Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Fikih Sunnah

Ajaran Wahabi yang Menyusup ke KHAZANAH TRANS 7

Ajaran Wahabi yang Menyusup ke KHAZANAH TRANS 7 Akhirnya Terbongkar

Terbongkarnya ajaran Wahabi yang menyusup di Tran 7 adalah berawal dari KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) yang mendapatkan banyak pengaduan dari masyarakat. Menurut aduan masyarakat b bahwa acara Khazanah Trans 7 melenceng  dari ajaran Islam, yang mana Khazanah Trans 7 menganggap ajaran Islam berupa Tawassul dan Ziarah Kubur sebagai syirik (musyrik). Selain itu Khazanah Trans 7 juga membid’ahkan (mengharamkan)  shalawat kepada Nabi saw. Pandangan Khazanah Tarans 7 ini adalah khas ajaran Wahabi yang jelas-jelas menyimpang dari ajaran Rasulullah Saw dan bahkan bermuatan fitnah bagi ajaran Islam, sehingga masyarakat menjadi resah atas provokasi tayangan acara  Khazanah Trans 7 tersebut.

BACA JUGA:  Doa Qunut, Hadits Shahih Doa Qunut & Hukum Membaca Doa Qunut

Berdasar pengaduan masyarakat itulah maka pada tanggal 17/4 2013 Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memanggil Direktur Utama Trans 7 dan tim penyelenggara  acara Khazanah tersebut. Ketua KPI, Muhammad Riyanto mengatakan pemanggilan ini merupakan langkah mediasi antara pihak pelapor, pihak Trans 7 dan KPI, termasuk MUI sebagai penengah.

Adapun yang mewakili pihak pelapor yaitu:

1. Habib Musthafa Al Jufri
2. Habib Fachry Jamalullail
3. KH Thabary Syadzily
4. Ketua Lembaga Da’wah NU

Dalam mediasi yang berlangsung selama sembilan puluh menit tersebut, pihak Trans 7 mengakui ada beberapa episode Khazanah memicu kontroversial di masyarakat. Ada yang mendukung dan ada pihak yang keberatan karena bermuatan fitnah bagi ajaran Islam.

BACA JUGA:  TAQLID ITU PERLU !

“Ke depannya, Trans 7 akan merubah konten dan materi di dalamnya, sesuai tuntutan pelapor dan kami,” kata Riyanto kepada wartawan di Jakarta, Rabu (17/4). Jika nantinya Trans 7 tetap menayangkan tayangan yang kontroversial, baru nanti akan dijatuhkan sanksi.

Dalam acara mediasi tersebut juga disinggung masalah penyimpangan yang ditayangkan acara Khazanah Trans 7, antara lain tentang pembagian tauhid menjadi tiga. Pembagian Tauhid ini sudah jelas-jelas tidak punya dalil yang valid sehingga menyalahi akidah umat Islam, selain itu juga menimbulkan efek fitnah. Penyimpangan lainnya juga tersirat dari tayangan Khazanah Trans 7 yang melecehkan muslimin yang  berziarah kubur. Padahal ziarah kubur dalam ajaran islam hukumnya sunnah. Khazanah Trans 7 juga menayangkan fakta sejarah shalawat Badar yang dimanipulasi, dan syair-syair shalawat ditafsirkan seenaknya agar timbul persepsi negative terhadap muslimin yang bershalawa Badar.

BACA JUGA:  Salafy Wahabi Anti Dzikir Jama'ah Jangan Mengaku Ahlussunnah

Dan kesemua penyimpangan ini adalah ajaran yang merupakan ciri khas pemahaman kaum wahabi yang menyimpang dari ajaran Rasulullah saw. Maka dengan demikian terbongkarlah ajaran Wahabi yang menyusup dalam acara Khazanah Trans 7.

Dirangkum dari berbagai sumber

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

284 thoughts on “Ajaran Wahabi yang Menyusup ke KHAZANAH TRANS 7”

  1. Syaikh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi’i menasehati Muhammad ibnu Wahab (biang ajaran wahabi) menulis surat berisi nasehat bahwa yang dilarang adalah meyakini orang ditawassuli atau di-istighotsahi bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah” berikut bunyi nasehatnya,

    “Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A’zham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.” (diambil dari Zon Jonggol)

    1. Menurut mr Hempher bahwa Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang berkarakterk keras kepala dan dungu (pekok bhs Jawa), maka tidak heran kalau para pengikutnya juga pekok-pekok alias dungu. Sudah dikasih tahu Tawassul dg Nabi itu bukan syirik, dalilnya kuat, tapi masih saja mereka menganggap Tawassul sebagai syirik.

      Oh ya Mr Hempher adalah teman karib Muhammad bi Abdul Wahhab, yaitu seorang mata2 Inggris yg ikut membantu Muhammad BAW mengacak-acak ajaran Islam. Kedunguan Muhammad BAW dimanfaatkan oleh Mr Hempher, untuk dijadikan alat yg sangat efektif untuk memecah Umat Islam pada saat itu. Dan Mr Hempher sangat sukses dg missinya tsb.

      Saya baca dari sini: http://ummatipress.com/2011/01/31/fakta-wahabi-peran-mr-hempher-dan-campur-tangan-inggris-di-balik-kelahiran-wahabisme/

    1. padahal Chaerul Tanjung ternasuk elite NU, semoga bisa membersihkan unsur-unsur Wahabi yg menyusup di TV Trans 7 miliknya, amin….

        1. NU Mas, beliau sering bertemu dg anak2 Ansor dan memberi inspirasi usaha agar generasi muda NU banyak yg sukses ekonominya seperti dirinya, semoga menjadi kenyataan, amiin…

          Beliau kan pengusaha nggak ngurusi hal2 teknis yg ada di Trans 7, jadi dg kejadian ini semoga beliau cepat bertindak membersihkan TV miliknya dari tanduk-tanduk setan Najd.

          1. Semoga juga, Ulama2 Aswaja Khususnya dari NU mau memberi tahu dan menegur beliau bahwa Tran 7 sudah disusupi dan dikotori oleh Virus Wahabi, untuk selanjutnya agar beliau me-wanti2 pengelola Tran 7 supaya ber-hati terhadap acara2 keagamaan jangan sampai tercemari oleh faham menyimpang wahabi dan faham menyimpang lainnya.

  2. Jama’aaaah………………… Alhamdu…… Lilllaaaah.
    Mudah mudahan TRANS 7 benar benar terbebas dari virus virus wahabi

  3. INFO ASWAJA:
    satu lagi dari trans7 yang wajib di curigai acara “khalifah” setiap sabtu 05.30,sedang merubah sejarah dengan mengagung-agungkan muawiyah bin abu sufyan(dedengkot kwarij alias syiah bin salafi wahabi takfiri).

  4. kebetulan saya juga menonton acara tersebut, juga mari kita mohonkan agar TV Rodja dan Radio Rodja di tutup, karena menyimpang dari Ajaran Islam dan juga pemimpin.

    sebagai contoh Pemerintah merayakan Maulid Nabi SAW, sementara Ajaran Wahabi mengharamkan.

    dan ini juga sudah berani melawan Pemerintah dan dapat digolongkan kepada Pemberontak

    1. Sebaiknya yg mendengar dan melihat Radio dan TV Rodja merekamnya sebagai bukti utuk dilaporkan ke KPI dan Kepolisian supaya diambil tindakan dan bila perlu dicabut izinnya untuk ditutup.

  5. yuk belajar lagi dengan mengikuti kajian ilmiyah bersama SYEKH Prof.DR. ABDURROZZAK dosen tetap di Jami’ah Islamiyah Saudi Arabiyah dengan tema CINTA ROSULULLAH Shallahu ‘alaihi Wasalam hari ahad ini di masjid istiqlal, biar menambah ilmu bagi kita yang masih jahil, n tol sampaikan ke habib2 kalian biar ikut ngaji juga.

    1. abu dzar,
      SYEKH Prof.DR. ABDURROZZAK dosen tetap di Jami’ah Islamiyah Saudi Arabiyah ????

      syaikmu ini orang genblung. masak orang berdo’a dg do’a karangan senmdiri bahasa sendiri diharamkan, katanya do’a harus wajib mengikuti contoh Rasulullah? Apa nggak dongok itu ilmunya? Baca tuh buktinya di bukunya Fiqh Do’a dan Dzikir buatannya.

      Kalau yg saya tahu sejak kecil, boleh2 saja berdo’a dg karangan sendiri dg bahasa sendiri.

      1. mas ansyah, berarti syaikh kebanggan wahabi tsb telah mengharamkan yg tidak haram, itu adalah perbuatan orang dzolim persis Yahudi.

    2. Isi ceramahx.kurang lebih di rodja tv awalnya bagus.mengajak kebaikan belakangnya pasti tuduhan tbc.. cape mas dzar dengernya…

      1. saya pernah coba dengerin radio rodja… waktu itu kajian, ustadznya saya lupa namanya (ga penting buat saya) , Ada ucapannya yang bikin saya geli . kata ustadznya : Nama nama (orang) jawa itu harus diganti karena tidak sesuai dengan islam, misalnya nama budi, wisnu , bambang dll itu adalah nama nama dari hindu (nama dewa) . dengernya jadi geli….. ini ustadz gemblung kali…. ha ha ha ….. mendingan dengerin Radio Rasil….. sejuk dan mempersatukan umat muslim.

        1. mas Gandhi, sepertinya radio Rasil juga kesusupan Wahabi, Ust Abul Hidayat Syairozi dan beberapa orang dari pesantrennya yg ngisi acara Rasil sepertinya Wahabi juga, tapi Wahabi yg agak slowly, lumayan lah. Tapi kadang2 mereka keceplosan juga gaya2 Wahabinya.

          Repot juga, demi persatuan mengundang Wahabi masuk ke Rasil. Sehalus apa pun tetap sekali-kali muncul juga aslinya sebagai wahabi, hwe hwe hwe….

          1. gitu ya mbak lia ? saya belum lama kecanthol sama radio Rasil, setelah sebelumnya ngefans sama Gen FM . wah repot juga ya ….. soalnya saya hanya bisa dengerin Radio waktunya pas dalam perjalanan berangkat dan pulang kerja aja sih…. makasih mbak lia infonya, Mohon info Radio Muslim di Jakarta yang bebas dari wahabi ya mbak…

    3. Untuk saudara ABU DZAR yg merasa gak jahil sendiri bersama kaum wahabinya…tolong hentikan fitnah kalian terhadap umat ISLAM !!! Berhenti mengadu antara SYIAH – SUNNI. Saya yg bodoh ini hanya mengetahui satu KALIMAT TAUHID : LA ILA HA ILALLAH yg menjadi pemersatu UMAT ISLAM. Faham kalian dari sumber FITNAH (NADJ) “KERA”jaan Arab Saudi jgn kau bawa kemari. Tolong belajar/baca sejarah dulu awal mula berdirinya “KERA”jaan Arab SAUD dan penopang2nya si WAHAB.. Semoga ALLAH SWT menimpakan kehinaan & bencana terhadap kalian

  6. Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”.

    Sejak kemunculan sekte Wahabi dimuka bumi, telah terjadi fitnah terhadap umat islam dan terhadap Islam itu sendiri. Akibat pemahaman sempit mereka munculah segala bentuk radikalisme dalam beragama yang akibatnya memojokkan umat islam diseluruh dunia. Munculah orang-orang yang mengatasnamakan Alloh, dengan entengnya memvonis, bahkan membunuh muslimin yang tidak sefaham dengan mereka. Tidak terhitung kerusakan fisik dan jiwa yang disebabkan olah pemahaman mereka. Ketika diingatkan mereka selalu merasa sebagai orang-orang yang membawa perbaikan.

    Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”. Mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu

    Pengikut wahabi akan dengan mudahnya mengatakan bahwa Ulama adalah manusia biasa yang tidak Ma’shum. Mereka dengan enteng menolak pendapat ulama yang telah diakui kapasitas ilmunya diseluruh dunia, dan lebih mengagungkan pemahaman mereka sendiri atau ulama-ulama mereka. Lihatlah bagaimana mereka menolak ijtihad Imam Syafii dan lebih percaya ijtihad Al Bani. Dalam hati mereka mengatakan bahwa ualam-ulama yang terdahulu adalah BODOH da tidak layak untuk diikuti.

    Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

    Soal kepandaian berdusta, kita semua telah tahu. Mereka berpendapat bahwa tidak apa-apa berdusta atas nama Alloh.

    Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”.

    Cukuplah kisah hidup Ibnu Taimiyyah, Tokoh yang mereka sanjung-sanjung (walaupun terkadang mereka mengingkari pendapatnya) kita jadikan pelajaran.

    Wallahu a’lam
    Semoga kita semua mendapat hikmah dari kemunculan sekte wahabi ini.

  7. ” Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak mendapat bagian sedikitpun dari Al-Quran. Barangsiapa yang memerangi mereka, maka orang yang memerangi lebih baik di sisi Allah dari mereka “, para sahabat bertanya “ Wahai Rasul Allah, apa cirri khas mereka? Rasul menjawab “ Bercukur gundul “. (Sunan Abu Daud : 4765).

    BELUM PERNAH ADA SEORANGPUN ULAMA’ YG MEMERINTAHKAN UNTUK BERCUKUR “gundul”
    KECUALI HANYA “SYEH MUHAMMAD IBNU WAHAB” biang madzab wahabi

    1. Mereka Melarang Taklid padahal mereka Taklid sama Imam Wahabi,
      Mereka melarang mengikuti Mazhab padahal mereka bikin Mazhab Baru.

  8. Mas Ansyah, sy coba luruskan apa yg disampaikan oleh Syaikh Abd Rozak hafidzuhullah tentang bedoa dengan lafadz doa yg dibuat sendiri.
    Yg sy pahami terhdp apa yang disampaikan oleh Syaikh Abd Rozak hafidzullah adalah jika telah terdapat lafadz do’a yg telah Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasalam pd do’a tersebut, maka tidaklah layak bagi kita untuk membuat lafadz do’a sendiri dan pd saat yg bersamaan justru kita meninggalkan do’a yg telah Rasulullah sholallahu ‘alahi wasalam ajarkan.
    Jadi….kami selalu menomor satukan apa-apa saja yg datangnya dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam sampaikan.
    APA SAJA YANG RASULULLAH BERIKAN MAKA AMBILAH DAN APA-APA SAJA YANG RASULULLAH LARANG MAKA JAUHILAH.

    1. emang Rasulullah ngelarang ya berdoa pake lafadz sendiri??? hadits-nya dong yang secara explisit ngelarang berdoa pake lafadz sendiri…

      trus kalo ustad wahabbi mendoakan saudara2 muslim yang ada di lybia, suriah, afganistan, dan lain2 gimana? kan negara2 tersebut gak ada zaman Rosulullah….arab saudi aja gak ada…

    2. Itukan pemahaman kamu, yang belum tentu sama dengan yang dimaksud Si Durrozak.Padahal bisa jadi yang diamksud Durrozak “Memang dilarang berdoa dengan bahasa sendiri, apapun kondisinya”.
      Inilah hasil kalau belajar hanya dari buku, pemahaman masing-masing orang akan sangat berbeda-beda. Oleh sebab itu dalam belajar agama sangat penting untuk belajar kepada yang punya sanad ilmu dan belajar langsung melalui guru agar tidak terjadi salah pemahaman. Hal ini (sanad ilmu) tidak dimiliki oleh Wahabi, silahkan anda cari dan teliti sendiri sampai dimana sanad ilmunya Wahabi. Muhammad BAW mendalami kitab Ibnu Taimiyyah hanya lewat baca-baca, Al Bani hanya rajin ke perpustakaan, dll Berbeda sekali dengan Ulama-ulama ASWAJA yang sanad ilmunya sambung menyambung sampai ke Rasullulloh SAW. Sehingga terhindar dari kesalahan pemahaman akan ilmu.
      Coba anda cek berapa banyak fatwa-fatwa dari ulama Wahabi yang menyelishi fatwa-fatwa ulama terdahulunya. Hal ini terjadi karena mereka tidak belajar langsung dan memang tidak faham akan ilmu.
      Wahabi memang suka aneh-aneh dan kontradiksi dalam berfatwa, ini karena memang mereka belum punya kapasitas untuk itu.
      Apalagi yang di Indonesia, kitab terjemah saja sudah berlagak mujtahid.

  9. Al Faqir, baca dengan baik pahami secara seksama dong kesulurahannya……
    Pantesan aja nyimpang..wong caranya memahami kalimat spt itu

    1. keseluruhan gimana lagi sih???

      jawab aja, apa Rosulullah ngelarang untuk berdo’a menggunakan pake lafadz sendiri???

      kalo ngelarang, minta dalilnya…gitu aja susah amat pake muter2 segala….

  10. Bismillaah,

    Tadi pagi saya mengikuti acara Khazanah di Trans7. Bahasannya bagus: “Berpakaian tapi telanjang”. Rasulullaah menyampaikan bahwa orang yang berpakaian tapi telanjang tidak akan masuk surga bahkan tidak mencium wangi surga yang bisa tercium dari jarak 500 tahun perjalanan. Betapa banyak umat Islam di Indonesia yang berpakaian tapi telanjang.

    Acara Khazanah bagus karena mencerdaskan karena menyampaikan perkataan Allah dan RasulNya. Berbeda jauh dari acara Nur Maulana yang terlalu sering menjawab pertanyaan dengan perkataannya sendiri. Dia juga pernah memperolok-olok sunnah memelihara jenggot dengan mengatakan: “Kalau iman diukur berdasarkan jenggot, maka kambing pun beriman karena kambing berjenggot.”

    Wallaahu a’lam.

    1. emang bener bang : “Kalau iman diukur berdasarkan jenggot , maka………..”, ga salah kata kata itu.. terus siapa yang di olok-olok bang ??

    2. Karna mental wahabi yg slalu ingin menyalahkan orang islam lainnya,maka perkataan Nur Maulana yg benerpun disalahkan.Kan bener kalau keimanan seseorang bukan diukur dari panjangnya jenggot?Wah,Ibnu Suradi ga pandai bermain logika.Bagaimana mau memahami Al Quran dan Assunnah dg baik,jika logika sederhana saja anda tak mampu memahami??Oh iya,anda kan jagonya cuma membahas tentang shalatnya albani ya?Jadi klo diajak ngomong yg lain ga nyambung.Maksud hati mau mengkritik Nur Maulana apa daya nalar anda cetek…Oh..wahabi..wahabi…Mas ibnu,untuk mempelajari Al quran dan Assunnah perlu nalar yg sehat,cerdas,dan luas mas.

      1. Bismillaah,

        Kang Eko,

        Ustadz-ustadz di situs ini paling takut diajak membahas tata cara shalat Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kalau tata cara shalat Rasulullaah dibahas secara tuntas, maka banyak pengunjung situs ini akan berbondong-bondong menjadi Wahabi seperti berbondong-bondongnya manusia yang masuk Islam setelah penaklukan Mekkah oleh pasukan Rasulullaah. Ini yang ditakutkan oleh mereka.

        Wallaahu a’lam.

        1. @ibnu suradi

          dulu ente pernah diajakin diskusi langsung ama ustadz abu hilya knp ga mau kang…?
          padahal kan lebih afdol diskusi langsung, bisa liat prakteknya dari pada di tulisin iya ga…?

          1. betul mas Abi Raka saya juga masih ingat bberapa bulan lalu mas Abu Hilya mengajak diskusi secara offline, tp tdk ada tanggapan sama sekali dari ibnu suradi… sekarang kalimatnya malah diputar balik… Masya Allah…

        2. @Ibnu Suradi, Tuh kan anda tukang fitnah.Ga mau dibilang tukang fitnah?Ga ngerasa ya?Mas Ibnu mana ada judulnya ustadz2 di ummati takut membahas shalat cara rasulullah.Mereka orang2 yang berilmu.Apa ada orang islam yg takut kalo shalatnya mirip rasul??Dan pada statement anda barusan,anda membandingkan pengunjung situs ini dgn orang kafir yg akan masuk islam dizaman rasulullah??Ciri khas wahabi anda kental sekali.

        3. Bismillah,

          Saudaraku mas Ibnu Suradi@, apa yang anda sampaikan sungguh sangat menggambarkan sholat anda dan kelompok anda adalah sholat yang paling benar….
          Jika para Ustadz disini tidak bersedia berdiskusi dengan anda, maka kami siap “berguru” pada sholat anda yang paling benar…Silahkan dimulai….

        4. Wellcome Back Mas Ibnu Suradi..
          Anda kan sudah di KO Mas Derajat dalam diskusi sholat, saya juga mengikuti sebatas silent rider lho…
          Anda juga sudah di KO Mas Ucep, tentang ziarah kubur,(Anda ternyata juga ziarah kubur, padahal Wahabi mengharamkan ziarah kubur apapun bentuk dan niatnya).
          Anda juga tidak menanggapi ajakan diskusi offline Mas Abu Hilya(padahal materi diskusinya tentang sholat, materi andalan anda)…
          Perkataan anda diatas adalah FITNAH dan DUSTA!
          Oh iya..ngomong-ngomong sudah bisa baca Arab gundul belum? Malu mas…

        5. Ini lah cara SHALAT Wahabi yg katanya BENER sendiri.

          1. Mempromosikan “Sifat Shalat Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam?, dengan alasan kononnya shalat berdasarkan fiqh madzhab adalah bukan sifat shalat Nabi yang benar
          2. Menganggap melafazhkan kalimat “usholli” sebagai bid’ah.
          3. Berdiri dengan kedua kaki mengangkang.
          4. Tidak membaca “Basmalah? secara jahar.
          5. Menggangkat tangan sewaktu takbir sejajar bahu atau di depan dada.
          6. Meletakkan tangan di atas dada sewaktu qiyam.
          7. Menganggap perbedaan antara lelaki dan perempuan dalam shalat sebagai perkara bid?ah (sebagian Wahabiyyah Indonesia yang jahil).
          8. Menganggap qunut Subuh sebagai bid’ah.
          9. Menggangap penambahan “wa bihamdihi” pada tasbih ruku’ dan sujud adalah bid’ah.
          10. Menganggap mengusap muka selepas shalat sebagai bid’ah.
          11. Shalat tarawih hanya 8 rakaat; mereka juga mengatakan shalat tarawih itu
          sebenarnya adalah shalat malam (shalatul-lail) seperti pada malam-malam lainnya
          12. Dzikir jahr di antara rakaat-rakaat shalat tarawih dianggap bid’ah.
          13. Tidak ada qadha’ bagi shalat yang sengaja ditinggalkan.
          14. Menganggap amalan bersalaman selepas shalat adalah bid’ah.
          15. Menggangap lafazh sayyidina (taswid) dalam shalat sebagai bid’ah.
          16. Menggerak-gerakkan jari sewaktu tasyahud awal dan akhir.
          17. Boleh jama’ dan qashar walaupun kurang dari dua marhalah.
          18. Memakai sarung atau celana setengah betis untuk menghindari isbal.
          19. Menolak shalat sunnat qabliyyah sebelum Juma’at
          20. Menjama’ shalat sepanjang semester pengajian, karena mereka berada di landasan Fisabilillah

  11. ummu hasanah aku salut sama ngeyelanmu.. mau main petak umpet lagi atu mau main cara memahami ucapan seseorang? ??
    ikut nyimak..

  12. Bismillaah,

    Waktu acara Khazanah membahas masalah ziarah kubur, saya nonton. Narator menyampaikan bahwa ziarah kubur itu sunnah karena Rasulullaah yang memerintahkannya. Narator tidak mengatakan bahwa ziarah kubur itu syirik. Ini jelas pemutarbalikan fakta dan fitnah terhadap orang0orang yang terlibat dalam pembuatan acara Khazanah yang mulai disukai oleh orang-orang yang berakal jernih. Yang dipermasalahkan bukan pada ziarah kuburnya, tapi amalan meminta-minta kepada ahli kubur yang dilakukan oleh banyak peziarah kubur.

    Saya gembira dengan adanya acara Khazanah di tengah-tengah menjamurnya acara keagamaan seperti Ustadz Maulana, Ustadz Cepot, Ustadz Solmed, Ustadzah Ummi Qurrataayun, dll yang hanya berisi banyak banyolan dan cerita namun sedikit penyampaian ayat dan hadits.

    Wallaahu a’alam.

    1. Saya juga gembira Ust Maulana,Ust Cepot,Ust.Solmed,dan Ustdzh Ummi bukan anggota jamaah takfir dan jamaah tabdi’ dan jamaah khawarij

  13. @ibnu suradi

    dulu pernah di mintain bukti yang ziarah kubur minta ama kuburan ente ga bisa buktiin, sekarang ngomong lagi.
    owya ngomong 2 ciri2 orang yang minta ama kuburan kaya gimana ya…? bisa disebutkan…?

  14. tambahan buat @mas ibnu ilyas
    kapan anda nenjadi orang bijak… sudahkah sampean pelajari koment2 saya di atas.. ????
    kalau anda ingin ilmu yang benar coba bandingkan, angen2, pikiren sak jerone pranah (mboh bahasa opo kuwi).. jangan engkau mengambil informasi sebatas yang kamu condongi (hawa nafsumu) saja.. ingat media cetak, elektronik, dst.. adalah cuma sekedar “media” yang tidak bisa menjamin itu pasti benar atau dalam artian media tersebut tidak bisa menjamin kebenaran suatu khabar sesuai yang dikehendaki pelaku..

    kontroversi asalamu’alaikum coba sampean klik
    http://icrp-online.org/082010/post-120.html

    kontroversi gus dur di baptis
    http://m.inilah.com/read/detail/339752/pendeta-damanik-gus-dur-tak-pernah-dibaptis

    sedangkan yang lain silahkan ubek-ubek internet…
    pesan saya sesuai dengan koment2 saya di atas jangan sampean mudah menyimpulkan apalagi sampai mengatakan murtad, kafir, musrik dll. . ingat mas islam dan kafir itu masalah hati.. dan yang paling tau tentang hati ya gusti Alloh semata.. sekali lagi cermati dan perhatikan koment saya sebelumnya. ..
    wallohu ‘alam

  15. Support untuk teman2 Aswaja:
    1) Hati seorang mukmin itu “layyin” (lemah lembut), karenanya Dia akan dapat berfikir jernih dan gampang melihat kebenaran. Mukmin yang sholih akan diam, memikirkannya dan memohon kepada Allah yang maha pemberi petunjuk untuk ditunjukkan kebenaran dalam berbagai hal.
    Bukannya “Keras Kepala & Mencari justifikasi pembenaran yang lain” terhadap kebenaran yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya.

    2) Kita banyak bermohon saja agar Allah tetap menjaga kita dalam keistiqomahan jalan kebenaran yang telah dicontohkan Nabi melalui sahabatnya, ulama-ulama besar dari generasi ke generasi..

  16. Alfeyd, terima kasih masih menyimak tulisan saya. Banyak yg saya pelajari dari blog ini. Sy semakin tangguh dalam menghadapi cobaan-cobaan sebab sdh dilatih disini.

    1. @Ummu H. Daripada pusing, mari refreshing sebentar dengan game nahwu. Ada 3 pertanyaan:

      1. Nama ummu hasanah itu menurut bahasa Arab jika tidak diwaqafkan menjadi apa? Ummu Hasanatan, Ummu Hasanatin, atau Ummu Hasanatun? Dan menurut qoidah mengapa bisa begitu.
      2. Nama ummu hasanah itu termasuk idhof idhofah, na’tun man’ut, atau mubtada’ khobar?

      Jika @ummu hasanah belum bisa menjawab karena keterbatasan wawasan ilmu alat, mohon belajar dan ngaji lagi. Tapi bukan kitab fotokopian lho, apalagi kitab yang sudah ditambahkurangi. Saran saya, bisa ngaji di pesantren2 salaf yang tersebar di Indonesia, dan juga yang terdekat di kota Anda, tapi salafi yang asli lho, bukan salafi yang wahabi.
      Ngomong omong, dilihat dari namanya lagi, anaknya namanya Hasanah ya? Belum baligh ya? Mumpung itu, Um…ngaji dulu umminya sebelum nanti anaknya ikut ikutan faham umminya yang sekarang. 🙂

      1. catatan aja bang…
        ummu hasanah disuruh ngajinya jangan di radio roja lho.. soalnya kalo ngajinya disana ummu hasanah namanya pasti udah sip. Gak kaya nama nama budi, wisnu, bambang dll yang menurut ustadz roja itu semua adalah nama nama hindu dan harus diganti namanya he he….

        1. Namanya harus di ganti AbuBudi, AbuWisnu, AbuBambang pkoknya Abu…lah,
          Bisa bisa nanti namanya AbuJahal, AbuLahab, AbuDajjal. Namanya si Sok… tapi mentalnya….

  17. tangguh ialah sukar dikalahkan; kuat; andal
    ngeyelan ialah ngengkelan, keras hati, lanek diteruskan =NGAWUR
    kira2 jeng umu hasanah masuk yang mana ya???? hanya Alloh yang tau..

  18. mohon maaf untuk all teman2 diskusi koment saya dobel-dobel, soale tadi bolak-balek gagal… eh ternyata berhasil.. afwan ya..

  19. Bagaimana mungkin madzab wahabi – Albani atau di bawahnya mengadili cara sholatnya madzab Imam Syafi’i atau di bawahnya , Kapasitasnya sangat jauh berbeda.

    Bagaimana mungkin Madzab wahabi – Albani atau di bawahnya mengadili cara Ziarah kubur Madzab yg empat, sedangkan di sana di kuburan Baqi dibangun tembok yg tinggi, bukankah ziarah kubur itu sunnah? apakah syeh albani, Al-Utsaimin tdk tahu? ataukan memang mereka ingkar sunnah dengan berdalih “mencegah kesyirikan didahulukan daripada pahala sunnah”

    WASPADALAH , TAMA’ yg akan menjauhkan kita dari Rahmat Allah swt

  20. Saya hanya bisa menghela nafas bagi para saudara kita para penganut Wahabi. Saran saya (kepada Wahabiyyun), coba renungkan dan fikirkan bagaimana paham itu bermula. Sejak tahun 1925 hingga sekarang, apakah ia lahir dengan cinta kasih dan kedamaian, apakah ia lebih dihiasi dengan menyambung silaturahmi dan persahabatan daripada kemarahan dan hunusan pedang, dan apakah ia menyelamatkan nyawa sesama muslim lebih banyak dari zaman sebelumnya ataukah justru menumpahkannya?
    Saudara saudaraku yang masih dan sudah terlanjur mengikuti faham ini, apakah Anda semua sudah merenungkan keberadaan Anda dan faham Anda di Indoneisa ini? Kami yang lebih lama berada dan bersinergi dengan negeri ini tak pernah lebih dulu menyerang Anda dan pemahaman Anda, namun mengapa dengan gergaji pinjaman (yang tak pernah jelas asal muasal pemiliknya) dari Tuan Tuan Timur Tengah Anda membabati hutan kedamaian yang sekian lama tumbuh di negeri kami? Dan mengapa dengan senapan yang diisi oleh peluru (yang juga tak pernah jelas asal muasal pemiliknya) dari Tuan Tuan Timur Tengah Anda menembaki penghuni penghuni hutan kedamaian tersebut? Hutan hutan yang lebih tua dari gergaji dan senapan itu, hutan hutan yang pepohonan dan penghuninya bisa dirunut pertumbuhan dan garis silsilahnya.
    Saya harap Anda mau berfikir dengan hati yang tanpa buruk sangka dan benci.

  21. ibnu Suradi memang Licin….Ilmu NINJAnya top markotop…..
    Dahsyatnya lg kl dah kepentok Hilang alias kabur ngacir…….ENTAH KEMANA…..
    Buktikan kl gak percaya di beberapa artikel sebelumya telah DIBABAT Pasukan ASWAJA….
    Kita nantikan Jurus Nongol dan Ngacirnya Ibnu suradi di episode Berikut….
    SELAMAT MENYIMAK…..Pertarungan Si Belut Licin Ibnu Suradi DKK dengan Satria Aswaja…….
    wekwkkkeeeekkkeekkkkkk……..SERU DEH………

  22. Alhamdullilah, hasil mediasi menyatakan mereka trans7 minta maaf dan akan menayangkan kembali acara tersebut yang containnya berbeda dan mendukung tawasul, ziarah kubur dan shalawat pada bulai mei 2013, kita tunggu janjinya dari pihak trans7
    http://www.elhooda.net/2013/04/hasil-mediasi-kpi-dan-trans7-khazanah-akan-tetap-tayang-dengan-perubahan-konten-acara/#!prettyPhoto
    http://www.kpi.go.id/index.php/lihat-terkini/38-dalam-negeri/31294-trans-7-penuhi-undangan-dialog-kpi-pusat-soal-tayangan-khazanah
    Supaya tidak menimbulkan fitnah dari media seperti arrahmah.com, ini cuplikan pertemuannya di KPI.
    http://www.youtube.com/watch?v=CA-_VZzlg58
    Kalau dilihat dari rubriknya sich, memang orang yang di rekruit adalah dari golongan wahabi/salafy, jadi wajar khazanah sudah disusupi oleh aliran wahabi. Tetapi ingat para penganut wahabi salafy sepintar2nya anda menyampaikan paham yang sesat, kaum aswaja akan selalu membentengi umat dari paham wahabi.

    Semoga Allah SWT melindungi kita semua.Amin

  23. klw bagi saya wahabi itu ibarat buah asam pada sayur asam…
    jadi klw ga ada ajaran wahabi bisa dipertanyakan sabda nabi !!!

    sebab dari mana munculnya tanduk syaithon ???

  24. assalamu’alaikum apa gunanya debat kusir…yang lebih bagus kan ajarkan kebenaran jangan memandang golongan ini ,itu tapi ilmu Al-Qur’an dan Assunnah sudah pernah dipelajari..di pahami….bikin yang lebih maju ,apa islam yang beginian….coba pelajari dulu indahnya islam….dan pelajari islam itu dengan benar….belum tahu tata sholat,ngaji udah ngomong ini,itu…..semoga Allah memberikan ilmu,hidayah,pelindungan dari hawa nafsu,ujub,ria,atau sifat syaithon/iblis dan ampunan bagi kaum muslim/mat…wassalam

  25. @mas ucokmonalisa
    kami tau debat kusir dilarang sama kanjengnabi Muhammad s.a.w, namun kalau debat/munadhoroh untuk idhharilhaq maka hukumnya fardlu kifayah
    silahkan sampean klik
    http://www.yanabi.com/Hadith.aspx?HadithID=15744
    dan kami tidak memandang golongan apapun dalam penyampain perihal yang insyaAlloh benar.. sehingga siapapun mereka golongan apapun mereka kalau mengartikan dalil nash sak penae udele dewe maka bagi kami fardlu kifayah untuk meluruskan pemahaman tersebut..
    wallohu ‘alam

  26. @mas ucokmonalisa
    kami tau debat kusir dilarang sama
    kanjengnabi Muhammad s.a.w, namun kalau
    debat/munadhoroh untuk idhharilhaq maka
    hukumnya fardlu kifayah
    silahkan sampean klik
    http://www.yanabi.com/Hadith.aspx?
    HadithID=15744
    dan kami tidak memandang golongan apapun
    dalam penyampain perihal yang insyaAlloh
    benar.. sehingga siapapun mereka golongan
    apapun mereka kalau mengartikan dalil nash
    sak penae udele dewe maka bagi kami fardlu
    kifayah untuk meluruskan pemahaman
    tersebut..
    wallohu ‘alam

    1. Wahabi sudah mulai memfitnah kuburan ustadz Uje jadi tempat pesugihan. Mereka ini memang ngeres pikirannya, ada orang2 berziarah dilihatnya sebagai minta kekayaan ato pesugihan. Sungguh terlalu Wahabi akibat su’udzon yg berlebihan.

  27. Banyak orang-orang yang hanya berkata berdasarkan qila wa qol (katanya). Belum pernah mendengar sendiri kajian orang pengikut salaf (sering disebut Wahhabi), belum pernah membaca kitab-nya langsung bicara seolah paling tahu.

    Pengikut salaf adalah pengikut pemahaman Sahabat dan tabi’in serta tabiut tabi’in dalam berislam karena mereka – Rodhiyallaahu ‘anhum – sebagai generasi yang dekat dengan Nabi dan menerima pengajaran dari Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa alihi wa sallam. Dan banyak sekali yang mengaku mengikuti salaf tetapi hanya sepotong-potong, oleh karenanya berbuat adil lah agar tidak menyamaratakan kelompok yang suka mengkafirkan dengan pengikut salaf sejati.

    Kami tidak pernah mengkafirkan seseorang tetapi yang dikafirkan adalah perbuatannya berdasarkan nash (dalil dari Al Qur’an dan Hadits shahih), sebab jika orangnya maka hal itu menyalahi sebab bukan tidak mungkin pelaku kemusyrikan bertobat dan diampuni. Juga bisa jadi seseorang berbuat syirik karena ketika fahaman atau karena masih ada syubhat yang tentu Allah mempunyai pertimbangan sendiri atasnya. Jadi sekali lagi bukan orang yang dikafirkan tetapi perbuatannya.

    Sekali lagi timbang-timbanglah dalam berkata, karena perkataan anda akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak.
    Wassalam.

    1. @Cahyo

      mau tanya mas, siapa pengikut salaf sejati? apakah ibnu taimiyyah, muhammad bin abdul wahab, ustmaini, bin baz, dan al bani adalah pengikut salaf? apakah mereka pernah mengaji dan bertemu langsung dengan generasi salaf? lantas, bagaimana mereka dapat mengatakan bahwa pemahaman mereka sesuai dengan generasi salaf?

      Salaf sesungguhnya adalah Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali, para perintis mazhab.

    2. @Cahyo

      Dalam situs : http://muslim.or.id/aqidah/ngalap-berkah-yang-dibolehkan-dan-terlarang.html.

      Kesimpulannya adalah, Ngalap berkah kepada makhluk yang terlarang ada dua macam: pertama: Termasuk Syirik Akbar, kedua bid’ah. Beberapa bentuk ngalap berkah yang terlarang Ngalap berkah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau wafat. Di antara yang terlarang adalah tabaruk dengan kubur beliau. Bentuknya adalah seperti meminta do’a dan syafa’at dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi kubur beliau. Semisal seseorang mengatakan, “Wahai Rasul, ampunilah aku” atau “Wahai rasul, berdo’alah kepada Allah agar mengampuniku dan menunjuki jalan yang lurus”. Perbuatan semacam ini bahkan termasuk kesyirikan karena di dalamnya terdapat bentuk permintaan yang hanya Allah saja yang bisa mengabulkannya.

      **********akhir kutipan**************

      Al-Imam Al-Hafidh As-Syaikh ‘Imadu Ad-Din Ibnu Katsir mengatakan, “Sekelompok ulama, diantaranya Syaikh Abu Al-Manshur As-Shabbagh dalam kitabnya As-Syaamil menuturkan sebuah kisah dari Al ‘Utbi yang mengatakan, “Saya sedang duduk di samping kuburan Nabi SAW. Lalu datanglah seorang A’rabi (penduduk pedalaman Arab) kepadanya, “Assalamu’alaika, wahai Rasulullah saya mendengar Allah berfirman : “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul-pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S.An.Nisaa` : 64).

      Dan saya datang kepadamu untuk memohonkan ampunan atas dosaku dan memohon syafaat denganmu kepada Tuhanku.” Kata A’rabi. Selanjutnya A’rabi tersebut mengumandangkan bait-bait syair :

      Wahai orang yang tulang belulangnya dikubur di tanah datar
      Berkat keharumannya, tanah rata dan bukit semerbak mewangi
      Diriku jadi tebusan untuk kuburan yang Engkau tinggal di dalamnya
      Di dalam kuburmu terdapat sifat bersih dan kedermawanan

      Kemudian A’rabi tadi pergi. Sesudah kepergiannya saya tertidur dan bermimpi bertemu Nabi SAW, “Kejarlah si A’rabi dan berilah kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosanya.”Kisah ini diriwayatkan oleh An-Nawawi dalam kitabnya yang populer Al-Idhaah pada bab 6 hlm. 498. juga diriwayatkan oleh Al-Hafidh ‘Imadu Ad-Din Ibnu Katsir. Syaikh Abu Muhammad Ibnu Qudamah juga meriwayatkannya dalam kitabnya Al-Mughni jilid 3 hlm. 556. Syaikh Abu Al-Faraj ibnu Qudamah dalam kitabnya As-Syarh Al-Kabir jilid 3 hlm. 495, dan Syaikh Manshur ibn Yunus Al-Bahuti dalam kitabnya yang dikenal dengan nama Kasysyaafu Al-Qinaa’ yang notabene salah satu kitab paling populer dalam madzhab Hambali jilid 5 hlm. 30 juga mengutip kisah dalam hadits di
      atas.

      Al-Imam Al-Qurthubi, pilar para mufassir menyebutkan sebuah kisah serupa dalam tafsirnya yang dikenal dengan nama Al-Jaami’. Ia mengatakan, “Abu Shadiq meriwayatkan dari ‘Ali yang berkata, “Tiga hari setelah kami mengubur Rasulullah datang kepadaku seorang a’rabi. Ia merebahkan tubuhnya pada kuburan beliau dan menabur-naburkan tanah kuburan di atas kepalanya sambil berkata, “Engkau mengatakan, wahai Rasulullah!, maka kami mendengar sabdamu dan hafal apa yang dari Allah dan darimu. Saya telah berbuat dzolim kepada diriku sendiri dan saya datang kepadamu untuk memohonkan ampunan untukku.” Kemudian dari arah kubur muncul suara : “Sesungguhnya engkau telah mendapat ampunan.” (Tafsir Al-Qurthubi jilid 5 hlm. 265).

      apakah para ulama di muka telah mengutip kekufuran dan kesesatan ? atau mengutip keterangan yang mendorong menuju penyembahan berhala dan kuburan ?Jika faktanya memang demikian, lalu dimanakah kredibilitas mereka dan kitab-kitab karya mereka ?

      Saya akan mengutip perkataan mas cahyo : “Sekali lagi timbang-timbanglah dalam berkata, karena perkataan anda akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak”. sungguh tepat perkataan anda tersebut ditujukan kepada admin situs muslim.or.id

  28. selama ada perbedaan metode dan prinsip dlm memahami agama maka perselisihan akan selalu ada…sbg mmuslim hrsnya hanya taat dan tunduk pada ajaran Nabi…kata Nabi kalau kalian berselisih pendapat ttg sesuatu maka kembalilah kpd Allah dan RasulNYa (Qur’an dan Hadits/Sunah)..dlm perdebatan di sini mana yg lbh banyak berdasarkan anggapan, pemikiran dari pada yg berdasarkan ayat dan hadits2 shahih…ayat dan hadits shahih terjaga/diakui kebenarannya ..sedangkan namanya pendapat dan anggapan bahkan ijtihad sekalipun tdk terlepas dari keadaan bisa benar tetapi bisa keliru…

  29. @abda

    Ijtihad adalah mengeluarkan (menggali) hukum-hukum yang tidak terdapat nash (teks) yang jelas. Mujtahid (orang yang melakukan ijtihad) ialah orang yang memiliki keahlian dalam hal ini. Ia adalah seorang yang hafal ayat-ayat ahkam, hadits-hadits ahkam beserta mengetahui sanad-sanad dan keadaan para perawinya, mengetahui nasikh dan mansukh, ‘am dan khash, muthlaq dan muqayyad serta menguasai betul bahasa Arab dengan sekira hafal pemaknaan pemaknaan setiap nash sesuai dengan bahasa al Qur’an, mengetahui apa yang telah disepakati oleh para ahli ijtihad dan apa yang diperselisihkan oleh mereka, karena jika tidak mengetahui hal ini maka dimungkinkan ia menyalahi ijma’ (konsensus para ulama) para ulama sebelumnya.

    Dari sekian banyak imam mujtahid, yang secara formulatif dibukukan hasilhasil ijtihadnya dan hingga kini madzhab-madzhabnya masih dianggap eksis hanya
    terbatas kepada Imam madzhab yang empat saja, yaitu; al-Imâm Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit al-Kufy (w 150 H) sebagai perintis madzhab Hanafi, al-Imâm Malik ibn Anas (w 179 H) sebagai perintis madzhab Maliki, al-Imâm Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i (w 204 H) sebagai perintis madzhab Syafi’i, dan al-Imâm Ahmad ibn Hanbal (w 241 H) sebagai perintis madzhab Hanbali. Sudah barang tentu para Imam mujtahid yang empat ini memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni hingga mereka memiliki otoritas untuk mengambil intisari-intisari hukum yang tidak ada penyebutannya secara sharîh, baik di dalam al-Qur’an maupun dalam hadits-hadits Rasulullah.

    Selain dalam masalah fiqih (Furû’iyyah), dalam masalah-masalah akidah (Ushûliyyah) para Imam mujtahid yang empat ini adalah Imam-Imam teolog terkemuka (al-Mutakllimûn) yang menjadi rujukan utama dalam segala persoalan teologi. Demikian pula dalam masalah hadits dengan segala aspeknya, mereka merupakan tumpuan dalam segala rincinan dan berbagai seluk-beluknya (al-Muhadditsûn). Lalu dalam masalah tasawwuf yang titik konsentrasinya adalah pendidikan dan pensucian ruhani (Ishlâh al-A’mâl al-Qalbiyyah, atau Tazkiyah an-Nafs), para ulama mujtahid yang empat tersebut adalah orang-orang terkemuka di dalamnya (ash-Shûfiyyah). Kompetensi para Imam madzhab yang empat ini dalam berbagai disiplin ilmu agama telah benar-benar ditulis dengan tinta emas dalam berbagai karya tentang biografi mereka.

    Sedangkan Muqallid (orang yang melakukan taqlid; mengikuti pendapat para mujtahid) adalah orang yang belum sampai kepada derajat tersebut di atas. Dalil bahwa orang Islam terbagi kepada dua tingkatan ini adalah hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam: “Allah memberikan kemuliaan kepada seseorang yang mendengar perkataanKu, kemudian ia menjaganya dan menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya, betapa banyak orang yang menyampaikan tapi tidak memiliki pemahaman”. (H.R. at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

    ahli fatwa dari kalangan sahabat hanya kurang dari sepuluh, yaitu sekitar enam menurut suatu pendapat. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa ada sekitar dua ratus sahabat yang mencapati tingkatan Mujtahid dan ini pendapat yang lebih sahih. Jika keadaan para sahabat saja demikian adanya maka bagaimana mungkin setiap orang muslim yang bisa membaca al Qur’an dan menelaah beberapa kitab berani berkata: “Mereka (para mujtahid) adalah manusia dan kita juga manusia, tidak seharusnya kita taqlid kepada mereka”. Dengan demikian sangatlah aneh orang-orang bodoh yang berani mengatakan: “Mereka adalah manusia dan kita juga manusia…”. Mereka yang dimaksud adalah para ulama mujtahid seperti para imam yang empat (Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad ibn Hanbal). Maka berhati-hati dan waspadalah terhadap mereka yang menganjurkan para pengikutnya untuk berijtihad, padahal mereka sendiri, juga para pengikutnya sangat jauh dari tingkatan ijtihad.

    Coba saja berikan kitab Bukhori Muslim kepada semua kaum muslimin lalu suruh mereka memahami hukum-hukum agama dari nash-nash yang terdapat dalam kitab tersebut. Kemudian lihatlah kebodohan, kebingungan dan kekacauan yang akan terjadi!

    Apakah setiap muslim wajib menyelidiki dalil-dalil para imam mujtahid kemudian mengambil mana yang lebih cocok dengan Al-Qur’an dan hadits? semua orang harus memiliki kemampuan ijtihad seperti yang dimiliki oleh para imam madzhab. Bahkan mereka harus memiliki kemampuan yang lebih sempurna karena orang-orang yang mampu memutuskan pendapat para imam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah sudah barang tentu lebih pandai dari semua imam itu.

    Dan perlu anda ketahui, para Imam Mazhab yang empat, hanya berbeda dalam masalah fiqih (cabang), namun dalam masalah aqidah, keempat imam mazhab sepakat : Allah subhanahu wata’ala maha suci dari tempat dan arah.

  30. Bismillaah,

    Tadi pagi TransTV menayangkan acara yang bagus yang namanya “Mozaik Islam”. Dalam acara tersebut disampaikan hadits-hadits diantaranya tentang pencuri dalam shalat yaitu orang shalatnya cepat-cepat seperti ayam mematuk-matuk. Bulan Ramadhan akan segera tiba. Akan ada banyak pencuri dalam shalat saat umat Islam melaksanakan shalat tarawih. Saya khawatir acara ini juga akan diprotes para habaib dan kyai seperti acara “Khazanah” di Trans7.

    Mari kita shalat dengan thuma’ninah agar kita tidak disebut pencuri dalam shalat.

    Wallaahu a’lam.

    1. Lho kok anda mengatakan bahwa yang tarawihnya cepat itu pencuri dalam shalat?… hadist itu untuk orang yang tidak tumaninah dalam ruku dan sujud begitu nempel langsung naik…ruku dan sujudnya seperti orang tiongkok kuno. Tarawih berjamaah di Indonesia tumaninah kok sujud dan rukunya..

      Oh iya definisi thumaninah itu apa ya Pak Ibnu?

  31. @ibnu suradi
    Jangan2 anda belum paham betul bagaimana thuma’ninah itu dr segi fiqih, sehimgga anda menyimpulkan bhwa banyak imam tarawih yg menyalahi hadits yg anda keluarkan di atas…

    Mgkin di sini anda bisa jelaskan apa sih syarat minimal bisa dikatakan thuma’ninah menurut yg anda pahami (atau mungkin yg sudah anda telaah sendiri dr Qur’an dan Sunnah?)

  32. Bismillaah,

    Sebenarnya, kawan-kawan di sini sudah mengetahui ilmu tentang thuma’ninah dari gurunya dan membaca kitab-kitab tapi tidak mengamalkannya. Kawan-kawan juga sudah mengetahui ilmu tentang merapatkan shaf namun tidak mengamalkannya. Kawan-kawan juga mengetahui ilmu tentang memelihara jenggot dan berpakaian di atas mata kaki, tapi lagi-lagi tidak mengamalkannya. Kawan-kawan justru sibuk mengamalkan yang lain seperti membaca usholli, menyambung bacaan Al Fatihah dalam shalat, berdzikir keras-keras setelah shalat wajib secara terus menerus, berkumis tebal tapi mencukur habis jenggot seperti ustadz yang suka tampil di TVOne dan menurunkan pakaian dengan sengaja hingga di bawah kaki.

    Mungkin anda beralasan bahwa anda tidak mengamalkannya karena itu semua tidak wajib, hanya sunnah. Padahal, saya tidak pernah membaca atau mendengar dari guru riwayat bahwa ada sahabat tidak mengerjakan diperintah Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan alasan seperti itu.

    Wallaahu a’lam.

    1. Bismillah
      Saudaraku pak Ibnu Suradi@, agar diskusinya fokus, tolong dibahas satu persatu….

      Yang dipertanyakan teman-teman adalah devinisi dan batas thuma’ninah….
      Apa pengertian thuma’ninah menurut anda?
      Dan apa standard minimal anda dalam menentukan batas thuma’ninah? Hingga anda berani memvonis kami meninggalkn thuma’ninah…

    2. sebenarnya, ibnu suradi dan kawan kawan wahabi sudah mengetahui bahwa tauhid dibagi tiga itu bid;ah, tetapi tetap tidak mau mengakuinya. Kawan kawan wahabi justru sibuk membid;ahkan dan memvonis syirik amalan amalan seperti ziarah kubur, tahlilan , tawasul, istighotsah .

      Di TV one yang sering ditayangin sekarang adalah tokoh-tokoh sebuah partai islam (wahabi ?) yang kena kasus korupsi dan lagi diburu KPK.

    3. @Ibnu Suradi

      saya berjenggot, dan merapatkan shaf. tapi saya tidak mau di panggil wahabi atau salafi. saya juga tidak pernah dengar dari guru guru saya, bahwa ada sahabat yg membagi tauhid menjadi tiga? tauhid itu masalah aqidah, pokok, bila salah dapat jatuh kepada kekufuran, sesat dan bathil.

      mengenai isbal, “Barang siapa menarik bajunya (ke bawah mata kaki) karena sombong, Allah tidak akan merahmatinya kelak di hari kiamat” (H.R. al Bukhari dan Muslim) Abu Bakr yang mendengar ini lalu bertanya kepada Nabi : “Wahai Rasulullah, sarungku selalu turun kecuali kalau aku mengangkatnya dari waktu ke waktu ?” lalu Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya engkau bukan orang yang melakukan itu karena sombong” (H.R. al Bukhari dan Muslim). Jadi oleh karena Abu Bakar melakukan hal itu bukan karena sombong maka Nabi tidak mengingkarinya dan tidak menganggap perbuatannya sebagai perbuatan munkar; yang diharamkan.

      Mengenai pembacaan usholli, Rasulullah SAW bersabda, “innama al-a’malu binniyat (segala perbuatan itu tergantung pada niatnya”). Hadits ini menjadi dalil wajibnya niat ketika kita akan menunaikan ibadah. Kedua, setelah redaksi hadits tersebut, ada redaksi, “wainnama likulli imri’in ma nawa (seseorang hanya akan memperoleh apa yang telah diniatinya)”. Hal ini menunjukkan bahwa ketika ibadah itu memiliki beberapa macam yang berbeda, maka harus dilakukan ta’yin (penentuan) dalam niat. Misalnya shalat fardhu itu ada lima, zhuhur, ashar, maghrib, isya’ dan shubuh. Dari sini, seorang yang akan menunaikan shalat fardhu, harus menentukan shalat fardhu apa yang akan ia lakukan. Ketiga, secara kebahasaan, niat itu diistilahkan dengan bermaksud melakukan sesuatu bersamaan dengan bagian awal pelaksanaannya.

      Seseorang tentunya akan merasa kesulitan untuk melakukan niat di dalam hati bersamaan dengan awal pelaksanaan shalat. Sedangkan mengucapkan niat
      sebelum melakukan takbiratul ihram, dapat membantu konsentrasi hati dalam melakukan niat shalat fardhu yang disertai ta’yin di atas. Dari sini kemudian para ulama,; fuqaha menganjurkan mengucapkan niat sebelum mengucapkan takbiratul ihram, agar ucapan niat tersebut; membantu konsentrasi hati ketika
      takbiratul ihram ilakukan. Para ulama fuqaha mengatakan, dianjurkan mengucapkan niat dengan lidah, agar lidah dapat membantu hati (liyusa’ida allisan
      al-qalba) dalam melakukan niat. Di sisi lain, Rasulullah SAW juga pernah mengucapkan niat dengan lidah ketika akan menunaikan ibadah haji. “Dari sahabat Anas RA berkata, saya mendengar Rasulullah SAW mengucapkan, labbaika aku sengaja mengerjakan umrah dan haji . (HR. Muslim) Dengan demikian mengucapkan niat dalam shalat dapat dianalogikan dengan pengucapan niat dalam ibadah haji.”

      berkata shohibul Mughniy : Lafdh bimaa nawaahu kaana ta’kiidan (Lafadz dari apa – apa yang diniatkan itu adalah demi penguat niat saja) (Al Mughniy Juz 1 hal 278). Demikian pula dijelaskan pada Syarh Imam Al Baijuri Juz 1 hal 217 bahwa lafadh niat bukan wajib, ia hanyalah untuk membantu saja. LAFADZ niat bukan wajib hukumnya. Tak adapula yang mengeraskan suara dalam lafadh niat shalatnya, mengeraskan suara hingga mengganggu khusyu orang lain itu adalah berteriak dalam melafadhkanya, tentunya tak pernah ada ustadz manapun yang mengajarkan lafadh niat itu harus teriak, tak ada pula yang melarang lafadh niat dengan suara pelahan demi menguatkan niat, kecuali wahabi dan orang–orang yang dangkal pemahamannya dalam ilmu fiqih.

    4. saya sangat setuju dengan apa yang dibilang @ibnusuradi. rasulullah sudah mencontohkan dengan benar ibadah dan tata cara kehidupan dengan benar. tapi kenapa manusia sekarang membuat buat sendiri.. dan perlu kalian ketauhilah bahw ciri2 wahabi diatas salah besar.. ciri ciri yang contohnya telunjuknya digerak gerakan pada shalat bukan wahabii yang melaksanakan, tapi golongan sebagian besar salaful shaleh. kalau kalian faham islam, tapi bukti kesalahan kalian sudah terlihat jelas

  33. Ibnu Suradi: “Sebenarnya, kawan-kawan di sini sudah mengetahui ilmu tentang thuma’ninah dari gurunya dan membaca kitab-kitab tapi tidak mengamalkannya”… Jadi menurut ibnu Suradi tidak tumaninah ? jadi yang bagaimana?

    Oh iya bung Ibnu ni saya kasih link situs wahabi yang baru tahu bahwa Dzikir jahr setelah shalat berjamaan itu ternyata hukumnya sunnah.. keterlaluan kalo ente masih ngeyel..artinya emang kepengen mengejek ibadah orang lain dan takabur dengan amal ibadah anda sendiri.

    http://www.voa-islam.com/islamia/ibadah/2011/01/12/12739/

    monggo dibaca baik baik…

  34. @ibnu suradi,
    Untuk perbandingan shalat seperti nabi dengan cara shalat seperti nabinya Albani, silahkan baca buku ” Shalat Seperti Nabi Saw (Petunjuk Pelaksanaan Dari takbir hingga Salam) tulisan Hasan bin Ali As Saqqaf, Terbitan Pustaka Hidayah Bandung, biar anda tahu dan jangan merasa cara shalat yang anda ikuti yang paling benar.

  35. @ibnu suradi

    tolong jg mas, dijelaskan cara niat yang baik dan benar ketika sholat menurut pemahaman saudara? tolong contohkan bentuk niat sholat zuhur?

  36. untuk ibnu suradi yang lag pusiiiing, mau jawab tumakninah aja ,,,,sampai muter-muter kemana mana, ya itulah golongan wahabi ,sukanya ngelempar masalah terus ditinggalin deh…..udahlah mas buka aja buku empat mazhab nanti ketemu.

  37. @ibnu suradi
    Namanya aja kurang tumakninah…. makanya muter-muter. namanya ibnu suradi itu bid’ah kalo ga mau bid’ah diganti IBNU SHUUR, IBNU SU’UDI, IBNU JAAHILI, IBNU KHATABI…. nah gitu katanya Wahabi ganti dong biar ga Bid’ah… kafir entar looo…

  38. IBNU SURADI punya jurus NINJA ampuh : NONGOL KEMUDIAN HILANG…..!!! alias Nimbrung kemudia kabur ngacir…….!!!!wekeekkkekkkkkkk…!!
    iBNU SURADI memang Master NINJA…..!!!
    Kowe pancen top markotop IBNU SURADI……!!!!

  39. Acara Khazanah beberapa hari yg lalu juga menayangkan mengenai ziarah kubur. Kebetulan salah seorang yg setuju dg ziarah kubur (saya lupa namanya namun sepertinya beliau orang cukup terkenal di Indonesia) mengatakan kira2 begini: berdo’a itu tetap kepada Alloh namun kita berwasilah kepada penghuni kubur, kita meminta tolong kepada penghuni kubur agar menjadi perantara do’a kita kepada Allah”
    Mohon pencerahannya dari agan2..apa betul seperti itu?

    1. memangnya yang udah ada di dalam kubur bisa mendengar omongan kita yang masih hidup di dunia..?? bukannya kita yang masih hidup dengan mereka yang sudah meninggal itu sudah berbeda alam… apa mungkin itu bisa terdengar..?? kalau misalkan mereka bisa mendengar apa yang kita omongkan, trus kenapa dong kita gak denger mereka yg ddlm kubur itu ngomong..??

      So, alangkah baiknya, kalau kita mau berdoa ya langsung saja berdoa sama Allah..minta sama Allah..caranya kalau bukan dengan shalat dan berdzikir setelah shalat, ya apa lagi..?!! gak perlu pake wasilah2an… toh Allah itu deket banget loh sma kita…lebih deket daripada ulat leher kita…trutama saat kita bersujud dalam shalat…

      semoga jawabn yg sedikit ini bisa membantu…

      “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepadaku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah: 186)

      dalam ayat itu tidak ada kan perintah dari Allah untuk berdoa kepada-Nya tapi masih harus lewat orang lain dulu…? terlebih lagi yg sudah meninggal…

      Wallahu a’lam bish shawab…

    2. oya, tambahan lagi… kayaknya memang gak perlu minta wasilah atau minta tolong sama yang sudah meninggal deh… mereka kan juga udah ngurusi diri mereka sendiri… udah ngurusi perbuatan2 mereka sendiri waktu masih hidup… kasian mereka ntar jadi tambah pusing klo masih dimintain tolong sma kita yang msh hidup… ngurusi diri sendiri aja udah pusing..apalagi ditambah sama orang lain…

      1. @sakinah sedikit kami memberi saran kepada anda carilah guru yang asli salaf dan keilmuannya mumpuni + mempunyai sanad… oke mari kita pahami penjabaran seseorang yang mungkin jadi rujukan anda dalam masalah APAKAH MAYIT BISA MENDENGAR ? seperti abul jauza’ (AJ)

        AJ: Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya berkata tentang ayat [إِنّكَ لاَ تُسْمِعُ الْمَوْتَىَ] “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar” (QS. An-Naml ayat 80) :
        أي لا تسمعهم شيئاً ينفعهم, فكذلك هؤلاء على قلوبهم غشاوة وفي آذانهم وقر الكفر, ولهذا قال تعالى: {ولا تسمع الصم الدعاء إذا ولوا مدبرين * وما أنت بهادي العمي عن ضلالتهم * إن تسمع إلا من يؤمن بآياتنا فهم مسلمون} أي إنما يستجيب لك من هو سميع بصير, السمع والبصر النافع في القلب والبصيرة, الخاضعُ لله ولما جاء عنه على ألسنة الرسل عليهم السلام.
        “Yaitu engkau tidak dapat memperdengarkan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. Demikian juga kafirnya orang yang di dalam hati mereka terdapat penutup dan telinga-telingan mereka terdapat sumbat. Untuk itu Allah ta’ala telah berfirman : “dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang. Dan kamu sekali-kali tidak dapat memimpin (memalingkan) orang-orang buta dari kesesatan mereka. Kamu tidak dapat menjadikan (seorang pun) mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri” ; yaitu yang dapat memperkenankanmu hanyalah Rabb Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat dengan pendengaran dan penglihatan yang membawa manfaat di dalam hati dan pandangan orang yang tunduk kepada-Nya serta apa yang dibawa melalui lisan para Rasul ‘alaihimus-salaam [Tafsir Ibni Katsir, 6/210].
        Ibnu Katsir dalam penjelasan ayat di atas secara eksplisit menyamakan keadaan kaum kafir dengan orang yang telah mati (mayat) yang dinafikkan dari sifat mendengar. Hal itu semakin kuat dengan penyebutan bahwa Allah Yang Maha Melihat dan Maha Mendengar yang kuasa memberikan manfaat dari penjelasan dan seruan kepada makhluk-Nya. Di sini seakan-akan Ibnu Katsir menegaskan bahwa sifat melihat dan mendengar yang dinafikkan dari orang kafir secara majazi dan orang yang mati secara hakiki itu akan kembali pada kesempurnaan sifat ke-Maha Melihat dan Maha Mendengar dari Allah. Hanya Allah lah yang kuasa memberikan penglihatan dan pendengaran kepada makhluk-Nya.

        saya:
        أي إنما يستجيب لك من هو سميع بصير, السمع والبصر النافع في القلب والبصيرة, الخاضعُ لله ولما جاء عنه على ألسنة الرسل عليهم
        السلام
        artinya orang yang mau memenuhi (panggilanmu) hanyalah orang yang mempunyai pendengaran dan penglihatan dengan pendengaran dan penglihatan yang bermanfaat (dan hal tersebut terdapat) di dalam hati. Adapun البصيرة (orang yang punya penglihatan hati) adalah orang yang tunduk kepada Alloh dan sesuatu yang datang dari Alloh atas lisan utusan-utusannya alaihimussalam..

        coba anda perhatikan ketika AJ mengartikan
        أي إنما يستجيب لك من هو سميع بصير, السمع والبصر النافع في القلب والبصيرة, الخاضعُ لله ولما جاء عنه على ألسنة الرسل عليهم
        السلام
        dengan arti “yaitu yang dapat memperkenankanmu hanyalah Rabb Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat dengan pendengaran dan penglihatan yang membawa manfaat di dalam hati dan pandangan orang yang tunduk kepada-Nya serta apa yang dibawa melalui lisan para Rasul ‘alaihimus-salaam”
        kita tahu bahwa إنما adalah adat qosr (artinya;hanya), sedangkan failnya يستجيب adalah من (orang, bukan Alloh SWT), kemudian هو سميع بصير itu menjelaskan kepada man yang masih majhul, adapun السمع والبصر adalah maf’ul muthlaq (mashdar), terus lafadl النافع menjadi shifat dari السمع والبصر, kemudian في القلب adalah jer majrur dan ta’aluq dari dhorof dan jer majrur cuma pada fi’il atau mashdar atau lafadl yang menyerupainya, sehingga insyaAlloh kalam di atas mempunyai arti yang telah saya uraikan.
        Adapun والبصيرة, الخاضعُ لله ولما جاء عنه على ألسنة الرسل itu merupakan jumlah tersendiri dan wawunya bukan ‘athof.

        AJ: Ibnu Katsir dalam penjelasan ayat di atas secara eksplisit menyamakan keadaan kaum kafir dengan orang yang telah mati (mayat) yang dinafikkan dari sifat mendengar

        saya: dalam penjelasan di atas menurut saya Ibnu katsir tidak menjelaskan penafian sifat mendengar, yang beliau nafikan hanya “memperdengarkan” dengan bukti kata تسمع (tusmi’u) dari asma’a- yusmi’u- ismaa’an yang kalau kita artikan “memberi dengar/memperdengarkan”.
        sehingga memberi kesimpulan bahwa Ibnu Katsir menjelaskan kepada kita tentang keadaan orang kafir yang disamakan dengan orang mati dalam hal tidak mampu merespon/menangkap mauidzoh dari Alloh SWT. dan Rosulnya

        mohon maaf kepada ahli ilmu bila penjelasan saya salah
        Wallohu ‘Alam

        1. Berarti orng yg sudah meninggal tidak dapat menyampaikan do’a kita kepada Alloh (bagaimana mau menyampaikan, merespon saja tidak mampu?)…tapiii ko masih banyak yah orng2 yg dengan susah payah datang jauh2 ke kuburan si fulan dan si fulan hanya untuk berdo’a didepan kubur dengan maksud supaya do’anya terkabul…? Kenapa yah org2 tsb tidak berdo’a ketika sujud saja yg sudah jelas itu adalah waktu paling dekat seorang hamba dengan Allah SWT..yang saya tau orng Wahabi paling gencar dalam mengingkari “ibadah” dikuburan, dengan hadist “bahwa Rosulullah SAW melaknat orng2 Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan nabi2 mereka sebagai tempat ibadah”..berarti dalam perkara ini orng Wahabi berada dlm kebenaran..betulkah demikian kawan2?

          1. ruli: Berarti orng yg sudah
            meninggal tidak dapat
            menyampaikan do’a kita kepada
            Alloh (bagaimana mau
            menyampaikan, merespon saja
            tidak mampu?)

            saya: itukan kesimpulan anda.., adakah ucapan saya yang mengatakan seperti itu ???, sedangkan kata “merespon” yang saya maksud adalah tanggap, sigap, memperhatikan, menanggapi lanek boso jowone “nek diceluk semaur” (kalau dipanggil menjawab), coba bayangkan kalau mayat dipanggil terus bisa menjawab secara tampak.. kabuuuurrrr ada hantu hehehe..

            adapun poin yang ingin saya sampaikan adalah bahwa sumber2 rujukan anda ternyata dalam mengartikan bahasa sak penae dewe tanpa mau memperhatikan kaidah2 bahsa bersangkutan…
            yang kalau diartikan secara kasar ialah mereka orang kafir ketika kamu beri saran, wejangan, mauidzoh dll mereka tidak akan bergeming dan hatinya tidak akan mau menerimanya.. padahal mereka mendengar, melihat tapi hati mereka bagaikan batu dan di telinga mereka seperti terdapat ghisyawatun (tutup yang agung atau aneh), coba sampean perhatikan lafadl ghisyawah ditulis dalam bentuk nakiroh yang dalam ilmu bayan lafadz yang dinakirohkan memiliki arti luas, tak berbatas,sangat aneh, tidak bisa digambarkan, sangat agung dll..

            sebenarnya yang ingin saya simak adalah koreksi anda atas penerjemahan yang saya lakukan.. apakah saya sudah sesuai dengan kaidah arob dalam menerjemah atau belum…???
            lawong dawuhnya Ibnu katsir saja mereka pelintir apalagi ucapan orang bodoh seperti saya… yo wislah…
            Dan kenapa sih golongan anda selalu membahas, mengulang2 dan terus mempermasalahkan masalah yang udah dibahas di blok ini..????

            wallohu ‘alan

          2. @ruli, ada dalilnya bahwa orang yang sudah mati (ahlulkubur) dapat mendengar.
            “Ia mendengar suara langkah sandal mereka pergi meninggalkan kuburnya” (H.R Bukhari dan Muslim).
            Apakah Rosullulah pada saat itu sedang mendongeng?

          3. @Alfeyd: Saya sih bener2 blank dg bahasa Arab..seandainya pun benar mayat bisa mendengar perkataan orng yg meminta tolong kepadanya, apakah iya mayat tsb bisa menolongnya (menyampaikan) do’a kepada Allah? Padahal Allah Maha Mendengar..
            @Vijay: kl hadist itu Alhamdulillah saya tau, tapi saya mau nanya apakah hadist itu berlaku khusus hanya ketika mayat baru dibangunkan dalam kubur? Apa berlaku sampai waktu yg lama?

          4. Bismillah,
            Mas ruli@, bagaimana dengan ucapan salam kita pada ahli kubur, sebagaimana telah diajarkan Nabi?

          5. @ruli, seandainya pendengaran ahli kubur hanya sesaat, maka Rosulullah tdk akan mengajarkan utk mengucap salam ketika ziarah kubur…

          6. An-Naml ayat 80
            “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang”.

            Sebetulnya kita telah mengetahui bahwa perkara ini masuk dalam perkara yang diperselisihkan, dan kita boleh mengikuti pendapat siapapun yang paling kuat begitu juga kawan2 boleh mengikuti pendapat siap pun. Dalam hal ini saya mengikuti pendapat yang menyatakan bahwa mayat dapat mendengar pada saat tertentu seperti hadist yang dikemukanan oleh Mas Vijay diatas, atau hadist mengenai kisah sumur Badr.
            Tetapi yang menjadi masalah utama dalam diskusi ini adalah: bisakah mayat menyampaikan doá peziarah kubur (tentuya bagi peziarah yang menjadikan mayat sebagai wasilah doá mereka) kepada Allah Subhanahu Wa Taála? Adakah dalil yang menyatakan hal ini?

          7. Bismillah,

            Mas Ruli@, Bagaimana pandangan anda tentang Ibnul Qoyyim ?… beliau memiliki sebuah karya yang cukup populer yakni “Ar Ruh” ? berikut kami kutipkan sedikit :

            المسألة الثانية وهى أن ارواح الموتى هل تتلاقي وتتزاور وتتذاكر أم لا
            وهي أيضا مسألة شريفة كبيرة القدر وجوابها أن الأرواح قسمان أرواح معذبة وأرواح منعمة فالمعذبة في شغل بما هى فيه من العذاب عن التزاور والتلاقي والأرواح المنعمة المرسلة غير المحبوسة تتلاقي وتتزاور وتتذاكر ما كان منها في الدنيا وما يكون من أهل الدنيا فتكون كل روح مع رفيقها الذي هو على مثل عملها وروح نبينا محمد في الرفيق الأعلى قال الله تعالى ومن يطع الله والرسول فأولئك مع الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا وهذه المعية ثابتة في الدنيا وفي الدار البرزخ وفي دار الجزاء والمرء مع من أحب في هذه الدور الثلاثة

            “Masalah kedua” Tentang apakah para arwah saling bertemu, saling berkunjung dan bermudzakaroh atau tidak ?”
            Masalah ini termasuk masalah agung juga besar nilainya. Adapun jawaban masalah tersebut adalah bahwa terbagi menjadi dua ;yakni Arwah yang disiksa dan Arwah yang mendapat kenikmatan. Tentang arwah yang disiksa mereka disibukkan dengan apa yang menimpa mereka (siksa) hingga tidak dapat salng menziyarahi dan saling bertemu. Sedang arwah yang mendapat kenikmatan dimana keberadaan mereka terbebas dan tidak terpenjarakan, mereka saling menziyarahi, saling bertemu dan bermudzakaroh… dst.. (Ar Ruh. Ibnu Qoyyim Al Jawziy)

            Tentang pertanyaan anda :
            bisakah mayat menyampaikan doá peziarah kubur (tentuya bagi peziarah yang menjadikan mayat sebagai wasilah doá mereka) kepada Allah Subhanahu Wa Taála? Adakah dalil yang menyatakan hal ini?
            Dalam kesimpulan kami permasalahan tersebut karena anda beranggapan bahwa “Mutawassal Bih” (media yang dijadikan wasilah) harus ikut berdo’a… Sedang dalam faktanya kita bisa bertawassul dengan menggunakan media wasilah berupa kemuliaan waktu (seperti waktu antara dua adzan, waktu antara dua khotbah, dll) juga dengan obyek wasilah berupa tempat-tempat yang mulia (seperti Masjidil Haram, Maqom Ibrohim, Roudlhoh, dst)…

            Wallohu a’lam

        2. “Sedang dalam faktanya kita bisa bertawassul dengan menggunakan media wasilah berupa kemuliaan waktu (seperti waktu antara dua adzan, waktu antara dua khotbah, dll) juga dengan obyek wasilah berupa tempat-tempat yang mulia (seperti Masjidil Haram, Maqom Ibrohim, Roudlhoh, dst)…”

          Bolehkah kita mengambil qiyas dengan perkara ini..? Apakah kita memohon pertolongan waktu atau masjidil Haram untuk menyampaikan do’a kita kepada Allah? Atw kita langsung berdo’a kepada Allah pada waktu yang mustajab dan di masjidil Haram?

          1. Bismillah,

            Mas ruli@, Ketika kita memilih Ar Roudhoh atau Multazam atau tempat-tempat mulia yang lain sebagai tempat untuk berdo’a, apa peran/fungsi tempat-tempat tersebut untuk do’a kita ?

          2. @mas Mamak: ketika kita berdo’a pada seprtiga malam, ketika kita suhud dalam sholat, atau di tempat2 mulia seperti Ar Roudhoh tentunya kita berharap agar do’a kita lebih mustajab, dan memang itu adalah salah satu peran dari tempat2 tsb..kita telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rosulullah Sallalohu Alaihi Wasallam untuk berdo’a diwaktu dan (kalu mampu) di tempat2 mulia tsb..ketika sesuatu itu diperintahkan maka kita laksanakan (tentunya dalam hal ini sesuai kemampuan kita).
            Permasalahan berikutnya adalah: ketika kita berdo’a diatas kuburan dan menjadikan mayat sebagai wasilah, apakah hal ini ada perintahnya atau tidak? Kalo ada perintahnya (menjadikan mayat sebagai wasilah) maka tetntu kita boleh melakukannya, namun jika tidak ada perintahnya maka kita terlarang melakukannya..Menurut saya, dalam perkara ini kita harus ekstra hati2, karena sangat mungkin hati kita tiba2 dipalingkan oleh syaiton sehingga terjadilah kemusyrikan (Naudzubillah)..
            Maaf mas Mamak kalo saya berputar2..maklum baru belajar..hehehe..

          3. Bismillah,

            Mas Ruli@, Satu hal yang perlu kita garis bawahi dan Insya Alloh anda juga sepakat, Bahwa media wasilah apapun bentuknya bukanlah Dzat yang kita minta dalam berdo’a, keberadaannya kita jadikan wasilah karena kita meyakini bahwa obyek yang kita jadikan wasilah adalah perkara yang memiliki tempat/kedudukan yang mulia disisi-Nya.

            Dan benar apa yang anda sampaikan secara tersirat, bahwa kemuliaan tempat, waktu, atau seseorang tiada lain disebabkan karena Alloh-lah yang menghendaki perkara-perkara tersebut menjadi mulia disisi-Nya.

            Kemuliaan perkara-perkara tersebut disisi Alloh dapat kita ketahui melalui petunjuk-Nya, baik yang tersurat (sebagaimana yang anda contohkan) maupun tersirat… Dan husnudzdzon kami Insya Alloh anda juga sepakat bahwa para Nabi, para syuhada dan orang-orang sholih adalah para hamba (makhluk) yang memiliki kedudukan yang istimewa di hadapan Alloh, baik semasa hidup maupun setelah wafat….dan itu semua Alloh juga yang menghendaki… bahkan dalam pandangan kami mereka lebih mulia disisi Alloh…

            Selanjutnya tentang makam yang menyimpan jasad mulia dari orang-orang mulia, keberadaan makam tersebut tidaklah mulia dilihat dari sudut pandang keberadaannya sebagai tempat, akan tetapi ia menjadi mulia karena didalamnya tersimpan jasad para hamba yang Alloh sendiri menghargai dan memuliakannya…
            Jika syari’at mengizinkan kita berwasilah dengan perantara amal baik kita, musyrikkah jika kita berwasilah dengan amal baik orang lain ?…

            Berikutnya tentang pernyataan anda bahwa kita harus hati-hati dalam masalah ini agar tidak terjebak kedalam ke”syirik”an, kami setuju… namun perlu kita maklumi bahwa dalam keyakinan kami Tidak ada yang dapat memberi manfaat atau menolak madlarat secara independent kecuali Alloh atau atas izin-Nya, apapun bentuknya, baik ia adalah seorang dokter, kiyai, wali, roudlhoh, perbuatan baik kita, atau apapun…

            Wallohu a’lam

  40. Bismillaah,

    Pekan lalu, acara Khazanah di Trans7 membahas masalah Ahlussunnah wal Jamaah. Penjelasanannya mantap dengan penyampaian ayat Qur’an, hadits dan perkataan ulama. Dalam penjelasan tersebut disampaikan bahwa Ahlussunnah wal Jamaaha adalah mereka yang berjalan di atas jalan yang ditempuh Rasulullaah dan para sahabatnya. Hal ini berbeda jauh dari penjelasan para kyai, habib dan ustadz yang mengatakan bahwa Ahlussunnah wal Jamaah adalah mereka yang melaksanakan amalan tahlilan, maulid, haul, yasinan, dll.

    Semoga tim Khazabah tetap istiqomah memberikan pencerahan kepada umat islam di Indonesia dengan ilmu dari Qur’an, hadits, atsar sahabat dan perkataan ulama.

    Wallaahu a’lam.

    1. kacian deh, kayaknya makin parah nih ibnu suradi nya, korban jargon-jargon Wahabi tanpa mampu melihat kenyataan yg ada. Padahal pernah ngaku2 sbg orang NU tapi kok sampai gak kenal ajaran Islam ASWAJA? Kok tahunya cuma ajaran WAHABI doang, aneh bin ajaib nih ibnu suradi.

    2. tentunya perkataan ulama ulama ASWAJA dan bukan perkataan ulama dan ustadz wahabi seperti MIAW, albani, utsaimin, firanda, assewed cs .

    3. Ga berhenti2 nya mulut Ibnu Suradi ngeluarin kalimat fitnah. Dulu mengatakan ada orang islam yg takut sholatnya mirip nabi(apa ada orang islam kaya gitu??,kalo ada orang islam yg takut shalatnya mirip nabi,berarti kafir mas).Terus mengatakan ustadz di ummati takut(?) diajak diskusi masalah shalat. Lalu sekarang mengatakan bahwa definisi ahlussunnah menurut para kyai dan para habib adalah mereka yg melaksanakan maulid,yasinan,dsb. Dikitab apa mas ibnu,para kyai dan habib berfatwa seperti itu? Setahu sy maulid,yasinan,dsb hanya sebuah kegiatan yg dilakukan oleh sbagian kaum muslimin,bukan definisi dari ahlussunnah itu sendiri…

      1. Begitulah mas Eko, akhirnya terbukti sangat jelas kan bahwa Wahabi itu tukang FITNAH seperti yg diperagakan oleh Ibnu Suradi? Yang kelihatan halus seperti Ibnu Suradi aja masih NYEBAR FITNAH apalagi yg mereka tabiatnya kasar2 seperti kebanyakan Wahabi, FITNAH nya lebih VULGAR seperti yg diperagakan oleh Abdul Qodir Jawas atau Dul Hakin bin Amir Abdat.

        1. Benar Mas Maulana,di koment kang ibnu suradi tgl 22 april,dia juga memfitnah Ust.Nur Maulana katanya sang ustadz memperolok sunnah. Syafiq basalamah di youtube memfitnah dengan menyamakan orang yang dzikir berjamaah selepas shalat dengan orang yang sedang “nyanyi2”. Para habib habis sudah dilecehkan oleh Yazid jawaz. Padahal mereka memulai pekerjaan mereka ( yaitu memfitnah ) dgn kalimat2 thayyibah. Ibnu suradi selalu memulai komennya dgn kata “bismillah”,namun ada saja fitnahan meluncur dari mulutnya. Yazid jawaz memulai fitnahah terhadap para habib dengan “Puji2an kepada ALLAH”. Tak ketinggalanTeroris di Suriahpun meneriakkan “Allahuakbar atau Laailaahaillallah” sambil membunuh rakyat sipil. Artinya sudah demikian jelas bagi kita, bahwa dakwah wahabi adalah dakwah yang berkembang diatas pondasi fitnah.

  41. IBNU suradi memang OKE…..TOP BANGET>>>.!!!!!!
    selain punya ilmu ninja,,,,,,Nongol kmudian kabur (Buktikan di artikel2 ummati lain)….!!!
    Ada ilmu lain yg top yaitu ILMU NGGOBLOKI…..!!!!
    Jaka sembung bawa Golok….!!!! Gak nyambung GOBLOK…!!!!! wekwkkkkeekkkkekkek….!!!!I
    IBNU SURADI PANCEN OYE…….!!! TOP HABIS DEH ANTUM>>>>.!!!!!

  42. Bismillaah,

    Saya mengatakan bahwa para kyai, habib dan ustadz mendefinisikan Ahlussunnah wal Jamaah (biasa disingkatnya ASWAJA) sebagai mereka yang mengamalkan maulidan, tahlilan, yasinan, dzikir berjamaah, ziarah kubur wali, dll karena saya mendengar bahwa kyai, habib dan ustadz menyampaikan hal itu dalam ceramah-ceramahnya di masjid-masjid dan TV. Bukankah situs-situs seperti ummatipress, nu online, sarkub, majelis rasulullaah dan pejuang islam menyebutkan bahwa maulidan, tahlian, yasinan, zikir berjamaah, ziarah kubur wali dan lain-lain sebagai amalan ASWAJA?

    Wallaahu a’lam.

    1. Berarti Ibnu Suradi ini benar2 nggak ngerti bahasa, makanya suka salah paham. Difinisia Ahlussunnah waljama’ah adalah satu hal, amalannya adalah satu hal yg lain. Jadi…. amalan Aswaja kau jadikan Difinisi Aswaja, bagaimana anda merasa pintar dg pemahan jungkir balik seperti ini?

    2. Pak Ibnu Suradi@, Jika kepada mas Mamak dan teman-teman ASWAJA disini anda tidak dapat mempertanggung jawabkan ucapan anda, Bagaimana anda akan mempertanggung jawabkannya kelak dihadapan Alloh ?….

      Sadarlah saudaraku, atau anda mau melanjutkan diskusi dengan mas Mamak …? kami yakin mas Mamak akan melayani anda, asalkan anda dapat bersikap sebagai muslim yang dewasa yang berani mempertanggung jawabkan ucapannya…

  43. ibnu suradi :
    DIANGGAP ORANG YANG TANGGUH OLEH WAHABI
    PADAHAL ………
    URAT MALUNYA SUDAH PUTUSS…..
    UDE KETAHUA BAHLULNYA …..MASIH MUNCUL JUGA KASIH KOMENTAR ………
    DASAR …..DASAR….. WAHABI.

    1. iya mas tuhtam, biarkan saja… mudah mudahan mas ibnu suradi, ummu hasanah cs koment sambil belajar dari ustadz” di ummati,sehingga wawasannya lebih luas, dan mudah”an mendapatkan hidayah untuk kembali ke ajaran Aswaja. selain itu gak ada wahabi gak rame…….. he he…

  44. Biarkan saja Mas Tuhtam, si tukang fitnah ibnu suradi komen disini. Barangkali ini adalah cara Allah SWT membuka aib para wahabiyun agar kalangan awam mengerti bagaimana sebenarnya dakwah wahabi. Dengan dia mengumbar fitnah disini berartikan dia membongkar aibnya sendiri sekaligus membongkar borok dakwah wahabi (pembajak kebesaran kaum salaf). Seandainya kita yang membongkar, pasti malah kita yang dituduh tukang fitnah…

  45. Berita Terbaru dari Mesir :

    IM DAN SALAFI TEBAR ANCAMAN, SUFI JIHADI SIAP SIAGA
    By ABU MUHAMMAD – 29 Mei 2013

    Mosleminfo, Kairo — Berbagai surat kabar Mesir ramai memberitakan dibentuknya milisi sufi yang bertujuan untuk melindungi makam-makam sahabat, wali, ulama dan orang-orang saleh lainnya dari ancaman dan serangan Ikhwanul Muslimin dan Salafi.
    Syekh Abdul Khaliq Shabrawi, Syekh Tariqah al-Shabrawiyyah di Mesir mengatakan bahwa beberapa lembaga tarekat sufi di Mesir mencetuskan dibentuknya milisi bersenjata “Sufi Jihadi”.
    “Sufi Jihadi sebenarnya telah dibentuk sejak dua tahun yang lalu oleh tarekat-tarekat sufi yang memiliki kepedulian terhadap makam-makam para wali,” jelas Syekh Abdul Khaliq Shabrawi.
    Syekh Shabrawi menambahkan, “Tugas Sufi Jihadi semakin bertambah, utamanya pasca Abdurrahman Bar yang dikenal sebagai Mufti Jamaah Ikhwanul Muslimin Mesir menyatakan bahwa Mesir harus dibersihkan dari ideologi kuburan.”
    Shabrawi juga mengritik Kementerian Dalam Negeri yang tidak mengambil tindakan apa pun untuk menjaga makam-makam para wali yang dihancurkan oleh kalangan Salafi. Dia menegaskan bahwa Majelis Tinggi Tarekat-tarekat Sufi tidak ada kaitannya sama sekali dengan gerakan Sufi Jihadi ini.
    Secara terpisah, Musthafa Zaid, Koordinator Persatuan Tarekat-Tarekat Sufi Mesir menguatkan pernyataan Shabrawi bahwa pembentukan Sufi Jihadi ini adalah reaksi dari pernyataan Mufti Jamaah Ikhwanul Muslimin Abdurrahman Bar yang menyatakan Mesir harus dibebaskan dari ideologi kuburan.
    “Kami akan senantiasa menjaga makam-makam para wali dengan jiwa kami sebagai taruhannya. Jika mereka berusaha menghancurkan makam-makam itu, maka seluruh sufi Mesir akan menjadi sufi jihadi,” kata Musthafa Zaid. (ahrm/wthn/fgr/imm).

    http://www.mosleminfo.com/berita/internasional/im-dan-salafi-tebar-ancaman-sufi-jihadi-siap-siaga/

  46. ruli: @Alfeyd: Saya sih
    bener2 blank dg bahasa
    Arab..seandainya pun benar
    mayat bisa mendengar
    perkataan orng yg meminta
    tolong kepadanya, apakah iya
    mayat tsb bisa menolongnya
    (menyampaikan) do’a kepada
    Allah? Padahal Allah Maha
    Mendengar..

    saya: mas ruli alhamdulillah anda mengakui masih belum mengetahui kaidah2 bahasa arab, sehingga menurut saya alangkah bijaknya anda mengambil dawuh ulama yang memang tidak diragukan lagi kapasitas keilmuan beliau dibidang Al Qur-an dan Al Hadist, kami aswaja bukanya lebih mengedepankan dawuh ulama2 dibandingkan dalil NASH.. namun yang nenjadi pertimbangan kami adalah bahwa NASH merupakan kalam khoirul kholqi, tentunya yang bisa memahami dawuh2 NASH bukanlah sembarangan orang seperti yang sering kita jumpai di blog2 dewasa ini, contoh Firanda, abul jauza’ dll.. tidak seperti orang2 wahabi (yang menurut saya) berani melecehkan DALIL NASH dengan cara memahami dalil tsbt tanpa mempertimbangkan ulama2 mu’tabaroh, hal itu terbukti lewat diskusi2 di ummati bahwa mereka terkesan menghindar ketika diajak membahas pokok2 kaidah bahasa arab, dan juga sering saya sampaikan perbedaan harokat saja sangat besar pengaruhnya terhadap arti, apa lagi kalau salah di titik, lebih2 kalau kesalahan terjadi pada huruf entah dengan faktor kesengajaan atau salah cetak.. dengan kesimpulan akhir, saya, anda, semua pengujung blog ini masih membutuhkan pembimbing untuk memahami DALIL NASH.
    SEMOGA ANDA MAU MERENUNGKANNYA..

    ruli: seandainya pun benar
    mayat bisa mendengar
    perkataan orng yg meminta
    tolong kepadanya, apakah iya
    mayat tsb bisa menolongnya
    (menyampaikan) do’a kepada
    Allah? Padahal Allah Maha
    Mendengar..

    saya: sekarang coba anda fikirkan pertanyaan saya dan kalau bisa anda jawab,
    apakah orang yang hidup itu juga mampu berbuat sesuatu tanpa ada Qudroh Alloh??
    Apakah dokter bisa menyembuhkan??
    apakah makanan yang kita santap bisa membuat kita kenyang??
    silahkan anda jawab “ya” atau “tidak”

  47. Bismillaah,

    Saya suka berkunjung ke situs nu online, majelis rasulullaah, pejuang islam, sarkub dan tentu ummatipress. Semua situs tersebut menyebutkan bahwa maulidan, tahlian, yasinan, zikir berjamaah keras-keras, ziarah kubur wali dan lain-lain adalah amalan ASWAJA. Jadi, ASWAJA (konon singkatan dari Ahlussunnah wal Jamaah) adalah orang yang mengamalkan amalan-amalan tersebut. Oleh karena itu, orang yang tidak mengamalkan amalan-amalan tersebut bukanlah Ahlussunnah wal Jamaah. Betul demikian? Kalau betul, maka saya katakan definisi tersebut berbeda jauh dari definisi yang disampaikan dalam acara Khazanah Trans7.

    Wallaahu a’lam.

  48. ibnu suradi coba sampean paparkan devinisi AHLU SUNAH WAL JAMA’AH… sekaligus jami’ mani’nya ya.. oke tak tunggu… lanjut

  49. Bismillaah,

    Kang Alfeyd,

    Sebenarnya definisi Ahlussunnaah wal Jamaah sudah disampaikan secara singkat dalam komentar saya tentang tayangan Khazanah Trans7 yang membahas Ahlussunnah wal Jamaah. Silahkan periksa kembali. Atau agar jelas dan kita tidak main mengaku sebagai Ahlussunnah wal Jamaah, kita jelaskan saja apa maksud kata “Sunnah” dalam frasa “Ahlussunnah wal Jamaah”. Monggo Kang Alfeyd mulai.

    Wallaahu a’lam.

  50. pak ibnu suradi, komen yang mana ya…..?, tolong panjenengan tulis ulang, kalau merasa kesulitan ya copas kan juga bisa…
    kasihaan saya yang masih bodoh…
    dan jangan lupa dengan bahasa yang spesifik ya.. misal DEVINISI AHLU SUNAH WAL JAMA’AH ADALAH…………………… agar saya tidak salah dalam memahami AsWaJa…
    setelah itu saya akan berusaha memaparkan kata sunnah.. monggo…

  51. Bismillaah,

    Kang Alfeyd,

    Berikut saya copypaste komentar lengkap saya yang ada definisi Ahlussunnah wal Jamaah yang disampaikan Khazanah Trans7:

    Pekan lalu, acara Khazanah di Trans7 membahas masalah Ahlussunnah wal Jamaah. Penjelasanannya mantap dengan penyampaian ayat Qur’an, hadits dan perkataan ulama. Dalam penjelasan tersebut disampaikan bahwa Ahlussunnah wal Jamaaha adalah mereka yang berjalan di atas jalan yang ditempuh Rasulullaah dan para sahabatnya. Hal ini berbeda jauh dari penjelasan para kyai, habib dan ustadz yang mengatakan bahwa Ahlussunnah wal Jamaah adalah mereka yang melaksanakan amalan tahlilan, maulid, haul, yasinan, dll.

    Semoga tim Khazabah tetap istiqomah memberikan pencerahan kepada umat islam di Indonesia dengan ilmu dari Qur’an, hadits, atsar sahabat dan perkataan ulama.

    Wallaahu a’lam.

      1. Bismillaah,

        Mas Maulana,

        Anda dan kawan-kawan sekalian musti berterima kasih kepada Albani. Karena kitab karangannya yang berjudul “Sifat Shalat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam” tersebar dan dibaca oleh banyak umat Islam di seluruh dunia, maka ulama lain termasuk Hasan Ali Assaqaf menulis kitab sejenis yang menurut saya melengkapi apa yang belum ada dalam kitab Albani. Anda dan kawan-kawan juga menjadi peduli dalil dari ayat Qur’an dan hadits shahih serta perkataan ulama yang mendasari shalat anda. Kalau sebelumnya anda shalat tidak menghadap sutrah (pembatas), kini anda shalat menghadap sutrah yang dikatakan oleh Hasan Ali Assaqqaf sebagai sunnah. Anda menjadi tahu apa itu sutrah (pembatas) dalam shalat dan apa saja yang biasa digunakan oleh Rasulullaah sebagai sutrah saat beliau shalat.

        Kita musti membaca kedua kitab tersebut agar kita dapat memperbaiki shalat kita.

        Wallaahu a’lam.

        1. @Ibnu Suradi

          Sholatlah menurut pemahaman salah satu mazhab yang empat. dari mana anda yakin bahwa pemahaman Al bani terhadap Al-Qur’an dan Hadist adalah benar? Apakah tata cara sholat dalam mazhab yang empat tidak mengacu kepada dalil? siapa sih al bani, seolah olah telah mencapai derajat yang tinggi dan menyaingi para imam mazhab dan imam imam ahlussunah dari kalangan mazhab yang empat? Imam Nawawi, Imam Bukhori, Imam Al Muzani, Imam Al Buwaithi, Imam Asy Suyuthi, Imam Ibu Hajar Al Asqalani, mereka saja masih mengikatkan diri pada salah satu mazhab, yaitu mazhab Syafi’iyyah. kalau al bani, bermazhab apa ya, mazhab hawa nafsu kali?

          saya membaca basmallah, dan tidak sah sholat bila tidak membaca basmallah. tapi mazhab maliki membaca basmallah hukumnya makruh. saya berqunut subuh, dilakukan setelah ruku’. tapi mazhab maliki, qunut sebelum ruku’, sedangkan mazhab hanafi dan hambali, tidak qunut subuh. saya sholat berdasarkan al-qur’an dan hadist, berdasarkan pemahaman mazhab syafi’i, selagi sholat tersebut sesuai dengan salah satu mazhab yang empat, maka saya tidak mempermasalahkannya.

          Ini, datang seorang anak manusia, yang kemudian mempermasalahkan tata cara sholat orang lain dengan berpegang pada tata cara sholat Nabi ala Syaikh Al Bani.

          1. Ibnu Suradi berkunjung ke Blog Islam Institute, dia mohon admin menuliskan isi buku shalat seperti nabinya Syaikh Hasan as Saqqaf, yg gak mungkin sanggup mengetikkan satu buku di blog beliau,admin menyarankan ibnu suradi untuk membeli buku tsb setelah membacanya dipersilahkan untuk membahasnya diblog Islamin, saya juga menyarankan menulis Artkel kritik dan bantahan tentang bukunya syaikh Hasan as Saqqaf. tapi sampai sekarang gak ada tanggapan dari Ibnu Suradi, malah si ibnu ini pindah ke blog ini, juga membahas tentang cara shalatnya Albani.
            Kayaknya Ibnu Suradi ini lompat sana lompat sini dibanyak blog yg selalu meg-agung2kan buku cara shalatnya Albani yg mengklaim cara shalat seperti nabi, padahal cara shalat yang sudah dimodifikasi menjadi cara shalatnya Albani.

  52. ustadz ibnu suradi: Dalam penjelasan tersebut
    disampaikan bahwa Ahlussunnah wal Jamaaha adalah mereka yang berjalan di atas jalan yang ditempuh Rasulullaah dan para sahabatnya.

    saya: alhamdulillah mendapat pencerahan dari ustadz ibnu suradi, adpun ucapan panjenengan ” Hal ini berbeda jauh dari penjelasan para kyai, habib dan ustadz yang mengatakan bahwa Ahlussunnah wal Jamaah adalah mereka yang melaksanakan amalan tahlilan, maulid, haul,
    yasinan, dll.” mungkin kita perlu memperhatikan arti dari kata “adalah” dalam ucapa para habib, kiyai dll, yang menurut saya kalau ucapan beliau bisa diartikan ciri2/tanda2 ahlu sunah waljamaah adalah orang yang suka tahlilan dst.. yang menjadi pertanyaan mendasar bagi saya adalah APAKAH TULISAN SEMATA MAMPU MEWAKILI MAKSUD KANJENG NABI SECARA MENYELURUH tanpa mau memperhatikan sanad atau silsilah suatu kabar..??

  53. Bismillaah,

    Kang Alfeyd,

    Saya sudah menyampaikan definisi Ahlussunnah wal Jamaah yang anda minta. Kini giliran anda untuk menjelaskan arti dan definisi kata “sunnah” dalam frasa “Ahlussunnah wal Jamaah”. Silahkan.

    Wallaahu a’lam.

    1. silahkan kang ibnu suradi merenungi

      الشرح (فتح الباري – ابن حجر) صحيح البخاري

      قوله بسم الله الرحمن الرحيم

      الشرح (فتح الباري – ابن حجر) صحيح البخاري
      كتاب الاعتصام بالكتاب والسنة الاعتصام افتعال من العصمة والمراد امتثال قوله تعالى واعتصموا بحبل الله جميعا الآية قال الكرماني هذه الترجمة منتزعة من قوله تعالى واعتصموا بحبل الله جميعا لأن المراد بالحبل الكتاب والسنة على سبيل الاستعارة والجامع كونهما سببا للمقصود وهو الثواب والنجاة من العذاب كما ان الحبل سبب لحصول المقصود به من السقي وغيره والمراد بالكتاب القرآن المتعبد بتلاوته وبالسنة ما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم من أقواله وأفعاله وتقريره وما هم بفعله والسنة في أصل اللغة الطريقة وفي اصطلاح الأصوليين والمحدثين ما تقدم وفي اصطلاح بعض الفقهاء ما يرادف المستحب قال بن بطال لا عصمة لأحد الا في كتاب الله أو في سنة رسوله أو في إجماع العلماء على معنى في أحدهما ثم تكلم على السنة باعتبار ما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم وسيأتي بيانه بعد باب ثم ذكر فيه خمسة أحاديث الحديث الأول

      1. lajutan untuk ustadz ibnu suradi
        مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ اَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ اُجُوْرِهِمْ شَيْئٌ، وَمَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً سَيّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ اَوْزَارِهِمْ شَيْئٌ. مسلم
        artinya barang siapa di dalam islam mengerjakan perbuatan yang baik (سُنَّةً حَسَنَةً ) kemudian perbuatan tersebut dilaksanakan orang setelahnya, maka baginya ditulis menyerupai pahala orang yang mengerjakannya, dan tidak berkurang sesuatupun dari pahalanya dst…

        coba bandingkan terjemahan dari golongan anda
        “Barangsiapa yang mencontohkan dalam Islam sunnah yang baik, maka bagi dia pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya. Barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang jelek, maka atasnya dosa dan dosa orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

        MASAK ADA SUNAH YANG JELEK…????

        pengambilan arti sunah
        A. Arti Sunnah menurut bahasa

        Kata Sunnah menurut lughat (bahasa) banyak sekali, namun saya akan mencoba mengkerucutkan agar sesuai dengan pembahasan berarti sebagai berikut :

        Undang-undang atau peraturan yang tetap berlaku.

        Dengan singkat dapatlah dijelaskan sebagai berikut :

        1. Sunnah yang berarti Undang-undang atau peraturan yang tetap berlaku, seperti firman Allah di dalam Al-Qur’an yang bunyinya :

        سُنَّةَ مَنْ قَدْ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنْ رُسُلِنَا وَلاَ تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيْلاً. الاسرآء:77
        (Yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap Rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perobahan bagi ketetapan Kami itu. [QS. Al-Israa’ : 77]

        سُنَّةَ اللهِ فِى الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللهِ تَبْدِيْلاً. الاحزاب:62
        Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. [QS. Al-Ahzab : 62]

        Dengan dua ayat ini jelaslah bahwa kata “sunnah” dalam dua ayat ini berarti peraturan atau undang-undang yang tetap berlaku.

        B. sunah menurut Syara’

        مَاجَاءَ عَنِ النَّبِيّ ص مِنْ اَقْوَالِهِ وَاَفْعَالِهِ وَ تَقْرِيْرِهِ وَمَاهَمَّ بِفِعْلِهِ.
        “Apa-apa yang datang dari Nabi SAW berupa perkataan-perkataannya perbuatan-perbuatannya, taqrirnya dan apa-apa yang beliau cita-citakan untuk mengerjakannya”.

        kalau lengkapnya
        الشرح (فتح الباري – ابن حجر) صحيح البخاري
        قوله بسم الله الرحمن الرحيم
        كتاب الاعتصام بالكتاب والسنة الاعتصام افتعال من العصمة والمراد امتثال قوله تعالى واعتصموا بحبل الله جميعا الآية قال الكرماني هذه الترجمة منتزعة من قوله تعالى واعتصموا بحبل الله جميعا لأن المراد بالحبل الكتاب والسنة على سبيل الاستعارة والجامع كونهما سببا للمقصود وهو الثواب والنجاة من العذاب كما ان الحبل سبب لحصول المقصود به من السقي وغيره والمراد بالكتاب القرآن المتعبد بتلاوته وبالسنة ما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم من أقواله وأفعاله وتقريره وما هم بفعله والسنة في أصل اللغة الطريقة وفي اصطلاح الأصوليين والمحدثين ما تقدم وفي اصطلاح بعض الفقهاء ما يرادف المستحب قال بن بطال لا عصمة لأحد الا في كتاب الله أو في سنة رسوله أو في إجماع العلماء على معنى في أحدهما ثم تكلم على السنة باعتبار ما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم وسيأتي بيانه بعد باب ثم ذكر فيه خمسة أحاديث الحديث الأول

        coba bandingkan dengan golongan anda
        Adapun menurut istilah ahli ushul, “diungkapkan untuk setiap perkara yang dinukil dari Nabi Shalallahu’alaihi wassalam yang tidak terdapat dalam al-Qur’an, tetapi diungkapkan oleh Nabi Shalallahu’alaihi wassalam, baik sebagai penjelasan bagi al-Qur’an maupun tidak”. (entah ini pengambilan dari mana…????)

        dan sekarang coba panjenengan menjawab pertanyaan saya APAKAH TULISAN SEMATA MAMPU MEWAKILI MAKSUD KANJENG NABI SECARA MENYELURUH tanpa mau memperhatikan sanad atau silsilah suatu kabar..??

      2. lajutan untuk ustadz ibnu suradi:
        مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ اَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ اُجُوْرِهِمْ شَيْئٌ، وَمَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً سَيّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ اَوْزَارِهِمْ شَيْئٌ. مسلم
        artinya barang siapa di dalam islam mengerjakan perbuatan yang baik (سُنَّةً حَسَنَةً ) kemudian perbuatan tersebut dilaksanakan orang setelahnya, maka baginya ditulis menyerupai pahala orang yang mengerjakannya, dan tidak berkurang sesuatupun dari pahalanya dst…

        coba bandingkan terjemahan dari golongan anda
        “Barangsiapa yang mencontohkan dalam Islam sunnah yang baik, maka bagi dia pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya. Barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang jelek, maka atasnya dosa dan dosa orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

        MASAK ADA SUNAH YANG JELEK…????

        pengambilan arti sunah
        A. Arti Sunnah menurut bahasa

        Kata Sunnah menurut lughat (bahasa) banyak sekali, namun saya akan mencoba mengkerucutkan agar sesuai dengan pembahasan berarti sebagai berikut :

        Undang-undang atau peraturan yang tetap berlaku.

        Dengan singkat dapatlah dijelaskan sebagai berikut :

        1. Sunnah yang berarti Undang-undang atau peraturan yang tetap berlaku, seperti firman Allah di dalam Al-Qur’an yang bunyinya :

        سُنَّةَ مَنْ قَدْ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنْ رُسُلِنَا وَلاَ تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيْلاً. الاسرآء:77
        (Yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap Rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perobahan bagi ketetapan Kami itu. [QS. Al-Israa’ : 77]

        سُنَّةَ اللهِ فِى الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللهِ تَبْدِيْلاً. الاحزاب:62
        Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. [QS. Al-Ahzab : 62]

        Dengan dua ayat ini jelaslah bahwa kata “sunnah” dalam dua ayat ini berarti peraturan atau undang-undang yang tetap berlaku.

        B. sunah menurut Syara’

        مَاجَاءَ عَنِ النَّبِيّ ص مِنْ اَقْوَالِهِ وَاَفْعَالِهِ وَ تَقْرِيْرِهِ وَمَاهَمَّ بِفِعْلِهِ.
        “Apa-apa yang datang dari Nabi SAW berupa perkataan-perkataannya perbuatan-perbuatannya, taqrirnya dan apa-apa yang beliau cita-citakan untuk mengerjakannya”.

        kalau lengkapnya
        الشرح (فتح الباري – ابن حجر) صحيح البخاري
        قوله بسم الله الرحمن الرحيم
        كتاب الاعتصام بالكتاب والسنة الاعتصام افتعال من العصمة والمراد امتثال قوله تعالى واعتصموا بحبل الله جميعا الآية قال الكرماني هذه الترجمة منتزعة من قوله تعالى واعتصموا بحبل الله جميعا لأن المراد بالحبل الكتاب والسنة على سبيل الاستعارة والجامع كونهما سببا للمقصود وهو الثواب والنجاة من العذاب كما ان الحبل سبب لحصول المقصود به من السقي وغيره والمراد بالكتاب القرآن المتعبد بتلاوته وبالسنة ما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم من أقواله وأفعاله وتقريره وما هم بفعله والسنة في أصل اللغة الطريقة وفي اصطلاح الأصوليين والمحدثين ما تقدم وفي اصطلاح بعض الفقهاء ما يرادف المستحب قال بن بطال لا عصمة لأحد الا في كتاب الله أو في سنة رسوله أو في إجماع العلماء على معنى في أحدهما ثم تكلم على السنة باعتبار ما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم وسيأتي بيانه بعد باب ثم ذكر فيه خمسة أحاديث الحديث الأول

        coba bandingkan dengan golongan anda
        Adapun menurut istilah ahli ushul, “diungkapkan untuk setiap perkara yang dinukil dari Nabi Shalallahu’alaihi wassalam yang tidak terdapat dalam al-Qur’an, tetapi diungkapkan oleh Nabi Shalallahu’alaihi wassalam, baik sebagai penjelasan bagi al-Qur’an maupun tidak”. (entah ini pengambilan dari mana…????)

        dan sekarang coba panjenengan menjawab pertanyaan saya APAKAH TULISAN SEMATA MAMPU MEWAKILI MAKSUD KANJENG NABI SECARA MENYELURUH tanpa mau memperhatikan sanad atau silsilah suatu kabar..??

  54. Bismillaah,

    Tadi pagi Khazanah Trans7 membahas keutamaan hari Jumat dan amalan-amalan sunnah pada hari Jumat. Disampaikan hadits-hadits tentang amalan sunnah di hari Jumat. Ternyata membaca Surat Al Kahfi mnerupakan amalan sunnah pada hari Jumat. Kita musti membiasakan diri membaca Surat Al Kahfi pada hari Jumat, jangan hanya meramaikan pembacaan Surat Yasin di malam Jumat.

    Wallaahu a’lam.

    1. @sur……, ente baru tahu sekarang dari trans 7 ya ??, sebaiknya kalau sudah tahu ya amalkan dan biasakan membaca Surat Al Kahfi. Terus kalau ente gak suka Surat Yasin jangan ngelarang orang baca Surat Yasin ya…….. bukankah surat Yasin bagian dari Al Qur’an….

  55. Saya cuma pembaca disini…pertanyaan2 aswaja gak pernah bisa dijawab dengan detil oleh suradi…aswaja mementalkan pernyataan2 suradi dengan gamblang.dasar …

  56. Bismillaah,

    Selama ini saya dan juga banyak umat Islam di Indonesia menganggap bahwa yang disunnahkan pada hari Jumat adalah membaca Surat Yasin. Tapi, ternyata Surat Al Kahfi yang disunnahkan untuk dibaca pada hari Jumat. Sedangkan, untuk Surat Yasin, saya belum menemukan sabda shahih Rasulullaah yang menyunnahkan untuk membaca Surat Yasin. Namun, mengapa di Indonesia yang banyak dibaca pada Jumat malam adalah Surat Yasin bukan Surat Al Kahfi sehingga muncul nama kegiatan yang dikenal dengan nama yasinan? Tahu kenapa?

    Wallaahu a’lam.

  57. Kang Ibnu Suradi bertanya kenapa orang Indonesia kebanyakan membaca surat yasin pada malam jum’at (yang semua hadist-nya dhoif) dan bukan surat al kahfi (yang berdasarkan hadist shohih).
    Jawabannya karena di Indonesia kebanyakan Aswaja bukan Sunnah.

    1. Ibnu Suradi, ummu hasanah@

      Padahal di kampung saya, Yasinan diadakan oleh ibu-bu pada hari Sabtu pagi yang di-isi ceramah agama oleh ustadzah, Sedangkan kalau di kampung sebelah di adakan hari Minggu Sore. Bagaimana menurut kalian berdua, apakah ini haram?

      Kata teman2 Betawi di Jakarta, Yasinan malah banyak diadakan di hari Senin malam, apa nggak kacau itu teori kalian bahwa Yasianan musti malam Jum’at? Padahal kami tidak seperti itu kan?

    2. Kang Ibnu Suradi & Jeng Ummu Hasanah@, pertanyaan sederhana untuk anda berdua :

      – Memangnya yang mengamalkan surat Yasin tidak bisa dianggap sebagai Ahlus Sunnah, dan yang bisa masuk golongan Ahlus Sunnah hanya yang membaca surat Al Kahfi ? Dalilnya mana ?

      – Memangnya jam’ah “Yasinan” pasti tidak membaca Al Kahfi ? kesimpulan darimana kang ?
      (makanya jangan menilai sesuatu hanya dari kulit luarnya saja)…

      khusus buat jeng Ummu hasanah@ :

      – Memangnya ada yang salah jika kita mengamalkan hadits dhlaif ? apa menurut anda hadits dhaif itu jeng ? dan apakah jika kami mengamalkan hadits dhaif maka kami pasti meninggalkan hadits yang shahih ?
      (Jangan membabi buta jeng…. nanti jadi buta beneran seperti babi lho………

    3. Kang Ibnu Suradi & Jeng Ummu Hasanah@, pertanyaan sederhana buat anda berdua :

      – Memangnya yang mengamalkan surat Yasiin tidak dapat disebut Ahlus Sunnah ? dan yang bisa disebut Ahlus Sunnah hanya yang membaca surat Al kahfi ? dalilnya mana ?…..

      1. Om Mudzaffar :
        Yang di bahas sama ibnu suradi itu ‘amalan sunnah yang ada hadist shahihnya di malam jum’at (disini hadist yang paling Shahih adalah Al Kahfi), hanya yang kesebar di kalangan masyarakat memang menjadi Yasinan padahal kitabnya kl ga salah di kitab majmu syarif terdapat beberapa surat …. ini yang benar2 terjadi dari keluarga istri saya, stiap kali anak2 liburan ke jakarta (baba, emak, encank dan encink ngumpul membaca majmu syarif)
        Tp memang dibacakan surat stlh yasin itu kadang Ar Rahman, kadan Al Mulk, kadang Al Waqiah tetapi tujuan utama mereka ya yasin itu….saya juga ga tau kenapa yaa, tp saya tekankan kl dengan statement ini saya tidak mengatakan bahwa surat2 tersebut tidak baik yaaa, hanya sekali lagi keutamaan yang ada di malam jumat terdapat pada surat Al Kahfi terhadap surat lainnya berdasarkan Hadist2 yang shahih

        1. @Abu Dzikri as Sundawi

          Makanya bos, jangan sok cerdas, jangan sok mengerti dengan ilmu agama, biar tidak sesat. anda baca saja tulisan saya di bawah……

    4. @Ummu Hasanah

      Imam Masjid Quba di zaman Nabi saw, selalu membaca surat Al Ikhlas pada setiap kali membaca fatihah, maka setelah Fatihah maka ia membaca Al Ikhlas, lalu surat lainnya, dan ia tak mau meninggalkan surat Al Ikhlas setiap rakaatnya, ia jadikan Al Ikhlas sama dengan Fatihah hingga selalu berdampingan disetiap rakaat, maka orang mengadukannya pada Rasul saw, dan ia ditanya oleh Rasul saw : “Mengapa kau melakukan hal itu?, maka ia menjawab : Aku mencintai surat Al Ikhlas. Maka Rasul saw bersabda : Cintamu pada surat Al Ikhlas akan membuatmu masuk sorga” (Shahih Bukhari).

      Berkata Hujjatul islam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy dalam kitabnya Fathul Baari Bisyarah shahih Bukhari mensyarahkan makna hadits ini beliau berkata : “pada riwayat ini menjadi dalil diperbolehkannya mengkhususkan sebagian surat Alqur’an dengan keinginan diri padanya, dan memperbanyaknya dengan kemauan sendiri, dan tidak bisa dikatakan bahwa perbuatan itu telah mengucilkan surat lainnya” (Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari Juz 3 hal 150 Bab Adzan)

      “Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari, maka pagi harinya ia diampum oleh Allah. Barangsiapa yang membaca
      surat al-Dukhan, maka ia diampuni oleh Allah.” (HR Abu Ya’la). Menurut al-Hafizh Ibn Katsir, hadits ini sanad-nya jayyid (shahih). Komentar Ibn Katsir ini juga dikutip dan diakui oleh al-Imam al-Syaukani dalam tafsimya Fath al-Qadir, bahwa sanad hadits tersebut jayyid, alias shahih..

      “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari ridha Allah, maka Allah akan mengampuninya,” (HR.
      Ibn Hibban dalam Shahih-nya). Hadits ini dishahihkan oleh al-Imam Ibn Hibban dan diakui oleh al-Hafizh Ibn Katsir dalam Tafsir-nya, al- Hafizh Jalahiddin al-Suyuthi dalam Tadrib al-Rawi, dan al- Imam al-Syaukani dalam tafsir Fath al-Qadir dan al-Fawaid al-Majmu’ah. Al-Syaukani berkata dalam al-Fawaid al- Majmu’ah sebagai berikut: “Hadits, “Barangsiapa membaca surat Yasin karena mencari ridha Allah, maka Allah akan mengampuninya diriwyatkan oleh al-Baihaqi dari Abu Humairah secara marfu’ dan sanadnya sesuai dengan kriteria hadits shahih. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan al- Khathib. Sehingga tidak ada alasan merryebut hadits tersebut dalam kitab-kitab al-Maudhu’at (tidak benar menganggapnya sebagai hadits maudhu’).” (Al-Syaukani, al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah, haL 302-303).

      Syaikhul Islam al-Imam Hafizh al-’Iraqi berkata: “Adapun hadits dha’if yang tidak maudhu’ (palsu), maka para ulama telah memperbolehkan mempermudah dalam sanad dan periwayatannya tanpa menjelaskan kedha’ifannya, apabila hadits tersebut tidak berkaitan dengan hukum dan akidah, akan tetapi berkaitan dengan targhib dan tarhib seperti nasehat, kisah-kisah, fadhail al-a’mal dan lain-lain. Adapun berkaitan dengan hukum-hukum syar’i berupa halal, haram dan selainnya, atau akidah seperti sifat-sifat Allah, sesuatu yang jaiz dan mustahil bagi Allah, maka para ulama tidak melihat kemudahan dalam hal itu. Di antara para imam yang menetapkan hal tersebut adalah Abdurrahman bin Mahdi, Ahmad bin Hanbal, Abdullah bin al-Mubarak dan lain-lain. Ibn Adi telah membuat satu bab dalam mukaddimah kitab al-Kamil dan al-Khathib dalam al-Kifayah mengenal hal tersebut.” (Al-Hafizh al-lraqi, al-Tabshirah wa al-Tadzkirah,juz 1, hal. 291).

  58. @Ibn Suradi Cs…

    1. Terkait bacaan surat Yaasin
    Ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa “Yasin lima quriat lahu”, artinya surat Yasin dibaca sesuai niat si pembaca. Yasin dapat dibaca saat kita mengharap rezeki Tuhan, meminta sembuh dari penyakit, menghadap ujian, mencari jodoh, dan lain-lain.

    Akan tetapi, dalam praktik sehari-hari, akhir-akhir ini masyarakat sudah mentradisikan membaca Yasin dalam majelis-majelis kecil di kampung-kampung. Bahkan sudah lazim bacaan Yasin digabung dengan Tahlil. Tahlil dan Yasin telah menyatu menjadi bacaan orang-orang NU, dan selalu dapat kita dengar dari kelompok-kelompok kecil, kadang di siang hari, sore hari, malam hari, dan pagi hari.

    Lebih dari itu, surat Yasin sudah menjadi kebiasaan masyarakat bila salah satu keluarga ada yang sakit kritis. Surat Yasin dibaca dengan harapan jika bisa sembuh semoga cepat sembuh, dan jika Allah menghendaki yang bersangkutan kembali kepada-Nya, semoga cepat diambil oleh-Nya dengan tenang.

    Ada kalanya Yasin dibaca sendirian, ada juga bersamaan dengan tetangga yang lain. Yang jelas, orang yang sakit sudah ridak ada harapan lagi untuk sembuh karena tanda-tanda akan diakhirinya ke­hidupan ini sudah jelas. Dan surat Yasin menjadi pengantar kepulangannya ke hadirat Allah.

    Dalil orang-orang NU membaca surat Yasin ini adalah, pertama dalam hadits riwayat Nasa’i bersumber dari Ma’qal bin Yasar al-Muzan mengatakan, Rasulullah SAW pernah bersabda:

    اقْرَؤُا يس عِنْدَ مَوْتَاكُمْ

    “Bacalah surat Yasin di samping saudaramu yang sedang sekarat.”

    Hadits ini juga berlaku bagi yang masih hidup untuk membacakan Yasin untuk yang sudah meninggal. Persis seperti sabda Rasulullah: Laqqinu mautakum La ilaha illallah (Tuntunlah orang mati dengan kalimat La ilaha illallah). Dan termasuk dalam hadits ini adalah bacaan Yasin di atas makam. (Demikian penjelasan dalam kitab Kasyifatus Syubhat, hlm. 263)

    Dalam hadits Ma’qal bin Yasar tersebut juga disebutkan bahwa:

    يس قَلْبُ القُرْآن لَا يَقْرَؤهَا رَجُلٌ يُرِيْدُ اللهَ وَالدَّارَ الآخِرَةَ إلَّا غَفَرَ لَهُ اقْرَءُوْهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ

    Surat Yasin adalah jantung Al-Qur’an. Siapa saja yang membacanya semata-mata karena Allah dan berharap kebahagiaan akhirat maka ia akan diampuni. Maka bacakanlah Yasin di samping saudaramu yang sedang sekarat.

    Diriwayatkan juga: jika seorang muslim dan muslimah dibacakan surat Yasin ketika mendekati ajal maka akan diturunkan 10 malaikat berkat dari huruf-huruf Yasin yang dibaca. Para malaikat itu berdiri berbaris di samping yang sakit, membacakan shalawat dan istighfar kepadanya dan ikut menyaksikan saat dimandikan dan mengantarkan ia ke makam. (Tafsir Yasin lil Hamamy, hlm. 2)

    Dalam kitab Audhaul Ma’ani Ahadits Riyadh as Shalihin disebutkan bahwa bacaan surat Yasin untuk yang sedang mendekati ajal akan menjadi bekal dia, seperti halnyaa ia membawa susu kental dalam perjalanan. Dan surat Yasin pada dasarnya dapat dibaca untuk seseorang setelah meninggal di rumah atau bahkan di makam. (Audhaul Ma’ani, hlm. 376)

    KH Munawwir Abdul Fattah
    Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta

    Sumber: http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,10-id,15071-lang,id-c,ubudiyah-t,Membaca+Surat+Yasin-.phpx

    Derajat Hadits:

    Dari Ma’qil bin Yasar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: اقْرَءُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس “Bacalah surat Yasin kepada orang yang menjelang wafat di antara kalian.” Takhrij Hadits : Hadits ini dikeluarkan oleh: – Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al Janaiz Bab Qira’ah ‘Indal Mayyit, No. 3121 – Imam Ahmad dalam Musnadnya, Jilid. 5, No. 19416 – Imam Ibnu Hibban dalam kitab SHAHIH-nya, Kitab Al Janaiz wa Maa Yata’alaqu biha Muqaddiman wa Mu’akhiran Fashl fi Al Muhtadhar, No. 3002. – Imam Ibnu Majah dalam kitab Sunannya, Kitab Al Janaiz Bab Maa Ja’a fimaa Yuqalu ‘Indal Maridh Idza Hadhara, No. 1448 – Imam Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir, No. 16904 – Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, No. 2356 Kedudukan Hadits: Dengan dimasukannya hadits ini dalam kitab Shahih-nya Imam Ibnu Hibban, maka menurutnya hadits ini adalah shahih. Hal ini juga ditegaskan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani. (Bulughul Maram, Kitabul Janaiz, no. 437. Cet.1, Darul Kutub Al Islamiyah)

    * Kutipan hadits-hadits (shahih) tentang fadhilah surat Yasin dari Tafsir Ibn Katsir:

    Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari, maka pagi harinya ia
    diampuni oleh Allah. Barangsiapa yang membaca surat al-Dukhan, maka ia diampuni oleh Allah.” (HR Abu Ya’la).

    Menurut al-Hafizh Ibn Katsir, hadits ini sanad-nya jayyid (shahih). Komentar Ibn Katsir ini juga dikutip dan diakui oleh al-Imam al-Syaukani dalam tafsimya Fath al-Qadir, bahwa sanad hadits tersebut jayyid, alias shahih.

    Rasulullah SAW bersabda :
    “Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari ridha Allah, maka Allah akan
    mengampuninya,” (HR. Ibn Hibban dalam Shahih-nya).

    Hadits ini dishahihkan oleh al-Imam Ibn Hibban dan diakui oleh al-Hafizhu Ibn Katsir dalam Tafsir-nya, al- Hafizh Jalahiddin al-Suyuthi dalam Tadrib al-Rawi, dan al- Imam al-Syaukani dalam tafsir Fath al-Qadir dan al-Fawaid al-Majmu’ah. Al-Syaukani berkata dalam al-Fawaid al- Majmu’ah sebagai berikut :
    “Hadits, “Barangsiapa membaca surat Yasin karena mencari ridha Allah, maka Allah akan mengampuninya diriwyatkan oleh al-Baihaqi dari Abu Humairah secara marfu’ dan sanadnya sesuai dengan kriteria hadits shahih.
    Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan al- Khathib. Sehingga tidak ada alasan merryebut hadits tersebut dalam kitab-kitab al-Maudhu’at (tidak benar menganggapnya sebagai hadits maudhu’).” (Al-Syaukani, al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah, haL 302-303).
    Demikian hadits-hadits fadhilah surat Yasin yang di- shahih-kan dalam Tafsir Ibn Katsir dan al-Fawaid’ al- Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah.

    Mengenai mengkhususkan ibadah tertentu dalam hal ini membaca surat yasin sesungguhnya hukumnya tidak mengapa.Dalilnya: dalam shohih bukhari ada hadits yang menerangkan bahwasanya imam masjid kuba selalu mengkhususkan membaca surat al ikhlas setiap selesai membaca surat al fatihah baru kemudian membaca surat lainnya. Hal ini berjalan terus menerus sehingga dilaporkanlah imam masjid kuba ini kepada Rosulullah, kemudian dipanggillah imam masjid kuba ini dan ditanya oleh Rosulullah: “apa yang menyebabkanmu melakukan itu”… au kamaa qoola Rosulullah. Jawab sang imam: ” karena aku cinta kepada surat al ikhlas” kemudian Rosulullah bersabda: ” cintamu kpd surat al ikhlas akan memasukkanmu ke syurga”.

    2. Surat Al-Kahfi
    Amalan apa saja yang sunnah dilaksanakan pada hari Jum’at? Dan bagaimana hukumnya membaca surat al-Kahfi (surat ke-18 dalam Al-Qur’an) pada hari Jum’at?

    Seperti kita ketahui, hari Jum’at merupakan hari yang paling mulia dalam Islam. Karena hari itu merupakan hari raya mingguan bagi umat Islam. DR Muhammad bakar isma’il dalam Al-Fiqhul Wadhih minal Kitab was Sunnah menyatakan, hari Jum’at merupakan hari yang sangat mulia di sisi allah SWT. Hari itu merupakan hari yang dipilih oleh Allah SWT sebagai hari raya mingguan bagi kaum muslimin. Pada hari itu mereka berkumpul untuk melaksanakan shalat dengan penuh keramahan dan kecintaan.

    Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah pada hari itu. Di antaranya adalah memperbanyak wirid dan dzikir. Karena pada hari itu ada saat waktu istijabah yang sengaja dirahasiakan oleh Allah SWT agar hamba-hamba-Nya lebih giat mencari waktu tersebut. Termasuk juga yang disunnahkan adalah membaca shalawat kepada nabi Muhammad SAW.

    عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيْهِ النَّفْخَةُ، وَفِيْهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثَرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ، فّإنَّ صّلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ، قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ؟- أي بَلِيْتَ- قَالَ: إنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ حَرَّمَ عَلَى الْأرْضِ أنْ تَأكُلَ أجْسَادِ الْأنْبِيَاءِ—سنن ابن ماجه

    Diriwayatkan dari Aws bin Aws, Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya hari yang paling mulia bagi kalian adalah hari Jum’at. Pada hari itu Nabi Adam AS diciptakan, di hari itu ditiupkan ruh, dan pada hari itu dilaksanakan siksaan. Karena itu maka perbanyaklah membaca shalawat kepadaku. Sebab shalawat yang kamu baca pada hari itu akan didatangkan kepadaku. Lalu sahal seorang sahabat bertanya: Wahai Rasulullah bagaimana mungkin shalawat yang kami baca itu bisa dihadapkan kepadamu, padahal engkau telah hancur dimakan bumi? Rasulullah SAW menjawab: Sesungguhnya Allah ’Azza wa Jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi-Nya. (HR Ibnu Majah, 1075)

    Di antara amalan yang dianjrkan juga adalah membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at atau pada hari Jum’atnya.

    عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُذْرِيّ قَالَ مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

    Diriwayatkan dari Abi Said Al-Khudri, ia berkata, Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka Allah SWT akan menyinarinya dengan cahaya antara dia dan rumah yang penuh dengan keindahan. (Sunan Ad-Darimi, 3273)

    Membaca Shalawat dan membaca surat al-Kahfi pada malam atau hari Jum’at itu sunnah. Dalam hal ini DR Muhammad Bakr Isma’il menyatakan, seorang muslim disunnahkan untuk memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi SAW pada malam hari Jum’at. Begitu juga sunah sunnah membaca surat al-Kahfi pada malam dan hari Jum’at. (Al-Fiqhul Wadhih minal Kitab was Sunnah, hal 241)

    KH Muhyiddin Abdusshomad
    Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam, Ketua PCNU Jember

    Sumber: http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,10-id,17148-lang,id-c,ubudiyah-t,Membaca+Surat+Kahfi+pada+Hari+Jum++8217+at-.phpx

    Mengenai disunahkannya membaca surat al kahfi pada malam jumat sungguh tidak diragukan lagi karena berdasarkan hadits Rosulullah tapi bukan berarti tidak boleh mengkhususkan ibadah yang lainnya pada malam jumat itu.

    Adapun keutamaan malam Jum’at menurut Ibnu Muflih Al-Hanbali itu ikut pada hari Jum’atnya. Artinya sama-sama disunnahkan untuk memperbanyak ibadah. Dalam Al-Furu’ Ibnu muflih berkata yang Artinya :
    Malam lailatul qadr adalah malam yang paling utama. Ia lebih utama dibanding malam Jum’at karena ada dalil ayat Quran. Menurut Khattabi pendapat itu ijmak ulama.

    Ibnu Aqil menyebut dua pendapat. Pertama adalah pendapat ini dan ynag kedua adalah malam Jum’at
    lebih utama dibanding malam lailatul qadr. Alasannya karena malam Jum’at trjadi berulang-ulang dan karena malam Ju’mat mengikuti hari yang paling utama yaitu hari Jum’at. Penulis Al-Muharrar berkata “pendapat ini adalah opini dari Ibnu Battah, Abul Hasan Al-Kharazi dan Abu Hafsh Al-Barmaki.

    Kesimpulan: Malam Jum’at dan hari Jum’at adalah hari istimewa. Dan memperbanyak ibadah pada malam Jumat dan hari Jum’at adalah sunnah secara ijmak.

    Wallahu ‘Alam Bishowwab…

    Sekedar merangkum dari berbagai sumber:

    __________________________________

    Renungan untuk teman2 wahabi…
    QS: Annisa: 82:

    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat PERTENTANGAN yang banyak di dalamnya.” (QS: 4:82)

    ASWAJA SUNNI-(4 MAZHAB) sudah membuktikan dengan data ilmiah BAHWA tidak ada satupun hadits ataupun ayat al-Qur’an yang KONTRADIKTIF dalam pemahaman dan aplikasinya. Hal ini karena sanad dan matannya dapat dipertanggungjawabkan mulai dari ulama2 besar saat ini, sebelumnya, imam-imam besar, para tabiin, para sahabat, sampai dengan Nabi yang Mulia SAW…. ILMU dan PEMAHAMAN KAMI (ASWAJA SUNNI- Pengikut 4 MADZHAB) bersandar diatas SANAD yang dapat dipertanggungjawabkan…

    Lalu pertanyaannya, silahkan pertanggungjawabkan secara ilmiyah, kontradiksi (pertentangan) dalam pemahaman teman2 wahabi terhadap pemahaman hadits atau ayat2 Al-Qur’an sebagaimana yang telah teman2 ASWAJA kemukakan dalam diskusi di forum ini?

    Mudah2an Allah SWT menunjukkan jalan hidayah-Nya agar kita semua selamat di dunia dan akhirat…

    Wallahu’Alam… dan mohon maaf sebelumnya…

  59. @ Ibn Suradi cs..

    1. Surat Yaasin
    Ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa “Yasin lima quriat lahu”, artinya surat Yasin dibaca sesuai niat si pembaca. Yasin dapat dibaca saat kita mengharap rezeki Tuhan, meminta sembuh dari penyakit, menghadap ujian, mencari jodoh, dan lain-lain.

    Akan tetapi, dalam praktik sehari-hari, akhir-akhir ini masyarakat sudah mentradisikan membaca Yasin dalam majelis-majelis kecil di kampung-kampung. Bahkan sudah lazim bacaan Yasin digabung dengan Tahlil. Tahlil dan Yasin telah menyatu menjadi bacaan orang-orang NU, dan selalu dapat kita dengar dari kelompok-kelompok kecil, kadang di siang hari, sore hari, malam hari, dan pagi hari.

    Lebih dari itu, surat Yasin sudah menjadi kebiasaan masyarakat bila salah satu keluarga ada yang sakit kritis. Surat Yasin dibaca dengan harapan jika bisa sembuh semoga cepat sembuh, dan jika Allah menghendaki yang bersangkutan kembali kepada-Nya, semoga cepat diambil oleh-Nya dengan tenang.

    Ada kalanya Yasin dibaca sendirian, ada juga bersamaan dengan tetangga yang lain. Yang jelas, orang yang sakit sudah ridak ada harapan lagi untuk sembuh karena tanda-tanda akan diakhirinya ke­hidupan ini sudah jelas. Dan surat Yasin menjadi pengantar kepulangannya ke hadirat Allah.

    Dalil orang-orang NU membaca surat Yasin ini adalah, pertama dalam hadits riwayat Nasa’i bersumber dari Ma’qal bin Yasar al-Muzan mengatakan, Rasulullah SAW pernah bersabda:

    اقْرَؤُا يس عِنْدَ مَوْتَاكُمْ

    “Bacalah surat Yasin di samping saudaramu yang sedang sekarat.”

    Hadits ini juga berlaku bagi yang masih hidup untuk membacakan Yasin untuk yang sudah meninggal. Persis seperti sabda Rasulullah: Laqqinu mautakum La ilaha illallah (Tuntunlah orang mati dengan kalimat La ilaha illallah). Dan termasuk dalam hadits ini adalah bacaan Yasin di atas makam. (Demikian penjelasan dalam kitab Kasyifatus Syubhat, hlm. 263)

    Dalam hadits Ma’qal bin Yasar tersebut juga disebutkan bahwa:

    يس قَلْبُ القُرْآن لَا يَقْرَؤهَا رَجُلٌ يُرِيْدُ اللهَ وَالدَّارَ الآخِرَةَ إلَّا غَفَرَ لَهُ اقْرَءُوْهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ

    Surat Yasin adalah jantung Al-Qur’an. Siapa saja yang membacanya semata-mata karena Allah dan berharap kebahagiaan akhirat maka ia akan diampuni. Maka bacakanlah Yasin di samping saudaramu yang sedang sekarat.

    Diriwayatkan juga: jika seorang muslim dan muslimah dibacakan surat Yasin ketika mendekati ajal maka akan diturunkan 10 malaikat berkat dari huruf-huruf Yasin yang dibaca. Para malaikat itu berdiri berbaris di samping yang sakit, membacakan shalawat dan istighfar kepadanya dan ikut menyaksikan saat dimandikan dan mengantarkan ia ke makam. (Tafsir Yasin lil Hamamy, hlm. 2)

    Dalam kitab Audhaul Ma’ani Ahadits Riyadh as Shalihin disebutkan bahwa bacaan surat Yasin untuk yang sedang mendekati ajal akan menjadi bekal dia, seperti halnyaa ia membawa susu kental dalam perjalanan. Dan surat Yasin pada dasarnya dapat dibaca untuk seseorang setelah meninggal di rumah atau bahkan di makam. (Audhaul Ma’ani, hlm. 376)

    KH Munawwir Abdul Fattah
    Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta

    Sumber: http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,10-id,15071-lang,id-c,ubudiyah-t,Membaca+Surat+Yasin-.phpx

    * Kutipan hadits-hadits (shahih) tentang fadhilah surat Yasin dari Tafsir Ibn Katsir :

    Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari, maka pagi harinya ia
    diampuni oleh Allah. Barangsiapa yang membaca surat al-Dukhan, maka ia diampuni oleh Allah.” (HR Abu Ya’la).

    Menurut al-Hafizh Ibn Katsir, hadits ini sanad-nya jayyid (shahih). Komentar Ibn Katsir ini juga dikutip dan diakui oleh al-Imam al-Syaukani dalam tafsimya Fath al-Qadir, bahwa sanad hadits tersebut jayyid, alias shahih.

    Rasulullah SAW bersabda :
    “Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari ridha Allah, maka Allah akan
    mengampuninya,” (HR. Ibn Hibban dalam Shahih-nya).

    Hadits ini dishahihkan oleh al-Imam Ibn Hibban dan diakui oleh al-Hafizhu Ibn Katsir dalam Tafsir-nya, al- Hafizh Jalahiddin al-Suyuthi dalam Tadrib al-Rawi, dan al- Imam al-Syaukani dalam tafsir Fath al-Qadir dan al-Fawaid al-Majmu’ah. Al-Syaukani berkata dalam al-Fawaid al- Majmu’ah sebagai berikut :
    “Hadits, “Barangsiapa membaca surat Yasin karena mencari ridha Allah, maka Allah akan mengampuninya diriwyatkan oleh al-Baihaqi dari Abu Humairah secara marfu’ dan sanadnya sesuai dengan kriteria hadits shahih.
    Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan al- Khathib. Sehingga tidak ada alasan merryebut hadits tersebut dalam kitab-kitab al-Maudhu’at (tidak benar menganggapnya sebagai hadits maudhu’).” (Al-Syaukani, al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah, haL 302-303).

    Demikian hadits-hadits fadhilah surat Yasin yang di- shahih-kan dalam Tafsir Ibn Katsir dan al-Fawaid’ al- Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah.

    Mengenai mengkhususkan ibadah tertentu dalam hal ini membaca surat yasin sesungguhnya hukumnya tidak mengapa. DALILnya: Dalam shohih bukhari ada hadits yang menerangkan bahwasanya imam masjid kuba selalu mengkhususkan membaca surat al ikhlas setiap selesai membaca surat al fatihah baru kemudian membaca surat lainnya. Hal ini berjalan terus menerus sehingga dilaporkanlah imam masjid kuba ini kepada Rosulullah, kemudian dipanggillah imam masjid kuba ini dan ditanya oleh Rosulullah: “apa yang menyebabkanmu melakukan itu”… au kamaa qoola Rosulullah. jawab sang imam: ” karena aku cinta kepada surat al ikhlas ” kemudian Rosulullah bersabda: ” cintamu kpd surat al ikhlas akan memasukkanmu ke syurga”.

    2. Surat Al-Kahfi
    Amalan apa saja yang sunnah dilaksanakan pada hari Jum’at? Dan bagaimana hukumnya membaca surat al-Kahfi (surat ke-18 dalam Al-Qur’an) pada hari Jum’at?

    Seperti kita ketahui, hari Jum’at merupakan hari yang paling mulia dalam Islam. Karena hari itu merupakan hari raya mingguan bagi umat Islam. DR Muhammad bakar isma’il dalam Al-Fiqhul Wadhih minal Kitab was Sunnah menyatakan, hari Jum’at merupakan hari yang sangat mulia di sisi allah SWT. Hari itu merupakan hari yang dipilih oleh Allah SWT sebagai hari raya mingguan bagi kaum muslimin. Pada hari itu mereka berkumpul untuk melaksanakan shalat dengan penuh keramahan dan kecintaan.

    Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah pada hari itu. Di antaranya adalah memperbanyak wirid dan dzikir. Karena pada hari itu ada saat waktu istijabah yang sengaja dirahasiakan oleh Allah SWT agar hamba-hamba-Nya lebih giat mencari waktu tersebut. Termasuk juga yang disunnahkan adalah membaca shalawat kepada nabi Muhammad SAW.

    عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيْهِ النَّفْخَةُ، وَفِيْهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثَرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ، فّإنَّ صّلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ، قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ؟- أي بَلِيْتَ- قَالَ: إنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ حَرَّمَ عَلَى الْأرْضِ أنْ تَأكُلَ أجْسَادِ الْأنْبِيَاءِ—سنن ابن ماجه

    Diriwayatkan dari Aws bin Aws, Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya hari yang paling mulia bagi kalian adalah hari Jum’at. Pada hari itu Nabi Adam AS diciptakan, di hari itu ditiupkan ruh, dan pada hari itu dilaksanakan siksaan. Karena itu maka perbanyaklah membaca shalawat kepadaku. Sebab shalawat yang kamu baca pada hari itu akan didatangkan kepadaku. Lalu sahal seorang sahabat bertanya: Wahai Rasulullah bagaimana mungkin shalawat yang kami baca itu bisa dihadapkan kepadamu, padahal engkau telah hancur dimakan bumi? Rasulullah SAW menjawab: Sesungguhnya Allah ’Azza wa Jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi-Nya. (HR Ibnu Majah, 1075)

    Di antara amalan yang dianjrkan juga adalah membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at atau pada hari Jum’atnya.

    عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُذْرِيّ قَالَ مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

    Diriwayatkan dari Abi Said Al-Khudri, ia berkata, Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka Allah SWT akan menyinarinya dengan cahaya antara dia dan rumah yang penuh dengan keindahan. (Sunan Ad-Darimi, 3273)

    Membaca Shalawat dan membaca surat al-Kahfi pada malam atau hari Jum’at itu sunnah. Dalam hal ini DR Muhammad Bakr Isma’il menyatakan, seorang muslim disunnahkan untuk memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi SAW pada malam hari Jum’at. Begitu juga sunah sunnah membaca surat al-Kahfi pada malam dan hari Jum’at. (Al-Fiqhul Wadhih minal Kitab was Sunnah, hal 241)

    KH Muhyiddin Abdusshomad
    Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam, Ketua PCNU Jember

    Sumber: http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,10-id,17148-lang,id-c,ubudiyah-t,Membaca+Surat+Kahfi+pada+Hari+Jum++8217+at-.phpx

    Mengenai disunahkannya membaca surat al kahfi pada malam jumat sungguh tidak diragukan lagi karena berdasarkan hadits Rosulullah tapi bukan berarti tidak boleh mengkhususkan ibadah yang lainnya pada malam jumat itu.

    Adapun keutamaan malam Jum’at menurut Ibnu Muflih Al-Hanbali itu ikut pada hari Jum’atnya. Artinya sama-sama disunnahkan untuk memperbanyak ibadah. Dalam Al-Furu’ Ibnu muflih berkata yang Artinya :
    Malam lailatul qadr adalah malam yang paling utama. Ia lebih utama dibanding malam Jum’at karena ada dalil ayat Quran. Menurut Khattabi pendapat itu ijmak ulama.
    Ibnu Aqil menyebut dua pendapat. Pertama adalah pendapat ini dan ynag kedua adalah malam Jum’at
    lebih utama dibanding malam lailatul qadr. Alasannya karena malam Jum’at trjadi berulang-ulang dan karena malam Ju’mat mengikuti hari yang paling utama yaitu hari Jum’at. Penulis Al-Muharrar berkata “pendapat ini adalah opini dari Ibnu Battah, Abul Hasan Al-Kharazi dan Abu Hafsh Al-Barmaki.
    Kesimpulan: Malam Jum’at dan hari Jum’at adalah hari istimewa. Dan memperbanyak ibadah pada malam Jumat dan hari Jum’at adalah sunnah secara ijmak.

    Demikian, sekedar merangkum dari berbagai sumber… semoga bermanfaat…

    Wallahu’alam bishowwab…

  60. Syaikh suradi biasa LARI KESANA KEMARI…..GAK FOKUS….!!!
    jaka sembung bawa golok…!!! gak nyambung GOBLOK>>>>!!!!!
    Coba apa yang IBNU SURADI jawab atas pertanyaan sodara alfeyd berikut: >>>>>>>”sekarang coba panjenengan menjawab pertanyaan saya APAKAH TULISAN SEMATA MAMPU MEWAKILI MAKSUD KANJENG NABI SECARA MENYELURUH tanpa mau memperhatikan sanad atau silsilah suatu kabar..?? ”

    ibnu suradi jawab:>>>>> “Tadi pagi Khazanah Trans7 membahas keutamaan hari Jumat dan amalan-amalan sunnah pada hari Jumat. Disampaikan hadits-hadits tentang amalan sunnah di hari Jumat. Ternyata membaca Surat Al Kahfi mnerupakan amalan sunnah pada hari Jumat. Kita musti membiasakan diri membaca Surat Al Kahfi pada hari Jumat, jangan hanya meramaikan pembacaan Surat Yasin di malam Jumat”

    Belum tuntas dah lari ngalor ngidul ra karuan….!!!!Wekekkekkkk….!!! IBNU SURADI MEMANG POLKE….JEMPOL DAN OKE….!!!!

  61. sodara alfeyd menulis utk Syaikh IBNU SURADI berikut: >>>>>>>”sekarang coba panjenengan menjawab pertanyaan saya APAKAH TULISAN SEMATA MAMPU MEWAKILI MAKSUD KANJENG NABI SECARA MENYELURUH tanpa mau memperhatikan sanad atau silsilah suatu kabar..?? ”

    >>>>>>>”sekarang coba panjenengan menjawab pertanyaan saya APAKAH TULISAN SEMATA MAMPU MEWAKILI MAKSUD KANJENG NABI SECARA MENYELURUH tanpa mau memperhatikan sanad atau silsilah suatu kabar..?? ”

    >>>>>>>”sekarang coba panjenengan menjawab pertanyaan saya APAKAH TULISAN SEMATA MAMPU MEWAKILI MAKSUD KANJENG NABI SECARA MENYELURUH tanpa mau memperhatikan sanad atau silsilah suatu kabar..?? ”

    >>>>>>>”sekarang coba panjenengan menjawab pertanyaan saya APAKAH TULISAN SEMATA MAMPU MEWAKILI MAKSUD KANJENG NABI SECARA MENYELURUH tanpa mau memperhatikan sanad atau silsilah suatu kabar..?? ”

    >>>>>>>”sekarang coba panjenengan menjawab pertanyaan saya APAKAH TULISAN SEMATA MAMPU MEWAKILI MAKSUD KANJENG NABI SECARA MENYELURUH tanpa mau memperhatikan sanad atau silsilah suatu kabar..?? ”

    >>>>>>>”sekarang coba panjenengan menjawab pertanyaan saya APAKAH TULISAN SEMATA MAMPU MEWAKILI MAKSUD KANJENG NABI SECARA MENYELURUH tanpa mau memperhatikan sanad atau silsilah suatu kabar..?? ”

    >>>>>>>”sekarang coba panjenengan menjawab pertanyaan saya APAKAH TULISAN SEMATA MAMPU MEWAKILI MAKSUD KANJENG NABI SECARA MENYELURUH tanpa mau memperhatikan sanad atau silsilah suatu kabar..?? ”

    >>>>>>>”sekarang coba panjenengan menjawab pertanyaan saya APAKAH TULISAN SEMATA MAMPU MEWAKILI MAKSUD KANJENG NABI SECARA MENYELURUH tanpa mau memperhatikan sanad atau silsilah suatu kabar..?? ”

    JAWABAN IBNU SURADI:>>>>>“Tadi pagi Khazanah Trans7 membahas keutamaan hari Jumat dan amalan-amalan sunnah pada hari Jumat. Disampaikan hadits-hadits tentang amalan sunnah di hari Jumat. Ternyata membaca Surat Al Kahfi mnerupakan amalan sunnah pada hari Jumat. Kita musti membiasakan diri membaca Surat Al Kahfi pada hari Jumat, jangan hanya meramaikan pembacaan Surat Yasin di malam Jumat”

    Siippppppp …..cakep habis deh jawaban IBNU SURADI……!!!!!
    JAKA SEMBUNG BAWA GOLOK…!!! GAK NYAMBUNG TOLOL….!!!!eh keliru….!!! GAK NYAMBUNG GOBLOK…!!!!!

  62. @ustadz ibnu suradi, saya yang bodoh masih menunggu jawaban panjenengan tentang pertannyaan saya “APAKAH TULISAN SEMATA MAMPU MEWAKILI MAKSUD KANJENG NABI SECARA MENYELURUH tanpa mau memperhatikan sanad atau silsilah suatu kabar..?? ”
    Dan sambil menunggu jawanan panjenegan akan saya sampaikan perihal keutamaan membaca surat Yasin..
    Di bawah ini saya copi paste buat ustadz ibnu suradi tentang kemaudlu’an fadlilah surat yasin (menurut golongan anda) dan bantahannya;
    sumber http://generasisalaf.wordpress.com/2012/11/21/menjawab-tuduhan-palsu-hadits-yasinan/

    ” Siapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jum’at maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya”.(Ibnul Jauzi, Al-Maudhu’at, 1/247).

    Keterangan :
    Hadits ini Palsu.
    Ibnul Jauzi mengatakan, hadits ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya.
    Imam Daruquthni berkata : Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits. (Periksa : Al-Maudhu’at, Ibnul Jauzi, I/246-247, Mizanul I’tidal III/549, Lisanul Mizan V/168, Al-Fawaidul Majmua’ah hal. 268 No. 944).(Oleh Syaikhuna wa Ustadzuna Yazid bin Abdul Qadir Jawwas)
    ———————————————————————–
    BANTAHAN :“Barangsiapa membaca (surat) Yasin pada malam hari dengan mengharap keridoan Allah, ia akan diampuni (dosanya).”

    Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam “Shahih”nya, Ibnus Sunni dalam “Amalul Yaumi wal Lailah”, Al Baihaqi dalam “Syuabul Iman” dan lain-lain.

    Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya tentang hadits ini, “Sanadnya bagus.”

    Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya “Nataijul Afkar fi Takhriji Ahaditsil Adzkar” berkata tentang hadits tersebut:

    هذا حديث حسن

    “Ini adalah hadits hasan.”

    Imam Suyuthi mengatakan tentang hadits ini:

    هذا إسناد على شرط الصحيح

    “Ini adalah sanad yang sesuai standar shahih.” (Sumber: Kitab “Al-La’ali Al-Mashnu’ah” karya Imam Suyuthi)

    Imam Syaukani berkata:

    حديث من قرأ يس ابتغاء وجه الله غفر له رواه البيهقي عن أبي هريرة مرفوعا وإسناده على شرط الصحيح وأخرجه أبو نعيم وأخرجه الخطيب فلا وجه لذكره في كتب الموضوعات

    “Hadits: Barangsiapa membaca Yasin dengan mengharap ridho Allah, ia akan diampuni. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Abu Hurairah secara marfu’ dan sanadnya sesuai standar Shahih. Diriwayatkan juga oleh Abu Nu’aim dan Al-Khathib. Maka, tidak ada alasan memasukkan hadits tersebut ke dalam kitab hadits-hadits maudhu’ (palsu).”

    (Sumber: Al-Fawaid Al-Majmu’ah karya Imam Syaukani 1/303 Bab Fadhlul Qur’an, Maktabah Syamilah)

    Kedua: “Bacakanlah surat Yasin atas orang yang hampir mati di antara kamu.” Riwayat Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban. (Bulughul Maram karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani)

    Imam Syaukani berkata dalam “Al-Fathur Rabbani” tentang hadits tersebut:

    والتنصيص على هذه السورة إنما هو لمزيد فضلها وشرفها

    “Disebutkannya nama surat tersebut hanya dikarenakan oleh adanya keutamaan dan kemuliaan yang lebih padanya.”

    Apakah itu mencakup orang yg hampir mati saja ato termasuk yg sudah mati?

    Dalam At-Taysiir, Al-Munawi berkata:

    وفي رواية ذكرها ابن القيم عند ( موتاكم ) أي من حضره الموت من المسلمين لأنّ الميت لا يقرأ عليه

    “..dalam riwayat yang disebutkan Ibnul Qayyim: yang dimaksud “mautakum” adalah muslim yang akan meninggal dunia, karena mayyit tidak perlu lagi dibacakan.”

    Kemudian beliau mengatakan:

    أو المراد اقرؤها عليه بعد موته والأولى الجمع

    “Atau bisa juga maksudnya adalah bacakanlah setelah kematiannya. Yang paling utama adalah digabungkan.”

    Berarti dibaca sebelum dan setelah meninggal. Wallahu a’lam.

    قال ابن القيم وخص يس لما فيها من التوحيد والمعاد والبشرى بالجنة لأهل التوحيد وغبطة من مات عليه لقوله يا ليت قومي يعلمون

    Ibnul Qayyim mengatakan, “Dikhususkannya Yasin karena di dalamnya terkandung ajaran tauhid, tempat kembali, berita gembira tentang surga untuk ahli tauhid dan kegembiraan orang yang meninggal di atas tauhid karena firman-Nya, “Seandainya kaumku mengetahui…” (At-Taysiir 1/390)
    ——————————————————-
    “Barangsiapa membaca (surat) Yasin pada malam hari dengan mengharap keridoan Allah, ia akan diampuni (dosanya).”

    Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam “Shahih”nya, Ibnus Sunni dalam “Amalul Yaumi wal Lailah”, Al Baihaqi dalam “Syuabul Iman” dan lain-lain.

    Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya tentang hadits ini, “Sanadnya bagus.”

    Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya “Nataijul Afkar fi Takhriji Ahaditsil Adzkar” berkata tentang hadits tersebut:

    هذا حديث حسن

    “Ini adalah hadits hasan.”

    Imam Suyuthi mengatakan tentang hadits ini:

    هذا إسناد على شرط الصحيح

    “Ini adalah sanad yang sesuai standar shahih.” (Sumber: Kitab “Al-La’ali Al-Mashnu’ah” karya Imam Suyuthi)

    Imam Syaukani berkata:

    حديث من قرأ يس ابتغاء وجه الله غفر له رواه البيهقي عن أبي هريرة مرفوعا وإسناده على شرط الصحيح وأخرجه أبو نعيم وأخرجه الخطيب فلا وجه لذكره في كتب الموضوعات

    “Hadits: Barangsiapa membaca Yasin dengan mengharap ridho Allah, ia akan diampuni. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Abu Hurairah secara marfu’ dan sanadnya sesuai standar Shahih. Diriwayatkan juga oleh Abu Nu’aim dan Al-Khathib. Maka, tidak ada alasan memasukkan hadits tersebut ke dalam kitab hadits-hadits maudhu’ (palsu).”

    ————————————————————–

    Ada lebih dari 10 hadis shahih menjelaskan keutamaan surat yasin, dan ratusan hadits dhoif yg menyebutkannya pula, maka keutamaannya sudah masyhur bagi mereka yg memahami ilmu hadits.

    berikut riwayat riwayat tsb, walau ada yg lafadhnya namun muncul dari riwayat muhaddits yg berbeda.

    عن الحسن عن جندب قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم من قرأ يس في ليلة ابتغاء وجه الله غفر له
    (صحيح ابن حبان)

    عن معقل بن يسار قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم واقرؤوا على موتاكم يس قال أبو حاتم رضي الله عنه قوله اقرؤوا على موتاكم يس أراد به من حضرته المنية لا أن الميت يقرأ عليه وكذلك قوله صلى الله عليه وسلم لقنوا موتاكم لا إله إلا الله
    (صحيح ابن حبان)

    عن معقل بن يسار رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم سورة يس اقرؤوها ثم موتاكم أوقفه يحيى بن سعيد وغيره عن سليمان التيمي والقول فيه قول بن المبارك إذ الزيادة من الثقة مقبولة
    (المستدرك على الصحيحين)

    عن جندب قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من قرأ يس في ليلة ابتغاء وجه الله غفر له
    (موارد الظمان)

    عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” من قرأ (يس) في يوم وليلة ابتغاء وجه الله غفر له ” (رواه ابن السني في ” عمل اليوم والليلة)

    من قرأ (يس) في يوم وليلة ابتغاء وجه الله غفر له (البيهقي في شعب الإيمان من حديث معقل بن يسار)

    من قرأ (يس) في يوم وليلة ابتغاء وجه الله غفر له (رواه الطبراني في الدعاء)

    من قرأ (يس) في يوم وليلة ابتغاء وجه الله غفر له (الدارمي في سننه)
    عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” من قرأ (يس) في يوم وليلة ابتغاء وجه الله غفر له. (الأذكار للنووي)

    adapun surat Al Kahfi telah banyak hadist yang menganjurkan membacanya pada malam jum’at (namun yang kita bahas adalah surat yasin)
    kesimpulan
    1. hadist keutamaan surat yasin tidak maudlu’
    2. hadist membaca surat Al Kahfi bukan merupakan bentuk anjuran yang mengkhususkan malam jum’at dengan surat Al Kahfi
    3. melihat hadist keutamaan surat yasin sunah dibaca malam hari, kemudian malam jum’at merupakan malam paling mulia, maka membaca surat Al Kahfi (sesuai keteranga di atas) dan surat Yasin adalah sama-sama sunah..
    wallohu ‘alam

  63. @ustadz ibnu suradi, saya yang bodoh ini masih menunggu jawaban panjenengan tentang pertannyaan saya “APAKAH TULISAN SEMATA MAMPU MEWAKILI MAKSUD KANJENG NABI SECARA MENYELURUH tanpa mau memperhatikan sanad atau silsilah suatu kabar..?? ”
    Dan sambil menunggu jawanan panjenegan akan saya sampaikan perihal keutamaan membaca surat Yasin..
    Di bawah ini saya copi paste buat ustadz ibnu suradi tentang kemaudlu’an fadlilah surat yasin (menurut golongan anda) dan bantahannya;
    sumber http://generasisalaf.wordpress.com/2012/11/21/menjawab-tuduhan-palsu-hadits-yasinan/

    ” Siapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jum’at maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya”.(Ibnul Jauzi, Al-Maudhu’at, 1/247).

    Keterangan :
    Hadits ini Palsu.
    Ibnul Jauzi mengatakan, hadits ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya.
    Imam Daruquthni berkata : Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits. (Periksa : Al-Maudhu’at, Ibnul Jauzi, I/246-247, Mizanul I’tidal III/549, Lisanul Mizan V/168, Al-Fawaidul Majmua’ah hal. 268 No. 944).(Oleh Syaikhuna wa Ustadzuna Yazid bin Abdul Qadir Jawwas)
    ———————————————————————–
    BANTAHAN :“Barangsiapa membaca (surat) Yasin pada malam hari dengan mengharap keridoan Allah, ia akan diampuni (dosanya).”

    Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam “Shahih”nya, Ibnus Sunni dalam “Amalul Yaumi wal Lailah”, Al Baihaqi dalam “Syuabul Iman” dan lain-lain.

    Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya tentang hadits ini, “Sanadnya bagus.”

    Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya “Nataijul Afkar fi Takhriji Ahaditsil Adzkar” berkata tentang hadits tersebut:

    هذا حديث حسن

    “Ini adalah hadits hasan.”

    Imam Suyuthi mengatakan tentang hadits ini:

    هذا إسناد على شرط الصحيح

    “Ini adalah sanad yang sesuai standar shahih.” (Sumber: Kitab “Al-La’ali Al-Mashnu’ah” karya Imam Suyuthi)

    Imam Syaukani berkata:

    حديث من قرأ يس ابتغاء وجه الله غفر له رواه البيهقي عن أبي هريرة مرفوعا وإسناده على شرط الصحيح وأخرجه أبو نعيم وأخرجه الخطيب فلا وجه لذكره في كتب الموضوعات

    “Hadits: Barangsiapa membaca Yasin dengan mengharap ridho Allah, ia akan diampuni. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Abu Hurairah secara marfu’ dan sanadnya sesuai standar Shahih. Diriwayatkan juga oleh Abu Nu’aim dan Al-Khathib. Maka, tidak ada alasan memasukkan hadits tersebut ke dalam kitab hadits-hadits maudhu’ (palsu).”

    (Sumber: Al-Fawaid Al-Majmu’ah karya Imam Syaukani 1/303 Bab Fadhlul Qur’an, Maktabah Syamilah)

    Kedua: “Bacakanlah surat Yasin atas orang yang hampir mati di antara kamu.” Riwayat Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban. (Bulughul Maram karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani)

    Imam Syaukani berkata dalam “Al-Fathur Rabbani” tentang hadits tersebut:

    والتنصيص على هذه السورة إنما هو لمزيد فضلها وشرفها

    “Disebutkannya nama surat tersebut hanya dikarenakan oleh adanya keutamaan dan kemuliaan yang lebih padanya.”

    Apakah itu mencakup orang yg hampir mati saja ato termasuk yg sudah mati?

    Dalam At-Taysiir, Al-Munawi berkata:

    وفي رواية ذكرها ابن القيم عند ( موتاكم ) أي من حضره الموت من المسلمين لأنّ الميت لا يقرأ عليه

    “..dalam riwayat yang disebutkan Ibnul Qayyim: yang dimaksud “mautakum” adalah muslim yang akan meninggal dunia, karena mayyit tidak perlu lagi dibacakan.”

    Kemudian beliau mengatakan:

    أو المراد اقرؤها عليه بعد موته والأولى الجمع

    “Atau bisa juga maksudnya adalah bacakanlah setelah kematiannya. Yang paling utama adalah digabungkan.”

    Berarti dibaca sebelum dan setelah meninggal. Wallahu a’lam.

    قال ابن القيم وخص يس لما فيها من التوحيد والمعاد والبشرى بالجنة لأهل التوحيد وغبطة من مات عليه لقوله يا ليت قومي يعلمون

    Ibnul Qayyim mengatakan, “Dikhususkannya Yasin karena di dalamnya terkandung ajaran tauhid, tempat kembali, berita gembira tentang surga untuk ahli tauhid dan kegembiraan orang yang meninggal di atas tauhid karena firman-Nya, “Seandainya kaumku mengetahui…” (At-Taysiir 1/390)
    ——————————————————-
    “Barangsiapa membaca (surat) Yasin pada malam hari dengan mengharap keridoan Allah, ia akan diampuni (dosanya).”

    Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam “Shahih”nya, Ibnus Sunni dalam “Amalul Yaumi wal Lailah”, Al Baihaqi dalam “Syuabul Iman” dan lain-lain.

    Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya tentang hadits ini, “Sanadnya bagus.”

    Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya “Nataijul Afkar fi Takhriji Ahaditsil Adzkar” berkata tentang hadits tersebut:

    هذا حديث حسن

    “Ini adalah hadits hasan.”

    Imam Suyuthi mengatakan tentang hadits ini:

    هذا إسناد على شرط الصحيح

    “Ini adalah sanad yang sesuai standar shahih.” (Sumber: Kitab “Al-La’ali Al-Mashnu’ah” karya Imam Suyuthi)

    Imam Syaukani berkata:

    حديث من قرأ يس ابتغاء وجه الله غفر له رواه البيهقي عن أبي هريرة مرفوعا وإسناده على شرط الصحيح وأخرجه أبو نعيم وأخرجه الخطيب فلا وجه لذكره في كتب الموضوعات

    “Hadits: Barangsiapa membaca Yasin dengan mengharap ridho Allah, ia akan diampuni. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Abu Hurairah secara marfu’ dan sanadnya sesuai standar Shahih. Diriwayatkan juga oleh Abu Nu’aim dan Al-Khathib. Maka, tidak ada alasan memasukkan hadits tersebut ke dalam kitab hadits-hadits maudhu’ (palsu).”

    ————————————————————–

    Ada lebih dari 10 hadis shahih menjelaskan keutamaan surat yasin, dan ratusan hadits dhoif yg menyebutkannya pula, maka keutamaannya sudah masyhur bagi mereka yg memahami ilmu hadits.

    berikut riwayat riwayat tsb, walau ada yg lafadhnya namun muncul dari riwayat muhaddits yg berbeda.

    عن الحسن عن جندب قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم من قرأ يس في ليلة ابتغاء وجه الله غفر له
    (صحيح ابن حبان)

    عن معقل بن يسار قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم واقرؤوا على موتاكم يس قال أبو حاتم رضي الله عنه قوله اقرؤوا على موتاكم يس أراد به من حضرته المنية لا أن الميت يقرأ عليه وكذلك قوله صلى الله عليه وسلم لقنوا موتاكم لا إله إلا الله
    (صحيح ابن حبان)

    عن معقل بن يسار رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم سورة يس اقرؤوها ثم موتاكم أوقفه يحيى بن سعيد وغيره عن سليمان التيمي والقول فيه قول بن المبارك إذ الزيادة من الثقة مقبولة
    (المستدرك على الصحيحين)

    عن جندب قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من قرأ يس في ليلة ابتغاء وجه الله غفر له
    (موارد الظمان)

    عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” من قرأ (يس) في يوم وليلة ابتغاء وجه الله غفر له ” (رواه ابن السني في ” عمل اليوم والليلة)

    من قرأ (يس) في يوم وليلة ابتغاء وجه الله غفر له (البيهقي في شعب الإيمان من حديث معقل بن يسار)

    من قرأ (يس) في يوم وليلة ابتغاء وجه الله غفر له (رواه الطبراني في الدعاء)

    من قرأ (يس) في يوم وليلة ابتغاء وجه الله غفر له (الدارمي في سننه)
    عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” من قرأ (يس) في يوم وليلة ابتغاء وجه الله غفر له. (الأذكار للنووي)

    adapun surat Al Kahfi telah banyak hadist yang menganjurkan membacanya pada malam jum’at (namun yang kita bahas adalah surat yasin)
    kesimpulan
    1. hadist keutamaan surat yasin tidak maudlu’
    2. hadist membaca surat Al Kahfi bukan merupakan bentuk anjuran yang mengkhususkan malam jum’at dengan surat Al Kahfi
    3. melihat hadist keutamaan surat yasin sunah dibaca malam hari, kemudian malam jum’at merupakan malam paling mulia, maka membaca surat Al Kahfi (sesuai keteranga di atas) dan surat Yasin adalah sama-sama sunah..
    wallohu ‘alam

  64. Jurus HIT and RUN (nongol n kabur alias tidak nyambung) adalah jurus ampuh andalan WAHABY cs.
    juosh……….josh……..jurus wahaby josh…….!!!!!
    top……top……………..jurus wahaby top……..!!!!!

  65. Bismillaah,

    Kang Alfeyd,

    Saya sudah menyampaikan definisi “Ahlussunnah wal Jamaah” yang ditayangkan dalam acara Khazanah Trans. Kini giliran anda untuk menjelaskan arti dan maksud kata “sunnah” dalam frasa “Ahlussunnah wal Jamaah”. Anda sudah berjanji untuk itu. Monggo.

    Wallaahu a’lam.

  66. Bismillaah,

    Kang Alfeyd,

    Afwan, anggap saja komentar saya sebelum ini tidak ada. Ternyata anda sudah menjelaskan definisi kata “sunnah” dalam frasa “Ahlussunnah wal Jamaah” sebagai berikut:

    B. sunah menurut Syara’

    مَاجَاءَ عَنِ النَّبِيّ ص مِنْ اَقْوَالِهِ وَاَفْعَالِهِ وَ تَقْرِيْرِهِ وَمَاهَمَّ بِفِعْلِهِ.
    “Apa-apa yang datang dari Nabi SAW berupa perkataan-perkataannya perbuatan-perbuatannya, taqrirnya dan apa-apa yang beliau cita-citakan untuk mengerjakannya”.

    Komentar:

    Nah, bila merujuk kepada definisi yang anda sampaikan tersebut, maka bisa dijelaskan bahwa Ahlussunnah wal Jamaah adalah orang yang mengikuti perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullaah shallallaahu ‘alahi wa sallam dalam kehidupan beragama Islam mulai dari keyakianan (aqidah), ibadah hingga muamalah. Mari kita cocokkan aqidah kita, ibadah kita, muamalah kita, dll dengan aqidah, ibadah, muamalah Rasulullaah sehingga kita layak disebut Ahlussunnah wal Jamaah.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi

      Mas Ibnu Suradi tercinta, ketika Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam mengirim Mu’adz bin Jabal ke Yaman, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam bertanya, dengan apa engkau akan memutuskan suatu perkara, maka Mu’adz menjawab dengan Al-Qur’an, bila tidak ada, dengan sunnah, dan bila tidak ada, dengan jalan ijtihad.

      ijtihad, hanya berlaku pada perkara yang zhanni, dugaan, yang masih mungkin di takwil atau diartikan lain. sedangkan pada perkara yang qhot’i, maka tidak berlaku ijtihad. dikalangan ahlussunahb wal jama’ah, sumber hukum yang telah disepakati adalah al-qur’an, hadist, ijma’, dan qiyas. kemudian masih ada yang lain, seperti istihsan, maslahah mursalah, ‘urf, syari’at umat terdahulu dsb, yang masih diperdebatkan. sedangkan at-tark, atau sesuatu yang tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam, bukan merupakan dalil dalam agama islam. yang menggunakan at-tark sebagai dali untuk mengharamkan sesuatu, hanya kelompok salafi wahabi.

      dikalangan kami telah disepakati, dalam masalah aqidah mengikuti rumusan Imam Abu Hasan Al Asy’ary dan imam Maturidi, sedangkan dalam masalah fiqih, mengikuti salah satu dari mazhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali), kemudian dalam masalah tasawuf dapat mengikuti tarekat Naqsabandiyah, alawiyah, samaniyah, ghazaliyah, syadziliyah dsb.

      1. Ustadz ibnu suradi : Nah, bila merujuk kepada definisi yang anda sampaikan tersebut, maka bisa dijelaskan bahwa Ahlussunnah wal Jamaah adalah orang yang mengikuti perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullaah shallallaahu ‘alahi wa sallam dalam kehidupan beragama Islam mulai dari keyakianan (aqidah), ibadah hingga muamalah. Mari kita cocokkan aqidah kita, ibadah kita, muamalah kita, dll dengan aqidah, ibadah, muamalah Rasulullaah

        saya : maaf ustadz ibnu suradi anda telah merubah definisi yang saya sampaikan, dengan kesimpulan yang anda buat, baiklah saya ulangi definisinya, sebagai berikiut “Apa-apa yang datang dari Nabi SAW berupa perkataan-perkataannya perbuatan-perbuatannya, taqrirnya dan apa-apa yang beliau cita-citakan untuk mengerjakannya” ingat disana ada dawuh ” وما هم بفعله ” dengan teks arabnya sebagai berikut:

        الشرح (فتح الباري – ابن حجر) صحيح البخاري
        قوله بسم الله الرحمن الرحيم
        كتاب الاعتصام بالكتاب والسنة الاعتصام افتعال من العصمة والمراد امتثال قوله تعالى واعتصموا بحبل الله جميعا الآية قال الكرماني هذه الترجمة منتزعة من قوله تعالى واعتصموا بحبل الله جميعا لأن المراد بالحبل الكتاب والسنة على سبيل الاستعارة والجامع كونهما سببا للمقصود وهو الثواب والنجاة من العذاب كما ان الحبل سبب لحصول المقصود به من السقي وغيره والمراد بالكتاب القرآن المتعبد بتلاوته وبالسنة ما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم من أقواله وأفعاله وتقريره وما هم بفعله والسنة في أصل اللغة الطريقة وفي اصطلاح الأصوليين والمحدثين ما تقدم وفي اصطلاح بعض الفقهاء ما يرادف المستحب قال بن بطال لا عصمة لأحد الا في كتاب الله أو في سنة رسوله أو في إجماع العلماء على معنى في أحدهما

        adakah ucapan saya yang mengatakan sesuai kesimpulan anda ??
        dan saya masih menunggu jawaban panjenengan tentang “APAKAH TULISAN SEMATA MAMPU MEWAKILI MAKSUD KANJENG NABI SECARA MENYELURUH tanpa mau memperhatikan sanad atau silsilah suatu kabar..?? ” monggo..

  67. @ Ibn Suradi..

    Perkataan antum:
    Nah, bila merujuk kepada definisi yang anda sampaikan tersebut, maka bisa dijelaskan bahwa Ahlussunnah wal Jamaah adalah orang yang mengikuti perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullaah shallallaahu ‘alahi wa sallam dalam kehidupan beragama Islam mulai dari keyakianan (aqidah), ibadah hingga muamalah. Mari kita cocokkan aqidah kita, ibadah kita, muamalah kita, dll dengan aqidah, ibadah, muamalah Rasulullaah sehingga kita layak disebut Ahlussunnah wal Jamaah.

    SEKEDAR BERTANYA KEPADA ANTUM:
    1. Tolong berikan dalil ekplisit (shohih dan shorih) yang menunjukkan bahwa Nabi SAW yang mulia membagi tauhid menjadi 3 sesuai pemahaman rekan2 wahabi?
    2. Tolong jelaskan pendapat dari ulama2 dari setiap generasi mulai dari abad ke-14 sampai dengan generasi Nabi dan sahabat yang sanad keilmuannya dapat dipertanggungjawabkan yang menyatakan bahwa cara ibadah rekan2 wahabi adalah satu-satunya yang paling benar dan sesuai dengan yang dicontohkan nabi?
    3. Tolong berikan kami, fakta dan bukti kesejarahan yang valid dan otentik bahwa sejarah berdirinya wahabism sampai dengan tatacara muamalah pendiri dan pengikutnya sesuai dengan perilaku mulia Nabi Muhammmad SAW?

  68. Bismillaah,

    Kawan-kawan semua,

    Apakah ada yang salah dengan perkataan saya:

    “Nah, bila merujuk kepada definisi yang anda sampaikan tersebut, maka bisa dijelaskan bahwa Ahlussunnah wal Jamaah adalah orang yang mengikuti perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullaah shallallaahu ‘alahi wa sallam dalam kehidupan beragama Islam mulai dari keyakianan (aqidah), ibadah hingga muamalah. Mari kita cocokkan aqidah kita, ibadah kita, muamalah kita, dll dengan aqidah, ibadah, muamalah Rasulullaah sehingga kita layak disebut Ahlussunnah wal Jamaah.”

    sehingga muncul reaksi yang mengaitkan saya dengan Wahabi seperti di antaranya sabagai berikut:

    “Tolong jelaskan pendapat dari ulama2 dari setiap generasi mulai dari abad ke-14 sampai dengan generasi Nabi dan sahabat yang sanad keilmuannya dapat dipertanggungjawabkan yang menyatakan bahwa cara ibadah rekan2 wahabi adalah satu-satunya yang paling benar dan sesuai dengan yang dicontohkan nabi?”

    Apakah hanya Wahabi yang terbiasa mencocokkan cara ibadahnya dengan cara ibadah Rasulullaah? Apakah NU, Muhammadiyah, Jamaah Tabligh, Ihwanul Muslimin, Hizbut Taahrir dan lain-lain tidak pernah mencocokkan cara ibadahnya dengan cara ibadah Rasulullaah?

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi

      Begini mas, orang yang anda jadikan rujukan dalam memahami al-qur’an dan hadist, apakah dia sudah mumpuni dan mencapai derajat mujtahid seperti Imam ibnu Hajar Al Haytami, Imam Ibnu Hajar Al As Qalani, Imam Nawawi, Imam Izzudin Ibn Abdissalam dll, yang mana semuanya bermazhab Syafi’iyyah. kemudian mengkoreksi tata cara sholat kami, padahal ilmunya masih diragukan, mengaku bermanhaj salaf, tapi bukan hidup digenerasi salaf, tidak pernah berteu, apalagi mengaji, kemudian menuduh bid’ah, sesat, syirik, dsb karena tidak sesuai dengan pendapatnya.

  69. Aqidah Ahlussunah wal Jama’ah……..

    Tanzih merupakan salah satu pilar agama. Allah ta’ala berfirman : dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (Q.S. as-Syura: 11). “Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya (Allah)”. (QS. Maryam: 65). Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al Qur’an yang berbicara tentang tanzih (mensucikan Allah dari menyerupai makhluk), at-Tanzih al Kulli; pensucian yang total dari menyerupai makhluk. Jadi maknanya sangat luas, dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah maha suci dari berupa benda, maha suci dari berada pada satu arah atau banyak arah atau semua arah. Allah maha suci dari berada di atas ‘arsy, di bawah ‘arsy, sebelah kanan atau sebelah kiri ‘arsy. Allah juga maha suci dari sifat-sifat benda seperti bergerak, diam, berubah, berpindah dari satu keadaan ke keadaan yang lain dan sifat-sifat benda yang lain.

    Allah ta’ala berfirman : “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menjadikan kegelapan dan cahaya” (Q.S. al An’am : 1).
    Dalam ayat ini Allah ta’ala menyebutkan langit dan bumi, keduanya termasuk benda yang dapat dipegang oleh tangan (Katsif). Allah juga menyebutkan kegelapan dan cahaya, keduanya termasuk benda yang tidak dapat dipegang oleh tangan (Lathif). Ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa pada Azal (keberadaan tanpa permulaan) tidak ada sesuatupun selain Allah, baik itu benda katsif maupun benda lathif. Dan ini berarti bahwa Allah tidak menyerupai benda lathif maupun benda katsif.

    Masing-masing benda memiliki batas, ukuran, dan bentuk. Allah ta’ala berfirman : “Segala sesuatu memiliki ukuran (yang telah ditentukan oleh Allah)” (Q.S. ar-Ra’d : 8).

    Semua benda ini memilki batas dan ukuran, sifat-sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya dan karenanya membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam ukuran tersebut.

    “Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku berada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang sekelompok dari penduduk Yaman dan berkata: “Kami datang untuk belajar agama dan menanyakan tentang permulaan yang ada ini, bagaimana sesungguhnya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah telah ada dan tidak ada sesuatu apapun selain Allah.” (HR. al-Bukhari).

    Allah ta’ala berfirman : “Allah-lah pencipta segala sesuatu.” (QS. al-Zumar : 62).

    Hadits dan Ayat Al-Qur’an tersebut menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak bertempat karena Allah la pencipta segala sesuatu, termasuk tempat. Allah subhanahu wa ta‘ala ada sebelum adanya makhluk, termasuk tempat.

    Jadi Allah ta’ala yang menciptakan alam ini dengan berbagai macam jenis dan bentuknya, maka Dia tidak menyerupainya, dari satu segi maupun semua segi. Allah ta’ala tidak menyerupai benda katsif maupun benda lathif dan juga tidak bersifat dengan sifat–sifat benda, Allah tidak menyerupai satupun dari segala sesuatu yang diciptakan-Nya, oleh karena itu Ahlussunnah mengatakan: “Allah ada tanpa tempat dan arah”.

    Ada dua metode untuk memaknai ayat-ayat mutasyabihat yang keduanya sama-sama benar :
    Pertama : Metode Salaf. Mereka adalah orng-orang yang hidup pada tiga abad hijriyah pertama. Yakni kebanyakan dari mereka mentakwil ayat-ayat mutasyabihat secara global (takwil ijmali), yaitu dengan mengimaninya serta meyakini bahwa maknanya bukanlah sifat-sifat jism (sesuatu yang memiliki ukuran dan dimensi), tetapi memiliki makna yang layak bagi keagungan dan kemahasucian Allah tanpa menentukan apa makna tersebut. Mereka mengembalikan makna ayat-ayat mutasyabihat tersebut kepada ayat-ayat muhkamat seperti firman Allah : ﴿ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىءٌ ﴾ (سورة الشورى: ۱۱)

    Maknanya: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya)”. (Q.S. asy-Syura: 11) Takwil ijmali ini adalah seperti yang dikatakan oleh imam asy-Syafi’i –semoga Allah meridlainya- :
    ” ءَامَنْتُ بِمَا جَاءَ عَنِ اللهِ عَلَى مُرَادِ اللهِ وَبِمَا جَاءَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ عَلَى مُرَادِ رَسُوْلِ اللهِ ”
    “Aku beriman dengan segala yang berasal dari Allah sesuai apa yang dimaksudkan Allah dan beriman dengan segala yang berasal dari Rasulullah sesuai dengan maksud Rasulullah”, yakni bukan sesuai dengan yang terbayangkan oleh prasangka dan benak manusia yang merupakan sifat-sifat fisik dan benda (makhluk) yang tentunya mustahil bagi Allah.

    Contoh :

    Dalam memahami firman Allah QS. Thaha: 5 (ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa), Imam asy-Syafi’i berkata:
    “Ini termasuk ayat mutasyâbihât. Jawaban yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya bagi orang yang tidak memiliki kompetensi di dalamnya adalah agar mengimaninya dan tidak –secara mendetail– membahasnya dan membicarakannya. Sebab bagi orang yang tidak kompeten dalam ilmu ini ia tidak akan aman untuk jatuh dalam kesesatan tasybîh. Kewajiban atas orang ini –dan semua orang Islam– adalah meyakini bahwa Allah seperti yang telah kami sebutkan di atas, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).

    Dalam risalah al-Washiyyah yang merupakan risalah akidah Ahlussunnah, al-Imâm Abu Hanifah menuslikan: “Istawâ ‘Alâ al-’Arsy Min Ghair An Yakûna Ihtiyâj Ilayh Wa Istiqrâr ‘Alayh” (Artinya; Dia Allah Istawâ atas arsy dari tanpa membutuhkan kepada arsy itu sendiri dan tanpa bertempat di atasnya).

    1. Kedua : Metode Khalaf. Mereka mentakwil ayat-ayat mutasyabihat secara terperinci dengan menentukan makna-maknanya sesuai dengan penggunaan kata tersebut dalam bahasa Arab. Seperti halnya ulama Salaf, mereka tidak memahami ayat-ayat tersebut sesuai dengan zhahirnya. Metode ini bisa diambil dan diikuti, terutama ketika dikhawatirkan terjadi goncangan terhadap keyakinan orang awam demi untuk menjaga dan membentengi mereka dari tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya).

      Dikalangan generasi salaf pun, ada juga yang melakukan takwil ayat-ayat mutasyabihat secara terperinci. Metode ini dipakai oleh para ulama Salaf terkemuka, seperti al-Imâm Abdullah ibn Abbas dari kalangan sahabat Rasulullah, al-Imâm Mujahid (murid Abdullah Ibn Abbas) dari kalangan tabi’in, termasuk al-Imâm Ahmad ibn Hanbal dan al-Imâm al-Bukhari dari golongan yang datang sesudah mereka.

      Al-Imâm al-Hâfizh al-Bayhaqi dalam kitab al-Asmâ’ Wa ash-Shifât menuliskan sebagai berikut: ”Al-Khaththabi berkata: Tidak sedikit dari beberapa Syaikh yang terperangkap dalam pencarian makna as-Sâq. Padahal telah ada takwil bagi ayat tersebut dari sahabat Abdullah ibn Abbas bahwa yang dimaksud adalah Allah dengan kekuasaan-Nya membukakan segala urusan yang sulit dari orang-orang mukmin saat itu”.

      Adapun takwil dari al-Imâm Mujahid adalah sebagaimana telah diriwayatkan oleh al-Hâfizh al-Bayhaqi takwil firman Allah swt. Qs. Al-Baqarah : 115 :
      ia (Mujahid) berkata: “Yang dimaksud dengan “Wajhullâh” adalah “Kiblatullâh” (kiblat Allah), maka di manapun engkau berada, baik di barat maupun di timur, engkau tidak menghadapkan mukamu kecuali kepada kiblat Allah tersebut” (Yang dimaksud adalah ketika shalat sunnah di atas binatang tunggangan, ke manapun binatang tunggangan tersebut mengarah maka hal itu bukan masalah)

      Adapun takwil dari al-Imâm Ahmad, juga telah diriwayatkan oleh al-Bayhaqi di dalam pembicaraan biografi al-Imâm Ahmad sendiri. Diriwayatkannya dari al-Hakim dari Abu ‘Amr as-Sammak dari Hanbal, bahwa al-Imâm Ahmad ibn Hanbal telah mentakwil firman Allah Qs. Al-Fajr : 22: bahwa yang dimaksud ayat ini bukan berarti Allah datang dari suatu tempat, tapi yang dimaksud adalah datangnya pahala yang dikerjakan ikhlas karena Allah. Tentang kualitas riwayat ini al-Bayhaqi berkata: “Kebenaran sanad riwayat ini tidak memiliki cacat sedikitpun”, sebagaimana riwayat ini telah dikutip oleh Ibn Katsir dalam kitab Târîkh-nya.

      Kemudian al-Hafzih al-Bayhaqi menuliskan:
      “Dalam peristiwa ini terdapat penjelasan kuat bahwa al-Imâm Ahmad tidak meyakini makna “al-Majî’” –dalam QS. al-Fajr di atas– dalam makna datangnya Allah dari suatu tempat. Demikian pula beliau tidak meyakini makna “an-Nuzûl” pada hak Allah yang –disebutkan dalam hadits– dalam pengertian turun pindah dari satu tempat ke tempat yang lain seperti pindah dan turunnya benda-benda. Tapi yang dimaksud dari itu semua adalah untuk mengungkapkan dari datangnya tanda-tanda kekuasaan Allah, karena mereka (kaum Mu’tazilah) berpendapat bahwa al-Qur’an jika benar sebagai Kalam Allah dan merupakan salah satu dari sifat-sifat Dzat-Nya, maka tidak boleh makna al-Majî’ diartikan dengan datangnya Allah dari suatu tempat ke tempat lain. Oleh karena itu al-Imâm Ahmad menjawab pendapat kaum Mu’tazilah dengan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah datangnya pahala bacaan dari surat-surat al-Qur’an tersebut. Artinya pahala bacaan al-Qur’an itulah yang akan datang dan nampak pada saat kiamat itu.

      Al-Hâfizh al-Bayhaqi meriwayatkan pula dari Abu Abd ar-Rahman Muhammad ibn al-Husain al-Sullami tentang takwil al-Imâm Sufyan ats-Tsawri dalam firman Allah Qs. Al-Hadid : 4, Al-Bayhaqi menuliskan sebagai berikut: “Mengkabarkan kepada kami Abu al-Hasan Muhammad ibn Mahmud al-Maruzi al-Faqih, berkata: Mengkabarkan kepada kami Abu Abdillah Muhammad ibn Ali al-Hafizh, berkata: Mengkabarkan kepada kami Abu Musa Muhammad ibn al-Mutsanna, berkata: Mengkabarkan kepadaku Sa’id ibn Nuh, berkata: Mengkabarkan kepada kami al-Hasan ibn Syaqiq, berkata: Mengkabarkan kepada kami Abdullah ibn Musa al-Dlabiyy, berkata: Mengkabarkan kepada kami Ma’dan al-‘Abid, berkata: Aku telah bertanya kepada Sufyan ats-Tsawri tentang makna firman Allah: ”Wa Huwa Ma’akum Aynamâ Kuntum” (QS. Al-Hadid: 4), beliau menjawab: “Yang dimaksud adalah Dia Allah bersama kalian dengan ilmunya (Artinya Allah mengetahui segala apapun yang terjadi, bukan dalam pengertian bahwa Dzat Allah mengikuti atau menempel dengan setiap orang)”

      Kemudian dalam kitab Shahîh al-Bukhâri dalam makna firman Allah Qs. Al-Qashas : 88. al-Imâm al-Bukhari mentakwilnya, beliau menuliskan: “Segala sesuatu akan punah kecuali kekuasaan Allah”, dapat pula ayat tersebut bermakna: “Segala sesuatu akan punah kecuali pahala-pahala dari kebaikan yang dikerjakan ikhlas karena Allah”.

  70. @Ibnu Suradi

    Menurut Mujassim Musyabbih salafi wahabi, ayat dan hadist yang berkaitan dengan sifat Allah subhanahu wa Ta’ala, harus dipahami secara zahir dan hakikatnya. Oleh karena itu, sebagaimana yang anda katakan, bahwa kita harus menyesuaikan aqidah kita dengan Rasulullah. Padahal, para ulama telah mengatakan, bahwa ahlussunah wal jama’ah adalah kaum Asy’ariyyah Maturidiyyah, di mana aqidah mereka sama dengan aqidah yang di bawa oleh Rasulullah, sahabat, tabi’in, tabi’i tabi’in dan seluruh ulama yang soleh dari kalangan ahlul bait dan ulama ulama mazhab. Namun, oleh salafi wahabi mujassim musyabbih mengatakan bahwa As’ariyyah dan Maturidiyyah adalah sesat, bahkan mereka melaknat Asy’ariyyah. oleh karena itu, sudihkah jika saudara menjawab pertanyaan di bawah ini.

    فَنَفَخْنَا فِيْها مِنْ رُوْحِنَا (الأنبياء: 91) [Makna literal ayat ini tidak boleh kita ambil, makna literalnya mengatakan: ”Maka Kami (Allah) tiupkan padanya (Maryam) dari ruh Kami”. Makna literal ini seakan mengatakan bahwa Allah adalah ruh yang sebagian dari ruh tersebut adalah ruh Nabi Isa]. ”Apa yang dimaksud ”Min Rûhinâ” , ”من روحنا”

    ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?,tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim)

    Bagaimana cara menyikapi kedua hadist berikut ini, yg secara dzhahir dan hakikat, saling bertentangan?

    Abdullah bin ‘Umar dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: ‘Pada hari kiamat kelak, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melipat langit. Setelah itu, Allah akan menggenggamnya dengan tangan kanan-Nya sambil berkata: ‘Akulah Sang Maha Raja. Di manakah sekarang orang-orang yang selalu berbuat sewenang-wenang? Dan di manakah orang-orang yang selalu sombong dan angkuh? ‘ Setelah itu, Allah akan melipat bumi dengan tangan kiri-Nya sambil berkata: ‘Akulah Sang Maha Raja. Di manakah sekarang orang-orang yang sering berbuat sewenang-wenang? Di manakah orang-orang yang sombong? “ (HR Muslim 4995).

    dengan

    Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb dan Ibnu Numair mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari ‘Amru -yaitu Ibnu Dinar- dari ‘Amru bin Aus dari Abdullah bin ‘Amru, -dan Ibnu Numair dan Abu Bakar mengatakan sesuatu yang sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dalam haditsnya Zuhair- dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang yang berlaku adil berada di sisi Allah di atas mimbar (panggung) yang terbuat dari cahaya, di sebelah kanan Ar Rahman ‘azza wajalla -sedangkan kedua tangan Allah adalah kanan semua-, yaitu orang-orang yang berlaku adil dalam hukum, adil dalam keluarga dan adil dalam melaksanakan tugas yang di bebankan kepada mereka.” (HR Muslim 3406)

    Hadits pertama (HR Muslim 4995) kalau dipahami dengan makna dzahir maka Allah ta’ala mempunyai dua buah tangan di mana tangan kanan untuk melipat dan menggenggam langit sedangkan tangan kiri untuk melipat bumi

    Hadits kedua (HR Muslim 3406) kalau dipahami dengan makna dzahir maka Allah ta’ala mempunyai dua buah tangan di mana kedua-duanya kanan.

    MOHON PENJELASANNYA, TERIMA KASIH.

    1. sekitar 25 tahun lalu menurut guru ngaji sy waktu sd pas ngaji kitab Tijanudaruri tentang sifat 20,,klw ada pertanyaan seperti ini jawab saja “yang dicipta itu takan sama dengan yang menciptanya” diibaratkan “suatu bentuk kopyah tidak akan sama dengan sipembuat kopyah”.

  71. Bismillaah,

    Kang Agung,

    Sebenarnya, penjelasan anda menunjukkan kepada kita bahwa kita musti terus belajar dengan menghadiri ta’lim dan membaca kitab-kitab ulama dengan bimbingan guru agar kita dapat mencocokkan cara beraqidah kita, cara beribadah kita, cara bermuamalat, dll dengan sunnah (perkataan, perbuatan dan ketetapan) Rasulullaah tentang aqidah, ibadah, muamalat, dll. Dengan demikian, pengakuan kita sebagai Ahlussunnah wal Jamaah tidak sekedar pengakuan, namun dibuktikan dalam amalan-amalan yang diperintahkan, dilakukan dan disetujui oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

    Itulah arti dan maksud kata “sunnah” dalam frasa “Ahlussunnah wal Jamaah” yang saya tangkap dari penjelasan Kang Alfeyd dan lain-lainnya.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi

      Kami telah menjelaskan bahwa ayat dan hadist mutasyabihat tidak boleh di maknai secara zahir dan hakikat, berdasarkan pemahaman generasi salaf. Diatas telah dijelaskan, bagaimana pemahaman generasi salaf terhadap ayat ayat mutasyabihat.

      Para ulama juga telah menjelaskan, bahwa Imam Abu Hasan Al As’ary, tidak membawa ajaran baru, beliau hanya menjelaskan dan mengkodifikasi aqidah generasi salaf yang soleh sehingga mudah di pahami. tetapi ummu hasanah dan abu dzar mengatakan bahwa Asy’ariyyah sesat, dan menyamakan Asy’ariyyah dengan Jahmiyyah.

      Didalam kitab mazhab yang empat, bertawassul dengan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam baik ketika masih hidup, maupun setelah meninggal dunia, adalah diperbolehkan. Namun kalian, menganggapnya syiri akbar.

    2. @Ibnu Suradi

      Selain Al-Qur’an dan sunnah, ada juga yang namanya ijtihad. ijtihad berlangsung sepanjang masa, tidak hanya terbatas pada generasi salaf. at-tark, atau sesuatu yang tidak di lakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam bukanlah dalil untuk mengharamkan sesuatu. kalau anda tidak percaya, lihat saja di kitab kitab ushul fiqih, tidak ada satupun yang mengatakan bahwa at-tark adalah dalil untuk menghukumi sesuatu. yang menjadikan at-tark sebagai dalil hanyalah salafi wahabi.

      ulama ulama yang soleh, sejak generasi salaf, semuanya satu dalam masalah aqidah, namun, dalam masalah fiqih, akan kita temui perbedaan di kalangan imam imam ahlussunah. kalau anda tidak percaya, ikuti saja majlis yang membahas perbandingan mazhab, dalam satu masalah saja, banyak perbedaan pendapat di kalangan mereka.

      Namun, imam imam ahlussunah tidak pernah memvonis bid’ah, sesat dsb kepada imam yang lainnya di karenakan berbeda pendapat. Para imam Imam mujtahid juga tidak pernah mempermasalahkan seseorang untuk taqliq kepada mazhab atau imam tertentu. beda dengan salafi wahabi, jika suatu pendapat berbeda dengan pendapat ulama ulama yang menjadi rujukan mereka, seperti ibnu taimiyyah, muhammad bin abdul wahab, bin baz, al bani, utsmaini dsb, maka akan mereka vonis ahlul bid’ah, sesat, syirik, quburiyyun dsb. padahal orang orang yang di jadikan rujukan oleh salafi wahabi, bukanah generasi salaf, tapi tanpa malu malu mengaku bahwa pemahaman mereka sesuai dengan pemahamn salaf yang soleh.

    3. @ibnu suradi

      saya ngeliat koment ente kayanya ente pengen bilang sesat sama pemahaman NU dan aswaja tapi ga ente ga punya dalil kuat, menyetujui amalannya bahkan dikasih dalilnya ente juga gengsi, jadi diskusi ente ama para ustadz disini ga ada yang lanjut ente selalu ganti topik.
      pertanyaan saya, saya harap ente jawab tegas, menurut ente NU dan pemahaman kami disini sesat atau tidak, udah sesuai dengan sunnah rasul atau tidak,
      layak tidak kami di sebut ahlussunnah waljamaah berdasarkan pemaparan para ustadz disini? berikan kami alasan.

      @all aswaja
      klo saya perhatiin para wahabi yang koment disini bukan nyari ilmu, tapi nyari menang dalam diskusi kita berikan saja kemenangan buat mereka lalu kita ucapkan “selamat anda menang, kami ngalah aja deh” biar mereka seneng kegirangan tapi tetep memberikan tausiyah buat mereka

  72. @Ustadz ibnu suradi : Nah, bila merujuk kepada definisi yang anda sampaikan tersebut, maka bisa dijelaskan bahwa Ahlussunnah wal Jamaah adalah orang yang mengikuti perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullaah shallallaahu ‘alahi wa sallam dalam kehidupan beragama Islam mulai dari keyakianan (aqidah), ibadah hingga muamalah. Mari kita cocokkan aqidah kita, ibadah kita, muamalah kita, dll dengan aqidah, ibadah, muamalah Rasulullaah

    saya : maaf ustadz ibnu suradi anda telah merubah definisi yang saya sampaikan, dengan kesimpulan yang anda buat, baiklah saya ulangi definisinya, sebagai berikiut “Apa-apa yang datang dari Nabi SAW berupa perkataan-perkataannya perbuatan-perbuatannya, taqrirnya dan apa-apa yang beliau cita-citakan untuk mengerjakannya” ingat disana ada dawuh ” وما هم بفعله ” dengan teks arabnya sebagai berikut:

    الشرح (فتح الباري – ابن حجر) صحيح البخاري
    قوله بسم الله الرحمن الرحيم
    كتاب الاعتصام بالكتاب والسنة الاعتصام افتعال من العصمة والمراد امتثال قوله تعالى واعتصموا بحبل الله جميعا الآية قال الكرماني هذه الترجمة منتزعة من قوله تعالى واعتصموا بحبل الله جميعا لأن المراد بالحبل الكتاب والسنة على سبيل الاستعارة والجامع كونهما سببا للمقصود وهو الثواب والنجاة من العذاب كما ان الحبل سبب لحصول المقصود به من السقي وغيره والمراد بالكتاب القرآن المتعبد بتلاوته وبالسنة ما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم من أقواله وأفعاله وتقريره وما هم بفعله والسنة في أصل اللغة الطريقة وفي اصطلاح الأصوليين والمحدثين ما تقدم وفي اصطلاح بعض الفقهاء ما يرادف المستحب قال بن بطال لا عصمة لأحد الا في كتاب الله أو في سنة رسوله أو في إجماع العلماء على معنى في أحدهما

    adakah ucapan saya yang mengatakan sesuai kesimpulan anda ??
    dan saya masih menunggu jawaban panjenengan tentang “APAKAH TULISAN SEMATA MAMPU MEWAKILI MAKSUD KANJENG NABI SECARA MENYELURUH tanpa mau memperhatikan sanad atau silsilah suatu kabar..?? ” monggo..

    1. Bismillaah,

      Kang Alfeyd,

      Saya yakin bahwa orang-orang yang mendapatkan ilmu agama Islam yang benar pasti belajar kepada gurunya yang mendapatkan ilmu dari gurunya yang mendapatkan ilmu gurunya yang mendapatkan ilmu dari gurunya dan seterusnya hingga rangkaian guru-gurunya itu bersambung kepada Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja ada orang yang bisa menyebutkan nama guru-gurunya dalam rangkaian sanad tersebut. Ada juga yang tidak dapat menyebutkan sanadnya.

      Jadi, yang terpenting adalah bahwa ilmu yang sampai kepada penuntut ilmu itu benar-benar datang dari Rasulullaah. Soalnya, banyak juga orang yang mengaku memiliki guru yang bersanad hingga kepada Rasulullaah, namun banyak ilmu yang ia peroleh ternyata bukan berasal dari Rasulullaah.

      Wallaahu a’lam.

  73. Bismillaah,

    Kang Agung,

    Benarkah bahwa arti dan maksud kata “sunnah” dalam frasa “Ahlussunnah wal Jamaah” adalah perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wassallam? Ini dulu yang musti disepakati sehingga diskusi ini dapat berjalan ke arah yang benar. Setelah itu, baru dijelaskan apa arti dan maksud kata “Jamaah” dalam frasa “Ahlussunnah wal Jamaah”.

    Wallaahu a’lam.

    Wallaahu a’lam.

  74. Kata as-Sunnah dalam tinjauan bahasa memiliki beberapa arti. Dalam al-Qâmûs al-Muhîth, al-Imâm al-Fairuzabadi menuliskan beberapa maknanya. Kata as-Sunnah, –dengan di-zhammah-kan pada huruf sin-nya–, di antara maknanya; wajah atau muka (al-Wajh), bulatan wajah (Dâ-irah al-Wajh), bentuk wajah (Shûrah al-Wajh), kening (al-Jab-hah), perjalanan hidup (as-Sîrah), tabi’at (ath-Thabî’ah), jalan menuju Madinah, dan hukum-hukum Allah; artinya segala perintah dan larangan-Nya (Hukmullâh). Al-Imâm Muhammad Murtadla az-Zabidi dalam Ithâf as-Sâdah al-Muttaqin menyebutkan bahwa di antara makna as-Sunnah dalam pengertian bahasa adalah jalan yang ditapaki (ath-Tharîqah al-Maslûkah).

    Demikian pula kata as-Sunnah dalam pengertian syari’at juga memiliki ragam definisi, di antaranya; as-Sunnah dalam makna sejarah hidup Rasulullah dan ajaran-ajarannya, as-Sunnah dalam makna hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah; dari segala perkataannya, perbuatannya, ketetapannya, ataupun sifat-sifat pribadinya; baik sifat dalam makna gambaran fisik atau dalam makna akhlak-akhlak-nya, dan as-Sunnah dalam makna sesuatu yang apa bila dilakukan maka pelakunya akan mendapatkan pahala, namun bila ditinggalkan tidak berdosa.

    Adapun definisi Ahlussunnah Wal Jama’ah dalam pengertian terminologis adalah para sahabat Rasulullah dan orang-orang yang berpegang teguh dalam mengikuti ajaran-ajaran mereka.

    jadi, saya juga setuju dengan definisi yang telah anda sebutkan. sekarang saya tanya, at-tark, apakah termasuk kedalam pengertian sunnah yang telah anda sebutkan?

  75. Rasulullah dalam haditsnya, sebagai berikut:
    “Aku berwasiat kepada kalian untuk mengikuti sahabat-sahabatku, kemudian orang-orang yang datang sesudah mereka, kemudian orang-orang yang datang sesudah mereka”. Dan termasuk dalam rangkaian hadits ini: “Hendaklah kalian berpegang kepada mayoritas (al-Jamâ’ah) dan jauhilah perpecahan, karena setan akan menyertai orang yang menyendiri. Dia (Setan) dari dua orang akan lebih jauh. Maka barangsiapa menginginkan tempat lapang di surga hendaklah ia berpegang teguh kepada (keyakinan) al-Jamâ’ah”. (HR. at-Tirmidzi. Ia berkata: Hadits ini Hasan Shahih. Hadits ini juga dishahihkan oleh al-Imâm al-Hakim).

    Mayoritas umat Rasulullah, dari masa ke masa dan antar generasi ke generasi adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Mereka adalah para sahabat Rasulullah dan orangorang sesudah mereka yang mengikuti jejak para sahabat tersebut dalam meyakini dasar-dasar akidah (Ushûl al-I’tiqâd). Dasar-dasar keimanan adalah meyakini pokok-pokok iman yang enam (Ushûl al-Imâm as-Sittah) dengan segala tuntutan-tuntutan yang ada di dalamnya. Pokok-pokok iman yang enam ini adalah sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang dikenal dengan hadist Jibril: “Iman adalah engkau percaya dengan Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, serta beriman dengan ketentuan (Qadar) Allah; yang baik maupun yang buruk” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

    Jama’ah kaum muslimin, dari masa ke masa, dalam masalah teologi atau ushuluddin, berpaham Asy’ariyyah Maturidiyyah. Al-Imâm Tajuddin as-Subki (w 771 H) dalam Thabaqât asy-Syâfi’iyyah mengutip perkataan al-Imâm al-Ma’ayirqi; seorang ulama terkemuka dalam madzhab Maliki, menuliskan sebagai berikut: “Sesungguhnya al-Imâm Abu al-Hasan bukan satu-satunya orang yang pertama kali berbicara membela Ahlussunnah. Beliau hanya mengikuti dan memperkuat jejak orang-orang terkemuka sebelumnya dalam pembelaan terhadap madzhab yang sangat mashur ini. Dan karena beliau ini maka madzhab Ahlussunnah
    menjadi bertambah kuat dan jelas. Sama sekali beliau tidak membuat pernyataanpernyataan yang baru, atau membuat madzhab baru.

    Sesungguhnya al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari dan al-Imâm Abu Manshur al-Maturidi tidak datang dengan membawa ajaran atau faham baru. Keduanya hanya menetapkan dan menguatkan segala permasalahan-pemasalahan akidah yang telah menjadi keyakinan para ulama Salaf sebelumnya. Artinya, keduanya hanya memperjuangkan apa yang telah diyakini oleh para sahabat Rasulullah.

    MASALAHNYA, SALAFI WAHABI MENGAKU AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH, TAPI MENYESATKAN ASY’ARIYYAH MATURIDIYYAH. PADAHAL, SALAFI WAHABI ITU BERAQIDAH TASYBIH DAN TAJSIM.

  76. @Ibnu Suradi

    PERTAMA, TOLONG MAS, JAWAB JUGA PERTANYAAN SAYA DIATAS.

    KEDUA, APAKAH AT-TARK TERMASUK KEDALAM PENGERTIAN SUNNAH YANG TELAH ANDA SEBUTKAN?

    KETIGA, JIKA TIDAK ADA KETERANGAN DARI AL-QUR’AN DAN HADIST, BOLEHKAH PARA ULAMA BERIJTIHAD?

  77. @ustadz ibnu suradi anda telah memotong devinisi yang telah saya berikan dengan kesimpulan yang telah anda sampaikan.. sehingga pertanyaan saya kepada anda bertambah satu lagi..
    1. APAKAH TULISAN SEMATA MAMPU MEWAKILI MAKSUD NABI MUHAMMAD SECARA MENYELURUH tanpa mau memperhatikan sanad??
    2. kesimpulan yang anda sampaikan bersumber dari mana? ?? sedangkan saya telah mengoreksi devinisi yang dipaparkan golongan anda bahwa pengertian tersebut “entah diambil dari mana????”
    monggo…

  78. @mas agung, sebelum kita membahas attark alangkah baiknya kita koreksi dulu devinisi “SUNAH” menurut para wahabi, karena saya menemukan kecurangan tentang devinisi tersebut, kayaknya mereka memenggal kata “wa maa hamma bihi” dalam pengertian menurut ulama ushul fiqih, seperti yang telah saya uraikan dalam koment saya sebelumnya… afwan

  79. Ya. Setuju dg om alfeyd, kl kita tidak fokus dlm 1 topik mk syaikh ibnu suradi akan tambah senang krn jurus ampuhnya loncat2 kayak kera sakti akan dipakainya terus. Hati2 dengan jurus Hit n run nya syaikh ibnu suradi.

  80. Bismillaah,

    Saya juga setuju pada usul Kang Alfeyd untuk membahas pengertian kata “sunnah” dalam “Ahlussunnah wal Jamaah”.

    Untuk melengkapi penjelasan Kang Alfeyd dan Kang Agung, saya mengutip bagian dari artikel yang dimuat dalam almanhaj.or.id yang membahas pengertian kata “sunnah” sebagai berikut:

    As-Sunnah menurut bahasa (etimologi) adalah jalan/cara, apakah jalan itu baik atau buruk.[9]

    Sedangkan menurut ulama ‘aqidah (terminologi), As-Sunnah adalah petunjuk yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya, baik tentang ilmu, i’tiqad (keyakinan), perkataan maupun perbuatan. Dan ini adalah As-Sunnah yang wajib diikuti, orang yang mengikutinya akan dipuji dan orang yang menyalahinya akan dicela.[10]

    Pengertian As-Sunnah menurut Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah (wafat 795 H): “As-Sunnah ialah jalan yang ditempuh, mencakup di dalamnya berpegang teguh kepada apa yang dilaksanakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khalifahnya yang terpimpin dan lurus berupa i’tiqad (keyakinan), perkataan dan perbuatan. Itulah As-Sunnah yang sempurna. Oleh karena itu generasi Salaf terdahulu tidak menamakan As-Sunnah kecuali kepada apa saja yang mencakup ketiga aspek tersebut. Hal ini diriwayatkan dari Imam Hasan al-Bashri (wafat th. 110 H), Imam al-Auza’i (wafat th. 157 H) dan Imam Fudhail bin ‘Iyadh (wafat th. 187 H).”[11]

    Bila kawan-kawan menginginkan penjelasan lebih lengkapnya, silahkan berkunjung ke website yang saya sebutkan tadi.

    Waallaahu a’lam.

  81. jangan mudah LANGSUNG PERCAYA pada org yg keracunan WAHABY….!!!
    TERBUKTI…!!!! TERBUKTI….!!! TERBUKTI….!!!! WAHABY BUAAANYAAAAKKKK MALSU KITAB…..!!!!!
    Kitab AL ADZKAR karangan IMAM NAWAWI salah satu korbannya,,,,!!!!!!!
    Palagi cuma komennya syaikh SURADAI….!!!

    >>>>>>>>>INGAT KEJAHATAN MEMALSU KITAB BUKAN HANYA KARENA ADA NIAT DARI PELAKUNYA….!!! TAPI ADANYA KESEMPATAN…!!!!! WASPADALAH…!!! WASPADALAH…!!!!!!!>>>>>>>>>>>>

  82. MANA ADA JAWABAN SYAIKH SURADI YANG TUNTAS…!!!! KL GAK PERCAYA …!!! SILAHKAN BACA KOMEN2 DI ATAS DAN ARTIKEL LAIN….!!!
    jurusmu itu lho kang suradi…!!! MUANTAP………..HABISSSSSSSSSS……!!!!!!!

  83. Bismillaah,

    Kang Zaka,

    Anda jangan merusak diskusi dengan menyampaikan komentar yang tidak ada kaitannya dengan topik diskusi. Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berkatalah yang baik atau diam.”

    Wallaahu a’lam.

  84. BERHATI HATILAH DISKUSI DENGAN PENGIKUT MAZHAB PEMALSU KITAB WAHAI SAUDARAKU TERCINTA….!!!
    HATI – HATI DENGAN JURUS JURUS LICIK SEKTE YANG TELAH TERBUKTI MERUBAH KITAB AL ADZKAR IMAM NAWAWI DAN KITAB ULAMA SALAF LAIN….!!!
    yang merasa DIUNTUNGKAN oleh pemalsuan wahaby tidak usah mempercayai BERITA SHOHIH ini…….!!!!

  85. @ustadz ibnu suradi, hehehe apakah pemaparan yang sya tuliskan belum jelas…? saya menjelaskan devinisi fersi kami beserta devinisi dari golongan anda menurut ulama ahli hadist dan ushul fiqih tapi anda malah lari ke devinisi menurut aqidah… mbok yao kalo diskusi yang nyambung… silahkan koreksi menurut pemahamn anda tentang devinisi sunah menurut ahli hadist dan ushul fiqih, kok kesan2nya anda tidak pernah menghormati lawan diskusi anda..

    adapun jawaban anda mengenai pertanyaan saya “APAKAH TULISAN SEMATA MAMPU MEWAKILI MAKSUD NABI MUHAMMAD SECARA MENYELURUH tanpa mau memperhatikan sanad?? adalah sebuah bukti dari kebiasan ilmu anda.
    sedangkan kata anda yang berbunyi “Soalnya, banyak juga orang yang mengaku memiliki guru yang bersanad hingga kepada Rasulullaah, namun banyak ilmu yang ia peroleh ternyata bukan berasal dari Rasulullaah.” lebih2 kalau kita mau jujur mencermati syekh albani sang muhadist tanpa sanad, lawong yang jelas sanadnya saja masih mungkin ada tuduhan “namun banyak ilmu yang ia peroleh ternyata bukan berasal dari Rasulullaah.” apa lagi yang gak punya sanad aduh….aduh…

  86. Bismillaah,

    Kang Alfeyd,

    Tentang arti dan maksud kata “sunnah” dalam frasa “Ahlussunnah wal Jamaah”, saya hanya menyampaikan penjelasan yang bisa jadi sebagai tambahan penjelasan anda dan Kang Agung. Dengan lebih banyak penjelasan, maka kita akan mendapatkan masukan yang lengkap untuk memahami arti dan maksud kata “sunnah”.

    Tentang sanad, saya yakin guru yang benar-benar bersanad bersambung hingga ke Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, hanya menyampaikan ilmu yang datangnya dari Rasulullaah, bukan dari yang lain.

    Sebaiknya, kita lanjutkan saja diskusi tentang arti dan maksud kata “sunnah”.

    Wallaahu a’lam.

  87. @ibnu suradi
    sebenernya diskusi ini tidak harus lanjut karena ente setuju dengan pemaparan ustad alfeyd dan ustad agung tentang definisi sunnah dan diskusi ini mandek karena ente muter lagi nanyain definisi sunnah yang sudah di jelaskan betul ga…?
    yang saya bingung sebenernya ente mau diskusi apaan sih ko muter lagi muter lagi..?

    @ustad alfeyd dan agung
    saran saya ga usah ngasih dulu pemaparan yang lebih jauh tentang yang dia tanyain karena dia juga belum memaparkan pemahaman apa yang yang dia tanyain! klo dia muter lagi muter lagi anggap saja dia menang dalam diskusi ini karena itu kayaknya yang dia mau

  88. ustadz ibnu suradi apakah devinisi “Apa-apa
    yang datang dari Nabi SAW berupa perkataan-
    perkataannya perbuatan-perbuatannya,
    taqrirnya dan apa-apa yang beliau cita-citakan
    untuk mengerjakannya” menurut anda tidak bisa mencakup seluruh dasar2agama islam? ? sehingga anda berani menambahi…!

    Adapun Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menurut saya mempunyai poin yang sama dengan devinisi yang saya sebutkan (perbedaan hanya dalam lafdz saja)

    dan sebenarnya yang menjadi devinisi menurut anda itu yang mana ? apakah ucapan anda yang “adalah petunjuk yang
    telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu
    ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya, baik
    tentang ilmu, i’tiqad (keyakinan), perkataan
    maupun perbuatan”
    atau yang ” adalah perkataan, perbuatan dan
    ketetapan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi
    wassallam.”

    ustadz ibnu suradi: Tentang sanad, saya yakin guru yang benar-benar bersanad bersambung hingga ke Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, hanya menyampaikan ilmu yang datangnya
    dari Rasulullaah, bukan dari yang lain.

    saya: berarti syaikh albani ilmunya bukan dari Rosululloh? ?? maaf saya hanya berusaha memahami dawuh panjenengan, karena kita tahu bahwa syaikh albani tidak mempunyai sanad.. lawong yang punya sanad masih anda ragukan lebih2 yang tidak punya sanad.. hehe

  89. mas abi raka mohon jangan panggil saya ustadz.. di atas saya masih banyak yang layak dan lebih layak untuk dipanggil ustadz.. ilmu saya masih masih masih sangat sedikit di banding ustadz agung dll…

    1. @alfeyd

      Jangan panggil saya ustadz, ilmu saya juga terbatas. bila anda mengetahui cela yg ada pada diri saya, mungkin menoleh pun anda takkan sudi.

  90. Bismillaah,

    Kang Alfeyd,

    Dari definisi kata “sunnah” yang disampaikan Kang Alfeyd, Kang Agung dan juga saya, bisa dirangkum bahwa “sunnah” berarti apa-apa yang datang dari Rasulullaah berupa perkataan, perbuatan, taqrir dan apa-apa yang dicita-citakan untuk beliau kerjakan berkenaan dengan keyakinan (aqidah), ibadah, muamalah dan lain-lainnya yang terkait dengan masalah agama Islam.

    Tentang sanad, sebaiknya kita kesampingkan dulu untuk membahasnya agar diskusi kita fokus pada topiknya, tidak menyebar ke masalah-masalah yang tidak langsung berkaitan dengan topik. Topik diskusi kita untuk saat ini adalah arti dan maksud kata “sunnah” dalam frasa “Ahlussunnah wal Jamaah”.

    Satu lagi, setiap kita bebas mengambil kesimpulan dan tidak harus sepakat dalam satu masalah. Yang penting, sampaikan saja ayat Qur’an, hadits dan perkataan ulama tentang masalah yang didiskusikan.

    Wallaahu a’lam.

  91. @ustadz ibnu suradi: Dari definisi kata “sunnah” yang disampaikan Kang Alfeyd, Kang Agung dan juga saya, bisa dirangkum bahwa “sunnah” berarti apa-apa yang datang dari Rasulullaah berupa perkataan, perbuatan, taqrir dan apa-apa yang dicita-citakan untuk beliau kerjakan berkenaan dengan keyakinan (aqidah), ibadah, muamalah dan lain-lainnya yang terkait dengan masalah agama Islam.

    saya : baru kali ini saya menemukan ada devinisi yang dapat dirangkum hehehehe… dan menurut pendapat saya ustadz agung tidak pernah menjelaskan arti/devinisi dari kata “sunah”, beliau cuma menjelaskan kepada kita perihal ahlu sunah wal jama’ah .. atau mungkin anda belum mengetahui arti dari kata “devinisi, ta’rif, pengertian, batasan, had ” dan kata “rangkum” …… oke saya akan mencoba menjelaskan kata “devinisi” dan “rangkum”
    a) devinisi ialah 1. suatu kata, frasa, atau kalimat yg mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri utama dr orang, benda, proses, atau aktivitas; batasan (arti); 2 rumusan tentang ruang lingkup dan ciri-ciri suatu konsep yg menjadi pokok pembicaraan atau studi;

    b) Rangkuman dapat diartikan sebagai suatu hasil merangkum atau meringkas suatu tulisan atau pembicaraan menjadi suatu uraian yang lebih singkat dengan perbandingan secara proporsional antara bagian yang dirangkum dengan rangkumannya (Djuharni, 2001). Rangkuman dapat pula diartikan sebagai hasil merangkai atau menyatukan pokok-pokok pembicaraan atau tulisan yang terpencar dalam bentuk pokok-pokoknya saja. Rangkuman sering disebut juga ringkasan, yaitu bentuk ringkas dari suatu uraian atau pembicaraan Pada tulisan jenis rangkuman, urutan isi bagian demi bagian, dan sudut pandang (pendapat) pengarang tetap diperhatikan dan dipertahankan. (tentangndha.blogspot.com/2011/04/pengertian-rangkuman-ringkasan.html)

    sehingga menurut saya kalau sesuatu hal / perkara sudah didefinisikan maka tidak bisa di rangkum(ringkas), karena definisi adalah meciri2kan atau menandai agar kata yang didefinisikan tidak dapat melebar keselain pokok pembahasan dan memasukan perkara yang tercakup dalam lingkupanya atau yang lebih dikenal dalam bahsa arab adalah “jami’ dan mani’nya” sehingga betul.. betul… betul…. betul… benar apa yang telah di katakan teman2 ASWAJA bahwa mereka tidak bisa memahami ucapan mereka sendiri

    adakah koment saya mulai awal pembahasan kata “sunah” sampai sekarang yang berusaha mengalihkan perhatian poin diskusi..??? setiap tuntutan anda telah saya uraikan, bahkan anda juga meng iya kan.

    ustadz ibnu suradi : Satu lagi, setiap kita bebas mengambil kesimpulan dan tidak harus sepakat dalam satu masalah. Yang penting, sampaikan saja ayat Qur’an, hadits dan perkataan ulama tentang masalah yang didiskusikan.

    saya : oleh karena itu saya mohon kepada anda jangan anda menghakimi kami tentang cara ibadah kami.. cara sholat kami.. cara berpakaian kami.. dll…, satu lagi pertanyaan saya kepada ustadz ibnu suradi menanggapi dawuh beliau “Yang penting, sampaikan saja ayat Qur’an, hadits dan perkataan ulama tentang masalah yang didiskusikan. ” PERNAHKAH ANDA MENAMPILKAN AYAT DAN HADIST DISERTAI PENDAPAT PARA ULAMA (dalam teks bahasa arab) YANG MU’TABAROH DALAM PEMBAHASAN KATA SUNAH ???

    cukup…cukup…cukup..cukup BRAVO ASWAJA eh salah(nanti dibilang bid’ah) TERUS BERJUANG ASWAJA…

  92. Bila kita cermati dari diskusi ini makin kelihatan mana yang jahil dan mana yg ‘alim.
    Salut buat jurus syaikh SURADI dg JURUS MUTER MUTERNYA alias MBULET…melingkar lingkar kayak ular…….
    SELAMAT SYAIKH SURADI. JURUS TUAN HUEBAT……!!!!!

  93. @Ibnu Suradi

    sebelumnya saudara berkata : “Dari definisi kata “sunnah” yang disampaikan Kang Alfeyd, Kang Agung dan juga saya, bisa dirangkum bahwa “sunnah” berarti apa-apa yang datang dari Rasulullaah berupa perkataan, perbuatan, taqrir dan apa-apa yang dicita-citakan untuk beliau kerjakan berkenaan dengan keyakinan (aqidah), ibadah, muamalah dan lain-lainnya yang terkait dengan masalah agama Islam”.

    Yang perlu digaris bawahi dari kalimat anda adalah : “….dan lain-lainnya yang terkait dengan masalah agama Islam……”.

    Saya mau tanya mas, salah satu tujuan islam adalah untuk memperbaiki budi pekerti. Di daerah kami, biasa memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan kamu, sebagai bentuk penghormatan. sedangkan pada orang yang lebih muda, maka akan di panggil kau. dimana kamu dan kau digunakan sebagai kata pengganti dari nama yang bersangkutan. seseorang yang memanggil orang lain yg lebih tua darinya dengan sebutan kau, maka orang tersebut dianggap kurang ajar, tidak tahu sopan santun. sedangkan didaerah lain, kata pengganti untuk memanggil orang lain, adalah kau, dan tidak dibedakan antara orang yang lebih tua atau lebih muda.

    pertanyaan saya adalah, apakah perbuatan tersebut termasuk bid’ah yang diancam masuk neraka karena tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad?

  94. @Ibnu Suradi

    Sebelumnya anda berkata : “As-Sunnah menurut bahasa (etimologi) adalah jalan/cara, apakah jalan itu baik atau buruk. Sedangkan menurut ulama ‘aqidah (terminologi), As-Sunnah adalah petunjuk yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya, baik tentang ilmu, i’tiqad (keyakinan), perkataan maupun perbuatan. Dan ini adalah As-Sunnah yang wajib diikuti, orang yang mengikutinya akan dipuji dan orang yang menyalahinya akan dicela”.

    Tentu anda pernah mendengar hadist yang berbunyi : “Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang memulai perbuatan baik dalam Islam, maka ia akan memperoleh pahalanya serta pahala orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang memulai perbuatan jelek dalam Islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (HR. Muslim [1017]).

    redaksi hadist tersebut terdapat kalimat : “man sanna fil Islaam sunnatan hasanatan.” yang dimaksud dengan sunnah dalam teks hadits tersebut adalah sunnah secara lughawi (bahasa). Secara bahasa, sunnah diartikan dengan al-thariqah mardhiyyatan kanat au ghaira mardhiyyah (perilaku dan perbuatan, baik perbuatan yang diridhai atau pun tidak). sebagaimana yang anda katakan sendiri.

    Sunnah dalam teks hadits tersebut tidak bisa dimaksudkan dengan Sunnah dalam istilah ilmu hadits, yaitu ma ja’a ‘aninnabiy shallallahu alaihi wa sallam min qaulin au fi’lin au taqrir (segala sesuatu yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, baik berupa ucapan, perbuatan maupun pengakuan). Seandainya, Sunnah dalam teks hadits Jarir bin Abdullah al-Bajali tersebut dimaksudkan dengan Sunnah Rasul shallallahu alaihi wa sallam dalam terminologi ahli hadits, maka pengertian hadits tersebut akan menjadi kabur dan rancu.

    dalam teks hadits tersebut ada dua kalimat yang belawanan, pertama kalimat man sanna sunnatan hasanatan. Dan kedua, kalimat berikutnya yang berbunyi man sanna sunnatan sayyi’atan. Nah, kalau kosa kata Sunnah dalam teks hadits tersebut kita maksudkan pada Sunnah Rasul shallallahu alaihi wa sallam dalam terminologi ahli hadits tadi, maka akan melahirkan sebuah pengertian bahwa Sunnah Rasul shallallahu alaihi wa sallam itu ada yang hasanah (baik) dan ada yang sayyi’ah (jelek). Tentu saja ini pengertian sangat keliru. Oleh karena itu, para ulama seperti al-Imam al-Nawawi menegaskan, bahwa hadits man sanna fil islam sunnatan hasanatan, membatasi jangkauan makna hadits kullu bid’atin dhalalah, karena makna haditsnya sangat jelas, tidak perlu disangsikan.

    konteks yang menjadi latar belakang (asbab alwurud) hadits tersebut berkaitan dengan anjuran sedekah, maka alasan ini sangat lemah sekali. Bukankah dalam ilmu Ushul Fiqih telah kita kenal kaedah, al-’ibrah bi ’umum al-lafzhi la bi-khusush al-sabab, (peninjauan dalam makna suatu teks itu tergantung pada keumuman kalimat, bukan melihat pada konteksnya yang khusus).

  95. MONGGO DI RENUNGI…

    الكواكب اللماعة للأستاذ أبى الفضل بن الشيخ عبد الشكور السنورى ص : 8 – 9
    و كل من تلك الفرق يدعو الناس الى رأيه و مذهبه ثم لم تزل تظهر إثر أخرى حتى يفترق الناس الى فرق كثيرة و كل يزعم أنه على الحق فلم يزالوا يزدادون اختلافا حتى إذا لم يبق من قرن التابعين إلا القليل ظهرت فرقة أخرى سموا أنفسهم بأهل العدل والتوحيد وهم المعتزلة وحينئذ حدث اسم أهل السنة والجماعة للذين لازموا سنة النبى صلى الله عليه و سلم و طريقة الصحابة فى العقائد الدينية والأعمال البدنية والأخلاق القلبية.
    Artinya : setiap golongan mengajak manusia kepada pendapat dan madzhabnya, kemudian akan selalu tampak golongan yang lain sehingga manusia terpecah menjadi golongan-golongan yang banyak, dan setiap dari mereka mengaku bahwa mereka (berada) di atas (jalan yang) benar. Maka semakin bertambahlah perbedaan, hingga (akhirnya) ketika tidak ada lagi kurun tabi’in kecuali (hanya) sedikit terlihatlah golongan yang lain, mereka menamakan dirinya AHLI ADIL DAN AHLI TAUHID, dan mereka (itulah) kaum mu’tazilah. Dan ketika itu (munculnya golongan mu’tazilah pent.) datanglah nama Ahli Sunah wal Jama’ah (yang diperuntukan ) bagi mereka yang menetapi sunah Nabi dan jalannya shohabat di dalam aqidah agama dan amal-amal badaniyah serta akhlaq al qolbiyah.

    SILAHKAN KEPADA PARA PEMBACA UNTUK MENYIMPULKAN KIRA-KIRA DAWUH DI ATAS MENGARAH KEPADA SIAPA…?

    البريقة شرح الطريقة لأبى سعيد الخادمى القونوى ص :111- 112
    (قالوا من هى يا رسول الله قال ما) أى ملة (أنا عليه وأصحابى) وهى أهل السنة والجماعة من الماتريدية و الأشاعرة (فإن قيل) كل فرقة تدعى أنها أهل السنة والجماعة (قلنا ذلك لا يكون بالدعوى بل بتطبيق القول والفعل وذلك بالنسبة إلى زماننا إنما يمكن بمطابقة صحاح الأحاديث ككتب الشيخين وغيرهما من الكتب التى أجمع على وثاقتها كذا فى المناوى (فان قيل فما حال الاختلاف بين الأشاعرة والماتريدية (قلنا لاتحاد أصولهما لم يعد مخالفة معتدة إذ خلاف كل فرقة لا يوجب تضليل الأخرى ولا تفسيقها فعددنا ملة واحدة وأما الخلاف فى الفرعيات وإن كان كثرة اختلاف صورة لكن مجتمعة فى عدم مخالفة الكل كتابا نصا ولا سنة قائمة ولا إجماعا ولا قياسا صحيحا عنده وأن الكل صارف غاية جهده و كمال وسعه فى إصابة السنة وإن أخطأ بعض لقوة خفاء الدليل و لهذا يعذر و يعفى بل يؤجر
    Artinya: Para Sahabat bertanya “ siapakah mereka ya Rosululloh?” Nabi bersabda “(pent. orang-orang yang berada di) jalan yang aku menetapinya dan para sahabatku). Merekalah Ahlu Sunah wal Jama’ah dari golongan Al Maturidiyah dan Al Asya’iroh, apabila dikatakan setiap firqoh mengaku bahwa mereka Ahlu Sunah wal Jama’ah maka saya katakan (hal tersebut) tidak ada (hanya) dengan pengakuan bahkan dengan (cara) mencocokan ucapan dan prilaku. Adapun hal itu (Cara mencocokannya) dengan menisbatkan pada zaman kita, hanya bisa (kita cocokan) dengan hadist-hadist shohih seperti (yang terdapat di dalam) kitab Syaikhoini (Imam Bukhori dan Muslim) dan yang lainnya. Begitulah (keterangan) yang terdapat di Al Munawi. Apa bila diucapkan “ kenapa terjadi perbedaan diantara al Asya’iroh dan al Maturidiyah ?” maka saya katakan karena (ketika) masih tunggal pokok-pokoknya, maka hal itu tidak dianggap sebagai perbedaan, karena perbedaan (yang terjadi) pada setiap firqoh tidak (sampai) menyesatkan (menuduh sesat) pada yang lain dan tidak menuduh fasiq, maka saya anggap (hal tersebut masih) satu millah(aliran). Adapun perbedaan di dalam cabangan-cabangan walaupun banyak, (itu merupakan) perbedaan shuroh (kelihatannya saja berbeda) tetapi sama-sama tidak menselisihi Al Kitab, Al Sunah, Al Ijma’ dan Al Qiyas. Dan setiap firqoh telah berupaya sekuat mungkin dan menggunakan segala kemampuannya untuk sesuai al Sunah, (sehingga) apabila sebagian dari mereka salah karena sangat samarnya dalil maka mereka diampuni bahkan mereka diberi pahala.

    Istilah Aswaja ini muncul sekitar periode tiga ratus Hijri, dipelopori oleh Abi Hasan al-Asy’ari murid dari salah seorang tokoh Mu’tazilah bernama Syaikh Ali al-Juba’i. Menurut as-Subuki, selama 40 tahun lamanya al-Asy’ari berada dibelakang kelompok ini. Namun setelah melalui perenungan panjang nan mendalam, al-Asy’ari akhirnya sampai pada kesimpulan adanya kejanggalan-kejanggalan dari ajaran yang telah lama digelutinya ini, khususnya mengenai posisi akal pikir manusia di hadapan Nash al-Qur’an ataupun Hadits, serta kewajiban Alloh berbuat membalas kebajikan terhadap hambanya yang telah menjalankan kebajikan.
    Mengenai pendalaman lebih lanjut atas faham Aswaja ini, pada periode lampau tentu melalui pelacakan terhadap Hadits-hadits yang dinilai valid. Sebab tiada jalan lain untuk bisa memperoleh gambaran faham keagamaan seperti ajaran agama itu telah difahami Rosululloh dan para Sahabatnya, kecuali melalui telaah hadits secara kritis.
    Namun untuk saat ini, pendalaman itu cukup dilakukan melalui kajian mendalam atas kitab-kitab karya Ulama’ Salaf. Karena pada dasranya, kitab-kitab tersebut merupakan penjabaran dari nash-nas al-Qur’an dan Hadits, yang dihasilkan melalui analisa selektif dan konprehensif dengan tingkat kecermatan yang sangat tinggi.
    Untuk mengenal lebih mudah golongan Ahli Sunah wal Jama’ah dalam konteks terkini, KH. Hasyim Asy’ari pada sambutan pembukaan deklarasi berdirinya Jam’iyah Nahdlotul Ulama’ menandaskan : ciri ahli Sunah wal Jama’ah, adalah mereka yang dibidang fikih mengikuti faham Imam Abi Hanifah, Malik bin Anas, Syafi’i bin Idris atau Ahamad bin Hambal. Dibidang Tasawwuf mengikuti ajaran Syaikh Junaid al-Baghdady dan Imam Ghozali. Dan bidang Tauhid mengikuti Imam Abu al-Asy’ari atau Abu Mansur al-Maturidi.
    WALLOHU A’LAM

  96. Bismillah,

    Pak Ibnu Suradi@,

    Sepengetahuan kami yang cingkrang ini, Alloh tidak pernah menyebut baik dalam al qur’an maupun hadits qudsi-Nya terhadap sebuah kelompok dengan sebutan “Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”, pun juga demikian Rosululloh dan para sahabat tidak atau belum kami ketahui ada yang menyebut secara pasti terhadap sebuah golongan dengan sebutan “Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”
    Ringkasnya sebutan “Ahlus Sunnah Wal Jama’ah” adalah sebutan yang tidak terdapat dalam al qur’an maupun hadits… maka pertanyaan sederhananya adalah :

    – Masih sudikah anda disebut sebagai golongan yang tidak disebut dalam al qur’an maupun hadits ?

  97. Bismillaah,

    Kawan-kawan semua,

    Alhamdulillaah, penyampaian definisi kata “sunnah” yang disampaikan Kang Alfeyd dan Kang Agung telah menambah ilmu saya dan juga mungkin kawan-kawan lain tentang yang dimaksud kata “sunnah” dalam frasa “Ahlussunnah wal Jamaah”. Tambahan ilmu tersebut sangat membantu saya dan juga mungkin kawan-kawan dalam memahami apa itu “Ahlussunnah wal Jamaah”.

    Tentang hadits: “man sanna fil Islaam sunnatan hasanatan……”, jika kata “sunnatan hasanah” diartikan sebagai “perbuatan baik”, lalu bagaimana kita menentukan perbuatan itu baik atau tidak? Ukuran kebaikan ini harus jelas agar kita tidak main membuat kebaikan tanpa dasar yang jelas. Merujuk pada asbabul wurud untuk memahami maksud “sunnatan hasanah” adalah salah satu upaya untuk memperjelas ukuran kebaikan dalam hadits tersebut.

    Perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullaah itu sudah mencakup semua masalah agama termasuk, aqidah, ibadah, muamalah, akhlaq dan lain-lainnya. Panggilan “kamu” untuk orang yang lebih tua di daerah anda adalah penghormatan kepada orang yang lebih tua. Dan itu termasuk akhlaq. Rasulullaah mengajarkan uimat Islam untuk menyampaikan salam: “Assalaamu ‘alaikum” meski kepada satu orang. Padahal, “kamu” untuk satu orang adalah “ka”, bukan “kum”.

    Untuk Kang Alfeyd,

    Anda mengatakan bahwa merangkum adalah meringkas. Dan yang saya lakukan adalah meringkas penjelasan anda, Kang Agung dan saya tentang definisi kata “sunnah”. Sebaiknya, pembahasan kata “merangkum” ini jangan diperpanjang sehingga diskusi kita bisa fokus pada topik yang telah kita sepakati, yaitu arti dan maksud kata “sunnah”.

    Wallaahu a’lam.

  98. @Ibnu Suradi

    Banyak orang yang bukan ahli istidlal, kemudian berhukum langsung dengan al-qur’an dan hadist. Mereka merasa sudah mencapai derajat seperti Imam Nawawi dsb. padahal, orang orang tersebut tidak memenuhi sedikitpun dari kriteria seorang mujtahid. orang seperti inilah yang kemudian merusak agama, dan hanya menimbulkan fitnah dikalangan umat islam.

    Hadist tersebut, berdasarkan asbabul wurudnya, memang berkaitan dengan sedekah. Namun yang perlu anda perhatikan adalah kalimat berikutnya yang berbunyi man sanna sunnatan sayyi’atan. Pertanyaan kami untuk SYAIKH IBNU SURADI, apakah ada SUNNAH YANG BURUK?

  99. @Ibnu Suradi

    kemudian anda mengatakan, “lalu bagaimana kita menentukan perbuatan itu baik atau tidak? Ukuran kebaikan ini harus jelas agar kita tidak main membuat kebaikan tanpa dasar yang jelas”.

    Perlu anda ketahui, Tidak semua perkara dijelaskan secara terperinci dalam al-qur’an dan hadist. Dalam ushul fiqh dijelaskan bahwa jika sebuah ayat atau hadits dengan keumumannya mencakup suatu perkara, itu menunjukkan bahwa perkara tersebut masyru’. Jadi keumuman ayat atau hadits adalah dalil syar’i. Dalil-dalil umum tersebut adalah seperti:

    وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [سورة الحـجّ

    Maknanya: “Dan lakukan kebaikan supaya kalian beruntung” (Q.S. al Hajj: 77)

    Jadi dalil yang umum diberlakukan untuk semua cakupannya. Kaedah mengatakan:

    ” العَامُّ يُعْمَلُ بِهِ فِيْ جَمِيْعِ جُزْئِيَّاتِهِ “.

    “Dalil yang umum diterapkan (digunakan) dalam semua bagian-bagian (cakupannya)”.

    CONTOH

    “Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Saya mendoakan al-Imam al-Syafi’i dalam shalat saya selama empat puluh tahun. Saya berdoa, “Ya Allah ampunilah aku, kedua orang tuaku dan Muhammad bin Idris al-Syafi’i.” (Al-Hafizh al-Baihaqi, Manaqib al-Imam al-Syafi’i, 2/254).

    Do’a Imam Hambali terhadap Imam Syafi’i selama empat puluh tahun, tidak ada contohnya dari Al-qur’an dan hadist, yang ada hanya ayat al-qur’an dan hadist yang menjelaskan bahwa kita harus saling tolong menolong dan mendo’akan sesama muslim, dimana ayat dan hadist tersebut bersifat umum. Do’apun termasuk ibadah, apakah Imam Hambali ahlul bid’ah karena menyusun do’a yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.

    Pembacaan Al-Qur’an; orang boleh juga memilih apakah ia lebih suka membaca ayat demi ayat yang tertulis dalam kitab suci itu, ataukah hendak membacanya secara hafalan. Dia boleh memilih juga cara membacanya dengan sendirian atau membaca bersama dengan jama’ah. orang juga boleh membaca al-qur’an di waktu waktu tertentu, setelah sholat fardhu atau sholat sunnah, di waktu istirahat jam kantor, di dalam bus kota, di kereta api, yang penting tidak membaca al-qur’an di dalam WC.

    Cara pembacaan do’a; orang boleh mengutarakan sendiri apa yang menjadi isi hati dan permohonannya atau dengan membaca kumpulan-kumpulan kalimat tertentu yang telah disiapkan oleh para ahli penyusun do’a.

    Dalam hal menunaikan zakat dan shadaqah atau infak; semuanya itu adalah perintah agama, tapi orang boleh memilih cara yang dipandangnya terbaik. Ia boleh menyerahkan langsung kepada orang-orang yang berhak menerimanya, atau lewat panitia-panitia pengumpul zakat, badan-badan amal atau lembaga lembaga social.

    Majlis majlis taklim atau majlis ilmu. ada yang dilaksanakan khusus setiap selesai sholat berjama’ah di masjid. ada yang dilaksanakan setelah selesai kuliah, ada juga yang mengkhususkan disetiap hari minggu. pelaksanaannya pun berbeda beda. ada majlis ilmu, dimana sebelum memaparkan materi, di dahului dengan pembacaan al-qur’an oleh salah seorang peserta. ada juga pembacaan ad-qur’an dilakukan secara bergilir oleh peserta, dimana tiap peserta dibatasi pembacaan ayat al-qur’annya, misalnya maksimal 2 halaman al-qur’an. atau didahului oleh kata sambutan dari ketua panitia. model model dakwah seperti itu tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad saw.

    Demikian juga masalah menyusun kekuatan yang diperintahkan Allah swt. kepada ummat Muhammad saw. atau berjihad. jihad merupakan perintah agama, tapi Kita tidak terikat harus meneruskan cara-cara yang biasa dilakukan oleh kaum muslimin pada masa hidupnya Nabi saw., lalu menolak atau melarang penggunaan pesawat-pesawat tempur, tank-tank raksasa, peluru-peluru kendali, raket-raket dan persenjataan modern lainnya. strategi dan siasat perang pun disesuaikan dengan zaman.

  100. @Ibnu Suradi

    anda juga mengatakan : “Panggilan “kamu” untuk orang yang lebih tua di daerah anda adalah penghormatan kepada orang yang lebih tua. Dan itu termasuk akhlaq. Rasulullaah mengajarkan umat Islam untuk menyampaikan salam: “Assalaamu ‘alaikum” meski kepada satu orang. Padahal, “kamu” untuk satu orang adalah “ka”, bukan “kum”.

    anda ini sepertinya tidak mengerti maksud pertanyaan saya. akan saya perjelas lagi.

    pertama, didaerah kami, penggunaan kata “kamu” hanya ditujukan untuk orang yang lebih tua.

    kedua, didaerah kami, penggunaan kata “kamu” tidak digunakan untuk orang yang lebih muda.

    ketiga, didaerah kami, panggilan untuk orang yang lebih muda menggunakan kata pengganti “kau”.

    keempat, jika anda berdalil dengan kalimat “assalamu’alaikum”, hal tersebut tidak tepat, karena pengucapan salam tidak di khususkan hanya bagi orang yang lebih tua. Namun bersifat umum kepada setiap muslim tanpa memandang usia.

    kelima, kata ganti “kamu” hanya digunakan khusus untuk panggilan orang yang lebih tua. padahal pengkhususan tersebut tidak ada dalilnya dalam agama.

    keenam, didaerah lain, tidak ada pengkhususan kata pengganti. tua maupun muda, menggunakan kata pengganti kau.

    ketujuh, didaerah kami, penyebutan kata kau untuk orang yang lebih tua di anggap tidak beretika, kurang ajar, tidak tahu sopan santun. sedagka didaerah lain tidak.

    kedelapan, akhlak adalah bagian dari agama islam. sedangkan menurut salafi wahabi, segala sesuatu itu harus ada keterangan yang jelas dan terperinci dari Al-Qur’an dan hadist. bila tidak ada contoh dari Nabi Muhammad saw. maka hal tersebut bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, setiap kesesatan tempatnya di neraka.

    kesembilan, apakah warga kami ahlul bid’ah semua dan masuk neraka, karena mengkhususkan panggilan “kamu” hanya untuk orang yang lebih tua?

  101. @Ibnu Suradi

    contoh lagi Didalam majelis maulid ini selalu dikumandangkan sholawat, riwayat kisah Rasulallah saw. dan ceramah agama yang mana semuanya ini sangat baik dan sejalan dengan dalil-dalil hukum syara’ serta sejalan dengan kaidah-kaidah umum agama.

    Dalil sholawat, “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat sentiasa bersalawat kepada Nabi” (QS 33:56). Arti shalawat Allah swt.pada ayat ini menurut ahli tafsir berarti pujian Allah swt. terhadap Nabi saw., pernyataan kemuliaannya serta maksud meninggi- kan dan mendekatkannya, begitu juga sholawat para Malaikat kepada beliau saw. untuk memuji dan memuliakan Rasulallah saw.

    Dalil pembacaan riwayat dan kisah Rasulullah saw. “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu (para Nabi dan Rasul) terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal”. (S.Yusuf:111). Allah swt. didalam kitab suci Al-Qur’an telah menceriterakan riwayat-riwayat para Nabi dan Rasul berulang–ulang dibeberapa Surah. Umpama riwayat Nabi Isa as. dalam surah Maryam, disini kisah beliau mulai kelahirannya hingga dewasa, bahkan dikisahkan juga da’wah dan mu’jizatnya. Juga riwayat Nabi Ibrahim as banyak dalam Al-Qur’an, Nabi Yusuf as., Nabi Sulaiman as. dan nabi-nabi lainnya. Allah mengisahkan bagaimana kehidup- an, kemuliaan/kedudukan para Rasul ini dan lain sebagainya. Tidak lain tujuan dan maksud Allah swt. untuk mengisahkan riwayat para Nabi dan Rasul sebagaimana firman-Nya yang telah dikemukakan tadi adalah jelas untuk dijadikan pelajaran dan memperteguh iman dalam hati. Jadi kalau kisah para Nabi dan Rasul yang lain saja sudah sedemikian besar arti dan manfaatnya, apalagi kisah kelahiran dan kehidupan junjungan kita Nabi besar Muhammad saw., yang telah diriwayatkan sebagai penghulu para Nabi dan Rasul!

    Dalil ceramah agama. “Dan ingatkanlah, karena peringatan itu sesungguhnya bermanfaat bagi orang orang yang beriman”. (Adz Dhariyat: 55).

    Dimana kemudian, hal hal tersebut dikumpulkan menjadi satu, yang disebut dengan Maulid Nabi, yang biasanya lebih semarak lagi jika bertepatan dengan tanggal kelahiran Nabi Muhammad saw. Bukan dalam artian di luar tanggal tersebut, shalawat, ceramah, dan pembacaan kisah Nabi dan Rasul di larang dilakukan.

  102. Ustadz ibnu suradi :Untuk Kang Alfeyd, Anda mengatakan bahwa merangkum adalah meringkas. Dan yang saya lakukan adalah meringkas penjelasan anda, Kang Agung dan saya tentang definisi kata “sunnah”.

    saya: eeeee… lakok dibaleni manehhh… yang namanya DEVINISI itu tidak bisa diringkas ustadz ibnu suradi… sebenarnya ketika Devinisi sudah dituliskan apalagi dengan bahsa indonesia maka orang yang berfikir insyaAlloh akan langsung faham…, dan kalau anda merasa termasuk golongan orang yang berfikir seharusnya anda malu malu dan maaaaaluuuu ketika dijelaskan sebegitu detailnya…. atau dapat diambil benang merah, orang yang menjelaskan sangat detil kepada anda beranggapan bahwa anda………………………
    Satu lagi pertanyaan saya kepada anda “SEBENARNYA ANDA INI PESERTA DISKUSI ATAU PERUMUS ATAU TUTOR ATAUKAH PENJERUMUS…….?????????? lakok wani-wani meringkas, merangkum, menjami’kan dll.. ataukah perlu juga saya jelaskan arti DISKUSI kepada anda…??? lemes…lemes… seng sabar…

    ustadz ibnu suradi:Sebaiknya, pembahasan kata “merangkum” ini jangan diperpanjang sehingga diskusi kita bisa fokus pada topik yang telah kita sepakati, yaitu arti dan maksud kata “sunnah”.

    saya: oalah… ibnu suradi, oke saya akan memperhatikan dawuh panjenengan, sekaran jelaskan kata sunah menurut anda sekaligus teks aslinya (arab)… silahkan…monggo…tafadol.. ingat harus fokus jangan tanggapi komenku yang atas.

  103. @Ibnu Suradi

    CONTOH BID’AH DHOLALAH

    Ibn Bas dalam fatwanya nomor 19606, tanggal 24 bulan 4 tahun 1418 H berkata: “Sesungguhnya mentakwil teks al Qur’an dan Sunnah yang datang dalam menyebutkan sifat-sifat Allah adalah perbuatan menyalahi kesepakatan semua orang Islam dari mulai para sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang berada di atas jalan mereka hingga hari ini”.

    Entah dari mana Ibn Bas mengutip perkataannya yang ia sebut sebagai “kesepakatan semua orang Islam” ini. Padahal Imam an Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, j. 5, h. 24 cet. Dar al Fikr, mengutip perkataan al Qadli ‘Iyadl, menuliskan sebagai berikut: “Tidak ada perbedaan di kalangan semua orang Islam, baik para ahli fiqih di antara mereka, ahli hadits, ahli teologi (ahli tauhid), para ulama, maupun para muqallid-nya bahwa teks-teks yang zahirnya seakan menyebutkan Allah berada di langit, seperti firman-Nya “A-amintum man fissama’” dan semacamnya; bahwa itu semua tidak dipahami secara literal, tetapi semua itu dipahami dengan takwil, perkara ini telah disepakati oleh mereka semua”.

    Apa yang ditulis oleh al Qadli ‘Iyadl ini adalah kesepakatan (ijma/konsensus) Ahlussunnah Wal Jama’ah; bahwa takwil adalah metodologi yang harus dipakai dalam memahami teks-teks mutasyabihat. Adapun apa yang dikatakan Ibn Bas bahwa “takwil tidak boleh diberlakukan” yang disebutnya sebagai “kesepakatan”; maka itu adalah kesepakatan para Ahli Tasybih dan Tajsim dari dahulu hingga sekarang; termasuk di dalamnya faham Wahabi.

  104. dawuh ibnu suradi
    a) Kang Alfeyd, Dari definisi kata “sunnah” yang disampaikan Kang Alfeyd, Kang Agung dan juga saya, bisa dirangkum bahwa “sunnah” berarti apa-apa yang datang dari Rasulullaah berupa perkataan, perbuatan, taqrir dan apa-apa yang dicita-citakan untuk beliau kerjakan berkenaan dengan keyakinan (aqidah), ibadah, muamalah dan lain-lainnya yang terkait dengan masalah agama Islam.
    b)Untuk Kang Alfeyd, Anda mengatakan bahwa merangkum adalah meringkas. Dan yang saya lakukan adalah meringkas penjelasan anda, Kang Agung dan saya tentang definisi kata “sunnah”.

    saya: betul betul betul betul mereka tidak tahu apa yang mereka ucapkan, lihatlah komen ibnu suradi yang tertulis “Dari DEVINISI kata “sunnah” yang disampaikan Kang Alfeyd, Kang Agung dan juga saya, BISA DIRANGKUM bahwa dst…” (yang menurut saya) memberikan arti bahwa ibnu suradi meringkas devinisi…padahal devinisi itu merupakan ungkapan yang paling ringkas dan paling tepat sasaran ….. kemudian dia berkelit dengan tulisannya yang “Dan yang saya lakukan adalah meringkas penjelasan anda dst… ” PADAHAL dari dua komen ibnu suradi JELAS2 TERTULIS KATA “DEVINISI” DAN KATA “PENJELASAN”, sehingga saya bersasumsi mungkin ibnu suradi tidak mengetahui arti kata “DEVINISI” dan akhirnya saya menjelaskan arti “devinisi”, atau ibnu suradi sedang “sabqul qolam” artinya salah ketik karena terlalu bersemangat…hehehehehehe.. MBOH LAH SENG WARAS NGALAH….

  105. Untuk Ibn Suradi cs..

    Perhatikan:
    1) QS: An-Nisaa: 82

    “Afalaa yatadabbaruunalqur-aana walaw kaana min ‘indi ghayrillaahi lawajaduu fiihi ikhtilaafan katsiiraan”

    Artinya: Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau sekiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS:4:82)
    _____________________

    Mari pikirkanlah dengan hati yang jernih, mana yang pemahaman al-Qur’annya penuh dengan kontradiktif dan bertentangan dengan pendapat ulama2 yang mu’tabar, yang qualified dan legitimate ilmunya, bersanad sampai Rasululloh SAW, yang ilmunya diakui dan diikuti oleh hampir mayoritas ulama2 besar dan ummat islam dari setiap generasi…?

    Tidak ada satupun pemahaman Ahlussunah Wal Jamaah yang kontradiktif, karena Aswaja (Asy’ari-Maturidi-4 Mazhab) bersandar atas sanad keguruan yang shohih/mutawatir dan matan pemahaman yang terjaga serta bisa dibuktikan secara ilmiah.

    2) Al-Baqarah: 119
    “Innaa arsalnaaka bilhaqqi basyiiran wanadziiran walaa tus-alu ‘an ash-haabiljahiimi”

    Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka. (QS:2:119)
    ______________________

    Dalam tafsir Al-Azhar:

    إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ
    “Sesungguhnya telah Kami utus engkau dengan kebenaran. ” (pangkal ayat 119).
    Kebenaran ialah sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan oleh akal yang sehat, yang tidak akan dapat ditumbangkan oleh kisaran angin zaman, yang menolak akan segala yang salah, menentang yang bobrok, agak-agak dan angan-angan , per- dongeng-dongeng yang tidak berdasar. Kebenaran ialah yang menimbulkan thuma’ninah, yaitu ketenteraman di dalam batin orang yang menganutnya, dan menghilangkan keraguan. Kebenaran pada kepercayaan (i’tikad) tentang keesaan Allah, dan kebenaran tentang syariat dan peraturan yang disampaikanNya. Dengan itulah NabiMuhammad s.a.w diutus Tuhan kedunia ini.

    بَشِيْرًا
    “Pembawa berita gembira “,
    untuk barangsiapa yang menerima kebenaran itu. Berita yang menggembirakan hati mereka, baik di dunia atau kelak di akhi- rat karena tempat yang bahagia yang disediakan untuk mereka

    وَ نَذِيْرًا
    “dan peringatan ancaman”
    bagi barangsiapa yang tak sudi menerima kebenaran itu, ialah ancaman bahwa hidupnya di dunia akan sengsara dan di akhi- rat akan dihinakan dengan azab. Maka lantaran itulah tugas engkau, wahai utusanku yang membawa kebenaran , memberi – kan berita gembira bagi yang taat dan ancaman siksa bagi yang menolak, teguhlah engkau pada tugasmu itu dan bekerjalah terus, jangan berhenti:

    وَلاَ تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيْم
    “Dan tidaklah engkau akan ditanya dari hal ahli-ahli neraka.” (ujung ayat 119).
    Artinya sebagai penghubung untuk Rasul supaya pekerjaan beliau diteruskan. Yaitu menyampaikan kebenaran, menggembirakan yang taat dan menyampaikan berita pahit bagi yang menolak. Pekerjaan engkau ini memang berat dan banyak orang yang akan menentang nya, maka janganlah engkau ambil pusing segala tingkah­laku mereka. Tidaklah engkau yang akan ditanya tentang perangai orang-orang ahli neraka itu.

    Hal yang demikian sudahlah hal yang biasa bagi seorang Rasul. Karena seorang Rasul adalah seorang Mahaguru, bukan seorang pemaksa. Tunjukkan kepada mereka mudharat dan manfaat, tunjukkan kepada mereka betapa bahagianya jika mereka patuhi dan betapa bencana jika mereka masih saja berkeras kepala. Yang akan beroleh bahaya bukan orang lain, melainkan diri mereka juga.

    _________________

    Maka lihatlah perilaku Nabi yang mulia, Para Sahabat, Para Imam2 Mu’tabar, dan para ulama2 sholih Ahlussunah Wal Jamaah dalam bersikap ketika mendakwahkan agama ini… yang santun dan ilmiah dalam berhujjah… adapun masalah diterima atau tidak… itu tergantung orang tersebut apakah mau menerima kebenaran atau tidak? karena hidayah hanya milik ALLAH SWT semata…. Jika menerima kebenaran dapat pahala dan menolaknya mendapat kebalikannya…

    Jadi tugas teman2 Aswaja disini hanya menjelaskan pemahaman agama yang haq dan shohih yang bersanad sampai Rasululloh SAW diatas jalan Ahlussunnah Wal Jamaah yang benar (Asy’ari-Maturidi-4Mazhab)…

    Semoga Allah SWT yang maha pemberi petunjuk… selalu menunjukkan kita semua kepada jalan keselamatannya….

    ————————————-

    Wallahu’allam
    Adapun

  106. Bismillaah,

    Kang Agung,

    Saya sepakat dengan anda bahwa kata “sunnah” dalam “mansaana sunnatan” adalah perbuatan. Definisi-definisi yang disampaikan kawan-kawan di sini saya rasa sudah cukup. Sebagai pelengkap, saya akan menyampaikkan artikel yang “Pengertian Sunnah” sebagai berikut:

    Sudah dikenal bahwa di antara nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah salafiyyun. Maka alangkah baiknya kita mengenal makna Sunnah baik secara bahasa maupun istilah. Kemudian beralih menjelaskan nama-nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan menyebutkan sebab penamaan tersebut.

    Adapun arti Sunnah secara bahasa adalah thariqah dan Sirah (jalan, perjalanan hidup). Para ulama ahli bahasa berbeda pendapat: apakah arti Sunnah itu terbatas pada jalan yang baik saja ataukah mencakup jalan yang baik dan yang buruk?.

    Pendapat yang benar bahwa yang dimaksud dengan Sunnah secara bahasa adalah jalan yang baik atau buruk, diantara dalilnya yaitu sabda Nabi Shalallahu’alaihi wassalam : “Barangsiapa yang mencontohkan dalam Islam sunnah yang baik, maka bagi dia pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya. Barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang jelek, maka atasnya dosa dan dosa orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

    Rasullullah membagi sunnah dalam hadits tersebut menjadi sunnah yang baik dan sunnah yang buruk.

    Adapun pengertian sunnah menurut istilah, di sana ada pengertian menurut istilah ahli hadits dan istilah menurut ahli ushul dan ahl fiqih.

    Sedangkan menurut istilah ahli hadits yaitu, “apa yang disandarkan kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam baik berupa ucapan, perbuatan, ketetapan, atau sifat, baik fisik; akhlaq maupun perjalanan hidup, sebelum diangkat menjadi Nabi atau sesudahnya.”

    Adapun menurut istilah ahli ushul, “diungkapkan untuk setiap perkara yang dinukil dari Nabi Shalallahu’alaihi wassalam yang tidak terdapat dalam al-Qur’an, tetapi diungkapkan oleh Nabi Shalallahu’alaihi wassalam, baik sebagai penjelasan bagi al-Qur’an maupun tidak”.

    Sementara menurut istilah ahli fiqih, “diungkapkan untuk setiap perkara yang bukan wajib, dikatakan sesuatu itu sunnah yaitu bukan fardhu atau wajib, dan tidak pula haram atau makruh.”

    Tetapi makna sunnah menurut kebanyakan kalangan salaf lebih luas dari itu, karena mereka mengartikan sunnah dengan makna yang lebih luas dari makna menurut ahli hadits, ahli ushul dan ahli fiqih. Mereka mengartikan sunnah sebagai setiap perkara yang sejalan dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam serta para sahabatnya baik perkara I’tikad maupun ibadah, dan lawannya adalah bid’ah.

    Dikatakan si fulan berada di atas sunnah, jika amalan-amalannya sejalan dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam. Juga dikatakan si fulan di atas bid’ah, jika amalannya menyelisihi al-Qur’an dan as Sunnah atau salah satunya.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Istilah sunnah menurut ungkapan salaf mencakup sunnah dalam ibadah maupun i’tiqad, walaupun kebanyakan para penulis tentang sunnah menggunakannya untuk perkara-perkara i’tiqad.”

    Beliau berkata rahimahullah : “As Sunnah adalah pedoman yang Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam berada di atasnya berupa keyakinan, maksud, ucapan dan amalan.”

    Ibnu Rajab rahimahullah berkata : “Kebanyakan para ulama mutaakhirin mengkhususkan sunnah para perkara yang berkaitan dengan i’tiqad, karena itu merupakan pokok agama dan yang menyelisihinya berada dalam bahaya yang besar.”

    Penulis berkata: Lafadz sunnah jika diungkapkan dalam bab i’tiqad, maka yang dimaksud adalah agama secara sempurna, tidak sebagaimana yang diistilahkan oeh ahli hadits, ahli ushul atau ahli fiqih.

    Ibnu Rajab rahimahullah menambahkan, “As Sunnah adalah jalan yang ditempuh, mencakup:berpegang dengan pedoman yang ditempuh Nabi Shalallahu’alaihi wassalam dan para khalifahnya yang rasyidin, baik berupa i’tiqad, amalan maupun ucapan.”

    Dinukil dari kitab “Jadilah Salafi Sejati”, penulis Syaikh DR. Abdussalam bin Salim as Suhaimi, penerbit Pustaka at Tazkia, 2007

    Jadi, Ahlussunnah adalah …………

    Silahkan memulainya.

    Wallaahu a’lam.

  107. ibnu suradi : Sebagai pelengkap, saya akan menyampaikkan artikel yang “Pengertian Sunnah” sebagai berikut:

    saya : hehehe muncul lagi… bahasanya itu lo yang gak nguati “SEBAGAI PELENGKAP” HAHAHAH… kalo saya ya tetap memilih pendapat Ibnu Hajar (yang keilmuaanya telah mendunia dan asli salaf) dari pada Syaikh DR. Abdussalam bin Salim as Suhaimi
    KONTRADIKSI SEORANG IBNU SURADI
    1. tidak punya malu padahal malu sebagian dari iman
    عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بِنْ عَمْرٍو الأَنْصَارِي الْبَدْرِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
    [رواه البخاري ]
    2. lebih mengedepankan ulama kholaf padahal ngakunya mengikuti pemahaman manhaj salaf.
    3. tidak bisa memahami tulisannya sendiri tapi udah merasa paling bener.. ingin bukti silahkan ikuti diskusi saya dengan beliau…
    4. DAN LAIN-LAIN yang ada hubungannya dengan MBULETTTTT… afwan

  108. YANG JELAS BUKAN WAHABI HAHAHAHAHA…

    ظهر الإسلام الجزء الرابع ص: 65-67
    عرف هذا الإسم منذ أن جاء أبو الحسن الأشعري البصري. والأشعري هذا ربيب المعتزلة فقد تربى عليهم وأخذ الكلام منهم وقد روى السبكى فى طبقات الشافعية: ” أنه أقام على الإعتزال أربعين سنة حتى صار للمعتزلة إماما “. وقال حسين بن محمد العسكرى: ” كان الأشعري تلميذا للجبائى وكان صاحب نظر وذا إقدام على الخصوم وكان الجبائى صاحب تصنيف وقلم غال أنه لم يكن قويا فى المناظرة فكان إذا عرضت مناظرة قال للأشعري: نب عني. إلى أن قال…….إعتكف الأشعري في بيته 15 يوما يفكر في كل ما تعلم عن المعتزلة قالوا: ثم خرج الي الجامع وصعد المنبر وقال: معاشر الناس انما تغيبت عنكم هذه المدة لأني نظرت فتكافأت عندي الأدلة ولم يترجح عندي شيئ علي شئ فاستهيت الله الي اعتقاد ما اودعته فى كتب هذه وانخلعت من جميع ما أعتقد كما انخلعت من ثوبي هذا. وانخلع من ثوب كان عليه ورمى به. واول ما بلغنا من شكه وخروجه أنه ناظر استاذه الجبائي فقال الأشعرى له: ما قولك فى ثلاثة مؤمن وكافر وصبي ؟ فقال الجبائي المؤمن من أهل الدرجات والكافر من أهل الهلكات والصبي من أهل النجاة. فقال الأشعرى فإن أراد الصبي أن يرقى الى أهل الدرجات هل يمكن ؟ قال الجبائي لا ويقال له: إن المؤمن إنما نال هذه الدرجة بالطاعة وليس لك مثلها. قال الأشعرى فإن قال: التقصر ليس مني فلو أحييتني كنت عملت من الطاعات كعمل المؤمن قال الجبائي: يقول له الله: كنت أعلم أنك لو بقيت لعصيت ولعوقبت فراعيت مصلحتك وأمتك قبل أن تنتهي الى سن التكليف… قال الأشعرى: فلو قال الكافر: يا رب علمت حاله كما علمت حالي فهلا راعيت مصلحتي مثله ؟ فانقطع الجبائي. وهذه المناظرة مبنية على قول المعتزلة: إن الله تعالى يجب عليه مراعاة الأصلح للعبد فناقشه الأشعرى فى هذا المبدأ. ورووا مناظرة أخرى خلاصتها أن رجلا سأل الجبائي: هل يجوز أن يسمى الله عاقلا ؟ فقال الجبائي لا لأن العقل مشتق من العقال والعقال بمعنى المنع والمنع فى حق الله محال. فقال الأشعرى للجبائي: فعلى قياسك لا يسمى الله تعالى حكيما لأن هذا الإسم مشتق من حكمة اللجام وهى الحديدة المانعة للدابة عن الخروج الى ان قال… فإذا كان اللفظ مشتقا من المنع والمنع على الله محال لزمك أن تمنع اطلاق حكيما عليه تعالى فلم يجد الجبائي جوابا وسأل الأشعرى: ما تقول أنت ؟ قال: أجيز حكيما ولا أجيز عاقلا لأن طريقى فى مأخذ أسماء الله السماع الشرعى لا القياس اللغوي فأطلقت حكيما لأن الشرع أطلقه ومنعت عاقلا لأن الشرع منعه ولو أطلقه الشرع لأطلقته. وهكذا سار الجدل بينهما حتى انفصل الأشعرى عن الاعتزال.

    الكواكب اللماعة للأستاذ أبى الفضل بن الشيخ عبد الشكور السنورى ص: 8 – 9
    و كل من تلك الفرق يدعو الناس الى رأيه و مذهبه ثم لم تزل تظهر إثر أخرى حتى يفترق الناس الى فرق كثيرة و كل يزعم أنه على الحق فلم يزالوا يزدادون اختلافا حتى إذا لم يبق من قرن التابعين إلا القليل ظهرت فرقة أخرى سموا أنفسهم بأهل العدل والتوحيد وهم المعتزلة وحينئذ حدث اسم أهل السنة والجماعة للذين لازموا سنة النبى صلى الله عليه و سلم و طريقة الصحابة فى العقائد الدينية والأعمال البدنية والأخلاق القلبية.

    العلم النبراس فى التنبيه على منهج الأكياس للسيد عبد الله بن علوى بن حسن العطاس ص: 41 – 47 مطبعة عيسى البابى الحلبى
    وجاء فى التشديد فى البدع ومنتحليها وإعانتهم عليها وفى التمسك بطريق أهل السنة وهو ما كان عليه صلى الله عليه وسلم وآله وسلم هو وأصحابه وتابعوهم بإحسان أحاديث صحيحة منها ما رواه مسلم ما من نبى بعثه الله قبلى فى أمة إلا كان له من أمته حواريون وأصحاب يأخذون بسنته ويقتدون بأمره ثم إنه يخلف من بعدهم خلوف يقولون ما لا يفعلون ويفعلون ما لا يؤمرون فمن جاهدهم بيده فهو مؤمن ومن جاهدهم بلسانه فهو مؤمن وليس وراء ذلك من الإيمان حبة خردل

  109. Bismillaah,

    Saya lacak kembali komentar-komentar dari Kang Alfeyd dan Kang Agung tentang definisi kata “sunnah”.

    Definisi yang disampaikan Kang Alfeyd: “Sunnah adalah apa-apa yang datang dari Nabi SAW berupa perkataan-perkataannya perbuatan-perbuatannya, taqrirnya dan apa-apa yang beliau cita-citakan untuk mengerjakannya”

    Definis yang disampaikan Kang Agung: “Demikian pula kata as-Sunnah dalam pengertian syari’at juga memiliki ragam definisi, di antaranya; as-Sunnah dalam makna sejarah hidup Rasulullah dan ajaran-ajarannya, as-Sunnah dalam makna hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah; dari segala perkataannya, perbuatannya, ketetapannya, ataupun sifat-sifat pribadinya; baik sifat dalam makna gambaran fisik atau dalam makna akhlak-akhlak-nya.”

    Definisi yang saya sampaikan:

    Sedangkan menurut ulama ‘aqidah (terminologi), As-Sunnah adalah petunjuk yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya, baik tentang ilmu, i’tiqad (keyakinan), perkataan maupun perbuatan. Dan ini adalah As-Sunnah yang wajib diikuti, orang yang mengikutinya akan dipuji dan orang yang menyalahinya akan dicela.[10]

    Pengertian As-Sunnah menurut Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah (wafat 795 H): “As-Sunnah ialah jalan yang ditempuh, mencakup di dalamnya berpegang teguh kepada apa yang dilaksanakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khalifahnya yang terpimpin dan lurus berupa i’tiqad (keyakinan), perkataan dan perbuatan. Itulah As-Sunnah yang sempurna. Oleh karena itu generasi Salaf terdahulu tidak menamakan As-Sunnah kecuali kepada apa saja yang mencakup ketiga aspek tersebut. Hal ini diriwayatkan dari Imam Hasan al-Bashri (wafat th. 110 H), Imam al-Auza’i (wafat th. 157 H) dan Imam Fudhail bin ‘Iyadh (wafat th. 187 H).”[11]

    Semoga dari penyampaian definisi-definisi kata “sunnah” tersebut di atas, kita menjadi semakin memahami arti dan maksud kata “sunnah” dalam frasa “Ahlussunnah wal Jamaah”.

    Sekarang, bagaimana kalau kita melanjutkan pembahasan ke arti dan maksud kata “jamaah” dalam frasa “Ahlussunnah wal Jamaah”. Monggo dimulai.

    Wallaahu a’lam.

  110. ustadz ibnu suradi anda belum menegaskan kepada saya dari dua koment yang anda utarakan.. yakni koment anda ” adalah petunjuk yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya, baik tentang ilmu, i’tiqad (keyakinan), perkataan maupun perbuatan”

    atau yang ” adalah perkataan, perbuatan dan
    ketetapan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi
    wassallam.”

    dan sekarng tambah lagi ” Sedangkan menurut ulama ‘aqidah
    (terminologi), As-Sunnah adalah petunjuk yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya, baik tentang ilmu, i’tiqad (keyakinan), perkataan maupun perbuatan. Dan ini adalah As-Sunnah yang wajib diikuti, orang yang mengikutinya akan dipuji dan orang yang menyalahinya akan dicela.[10]

    sehingga bagi saya anda adalah benar2 orang yang kontradiktif, di satu sisi golongan anda selalu mengatakan KEMBALI KEPADA AL QUR-AN DAN AL HADIST, di sisi yang lain anda bersusah payah mencari-cari dan mengakomodir setiap informasi kata “sunah” guna mencapai tujuan golongan anda, padahal kata AHLI SUNAH WAL JAMAAH TIDAK TERDAPAT DI DALAM DALIL NASH, HAL ITU MUTHLAQ HANYA HASIL IJTIHAD.. sekarang siapa yang plin plan dan kontra diktif…??

    dan sebenarnya yang paling komplit dan paling ringkas (devinisi sunah) kalau kita mau jujur menelaah adalah apa yang telah disampaikan syaikh ibnu hajar yakni “Sunnah adalah apa-apa yang datang dari Nabi
    SAW berupa perkataan-perkataannya
    perbuatan-perbuatannya, taqrirnya dan apa-
    apa yang beliau cita-citakan untuk
    mengerjakannya”, ataukah mungkin saya harus menerangkan kata “jami’ dan mani” kepada anda????

    Setahu saya dalam kata “sunah” cuma ada devinisi fersi ushul fiqih, ahli hadist (digunakan untuk aqidah) dan fiqih (maaf bila saya salah karena kebodohan saya tentang hal itu), adapun tulisan anda mengenai fersi aqidah adalah murni bahasa bikinan dari golongan anda..
    sekali lagi dari analisa saya terbukti bahwa jargon “DENGAN PEMAHAMAN ULAMA SALAF” hanyalah sekedar slogan semata… anda lebih memilih ulama kholaf dari pada salaf..

    ibnu suradi: Sekarang, bagaimana kalau kita melanjutkan pembahasan ke arti dan maksud kata “jamaah” dalam frasa “Ahlussunnah wal Jamaah”.
    Monggo dimulai.

    saya: sejak kemarin pas anda menghilang saya sudah siap ustadz.. silahkan…

  111. Bismillaah,

    Kang Alfeyd,

    Pembahasan arti dan maksud kata “sunnah” sayar rasa sudah cukup. Perkataan sejumlah ulama tentang hal ini sudah kita sampaikan. Saya yakin peserta diskusi ini baik yang aktif maupun pasif dapat mengambil manfaat dari pembahasan ini.

    Sekarang kalau anda sudah siap menyampaikan penjelasan tentang arti dan maksud kata “jamaah” dalam frasa “Ahlussunnah wal Jamaah”, silahkan anda menyampaikannya. Semoga penjelasan anda membuat saya dan juga kawan-kawan yang lain lebih memahami kata “jamaah”.

    Wallaahu a’lam.

  112. ustadz ibnu suradi harus berapa kali saya mengingatkan saudara.. hormati lawan diskusi anda.. tanggapi tuntutan lawan diskusi anda… saya yaqin teman2 diskusi di web ini akan setuju dengan saya,BAHWA ANDA BUKANLAH ORANG YANG SEDANG BERDISKUSI, atau jangan2 anda tidak tahu arti DISKUSI…???????
    kalau anda ingin melanjutkan diskusi dengan saya, silahkan anda tanggapi tuntutan saya, kemudian ungkapkan devinisi jama’ah menuurut versi anda.. insyaAlloh saya akan menanggapi dengan penuh semangat.. monggo

    1. Menurut saya ustadz Ibnu Suradi nggak layak diskusi, dia cuma layak disejajarkan dengan Makhrus Ali sang Kiyai palsu Jawa Timur yg cuma bisa ngoceh semaunya saja. Rata2 Wahabi ya seperti inilah keadaannya.

      Kalau dalam diskusi offline jika merasa terpojok langsung ngacir tanpa pamit.

      Kalau diskusi online masih bisa tetap bertahan seperti Ibnu Suradi karena mukanya kan nggak kelihatan oleh penonton?

      Saya jadi ingat dg utsadz Ahmad Thoharong yg ngacir dari hadapan Buya Yahya sang ustadz Aswaja dari Cirebon.

    2. Bismillah,

      Mas alfeyd@, nitip masukan, mohon dipertajam penggunaan sebutan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari aspek historisnya, hal ini bagi kami penting artinya, karena setahu kami istilah tersebut bukanlah istilah yang dicanangkan oleh Syari’, sehingga pembahasannya akan semrawut jika hanya mengacu dari makna per-kata…

      Kami ambil contoh sebutan “AREMA” yang secara historis adalah diperuntukkan bagi pendukung sebuah cub sepak bola Jawa Timur (Arek Malang), meskipun secara harfiyah kata “AREMA” bisa berarti “Arek Madiun”, “Arek Magetan”, “Arek Magelang”….dst..

      Syukron.. lanjutkan mas…

  113. ustadz mamak du’a-akum… syukron untuk terus memantau dan membimbing saya…
    sekedar info bagi segenap pengunjung sebenarnya saya sudah mencantumkan sejarah munculnya aliran AHLU SUNAH WAL JAMA’AH baik dalam bahsa indonesia maupun bahsa arab, dan sengaja saya tidak menterjemahkan bahasa arab secara komplit disamping minimnya pengetahuan saya atas sastra arab juga untuk mengetahui sejauh mana teman2 wahabi mengetahui sastra arab yang terkenal dengan bahsanya yang paling indah dan paling sulit dipelajari…
    akhirnya silahkan anda menyimpulkan sendiri penguasaan bahasa arab para wahabiyin… dan layakah mereka ketika dengan sombongnya meremehkan pemahaman ulama terdahulu dengan slogan KEMBALI KEPADA AL QUR-AN DAN AL HADIST
    wallohu a’lam

  114. Bismillaah,

    Kang Alfeyd,

    Tujuan diskusi adalah terutama untuk mencapai kesepakatan. Meski sering terjadi diskusi tidak berakhir pada kesepakatan. Atau mencapai kesepakatan unuk tidak sepakat. Saya menyetujui definisi kata “sunnah” yang anda dan Kang Agung sampaikan. Jadi saya tidak perlu lagi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang anda sampaikan. Buat apa hal yang sudah disepakati dipertanyakan lagi.

    Jadi, sebaiknya kita mulai pembahasan arti dan maksud kata “Jamaah” dalam frasa “Ahlussunnah wal Jamaah”. Banyak orang mengartikan jamaah adalah mayoritas umat Islam di suatu tempat dan waktu. Karena di Indonesia mayoritas umat Islam adalah NU, maka jamaah adalah para kyai dan pengikutnya. Namun, setelah saya belajar, saya mendapatkan penjelasan yang berbeda. Penjelasan tersebut di antaranya seperti yang termaktub dalam artikel dipublish olehal atsariyah.com sebagai berikut:

    1. Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu tentang perpecahan ummat, Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda :
    وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ
    فِي رِوَايَةٍ : مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي
    “Sesunggunya agama (ummat) ini akan terpecah menjadi 73 (kelompok), 72 di (ancam masuk ke) dalam Neraka dan satu yang didalam Surga, dia adalah Al-Jama’ah”. (HR. Ahmad dan Abu Daud dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dan juga mirip dengannya dari hadits Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu)
    Dalam suatu riwayat, “(Al-Jama’ah adalah) siapa yang berada di atas seperti apa yang saya dan para shahabatku berada di atsnya”. (Hadits hasan dari seluruh jalan-jalannya)
    2. Hadits ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda :
    لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ الثَّيِّبُ الزَّانِي وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ
    “Tidak halal (menumpahkan) darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa saya adalah Rasululullah kecuali dengan salah satu dari tiga perkara : Orang yang telah berkeluarga yang berzina, jiwa dengan jiwa dan orang yang meninggalkan agamanya dan memisahkan diri dari Al-Jama’ah”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
    3. Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda :
    فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
    وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ …
    “… Karena sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari Al-Jama’ah walaupun sejengkal lalu dia mati kecuali dia mati di atas bentuk matinya jahiliyah”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
    Dan dalam riwayat Muslim, “Barangsiapa yang keluar dari ketaatan (kepada pemerintah) dan memisahkan diri dari Al-Jama’ah …”. (dari Shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
    Hanya saja yang perlu diketahui bahwa keenam penafsiran yang disebutkan oleh para ulama tidak ada yang saling bertentangan dan saling menafikan, bahkan semuanya menunjukkan makna Al-Jama’ah yang syar’i dalam Islam. Secara umum keenam penafsiran ini bisa dikembalikan kepada dua penafsiran sebagaimana yang diisyaratkan oleh imam Al-Khoththobi rahimahullah, yaitu :
    1. Jama’atul Adyan (Jama’ah dalam agama) yaitu pengikut kebenaran dari kalangan para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan para ulama dan selainnya, walaupun dia hanya seorang diri. Ini adalah penafsiran Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Imam Al-Barbary, Ibnu Katsir, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, Al-Bukhary, At-Tirmidzy dan lain-lainnya rahimahumullah.
    Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Al-Jama’ah adalah apa-apa yang sesuai dengan kebenaran walaupun engkau sendirian”.
    2. Jama’atul Abdan (Jama’ah badan) yaitu jama’ah kaum muslimin jika mereka bersepakat berkumpul di bawah satu pimpinan (Negara yang syah), dan ini adalah penafsiran Ibnu Jarir Ath-Thobary dan Ibnul Atsir rahimahumallah.
    Inilah dua makna Al-Jama’ah yang tsabit dan benar dalam syari’at Islam, tidak ada makna ketiga. Lihat kitab Al-‘Uzlah karya Al-Khoththoby rahimahullah.

    Semoga bermanfaat.

    Wallaahu a’lam.

  115. ustadz ibnu suradi : Kang Alfeyd, Tujuan diskusi adalah terutama untuk mencapai kesepakatan. Meski sering terjadi diskusi tidak berakhir pada kesepakatan. Atau mencapai kesepakatan unuk tidak sepakat. Saya menyetujui definisi kata “sunnah” yang anda dan Kang Agung sampaikan. Jadi saya tidak perlu lagi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang anda sampaikan. Buat apa hal yang sudah disepakati dipertanyakan lagi.

    saya : MULAI AWAL DISKUSI SAMPAI SEKARANG SAYA HANYA INGIN MEYAQINKAN DIRI SAYA, BENARKAH ANDA SEPERTI YANG DITUDUHKAN OLEH TEMAN2 DISINI..? ternyata benar adanya… anda tidak pernah bisa menghormati lawan diskusi …. anda selalu menghindar ketika dimintai untuk mempertanggungjawabkan tulisan anda.. sebenarnya keinginan saya yang bodoh ini cuma sederhana, yaitu kalau kita benar2 orang yang mencari ilmu pastilah kita akan legowo, nerimo, pasrah, ketika kalah dalam diskusi, dan mengakui kalau pemahaman kita mengenai agama hanyalah secuil, … misal; (yang sering tertulis dalam koment2 saya) “maaf bila saya salah karena kebodohan saya” atau yang sejenis… gitu aja kok repot….

    Ustadz ibnu suradi: Banyak orang mengartikan jamaah adalah mayoritas umat Islam di suatu tempat dan waktu. Karena di Indonesia mayoritas umat Islam adalah NU, maka jamaah adalah para kyai dan pengikutnya. Namun, setelah saya belajar, saya mendapatkan penjelasan yang berbeda. Penjelasan tersebut di antaranya seperti yang termaktub dalam artikel dipublish olehal atsariyah.com sebagai berikut:……

    saya: mari kita pelajari bersama apakah NU menyalahi aturan ataukah NU sesuai dengan kata “Jama’ah”
    1. hadist yang anda tampilkan

    وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ
    فِي رِوَايَةٍ : مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي

    mari kita kolaborasikan dengan hadist ini sesuai pemahaman ulama’ salaf
    حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ بْنِ سَعِيدِ بْنِ كَثِيرِ بْنِ دِينَارٍ الْحِمْصِىُّ حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ رَاشِدِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِى الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِى النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِى النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِى الْجَنَّةِ وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِى الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِى النَّارِ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ « الْجَمَاعَةُ ».
    سنن ابن ماجه 4127 (ج 12 / ص 142)
    Artinya: Dari Sahabat Auf bin Malik, beliau berkata: “Rosululloh SAW. bersabda: “Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, satu di dalam (masuk) Surga, 70 di neraka. Dan Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, 71 di Neraka, satu di dalam surga. Dan Demi Dzat yang menguasai diri Muhammad, sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, satu di surga dan 72 di neraka.” Dan diucapkan: “Wahai Rosululloh, siapakah mereka itu (Satu Masuk surga)?”. Nabi SAW. bersabda: “(yakni) AL JAMAAH”.

    الحديث الخامس عشر:
    (4)-قال رسول الله صلى الله عليه وسلم-“ذَرُوا الْمِرَاءَ، فَإِنَّ بني إِسْرَائِيلَ افْتَرَقُوا عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَالنَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهُمْ عَلَى الضَّلالَةِ إِلا السَّوَادَ الأَعْظَمَ”، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنِ السَّوَادُ الأَعْظَمُ؟ قَالَ:”مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ، وَأَصْحَابِي مَنْ لَمْ يُمَارِ فِي دِينِ اللَّهِ، وَمَنْ لَمْ يُكَفِّرْ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ بِذَنْبٍ غُفِرَ لَهُ”.
    (4) المعجم الكبير للطبراني – (ج 7 / ص 164)
    Artinya: -Rosululloh SAW. bersabda-: “Jauhilah perdebatan (yang tidak sesuai Syariat), karena Bani Isroil terpecah menjadi 71 golongan, dan Nasrani (terpecah) menjadi 72 golongan, semuanya tersesat kecuali GOLONGAN BESAR”. Para Sahabat bertanya: “Wahai Rosululloh, Siapakah GOLONGAN BESAR itu?”. Nabi SAW. bersabda: “Adalah mereka yang mengikuti sesuai apa yang ada padaku (Aku contohkan) dan para sahabatKU, orang yang tidak berdebat (yang tidak sesuai syariat) didalam urusan agama, dan orang yang tidak mengkafirkan orang lain dari ahli tauhid dengan dosa yang masih diampuni”.

    الحديث الرابع عشر:
    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ حَدَّثَنَا الْعَلاَءُ بْنُ زِيَادٍ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الشَّيْطَانَ ذِئْبُ الإِنْسَانِ كَذِئْبِ الْغَنَمِ يَأْخُذُ الشَّاةَ الْقَاصِيَةَ وَالنَّاحِيَةَ فَإِيَّاكُمْ وَالشِّعَابَ وَعَلَيْكُمْ بِالْجَماعَةِ وَالْعَامَّةِ والْمَسْجِدِ »
    مسند أحمد – (ج 48 / ص 128)
    Artinya: Dari Sahabat Mu’adz bin Jabal, Sesungguhnya Nabi SAW. bersabda: “Sesungguhnya Setan adalah serigala (bagi) manusia, seperti serigala (bagi) kambing, yang memakan kambing yang sendirian, jauhilah/takutlah pada perbedaan/perpecahan, dan tetaplah bersama JAMAAH yakni kebanyakan manusia (golongan besar orang mukmin) dan masjid”.

    فيض القدير – ج 2 / ص 443
    (إن الشيطان ذئب الإنسان كذئب الغنم) أي مفسد للإنسان أي بإغوائه ومهلك له كذئب أرسل في قطع من الغنم (يأخذ الشاة القاصية) أي البعيدة عن صواحباتها وهو حال من الذئب والعامل معنى التشبيه وهو تمثيل مثل حالة مفارقة الجماعة واعتزاله عنهم ثم تسلط الشيطان عليه بحالة شاة شاذة عن الغنم ثم افتراس الذئب إياها بسبب انقطاعها ووصف الشاة بصفات ثلاث فالشاذة هي النافرة والقاصية هي التي قصدت البعد لا عن تنفير (والناحية) بحاء مهملة التي غفل عنها وبقيت في جانب منها فإن الناحية هي التي صارت من ناحية الأرض ولما انتهى التمثيل حذر فقال (وإياكم والشعاب) أي احذروا التفرق والاختلاف ففي الصحاح شعب الشئ فرقه وشعبه أيضا جمعه فهو من الأضداد, وفي الأساس الشعب الطريق والنهر وظبي أشعب متباين القرنين جدا وتشعبتهم الفتنة (وعليكم بالجماعة) تقرير بعد تقرير وتأكيد بعد تأكيد أي الزموها وكونوا مع السواد الأعظم فان من شذ شذ إلى النار (والعامة) أي السواد الأعظم من المؤمنين

    طبقات الشافعية الكبرى – (ج 3 / ص 231)
    ذكر أتباعه الآخذين عنه والآخذين عن من أخذ عنه وهلم جرا
    اعلم أن أبا الحسن لم يبدع رأيا ولم ينش مذهبا وإنما هو مقرر لمذاهب السلف مناضل عما كانت عليه صحابة رسول الله فالانتساب إليه إنما هو باعتبار أنه عقد على طريق السلف نطاقا وتمسك به وأقام الحجج والبراهين عليه فصار المقتدى به فى ذلك السالك سبيله فى الدلائل يسمى أشعريا ولقد قلت مرة للشيخ الإمام رحمه الله أنا أعجب من الحافظ ابن عساكر فى عدة طوائف من أتباع الشيخ ولم يذكر إلا نزرا يسيرا وعددا قليلا ولو وفى الاستيعاب حقه لاستوعب غالب علماء المذاهب الأربعة فإنهم برأى أبى الحسن يدينون الله تعالى فقال إنما ذكر من اشتهر بالمناضلة عن أبى الحسن وإلا فالأمر على ما ذكرت من أن غالب علماء المذاهب معه وقد ذكر الشيخ شيخ الإسلام عز الدين بن عبد السلام أن عقيدته اجتمع عليها الشافعية والمالكية والحنفية وفضلاء الحنابلة ووافقه على ذلك من أهل عصره شيخ المالكية فى زمانه أبو عمرو بن الحاجب وشيخ الحنفية جمال الدين الحصيرى

    Jauh-jauh hari beliau Nabi Muhammad SAW., telah bersabda: “…dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 72 golongan,…”.

    Imam Al Munawi dalam kitab Faidlul Qodir memberikan ulasan “perpecahan” sebagai berikut:
    فيض القدير – (ج 2 / ص 26)
    (وتفرقت أمتي) في الأصول الدينية لا الفروع الفقهية إذ الأولى هي المخصوصة بالذم وأراد بالأمة من تجمعهم دائرة الدعوة من أهل القبلة.
    Artinya: “(perpecahan Umatku yang dimaksud dalam hadist adalah:) tentang aqidah dasar agama/tauhid, bukan perselisihan dalam pengembangan cabangan Ilmu Fiqh.dan yang di maksud Golongan adalah: Golongan muslim (Ahli Qiblat) yang berkumpul untuk berdakwah”

    Dan beliau Imam Al Munawi menjelaskan 73 golongan sebagai berikut:
    فيض القدير – (ج 2 / ص 26)
    (على ثلاث وسبعين فرقة) إلى أن قال… وأصول الفرق ستة حرورية وقدرية وجهمية ومرجئة ورافضة وجبرية وانقسمت كل منها إلى اثنتي عشرة فرقة فصارت اثنين وسبعين وقيل بل عشرون روافض وعشرون خوارج وعشرون قدرية وسبعة مرجئة وواحدة نجادية وواحدة فرارية وواحدة جهمية وثلاث كرامية وقيل وقيل.
    Artinya: “(Penjelasan: Umatku terbagi menjadi 73 golongan) sampai ucapan… Asal golongan ada enam: 1. Kharuriyyah. 2. Qodariyyah. 3. Jahmiyyah. 4. Murjiah. 5. Rofidloh. 6. Jabariyyah. dan masing-masing golongan terpecah menjadi 12 golongan, maka total ada 72 golongan (tambah satu yakni yang masuk surga: pen), Dan menurut sebagian pendapat: Rofidloh 20 golongan, Khowarij 20 golongan, Qodariyyah 20 golongan, Murjiah 7 golongan, Najadiyyah 1 golongan, Firoriyyah 1 golongan, Jahmiyyah 1 golongan, Karomiyyah 3 golongan. Dan pendapat-pendapat lain.”

    Dalam kitab Thobaqot al Syafi’iyyah al Kubro dijelaskan Imam Abu Hasan Al Asy’ari tidak menciptakan aliran baru, beliau hanya menetapkan (muqorir) madzhab salaf yaitu yang telah dijalani oleh para Shohabat Nabi SAW., sehingga memberikan kesimpulan bahwa penisbatan madzhab salaf kepada Imam Abu Hasan Al Asy’ari itu dikarenakan kecocokan aqidah, iqomatul hujjah dll kepada madzhab salaf, yang pada akhirnya ketika seluruh aliran mengaku2 mengikuti madzhab salaf (sahabat dan tabi’in) maka yang menjadi ciri-ciri madzhab salaf adalah yang sesuai dengan aqidah Asy’ariyah, sekali lagi saya tegaskan AL JAMA’AH dinisbatkan kepada Asy’ariyah murni hanya karena adanya keserasian antara As’ariyah dan manhaj salaf.

    kemudian kalau kita mencermati dawuh kanjeng Nabi
    قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنِ السَّوَادُ الأَعْظَمُ؟ قَالَ:”مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ، وَأَصْحَابِي مَنْ لَمْ يُمَارِ فِي دِينِ اللَّهِ، وَمَنْ لَمْ يُكَفِّرْ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ بِذَنْبٍ غُفِرَ لَهُ
    maka terbukti bahwa NU tidak pernah mengkafirkan orang yang bersyahadat, hal tersebut kebalikannya golongan wahabi, mulai kemunculannya yang menebarkan fitnah hingga masa kini..

    bahkan Ibnu Taimiyah pun juga mempunyai pandangan yang sama bahwa ahlu sunah adalah salaful ummah, coba anda simak
    الفتاوي الكبرى ابن تيمية الجزء الثالث ص: 49
    والقسم الثالث: هم أهل السنة والجماعة, وهم سلف الأمة وأئمتها ومن تبعهم بإحسان, أثبتوا ما أثبته الله في كتابه, وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم ونفوا ما نفاه الله في كتابه وسنة رسوله.

    SATU LAGI kalau anda masih meragukan GOLONGAN MAYORITAS ADALAH YANG BENAR coba anda pelajari dawuh kanjeng Nabi
    مسند أحمد – (ج 4 / ص 278)
    18641- حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عَبْدِوَيْهِِ ، مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ، حَدَّثَنَا أَبُو وَكِيعٍ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَلَى هَذِهِ الأَعْوَادِ، أَوْ عَلَى هَذَا الْمِنْبَرِ،: مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ، لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ، وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ، لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ. وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ، وَتَرْكُهَا كُفْرٌ، وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ، وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ. قَالَ: فَقَالَ أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ: عَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الأَعْظَمِ؟ قَالَ: فَقَالَ رَجُلٌ: مَا السَّوَادُ الأَعْظَمُ؟ فَقَالَ أَبُو أُمَامَةَ: هَذِهِ الآيَةُ فِي سُورَةِ النُّورِ {فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ}.
    Artinya: Dari Sahabat Nu’man bin Basyir, beliau berkata: “Rosululloh SAW. bersabda: -beliau berada di atas kayu atau Mimbar ini- “Barangsiapa yang tidak bersyukur pada hal kecil, maka dia tidak akan bersyukur atas hal besar, menceritakan kenikmatan termasuk syukur, perkumpulan (bersatu) adalah rahmat dan perpecahan adalah Adzab”. Sahabat Nu’man bin Basyir berkata: “Kemudian Sahabat Abu Umamah (meneruskan lafadz Sahabat Nu’man Bin Basyrir dan) berkata”: “Berpeganglah pada golongan yang besar”. Sahabat Nu’man bin Basyir berkata: “Ada lelaki yang bertanya”: “Apakah golongan besar itu?”. “Kemudian Sahabat Abu Umamah berkata”: “Adalah ayat ini, (yang tertera) didalam surat Annur (Ayat 54)”
    {فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ}.
    “dan jika kamu berpaling Maka Sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu”

    Iman Qurtubhi dalam Tafsirnya mengatakan عليكم بالسواد الاعظم adalah benar-benar hadist Nabi SAW.
    تفسير القرطبي – (ج 14 / ص 56)
    وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (عليكم بالسواد الاعظم. ومن فارق الجماعة مات ميتة جاهلية).
    Artinya: “Dan benar-benar bersabda Rosululloh SAW. (Berpeganglah pada golongan yang besar, dan Barangsiapa yang berpisah dengan Jamaah maka akan mati dengan keadaan mati Jahiliyyah)”.

    Oleh Imam Taftazani Syawadzul A’dlom dan Ahlu Sunnah Waljamaah berpengertian sama, sebagai berikut:
    التلويح على التوضيح الجزء الثاني ص: 91 الشيخ التفتازني الشافعي
    السواد الأعظم عامة المسلمين ممن هو أمة مطلقة, والمراد بالأمة المطلقة أهل السنة والجماعة, وهم الذين طريقتهم طريقة الرسول عليه السلام وأصحابه دون أهل البدع.
    Artinya: “Syawadzul A’dlom adalah Mayoritas Muslimin, yakni Umat Islam secara Mutlak. Dan yang dikehendaki Umat Islam secara Mutlak: Ahlu Sunnah Wal Jamaah, mereka adalah orang-orang yang sesuai dengan ajaran Rosululloh SAW. dan para sahabat Nabi SAW. bukan Ahli bid’ah”.

    DENGAN KESIMPULAN PALING AKHIR “NU” SEBAGAI “AHLI SUNAH WAL JAMA’AH” BUKAN KARENA NU MENJADI ORMAS TERBESAR DI INDONESIA, TAPI KARENA MELIHAT MANHAJ/ JALAN YANG DITEMPUH OLEH NU, DAN TERNYATA JALAN TERSEBUT SESUAI DENGAN MANHAJ SALAF sesuai yang telah saya paparkan…
    Wallohu a’alam

    1. Bismillaah,

      Kang Alfeyd,

      Saya menekankan bahwa saya tidak mengatakan bahwa NU menyalahi aturan. Dengan artikel yang saya posting, saya hanya ingin menyampaikan bahwa Jamaah adalah orang-orang yang berada di jalan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan benar. Jika di suatu kampung terdapat seseorang yang teguh mengikuti jalan Rasulullaah, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan benar di tengah-tengah banyak orang yang menyelishi jalan Rasulullaah, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan benar, maka ia adalah Jamaah meski dalam kesendirian seperti yang termaktub dalam atsar Ibnu Mas’ud yang telah saya sampaikan di atas.

      Jadi, banyaknya jumlah orang di suatu tempat dan waktu bukan ukuran untuk menentukan bahwa mereka adalah Jamaah. Yang menjadi ukuran untuk menentukan Jamaah adalah kesesuaian jalan mereka dengan jalan yang ditempuh oleh Rasulullaah, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan benar.

      Orang-orang NU, Muhammadiyah, PKS, HTI, Jamaah Tabligh, Majelis Rasulullaahnya Habib Munzir, dst masuk dalam Jamaah bila mereka berada di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullaah, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan benar. Begitu juga seseorang disebut dalam Jamaah bila ia berjalan di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullaah, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan benar walaupun ia sendirian di tengah banyak orang.

      Wallaahu a’lam.

      1. ustadz ibnu suradi: Saya menekankan bahwa saya tidak mengatakan bahwa NU menyalahi aturan

        saya: oke mari kita copi ulang tulisan saudara “Banyak orang mengartikan jamaah adalah mayoritas umat Islam di suatu tempat dan waktu. Karena di Indonesia mayoritas umat Islam adalah NU, maka jamaah adalah para kyai dan pengikutnya dst…
        Perlu anda ketahui, cara memahami tulisan atau ucapan seseorang bisa dengan cara manthuq, mafhum mukholafah, mafhum muwafaqoh dan yang tak kalah pentingnya adalah siyaqul kalam (rentetan topik pembicaraan) dan juga qorinah2 yang ada, namun ketika kita dialog melalui tulisan tentu saya akan berusaha untuk menggabungkan semua cara atau metode memahami tulisan.. entah itu yang tersurat atau yang tersirat.. contoh, tulisan anda (ketika anda mulai awal pembahsan sampai sekarang menganggap bahwa NU bukan AHLU SUNAH WAL JAMA”AH atau meragukannya) maka mempunyai arti bahwa NU menyalahi aturan, atau NU bukan golongan Ahlu sunah wal jama’ah, atau NU bukan termasuk firqoh annajiyah yang secara otomatis bisa juga NU MENYALAHI ATURAN, hal tersebut terbukti dengan ucapan anda “Namun, setelah saya belajar, saya mendapatkan penjelasan yang berbeda”… contoh lainnya; ketika ada ayah marah kepada anaknya kemudian sang ayah berkata ” kalau kamu tidak mau menuruti perintahku maka carilah ayah selain aku..!!! ” apakah ucapan ayah tadi berarti mengusir anaknya karena tidak mau mengikuti perintah ayahnya…??? contoh lain lagi firman Alloh “Siapa yang tidak ridho’ dengan ketentuanKU,(al furqon:2,asshoffaat:96) yang KU berikan padanya, tidak mau bersabar atas cobaanKU, tidak mau bersyukur,(hud:6) akan nikmat-nikmatKU, dan tiada menerima dengan pemberianKU, maka carilah tuhan selain AKU.” apakah kita benar2 disuruh untuk mencari tuhan selain Alloh SWT..?? ATAU MUNGKIN ILMU CARA MEMAHAMI TULISAN, ANDA ANGGAP BID’AH..?? atau jangan2 anda tidak tahu cara memahami tulisan..??

        ustadz ibnu suradi: Jadi, banyaknya jumlah orang di suatu tempat dan waktu bukan ukuran untuk menentukan bahwa mereka adalah Jamaah. Yang menjadi ukuran untuk menentukan Jamaah adalah kesesuaian jalan mereka dengan jalan yang ditempuh oleh Rasulullaah, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan benar.

        saya: silahkan anda cermati koment saya perihal Jama’ah, assawadhul a’dhom dst. yang telah saya paparkan dengan panjang lebar.. sehingga kalau kesimpulan anda tetap seperti itu… berarti anda DIGUYU CORO

        LAGIAN KENAPA SIH ANDA MENGKRITISI CARA SAYA MEMAHAMI TULISAN ANDA…? KATA ANDA KITA KAN BEBAS MENYIMPULKAN… SILAHKAN ANDA TANGGAPI KOMENT2 SAYA YANG LAIN.. KIRA2 NU sesuai dengan pemahaman anda atau sesuai dengan apa yang saya komentkan… mongo

      2. Dari tulisan anda dapat diambil kesimpulan bahwa Ustadz Ibnu Suradi sama sekali tidak mengenal NU secara utuh. NU itu hanya wadah ya ustadz..didalamnya dapat kita dapati para penganut madzhab yang berbeda(terutama madzhab yang 4), dan untuk anda ketahui ya ustadz, antar nahdliyin tidak pernah mempersoalkan masalah khilafiyah dalam beribadah, apalagi kalau hanya soal tata cara. Selama masing-masing amal ada hujjah yang bisa dipertanggungjawabkan.
        Sikap dari anggota NU ini sama seperti para salaffussholih yang meskipun ada perbedaan dalam ijtihad tetap mengedepankan sikap saling menghargai. Seperti halnya di jazirah Arab sana ya ustadz. Sebelum wahabi datang umat islam hidup rukun berdampingan meskipun berbeda madzhab yang diikuti. Sikap seperti inilah sikap para salafussolih yang pemahaman agamanya lebih baik dari kita-kita sekarang. Merekalah para penerus ajaran Nabi Muhammad Saw yang dalam bahasan ini kita golongkan dalam jamaah.
        Sedangkan sikap merasa paling benar dan menyalahkan muslim yang berbeda dalam berijtihad tidak dicontohkan oleh salafussholih..kira-kira Wahabi masuk yang mana ya Ustadz?

  116. ustadz ibnu suradi: Dan dalam riwayat Muslim, “Barangsiapa yang keluar dari ketaatan (kepada pemerintah) dan memisahkan diri dari Al-Jama’ah …”. (dari Shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
    Hanya saja yang perlu diketahui bahwa keenam penafsiran yang disebutkan oleh para ulama tidak ada yang saling bertentangan dan saling menafikan, bahkan semuanya menunjukkan makna Al-Jama’ah yang syar’i dalam Islam. Secara umum keenam penafsiran ini bisa dikembalikan kepada dua penafsiran sebagaimana yang diisyaratkan oleh imam Al-Khoththobi rahimahullah, yaitu :
    1. Jama’atul Adyan (Jama’ah dalam agama) yaitu pengikut kebenaran dari kalangan para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan para ulama dan selainnya, walaupun dia hanya seorang diri. Ini adalah penafsiran Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Imam Al-Barbary, Ibnu Katsir, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, Al-Bukhary, At-Tirmidzy dan lain-lainnya rahimahumullah.
    Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Al-Jama’ah adalah apa-apa yang sesuai dengan kebenaran walaupun engkau sendirian”.
    2. Jama’atul Abdan (Jama’ah badan) yaitu jama’ah kaum muslimin jika mereka bersepakat berkumpul di bawah satu pimpinan (Negara yang syah), dan ini adalah penafsiran Ibnu Jarir Ath-Thobary dan Ibnul Atsir rahimahumallah.
    Inilah dua makna Al-Jama’ah yang tsabit dan benar dalam syari’at Islam, tidak ada makna ketiga. Lihat kitab Al-‘Uzlah karya Al-Khoththoby rahimahullah

    اsaya : di dalam kitab الموسوعة الفقهية juz 15 hal. 280-283
    الجماعة menurut ahli bahsa adalah diambil dari “الجمع” dan artinya merangkai yang berserakan, mengumpulkan sesuatu dengan mendekatkan bagian-bagiannya.. maka biasanya diucapkan “جمعته فاجتمع; saya mengumpulkan sesuatu, kemudian sesuatu tersebut terkumpul”, bisa juga diartikan bilangan manusia yang punya satu tujuan, dan biasanya juga digunakan untuk selain manusia sehingga orang arab mengatakan جماعة الشجر وجماعة النبات oleh karena itu kata الجماعة diucapkan untuk bilangan setiap sesuatu.
    Adapun lafadl الجماعة والجميع والمجمعة والمجمع sama seperti جماعة , menurut istilah Fuqoha’ diucapkan untuk bilangan manusia, al Kasaniy mengatakan lafadl الجماعة diambil dari ma’na الاجتماع(terkumpul), dan sesuatu yang terkumpul minimal adalah dua..dst…
    Terkadang dikehendaki juga ma’na الاتحاد (tunggal/bersatu) dan tidak ada perpecahan seperti yang tertera dalam Hadist “الجماعة رحمة والفرقة عذاب” (bersatu adalah rohmah dan perpecahan adalah siksa)
    Nabi telah bersabda “تلزم جماعة المسلمين وإمامهم”(tetapilah jama’atul muslimin dan imamnya), Shohibul Fath mengatakan para ulama berbeda pendapat mengenai perintah tersebut, ada yang mengatakan bahwa perintah tadi adalah wajib. Dan yang dikehendaki dengan kata جماعة adalah السواد الأعظم (golongan mayoritas), ada lagi yang mengatakan mereka adalah para Sabahat, juga ada yang berkata mereka adalah ahlu ilmi. Atthobari mengatakan “ yang benar sesungguhnya maksud dari hadsit لزوم الجماعة ialah orang-orang tho’at yang berkumpul untuk menguatkannya, maka barang siapa menentang dari baiatnya berarti dia keluar dari jama’ah. Dan di dalam syarah Thohawiyyah adalah أهل السنة والجماعة adapun sunnah ialah طريقة الرسول صلى الله عليه وسلم sedangkan jama’ah adalah جماعة المسلمين yaitu generasi sahabat dan tabi’in..

    Ada pertanyaan yang mengganjal dalam diri saya,
    1. KENAPA ANDA TIDAK PERNAH MENAMPILKAN PENDAPAT DALAM BENTUK BAHASA ASLINYA (ARAB) ??
    2. KENAPA SUMBER RUJUKAN ANDA SELALU KOPI PASTE DARI INTERNET??

    AFWAN….

  117. TAMBAHAN UNTUK USTADZ IBNU SURADI
    Dilihat dari makna-makna “السنة والجماعة” yang beragam kita harus tahu bahwa pengartian dari suatu kalimat atau lafadz adalah melihat siapa gerangan yang mengutarakan, apabila yang mengutarakan lafadz tersebut adalah ahli bahasa maka diartikan dengan arti bahasa, bila yang mengutarakan ahli syari’at maka maka diartikan dengan makna syara’, bila yang mengutarakan berasal dari selain ahli bahasa dan syari’at maka harus disesuaikan dengan istilah orang yang mengutarakan tersebut.
    Maka yang perlu dipahami ialah, bahwa istilah ASWAJA (Ahli Sunnah Wal Jama’ah) bukan bermakna dari bahasa bukan pula dari syara’, namun dari istilah yang dibuat oleh golongan tertentu, yaitu empat golongan:
    1. Muhadditsin (ahli ilmu Hadits).
    2. Shufiyah (ahli Tasawwuf).
    3. Asya’iroh (pengikut Abu Hasan Al-Asy’ary).
    4. Maturidiyah (pengikut Abu Manshur Al-Maturidy).
    Kenapa…….?
    Karena berkeyakinan bahwa mereka sudah tepat dalam mengikuti suri tauladan Rasulullah SAW dan jalan yang ditempuh para Shahabatnya sehingga menjadi isim ‘alam.

    Nama istilah tersebut sampai sekarang masih berlaku untuk orang-orang yang mengikuti golongan tersebut, dan tidak boleh dijadikan istilah bagi selain empat golongan tadi, sebagaimana nama “Abdullah” tidak dapat kita artikan semua manusia walaupun mereka juga hamba Allah.

  118. Bismillaah,

    Kang Alfeyd,

    Ada sebuah kampung yang dihuni oleh umat Islam. Mayoritas penduduk kampung itu pergi ke kuburan kramat yang ada di tengah-tengah kampung tersebut untuk meminta-minta kepada roh penghuni kuburan tersebut. Hanya sedikit orang yang tidak melakukan ziarah ke kuburan tersebut karena takut berbuat syirik. Kira-kira, mana yang masuk Jamaah di antara kedua kelompok tersebut? Kelompok terbanyak atau kelompok kecil?

    Kalau merujuk pada kelompok terbanyak umat Islam sebagai Jamaah, maka mayoritas penduduk kampung masuk dalam Jamaah. Namun, bila merujuk pada kesesuaian dengan jalan yang ditempuh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka kelompok kecil lah yang masuk dalam Jamaah? Bukankah seperti itu, Kang Alfeyd.

    Jadi, maksud “assawadhul a’dhom” harus dijelaskan dengan mengaitkannya dengan “mereka yang berada di atas jalan yang ditempuh Rasulullaah, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar.” Dengan demikian, atsar Ibnu Mas’ud tidak dibuang begitu saja.

    Wallaahu a’lam.

    1. kebiasaan wahabi nih… diskusi kalah tapi gak mau ngaku ! ngeyel terus……ngebelokin ke masalah “klasi” yaitu tentang kuburan, he he…. emang itu adanya dikampung mana sur ? sebutkan aja kampungnya. kalau yang namanya minta minta kepada roh penghuni kubur itu jelas Syirik, jangankan orang NU, atau muhammadiyah, orang wahabi pun tahu kalau seperti itu syirik. jadi tugas ente sebagai ustadz wahabi untuk berdakwah tauhid dikampung tersebut.

      1. Klo contohnya spt itu jadi kasihan yg ziarah kubur yg mengharap berkah dan mengingat ajal ikut terfitnah…ga seorangpun yg bs tau hati tiap2 manusia…
        dan sy masih yakin masih lebih byk yg begitu dibanding yg minta2 kpd roh penghuni kubur

    2. @ibnu suradi
      ngarang lagi-ngarang lagi….! gmn sih ustadz wahabi ini
      klo orang laen koment sedikit tentang yang laen ente suruh fokus eh sekarang ente sendiri ga fokus malah mengalihkan ke ziarah kubur galau ya….?
      btw tapi saya setuju kalo orang yang minta sama kuburan itu syirik, cuma kalo maksud ente minta sama kuburan itu yang ngalap berkah atau yang tawassul sama orang orang soleh wah ente fitnah masbro.
      saran saya tolong fokus sama pembahasan jangan mengalihkan soalnya saya nyimak terus diskusi ente sama kang alfeyd

      @alfeyd
      lanjutkan dan semangat terus kang……! maaf cuma bisa ngasih support doang…!

    3. Bismillah,

      Saudaraku Pak Ibnu Suradi@, Topik anda menyimpang…. tapi baiklah untuk topik yang satu ini kami yang bodoh ini akan belajar pada anda tentang SYIRIK VS TAUHID

      anda ilustrasikan :

      Ada sebuah kampung yang dihuni oleh umat Islam. Mayoritas penduduk kampung itu pergi ke kuburan kramat yang ada di tengah-tengah kampung tersebut untuk meminta-minta kepada roh penghuni kuburan tersebut. Hanya sedikit orang yang tidak melakukan ziarah ke kuburan tersebut karena takut berbuat syirik. Kira-kira, mana yang masuk Jamaah di antara kedua kelompok tersebut? Kelompok terbanyak atau kelompok kecil?

      Sedangkan faktanya ummat islam diseluruh penjuru negri ini jika mereka sakit mereka datang ke “Dokter” untuk mencari kesembuhan, padahal mereka tahu bahwa yang dapat menyembuhkan hanyalah Alloh…

      Pertanyaan sederhananya adalah : Musyrik-kah mereka yang sakit dan pergi ke dokter untuk mencari kesembuhan ?

  119. ustadz ibnu suradi: Kalau merujuk pada kelompok terbanyak umat Islam sebagai Jamaah, maka mayoritas penduduk kampung masuk dalam Jamaah. Namun, bila merujuk pada kesesuaian dengan jalan yang ditempuh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka kelompok kecil lah yang masuk dalam Jamaah? Bukankah seperti itu, Kang Alfeyd.

    saya: lo lak tenan to… diguyu coro…. itukan kesimpukan anda… kalau kesimpulan saya ya gak seperti itu… makanya kalau mmembaca koment lawan diskusi itu yang telaten, direnungi, dihayati… oke tak copaskan lagi untuk anda…
    Oleh Imam Taftazani Syawadzul A’dlom dan Ahlu Sunnah Waljamaah berpengertian sama, sebagai berikut:
    التلويح على التوضيح الجزء الثاني ص: 91 الشيخ التفتازني الشافعي
    السواد الأعظم عامة المسلمين ممن هو أمة مطلقة, والمراد بالأمة المطلقة أهل السنة والجماعة, وهم الذين طريقتهم طريقة الرسول عليه السلام وأصحابه دون أهل البدع.
    Artinya: “Syawadzul A’dlom adalah Mayoritas Muslimin, yakni Umat Islam secara Mutlak. Dan yang dikehendaki Umat Islam secara Mutlak: Ahlu Sunnah Wal Jamaah, mereka adalah orang-orang yang sesuai dengan ajaran Rosululloh SAW. dan para sahabat Nabi SAW. bukan Ahli bid’ah”.

    DENGAN KESIMPULAN PALING AKHIR “NU” SEBAGAI “AHLI SUNAH WAL JAMA’AH” BUKAN KARENA NU MENJADI ORMAS TERBESAR DI INDONESIA, TAPI KARENA MELIHAT MANHAJ/ JALAN YANG DITEMPUH OLEH NU, DAN TERNYATA JALAN TERSEBUT SESUAI DENGAN MANHAJ SALAF..

    ustadz ibnu suradi: Jadi, maksud “assawadhul a’dhom” harus dijelaskan dengan mengaitkannya dengan “mereka yang berada di atas jalan yang ditempuh Rasulullaah, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar.” Dengan demikian, atsar Ibnu Mas’ud tidak dibuang begitu saja.

    saya: lo kan sudah saya jelaskan… dan yang membuang atsar ibnu mas’ud itu siapa…?? itukan pemahaman dan kesimpulan anda…..
    kalau pemahaman anda seperti itu lantas apa gunanya kita membahas arti “Jama’ah” (ingat naskah hadist adalah “walaupun kamu SENDIRIAN”)…

    Sekarang gantian saya yang tanya, KALAU MENURUT ANDA MAKSUD DARI ATSAR IBNU MAS’UD ITU APA…???

  120. JURUS wahaby yg OYEEEE… barusan di peragakan IBNU SURADI. berikut jurus2 wahaby yg kental mereka pakai:
    1. KABUR kl terdesak kmd tiba2 NONGOL di artikel lain.
    2. Kalau terdesak bikin bahasan baru utk mengalihkan perhatian (tidak fokus)
    3. kalau terdesak muter muter.
    4. BIKIN Jawaban seoalah ilmiyah tapi gak nyambung….(jaka sembung bawa golok….!!!!GAK NYAMBUNG GOB…….LOKKKKKK….!!!!)
    KALAU GAK PERCAYA BACA AJA SEMUA SECARA URUT DISKUSI DIATAS……!!!!!akan terlihat mana org yg ‘alim mana yg JAHIL…..!!!!!

  121. IBNU suradi paling2 cari artikel utk di copas…..”gak pa pa deh walopun gak cocok. yg penting bs utk jawab ust alfeyd”
    COBA BAYANGKAN KALAU KITA DI RUMAH DISKUSI DENGAN ANAK TK……!!!!!!ternyata banyak juga yang meniru gaya anak TK…..!!!!

  122. mas zakka jangan panggil saya ustadz, ilmu saya ibarat buih lautan yang maha luas tidak berbatas, masih banyak yang layak dan sangat layak untuk panjenengan panggil ustadz di blog ini, seperti ust. Mamak, ust. Agung, dll….., apa lagi kalau panjenegan tahu pribadi saya…. afwan

  123. Di atas langit ada langit….!!!!
    Allahu Akbar….!!!!
    Allah se hota hai…!!!
    Makhluk se nehi hota…!!!!
    Allah is most powerfull…..!!!!
    Makhluq are weak……!!!!!!

  124. Bismillaah,

    Kawan-kawan semua,

    Penjelasan “Jamaah” jangan hanya mengacu pada hadits “Syawadzul A’dlom”, namun harus juga mengaitkan dengan atsar Ibnu Mas’ud: “meski engkau sendiri” dan hadits tentang “al ghuraba” (Islam datang dalam keadaan asing dan akan menjadi asing seperti saat datang pertama kalinya).

    Kalau kita jeli dalam mengamati kehidupan umat Islam di Indonesia, maka kita akan mengetahui bahwa atsar Ibnu Mas’ud dan hadits “al ghuraba” benar-benar menjadi kenyataan. Laki-laki Muslim yang memanjangkan jenggot dan berpakaian di atas mata kaki sedikit sekali di tengah-tengah mayoritas umat Islam yang mencukur klimis jenggot dan berpakaian di bawah mata kaki (isbal). Apakah orang-orang yang meninggalkan sunnah memelihara jenggot dan berpakaian di atas mata kaki disebut Jamaah karena jumlah mereka paling banyak?

    Merapatkan shaf shalat berjamaah termasuk sunnah dalam keterasingan di tengah-tengah umat Islam. Seorang sahabat yang mulia yang bernama Anas bin Malik -radhiallahu Ta’ala ‘anhu- yang menerangkan tata cara dan kaifiyah meluruskan dan merapatkan shaf di zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Anas bin Malik berkata: “Dulu, salah seorang di antara kami menempelkan bahunya dengan bahu teman di sampingnya serta kakinya dengan kaki temannya. Andaikan engkau lakukan hal itu pada hari ini, niscaya engkau akan melihat mereka seperti bagal yang liar”. (HR. Bukhari)

    Apakah orang-orang yang meninggalkan sunnah merapatkan shaf disebut Jamaah karena jumlah mereka paling banyak?

    Jadi, ukuran utama untuk menetapkan kumpulan orang itu termasuk Jamaah atau bukan adalah kesesuaian amalan mereka dengan perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullaah tentang amalan tersebut.

    Wallaahu a’lam.

  125. ustadz ibnu suradi: Penjelasan “Jamaah” jangan hanya mengacu pada hadits “Syawadzul A’dlom”, namun harus juga mengaitkan dengan atsar Ibnu Mas’ud: “meski engkau sendiri” dan hadits tentang “al ghuraba” (Islam datang dalam keadaan asing dan akan menjadi asing seperti saat datang pertama kalinya).

    saya: lantas menurut anda apa maksud dari kata Jama’ah, syawadul A’dhom, atsar Ibnu Mas’ud, dan Al Ghuroba’???? kita harus bersikap adil dan hati2 dalam menyikapi Hadist dan atsar Shohabat… jangan lupa maqolah para Ulama’ yang berkompeten dalam bidang hadist dll… Dan kalau kita menggunakan metode anda (tanpa Ta’wil) dalam memahami dalil nash maka (menurut saya) pasti akan terjadi kontradiksi… INGAT DALAM SETIAP KATA SESUATU PASTI ADA LAWAN KATANYA…

    ustadz ibnu suradi: Kalau kita jeli dalam mengamati kehidupan umat Islam di Indonesia, maka kita akan mengetahui bahwa atsar Ibnu Mas’ud dan hadits “al ghuraba” benar-benar menjadi kenyataan. Laki-laki Muslim yang memanjangkan jenggot dan berpakaian di atas mata kaki sedikit sekali di tengah-tengah mayoritas umat Islam yang mencukur klimis jenggot dan berpakaian di bawah mata kaki (isbal). Apakah orang-orang yang meninggalkan sunnah memelihara jenggot dan berpakaian di atas mata kaki disebut Jamaah karena jumlah mereka paling banyak?

    saya: itukan menurut anda…!!! menurut saya itulah perbedaan ASWAJA dan Wahabi, para Ulama’ ASWAJA mengunakan metode tersirat dan tersurat dan sangat berhati2 dalam menyikapi hadist terlebih kalau hadist yang secara dhohir mengandung kontradiksi…
    Sehingga kalau anda selalu ngeyel tetap menggunakan metode anda(tanpa pengetahuan ilmu sastra arab yang memadai, bahkan sumber anda hanya terjemahan dan internet..) dalam memahami dalil nash, maka yang akan terjadi adalah saling bertabrakan antara dalil satu dengan yang lain.. DAN SEKARANG JELASKAN KEPADA SAYA ARTI DARI “JELI DALAM MENGAMATI kehidupan umat Islam di Indonesia” SESUAI DENGAN MAKSUD DARI KATA “Jamaah” “Syawadzul A’dlom”, atsar Ibnu Mas’ud DAN “al ghuraba” YANG KELIHATANNYA SANGAT JELAS SEKALI KONTRADIKSINYA…!!!

    coba anda perhatikan hasil kopi paste saya dari Abul Jauza’:
    Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah pernah mengomentari perkataan tersebut sebagai berikut :
    أمَّا قولُهم: “مَن لا شيخَ له؛ فشيخُه الشيطان”؛ فهذا باطل، ما له أصل، وليس بحديث. وليس لك أن تتَّبع طرق الشيخ إذا كان مخالفاً للشرع، بل عليك أن تتبع الرَّسول -صلَّى الله عليه وسلَّم- وأصحابَه -رضي الله عنهم وأرضاهم- ومَن تَبِعهم بإحسان، في صلاتك، وفي دعائك، وفي سائر أحوالك. يقول الله -جلَّ وعلا-: {لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ}[الأحزاب: 21]. ويقول -سبحانه وتعالى-: {وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ..} الآية [التوبة: 100]. فأنت عليك أن تتبعهم بإحسان باتِّباع الشَّرع الذي جاء به النَّبيُّ -صلى الله عليه وسلَّم- والتَّأسِّي بهم في ذلك وعدم البدعة التي أحدثها الصوفية وغير الصوفية. والله المستعان

    “Adapun perkataan mereka (yaitu Shuufiyyah – Abul-Jauzaa’) : ‘barangsiapa yang tidak punya guru (syaikh), maka gurunya adalah setan’; maka perkataan ini adalah bathil. Tidak ada asalnya. Bukan pula hadits. Tidak boleh bagimu untuk mengikuti jalan seorang syaikh apabila ia menyelisihi syari’at. Bahkan wajib bagimu untuk mengikuti Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam, para shahabatnya radliyallaahu ‘anhum, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dalam shalatmu, doamu, dan seluruh keadaanmu. Allah ‘azza wa jalla berfirman : ‘Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu’ (QS. Al-Ahzaab : 21).

    coba bandingkan dengan maqolah ulama sejati….
    من لا شيخ له ، فشيخه الشيطان
    orang yang tidak punya guru maka gurunya setan..
    قال سيدي العارف بالله عبد الغني العمري رضي الله عنه وأرضاه عند شرحه لهذه العبارة:
    هذه المقولة مشهورة . ويظن الجاهلون أنها إنما قيلت من قبيل الإرهاب الفكري للعامة حتى ينصاعوا لمن ادعى المشيخة بينهم
    نعم، قد يصدق هذا فيما يخص الكاذبين الذين يريدون باطلاً من وراء مثل هذا القول؛ لكن لا ينبغي للمرء أن يترك سوء الظن يحول دونه والمعنى الحقيقي المراد لقائله ذلك أن دائرة الهداية تقابلها دائرة الضلال. والمرء لا بد له من إحداهما بعد التكليف . فأما دائرة الهداية فإمامها الرسول صلى الله عليه وآله وصحبه، أو من قام مقامه بحكم الخلافة الوراثية؛ وأما دائرة الضلال فإمامها الشيطان أو من قام مقامه من الأتباع
    فالذين ائتموا بالرسول صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم على التحقيق، ونعني بهم الصحابة رضي الله عنهم ، قد خرجوا من دائرة الضلال إلى دائرة الهدى خروجاً تاماً. فلما رحل رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم عن الدنيا ، انقسم المسلمون إلى قسمين : قسم اتبعه على الإيمان والظن، فأولئك لا يأمنون على أنفسهم تسلط الشيطان كل بحسبه. فمن متبع له في الفروع إلى فاسق لبس عليه في الأصول ؛ والقسم الثاني ، اتبعوا الرسول صلى الله عليه وآله وسلم وكانوا مع خلفائه ( ونعني بالخلفاء خلفاء الباطن ، أئمة الهداية ، ورثة النبوة الذين هم الشيوخ ) ، وهذا القسم الأخير تتحقق لهم الهداية الإيمانية والذوقية ، وقد تكمل لهم هذه الهداية حتى يبلغوا رتبة الصحابة في العلم لا في الفضل ، فيكونون قد خرجوا هم أيضاً عن دائرة الضلال خروجاً تاما
    وهذا الولي الذي قال القول المذكور ، إنما أراد أن ينبه السامع إلى كون من لا يأتم بالورثة من أهل زمانه ، فإنما يكون قد عرض نفسه لإتباع الشيطان ، سواء علم ذلك أم لم يعلمه .
    ومن أراد دليلاً على ما نقول، فلينظر إلى زلات بعض ” العلماء “، فلو كان أحد يأمن على نفسه لأمن هؤلاء؛ ولكن مع ذلك فالشيطان قد يلبس عليهم حتى يعودوا يسقطون في ما لا يسقط فيه العامي.
    وعلى هذا، فمن أراد أن يخرج من دائرة الشيطان، فعليه بالتواضع لعباد الرحمن والانقياد لهم، فإنهم على بصيرة من أمرهم، يهرب منهم الشيطان بل لا يطيق أن يسمع أسماءهم لما لهم من سلطان.
    ولكي يسهل عليك أمر إتباعهم، لا تفرق بينهم وبين من هم فرع من أصله المنير صلى الله عليه وآله وسلم. والله الهادي إلى سواء السبيل.
    انتهى كلامه رضي الله عنه.
    artinya :Sayyidy(sekedar memulyakan beliau) al ‘arif billah Abdul Ghoni al ‘Umari semoga Alloh meridloinya mengatakan di dalam syarahnya menyikapi maqolah tersebut: Ini adalah Maqolah yang masyhur, dan orang-orang bodoh (telah) berprasangka bahwa ucapan tadi untuk menakut-nakuti pemikiran orang awam (bahwa mereka tidak patut untuk memaknai dalil nash) sehingga mereka membenarkan (ucapan) orang yang mengaku sebagai syaikh diantara mereka. Memang benar seperti itu, hal tersebut terkadang benar, terlebih (ketika yang mengucapkan adalah) orang-orang pembohong yaitu orang-orang yang menghendaki kebatilan dibalik ucapan ini (من لا شيخ له ، فشيخه الشيطان). Tetapi tidak patut bagi seseorang untuk membiarkan prasangka buruk yang merubah (tujuan ucapan al Qo-il) dan membiarkan makna sebenarnya yang dikehendaki oleh al Qo-il (dirusak oleh para pembohong).
    Ucapan (من لا شيخ له ، فشيخه الشيطان) tersebut (dilandasi) bahwa sesungguhnya lingkup hidayah (selalu) terkait/berbandingan dengan lingkup kesesatan, dan setiap orang setelah taklif pasti bersinggungan dengan salah satunya.
    Adapun lingkup hidayah maka imamnya adalah Rosululloh, ahlu baitnya dan para sahabatnya atau orang yang bisa menempati posisinya dengan system khilafah al warotsiyah (al ‘ulama’ warotsatul anbiya’).
    Sedangkan lingkup kesesatan maka imamnya adalah syaithon atau para pengikutnya…
    Untuk golongan yang semasa dengan Rosululloh SAW. secara nyata yakni para sahabat maka, mereka telah keluar dari kesesatan dengan sempurna, namun ketika Nabi meninggalkan dunia, umat islam terpecah menjadi dua golongan. Satu golongan mengikuti Nabi atas (dasar) keimanannya dan prasangkanya, maka golongan tersebut tidak sentosa/aman dari belenggu setan, (sering sekali) orang yang mengikuti beliau (Nabi) di dalam masalah-masalah furu’iyyah terjerembab dalam kefasikan (dikarenakan) samarnya dalil-dalil asal.
    Golongan yang kedua, yakni para kholifah secara batin yaitu para imam (Imam-imam dari ulama salaf sperti imam madzhab 4 dll..pent), mereka mengikuti Rosul SAW dan mereka bersama para kholifah nabi yang mendapatkan hidayah yakni para pewaris Nabi, mereka golongan yang terakhirlah (kedua) yang secara nyata mendapatkan hidayah imaniyah dan dzauqiyah, dan telah sempurna hidayah tersebut, sehingga derajat mereka dalam sisi keilmuan telah sampai dengan para sahabat Nabi, namun bukan derajat keutamaan (di sisi Alloh SWT), sehingga merekapun telah keluar dari lingkup kesesatan secara sempurna….dst..
    (yang lainya silahkan diterjemah sendiri…… Afwan)

    yang pada akhirnya dapat dilihat siapa yang pemahaman saling bertabrakan dan pemahamannya singkron bahkan saling menguatkan antara satu dalil dengan dalil lainnya… APAKAH PARA ASWAJA YANG BERSANAD ATAU WAHABI…????

    ustadz ibnu suradi: Merapatkan shaf shalat berjamaah termasuk sunnah dalam keterasingan di tengah-tengah umat Islam. Seorang sahabat yang mulia yang bernama Anas bin Malik -radhiallahu Ta’ala ‘anhu- yang menerangkan tata cara dan kaifiyah meluruskan dan merapatkan shaf di zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Anas bin Malik berkata: “Dulu, salah seorang di antara kami menempelkan bahunya dengan bahu teman di sampingnya serta kakinya dengan kaki temannya. Andaikan engkau lakukan hal itu pada hari ini, niscaya engkau akan melihat mereka seperti bagal yang liar”. (HR. Bukhari)

    Apakah orang-orang yang meninggalkan sunnah merapatkan shaf disebut Jamaah karena jumlah mereka paling banyak?

    Jadi, ukuran utama untuk menetapkan kumpulan orang itu termasuk Jamaah atau bukan adalah kesesuaian amalan mereka dengan perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullaah tentang amalan tersebut.

    saya: INILAH YANG SAYA MAKSUD KECEROBOHAN SAUDARA … TIDAK TAHU KAIDAH BAHASA ARAB TAPI SUDAH MERASA PALING BENAR…
    lagian kenapa suadara ingin membelokan kemasalah sholat…??? apakah sumber copi paste anda telah habis…???

    afwan
    wallohu a’lam

  126. Dengan kesimpulan: bahwa al-Qoil من لا شيخ له ، فشيخه الشيطان ingin agar kita berhati-hati dalam memahami tulisan terlebih-lebih ketika kita di hadapkan kepada tulisan yang mutasyabihat, samar maknanya, dll..
    Memahami Islam jangan hanya merasa cukup dengan “Tulisan-tulisan di dalam kitab suci Al Qur-an dan Al Hadist, tapi kita juga harus memperhitungkan dan memakai penjelasan para Ulama’ yang mu’tabaroh” (AWAS JANGAN DIPLINTIR….. ditambah lagi bahwa kapasitas keilmuan beliau2 dalam memahami dalil nash telah terkenal di seantero dunia… maka tawadhu’lah anda kepada para imam2 salaf.. jangan anda dan golongan anda mengatakan “MEREKA ADALAH MANUSIA YANG MUNGKIN MELAKUKAN KESALAHAN”, benar… bahwa mereka mungkin bisa saja salah.., tapi kalau dibanding kita..ya… umpamanya mereka melakukan kesalahan hanya sekitar 5%, sedangkan kita mungkin mencocoki kebenaran hanya 5% dan yang 95% adalah kesalahan….
    INTINYA HUSNUDZONLAH KEPADA ULAMA SALAF

    1. Sepakat mas Alfeyd…

      Saya cuma mau memberi sedikit review darp yg terligat dari diskusi ini, bahwa kaum Wahabi memang sangat terkenal kurang ajar kepada para Ulama mu’tabaroh, mereka sering mengatakan bahwa para Ulama itu kan manusia biasa? Padahal kata2 ini adalah kata2 buatan yahudi yg diselipkan ke ajaran Wahabi, tujuannya untuk mengeliminir peran Ulama dan mempberi kesempatan kepada kaum awam semacam Ibnu Suradi agara bisa “unjuk gigi” dalam kesalahan-kesalahan…..

      Jadi, intinya adalah kaum wahabi itu kurang ajarnya keterlaluan akibat menuruti hawa nafsu. bahkan hal ini pernah dikatakan oleh seorang ulama Hanafiah bahwa kaum Wahabi adalah kaum yg mezhab adalah mazhab hawa nafsu.

  127. Maaf kepada semuanya,

    Memang betul ajaran “Wahaboy” ( sekelompok Wahabi yg karna kebiasaannya tidak pernah ingin mengalah dan meyakini bahwa ajarannya itu yg paling benar sampai2 berani nantangin guru2 di pesantren) termasuk keras, padahal sangat membodohkan.

    sedikit cerite, ane tinggal di kontrakan yg diisi oleh 6 orang termasuk saya. Di sana ada seorang Wahabi yang tinggal di kontrakan tepat di depan kontrakan ane. Sifat dan karakternya sangatlah jauh dari ustad2 yang saya kenal. Dia (Wahaboy) sangat menutup diri dan keluarganya dari orang2 yg tidak sepaham dgn dirinya karena yg selain itu termasuk Kafir. Dan tepat seminggu yang lalu ane dapet ceramahan dari Wahabi itu, dan Wahabi itu suka mengharamkan apa yg kami lakukan, padahal ane dan teman2 ane juga solat (walaupun suka ditelat2in), suka ngaji.

    Saya jg punya teman, baru beberapa tahun ini dekat dgn agama, saya senang sekali karna dia sudah sering beribadah. tetapi yang sangat disayangkan, dia telah didoktrin oleh kaum Wahabi dan bergabung dengan kelompok Wahabi. semua ilmu yg teman saya dapat itu kebanyakan dari Blog2 internet, buku dsb.

    Saya sangat prihatin dengan keluarganya karena mereka menutup diri mereka termasuk anak2 mereka dilarang sekolah (mau jadi apa kelak klo tidak sekolah…. Orang Kafir pasti senang melihat kaum muslimin itu bodoh dan tidak berpendidikan).

    Saran saja unntuk sodara2 saya yg masih mengikuti Maulid Nabi(saya jg termasuk). ga usah diladenin orang macam IBNU SURADI itu, dia ga bakalan pernah ngalah. Wahabi seperti itu yg ada malah mempecah belahkan kita dan mendoktrin orang2 yg masih awam tentang agama untuk mengikuti ajarannya. Kalau mereka (Wahabi) tetep aja masih ngeyel walaupun sudah kalah dalam perdebatan, kurangin aja kawan lemparin ke Sungai Citarum, biar abis tidak berbekas.

    hatur nuhun.

  128. tahukah anda? selama hidupnya GusDur tidak pernah berbohong, dan semua apa yang dikatakan beliau adalah nyata, walaupun penyampaiannya kadang dengan guruan, 100% percayalah !!!.
    ucapan beliau yang sangat nyata da sangat jelas serta sangat semple, Masih sering dianggap misteri,

  129. Ibnu Suradi : “Ada sebuah kampung yang dihuni oleh umat Islam. Mayoritas penduduk kampung itu pergi ke kuburan kramat yang ada di tengah-tengah kampung tersebut untuk meminta-minta kepada roh penghuni kuburan tersebut. Hanya sedikit orang yang tidak melakukan ziarah ke kuburan tersebut karena takut berbuat syirik. Kira-kira, mana yang masuk Jamaah di antara kedua kelompok tersebut? Kelompok terbanyak atau kelompok kecil?”…

    JAWAB

    Bahwa tawassul dengan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam bisa pada saat beliau masih hidup maupun telah tiada, ketika beliau ada di tempat atau tidak berada di tempat.

    Hadits ini telah diriwayatkan oleh At-Thabarani dan menyebutkan pada awalnya sebuah kisah sbb : seorang lelaki berulang-ulang datang kepada ‘Utsman ibn ‘Affan untuk keperluannya. ‘Utsman sendiri tidak pernah menoleh kepadanya dan tidak mempedulikan keperluannya. Lalu lelaki itu bertemu dengan ‘Utsman ibn Hunaif. Kepada Utsman ibn Hunaif ia mengadukan sikap Utsman ibn ‘Affan kepadanya. “Pergilah ke tempat wudlu, “ suruh ‘Utsman ibn Hunaif, “lalu masuklah ke masjid untuk sholat dua raka’at. Kemudian bacalah doa’ : “Ya Allah sungguh saya memohon kepada Mu bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu Muhammad, Nabi rahmat. Wahai Muhammad, saya bertawassul kepada Tuhanmu lewat dengan engkau. Maka kabulkanlah keperluanku.” Dan sebutkanlah keperluanmu….!

    Lelaki itu pun pergi melaksanakan saran dari Utsman ibn Hunaif. Ia datang menuju pintu gerbang Utsman ibn Affan yang langsung disambut oleh penjaga pintu. Dengan memegang tanggannya, sang penjaga langsung memasukkannya menemui Utsman ibn Affan. Utsman mempersilahkan keduanya duduk di atas permadani bersama dirinya. “Apa keperluanmu,” tanya Utsman. Lelaki itu pun menyebutkan keperluannya kemudian Utman memenuhinya. “Engkau tidak pernah menyebutkan keperluanmu hingga tiba saat ini.” kata Utsman, “Jika kapan-kapan ada keperluan datanglah kepada saya,” lanjut Utsman. Setelah keluar, lelaki itu berjumpa dengan Utsman ibn Hunaif dan menyapanya, “ Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Utsman ibn Affan sebelumnya tidak pernah mempedulikan keperluanku dan tidak pernah menoleh kepadaku sampai engkau berbicara dengannya. “Demi Allah, saya tidak pernah berbicara dengan Utsman ibn Affan. Namun aku menyaksikan Rasulullah didatangi seorang lelaki buta yang mengadukan matanya yang buta. “Adakah kamu mau bersabar ?” kata beliau. “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki penuntun dan saya merasa kerepotan,”katanya. “Datanglah ke tempat wudlu’ lalu berwudlu’lah kemudian sholatlah dua raka’at. Sesudahnya bacalah do’a ini.” “Maka demi Allah, kami belum bubar dan belum lama obrolan selesai sampai lelaki buta itu masuk seolah ia belum pernah mengalami kebutaan.” Kata Utsman ibn Hunaif.

    Al-Mundziri berkata, “Hadits di atas diriwayatkan oleh At-Thabarani.” Setelah menyebut hadits ini At-Thabarani berkomentar, “Status hadits ini shahih.” ( At-Targhib jilid 1 hlm. 440. Demikian pula disebutkan dalam Majma’u Az-Zawaid. Jilid 2 hlm. 279 ). Syaikh Ibnu Taimiyyah berkata, “At-Thabarani berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Syu’bah dari Abu Ja’far yang nama aslinya ‘Umair ibn Yazid, seorang yang dapat dipercaya. Utsman ibn Amr sendirian meriwayatkan hadits ini dari Syu’bah. Abu Abdillah Al-Maqdisi mengatakan, “Hadits ini shahih.”Kata penulis, “Ibnu Taimiyyah berkata, “At-Thabarani menyebut hadits ini diriwayatkan sendirian oleh Utsman ibn Umair sesuai informasi yang ia miliki dan tidak sampai kepadanya riwayat Rauh ibn Ubadah dari Syu’bah. Riwayat Rauh dari Syu’bah ini adalah isnad yang shahih yang menjelaskan bahwa Utsman tidak sendirian meriwayatkan hadits.” (Qa’idah Jalilah fi at-Tawassul wal Wasilah. hlm 106).

    Dari paparan di atas, nyatalah bahwa kisah di muka dinilai shahih oleh At-Thabarani Al- Hafidh Abu Abdillah Al-Maqdisi. Penilaian shahih ini juga dikutip oleh Al-Hafidh Al- Mundziri, Al-Hafidh Nuruddin Al-Haitsami dan Syaikh Ibnu Taimiyyah. Kesimpulan dari kisah di muka adalah bahwa Utsman ibn Hunaif, sang perawi hadits yang menjadi saksi dari kisah tersebut, telah mengajarkan do’a yang berisi tawassul dengan Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam dan memanggil beliau untuk memohon pertolongan setelah beliau wafat, kepada orang yang mengadukan kelambanan khalifah Utsman ibn Affan untuk mengabulkan keperluannya. Ketika lelaki itu mengira bahwa kebutuhannya dipenuhi berkat ucapan Utsman ibn Hunaif kepada khlaifah, Utsman segera menolak anggapan ini dan menceritakan hadits yang telah ia dengar dan ia saksikan untuk menegaskan kepadanya bahwa kebutuhannya dikabulkan berkat tawassul dengan Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, panggilan dan permohonan bantuannya kepada beliau Shallallahu’alaihi wa sallam. Utsman juga meyakinkan lelaki itu dengan bersumpah bahwa ia sama sekali tidak berbicara apa-apa dengan khalifah menyangkut kebutuhannya.

    Dalam biografi Fathimah binti Asad, ibu dari Ali ibn Abi Thalib terdapat keterangan bahwa ketika ia meninggal, Rasulullah SAW menggali liang lahatnya dengan tangganya sendiri dan mengeluarkan tanahnya dengan tangannya sendiri. Ketika selesai beliau masuk dan tidur dalam posisi miring di dalamnya , lalu berkata : “Allah Dzat yang menghidupkan dan mematikan. Dia hidup tidak akan mati. Ampunilah ibuku Fathimah binti Asad, ajarilah ia hujjah, lapangkanlah tempat masuknya dengan kemuliaan Nabi-Mu dan para Nabi sebelumku. Karena Engkau adalah Dzat yang paling penyayang. Rasulullah kemudian mentakbirkan Fathimah 4 kali dan bersama Abbas dan Abu Bakar Shiddiq RA memasukkannya ke dalam liang lahat.” HR Thabarani dalam Al-Kabir dan Al-Awsath. Dalam sanadnya terdapat Rauh ibn Sholah yang dikategorikan dapat dipercaya oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim. Hadits ini mengandung kelemahan. Sedang perawi lain di luar Rouh sesuai dengan kriteria perawi hadits shahih. (Majma’ul Zawaaid jilid 9 hlm. 257).

    Sebagian ahli hadits berbeda pendapat menyikapi status Rouh ibn Sholah, salah seorang perawi hadits di atas. Namun Ibnu Hibban memasukkannya dalam kelompok perawi tsiqah (dapat dipercaya). Pendapat al-Hakim adalah, “Ia dapat dipercaya.” Keduanya sama-sama mengkategorikan hadits sebagai shahih. Demikian pula Al-Haitsami dalam Majma’u Az-Zawaaid. Perawi hadits ini sesuai dengan kriteria perasi hadits shahih. Sebagaimana Thabarani, Ibnu ‘Abdil Barr juga meriwayatkan hadits ini dari Ibnu ‘Abbas, Ibnu Abi Syaibah dari Jabir, dan juga diriwayatkan oleh Al Dailami dan Abu Nu’aim. Jalur-jalur periwayatan hadits ini saling menguatkan dengan kokoh dan mantap, antara sebagian dengan yang lain. Dalam Ithaafu al Adzkiyaa’ hlm 20 , Syaikh Al-Hafidh Al- Ghimari menyatakan, “Rouh ini kadar kedloifannya tipis versi mereka yang menilainya lemah, sebagaimana dipahami dari ungkapan-ungkapan ahli hadits. Karena itu Al-Hafidh Al-Haitsami menggambarkan kedloifan Rouh dengan bahasa yang mengesankan kadar kedloifan yang ringan, sebagaimana diketahui jelas oleh orang yang biasa mengkaji kitab-kitab hadits. Hadits di atas tidak kurang dari kategori hasan, malah dalam kriteria yang ditetapkan Ibnu Hibban diklasifikasikan sebagai hadits shahih.

    Bisa dicatat di sini bahwa para Nabi yang Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bertawassul dengan kemuliaan mereka di sisi Allah dalam hadits ini dan hadits lain telah wafat. Maka dapat ditegaskan diperbolehkannya tawassul kepada Allah dengan kemuliaan (bil-haq) dan dengan mereka yang memiliki kemuliaan (ahlul-haq) baik masih hidup maupun sesudah wafat.

    Al-Imam Al-Hafidh As-Syaikh ‘Imadu Ad-Din Ibnu Katsir mengatakan, “Sekelompok ulama, diantaranya Syaikh Abu Al-Manshur As-Shabbagh dalam kitabnya As-Syaamil menuturkan sebuah kisah dari Al ‘Utbi yang mengatakan, “Saya sedang duduk di samping kuburan Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam. Lalu datanglah seorang A’rabi (penduduk pedalaman Arab) kepadanya, “Assalamu’alaika, wahai Rasulullah saya mendengar Allah berfirman : “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul-pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S.An.Nisaa` : 64).

    Dan saya datang kepadamu untuk memohonkan ampunan atas dosaku dan memohon syafaat denganmu kepada Tuhanku.” Kata A’rabi. Kemudian A’rabi tadi pergi. Sesudah kepergiannya saya tertidur dan bermimpi bertemu Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, “Kejarlah si A’rabi dan berilah kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosanya.”

    Kisah ini diriwayatkan oleh An-Nawawi dalam kitabnya yang populer Al-Idhaah pada bab 6 hlm. 498. juga diriwayatkan oleh Al-Hafidh ‘Imadu Ad-Din Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Syaikh Abu Muhammad Ibnu Qudamah juga meriwayatkannya dalam kitabnya Al-Mughni jilid 3 hlm. 556. Syaikh Abu Al-Faraj ibnu Qudamah dalam kitabnya As-Syarh Al-Kabir jilid 3 hlm. 495, dan Syaikh Manshur ibn Yunus Al-Bahuti dalam kitabnya yang dikenal dengan nama Kasysyaafu Al-Qinaa’ yang notabene salah satu kitab paling populer dalam madzhab Hambali jilid 5 hlm. 30 juga mengutip kisah dalam hadits di atas.

    Al-Imam Al-Qurthubi, pilar para mufassir menyebutkan sebuah kisah serupa dalam tafsirnya yang dikenal dengan nama Al-Jaami’. Ia mengatakan, “Abu Shadiq meriwayatkan dari ‘Ali yang berkata, “Tiga hari setelah kami mengubur Rasulullah datang kepadaku seorang a’rabi. Ia merebahkan tubuhnya pada kuburan beliau dan menabur-naburkan tanah kuburan di atas kepalanya sambil berkata, “Engkau mengatakan, wahai Rasulullah!, maka kami mendengar sabdamu dan hafal apa yang dari Allah dan darimu. Dan salah satu ayat yang turun kepadamu adalah : Saya telah berbuat dzolim kepada diriku sendiri dan saya datang kepadamu untuk memohonkan ampunan untukku.” Kemudian dari arah kubur muncul suara : “Sesungguhnya engkau telah mendapat ampunan.” (Tafsir Al-Qurthubi jilid 5 hlm. 265).

    Karena itu para ahli hadits seperti al Hafizh Syamsuddin ibn al Jazari mengatakan dalam kitabnya ‘Uddah al Hishn al Hashin : ” Di antara tempat dikabulkannya doa adalah kuburan orang-orang yang saleh “.

    Apakah para ulama di muka telah mengutip kekufuran dan kesesatan ? atau mengutip keterangan yang mendorong menuju penyembahan berhala dan kuburan ?Jika faktanya memang demikian, lalu dimanakah kredibilitas mereka dan kitab-kitab karya mereka ?

    Masalah tawassul dengan para nabi dan orang saleh ini hukumnya boleh dengan ijma’ para ulama Islam sebagaimana dinyatakan oleh ulama madzhab empat seperti al Mardawi al Hanbali dalam Kitabnya al Inshaf, al Imam as-Subki asy-Syafi’i dalam kitabnya Syifa as-Saqam, Mulla Ali al Qari al Hanafi dalam Syarh al Misykat, Ibn al Hajj al Maliki dalam kitabnya al Madkhal

  130. Hai orang 2 yang merasa bner…tolong ksih tw saya ..dalil.hadist .alqur’an ayat brapa…surat apa..dri mana asal boleh nya meminta2 kpada ahli kubur..maulid nabi.dan bid’ah lain nya yg lgi tenar di klangan msarakat yg beralsan bid’ah hasanah..(Inti nya yg harus anda taw adalah suatu kebiasaan anda yg trun mnurun diajar kan oleh kakek nenek moyang anda dan ketika dkritik anda menyalah kan bahkan mengkafir kan ..apakah kakek nenek moyang anda nabi….asal anda tw sesama islam tidak boleh mngkafir kan tampa alsan yg jlaz…ngerti ….jngan asal ngebantah aja …ini agama bro..ada dalil ..alqur’an dan sunnah…

  131. @rikkiblank

    Tulisan saya diatas, cukup untuk mewakili, bahwa tawassul diperbolehkan dengan para nabi dan orang saleh, baik masih hidup, ataupun setelah mereka meninggal dunia.

    Para ulama seperti al-Imam al-Hafizh Taqiyyuddin al-Subki menegaskan bahwa tawassul, istisyfa’, istighatsah, isti’anah, tajawwuh dan tawajjuh, memiliki makna
    dan hakekat yang sama. Mereka mendefinisikan tawassul -dan istilah-istilah lain yang sama- dengan definisi sebagai berikut: “Memohon datangnya manfaat (kebaikan) atau terhindarnya bahaya (keburukan) kepada Allah dengan menyebut nama seorang nabi atau wali untuk memuliakan (ikram) keduanya”. (Al-Hafizh al-’Abdari, al-Syarh al-Qawim, hal. 378).

    Sebagian kalangan memiliki persepsi bahwa tawassul adalah memohon kepada seorang nabi atau wali untuk mendatangkan manfaat dan menjauhkan bahaya
    dengan keyakinan bahwa nabi atau wali itulah yang mendatangkan manfaat dan menjauhkan bahaya secara hakiki. Persepsi yang keliru tentang tawassul ini
    kemudian membuat mereka menuduh orang yang ber-tawassul kafir dan musyrik. Padahal hakekat tawassul di kalangan para pelakunya adalah memohon datangnya manfaat (kebaikan) atau terhindarnya bahaya (keburukan) kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menyebut nama seorang nabi atau wali untuk memuliakan keduanya.

    Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:“Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya (Allah)”. (QS. al-Ma’idah : 35). Ayat ini memerintahkan untuk mencari segala cara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Artinya, carilah sebab-sebab tersebut, kerjakanlah sebab-sebab itu, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mewujudkan akibatnya. Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan tawassul dengan para nabi dan wali sebagai salah satu sebab dipenuhinya permohonan hamba. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala Maha Kuasa untuk mewujudkan akibat tanpa sebab-sebab tersebut. Oleh karena itu, kita diperkenankan ber-tawassul dengan para nabi dan wali dengan harapan agar permohonan kita dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Jadi, tawassul adalah sebab yang dilegitimasi oleh syara’ sebagai sarana dikabulkannya permohonan seorang hamba. Tawassul dengan para nabi dan wali diperbolehkan baik di saat mereka masih hidup atau mereka sudah meninggal. Karena seorang mukmin yang ber-tawassul, tetap berkeyakinan bahwa tidak ada yang menciptakan manfaat dan mendatangkan bahaya secara hakiki kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Para nabi dan para wali tidak lain hanyalah sebab dikabulkannya permohonan hamba karena kemuliaan dan ketinggian derajat mereka. Ketika seorang nabi atau wali masih hidup, Allah subhanahu wa ta’ala yang mengabulkan permohonan hamba. Demikian pula setelah mereka meninggal, Allah subhanahu wa ta’ala juga yang mengabulkan permohonan seorang hamba yang ber-tawassul dengan mereka, bukan nabi atau wali itu sendiri. Sebagaimana orang yang sakit pergi ke dokter dan meminum obat agar diberikan kesembuhan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, meskipun keyakinannya pencipta kesembuhan adalah Allah subhanahu wa ta’ala, sedangkan obat hanyalah sebab kesembuhan. Jika obat adalah contoh sabab ‘âdi (sebab-sebab alamiah), maka tawassul adalah sabab syar’i (sebabsebab yang diperkenankan syara’).

  132. RENUNGAN UNTUK @rikiblank
    Hai orang 2 yang merasa bner…tolong ksih tw saya, bagaimana cara ANDA memahami dalil.Alqur’an Hadist .?? apakah cukup hanya dengan TERJEMAHAN SAJA, internet..tanpa mau mempergunakan pemahaman ulama yang masa hidupnya lebih dekat dengan masa TURUNNYA WAHYU??? ayat brapa…surat apa..dari mana asal KETIDAK bolehannya bertawasul kepada ahli kubur..maulid nabi. dan bid’ah lain nya yg lgi tenar di klangan msarakat yg beralsan bid’ah hasanah…..(Inti nya yg harus anda taw adalah suatu kebiasaan anda DALAM MEMAHAMI DALIL NASH YANG SERAMPANGAN HARUS SEGERA DIHENTIKAN, DAN SELALU PERGUNAKANLAH ILMU MEMAHAMI DALIL NASH yg trun mnurun telah diajarkan oleh kakek nenek moyang anda dan TELAH TERBUKTI KESHOLIHANYA SEKALIGUS SANADNYA… ketika dkritik anda menyalahkan bahkan mengkafir kan BAHKAN IMAM BUKHORI PUN TIDAK LUPUT DARI HINAAN GOLONGAN ANDA .. apakah kakek nenek moyang anda nabi….asal anda tw sesama islam tidak boleh mngkafir kan tampa alsan yg jlaz…ngerti ….jngan asal ngebantah aja …ini agama bro..ada dalil ..alqur’an dan sunnah… DAN ADA ILMU CARA MEMAHAMI DALIL AL QUR’AN DAN ASSUNAH… JANGAN ANDA MERASA SOK BENER HANYA DENGAN ILMU TERJEMAHAN……

    AFWAN

  133. COPY PASTE AJA AHHH
    AAAAH Ziaroh kubur ahhh…. nyontoh rosulullah soalnya rosulullah juga pernah mendoakan orang yg sudah meninggal di kuburan pas rosulullah berjalan dg sahabat lewat kuburan rosulullah mendengar ada kuburan yg menangis terus rosulullah menghampiri dan mwndoakannya sehingga tangisaN TERSEBUT BERHENTI SETELAH ROSULULLAH MENDOAKANNYA ROSUL MENGAMBIL PELEPAH KURMA KURMA SAMBIL BERBICARA SELAMA PELEPAH KORMA INI BLM KERING MASIH IKUT MENDOAKAN wah rosulullah kuburiyunnn yaaa ASYIIIIK ASYIIIK SEKALILAGI ASYIIIK

    TULUNG HADISSE cari sendiri ya bi.

  134. Ini yg tidak dipahami oleh kaum Wahhabi:
    Ziarah adalah sambang/menjenguk. Ketika kita mempunyai saudara yg tdk berada dalam satu kota, kita merasa kangen dan sdh menjadi kebiasaan (bahkan dlm islam sangat dianjurkan) bagi kita untuk menjenguknya sebagai bagian dari sillaturrahim. Di saat kita bertemu dengan saudara tsb, kita melepas kangen dengan berpelukan dan menciumnya bercerita ttg kehidupan kita baik yg senang maupun yg menyedihkan, betapa senangnya perasaan kita di saat itu. Nah itu jika kita melepas kangen dengan saudara kita. Sedangkan Rasulullah SAWW bukanlah manusia biasa, beliau adalah manusia suci yg telah mengakibatkan turunnya rahmat Allah SWT kepada semua makhluk. Maka sepantasnyalah jika kita menjenguk beliau dan melepas kangen dengan mencium kuburannya, memeluknya dan bercerita ttg kehidupan kita. Begitu pun dengan tawassul, mungkin banyak di antara kita yg masih menganggur dan tidak mempunyai pekerjaan tetap. Lalu kita bertemu kawan lama yg sudah bekerja dan menjadi orang kepercayaan dari sebuah perusahaan ternama yg semua orang mendambakan dapat bekerja di sana. Kita bisa saja langsung melamar sebuah pekerjaan di perusahaan itu tapi jika kita mempunyai teman yg dengan senang hati mau menolong kita untuk dapat bertemu langsung dengan pimpinan perusahaan tsb supaya dicarikan pekerjaan, knp tidak kita manfaatkan? begitulah menurut saya analogi dari tawassul kpd Rasulullah SAWW. Maka kalau yg seperti ini disebut oleh kaum Wahhabi sebagai kelakukan orang musyrik, maka saya dengan bangga menerima titel sebagai orang musyrik.

  135. percuma ngomong sama orang ngeyel, persis sama orang “sononya” yang sukanya ngeyel meski dah tau salah, selamat berbuka puasa (mengucapkan selamat kaya gini bid’ah gak ya?)

  136. alangkah baiknya semua komentar di atas masuk dalam diskusi yang bersifat ilmiyah dengan kepala dingin…kalo hawa nafsu yang maju ya setan yang senang…entah yang membawa siapa saaja akan tetapi tidak bertentangan dengan nash-nash yang shahih kenapa mesti ribut…
    JANGAN JANGAN KITA SEBAGAIMANA YANG DISABDAKAN NABI…mengikuti para ulama kita tanpa ilmu yang jelas atau sang ulama menyembunyikan kebenaran karena belum siap ditinggal umat karenna tidak sesuai dengan permintaan mereka…
    ‘Ady bin Hatim berkata, “Wahai Rasullullah kita tidak menyembah mereka,” Rasulullah menjawab, “Bukankah mereka mengharamkan sesuatu yang halal kemudian kalian mengikutinya dan mereka menghalalkan yang haram dan kalian mengikutinya.” Ya. Jawab Ady, “Itulah bentuk ibadah kepada mereka.”
    Orang Yahudi fanatik dengan rabi mereka sehingga menjadi sesat dan terlaknat orang nasrani fanatik dengan pendeta mereka sehingga menjadi sesat dan hina…apakah umat Islam yang fanatik dengan ulama mereka (yang tidak berdasarkan wahtu tetapi hawa nafsu) akan tersesat juga….jawabannya ada di dalam diri anda…mari berdiskusi untuk kebaikan kita sendiri, letakkan nafsu agar kita bisa saling menasehati…matur nuwun…

  137. mas @gunawan, ucapan anda yang ini (“mengikuti para ulama kita tanpa ilmu yang jelas atau sang ulama menyembunyikan kebenaran karena belum siap ditinggal umat karenna tidak sesuai dengan permintaan mereka…”) menurut saya adalah bentuk kesombongan… bukankah kita diajari agar selalu husnudzon…terlebih kepada para ulama…, mereka adalah pewaris para nabi… kalau pewaris para nabi saja sudah anda ragukan keikhlasannya….. lantas..siapakah menurut anda orang yang bisa kita percayai untuk masalah AGAMA ???

  138. kemudian tulisan anda yang ini(“Orang Yahudi fanatik dengan rabi mereka sehingga menjadi sesat dan terlaknat orang nasrani fanatik dengan pendeta mereka sehingga menjadi sesat dan hina…apakah umat Islam yang fanatik dengan ulama mereka (yang tidak berdasarkan wahtu tetapi hawa nafsu) akan tersesat juga….jawabannya ada di dalam diri anda…mari berdiskusi untuk kebaikan kita sendiri”)… Mungkin anda belum tau apa arti husnudzon dan fanatik… kalau mereka para ulama dalam menyampaikan agama islam dengan Ikhlas dan lillahi ta’ala SAYA RELA DIBILANG ORANG YANG FANATIK.. kenapa kita menutupi identitas kita….???

  139. dalam Al-Quran memang ada kalimat sholawat. tapi bukan sholawat badar kan?
    masa malaikat bersholawat dengan memukul2 rebana sambil bernari-nari

  140. sebagai orang awam, saya bisa membedakan (ibarat laut) mana yang airnya dangkal mana yang airnya dalam.

    mohon maaf bila ada kesalahan. terima kasih.

    teruskan jihad nya.

  141. wah uda selesai ya acara debat nya? saya mau simpulin ah boleh ya? (akhirnya beres juga baca sekian ratus komen. >.<)maaf kalau salah tolong diluruskan. kebetulan beberapa hari ini saya banyak membuka situs 3 besar aliran yang jadi perhatian besar saat ini. SYIAH, WAHABI dan ASWAJA.

    SYIAH ga usah panjang lebar. SESAT!!!

    nah tinggal WAHABI sama ASWAJA ini yang keduanya mengaku sama2 Ahlussunnah Waljamaah betul?

    saya sudah coba mengutarakan beberapa pertanyaan ke beberapa situs WAHABI kemarin dan tadi pagi (situs terbesarnya seperti arrahmah.com dan nahimunkar.com). Mudah2an segera di konfirmasi pertanyaan saya (karena perlu persetujuan admin) dan dijawab dalam waktu dekat (jangan malah didelcon ya pak admin).

    nah disini (melalui diskusi ini) ternyata saya malah dapat menyimpulkan atas mendapat gambaran jelas mengenai WAHABI dan ASWAJA. ini kesimpulan saya.

    1. mengenai pernyataan ini,

    "Ibnu Suradi says:
    May 31, 2013 at 9:07 am
    Bismillaah,
    Mas Maulana,
    Anda dan kawan-kawan sekalian musti berterima kasih kepada Albani. Karena kitab karangannya yang berjudul “Sifat Shalat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam” tersebar dan dibaca oleh banyak umat Islam di seluruh dunia, maka ulama lain termasuk Hasan Ali Assaqaf menulis kitab sejenis yang menurut saya melengkapi apa yang belum ada dalam kitab Albani. Anda dan kawan-kawan juga menjadi peduli dalil dari ayat Qur’an dan hadits shahih serta perkataan ulama yang mendasari shalat anda. Kalau sebelumnya anda shalat tidak menghadap sutrah (pembatas), kini anda shalat menghadap sutrah yang dikatakan oleh Hasan Ali Assaqqaf sebagai sunnah. Anda menjadi tahu apa itu sutrah (pembatas) dalam shalat dan apa saja yang biasa digunakan oleh Rasulullaah sebagai sutrah saat beliau shalat.
    Kita musti membaca kedua kitab tersebut agar kita dapat memperbaiki shalat kita.
    Wallaahu a’lam."

    sebenarnya saudara se-muslim Ibnu Suradi tahu tidak, duluan mana ajaran WAHABI dan ASWAJA? anda bilang "melengkapi" seakan-akan WAHABI lebih dulu lahir dan lebih dekat kepada ajaran Baginda Rasulullah SAW.

    2. mengenai pernyataan ini,

    "ruli says:
    May 30, 2013 at 11:22 am
    An-Naml ayat 80
    “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang”.
    Sebetulnya kita telah mengetahui bahwa perkara ini masuk dalam perkara yang diperselisihkan, dan kita boleh mengikuti pendapat siapapun yang paling kuat begitu juga kawan2 boleh mengikuti pendapat siap pun. Dalam hal ini saya mengikuti pendapat yang menyatakan bahwa mayat dapat mendengar pada saat tertentu seperti hadist yang dikemukanan oleh Mas Vijay diatas, atau hadist mengenai kisah sumur Badr.
    Tetapi yang menjadi masalah utama dalam diskusi ini adalah: bisakah mayat menyampaikan doá peziarah kubur (tentuya bagi peziarah yang menjadikan mayat sebagai wasilah doá mereka) kepada Allah Subhanahu Wa Taála? Adakah dalil yang menyatakan hal ini?"

    saya tidak ingin menghujat seseorang. dengan niat baik saya bertanya ini tidak sedang ber-taqiyyah kan sebagaimana keahlian SYIAH? karena gini, "Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang" kata2 ini perlu pemahaman yang dalam sehingga tidak bisa seseorang yang AWAM menerjemahkan sendiri.

    3. mengenai pernyataan ini,

    "rikkiblank says:
    July 1, 2013 at 4:24 am
    Hai orang 2 yang merasa bner…tolong ksih tw saya ..dalil.hadist .alqur’an ayat brapa…surat apa..dri mana asal boleh nya meminta2 kpada ahli kubur..maulid nabi.dan bid’ah lain nya yg lgi tenar di klangan msarakat yg beralsan bid’ah hasanah..(Inti nya yg harus anda taw adalah suatu kebiasaan anda yg trun mnurun diajar kan oleh kakek nenek moyang anda dan ketika dkritik anda menyalah kan bahkan mengkafir kan ..apakah kakek nenek moyang anda nabi….asal anda tw sesama islam tidak boleh mngkafir kan tampa alsan yg jlaz…ngerti ….jngan asal ngebantah aja …ini agama bro..ada dalil ..alqur’an dan sunnah…"

    antum jangan ASBUN "asal bunyi". baca dulu dari awal. uda jelas diterangkan oleh pendebat dari ASWAJA mengenai hal itu. justru yang menjadi pertanyaan saya adalah kenapa saudara antum Ibnu Suradi mewakili WAHABI banyak tidak menjawabnya dibanding menjawabnya pertanyaan-pertanyaan yang munculnya dari ucapan dia sendiri? kalau anda atau siapapun dari WAHABI tidak memiliki kredibilitas untuk menjawab mending DIAM. karena gini saya ini AWAM. saya melihat mana yang baik dan mana yang buruk dari apa yang kalian tulis.

    sebagai contoh gini, disalah satu topik di arrahmah.com pada bahasan "Ustadz M. Thalib: NU wahabi sejati dan transnasional" terjadi perdebatan pada comment mengenai yasinan, mungkin KEBETULAN ya atau gimana saya ga tau perwakilan yang mengatas namakan ASWAJA dan WAHABI sama2 tidak ada yang bisa menjelaskan mana hadist yang "menganjurkan" maupun "melarang" yasinan. tapi pada komen disini telah jelas sudah masalah yasinan dijelaskan oleh ASWAJA. tak ada sangkalan dari WAHABI di komen ini yang menyatakan tidak boleh baca surah yasin atau berkumpul untuk membacanya betul? nah tapi kok kenapa saya tidak menemukan jawaban dari runutan sanad yang dimiliki WAHABI? sementara sanad dari ASWAJA sudah saya dapatkan setidaknya dari beberapa ulamanya. bahkan saya mempertanyakan pernyataan "Pertama : Karena para perawi yang dibawah para penulis kitab-kitab hadits tersebut hingga perawi di zaman kita sekarang ini tidak bisa diperiksa kredibilitasnya karena biografi mereka tidak diperhatikan oleh para ulama dan tidak termaktub dalam kitab-kitab al-jarh wa at-ta’diil
    Kedua : Kalaupun jika seluruh para perawi tersebut (dari zaman kita hingga ke penulis kitab) kita anggap tsiqoh maka kembali lagi kita harus mengecek para perawi dari zaman gurunya para penulis kitab-kitab hadits tersebut hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka seakan-akan kita ngecek langsung para perawi yang terdapat dalam sanad-sanad yang terdapat dalam kitab-kitab hadits tersebut.
    Jadi keberadaan isnad dari zaman sekarang hingga nyambung ke para penulis kitab-kitab hadits tersebut kurang bermanfaat, itu kalau tidak mau dikatakan tidak ada faedahnya !!!" pada link http://nahimunkar.com/antara-habib-munzir-islam-jamaah-bagian-i/. Maafkan saya yang awam ini. Bukan kah kalau begitu adanya berarti ada kemungkinan hadist2 tersebut yang diriwayatkan perawi yang dibawah para penulis kitab-kitab hadist tadi bisa saja berbuat dusta dengan memalsukan hadist2? Karena kan "kredibitasnya" dipertanyakan? Kalau gitu kita berpegang teguh pada al qur'an saja tanpa membahas hadist yang perawinya masih di pertanyakan kredibilitasnya ya kan? dari pada dosa? Atau mungkin dari pihak WAHABI mau menerangkan bagaimana cara WAHABI meyakini perawi mereka itu memiliki "kredibilitas" yang pada dasarnya kalian sendiri meragukannya?

    4. mengenai pernyataan ini dan ini terakhir,

    "Ibnu Suradi says:
    June 3, 2013 at 9:32 am
    Bismillaah,
    Kang Alfeyd,
    Afwan, anggap saja komentar saya sebelum ini tidak ada. Ternyata anda sudah menjelaskan definisi kata “sunnah” dalam frasa “Ahlussunnah wal Jamaah” sebagai berikut:
    B. sunah menurut Syara’
    مَاجَاءَ عَنِ النَّبِيّ ص مِنْ اَقْوَالِهِ وَاَفْعَالِهِ وَ تَقْرِيْرِهِ وَمَاهَمَّ بِفِعْلِهِ.
    “Apa-apa yang datang dari Nabi SAW berupa perkataan-perkataannya perbuatan-perbuatannya, taqrirnya dan apa-apa yang beliau cita-citakan untuk mengerjakannya”.
    Komentar:
    Nah, bila merujuk kepada definisi yang anda sampaikan tersebut, maka bisa dijelaskan bahwa Ahlussunnah wal Jamaah adalah orang yang mengikuti perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullaah shallallaahu ‘alahi wa sallam dalam kehidupan beragama Islam mulai dari keyakianan (aqidah), ibadah hingga muamalah. Mari kita cocokkan aqidah kita, ibadah kita, muamalah kita, dll dengan aqidah, ibadah, muamalah Rasulullaah sehingga kita layak disebut Ahlussunnah wal Jamaah.
    Wallaahu a’lam."

    jadi inikah tujuan antum? antum meng-amini bahwa Ahlussunnah Waljamaah adalah golongan yang Rasulullah SAW sebutkan sebagai golongan yang selamat diakhir zaman 1 diantara 73 dan anda ingin bilang ASWAJA dan WAHABI adalah sama2 Ahlussunnah Waljamaah yaitu golongan yang selamat tadi sementara ANDA tahu betul sangat berbeda jelas antara ASWAJA dan WAHABI dan tidak mungkin akan menjadi 1 pendapat ASWAJA dan WAHABI selama ANDA dan pengikut WAHABI masih berpegang teguh pada apa yang menyalahi apa yang telah diyakini ASWAJA?

    jadi saya mohon anda dan teman2 anda tadi jelaskan point per point yang saya supaya saya menjadi jelas mana yang HAK dan mana yang BATHIL.

  142. wah-wah-wah.

    ternyata sejarah mencatat dan membuktikan fakta. baca http://indonesian.irib.ir/sorot/-/asset_publisher/z7Zx/content/menyingkap-hakikat-wahabisme-ajaran-wahabi-tidak-didukung-argumentasi-syariat-dan-logika-yang-kuat.

    sebenarnya ini menjadi jawaban atas ingatan saya dulu (karena sempat ragu yang saya ingat betul atau tidak). karena dulu yang saya inget WAHABI itu ketika dibilang, “kalau antum mau bilang ini bid’ah itu bid’ah, besok kalau kerja naik onta saja ya”, mereka DIAM SERIBU BAHASA.

    tapi sekarang ternyata mereka bisa menjawab. “oh yang kita bicarakan itu bid’ah secara ibadah dan bla-bla-bla…”

    apa ada revisi pada kitab2 mereka ya? -_-”

    kalau benar (maaf) kayak alkitab nya kaum kafir dong ada perjanjian lama dan perjanjian baru? -_-”

    mohon pencerahan agan-agan WAHABI.

  143. @murid.kalau antum mau bilang ini bid’ah itu bid’ah, besok kalau kerja naik onta saja ya”, mereka DIAM SERIBU BAHASA.betul-betul logika anak-anak,kacian

  144. ini yang sering terjadi. di masjid2 sering kita lihat di papan pengumuman ditempel sebuah poster tentang sifat sholat Nabi berikut gambar ilustrasi sholat sesuai Sunnah, lurus dan rapat, bahu dan tumit saling menempel antar jamaah. saat cara sholat seperti itu hendak sy lakukan dengan menempelkan sisi tumit dan bahu ke salah seorang jamaah yg mengenakan sorban putih di sebelah kiri saya, serta merta dia bergeser menjauh, saya tempel lagi, dia bergeser lagi sampai ke tiga kali akhirnya saya diam dan mengawali sholat dengan persaan sedih dan terpukul, sy sedih apakah sholat berjamaah ini tdk diterima Allah SWT krn tdk mengikuti Sunnah, kejadian seperti itu sering sy alami ketika sy mengikuti sholat berjamaah di masjid2 yg katanya Ahlusunnah wal Jamaah, apakah anda2 yg pada ngaku Ahlusunnah pernah mengalami? Kalau tdk pernah mengalami sprti kejadian di atas berarti memang sholat berjamahnya sudah biasa dengan keadaan barisan shaf yg renggang. itu pengalaman yg sangat pahit dan masih sering sy alami bila mengikuti sholat berjamaah, ditempel tumit dan bahu… bergeser, ditempel lg … bergeser lagi, ditempel lagi… bergeser lg… akhirnya sy pasrah dan berdoa semoga mereka diinsafkan dan kembali kpd Sunnah, jadi memang tolok ukur kebenaran bukan pada kuantitas. lihat jammah yg sholat berjamaah di masjid yg biasa saya jumpai, mereka banyak, cukup banyak, tapi berapa sih yg mau bersedia menempelkan bahu dan tumit ke kanan kiri jamaah yg lainnya? berapa sih yg bersedia merapatkan barisan?

  145. @ Lusimin
    lucu sekali kau ini, merapatkan barisan patokannya bukan kaki (otak taro mana), untuk apa kakai rapat sementara bahu bejauhan, emang kaki anda rengkang-kan memang mau pasang kuda-kuda main silat? terus lagi ucapan anda: “akhirnya sy pasrah dan berdoa semoga mereka diinsafkan dan kembali kpd Sunnah,” ya anda itu yg harusnya insyaff, ajaran wahabi kok mau ditelan mentah-mentah.
    berdiri saja dengan porsi yg enak tidak usah dibuat2, anda saja yg gak ngerti syarat rukun sholat, ayo… ngerti gak anda syarat rukun sholat coba sebutkan, ini pelajaran kita waktu SD dulu.

  146. Bismillaah,

    Mengetahui rukun shalat adalah penting. Namun, lebih penting lagi adalah mengetahuii bagaimana cara melaksanakan rukun itu dengan benar sesuai yang diajarkan dan dicontohkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

    Banyak orang yanag hafal rukun shalat. Anak tamatan TPA juga hafal rukun shalat. Namun apakah mereka benar dalam melaksanakan rukun shalat tersebut? Anda dapat mengeceknya pada hadits-hadits tentang shalat untuk menilainya.

    Wallaahu a’lam.

    Wallaahu a’lam.

  147. Assalamualaikum Ibnu suradi
    Ketemu lagi, he he ente masih menyelisihi shalat orang-orang diluar aliran ente !!!!
    Yang paling penting dalam shalat adalah bersuci, apakah :
    1. Waktu ente buang air kecil, ente yakin seyakin-yakinnya tidak ada setitik air kencing yang menempel dicelana ente ?
    2. Kalau ente kentut, pasti mengeluarkan cairan berwarna kuning dan menempel dicelana ente, apakah ente sudah periksa hal itu ? buktikan sendiri, ente pakai celana dalam berwarna putih….
    3. Kalau ente ada syuur, pasti ente keluar cairan (agak sedikit kental) dikemaluan ente yang bercampur dengan air kencing, batal gak kira2 itu, karena mani itu ada 3 yaitu madi, maji dan mani, mana yang membatalkan wudhu kita ?
    Seribu rakaat ente shalat kalau masih ada 3 hal itu, maka sia-sia ente shalat, hal diatas persoalan kecil tapi sangat berbahaya buat kita yang melakukan shalat karena ada ancaman siksa
    Jangan menyelisihi shalat orang lain, kecuali mereka tidak membaca fatihah, atau mereka tidak ruku’ atau salah satu rukun yang ditinggalkan, baru ente peringatkan itu sudah menyalahi rukun shalat.

  148. Kalau dalam shalat, yang paling-paling penting adalah Tuma’ninah dan khusu’. Ane pernah diskusi sama ente, kalau seorang sahabat, shalatnya bagai tonggak dan dari takbir sampai salam dia tiada henti menangis, Dialah Saiydina Abu Bakar as Sidik ra. Bisa gak kita seperti itu.
    Tolong dijawab juga apa itu Tuma’ninah dan apa itu khusu’ ?

    Mohon pencerahannya Ibnu Suradi !!!!

  149. @ibnu suradi
    Ketemu lagi, he he he ente masih menyelisihi orang shalat diluar faham ente !!!
    Kalau shalat yang sangat2 perlu dan harus diperhatikan adalah bersuci :
    1. Apakah ente yakin seyakin-yakinnya, tidak ada setitikpun air kencing ente yang menempel dicelana dalam ente ?
    2. Kalau kita kentut, itu pasti akan sedikit keluar cairan berwarna kuning dan menempel di celana dalam. Coba ente buktikan sendiri dengan memakai celana dalam warna putih.
    3. Kalau kita ada syuur, pasti akan keluar cairan madi, batal gak itu?. Cairan mani itu ada 3 yaitu Madi, Maji dan Mani, mana dari ke 3 itu yang membatakan wudhu’

    Walau ente shalat seribu rakaat setiap hari, kalau ke 3 diatas masih ada, maka percuma aja. Bahkan ada ancaman siksanya. Kenapa ente masih menyelisihi shalat orang, kecuali orang itu gak baca fatihah, gak ruku’ atau sujud atau menambahkan ruku’ / sujud atau meninggalkan rukun shalat, baru ente peringatkan atau ente protes.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker