Anak Cucu Nabi

Akhirnya Aku Bahagia Bisa Mencintai Anak Cucu Rasulullah Saw

Ini sedikit cerita tentang anak cucu Rasulullah Saw di kampungku. Dulu sewaktu aku masih usia SD, di kampungku sering kedatangan seorang ‘Sayyid’.  Yah…, Sayyid itulah orang-orang memanggilnya. Namanya aku tidak tahu, begitu juga kebanyakan orang di kampungku tidak tahu namanya, tetapi aku ikut-ikutan orang dengan memanggilnya Sayyid. Katanya dia adalah seorang keturunan Nabi saw. Wow, aku kagum ada anak cucu Rasulullah Saw singgah di kampungku. Biasanya kalau dia datang ke kampungku sambil berjualan minyak wangi.

y903w9vZg0VLgAAAABJRU5ErkJggg== - Akhirnya Aku Bahagia Bisa Mencintai Anak Cucu Rasulullah SawPosturnya tinggi 170-an cm dengan besar badannya seimbang, wajahnya ganteng khas Arabia dengan cambang lamat-lamat di kedua pipinya. Rambutnya keriting cepak, kedua lengannya ditumbuhi rambat-rambut halus yang lebat. Biasanya dia memakai celana jean dan kaos T-sirt warna merah. Keren banget, itulah penampilannya. Ada satu hal yang menjadi catatan bagi orang-orang di kampungku terhadap sosok ini. Dia tidak pernah ikut shalat Dzuhur bersama kami di masjid, bahkan sampai menjelang shalat Ashar pun dia tidak melakukan shalat sehingga pamit pulang ke kota tempat tinggalnya.

banner 2 2 - Akhirnya Aku Bahagia Bisa Mencintai Anak Cucu Rasulullah Saw

Begitulah waktu terus berjalan, berkali-kali dia singgah di kampungku dan tetap saja dia tidak pernah menjalankan shalat. Akhirnya seorang pamanku yang cukup akrab dengannya memberanikan bertanya kenapa dia tidak shalat. Sang “sayyid”  itu menjawab santai tanpa beban, bahwa dirinya tidak perlu shalat karena sudah diampuni dosanya dan dijamin masuk surga. Mendengar jawaban itu, pamanku hanya mengangguk-angguk tapi dalam hatinya tidak percaya begitu saja. Setelah si Sayyid itu pergi meninggalkan kampung kami, kami pun memperbincangkannya. Bahkan bisa dibilang berdebat kecil-kecilan mempermasalahkan apakah benar dia itu seorang keturunan Nabi saw? Dan di akhir perbincangan bisa disimpulkan bahwa kami mulai meragukan akan statusnya sebagai cucu Nabi Saw.

Maka di waktu-waktu selanjutnya, setiap kali orang Arab itu datang ke kampungku, orang-orang kampung tidak ada lagi yang menyambutnya. Begitu mendengar dia datang, orang-orang tidak lagi mengerubutinya. Orang-orang sudah menyadari akan kebohongan orang Arab itu, bahwa dia pasti bukan keturunan Nabi saw. Dia adalah orang Arab biasa yang enggan menjalankan Shalat. Karena merasa dicueki oleh orang-orang di kampungku, akhirnya dia tidak pernah datang lagi.  Berminggu-minggu, berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun sampai aku tamat SMA, orang Arab itu tidak pernah lagi muncul di kampungku.

*****

 Ada yang membekas dalam benakku akibat pengalaman berjumpa dengan orang Arab yang mengaku Ahlul Bait Nabi. Ya, dalam benakku sejak itu terukir rasa tidak percaya adanya keturunan Nabi saw di zaman ini. Menurutku bagaimana mungkin keturunan Nabi bisa sampai ke negeri ini, apalagi jumlahnya begitu banyak sampai ribuan. Bagiku itu mustahil, pastilah orang-orang itu hanya mengaku-ngaku saja sebagai keturunan Nabi seperti orang Arab yang dulu pernah singgah dan berjualan minyak wangi di kampungku.

Begitulah aku benar-benar tidak percaya, aku pikir itu tidak masuk akal ada anak cucu Nabi berada di Indonesia. Apalagi jika kuingat sejarah yang pernah kubaca, cucu Nabi Sayyidina Husein dibunuh oleh anak Mu’awiyah dalam peristiwa Karbala yang memilukan. Bukankah di situ sudah habis anak cucu Nabi? Demikian aku pernah berpikir dan menganalisa tentang anak cucu Nabi. Juga ditambah isu-isu yang kudengar dalam pergaulan sehari-hari di Jakarta bahwa yang disebut garis keturunan itu harus dari anak lelaki, sedangkan Siti Fatimah adalah seorang putri.

Bahkan aku semakin tidak percaya adanya anak cucu Nabi di Indonesia ketika dulu seorang tokoh menteri agama tahun 80-an juga mengatakan bahwa dirinya tidak begitu percaya adanya anak cucu Nabi di Indonesia. Begitu juga seorang adik sepupuku yang lulusan Al-Azhar juga tidak begitu respect tentang Habib dan Habaib, dan ketika kutanya dia hanya mengartikan Habib itu artinya cinta sambil mengisyaratkan dirinya tidak percaya adanya anak cucu Nabi saw. Aneh kan, kok ada lulusan Al-Azhar yang tidak percaya adanya habib keturunan Nabi saw ? Tapi begitulah fakta yang kutemukan pada adik sepupuku yang jebolan Al-Azhar Cairo Mesir.

Tapi sekarang semuanya berubah 1000 derajat, akhirnya aku bisa percaya dengan keyakinan penuh tentang adanya para habib keturunan Rasulullah saw. Perubahan ini bermula pada bulan Maulid Nabi Saw (Rabi’ul Awal) 2008. Ketika suatu malam berhujan deras aku “terpaksa” ikut menyaksikan Habib Munzir Al Musawa yang sedang berceramah di Terminal Perumnas Kelender Jakarta Timur. Ya, waktu itu aku terpaksa ikut menyimak  ceramah Habib Munzir karena aku dipaksa oleh putriku yang baru kelas 4 SD merengek-rengek dan ngambek minta diantar untuk menghadiri Acara Tabligh Akbar Habib Munzir. Tidak ada pilihan lain kecuali harus mengantarnya ke acara tersebut, dan aku pun akhirnya tenggelam dalam siraman rohani dari Habib Munzir yang menyejukkan jiwaku bersama guyuran hujan deras di malam itu. Dan ajaibnya walaupun hujan sangat deras mengguyur Terminal Perumna Kelender, malam itu hadirin yang  jumlahnya 30 ribuan muslimin tidak bubar sampai acara berakhir. Walaupun tentu saja Habib Munzir sudah menawarkan untuk diakhiri acara tabligh tersebut tetapi hadirin tidak mau dan ingin tetap terus mendengarkan nasehat-nasehat ilmiyyah dari Habib Munzir.

*****

 Semenjak Peristiwa di terminal Perumnas Kelender itulah aku mulai percaya kembali tentang adanya anak cucu Nabi Saw di Indonesia. Dan sejak itu pula di hatiku mulai bersemi rasa cinta kepada Habib-habib keturunan Rasulullah Saw. Dengan semangat cinta kucari informasi-informasi mengenai Habaib dan aku pun semakin yakin tentang kebenaran adanya anak cucu Nabi saw. Dari pencarianku berkaitan Habaib, aku mendapat kesimpulan bahwa Keturunan Rasulullah Saw itu benar-benar eksis di tengah Ummat Islam dan bisa dengan mudah dikenali ciri-cirinya. Dan mereka punya buku induk yang mencatat nasab-nasab mereka sebagai anak cucu Nabi Saw di Rabithah Alawiyyah jakarta.

Alangkah bahagianya aku akhirnya bisa kembali mencintai anak cucu Rasulullah Saw, dan alangkah celakanya aku seandainya sampai saat ini aku masih terhijab untuk mencintai Habaib anak cucu Nabi saw. Maka aku pun segera menyampaikan apa-apa yang kudapat tentang Habaib kepada orang-orang di kampungku. Alhamdulillah di kampungku sekarang setiap tahun pada setiap tanggal 27 Rajab diadakan acara Isro’ Mi’roj dengan mengundang para Habaib. Dan adik sepupuku yang alumnus Al-azhar Cairo Mesir pun menjadi bagian dari jutaan Muhibbin yang militan.

Rasulullah saw telah berwasiat pada segenap umatnya untuk berpegang kepada dua hal yaitu Alquran dan Keluarga Beliau. Ada Riwayat terkenal dengan sebutan hadits Tsaqolain, yaitu hadis yang mengutip perkataan Rasul saw: “ya ayyuhannaas innii taraktu fi kum ma in akhadlkum bihi lan tadlilluu kitaaballahi wa ‘itratii ahlu bayti.”  Artinya:  “Wahai manusia sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian sesuatu yang mana jika kalian mengambil nya kalian tidak akan sesat selama-lamanya yaitu Kitab Allah dan Keluargaku, Ahlulbaitku.” ( Imam Suyuthi menyatakan bahwa hadis ini adalah shahih dan benar sanadnya. Juga Imam at-Thabari menjelaskan bahwa hadis ini adalah hadis shahih. At-Thabari menyatakan bahwa perawi-perawi hadis ini adalah orang-orang yang bisa di percaya. Selain itu, bahwa yang meriwayatkan hadis ini sangatlah banyak, diantaranya Imam Muslim, Imam at-Thurmudzi, Imam Ahmad bin Hambal, dan Imam Hakim Annaisaburi. Dengan demikian sanad hadis ini menurut kesaksian para ahli hadis adalah shahih dan benar ).

Hanash Kanani meriwayatkan: “Aku melihat Abu Dzar memegang pintu Ka’bah ( Baitullah ) dan berkata: “Wahai manusia jika engkau mengenalku aku adalah yang engkau kenal, jika tidak maka aku adalah Abu Dzar. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Ahlul Baitku seperti perahu Nabi Nuh, barangsiapa menaikinya mereka akan selamat dan barangsiapa yang tidak mengikutinya maka mereka akan tenggelam.”  ( Hadits riwayat Hakim dalam Al-Mustadrak Ash Shahihain jilid 2 hal 343 dan Al Hakim menyatakan bahwa  hadis ini shahih )

Ibnu Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah: QS.42:23, “Dan siapa yang mengerjakan KEBAIKAN”, Ia berkata: ”Yang dimaksud KEBAIKAN adalah kecintaan kepada keluarga Nabi Muhammad saw”.

Allohumma sholli ala Sayyidina Muhammad wa ala alihi washohbih….

 

Oleh: Qodrat Arispati

Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

31 thoughts on “Akhirnya Aku Bahagia Bisa Mencintai Anak Cucu Rasulullah Saw”

  1. Alhamdulillah, bersukurlah kalau bsa mencintai habaib dzurriyah rasul. Itu adalah anugrah Allah kepada kita, sebab ada juga orang2 yg tidak dikaruniai kecintaan kepada para habaib bahkan mereka benci kepada para habaib dan menghinanya. Mereka yg membenci habaib sungguh tidak beruntung dunia akhirat……………………….

    1. Mas Ucep, amin 3x….

      Saya dulu juga gak yakin dengan adanya cucu Nabi, kirain sdh habis. Tapi ternyata masih ada, dan benar2 ada. Saya yakin 10000%. Dan saya pun tidak ragu sedikit pun dengan habib2 yg asli…. Kita harus hati2 dg habib2 palsu buatan Wahabi….

  2. untuk ngetest apakah habib itu asli atau palsu tanya aja nasabnya n catat apa yg dijwabnya. Kemudian krocek di catatan nasab habaib di kantor Robithoh alawiyyin di Tebet jkt. Kalau ada catatannya berarti itu Habib asli….

    Tapi kalau habib palsu pasti tidak akan sanggup menyebutkan nasabnya dg benar. Pasti berlepotan seperti anak kecil makan sambal saus tomat deh….

    Sebab memang beda antara habib asli dan habib palsu….. Setaiap habib yg Asli akan hapal nasabnya. Itulah bedanya dzurriyah Rasul dg orang biasa….

    1. sekedar nambahin, yang saya tahu habaib yang ada sekarang merupakan generasi ke 38 dari rasulullah, dan benar kalo ditanyakan nasab kalo yang asli insyaAllah dapat menyebutkan nasabnya hingga ke Rasulullah dengan lancar.

  3. Cerita yg unik dan mencerahkan, I like this.

    Dan alhamdulillah kita termasuk orang2 yg mencintai anak cucu Rasulullah saw. Kalau ada yg anti Habaib biarin aja, kita tetap cinta habaib sampai akhir hayat, amin …

  4. Assalamualaikum
    saya senang nongkrong di ummatipress, hanya yg saya sayangkan mengapa ketika berdebat antara ummati dg wahabi, pihak ummati terpancing untuk melakukan ejekan, hinaan, sebutan-sebutan buruk (contoh: menggunakan kata wahbabi untuk menyebut wahabi)?
    kita semua mencintai para habaib keturunan Nabi Saw, mereka memiliki akhlak yg baik….namun ketika saya baca perdebatan di ummati mengapa sampai terlontar kata-kata yg jauh dr dakwah dg hikmah? Tentunya ini akan membuat pembaca yang lain terutama kaum wahabi menjadi tidak simpati, yang akhirnya malah membuat mereka antipati terhadap ulasan kawan-kawan di ummati.
    bahkan ada seorang mualaf yg akhirnya memutuskan menjadi wahabi setelah kecewa membaca ulasan-ulasan teman-teman aswaja yg berdakwah dengan menggunakan ejekan-ejekan…

    saya berharap mohon diperbaiki penyampaian dakwahnya…mohon gunakan kata-kata yg halus meskipun emosi…tunjukkan bhw anda memang aswaja yg sebenarnya…

    mohon maaf sebelumnya,

    terimakasih dan wassalamualaikum

    1. Pakde,
      Pihak Wahabi semestinya berbangga disebut Wahabi, bukankah kaum wahabi merasa sebagai satu-satunya kebenaran?

      Ini juga untuk membedakan sebutan antara Wahabi dan Aswaja, sya yakin samasekali tidak ada unsur hina menghina. Afwan, semestinya antum bangga dong disebut Wahabi…. kenapa kok malu? Ada apa sebenarnya dg Wahabi?

  5. mohon @admin & rekan-2 ummati bisa ditanggapi komentar temen ane :

    waktu ane sma itu hadits hafalan ane gan tapi bunyi nya gini
    “ya ayyuhannaas innii taraktu fi kum ma in akhadlkum bihi lan tadlilluu kitaaballahi wa sunnati rosuulih”

    tapi sekarang ko brubah ya jadi
    “ya ayyuhannaas innii taraktu fi kum ma in akhadlkum bihi lan tadlilluu kitaaballahi wa ‘itratii ahlu bayti”

    tanya2 om google ketemu ky gini
    versi ‘itratii ahlu bayti”
    fatwa habib hasan

    ane lum nemu tandingan a nyh yang versi “sunnati rosuulih”

    terima kasih sebelumnya atas penjelasan & tambahannya….

  6. Assalamualaikum
    Mbak Putri:
    Maaf mbak….saya Aswaja, bukan Wahabi. Namun ketika baca-baca tanggapan teman-teman Aswaja kepada Wahabi, saya sedih. Karena penyampaian dakwahnya kadang diselingi ejekan, dan canda-an yang kurang baik, misal memberikan gelaran kaum Wahabi dengan ‘sawah’, menggunakan judul yg memprovokasi untuk menunjukkan kesesatan kaum Wahabi (contoh menggunakan kata ‘Bul kibal kibul…’, dsb).
    Saya mohon untuk menggunakan kata-kata yang lebih halus seperti akhlakh guru-guru kita.

    Saya pernah masuk ke web kaum Wahabi, kalau tidak salah web khusus untuk muslimmah…di situ saya baca mereka menggunakan penyampaian yang halus…sehingga menarik minat umat Islam untuk belajar di situs tersebut. Dan inilah yang menjerat umat Islam yang awam untuk masuk ke dalam kelompok mereka, lantaran dakwah mereka disampaikan dengan berlemah lembut.
    Ketika hendak mencari perbandingan dan masuk ke situs-situs Aswaja, banyak yg kecewa karena cara penyampaiannya tidak dengan berlemah lembut….akibatnya banyak yg merasa senang belajar di situs Wahabi tersebut. Sangat disayangkan bukan?
    Demikian mbak Putri dan rekan Aswaja yang lain….semoga bisa jadi masukan untuk perbaikan ke depan.

    Saya ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada rekan-rekan Aswaja, Insya Allah saya masih setia menyimak dakwah di Ummatipress

    Wassalamualaikum

    1. kritik yg sangat membangun dari Pak De….sedikit kritik buat mbak Putri…mohon jgn cepat men-judge org itu wahabi, coba baca lagi komen-2nya & konfirmasi secara halus…karena ane pernah nih dianggap wahabi sama mbak Putri hehehehehe…

      sedikit kritik yah mbak…afwan kalo khilaf…

      ane stuju sekali kalo kita sesama aswaja tetap berprilaku & berucap dg santun, jgn cepat dikuasai hawa nafsu….

      kadang-2 ane jg risih baca komen-2 rekan-2 aswaja yg agak kasar, sayapun mengambil prilaku sopan dr sodara-2 wahabi kita yg tetap berucap dg santun….

    2. @pakde, pernah kah masuk ke blog mereka mendapati tuduhan aswaja dibilang bid’ah, syirik apalagi k….r.
      Bagaimana pendapat pakde sebagai aswaja ?
      meskipun disampaikan secara sopan dan Katanya (klaim) ilmiah dengan dalil super shahih karena sudah dishahihkan albani. Apakah pakde betah belajar disitu ?
      Maka dari itu perlu juga kan Aswaja membela diri.
      Kalau enggak makin banyak orang beranggapan kita syirik. bukan kah orang syirik wajib diperangi, darah kita halal dong bagi mereka.
      Saya mendukung perjuangan ummati.
      kalau ada komen yg kurang sopan ya memang harus diperbaiki.

  7. Soal. keturunan.
    tidak memandang apakah keturunan laki atau perempuan, asalkan keluarga nabi, muslim, beriman, bertakwa. kita harus hormati.
    bukankah anak dari putri kita tetap dianggap keluarga. bahkan sepupu dan anak angkat bisa jadi bagian dari keluarga besar.

    Soal nasab,
    hati-hati juga karena ada zuriat yang gak mau disebut habib. (alasannya saya kurang tau)
    akan tetapi hapal nasab karena kesholehannya diberi kasyaf oleh Allah ta’ala. maka dari itu terhadap zuriat orang soleh pun kita harus beradab yang baik. supaya tidak kualat.

  8. @pakde
    Diblog ini memang sangat terbuka dan tidak ada yang dibuang. Pernah ane masuk keblog firanda, ane dimaki-maki kasar (ada namanya tomi dan ane gak ingat) bahkan lebih kasar yang didapati disini, tapi setelah 1-2 hari komen2 yang kasar langsung didelete, padahal ane bicara sopan, tapi mungkin supaya terlihat bagus blog tersebut jadi yah didelete, apakah ini bukan penipuan, kalau mau coba test aja ente ngotot, nti kasarnya keluar, tapi biasa langsung didelete.

    Tapi benar kata ustadz GS, kata syirik, kuburiyun bahkan kafir apa gak terlalu kasar diblog mereka, daripada di blog ummati ini?, kalau dilihat memang gak kasar, tapi secara hati (perasaan) waaah, ngajak perang terbuka !!!

    Memang banyak Zuriat ini, banyak yang malu atau gak mau disebut Habaib (contoh Tubagus), tapi tetap kita harus mendoakan, karena itu adab yang harus kita junjung.

  9. Assalamualaikum

    untuk GZ dan mas Ucep:
    kalau untuk perasaan karena dikatakan kuburiyyin, musyrik, sesat, dan kafir oleh Wahabi ya pastinya sama dengan perasaan anda semua para Aswaja. Tapi ya disabar-sabarin aja…karena tokh kehadiran Wahabi ini sudah kehendak Allah Swt, memang sudah ditakdirkan akan muncul untuk menguji iman kita….kalau kita ikut-ikutan mereka dengan membalas ejekan, sindiran secara kasar, dan memberi gelaran yang buruk, jadinya kita tidak beda dengan kaum mereka.

    Coba anda perhatikan kelompok-kelompok yang menyimpang (contoh: jama’ahnya Musadeq si nabi palsu, Ahmadiyah, dsb) mereka menggunakan akhlak sebagai senjata untuk meluluhkan hati…yang akhirnya membuat banyak manusia yang terpikat oleh dakwah mereka.

    Bila kelompok yg tersesat saja menggunakan akhlak dalam dakwah mereka, maka sudah sepantasnya kita sbg Aswaja harus lebih berakhlak dibandingkan mereka…
    Bagaimana? Setuju? 🙂

    Untuk masalah setingan Ummati yg menampilkan semua postingan secara fair saya setuju sekali, namun biarlah para Wahabi saja yg berkata-kata kasar…kita Aswaja jangan terpancing, kita tanggapi saja mereka scr sopan. Apalagi di atas web ini dipampang foto guru-guru kita (habib Umar bin Hafidz dan habib Munzir), saya khawatir kalau kita menanggapi Wahabi secara kasar, umat Islam yg awam akan mengira akhlak kita yg kurang baik karena diajarkan oleh guru-guru kita tersebut….naudzubilamindzalik…

    Begitu GZ, mas Ucep dan rekan Ummati…semoga Allah Swt selalu membimbing kita di jalan yg lurus…dan memberikan rahmat dan kasih sayang-NYA kepada kita.

    Wassalamualaikum

  10. @Ummati

    Pengalaman pribadi, dulu waktu SMK saya menyebrang ke Manhaj Salaf, ya karena akhlak mereka itu.. Salah satu yg paling berkesan akhwat mereka yg jilbabnya besar2, mereka gaul, ramah, disiplin sholat berjamaah, dan ukhuwah yg terjalin baik sekali.. Kebetulan, varian yg saya ikuti adalah ‘tarbiyah’, yang tidak kasar, ahli bidengahkan orang, kafirkan orang dll.
    Nah, saya bandingkan dengan kondisi di kalangan NU (khususnya di tempat saya). Contoh yg bikin gemes adalah masalah jilbab. Tokoh muslimah di kalangan NU, masih ada aja yg kagak pake, nongol di TV2 lagi..
    Siapa yg tidak terpesona dgn dakwah mereka, khususnya remaja yg sholeh seperti saya (PD), ghiroh beragama begitu tinggi, walopun keilmuan dan wawasan masih cetek..
    Itu cerita saya masa lalu..

    Sepuntene..

    1. Bismillaah,

      Mas Totok Jogja,

      Cara beragama yang benar akan mendorong penuntut ilmu untuk mendapatkan ilmu yang benar. Ilmu yang benar mendorong seseorang untuk beramal dengan benar. Bila ada orang Islam yang tidak berjilbab atau asal berjilbab, maka lihatlah cara beragamanya. Bisa jadi cara beragamanya salah.

      Wallaahu a’lam.

  11. ya habibi ya sayyidi, btapa mulya engkau. Bahkan da’wahmu smp kpd bocah kecil yg menjadi penolong sang nabi. Bocah sekecil itu telah menjadi penolong da’wah sang nabi. Masya Allah.. Wallahi, saya tak kuasa menahan tangisan. Deras air mata ini mengalir.

  12. Ya Habibi Ya Sayyidi, betapa mulya engkau. Bahkan da’wahmu sampai kpd bocah kecil yg merubahnya menjadi penolong da’wah sang Nabi. Bocah sekecil itu telah menjadi penolong da’wah sang Nabi. Masya Allah…
    Wallahi, tak kuasa diri ini menahan tangisan. Deras airmata ini mengalir. Lama diri ini berhasil menenangkan diri

  13. APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?

    Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

    Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan ‘nasab’-nya, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam.

    Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

    Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.

    Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, ya seharusnya diambil dari nasab perempuan seterusnya.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Kesimpulan dari tulisan di atas, bahwa pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Sementara, anaknya seperti Saidina Hasan dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

  14. dawue GURUKU ; nek wong mbeneh kalo mencari meja kayu pasti di toko meubel tidak langsung ke hutan hahaha… alat ndak punya kemampuan gak ada langsung nyari ke hutan yaaaaaaaaah… kuwi jenenge wong mendem… hehehe
    afwan…
    aku cinta nabi
    aku cinta shohabat
    aku cinta habaib
    aku cinta salafussholih

  15. asalamualaikum wr wb …….yang udah cinta sma habib alhamdulillah yang blum cinta ana do’a in moga di bukakan hati nya dan di beri cahaya iman ,,,,,,,,,,,,,,,krna habib ini memang cucu nya rasulullah bila kita tidak cinta sma mereka niscaya kita tdak akn bisa bertemu rasulullah di akhirat nanti ……….smoga kita senanti tiasa di dlm ridho na allah dan rasul na slma-lama nya dunia dan akhirat ??amin amin ya roball alamin

Tinggalkan Balasan

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker