Fikih Sunnah

KERANCUAN ALA SALAFI WAHABI DALAM PEMBAGIAN BID’AH

Atas dasar apa Bid’ah dibagi dalam kategori “BID’AH AGAMA“ dan “BID’AH DUNIA“ ?

ANALISA PEMBAGIAN BID’AH MENJADI BID’AH DINIYYAH (AGAMA) DAN BID’AH DUNYAWIYYAH (DUNIA)

Bismillah,

Jika seseorang membagi bid’ah dalam kategori bid’ah yang baik atau “BID’AH HASANAH” dan “BID’AH SAYYI’AH” sungguh memiliki landasan hukum, setidaknya berhujjah dengan pernyataan Sayyidina Umar ra, ketika dengan tegas mengomentari penghimpunan jama’ah tarowih dengan kalimat “NI’MATIL BID’ATU HADZIHI”.  Apapun yang dikehendai Sayyidina Umar dengan kata Bid’ah dalam ucapan beliau, apakah Bid’ah menurut bahasa, atau bid’ah dalam istilah Syar’i. Yang pasti beliau telah menyatakan adanya bid’ah yang baik.

Begitu juga sikap awal Kholifah Abubakar ra, dan sahabat Zaid bin Tsabit ra, ketika menerima usulan menghimpun al qur’an, hal ini tercermin dari pernyataan beliau berdua :

كَيْفَ تَفْعَلُ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“ Bagaimana anda mau melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rosululloh saw? ”

Bukankah ini indikasi kuat terhadap kekhawatiran beliau untuk terjerumus kedalam bid’ah sesat? Sekaligus mengisyaratkan bahwa gagasan Umar ra, untuk menghimpun al qur’an adalah bid’ah. Lantas apakah setelah beliau bertiga(yang juga di-ijma’i oleh para sahabat yang lain) menghimpun al qur’an, kita berani menganggap tindakan mereka adalah bid’ah sesat?

BACA JUGA:  Dzikir Brjama'ah Setelah Shalat dengan Suara Keras Itu Sunnah

Inilah salah satu dari diantra sekian banyak hujjah para Ulama’ kami membagi bid’ah menjadi setidaknya dalam dua kategori, yakni “ BID’AH HASANAH/MAHMUDAH” dan “ BID’AH SAYYI’AH/ MADZMUMAH “

Lantas atas dasar apa Bid’ah dibagi dalam kategori “BID’AH AGAMA“ dan “BID’AH DUNIA“ ?

Jika kita analisa ternyata pembagian ini bermula dari kebuntuan setelah mengeneralisir (tanpa kecuali) kata كل dalam hadits كل بدعة ضلالة, yang mengakibatkan sulitnya dan hampir mustahil untuk menjalani roda kehidupan. Bayangkan jika segala yang tidak pernah dicontohkan Nabi saw maupun para sahabat ra, adalah Bid’ah sesat (tanpa kecuali), emang kita mau naik hajji pakai onta?  Berawal dari kenyataan ini muncullah solusi yang dipaksakan yakni membagi bid’ah dalam kategori “BID’AH AGAMA“ dan “BID’AH DUNIA“ .

BACA JUGA:  Asal Muasal Bacaan Keras Basmalah dalam Surat Al Fatehah

Kelemahan pembagian Bid’ah dalam kategori “BID’AH AGAMA“ dan “BID’AH DUNIA“ atau menganggap urusan dunia bukan bid’ah dan tidak perlu dipermasalahkan:

– Pembagian ini tidak terdapat contohnya baik dari Rosululloh saw maupun para sahabat dan generasi Islam awal. Jika mereka (salafi/wahabi) konsisten dengan konsep mereka tentang bid’ah, seharusnya pembagian ini masuk kategori “BID’AH DHOLALAH”.  Dan menurut kami inilah contoh Bid’ah Dholalah, dimana mereka membuat ketetapan dalam agama yang tidak bersumber dari dalil-dalil agama.

– Membagi bid’ah dalam kategori :
“BID’AH AGAMA“ dengan mengacu pada hadits: من احدث في امرنا ما ليس منه فهو رد
“BID’AH DUNIA“ dengan mengacu pada hadits : انتم اعلم بامور دنياكم “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian”.

Itu adalah sikap ceroboh dan memaksakan dalam mencari sandaran hujjah (dalil) yang pada akhirnya menimbulkan kerancuan. Berikut bukti lemahnya hujjah tersebut sekaligus dampak (kerancuan) yang ditimbulkannya:

Jika yang dimaksud bid’ah sesat dalam agama adalah : Menetapkan sesuatu yang tidak pernah ditetapkan oleh Syari’ (Alloh melalui Rosul-Nya) dalam arti mewajibkan apa yang tidak diwajibkan agama, mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan agama, mensunnahkan atau memakruhkan sesuatu tidak dengan dalil-dalil syar’i, maka kami sepakat. Namun ketika membagi bid’ah dengan “BID’AH DUNIA” dengan bersandar pada hadits diatas, akan menimbulkan pemahaman: Bahwa segala sesuatu yang baru dalam urusan dunia, tidak memiliki konsekwensi hukum apapun. Bukankah orang bodoh yang tolol saja mengerti bahwa tidak semua urusan dunia ini baik? Sebagian ada yang baik (hasanah) dan sebagian ada yang buruk (sayyi’ah)

BACA JUGA:  KONTRADIKSI SEORANG SYEH MUHAMMAD BIN SHOLIH AL ‘UTSAIMIN

– Pembagian ini tidak memperhatikan metode para salaf as sholih dalam memahami nash-nash agama. Coba anda perhatikan Imam Bukhori menempatkan Hadits: وَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ  diantaranya pada bab “Najsy”  (tindakan curang dalam jual beli), maka pertanyaannya sekali lagi adalah : Benarkah Bid’ah Dunia tidak memiliki konsekwansi apa-apa?

Wallohu A’lam

Oleh: Abu hilya

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

69 thoughts on “KERANCUAN ALA SALAFI WAHABI DALAM PEMBAGIAN BID’AH”

  1. Syukron mas Abu Hilya…..

    Saya sangat setuju kalau Salafi Wahabi itu digelari juga sbg “KAUM KOTRADIKTIF”. Karena mereka yg pertama memulai “perang” dg menyerang Aswaja sebagai Ahlul bid’ah, tetapi kemudian ketika Aswaja balik merespon “serangan” Wahabi salafi maka terbukti dg sangat gamblang bahwa Wahabi Salafi yg justru terbukti sebagai AHLUL BID’AH yg sebenarnya.

    Bisa kita lihat di sini, dalam pembagian bid’ah menjadi Bud’ah Dunia dan Bid’ah Agama pun sama sekali tidak mempunyai sandaran yg kokoh. Begitu juga dalam pembagian Tauhid sehingga menjadi sangat mirip dg konsep TRINITAS. Sehingga menggiring mereka dalam kubangan Bid’ah Dholalah.

    1. Kasihan sekali, akhirnya antum nggak bisa komentar lagi, koment-nya “cuma begitu aja …..”, nanti gak akan lama lagi pasti menghilang seperti ibnu Suradi.

    1. al faqir@

      makanya saya sangat setuju kalau Wahabi itu mendapat gelar baru; “KAUM KONTRADIKTIF”, plin-plan alias KAUM MUNAFIK.

  2. Kalau ada yg bilang salafi itu berpartai, artinya dia enggak ngerti ttg salafi. udah gak ngerti apa-apa, pake komen lagi…. asbun…(pemukanya aja asbun apalagi pengekornya)

    1. emang salafi itu apa?? yang suka bom bunuh diri itu ya??? :mrgreen:

      gak usah mengelak deh…wong dari dandanannya dah keliatan parTAI terebut isinya orang2 bercelana cingkrang dan berjidat gosong…

      ngaku paling murni islamnya, tapinya munafiq :mrgreen:

      1. Wah bahaya kalau partai tsb berkuasa, indonesia ini bisa jadi arab saudi kedua alias jadsi negara wahabi yg patuh dan tunduk kepada amerika dan Israel.

    2. Bismillah,

      Mas @Ibn abdul chair,

      Mungkin yang anda maksud dengan salafi yang menolak metode Harokiyah (pergerakan) dan menganggap berpartai atau terlibat dalam politik praktis adalah bid’ah adalah “Salafi Yamani”… akan tetapi kelompok ini juga tidak konsisten, terbukti dengan keberadaan FKAWJ yang kemudian melahirkan Laskar Jihad dengan tokohnya yakni JUT

      Bagaimana dengan “Salafi Haraki” ?

      Kami tahu, meski sangat minim, setidaknya dalam pantauan kami ada memang Salafi yang independent yang tidak mengkaitkan kelompok mereka dengan organisasi manapun. Kami juga tahu istilah-istilah yang digunakan untuk nama dalam kelompok-kelompok Salafi,diantaranya ada Salafi Turotsi, Salafi ikhwani, Salafi Jihadi, Salafi Turobiy, Salafi Ghuroba dll…

      lihat sebagian kecil dari perseteruan diantara mereka di :

      http://sunnisalafi.blogspot.com/2009/03/pembesar-turotsi-kuwait-bersama-rafidhi.html

  3. Setahu ane, Memang Wahabi tidak berpartai dan tidak akan berpartai (pernah ane baca dikoran-pendapat utsaimin), tapi mereka akan membonceng Partai disuatu Negara. Ini bisa kita lihat, system negara Arab Saudi yang berbentuk kerajaan yang tidak ada partai.
    Keboncengan mereka biasanya, meminta jatah dalam hal pendidikan dan lembaga-lembaga yang berbau pendidikan khususnya. Lihat aja diberbagai Universitas, pasti banyak yang beraliran Salafi Wahabi dan turunannya.
    Tapi ini sudah terbaca semua, oleh pihak2 yang terkait dan sekarang ini sudah ada kemajuan yang cukup berarti.
    Lihat lagi mereka memasuki kurikulum, sehingga kurikulum pendidikan jadi Rusak, seperti contohnya, dibeberapa daerah banyak buku2 wajib yang isinya ngalor-ngidul (kita sering dengar di TV).
    Bahkan sekarang atas biaya Saudi, akan mendirikan sebuah Universitas didaerah Cililitan Jakarta, tapi gak tau kenapa, perencanaannya agak tersendat.

    Semoga aja Faham Salafi Wahabi dan turunannya gak sampai ke anak cucu kita, maka dengan adanya blog ini UMMATIPRESS dapat sedikit membendung faham2 mereka. Dan kepada rekan2 kalau bisa memberitahukan kepada teman2 dirumah, dikantor agar memberitahukan untuk membuka blog ASWAJA ini yang siap memblok faham2 mereka.

    1. Semoga pula dalam waktu dekat kekuasaan “dinasti saud” akan runtuh, dan digantikan republik Islam yang perfaham ASWAJA yang demokratis serta pemimpinnya dari kalangan “Ahlul Bait”…….Amin Amin ya RobbalAlamin.

  4. Bismillah,

    Secara garis besar, dalam persoalan politik Salafi terpecah dalam dua kelompok.

    Pertama adalah : Salafi Haraki ; Kelompok yang melegalkan Ber-Partai sebagai medan dakwah dengan alasan mereka memandang itu cara yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan.

    Kedua adalah : Salafi Yamani , Kelompok yang memandang keterlibatan dalam semua politik praktis seperti pemilihan umum, sebagai bid’ah dan penyimpangan. Kelompok ini juga menolak metode “harokiyah” (pergerakan), akan tetapi tidak konsisten. Hal ini tebukti dengan munculnya “Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jama’ah (FKAWJ) yang kemudian melahirkan “Laskar Jihad” dengan tokoh JUT.

    Disamping dua kelompok besar tersebut, ada kelompok-kelompok Salaf/Salafi independent yang tidak mengkaitkan diri dengan jama’ah, madrasah, atau organisasi apapun.

    Selain istilah Salafi Yamani dan Salafi Haraki ada istilah-istilah lain seperti Salafi Sururi, Salafi Jihadi, Salafi Wahdah Islamiyah, Salafi Turotsi, Salafi Ghuroba, Salafi Ikhwani, Salafi Haddadi, Salafi Turobiy dll.

    Untuk mengetahui sedikit perseteruan diantara mereka silahkan meluncur ke alamat berikut :

    http://sunnisalafi.blogspot.com/2009/03/pembesar-turotsi-kuwait-bersama-rafidhi.html

    1. Terima kasih ustad @abu hilya, atas pembagian kelompok Wahabi.
      Memang nyata waktu PKS dikatakan sebagai Wahabi, tapi ini ditepis oleh ketua umumnya waktu itu HNW, padahal dia sendiri murid dari Utsaimin waktu kuliah S2 di Madinah.

  5. Kenapa wahabi lain pada males komen di sini ? Karena mereka faham bhw akan sulit membantah argumen2 & penjelasaan2 di sini. Dan kenapa si IBN ABDUL satu2nya waheboy yg tetap setia komen di website ini ? Karena si Ibn Abdul ini satu dari sekian banyak waheboy yang nggak pernah ngerti dan nggak pernah faham apa yang dikatakannya sendiri. Istilahnya satu diantara sekian banyak “Waheboy KOPLAK” yang kerjanya bergentayangan di internet bid’ahin sana bid’ahin sini, nyesatin sini nyesatin sini. Nggak nyadar2 bhw dirinya sendiri sudah tersesat terlalu jauh ke alam “tanduk setan”. Kasihaan ya…
    Tapi kalau dipikir-pikir dunia emang nggak akan rame kalau nggk ada manusia model wahabi koplak kayak Ibn Abdul ini -:))

  6. sebagian besar salafi spt sy, tidak mau menceburkan diri utk bertikai. Yg penting selamat aqidah dan dapat terus menghidupkan sunnah. Mengenai pertikaian antara salafi ini salafi itu, kami semua diajarkan utk saling menghormati.
    Asal abu hilya tahu aja, sebelum kajian salafi berkembang di Indonesia di awal 90-an, sy sdh bersama mrk, walaupun wkt itu masih dakwah dari rumah ke rumah. Tp wkt iuga sy masih ‘piyik’. ini bisa dilihat dari buku-buku sy yg terbitan darl fikr, sy tulis tgl pembeliannya rajab 1409 H. (wah..nabung dulu..wkt…lama lagi kumpul duitnya)

    1. Dulu antum pernah ngaku di sini mantan NU, kok antum sekarang nagaku dari “piyik” sidah Salafi Wahabi”? Makin jelas deh bohongnya, jadi apayg dikatakan teman2 tentang antum yg pembohong itu memang benar alias tidak salah. Dan jelas lah antum memang Wahabi sejak “piyik”.

      Lha antum dakwah dg modal kedustaan ini bagaimana menurut antum? Dapat pahala atau berdosa? Tolong renungkan….. semoga dapat hidayah Allah sehingga bisa kembali ke jalan yg benar dan dirishoi-NYA, amin….

  7. Putri kharisma, anti khan suka tuh men-takwil tuh.. masa’ yg kayak begini aja enggak bisa. ‘piyik’ itu khan bisa bermakna usianya yg masih piyik atau ilmunya yg masih piyik.
    sptnya ilmunya masih pd ikut-ikutan doang ya…

  8. salam alaykum saudaraku Abu hilya.

    bagaimana bisa antum katakan : KERANCUAN ALA SALAFI WAHABI DALAM PEMBAGIAN BID’AH?

    sudahkah antum membaca kitab al i’tishom oleh as syathibi? kalau sudah,bukankah disana telah dijelaskan tentang perkara bid’ah (bahkan penjelasan tentang perkataan umar ra pun di jelaskan?) atau barangkali antum yang sulit untuk mencerna penjelasan para ulama terkait pembahasan bid’ah itu sendiri.sehingga kemudian dalam keadaan seperti itu antum ‘terpaksa’ mengatakan :KERANCUAN ALA SALAFI WAHABI DALAM PEMBAGIAN BID’AH..

    perkataan umar itu tidak bisa di pahami secara mentah seperti itu,Sebab telah jelas perkaranya.Umar mengatakan demikian disebabkan pertimbangan-prtimbangan tertentu. diantaranya, beliau memilih untuk mengumpulkan jama’ah kaum muslimin dalam satu jama’ah daripada membiarkan mereka mengerjakan shalat sndiri-sendiri.Dan pada hakikatnya,apa yang di lakuakan umar(yang kemudian melahirkan ucapan :NI’MATIL BID’ATU HADZIHI”) termasuk sunnah yang dikerjakan oleh Nabi.Hanya saja Nabi tidak menyelesaikannya secara sempurna bersama jamaah kaum muslimin dengan sebab alasan tertentu.karenanya, salah besar kalau kemudian kita jadikan qoul Umar diatas sebagai alasan untuk melegitimasi bid’ah yang menjamur di indonesia hari ini dan sebelumnya.Bahkan kalaupun antum masih tetap ‘keras’ sengan pemahaman mu itu,maka saya katakan, Rosul memerintahkan kita untuk mengikuti sunnah para sahabatnya. Artinya,apa yang di lakukan umar terkait dengan pernyataan tersebut,tidak bisa kemudian antum amalkan di kehidupan setelah para shahabat.sebab antum (dan orang yang se type dengan antum) tidak mendapatkan legitimasi dari Rosul untuk melakukan ritual-ritual tertentu dalam agama yang telah di sempurnakan ini. seandainya saja perkatan imam malik mau antum terima,niscaya keadaan antum jauh lebih baik,biidznillah.

    kemudian antum berhujjah dengan : Lantas atas dasar apa Bid’ah dibagi dalam kategori “BID’AH AGAMA“ dan “BID’AH DUNIA“ ?

    boleh saya jawab; atas dasar al qur’an,sunnah dan lughoh tul arabiyah.

    Allah telah menetapkan dalam alqur’an, bahwa segala yang diciptakan-Nya tidak dengan sia-sia.artinya ada manfaatnya.Dan kita boleh memanfaatkannya.Hanya saja,ketika dalam pemanfaatannya apabila kita temuakn ketentuan2 yang mengaturnya,maka kewajiban kita tunduk dan patuh terhadapnya.Dan pembahasan2 yg demikian ini ada dan sangat jelas dalam disiplin ilmu fiqh dan cabang2nya.

    adapun sunnah: telah jelas sabda Nabi yang melarang kita untuk melakukan apa-apa yang dahulunya di tinggalkan (tidak di lakukan) oleh rosul,sementara faktor2 yang mendorong untuk melakukan hal-hal tersebut ADA dan faktor penghalangnya TIDAK ADA.

    Sementara Dari sisi bahasa arab: jelas kita tahu bersama,bahwa bid’ah itu sendiri berarti melakukan sesuatu yang baru atau tidak ada contoh sebelumnya.dan makna bid’ah ini sendiri luas dari sisi bahasanya dan tidak mengkonsekwensikan dosa darinya.

    kalau yang ini; Jika kita analisa ternyata pembagian ini bermula dari kebuntuhan setelah mengeneralisir (tanpa kecuali) kata كل dalam hadits كل بدعة ضلالة, yang mengakibatkan sulitnya dan hampir mustahil untuk menjalani roda kehidupan. Bayangkan jika segala yang tidak pernah dicontohkan Nabi saw maupun para sahabat ra, adalah Bid’ah sesat (tanpa kecuali), emang kita mau naik hajji pakai onta?

    coba jawab : pada prinsipnya kata كل kita pahami lafadh yang umum dan tidak kita bawa dalam makna yang sempit.sebab maknanya mengharuskan demikian.Sebab perubahan makna tersebut kepada makna yang khusus (pengecualian) hanya bisa diterima kalau ada keterangan lain yang mengecualikannya.Dan ini kaidah loh?!
    dan pengecualian tersebut jelas terdapat dalam perkara-perkara keduniaan yang memang tidak ada satupun ketentuan hukum yang melarang dari pemanfaatannya.

    Adapun contohnya ana rasa antum tidak butuh ana untuk menjelaskannya.Benarkan saudaraku?

    ana pikir cukup jelas jawaban ana.ya akhi,ana u hibbukallah..

    1. Bismillah,

      Mas @Dufal ;

      Tentang penjelasan anda :

      Bahkan kalaupun antum masih tetap ‘keras’ sengan pemahaman mu itu,maka saya katakan, Rosul memerintahkan kita untuk mengikuti sunnah para sahabatnya. Artinya,apa yang di lakukan umar terkait dengan pernyataan tersebut,tidak bisa kemudian antum amalkan di kehidupan setelah para shahabat.sebab antum (dan orang yang se type dengan antum) tidak mendapatkan legitimasi dari Rosul untuk melakukan ritual-ritual tertentu dalam agama yang telah di sempurnakan ini.

      Pertanyaan kami :

      – Apakah Hadits “‘Alaikum Bisunnati…dst” melegitimasi para Khulafa’ur Rosyidin untuk membuat Bid’ah ? apapun bentuknya….?
      – Jika legitimasi tersebut sebagaimana yang anda fahami, lantas dimana kesempurnaan Islam ? apakah kesemprnaannya membutuhkan penetapan-penetapan baru berupa “Sunnah Khulaf’ur Rosyidin”?
      – Apa yang melandasi pernyataan anda berikut :

      1. Hanya saja Nabi tidak menyelesaikannya secara sempurna bersama jamaah kaum muslimin dengan sebab alasan tertentu.

      2. telah jelas sabda Nabi yang melarang kita untuk melakukan apa-apa yang dahulunya di tinggalkan (tidak di lakukan) oleh rosul,sementara faktor2 yang mendorong untuk melakukan hal-hal tersebut ADA dan faktor penghalangnya TIDAK ADA.

      3. dan pengecualian tersebut jelas terdapat dalam perkara-perkara keduniaan yang memang tidak ada satupun ketentuan hukum yang melarang dari pemanfaatannya.

      4. Apa pendapat anda dengan penambahan adzan Jum’ah yang dilakukan oleh Kholifah ‘Utsman ?

      Berikutnya, Tentang pen-Takhsish-an hadits Kullu Bid’ah, kami memahami dari pemahaman para ahlinya :

      – Al Hafizh An Nawawi Dalam Syarah Muslimnya :

      Dan dalam hadits ini terdapat “Takhsish” (pembatasan keumuman) terhadap sabda Rosululloh shollallahu ‘alaihi wa sallam, (yang berbunyi) “Setiap perkara baru adalah Bid’ah dan setiap Bid’ah adalah sesat”. Sesungguhnya yang dikehendaki dengan hadits tersebut adalah “Al Muhdatsaat Al Bathilah dan Al Bida’ Al Madzmumah” (perkara-perkara baru yang bathil dan bid’ah-bid’ah yang tercela). Dan sungguh penjelasan tentang masalah ini telah lalu pada “Kitab Sholat Jum’ah” dan telah kami terangkan disana sesungguhnya bid’ah terbagi atas lima bagian. (Imam Nawawi dalam Syarah Muslim, 7/104 Shameela)

      – Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari-nya :

      “Dan yang dikehendaki dengan “Kullu Bid’atin Dholalah“ adalah perkara yang diada-adakan dan baginya tidak terdapat dalil (yang bersumber) dari syara’, baik dengan jalan Khusus (dalil-khusus) maupun ‘Am (dalil umum). (Fathul Bari, 13/254. Shameela)

      Sedang para ulama yang membagi Bid’ah dalam kategori Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi’ah adalah :

      – Imam As Syafi’iy, sebagaimana disebutkan oleh Al Hafizh Al Baihaqi dalam Manaqibnya :

      Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau atsar atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat). Kedua,sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnahatau atsar atau Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (Al-Baihaqi, dalam Manaqib al-Syafi’i, 1/469).

      – Imam An Nawawi dalam Tahdzibul Asma :

      “Bid’ah terbagi menjadi dua ; Bid’ah Hasanah (baik) dan Bid’ah Qobihah (buruk). (Tahdzibul Asma wal lughot 3/22).

      – Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari-nya :

      “Bid’ah, secara bahasa adalah sesuatu yang dikerjakan tanpa mengikuti contoh sebelumnya. Dalam syara’ bid’ah diucapkan sebagai lawan sunnah, sehingga bid’ah itu pasti tercela. Sebenarnya apabila bid’ah itu masuk dalam naungan sesuatu yang dianggap baik menurut syara’, maka disebut bid’ah hasanah (baik). Bila masuk dalam naungan sesuatu yang dianggap buruk menurut syara’, maka disebut bid’ah mustaqbahah (tercela). Bila tidak masuk dalam naungan keduanya, maka menjadi bagian mubah (boleh). Dan terkadang bid’ah itu dapat dibagi menjadi lima (hukum). (Fathul Bari, 4/235)

      Pendapat ini disetujui pula oleh Al Imam Muhammad bin Ali as Syaukani, salah satu Ulama Syi’ah Zaidiyyah yang dikagumi kaum Wahabi, dalam kitabnya Nailul Author 3/25.

      – Al Allamah Badruddin Al ‘Ain, dalam ‘Umdatul Qori-nya :

      “Bid’ah, secara bahasa adalah setiap sesuatu yang dikerjakan tanpa mengikuti contoh sebelumnya. Dan dalam syara’ adalah mengadakan sesuatu yang tidak ada asal (sumber) pada masa Rosululloh. Bid’ah terbagi menjadi dua; Bid’ah Dholalah (sesat) yaitu apa yang telah kami jelaskan, dan Bid’ah Hasanah (baik) yaitu apa yang dipandang ummat Islam baik dan tidak menyalahi Kitab atau Sunnah atau Atsar atau Ijma’. Dan yang dikehendaki disini adalah Bid’ah Dholalah. (Umdatul Qori, 8/396. Shameela)

      – Ibnu Hajar Al Haitami dalam Fathul Mubin Syarah Arba’in :

      “ Kesimpulan : Sesungguhnya bid’ah-bid’ah hasanah adalah sesuatu yang telah disepakati atas ke-sunnahannya, dia adalah perkara yang sesuai dengan sesuatu dari apa yang telah lewat (al qur’an, as sunnah, ijma’, atau atsar) dan untuk mengerjakannya tidak berkaitan dengan apa yang dicegah oleh syara’. Sebagian ada yang fardu kifayah, seperti mengarang ilmu dan semisalnya. (Fathul Mubin Syarah Arba’in, hal 223-224)

      – Syaikh Ibnu Taimiyah tidak menyebut bid’ah atas perkara yang memiliki dasar :

      Pandangan yang menyalahi nash adalah bid’ah berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin. Sedangkan pandangan yang tidak diketahui menyalahinya, terkadang tidak dinamakan bid’ah. As Syafi’i berkata : “ Bid’ah itu ada dua ; Bid’ah yang menyalahi al qur’an, sunnah, ijma’, dan atsar sebagian sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, maka ini disebut Bid’ah Dholalah. Dan Bid’ah yang tidak menyalahi hal tersebut, ini terkadang disebut Bid’ah Hasanah, berdasarkan perkataan Umar : “Inilah sebaik-baik bid’ah”. Pernyataan As Syafi’i ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang sohih dalam kitab al Madkhol. (Majmu’ Fatawa Ibni Taymiyyah, 20/163)

      Tentang kaedah “Al Ashlu Fil Asy-ya’ Al Ibahah” dan “Al Ashlu Fil Asy-ya’ At Tahrim” adalah kaedah yang diperselisihkan. adapun menempatkan kaedah “Al ashlu Fil Asy-ya’ Al Ibaha” berlaku untuk urusan dunia sedang kaedah lawannya untuk urusan ibadah, adalah bentuk upaya Jami’ (kompromi) yang diperlukan kajian lebih lanjut. Tersebab upaya Jami’ tsb belum berlandaskan dalil yang kuat, terlebih dilihat dari sudut implementasinya.

      Implementasi yang tidak bijak, justru akan menimbulkan pembatasan kebaikan-kebaikan yang bernaung dibawah dalil-dalil umum hanya dapat dilakukan dengan cara dan waktu yang telah dicontohkan.

      Kenyataannya ; Terhadap Ibadah yang bersifat terikat tata cara pelaksanaannya pun masih mengalami pergeseran. Coba anda perhatikan Ritual Hajji dari A sampai Z, Mulai Miqot hingga Tahallul… berapa persen yang sesuai dengan yang dicontohkan Rosululloh dan para sahabat ? Coba anda perhatikan tentang mabit di Muzdalifah, tentang Mas’a yang diperluas, tentang pelaksanaan Damm.. dst

      Fakta yang kami sebut diatas bukan sebagai Legalitas kesesatan, akan tetapi penerapan kaedah yang tidak pada porsinya, justru akan semakin menimbulkan kerancuan… Namun jika anda memaksa menggunakan kaedah hasil kompromi tsb, kami tanyakan kepada anda tentang Nash yang menunjukkan keharaman daging Anjing…. jika kita berpegang pada kaedah hasil kompromi tersebut, maka dibutuhkan nash yang jelas atas haramnya daging Anjing, Berpolitik praktis… dst

      Selanjutnya, Sebagaimana insya Alloh anda juga sepakat bahwa kita dilarang mewajibkan perkara yang tidak diwajibkan oleh agama, namun apakah anda juga sepakat bahwa kita juga dilarang mengharamkan perkara yang tidak ada dalil keharamannya?

  9. @dufal
    jadi menurut ente, saydina umar gak ngerti antara bid’ah dengan sunnah. Kalo gitu kenapa dari awal gak dibilangnya itu sunnah? :mrgreen: :mrgreen:

    1. he he he …..ibn abdul chair Sayiduna Umar mengatakan sebaik2 Bid`ah adalah ini ” sementara menurut kaum wahabi tidak ada Bid`ah yang baik , jadi siapa ya yang menyelisihinya…………?

      1. Jelas lah ibn abdul chair dan kaum Wahabi yg menyelisihi Sayyidina Umar, aneh ya, kok masih aja nggak ngerti kalau mereka sendiri yg menyelisihinya?

  10. Dari mulut yang mulia itu juga keluar sebuah hadist ‘tidak tersisa sedikitpun, apa saja yang mendekatkanmu ke surga dan apa saja yg menjauhkan kamu dari neraka kecuali sungguh telah dijelaskan’.
    masih perlu amalan yg baru – yg enggak ada contohnya – utk mendekatkan diri ke surga?

    1. Bismillah,

      Mas @Ibn abdul chair, anda mengutip :

      tidak tersisa sedikitpun, apa saja yang mendekatkanmu ke surga dan apa saja yg menjauhkan kamu dari neraka kecuali sungguh telah dijelaskan’.

      Pertanyaan kami : Darimana anda memahami kalimat “Sungguh telah dijelaskan” dengan pemahaman “Dicontohkan”?

  11. nampak jelas siapa yang mencari kebenaran dan mencari pembenaran
    seandainya kita meninggalkan bid’ah pasti aman karena gak ada ancaman dan yang melaksanakan bid’ah akan sesat karena ada ancamannya.

  12. Banyak orang yang sering mengatakan bid’ah, tapi mereka sendiri tidak tahu arti sebenarnya bid’ah, sehingga mereka terjebak dalam ke bid’ah an yang hakiki dan juga mereka secara tidak sadar melakukan kejahilan bid’ah. Mereka selalu mengatakan Pemurnian Aqidah, tapi Aqidah yang sebenarnya juga mereka tidak mengetahuinya, jadi banyak TIPSANI (tipu sana sini) akibat SALAFI (Salah Fikir).
    Bahkan mereka mengancam Neraka, padahal yang menentukan orang masuk Neraka adalah Allah swt bukan mahluk Allah swt.

  13. Bener mas ucep, andai saja mereka memahami dengan hati, maka kontradiksi yang ada selama ini akan menjadikan islam semakin ter”samudra” dengan ragam khilaf yang ada, dan dengan tidak ada terjadinya ghozwatul fikri, islam jadi tenang damai dan rahmatan lil alamin.

  14. @Kang Ucep
    Iya benar Kang, mereka ngomongin bid’ah tanpa mengikuti pendapat Ulama, alias ngarang sendiri. Udah jelas Syayidina Umar bilang : sebaik-baik bid’ah ini. Terus Imam Syafi’i bilang ada bid’ah hasanah. Demikian juga Imam Nawawi dan para Imam lainnya. Eh malah ikuti “ulama bayaran” KSA. Kok ada yang asli malah ngikut yang palsu ya? Benar-benar Salafi alias salah fikir. Atau mungkin karena sudah kebagian real kali?

  15. numpang coment ah,, so untuk anda yang mengakui adanya bid’ah hasanah, bisakah anda menentukan qowa’id dan dowabid amalan-amalan yang mana saja yang bisa dikatakan bid’ah hasanah dan yang bisa dikatakan bid’ah dholalah????apakah setiap amalan bisa dikatakan bid’ah hasanah????

  16. Parameter bid’ah hasanah oleh imam syafii dibatasi selama tidak bertentangan dengan alkitab asaunnah ijma (konsensusulama). Tolong lihat manaqib imam syafi’i karya imam baihaqi juz 1 hal 469
    Atau klik syamilah anda dgn kata

    ما احدث يخالف كتابا او سنة او اجماعا الح

    Wallohu a’lam

    Kalau boleh kami bertanya kpd mas abi dzar: siapakah yang menetapkan suatu hal dikatakan maslahah mursalah? Terimakasih

  17. Maksudnya ktk Allah dan rasulNYA tidak menetapkan qowaid dan dawabid-nya bid’ah hasanah, namun anda mengatakan imam syafi’i yg membuatnya?
    Apakah ini berarti menurut anda bahwa Al Imam Asy syafi’i pembuat syari’ah?

    1. ibn abdul Chair….

      Imam Syafi’i menjelaskan ilmu Syari’atnya berdasar pemahamannya atas Al Qur’an dan al Hadits. Apakah menurut antum ada di zaman ini yg lebih bagus pemhamannya terhadap syari’at selain Imam Syafi’i dan Imam-imam Madzhab yang lain? Baca biografi Imam-imam Madzhab lalu bandingkan dg biografi para Syaikh2 Wahabi, niscaya akan anda temukan ilmunya syaikh2 Wahabi itu tidak nyampi “SEUJUNG KUKU IRENG” – nya Imam Syafi’i dan Imam2 yang lainnya.

      Semoga anda mengerti dan paham apa yg saya maksudkan, terimakasih.

    2. Maaf mas ibnu, kami tidak mengatakan imam syafii membuat syareat, alangkah lancangnya kami, namun seperti yg kita ketahui bersama bidah hasanah (maslahah mursalah/washilah menurut salafi) tetap mempunyai acuan dari assunnah dan alhadist, serta menurut kami ada ijma dan qiyas baik dengan nash yang tersurat ataupun tersirat. Jadi tidak ada istilah membuat syariat.

      Dan alangkah baiknya mas ibnu menjawab pertanyaan saya diatas. Makasi
      Wallohu a’lam

  18. Dan mas ibnu, menurut kami alloh dan rosulnya telah menunjukkan dlowabith dan qowaidnya, cuma kadangkala kita belum mampu untuk menyingkapnya tanpa mengacu pada para imam mujtahid dan dzawil abhshor, Dan yakinlah bahwa islam itu telah sempurna. Jadi tidak ada penambahan syariat. Wallohu a’lam

  19. apakah saudara sudah yakin apa yang dimaksud oleh imam syafe’i itu bid’ah didalam syariat agama islam atau yang dimaksud oleh imam syafe’i itu bid’ah didalam bidang dunia?

  20. baca artikel nya ust.firanda tentang syubuhat bid’ah hasanah.bagus thu, bagi anda yang mencintai bid’ah hasanah.semoga mendapatkan hidayah.amiiin.

    1. ust. Firanda suruh baca artikel tentang Bid’ah Hasanah di sini, insyaallah beliau akan tambah ilmu sehingga wawasan ilmunya menjadi luas tdk seperti katak dalam tmpurung, amin….

    2. tulisan ust. firanda ttg bid`ah hasanah itu hanya menunjukkan ketidakpahamannya terhadap apa itu Bid`ah Hasanah , sehingga dia campur adukkan antara Bid`ah hasanah dengan Bid`ah Sayi`ah , terbukti kemudian ia bedakan dengan Mashalih al- mursalah.

      ditambah dengan perkeliruannya tentang contoh2 pembagian Bid`ah lengkaplah sudah kekeliruannya dalam memahami Bid`ah Hasanah, dan semakin banyak yang tertipu.

      saran saya lebih baik mengikuti pendapat Jumhurul Ulama seperti Sahabat Nabi Sayiduna Umar , Imam as-syafi`i Imam Izzudin Ibn abdisalam dll sangat banyak, sementara pendapat Ustadz firanda adalah pendapat minoritas , yang menyebabkan kontradiksi parah dalam ajaran mereka.

    3. Saudaraku @abu dzar, artikel yang anda maksud sesungguhnya telah lama kami siapkan bantahannya, nunggu saat yang tepat…. dan mungkin artikel berikut diantara yang anda maksud:

      BANTAHAN UNTUK “SYUBHAT KETIGA”

      Bismillah,

      Al hamdulillah, berkat petunjuk dari salah satu pengunjung, kami mendapati sebuah artikel yang intinya menolak pembagian Bid’ah menjadi Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi’ah yang ditulis oleh salah seorang Ustadz, tulisan kali ini tiada maksud dari kami untuk menjatuhkan siapapun, oleh karenanya kami memohon kepada para pengunjung yang mengetahui penulis artikel berikut untuk tidak menyebut nama, demi menghindari semakin menajamnya perbedaan yang berujung pada perpecahan yang tidak kita kehendaki bersama. Cukup bagi kita untuk menjadikan sanggahan kami atas artikel tsb sebagai tambahan ilmu yang semoga dibarengi Hidayah Alloh, agar bermanfaat.

      Untuk mengawali penolakan kami atas artikel yang berjudul “Syubhat Ketiga” perlu kami ulangi sekali lagi sekilas tentang batasan Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi ah. Dengan jelas Imam Syafi’iy berkata :

      اَلمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ,مَا اُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًااَوْسُنَّةً اَوْ أثَرًا اَوْ اِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضّلالَةُ وَمَااُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَيُخَالِفُ شَيْئًامِنْ ذَالِكَ فَهَذِهِ بِدْعَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَة

      Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau atsar atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat). Kedua,sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnahatau atsar atau Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, 1/469).

      والبدعة لغة كل شيء عمل علي غير مثال سابق وشرعا إحداث ما لم يكن له أصل في عهد رسول الله وهي عل قسمين بدعة ضلالة وهي التي ذكرنا وبدعة حسنة وهي ما رآه المؤمنون حسنا ولا يكون مخالفا للكتاب أو السنة أو الأثر أو الإجماع

      “Bid’ah, secara bahasa adalah setiap sesuatu yang dikerjakan tanpa mengikuti contoh sebelumnya. Dan dalam syara’ adalah mengadakan sesuatu yang tidak ada asal (sumber) pada masa Rosululloh Saw. Bid’ah terbagi menjadi dua; Bid’ah Dholalah (sesat) yaitu apa yang telah kami jelaskan, dan Bid’ah Hasanah (baik) yaitu apa yang dipandang ummat Islam baik dan tidak menyalahi Kitab atau Sunnah atau Atsar atau Ijma’. (Umdatul Qori, 8/396. Shameela)

      Dan masih banyak lagi pernyataan senada yang disampaikan oleh para ulama’ yang kredibilitasnya telah diakui, dan bahkan pernyataannya sering dinukil oleh orang-orang yang menuduh mereka sesat. Coba kita perhatikan penjelasan diatas, maka akan kita dapati batasan Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi ah sbb:

      Bid’ah Hasanah : sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah atau Atsar atau Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela

      Bid’ah Sayyi ah : sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau atsar atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat).

      Dari penjelasan diatas, kita dapati barometer/standar yang jelas dalam mengidentifikasi Bid’ah, yakni jika ia tidak menyelisihi al-Qur’an, Sunnah atau Atsar atau Ijma’ maka disebut Bid’ah Hasanah, namun jika sebaliknya Bid’ah yang menyelisihi al-Qur’an, Sunnah atau Atsar atau Ijma’ maka dikategorikan Bid’ah tercela. Jelas bukan akal yang menjadi ukuran Baik dan Buruknya Bid’ah.

      jika ada orang yang menolak pembagian ini, dengan mengatakan :”Akal bukan menjadi ukuran dalam menentukan baik dan buruk.” Maka jelas ia tidak memahami obyek perkara yang ia tolak, sehingga rapuhlah semua hujjah dan atau argumentasi yang digunakan menolak pembagian Bid’ah menjadi Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi ah.

      Selanjutnya kita ambil contoh penolakan seorang Ustadz atas pembagian Bid’ah menjadi Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi ah. Dalam tulisannya kali ini beliau mencoba mengotak-atik hadits dari Jarir bin Abdillah ra, dengan cara yang tidak tepat.

      Guna mempermudah pembaca, selanjutnya tulisan beliau kami tandai dengan Ustadz sedang penjelasan kami, kami beri tanda Penjelasan

      Dalam artikel tersebut beliau sang Ustadz memulai dengan tulisannya sbb:

      Ustadz

      Diantara dalil yang dipegang oleh pendukung bid’ah hasanah adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Jarir bin Abdillah al-Bajali radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

      مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

      “Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim no 1016)

      Sisi pendalilan mereka :

      Dalam hadits ini dengan sangat jelas Rasulullah mengatakan: “Barangsiapa merintis sunnah hasanah…”. Pernyataan Rasulullah ini harus dibedakan dengan pengertian anjuran beliau untuk berpegang teguh dengan sunnah (at-Tamassuk Bis-Sunnah) atau pengertian menghidupkan sunnah yang ditinggalkan orang (Ihya’ as-Sunnah). Karena tentang perintah untuk berpegang teguh dengan sunnah atau menghidupkan sunnah ada hadits-hadits tersendiri yang menjelaskan tentang itu. Sedangkan hadits riwayat Imam Muslim ini berbicara tentang merintis sesuatu yang baru yang baik yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Karena secara bahasa makna “sanna” tidak lain adalah merintis perkara baru, bukan menghidupkan perkara yang sudah ada atau berpegang teguh dengannya”

      Sanggahan :

      Yang dimaksud Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً “Barang siapa yang merintis sunnah hasanah/baik” adalah mendahului dalam mengamalkan sunnah yang telah valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan membuat/merekayasa/berkreasi dalam membuat suatu ibadah yang baru. Hal ini sangat jelas dari beberapa sisi:

      Penjelasan

      Dari sini, kami ingin memberi penjelasan bahwa:

      Pertama : Jika yang dimaksud dengan mendahului mengamalkan “Sunnah yang telah valid” dalam pandangan beliau hanya terbatas pada “mendahului mengamalkan perkara yang telah ada contoh dari Nabi Saw maupun para sahabat”, maka akan memaksa hadits tsb berlaku Temporer (terbatas hanya pada waktu tertentu), setelah itu hadits tsb tidak berlaku, mengingat semua yang akan didahului tidak akan pernah ada lagi. Lantas untuk siapa motifasi mendahului mengamalkan sunnah yang telah valid tsb dikumandangkan oleh lisan mulia as Syari’?

      Kedua : Jika pengertian “Sunnah yang valid” tidak sbegaimana yang dimaksudkan sang Ustadz (terbatas pada perkara yang telah ada contohnya), maka juga tidak akan tepat untuk digunakan menolak konsep Bid’ah Hasanah Imam Syafi’i dan para Ulama Syafi’iyyah, mengingat dalam konsep “Bid’ah Hasanah” tsb, membuka ruang untuk mendahului kebaikan yang bersumber dari petunjuk yang valid, meskipun sebelumnya tidak ada contohnya. (lihat penjelasan konsep beid’ah hasanah dalam artikel kami yang lain.)

      Selanjutnya dalam artikel tsb beliau mengemukakan alasannya sbb:

      Ustadz

      PERTAMA : Kronologi dari hadits tersebut menunjukkan akan hal itu. Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata,

      كنا في صَدْرِ النَّهَارِ عِنْدَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – فَجَاءهُ قَومٌ عُرَاةٌ مُجْتَابي النِّمَار أَوْ العَبَاء ، مُتَقَلِّدِي السُّيُوف ، عَامَّتُهُمْ من مضر بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضَرَ ، فَتَمَعَّرَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – لما رَأَى بِهِمْ مِنَ الفَاقَة، فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ ، فَأَمَرَ بِلالاً فَأَذَّنَ وَأَقَامَ ، فصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ ، فَقَالَ : { يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ } إِلَى آخر الآية : { إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً } ، والآية الأُخْرَى التي في آخر الحَشْرِ : { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ } تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ، مِنْ دِرهمِهِ، مِنْ ثَوبِهِ ، مِنْ صَاعِ بُرِّهِ ، مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ – حَتَّى قَالَ – وَلَوْ بِشقِّ تَمرَةٍ )) فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعجَزُ عَنهَا، بَلْ قَدْ عَجَزَتْ، ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأيْتُ كَومَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ ، حَتَّى رَأيْتُ وَجْهَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – يَتَهَلَّلُ كَأنَّهُ مُذْهَبَةٌ. فَقَالَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم -: ((مَنْ سَنَّ في الإسلامِ سنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أجْرُهَا، وَأجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ،مِنْ غَيرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورهمْ شَيءٌ، وَمَنْ سَنَّ في الإسْلامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيهِ وِزْرُهَا ، وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ ، مِنْ غَيرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ أوْزَارِهمْ شَيءٌ ))

      “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal siang, lalu datanglah sekelompok orang yang setengah telanjang dalam kondisi pakaian dari bulu domba yang bergaris-garis dan robek, sambil membawa pedang. Mayoritas mereka dari suku Mudhor, bahkan seluruhnya dari Mudhor. Maka tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kondisi mereka yang miskin, berubahlah raut wajah Nabi. Nabipun masuk dan keluar, lalu memerintahkan Bilal untuk adzan dan iqomat, lalu beliapun sholat, lalu berdiri berkhutbah. Beliau berkata, “Wahai manusia, bertakwalah kepada Rob kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa” hingga akhir ayat tersebut “Sesungguhnya Allah Maha Mengawasi kalian”. Lalu membaca ayat yang lain di akhir surat al-Hasyr “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaknya sebuah jiwa melihat apa yang telah ia kerjakan untuk esok hari”.

      Hendaknya seseorang mensedekahkan dari dinarnya, atau dari dirhamnya, dari bajunya, dari gandumnya, dari kormanya -hingga Nabi berkata- meskipun bersedekah dengan sepenggal butir korma”
      Lalu datanglah seorang lelaki dari kaum anshor dengan membawa sebuah kantong yang hampir-hampir tangannya tidak kuat untuk mengangkat kantong tersebut, bahkan memang tidak kuat. Lalu setelah itu orang-orangpun ikut bersedekah, hingga aku melihat dua kantong besar makanan dan pakaian, hingga aku melihat wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersinar berseri-seri. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
      “Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun” (HR Muslim)

      Dari kisah di atas jelas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliaulah yang memotivasi para sahabat untuk bersedekah. Lalu sahabat anshor lah yang pertama kali bersedekah, lalu diikuti oleh para sahabat yang lain. Lalu setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً “Barang siapa yang merintis sunnah hasanah/baik”.
      Dari kronologi ini jelas bahwa yang dimaksud dengan sunnah hasanah adalah sunnah yang valid dari Nabi, dalam kasus ini adalah sedekah yang dimotivasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

      Penjelasan

      Sanggahan kami :

      – Tanpa menafikan peran Asbabul Wurud yang menjadi kronologi dalam memahami sebuah nash khususnya dalam hadits tsb, nampaknya disini beliau melupakan aturan yang lain yakni, “Al ‘Ibroh Bi Umumi al Lafzhi Laa Bi Khushusi as Sabab” (yang dianggap adalah keumuman lafadz bukan kekhususan sebab.)

      Alasan selanjutnya dalam artikel tsb beliau mengemukakan sbb:

      Ustadz

      KEDUA : Secara bahasa bahwa makna dari lafal سَنَّ adalah memulai perbuatan lalu diikuti oleh orang lain, sebagaimana hal ini kita dapati di dalam kamus-kamus bahasa Arab Al-Azhari rahimahullah (wafat tahun 370 H) dalam kitabnya Tadziib al-Lughoh berkata:
      وكل من ابتدأ أمرا عَمل به قومٌ بعده قيل : هو الذى سنّه

      “Setiap orang yang memulai suatu perkara lalu dikerjakan setelahnya oleh orang-orang maka dikatakan dialah yang telah merintisnya” (Tahdziib al-Lughoh, karya al-Azhari, tahqiq Ahmad Abdul Halim, Ad-Daar Al-Mishriyah, 12/306)

      Hal ini juga sebagaimana disampaikan oleh Az-Zabidi dalam kitabnya Taajul ‘Aruus min Jawahir al-Qoomuus, 35/234, Ibnul Manzhuur dalam kitabnya Lisaanul ‘Arob 13/220)

      Oleh karenanya lafalسَنَّ tidaklah berarti harus berkreasi amalan baru / berbuat bid’ah yang tidak ada contoh sebelumnya, akan tetapi lafal سَنَّ bersifat umum yaitu setiap yang memulai suatu perbuatan lalu diikuti, baik perbuatan tersebut telah ada sebelumnya atau merupakan kreasinya sendiri.

      Penjelasan

      Mari kita perhatikan alinea terakhir dari penjelasan beliau diatas, dengan cermat beliau memaknai kata “SANNA” tanpa batasan, baik perbuatan tsb telah ada sebelumnya atau merupakan kreasinya sendiri. Selanjutnya dalam rangka menselaraskan hadits Sayyidina Jariri Ibn Abdillah ra agar sesuai dengan keinginannya, beliau mencoba mentakhsish (membatasi pengertian) hadits tsb dengan hujjah yang tidak tepat dan metode yang terbalik.

      Dalam tulisan beliau selanjutnya,

      Ustadz

      Namun dengan melihat sebab kronologi hadits tersebut maka dipahami bahwa yang dimaksud oleh Nabi dengan سَنَّ adalah yang mendahului melakukan sunnah yang telah diajarkan dan dimotivasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu bersedekah.

      Karenanya al-Azhari berkata tentang hadits ini :

      وفى الحديث . (( من سن سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها ومن سن سنة سيئة يريد من عمل بها ليُقتدى به فيها

      “Dalam hadits “Barang siapa yang “sanna” sunnah yang baik baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya, dan barang siapa yang “sanna” sunnah yang buruk …”, maksud Nabi adalah barang siapa yang mengamalkannya untuk diikuti” (Tahdziib al-Lughoh 12/298). Jadi bukan maknanya menciptakan suatu amalan !!

      Penjelasan

      Disini nampaknya sekali lagi beliau melupakan aturan penting dalam memahami Nash yakni “Al ‘Ibroh Bi Umumi al Lafzhi Laa Bi Khushusi as Sabab” (yang dianggap adalah keumuman lafadz bukan kekhususan sebab) sehingga memaksa beliau membatasi keumuman makna kata “’Amila Biha” (mengamalkannya) hanya pada perkara yang telah ada sebelumnya.

      Ustadz

      Dari sini makna “sanna sunnah hasanah” bisa dibawakan kepada dua makna,

      Pertama : Mendahului/memulai menjalankan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu diikuti oleh orang-orang lain. Bisa jadi sunnah tersebut bukanlah sunnah yang ditinggalkan/dilupakan/telah mati, akan tetapi dialah yang pertama kali mengingatkan orang-orang lain dalam mengerjakannya. Sebagaimana dalam kasus hadits Jarir bin Abdillah di atas, sunnah Nabi yang dikerjakan adalah sedekah. Tentunya sunnah ini bukanlah sunnah yang telah mati atau ditinggalkan para sahabat, akan tetapi pada waktu kasus datangnya orang-orang miskin maka sahabat anshori itulah yang pertama kali mengamalkannya sehingga diikuti oleh para sahabat yang lain.

      Hal ini didukung dengan hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu, ia berkata:
      جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَحَثَّ عَلَيْهِ فَقَالَ رَجُلٌ عِنْدِي كَذَا وَكَذَا، قَالَ فَمَا بَقِيَ فِي الْمَجْلِسِ رَجُلٌ إِلاَّ تَصَدَّقَ عَلَيْهِ بِمَا قَلَّ أَوْ كَثُرَ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَنِ اسْتَنَّ خَيْرًا فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ كَامِلاً وَمِنْ أُجُوْرِ مَنِ اسْتَنَّ بِهِ وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنِ اسْتَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَاسْتُنَّ بِهِ فَعَلَيْهِ وِزْرُهُ كَامِلاً وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِي اسْتَنَّ بِهِ وَلاَ يُنْقَصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

      “Datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabipun memotivasi untuk bersedekah kepadanya. Maka ada seseorang yang berkata, “Saya bersedekah ini dan itu”. Maka tidak seorangpun yang ada di majelis kecuali bersedekah terhadap lelaki tersebut baik dengan sedikit maupun banyak. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Barang siapa yang “istanna”/merintisi kebaikan lalu diikuti maka baginya pahalanya secara sempurna dan juga pahala orang-orang yang mengikutinya serta tidak berkurang pahala mereka sama sekali. Dan barang siapa yang merintis sunnah yang buruk lalu diikuti maka baginya dosanya secara sempurna dan dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sama sekali” (HR Ibnu Maajah no 204 dan dishahihkan oleh Al-Albani)

      Penjelasan

      Hadits diatas dari Abi Huroiroh ra, adalah hadits senada dengan hadits pertama yang diriwayatkan dari Jarir Ibn Abdillah ra, yang berbeda hanyalah matan (redaksinya) dan juga keberadaannya lebih menjelaskan tentang Sababul Wurud dari hadits “Man Sanna…dst”, sehingga hadits kedua tidaklah tepat digunakan mentakhsis (membatasi) keumuman kata “SANNA” dalam hadits pertama. Oleh karenanya kita mendapati ketidak yakinan beliau atas opsi pertama untuk makna hadits dari Jarir ra, yang beliau tawarkan dengan bahasa “Boleh jadi”

      Ustadz

      Kedua : Bisa jadi makna “sanna sunnatan hasanah” kita artikan dengan menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mati/ditinggalkan. Hal ini jika kita merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Amr bin ‘Auf Al-Muzani

      مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِل بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيِئًا . وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةً فَعَمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ أَوْزَارُ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِ مَنْ عَمِلَ بِهَا شَيْئًا

      “Barang siapa yang menghidupkan sebuah sunnah dari sunnahku lalu dikerjakan/diikuti oleh manusia maka baginya seperti pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka (yang mengikutinya) sama sekali. Dan barang siapa yang melakukan bid’ah lalu diikuti maka baginya dosa orang-orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi dosa mereka sama sekali” (HR Ibnu Maajah no 209 dan dishahihkan oleh Al-Albani karena syawahidnya, karena pada sanad hadits ini ada perawi yang sangat lemah) Akan tetapi hadits ini masih diperselisihkan tentang keshahihannya.

      Penjelasan

      Disini sekali lagi kita dapati rapuhnya keyakinan beliau atas opsi kedua yang coba beliau tawarkan untuk makna hadits dari Jarir ra, karena beliaupun nampaknya menyadari kualitas hadits yang beliau ajukan sebagai sandaran.

      Ustadz

      Kedua makna di atas ini adalah makna yang tepat dan sesuai dengan keumuman hadits “Seluruh bid’ah sesat”, yang tidak sesat hanyalah sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

      Berbeda halnya jika kita mengartikan makna “sanna sunnatan hasanah” dengan makna berbuat bid’ah hasanah yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka hal ini tidaklah tepat karena menyelisihi dua hal :

      Pertama : Bertentangan dengan keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Seluruh bid’ah sesat”

      Kedua : Menyelisihi makna yang termaktub dalam kronologi hadits Jarir bin Abdillah, bahwa yang dimaksud dengan sunnah hasanah adalah bersedekah. Dan bersedekah bukanlah bid’ah.

      Ketiga : Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً “Barang siapa yang merintis sunnah hasanah/baik” tidaklah mungkin dibawakan pada makna kreasi amal ibadah yang baru. Karena tidak mungkin diketahui itu baik atau buruk kecuali dari sisi syari’at. Akal tidak punya peran dalam menilai ibadah hasil kreasi baik atau buruk.

      Penjelasan

      Disini kita dapati kebuntuhan beliau dalam mensikapi dua nash yang zhahirnya “mukholafah” (berselisih) atau “Ta’aarudh” (bertentangan), sehingga tanpa sadar beliau terpaksa mengkhususkan makna hadits tidak dengan metode yang tepat dengan penjelasan sbb:

      – Terjadi paradoks pada alasan ketiga yang beliau kemukakan, dimana dengan tegas beliau menyatakan :
      “Akal tidak punya peran dalam menilai ibadah hasil kreasi baik atau buruk.”
      Namun disaat yang sama ketika beliau membatasi makna kata “SANNA” tanpa mengajukan dalil yang shorih yang menjelaskan pernyataannya.
      – Pada alasan ketiga, beliau mengatakan : “Karena tidak mungkin diketahui itu baik atau buruk kecuali dari sisi syari’at. Akal tidak punya peran dalam menilai ibadah hasil kreasi baik atau buruk.” Maka kami katakan, adakah sang Ustadz menuduh pembagian Bid’ah menjadi “Bid’ah Hasanah” dan “Bid’ah Sayyi ah” hanya berdasar akal? Subhanak Hadzaa Buhtaan….
      – Redaksi hadits “Setiap bid’ah adalah sesat” lebih umum ketimbang hadits “Barang siapa melakukan kebaikan maka baginya pahalanya dan pahala orang setelahnya yang mengamalkannya…dst”. sehingga membatasi kandungan “SANNA SUNNATAN HASANATAN” karena ta’aarudh (bertentangan) dengan “Kullu Bid’atin Dholalah” adalah metode yang terbalik, dan terkesan akal-akalan.

      Maka cukuplah bagi kita pandangan para ahli yang memang telah diakui banyak kalangan dalam men-jam’i-kan hadits “Kullu Bid’atin Dholalah” dengan hadits “Man Sanna Sunnatan Hasanatan…dst”. Dan perlu diingat kredibilitas seorang ahli hadits dimata para ahli hadits yang lain, memiliki arti penting dalam term ini. Dan diantara para Ahli hadits yang men-jam’i-kan (mengkompromikan) dua hadits tsb dengan sangat baik adalah al Imam Yahya Ibn Syarof an Nawawi .

      Berikut pandangan Imam an nawawi tentang posisi hadits “Man Sanna… dst” terhadap hadits “Kullu Bid’atin… dst:

      وفي هذا الحديث تخصيص قوله صلى الله عليه و سلم كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وأن المراد به المحدثات الباطلة والبدع المذمومة وقد سبق بيان هذا في كتاب صلاة الجمعة وذكرنا هناك أن البدع خمسة أقسام واجبة

      Artinya: “Dan dalam hadits ini terdapat “TAKHSHISH” (pembatasan keumuman) sabda Rosululloh saw, (yang berbunyi) “Setiap perkara baru adalah Bid’ah dan setiap Bid’ah adalah sesat”. Sesungguhnya yang dikehendaki dengan hadits tsb adalah “AL MUHDATSAAT AL BATHILAH DAN AL BIDA’ AL MADZMUMAH” (perkara-perkara baru yang bathil dan bid’ah-bid’ah yang tercela). Dan sungguh penjelasan tentang masalah ini telah lalu pada “Kitab Sholat Jum’ah” dan telah kami terangkan disana sesungguhnya bid’ah terbagi atas lima hukum. (Imam Nawawi dalam Syarah Muslim, 7/104 Shameela)

      Adakah terhadap penjelasan beliau yang tentunya berdasar pengamatan mendalam dan juga memperhatikan hadits-hadits yang lain, kita layak mengajukan gugatan dengan bukti-bukti yang rapuh?

      Selanjutnya mari kita ikuti tambahan argumentasi dari sang Ustadz…

      Ustadz

      Terlebih lagi saudara-saudara kita yang suka berkreasi membuat bid’ah hasanah mengaku bahwa mereka bermadzhab Asyaa’iroh. Padahal diantara madzhab Asyaa’iroh adalah mereka menolak at-Tahsiin wa at-Taqbiih al-‘Aqliyaini, mereka hanya menerima at-Tahsiin wa at-Taqbiih as-Syar’iyaini.

      Maksudnya yaitu bahwasanya menurut jumhur Asyaa’iroh bahwasanya suatu perbuatan tidak mungkin diketahui baik atau buruknya, terpuji atau tercela hanya dengan sekedar akal. Akan tetapi kebaikan atau keburukan suatu perbuatan hanyalah diketahui melalui syari’at atau dalil yang datang.

      Berikut ini nukilan dari beberapa ulama besar madzhab Asyaairoh tentang hal ini.

      Al-Baaqillaani rahimahullah (wafat 403 H) berkata :

      ولا أصل لهذا عند أهل الحق, بل العقل لايحسن شيأ في نفسه لما هو عليه من الصفة والوجه . ولاشيأ يدعو إلى ما هذه سبيله, ولايقبح شيأ في نفسه وما هو عليه, ولا شيأ يدهو إلى فعله, كل هذا باطل لاأصل له, وإنما يجب وصف فعل المكلف بأنه حسن وقبيح إنه مما حكم الله بحسنه وقبيحه
      “…Akan tetapi akal tidak memandang sesuatu perkarapun baik pada dzatnya yang dikarenakan sifat dan sisi, dan tidak pula memandang baik sesuatupun yang menyeru untuk melakukan perkara tersebut. Akal juga tidak menilai buruk sesuatupun pada dzatnya, dan juga tidak menilai buruk sesuatupun yang menyeru kepada melakukan perkara tersebut. Ini semua merupakan kebatilan, tidak ada asalnya. Yang wajib adalah mensifati perbuatan mukallaf (hamba) bahwasanya ia baik atau buruk hanyalah dengan hukum Allah yang menilainya baik atau buruk” (At-Taqrib wa al-Irsyaad as-Soghiir, karya al-Baaqilaani, tahqiq : DR Abdul Hamid, Muassasah ar-Risaalah, cetakan kedua, 1/279)
      Al-Baqillaani juga menjelaskan bahwasanya sholat, haji, dan puasa tidak mungkin diketahui kebaikannya kecuali dari sisi syari’at, adapun akal tidak mungkin –secara independent- untuk mengetahui kebaikan atau keburukan perbuatan/amalan seorang hamba. Bahkan menurut beliau, keadilan, kejujuran, membalas budi, semuanya diketahui kebaikannya dengan dalil syari’at, bukan dengan akal. Sebaliknya zina, minum khomr, homoseksual, semuanya diketahui keburukannya dengan dalil sam’i (Al-Qur’an atau Al-Hadits) dan tidak diketahui dengan sekedar akal. (Lihat At-Taqriib wa al-Irsyaad 1/278-279. Lihat juga perkataan al-Baqillani dalam kitab beliau yang lain seperti at-Tamhiid fi ar-Rod ‘ala al-Mulhidah al-Mu’atthilah wa ar-Rofidho wa al-Khowaarij wa al-Qodariyah hal 97 dan 107, dan juga kitab al-Inshoof fi maa yajibu I’tiqooduhu wa laa yajuuzu al-jahlu bihi, tahqiq Al-Kautsari, AL-Maktabah al-Azhariyah, cetakan kedua, hal 46-47)

      Penjelasan

      Dari hujjah atau argumentasi diatas, sekali lagi kita dapat menyimpulan bahwa beliau tidak memhami konsep Bid’ah hasanah dari para ulama’ Syafi’iyyah sebagaiman sering dikemukaan dalam forum ini oleh para asatidza pengunjung Ummati Press. Adakah dari perkara-perkara yang kami anggap sebagai Bid’ah Hasanah tidak merujuk pada al qur’an atau as sunnah untuk menetapkannya sebagai Bid’ah Hasanah? Adakah kami tidak mengajukan dalil dalam masalah dzikir berjama’ah, atau kami hanya berargumentasi akal dalam masalah maulid dst… sungguh dalam semua amalan yang kami anggap Bid’ah Hasanah telah diuji dengan al qur’an dan atau as sunnah berikut Ijma’ dst… Namun sayang nampaknya beliau tidak memahami apa itu Dalil?….

      Selanjutnya mari kita ikuti hujjah atau argumentasi beliau, yang menurut pengamatan penulis sejatinya argumentasi berikut diperuntukkan memperkuat argumentasi sebelumnya, namun apa boleh buat ketergesa-gesaan beliau mengakibatkan argumentasi “tambahan” berikut justru menjadi “senjata makan tuan.”

      Ustadz

      Abu Hamid Al-Gozali rahimahullah berkata :

      لا يُستدرَك حسنُ الأفعال وقبحا بمسالك العقول, بل يتوقف دركها على الشرع المنقول
      فالحسن عندنا ما حسنه الشرع بالحث عليه
      والقبيح ما قبحه بالزجر عنه والذم عليه

      “Tidak bisa diketahui baiknya perbuatan-perbuatan (hamba) dan juga keburukannya dengan melalui akal. Akan tetapi hanya bisa diketahui dengan syari’at yang dinukil.
      Maka sesuatu yang baik di sisi kami adalah : apa yang dianggap baik oleh syari’at dimana syari’at memotivasi untuk melakukannya.
      Dan yang buruk adalah : apa yang dinilai buruk oleh syari’at dengan melarangnya dan mencelanya” (Al-Mankhuul min Ta’liqoqt al-Ushuul, Tahqiq : DR Muhammad Hasan, Daarul Fikr, cetakan kedua, hal 8)

      Penjelasan

      Inilah hujjah tambahan dari beliau yang justru merontokkan seluruh argumentasi dari awal hingga akhir, karena hujjah ini pula yang merontokkan konsep dasar bid’ah sesat versi beliau yang menggeneralisir atas setiap perkara yang tidak terdapat contohnya baik dari Nabi maupun para sahabat.

      Anda cermati had (batasan) “al Hasan” (baik) : apa yang dianggap baik oleh syari’at dimana syari’at memotivasi untuk melakukannya.

      Dengan jelas Hujjatul Islam al Ghozali membatasi kebaikan pada apa yang dianggap baik oleh syari’at, meski hanya dipandang dari adanya motivasi dari syari’at, dan Imam al Ghozali tidak membatasi kebaikan pada perkara yang telah ada contohnya dari Nabi SAW maupun para sahabat.

      dan “al Qobih” (buruk) :apa yang dinilai buruk oleh syari’at dengan melarangnya dan mencelanya”.

      Perhatikan standar perkara yang buruk dari Imam al Ghozali tsb, jelas hanya pada perkara yang dilarang dan dicela oleh syari’at, lantas dengan dalil apa beliau melarang kebaikan-kebaikan yang bernaung dan atau selaras dengan nash atau dalil-dalil umum dari syari’at? Sedangkan tidak ada larangan maupun celaan dari syari’at pada perkara-perkara tsb?….

      Berikutnya beliau melanjutkan argumentasinya…

      Ustadz

      Imamul Haromain Al-Juwaini rahimahullah berkata :

      لا يدرك بمجرد العقل حسن ولا قبح على مذهب أهل الحق وكيف يتحقق درك الحسن والقبح قبل ورود الشرائع مع ما قدمناه من أنه لا معنى للحسن والقبح سوى ورود الشرائع بالذم والمدح”

      Dan tidaklah diketahui kebaikan atau keburukan hanya dengan berdasar akal, (hal ini) menurut madzhab ahlul haq (asya’iroh-pen). Bagaimana bisa diketahui kebaikan dan keburukan sebelum datangnya syari’at?. Tidak ada makna kebaikan dan keburukan selain datangnya syari’at dengan pencelaan atau pemujian” (At-Talkhiis fi ushuul al-Fiqh, tahqiq : Abdullah julim An-Nebali, Daarul Basyaair al-Islaamiyah, 1/157)

      Jika kebaikan tidak mungkin diketahui dengan akal menurut mereka, maka lantas bagaimana mereka bisa menilai bahwa bid’ah hasanah adalah baik?.

      Jangankan perkara ibadah, bahkan perkara mu’amalah menurut asyaa’iroh tidak bisa diketahui baik dan buruknya dengan akal, harus dengan dalil. Maka bagaimana lagi dengan perkara-perkara ibadah yang merupakan hasil kreasi?

      Penjelasan

      Disini kita dapati beliau entah dengan sadar atau tidak, mencoba membenturkan “Istihsan” yang ditolak oleh Syafi’iyyah, dengan “Bid’ah Hasanah” versi Syafi’iyyah, hal ini menunjukkan ketidak cermatan beliau dalam memahami perkara tsb, sekaligus mempejelas dampak buruk menolak ber Madzhab namun disisi lain mengambil pernyataan para Imam Madzahib secara parsial (sepotong-sepotong). Disini kita dapati dengan jelas ketidak fahaman beliau tentang “Istihsan” yang ditolak oleh Imam Syafi’iy dan “Bid’ah Hasanah” versi Madzhab Syafi’iy.

      Ustadz

      KEEMPAT : Kalau memang makna مَنْ سَنَّ في الإسلامِ سنَّةً حَسَنَةً adalah membuat kreasi ibadah baru yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menganjurkan kita untuk sering berkreasi membuat ibadah baru (bid’ah hasanah). Semakin banyak berkreasi maka semakin bagus.

      Jika perkaranya demikian lantas apa faedahnya anjuran Nabi tatkala terjadi perselisihan dengan barkata “فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي” (Hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku), “عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ” (Gigitlah sunnahku dengan geraham kalian) !!!. Apa faedahnya perkataan Nabi ini jika ternyata setiap orang boleh berkreasi membuat sunnahnya sendiri-sendiri??!!!

      Penjelasan

      Memangnya Sunnah Nabi saw hanya berupa apa yang pernah beliau contohkan? Lalu mau dikemanakan Sunnah Qouliyyah beliau,? terutama yang bersifat umum (tidak ada penjelasan yang mengikat mengenai tata caranya), seperti anjuran memperbanyak kebaikan dibulan-bulan mulia, memperbanyak shodaqoh dst… sekali lagi kita mendapati kengototan beliau dalam mengartikan apa yang beliau sebut dengan “Sunnah Yang Valid” terbatas pada perkara yang telah ada contohnya, tanpa mengajukan Hujjah pendukung yang benar atas pemahamnnya.

      Ketahuilah saudaraku Klasifikasi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah adalah hasil kajian mendalam para sarjana ushul fiqh dari generasi klasik kaum muslimin seperti Al-Imam Al-‘Izz ibn ‘Abdissalaam, Al-Nawaawi, Al-Suyuuthi, Al-Mahalli dan Ibnu Hajar.

      Hadits-hadits Nabi itu saling menafsirkan dan saling melengkapi. Maka diharuskan menilainya dengan penilaian yang utuh dan komprehensif serta harus menafsirkannya dengan menggunakan spirit dan persepsi syariah dan yang telah mendapat legitimasi dari para pakar.

      Karena itu kita menemukan banyak hadits mulia dalam penafsirannya membutuhkan akal yang jernih, fikiran yang dalam, pemahaman yang relevan, dan emosi yang sensitif yang digali dari samudera syari’ah, yang bisa memperhatikan kondisi dan kebutuhan umat, dan mampu menyesuaikan kondisi dan kebutuhan tersebut dalam batasan kaidah-kaidah syari’at dan teks-teks Al-Qur’an dan hadits yang mengikat.

      Wallohu a’lam

      1. afwan ustadz abu hilya, artikel antum sangat bagus dan sangat jelas mudah dipahami. Tetapi kalau antum melarang disebutin siapa “ustadz” yg dimaksyud dalam artikel antum ini jadinya nggak seru, sebab tidak semua pengunjung di sini tahu siapa yang dimaksud “ustadz’ tsb.

        Seandainya boleh disebutin namanya, kayaknya mas Admin ummati bisa mempostingnya dan bikin judulnya yg “HOT” yang akan mengangkat artikel bantahan antum menjadi “best seller”.

        Apa artinya tulisan antum yg bagus, tetapi hanya dibaca sedikit orang, kan agak mubazir, ya kan? Keuntungannya jika diposting akan dibaca oleh lebih banyak orang, bukankan itu menguntungkan buat dakwah kita?

        1. Saya setuju dg usulan mbak putri, agar koment ustadz abu hilya dijadikan postingan di ummatipress aja biar banyak dibaca orang agar nantinya disampaikan bantahan ini ke ustadz tsb, Tp sepertinya mas admin punya kendala karena ustadz abu hilya melarang tdk nyebutin nama “ustadz” tsb. Mungkin sulit bikin judulnya kalau tidak boleh disebutin namanya, afwan…..ya?

          keuntungan yg lain kalau dijadikan postingan akan menjadi daftar di search engine google atau yahooo atau bing, jadi nanti kalau ada yg ketik keyword ” firanda atau bid’ah hasanah atau bid’ah” nanti yg muncultulisan antum, jadi itu sangat menguntungkan jika dibanding cuma sebagai koment aja.

        2. betul sebaiknya tulisan Ustadz abu Hilya ini diangkat dijadikan artikel mungkin berseri karena ini baru bantahan untuk Syubhat ke 3 , betul Ustadz Abu Hilya……..?

          1. Bismillah,

            Ust Ahmad Syahid, afwan ustadz, ana belum nemukan syubhat pertama dan kedua… mungkin kita bagi tugas, syubhat pertama bagian antum syubhat kedua bagian mas Agung… gimana setuju nggak ?…

            Soal mau diposting di artikel itu kebijakan mas Admin….

          2. Afwan Ustadz Abu Hilya , ana lagi nulis bantahan atas bantahan ustadz firanda terhadap Habib Mundzir tentang ” Habib mundzir membolehkan Istighotsah kepada mayat ” , adapun artikel tentang Syubhat Bid`ah antum selesaikan aja ya …..mungkin ustadz2 di sini juga Insya Allah pada siap ,

  21. Bismillah,

    Numpang guyon…

    SMS Bid’ah

    Bukan kiai jika tak menelan resiko. Itulah yang dialami Kiai Ahmad Ishomuddin saat mengasuh rubrik konsultasi fiqih di sebuah surat kabar Lampung.

    Rais Syuriyah PBNU ini menerima pertanyaan tentang hukum membunyikan sirine sebagai penanda waktu imsak. Usai menjelaskan dalil dan alasannya, Kiai Ishom menjawab: mubah alias boleh.

    Ternyata tak semua orang puas dengan jawaban tersebut. Ya, esoknya sebuah SMStak dikenal masuk di HP Kiai Ishom, “Klun… ting…”

    Tanpa permisi SMS itu protes begini:

    “Kiai, Anda jangan mengajak dan menyebarkan bid’ah. Kalau menggunakan sirine sebagai tanda imsak itu perbuatan baik, niscaya Rasulullahlah yang pertama kali menggunakan dan memerintahkannya kepada para sahabat. (Sekedar memberi peringatan!!!).”

    Kiai Ishom paham, tiga tanda seru di ujung itu adalah petunjuk bahwa si pengirim sedang tidak main-main. Tapi, apa yang terjadi? Kiai Ishom malah SMS balik:

    “Kalau memberi peringatan melalui SMS merupakan perbuatan baik, maka Rasulullah-lah yang pertama kali menggunakan dan memerintahkannya kepada para sahabat. (Sekedar memberi jawaban!!!).” Mendapat jawaban seperti itu, si pengirim SMS tidak merespon lagi. (Mahbib Khoiron)

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,8-id,41485-lang,id-c,humor-t,SMS+Bid+ah-.phpx

    1. Kasihan si pengirim SMS langsung mati kutu2 di kepalanya, hehe….

      Jika berdakwah itu termasuk ibadah, maka berdakwah lewat radio dan internet adalah bid’ah karena ibadah itu kudu harus ada contoh dari Rasululllah dan para sahabat, bukankah menurut Wahabi setiap ibadah itu harus ada contohnya?

      @abu hilya

      Saya setuju usulan mbak Putri Karisma di atas.

  22. kang abu hilya kenapa bantahan antum ga di masukin di komennya ustad firanda aj, atau ustadz yang lain,heee, klo di blok ini doank kasian yang baca yang satu pemahaman ama ente aja,heee
    sms bid’ah bisa aj ceritanya,heee.ngarang ya,,heee, ana nilai karangannya dapat 8.heee.
    wah mba aryati lom baca artikelnya ust firanda ya, baca dlu baru faham,heee

    1. kalau dimasukin di ust firanda atau blog wahabi lainnya saya berani pastikan nggak bakalan dimiunculkan, moderasinya ketat semuanya. Lagian di blognya Firanda koment dibatasi cuma 50 kata, lebih dari itu otomatis langsung hancur itu komnet. Menurut pengalaman, sulit koment2 saya masuk ke blog2 Wahabi walaupun kalimat2 sudah dibuat sesopan-sopannya. entah kenapa wahabi begitu protektif nggak berani menampilkan komnent2 yg sekiranya berdampak “negatif” buat pengunjung Wahabi?

      1. mas andi, mereka takut pengunjung Wahabinya akan dapat hidayah kalee? Jadinya benar akan berdampak “negative” kalau begitu ya?

    2. Bismillah,

      Kan @abu dzar,

      Maunya gitu… tapi sayang situs mereka nggak menerima koment yang nggak sependapat….

      Soal kisah SMS, nampaknya anda ngga’ bisa bedakan antara cerita dan dongeng… he he he…

    3. abu dzar@

      antum said:

      masukin di komennya ustad firanda aj, atau ustadz yang lain,heee, klo di blok ini doank kasian yang baca yang satu pemahaman ama ente aja…

      nggak gitu juga dong, pastilah cukup banyak pengunjung wahabinya di sini cuma mereka membisu, bingung nggak bisa koment. Kalau komentnya cuma seperti koment2 antum kan mereka lebih baik diam, atau bisa jadi nunggu kesempatan dulu, begitu dapat kesempatan yang pas langsung deh hujan komnet2 yg nggak nyambung…. ngoceh seperti manuk beo, heh heh heh…. sering terjadi di sini seperti itu.

  23. heeee, baru untuk bantah ust firanda aj, bagi2 tugas heee,ketwa2, cari bahan ya,heeee, apa lagi sama ust yang lain, seperti ust.abdul hakim bin amir abdat di keroyok sama MUI jakarta utara, tapi saya heran memang di MUI ada LDII nya juga ya(apa satu pemahaman sama mereka????)???. yang lucu lagi ada audient nya tanya ingin menuduh syekh al-bani tapi bumerang bagi dirinya dia menuduh syekh al-bani tidak punya guru dan dia bil asalnya tukang jam,heeee.pertanyan aneh….
    ada lagi yang tanya tapi ilmunya masih cetek mau menghujat dia bilang imam as-suyuthi muridnya imam syafi’i,heeeee ketawa lagi deh.
    ada lagi yang lebih aneh ketika salah satu pengurus MUI jakarta utara seadng menjelaskan Bid’ah hasanah menurut versi dia eh malah pedukungnya tepuk tangan,heeeee,eneh ko tepuk tangan ya???
    mas andi & ust abu hilya kumaha sudah coba masukin bantahannya belom ke ustd firanda?heeee
    mas shofy, sebenarnya bantahan fitnah terhadap syekh muhammad bin abdul wahab sudah lama ada bantahannya yang lebih ilmiyah baca bukunya Meluruskan Sejarah Wahabbi penulis ust. abu ubaidah yusuf as-sidawi terbitan.okay

    1. Saya yakin suatu hari nanti Firanda akan kena batunya akibat ulahnya, sama seperti ustadz Thorahoh Salafi Cirebon, juga Prof Salam Al Bajri rekannya, keduanya ngluntrung seperti tikus got di hadapan Buya Yahya yg masih muda belia.

      Suatu saat nanti Firanda yg dibangga2kan kaum awam Wahabi juga akan mengalami hal yg sama seperti tikus got, mungkin nanti lawannya Mbak Putri Karisma atau Mbak Aryati Kartika. Jadi mas ahmad syahid dan abu Hilya, mas ucep, dll kebagian nonton aja.

    2. Bismillah,

      Kang @abu dzar,

      Sayang pembelaan anda terhadap ustadz faforit anda membabi buta tanpa argument imiyah… jadi nggak ada yang bisa ditanggapi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker