Berita Fakta

KACAUNYA PEMAHAMAN AKIBAT BELAJAR ILMU SEPOTONG-SEPOTONG

BUKTI SEMRAWUTNYA PEMAHAMAN JIKA TIDAK DILANDASI KELENGKAPAN KEILMUAN YANG MEMADAI

Oleh: Abu Hilya

Bismillah,

Comment diantara beberapa pengunjung dibawah ini kami ambil sebagai contoh semrawutnya pemahaman yang tidak didasari keilmuan yang memadai. Sebelumnya kami mohon maaf kepada saudaraku semua yang commentnya kami ambil sebagai contoh, sungguh tak ada maksud dari kami melecehkan siapapun, dan pada tulisan kami ini pun masih sangat mungkin terjadi kesalahan, dan kami berharap kita semua menyadari kebodohan kita hingga mau belajar agar tidak semakin menimbulkan fitnah. Dan semoga Alloh berkenan mengampuni semua kesalahan kita serta memberikan petunjuk-Nya bagi kita semua…

Contoh pertama tentang hadits :

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Terdapat comment sebagai berikut:

Ahlussunah wal jama’ah memahami makna hadist ini dengan:
“Barang siapa yang menjalankan suatu sunnah yang baik didalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tidak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa yang menjalankan suatu sunnah yang jelek didalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tidak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (HR. Imam Muslim no.1017)

 

Ahlussunah yang lain memahami dengan makna ini :
“Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi).
Perhatikan!, dengan ilmu lughotul arabiyah yg ada pd anda semua, tentunya mudah melihat siapa yang betul memahami dan siapa yg salah dlm memahami.

Dalam comment tersebut kita dapati adanya pemahaman tentang sebuah hadits hanya berdasarkan terjemah dan menyalahkan pemahaman orang lain yang belum tentu salah.

– Ketahuilah kata “SANNA” dalam qodhiyah hadits “SANNA SUNNATAN HASANATAN” dan “SANNA SUNNATAN SAYYIATAN” tersebut jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia memiliki arti : Membuat / meletakkan / menetapkan.

BACA JUGA:  Tips Sembuh Dari Infeksi Virus Wahabi

– Dalam hadits tersebut tidak kita dapati batasan kebaikan yang dilakukan seseorang harus berupa perkara yang telah dicontohkan oleh Rosululloh saw maupun para sahabat.

– Jika ada pemahaman kebaikan yang dilakukan harus sesuai dengan yang diconthkan oleh Rosululloh saw maupun para sahabat berdasarkan kata “SUNNATAN” yang ada dalam hadits teresbut, maka pendapat tersebut tidak dapat diterima akal orang beriman, mengingat dalam hadits tsb disamping ada “SUNNATAN HASANATAN” (perbuatan/ketetapan/peletakan baik) ada pula “SUNNATAN SAYYI’ATAN” ( perbuatan / ketetapan / peletakan buruk ). Lah, masak Rosululloh saw mencontohkan keburukan?

– Hadits di atas jika dikomparasi dengan hadits “KULLU BID’ATIN DHOLALAH” (setiap bid’ah adalah sesat), maka sungguh kita tidak memiliki kapasitas untuk menentukan, mana diantara kedua hadits tersebut yang bersifat “MUTHLAQ” (absolut) sehingga yang lain berfungsi sebagai “MUQOYYID” (pengikat keabsolutan), atau mana di antara dua hadits tersebut yang bersifat “AM” (umum) sehingga yang lain berfungsi sebagai “MUKHOSSHISH” (yang membatasi keumuman), dan juga mana yang bersifat “MUJMAL” (global) sehingga yang lain sebagai “MUBAYYAN” (yang menjelaskan lebih rinci). Sehingga cukuplah bagi kita kaum awam memahaminya berdasarkan pemahaman para ulama’ yang Mu’tamad (otoritatif) yang telah diakui sejak masanya hingga sekarang. Dan diantara mereka adalah Imam Nawawi dalam Syarah Muslimnya  sbb:

(من سن في الاسلام سنة حسنة فله أجرها ) إلى آخره فيه الحث على الابتداء بالخيرات وسن السنن الحسنات والتحذير من اختراع الاباطيل والمستقبحات وسبب هذا الكلام في هذا الحديث أنه قال في أوله فجاء رجل بصرة كادت كفه تعجز عنها فتتابع الناس وكان الفضل العظيم للبادى بهذا الخير والفاتح لباب هذا الاحسان وفي هذا الحديث تخصيص قوله صلى الله عليه و سلم كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وأن المراد به المحدثات الباطلة والبدع المذمومة وقد سبق بيان هذا في كتاب صلاة الجمعة وذكرنا هناك أن البدع خمسة أقسام واجبة

Artinya: Hadits (“Barang siapa melukan kebaikan dalam islam, maka baginya pahalanya”) dst.. dalam hadits tsb terdapat dorongan/motifasi untuk memulai kebaikan, dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik, dan (dalam hadits tsb) terdapat Tahdzir (peringatan/ancaman) untuk mengadakan perkara-perkara bathil dan buruk/menjijikkan dst…. (hingga ucapan beliau) dan dalam hadits ini terdapat “TAKHSHISH” (pembatasan keumuman) sabda Rosululloh saw, (yang berbunyi) “Setiap perkara baru adalah Bid’ah dan setiap Bid’ah adalah sesat”. Sesungguhnya yang dikehendaki dengan hadits tsb adalah “AL MUHDATSAAT AL BATHILAH DAN AL BIDA’ AL MADZMUMAH” (perkara-perkara baru yang bathil dan bid’ah-bid’ah yang tercela). Dan sungguh penjelasan tentang masalah ini telah lalu pada “Kitab Sholat Jum’ah” dan telah kami terangkan di sana sesungguhnya bid’ah terbagi atas lima hukum. (Imam Nawawi dalam Syarah Muslim, 7/104 Shameela)

BACA JUGA:  Antara Syi'ah Rafidhah dan Wahabi Nawaashib Bisakah Bersatu ?

Contoh comment yang lain :

Barangsiapa yang menganggap baik sesuatu, sesungguhnya ia telah membuat syari’at” [Al-Mankhuul oleh Al-Ghazaliy hal. 374, Jam’ul-Jawaami’ oleh Al-Mahalliy 2/395, dan yang lainnya].

“Sesungguhnya anggapan baik (al-istihsan) hanyalah menuruti selera hawa nafsu” [Ar-Risalah, hal. 507].

Dan berikut perkataan guru imam syafi’i,yaitu imam malik:

“Barang siapa yang membuat bid’ah dalam Islam yang ia memandangnya baik, maka sungguh ia telah menuduh Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam mengkhianati risalah [Al-I’tisham oleh Asy-Syathibi, 1/49]

Inilah yang dalam bahasa kalangan para ulama disebut “TALFIQ FI AT TAHKIM” (mencampur adukkan beberapa madzhab dalam menghakimi sebuah perkara). Hal ini mungkin disebabkan oleh sikap enggan bermadzhab namun disisi lain mengambil pemikiran para “A’IMMATUL MADZAHIB” secara parsial (sepotong-sepotong).

Berikut penjelasan kami :

Dalam beberapa literatur ushul fiqih disebutkan bahwa, Sumber Hukum dalam Islam ada sepuluh, Empat diantaranya disepakati oleh mayoritas para Imam Madzhab dan para Ulama, terdiri dari; Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Sedagkan enam yang lain dimana kebanyakan para Imam menolak atau setidaknya tidak bersepakat untuk menjadikannya sebagai sumber hukum adalah : Istihsan, Al Mashlahah Al Mursalah, Istishhab, ‘Urf, Madzhabus Shohabiy dan Syar’u Man Qoblana.

Dalam tulisan kami ini yang ingin kami sampaikan hanyalah tentang berhujjah dengan “Istihsan”.

Imam Syafi’i menolak Istihsan sebagai landasan hukum, namun pengertian Istihsan dalam pandangan Imam Syafi’i adalah : “Meninggalkan hujjah (petunjuk syar’iy) dan beralih menggunakan mujarrodur ro’yi (murni akal pikiran yang memandang adanya kebaikan/lebih baik/lebih dapat diterima akal) dalam menetapkan sebuah perkara.”

Imam Nu’man Abu Hanifah menerima penggunaan Isihsan sebagai landasan hukum, namun yang dimaksud Istihsan dalam pandangan Imam Abu Hanifah adalah : “meninggalkan qiyas yang zhohir dan beralih kepada qiyas khofi”. Jadi pada dasarnya Imam Abu hanifah masih menggunakan salah satu dari sumber yang Empat dalam Istihsan.

BACA JUGA:  Awas, tangan-tangan Wahabi Merubah Rute Ibadah Haji

Selanjutnya tentang pernyataan Imam Malik : “Barang siapa yang membuat bid’ah dalam Islam yang ia memandangnya baik, maka sungguh ia telah menuduh Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam mengkhianati risalah [ Al-I’tisham oleh Asy-Syathibi, 1/49 ]

Ketahuilah pengertian bid’ah menurut para Ulama Malikiyyah (setidaknya sebagaimana dijelaskan As Syathibi dalam Al I’tishom pada bab “Ta’rifil Bida’ wa Bayaani Ma’aniha” adalah sebagai berikut :

فمن هذا المعنى سمي العمل الذي لا دليل عليه في الشرع بدعة وهو إطلاق أخص منه في اللغة حسبما يذكر بحول الله

Setelah menjelaskan ma’na bid’ah dari sudut bahasa (lughowiy) Imam Asy Syathibi berkata : “Dari pengertian ini amal (perbuatan) yang tidak memiliki landasan dalil dalam syara’ disebut Bid’ah, dan pengertian tsb adalah penggunaan yang lebih khusus daripada ma’na bid’ah dalam artian bahasa… dst (Al I’tishom, 1/26. shameela)

Dari keterangan Imam Syathibi diatas, kita dapati pemahaman bid’ah dengan pendekatan Ishthilahi / Syar’iy yang bertitik tekan pada perkara yang tidak memiliki sumber hukum (dalil syar’iy) dan bukan pada perkara yang tidak dilakukan pada masa Rosululloh saw maupun para sahabat.

Jadi yang dikecam Imam malik sebagaimana dalam kitab Al I’tishom tsb adalah “menanggap baik terhadap perkara yang sama sekali tidak memiliki landasan hukum (dalil syar’iy)” dan bukan bid’ah hasanah dalam pengertian kalangan Syafi’iyyah, mengingat yang disebut Bid’ah hasanah menurut pandangan Imam Syafi’iy dan Ulama Syafi’iyyah adalah “Kebaikan yang tidak menyelisihi Al Kitab, As Sunnah atau Atsar” sebagaimana sering kami sampaikan.”

Himbauan kepada semua saudaraku dan kepada pribadi kami sendiri, marilah kita belajar dengan benar agar tidak terjadi kesalahan menginterpretasikan pendapat para Ulama’ yang pada akhirnya kita mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang mereka kehendaki. Bukankah itu sama dengan telah memfitnah Para Ulama ?

 

Wallohu a’lam

 

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - KACAUNYA PEMAHAMAN AKIBAT BELAJAR ILMU SEPOTONG-SEPOTONG
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.
Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

50 thoughts on “KACAUNYA PEMAHAMAN AKIBAT BELAJAR ILMU SEPOTONG-SEPOTONG”

  1. Sanagat setuju dg analisa atas komnet2 Wahabi yg kacau dan penjelasan dari Abu Hilya. Syukron, sangat bermanfaat.

    Salafi itu kan selalu menyatakan bahwa mereka tidak bermadzhab, pasti kacaulah ilmunya, dari mana dapat ilmunya kalau tidak bermadzhab? Yah, akhirnya dapat ilmunya sepotong-sepotong / parsial tetapi merasa ilmunya lengkap / komprehesif, tapi cuma perasaan doang, kenyataannya kacau balau ilmunya.

  2. Itu pendapat siapa ya, yang dikutip Ustad @bu Hiya di atas? Jangan-jangan dia ga ngerti yang ditulisnya sendiri?! Emang kalau cuma belajar dari terjemahan yang kaya gitu tuh ilmunya. Tapi sombongnya na’uzubillah. Kalau soal ngerti Qur’an dan Hadits sebatas terjemahan, pastilah orang-orang Arab tuh pada jadi ulama semua. Mereka bisa baca Qur’an, bisa baca hadits, dan ngerti artinya. Tetapi pemahaman yang mendalam hanya dimiliki ulil albab (para ulama). Kenyataannya kaya gimana tuh orang-orang Arab? Jangankan awamnya, ulamanya saja mengeluarkan fatwa untuk memerangi ulama-ulama sufi, sebelum memerangi Yahudi dan Nasrani. Apa kaya gitu akhlak orang yang ngerti Qur’an? Padahal Quran itu akhlak Rasulullah. Bagaimana kalau orang Indonesia yang belajar di usia dewasa, secara instans, tiba-tiba berfatwa : Bid’ah, tidak sesuai contoh Rasul, dll. Ini nih yang akhirnya menjadi teroris. Eh … nyadaaaar ….!!!!

    1. Mas Bima, yg dikutip oleh Abu Hilya itu koment-nya ibn abdul chair@, ada di link ini

      1- ibn abdul chair says:
      November 2, 2012 at 6:57 pm

      http://ummatipress.com/2012/10/25/wahabi-dan-ironisme-pemahaman-bidah-bagian-2/comment-page-1/#comment-23909

      – yg kedua koment-nya Andini:

      andini says:
      October 27, 2012 at 12:43 pm

      ini linknya; http://ummatipress.com/2012/10/25/wahabi-dan-ironisme-pemahaman-bidah-bagian-2/comment-page-1/#comment-23646

      Andini KOPAS dar Abul Jauzaa di sini: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/05/al-imam-asy-syafiiy-rahimahullah-dan.html

      1. orang yang belajarnya sama ustad itu ya??

        tapi ustadnya abal2, cuma modal qur’an dan hadits terjemahan dan intelektualitas seadanya :mrgreen: :mrgreen:

  3. Kalau yg belajarnya sama ustadz abal2 itu salafi
    kalau yg teroris itu salafi
    kalau yg belajar pake terjemahan itu salafi

    POSTINGAN ANDA TAK BERARTI APA-APA KECUALI MENGGAMBARKAN KWALITAS ANDA YG SEBENARNYA. ISTIGHFAR-lah.

    Manusia spt ini koq ngajak diskusi…

    1. Wah, ibn abd khair@ rupanya sudah mulai prustrasi, sama kayak yg lainnya gak kuat dikupas tuntas. Bantah aja kenapa sih kalau mampu, nanti kan pembaca yg menilai siapa yg argumentasinya lebih kuat dan akurat? Kok ngeper sih ibn abd khair?

      Nih, nama2 yg sudah kapok gak berani nongol lagi di sini: Yusuf Ibrohim, Ibnu Abi Irfan, Donpay (Agbahna Jibril), Dufall, Abu Umar, Abu Abdullah, dll. Antum juga mau kapok nih ? Ibn Suradi tuh udah lama gak nongol2 akibat sering katahuan bohongnya.

  4. Bismillah,

    To segenap asatidzah ASWAJA, kami berharap kesediaan anda semua untuk berbagi ilmu dengan para pengunjung yang masih awam seperti kami.

    sebagaimana yang pernah diusulkan mas Ucep, kami berharap Ust. Ahmad Syahid, Ust, Agung, Ust, Derajad serta asatidzh yang lain berkenan berbagi tugas untuk menyampaikan dasar-dasar Ushul fiqih, Kaedah Fiqih, Mustholah Hadits. Mengingat langkahnya pemahaman dalam bidang inilah yang dimanfaatkan kelompok tertentu dalam memecah belah Ummat Islam…

    sebelumnya atas kesediaan para asatidzah semua kami haturkan terima kasih teriring do’a Allohu Ma’anaa wa Ma’akum Bi Taufiqihi Wa ‘Aaunihi Fi Kulli Haal…

  5. @aryati, selebar helai rambut pun sy enggak bergeming. hanya saja kami dinasehatkan oleh para ustadz dan masyaikh utk tidak membuang waktu percuma. Ketika dalil dan hujjah telah disampaikan, dan ahlu hawa ttp pada hawa-nya, maka bersabarlah. INNAKA LAA TAHDII MAN AHBABTA…

    1. @ibn abdul chair
      Silahkan ente gak bergeming, silahkan juga ente kaji Ilmu yang paling-paling dasar yaitu TAUHID, coba jelaskan Tauhid di bagi 3 ?

      Semua Ibadah apapun hebatnya seorang itu beribadah dan seberapa banyak dia mensedekahkan hartanya di Jalan Allah SWT, maka akan sia-sia jika Ilmu dasarnya aja sudah Kacau. Ingat itu mas @ibn abdul chair.

      1. Bismillaah,

        Kok kawan-kawan pada mempermasalahkan Tauhid Uluhiyah / Ubudiyah, Tauhid Rububiyah dan Tauhid Asma wa Sifat?

        Saya ingin bertanya kepada kawan-kawan semua. Bila kita melakukan shalat hanya karena Allah, bukan karena siapa-siapa dan apa-apa, itu kita mentauhidkan Allah dalam hal apa?

        Wallaahu a’lam.

        1. @ibnu suradi
          Ente baca kitab Imam ente :
          1. Fathul Madjid-karangan Muhammad ibn Abdul Wahab beserta Hasyiyat Kitab Tauhid-Muhammad bin Abdul Wahab.
          2. Fadhl al Islam karangan Muhammad bin Abdul Wahab
          3. Ulama al Anam bi Syarh Kitab Fadhail al Islam karangan Muhammad bin Abdul Wahab

          Pertanyaan ente akan terjawab menurut Imam ente, bukan menurut Aswaja. Jadi ane sama temen2 gak perlu menjawab.

          1. Bismillaah,

            Kang Ucep,

            Saya percaya anda mengesakan atau mentauhidkan Allah saat shalat. Anda shalat karena Allah, bukan karena siapa-siapa dan apa-apa. Orang yang abnda sebut Wahabi juga demikian. Dalam hal ini, apa ada perbedaannya?

            Anda juga mengesakan Allah dalam penciptaan alam semesta ini. Anda meyakini bahwa hanya Allah yang mencipatkan alam semesta ini. Orang yang anda sebut sebagai Wahabi juga menyakininya. Apa ada perbedaan?

            Anda juga mengesakan Allah dalam masalah pengetahuan. Anda meyakini bahwa hanya Allah yang Maha Mengetahui. Sedangkan manusia dan ciptannNya memiliki pengetahuan yang terbatas. Orang yang anda sebut sebagai Wahabi juga menyakininya. Apa ada perbedaan?

            Wallaahu a’lam.

        2. @Ibnu Suradi

          golongan yg membagi tauhid menjadi tiga mengatakan bahwa, kaum musryik juga memiliki tauhid, yaitu tauhid rububiyah. Sedangkan dikalangan Ahlussunah Wal Jama’ah, tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah itu merupakan satu kesatuan.

          Jadi, kami tidak pernah mengatakan bahwa orang orang musryikin itu juga bertauhid.

          Asma wa sifat, dikalangan Ahlussunah Wal Jama’ah, dalam memahami ayat ayat mutasyabihat (samar), menggunakan pendekatan tawfidh dan takwil.

          Sedangkan golongan yg membagi tauhid menjadi tiga, cenderung berakidah tajsim, seperti Allah swt. bersemayam di ‘Arasy, Allah memiliki tangan, wajah, kaki dsb. Dimana keyakinan tersebut adalah keyakinan yg sesat.

          1. Bismillaah,

            Kang Agung,

            Anda dan kawan-kawan mempermasalahkan pembagian tauhid menjadi 3: Taiuhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma wa Sifat, yang anda samakan dengan konsep trinitas Kristen.

            Anda tentunya meyakini bahwa Allah Maha Pencipta yang menciptakan alam semesta ini. Allah paling berhak untuk disembah atau diibadahi. Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat. Orang-orang yang anda sebut Wahabi juga memiliki keyakinan yang sama dengan anda.

            Saya yakin anda tidak akan menyangkal penjelasan ini. Namun, kemudian anda mengalihkan sasaran tembak pada pendapat bahwa orang kafir Quraisy itu bertauhid rububiyah dan pendapat bahwa Allah istiwa ‘alal arsy. Kalau nanti disampaikan dalil dari Qur’an dan hadits, anda kemungkinan akan mengalihkan lagi sasaran tembak ke lain hal.

            Wallaahu a’lam.

          2. @ibnu suradi
            “Orang-orang yang anda sebut Wahabi juga memiliki keyakinan yang sama dengan anda”
            MAAF ASWAJA TIDAK SAMA DENGAN WAHABI DALAM AQIDAH

          3. @Ibnu Suradi

            kami, ahlussunah wal jama’ah mempercayai dan mengimani hal tersebut.

            yg kami pertanyakan adalah, pembagian akidah menjadi tiga seperti itu!

            dikalangan kami, tauhid uluhiyah dan tauhid rububiyah itu merupakan satu kesatuan, tidak dipisah pisah seperti yg kalian lakukan.

          4. Bismillaah,

            Kang Agung,

            Makanya, Kang Ucep musti berhati-hati bila memberikan komentar.

            Setelah saya menulis:

            Anda tentunya meyakini bahwa Allah Maha Pencipta yang menciptakan alam semesta ini. Allah paling berhak untuk disembah atau diibadahi. Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat. Orang-orang yang anda sebut Wahabi juga memiliki keyakinan yang sama dengan anda.

            Kang Ucep berkomentar:

            @ibnu suradi
            “Orang-orang yang anda sebut Wahabi juga memiliki keyakinan yang sama dengan anda”
            MAAF ASWAJA TIDAK SAMA DENGAN WAHABI DALAM AQIDAH

            Lalu saya menimpali:

            Kang Ucep,

            Jadi, ASWAJA tidak meyakini bahwa Allah Maha Pencipta yang menciptakan alam semesta ini?

            Itulah kronologinya.

            Wallaahu a’lam.

          5. @ibnu suradi
            Aqidah Aswaja beda dengan Wahabi, Wahabi membagi 3 tauhid, Aswaja Gak mungkin dibedakan.
            Ane cuma minta jelaskan dari mana dalilnya ? dan apa hukumnya jika meninggalkan salah satunya?
            Makanya Aqidah Wahabi sangat jauh beda dengan Aswaja.

          6. @Ibnu Suradi

            wahai saudaraku Ibnu Suradi, yg dimaksud dengan tidak sama oleh saudara ucep adalah, pembagian tauhid menjadi tiga.

            sebagaimana perkataan saudara ucep: “coba jelaskan Tauhid di bagi 3 ?”.

            Dikalangan kami, tauhid Rububiyah dan tauhid Uluhiyah merupakan satu kesatuan. Bukan terpisah.

            itulah yg dimaksud dengan beda oleh mas ucep.

          7. Bismillaah,

            Kang Agung,

            Saya kira semua kawan-kawan dari Wahabi setuju bahwa tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah itu merupakan satu kesatuan.

            Bila kita meyakini bahwa Allah Maha Pencipta yang menciptakan manusia dan alam semesta ini, maka kita wajib menyembah hanya kepada Allah. Inilah contoh dari satu kesatuan tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah.

            Tentang orang kafir Quraisy meyakini bahwa Allah yang mencipatkan alam semesta ini dan “Allah istiwa ‘alal arsy”, itu ada dalam ayat-ayat Qur’an yang sering disampaikan kawan-kawan yang anda sebut sebagai Wahabi di forum ini. Tentu anda dan kawan-kawan yang anda sebut sebagai Wahabi sama-sama tidak mengingkari ayat-ayat tersebut.

            Wallaahu a’lam.

          8. @ibnu suradi
            “Saya kira semua kawan-kawan dari Wahabi setuju bahwa tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah itu merupakan satu kesatuan”
            Coba ente baca kitab Imam ente : Fathul Madjid karangan Muhammad ibn Abdul Wahab.
            Aqidah faham ente aja ente gak kuasai, bagaimana nih ?????

          9. @ibnu suradi
            Bagaimana Firanda yang sudah dibuka kedoknya oleh ustad-ustad diblog ini, coba dong dibaca, jangan asal koment aja. Koment ente gak jelas.

          10. @Ibnu Suradi : “Allah istiwa ‘alal arsy”.

            Jawab :

            hal tersebut terdapat dalam QS. Thaha :5. QS. Thaha :5 merupakan ayat mutasyabihat. oleh karena itulah tidak diperkenankan untuk berpegang ke makna zohirnya.

            Aqidahnya Ahlussunah Wal Jama’ah : Allah Ada Tanpa Tempat dan Arah.

            Sebagaimana firmannNya :
            “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (Q.S. as-Syura: 11)

            Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud).

            “Engkau azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah al Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-Mu” (H.R. Muslim dan lainnya).

            Sebagaimana yg telah disampaikan oleh sayyidina Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya-:
            “Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat” (Dituturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi dalam kitabnya al Farq bayna al Firaq)

            itulah keyakinan kami. kalau Ibnu Suradi dkk, bagaimana keyakinan kalian?

          11. @Ibnu Suradi

            Anda ini mirip dengan Ibn Abdul Chair. Orang yg berdiri ketika ada seorang ustadz, ulama dsb yg datang, oleh ibn abdul chair disamakan dengan penghormatan orang nasrani kepada Isa AS.

            kami, yg tidak setuju dengan pembagian tauhid menjadi tiga, dan dipisah pisah seperti yg kalian lakukan. engaku malah mempertanyakan apakah ASWAJA tidak meyakini bahwa Allah Maha Pencipta yang menciptakan alam semesta ini?

            anda ini mirip sekali dengan syaikh pujaan kalian, Al Muhadist Al Imam Nashirudin Al Bani. Al Bani yg tidak setuju dengan takwil yg dilakukan oleh Imam Bukhori berkata : “hal tersebut seharusnya tidak dilakukan oleh seorang muslim”.

            beginilah kalau sanad ilmunya bersambung kepada syaikh syaikh wahabi, hobinya cuma mencela.

          12. @Ibnu Suradi

            ada salah seorang yg datang ke blog ini, yg membagi tauhid menjadi tiga, dan secara jelas mengatakan bahwa orang musryik juga bertauhid, yaitu tauhid rububiyyah.

            Saya tidak mengatakan Allah swt. itu bersemayam di ‘Arasy. Karena aqidah saya, dan aqidahnya Ahlussunah wal jama’ah, Allah swt. ada tanpa tempat dan arah. kami Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Makhluk.

            Setahu saya, salafi (wahabi), ada yg berpendapat bahwa Allah swt. itu bersemayam di ‘Arasy. Syaikh pujaan anda, syaikh Al Bani pernah mencela Imam Bukhori, karena Imam Bukhori melakukan takwil.

            Di antara ayat-ayat Mutasyabihat yang tidak boleh diambil secara
            zhahirnya adalah firman Allah ta’ala (surat Thaha: 5).

            Kalau anda tidak berpaham demikian, syukur alhamdulillah.

          13. @Ibnu Suradi

            biar tidak terjadi kesalahpahaman, coba saudara jelaskan tentang tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan asma wa sifat?

            Ok bos?

          14. Bismillah,

            al hamdulillah, lanjutkan mas Agung…

            biar kami tidak nyela, kami titipkan paertanyaan buat kang @Ibn Suradi,

            dimana letak batasan yang jelas antara orang yang telah dianggap bertauhid rububiyyah dan belum?

  6. Mang @ucep, sy gak mungkin menjelaskan, tauhid uluhiyah, tauhid rububiyah dan tauhid asma’i wa sifati disini. Cuma orang juhala yg memperolok-olok ilmu.

    1. @ibn abdul chair
      Ane dan teman2 Aswaja disini gak memprolok-olok Ilmu, apalagi yang menyangkut masalah Ilmu dasar beragama yaitu TAUHID.
      Kalau tauhid sudah dipermainkan, tentulah salah semuanya, seperti Tabaruk, Tawasul maupun berziarah pasti dikatakan Syirik (lawan dari Tauhid), padahal itu semua sudah dicontohkan oleh Rasulullah maupun sahabat, tapi masih tetap dikatakan syirik.
      Lihat kitab Fathul Madjid karangan Muhammad ibn Abdul Wahab, disana Tauhid dibagi 3, nah kita analisa : kalau saja satu kita tinggalkan atau kalau sudah bertauhid uluhiyah dan asma wa shifat lantas tidak mengamalkan / yakin dengan Tauhid rububiyah Bagaimana hukumnya ?

    2. Bismillah,

      Mas @Ibnu abdul chair, saya bukan orang yang tahu tentang qur’an, kalau boleh saya berharap pada anda yang saya anggap lebih tahu ttg qur’an daripada kami, sudilah kiranya anda berbagi ilmu dengan kami,

      tolong tunjukkan pada kami ayat yang mengharamkan makan daging anjing…

      sebelumnya kami haturkan terimakasih, sekali lagi jawaban anda kami perlukan karena disekitar kami ada khabar bahwa daging anjing halal dimakan karena al qur’an tidak mengharamkannya….

      1. Mas @bu Hilya

        Pertanyaan yg bagus mas. Karena dalama QS. Al Maidah : 3, Allah swt. berfirman : “Diharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi……..”

        jadi bagaimana dengan daging anjing, boleh atau tidak untuk dimakan.

        boleh titip pertanyaan juga mas untuk ibnu abdul chair berkaitan dengan masalah anjing juga.

        Ada sebuah hadist yg berbunyi :
        “tiap tiap kulit yg disamak menjadi suci”.

        pertanyaan untuk saudara Ibn Abdul Chair, bagaimana dengan kulit anjing yg telah disamak, apakah menjadi suci juga atau tidak?

        mohon penjelasan dari saudara Ibnu Abdul Chair, karena kami tahu saudara ilmunya sudah tinggi. sedangkan kami ini masih perlu banyak belajar.

        1. @Ibnu abdul chair

          Benar-benar penting pertanyaan Ustadz Abu Hiya dan Mas Agung di atas. Saya juga menunggu jawaban agar saya bisa sampaikan kepada masyarakat awam yang bertanya.

          Tapi mohon jawabannya yang dari Qur’an dan hadits langung, karena kalau dari Imam Syafi’i saya sudah tahu sedikit, walaupun masih perlu tanya-tanya lagi. Sesuai dengan Ayat yang Anda kutip (kalau tidak salah): “apabila kamu berbeda pendapat, maka kembalilah kepada Allah dan Rasul” (maaf kalau salah kutip).

    3. ibn abdul khoir, yg bangga dong jadi Wahabi biar pede dalam dakwah, berani terbuka tidak takut diolok2, padahal nggak ada lho yg ngolok2 antum, itu cuma perasaan antum saja akibat minder dg ilmu batil yg antum miliki, wallohu a’lam.

    1. @Abu Abdullah

      salah seorang sahabat pernah berkata : “ini adalah sebaik baik bid’ah”.

      Imam Syafi’i membagi bid’ah menjadi dua, bid’ah yg terpuji dan bid’ah yg tercela.

      Nabi Muhammad saw bersabda : “Sebaik baik kamu ialah yg semasa denganku (sahabat), kemudian generasi berikutnya (Tabi’in), dan generasi sesudahnya (Tabi’t Tabi’in)”.(HR. Imam Bukhori)

      Serta puluhan Imam Imam Mujtahid lainnya yg sependapat dengan Imam Syafi’i.

      Siapa sih ustadz firanda, apakah iya seorang mujtahid?

      agar kita tidak menafsirkan sesuatu yang kita tidak memiliki pengetahuan tentangnyaada baiknya kita perhatikan hadist berikut ini:
      Rasulullah saw. bersabda: ”Akan datang nanti suatu masa yang penuh dengan penipuan hingga pada masa itu para pendusta dibenarkan, orang-orang yang jujur didustakan; para pengkhianat dipercaya dan orang-orang yang amanah dianggap khianat, serta bercelotehnya para ‘Ruwaibidhoh’. Ada yang bertanya: ‘Apa itu ‘Ruwaibidhoh’? Beliau saw. menjawab: ”Orang bodoh pandir yang berkomentar tentang perkara orang banyak” (HR. Al-Hakim, ia menyatakan bahwa hadits ini shohih)

    2. @Abu Abdullah

      Saya mau bertanya, apa hukum bayi tabung? Bayi tabung tidak ada tuntunannya dari Rasulullah saw. ataupun para sahabat. apakah dia lantas dihukumi sebagai bid’ah atau tidak?

      atas penjelasannya, saya ucapkan terima kasih.

    3. Oi bedul….ente jgn lempar sembunyi tangan, main taruh link minta dibahas ente sendiri ngacir ga nongol”, pengecut ente dasar wahabrot… main ngibrit aja…..hadeh yg ginian makin lama makin sesat ente gak nyadar” sesatnya….

    1. @Ibnu Abdul Chair

      Siapa yg memperolok olok ilmu?

      Situ pernah mengaitkan antara orang yg berdiri ketika menyambut guru, ustadz dsb dengan cara kaum Nasrani menghormati Isa AS. padahal berdiri ketika kedatangan seorang guru, ustadz dsb, ada tuntunannya dari Nabi Muhammad saw.

      anda menolak peringatan Maulid Nabi, padahal banyak ulama dan mujtahid yg membolehkannya dengan dalil Al-Qur’an dan Hadist. Namun anda mengatakan bahwa hal tersebut tidak ada dalilnya.

      Dari sana saya mengambil kesimpulan, ilmu saudara sudah begitu tingginya. oleh karena itulah, ada baiknya saudara mau berbagi ilmu terutama masalah tauhid, karena tauhid merupakan pokok pokok agama.

      Ok?

  7. @ibn abdul chair
    He he he… ente lucu juga lama-lama, yang memperolok-olok Tauhid tuh siapa ?, bukannya Imam ente. Kan ane tanya bagaimana hukumnya, kalau salah satu ditinggalin, karena Ibnu Taimiyah dan Muhammad Ibn Abdul Wahab gak jelasin dalam kitab2nya!!.

    Nah disini ketahuan ente belum menguasai ilmu dari Imam ente, ente bermodal ikut-ikutan, walaupun tanpa ilmu ente mudah bilang Kafir, Syirik, Sesat dan Pasti masuk neraka.
    Yang menentukan ketajaman Tauhid seseorang hanya Allah SWT yang menentukan apakah seorang itu masuk syurga atau neraka dan kita diwajibkan mengatakan dan meyakini dengan Haqul Yakin “La Illa Ha Ilallah, Muhammad Rasulullah”

    Coba deh ente baca artikel yang disebutin oleh mas @yanto jenggot.

  8. Afwan akhi fillah, ana blm ikut nimbrung lama@ nih, masalahnya salah satu lemari buku sy ambrol. pdhl masih ada 4 karton gdg garam lagi yg belum dimasukkin ke lemari. maklum baru pindahan

    1. @ibn abdul chair,

      Banyak juga ya koleksi bukunya ? mudah2an bukan buku sekte wahabi semua sehingga ente bisa nyari perbandingan antara faham wahabi dan faham mayoritas umat islam yaitu ASWAJA, semoga hati anda terbuka untuk menerima kebenaran yg hakiki bukan pembenaran dari ulama wahabi.

    2. Kasihan Syaikh ibnu Abdul Khoir, kok saya jadi ingat keledai memikul kitab? Kira2 tahu apa nggak ya, si Syaikh ibnu Dul Khoir ini tentang maksud “keledai memikul kitab” seperti sindiran Allah Swt dalam salah satu ayat Al Qur’an?

  9. Kalau cara ustadz2 atau ulama aswaja mempelajari, memahmi, memperdalam ilmu itu tdk sekedar lewat seabrek buku, yang lebih penting dari itu adalah belajar langsung dengan para ulama atau ustadz2 yang sanad ilmu dan nasab gurunya nyambung hingga ke Rasulullah SAW. Kalau wahabi kan guru2nya sanad ilmu dan nasab guru mereka kan gak nyampek hingga ke Rasulullah SAW, paling2 mentok sampek ke dul wahab doang, ditambah lg dengan belajarnya lewat buku tok yg blm tentu terjamin oresiniltasnya yg dari terbitan saudi sekarang, apalagi jika salah memahami teks2 dalam kitab itu tanpa guru mana mungkin buku menegur yang mempelajarinya ya to 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker