidak berkaitan dengan keabsahan sholat, melainkan haramnya memakai pakaian hingga terjadi Isbal. Dan pendapat terakhir inilah yang Aqrob, Insya Alloh.”

            Mengenai mbegagah saat merapatkan shaf, itu hanya dilakukan oleh orang yang tidak mengetahui hadits tentang rapatnya bahu dengan bahu. Bila mengetahui hadits tersebut, maka ia tidak perlu mbegagah untuk merapatkan shaf, namun cukup merenggangkan kaki sejajar dengan bahu.

            Pernyataan anda: “kiri kanan sudah rapat, eh iblisnya lewat bawah karena mbegagah.” menunjukkan bahwa anda belum memahami hadits tentang masuknya syaitan ke dalam celah-celah shaf yang renggang. Apakah menurut anda celah shaf yang renggang itu termasuk celah antara kaki kanan dan kaki kiri orang yang shalat atau antara kaki seorang yang shalat dan kaki kawannya yang shalat di sebelahnya?

            Wallaahu a’lam.

          2. @ibnu suradi
            Dihalaman yang lain ente ngotot tentang :
            1. Celana dan isbal
            2. Merapatkan shaf
            Disinilah ente memperlihatkan sifat ketidaktahuan ente tentang makna dan maksud suatu hadist baik syarah maupun matannya para ulama, tapi setelah diberitahu oleh temen-temen disini, baru ente mengambil hikmahnya. Karena ketidaktahuan ente, jadi ente menjadi bahan olok-olok yang hadir disini, sehingga ane kasihan sama ente yang selalu jadi olok-olok ane dan temen2 disini.
            Seperti diatas :
            Ente bilang shalatnya yang diulang-ulang, tapi setelah ustad @abu hilya jelaskan, baru ente terima. Semalam ane mau koment dari mana ente dapatkan hadist yang menyatakan bahwa Rasulullah menegur sahabat untuk shalat berulang-ulang sampai 3 x, ane cek di kitab Imam Nawawi dan Ibnu Hajar Asqalani gak ada, karena kalau ini didiamkan maka yang hadir disini akan membaca dan terbias kepada yang lain.
            Jadi diskusilah dengan ilmu yang benar bukan katanya atau copas. jadi pengunjung disini mendapat manfaat, bukan diskusi olok-olokan.

            Ane pribadi merasa berterima kasih sekali kepada mas @admin yang membebaskan blog nya untuk diskusi. Mana ada blog seperti ini, ane sering kunjung untuk diskusi diblognya wahabi, tapi 1-2 jam hilang.

          3. @Ucep, malah komentar saya di blog mereka, hanya pernah sekali di moderisasi oleh adminnya. selebihnya tidak pernah di moderisasi adminnya. Mungkin karena tidak sepaham dengan isi blog mereka.

          4. Bismillaah,

            Tak masalah bagi saya diolok-olok dalam diskusi tentang masalah yang sangat penting ini: tata cara shalat Rasulullaah.

            Mungkin anda mengetahui apa yang saya sampaikan seperti sabda Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Dan sesungguhnya Alloh tidak menerima sholat seseorang yang memanjangkan (memelorotkan pakainnya)”. (HR. Abu Dawud dengan sanad sohih berdasar syarat Imam Muslim)

            dan penjelasan ulama:

            “Para Ulama’ yang lain memandang, meskipun hadits diatas tidak dinyatakan shohih matannya, namun substansi/semangat dari hadits tsb senada dengan dua hadits sebelumnya, yakni haramnya memelorotkan/memanjangkan pakaian hingga dibawah mata kaki, karena identik dengan Fakhr atau kesombongan. Dan hadits diatas tidak berkaitan dengan keabsahan sholat, melainkan haramnya memakai pakaian hingga terjadi Isbal. Dan pendapat terakhir inilah yang Aqrob, Insya Alloh.”

            Namun mungkin juga banyak dari pengunjung situs ini yang tidak mengetahuinya. Dan mereka akan mengambil banyak manfaat dari diskusi ini.

            Ketika kita membahas sutrah, mungkin banyak pengunjung situs ini yang masih aneh dengan sutrah. Namun setelah terjadi diskusi yang panjang lebar, mereka menjadi tahu tentang sutrah dan mengambil manfaat dari diskusi ini.

            Saya sendiri merasa masih banyak hal yang belum saya ketahui tentang tata cara shalat Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tentang apa saja yang dikatakan, diperbuat dan disetujui Rasulullaah tentang shalat. Mungkin peserta lain diskusi ini juga merasa seperti saya. Melalui diskusi ini, kita semua dapat mengetahui tata cara shalat Rasulullaah.

            Bisa jadi kita sudah merasa benar dalam melaksanakan shalat. Namun setelah mengikuti diskusi ini, banyak hal terungkap yang ternyata belum kita ketahui. Kita mendapatkan informasi baru dan benar yang dapat kita gunakan untuk memperbaiki shalat kita.

            Wallaahu a’lam.

          5. @Ibnu Suradi
            begini mas, diatas anda berkata orang yang kain pakaiannya turun melebihi mata kaki diperintahkan oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam wudhu dan shalat lagi sampai tiga kali, kemudian Rasulullaah bersabda: “Allah tidak menerima shalat orang yang kain pakaiannya turun melebihi mata kaki.

            Kemudian di jawab oleh saudara kita @bu Hilya :
            1. Kami tidak menemukan perintah Rosululloh SAW, untuk mengulang sholat, yang kami temukan Rosululloh SAW, memerintah mengulang Wudhu.

            2. Kami juga tidak mendapati laki-laki tsb mengulang sholat, yang kami dapati, laki-laki tsb mengulang wudhu.

            3. Kami tidak pula mendapati perintah Rosululloh SAW, berulang hingga tiga kali, yang kami temukan hanya dua kali.

            Sekarang timbul pertanyaan, mana yang benar, hadist yg saudara Ibnu Suradi sampaikan atau hadist yg dijelaskan oleh @bu Hilya? Atau, memang ada dua hadist yg redaksinya berbeda. mohon penjelasannya dari saudara ibnu suradi?

          6. @Ibnu Suradi dan @bu Hilya, kalian berdua berkata berdasarkan kitab Riyadhus Sholihin-nya Imam Nawawi. Saya ingin bertanya, apakah kitab Riyadhus Sholihin-nya Imam Nawawi tersebut di syarah oleh orang lain atau tidak?

            Mengapa ada hadist yg redaksinya berbeda satu sama lain?

          7. Bismillah,

            @mas agung, mohon maaf, itulah redaksi hadits yang kami dapati dalam kitab Riyadhus Solihin-nya Imam Nawawi dengan pada bab “Shifatu Thulil Qomish”, hadits tsb juga di takhrij Imam Abu Dawud dalam sunan-nya pada no 638.

            Mengenai syarah Riyadhus Solihin, ada diantaranya adalah Dalilul falihin, Syarah Riyadhus Solihin, dan yang lain.

            Tentang redaksi hadits, kami tidak memastikan antara hadits yang kami dapati dengan hadits yang disampaikan penjelasannya oleh saudara Ibnu Suradi ada perbedaan, karena kami belum tahu redaksi hadits yang dimaksud oleh saudara Ibnu Suradi.

            Wallohu a’lam

          8. Bismillah,

            @Kang Ibnu Suradi,

            Mohon maaf sebelumnya, sungguh tak ada maksud dari kami mengolok-olok anda, kalau pada coment2 ana pribadi sebelumnya ada yang melukai perasaan anda, saya secara pribadai mengakui kesalahan tersebut dan mohon maaf yang sebesar-besarnya.

            selanjutnya kalau anda berkenan melanjutkan diskusi dengan saya atau dengan yang lain, monggo kami silahkan, namun kalau boleh kasih saran hendaknya ketika anda menyampaikan hadits baiknya anda sampaikan pula redaksinya walau hanya berupa translit ke latinnya. semoga bermanfaat.

            Wallohu a’lam

          9. @ibnu suradi
            Ini komen ente : “Ini adalah mengenai adab berpakaian dalam shalat. Dalam hadits tersebut, orang yang kain pakaiannya turun melebihi mata kaki diperintahkan oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam “wudhu dan shalat lagi sampai tiga kali”, kemudian Rasulullaah bersabda: “Allah tidak menerima shalat orang yang kain pakaiannya turun melebihi mata kaki.”

            Ane cuma ingatkan, jangan sembarangan menulis dan berucap tentang Hadist karena ancaman yang cukup besar. Ane cek di 2 kitab gak ada, nah apakah ini bukan main-main dari ente, kalau ingin memancing komen2 lain jangan salah total, paling hurup atau ejaannya aja.

            Kalau itu memang sikap ente bermain menulis hadis ya sudah, memang kalau dilihat dari blog-blog wahabi, kebiasaan mempermainkan hadist adalah hal yang biasa. Tapi ane sadar itu paham wahabi atau punya kitab lain selain dari kitab yang ane punya.

            Ini lagi “Mengenai mbegagah saat merapatkan shaf, itu hanya dilakukan oleh orang yang tidak mengetahui hadits tentang rapatnya bahu dengan bahu. Bila mengetahui hadits tersebut, maka ia tidak perlu mbegagah untuk merapatkan shaf, namun cukup merenggangkan kaki sejajar dengan bahu.”
            Dihalaman lain ente ngotot “mata kaki ketemu dengan mata kaki”, sekarang ente berfatwa seperti koment tersebut.

  139. @Ibnu Suradi, anda kan membaca kitab karangan Imam Nawawi, di sana pasti ada penjelasan dari Imam Nawawi. di kitab itu sendiri, bagaimana penjelasannya?

  140. @Ibnu Suradi, mungkin hadist berikut dapat dijadikan masukan.
    “Tidak ada sholat dengan siapnya makanan.” Para ulama menafsirkan bahwa sholat tersebut tidak sempurna.

    “Tidak beriman salah satu dari kalian sehingga mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.”
    “Demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman. Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah wahai Rasulullah”. “Seseorang yang tetangganya merasa terganggu dengannya”.
    Para ulama menafsirkan dengan tidak adanya iman yang sempurna.

    “Tidak akan masuk sorga orang yang suka mengadu domba…….
    “Tidak akan masuk sorga orang yang memutus hubungan kerabat”
    “yang durhaka kepada kedua orang tuanya.”
    Para ulama menegaskan bahwa yang dimaksud tidak akan masuk sorga ialah tidak akan masuk pertama kali atau tidak masuk sorga jika menilai perbuatan tercela tersebut halal dilakukan.Walhasil, para ulama tidak memahami hadits di atas secara tekstual tapi menafsirkannya dengan bermacam-macam penafsiran yang sesuai.”

    mengenai hadist yg anda sampaikan, menurut saya lihat saja di syarat dan rukun sholat. kalau tidak ada, berarti hadist tersebut tidak dipahami secara tekstual, seperti yg telah saya contohkan diatas.

  141. Teman-teman, kita tahu deh jawaban Ibnu Suradi yang katanya sholatnya mengikuti Rasulullah. Sekarang kan dia ngaku sudah baca kitab Imam Nawawi, yo kita ikuti penjelasan Ibnu Suradi sebagaimana yang dia baca dalam kitab Imam Nawawi tersebut. Monggo ditunggu pencerahan dan fatwanya

  142. Alhamdulillah… kang ibnu suradi skrg sudah mau baca kitab Imam Nawawi yg berarti juga mulai belajar mempertimbangkan pendapat2 ulama, makanya sekarang kita tunggu pencerahan dari ibnu suradi setelah membaca kitab imam Nawawi, monggo kang ibnu semua pengunjung blog ini sudah menunggu kecerdasan anda dalam memahami kitab Imam Nawawi, monggo…

  143. Alhamdulillah, semeoga Ibnu Suradi ga ngarang-ngarang hadits lagi, terus fatwa semaunya. Mudah2an baca kitab yang benar asli, arab gundul seperti yang ditampilkan @bu Hiya… Berarti hebat Ibnu Suradi sudah bisa baca “arab gundul” di kitab Imam Nawawi, walaupun belum bisa baca “arab gundul” yang di Fathulbari.

  144. Kang ibnu, saya pribadi bukan bermaksud mengolok2 anda dan kalaupun anda merasa begitu saya mohon maaf, saya hanya ingin anda menyadari bahwa selama ini dalam comment2 anda ada kesan anda merasa paling mengikuti sunnah dan cenderung menyalahkan org lain termasuk ada kesan pula dalam comment anda bahwa para ulama2 yang telah menulis kitab2 klasik itu berfatwa tanpa dasar, padahal semua fatwa ulama2 dalam kitab2nya tsb telah didasari oleh dalil2 baik dalam Alquran dan Hadits Nabi SAW bahkan beliau hafal ribuan hadits Nabi SAW lengkap dengan sanad dan matannya, sekarang bandingkan dengan saya dan anda sendiri, sudah berapa banyak Hadits Nabi SAW yg kita hafal beserta dengan sanad dan matannya ? cobalah berfikir jernih dan tidak menyombongkan diri kita sendiri, apakah kita sudah benar2 mampu berfatwa dalam urusan agama atau kita hanya baru pandai membaca terjemahan Alquran dan Hadits Nabi saja tapi sudah bisa berfatwa dan menyalahkan org lain, jangan sampai kita “mempunyai kemampuan sebagai pedagang tapi menyalahkan tukang bangunan”

  145. AKU BERLINDUNG KEPADA ALLAH DARI TIPUAN WAHHABI YANG TERSESAT……

    Saya cuma ingin menyampaikan uneg2 saya bahwa blog2 Wahhabi PENGECUT, saya beberapa kali nulis komen agar tahu tanggapannya seperti apa, eh komennnya gak muncul apalagi tanggapannya. saya kira di blog ini orang pro wahhabi pun tak mendapat perlakuan diskriminatif, mereka bebas menulis sesuai keyakinan mereka walaupun isinya “menyerang” blog ini………… bukti nyata lainnya wahhabi pengecut kalau nonton ROJATV, dimana para narasumbernya apabila setelah ngasih wejangan dalam sesi tanya jawab selalu menggunakan kertas tulisan, bukan dengan pertanyaan langsung para mustami’ lewat microphone. Kita sering lihat beberapa pertanyaan “dilewati” begitu saja tanpa kita tahu pertanyaannya apa……….. kenapa……………?.kayaknya para asatiz mereka takut kena KO dengan pertanyaan yang memihak ahlussunnah…….

  146. Terlalu berlebihan hanya karena cingkarang dan tidak, sebagian lain cingkrang adalah suatu ibadah, yang lain tak mengapa karena sunah, yang benar dan setahu saya tetap bah jaman Rasul yang di kerjakan apakah harus sama dengan sesudahnya = contoh tanggal Hijrah apa Rasul memakai kalender ini, dan mengisaratkan bahwa baju Gamis yang menyapu jalan sampai menjadikan kotor dan pertanda mampu beli yang lebih panjang dan besar adalah merasa sombong ini benar pada zaman Rasul Muhammad maka dari itu ini menjadi Ultimatum pada umatnya agar memakai pakaian gamis utamanya harus di atas mata kaki begitu sepengetahuan saya trimakasih.

  147. Bismillaah,

    Kang Prabu menulis: “ada kesan pula dalam comment anda bahwa para ulama2 yang telah menulis kitab2 klasik itu berfatwa tanpa dasar.”

    Komentar:

    Saya sama sekali tidak mengatakan atau menganggap bahwa para ulama berfatwa tanpa dasar. Saya yakin ulama berfatwa berdasar hadits. Maka dari itu, kami meminta kepada kawan-kawan bila menyampaikan fatwa ulama tentang tata cara shalat Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, anda musti menyampaikan juga hadits-hadits yang dijadikan dasar fatwa ulama tersebut.” Dengan demikian, kita bisa mengikuti ulama (fatwa) yang mengikuti Rasulullaah (hadits) dalam melaksanakan shalat sebagaimana yang diajarkan Rasulullaah kepada para sahabatnya.

    Saya juga tidak mengaku bahwa shalat saya yang paling sesuai dengan tata cara shalat Rasulullaah. Buktinya, saya mengajak: “Mari kita cocokkan shalat kita dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah kepada para sahabatnya.” Ajakan saya bukan: “Silahkan anda cocokkan” tapi “Mari kita cocokkan”.

    Jadi, masih banyak yang belum saya ketahui tentang tata cara shalat Rasulullaah. Saya mengikuti diskusi ini dengaan harapan mendapatkan tambahan ilmu tentang tata cara shalat Rasulullaah.

    Wallaahu a’lam.

  148. Bismillaah,

    Masih ada kaitannya dengan letak tangan bersedekap setelah takbiratulihram dan untuk merangkumnya, berikut uraian yang mungkin berguna bagi peserta diskusi ini:

    Telah tetap tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, dalam hadits-hadits yang sangat banyak, bahwa pada saat berdiri dalam shalat, tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri, dan ini merupakan pendapat jumhur tabi’in dan kebanyakan ahli fiqih, bahkan Imam At-Tirmidzy berkata, “Dan amalan di atas ini adalah amalan di kalangan ulama dari para shahabat, tabi’in, dan orang-orang setelah mereka ….” Lihat Sunan -nya 2/32.

    Akan tetapi, ada perbedaan pendapat tentang tempat meletakkan kedua tangan (posisi ketika tangan kanan di atas tangan kiri) ini di kalangan ulama, dan inilah yang menjadi pembahasan untuk menjawab pertanyaan di atas.

    Berikut ini pendapat para ulama dalam masalah ini, diringkas dari buku La Jadida Fi Ahkam Ash-Shalah karya Syaikh Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid

    Pendapat Pertama, kedua tangan diletakkan pada an-nahr. An-nahr adalah anggota badan antara di atas dada dan di bawah leher. Seekor onta yang akan disembelih, maka disembelih pada nahr-nya dengan cara ditusuk dengan ujung pisau. Itulah sebabnya hari ke-10 Dzulhijjah, yaitu hari raya ‘Idul Adha (Qurban), disebut juga yaumun nahr -hari An-Nahr (hari penyembelihan)-.

    Pendapat Kedua , kedua tangan diletakkan di atas dada. Ini adalah pendapat Al-Imam Asy-Syafi’iy pada salah satu riwayat darinya, pendapat yang dipilih oleh Ibnul Qayyim Al-Jauzy dan Asy-Syaukany, serta merupakan amalan Ishaq bin Rahawaih. Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikh Al-Albany dalam kitab Ahkamul Jana` iz dan Sifat Shalat Nabi .

    Pendapat Ketiga ,kedua tangan diletakkan di antara dada dan pusar (lambung/perut). Pendapat ini adalah sebuah riwayat pada madzhab Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad, sebagaimana disebutkan oleh Al-Imam Asy-Syaukany dalam Nailul Authar . Pendapat ini dikuatkan oleh Al-Imam Nawawy dalam Madzhab Asy-Syafi’i, dan merupakan pendapat Sa’id bin Jubair dan Daud Azh-Zhahiry sebagaimana disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawy dalam Al-Majmu’ (3/313).

    Pendapat Keempat , kedua tangan diletakkan di atas pusar. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad dan dinukil dari Ali bin Abi Thalib dan Sa’id bin Jubair.

    Pendapat Kelima ,kedua tangan diletakkan di bawah pusar. Ini adalah pendapat madzhab Al-Hanafiyah bagi laki-laki, Asy-Syafi’iy dalam sebuah riwayat, Ahmad, Ats-Tsaury dan Ishaq

    Pendapat Keenam ,kedua tangan bebas diletakkan dimana saja: di atas pusar, di bawahnya, atau di atas dada.

    Imam Ahmad ditanya, “Dimana seseorang meletakkan tangannya apabila ia shalat?” Beliau menjawab, “Di atas atau di bawah pusar.” Semua itu ada keluasan menurut Imam Ahmad diletakkan di atas pusar, sebelumnya atau di bawahnya. Lihat Bada`i’ul Fawa`id 3/91 karya Ibnul Qayyim.

    Berkata Imam Ibnul Mundzir sebagaimana dalam NailulAuthar , “Tidak ada sesuatu pun yang tsabit (baca: shahih) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, maka ia diberi pilihan.” Perkataan ini serupa dengan perkataan Ibnul Qayyim sebagaimana yang dinukil dalam Hasyiah Ar-Raudh Al-Murbi’ (2/21).

    Pendapat ini merupakan pendapat para ulama di kalangan shahabat, tabi’in dan setelahnya. Demikian dinukil oleh Imam At-Tirmidzy.

    Ibnu Qasim, dalam Hasyiah Ar-Raudh Al-Murbi’ (2/21), menisbahkan pendapat ini kepada Imam Malik.

    Hadits-hadits yang mendasari pendapat-pendapat tersebut akan disampaikan menyusul.

    Wallaahu a’lam.

  149. Bismillaah,

    Dalil-Dalil Setiap Pendapat dan Pembahasannya

    Dalil Pendapat Pertama

    Dalil yang dipakai oleh pendapat ini adalah atsar yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu tentang tafsir firman Allah Ta’ala,

    “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah.” [ Al-Kautsar: 2 ]

    Beliau(?) berkata (menafsirkan ayat di atas -pent.),

    وَضْعُ الْيَمِيْنِ عَلَى الشِّمَالِ فِي الصَّلاَةِ عِنْدَ النَّحْرِ

    “Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat pada an-nahr.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqy 2/31)

    Dalil Pendapat Kedua

    Dalil pertama , hadits Qabishah bin Hulb Ath-Tha’iy dari bapaknya, Hulb radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

    رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَسَلَّمَ يَضَعُ هَذِهِ عَلَى هَذِهِ عَلَى صَدْرِهِ وَوَصَفَ يَحْيَى الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى فَوْقَ الْمِفْصَلِ

    “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam meletakkan ini di atas ini, di atas dadanya -dan yahya (salah seorang perawi -pent.) mencontohkan tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri-.”

  150. Bismillaah,

    Lanjutan:

    Dalil kedua , Hadits Wa`il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

    صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ

    “Saya shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas dadanya.”

    Dalil ketiga , hadits Thawus bin Kaisan secara mursal, dia berkata,

    كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَضَعُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى ثُمَّ يَشُدُّ بَيْنَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ وَهُوَ فِي الصَّلاَةِ

    “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya kemudian mengeratkannya di atas dadanya,dan beliau dalam keadaan shalat.”

    Dalil keempat , Hadits ‘Ali bin Abi Thalib tentang firman Allah Ta’ala ,

    “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah.” [ Al-Kautsar: 2 ]

    Beliau berkata,

    وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى وَسَطِ سَاعِدِهِ الْيُسْرَى ثُمَّ وَضَعَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ فِي الصَّلاَةِ

    “Beliau meletakkan tangan kanannya di atas sa’id ‘ setengah jarak pertama dari pergelangan ke siku ’ tangan kirinya, kemudian meletakkan kedua tangannya di atas dadanya di dalam shalat.”

    Atsar ini dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsir -nya 30/326, Al-Bukhary dalam Tarikh -nya 3/2/437, dan Al-Baihaqy 2/30.

    Dalil-Dalil Pendapat Ketiga, Keempat dan Kelima

    Dalil-dalil ketiga pendapat ini mungkin bisa kembali kepada dalil-dalil yang akan disebutkan, namun perbedaan dalam memetik hukum, memandang dalil, dan mengkompromikannya dengan dalil yang lain menyebabkan terlihatnya persilangan dari ketiga pendapat tersebut.

    Berikut ini uraian dalil-dalilnya.

    Dalil pertama , dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

    إِنَّ مِنَ السُّنَّةِ فِي الصَّلاَةِ وَضَعَ الْأَكُفِّ عَلَى الْأَكُفِّ تَحْتَ السُّرَّةِ

    “Sesungguhnya termasuk Sunnah dalam shalat adalah meletakkan telapak tangan di atas telapak tangan di bawah pusar.”

    Diriwayatkan oleh Ahmad 1/110, Abu Daud no. 756, Ibnu Abi Syaibah 1/343/3945, Ad-Daraquthny 1/286, Al-Maqdasy no. 771,772, dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam At-Tamhid 20/77. Dalam sanadnya ada rawi yang bernama ‘Abdurrahman bin Ishak Al-Wasity yang para ulama telah sepakat untuk melemahkannya sebagaimana dalam Nashbur Rayah 1/314.

    Dalil kedua ,dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

    وَضْعُ الْكَفِّ عَلَى الْكَفِّ فِي الصَّلاَةِ تَحْتَ السُّرَّةِ مِنَ السُّنَّةِ

    “Meletakkan telapak tangan di atas telapak tangan di bawah pusar di dalam shalat termasuk sunnah.”

    Diriwayatkan oleh Abu Daud no. 758. Dalam sanadnya juga terdapat ‘Abdurrahman bin Ishak Al-Wasity.

    Dalil ketiga , dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

    مِنْ أَخْلاَقِ النُّبُوَّةِ وَضْعُ الْيَمِيْنِ عَلَى الشِّمَالِ تَحْتَ السُّرَّةِ

    “Termasuk akhlak-akhlak kenabian, meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di bawah pusar.”

    Ibnu Hazm menyebutkannya secara mu’allaq ‘tanpa sanad’ dalam Al-Muhalla 4/157.

    Wallaahu a’lam.

  151. Bismillah,

    @kang Ibnu Suradi,

    Waduh kang pendapat para ulama yang anda kutip sungguh luar biasa, terus gimana cara milihnya kang? karena dipake bersamaan jelas nggak mungkin….Suwoon..

  152. Bismillaah,

    Kang @bu Hilya,

    Kita tinggal pilih salah satu dari pendapat ulama tersebut yang jelas-jelas mendasarkan pendapatnya pada hadits.. Mau mengikuti pendapat ulama bahwa tangan bersedekap di atas dada, di dada, di atas pusar di bawah dada dan di bawah pusar, silahkan. Semuanya ada dasar haditsnya.

    Kalau saya secara pribadi lebih memilih tangan bersedekap di dada, terasa lebih bersemangat dan bersungguh-sungguh daripada di bawah dada apalagi di bawah pusar.

    Wallaahu a’lam.

    1. Bismillah,

      Kang @Ibnu Suradi,

      Ada beberapa pertanyaan seputar bersendekap dalam sholat,

      1- Dimana letak kesesuaian antara pendapat yang mengatakan bersendekap diatas dada dengan hujjah yang dijadikan sandaran yakni QS Al Kautsar :2

      2- Hadits-hadits tentang bersendekap dalam sholat tsb, apakah berindikasi wajib? sehingga bagi yang tidak bersendekap dianggap sholatnya nggak sah…

      3- Hadits-hadits tentang bersendekap dalam sholat tsb, apakah berlaku hanya ketika berdiri (dalam sholat) untuk baca fatiha atau juga berlaku ketika berdiri dari ruku’ (i’tidal)

      4- Hadits terakhir yang anda sampaikan tentang “Bersendekap dibawah pusar adalah termasuk akhlak kenabiyan”, apakah juga berlaku diluar sholat?

  153. @ibnu suradi
    “Kalau saya secara pribadi lebih memilih tangan bersedekap di dada, terasa lebih bersemangat dan bersungguh-sungguh daripada di bawah dada apalagi di bawah pusar.”
    Ini kan ente pribadi ya, kalau dilihat dari Imam 5 Madzhab tidak ada yang menukil/mengambil secara langsung dari hadist, padahal mereka lebih dekat dengan Rasulullah saw. Terus terang ane pribadi gak berani.
    “terasa lebih bersemangat dan bersungguh-sungguh”, apakah kalau ditempat lain (seperti imam madzhab) tidak bersungguh2 ? padahal kita sedang berhadapan dengan Sang MAHA Segalanya.

  154. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Saya tidak langsung mengambil dari hadits tapi mengikuti ulama yang mengambil hadits bersedekap di dada.

    Tentang perasaan bersungguh-sungguh, itu sifatnya pribadi. Saya tidak mengatakan bahwa orang yang bersedekap di bawah dada atau di perut itu tidak bersungguh-sungguh.

    Wallaahu a’lam.

    1. Bismillaah,

      Saya lengkapi cara berdiri dan bersedekap saya berdasarkan pendapat ulama yang menggunakan hadits shahih dari Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai dasarnya.

      Saya berdiri dengan telapak kaki direnggangkan sejajar dengan bahu, jari-jari kaki dihadapkan lurus kekiblat dan bersedekap di dada. Saya merasakan bahwa dengan cara berdiri seperti itu, badan menjadi tegap dan bersungguh-sungguh. Sedangkan, dengan telapak kaki renggang sejajar bahu dan jari-jari kaki lurus menghadap kiblat, saya menjadi tahan berdiri lama.

      Sekali agi, saya tidak menyalahkan cara berdiri yang lain. Saya hanya menyampaikan manfaat yang saya rasakan saat saya berdiri dengan cara seperti tersebut di atas.

      Wallaahu a’lam.

  155. @ibnu suradi
    Sepengetahuan ane Ulama-ulama yang ada sekarang ini mengikuti salah satu Imam Madzhab dari yang 5 (Imam malik, Imam Hanafi, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad) – berdasarkan pada kitab yang ane punya.
    Bagaimana hukumnya setelah ente pelajari copasan tentang bersedakep terhadap Ibadah ?

  156. Bismillaah,

    Dalam masalah tangan bersedekap saat shalat, saya mengikut ulama madzhab juga.

    Saya rasa bahasan mengenai takbiratulihram sudah cukup. Hadits-hadits tentang masalah tersebut telah disampaikan. Pendapat-pendapat ulama juga sudah disampaikan. Kita sebaiknya membahas masalah baru, yakni, rukuk. Silahkan dimulai dengan penyampaian hadits, lalu penjelasan ulama atau dari penyampaian fatwa ulama, lalu hadits yang mendasarinya.

    Wallaahu a’lam.

  157. @ibnu suradi
    Kalau berdasarkan Imam madzhab :
    Mazhab Imam Malik dan Hanafi mengatakan, ”Bersedekap itu hukumnya sunah, bukan wajib. Yang terutama bagi laki-laki adalah meletakkan telapak tangan di atas punggung tangan kiri dan ditempatkan di bawah pusar”. Sedangkan bagi perempuan adalah meletakkan kedua tangannya di dada.”
    Mazhab asy-Syafi’i mengatakan, ”Hal itu disunahkan bagi laki- laki dan perempuan. Yang paling utama adalah meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri dan ditempatkan di antara dada dan pusar dan agak bergeser ke arah kiri.”
    Mazhab Hanbali mengatakan : ”Hal itu adalah sunah. Yang paling utama adalah meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri dan ditempatkan di bahwa pusar.”

    Tapi gak apa2 itu adalah sunnah bukan Wajib, karena ada juga yang meluruskan kebawah.

    Mungkin ada teman-teman yang ingin menambahkan.

    1. Bismillaah,

      Kang Ucep,

      Orang yang mengikuti shalatnya Rasulullaah adalah orang-orang yang shalat berdasarkan hadits-hadits shahih dari Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Untuk mengetahui hadits-hadits tersebut, mereka membutuhkan pendapat atau fatwa ulama yang istiqomah mengikuti Allaah dan RasulNya.

      Wallaahu a’lam.

      1. @ibnu suradi
        “Orang yang mengikuti shalatnya Rasulullaah adalah orang-orang yang shalat berdasarkan hadits-hadits shahih dari Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Untuk mengetahui hadits-hadits tersebut, mereka membutuhkan pendapat atau fatwa ulama yang istiqomah mengikuti Allaah dan RasulNya.”

        Ente memang mengikuti hadist secara langsung
        Apakah kata “diatas dada” yang menjadi kiasan dari hadist, sehingga ente mengambil secara letterlux. Padahal Imam 5 madzhab menafsirkan dada tidak seperti letterlux hadist, sehingga Imam Madzhab berijtihad dan mereka yang lebih menguasai hadist dan yang paling dekat dengan Rasulullah adalah mereka. Bahkan Imam Abu Hanifah hampir sejaman dengan Ali bin Abu Thalib ra (abad 1H).
        Andaikan kata “diatas dada” bukan kiasan, maka pertanyaannya apakah mereka tidak mengikuti Rasulullah saw ???

        1. Bismillaah,

          Kang Ucep,

          Saya tidak mengikuti hadits secara langsung. Saya mengikuti ulama yang mengikuti hadits. Dengan kata lain, saya mengikuti hadits melalui ulama.

          Wallaahu a’lam.

  158. @Ibnu Suradi, Menurut madzhab Syafi’i, posisi bersedekap adalah tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri, kemudian diletakkan di atas pusar di bawah dada. Berikut ini penjelasan al-Imam an-Nawawi di dalam kitabnya Shahih Muslim Bi Syarh an-Nawawi juz 4 halaman 114.

    RUKUK :
    Ruku’ merupakan salah satu rukun di dalam sholat sehingga wajib hukumnya untuk dikerjakan. Perintah untuk ruku’ ada tercantum di dalam al-Qur’an:
    “Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’ “ (QS. Al-Baqarah: 43)

    Berikut ini penjelasan dari al-Imam al-Ghazali mengenai tata cara turun untuk ruku’:
    “Janganlah engkau sambung akhir bacaan surat al-Qur’an dengan takbir untuk ruku’. Akan tetapi berilah jeda dengan sekedar bacaan Subhanalloh.” (Bidayah al-Hidayah, halaman 46)

    “Kemudian ucapkanlah bacaan takbir untuk ruku’. Angkatlah kedua tanganmu sebagaimana ketika takbiratul-ihram. Ucapkanlah bacaan takbir tersebut sampai sempurna melakukan ruku’.” (Bidayah al-Hidayah, halaman 46)

    Pada waktu ruku’, kedua tangan diletakkan di atas kedua lutut. Posisi jari-jari direnggangkan. Kedua lutut direnggangkan sekedar satu jengkal. Punggung, leher dan kepala lurus dan rata seperti papan, posisi kepala tidak lebih rendah dan tidak pula lebih tinggi.

    “Sempurnanya ruku’ itu ada empat perkara: (Pertama) Meluruskan punggung dengan leher dan kepala, sehingga menjadi seperti satu papan yang tidak bengkok. (Kedua) Menegakkan lutut. (Ketiga) Memegang kedua lutut dengan kedua telapak tangan. (Keempat) Meluruskan dan merenggangkan jari-jemari sehingga menghadap kiblat.“ (Kasyifatu as-Saja, halaman 68)

    Bagi laki-laki, kedua siku direnggangkan dari lambung, sementara bagi perempuan justru sebaliknya, kedua sikunya dirapatkan dengan kedua lambungnya. Pada waktu ruku’ wajib tuma’ninah, yaitu berhenti sejenak untuk menyempurnakan ruku’.

    Pada waktu ruku’ disunnahkan untuk membaca bacaan tasbih. Adapun bacaan tasbih pada waktu ruku’ dijelaskan di dalam beberapa hadits berikut ini:
    Hudzaifah Radhiyallaahu ‘anhu meriwayatkan: Aku pernah sholat bersama Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam. Apabila beliau ruku’ beliau mengucapkan: {Subhaana Rabbiyal-‘Azhiimi}. Dan apabila beliau sujud beliau mengucapkan: {Subhaana Rabbiyal-A’laa}. Dan setiap membaca ayat rahmat, beliau diam lalu berdo’a memohon agar rahmat itu dianugerahkan kepada beliau, dan pada saat membaca ayat tentang adzab (siksa), beliau memohon perlindungan kepada Allah Ta’aala” (Sunan Abi Dawud, juz 3, halaman 36 [737]. Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz 47, halaman 323 [22254]. Sunan At-Tirmidzi, juz 1, halaman 442 [243])

    Di hadits yang lain, disebutkan adanya penambahan bacaan {wa bihamdihi} di dalam bacaan tasbih pada waktu ruku’:
    “Diriwayatkan dari Hudzaifah Radhiyallaahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau ruku’, beliau mengucapkan {Subhaana Rabbiyal-‘Azhiimi Wa Bihamdih} sebanyak tiga kali. Dan apabila beliau bersujud, beliau mengucapkan {Subhaana Rabbiyal-A’laa Wa Bihamdih} sebanyak tiga kali.” (Sunan ad-Daruquthni, juz 3, halaman 429 [1308])

    Di dalam Sunan Abi Dawud juga disebutkan:
    “Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam apabila ruku’ beliau mengucapkan: {Subhaana Rabbiyal-‘azhiimi wa bihamdih} tiga kali dan apabila beliau bersujud, beliau mengucapkan: {Subhaana Rabbiyal-a’laa wa bihamdih} tiga kali.” (Sunan Abi Dawud, juz 3, halaman 35 [736])

  159. Bismillaah,

    Kang Agung,

    Dalam hal bacaan ruku’, anda telah menyampaikan hadits yang mendasari fatwa ulama. Namun, dalam hal gerakan rukuk seperti punggung lurus, tangan mencengkeram, anggota badan yang menempel di lantai dan lain-lain, anda belum menyampaikan hadits yang dijadikan dasar fatwa ulama yang anda sampaikan.

    Sekali lagi karena bahasan ini adalah tentang shalat, maka penyampaikan penjelasan termasuk fatwa ulama hendaknya dilengkapi dengan hadits shahih dari Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

    Wallaahu a’lam.

    Wallaahu a’lam.

  160. @Ibnu Suradi, kalau begitu, tolong jelaskan tata cara rukuk, beserta hadist dan penjelasannya berdasarkan pendapat para ulama yg muktabar?

  161. @Ibnu Suradi, tata cara sholat dalam mazhab yg empat itu terkadang berbeda, saya ingin bertanya, bagaimana cara saudara mentarjih setiap pendapat yg ada dalam setiap mazhab? ataukah saudara mengikuti hasil tarjih yg dilakukan oleh seseorang?

  162. @Ibnu Suradi, diatas anda berkata : Sekali lagi karena bahasan ini adalah tentang shalat, maka penyampaikan penjelasan termasuk fatwa ulama hendaknya dilengkapi dengan hadits shahih dari Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

    Jawaban saya atas perkataan anda tersebut :
    As-Syatibi berkata:
    “Fatwa-fatwa para mujtahid bagi orang-orang awam adalah seperti dalil-dalil syar’i. Alasannya adalah karena bagi orang-orang awam yang taqlid, ada atau tidaknya dalil adalah sama saja karena mereka tidak mampu mengambil pengertian darinya. Maka masalah meneliti dalil dan melakukan istinbath bukanlah urusan mereka dan mereka memang tidak diperkenankan melakukan yang demikian itu. Dalam Al-Qur’an Allah swt. berfirman: ‘Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui’ (Al-Anbiya’:7). Orang yang taqlid bukanlah orang yang alim. Oleh karenanya, tidaklah sah baginya kecuali bertanya kepada ahli ilmu. Dan kepada mereka- lah kembalinya urusan orang-orang awam dalam masalah hukum secara mutlak. Dengan demikian, maka kedudukan ahli ilmu begitu pula ucapan-ucapannya bagi orang-orang awam adalah seperti kedudukan syara’ “.

    Al-Amidi dalam kitabnya Al-Ihkam jilid 3/171 berkata: “keadaan orang-orang awam dimasa sahabat dan tabi’in sebelum munculnya orang-orang yang menyimpang yang selalu meminta fatwa kepada para sahabat yang termasuk mujtahid dan mengikuti fatwa kepada para sahabat hal hukum-hukum agama. Para ulama dikalangan sahabat selalu menjawab pertanyaan mereka dengan segera tanpa menyebutkan dalil. Tidak ada yang mengingkari kebiasaan orang-orang awam tersebut. Maka terjadilah ijma’ dalam hal bolehnya orang awam mengikuti orang yang mujtahid secara mutlak. Dizaman sahabat, mereka yang tampil memberikan fatwa hanyalah sebagian kecil yang memang telah dikenal keahliannya dalam bidang fiqh, riwayat dan istinbath. Yang paling terkenal diantara mereka adalah; Khulafa’ur Rasyidin yang empat, Abdullah bin Mas’ud, Abu Musa al-‘Asy’ari, Mu’az bin Jabal, Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit. Sedangkan para sahabat nabi yang bertaqlid kepada madzhab dan fatwa mereka ini jauh lebih banyak.

    Syekh Abdullah Darras berkata: bahwa orang yang tidak punya kemampuan dalam berijtihad apabila terjadi padanya satu masalah fiqih, maka ada dua kemungkinan caranya bersikap:
    Pertama, dia tidak melakukan ibadah sama sekali. Dan ini tentu menyalahi ijma’. Kedua, dia melakukan ibadah. Dan ibadah yang dilakukannya itu adakalanya dengan meneliti dalil yang menetapkan hukum atau dengan jalan taqlid. Untuk yang pertama (meneliti dalil hukum) jelas tidak mungkin karena dengan melakukan penelitian itu berarti ia harus meneliti dalil-dalil semua masalah sehingga harus meninggalkan kegiatan sehari-hari (karena banyaknya dalil yang harus diteliti) yakni meninggalkan semua pekerjaan yang mesti dia lakukan dan itu jelas akan menimbulkan kesulitan bagi dirinya. Oleh karena itu tidak ada kemungkinan lain kecuali taqlid. Dan itulah yang menjadi kewajibannya apabila bertemu dengan masalah yang memerlu kan pemecahan hukum”.

  163. @Ibnu Suradi, saya ini hanyalah Muqallid, dan dalam masalah fiqih, saya lebih condong ke mazhab Syafe’i. Bagi saya, pendapat Imam Al Ghazali sudah cukup, karena beliau sendiri adalah seorang Mujtahid dan diberi gelar Hujjatul Islam. Seperti perkataan As-Syatibi : “karena bagi orang-orang awam yang taqlid, ada atau tidaknya dalil adalah sama saja karena mereka tidak mampu mengambil pengertian darinya”. Saya sendiri juga bukan mujtahid, jadi tidak mampu mentarjih, mana pendapat yg lebih kuat.

    Seorang sahabat saya berkata : “Kami dilarang belajar perbandingan mazhab, sebelum menguasi salah satu mazhab”.

    Saya juga yakin, anda mentarjih, bukan berdasarkan hasil tarjihan saudara sendiri, tapi mengikuti ulama yg anda anggap kredibel. Benar tidak?

  164. Kalau teman-teman Aswaja kok tawadlu banget. Menerima dibilang awam mapun taklid. Tapi ilmunya ga kalah dengan “penuduh taklid buta”. Ayo Syech Ibnu Suradi keluarkan ilmunya dalam “meneliti” dalil. Kita semua menunggu pencerahannya. Tapi kalau bisa jangan bilang As-Syatibi, Al-Amidi, dan Syeh Abdullah Darras “hanya manusia, yang kalau diikuti perkataannya bisa salah”.. Tolong dong sebutin “perkataan manusia” yang anda gunakan sebagai dalil.

  165. Bismillaah,

    Kawan-kawan semua,

    Saya yakin setiap ulama Ahlussunnah wal Jamaah membuat fatwa tentang shalat berdasarkan hadits-hadits tentang tata cara shalat Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena karena itu, bila menyampaikan fatwa ulama, hendaknya disampaikan juga hadits yang dijadikan dasar fatwa tersebut.

    Saya tidak meminta anda-anda sekalian mengeluarkan hadits sendiri. Saya hanya meminta anda menyampaikan hadits yang dikeluarkan ulama yang menggunakannya sebagai dasar fatwanya.

    Itulah tugas ulama, yakni, menyampaikan dan menjelaskan ayat Qur’an dan hadits yang hendaknya dijadikan dasar bagi kehidupan agama umat Islam terutama dalam ibadah shalat.

    Wallaahu a’lam.

    1. ismillah,

      @Kang Ibnu Suradi,

      Ada baiknya setiap permasalahan dibahas dengan urut dan tuntas, permasalahan Isbal menurut kami belum tuntas, tapi anda melompat kemasalah ruku’, sebaiknya tuntaskan dulu permasalahan “ISBAL” terus berlanjut ke cara bersuci, air yang digunakan bersuci, baca Basmalah, Niat, Istiqbalul Qiblah, Sutrah, Takbirotul Ihrom, Iftitah,Suroh, Ruku’…. dst.

      Baiklah kalau anda enggan mengkaji semuanya dengan detail, namun ada yang penting yang anda tinggalkan dalam tuntunan sholat yang belum anda diskusikan, yakni mengenai bacaan fatihah, setelah itu baru berlanjut ke ruku’… Insya Alloh akan bermanfaat

  166. Saya merasa lebih tenang beribadah mengikuti kitab2 fiqh syafi’i karena ketawadhuan para ulamanya. Sayapun menghormati orang2 yang mengamalkan fiqh berdasarkan mazhab lainnya (hanafi, Maliki dan Hambali). Karena sejarah telah membuktikan sikap tawadhu, wara’ dan zuhud mereka…………….

    Namun saya gak mengerti dengan buku berjudul “Sifat Shalat Nabi” Karya Al-albani, kenapa beliau pe-de sekali menulis buku dengan judul seperti itu, padahal ulama dulu yang rata2 hafal ratusan ribu hadits dengan sanadnya, gak ada yang “berani” menulis buku dengan judul yang terkesan “menghakimi”, bahwa Cuma gue nih yang faham sifat shalat Nabi, yang gak sesuai dengan gue berarti salah, Timbullah pertanyaan apakah sholat yang diajarkan para ulama sejak belasan abad lalu salah semua karena “tidak sesuai” dengan “sifat” shalat Nabi?, apakah “cuma” Al-albani yang tahu dan faham kaifiyyat sholat Nabi………..atau…………???????????

  167. @ibnu suradi, terus bagaimana klo anda dan saya sama2 mempunyai dasar sendiri dalam beribadah tapi kenyataannya kita ada perbedaan dalam pelaksanaannya, apakah saya mengikuti tata cara ibadah anda, ataukah anda mengikuti tata cara ibadah saya, ataukah kita masing2 merasa paling mengikuti sunnah ?

    1. Bismillaah,

      Kang Prabu,

      Bila ada perbedaan dalam melaksanakan amal ibadah yang sama-sama berdasar pada hadits yang shahih, itu nama khilafiyah. Saya memilih salah satu darinya dan tidak menyalahkan yang lain. Contoh, saya bersedekap di dada berdasar hadits shahih dan anda bersedekap dibawah dada dan di atas pusar berdasaar hadits yang shahih juga. Saya tidak menyalahkan anda karena apa yang anda amalkan memiliki dasar hadits yang shahih. Hendaknya, anda juga bersikap seperti itu.

      Wallaahu a’lam.

      1. @wahai saudara kami Ibnu Suradi, Bila ada perbedaan dalam melaksanakan amal ibadah yang sama-sama berdasar pada hadits yang shahih, itu nama khilafiyah. Saya memilih salah satu darinya.

        Bagaimana cara saudara mentarjih atau memilih salah satu darinya? Setahu saya, cara mentarjih hadist yg saling berlawanan itu ada empat, yaitu : Tarjih berdasarkan isnad, matan, madlul, dan hal hal di luarnya.

        1. Bismillaah,

          Kang Agung,

          Saya tidak langsung mengikuti hadits tapi mengikuti ulama yang mengikuti hadits. Jadi bukan saya yang mentarjih hadits tapi ulama yang saya ikuti.

          Wallaahu a’lam.

          1. @ibnu suradi, saya kira sekarang sudah jelas permasalahannya karena anda juga seorang muqollid, jadi jangan sampai anda juga menyalahkan orang lain sesama muqollid namun berbeda ulama yang diikuti, dan ini mungkin juga bisa anda sampaikan pada kawan2 anda yang sepaham dg anda, jangan sampai mereka menyalah2kan, membidahkan dan mengkafirsyirikkan ibadah orang lain, krn kita memiliki dasar sendiri2.

          2. Bismillaah,

            Kang Agung,

            Walaupun saya mengikuti ulama dalam melaksanakan suatu amalan ibadah namun saya tidak akan mengikuti fatwa ulama yang tidak dilengkapi dalil dari Qur’an dan hadits. Contoh, bila ada seorang ustadz menyampaikan fatwa Imam Nawawi bahwa tangan bersedekap di dada, saya tidak langsung menerimanya sampai ia menyampaikan hadits yang digunakan Imam Nawawi dalam membuat fatwa tersebut.

            Wallaahu a’lam.

          3. Bismillaah.

            Qiyas pun musti merujuk kepada Qur’an dan hadits. Suatu pemecahan masalah mau diqiyaskan kepada ayat dan hadits apa?

            Dalam masalah tata cara shalat Rasulullaah, kita sepertinya belum menggunakan qiyas karena masih banyak hadits-hadits.

            Waallaahu a’lam.

  168. Bismillaah,

    Kang @bu Hilya,

    Maaf, saya bukannya ingin melompat-lompat dalam diskusi ini. Saya benar-benar lupa bahwa masih ada masalah penting setelah takbiratulihram yang harus dibahas: bacaan iftitah, fatihah dan surah /ayat Qur’an.

    Saya setuju bacaan shalat musti dibahas. Apa saja yang dibaca Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam setelah takbiratul ihram. Dan bagaimana belia membaca fatihah dan surah? Setelah itu, baru dibahas masalah ruku’.

    Semoga bermanfaat.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi, saya ingin bertanya, selain Al-Qur’an Dan Hadist sebagai sumber hukum islam. Apakah saudara juga menerima ijma’ dan Qiyas sebagai sumber hukum islam?

      1. Bismillaah,

        Kang Agung,

        Bila kita menghadapi masalah dalam agama dan kita tidak menemukan ayat Qur’an dan hadits mengenai masalah tersebut, maka kita bisa menggunakan ijma untuk menyelesaikan masalah tersebut.

        Wallaahu a’lam.

        1. Ibnu Suradi, kalau qiyas, boleh tidak?

          Bagaimana dengan istihsan, maslahah mursalah, ‘urf dsb, boleh tidak digunakan sebagai metode dalam berijtihad?

  169. Membaca surat al-Fatihah termasuk daripada rukun sholat, sehingga hukumnya wajib untuk dibaca baik dalam sholat fardhu maupun sholat sunnat. Di dalam kitab al-Umm disebutkan:
    Telah menceritakan kepada kami ar-Rabi’, ia berkata: telah berkata al-Imam asy-Syafi’i Rahimahullaahu Ta’aala: Diriwayatkan dari Sufyan bin Uyainah dari az-Zuhri dari Mahmud bin Rabi’ dari Ubadah ibn Shomit bahwasanya Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepadanya bahwa tidak sah sholatnya seseorang yang tidak membaca surat al-Fatihah.” (al-Umm, juz 2, halaman 243)

    “Rukun sholat yang keempat ialah membaca daripada surat al-Fatihah dengan menyertakan basmalah, memperhatikan tasydid, kesinambungan bacaan, urutan ayat, melafadzkan huruf dengan benar sesuai makhrajnya dan tidak ada kekeliruan yang dapat merusak maknanya.” (Syarah Sullamuttaufiiq)

    Di dalam membaca surat al-Fatihah, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, yaitu:
    a. Membaca Ta’awwudz
    Surat al-Fatihah adalah bagian dari al-Quran, maka sebagai adab di dalam membaca ayat-ayat al-Quran adalah dengan membaca Ta’awwudz. Dibaca secara pelan, walaupun pada sholat jahr (sholat yang bacaannya diucapkan dengan keras).

    Kesunnahan membaca ta’awwudz ini didasarkan atas Firman Allah Ta’aala:
    “Apabila kamu membaca al-Quran, hendaknya kamu meminta perlindungan kepada Allah dari
    Syaithan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)

    b. Membaca Basmalah
    Membaca surat al-Fatihah diawali dengan basmalah. Hukum membaca basmalah adalah wajib karena merupakan ayat dari surat al-Fatihah. Maka dari itu tidak sah sholat seseorang yang meninggalkan bacaan basmalah ini. Bacaan basmalah adalah bagian dari surat al-Fatihah didasarkan atas firman Allah Ta’aala:
    “Dan sungguh Kami telah berikan kepadamu (Nabi) tujuh ayat yang berulang-ulang dan al- Quran yang agung” (QS. Al-Hijr: 87)

    Yang dimaksud dengan tujuh ayat yang berulang-ulang adalah surat al-Fatihah, sebab al-Fatihah
    itu sendiri terdiri dari tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang pada tiap-tiap raka’at shalat. Dalam
    sebuah hadits disebutkan:
    “Dari Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jika kalian membaca al-hamdulillaah (surat al-Fatihah) maka bacalah bismillaahirrahmaanirrahiim. Sesungguhnya al-Fatihah itu induk dari al-Quran dan induk al-
    Kitab serta tujuh ayat yang diulang-ulang. Dan bismillaahirrahmaanirrahiim adalah salah satu
    ayatnya.” (Sunan ad-Daruquthni, juz 1, halaman 312 [36]. Sunan al-Baihaqi, juz 2, halaman 45 [36], sanad hadits ini adalah shahih).

    Imam asy-Syafi’i Rahimahullaahu Ta’aala mengatakan bahwa basmalah merupakan bagian dari
    ayat yang tujuh dalam surat al-Fatihah. Jika ditinggalkan, baik seluruhnya maupun sebagiannya,
    maka raka’at sholatnya dihukumi tidak sah.

    Karena merupakan bagian dari surat al-Fatihah, maka bacaan basmalah ini dianjurkan untuk dikeraskan bacaannya ketika seseorang membaca surat al-Fatihah dalam sholat jahr.
    “Dari Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan bacaan basmalah.” (Sunan ad-Daruquthni juz 1 halaman 307 [20], al-Mu’jam al- Kabir juz 10 halaman 277 [10651], al-Mu’jam al-Awsath juz 1 halaman 15 [35])

    Salah seorang imam terkemuka dari madzhab Syafi’i, yaitu al-Imam Zakariya Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi di dalam kitabnya Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab menyebutkan:
    “Berkata ibn Khuzaimah di dalam karyanya, adapun pendapat yang menyatakan bahwa bacaan
    basmalah dibaca secara keras, ini adalah pendapat yang benar. Telah ada hadits dari Nabi
    Shollallaahu ‘alaihi wa sallam dengan sanad yang muttashil (para perawinya tsiqat dan sanadnya
    benar-benar bersambung sampai kepada Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam), tidak
    diragukan, serta tidak ada keraguan dari para ahli hadits tentang shahih serta muttashil-nya sanad
    hadits ini. Selanjutnya ibn Khuzaimah berkata: Telah jelas, dan telah terbukti bahwa Nabi
    Shollallaahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan bacaan basmalah di dalam sholat. Dan mentakhrij
    pula Abu Hatim ibn Hibban di dalam Shahih-nya dan ad-Daruquthni di dalam Sunan-nya beliau
    berkata: Hadits ini shahih, seluruh perawinya tsiqat. Dan meriwayatkan pula al-Hakim di dalam
    Mustadrak, beliau berkata: Hadits ini shahih menurut syarat-syarat al-Bukhari dan Muslim. ”
    (Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, juz 3 halaman 302)

    c. Membaca Amin
    Setelah selesai membaca surat al-Fatihah, hendaknya membaca Amin. Disebutkan di dalam
    sebuah hadits: “Dari Wa’il bin Hujr ia berkata: Saya mendengar Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam membaca “Ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladhdhalliin”, selanjutnya beliau membaca: “Aamiin” dan
    mengeraskan suaranya.” (Sunan at-Tirmidzi, juz 2 halaman 27 [248], sunan al_baihaqi, juz 2 halaman 58 [2283])

  170. walaupun saya mengaku bermazhab syafe’i, bukan berarti saya memiliki pengetahuan yg mendalam tentang fiqh mazhab syafe’i. oleh karena itu, bila ada komentar saya yg salah dalam mengutip pendapat, mohon diluruskan. trm kasih.

  171. Bismillaah,

    KHILAFIYYAH BASMALAH

    Salah satu hukum fiqh yang sering diperdebatkan adalah hukum membaca basmalah saat membaca surat al-Fatihah baik di dalam shalat maupun di luar shalat.

    Syaikh Hasan Yamani berkata, “Sungguh seorang pencari ilmu ketika ilmu fiqh dan pandangannya tentang madzhab-madzhab bertambah, maka akan sedikit pengingkarannya terhadap masyarakat”

    Hadits mengenai membaca basmalah saat membaca surat al-Fatihah mempunyai riwayat yang berbeda-beda. Secara kesimpulan dapat di klasifikasikan menjadi 3.
    1. Riwayat Muslim dari Anas bahwa Rasulallah, Abu Bakar dan Umar dalam shalatnya tidak menyebut basmalah baik di awal atau akhir bacaan.

    2. Riwayat Ahmad, an-Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah bahwa Rasulallah, Abu Bakar dan Umar tidak mengeraskan membaca basmalah (lirih).

    3. Riwayat an-Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah dari Nu’aim al-Mujmir bahwa Abu Hurairah (hadits mauquf) dalam shalatnya membaca basmalah sebelum membaca surat al-Fatihah. Begitu juga riwayat ad-Daraqathni dari Abu Hurairah bahwa Rasulallah memerintahkan membaca basmalah saat membaca surat al-Fatihah .
    Dari hadits-hadits di atas, khilafiyyah antar madzhab-madzhab Islam tidak dapat di hindarkan.

    Menurut madzhab Malik, al-Auza’i dan Abu Hanifah, basmalah tidak termasuk dari bagian ayat surat al-Fatihah maupun surat yang lain. Menurut madzhab asy-Syafi’i dan sejumlah ulama, basmalah termasuk bagian ayat surat al-Fatihah dan surat-surat lain.

    Sedangkan dalam lingkungan madzhab Ahmad, masih terjadi silang pendapat, dan pendapat masyhur di kalangan madzhab tersebut, basmalah tidak termasuk bagian ayat surat al-Fatihah . Dan tentu semua mempunyai argumen masing-masing.

    Adapun hukum membacanya, madzhab Hanafi dan madzhab Hanbali mensyariatkan membacanya dengan lirih baik dalam shalat jahriyyah (Maghrib, Isya’ dan Shubuh) atau sirriyyah (Zhuhur dan Ashar ).

    Madzhab asy-Syafi’i mensyariatkan membacanya lirih saat dalam shalat sirriyyah dan membacanya keras saat dalam shalat jahriyyah. Sedangkan menurut madzhab Maliki, terjadi silang pendapat, sebagian mengatakan makruh membacanya dengan keras dan membacanya lirih di kalangan madzhab tersebut juga terjadi silang pendapat .

    Menurut madzhab Maliki sendiri, membaca basmalah dalam shalat hukumnya bisa sunat apabila ada tujuan menjaga khilafiyyah ulama, sebagaimana di jelaskan oleh mayoritas ulama bahwa menjaga khilafiyyah adalah di syariatkan.
    Dalam tafsir Zad al-Masir, Ibnul Jauzi mengatakan bahwa membaca keras basmalah yang menurut Syafi’iyyah di sunatkan adalah riwayat dari Mu’awiyyah, Atha’ dan Thawus.

    Wallaahu a’lam.

  172. Bismillaah,

    Mas Agung,

    Mengapa anda menanyakan masalah Qiyas seperti guru mengetes muridnya? Mengapa anda tidak melanjutkan bahasan diskusi ini: bacaan Al Fatihah. Apakah Al Fatihah dibaca ayat per ayat atrau boleh menyambung ayat dari ayat pertama hingga ayat terakhir? Apakah imam membaca “Amiin” atau tidak? Bila imam membaca, apakah bacaan “Amiin” makmum bersama-sama imam dari awal hingga akhir atau bagaimana?

    Saya yakin melanjutkan bahasan diskusi lebih bermanfaat daripada membicarakan masalah qiyas. Bila anda ingin menggunakan qiyas dalam bahasan tentang shalat, silahkan.

    Wallaahu a’lam.

  173. @Ibnu Suradi, saya punya teman, mirip dengan anda, jargonnya adalah kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Ketika dijelaskan syarat-syarat berijtihad, teman saya tersebut malah berkata : “Apakah hanya mujtahid yg diperbolehkan untuk berijtihad”. Dalam kamusnya pun cuma ada kata Sunnah dan Bid’ah. Namun, ketika berbicara tentang Ushul Fiqih, teman saya tersebut balik bertanya : “Apa itu Ushul Fiqih”?

    Kesimpulan : Bagaimana mungkin, orang yg memiliki jargon, kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, kemudian memvonis ini sunnah, ini Bid’ah, tapi Ushul Fiqih saja tidak tahu.

  174. @Ibnu Suradi, mengenai pertanyaan anda : “Apakah Al Fatihah dibaca ayat per ayat atrau boleh menyambung ayat dari ayat pertama hingga ayat terakhir? Apakah imam membaca “Amiin” atau tidak? Bila imam membaca, apakah bacaan “Amiin” makmum bersama-sama imam dari awal hingga akhir atau bagaimana?”

    SAYA JAWAB ; TIDAK TAHU

    1. Bismillaah,

      kang Agung,

      Kalau anda tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan: “Apakah Al Fatihah dibaca ayat per ayat atrau boleh menyambung ayat dari ayat pertama hingga ayat terakhir? Apakah imam membaca “Amiin” atau tidak? Bila imam membaca, apakah bacaan “Amiin” makmum bersama-sama imam dari awal hingga akhir atau bagaimana?”,

      bagaimana anda dapat melaksanakan shalat yang sesuai dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah terutama terkait pertanyaan tersebut kepada para sahabatnya yang kemudian menyampaikannya kepada generasi tabiin yang kemudian menyampaikannya kepada generasi taiut tabiin dan seterusnya?

      Saya sendiri belum banyak tahu tentang masalah itu, namun saya ingin mengetahuinya. Makanya, saya ajukan pertanyaan itu kepada forum. Ilmu tentang masalah itu penting sekali untuk saya miliki agar saya dapat shalat sesuai dengan tata cara shalat Rasulullaah shallallaahu ‘aliahi wa sallam.

      Wallaahu a’lam.

      1. @Ibnu Suradi, anda sendiri mengaku bahwa saudara belum banyak tahu tentang masalah itu (“Apakah Al Fatihah dibaca ayat per ayat atrau boleh menyambung ayat dari ayat pertama hingga ayat terakhir? Apakah imam membaca “Amiin” atau tidak? Bila imam membaca, apakah bacaan “Amiin” makmum bersama-sama imam dari awal hingga akhir atau bagaimana).

        Sekarang saya ingin balik bertanya, bagaimana anda dapat melaksanakan shalat yang sesuai dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah terutama terkait pertanyaan tersebut, sedangkan anda sendiri belum tahu?

        Mengenai pertanyaan anda tersebut, saya tahu, tapi takut salah dan tidak terlalu paham, daripada saya salah ucap, lebih baik saya menunggu jawaban saudara kita yg lain, yg lebih tahu dan paham tentang masalah tersebut.

  175. @Ibnu Suradi, maaf, bukan maksud saya untuk menggurui. Saya kan cuma bertanya, anda menerima qiyas atau tidak. cukup di jawab ya atau tidak. itu saja.

    Kemudian, mengapa saya bertanya pengertian qiyas, karena saudara berkata : “Qiyas pun musti merujuk kepada Qur’an dan hadits”. Setahu saya, tidak ada ulama yg melakukan qiyas tanpa merujuk kepada Al-Qur’an dan Hadist. Salah satu penggunaan qiyas adalah mengucapkan niat dalam shalat sebelum melakukan takbiratul ihram, yang dianalogikan dengan pengucapan niat dalam ibadah haji.

    Qiyas itu sendiri berarti, menetapkan hukum sesuatu perbuatan yg belum ada ketentuannya, berdasarkan sesuatu yg sudah ada ketentuannya disebabkan karena adanya persamaan tentang ‘ilat.

  176. Bismillaah,

    Kang Agung,

    Saya memang dalam perjalanan “Kembali kepada Qur’an dan Sunnah.” Hanya saja cara saya kembali adalah dengan mengikuti ulama yang menunjukkan kepada saya ayat Qur’an dan hadits sebagai dasar ibadah saya. Dalam shalat juga seperti itu. Saya mengikuti ulama yang menunjukkan kepada saya hadits-hadits sebagai dasar ibadah shalat saya.

    Wallaahu a’lam.

  177. @Ibnu Suradi, selain Al-Qur’an dan Hadist, sumber hukum islam yg telah disepakati adalah ijma’, kemudian baru qiyas. Selain itu ada yg namanya Istihsan, Maslahah Mursalah, ‘Urf dsb. Seorang ulama pernah berkata : “Mereka yg suka memvonis bid’ah, adalah mereka yg tidak tahu bagaimana cara mengeluarkan hukum islam”.

    Seperti cerita saya diatas, teman saya yg hobi bilang bid’ah, ternyata ushul fiqih saja tidak tahu.

    Mengenai perkataan anda : “Saya mengikuti ulama yang menunjukkan kepada saya hadits-hadits sebagai dasar ibadah shalat saya.”

    Mungkin perkataan Syaikh Ibn Taimiyah ini dapat kita pahami dengan baik :
    “Dalam sekian banyak hadits yang ditinggalkan, boleh jadi seorang ulama meninggalkan suatu hadits karena ia memiliki hujjah (alasan) yang kita tidak mengetahui hujjah itu, karena wawasan keilmuan agama itu luas sekali, dan kita tidak mengetahui semua ilmu yang ada dalam hati para ulama. Seorang ulama terkadang menyampaikan alasannya, dan terkadang pula tidak menyampaikannya. Ketika ia menyampaikan alasannya, terkadang sampai kepada kita, dan terkadang tidak sampai. Dan ketika alasan itu sampai kepada kita, terkadang kita tidak dapat menangkap alasan yang sesungguhnya (maudhi’ ihtijajihi), dan terkadang dapat menangkapnya.” (Syaikh Ibn Taimiyah, Raf’ual-Malam ‘an al-Aimmah al-A’lam, hal. 35).

    Contohnya saja dalam masalah hadist, tidak semua kitab kitab hadist itu sampai kepada kita. Imam Ibnu Hambali, menurut riwayat hafal Satu Juta Hadist. Tapi, jumlah hadits yg ditulis oleh Imam Ibnu Hambal dalam kitabnya Al Musnad, setahu saya tidak lebih dari 60.000 hadist. Coba bayangkan, berapa banyak hadist yg tidak kita ketahui.

    Jadi, bila ada ulama zaman sekarang yg menulis buku tentang tata cara sholat Rasulullah, namun bertentangan dengan tata cara sholat dalam mazhab yg muktabar. Saya lebih mengikuti mazhab yg ada dibanding ulama tersebut, walaupun ulama tersebut menunjukkan hadist yg dijadikannya sebagai dasar.

    Mengapa demikian, karena para Imam Imam Mazhab adalah generasi terbaik umat ini. Para Imam Imam mazhab tersebut bukan hanya belajar Al-Qur’an, Hadist beserta tafsirnya, tapi para Imam Imam tersebut melihat langsung tata cara atau praktik dari pendahulu mereka yg juga merupakan generasi terbaik umat ini.

    Syeikh Abdul Ghofar seorang ahli hadits yang bermadzhab Hanafi menukil pendapat Ibn Asy-Syihhah ditambah syarat dari Ibn Abidin Dalam Hasyiyah-nya, yang dirangkum dalam bukunya ‘Daf’ Al-Auham An-Masalah AlQira’af Khalf Al-Imam’, hal. 15: ”Kita melihat pada masa kita, banyak orang yang mengaku berilmu padahal dirinya tertipu. Ia merasa dirinya di atas awan, padahal ia berada dilembah yang dalam. Boleh jadi ia telah mengkaji salah satu kitab dari enam kitab hadits (kutub As-Sittah), dan ia menemukan satu hadits yang bertentangan dengan madzhab Abu Hanifah, lalu berkata buang- lah madzhab Abu Hanifah ke dinding dan ambil hadits Rasulallah saw.. Padahal hadits ini telah mansukh atau bertentangan dengan hadis yang sanad nya lebih kuat dan sebab lainnya sehingga hilanglah kewajiban mengamalkan- nya. Dan dia tidak mengetahui. Bila pengamalan hadis seperti ini diserahkan secara mutlak kepadanya maka ia akan tersesat dalam banyak masalah dan tentunya akan menyesatkan banyak orang ”.

    Imam Malik berkata: ”Para Ahli Ilmu dari kalangan Tabi’in telah menyampaikan hadits-hadits, lalu disampaikan kepada mereka hadits dari orang lain, maka mereka menjawab: ‘Bukannya kami tidak tahu tentang hal ini, tetapi pengamalannya yang benar adalah tidak seperti ini’ ” .

    Ibn Hazm berkata: Abu Darda’ pernah ditanya: ”Sesungguhnya telah sampai kepadaku hadits begini dan begitu (berbeda dengan pendapatnya-pent). Maka ia menjawab: ‘Saya pernah mendengarnya, tetapi aku menyaksikan pengamal annya tidak seperti itu’ ” .

    Al-Hafidz Ibn Rajab Al-Hambali dalam Kitabnya Fadhl ‘Ilm As-Salaf ‘ala Kholaf’ hal.9, berkata: “Para Imam dan Fuqoha Ahli Hadits sesungguhnya mengikuti hadits shohih jika hadits itu diamalkan dikalangan para Sahabat atau generasi sesudahnya, atau sebagian dari mereka. Adapun yang disepakati untuk ditinggalkan, maka tidak boleh diamalkan, karena tidak akan meninggalkan sesuatu kecuali atas dasar pengetahuan bahwa ia memang tidak diamalkan”.

    Ibn Abi zanad, “Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan para Ulama dan Fuqoha untuk menanyai mereka tentang sunnah dan hukum-hukum yang di amalkan agar beliau dapat menetapkan. Sedang hadits yang tidak diamalkan akan beliau tinggalkan, walaupun diriwayatkan dari para perawi yang ter- percaya”. Demikian perkataan Qodhi Iyadh.

  178. @Ibnu Suradi, diatas anda berkata : “Saya mengikuti ulama yang menunjukkan kepada saya hadits-hadits sebagai dasar ibadah shalat saya.”

    Boleh saya tahu, siap ulama yg anda maksud tersebut. Dalam memilih pendapat pendapat yg ada, anda pun mengikuti pendapat seorang ulama, karena anda bukan mujtahid, siapa ulama tersebut?

  179. Bismillaah,

    Ulama yang menunjukkan saya kepada hadits sebagai dasar ibadah shalat saya banyak. Ada Imam Malik, Imam Hanafy, Imam Syafii, Imam Ahmad, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayim, Nashiruddin Al Albani, Bin Baz, Utsaimin, Abdurrazak. dll.

    Wallaahu a’lam.

    1. Subhanallah…. Allah Maha Tahu siapa yang suka menyombongkan diri, @ibnu suradi, anda hebat bisa langsung ditunjukkan oleh para ulama tsb diatas tentang hadits dasar ibadah sholat, berarti anda bisa langsung bertemu, dan berguru pada ulama2 diatas, hebat ! bisa hidup diberbagai jaman dan bisa berguru langsung pada ulama yang tidak sejaman dengan kita saat ini.

      1. Bismillaah,

        Kang Prabu,

        Ulama-ulama yang telah saya sebutkan memang bertugas menyampaikan dan menjelaskan ayat Qur’an dan hadits kepada umat Islam. Beliau-beliau menunjukkan kepada umat Islam hadits-hadits sebagai dasar ibadah termasuk ibadah shalat. Dan saya adalah bagian dari umat Islam. Pada hakikatnya, fatwa ulama termasuk Imam Syafii adalah untuk umat islam seluruhnya termasuk saya dan anda, bukan hanya untuk orang yang sempat bertemu dengan dia.

        Sering para ulama berbeda pendapat dalam suatu masalah. Masing-masing ulama memiliki dasar hadits yang shahih. Untuk memilih salah satu darai pendapat-pendapat ulama yang berbeda tersebut, saya mendapatkan bimbingan dari guru saya.

        Wallaahu a’lam.

        1. @kang ibnu, kalau hal itu semua org juga tahu, terkadang kesombongan itu tidak terasa bagi yang melakukannya tapi cukup jelas bagi yang melihat, mendengar atau membacanya spt pada comment anda diatas dan comment2 anda sebelumnya. @kang ibnu, lalu kalau org lain mendapat bimbingan dari gurunya sendiri anda mengatakan bahwa cara mengajinya penuh dengan pendapat padahal para guru itu juga menyampaikan dalil sesuai dengan Alqur’an dan Hadits Nabi SAW, bagaimana dg anda sendiri ?

          1. Bismillaah,

            Kang Prabu,

            Guru itu berbeda-beda. Ada yang mengajar dengan menyampaikan pendapatnya berdasarkan fatwa ulama yang dilengkapi hadits sebagai dasar fatwa tersebut. Guru jenis ini yang saya ikuti. Ada juga guru yang menyampaikan pendapatnya tanpa menyampaikan dasar dari fatwa ulama yang dilengkapi hadits sebagai dasar fatwa tersebut. Guru jenis ini yang saya hindari.

            Wallaahu a’lam.

  180. @ibnu suradi
    Ente mengambil copasan yang merupakan kesimpulan dari pemilik blog n ente gak cek dikitab yang ada.
    Dari riwayat Anas ra, copasan ente menyimpulkan langsung :
    1. Imam Muslim dalam Shahihnya Jil. 1 hal. 300 meriwayatkan hadits dari Anas ra yang mengatakan : “Ketika suatu hari Rasulullah saw berada disekitar kami, tiba-tiba beliau mengantuk (tidur sebentar), lalu mengangkat kepalanya sambil tersenyum. Kami bertanya ; ‘Apa yang menyebabkan engkau tertawa wahai Rasulullah’? Beliau menjawab ; ‘Tadi ada surah yang diturunkan kepadaku, lalu beliau membaca Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rohim, innaa a’thainaaka al-kautsar….sampai akhir hadits”.
    2. Imam Nawawi mengatakan dalam Syarh Muslim-nya Jil. 4 hal. 111, bahwa “basmalah itu merupakan satu ayat dari setiap surah (kecuali surah Bara’ah atau at-Taubah) berlandaskan dalil bahwa basmalah itu ditulis didalam mushaf dengan khath (tulisan/kaligrafi) mushaf. Hal itu didasarkan kepada kesepakatan sahabat dan ijma’ mereka bahwa mereka tidak akan menetapkan sesuatu didalam (Al qur’an dengan khath Al qur’an) yang selain Al qur’an. Umat Islam sesudah mereka pun sejak dahulu sampai sekarang sepakat atau ber-ijma’ bahwa basmalah itu tidak ada pada awal surah Bara’ah dan tidak ditulis padanya. Hal itu semua menguatkan apa yang telah kami katakan”.

    Dari hadist itu kan jelas dan bisa kita lihat dari surat Hijr : 87
    Dan Sesungguhnya kami Telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang(*) dan Al Quran yang agung. (Al Hijr : 87)
    [*] yang dimaksud tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang ialah surat Al-Faatihah yang terdiri dari tujuh ayat. Kata-kata yang berulang didalam Al Qur’an adalah : 1. Ar Rahman, 2. Alhamdu, 3. Rabb, 4. Maliik, 5. Yaumiddiin, 6. Na’budu diambil dari kata ‘ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan, 7. Nastatin (minta pertolongan). Lihat kitab Al Ahkam al Qur’an Bab Fi ma Yu tsaru anhu asy syafi’i …. Karangan al Buwaithy.

    Dalam kitab al Mukhtasar al Muzani bab Syifah ash shalah karangan al Muzani disebutkan bahwa setelah ucapan Ta’awudzh, ummul Qur’an dibaca secara tartil dan dimulai dengan Basmalah, karena Nabi saw membaca ummul Qur’an dan menganggap Basmalah sebagai ayat.

    Kita lihat lagi kitab2 yang meriwayatkan hadis dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah :
    Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan Abu Hurairah ra serta yang lainnya : “ Bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad saw menjaharkan (bacaan) Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rohim”. (Hadits dari Ibnu Abbas, diriwayatkan oleh Al-Bazzar dalam Kasyf Al-Atsar Jil. 1 hal. 255 ; Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra Jil. 2 hal. 47 dan dalam kitab Ma’rifat As-Sunan wa Al-Atsar Jil. 2 hal. 308 dan lain-lainnya ; Al-Haitsami dalam Mujma’ Al-Zawaid Jil. 2 hal. 109 mengatakan, hadits tersebut di riwayatkan oleh Al-Bazzar dan rijal-nya mautsuuquun (terpercaya) ; Al-Daraquthni Jil. 1 hal. 303-304 telah meriwayatkan dalam berbagai macam isnad siapa pun yang menemukannya tidak akan meragukan keshahihannya. Rincian pembicaraannya dapat dilihat pada jil. 3 dari At-Tanaqudhat. Ada pun hadits dari Abu Hurairah ra yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dalam Al-Mustadrak-nya Jil. 1 hal. 232 dan perawi lainnya. Haditsnya shahih.

    Tentang madzhab Imam Malik yang tidak menjaharkan Basmalah adalah tidak ada dasarnya, karena Imam Malik dan Imam syafi’i telah bersepakat bahwa Basmalah adalah bagian dari 7 ayat dari Al Fatihah dan ini bisa disaksikan di Masjid2 Madinah yang mayoritas bermadzhab Maliki dan mereka menjaharkan Basmalah.
    Coba baca kitab-kitab sebelum Ibnu Taimiyah khususnya Tafsir.

    Memang kenyataan yang ada sekarang banyak yang tidak menjaharkan Basmalah, tapi ini bukan perbedaan dari Imam Madzhab tetapi dari para ahli tafsir yang menafsirkan Bahwa 7 ayat tersebut bukan al Fatihah, tetapi yang mempunyai ayat yang panjang yaitu Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Maaidah, An-Nissa’, Al ‘Araaf, Al An’aam dan Al-Anfaal atau At-Taubah.

    Lihat lagi riwayat dari Abu Hurairah ra :
    Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim Al-Mujmir (seorang Imam, Faqih, terpercaya termasuk periwayat hadits Shahih) sempat bergaul dengan Abu Hurairah ra selama 20 tahun : “Aku melakukan shalat dibelakang Abu Hurairah ra, maka dia membaca Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rohim lalu dia membaca Ummul Al qur’an hingga sampai kepada Wa laadh dhaalliin kemudian dia mengatakan Amin. Dan orang-orang pun mengucapkan amin. Setiap (akan) sujud ia mengucapkan Allahu Akbar. Dan apabila bangun dari duduk dia mengucapkan AllahuAkbar. Dan jika bersalam (mengucapkan assalamu ‘alaikum). Dia kemudian mengatakan : ‘Demi Tuhan yang jiwaku ada pada kekuasaan-Nya, sesungguhnya aku orang yang lebih mirip shalatnya dengan Rasulullah saw daripada kalian”.
    Hadist tsb ada dalam kitab Imam Nasa’i dalam As-Sunan jil. 1 hal. 134; Imam Bukhari mengisyaratkannya hadits tersebut dalam shahihnya jil.2 hal.266 dalam Al-Fath) ; Ibnu Hibban dalam shahihnya Jil. 5 hal. 100 ; Ibn Khuzaimah dalam shahihnya jil. 1 hal. 251 ; Ibn Al-Jarud dalam Muntaqa hal. 184 ; Al-Daraquthni jil. 1 hal. 300, mengatakan semua perawinya tsiqah ; Hakim dalam Al-Mustadrak jil. 1 hal. 232 ; Imam Baihaqi dalam As-Sunan jil. 2 hal. 58 dan dalam kitab Ma’rifat As-Sunan wa Al-Atsar jil. 2 hal. 371 dan mengatakan isnadnya shahih. Dan hadits itu dishahihkan oleh sejumlah para penghafal hadits seperti Imam Nawawi, Ibn Hajar dalam Al-Fath jil. 2 hal. 267. bahkan dia mengatakan bahwa Imam Nawawi membuat bab khusus ‘Menjaharkan Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rohim’, itulah hadits yang paling shahih mengenai hal tersebut).

    Tentang pembacaan Al Fatihah dah dijawab sekalian dengan riwayat dari Abu Hurairah diatas ya.

    Kalau ente gak membaca Basmalah yah silahkan, kalau ane yang mengikuti madzhab Syafi’i maka ane baca karena Imam syafi’i dalam kitab al Umm mengatakan :
    “Jika lalai membaca Basmalah, tetapi tetap membaca al Fatihah sampai selesai, maka dia harus mengulang bacaan al Fatihah itu yang diawali dengan Basmalah.

    Demikian ibnu suradi, supaya jelas.

  181. Kalau orang lain DITUDUH mengikuti pendapat orang. Tapi kalau Ibnu Suradi MENGIKUTI Rasulullah. Hebat ya Ibnu Suradi ya … Udah gitu bisa BERFATWA semaunya. Ibnu Suradi ini berniat BERDAKWA apa MENIPU sih? Apa begitu cara BERDAKWAH WAHABI? Pantas TEMAN ANDA memuji ANDA berdiskusi santun dan memiliki pengetahuan yang luas. Padahal sering salah nyebut nomor hadits yang katanya baca kitabnya, setelah dicek di kitab yang disebut, ternyata tidak ada. JANGAN MODAL NIPU TERUS DONG kalau berdakwah

  182. @ibnu suradi
    Gimana diskusinya mau lanjut gak ?
    Kalau mau lanjut, ada diskusi yang belum tuntas yaitu Isbal

    Kalau gitu ane koment tentang isbal.
    Ente bilang dalam koment-koment sebelumnya, bahwa Isbal dihukumkan Haram Mutlak. Coba kita lihat pendapat ulama2.
    1. Menurut ente ada hadist yang mengatakan bahwa Isbal adalah masuk neraka.
    2. Ada hadist yang ditujukan kepada Abu bakar ra : “Engkau bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.”

    Dari 2 hadist ini dapat disimpulkan bahwa jika isbal tidak dilakukan dengan sombong maka bisa berisbal. Kalau Isbal masuk neraka atau Allah tidak akan melihatnya diakhirat, kenapa Rasulullah tidak melakukan juga kepada Abu bakar ra.
    menurut ulama :

    1. Imam Nawawi
    Adapun hadits-hadits yang bersifat mutlak terkait bahwa apa yang dibawah mata kaki adalah Neraka, maksudnya adalah selama itu untuk kesombongan. Oleh karena sifat hadits itu adalah mutlak, maka wajib untuk dibawa kepada yang muqoyyad. (Syarah An-Nawawi ‘Ala Muslim, jil.14 hal. 63)
    2. Ibnu Hajar Asqalani
    Adapun Isbal tanpa kesombongan, maka Dhohir hadits-hadits bermakna ia juga diharamkan. Akan tetapi bisa juga berdalil dengan adanya Taqyid pada hadis-hadis dengan kondisi sombong untuk disimpulkan bahwa larangan isbal yang ada saat mencela isbal dibawa pada nash yang Muqoyyad, sehingga tidaklah haram menyeret pakaian dan Isbal jika aman dari kesombongan. (Fathu Al-Bari, jil.10, hal. 264)
    3. Ibnu Taimiyah
    Ini adalah nash-Nash yang lugas tentang pengharaman Isbal terkait dengan kesombongan. Nash yang mutlak dibawa pada yang muqoyyad. Disebutkan demikian karena umumnya, Isbal itu adalah karena kesombongan. (Syarhu Al Umdah, hal.364)
    4. Al Buwaithy
    Al-Buwaithi berkata dalam kitabnya Almukhtashor, dari as-Syafi’I, “Tidak boleh Isbal di dalam sholat dan di luar sholat dalam rangka sombong. Sementara untuk yang tidak sombong hal itu adalah sesuatu yang ringan (diperbolehkan) dengan dasar perkataan Nabi kepada Abu Bakr. (Nail Al-Author, jil. 2, hal. 112).
    5. Ibnu Abdil Barr berkata, “Pemahamannya adalah bahwa orang yang menyeret pakaian tanpa kesombongan tidak terkena oleh ancaman adzab.” (At-Tamhid, jil.3 hal. 244).

    Jadi silahkan ente baca Isbal menurut Ulama, kalau analisa ane, kenapa Rasulullah memberi perlakuan istimewa terhadap Abu bakar ra, ini dikarenakan Abu Bakar ra hatinya yang sudah bersih dari sifat sombong.
    Jangankan isbal, pakai topi, pakai kendaraan baru, pakai pakaian bagus, punya rumah bagus kalau dilakukan dengan sombong yah tempatnya pasti dineraka, apalagi kalau sombong buangeets.
    Ane baca juga selain Abu Bakar ra, masih banyak sahabat yang isbal. tapi ini terserah ente kalau mau isbal dihukumi oleh ente sebagai HARAM MUTLAK yah silahkan.

    Mungkin ustad @abu hilya akan menambahkan ! atau koreksi nya.

  183. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Isbal yang dibicarakan dalam diskusi ini adalah isbal dalam shalat, bukan isbal di luar shalat. Dikhususkan isbal dalam shalat karena ada hadits Abu Hurairah yang disampaikan oleh Kang @bu Hilya. Dalam hadits tersebut, Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah tidak menerima shalat orang yang isbal (kainnya turun hingga melebihi mata kaki).”

    Sebaiknya, diskusi dilanjutkan dengan persyaratan penyampaian fatwa ulama hendaknya dilengkapi hadits yang digunakan ulama tersebut sebagai dasar fatwanya. Bahasan tentang hukum dan cara membaca basmallaah Fatihah dalam shalat saya rasa sudah cukup. Mari kita teruskan dengan pembahasan tentang cara membaca ayat-ayat Fatihah. Apakah fatihah dibaca ayat per ayat atau boleh disambung?

    Silahkan memulai.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi, begini saja, anda kan membawakan sebuah hadist ; “Allah tidak menerima shalat orang yang isbal (kainnya turun hingga melebihi mata kaki).”

      Bagaimana pendapat ulama tentang hadist tersebut? Siapa ulama yg mengharamkan isbal ketika sholat?

      1. Bismillaah,

        Kang Agung,

        Penjelasan ulama tentang sabda Rasulullaah: “Allah tidak menerima shalat orang yang isbal (kainnya turun hingga melebihi mata kaki).” sudah disampaikan oleh Kang @bu Hilya. Dalam diskusi ini, saya juga menuntut ilmu. Jadi, penjelasan ulama oleh siapapun, yang saya belum mengetahuinya akan menjadi ilmu bagi saya.

        Pembahsan masalah itu sudah selesai. Sekarang, kita bahas saja masalah cara Rasulullaah membaca ayat-ayat Surat Fatihah. Apakah beliau membacanya ayat per ayat atau menyambung ayat satu dengan ayat berikutnya? Pernahkan beliau membaca Al Fatihah dari awal hingga akhir dalam satu tarikan nafas?

        Wallaahu a’lam.

        Sebaiknya, anda menyimak lagi penjelasan Kang @bu Hilya.

        Wallaahu a’lam.

    2. @ibnu suradi
      Yah cape deh.
      Tapi gak apa2, ane juga belum tahu suatu hukum yang berlaku sesaat. Sebab kalau dilihat riwayat Isbal, timbul karena pada zaman Rasulullah saw, Orang-orang kaya memakai pakaian yang panjang dan bisa dikatakan tukang sapu berjalan.
      Ane jadi pemerhati aja, tapi ingat @ibnu suradi setelah diskusinya selesai jangan di ulang lagi dikemudian hari atau di artikel lain.

      Silahkan dilanjut.

  184. @Ibnu Suradi, diatas anda berkata : “Ulama yang menunjukkan saya kepada hadits sebagai dasar ibadah shalat saya banyak. Ada Imam Malik, Imam Hanafy, Imam Syafii, Imam Ahmad, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayim, Nashiruddin Al Albani, Bin Baz, Utsaimin, Abdurrazak. dll.”

    Pertanyaan saya :
    1) Bagaimana pendapat anda tentang orang yang berpegang pada madzhab tertentu?

    2) Apakah wajib semua orang mengambil hukum langsung dari Al-Qur’an dan Hadits?

    3)Bolehkah seseorang itu berpindah-pindah dari satu imam keimam yang lain tanpa menetapi salah seorang imam madzhab secara terus menerus?

  185. @Ibnu Suradi, diatas anda berkata :Ulama yang menunjukkan saya kepada hadits sebagai dasar ibadah shalat saya banyak. Ada Imam Malik, Imam Hanafy, Imam Syafii, Imam Ahmad, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayim, Nashiruddin Al Albani, Bin Baz, Utsaimin, Abdurrazak. dll.

    Yang termasuk Imam Mazhab hanya empat orang, yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafe’i dan Imam Hambali. Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar bermazhab Syafe’i. Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayim bermazhab Hambali.

    Sekarang, apa mazhab Nashiruddin Al Albani, Bin Baz, Utsaimin, Abdurrazak?

  186. Bismillaah,

    Daripada menanyakan madzhab ulama-ulama yang telah saya sampaikan, lebih baik kita simak saja pendapat-pendapat mereka. Bila pendapat mereka berdasarkan hadits yang shahih datang dari Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka kita ambil pendapatnya.

    Biar tidak bertele-tele, sekarang kita langsung saja membahas cara Rasulullaah membaca ayat-ayat dalam Surah Fatihah. Apakah beliau membacanya ayat per ayat atau menyambung ayat satu dengan ayat berikutnya? Pernahkan beliau membaca Al Fatihah dari awal hingga akhir dalam satu tarikan nafas?

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi, saya kan cuma tanya. mungkin karena tidak bermazhab, jadi dengan mudahnya memvonis bid’ah. Ulama ulama seperti Imam Nawawi, Imam Ibn Hajar saja masih bermazhab.

      1. Bismillaah,

        Kang Agung,

        Apakah selama diskusi tentang tata cara shalat Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ini saya pernah menyampaikan kata bid’ah? Saya tidak pernah menyampaikannya. Saya berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan hadits dan penjelasannya dari ulama tentang tata cara shalat Rasulullaah.

        Wallaahu a’lam.

        1. @Ibnu Suradi, saya kan tidak menuduh anda. orang orang yg mengaku bermanhaj salafi, biasanya mengutip pendapat Nashiruddin Al Albani, Bin Baz, Utsaimin. Dan dengan mudahnya bilang bid’ah. kalau anda tidak seperti itu Alhamdulillah.

          Mohon dijelaskan diskusi tentang Al-Fatihah dan membaca amin, menurut pengetahuan saudara, Dan juga, kalau sempat, tolong pertanyaan saya yg lainnya di jawab jg. Meminjam istilah anda, biar tidak bertele tele.

    2. @Ibnu Suradi, biar tidak bertele tele, coba anda yg menjelaskan cara Rasulullaah membaca ayat-ayat dalam Surah Fatihah. Apakah beliau membacanya ayat per ayat atau menyambung ayat satu dengan ayat berikutnya? Pernahkan beliau membaca Al Fatihah dari awal hingga akhir dalam satu tarikan nafas?

  187. @Ibnu Suradi, mungkin jawaban berikut dapat sedikit mengobati kerinduan anda atas jawaban saya :

    “Rukun sholat yang keempat ialah membaca daripada surat al-Fatihah dengan menyertakan basmalah, memperhatikan tasydid, kesinambungan bacaan, urutan ayat, melafadzkan huruf dengan benar sesuai makhrajnya dan tidak ada kekeliruan yang dapat merusak maknanya.” (Syarah Sullamuttaufiiq)

    Setelah selesai membaca surat al-Fatihah, hendaknya membaca Amin. Disebutkan di dalam sebuah hadits:
    “Dari Wa’il bin Hujr ia berkata: Saya mendengar Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam selesai membaca “Ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladhdhalliin”, selanjutnya beliau membaca: “Rabbighfirlii Aamiin” (HR. Thabrani dan Baihaqi).

    Kalau Al-Fatihah dibaca dengan keras, amin juga dibaca dengan keras. Sebaliknya kalau Al-Fatihah dibaca tidak dengan keras, amin pun tidak dengan keras.
    Sabda Rasulullah s.aw. :
    “Apabila berkata imam waladhdhalliin, maka hendaklah kamu berkata amin. Maka sesungguhnya malaikat berkata amin pula, dan imam juga berkata amin, maka barangsiapa yang sama sama aminnya dengan amin malaikat, diampuni dosanya yg telah lau.” (HR. Ahmad dan Nasai)

    Sedangkan mengenai tata cara membaca Amin tersebut, Syaikh Muhammad bin Umar an-Nawawi al-Bantani memberikan penjelasan sebagai berikut:
    “Hendaknya janganlah engkau sambungkan bacaan Amin dengan bacaan Waladhdholliin. Akan tetapi keduanya dipisahkan dengan berhenti sejenak, untuk membedakan bacaan dzikr dengan bacaan al-Qur’an. Dan disunnahkan untuk membaca: ‘Rabbighfirlii’ (Wahai Tuhanku, ampunilah hamba)” (Syarh Maraqi al-‘Ubudiyyah halaman 48)

    Mengenai bacaan “Rabbighfirlii” sebelum membaca “Amin” ini, Imam Jalaluddin as-Suyuthi menjelaskannya di dalam kitabnya ad-Durr al-Mantsur fi at-Tafsiir bi al-Ma’tsur.

    Kalau saudara Ibnu Suradi punya penjelasan lain, akan kami tunggu.

  188. Dalam kitabnya yang berjudul “Sifat Shalat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam”, Muhhammad Nashiruddin Al Albani menulis bahwa Surah Fatihah dibaca ayat per ayat berdasarkan riwayat sebagai berikut:

    Ummu Salamah radhiallahu ‘anha pernah ditanya tentang cara bacaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam solat maka dia berkata:

    Dulu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memutuskan bacaan al-Qur’annya ayat demi ayat Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam Sunannya, hadis no. 4001. Para perawinya adalah thiqah sebagai dinyatakan oleh al-Nawawi dalam al-Majmu’, jld. 3, ms. 303. Beliau juga mengemukakan lafaz (كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا قَرَأَ يَقْطَعُ قِرَاءَتَهُ آيَةً آيَةً) yang dikeluarkan oleh al-Hakim, Ibn Khuzaimah dan al-Daraquthni dan seterusnya menukil kata-kata al-Daraquthni: “(Para perawi dalam) isnadnya thiqah keseluruhannya, dan ia adalah isnad yang sahih.”

    Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa-sallam sentiasa membaca al-fatihah dengan berhenti disetiap ayat. “Tidak menyambung satu ayat dengan ayat berikutnya”. (Hadis Riwayat AbuDaud dan Sahmi 64-65. Disahihkan oleh Hakim dan disetujui olehAz-zahabi.Diriwayatkan oleh ‘Amrad-Dani dalam kitab Al-Muktafa5/2.

    Seharusnya bacaan Fatihat al-Kitab ini diperhatikan dengan bersungguh-sungguh kerana setiap baris ayat yang diucapkan itu merupakan doa dan akan Allah Subhanahu wa Ta’ala memperkenankan doa tersebut dengan ucapan-Nya yang sungguh indah sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadis qudsi:

    Allah Tabaraka wa-Ta’ala berfirman:
    “Aku telah membahagi al-Fatihah menjadi dua bahagian, untuk-Ku dan untuk Hamba-Ku. Separuh untuk-Ku dan separuh untuk hamba-Ku dan hamba-Ku akan mendapat bahagian dari permohonan yang diucapkannya.”
    (Rasulullah meneruskan):
    “Bila hamba membaca Alhamdulillahirabbil’alamiin, Allah Ta’ala menyahut ‘Hamba-Ku memuji-Ku’.
    Bila hamba membaca Arrahmaanirrahiim, Allah Ta’ala menyahut ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku’.
    Bila hamba membaca Malikiyawmiddiin, Allah Ta’ala menyahut, ‘Hamba-Ku memuliakan-Ku.
    Bila hamba membaca Iyyaakana’budu Waiyyaakanasta’iin, (Allah menyahut): ‘Ini bahagian-Ku dan bahagian hamba-Ku akan dapat apa yang dimintanya.’
    Bila hamba membaca Ihdinashiraathal mustaqiim Shiraathaldzina an’amta’alaihim ghairilmaghdhuubi ’alaihim waladhdhaaliin, (Allah menyahut): ‘Itu adalah hak hamba-Ku, dia akan dapat apa yang dimintanya.”
    (Hadis Riwayat Muslim, Abu ‘Awanah dan Malik. Hadis ini mempunyai syahid dari hadis Jabir yang di riwayatkan oleh Shami dalam kitab Tarikh Jurjan, hlm. 144)

    Pertanyaan:

    Kalau membaca Fatihah dengan cara menyambung ayat yang satu dengan yang lain atau bahkan sambung menyambung dari ayat pertama hingga ayat terakhir, lalu kapan Allah menjawabnya?

    Wallaahu a’lam.

    1. Bismillah,

      Kang @Ibnu Suradi, maaf ikut nyela,

      Kalau membaca Fatihah dengan cara menyambung ayat yang satu dengan yang lain atau bahkan sambung menyambung dari ayat pertama hingga ayat terakhir, lalu kapan Allah menjawabnya?

      jika pertanyaan anda diatas dalam konteks etika / adab seorang hamba dalam sholat maka pertanyaan tersebut adalah sebuah peringatan baik bagi kita semua,

      namun jika konteks pertanyaan anda diatas adalah mempertanyakan bagaimana Alloh melakukannya, maka secara tidak sadar kita telah membatasi ke-Maha Kuasa-an Alloh…. dan semoga bukan ini maksud anda

      1. Bismillaah,

        Kang @bu Hilya,

        Syukron. Jazakallaahu. Anda telah mengingatkan saya dari membuat pertanyaan tidak pantas tentang Allah. Anda telah mencegah saya dari bersikap tajsim tentang sifat Allah.

        Seharusnya saya tidak melontarkan pertanyaan: “Kalau membaca Fatihah dengan cara menyambung ayat yang satu dengan yang lain atau bahkan sambung menyambung dari ayat pertama hingga ayat terakhir, lalu kapan Allah menjawabnya?”

        Pertanyaan ini sama seperti pertanyaan: “Bila Allah ada di atas langit, lalu di mana Allah sebelum langit diciptakanNya?” Atau pernyataan: “Kalau Allah beristiwa di atas Arsy, berarti Dia bergantung kepada makhlukNya.”

        Pertanyaan saya dan pernyataan-pernyataan yang sering dilontarkan orang tersebut menuntun kepada sikap tajsim tentang sifat Allah.

        Sekali laagi saya menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada anda. Syukron katsiran. Jazakallaahu.

        Wallaahu a’lam.

        1. Bismillah,

          Kang @Ibnu Suradi,

          sebenarnya kami ingin menanggapi pernyataan anda :

          Seharusnya saya tidak melontarkan pertanyaan: “Kalau membaca Fatihah dengan cara menyambung ayat yang satu dengan yang lain atau bahkan sambung menyambung dari ayat pertama hingga ayat terakhir, lalu kapan Allah menjawabnya?”

          Pertanyaan ini sama seperti pertanyaan: “Bila Allah ada di atas langit, lalu di mana Allah sebelum langit diciptakanNya?” Atau pernyataan: “Kalau Allah beristiwa di atas Arsy, berarti Dia bergantung kepada makhlukNya.”

          Pertanyaan saya dan pernyataan-pernyataan yang sering dilontarkan orang tersebut menuntun kepada sikap tajsim tentang sifat Allah.

          tapi biar diskusi sholat dengan mas Agung dan Mas Ucep tidak terputus, silahkan dilanjut dulu… nanti kalau anda sudah berkesempatan boleh kita diskusikan pernyataan anda diatas..Insya Alloh….

  189. @Ibnu Suradi, apa yg saudara sampaikan tata cara membaca Al-Fatihah, kurang lebih, sama dengan yg saya sampaikan, yaitu ;

    “Rukun sholat yang keempat ialah membaca daripada surat al-Fatihah dengan menyertakan basmalah, memperhatikan tasydid, kesinambungan bacaan, urutan ayat, melafadzkan huruf dengan benar sesuai makhrajnya dan tidak ada kekeliruan yang dapat merusak maknanya.” (Syarah Sullamuttaufiiq)

    kalau cara membaca amin, bagaimana?

  190. @ibnu suradi
    Penjelasan ente itu pada waktu Rasulullah shalat sendiri, dimana Rasulullah kalau membaca ayat al qur’an, jika bertemu ayat “berdoa” maka Rasulullah langsung berdoa atau memohon ampun, kalau Rasulullah bertemu ayat “azab” maka Rasulullah berdoa untuk berlindung kepada Allah begitu seterusnya, makanya shalat Rasulullah kalau sendiri akan lama.

    Jangan dibalik-balik ya

    Dalam Bulughul Maram karangan Ibnu Hajar Asqalani :
    Dalam riwayat Abi darda pernah bertanya kepada Aisyah rha : Bagaimana Rasulullah shalat, dijawab : berdirinya, Rukunya dan sujudnya sama waktunya, bahkan lebih lama dari kamu baca satu surah.

    Kalau shalat berjamaah, Rasulullah mempercepat bacaannya, karena pada jamaah ada orang yang tua (Renta), makanya Rasulullah bilang, ayat yang paling2 panjang dibaca adalah Al Ghasiyah dan Al A’laa.
    Pada waktu shalat jama’ah juga disunahkan membacanya dengan Tartil dan Tajwid yang bagus (lihat kitab bulughul maram-Ibnu Hajar Asqalani)

    Koment ente : “Pertanyaan:
    Kalau membaca Fatihah dengan cara menyambung ayat yang satu dengan yang lain atau bahkan sambung menyambung dari ayat pertama hingga ayat terakhir, lalu kapan Allah menjawabnya?”

    Pertanyaan ane : Apakah Allah sama dengan kita kalau menjawab ???????????????????????

    1. Bismillaah,

      Kang Ucep,

      Apakah yang dimaksudkan dari imam mempercepat bacaan shalat? Apakah imam membaca Fatihah atau Surah Qur’an dengan cepat atau mempersedikit jumlah ayat Qur’an yang dibaca? Kalau dasarnya dari riwayat tentang Muaz yang membaca Surah panjang saat shalat mengimami orang-orang di kampungnya atau riwayat tentang tangis bayi yang terdengar saat Rasulullaah shalat mengimami para sahabatnya, maka mempercepat bacaan ini adalah mempersedikit ayat Qur’an yang dibaca, bukan membaca Fatihah dan Surah dengan cepat, apalagi sangat cepat.

      Wallaahu a’lam.

      1. @ibnu suradi
        Maaf baru bisa ane jawab, karena kesibukan duniawi.
        “Apakah yang dimaksudkan dari imam mempercepat bacaan shalat?”
        Ane copas dan ringkas dari kitab : Shalat ash shalihin wa qashash al abidin karangan Ahmad Musthafa ath Thahthawi. Dar al Fadhilah Kairo.
        Menurut mazdhab Syafi’i, jika salah membaca surah Al Fatihah, maka bacaan Fatihah-nya tidak sah dan shalatnya batal.

        Menurut Ulama syarat sah membaca surat al-Fatihah ada sepuluh, yaitu:
        1.Tertib (yaitu membaca surat al-Fatihah sesuai urutan ayatnya).
        2.Muwalat (yaitu membaca surat al-Fatihah dengan tanpa terputus).
        3.Memperhatikan makhroj huruf (tempat keluar huruf) serta tempat-tempat tasydid.
        4.Tidak lama terputus antara ayat-ayat al-Fatihah ataupun terputus sebentar dengan niat memutuskan bacaan.
        5.Membaca semua ayat al-Fatihah.
        6.Basmalah termasuk ayat dari al-fatihah.
        7.Tidak menggunakan lagu yang dapat merubah makna.
        8.Membaca surat al-Fatihah dalam keaadaan berdiri ketika sholat fardhu.
        9.Mendengar surat al-Fatihah yang dibaca.
        10.Tidak terhalang oleh dzikir yang lain

        Berikut ini yang diperhatikan dalam membaca surah Al-fatihah :
        DU-LI-LAH (jika dibaca tanpa sabdu) sebetulnya DU-LIL-LAH
        HIR-ROB (bila dibaca dengan sabdu) sebetulnya HI-ROB
        KIY-YAU (bila dibaca dengan sabdu) sebetulnya KI-YAU
        KAN-NAK (bila dibaca dengan sabdu) sebetulnya KA-NAK
        KAN-NAS (bila dibaca dengan sabdu) sebetulnya KA-NAS
        I-YA (disebut tanpa sabdu) sebetulnya IY-YA .
        IYA bermaksud ”MATAHARI” . Dalam ayat ke 5, jika salah bacaanya akan bermaksud “kepada mataharilah kami sembah dan kepada matahari kami bermohon”

        Kemudian tempat-tempat tasydid dalam surah al-fatihah ada empat belas, yaitu:
        1.Tasydid huruf “Lam” jalalah pada lafal Illah
        2.Tasydid huruf “Ra’” pada lafal Ar Rahman
        3.Tasydid huruf “Ra’” pada lapal Ar Rohim
        4.Tasydid “Lam” jalalah pada lafal Al Hamdulillah
        5.Tasydid huruf “Ba’” pada kalimat Rabbul alamiin
        6.Tasydid huruf “Ra’” pada lafal Rahman
        7.Tasydid huruf “Ra’” pada lafal Rohiim
        8.Tasydid huruf “Dal” pada lafal Middiin
        9.Tasydid huruf “Ya’” pada kalimat Iyyakana’budu
        10.Tasydid huruf “Ya” pada kalimat Wa Iyya kanastaiin
        11.Tasydid huruf “Shad” pada kalimat Shirathol
        12.Tasydid huruf “Lam” pada kalimat Shirothol Ladzina

        Dalam shalat jama’ah, masih ada perbedaan pendapat, apakah makmum juga membaca surah al Fatihah atau tidak? atau jahar maupun sir, terserah pada makmumnya.
        Jadi pembacaan fatihah adalah dengan Tartil dan Tajwid yang baik, sehingga gak terjadi kesalahan dalam maknanya. Ada dibeberapa negara seperti malaysia, jika imam nya ompong maka diwajibkan untuk memakai gigi palsu, agar ma’roj nya menjadi baik.

        Kata “lalu kapan Allah menjawabnya ?”, adalah kalimat penghinaan terhadap sifat Allah azza wa jalla yaitu AL ALIYY (Maha Mengetahui).

        1. @Kang ucep, jadi tepat lah apa yg telah saya sampaikan :

          “Rukun sholat yang keempat ialah membaca daripada surat al-Fatihah dengan menyertakan basmalah, memperhatikan tasydid, kesinambungan bacaan, urutan ayat, melafadzkan huruf dengan benar sesuai makhrajnya dan tidak ada kekeliruan yang dapat merusak maknanya.” (Syarah Sullamuttaufiiq)

          Atas penjelasannya, saya ucapkan terima kasih.

  191. Bismillaah,

    Penjelasan yang saya sampaikan adalah mengenai tata cara Rasulullaah shallallaahu ‘akaihi wa sallam membaca ayat-ayat Fatihah saat shalat. Hadits-hadits yang disampaikan menunjukkan bahwa Rasulullaah membaca Fatihah ayat per ayat. Belia membaca satu ayat, lalu berhenti, lalu menlanjutkan membaca ayat berikutnya.

    Pertanyaan:

    Apakah beliau pernah membaca Fatihah dengan cara menyambung satu ayat dengan ayat berikutnya?Lalu bagaimana dengan cara membaca Fatihah dengan menyambung semua ayat dalam satu kali tarikan nafas seperti yang diamalkan banyak orang pada akhir zaman ini?

    Wallaahu a’lam.

  192. @Ibnu Suradi, maaf, saya tidak tahu akan jawaban pertanyaan saudara.

    Kalau boleh, saya ingin bertanya, cara membaca Al-Fatihah ayat demi ayat itu, termasuk rukun atau syarat sah sholat? Apa hukumnya, sunnah atau wajib?

  193. Bismillaah,

    Kang Agung,

    Mengetahui hukum suatu amalan itu wajib atau sunnah adalah bagus. Namun, yang ditekankan dalam diskusi ini adalah shalat yang diajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Kita ingin mengetahui bagaimana Rasulullaah mengajari para sahabatnya untuk shalat dari A sampai Z. Bagaimana Rasulullaah mengajari mereka membaca ayat-ayat Fatihah? Apakah beliau membaca ayat per ayat dengan berhenti di setiap akhir ayat atau menyambung ayat satu dengan ayat berikutnya? Atau beliau pernah membaca Fatihah dari ayat pertama hingga ayat terakhir dalam satu kali tarikan nafas?

    Kalau tidak mengetahui masalah ini, dikhawatirkan bahwa kita akan melakukan amalan yang tidak sesuai dengan yang diajarkan Rasulullaah.

    Wallaahu a’lam.

  194. @Ibnu Suradi, sangat penting tahu hukumnya, kalau dia syarat sholat, kalau tidak dikerjakan berarti sholat tidak sah. kalau dia sunnah berarti ditinggalkan tidak mengapa.

    1. Bismillaah,

      Kang Agung,

      Saya setuju bahwa mengetahui hukum wajib dan sunnah dalam shalat adalah penting. Dan yang juga penting adalah cara melaksanakan yang wajib dan yang sunnah dalam shalat. Ini hanya dapat diketahui dari tata cara shalat yang diajarkan oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Kalau kita melaksanakan shalat sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullaah dari takbir hingga salam, berarti kita sudah melakukan hal-hal yang wajib dan sunnah dalam shalat.

      Ustadz kami selalu mengajarkan cara shalat Rasulullaah secara rinci. Kami diajari bagaimana Rasulullaah berdiri menghadap kiblat, bertakbir, rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, duduk di antara dua sujud, duduk tasyahud, bacaan-bacaan shalat dan cara membacanya serta salam. Setelah itu, ustadz memberitahukan hal-hal yang wajib dan sunnah dalam shalat.

      Wallaahu a’lam.

  195. @Ibnu Suradi, bagaimana kalau kita masuk ke tata cara sholat selanjutnya, yaitu membaca ayat Al-Qur’an.

    Setelah membaca Amin, sebaiknya berhenti sejenak untuk sekedar memberikan jeda sebelum membaca ayat al-Quran. Bagi imam, hendaknya ia berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan kepada makmum untuk membaca surat al-Fatihah.

    Hukum membaca surat al-Quran adalah sunnah pada raka’at yang pertama dan raka’at yang kedua. Hal ini didasarkan kepada hadits Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam:
    dari ayahnya, bahwasanya Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam pada dua raka’at pertama sholat dzuhur membaca surat al-Fatihah dan dua surat yang lain. Sedangkan pada dua raka’at terakhir hanya membaca surat al-Fatihah. Kadang kala suara bacaan beliau terdengar oleh kami. Dan Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam memperpanjang raka’at pertama melebihi raka’at kedua. Begitu pula yang beliau Shollallaahu ‘alaihi wa sallam lakukan pada sholat ‘Ashr dan Shubuh.” (Shahih al-Bukhari, juz 3, halaman 236 [734])

    Adapun mengenai tata cara di dalam membaca surat al-Quran dijelaskan di dalam kitab Fath al- Mu’in:
    “Disunnahkan membaca Basmalah bagi orang yang membaca dari pertengahan surat, hal yang demikian ini ditegaskan oleh al-Imam asy-Syafi’i Rahimahullaahu Ta’aala.” (Fath al-Mu’in, juz 1, halaman 149)

    “Pada saat membaca suatu surat, namun tidak dimaksudkan untuk melanjutkan bacaannya di raka’at kedua, misalnya pada sholat tarawih, maka membaca satu surat secara sempurna lebih utama daripada membaca sebagian namun lebih panjang.” (Fath al-Mu’in, juz 1, halaman 149)

    “Disunnahkan memperpanjang bacaan surat al-Quran di raka’at yang pertama daripada raka’at yang kedua, selama tidak ada dalil yang memerintahkan untuk memperpanjang bacaan di raka’at yang kedua.” (Fath al-Mu’in, juz 1, halaman 150)

    “Disunnahkan untuk membaca surat sesuai urutan di dalam mushaf dan secara berurutan selama bacaan berikutnya tidak lebih panjang.” (Fath al-Mu’in, juz1, halaman 150).

  196. Bismillah,

    Kang @Ibnu Suradi,

    Terdapat perbedaan mendasar dalam cara kami dan anda dalam memahami sumber hukum dalam Islam, sebagaimana yang anda nyatakan :

    Ustadz kami selalu mengajarkan cara shalat Rasulullaah secara rinci. Kami diajari bagaimana Rasulullaah berdiri menghadap kiblat, bertakbir, rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, duduk di antara dua sujud, duduk tasyahud, bacaan-bacaan shalat dan cara membacanya serta salam. Setelah itu, ustadz memberitahukan hal-hal yang wajib dan sunnah dalam shalat.

    dimana kalau kami tidak salah menyimpulkan, anda menyandarkan pemahaman Tekstual dan Kontekstual Nash pada Ustadz anda, (maaf mohon tidak difahami sebagai ungkapan diskriminatif pada ustadz anda)

    sedangkan guru-guru kami lebih menyandarkan pemahaman Dalil-Dalil Al Qur’an maupun As Sunnah kepada para Ulama yang Mu’tabar, semisal Imam Syafi’i dengan Al Um-nya, Imam Ibnu Hajar dengan Fatawi-nya, Imam Nawawi dengan Majmu’-nya dll…

    sekali lagi mohon tidak difahami sebagai pernyataan diskriminatif, karena sesungguhnya masing-masing kita berhak menempuh jalan masing-masing dalam menggapai keselamatan Diddin wad Dunya Wal Akhiroh…. Semoga Bimbingan Alloh SWT senantiasa menyertai anda dan kita semua…

    1. @bu Hilya, mungkin guru guru saudara ibnu suradi termasuk mujtahid semua, sehingga mampu mentarjih setiap pendapat yg ada dalam mazhab yg empat.

      ibnu Suradi, pernah berkata: Ulama yang menunjukkan saya kepada hadits sebagai dasar ibadah shalat saya banyak. Ada Imam Malik, Imam Hanafy, Imam Syafii, Imam Ahmad, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayim, Nashiruddin Al Albani, Bin Baz, Utsaimin, Abdurrazak. dll.

      Kemudian saya tanya kepada saudara Ibnu Suradi : “apa mazhab Nashiruddin Al Albani, Bin Baz, Utsaimin, Abdurrazak?”

      kemudian dijawab Ibnu Suradi : “Daripada menanyakan madzhab ulama-ulama yang telah saya sampaikan, lebih baik kita simak saja pendapat-pendapat mereka. Bila pendapat mereka berdasarkan hadits yang shahih datang dari Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka kita ambil pendapatnya.”.

      Bagi saya, lebih baik mengikuti mazhab tertentu, daripada mengikuti seseorang yg tidak jelas mazhabnya.

    2. Bismillaah,

      Kang Agung,

      Kita sama. Ustadz-ustadz kami juga menyandarkan pemahaman Qur’an dan Sunnah kepada para ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Beliau menyampaikannya kepada para muridnya.

      Wallaahu a’lam.

      1. @ibnu Suradi, ulama ulama besar di tempat kami, biasanya menetapi satu mazhab tertentu, dan mayoritas bermazhab syafe’i.

        Perhatikanlah keterangan Imam ad-Dahlawi berikut ini:
        “Ketahuilah! Sesungguhnya ummat Islam atau ulama-ulama Islam yang ucapan-ucapannya dijadikan panutan telah sepakat tentang bolehnya bertaqlid kepada empat madzhab yang telah dibukukan secara otentik hingga pada masa kita sekarang ini. Dan dalam hal mengikuti empat madzhab tersebut terdapat maslahat (kebaikan) yang jelas terlebih lagi dimasa kita sekarang ini dimana semangat (mendalami ilmu agama) sudah jauh berkurang, jiwa sudah dicampuri hawa nafsu dan masing-masing orang selalu membanggakan pendapatnya sendiri. “

  197. Bismillaah,

    Kang Agung menulis: “Bagi imam, hendaknya ia berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan kepada makmum untuk membaca surat al-Fatihah.”

    Komentar:

    Dalam masalah apakah makmum membaca Fatihah atau tidak setelah imam selesai membaca Fatihah, para ulama berbeda pendapat. Ada yang mewajibkan makmum membaca Fatihah dan ada juga ulama yang tidak mewajibkan membaca makmum Fatihah tapi mendengarkan imam membaca surah.

    1. Madzhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah

    Menurut Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah bahwa makmum harus membaca bacaan shalat di belakang imam pada shalat yang sirr (suara imam tidak dikeraskan) yaitu shalat Dzuhur dan Ashar. Sedangkan pada shalat jahriyah (Maghrib, Isya, Shubuh, Jumat, Ied, dll.), makmum tidak membaca bacaan shalat.

    Namun bila pada shalat jahriyah itu makmum tidak dapat mendengar suara bacaan imam, maka makmum wajib membaca bacaan shalat.

    # Dari Malik dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari shalat yang beliau mengeraskan bacaannya. Lalu beliau bertanya,
    “Adakah diantara kamu yang ikut membaca juga tadi?”. Seorang menjawab,”Ya, saya ya Rasulullah”. Beliau menjawab, “Aku berkata mengapa aku harus melawan Al-Quran?” Maka orang-orang berhenti dari membaca bacaan shalat bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan bacaan shalatnya (shalat jahriyah).” (HR. Tirmizi).

    2. Madzhab Al-Hanafiyah

    Sedangkan Al-Hanafiyah menyebutkan bahwa seorang makmum tidak perlu membaca apa-apa bila shalat di belakang imam, baik pada shalat jahriyah maupun shalat sirriyah.

    # Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
    “Siapa shalat di belakang imam, maka bacaannya adalah bacaan imam.” (HR. Ad-Daruquthuny dan Ibnu Abi Syaibah)

    3. Madzhab Asy-Syafi’iyyah

    Dan Asy-Syafi`iyah mengatakan bahwa pada shalat sirriyah, makmum membaca semua bacaan shalatnya, sedangkan pada shalat jahriyah makmum membaca Al-Fatihah (Ummul Kitab) saja.

    # Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang maknanya :
    “Tidak ada shalat kecuali dengan membaca Al-Fatihah” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Hakim dalam Mustadrak).

    # “….Dan apabila imam membaca al-Qur’an, maka diamlah.” (HR. Muslim)

    # Dari ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengimami kami siang hari, maka bacaannya terasa berat baginya. Ketika selesai beliau berkata,
    “Aku melihat kalian membaca di belakang imam”. Kami menjawab,”Ya “. Beliau berkata, “Jangan baca apa-apa kecuali Al-Fatihah saja“. (Ibnu Abdil berkata bahwa hadits itu riwayat Makhul dan lainnya dengan isnad yang tersambung shahih).

    Wallaahu a’lam.

  198. Bismillaah,

    Kang Agung,

    Kita sedang berdiskusi. Masing-masing dari kita bisa mengajukan masalah untuk dibahas bersama. Bila saya mengajukan pertanyaan, berarti saya mengajukan suatu masalah yang bisa dibahas bersama. Jika saya menemukan jawaban dari pertanyaan saya sendiri, maka saya menyampaikannya untuk kita ketahui bersama. Bila anda memiliki jawaban, maka sampaikan jawaban anda di forum ini untuk diketahui bersama.

    Apa yang anda sampaikan, kalau benar, tidak perlu didebat. Namun, bila apa yang anda sampaikan belum lengkap, maka saya atau yang lain bisa melengkapinya. Dalam diskusi ini, kita bagi-bagi apa yang kita ketahui tentang tata cara shalat Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

    Dalam hal bacaan surat, ada yang ingin saya tanyakan. Surah apa saja yang biasa dibaca Rasulullaah saat shalat wajib Dhuhur, ‘Asyar, Maghrib, ‘Isya’ dan Subuh?

    Wallaahu a’lam.

  199. @Ibnu Suradi, mengenai pertanyaan anda : Surah apa saja yang biasa dibaca Rasulullaah saat shalat wajib Dhuhur, ‘Asyar, Maghrib, ‘Isya’ dan Subuh?

    Saya tidak tahu. Saya hanya tahu mengenai tata cara di dalam membaca surat al-Quran seperti yg telah saya jelaskan diatas.

    “Dari Musa bin Isma’il ia berkata: berkata Hammam dari Yahya dari Abdullah bin Abi Qatadah
    dari ayahnya, bahwasanya Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam pada dua raka’at pertama sholat
    dzuhur membaca surat al-Fatihah dan dua surat yang lain. Sedangkan pada dua raka’at terakhir
    hanya membaca surat al-Fatihah. Kadang kala suara bacaan beliau terdengar oleh kami. Dan
    Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam memperpanjang raka’at pertama melebihi raka’at kedua.
    Begitu pula yang beliau Shollallaahu ‘alaihi wa sallam lakukan pada sholat ‘Ashr dan Shubuh.”
    (Shahih al-Bukhari, juz 3, halaman 236 [734])

  200. Bismillah,

    Kang @Ibnu Suradi, ajakan anda sbb

    Mari kita shalat yang sesuai dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

    Ajakan anda diatasa adalah da’wa mulia, namun menimbulkan pertanyaan ?

    tentang siapa sebenarnya yang anda ajak? dalam hal ini ada dua kemungkinan kemungkinan

    – mereka atau kami yang menurut anda sholatnya tidak atau belum seperti yang diajarkan Rosululloh? lantas selam ini solat mereka atau kami menurut anda mencontoh siapa ?

    – anda mengajak orang-orang yang sholatnya telah mengikuti Rosululloh SAW, jika benar terhadap mereka ajakan anda ditujukan, maka ajakan anda “Tahshilul Hashil”

    semoga kita semua menyadari, bahwa semangat dalam diskusi ini adalah menambah pengetahuan dan khazanah ilmu beragama kita,dan bahwa selama ini kita hanya berupaya sebaik mungkin menjalankan perintah agama ini, dan diantara kita semua tak satupun yang memiliki jaminan sholat kita-lah yang paling sesuai dengan Rosululloh SAW,….

    1. Bismillaah,

      Kang @bu Hilya,

      Situs ini dikunjungi oleh banyak orang. Bisa jadi di antara mereka ada yang belum mengetahui ilmu tata cara shalat Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Mereka perlu diajak untuk shalat sesuai dengan tata cara shalat Rasulullaah. Bagi yang sudah mengetahuinya, maka ajakan ini akan memantapkan hatinya.

      Wallaahu a’lam.

  201. Bismillaah,

    Sebaiknya, kawan-kawan lain seperti @bu Hilya, Abu Dzar, Mas Derajad, Ahmad Syahid ikut serta aktif dalam diskusi tentang masalah yang sangat penting, yakni, tata cara shalat Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Saya yakin partisipasi mereka akan membuat diskusi ini lebih lengkap. Tentu penjelasan lebih dari dua orang lebih kaya daripada penjelasan dua orang: saya dan Kang Agung.

    Wallaahu a’lam.

    1. Lho, kang Ibnu Suradi belum tobat juga dari paham sesat Wahabi toh? Padahal kan sudah sekian lama berdiskusi panjang lebar dg anak2 ASWAJA yg cukup berbobot. Sebenarnya antum nyimak apa nggak sih terhadap koment2 yg diberikan oleh partner diskusi? Kok kelihatannya tidak ada yg berbekas di hatimu Kang? Atau ini yang namanya hati sudah terhijab oleh kebodohan yg terkayakan?

      Tahu nggak Kang Ibnu, apa itu kebodohan yg TERKAYAKAN?

  202. Bismillaah,

    Kang Yanto yang berjenggot,

    Dalam berdiskusi tentang tata cara shalat Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, saya tidak peduli apakah seseorang itu Wahabi atau NU, Muhammadiyah, PKS, Jamaah Tabligh dan yang lainnya. Asalkan dia menyampaikan ilmu tentang tata cara shalat Rasulullaah dari hadits shahih dan fatwa ulama Ahlussunnah wal Jamaah, maka saya menerimanya.

    Bila anda mengetahui, silahkan anda menyampaikan penjelasan tentang surah-surah yang biasa dibaca Rasulullaah saat shalat Dhuhur, Asyar, Maghrib, Isya dan Subuh yang sedang menjadi bahasan diskusi ini.

    Diskusi ini sedang berjalan baik. Janganlah anda mengganggunya dengan provokasi.

    Wallaahu a’lam.

    1. Ibnu Suradi says:

      silahkan anda menyampaikan penjelasan tentang surah-surah yang biasa dibaca Rasulullaah saat shalat Dhuhur, Asyar, Maghrib, Isya dan Subuh…

      Kang Ibnu Suradi, kalau saya sholat “Dhuhur, Asyar, Maghrib, Isya dan Subuh…” tapi surah-surah yg saya baca tidak mengikuti yg biasa dibaca Nabi gemana hukum,nya, syah apa batal sholat saya kang Ibnu?

  203. @ibnu suradi
    Banyak hadist dan riwayat tentang bacaan surah setelah al Fatihah, yang gak mungkin disebutkan disini, seperti shalat magrib seorang sahabat meriwayatkan : Rasulullah lebih senang dengan membaca surat At Tiin dirakaat pertama dan rakaat kedua al Kafirun. Ada lagi sahabat yang meriwayatkan rakaat pertama al Kafirun kemudian rakaat kedua an Naas, dst

    Berdasarkan madzhab ane Imam syafi’i berdasarkan kitab Bulughul Maram dan Al Umm : Yang terpenting dan diperhatikan disini adalah surah pada rakaat kedua harus lebih pendek dari surah pertama.

    Menurut ente gimana ?
    Ane juga ingin tahu seperti apa ente shalat “Mari kita shalat yang sesuai dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.

  204. @ibnu suradi
    Telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farrukh telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Manshur dari al-Walid Abi Bisyr dari Abu ash-Shiddiq an-Naji dari Abu Sa’id al-Khudri “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu membaca dua rakaat pertama dari shalat zhuhur; pada setiap rakaat kira-kira tiga puluh ayat, dan pada dua rakaat berikutnya kira-kira lima belas ayat atau dia mengatakan setengah dari hal tersebut. Sedangkan dua rakaat pertama dari shalat ashar; maka pada setiap rakaat sekedar bacaan lima belas ayat dan pada dua rakaat lainnya sekedar setengah dari hal tersebut.” (HR Muslim no.688)

    Masih banyak hadist sejenis, silahkan ente maknai !!!

  205. Bismillaah,

    Kang Agung dan Kang Ucep sudah menyampaikan hadits dan perkataan ulama yang menunjukkan bahwa Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca surah pada rakaat pertama lebih panjang daripada pada rakaat kedua.

    Kang Ucep sudah menyampaikan bahwa Rasulullah lebih senang dengan membaca surat At Tiin dirakaat pertama dan rakaat kedua al Kafirun. Ada lagi sahabat yang meriwayatkan rakaat pertama al Kafirun kemudian rakaat kedua an Naas, dst. Sayang sekali Kang Ucep tidak menyampaikan hadits secara lengkap dengan periwayatnya.

    Meski hadits mengenai surah-surah yang biasa dibaca oleh Rasulullaah saat shalat wajib banyak sekali, namun tidak mengapa hadits-hadits itu disampaikan di sini. Biar teratur, penyampaian hadits dan perkataan ulama dimulai dari surah yang biasa dibaca Rasulullah saat shalat Maghrib yang sudah disinggung sedikit oleh Kang Ucep.

    Wallaahu a’lam.

  206. @Ibnu Suradi
    Maaf interupsi nih… Mengingatkan pertanyaan Mas Yanto Jenggot. Apakah bila dalam sholat maghrib, asyar, subuh dll, kita baca surat tidak seperti yang dibaca Rasulullah, lalu sholat kita tersebut dikatakan tidak sesuai sholat Rasulullah? Apakah yang demikian dikategorikan menentang sunaah? Syah gak sholatnya?

    1. Bismillaah,

      Kang Bima,

      Fokus kita dalam diskusi ini adalah mengungkap tata cara shalat Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kita berusaha menyampaikan apa yang dilakukan Rasulullaah saat shalat termasuk surat dalam membaca surah setelah Fatihah. Surah apa saja yang biasa dibaca Rasulullaah saat shalat wajib. Itu dulu folkus kita. Mengenai hukum-hukumnya termasuk membaca surah yang tidak biasa dibaca Rasulullaah, kita mengikuti pendapat ulama Ahlussunnah wal Jamaah saja.

      Wallaahu a’lam.

  207. @Ibnu Suradi
    Kan tinggal dijawab aza … menentang Rasullah gak? Syah ga? Jangan PELIT sama Ilmu. Kalau emang ga syah biar kita tinggalkan.

    1. Mas Bima…. Sepertinya Kang Ibnu Suradi bingung, sebab menurut kaidah Wahabi kan Sunnah itu lawannya Bid’ah, jadi kalau surah2 yg saya baca tidak ikut seperti yg biasa dibaca Nabi berarti kan surah2 yg saya baca itu surah2 Bid’ah, ya kan mas Bima Asy syafi’i? benar begitu kan kang Ibnu Suradi, antum kan punya kaidah lawannya Sunnah itu Bid’ah, hayo ngaku Kang…..

      makanya antum bingung ya jawab pertanyaan saya di atas, pasti akan timbul kontradiksi dg kaidah-kaidah yg antum hapal tsb. 😆 😆 😆

      1. Kang Ibnu Suradi,

        Kalau surah2 yg saya baca tidak ikut seperti yg biasa dibaca nabi kan itu berarti Bid’ah menurut KAIDAH WAHABI?
        kalau Bid’ah kan pasti terlarang menurut kaidah Wahabi?
        kalau terlarang berarti kan tidak syah bacaannya, begitu Kang Ibnu Suradi?
        kalau tidak syah bacaannya berarti kan berarti sholatnya batal, begitu kan jawabannya Kang Ibnu Suradi?

        Jika antum menjawab dg konsisten berdasar kaidah Wahabi pastilah jawabannya seperti itu Kang Ibnu Suradi.

        1. Hmmmm… saya setuju dg gaya kang Yanto dalam rangka menyadarkan kang Ibnu Suradi,
          Kang Ibnu Suradi memang harus dituntun cara mikir yg tertib seperti itu, biar konsisten dg kaidah-kaidah wahabi yg dianutnya.

  208. @Mas Yanto Jenggot
    Betul sekali Mas. Padahal dia paling “usil” mengomentari hampir semua judul artikel. Bahkan ketika “ditegur” Ustadz @bu Hiya atas pertanyaannya “Bagaimana Allah menjawab bacaan Al Fatihah”, dia berbalik dengan pernyataan bahwa pertanyaan “Di mana Allah ketika Arasy dan langit belum diciptakan” sebagai pertanyaan yang jism. Padahal pertanyaan seperti itu (kalau saya tidak salah) datang dari para ulama. Mudah2an suatu saat Ustadz @bu Hiya akan menanggapinya.
    @Ibnu Suradi
    Sebenarnya Anda itu “sangat sombong” tapi tidak merasa. Ketahuilah sifat sombong itu tidak baik.
    Mhn maaf kalau tidak berkenan.

  209. Benar kawan-kawan semua, ibnu suradi telah menuduh kita shalat tidak seperti yang Rasulullah ajarkan kepada kita semua (aswaja), hal ini melihat koment-komen ibnu suradi yang tidak sedikitpun memberikan pernyataan Bagaimana Rasulullah Shalat atau ibnu suradi tidak mau memberikan ilmunya kepada kita Bagaimana Rasulullah shalat.

    Kalau ane baca-baca kitab, Jangankan kita bahkan sahabatpun tidak tahu persis Bagaimana Rasulullah Shalat !!!
    Sampai Sahabat Abi darda ra, Ibnu Mas’ud ra pun sering bertanya kepada Aisyah rha sering bertanya : “Bagaimana Rasulullah Shalat ?”. Bahkan ada sebagian sahabat yang menunggu dirumah Rasulullah, hanya cuma ingin melihat Rasulullah shalat.

    Apalagi kita yang jauh, kalau gak mengikuti Ulama yah bagaimana kita tahu.
    Kalau Ibnu suradi merasa shalatnya seperti pas persis seperti Rasulullah, sungguh hebat, makanya ane ingin belajar sama ibnu suradi.

    OK @ibnu suradi, beritahu kita-kita ini yang gak tahu cara Rasulullah shalat :
    1. Tentang cara ruku’
    2. Tentang cara sujud
    Yang Rasulullah ajarkan kepada sahabat, karena ini bagian inti dari shalat.

  210. @Ibnu Suradi, kalau saudara mengetahui semua hadist yg berkaitan dengan surah yg dibaca Rasulullah pada waktu shalat zuhur, ‘asyar, maghrib, isya’ dan subuh, silahkan saudara cantumkan.

    Hukum membaca surat al-Quran adalah sunnah pada raka’at yang pertama dan raka’at yang kedua. Artinya, ditinggalkan pun tidak berdosa atau membatalkan shalat. Namun, jika saudara mempunyai pendapat yg lain, silahkan saudara sebutkan. jika tidak, mari beralih ke bahasan yg lain, yaitu tentang rukuk. Ok?

  211. Bismillaah,

    Setelah menunggu jawaban dari kawan-kawan semua tentang surah yang biasa dibaca Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam namun belum juga muncul, akhirnya saya menemukannya dalam kitab yang dikarang oleh ulama yang mungkin anda sering kritisi, yakni Kitab Sifat Shalat Nabi karya Muhammad Nashiruddin Al AlBani.

    Surah-surah lain yang pernah dibaca oleh Rasulullah n dalam shalat subuh bisa dirinci sebagai berikut:
    1. Surah al-Waqi’ah dan semisalnya
    Hal ini tersebut dalam hadits Jabir bin Samurah z yang diriwayatkan oleh al-Hakim (1/240) dan Ahmad (5/104). Al-Hakim t berkata, “Sahih menurut syarat Muslim,” dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Al-Imam al-Albani t mengatakan dalam al-Ashlu (2/431) bahwa keadaan hadits ini adalah sebagaimana yang dikatakan oleh keduanya.
    2. Ketika menunaikan haji Wada’, Rasulullah n membaca surah ath-Thur
    Ini seperti dikabarkan oleh Ummu Salamah x, yang dibawakan oleh al-Imam al-Bukhari t dalam Shahih-nya secara mu’allaq, ”Bab al-Jahru bi Qira’ati Shalatil Fajr”. Ummu Salamah x mengatakan, “Aku thawaf di belakang orang-orang dan Nabi n sedang mengerjakan shalat dengan membaca ath-Thur.”3
    3. Surah Qaf dan semisalnya pada rakaat pertama
    Ini disebutkan oleh hadits Jabir ibnu Samurah z yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (no. 1027 dan 1028).
    4. Surah-surah mufashshal yang pendek semacam at-Takwir
    Ini disebutkan oleh riwayat ‘Amr ibnu Huraits z yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (no. 1023).
    5. Sekali waktu Rasulullah n membaca surah al-Zalzalah dalam dua rakaat (dibaca dalam rakaat pertama dan dibaca lagi dalam rakaat kedua)
    Sampai-sampai perawi yang membawakan riwayat ini mengatakan, “Aku tidak tahu, apakah Nabi n lupa atau beliau mengulang bacaannya dengan sengaja4.” (HR. Abu Dawud no. 816, disahihkan sanadnya oleh al-Imam an-Nawawi t dalam al-Majmu’. Kata al-Imam Albani t, “Semua perawinya adalah perawi Syaikhani, selain Mua’dz ibnu Abdillah al-Juhani. Dia tsiqah, menurut pendapat Ibnu Ma’in, Abu Dawud, dan selainnya. al-Ashlu, 2/435)
    6. Dalam suatu safar, Rasulullah n membaca al-Mu’awwidzatain (surah al-Falaq dan an-Naas)
    Ini sebagaimana disebutkan oleh hadits ‘Uqbah ibnu ‘Amir z. (HR. Abu Dawud no. 1462 dengan sanad yang hasan, al-Ashlu, 2/437)
    7. Terkadang Rasulullah n membaca surah yang lebih panjang sejumlah 60—100 ayat
    Ini seperti tersebut dalam hadits Abu Barzah al-Aslami z yang dikeluarkan al-Imam Muslim (no. 1031 dan 1032).
    8. Surah ar-Rum
    Ini disebutkan dalam hadits al-Aghra al-Muzani z yang diriwayatkan oleh al-Bazzar. Haditsnya hasan dengan syahid (pendukung) yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i (no. 947) dari seorang sahabat Rasulullah n dan sanadnya hasan (al-Misykat, 295).
    9. Sekali waktu saat Rasulullah n mengerjakan shalat subuh di Makkah, beliau membaca surah al-Mu’minun. Ketika sampai pada ayat yang menyebutkan Musa dan Harun5 atau Isa6—ada keraguan pada perawi—Rasulullah n batuk, beliau pun ruku’.
    Ini disebutkan oleh hadits Abdullah ibnus Sa’ib z yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari secara mu’allaq dalam Shahih-nya, “Kitabul Adzan, Bab al-Jam’u bainas Suratain fir Rak’ah” dan Muslim (no. 1022).
    10. Surah ash-Shaffat
    Ini seperti disebutkan oleh hadits Ibnu Umar c yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (2/40) dengan sanad yang hasan (al-Ashlu, 2/443).
    11. Di waktu fajar hari Jum’at, pada rakaat pertama Rasulullah n membaca surah as-Sajdah dan rakaat kedua membaca al-Insan.
    Ini sebagaimana tersebut dalam banyak hadits, di antaranya hadits Abu Hurairah z yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 891) dan Muslim (no. 2031)7.

    Untuk surah yang biasa dibaca Rasulullaah saat shalat wajib lainnya menyusul, menunggu tanggapan dari kawan-kawan semua.

    Wallaahu a’lam.

  212. @ibnu suradi
    Hebat banget, ente udah kerjaiin seperti yang ente sebutin???. Walau ente copas dari Asysyariah.com.
    Harusnya iya, ente tulis ente pasti kerjakan ya.
    Hebat buanget shalatnya kaum wahabi kalau begitu.

  213. Bismillaah,

    Surah-surah yang biasa dibaca Rasulullaah setelah Fatihah saat Shalat Zhuhur:

    Dalam shalat zhuhur, Rasulullah memanjangkan rakaat yang pertama lebih dari rakaat yang kedua. Ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits Abu Qatadah z:
    كَانَ النَّبِيُّ n يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُوْلَيَيْنِ مِنَ الصَّلاَةِ الظُّهْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُوْرَتَيْنِ، يَطُوْلُ فِي الْأُوْلى وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ وَيُسْمِعُ الْآيَةَ أَحْيَانًا …
    “Adalah Nabi dalam dua rakaat yang awal dari shalat zhuhur membaca Ummul Kitab (al-Fatihah) dan dua surah. Beliau memanjangkan qiraah dalam rakaat yang pertama dan memendekkannya dalam rakaat kedua. Terkadang beliau memperdengarkan kepada kami ayat yang beliau baca ….” (HR. al-Bukhari no. 759 dan Muslim no. 1012)
    Terkadang beliau n sangat memanjangkan bacaan dalam rakaat pertama. Sampai-sampai ada seseorang yang pergi ke Baqi’ saat diserukan iqamah shalat zhuhur guna menunaikan hajatnya, lalu ia pulang ke rumahnya, berwudhu, dan datang ke masjid lagi dalam keadaan Rasulullah masih di rakaat pertama. (HR. Muslim no. 1020 dari Abu Sa’id al-Khudri z)
    Menurut dugaan para sahabat g, Rasulullah n memanjangkan demikian agar orang-orang yang belum datang bergabung dalam jamaah sempat mendapati rakaat pertama. Demikian yang ditunjukkan oleh hadits Abu Qatadah z yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 800) dan hadits ini sahih sebagaimana dalam Shahih Sunan Abi Dawud.
    Diperkirakan bacaan Rasulullah n pada rakaat pertama dan kedua sekitar 30 ayat seperti membaca surah as-Sajdah. Hal ini dikabarkan oleh Abu Said al-Khudri z. Beliau z berkata, “Kami memperkirakan berdirinya Rasulullah n dalam shalat zhuhur dan ashar. Dalam dua rakaat pertama shalat zhuhur, kami perkirakan Rasulullah n berdiri sekadar bacaan 30 ayat, seperti kadar membaca surat Tanzil as-Sajdah. Adapun berdirinya beliau dalam dua rakaat yang akhir kami perkirakan separuh dari itu (kira-kira bacaan 15 ayat). Kami memperkirakan berdirinya Rasulullah n pada dua rakaat yang awal dari shalat ashar sekitar setengah dari itu. Kami perkirakan berdirinya beliau dalam dua rakaat yang akhir sekitar separuh dari dua rakaat yang pertama.” (HR. Ahmad 3/2 dan ini adalah lafadz beliau, Muslim [no. 1014] dan al-Bukhari dalam Juz Qira’ah-nya hlm. 25)
    Para sahabat sayup-sayup pernah mendengar Rasulullah membaca surah al-A’la dan al-Ghasyiyah, sebagaimana tersebut dalam hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisi dalam al-Mukhtarah. (Sanadnya sahih menurut syarat Muslim, al-Ashlu, 2/462)
    Pernah pula Rasulullah membaca surah al-Buruj dan ath-Thariq, serta surah semisal keduanya. (HR. al-Bukhari dalam Juz Qira’ah hlm. 21, Abu Dawud no. 805, dan selainnya, dari Jabir bin Samurah. Haditsnya hasan sahih, lihat Shahih Sunan Abi Dawud)
    Demikian pula, beliau pernah membaca surah al-Lail dan semisalnya. (HR. Abu Dawud no. 806 dari Jabir bin Samurah z, dan haditsnya sahih)

    Dua Rakaat yang Akhir
    Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa pada dua rakaat yang akhir dari shalat zhuhur, Rasulullah n menjadikannya lebih pendek dari dua rakaat yang pertama sekitar separuhnya, yaitu sekadar membaca lima belas ayat.
    Di sini, disenangi membaca surah selain al-Fatihah dalam dua rakaat yang akhir. Namun surah yang dibaca lebih ringan atau lebih pendek daripada dua rakaat yang pertama. Boleh juga mencukupkan dengan membaca al-Fatihah saja.
    Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Apakah mustahab membacanya dalam dua rakaat yang akhir dari shalat ruba’iyah (empat rakaat) dan rakaat yang ketiga dari shalat tsulatsiyah (tiga rakaat/ maghrib), atau tidak. Para sahabat pun berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian mereka membacanya, seperti Abu Bakr ash-Shiddiq z, sebagaimana tersebut dalam al-Muwaththa’ (1/177) dengan sanad yang sahih. Di sana disebutkan bahwa pada rakaat ketiga dari shalat maghrib, setelah membaca al-Fatihah, Abu Bakr z membaca ayat:
    (Mereka berdoa), “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (Ali Imran: 8)
    Al-Baihaqi t dalam satu riwayatnya tentang perbuatan Abu Bakr z ini menambahkan: Sufyan ibnu Uyainah t mengatakan, “Tatkala Umar ibnu Abdil Aziz t mendengar hal ini dari Abu Bakr z, ia berkata, ‘Semula aku tidak mengamalkan yang seperti ini. Ketika aku mendengar bahwa ini (dilakukan oleh Abu Bakr z), aku pun mengambil pendapat ini’.” (2/64 dan 391)
    Al-Imam al-Albani t menyatakan bahwa Abul Hasanat al-Laknawi mengambil pendapat ini. Beliau juga mengatakan keganjilan pendapat sebagian orang yang menghukumi wajibnya sujud sahwi jika membaca surah dalam dua rakaat yang akhir. Ini telah dibantah oleh Ibrahim al-Halabi, Ibnu Amir Hajj al-Halabi, dan selain keduanya dengan bantahan yang sangat bagus. Dengan demikian, tidak diragukan bahwa orang yang berpendapat demikian belumlah sampai kepadanya hadits yang menyebutkan bolehnya membaca surah dalam dua rakaat yang akhir tersebut. Seandainya sampai kepada mereka, niscaya mereka tidak berfatwa yang menyelisihinya. (al-Ashlu, 2/468—469)

    Sebagian sahabat tidak membaca surah setelah al-Fatihah dalam dua rakaat yang akhir (atau rakaat setelah tasyahud pertama), sebagaimana dinukilkan oleh al-Imam ath Thahawi t dalam Syarhu Ma’anil Atsar (1/267 & 271—272) dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, Zaid bin Tsabit, Jabir bin Abdillah, dan Abud Darda’

    Bersambung.

    Wallaahu a’lam.

  214. Bismillaah,

    Lanjutan:

    Surah-surah yang biasa dibaca Rasulullaah saat shalat Maghrib dan Isya:

    Dari Jubair bin Muth’im -radhiallahu anhu- berkata:

    سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ بِالطُّورِ فِي الْمَغْرِبِ

    “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam membaca surat Ath-Thur dalam shalat Maghrib.” (HR. Al-Bukhari no. 765 dan Muslim no. 463)

    Dari Jabir -radhiallahu anhu- dia berkata:
    “Biasanya Muadz shalat bersama Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, kemudian dia datang, lalu mengimami kaumnya. Maka pada suatu malam, dia melakukan shalat Isya’ bersama Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, kemudian setelah itu dia mendatangi kaumnya, lalu mengimami mereka. Dalam shalatnya dia membaca surat Al-Baqarah, maka seorang laki-laki keluar dari shalatnya, kemudian shalat sendirian, lalu pergi. Maka mereka berkata kepadanya, “Apakah kamu berlaku munafik wahai fulan?” Dia menjawab, “Tidak, demi Allah, aku akan mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, lalu aku akan mengabarkan kepada beliau (perbuatan Muadz ini).” Lalu dia mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam seraya berkata, “’Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami para pekerja penyiram (tanaman) bekerja pada siang hari (sehingga kecapekan), dan sesungguhnya Mu’adz shalat Isya’ bersamamu, kemudian dia datang mengimami kami dengan membaca surah Al-Baqarah.” Maka Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam menghadap Mu’adz seraya bersabda, “Wahai Mu’adz, apakah kamu tukang fitnah (yang membuat orang lari dari agama, pent.). Bacalah dengan surat ini dan bacalah dengan ini.” (HR. Al-Bukhari no. 664 dan Muslim no. 465)

    Dalam riwayat Al-Bukhari:
    “Mengapa kamu tidak membaca saja surat ‘Sabbihisma rabbika’, atau dengan ‘Wasysyamsi wa dluhaahaa’ atau ‘Wallaili idzaa yaghsyaa’?” Karena yang ikut shalat di belakangmu mungkin ada orang yang lanjut usia, orang yang lemah, atau orang yang punya keperluan.”

    Al-Bara’ bin Azib -radhiallahu anhu- berkata:
    “Saya pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat shalat Isya membaca ‘WATTIINI WAZZAITUUN (surah At-Tiin) ‘. Dan belum pernah kudengar seorang pun yang lebih indah suaranya, atau bacaannya daripada beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 766 dan Muslim no. 464)

    Wallaahu a’lam.

  215. @Ibnu Suradi, kalau saya tidak mengkhususkan Surah tertentu dalam shalat tertentu, apakah saya termasuk ahli bid’ah?

    Apakah membaca surah dalam rakaat pertama dan kedua, wajib atau sunnah?

  216. @Ibnu Suradi, kalau fatwanya syaikh Al Bani seperti apa?

    Apa hukum membaca surah di rekaat pertama dan rekaat kedua?
    Apakah bacaan surah tersebut harus sama dengan yg di baca Nabi?
    Kalau surah yg di baca, tidak sama seperti yg dilakukan Nabi, apa hukumnya?

  217. السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

    Untuk Ustadz: @bu Hilya, Ucep, Agung dan Pengamal Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang lain salam jumpa lagi. Lama saya tidak hadir dalam pembicaraan dengan Saudara Ibnu Suradi, Abu Dzar dll, (walaupun saya tetap mengikuti/menyimak) yang waktu itu saya ikut memulainya. Kebetulan saya sangat sibuk dengan pekerjaan dan yang terpenting adalah saya menghentikan diskusi dengan Saudara Ibnu Suradi dkk. karena saya merasakan pembicaraan ini setiap pokok permasalahannya tidak berkesimpulan dan cenderung mengikuti alur Saudara Ibnu Suradi, yang terakhir malah dengan jelas menggunakan ucapan Albani, yang sebenarnya posisinya sama dengan para muqallid. Hanya dia terlalu lancang dan tidak punya hormat kepada Ulama Salaf. Bahkan Albani dengan sombongnya mengatakan Imam Bukhari seperti saya kutip berikut :

    بيان الحق وكشف أهل الضلال

    بسم لله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين,
    المنـزه عن الشبيه والمثيل والزوجة والولد والإخوان، الموجود بلا جهة ولا مكان، المنـزه عن كل ما لا يليق به من الصفات والنعوت، والملك القهار ذي الجلال والجبروت، وأفضل الصلاة وأتم السلام على سيدنا محمد خير الأنام، وخاتم أنبياء الإسلام، وعلى ءاله الطاهرين، وصحبه الغر الميامين، ومن اتبع منهاجهم واقتفى أثرهم إلى يوم الدين.ـ”قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “حتى متى ترعون عن ذكر الظالم اذكروه بما فيه حتى يحذره الناس
    Antara Fatwanya lagi, mengingkari takwilan Imam Bukhari. Sesungguhnya Imam Bukhari telah mentakwilkan Firmanallah :

    كل سيء هالك إلا وجههقال البخاري بعد هذه الأية : أي ملكه
    Ayat Mutasyabihat Yang artinya : Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah-Nya
    Berkata Imam Bukhary setelah ayat ini : (lafadz Wajah-Nya) bermakna kekuasaan-Nya
    Tetapi Al-Albaany mengkritik keras takwilan ini lalu berkata :
    (( هذا لا يقوله مسلم مؤمن ))
    ” Ini sepatutnya tidak dituturkan oleh seorang Muslim yang beriman “.
    Lihatlah kitab (( Fatawa Al-Albaany )) m/s 523.

    Lalu bagaimana kita bisa menerima tanggapan pengikut Albani seperti Saudara Ibnu Suradi ini yang masih juga menggunakan Sahih Bukhari sebagai hujjahnya ???

    Inilah yang disinyalir beberapa ulama Nahdlatul Ulama’ bahwa pengikut Wahabi sudah berubah haluan, awalnya mereka mengikuti Imam-imam seperti Imam Ibnu Taymiah, Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab dll. Namun begitu ulama-ulama itu rujuk dan mengakui kebenaran aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, mereka berubah haluan, maka muncullah ulama-ulama baru macam Syaikh Utsaimin, Syaikh Abdullah Bin Baz, Albani dll. Bahkan pada beberapa maqalah Utsaimin dan Bin Baz mulai rujuk pada pendapat ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah, kecuali Albani.

    Maka selanjutnya mereka mendengungkan istilah tanpa/tidak perlu mazhab, kembali saja pada Qur’an dan Hadits yang mereka takwilkan sendiri semaunya. Mereka layaknya seorang Mujtahid Muthlaq yang langsung mengambil hukum dari nash kedua sumber itu dengan menghilangkan kaidah pengambilan hukum. Bahkan Imam Bukhari Ra. yang mereka kelompokkan “Kafir” seperti kutipan diatas, juga masih mereka pakai. Bukankah ini “Manhaj” yang sudah keluar dari Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah ???

    Oleh karena itu saya menghimbau para Ustadz Ahlus Sunnah Wal Jamaah tidak perlu lagi meneruskan diskusi ini, karena menurut saya pribadi dengan tidak sengaja kita menyamakan kedudukan Imam Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang musalsal sanadnya dengan Mujtahid palsu ini.

    Biarkanlah cara shalat mereka (Salafy Wahabi) sesuai cara dan ketentuan mereka, sedang kita yang mengikut para ulama’ Ahlus Sunnah Wal Jamaah tetap pada garis ketentuan kita sendiri. Karena jelas dan pasti kelompok Salafy Wahabi ini menggiring kita, yang mungkin sadar atau tidak kita mensejajarkan ulama kita dengan mereka yang bahasa Arabnya saja tidak mengerti secara fasih. Mereka hanya copas saja, sedang pada nash mereka ikut pemahaman ustadz-ustadz mereka.

    Kurang lebihnya saya mohon maaf.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang faqir dan dhaif
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    1. @mas derajat
      Ane dulu pernah koment di blognya yang @ibnu suradi copas : asysyariah.com/sifat-shalat-nabi-bagian-12.html, tapi hilang setelah moderasi.
      Memang dari pertama ane bilang diskusi ini dihentikan. @ibnu suradi dijawabpun/dikritisi hadisnya waktu kapan Rasulullah saw mengerjakannya gak bakalan ngarti. cuma ane kasihan yang bakalan baca, kalau gak dicounterback yang terus-terusan isinya copas.

      1. Bismillah,

        mas @Ucep, mungkin apa yang anda sampaikan benar, karena berdasar pengalaman yang dapat kami petik dari diskusi bersama mereka setidaknya kami dapati tentang beberapa hal :

        – mereka begitu ceplas-ceplos ketika kita ajak diskusi dengan mengedepankan logika.
        – mereka sering kali nggak nyambung ketika disuguhkan data ilmiyah.
        – ketika tidak dapat berhujjah dengan data ilmiyah, mereka cenderung mudah “kabur”
        – tidak pernah kami temui mereka yang memiliki mental diskusi dengan baik, yang berupa keberanian menyatakan kebenaran pihak mu’taridh dan mengakui kesalahannya.

        maaf saudara-saudara dari salafi, tanpa bermaksud merendahkan anda semua, kalau mungkin ada diantara anda semua yang agak berilmu seperti Ust, Abahna Jibril, Abu Ubaidah, atau yang lain berkenan hadir berdiskusi di Forum yang terbuka ini, Insya Alloh akan bermanfaat…

    2. Diatas bahkan Ibnu Suradi menuliskan “Al-Imam al-Albani”. Saya baru tahu bahwa Albani telah mencapai derajat seorang Imam dan diberi gelar Al-Muhaddis oleh para pengagumnya.

      Kalau begitu, apakah Albani dapat disejajarkan dengan Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Nasa’i, Imam Ibn Majah, Imam Daruquthni, Imam Al-Hakim Naisaburi, Imam Ibn Hibban dan lain-lain?

      Syeikh Seggaf berkata: ‘ Sangat heran dan mengejutkan, bahwa Syeikh Al-Albani menyalahkan dan menolak hadits-hadits yang banyak diketengahkan oleh ulama-ulama pakar ahli hadits baik secara langsung atau tidak secara langsung, tidak lain semuanya ini karena kedangkalan ilmu Al-Albani! . Dia mendudukkan dirinya sebagai sumber yang tidak pernah dikalahkan.

      salah satu bukti dari perkataan Syeikh Seggaf adalah kritik Albani pada Imam Bukhori, karena Imam Bukhori melakukan takwil. Al Bani berkata : “”Ini sepatutnya tidak dituturkan oleh seorang Muslim yang beriman “.

      1. Syaikh al Albani Rahimahullah mengatakan, Adalah merupakan kedzaliman jika mengatakan mereka (yaitu an-Nawawi dan Ibnu Hajar al ‘Asqalani) dan orang-orang semacam mereka termasuk ke dalam golongan ahli bid’ah. Menurut Syaikh al Albani, meskipun keduanya beraqidah Asy’ariyyah, tetapi mereka tidak sengaja menyelisihi al Kitab dan as Sunnah. Anggapan mereka, aqidah Asy’ariyyah yang mereka warisi itu adalah dua hal: Pertama, bahwa Imam al Asy’ari mengatakannya, padahal beliau tidak mengatakannya, kecuali pada masa sebelumnya, (lalu beliau tinggalkan dan menuju aqidah Salaf,). Kedua, mereka menyangka sebagai kebenaran, padahal tidak.

        Berikut komentar saya:

        Syaikh al Albani Rahimahullah mengatakan, mereka (yaitu an-Nawawi dan Ibnu Hajar al ‘Asqalani) tidak sengaja menyelisihi al Kitab dan as Sunnah. Pertanyaan yg timbul adalah, siapakah yg lebih paham tentang Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, Syaikh al Albani Rahimahullah atau Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani?

        Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani beraqidah Asy’ariyyah. Syaikh al Albani Rahimahullah mengatakan mereka (Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani) menyangka sebagai kebenaran, padahal tidak. Aqidah itu adalah pokok pokok agama, jika aqidah kedua Imam agung tersebut salah, lantas, aqidah siapakah yg benar? Apakah aqidah Syaikh al Albani Rahimahullah lebih benar dari pada akidah kedua Imam Agung tersebut?

      2. Al Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H) dalam al Burhan al Muayyad berkata: “Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada zhahir ayat al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam yang mutasyabihat sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran”.

        Salah satu ayat-ayat mutasyabihat adalah Seperti firman Allah ta’ala dalam surat an-Nur: 35.
        tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah adalah cahaya atau Allah adalah sinar. Karena kata cahaya dan sinar adalah khusus bagi makhluk. Allah-lah yang telah menciptakan keduanya, maka Ia tidak menyerupai keduanya. Tetapi makna ayat ini, bahwa Allah menerangi langit dan bumi dengan cahaya matahari, bulan dan bintang-bintang. Atau maknanya, bahwa Allah adalah pemberi petunjuk penduduk langit, yakni para malaikat dan pemberi petunjuk orang-orang mukmin dari golongan manusia dan jin, yang berada di bumi yaitu petunjuk kepada keimanan. Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Abdullah ibn Abbas – semoga Allah meridlainya- salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam. Takwil ini diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam al Asma’ Wa as-Shifat.

        Jadi, celaan “Al Imam Al Bani” terhadap Imam Bukhori, patut dipertanyakan. Karena, bukan hanya Imam Bukhori saja yg melakukan takwil, tapi salah seorang sahabat pun melakukan takwil. Oleh karena itu, karena rasa sayang kami kepada saudara Ibnu Suradi, lebih baik anda tidak mengutip pendapat “Al Imam Al Bani”, lebih baik saudara mengutip pendapat yg ada dalam mazhab yg muktabar dan di tarjih oleh Imam Imam yg muktabar pula.

    3. Bismillah,

      @mas Derajad, alhamdulillah akhirnya panjenengan hadir kembali, sebuah karunia lagi bagi kami dan teman-teman Ummati yang lain guna menambah pengetahuan buat kita semua…

      kami ucapkan selamat datang kembali, selamat berjuang dan semoga bermanfaat….

  218. Syaikh al Albani Rahimahullah mengatakan, Adalah merupakan kedzaliman jika mengatakan mereka (yaitu an-Nawawi dan Ibnu Hajar al ‘Asqalani) dan orang-orang semacam mereka termasuk ke dalam golongan ahli bid’ah. Menurut Syaikh al Albani, meskipun keduanya beraqidah Asy’ariyyah, tetapi mereka tidak sengaja menyelisihi al Kitab dan as Sunnah. Anggapan mereka, aqidah Asy’ariyyah yang mereka warisi itu adalah dua hal: Pertama, bahwa Imam al Asy’ari mengatakannya, padahal beliau tidak mengatakannya, kecuali pada masa sebelumnya, (lalu beliau tinggalkan dan menuju aqidah Salaf,). Kedua, mereka menyangka sebagai kebenaran, padahal tidak.

    Sumber : http://qaulan-sadida.blogspot.com/2011/12/ummatipress-bantahan-atas-artikel-web.html

    Berikut komentar saya:

    Syaikh al Albani Rahimahullah mengatakan, mereka (yaitu an-Nawawi dan Ibnu Hajar al ‘Asqalani) tidak sengaja menyelisihi al Kitab dan as Sunnah. Pertanyaan yg timbul adalah, siapakah yg lebih paham tentang Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, Syaikh al Albani Rahimahullah atau Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani?

    Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani beraqidah Asy’ariyyah. Syaikh al Albani Rahimahullah mengatakan mereka (Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani) menyangka sebagai kebenaran, padahal tidak. Aqidah itu adalah pokok pokok agama, jika aqidah kedua Imam agung tersebut salah, lantas, aqidah siapakah yg benar? Apakah aqidah Syaikh al Albani Rahimahullah lebih benar dari pada akidah kedua Imam Agung tersebut?

  219. Kepada teman-teman semua, saat ini banyak remaja baik pemuda maupun pemudi yang disebut sebagai “JAMA’AH ONLINE” (saat ini istilah itu sudah trend di Jakarta).
    Setelah mereka beberapa kali pergi ke warnet, kita perhatikan dari tingkah laku maupun perbuatannya sedikit demi sedikit agak berbeda.
    Yang perlu kita perhatikan disini untuk membentengi aqidah ahlu sunnah wal jamaah :
    1. Buat pengajian di setiap masjid dekat rumah setiap hari minggu.
    2. Undang ustad ahlu sunnah waljamaah setiap bulan dirumah yang dihadiri oleh warga setempat.
    3. Adakan Yasinan setiap malam jum’at di Masjid dekat rumah

    Mudah-mudah dengan ini, generasi selanjutnya gak bakalan jadi Jama’ah Online, karena sudah mempunyai dasar Aqidah.
    Mari kita bentengi keluarga kita khususnya dari aqidah sekte baru.

    1. @Mas Ucep harus cari dalilnya dulu, apakah Nabi pernah Buat pengajian di setiap masjid dekat rumah setiap hari minggu? Apakah Nabi pernah Adakan Yasinan setiap malam jum’at di Masjid dekat rumah? Kalau tidak ada dalilnya, lebih baik tidak dilakukan, nanti di vonis Bid’ah oleh salafi atau wahabi. Lebih baik mas ucep bertanya dulu kepada saudara Ibnu Suradi, boleh tidak rencana mas ucep itu dilakukan?

  220. Kasihan ya banyak orang Islam yang kemungkinan sholatnya tidak diterima karena tidak hafal surat-surat yang dibaca Rasulllah pada waktu sholat. Sekalinya ada yang sudah hafal Qur’an, tetapi tidak dapat dipakai dalam sholat karena tidak sesuai dengan contoh sholat Rasul. Berarti BID’AH … PASTI MASUK NERAKA … Apa iya sih syurga hanya untuk mereka yang mengaku sholatnya sama dengan sholat Rasulullah saja?

  221. Bismillaah,

    Ulama termasuk Albani adalah manusia. Albani bisa benar, bisa juga salah. Kita mengambil perkataannya yang benar dan meninggalkan perkataannya yang salah.

    Sekarang kita tinggal memeriksa apakah benar atau salah perkataan Albani termasuk hadits-hadits tentang cara Rasulullaaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat-ayat Fatihah dengan berhenti di setiap ayat serta hadits-hadits tentang surah-surah yang biasa dibaca Rasulullaah. Bila benar, kita mengambil perkataannya. Bila salah, kita meninggalkannya.

    Albani membuat perkataan tidak sembarangan. Beliau mengumpulkan perkataan-perkataan ulama Ahussunnah wal Jamaah terdahulu yang beragam. Menemukan perbedaan perbedaan pendapat ulama-ulama terdahulu, beliau musti memilih pendapat yang benar menurutnya.

    Dengan bimbingan guru kita, kita semua musti memilih satu pendapat dari pendapat-pendapat yang beragam. Akhirnya kita musti memilih berqunut atau tidak berqunut, shalat tarawih 23 rakaat atau 11 rakaat, adzan 2 kali atau 1 kali sebelum shalat Jumat, menggerak-gerakkan jari telunjuk atau tidak menggerakkannya saat tasyahud, dst.

    Silahkan anda memilih pendapat ulama sesuka anda asal pendapat tersebut berdasar hadits yanag shahih.

    Wallaahu a’lam.

    1. Ibnu Suradi : ulama itu memang manusia, jd bisa juga salah.

      Jawab : Tp tolong, kalau ingin “mencela”, lihat dulu siapa yg dicelanya. Ulama sekaliber Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani bisa juga salah, apa lagi ulama sekelas Al Bani, kemungkinan untuk salah lebih besar lagi.

      Ibnu Suradi : “Albani membuat perkataan tidak sembarangan. Beliau mengumpulkan perkataan-perkataan ulama Ahussunnah wal Jamaah terdahulu yang beragam.”

      Jawab :
      Dikalangan ulama Ahlussunah wal jamaah, dalam memahami ayat ayat mutasyabihat, ada dua cara, yaitu metode tawfidh dan metode takwil. Tapi mengapa Al Bani malah mencela Imam Bukhori.

      1. Ibnu Suradi : “Silahkan anda memilih pendapat ulama sesuka anda asal pendapat tersebut berdasar hadits yanag shahih.”

        Jawab :
        Al-Hafidz Ibn Rajab Al-Hambali dalam Kitabnya Fadhl ‘Ilm As-Salaf ‘ala Kholaf’ hal.9, berkata: “Para Imam dan Fuqoha Ahli Hadits sesungguhnya mengikuti hadits shohih jika hadits itu diamalkan dikalangan para Sahabat atau generasi sesudahnya, atau sebagian dari mereka. Adapun yang disepakati untuk ditinggalkan, maka tidak boleh diamalkan, karena tidak akan meninggalkan sesuatu kecuali atas dasar pengetahuan bahwa ia memang tidak diamalkan”.

        Imam Malik berkata: ”Para Ahli Ilmu dari kalangan Tabi’in telah menyampaikan hadits-hadits, lalu disampaikan kepada mereka hadits dari orang lain, maka mereka menjawab: ‘Bukannya kami tidak tahu tentang hal ini, tetapi pengamalannya yang benar adalah tidak seperti ini’ ” .

        Al-Imam al-Hafizh Ibn Khuzaimah al-Naisaburi, seorang ulama salaf yang menyandang gelar Imam al-Aimmah (penghulu para imam) dan penyusun kitab Shahih Ibn Khuzaimah, ketika ditanya, apakah ada hadits yang belum diketahui oleh al-Syafi’i dalam ijtihad beliau? Ibn Khuzaimah menjawab, “Tidak ada”. Hal tersebut seperti diriwayatkan oleh al-Hafizh Ibn Katsir dalam kitabnya yang sangat populer al-Bidayah wa al-
        Nihayah (juz 10, hal. 253).

        Dikalangan ulama mazhab syafi’i pun sering terjadi perbedaan pendapat. Imam Syafi’i pun memiliki dua qaul, yaitu qaul jadid dan qaul qadim. Bila terjadi perbedaan pendapat di dalam mazhab syafi’i, salah seorang ulama yg terkenal dalam mentarjih adalah Imam Nawawi.

        Kesimpulan :
        Tidak cukup hanya bermodalkan hadist shahih saja. Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali, adalah mujtahid mutlaq, ke empat Imam Agung tersebut bukan hanya mengetahui tentang Al-Qur’an, Hadist, atsar sahabat, maupun pendapat generasi tabi’in, namun para Imam Agung tersebut juga melihat langsung tata cara ibadah yg dilakukan oleh para tabi’in, yg tentu saja bersumber dari para sahabat, dan sanad ke ilmuannya bersambung kepada Rasulullah. Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i juga termasuk generasi terbaik umat ini, karena mereka adalah tabi’it tabi’in.

        Setelah generasi Imam mazhab, banyak pula Imam mujtahid lainnya, seperti Imam Abu Yusuf dan Imam Al Muzani, kedua imam tersebut adalah mujtahid mutlaq, namun mereka tetap saja bermazhab. Imam Abu Yusuf bermazhab Hanafi, dan Imam Al Muzani bermazhab Syafi’i.

        Jadi, dikalangan Ahlussunah wal jamaah, tidak ada istilah : “Silahkan anda memilih pendapat ulama sesuka anda asal pendapat tersebut berdasar hadits yanag shahih.”

        Saya juga sering memperhatikan, ada sebuah kelompok yg sering kali mengaku bermazhab salaf. Di kalangan Ahlussunah Wal Jama’ah, tidak ada yg namanya mazhab salaf. Saat ini, mazhab yg muktabar dan masih tetap di ikuti oleh mayoritas umat muslim di dunia adalah mazhab yg empat.

    2. Bismillah,

      Kang @Ibnu Suradi, pernyataan anda :

      Ulama termasuk Albani adalah manusia. Albani bisa benar, bisa juga salah. Kita mengambil perkataannya yang benar dan meninggalkan perkataannya yang salah.

      pertanyaan kami: Lantas apa yang menjadi ukuran anda menganggap seseorang sebagai Ulama ? apa bedanya dengan kaum awam seperti kami yang juga bisa benar dan bisa salah?

      berikutnya sikap anda :

      Sekarang kita tinggal memeriksa apakah benar atau salah perkataan Albani termasuk hadits-hadits tentang cara Rasulullaaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat-ayat Fatihah dengan berhenti di setiap ayat serta hadits-hadits tentang surah-surah yang biasa dibaca Rasulullaah. Bila benar, kita mengambil perkataannya. Bila salah, kita meninggalkannya.

      pertanyaan kami : Gimana cara ngidentifikasinya Kang?

      1. Bismillaah,

        Kang @bu Hilya,

        Kita memiliki guru. Guru kita memiliki ulama yang diikuti. Dari merekalah kita menyaring apakah perkataan ulama termasuk Albani itu benar atau salah.

        Sekali lagi, benar atau salah perkataan Albani termasuk hadits-hadits tentang cara Rasulullaaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat-ayat Fatihah dengan berhenti di setiap ayat serta hadits-hadits tentang surah-surah yang biasa dibaca Rasulullaah? Dan apakah ulama-ulama Ahlussunnah wal Jamaah tidak mengamalkan hadits-hadits tersebut?

        Pertanyaan ini saya ajukan karena saya melihat kawan-kawan bersikap ragu-ragu tentang kebenaran perkataan Albani. Salah, karena Albani bukan termasuk golongannya. Tapi begitu melihat hadits-hadits yang disampaikan, maka kawan-kawan menjadi ragu: “Masak salah sih, wong dia menyampaikan hadits-hadits?”

        Kawan-kawan lalu mempertanyakan kebenaran amalan dari hadits itu karena bisa jadi guru-guru dan ustadz-ustadznya tidak pernah menyampaikan hadits-hadits itu. Karena tidak pernah disampaikan oleh guru-gurunya, maka kawan-kawan berkesimpulan bahwa hadits-hadits tersebut tidak diamalkan oleh ulama-ulama Ahlussunnah wal Jamaah.

        Wallaahu a’lam.

        1. @Ibnu Suradi, anda ini sudah baca belum komentar saya sebelumnya?

          Mengenai tata cara membaca Al-Fatihah sudah dijelaskan oleh saudara ucep, dan sebelumnya, sudah saya kutip kembali.

          Mengenai tata cara membaca surah setelah Al-Fatihah, juga telah kami uraikan sebelumnya. Tidak ada ulama yg membatasi, bahwa surah yg harus di baca setelah Al-Fatihah, hanya surah yg di baca oleh Rasulullah. Yang paling penting adalah, hukum membaca surah setelah Al-Fatihah itu adalah sunnah.

          1. @Ibnu Suradi, berikut jawaban dari saudara ucep yg di ambil dari kitab Shalat ash shalihin wa qashash al abidin karangan Ahmad Musthafa ath Thahthawi. Dar al Fadhilah Kairo. Menurut mazdhab Syafi’i, jika salah membaca surah Al Fatihah, maka bacaan Fatihah-nya tidak sah dan shalatnya batal.
            Menurut Ulama syarat sah membaca surat al-Fatihah ada sepuluh, yaitu:
            1.Tertib (yaitu membaca surat al-Fatihah sesuai urutan ayatnya).
            2.Muwalat (yaitu membaca surat al-Fatihah dengan tanpa terputus).
            3.Memperhatikan makhroj huruf (tempat keluar huruf) serta tempat-tempat tasydid.
            4.Tidak lama terputus antara ayat-ayat al-Fatihah ataupun terputus sebentar dengan niat memutuskan bacaan.
            5.Membaca semua ayat al-Fatihah.
            6.Basmalah termasuk ayat dari al-fatihah.
            7.Tidak menggunakan lagu yang dapat merubah makna.
            8.Membaca surat al-Fatihah dalam keaadaan berdiri ketika sholat fardhu.
            9.Mendengar surat al-Fatihah yang dibaca.
            10.Tidak terhalang oleh dzikir yang lain
            Berikut ini yang diperhatikan dalam membaca surah Al-fatihah :
            DU-LI-LAH (jika dibaca tanpa sabdu) sebetulnya DU-LIL-LAH
            HIR-ROB (bila dibaca dengan sabdu) sebetulnya HI-ROB
            KIY-YAU (bila dibaca dengan sabdu) sebetulnya KI-YAU
            KAN-NAK (bila dibaca dengan sabdu) sebetulnya KA-NAK
            KAN-NAS (bila dibaca dengan sabdu) sebetulnya KA-NAS
            I-YA (disebut tanpa sabdu) sebetulnya IY-YA .
            IYA bermaksud ”MATAHARI” . Dalam ayat ke 5, jika salah bacaanya akan bermaksud “kepada mataharilah kami sembah dan kepada matahari kami bermohon”
            Kemudian tempat-tempat tasydid dalam surah al-fatihah ada empat belas, yaitu:
            1.Tasydid huruf “Lam” jalalah pada lafal Illah
            2.Tasydid huruf “Ra’” pada lafal Ar Rahman
            3.Tasydid huruf “Ra’” pada lapal Ar Rohim
            4.Tasydid “Lam” jalalah pada lafal Al Hamdulillah
            5.Tasydid huruf “Ba’” pada kalimat Rabbul alamiin
            6.Tasydid huruf “Ra’” pada lafal Rahman
            7.Tasydid huruf “Ra’” pada lafal Rohiim
            8.Tasydid huruf “Dal” pada lafal Middiin
            9.Tasydid huruf “Ya’” pada kalimat Iyyakana’budu
            10.Tasydid huruf “Ya” pada kalimat Wa Iyya kanastaiin
            11.Tasydid huruf “Shad” pada kalimat Shirathol
            12.Tasydid huruf “Lam” pada kalimat Shirothol Ladzina

            @Ibnu Suradi, perhatikan poin ke 4 dari tata cara membaca Al-Fatihah yaitu : Tidak lama terputus antara ayat-ayat al-Fatihah ataupun terputus sebentar dengan niat memutuskan bacaan. Artinya, pendapat tersebut sesuai jg dengan hadist yg saudara sampaikan.

            Namun, di poin ke 2 disebutkan juga : Muwalat (yaitu membaca surat al-Fatihah dengan tanpa terputus). Artinya, tidak ada ulama yg mencela seseorang jika membaca Al Fatihah dengan cara menyambung tiap ayat.

            Namun, hal yg perlu diperhatikan adalah :
            “Rukun sholat yang keempat ialah membaca daripada surat al-Fatihah dengan menyertakan basmalah, memperhatikan tasydid, kesinambungan bacaan, urutan ayat, melafadzkan huruf dengan benar sesuai makhrajnya dan tidak ada kekeliruan yang dapat merusak maknanya.” (Syarah Sullamuttaufiiq)

        2. Bismillah,

          Kang @Ibnu Suradi,

          Maaf, tanpa maksud merendahkan kredeibilitas Syeh Albani, namun ketahuilah, sikap kami terhadap apa yang beliau sampaikan bukan berdasar dari keraguan, akan tetapi lebih pada kehati-hatian untuk tidak mudah menerima dari seseorang yang yang kapasitasnya diperdebatkan. Ini semua karena menyangkut masalah agama yang berarti pula tentang masa depan kami di akhirat.

          Logika kami yang awam sederhana, Yakni; mengapa kami harus menerima dari orang yang diperdebatkan kapasitasnya? kalau ada yang jelas-jelas diakui dari zamannya hingga sekarang, semisal Al Bukhori, Muslim, Abi Dawud, Ibnu Majah, Nasa’i, Turmuudzi, Imam Ahmad, Imam Hakim dan yang lain yang didukung oleh para Huffadz, semacam An Nawawi, Ibnu Hajar, Adz Dzahabi, Al Baihaqi dan yang lain….tidak cukupkah apa yang kita terima dari mereka ?

  222. @ibnu suradi
    Al Muhaddits sayyid Abdullah bin Ashiddiq al ghumari berkata :
    …..dia adalah Nashiruddin al albani adalah asalnya (Albania). Pada awalnya dia ber I’itikaf di dalam kamar perpustakaan “Al Dzahiriyah” Damaskus disana dia berkutat membaca buku dan betah untuk membaca. Setelah itu dia menyangka bahwa dirinya telah menjadi profesional dalam urusan agama. Dia memberanikan diri untuk berfatwa dan mentashhih hadits atau mendha’ifkannya sesuai dengan keinginan hawa nafsunya. Juga dia berani menyerang ulama yang mu’tabar (yang berkompeten di bidangnya) padahal dia mandakwa bahwa “hafalan” hadits telah terputus atau punah.
    Maka akibatnya bisa anda saksikan terkadang dia menganggap buruk pendapat para ulama juga mendha’ifkan hadits yang baik-baik dan menganggapnya lemah,sampai-sampai shahih Bukhari dan shahih Muslim pun tidak selamat dari koreksinya.

    Berdasarkan hal tersebut (dia tidak berguru) maka isnadnya maqthu’ (silsilah keilmuannya terputus) dan kembali kepada kitab-kitabnya yang ia teliti, kembali kepada juz-juz yang ia baca dengan tanpa Talaqqi (belajar kepada guru).

    Dia pernah mendakwakan dirinya sebagai khalifah (penerus) Asy syaikh Badruddin Al Hasani (salah satu guru Al Ghumari) yang beliau adalah seorang ulama yang tidak pernah lepas dari biji tasbih dari tangannya meskipun sedang mengajar dan anehnya ia (albani) menganggap bid’ah kepada orang yang mengenakannya (biji tasbih).
    Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ibnu Juraij dari Ibnu Abi Mulaikah dari ‘Aisyah dia berkata ; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Orang yang paling Allah benci adalah orang yang keras kepala lagi suka bermusuhan.” (HR Muslim No. 4821)

    Kemudian berdasarkan PERSAKSIAN DARI PARA ULAMA DI ZAMANNYA dari para ulama Dimasyq menyatakan bahwa dia tidak hafal matan-matan hadits apalagi sanad-sanadnya. Bahkan KEILMUANNYA tidak mencapai untuk menilai sebuah matan hadits kemudian meneliti rijal (para perawi) nya di kitab kitab “Al Jarh wa tta’diil”, sehingga berangkat dari itu semua, dia menghukumi sebuah hadits dengan menshahihkan dan mendha’ifkan nya dalam keadaan “TIDAK TAHU” bahwa sebuah hadits mempunyai jalan riwayat, syawahid (hadits lain sebagai saksi penopang) dan mutaba’at (penelusuran susulan). Dia juga lupa bahwa seorang “AL HAFIDZ” (penghafal 100 ribuan hadits sanad dan matannya) mempunyai “otoritas” menshahihkan dan mendha’ifkan sebuah hadits sebagaimana yang di katakan oleh Al Hafidz As suyuti dalam “AL FIYAH” nya (kitab nadzam ilmu hadits dirayah 1000 bait).

    Lalu dia (al Albani) mendakwakan dirinya telah mencapai derajat “penghafal hadits” dan mampu mentashhih hadits, sehingga pengikut-pengikutnya menyangka bahwa dia adalah “MUHADDITS” abad ini. Apakah dengan sekedar ijazah dari sangkaan seseorang lantas dia boleh berbicara / koreksi atas hadits Rasulillah saw ??
    Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyats dan Yahya bin Sa’id dari Ibnu Juraij dari Sulaiman bin ‘Atiq dari Thalq bin Habib dari Al Ahnaf bin Qais dari Abdullah dia berkata ; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam teIah bersabda : ‘Celakalah orang-orang yang suka melampaui batas.’ (Beliau mengucapkannya tiga kali). (HR Muslim No. 4823).

    La haula wala quata illa billah hil aliyyil adzim.

  223. Bismillaah,

    Sekali lagi saya ingin menyampaikan suatu pertanyaan. Apakah perkataan Albani termasuk hadits-hadits tentang cara membaca Fatihah dengan berhenti di setiap ayat dan hadits-hadits tentang surah-surah yang biasa dibaca Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam itu benar atau salah? Kalau benar, kita bisa mengambilnya. Dan kalau salah, kita hendaknya meninggalkannya.

    Atau anda memiliki perkataan ulama lain mengenai hal itu. Bila memilkinya, mohon anda menyampaikannya di forum diskusi ini.

    Wallaahu a’lam.

  224. Bismillaah,

    Apakah ulama-ulama tidak mengamalkan hadits-hadits yang disebutkan Albani tentang cara membaca Fatihah dengan berhenti di setiap ayat dan surah-surah yang biasa dibaca Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam?

    Wallaahu a’lam.

  225. @Ibnu Suradi, berikut jawaban dari saudara ucep yg di ambil dari kitab Shalat ash shalihin wa qashash al abidin karangan Ahmad Musthafa ath Thahthawi. Dar al Fadhilah Kairo. Menurut mazdhab Syafi’i, jika salah membaca surah Al Fatihah, maka bacaan Fatihah-nya tidak sah dan shalatnya batal.

    Menurut Ulama syarat sah membaca surat al-Fatihah ada sepuluh, yaitu:
    1.Tertib (yaitu membaca surat al-Fatihah sesuai urutan ayatnya).
    2.Muwalat (yaitu membaca surat al-Fatihah dengan tanpa terputus).
    3.Memperhatikan makhroj huruf (tempat keluar huruf) serta tempat-tempat tasydid.
    4.Tidak lama terputus antara ayat-ayat al-Fatihah ataupun terputus sebentar dengan niat memutuskan bacaan.
    5.Membaca semua ayat al-Fatihah.
    6.Basmalah termasuk ayat dari al-fatihah.
    7.Tidak menggunakan lagu yang dapat merubah makna.
    8.Membaca surat al-Fatihah dalam keaadaan berdiri ketika sholat fardhu.
    9.Mendengar surat al-Fatihah yang dibaca.
    10.Tidak terhalang oleh dzikir yang lain

    Berikut ini yang diperhatikan dalam membaca surah Al-fatihah :
    DU-LI-LAH (jika dibaca tanpa sabdu) sebetulnya DU-LIL-LAH
    HIR-ROB (bila dibaca dengan sabdu) sebetulnya HI-ROB
    KIY-YAU (bila dibaca dengan sabdu) sebetulnya KI-YAU
    KAN-NAK (bila dibaca dengan sabdu) sebetulnya KA-NAK
    KAN-NAS (bila dibaca dengan sabdu) sebetulnya KA-NAS
    I-YA (disebut tanpa sabdu) sebetulnya IY-YA .
    IYA bermaksud ”MATAHARI” . Dalam ayat ke 5, jika salah bacaanya akan bermaksud “kepada mataharilah kami sembah dan kepada matahari kami bermohon”
    Kemudian tempat-tempat tasydid dalam surah al-fatihah ada empat belas, yaitu:
    1.Tasydid huruf “Lam” jalalah pada lafal Illah
    2.Tasydid huruf “Ra’” pada lafal Ar Rahman
    3.Tasydid huruf “Ra’” pada lapal Ar Rohim
    4.Tasydid “Lam” jalalah pada lafal Al Hamdulillah
    5.Tasydid huruf “Ba’” pada kalimat Rabbul alamiin
    6.Tasydid huruf “Ra’” pada lafal Rahman
    7.Tasydid huruf “Ra’” pada lafal Rohiim
    8.Tasydid huruf “Dal” pada lafal Middiin
    9.Tasydid huruf “Ya’” pada kalimat Iyyakana’budu
    10.Tasydid huruf “Ya” pada kalimat Wa Iyya kanastaiin
    11.Tasydid huruf “Shad” pada kalimat Shirathol
    12.Tasydid huruf “Lam” pada kalimat Shirothol Ladzina

    Silahkan dipikirkan, dan dicerna baik baik.

  226. @Ibnu Suradi, perhatikan poin ke 4 dari tata cara membaca Al-Fatihah yaitu : Tidak lama terputus antara ayat-ayat al-Fatihah ataupun terputus sebentar dengan niat memutuskan bacaan. Artinya, pendapat tersebut sesuai jg dengan hadist yg saudara sampaikan.

    Namun, di poin ke 2 disebutkan juga : Muwalat (yaitu membaca surat al-Fatihah dengan tanpa terputus). Artinya, tidak ada ulama yg mencela seseorang jika membaca Al Fatihah dengan cara menyambung tiap ayat.

    Namun, hal yg perlu diperhatikan adalah :
    “Rukun sholat yang keempat ialah membaca daripada surat al-Fatihah dengan menyertakan basmalah, memperhatikan tasydid, kesinambungan bacaan, urutan ayat, melafadzkan huruf dengan benar sesuai makhrajnya dan tidak ada kekeliruan yang dapat merusak maknanya.” (Syarah Sullamuttaufiiq)

  227. @Ibnu Suradi, sepertinya anda “marah” karena kami mengecilkan pendapat seorang Al Bani. Namun saya yakin, kawan kawan ASWAJA tentu lebih marah lagi kepada Al Bani, karena telah mencela Imam Bukhori.

    kalau anda berkenan, pertanyaan kami yg lainny tlng di jawab?

  228. Saran saya, untuk saudara Ibnu Suradi, tolong penjelasan yg sebelumnya sudah di sampaikan, di perhatikan dan dicerna baik baik.

    Mengenai surah yg biasa di baca oleh Rasulullanh, yg di sampaikan oleh Al Bani, tidak ada diantara kami yg menyangkalnya. Namun, yg paling penting adalah hukum membaca surah tersebut. Membaca surah setelah Al-Fatihah, bukanlah merupakan syarat sholat, sehingga tidak berkaitan dengan sah tidaknya suatu sholat. bukan pula merupakan rukun sholat, hukum membacanya pun tidak wajib, tapi sunnah, artinya, dikerjakan berpahala, ditinggalkan tidak mengapa.

    Dan sekarang tolong dijawab oleh saudara Ibnu Suradi?

    APA HUKUM MEMBACA SURAH SETELAH AL-FATIHAH?

    APAKAH SURAH YANG DIBACA, HARUS SAMA DENGAN SURAH YG DI BACA OLEH RASULLULLAH ATAU TIDAK?

    APAKAH MEREKA YG TIDAK MEMBACA SURAH, SEPERTI YG DI BACA OLEH RASULULLAH, ADALAH BID’AH, SESAT DAN MASUK NERAKA?

    KAMI MEMBUTUHKAN KETEGASAN DARI SAUDARA IBNU SURADI MENGENAI PERTANYAAN SAYA TERSEBUT. DAN JUGA, JANGANLAH SAUDARA MENJAWAB : “MARI KITA SHOLAT SEBAGAIMANA RASULULLAH SHOLAT”. KARENA, KALAU JAWABAN SAUDARA SEPERTI ITU, TIDAK AKAN MENYELESAIKAN POKOK PERMASALAHAN. TRM KASIH.

  229. Bismillaah,

    Kang Agung,

    Kita musti memeriksa kembali komentar-komentar kita dari awal yang menunjukkan mengapa kita membahas tata cara shlat Rasulullaah.

    Ketika ditanya apakah anda Ahlussunnah wal Jamaah? Maka setiap orang dan kelompok mengaku sebagfai Ahlussunnah wal Jamaah. Pengakuan tersebut tinggalkan pengakuan bila tidak disertai bukti. Salah satu bukti Ahlussunnah wal Jamaah bisa dilihat dari shalatnya. Shalat Ahlussunnah wal Jamaah itu seperti apa? Yaitu shalat yang sesuai dengan shalat yang diajarkan oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya.

    Jadi, tujuan poembahasan tata cara shalat Rasulullaah adalah untuk mencocokkan cara shalat kita yang mengaku Ahlussunnah wal Jamaah ini dengan cara shalat yang diajarkan Rasulullaah. Jadi, kita bahas saja cara Rasulullaah shalat dari takbir hingga salam. Kita bahas cara Rasulullaah berdiri untuk shalat, bertakbir, membaca Fatihah, membaca surah setelah Fatihah, melakukan ruku’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, duduk tasyahud dan salaam.

    Setelah itu, mungkin dapat dibahas hukum-hukumnya yang sebenarnya ditetapkan oleh ulama berdasarkan pemahaman mereka mengenai hadits tentang tata cara shalat Rasulullaah. Toh, waktu diajari shalat oleh Rasulullaah, para sahabat tidak ada yang bertanya: “Ya Rasuulullaah, apakah gerakan atau bacaan ini wajib atau sunnah?”

    Wallaahu a’lam.

  230. Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah golongan mayoritas umat Muhammad. Mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam dasar-dasar aqidah. Merekalah yang dimaksud oleh hadits Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam:
    “…maka barang siapa yang menginginkan tempat lapang di surga hendaklah berpegang teguh pada al Jama’ah; yakni berpegang teguh pada aqidah al Jama’ah”. (Hadits ini dishahihkan oleh al Hakim, dan at-Tirmidzi mengatakan hadits hasan shahih)

    Setelah tahun 260 H menyebarlah bid’ah Mu’tazilah, Musyabbihah dan lainnya. Maka dua Imam yang agung Abu al Hasan al Asy’ari (W 324 H) dan Abu Manshur al Maturidi (W 333 H) -semoga Allah meridlai keduanya- menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diyakini para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nash-nash al Qur’an dan al hadits) dan ‘aqli (argumen rasional) disertai dengan bantahan-bantahan terhadap syubhah-syubhah (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) Mu’tazilah, Musyabbihah dan lainnya, sehingga Ahlussunnah Wal Jama’ah dinisbatkan kepada keduanya. Mereka (Ahlussunnah) akhirnya dikenal dengan nama al Asy’ariyyun (para pengikut al Asy’ari) dan al Maturidiyyun (para pengikut al Maturidi). Jalan yang ditempuh oleh al Asy’ari dan al Maturidi dalam pokok-pokok aqidah adalah sama dan satu.

    Al Hafizh Murtadla az-Zabidi (W 1205 H) dalam al Ithaf juz II hlm. 6, mengatakan: “Jika dikatakan Ahlussunnah Wal
    Jama’ah maka yang dimaksud adalah al Asy’ariyyah dan al Maturidiyyah”. Mereka adalah ratusan juta ummat Islam (golongan mayoritas). Mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, para pengikut madzhab Maliki, para pengikut madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari madzhab Hanbali (Fudhala’ al Hanabilah). Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam telah memberitahukan bahwa mayoritas ummatnya tidak akan sesat. Alangkah beruntungnya orang yang senantiasa mengikuti mereka.

  231. @Ibnu Suradi : “Salah satu bukti Ahlussunnah wal Jamaah bisa dilihat dari shalatnya. Shalat Ahlussunnah wal Jamaah itu seperti apa? Yaitu shalat yang sesuai dengan shalat yang diajarkan oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya.”

    Jawab :
    Coba anda baca perbandingan mazhab. Diantara mazhab yg empat, seringkali terjadi perbedaan pendapat, bahkan dalam perkara sholat sekalipun. Namun, perbedaan yg ada, tidak lantas mengeluarkan mereka dari Ahlussunah wal jamaah. Serta satu sama lain tidak saling mengingkari.

    Dari sini timbul pertanyaan kepada saudara Ibnu suradi. Jika tata cara shalat saya atau mas ucep dkk yg lainnya (mazhab syafi’i) berbeda dengan tata cara shalat yg di ajarkan oleh Al Bani, mana yg termasuk Ahlussunah wal jamaah, Al Bani atau kami?

  232. @ibnu suradi
    Banyak sahabat yang bertanya-tanya “Bagaimana Rasulullah saw shalat”, ada yang sampai menginap dirumah Rasulullah, ada yang menanyakan langsung kepada Aisyah rha seperti sahabat Abi darda ra dan Ibn Mas’ud ra. Mereka yang dekat aja masih menanyakan bagaimana Shalatnya Rasulullah saw.
    Imam 4 Madzhab : Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas ra, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal sampai kepada Ibnu Taimiyah, Gak berani mengatakan “Shalat seperti Nabi”, tapi Albani berani berkata dalam kitabnya “Ash Shalat ala Nabi”.
    Apakah memang kalau kita mengacu kepada Albani lantas sudah persis 100 %, shalatnya seperti Nabi saw ?

  233. Bismillaah,

    Setelah liburan akhir pekan, ada baiknya kita mulai lagi diskusi tentang tata cara shalat Rasulullaah. Semoga diskusi ini bisa menambah ilmu tentang shalat yang akan kita gunakan untuk memperbaiki shalat kita.

    Wallaahu a’lam.

  234. Ana masih bingung nih, katanya kalian bermadzhab Syafei Rohimahulloh dalam masalah fikih, tapi kenapa ko dalam akidah kalian mengambil faham ahlu sunnah wal jama’ah versi Abul Hasan Al-Asy’ari Rohimahulloh? Apakah Imam Syafei Rohimahulloh tidak berfaham ahlu sunnah wal jama’ah? Atau Imam Syafe’i kalian anggap engga ngerti masalah akidah?

    Kalau dilihat tahun kelahirannya (tahun kematian?) Abul Hasan Al-Asy’ari tahun 234 H, berarti Para Imam yang Empat lebih senior daripada Abul Hasan Al-Asy’ari. Apakah Imam yang lainnya seperti halnya Imam Syafe’i juga tidak berfaham ahlu sunnah wal jama’ah? Atau mereka engga mengerti masalah akidah?

    Kalau memang Imam yang Empat dan terus ke atas sampai kepada Para Sahabat itu semuanya berpaham Ahlu Sunnah Wal Jama’ah apakah paham yang mereka anut sama dengan pahamnya Abul Hasan Al-Asy’ari? Kalau kalian bilang sama dengan pahamnya Abul Hasan Al-Asy’ari yang kalian angggap sebagai pendiri paham ahlu sunnah wal jama’ah berarti pahamnya sudah lahir duluan daripada pendirinya.

    Kalau ternyata paham Ahlu Sunnah Wal Jama’ahnya Para Imam Yang Empat terus ke atas sampai ke Para Sahabat tidak sama dengan paham Ahlu Sunnah Wal Jama’ahnya Abul Hasan Al-Asy’ari, maka berarti paham ahlu sunnah wal jama’ahnya Abul Hasan Al-Asy’ari salah dong, alias menyimpang dari pahamnya Para Imam Yang Empat dan Para Sahabat.

    Tolong jelasin dong ko bisa begitu jadinya?

    1. Abdul Kholik@

      Mas Dul Kholik, Imam Syafi’i Aqidahnya mengikuti aqidah Rasul Saw dan Sahabat, begitu juga Imam Asy’ariy. Akan tetapi dalam perkembangan ilmu keislaman, Imam Syafi’i tidak dikenal sebgai perintis atau perumus ilmu aqidah, Imam Syafi’i lebih dikenal sebagai pionir di bidang Fikih (Fiqh), karena ilmu ini berkembang lebih dulu. Sedangkan ilmu aqidah mulai ramai berkembang pada zaman Imam Asy’ariy, di mana zaman itu sedang terjadi perang aqidah, antara mu’tazilah, jabbariyah dll. Nah, ketika itulah Imam Asy’ariy dan juga Imam Maturidiy mulai merumuskan ilmu aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah, yg sekarang dianut warga Nu.

      Nah, selanjutnya kalau kita mengikuti aqidah asy’ariy itu artinya otomatis ikut Aqidah Imam Syafi’i, otomatis juga ikut aqidah rasul dan para sahabat. Kalau masih belum mudeng atau masih bingung juga, saya cuma bisa bilang; Masya’allah, laa khaula walaa quwwata illa billah…. semoga dapat HidayahNYA, amiin.

    2. @abdul khaliq
      Coba ente jelaskan dalil nya dari mana kata “Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”, yang ente bonceng dari Imam Abu Hassan al Asyari ?, kaum ente kan bilang kadang Salafi kadang Ahlus Sunnah Wal Jamaah atau Wahabi, mana yang benarnya nih ?

    3. @abdul Khaliq

      Dalam dunia Agama Islam banyak lahir aliran2 (Madzhab2) dan dalam Kitab-kitab Ushuluddin terdapat Aliran : Ahlus Sunnah Wal Jamaah atau disebut Sunni, Mu’tazilah, Qadiriyah, Jabariyah, Murji’ah, Syiah, Khawarij, Mujassimah, Bahariyah, Rowafid, Ahmadiyah, Wahabiyah, Nijariyah dan masih banyak yang lainnya.
      Golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah terdiri dari dua kelompok. Golongan ini berusaha menolak golongan yang berakidah Bathil. Muncul pada abad ke 3 H dengan memproklamirkan diri bernama “Ahlus Sunnah Wal Jamaah” yang dipelopori oleh Ulama Besar “Imam Abu Hassan al Asyari (234 H)”, kemudian dilanjutkan oleh Imam Abu Manshur Mathuridi (333 H) yang berasal dari Samarqand bernama lengkap : Muhammad bin Muhammad bin Mahmud. dari keduanyalah akhirnya berkembang Madzhab tersebut.
      Kata Ahlus Sunnnah Wal Jamaah kadang disingkat dengan Ahlus Sunnah atau Sunni saja dan Kadang disebut yang membawanya Asyari atau Asya’irah.

      Kedua Imam ini telah memimpin gerakan2 pemikiran dengan kepemimpinan yang seimbang dan Bijaksana, mengambil jalan tengah dalam persoalan Ikhtiar manusia tanpa sikap melampaui (extrim) terhadap akal seperti Faham Mu’tazilah maupun Jabariyah.
      Mu’tazilah atau dapat disebut Qadariyah adala salah satu faham aliran yang dikenal bersifat Rasional dan liberal. Ciri Utama yang membedakan aliran ini dari aliran yang lain adalah pandangan2 theologynya yang lebih banyak ditunjang oleh dalil-dalil akal dan lebih bersifat Filosofi (Filsafat), sehingga sering disebut sebagai aliran Rasionalisme Islam.
      Mu’tazilah atau Qadariyah memandang manusia yang mempunyai kebebasan yang sebebas-bebasnya dalam memilih dan menentukan.
      Dulu Imam Abu Hassan Al Asyari memang beraliran Mu’tazilah, tetapi setelah ayat2 al Qur’an tidak lagi dapat dijangkau oleh akal, akhirnya Imam Abu Hassan al Asyari tobat dengan berdiam diri dan tidak keluar rumah selama 15 hari penuh dengan bertawajuh dan bermunazat kepada Allah. Setelah 15 hari bermunajat akhirnya beliau memproklamirkan diri dan menyatakan keluar dari paham Mu’tazilah dan sekaligus memproklamirkan diri sebagai “AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH”.

      Jalan yang dilalui Ahlus Sunnah didalam memahami aqidah ialah sebagaimana yang telah dilalui oleh Salafus Shaleh. Mereka menjadikan Al Qur’an sebagai sumber untuk mengetahui masalah Aqidah. Ahlus Sunnah mengambil jalan tengah menghimpun antara aqli dan naqli. Tidak terdapat perbedaan antara ajaran yang dibawa oleh Shalafus shaleh, para ahli fiqih dan ahli hadist.
      Dua pandangan Ahlus Sunnah wal jamah dari 15 pandangan adalah : 1. Allah ada tanpa tempat. 2. Menghormati, mencintai dan memuliakan Rasulullah Muhammad salallahu alaihi wa salam, Keluarga Rasulullah, Anak cucu Beliau dan Sahabat2 Beliau dan para pengikutnya.

      Madzhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah ini banyak yang memfokuskan diri :
      1.Ada yang lebih menitik beratkan pada masalah-masalah Fiqih, mereka disebut para Fuqoha.
      2.Ada yang lebih menitik beratkan pada masalah-masalah aqidah mereka disebut para Mutakalimin (ahlul Kalam).
      3.Ada yang lebih menitik beratkan pada masalah-masalah Bathiniyah atau pembenahan Hati, mereka disebut para Sufi (Ahli Tasawuf)
      4.Ada yang lebih menitik beratkan pada masalah-masalah Al Qur’an dan Al Hadist, mereka disebut Ahlul Tafsir dan Ahlul Hadist (Mufasirin atau Muhaditsin).
      Itulah pemokusan diri seorang ahlus sunnah, bukan berarti mereka tidak bisa menjawab satu masalah, tapi lebih terkonsentrasi jawaban yang tepat kepada AHLI nya. Hal ini sesuai dengan Hadist Nabi sallahu alaimi wassalam : Bertanyalah kepada ahlinya.
      Dan ini terbukti dizaman Rasulullah dan Rasulullah memerintahkan, jika ingin bertanya kepada masalah fiqih, maka para sahabat bertanya kepada Ibnu Mas’ud ra dan Ibnu Abbas ra (hadist banyak bersumber dari keduanya Radiyallahu anhum). Jika masalah Hati, sahabat banyak melihat kepada Abu Bakar ra dan Umar ra. Jika masalah Harta, sahabat melihat Usman ra dan Abdurrahman bin auf ra. Jika masalah semua tidak terselesaikan, sahabat bertanya kepada Ali bin Abi Thalib ra (Ali ra adalah pusatnya Ilmu). Bukan mereka tidak menguasai Ilmu, tapi lebih kepada kata “Bertanyalah kepada ahlinya”.
      Begitu juga dalam mengambil Ilmu Fiqh, seorang ahlus sunnah, wajib memegang hanya satu madzhab yang 4 (4 karena banyak pengikutnya, masih banyak madzhab tetapi sedikit pengikutnya). Dalam hal Aqidah tentu yaitu Ahlus Sunnah wal Jamaah, bukan berarti para Imam tidak mengerti aqidah, akan tetapi lebih terfokus dengan sebutan Ahlus Sunnah wal Jamah, karena memang 4 madzhab adalah sama Aqidahnya dalam pengertian yang diartikan oleh pencetus Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

      Jadi I’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Sunni) adalah I’tiqad Maqbudi (dapat dipegang) dan dapat menyelamatkan dari bahaya dunia dan Akhirat. Mungkin koment ini tidak lengkap, mohon maaf yang sebesar-besarnya.
      Sumber :
      Menuju jalan kebenaran – Hb Zukifli bin Muhammad bin Ibrahim banahsan bin Syahab.
      Tafsir kalimat La Ila Ha Illah-Fakhruruddin al Razi.

    4. @Abdul Khalik : “Kalau ternyata paham Ahlu Sunnah Wal Jama’ahnya Para Imam Yang Empat terus ke atas sampai ke Para Sahabat tidak sama dengan paham Ahlu Sunnah Wal Jama’ahnya Abul Hasan Al-Asy’ari, maka berarti paham ahlu sunnah wal jama’ahnya Abul Hasan Al-Asy’ari salah dong, alias menyimpang dari pahamnya Para Imam Yang Empat dan Para Sahabat.”.

      Jawab :

      Aqidah Imam Abu Hasan Al Asy’ari :

      Al Imam Abu al Hasan al Asy’ari (W. 324 H) semoga Allah meridlainya berkata: “Sesungguhnya Allah ada tanpa tempat” (diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam al Asma wa ash-Shifat). Beliau juga mengatakan: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ta’ala di satu tempat atau di semua tempat”. Perkataan al Imam al Asy’ari ini dinukil oleh al Imam Ibnu Furak (W. 406 H) dalam karyanya al Mujarrad.

      Aqidah Imam mazhab :

      1. Imam Abu Hanifah
      Al Imam Abu Hanifah -semoga Allah meridlainya- berkata : “Barangsiapa yang mengatakan saya tidak tahu apakah Allah berada di langit ataukah berada di bumi maka dia telah kafir”. (diriwayatkan oleh al Maturidi dan lainnya).

      Al Imam Syekh al ‘Izz ibn ‘Abd as-Salam asy-Syafi’i dalam kitabnya “Hall ar-Rumuz” menjelaskan maksud Imam Abu Hanifah, beliau mengatakan : “Karena perkataan ini memberikan persangkaan bahwa Allah bertempat, dan barang siapa yang menyangka bahwa Allah bertempat maka ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya)”. Demikian juga dijelaskan maksud Imam Abu Hanifah ini oleh al Bayadli al Hanafi dalam Isyarat al Maram.

      2. Imam Maliki
      Al Imam Malik –semoga Allah meridlainya– berkata: “Ar-Rahman ‘ala al ‘Arsy istawa sebagaimana Allah mensifati Dzat (hakekat)-Nya dan tidak boleh dikatakan bagaimana, dan kayfa (sifat-sifat makhluk) adalah mustahil bagi-Nya” (Diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam al Asma’ Wa ash-Shifat).

      Maksud perkataan al Imam Malik tersebut, bahwa Allah maha suci dari semua sifat benda seperti duduk, bersemayam, berada di suatu tempat dan arah dan sebagainya

      3. Imam Syafi’i
      Al Imam As Syafi’i-Semoga Allah meridhoinya berkata : sesungguhnya Dia Ta‘ala ada (dari azali) dan tempat belum dicipta lagi, kemudian Allah mencipta tempat dan Dia tetap dengan sifatnnya yang azali itu seperti mana sebelum terciptanya tempat, tidak harus ke atas Allah perubahan. Dinuqilkan oleh Imam Al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil Muttaqin.

      4. Imam Hambali
      Al Imam Ahmad ibn Hanbal dan al Imam Tsauban ibn Ibrahim Dzu an-Nun al Mishri, salah seorang murid terkemuka al Imam Malik -semoga Allah meridlai keduanya- berkata: “Apapun yang terlintas dalam benakmu (tentang Allah) maka Allah tidak menyerupai itu (sesuatu yang terlintas dalam benak)” (Diriwayatkan oleh Abu al Fadll at-Tamimi dan al Khathib al Baghdadi)

      Dan apa yang telah masyhur di kalangan orang-orang jahil yang menisbahkan diri mereka pada Imam Mujtahid ini (Ahmad bin Hanbal) bahwa dia mengatakan tentang (Allah) berada di arah atau seumpamanya, maka itu adalah pendustaan dan kepalsuan ke atasnya (Imam Ahmad). (Kitab Fatawa Hadisiah karangan Ibn Hajar al- Haitami)

      Syekh Ibn Hajar al Haytami (W. 974 H) dalam al Minhaj al Qawim, mengatakan: “Ketahuilah bahwasanya al Qarafi dan lainnya meriwayatkan perkataan asy-Syafi’i, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah – semoga Allah meridlai mereka- mengenai pengkafiran mereka terhadap orang orang yang mengatakan bahwa Allah di suatu arah dan dia adalah benda, mereka pantas dengan predikat tersebut (kekufuran)”.

      Aqidah Sahabat :
      sayyidina Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya-:
      “Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat” (Dituturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi dalam kitabnya al Farq bayna al Firaq)

      Al Imam Ali -semoga Allah meridlainya- mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya” (diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq)

      Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain- Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud).

      Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).

      “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), Sebagaimana firmanNya : “……dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya…..”. (Q.S. as-Syura: 11), “Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan”.(QS Ash-Shaffaat: 159)

  235. Buat mas Yanto Jenggot dan mas Ucep, kalau kalian berdua menyatakan bahwa salafus sholih adalah penganut faham ahlu sunnah wal jama’ah versi Abu Hasan Al-Asya’ri kenapa di dalam Silsilah Ulama Ahlu Sunnah Wal Jama’ah yang ana copas dari postingan tidak ada nama-nama Sahabat yang lain, seperti Abu Bakar, Umar bin Khotob, Utsman bin Affan, serta nama Sahabat lainnya Rodiyallohu Anhum dan nama Imam Yang Empat: Abu Hanifah, Malik bin Anas, Syafe’i bin Idris, dan Ahmad bin Hambal, serta ulama-ulama lainnya, seperti Lalikai, Al-Auza’i, Ibnu Mubarok, Mujahid, Qotadah, Said bin Musayyib, Ato bin Robah dan sebagainya Rohimahumulloh.

    Apakah mereka semua yang tersebut di atas belum mempunyai kualitas sebagai ulama ahlu sunnah wal jama’ah?

    Berikut Silsilah Ulama Ahlu Sunnah Wal Jama’ah yang saya copas di atas:

    SILSILAH ULAMA AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH SAMPAI SANADNYA KE ROSULULLAH SAW
    1. Nabi Muhammad SAW
    2. Sayidina Ali
    3. Muhammad (Putra Sayidina Ali, dari istri kedua Kaulah bin Ja’far)
    4. Wasil bin Ato’
    5. Amr bin Ubaid
    6. Ibrohim Annadhom
    7. Abu Huzail Al-Alaq
    8. Abu Hasi Adzuba’i
    9. Abu Ali Adzuba’i
    10. Imam Abu Hasan Ala’asyari (Pendiri Faham “AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH”) 234 H Karangannya: Kitab Maqolatul Islamiyin, Al Ibanah, Al Risalah, Al-Luma’, dll
    11. Abu Abdillah Al Bahily
    12. Abu Bakar Al Baqilany, karangannya: Kitab At Tamhid, Al Insof, Al bayan, Al Imdad, dll.
    13. Abdul Malik Imam Haromain Al Juwainy, karangannya : Kitab Lathoiful Isaroh, As Samil, Al Irsyad, Al Arba’in, Al kafiyah.
    14. Abu hamid Muhammad Al Ghozali. Karnannya: Kitab Ihya Ulumuddin, Misyakatul Anwar, Minhajul Qowim, Minhajul Abidin dll.
    15. Abdul hamid Assyeikh Irsani. Karangannya: kitab Al Milal Wannihal, Musoro’atul Fulasifah dll.
    16. Muhammad bin Umar Fakhruraazi, Karangannya: Kitab Tafsir Mafatihul Ghoib, Matholibul ‘Aliyah, Mabahisul Masyriqiyah, Al Mahsul Fi Ilmil Usul.
    17. Abidin Al Izzy, karangannya: Kitab Al Mawaqit Fi Ilmil Kalam.
    18. Abu Abdillah Muhammad As Sanusi, Karangannya: Kitab Al Aqidatul Kubro dll.
    19. Al Bajury, karangannya: Kitab Jauhar tauhuid Dll.
    20. Ad Dasuqy, karangannya: Kitab Ummul Barohin, dll.
    21. Ahmad Zaini Dahlan, karanggannya: Kitab Sarah jurumiyah, Sarah Al Fiyah, dll.
    22. Ahmad Khotib Sambas Kalimantan, Karangannya: Kitab Fathul ‘Arifin, dll.
    23. Muhammad Annawawi Banten Karangannya: Syarah Safinatunnaja, Sarah Sulamutaufiq, dll.
    Yang Mayoritas Ulama Di Indonesia memakai Karangan Syeikh Nawawi Albantaniy sebagai Kitab Rujukan.
    24. Mahfud Termas, muridnya:
    – Arsyad Banjarmasin
    – Syech Kholil Bangkalan Madura
    – Abdi Shomad Palembang
    25. Hasyim Asy’Ari (Pendiri NU)

    1. @Abdul khaliq
      Mereka semua adalah Imam2 kami, tidak masalah jalur silsilah dari mana, dimana Ahlus sunnah waljamaah disebut juga Sunni mempunyai pandangan yang sama yaitu :
      1. Beriman kepada Allah, malaikat Nya, Kitab-kitab Nya, Rasul-rasul Nya, Hari Akhir serta Qadha dan Qadar Nya.
      2. Merujuk Ilmu aqidah kepada al Qur’an dan as Sunnah
      3. Mendahulukan Nash (wahyu) atas akal.
      4. Menetapkan (tidak menafikan) sifat2 ma’ani Allah
      5. Alam ini adalah baru dan al Qur’an adalah Qadim
      6. Iman adalah perkataan, perbuatan dan keyakinan yang bisa bertambah dgn ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan
      7. Allah menciptakan perbuatan hamba yang berbentuk iktisar
      8. Menetapkan adanya nikmat dan siksa kubur
      9. Kebangkitan adalah dengan jasad dan ruh
      10. Adanya syafaat untuk pembuat dosa besar
      11. Menghormati, mencintai dan memuliakan Rasulullah Muhammad saw, Keluarga Rasulullah, anak cucu beliau,, sahabat2 beliau, para shalihin, ulama dan para pengikutnya
      12.Membenarkan adanya karomah para wali Allah
      13. Tidak mengkafirkan seorangpun kecuali apabila ia melakukan perbuatan yang membatalkan keimanannya
      14. Wajib taat kepada pemimpin kaum muslimin (ulama) selama tidak memerintahkan untuk kemaksiatan
      15. Mendahulukan akhlak diatas kepentingan golongan.
      dan
      YANG UTAMA adalah pengakuan : Allah ada tanpa tempat.

      Ahlus sunnah wal jamaah berada dalam satu naungan Aqidah, sedangkan dalam segi syariat sekalipun ada perbedaan, hanya sebatas perbedaan ijtihad, bukan perbedaan yang menimbulkan perpecahan apalagi sampai mengkafirkan dan menganggap sesat golongan yang berbeda. Banyak tokoh2 yang membina Ahlus sunnah waljamaah, diantaranya adalah para ashabul madzhabib seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbali.

      Dari sekian banyak tokoh2 Ahlus sunnah wal jamaah :
      1. Ada yang lebih menitik beratkan pada masalah2 fiqih (Fuqoha)
      2. Ada yang lebih menitik beratkan pada masalah aqidah (Mutaqalimin)
      3. Ada yang lebih menitik beratkan pada masalah pembenahan hati (Tasawuf)
      4. Ada yang lebih menitik beratkan pada masalah al Qur’an dan Hadist (Ahli Tafsir dan Muhadist)

      Dari sinilah ilmu islam berkembang, sesuai dengan Ilmunya masing2, tidak serampangan membuat ijtihad dan ini dapat dipercaya karena memang yang berijtihad adalah AHLINYA. Serahkanlah semua masalah kepada ahlinya.
      Jadi iktiqad Ahlus sunnah wal Jamaah adalah Iqtiqad Maqbuli (dapat dipegang) dan dapat menyelamatkan dari bahay dunia dan akhirat.

      Dari sinilah, masing2 ulama berbada pada sanad pembelajarannya, tetapi semua bersanad sampai Rasulullah kemudian Malaikat Jibril kemudian Allah SWT.
      Jika ahli fiqih, maka jalurnya akan berbeda dengan ahli Tasawuf, begitu juga Mutaqalimin berbeda jalurnya dengan Ahli Tafsir dan Muhadist.

      Jika seorang ahli tidak bersanad ke Imam Abu Hassan al Asyari, tetapi tetap pandangan dan Aqidahnya sama, maka seorang ahli masuk kedalam Ahlus Sunnah Waljamaah.

  236. Bismillah,

    Saudaraku @abdul kholik, nampaknya anda benar tidak memahami istilah sanad atau sisilah….

    ketahuilah bahwa, silsilah atau sanad diatas hanya dari satu jalur transmisi dan jalur transmisi yang lain masih ada..

    selanjutnya kami sarankan anda untuk lebih mendaya gunakan anugerah Alloh yang berupa akal anda, setidaknya mestinya anda memahami kalau yang disebut hanya Sayyidina Ali bin Abi Tholib ra, tidak berarti aqidah Sayyidina Abu Bakar dan khulafa’ur rosyidin yang lain tidak termasuk, karena jika demikian logika anda maka sama saja anda menuduh aqidah Sayyidina Ali kw, tidak sama dengan aqidah para sahabat yang lain… sekali lagi kami sarankan belajarlah sebagai penuntut ilmu yang merdeka yang tidak terpenjarakan oleh dogma-dogma provokatif

    1. @barata
      Dikoment mana ditulis aswaja penganut keyakinan Wahdhatul wujud ?
      Seberapa jauh ente mengetahui tentang Wahdhatul wujud yang sebenarnya ?

      Apakah ente cuma nonton cerita dari film Syech Siti jenar, trus ente bilang aswaja penganut Wahdhatul wujud ?

      1. Biasa Mas Ucep, Wahabi emang gak mutu bisanya langsung justifakasi padahal di atas nggak ada lho, koment2 yg bicara Wihdatu wujud.

        Padahal Aswaja menolak Wihdatul Wujud, bisa dilihat di link Ummati yg ini:

        http://ummatipress.com/2010/03/31/dasar-akidah-kaum-sufi-terbukti-lurus/

        http://ummatipress.com/2010/03/16/ibnu-arabi-ulama-lurus-yang-diisukan-sesat/

        Wahabi emang ndableg gak mempan dikasih info yg benar, maklum otaknya sudah berganti Tanduk Setan Najd.

    2. Walaupun saya tahu antum salah paham terhadap koment Aswaja, tetapi lebih lebih bagus dong dari pada kelakuan Wahabi yg mempreteli Tuhan jadi tiga oknum, Uluhiyyah, rububiyyah, asma wasifat? Kayak Trinitas Nasroni aja, bukankah itu termsuk ADH-dhooolliiin seperti yg disinyalir dalam surat Al fatihah?

      Padahal ajaran Allah dan nabi-NYA yg benar adalah Rabb itu maksudnya adalah Ilah, Ilah adalah allah, lalu kenapa Wahabi mengatakan beda di antara ILAH dan Rabb kalau kalian merasa muslim?

      Bukankan kaum muslim berdo’a: Yaa ROBBANAA, Yaa ROBBII… artinya yaa Tuhan…. lalu kalian bilang ROBB beda dg ILAH, ajaran apa yang kalian anut?

    3. @Barata

      Tolong buktikan, bahwa kami berpaham wihdatu wujud/manunggaling kawula gusti?

      Kami, ahlussunah Wal Jama’ah dan Para Sufi Menentang Paham Hulul dan
      Wahdatul Wujud.

      Ahlussunnah Wal Jama’ah mengatakan: “Sesungguhnya Allah tidaklah bertempat pada sesuatu, tidak terpecah dari-Nya sesuatu dan tidak menyatu dengan-Nya sesuatu, Allah tidak serupa dengan sesuatupun dari makhluk-Nya”

      Al Imam As-Sajjad Zayn al ‘Abidin ‘Ali ibn al Husain ibn ‘Ali ibn Abi Thalib (38 H-94 H) berkata : “Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat”, dan dia berkata: “Engkaulah Allah yang Maha suci dari hadd (benda, bentuk, dan ukuran)”, beliau juga berkata : “Maha suci Engkau yang tidak bisa diraba maupun disentuh”.

      yakni bahwa Allah tidak menyentuh sesuatupun dari makhluk-Nya dan Dia tidak disentuh oleh sesuatupun dari makhluk-Nya karena Allah bukan benda. Allah Maha suci dari sifat berkumpul, menempel, berpisah dan tidak berlaku jarak antara Allah dan makhluk-Nya karena Allah bukan benda dan Allah ada tanpa arah. (Diriwayatkan oleh al Hafizh az-Zabidi dalam al Ithaf dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah Ahl al Bayt; keturunan Rasulullah).

      Hal ini juga sebagai bantahan terhadap orang yang berkeyakinan Wahdatul Wujud dan Hulul.

      Syekh Abd al Ghani an-Nabulsi -semoga Allah merahmatinya dalam kitabnya al Faidl ar-Rabbani berkata: “Barangsiapa yang mengatakan bahwa Allah terpisah dari-Nya sesuatu, Allah menempati sesuatu, maka dia telah kafir”.

      Al Imam Syekh Muhyiddin ibn ‘Arabi mengatakan: “Tidak akan meyakini Wahdah al Wujud kecuali para mulhid (atheis) dan barangsiapa yang meyakini Hulul maka agamanya rusak (Ma’lul)”.

      Sedangkan perkataan-perkataan yang terdapat dalam kitab Syekh Muhyiddin ibn ‘Arabi yang mengandung aqidah Hulul dan Wahdah al Wujud itu adalah sisipan dan dusta yang dinisbatkan kepadanya. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdul Wahhab asy- Sya’rani dalam kitabnya Lathaif al Minan Wa al Akhlaq menukil dari para ulama.

      1. Bismillah,

        @Mas Agung, mungkin mereka menuntut kita untuk menambah kalimat Syahadat kita agar kita benar-benar bertauhid, dan mungkin syahadat yang mereka akui adalah :

        “Asyhadu An Laa Ilaaha Wa Laa Robban Illalloh Wa Anna Lahu Shifaatil Haq Wa Asmaail Kamilah” (Aku bersaksi bahwa tiada ilah dan tiada Robb selain Alloh, dan sesungguhnya bagi Alloh Shifat-shifat yang haq dan asmaa’ yang sempurna)

    4. Apakah kalo Allah itu turun di langit dunia, pada satu pertiga malam (Bukhari dan Muslim), maka harus dimaknai dengan makna dzahirnya? Padahal Allah itu bisa melalui ruang angkasa atau udara (makhluk-Nya). Bukankah ini aqidah “hulul”, zat Allah menempati makhluk-Nya?

  237. Bismillaah,

    Mumpung thread ini muncul ke permukaan lagi, saya ingin mengajak diri saya sendiri dan kawan-kawan semua untuk menuntut ilmu tentang tata cara shalat Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sehingga shalat kita sesuai dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah kepada para sahabatnya dan ummatnya.

    Mari kita buktikan pengakuan kita sebagai Ahlussunnah wal Jamaah dengan shalat sesuai dengan tata cara shalat Rasulullaah. Mari kita cocokkan shalat kita dengan hadits-hadits yang disampaikan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Bila amalan-amalan dalam shalat kita cocok dengan hadits, maka mari kita terus mengamalkannya. Bila amalan-amalan kita dalam shalat tidak cocok dengan hadits, maka mari kiita tinggalkan amalan-amalan tersebut. Bila tidak mengetahuinya, janganlah kita sok mengaku Ahlussunnah wal Jamaah.

    Wallaahu a’lam.

    1. Bismillah,

      Kang @Ibn Suradi, kami mengapresiasi ajakan anda yang Insya Alloh mulia, namun perlu kami katakan disini bahwa :

      – Perlu kiranya anda melakukan infestigasi ke beberapa Pondok Pesantren khususnya yang ada di pulau Jawa dan sekitarnya, sungguh jika anda mengetahui berapa jumlah generasi muda aswaja yang mengkaji “Kutubus Sittah” jumlahnya mencapai jutaan santri. sehingga anda akan mendapati kenyataan bahwa tuduhan orang-orang yang menganggap kaum aswaja baru “melek Hadits” adalah tuduhan yang tidak berdasar.

      – Tentang sholat kami yang menurut anggapan anda belum sesuai dengan “Shifat Rosul” ala Syekh Albani, karena kami lebih percaya penjelasan dan tarjih dari para Aimmah Al Mujtahidin dan para Ulama penerus Imam Mujtahidnya masing-masing, daripada penjelasan Syekh Albani.

      – Dalam forum ini kami memang memprioritaskan perjuangan dalam menangkal fitnah perpecahan sehingga kami tidak banyak mengangkat masalah-masalah khilafiyah yang anda tawarkan untuk didiskusikan.

      – kami tidak menolak ajakan mulia anda untuk mendiskusikan shifat sholat Rosululloh Saw, namun forum ini menurut kami bukan tempatnya. namun jika anda berkenan, secara pribadi kita bisa bertemu langsung (jika memungkinkan) untuk mendiskusikan seputar shifat sholat Rosululloh Saw. Kami berdomisili di Sidoarjo, jika memungkinkan silahkan anda berikan alamat anda atau no yang bisa kami hubungi untuk menindak lanjuti tawaran kami. mohon dimengerti…

    2. @Ibnu Suradi :

      Saya sepakat dengan apa yang dikatakan Ustadz @bu Hilya, kalau mau membahas secara mendalam tentang tata cara shalat lebih baik di forum OFFLINE (dan saya bersyukur jika Ustadz @bu Hilya bisa meluangkan waktunya untuk diskusi yang lebih tajam), jadi hujjah yang digunakan bisa dilengkapi kitab-kitab yang jelas tidak sekedar Copy Paste. Selain itu juga yang sudah ditakhrij oleh para Imam Mazhab dan Imam Mujtahid secara lengkap dari kitab-kitab beliau baik yang matan maupun syarahnya.

      Selain poin-poin yang disampaikan Ustadz @bu Hilya, saya perlu menambahkan alasan mengapa tidak perlu dibahas disini adalah karena :

      – Saya sudah pernah berdiskusi dengan saudara Ibnu Suradi dengan mengungkapkan dalil yang kuat atas tata cara shalat sesuai versi Ahlus Sunnah Wal Jamaah tapi ternyata dimata Saudara Ibnu Suradi ulama-ulama sekelas Ibnu Hajar Atsqalani, Syaikh Sayid Bakri Syatho Dimyati dan lain-lain pendapatnya diacuhkan. Sebagai contoh saat membahas sutrah, dimana ada pertanyaan dari Saudara Ibnu Suradi, apakah Sajadah cukup sebagai tanda sutrah ? Jawaban menggunakan ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah tidak digubris. Dan ketika saya sampaikan fatwa Utsaimin, dia (Saudara Ibnu Suradi) langsung mengiyakannya dan melanjutkan pembahasan yang semuanya diatur oleh dia sendiri. Orang seperti saudara Ibnu Suradi ini istilah Jawanya menggunakan “tembung : POKOKE”. Jadi istilah lainnya menangnya sendiri dan tidak mau menerima kebenaran para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang hujjahnya jelas bahkan didasarkan hadits yang juga disebutkan.

      Akhirnya saya mengakhiri dan meminta saudara-saudara Ahlus Sunnah Wal Jamaah tidak melanjutkan karena, saya tekankan sekali lagi, bahwa kami sangat menghormati ulama-ulama kami, dan saya pribadi tersinggung ulama-ulama kami dinafikkan untuk menerima pendapat ulama Salafy Wahabi yang jalur sanadnya terputus.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

      1. Bismillaah,

        Kang Mas Derajad,

        Saya tidak mempermasalahkan hadits tentang bolehnya sajadah sebagai sutrah. Saya juga tidak membantah penjelasan Imam Ibnu Hajar. Yang saya ingin sampaikan adalah efektifitas sajadah sebagai sutrah untuk mencegah orang dari lewat di depan orang yang sedang shalat karena perintah sutrah dilanjutkan dengan larangan melewati di depan orang yang sedang shalat.

        Kalau kita baca hadits-hadiots tentang sutrah, maka kita mendapatkan banyak barang yang bisa dijadikan sutrah seperti tombak yang dipancangkan di depan kita saat shalat, pelana kuda, unta, tempat tidur, tembok, tiang, tas setinggi pelana kuda, dll. Ada juga hadits yang menyatakan bahwa garis juga bisa dijadikan sutrah. Makanya, banyak orang menggunakan sajadah sebagai sutrah.

        Dari sisi efektifitas mencegah orang dari lewat di depan orang yang sedang shalat, maka tembok, tiang, punggung orang dan tas setinggi pelana kuda tentu lebih efektif daripada sajadah atau sekedar garis.

        Wallaahu a’lam.

    3. @Ibnu Suradi : “Mari kita buktikan pengakuan kita sebagai Ahlussunnah wal Jamaah dengan shalat sesuai dengan tata cara shalat Rasulullaah.”

      Jawab :
      Menurut saya, itu adalah komentar yg bodoh. Mengapa bodoh? Karena saudara ini sepertinya tidak paham, apa itu ijtihad.

      Dalil itu (Al-Qur’an dan Hadist), ada yg bersifat qothi dan zhanni. Contoh, hukum sholat lima waktu adalah fardhu ‘ain, karena dalilnya bersifat qothi, jelas dan tidak bisa ditafsirkan lain. Dan juga, tidak ada ikhtilaf dalam hal ini.

      Namun, bagaimana tata cara sholat, merupakan ikhtilaf dikalangan ulama, baik di zamannya para Imam mazhab hingga saat ini. Contoh, hukum qunut di setiap sholat subuh, di syari’atkan atau tidak?

      Menurut mazhab Hanafi, qunut subuh telah terhapus dan tidak di syari’atkan lagi. Mazhab Syafi’i dan mazhab Maliki, qunut subuh di syari’atkan, namun berbeda tempat. Dalam mazhab Syafi’i, qunut subuh setelah ruku’, sedangkan mazhab Maliki sebelum ruku’. Menurut mazhab Hambali, qunut subuh tidak di syari’atkan, yg ada hanyalah qunut nazilah.

      Tapi, perbedaan tersebut tidak lantas mengeluarkan salah satu dari Imam Imam Tersebut dari barisan Ahlussunah.

      Ibn Khaldun dalam kitab Muqaddimah menuliskan bahwa produk-produk hukum yang berkembang dalam disiplin ilmu fiqih yang digali dari berbagai dalildalil syari’at menghasilkan banyak perbedaan pendapat antara satu imam mujtahid
      dengan lainnya. Perbedaan pendapat di antara mereka tentu disebabkan banyak
      alasan, baik karena perbedaan pemahaman terhadap teks-teks yang tidak sharîh,
      maupun karena adanya perbedaan konteks. Demikian maka perbedaan pendapat
      dalam produk hukum ini sesuatu yang tidak dapat dihindari. Namun demikian,
      setiap produk hukum yang berbeda-beda ini selama dihasilkan dari tangan seorang ahli ijtihad (Mujtahid Muthlak) maka semuanya dapat dijadikan sandaran dan rujukan bagi siapapun yang tidak mencapai derajat mujtahid, dan dengan demikian masalahmasalah hukum dalam agama ini menjadi sangat luas. Bagi kita, para ahli taqlîd; orang-orang yang tidak mencapai derajat mujtahid, memiliki keluasan untuk mengikuti siapapun dari para ulama mujtahid tersebut.

    4. @Ibnu Suradi

      Kami, dalam masalah fiqih mengikuti salah satu dari mazhab yg empat. Bila ada ikhtilaf, maka kami mengikuti hasil tarjih dari mujtahid yg ada dalam mazhab tersebut. Contoh, salah satu pentarjih dalam mazhab Syafi’i adalah Imam Nawawi dll.

  238. Bismillaah,

    Kang @bu Hilya,

    Pengkajian Kutubus Sittah tentu bertujuan untuk diamalkan. Setelah mengkaji hadits tentang thuma’ninah dan merapatkan shaf dalam shalat, misalnya, seseorang hendaknya mengamalkan hadits tersebut dalam shalat.

    Tentang shalat, kita mengetahui bahwa shalat adalah amal ibadah yang sangat penting. Ia merupakan amal ibadah yang pertama kali dihisab di hari kiamat. Meski terdapat banyak ikhtilaf, shalat tetap harus dibahas sedetil-detilnya sehingga ummat yang mengunjungi ummatipress memperoleh manfaat yang sangat besar.

    Terakhir, saya setuju bahwa kita musti mengikuti pendapat ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Namun, lebih penting lagi adalah mengetahui ayat dan hadits yang dijadikan dasar pendapat ulama muktabar. Karena tugas ulama adalah menjelaskan Qur’an dan Sunnah kepada umat Islam.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Barata

      Mana buktinya?

      Aqidah Ahlussunah Wal Jama’ah : As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Makhluk

      Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227- 321 H) berkata: “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi
      oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.
      Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).

      Al Imam Abu Manshur Al Baghdadi (W. 429 H) dalam kitabnya al Farq Bayna al Firaq berkata:
      “Sesungguhnya Ahlussunnah telah sepakat bahwa Allah tidak diliputi tempat dan tidak dilalui oleh waktu”.

      DASAR, TUKANG FITNAH

      1. Jika tidak setuju katakan dengan jelas bahwa “ALLAH TIDAK ADA DIBUMI DAN TIDAK BERSATU DENGAN MAKHLUKNYA”. gitu saja kok repot. Kalau begitu anda meyakini Allah ada dilangit dan bersatu dengan makhlukNya yang dilangit ???.

    2. Saudara-saudara Ahlus Sunnah Wal Jamaah,

      Ucapan saudara BARATA menurut saya TIDAK PERLU DITANGGAPI. Sangat terlihat dia hanya sebagai PENGGEMBIRA dan PEMANAS SUASANA.

      Hal ini bisa kita lihat tanggapannya pendek-pendek dan kata-katanya tendensius tapi tidak bisa memberi dalil yang jelas.

      Maaf jika kurang berkenan.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

      1. @Mas Derajad
        Maaf ilmu anda hebat tapi otak kiri anda tidak berfungsi, sdr. ibnu suradi sedang memberikan trigger agar otak kiri anda bekerja. ilmu itu bukan sebagai hafalan doang.., orang awam yang anda akui sebagai aswaja disudut sudut kampung menunggu pencerahan dari anda, kalau hanya bisa membantah kajian salafy diweb ini saja, anda hanya seperti perkataan anda dan berbalik menjadi “Ucapan ustazd aswaja menurut saya TIDAK PERLU DITANGGAPI. Sangat terlihat dia hanya sebagai PENGGEMBOS ISLAM dan PEMANAS SUASANA”.

        1. Barata@
          mas barata, mana kalaimat dari Ibnu suradi yg nantum bilang sbagi triger, tolong dikutp mas, kalau gak bisa kutip kalimat yg antum sebut sbagai trigger tsb, berarti otak kiri antum sendiri yg macet. Jadi ibaratnya asal mulut mangap dan bersuara. Maaf, sekali lagi maaf.

        2. @barata :

          He..he..he.. 😀 akhirnya saya bisa pancing aslinya saudara Barata yang jelas tampak kacau perkataannya. Pakai istilah trigger lagi…. 😆 memangnya ini bahasa pemrograman 😀

          Kalau saudara merasa tidak suka masuk situs ini…ya sudah jangan dibuka Mas….Gitu saja koq repot

          Situs ini tujuannya kan untuk memperkuat i’tiqad ahlus sunnah wal jamaah yang sering dikatakan bid’ah, khurafat dan lain-lain.

          Kalau mau jawab ya gunakan dalil, kalau gak …nyimak saja lebih baik, daripada komentar tidak ada isinya.

          Kebenaran hakiki hanya milik Allah
          Hamba Allah yang dhaif dan faqir
          Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    3. @barata
      Dari koment ente, jelas sekali ente gak mengerti pengertian dan arti sebenarnya dari Wahdhatul wujud.
      Ente dengar dan ente katakan/koment.

  239. Bismillah,

    Kang @Ibnu Suradi, Benar apa yang anda katakan, bahwa kajian “Kutubus Sittah” bertujuan untuk diamalkan… namun ketahuilah bagi kami dari hadits hingga sampai menjadi produk hukum sungguh membutuhkan perangkat sarana yang memadahi, sehingga apa yang termaktub dalam redaksi hadits secara tekstual tidaklah serta merta dapat diketahui maksudnya oleh kaum awam, mengingat banyak redaksi hadits yang kadang kita salah artikan, contoh:

    Hadits ditolaknya sholat bagi Musholli yang Isbal, yang sempat anda sampaikan; dalam pandangan para Ulama yang kami ketahui hadits tersebut adalah Tahdzir (ancaman) bagi orang sombong dengan simbol “Isbal”, pengertian tersebut jelas didasarkan pada penjelasan hadits-hadits lain yang terkait dan tidak menempatkan sebuah hadits berdiri sendiri, mengingat yang paling bisa menjelaskan sebuah hadits tak lain adalah hadits-hadits yang lain yang berkaitan. Oleh karenanya para Ulama memandang Hadits ditolaknya sholat bagi orang yang Isbal tidak melahirkan produk hukum Batalnya Sholat akibat Isbal…

    Inilah satu contoh yang sekaligus cermin buat kita agar tidak serampangan memaknai al qur’an maupun hadits, terlebih hanya bermodalkan terjemah… mengingat beratnya ancaman bagi seseorang yang berdusta atas nama Alloh dan Rosul-Nya, yakni “Fal Yatabawwa’ Maq’adahu Min An Naar..”

    Selanjutnya, apa yang kami anggap prioritas diforum ini, bukan berarti tidak menjadi prioritas dikesempatan lain, para ulama’ kami memberi bimbingan bijak “Likulli Makaanin Maqool Wa Likulli Maqoolin Makaan”

    Wallohu a’lam

    1. Bismillaah,

      Kang @bu Hilya,

      Penjelasan anda tentang isbal saat shalat menunjukkan betapa pentingnya penyampaian hadits berikut penjelasannya tentang shalat kepada kita sehingga kita bisa berhati-hati untuk tidak isbal saat shalat.

      Tidak diterimanya shalat memang bukan berarti batalnya shalat. Namun, alangkah sayangnya nilai shalat kita sangat berkurang karena shalat kita tidak diterima oleh Allah karena isbal.

      Seperti juga hadits yang menyatakan bahwa pencuri yang paling jahat adalah orang yang mencuri dalam shalat. Yakni, orang yang shalatnya seperti ayam mematuk-matuk. Orang yang shalat sangat cepat. Hadits ini beserta penjelasannya perlu disampaikan kepada kita sehingga kita berhati-hati untuk tidak shalat dengan cepat seperti shalat tarawihnya orang-orang di banyak masjid di Indonesia.

      Bisa jadi orang yang shalat tarawih dengan cepat belum mengetahui hadits tersebut dan penjelasannya.

      Sekali lagi, meski banyak ikhtiaf, hadits-hadits tentang shalat beserta penjelasannya perlu disampaikan kepada kita semua yang mengaku Ahlussunnah wal Jamaah.

      Wallaahu a’lam.

  240. Penuntut ilmu agama Islam atau ahli agama Islam tidaklah sama dengan disiplin ilmu lainnya seperti science atau social. Ahli agama sangat terikat dengan Al-Qur’an, Hadist Shohih, Ijma’ shahabat dan fatwa-fatwa ulama ahlussunnah yang berjalan mengikuti salafush sholih. Terikat dalam artian tidak boleh menyelisihi dan juga harus memisahkan (tasfiyah) mana yang datang dari Islam dan mana yang datang dari bukan Islam. Hanya dengan jalan inilah para penuntut ilmu atau ahli ilmu akan selamat aqidahnya, ibadahnya dan muammalahnya seperti telah selamatnya tiga generasi terbaik ummat agama ini. Sekali saja mereka menyelisihi ummat terbaik ini, maka itulah pintu-pintu menuju kesesatan seperti bid’ah, meninggalkan sunnah dan bergolong-golongan.
    Sebuah methode yang mulia telah diajarkan oleh salafush sholih dalam menuntut ilmu agama ini. Pertama, pahami ayat Al Qur’an dengan ayat Al Qur’an yang lain. Kedua, pahami ayat Al Qur’an dengan hadist shohih. Ketiga, pahami hadist shohih dengan hadist shohih. Keempat, pahami hadist shohih dengan pendapat atau ijma’ shahabat ridwanallah ajma’in. Selanjutnya, perhatikan generasi tabi’in dan tabiuttabi’in didalam memahami agama ini. Karena mereka adalah sebaik-baiknya umat pada agama ini. “Khoirunnas qorniy tsumma lladzina yalunahum tsumma lladzina yalunahum”. Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik akan tetap selalu berada dijalan yang lurus pada agama ini.
    Mari kita perhatikan pada hadist yang diucapkan oleh Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam “kullu bid’atin dholalah” (semua bid’ah adalah sesat). Dari mulut yang mulia ini juga terucap hadist lain yang berbunyi “man amilan amalan laisa alaihi amruna fahuwa roddun” (barang siapa yang beramal dengan amalan yg tidak ada urusan kami maka ia tertolak). Juga hadist lain “maa baqiya syai’un ma yuqooribuku ila al jannah wa yuba’idu min an naar illa wa qod buyyina lakum” (tidak tersisa sedikitpun apa saja yang mendekatkan ke surga dan apa saja yang menjauhkan dari neraka kecuali sungguh telah dijelaskan).
    Dengan pemahaman methode diatas (paragraph 2), apakah ada celah bagi kita untuk melakukan suatu ibadah yang tidak diajarkan Rasulullah? Apakah kita ingin mengambil pendapat lain namun pada saat yang sama kita mencampakkan petunjuk Rasulullah? Kepada siapa agama ini diturunkan? Bukankah sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah? Belum jelaskah ayat Al Qur’an: “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS Annisa 65)

  241. Bismillaah,

    Sekali lagi, pengakuan kita sebagai Ahlusunnah wal Jamaah hendaknya dibuktikan dalam amal ibadah kita kepada Allah terutama shalat karena shalat adalah amal ibadah yang sangat penting sebagaimana termaktub dalam hadits yang menyatakan bahwa shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab di hari kiamat.

    Ahlussunnah wal Jamaah berusaha sekuat tenaga untuk shalat sesuai dengan shalat yang diajarkan oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Maka mari kita buktikan pengakuan kita sebagai Ahlussunnah wal Jamaah dengan shalat sesuai tata cara shalat Rasulullaah.

    Meski banyak ikhtilaf, hadits-hadits dan penjelasannya tentang tata cara shalat Rasulullaah hendaknya disampaikan kepada kita semua agar kita tidak sekedar mengaku sebagai Ahlussunnah wal Jamaah. Jangan sampai kita seperti yang digambarkan dalam perkataan: “Banyak orang mengaku menjadi kekasih Laila. Namun, ternyata Laila tidak mengenal mereka.”

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi :

      Bukankah Ustadz @bu Hilya sudah mengajak saudara bertemu offline ? Beliau mengatakan posisi beliau di Sidoarjo Jawa Timur. Saudara bawa sebanyak-banyaknya Kitab saudara, syukur bukan terjemah apalagi berbahasa Indonesia yang banyak dimanipulasi. Nah sekarang saudara tinggal tunjukkan alamat saudara dimana, berapa nomor telepon, maka Ustadz @bu Hilya akan menghubungi saudara. Kalaupun saya tidak sibuk dengan pekerjaan saya, dengan senang hati sayapun akan ikut sekalian silaturrahmi.

      Saya juga sudah pernah membahas tentang shalat dengan saudara, tapi semua materi diatur oleh saudara, dan beberapa hujjah yang sudah jelas membahas hadits-hadits yang saudara kemukakan masih saudara pertanyakan, padahal yang menjelaskan hadits itu ulama yang jelas keilmuannya dan sanadnya. Dan pada suatu kesempatan saya sampaikan pendapat Utsaimin dan Ibn Bazz saudara langsung mengganti materi pembicaraan. (Silahkan baca ulang diskusi kita sampai akhirnya terhenti / saya putuskan berhenti).

      Dus, karena itu saya sepakat/setuju dengan penawaran Ustadz @bu Hilya untuk bertemu saja secara offline, agar lebih jelas juga gerakan shalat yang saudara maksud seperti mbegagah, menempel pundak, sutrah dan lain sebagainya. Bagaimana tawaran itu, saudara terima ???

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  242. Bismillaah,

    Kang Mas Derajad,

    Ilmu pengetahuan tengang tata cara shalat Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari hadits-hadits shahih ini sangat penting sekali bukan hanya bagi saya dan Kang @bu Hilya, tapi juga bagi pengunjung lainnya baik yang aktif maupun pasif dalam diskusi ini. Di antaranya dari shalatnya, seseorang bisa diketahui apakah ia Ahlussunnah wal Jamaah atau bukan. Jangan sampai kita mengaku Ahlussunnah wal Jamaah tapi shalat kita ternyata tidak sesuai dengan shalat yang diajarkan Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya.

    Kita bersedia membahas banyak hal tentang agama ini di forum ini. Namun kenapa kita enggan membahas tata cara shalat Rasulullaah? Meski banyak ikhtilaf, tetap saja masalah tata cara shalat Rasuulullaah penting untuk dibahas agar kita dapat membuktikan pengakuan kita sebagai Ahlussunnah wal Jamaah.

    Wallaahu a’lam.

    1. Okelah kalau begitu kang ibnu Suradi,
      Rupanya antum Seorang Ahlussunnah Sejati, mantab kang. Tetapi kang, menurut pembahasan para Ulama Aswaja berdasarkan hadits2 shahih dan hasan maka ditemukan SUNNAH SHALAT itu ada 500 lebih macamnya, apakah antum sudah melakukannya? Apakah kalau tidak melakukan Sunnah2 Sholat yg 500 lebih macamnya tsb termasuk AHLUL BID’AH? Ingat, Salafy sering mengatakan kalau tidak melakukan Sunnah berarti Ahlul Bid’ah. Silahkan dijawab kang, saya tungguin sampai malam ini, syukron.

    2. @Ibnu Suradi :

      Saya kan sudah bilang didokumentasikan. Itu artinya apa ??? Ya nanti kita sampaikan ke khalayak hasil diskusinya.

      Pengalaman saya waktu diskusi dengan Saudara Ibnu Suradi yang dibahas terkait sunnah shalat, bukan Syarat dan Rukun. Jadi tidak ada dalam pembahasan itu yang membatalkan shalat. Mengenai sunnat tata cara shalat cukup banyak ragamnya, misal cara bersedekap, sutrah, cara berdiri dan lain sebagainya. Tidak mungkin itu semua dibahas dalam forum ini. Karenanya Ustadz @bu Hilya mengajak saudara untuk bertemu. Daripada saudara koar-koar di situs ini membahas tata cara shalat yang ternyata yang dibahas hanya masalah sunnat shalat saja. Apalagi berkaitan dengan gerakan shalat biar kita tahu apa yang saudara maksud mbegagah dengan menempelkan mata kaki, bagaimana kalau tinggi pendeknya jamaah berbeda, menempelkan pundak, jarak antar jamaah, tentang sutrah, bersedekap dan lain-lain.

      Sekali lagi kalau saya jadi saudara, saya akan dengan senang hati membahasnya di forum offline, jadi semuanya jelas. Bagaimana saudaraku ???

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  243. Ustad @mas derajat dan semua rekan2 disini, kalau diskusi sama @ibnu suradi alias @baba, kita jawab pakai logika aja gak usah menulis hadist atau ayat al Qur’an, karena percuma dia gak bakalan terima koment2 yang jadi topik bicara alias Tambeng alias dia merasa sudah hebat merasa benar sendiri, lihat aja hampir semua artikel di Ummatipress ini diisi oleh dia cuma bahas masalah Shalat ala albani dan Isbal aja. Apa memang bocah2 Wahabi kayak gitu ya ??????

  244. @mas derajad, pembahasan sholat tdk bisa didiskusikan 1-2 hari atau 1-2 tahun tapi lama mas. Ini mungkin yang membuat Ibnu Suradi tdk bersedia utk offline ketemu hanya dalam hitungan jam. Jadi forum ini bisa jadi l