Inspirasional

Ajaran Wahabi Menyusup ke Desa, Awas Muncul Desa Radikal

Pernahkah terpikir oleh kita suatu ketika nanti akan muncul desa-desa radikal akibat desa-desa itu dihuni oleh penduduk yang sudah didoktrin ajaran Wahabi? Mereka karena mayoritas di desanya, lalu dengan garangnya berteriak: Bid’ah, syirik, kafir, murtad, halal darahnya (halal dibunuh). Sungguh mengerikan bukan?

Sekarang ini sudah mulai berdiri masjid-masjid Salafi Wahabi di luar pedesaan guna menjaring para pengikut potensial. Kaum muslim awam agama adalah calon pengikut paling potensial, dengan iming-iming kebanggan sebagai pengikut ajaran “murni” dari Nabi Muhammad ditambah bantuan-bantuan ekonomis, maka ustadz-ustadz Wahabi akan mudah mendapatkan pengikut.

Jika kita terlambat menghadang  pergerakan mereka, tidak mustahil apa yang menjadi kekuatiran akan munculnya desa-desa radikal karena dihuni pengikut ajaran Wahabi, suatu ketika nanti akan menemui kenyataan. Jika ini terjadi maka umat Islam di desa-desa akan mengalami kegaduhan atau bahkan mengalami teror akibat dikafir-kafirkan, dibid’ah-bid’ahkan, bahkan dimusrik-musyrikan oleh para pengikut ajaran Wahabi.

Untuk lebih jelasnya mengenai fenomena ini, mari kita simak paparan info berikut ini yang disampaikan Ahmad Samsul Rijal, Sekretaris Pengurus Cabnag Nahdltul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur…..

BACA JUGA:  Afrokhi Al-Wahabi Ngumpet Saat Dikunjungi Densus 99 Anti Teroris Aqidah

 

 

Waspada, Ajaran Radikal Wahabi Mulai Merambah ke Desa-desa

Desa menjadi arena pelaksanaan program pembangunan dari pemerintah. Kemandirian desa dalam mengatur dan mengurus kehidupan masyarakatnya menjadi potensi besar bagi pemberdayaan partisipasi masyarakat. Desa juga menjadi peluang bagi pihak lain yang berkepentingan, termasuk jaringan radikalisme untuk meluaskan dan menguatkan pengaruhnya melalui skema-skema pelayanan yang mudah diterima oleh masyarakat desa.

Demikian yang disampaikan Ahmad Samsul Rijal, Sekretaris Pengurus Cabnag Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Ia mengungkapkan, beberapa kali seminar dan workshop yang diikutinya menyatakan  bahwa paham radikal yang mengatasnamakan agama sudah mulai masuk di lingkungan masyarakat desa.

“Komunitas desa dengan perilaku agamis tradisionalis mulai dialih-kenalkan paham agama yang bersifat fundamentalis dengan kedok purifikasi (pemurnian) sumber ajaran,” katanya kepada NU Online, Jum’at (8/1/2015).

Pendekatan seperti ini, lanjut Rijal akan menjadi jalan bagi tumbuhnya paham dan sikap radikal di tengah masyarakat desa, sehingga gesekan-gesekan konflik terbuka maupun laten niscaya terjadi. Desa tidak bisa lagi tumbuh sebagai entitas sosial budaya yang terhubung secara sehat.

BACA JUGA:  Habib Munzir dan Perjalanan Dakwah 2000 Kilometer

“Desa akan terpolarisasi oleh ideologi yang tidak bisa menopang ideologi keagamaan dan kebangsaan yang kokoh. Sebaliknya, desa menjadi rapuh untuk bisa menopang keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” lanjut Rijal yang juga Sekretaris Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Jombang.

Ia menyebutkan beberapa paham yang cendrung berusaha mengalih-kenalkan paham agama ke arah fundamentalisme, puritanisme dan radikalisme adalah mereka yang berideologi Salafi atau Wahabi, yakni founding father ideologi Saudi Arabia, Muhammad Ibnu Abdul Wahhab An Najd.

“Kelompok Wahabi ini mengaku membawa misi memurnikan ajaran tauhid dari kemusyrikan, khurafat, bid’ah, menyembah makam-makam atau kuburan, dan lain sebagainya,” ulasnya.

Syariat Islam, bagi mereka, sepanjang tidak diatur dan ditentukan pelaksanaannya dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist dianggap bid’ah. Dan setiap bid’ah dinilai sebagai kesesatan yang kelak di akhirat dipastikan masuk neraka.

BACA JUGA:  Sambungan Kisah Taubatnya Salafytobat

“Sehingga dampaknya kelompok yang telah terkontaminasi oleh wahabisme akan dengan mudah mengklaim sebagai pembawa kebenaran dan pemurni agama serta menilai selain mereka sebagai yang sesat, musyrik, kafir dan wajib dimusuhi,” tuturnya.

Ia mengakui bahwa pengaruh doktrin kelompok Wahabi sangat kuat. Hal ini menjadi kewaspadaan tersendiri bagi warga NU untuk membentengi masyarakat di pedesaan dengan menguatkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyah.

Dengan demikian desa tidak akan kehilangan lokalitas, kearifan dan keaslian atas asal usulnya. Keluhuran budaya dan nilai yang telah berkembang di desa serta mengikat erat hubungan kekerabatan dan kegotong-royongan tetap berjalan sebagaimana mestinya. “Cukuplah wahabisme menjadi ideologi warga Saudi Arabia, karena ‘kita’ bukan waga Islam Arab, tapi Islam Nusantara,” pungkasnya. (Syamsul Arifin/Mahbib/NU Online)

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - Ajaran Wahabi Menyusup ke Desa, Awas Muncul Desa Radikal
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.
Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker