sapi qurban 2017 di jakarta
Hosting Unlimited Indonesia
Berita Fakta

Ahlussunnah Wal Jamaah Menjawab Tuntas Tudingan Kaum Wahabi

ID FashionWeek 300x250 - Ahlussunnah Wal Jamaah Menjawab Tuntas Tudingan Kaum Wahabiaff i?offer id=7474&file id=157046&aff id=176058 - Ahlussunnah Wal Jamaah Menjawab Tuntas Tudingan Kaum Wahabi

KATA PENGANTAR… Mayoritas ummat Islam Indonesia, bahkan di dunia adalah penganut aliran Ahlussunnah Wal Jama’ah. Ajaran-ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah begitu berakar dan membumi dalam tradisi, budaya dan kehidupan keseharian masyarakat muslim Indonesia. Memang ajaran-ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah bisa terwujud dalam manifestasi yang beragam di berbagai belahan dunia Islam karena cara hidup, kebiasaan dan adat istiadat masing-masing kawasan dunia Islam yang berbeda. Namun ada benang merah yang menyatukan semua adat-adat yang berbeda itu. Ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah selalu menjiwai berbagai tradisi-tradisi keagamaan tersebut. Di relung-relung tradisi-tradisi tersebut pasti ada ajaran-ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah yang menjadi substansi dan penggeraknya.

Bagi para ulama dan kalangan terpelajar (santri kitab kuning) akan dengan mudah menangkap ajaran-ajaran di balik  tradisi-tradisi keagamaan yang berbeda-beda tersebut. Namun bagi sebagian kalangan awam mungkin agak sulit, mereka lebih memahami praktek dari pada ajarannya, mereka lebih melihat aspek lahiriah dari pada aspek bathiniyyahnya. Dari sinilah timbul kesalahpahaman terhadap sebagian tradisi-tradisi keagamaan yang ada. Sebagian kalangan awam mengira bahwa peringatan Maulid adalah khas Indonesia, Manaqiban (Syaikh Abd.Qadir Jailani) adalah khas Jawa, Qaulan dengan membaca Hikayat Samman adalah khas masyarakat Betawi dan seterusnya.

Tradisi-tradisi ini diduga tidak memiliki sandaran dari tradisi masyarakat Islam Arab (great tradition), apalagi dalil-dalil dari al Qur’an dan sunnah. Sehingga ketika dikatakan kepada masyarakat awam: Peringatan maulid itu bid’ah sesat, Manaqiban itu tidak ada dasarnya, dan membaca hikayat Samman adalah khurafat, lihat saja di Negara-negara Arab tidak ada acara-acara semacam ini !? Jika kalangan awam yang diajukan kepadanya pertanyaan-pertanyaan semacam ini maka mereka akan kebingungan, namun sikap fanatik mereka akan menyelamatkan mereka. Tetapi jika mereka berasal dari kalangan yang terpelajar tetapi awam dalam agama, mereka akan perlahan meninggalkan tradisi tersebut karena dianggap tidak rasional dan membuang waktu serta dana tanpa jelas juntrungannya dan tanpa ada keuntungan pahalanya.

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini bisa sangat beragam. Sebagian orang mengatakan: Ajaran Islam itu kan rasional, dimana letak sisi rasionalitasnya ketika orang ngaji al Qur’an di kuburan, bukankah ada tempat yang lebih mulia, yaitu masjid ? Bahkan kepada jama’ah haji yang berkunjung ke gua Hira’; tempat Nabi pertama kali menerima wahyu yang berupa al Qur’an, di Jabal Nur diajukan pertanyaan sebagai berikut: Anda ke gua hira’ untuk apa? Jika sudah tahu dan melihat gua hira’ apa yang akan anda lakukan? Tidak sayangkah anda kepada waktu anda yang terbuang percuma ini, bukankah lebih baik anda menggunakan waktu anda ini untuk i’tikaf, membaca al Qur’an dan sholat di Masjidil haram ?

Bahkan lebih dari itu, bagi para guru, ustadz dan juru dakwah pada umumnya yang langsung berinteraksi dengan masyarakat awam pertanyaan seperti: Apakah Tawassul itu ? Apakah Tabarruk itu boleh ? Ini sudah sangat lumrah terdengar, bahkan dari para pengamal tawassul dan tabarruk sendiri. Mereka yang selalu membaca sholawat Badar atau Sholawat Nariyyah, mereka yang sering berziarah ke makam para wali songo dan makam para salihin, para ulama atau habaib lainnya. Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan maka perlahan namun pasti akan merongrong kelestarian ajaran dan penganut Ahlussunnah Wal Jama’ah. Dan lama kelamaan bahkan sudah marak terjadi pertanyaan-pertanyaan dan gugatan-gugatan tersebut langsung menyentuh prinsip-prinsip akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Oleh karenanya sebagai bentuk pelaksanaan amanah dan Inkar al Munkar yang Allah bebankan kepada kaum terpelajar (ilmu keislaman), para guru dan para ustadz harus berbicara tentang masalah-masalah seperti ini dan menjelaskan kepada ummat kenyataan yang sebenarnya bahwa tradisi-tradisi keagamaan tersebut, yang telah berlangsung lama bahkan berabad-abad ada dalilnya dan jelas sandaran ajarannya. Sikap diam dan fanatik tidak lagi bisa membendung arus propanganda aliran-aliran di luar Ahlussunnah Wal Jama’ah. Harus ditegaskan beserta dalil-dalilnya bahwa peringatan Maulid bukan khas Indonesia, Manaqiban Syekh Abdul Qadir al Jilani dan pembacaan Hikayat Samman adalah salah satu bentuk manifestasi tawassul di beberapa kalangan masyarakat Indonesia. Tidak ada bedanya Manaqiban, Hikayat Samman dan sholawat Badar dengan apa yang dikatakan oleh pujangga Arab dan Islam al Bushiri:

IDSmartphonesYearEndSale370x300 - Ahlussunnah Wal Jamaah Menjawab Tuntas Tudingan Kaum Wahabiaff i?offer id=3733&file id=76783&aff id=176058 - Ahlussunnah Wal Jamaah Menjawab Tuntas Tudingan Kaum Wahabi

يَا رَبِّ بِالْمُصْـطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا              وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الكَـرَمِ

هُوَ الْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَـتُهُ             لِكُلِّ هَـوْلٍ مِنَ الأَهْـوَالِ مُقْتَحِمِ 

 َ

Semua adalah tawassul dan itu memiliki dasar dan pijakan yang kuat dalam syara’. Secara ekstrim dapat dikatakan bahwa perbedaan antara keduanya hanya seperti perbedaan nasi yang menjadi makanan pokok orang Indonesia dan roti yang merupakan makanan pokok orang Arab. Inilah yang ingin dijelaskan oleh buku Argumen Ahlussunnah Wal Jama’ah yang sekarang ada di tangan pembaca, sehingga akan muncul kesimpulan dari pembaca:

“Ternyata Tabarruk, Tawassul, Istighotsah, Ziarah Kubur, memakai Hiriz adalah amalan para ulama Salaf”,

“Ternyata beberapa tradisi yang dianggap menyalahi sunnah, sebaliknya sesuai dengan sunnah”,

11 11 600x300 - Ahlussunnah Wal Jamaah Menjawab Tuntas Tudingan Kaum Wahabiaff i?offer id=2&file id=10&aff id=28020 - Ahlussunnah Wal Jamaah Menjawab Tuntas Tudingan Kaum Wahabi

“Ternyata beberapa amalan yang selama ini umum kita lakukan ada dasar dan dalilnya”,

“Ternyata tidak semua bid’ah itu sesat”.

Inilah kesimpulan yang akan dibuktikan oleh buku yang ada di tangan pembaca ini. Sebelum diterbitkan, tulisan-tulisan ini memang sudah dibaca oleh banyak kalangan dan alhamdulillah kesimpulan di atas yang disampaikan oleh para pembaca kepada penulis.

Memang tujuan utama dari penulisan buku ini adalah jawaban dan bantahan terhadap sebagian kalangan yang mengusung paham Takfir dan Tabdi’ (hoby mengkafirkan dan membid’ahkan). Mereka yang gemar menuduh musyrik kafir dan sesat terhadap kaum muslimin dengan sebutan Quburiyyun, Musyrikun, Ahli Bid’ah. ARGUMEN AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH membuktikan bahwa tudingan mereka ini sama sekali tidak benar. Semua pembuktian dipaparkan dengan bahasa yang lugas, meyakinkan dan tanpa basa basi.

Semua paparan didukung dengan dalil-dalil yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan bukan hanya akal-akalan semata. Akar permasalahannya dibeberkan dengan jelas dan dirumuskan jawabannya sesuai dengan kaidah-kaidah yang disepakati oleh para ulama dan ahli. Selamat membaca dan semoga bermanfaat, teriring permohonan doa untuk penulis semoga selamat di dunia dan akhirat, Amin.

Jawaban Ahlussunnah Waljamaah Atas Tudingan Kaum Wahabi

300 250 - Ahlussunnah Wal Jamaah Menjawab Tuntas Tudingan Kaum Wahabiaff i?offer id=2&file id=6&aff id=28020 - Ahlussunnah Wal Jamaah Menjawab Tuntas Tudingan Kaum Wahabi

BUKU TERBARU, Judul: {{ Argumen Ahlussunnah Wal Jama’ah (Jawaban Tuntas Terhadap Tudingan Bid’ah Dan Sesat) }}

* Judul : Argumen Ahlussunnah Wal Jama’ah (Jawaban Tuntas Terhadap Tudingan Bid’ah Dan Sesat)

* Penulis : Abu Abdillah

* Ukuran buku : 21 cm x 15 cm

* Tebal halaman : 320 halaman,- (Selain Muqadimah)

* Harga : Rp. 60.000,- (Selain ongkos kirim)

* Alamat : Bagi yang berminat bisa didapat secara on line, silahkan hubungi

Kholil Abou Fateh di kotak FB: http://www.facebook.com/profile.php?id=1789501505, atau anda kirimkan email

di alamat:

aboufaateh@yahoo.com

di sana dibicarakan “kesepakatan harga/transfer pembayaran/dan pengiriman buku”. Atau dapat pula anda datang langsung ke tempat Kholil Abou fateh, untuk alamat jelasnya silahkan kirim email.

Segera… Buku Sangat Terbatas !!!

************************************

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

Pendahuluan

Ijtihad dan Taqlid

Beberapa Kaedah Istinbath dan Istidlal

Bagian Pertama:

–        Tabarruk

* Pengertian Tabarruk
* Dalil-Dalil Tabarruk
* Syubhat Kalangan anti Tabarruk

–        Tawassul

* Pengertian Tawassul
* Macam-macam Tawassul
* Ide Dasar Tawassul
* Kaifiat Tawassul dengan adz-Dzawat al Fadhilah
* Beragam Redaksi Tawassul
* Dalil-Dalil Tawassul dengan adz-Dawat al Fadhilah
* Tawassul Umar dengan al Abbas bin Abdul Muththalib
* Tawassul menurut madzhab empat

–        Istigatsah

* Pengertian Istighatsah
* Macam-macam Istighatsah
* Dalil-Dalil Istighatsah dengan Selain Allah
* Amaliah Ulama Salaf dan Khalaf
* Syhubhat Kalangan anti Istighatsah
* Beberapa Faedah Penting

–        Ziarah Kubur

* Ziarah Kubur Pada Hari Raya
* Hal-Hal yang Dibolehkan dan Dilarang Saat Ziarah Kubur
* Dalil-Dalil Ziarah Kubur dengan Tujuan Tawassul dan Tabarruk
* Jawaban atas Syubhat Kalangan Anti Ziarah Kubur
* Kisah Hikmah

–        Memakai Hiriz atau Ta’widz

* Fatwa Para Ulama dan Ahli Hadits
* Syubhat Kalangan anti Hiriz dan Ta’widz

Bagian Kedua:

–        Mencium Tangan Orang Saleh

–        Dzikir Berjama’ah Setelah Shalat

* Dzikir Berjama’ah
* Dzikir dengan Suara Keras
* Dzikir Berjama’ah setelah Shalat dengan Suara Keras
* Doa Berjama’ah
* Penjelasan Ibnu Hajar al Haytami tentang Dzikir Berjama’ah
* Fatwa Para Ulama dan Ahli Hadits
* Syhubhat Kalangan yang mengharamkan Dzikir dan Doa dengan Suara Keras

–        Dzikir Memakai Tasbih

* Beberapa jumlah dzikir yang disebut dalam sunnah
* Dzikir dengan menggunakan tasbih
* Antara menghitung dzikir dengan jari atau tasbih
* Amaliah Ulama salaf dan khalaf
* Perkataan sebagian ulama tentang tasbih
* Syubhat kalangan yang mengharamkan tasbih

–        Shalat Qabliyah Jum’at

* Hadits-hadits umum
* Hadits-hadits khusus
* Atsar para sahabat dan tabi’in
* Perkataan para ulama

–        Khutbah Jum’at Memakai Tongkat

Bagian ketiga:

–        Talqin Mayit

–        Bacaan al Qur’an untuk Mayit

* Dalil-dalil membaca al Qur’an Untuk Mayit
* Membaca al Qur’an untuk mayit menurut madzhab empat
* Pendapat ahli bid’ah
* Syubhat kalangan yang mengharamkan membaca al Qur’an untuk mayit

–        Tahlil

* Perkara-perkara yang bermanfaat untuk mayit
* Menghadiahkan amal
* Pengertian tahlil
* Hukum tahlil
* Beberapa bentuk tahlil
* Menghadiahkan makanan untuk para penta’ziah

–        Qunut Subuh

–        Bacaan Sayyidina

Bagian Keempat:

Set1 niagahoster 600x400 - Ahlussunnah Wal Jamaah Menjawab Tuntas Tudingan Kaum Wahabi 

–        Bid’ah

* Pengertian Bid’ah
* Macam-macam Bid’ah
* Dalil-dalil Bid’ah Hasanah
* Beberaca contoh Bid’ah Hasanah dan Sayyi’ah
* Syubhat kalangan yang mengingkari adanya Bid’ah Hasanah

–        Shalat Tarawih 20 Rakaat

* Qiyam Ramadhan dan Shalat Tarawih
* Syubhat kalangan yang mengingkari shalat Tarawih 20 Rakaat

–        Adzan Jum’at Dua Kali

–        Peringatan Maulid Nabi

* Sejarah Peringatan Maulid Nabi
* Hukum Peringatan Maulid Nabi
* Dalil-dalil Peringatan Maulid Nabi
* Pembacaan Buku-buku Maulid

–        Daftar Pustaka

DAFTAR PUSTAKA

Al Anshari, Zakariyya, Asna al Mathalib Syarh Raudl ath-Thalib, Beirut: al Maktabah al Islamiyyah.

Al Ashbahani, Abu Nu’aym, Hilyah al Auliya, Beirut : Dar al Kitab al ‘Arabi.

?Al Ashfahani, ar-Raghib, Mufradat fi Gharib al Qur’an, Kairo: Mushthafa al Babi al Halabi,.

Al Asqalani, Ibn Hajar, Fath al Bari Syarh Shahih al Bukhari, Beirut: Dar Ma’rifah.

____________, al Mathalib al ‘Aliyah Bi Zawa-id al Masanid ats-Tsamaniyah, Kuwait: Wizarah al Awqaf.

____________, at-Talkhish al Habir, Beirut: Dar al Ma’rifah.

____________, Nata-ij al Afkar Bi Takhrij al Adzkar, Baghdad: Maktabah al Mutsanna.

Al ‘Ayni, al Badr, Umdah al Qari, Beirut: Dar al Fikr.

Al Baghdadi, al Khathib, Tarikh Baghdad, al Madinah al Munawwarah: al Maktabah as-Salafiyyah.

____________, al Faqih Wa al Mutafaqqih, Beirut: Dar al Kutub al ‘Ilmiyyah.

Al Bayhaqi, as-Sunan al Kubra, Beirut: Dar al Ma’rifah.

____________, Dala-il an-Nubuwwah, Beirut: Dar al Kutub al ‘Ilmiyyah.

____________, ad-Da’awat al Kabir, Kuwait : tp.

____________, Syu’ab al Iman, Beirut: Dar al Kutub al ‘Ilmiyyah.

Al Bayruti, Muhammad bin Darwisy al Hout, Mukhtashar al Badr al Munir, Beirut: Muassasah al Kutub ats-Tsaqafiyyah.

Al Bukhari, Shahih al Bukhari, Beirut : Dar al Janan.

Ad-Dimasyqi, Ibnu ‘Asakir, Tarikh Dimasyq, Beirut: Dar al Fikr.

Al Fadani, Muhammad Yasin, al Fawa-id al Janiyyah, Beirut: Dar al Fikr.

Al Ghumari, Abdullah, ar-Radd al Muhkam al Matin, Kairo: Maktabah al Qahirah, Cet. III, 1406-1986.

____________,  Itqan ash-Shan’ah, Beirut: ‘Alam al Kutub, Cet. II, 1406-1986.

____________, al Qaul al Muqni’, tp, tth.

____________, Ithaf al Adzkiya’, Beirut: ‘Alam al Kutub, Cet.II, 1405-1984.

____________, Mishbah az-Zujajah Fi Fawa-id Shalah al Hajah, Beirut: ‘Alam al Kutub, Cet.II, 1405-1985.

____________, al Hawi fi Fatawa al Hafizh Abdillah al Ghumari, Kairo: Dar al Anshar, Cet.I, 1402-1982.

Al Hakim, al Mustadrak ‘ala Shahihayn, Beirut : Dar al Ma’rifah.

Al Hanbali, Mar’i bin Yusuf, Ghayah al Muntaha, Qathar.

Al Hanbali, al Mardawi, al Inshaf fi Ma’rifah ar-Rajih min al Khilaf, Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al ‘Arabi,

Al Hanbali, Muhammad ibnu Muflih, al Adab asy-Syar’iyyah wa al Minah al Mar’iyyah, Saudi Arabia.

Al Hanbali, Manshur al Buhuti, Kasysyaf al Qina’ ‘an Matn al Iqna’, Beirut: ‘Alam al Kutub.

Al Hanbali, Ibnu Qudamah, al Mughni, Beirut: Dar al Fikr.

Al Harari, Abdullah bin Muhammad asy-Syaibi al ‘Abdari, Izhhar al ‘Aqidah as-Sunniyyah bi Syarhi al’Aqidah ath-Thahawiyyah, Beirut : Dar al Masyari’.

____________,  al Maqalat as-Sunniyah, Beirut : Dar al Masyari’.

____________, ash-Shirath al Mustaqim, Beirut : Dar al Masyari’.

____________,  Sharih al Bayan fi ar-Radd ‘ala man Khalafa al Qur’an, Beirut : Dar al Masyari’.

____________, at-Ta’aqqub al Hatsits ‘ala man Tha’ana fi Ma Shahha min al Hadits, Beirut: Dar al Masyari’, Cet. II, 1422-2001.

____________, Nushrah at-Ta’aqqub al Hatsits, Beirut: Dar al Masyari’, Cet. II, 1422-2001.

____________, Bughyah ath-Thalib Li Ma’rifah al ‘Ilm ad-Dini al Wajib, Beirut: Dar al Masyari’, Cet.V, 1424-2004.

Al Haytami, Ibnu Hajar, al Minhaj al Qawim –bi Hamisyi al Hawasyi al Madaniyyah-, Damaskus : Maktabah al Ghazali.

____________,  al Fatawa al Kubra al Fiqhiyyah, Beirut: Dar Shadir.

Al Haytsami, Majma’ az-Zawa-id wa Manba’ al Fawa-id, Beirut : Dar al Kutub al Ilmiyah.

Al Husayni, Zayn al Abidin al ‘Alawi, al Ajwibah al Ghaliyah, Tarim: Dar al ‘Ilm Wa ad-Da’wah.

Al Husni, Taqiy ad-Din, Daf’u Syubah Man Syabbaha Wa Tamarrada wa Nasaba Dzalika Li Ahmad, Kairo: Dar Ihya’ al Kutub al ‘Arabiyyah.

Al ‘Iraqi, Ahmad bin Abd ar-Rahim, Tharh at-Tatsrib fi Syarh at-Taqrib, Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al ‘Arabi.

Al Mundziri, at-Targhib Wa at-Tarhib, Damaskus: Dar al Iman.

An-Nasa-i, ‘Amal al Yawm wa al-Laylah, Beirut : Muassasah ar-Risalah, Beirut.

An-Nawawi, Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf, al Adzkar an-Nawawiyyah, Surabaya: Dar Ihya’ al Kutub al ‘Arabiyyah.

____________, Syarah Shahih Muslim, Beirut : Dar Ihya’ at-Turats al ‘Arabi.

____________,  al Majmu’ fi Syarh al Muhadzdzab, Kairo.

____________,  Rawdlah at-Thalibin, Beirut: Thab’ah Zuhair as-Syawisy’.

____________, Minhaj ath-Thalibin, Beirut : Dar al Masyari’.

____________, Riyadl ash-Shalihin, Beirut : Dar al Masyari’.

____________, Tahdzib al Asma’ Wa al-Lughaat, Beirut : Dar al Kutub al Ilmiyah.

____________,  al Arba-in an-Nawawiyyah, Beirut : Dar al Masyari’.

Al Qari, Ali bin Sulthan, Mirqat al Mafatih Syarh Misykat al Mashabih, Kairo.

Al Qazwini, Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, Beirut : al Maktabah al Ilmiyah.

Al Qurthubi, at-Tadzkirah Fi Ahwal al Mawta wa Umur al Akhirah, Beirut : Dar al Kutub al Ilmiyah.

Al Qusyairi, Muslim bin al Hajjaj, Sahih Muslim, Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al ‘Arabi.

Ar-Ramli, Fatawa ar-Ramli, Beirut: Dar Shadir.

Ar-Ramli, Syamsuddin, Nihayah al Muhtaj Ila Syarh al Minhaj, Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al ‘Arabi.

As-Sakhawi, Muhammad bin Abdur Rahman,  al Qaul al Badi’ fi ash-Shalah ‘ala al Habib asy-Syafi’, ed. Muhammad ‘Awwamah, al Madinah al Munawwarah: Muassasah ar-Rayyan, Cet.I, 1422-2002.

As-Samhudi, Wafa’ al Wafa, Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al ‘Arabi.

As-Sijistani, Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Beirut: Dar al Janan.

____________, Masa-il al Imam Ahmad, Beirut: Dar al Ma’rifah.

Ash-Shan’ani, Abdur Razzaq, al Mushannaf, Beirut: Mathba’ah Zuhayr asy-Syawisy.

As-Subki, Taqiy ad-Din, Syifa’ as-Saqam fi Ziyarah Khair al Anam, Beirut: Dar al Afaq al Jadidah.

As-Suyuthi, Jalal ad-Din, al Asybah Wa an-Nazhair, Singapura: al Haramain.

____________, al Hawi li al Fatawi, Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah.

____________, Syarh ash-Shudur, Beirut : Dar al Fikr.

____________,Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, ed. Muhammad Ayman bin Abdullah asy-Syibrawi, Kairo: Dar al Hadits, 1425-2004.

____________,  Thabaqat al Huffazh, Beirut : Dar al Kutub al ‘Ilmiyyah.

At-Thabarani, al Mu’jam al Kabir, Baghdad: Awqaf Baghdad.

____________, al Mu’jam as-Shaghir, Beirut: Muassasah al Kutub at-Tsaqafiyah.

Ath-Thabari, Tarikh al Umam Wa al Muluk, Beirut : Dar al Kutub al ‘Ilmiyyah.

At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, Beirut : Dar al Kutub al ‘Ilmiyah.

Az-Zabidi, Murtadla, Ithaf Saadah al Muttaqin bi Syarh Ihya’ Ulum ad-Din, Beirut : Dar al Fikr.

Ibnu ‘Abd al Barr, al Isti’ab Fi Ma’rifah al Ashhab, Beirut: Dar al Kitab al ‘Arabi.

Ibnu ‘Abidin, Hasyiyah Radd al Muhtar ‘ala ad-Durr al Mukhtar, Beirut : Dar Ihya’ at-Turats al ‘Arabi.

Ibnu al ‘Arabi, ‘Aridlah al Ahwadzi fi Syarh at-Turmudzi, Beirut : Dar al Kitab al ‘Arabi.

Ibnu al Jawzi, al Wafa Bi Ahwal al Mushthafa, Beirut : Dar al Kutub al ‘Ilmiyyah.

Ibn al Hajj, al Madkhal, Beirut : Dar al Kitab al ‘Arabi.

Ibnu Balabban, al Ihsan bi Tartib Sahih Ibnu Hibban, Beirut : Dar al Kutub al ‘Ilmiyyah.

Ibnu Hanbal, Ahmad, Musnad Ahmad, Beirut : Thab’ah Zuhair asy-Syawisy.

____________, al ‘Ilal Wa Ma’rifah ar-Rijal, Istanbul: al Maktabah al Islamiyah.

Ibnu Katsir, al Bidayah Wa an-Nihayah, Beirut: Maktabah al Ma’arif.

Ibnu Khuzaimah, Sahih Ibnu Khuzaimah, Beirut : Thab’ah Zuhair asy-Syawisy.

Ibnu al Mundzir, al Awsath fi as-Sunan wa al Ijma’, ar-Riyadl: Dar Thaybah.

Ibnu as-Sunniy, ‘Amal al Yawm wa al Laylah, Beirut : Muassasah al Kutub as-Tsaqafiyah.

‘Illasy, Muhammad, Minah al Jalil Syarh Mukhtashar Khalil, Beirut : Dar al Fikr.

Talamidz al Harari, Tabyin Dlalalat al Albani , Beirut : Dar al Masyari’.

____________, an-Naf’u al ‘Amim, Beirut : Dar al Masyari’.

____________, ‘Iqd ad-Durar fi Fadhl Ziyarah Khayr al Basyar, Beirut : Dar al Masyar

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=446085268616&id=100000780297043

IDSmartphonesYearEndSale370x300 - Ahlussunnah Wal Jamaah Menjawab Tuntas Tudingan Kaum Wahabiaff i?offer id=3733&file id=76783&aff id=176058 - Ahlussunnah Wal Jamaah Menjawab Tuntas Tudingan Kaum Wahabi
Tags
kirim email unlimited

Related Articles

184 thoughts on “Ahlussunnah Wal Jamaah Menjawab Tuntas Tudingan Kaum Wahabi”

  1. Wahabi itu kaum yang disebut dalam alQur’an, sumum bukmun umyun…. Jadi jangan harap mereka akan sadari kesesatannya. Mereka kan merasa sudah pegang Qur’an n Hadits, tidak akan mempan oleh argumentasi apa pun! Mereka kaum yang summum bukmun umyun…..

  2. bagaimana jika dlm kegiatan, tulisan itu termuat kegiatan atau tulisan yang berlebihan dan cendrung tidak Islami?

    seperti shalawat Badar, Nariyah dsb. banyak kalimat yang terkesan bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Al Quran?

    jika begitu msh perlukah dilestarikan atau jadi ritual permanen?

  3. @elfan

    ane awam neh,ttg yg awam katakan,
    coba terangkan bagian mana,atau bait2 mana yg antum anggap “banyak kalimat yang terkesan bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Al Quran? coba terangkan pada kita semua biar tahu begitu…trims

  4. ane awam neh,ttg yg antum katakan,
    coba terangkan bagian mana,atau bait2 mana yg antum anggap “banyak kalimat yang terkesan bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Al Quran? coba terangkan pada kita semua biar tahu begitu…trims

    1. Ana ngerti maksudnya…
      Antum-antum khan beranggapan kalo Peringatan Maulidan, Yasinan, Tahlillan, Isra” Mi’raj ato yang lainnya itu adalah amalan bida’ah hasanah..?
      Imam Syafi’i Rahimahullah pernah melakukan gak…?
      Kasih ana dalilnya ya…!!!!
      Biar ana ikuti…!!!!

    2. ada .. contoh,
      Beliau membagi bid’ah menjadi 2, bid’ah hasanah dan bid’ah dlalalah (Yang selaras dgn syariat, dan yg berselisih dgn syariat).
      Beliau yang pertama kali merintis metode untuk mengambil hukum (ushul fiqh).
      Beliau menulis buku/kitab dalam ilmu fiqh (kitab fiqh madzab syafi).
      DLL.

      Itu semua ibadah, dan itu semua bid’ah hasanah.

  5. @muhammad

    mau tanya juga,kiranya membuka ruang pemahaman dan cakrawala antum,
    klo kita baca kitab ada tanda bacanya nggak?
    di jilid atau nggak ya?
    klo dlm ilmu hadist,knapa ada sanad dan matannya ya,
    cukup aja deh ptanyaan nya yg tak perlu di jawab,hny tuk byar pemahaman nye…

  6. @pras
    bukannya gitu… tapi perkara bid’ah itu kan perkara luar biasa yang gak ada contohnya dari nabi,, kalo imam syafi’i pernah ngelakuinnya,, pasti para sahabat beliau dan murid-muridnya bakal menyampaikan berita ntu,, tapi nyatanya ga da satupun keterangan beliau pernah melakukan bid’ah hasanah

    1. @muhammad

      ada .. contoh sudah dijawab di atas,
      imam syafi’i membagi bid’ah menjadi 2, bid’ah hasanah dan bid’ah dlalalah (Yang selaras dgn syariat, dan yg berselisih dgn syariat).
      imam syafi’i yang pertama kali merintis metode untuk mengambil hukum (ushul fiqh).
      imam menulis buku/kitab dalam ilmu fiqh madzab syafi.
      DLL.

      Itu semua ibadah yang menjadi amal jariyah beliau, itu semua tak dicontohkan Nabi saw, dan itu semua bid’ah hasanah.

  7. @muhammad

    maksud nya bang prass itu secara umum dulu bang…,penjilidan alquran, hadist,ilmu2 baik fiqih,tajwid dll,sanad hadist yg tertulis di kitab2 dll juga tak ada pd masa raululloh bang,itu gambaran luasnya…jd kiranya ada nggak itu semua…

    1. Wkwkwkwkwkwkwk….
      Gini akh….Antum kagum gak sama Imam 4 Mazhab itu….?
      Pastilah ya…soalnya antum ngikuti Imam Syafi’i sekali kayaknya….
      Antum tahu gak para Imam-imam itu punya kitab-kitab…
      Imam Malik-Al Muwatho…
      Imam Syafi’i-Al Umm..
      Imam Ahmad-Musnad…
      Imam Bukhori-Shohih Bukhori…
      Imam Mulim-Shohih Muslim…
      Dan lain-lain Imam, pasti punya kitabnya sendiri…
      Semuanya di jilid dan gak ada jaman Rasul…
      Kalo kita pake pendapat antum, semua Imam itu gak ada yang bisa kita pake, karena melakukan Bid’ah yang tak ada zaman Rasul…
      Tapi sekarang ana yakin antum pake itu, padahal menurut antum salah karena gak ada jaman Rasul…..
      Makanya akh..afwan ya..pelajari dulu tentang bid’ah…
      Satu lagi ana tanya,,,
      Apakah para imam itu pernah buat perayaan yang seperti orang lakukan sekarang,,,?
      Maulidan…Tahlillan, Isra’ mi’raj dll….
      Jadi antum sebenernya arah beragamanya kemana.,…
      Ngakunya ikut Imam, tapi anehnya imamnya juga di salah-salahin.
      Bingung ana…???

        1. Wkwkwkwkwkwkwk…
          Beribadah itu harus ada dalil bro….
          Kalo loe mau cari pendapat yang di larang, gimana kalo orang sholat pake bahasa indonesia akh…?
          Gak ada larangannya, tapi orang yang ngerti agama walaupun dikit juga bilang kalo itu salah…
          Sekarang antum bikin aja sholat sambil joget-joget, gak ada dalil yang melarangnya akh, tapi itu salah khan..?

          1. Assalamua’laikum Warahmatollahi wabarakatuh ya Abu Hanin
            Nanti antum akan ditanya lagi:
            1. Ada tidak larangan baca yaasin untuk mayyit;
            2. Ada tidak larangan bersalam-salaman seusai shalat fardhu;
            3. Ada tidak larangan adzan dua kali di dalam masjid pada saat shalat Jum’at dst….. dst….

          2. Afwan akh…
            Ana bilang khan beribadah harus ada dalil, bukan ditanya larangannya dulu..
            Coba lihatlah komentar dari King Abdul Aziz di bawah ya…!!!
            Jazakumullahu khair…

          3. @Abu Hanin
            Harus dibedakan ibadah2 yg tatacaranya sudah ditentukan bersifat khusus seperti shalat, puasa, haji, aturan zakat, azan&iqamah dari amal2 yg bersifat umum spt: memperingati sejarah Islam, khutbah2 mengingatkan lagi kecintaan kpd Nabi SAW, berbakti kpd orangtua, menghormati tetangga & tamu, metode & persiapan jihad, dll.
            Kalau tidak dibedakan, coba saya tanya Anda balik: apakah ada dalil contohnya Nabi SAW & para sahabatnya berkhutbah Jum’at atau ‘Id pakai bhs Indonesia? Kalau tidak ada, jadi bid’ah donk (menurut cara Anda berpikir). Lha itu waktu nikah, bid’ah juga dicatat dlm buku akte nikah, kan, tidak ada dalilnya mencatat nikah dlm sebuah akte; yg ada dalil catat akte dagang yg tdk tunai.
            Gimana, jelaskah bhw ada perkara2 yg mesti ada dalil utk boleh dilakukan dan ada perkara2 baik yg bermanfaat dilaksanakan karena tidak ada larangannya? As-Salamu alaikum.

      1. baca Al Quran dijaman Rosul gaaaak pake buku @ abu hanin baca Al Quran pasti gak pake buku yaaa dah hafal kali ??? biar gak bidah ya ???? Rosululloh adalah Al Quran berjalan …gimana baca nya ????

  8. Dari Nafi’ : Bahwasannya ada seseorang bersin di samping Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, lalu dia berkata : “Alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasulihi (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan bagi Rasul-Nya)”. Maka Ibnu ‘Umar berkata : “Dan saya mengatakan, alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah. Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Akan tetapi beliau mengajari kami untuk mengatakan : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal” (Alhamdulillah dalam segala kondisi) [HR. At-Tirmidzi no. 2738, Hakim 4/265-266, dan yang lainnya dengan sanad hasan].

    apa dsitu Ibnu Umar nglarang org brsin sambil sholawat krna emng ada laranganya klo bersin itu ga blh sholawat?????????,,,,,,,,,,,,,
    jwbnya pzti nggalah brader,,,,,,Ibnu Umar dsitu ngelarang org yg brsin trz sholawat krna emng brsin trz sholawat ga prnh diajarin sma Rasulullah,,,,,,,,,,,!!!!!!!!!!!!!!

    jd sblm nanya mna larangannya, pahamin dlu yah,,,,,,,,,,,,

  9. Topik artikel ini kan bedah buku “Argumen Ahlussunnah Wal Jama’ah” (kebetulan saya punya bukunya). Para komentator insyaAllah sepertinya belum pada baca,sehingga tanggapannya kurang pas. Mestinya dibaca dulu, baru kalau isinya kurang berkenan silakan disanggah. Saya beri beberapa contoh : Hal Bid’ah (hal 255 – 271), Peringatan maulid Nabi (hal 296 – 306), Tahlil (hal 229 -241) dst dst. Nah, kalau sudah sama2 kita baca, kita dapat berdiskusi secara ilmiah, fokus dan dengan kepala dingin sehingga dapat diambil manfaatnya.

  10. Ping-balik: Tidak Haram Berzikir Dengan Biji Tasbih « UMMATI PRESS
  11. Hakikat Dakwah Salafiyah
    Oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain

    Pertanyaan:

    Berkembangnya dakwah Salafiyah dikalangan masyarakat dengan pembinaan yang mengarah kepada perbaikan ummat di bawah tuntunan Rasulullah shollallahu ‘alahi wa alihi wa sallam adalah suatu hal yang sangat disyukuri. Akan tetapi di sisi lain, orang-orang menyimpan dalam benak mereka persepsi yang berbeda-beda tentang pengertian Salafiyah itu sendiri sehingga bisa menimbulkan kebingunan bagi orang-orang yang mengamatinya, maka untuk itu dibutuhkan penjelasan yang jelas tentang hakikat Salafiyah itu. Mohon keterangannya!

    Jawab (Cukup mewakili untuk membantah tuduhan bahwa dakwah salaf, salaf adalah muhdats, red):

    Salafiyah adalah salah satu penamaan lain dari Ahlussunnah Wal Jama’ah yang menunjukkan ciri dan kriteria mereka.

    Salafiyah adalah pensifatan yang diambil dari kata ?????? (Salaf) yang berarti mengikuti jejak, manhaj dan jalan Salaf. Dikenal juga dengan nama ????????????? (Salafiyyun). Yaitu bentuk jamak dari kata Salafy yang berarti orang yang mengikuti Salaf. Dan juga kadang kita dengar penyebutan para ‘ulama Salaf dengan nama As-Salaf Ash-Sholeh (pendahulu yang sholeh).

    Dari keterangan di atas secara global sudah bisa dipahami apa yang dimaksud dengan Salafiyah. Tapi kami akan menjelaskan tentang makna Salaf menurut para ‘ulama dengan harapan bisa mengikis anggapan/penafsiran bahwa dakwah Salafiyah adalah suatu organisasi, kelompok, aliran baru dan sangkaan-sangkaan lain yang salah dan menodai kesucian dakwah yang dibawa oleh Rasulullah shollallahu ‘alahi wa alihi wa sallam ini.

    Kata Salaf ini mempunyai dua definisi; dari sisi bahasa dan dari sisi istilah.

    Definisi Salaf secara bahasa

    Berkata Ibnu Manzhur dalam Lisanul ‘Arab: “Dan As-Salaf juga adalah orang-orang yang mendahului kamu dari ayah-ayahmu dan kerabatmu yang mereka itu di atas kamu dari sisi umur dan keutamaan karena itulah generasi pertama dikalangan tabi’in mereka dinamakan As-Salaf Ash-Sholeh“.

    Berkata Al-Manawi dalam At-Ta’arif jilid 2 hal.412: “As-Salaf bermakna At-Taqoddum (yang terdahulu). Jamak dari salaf adalah ?????????? (aslaf)“.

    Masih banyak rujukan lain tentang makna salaf dari sisi bahasa yang ini dapat dilihat dalam Mauqif Ibnu Taimiyyah minal ‘asya’irah jilid 1 hal.21.

    Jadi arti Salaf secara bahasa adalah yang terdahulu, yang awal dan yang pertama. Mereka dinamakan Salaf karena mereka adalah generasi pertama dari ummat Islam.

    Definisi Salaf secara Istilah

    Istilah Salaf dikalangan para ‘ulama mempunyai dua makna; secara khusus dan secara umum.

    Pertama: Makna Salaf secara khusus adalah generasi permulaan ummat Islam dari kalangan para shahabat, Tabi’in (murid-murid para Shahabat), Tabi’ut Tabi’in (murid-murid para Tabi’in) dalam tiga masa yang mendapatkan kemulian dan keutamaan dalam hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary, Muslim dan lain-lainnya dimana Rasulullah shollallahu ‘alahi wa alihi wa sallam menyatakan:

    ?????? ???????? ???????? ????? ?????????? ???????????? ????? ?????????? ????????????

    “Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian generasi setelahnya kemudian generasi setelahnya”.

    Makna khusus inilah yang diinginkan oleh banyak ‘ulama ketika menggunakan kalimat Salaf dan saya akan menyebutkan beberapa contoh dari perkataan para ‘ulama yang mendefinisikan Salaf dengan makna khusus ini atau yang menggunakan istilah Salaf dan mereka inginkan dengannya makna Salaf secara khusus.

    Berkata Al-Bajury dalam Syarah Jauharut Tauhid hal.111: “Yang dimaksud dengan salaf adalah orang-orang yang terdahulu dari para Nabi dan para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka”.

    Berkata Al-Qolasyany dalam Tahrirul Maqolah Syarah Ar-Risalah: “As-Salaf Ash-Sholeh yaitu generasi pertama yang mapan di atas ilmu, yang mengikuti petunjuk Nabi shollahu ‘alahi wa alihi wa sallam lagi menjaga sunnah-sunnah beilau. Allah memilih mereka untuk bershahabat dengan Nabi-Nya dan memilih mereka untuk menegakkan agama-Nya dan mereka itulah yang diridhoi oleh para Imam ummat (Islam) dan mereka berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad dan mereka mencurahkan (seluruh kemampuan mereka) dalam menasehati ummat dan memberi manfaat kepada mereka dan mereka menyerahkan diri-diri mereka dalam menggapai keridhoan Allah”.

    Dan berkata Al-Ghazaly memberikan pengertian terhadap kata As-Salaf dalam Iljamul ‘Awwam ‘An ‘ilmil Kalam hal.62: “Yang saya maksudkan dengan salaf adalah madzhabnya para shahabat dan Tabi’in“.

    Lihat Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy hal.31 dan Bashoir Dzawisy Syaraf Bimarwiyati Manhaj As-Salaf hal.18-19.

    Berkata Abul Hasan Al-Asy’ary dalam Kitab Al-Ibanah Min Ushul Ahlid Diyanah hal.21: “Dan (diantara yang) kami yakini sebagai agama adalah mencintai para ‘ulama salaf yang mereka itu telah dipilih oleh Allah ‘Azza Wa Jalla untuk bershahabat dengan Nabi-Nya dan kami memuji mereka sebagaimana Allah memuji mereka dan kami memberikan loyalitas kepada mereka seluruhnya”.

    Berkata Ath-Thohawy dalam Al-‘Aqidah Ath-Thohawiyah: “Dan ulama salaf dari generasi yang terdahulu dan generasi yang setelah mereka dari kalangan Tabi’in (mereka adalah) Ahlul Khair (ahli kebaikan) dan Ahli Atsar (hadits) dan ahli fiqh dan telaah (peneliti), tidaklah mereka disebut melainkan dengan kebaikan dan siapa yang menyebut mereka dengan kejelekan maka dia berada di atas selain jalan (yang benar)”.

    Dan Al-Lalika`i dalam Syarah Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah Wal Jama‘ah jilid 2 hal.334 ketika beliau membantah orang yang mengatakan bahwa Al-Quro dialah yang berada dilangit, beliau berkata: “Maka dia telah menyelisihi Allah dan Rasul-Nya dan menolak mukjizat Nabi-Nya dan menyelisihi para salaf dari kalangan Shahabat dan tabi’in dan orang-orang setelahnya dari para ‘ulama ummat ini”.

    Berkata Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman jilid 2 hal.251 tatkala beliau menyebutkan pembagian ilmu, beliau menyebutkan diantaranya: “Dan mengenal perkataan-perkataan para salaf dari kalangan shahabat, Tabi’in dan orang-orang setelah mereka”.

    Dan berkata Asy-Syihristany dalam Al-Milal Wa An-Nihal jilid 1 hal.200: “Kemudian mengetahui letak-letak ijma‘ (kesepakatan) shahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in dari Salafus Sholeh sehingga ijtihadnya tidak menyelisihi ijma‘ (mereka)”.

    Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Bayan Talbis Al-Jahmiyah jilid 1 hal.22: “Maka tidak ada keraguan bahwasanya kitab-kitab yang terdapat di tangan-tangan manusia menjadi saksi bahwasanya seluruh salaf dari tiga generasi pertama mereka menyelesihinya”.

    Dan berkata Al-Mubarakfury dalam Tuhfah Al-Ahwadzy jilid 9 hal.165: “…Dan ini adalah madzhab Salafus Sholeh dari kalangan shahabat dan Tabi’in dan selain mereka dari para ‘ulama -mudah-mudahan Allah meridhoi mereka seluruhnya-”.

    Dan hal yang sama dinyatakan oleh Al-’Azhim Abady dalam ‘Aunul Ma’bud jilid 13 hal.7.

    Kedua: Makna salaf secara umum adalah tiga generasi terbaik dan orang-orang setelah tiga generasi terbaik ini, sehingga mencakup setiap orang yang berjalan di atas jalan dan manhaj generasi terbaik ini.

    Dan berkata Al-’Allamah Muhammad As-Safariny Al-Hambaly dalam Lawami’ Al-Anwar Al-Bahiyyah Wa Sawathi’ Al-Asrar Al-Atsariyyah jilid 1 hal.20: “Yang diinginkan dengan madzhab salaf yaitu apa-apa yang para shahabat yang mulia -mudah-mudahan Allah meridhoi mereka- berada di atasnya dan para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik dan yang mengikuti mereka dan para Imam agama yang dipersaksikan keimaman mereka dan dikenal perannya yang sangat besar dalam agama dan manusia menerima perkataan-perkataan mereka…”.

    Berkata Ibnu Abil ‘Izzi dalam Syarah Al ‘Aqidah Ath-Thohawiyah hal.196 tentang perkataan Ath-Thohawy bahwasanya Al-Qur`an diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala “Yakni merupakan perkataan para shahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik dan mereka itu adalah Salafus Sholeh“.

    Dan berkata Asy-Syaikh Sholeh Al-Fauzan dalam Nazharat Wa Tu’uqqubat ‘Ala Ma Fi Kitab As-Salafiyah hal.21: “Dan kata Salafiyah digunakan terhadap jama’ah kaum mukminin yang mereka hidup di generasi pertama dari generasi-generasi Islam yang mereka itu komitmen di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dari kalangan shahabat Muhajirin dan Anshor dan yang mengikuti mereka dengan baik dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam mensifati mereka dengan sabdanya: “Sebaik-baik manusia adalah zamanku kemudian zaman setelahnya kemudian zaman setelahnya….”.

    Dan beliau juga berkata dalam Al-Ajwibah Al-Mufidah ‘An As`ilah Al-Manahij Al-Jadidah hal.103-104: “As-Salafiyah adalah orang-orang yang berjalan di atas Manhaj Salaf dari kalangan Shahabat dan tabi’in dan generasi terbaik, yang mereka mengikutinya dalam hal aqidah, manhaj, dan metode dakwah”.

    Dan berkata Syaikh Nashir bin ‘Abdil Karim Al-‘Aql dalam Mujmal Ushul I’tiqod Ahlus Sunnah Wal Jama‘ah hal.5: “As-Salaf, mereka adalah generasi pertama ummat ini dari para shahabat, tabi’in dan imam-imam yang berada di atas petunjuk dalam tiga generasi terbaik pertama. Dan kalimat As-Salaf juga digunakan kepada setiap orang yang berada pada setelah tiga generasi pertama ini yang meniti dan berjalan di atas manhaj mereka”.
    Asal Penamaan Salaf dan Penisbahan Diri kepada Manhaj Salaf

    Asal penamaan Salaf dan penisbahan diri kepada manhaj Salaf adalah sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam kepada putrinya Fathimah radihyallahu ‘anha:

    ????????? ?????? ????????? ????? ????

    “Karena sesungguhnya sebaik-baik salaf bagi kamu adalah saya”. Dikeluarkan oleh Bukhary no.5928 dan Muslim no.2450.

    Maka jelaslah bahwa penamaaan salaf dan penisbahan diri kepada manhaj Salaf adalah perkara yang mempunyai landasan (pondasi) yang sangat kuat dan sesuatu yang telah lama dikenal tapi karena kebodohan dan jauhnya kita dari tuntunan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, maka muncullah anggapan bahwa manhaj salaf itu adalah suatu aliran, ajaran, atau pemahaman baru, dan anggapan-anggapan lainnya yang salah.

    Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu‘ Fatawa jilid 4 hal 149: “Tidak ada celaan bagi orang yang menampakkan madzhab salaf dan menisbahkan diri kepadanya dan merujuk kepadanya, bahkan wajib menerima hal tersebut menurut kesepakatan (para ulama). Karena sesungguhnya madzhab salaf itu adalah tak lain kecuali kebenaran”.

    Berikut ini saya akan memberikan beberapa contoh untuk menunjukkan bahwa penggunaan nama salaf sudah lama dikenal.

    Berkata Imam Az-Zuhry (wafat 125 H) tentang tulang belulang bangkai seperti bangkai gajah dan lainnya: “Saya telah mendapati sekelompok dari para ulama salaf mereka bersisir dengannya dan mengambil minyak darinya, mereka menganggap (hal tersebut) tidak apa-apa”. Lihat: Shohih Bukhary bersama Fathul Bary jilid 1 hal.342.

    Tentunya yang diinginkan dengan ‘ulama salaf oleh Az-Zuhry adalah para shahabat karena Az-Zuhry adalah seorang Tabi’i (generasi setelah shahabat).

    Dan Sa’ad bin Rasyid (wafat 213 H) berkata: “Adalah para salaf, lebih menyenangi tunggangan jantan karena lebih cepat larinya dan lebih berani”. Lihat: Shohih Bukhary dengan Fathul Bary jilid 6 hal.66 dan Al-Hafizh menafsirkan kata salaf: “Yaitu dari shahabat dan setelahnya”.

    Berkata Imam Bukhary (wafat 256 H) dalam Shohihnya dengan Fathul Bary jilid 9 hal.552: “Bab bagaimana para ‘ulama salaf berhemat di rumah-rumah mereka dan di dalam perjalanan mereka dalam makanan, daging dan lainnya”.

    Imam Ibnul Mubarak (wafat 181 H) berkata: “Tinggalkanlah hadits ‘Amr bin Tsabit karena ia mencerca para ‘ulama salaf“. Baca: Muqoddimah Shohih Muslim jilid 1 hal.16.

    Tentunya yang diinginkan dengan kata salaf oleh Imam Bukhary dan Ibnul Mubarak tiada lain kecuali para shahabat dan tabi’in.

    Dan juga kalau kita membaca buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan nasab, akan didapatkan para ‘ulama yang menyebutkan tentang nisbah Salafy (penisbahan diri kepada jalan para ‘ulama salaf), dan ini lebih memperjelas bahwa nisbah kepada manhaj salaf juga adalah sesuatu yang sudah lama dikenal dikalangan para ‘ulama.

    Berkata As-Sam’any dalam Al-Ansab jilid 3 hal.273: “Salafy dengan difathah (huruf sin-nya) adalah nisbah kepada As-Salaf dan mengikuti madzhab mereka”.

    Dan berkata As-Suyuthy dalam Lubbul Lubab jilid 2 hal.22: “Salafy dengan difathah (huruf sin dan lam-nya) adalah penyandaran diri kepada madzhab As-Salaf“.

    Dan saya akan menyebutkan beberapa contoh para ‘ulama yang dinisbahkan kepada manhaj (jalan) para ‘ulama salaf untuk menunjukkan bahwa mereka berada diatas jalan yang lurus yang bersih dari noda penyimpangan:

    1. Berkata Imam Adz-Dzahaby dalam Siyar A’lam An-Nubala` jilid 13 hal.183 setelah menyebutkan hikayat bahwa Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawy rahimahullah menghina ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu: “Kisah ini terputus, Wallahu A’lam. Dan saya tidak mengetahui Ya’qub Al-Fasawy kecuali beliau itu adalah seorang Salafy, dan beliau telah mengarang sebuah kitab kecil tentang As-Sunnah“.

    2. Dan dalam biografi ‘Utsman bin Jarzad beliau berkata: “Untuk menjadi seorang Muhaddits (ahli hadits) diperlukan lima perkara, kalau satu perkara tidak terpenuhi maka itu adalah suatu kekurangan. Dia memerlukan: Aqal yang baik, agama yang baik, dhobth (hafalan yang kuat), kecerdikan dalam bidang hadits serta dikenal darinya sifat amanah”.

    Kemudian Adz-Dzahaby mengomentari perkataan tersebut, beliau berkata: “Amanah merupakan bagian dari agama dan hafalan bisa masuk kepada kecerdikan. Adapun yang dibutuhkan oleh seorang hafizh (penghafal hadits) adalah: Dia harus seorang yang bertaqwa, pintar, ahli nahwu dan bahasa, bersih hatinya, senantiasa bersemangat, seorang salafy, cukup bagi dia menulis dengan tangannya sendiri 200 jilid buku hadits dan memiliki 500 jilid buku yang dijadikan pegangan dan tidak putus semangat dalam menuntut ilmu sampai dia meninggal dengan niat yang ikhlas dan dengan sikap rendah diri. Kalau tidak memenuhi syarat-syarat ini maka janganlah kamu berharap”. Lihat dalam Siyar A’lam An-Nubala` jilid 13 hal.280.

    3. Dan Adz-Dzahaby berkata tentang Imam Ad-Daraquthny: “Beliau adalah orang yang tidak akan pernah ikut serta mempelajari ilmu kalam (ilmu mantik) dan tidak pula ilmu jidal (ilmu debat) dan beliau tidak pernah mendalami ilmu tersebut, bahkan beliau adalah seorang salafy“. Baca Siyar A’lam An-Nubala`jilid 16 hal.457.

    4. Dan dalam Tadzkirah Al-Huffazh jilid 4 hal.1431 dalam biografi Ibnu Ash-Sholah, berkata Imam Adz-Dzahaby: “Dan beliau adalah seorang Salafy yang baik aqidahnya”. Dan lihat: Thobaqot Al-Huffazh jilid 2 hal.503 dan Siyar A’lam An-Nubala` jilid 23 hal.142.

    5. Dalam biografi Imam Abul ‘Abbas Ahmad bin ‘Isa bin ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah Al-Maqdasy, Imam Adz-Dzahaby berkata: “Beliau adalah seorang yang terpercaya, tsabt (kuat hafalannya), pandai, seorang Salafy…”. Baca Siyar A’lam An-Nubala` jilid 23 hal.18.

    6. Dan dalam Biografi Abul Muzhoffar Ibnu Hubairah, Imam Adz-Dzahaby berkata: “Dia adalah seorang yang mengetahui madzhab dan bahasa arab dan ilmu ‘arudh, seorang salafy, atsary“. Baca Siyar A’lam An-Nubala` jilid 20 hal.426.

    7. Berkata Imam Adz-Dzahaby dalam biografi Imam Az-Zabidy: “Dia adalah seorang Hanafy, Salafy“. Baca Siyar A’lam An-Nubala`jilid 20 hal.316.

    8. Dan dalam Biografi Musa bin Ibrahim Al-Ba’labakky, Imam Adz-Dzahaby berkata: “Dan demikian pula beliau seorang perendah hati, seorang Salafy“. Lihat: Mu’jamul Muhadditsin hal.283.

    9. Dan dalam biografi Muhammad bin Muhammad Al-Bahrony, Imam Adz-Dzahaby Berkata: “Dia seorang yang beragama, orang yang sangat baik, seorang Salafy“. Lihat: Mu’jam Asy-Syuyukh jilid 2 hal.280 (dinukil dari Al-Ajwibah Al-Mufidah hal.18).

    10. Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolany dalam Lisanul Mizan Jilid 5 hal.348 dalam biografi Muhammad bin Qasim bin Sufyan Abu Ishaq: “Dan Ia adalah Seorang yang bermadzhab Salafy“.

    Penamaan-Penamaan Lain Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

    Sebelum terjadi fitnah bid’ah perpecahan dan perselisihan dalam ummat ini, ummat Islam tidak dikenal kecuali dengan nama Islam dan kaum muslimin, kemudian setelah terjadinya perpecahan dan munculnya golongan-golongan sesat yang mana setiap golongan menyerukan dan mempropagandakan bid’ah dan kesesatannya dengan menampilkan bid’ah dan kesesatan mereka di atas nama Islam, maka tentunya hal tersebut akan melahirkan kebingungan ditengah-tengah ummat. Akan tetapi Allah Maha Bijaksana dan Maha Menjaga agama-Nya. Dialah Allah yang berfirman:

    ?????? ?????? ?????????? ????????? ???????? ???? ????????????

    “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya”. (Q.S. Al Hijr ayat 9).

    Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda:

    ??? ??????? ????????? ???? ????????? ??????????? ????? ???????? ??? ??????????? ???? ?????????? ?????? ???????? ?????? ????? ?????? ????????

    “Terus menerus ada sekelompok dari ummatku yang mereka tetap nampak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang mencerca mereka sampai datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti itu”.

    Maka para ‘ulama salaf waktu itu yang merupakan orang-orang yang berada di atas kebenaran dan yang paling memahami aqidah yang benar dan tuntunan syari’at Islam yang dibawa oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam yang murni yang belum ternodai oleh kotoran bid’ah dan kesesatan, mulailah mereka menampakkan penamaan-penamaan syari’at diambil dari Islam guna membedakan pengikut kebenaran dari golongan-golongan sesat tersebut.

    Berkata Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah:

    ???? ??????????? ???????????? ???? ???????????? ???????? ???????? ??????????? ???????? ??????? ????? ??????????? ?????????? ????? ?????? ?????????? ?????????? ???????????? ?????????? ????? ?????? ????????? ????? ???????? ????????????

    “Tidaklah mereka (para ‘ulama) bertanya tentang isnad (silsilah rawi). Tatkala terjadi fitnah mereka pun berkata: “Sebutkanlah kepada kami rawi-rawi kalian maka dilihatlah kepada Ahlus Sunnah lalu diambil hadits mereka dan dilihat kepada Ahlil bid’ah dan tidak diambil hadits mereka””.

    Maka Ahlus Sunnah Wal Jama’ah selain dikenal sebagai Salafiyah, mereka juga mempunyai penamaan lain yang menunjukkan ciri dan kriteria mereka.

    Berikut ini kami akan mencoba menguraikan penamaan-penamaan tersebut dengan ringkas.

    1. AL-FIRQOH AN-NAJIYAH

    Al-Firqoh An-Najiyah artinya golongan yang selamat. Penamaan ini diambil dari apa yang dipahami dari hadits perpecahan ummat, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam menyatakan:

    ??????????? ??????????? ????? ??????? ???????????? ???????? ????????????? ??????????? ????? ?????????? ???????????? ???????? ??????? ????????? ???????????? ????? ??????? ???????????? ???????? ???????? ??? ???????? ?????? ????????? ?????? ???????????? ?? ???? ????????? : ??? ????? ???????? ????????? ?????????????.

    “Telah terpecah orang-orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu firqoh (golongan) dan telah terpecah orang-orang Nashoro menjadi tujuh puluh dua firqoh dan sesungguhnya ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firqoh semuanya dalam neraka kecuali satu dan ia adalah Al-Jama’ah dalam satu riwayat: “Apa yang aku dan para shahabatku berada di atasnya sekarang ini”. Hadits shohih, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Dzilalil Jannah dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad Mimma Laisa Fi Ash-Shohihain rahimahumullah.

    Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Minhaj As-sunnah jilid 3 hal.345: “Maka apabila sifat Al-Firqoh An-Najiyah mengikuti para shahabat di masa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan itu adalah syi’ar (ciri, simbol) Ahlus Sunnah maka Al-Firqoh An-Najiyah mereka adalah Ahlus Sunnah”.

    Dan beliau juga menyatakan dalam Majmu‘ Al Fatawa jilid 3 hal.345: “Karena itu beliau (Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam) menyifati Al-Firqoh An-Najiyah bahwa ia adalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan mereka adalah jumhur yang paling banyak dan As-Sawad Al-A’zhom (kelompok yang paling besar)”.

    Berkata Syaikh Hafizh Al-Hakamy: “Telah dikabarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam -yang selalu benar dan dibenarkan- bahwa Al-Firqoh An-Najiyah mereka adalah siapa yang di atas seperti apa yang beliau dan para shahabatnya berada di atasnya, dan sifat ini hanyalah cocok bagi orang-orang yang membawa dan menjaga sifat itu, tunduk kepadanya lagi berpegang teguh dengannya. mereka yang saya maksud ini adalah para imam hadits dan para tokoh (pengikut) Sunnah”. Lihat Ma’arijul Qobul jilid 1 hal.19.

    Maka nampaklah dari keterangan di atas asal penamaan Al-Firqoh An-Najiyah dari hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam.

    Diringkas dari: Mauqif Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Min Ahli Ahwa`i Wal Bid’ah jillid 1 hal.54-59.

    Dan Berkata Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wad’iy rahimahullah setelah meyebutkan dua hadits tentang perpecahan ummat: “Dua hadits ini dan hadits-hadits yang semakna dengannya menunjukkan bahwa tidak ada yang selamat kecuali satu golongan dari tujuh puluh tiga golongan, dan adapun golongan-golongan yang lain di Neraka, (sehingga) mengharuskan setiap muslim mencari Al-Firqoh An-Najiyah sehingga teratur menjalaninya dan mengambil agamanya darinya”. Lihat Riyadhul Jannah Fir Roddi ‘Ala A’da`is Sunnah hal.22.

    2. ATH-THOIFAH AL MANSHUROH

    Ath-Thoifah Al-Manshuroh artinya kelompok yang mendapatkan pertolongan. Penamaan ini berdasarkan hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam:

    ??? ??????? ????????? ???? ????????? ??????????? ????? ???????? ??? ??????????? ???? ?????????? ?????? ???????? ?????? ????? ?????? ????????

    “Terus menerus ada sekelompok dari ummatku yang mereka tetap nampak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang mencerca mereka sampai datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti itu”. Dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Tsauban dan semakna dengannya diriwayatkan oleh Bukhary dan Muslim dari hadits Mughiroh bin Syu’bah dan Mu’awiyah dan diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir bin ‘Abdillah. Dan hadits ini merupakan hadits mutawatir sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho` Ash-Shirath Al-Mustaqim 1/69, Imam As-Suyuthy dalam Al-Azhar Al-Mutanatsirah hal.216 dan dalam Tadrib Ar-Rawi, Al Kattany dalam Nazhom Al-Mutanatsirah hal.93 dan Az-Zabidy dalam Laqthul `Ala`i hal.68-71. Lihat : Bashoir Dzawisy Syaraf Bimarwiyati Manhaj As-Salaf.

    Berkata Imam Bukhary tentang Ath-Thoifah Al-Manshuroh: “Mereka adalah para ‘ulama”.

    Berkata Imam Ahmad: “Kalau mereka bukan Ahli Hadits saya tidak tahu siapa mereka”.

    Al-Qodhi Iyadh mengomentari perkataan Imam Ahmad dengan berkata: “Yang diinginkan oleh (Imam Ahmad) adalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan siapa yang meyakini madzhab Ahlul Hadits“. Lihat: Mauqif Ahlus Sunnah Wal Jama’ah 1/59-62.

    Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Muqoddimah Al ‘Aqidah Al Washitiyah: “Amma ba’du; Ini adalah i’tiqod (keyakinan) Al Firqoh An-Najiyah, (Ath-Thoifah) Al-Manshuroh sampai bangkitnya hari kiamat, (mereka) Ahlus Sunnah”.

    Dan di akhir Al ‘Aqidah Al Washitiyah ketika memberikan definisi tentang Ahlus Sunnah, beliau berkata: “Dan mereka adalah Ath-Thoifah Al-Manshuroh yang Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda tentang mereka: “Terus menerus sekelompok dari ummatku diatas kebenaran manshuroh (tertolong) tidak membahayakan mereka orang yang menyelisihi dan mencerca mereka sampai hari kiamat” mudah-mudahan Allah menjadikan kita bagian dari mereka dan tidak memalingkan hati-hati kita setelah mendapatkan petunjuk”.

    Lihat: Bashoir Dzawisy Syaraf Bimarwiyati Manhaj As-Salaf hal. 97-110.

    3. AHLUL HADITS

    Ahlul Hadits dikenal juga dengan Ashhabul hadits atau Ashhabul Atsar. Ahlul hadits artinya orang yang mengikuti hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Dan istilah Ahlul hadits ini juga merupakan salah satu nama dan kriteria Salafiyah atau Ahlus Sunnah Wal Jama’ah atau Ath-Thoifah Al-Manshurah.

    Berkata Ibnul Jauzi: “Tidak ada keraguan bahwa Ahlun Naql Wal Atsar (Ahlul Hadits) yang mengikuti jejak-jejak Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam mereka di atas jalan yang belum terjadi bid’ah”.

    Berkata Al-Khathib Al-Baghdady dalam Ar-Rihlah Fii Tholabil Hadits hal.223: “Dan sungguh (Allah) Rabbul ‘alamin telah menjadikan Ath-Thoifah Al-Manshurah sebagai penjaga agama dan telah dipalingkan dari mereka makar orang-orang yang keras kepala karena mereka berpegang teguh dengan syari’at (Islam) yang kokoh dan mereka mengikuti jejak para shahabat dan tabi’in“.

    Dan telah sepakat perkataan para ‘ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah bahwa yang dimaksud dengan Ath-Thoifah Al-Manshurah adalah para ‘ulama Salaf Ahlul Hadits. Hal ini ditafsirkan oleh banyak Imam seperti ‘Abdullah bin Mubarak, ‘Ali bin Madiny, Ahmad bin Hambal, Bukhary, Al-Hakim dan lain-lainnya,. Perkataan-perkataan para ‘ulama tersebut diuraikan dengan panjang lebar oleh Syaikh Robi’ bin Hady Al-Madkhaly dan juga Syaikh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah hadits no.270.

    Lihat: Haqiqitul Bid’ah 1/269-272, Mauqif Ibnu Taymiyah 1/32-34, Ahlul Hadits Wa Ath- Thoifah Al-Manshurah An-Najiyah, Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, Bashoir Dzawisy Syaraf Bimarwiyati Manhaj As-Salaf dan Al-Intishor Li Ashhabil Hadits karya Muhammad ‘Umar Ba Zamul.

    4. Al-Ghuraba`

    Al-Ghuraba` artinya orang-orang yang asing. Asal penyifatan ini adalah sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah riwayat Muslim No.145:

    ?????? ???????????? ????????? ???????????? ????????? ????? ?????? ????????? ?????????????

    “Islam mulai muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awal munculnya maka beruntunglah orang-orang asing itu”. Dan hadits ini adalah hadits yang mutawatir.

    Berkata Imam Al-Ajurry dalam Sifatil Ghuraba` Minal Mu’minin hal.25: “Dan perkataan (Nabi) shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam “Dan akan kembali asing” maknanya Wallahu A’lam sesungguhnya hawa nafsu yang menyesatkan akan menjadi banyak sehingga banyak dari manusia tersesat karenanya dan akan tetap ada Ahlul Haq yang berjalan diatas syari’at islam dalam keadaan asing di mata manusia, tidakkah kalian mendengar perkataan Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam: “Akan terpecah ummatku menjadi 73 golongan semuanya masuk neraka kecuali satu, maka dikatakan siapa mereka yang tertolong itu? maka kata Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam: “Apa-apa yang saya dan para shahabatku berada di atasnya pada hari ini””.

    Berkata Imam Ibnu Rajab dalam Kasyful Kurbah fi washfi hali Ahlil Ghurbah hal 22-27: “Adapun fitnah syubhat (kerancuan-kerancuan) dan pengikut hawa nafsu yang menyesatkan sehingga hal tersebut menyebabkan terpecahnya Ahlul Qiblah (kaum muslimin) dan menjadilah mereka berkelompok-kelompok, sebagian dari mereka mengkafirkan yang lainnya dan mereka menjadi saling bermusuhan, bergolong-golongan dan berpartai-partai setelah mereka dulunya sebagai saudara dan hati-hati mereka diatas hati satu orang (Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam) sehingga tidak akan selamat dari kelompok-kelompok tersebut kecuali satu golongan yang selamat. Mereka inilah yang disebut dalam sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam: “Terus menerus ada diantara ummatku satu kelompok yang menampakkan kebenaran, tidak mencelakakan mereka orang-orang yang menghinakan dan membenci mereka sampai datang ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala (hari kiamat) dan mereka tetap dalam keadaan tersebut”. Mereka inilah al-Ghuraba` di akhir zaman yang tersebut dalam hadits-hadits ini…”.

    Demikianlah penamaan-penamaan syari’at bagi pengikut Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam sesuai dengan pemahaman para ‘ulama salaf, yang apabila dipahami dengan baik akan menambah keyakinan akan wajibnya mengikuti jalan para ‘ulama salaf dan kebenaran jalan mereka serta keberuntungan orang-orang yang mengikuti jalan mereka.

    Cukuplah sebagai satu keistimewaan yang para salafiyun berbangga dengannya bahwa penamaan-penamaan ini semuanya dari Islam dan menggambarkan Islam hakiki yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan tentunya hal ini sangat membedakan salafiyun dari ahlu bid’ah yang bernama atau dinamakan dengan penamaan-penamaan yang hanya sekedar menampakkan bid’ah, pimpinan atau kelompok mereka seperti Tablighy nisbah kepada Jama’ah Tabligh yang didirikan oleh Muhammad Ilyas, Ikhwany nisbah kepada gerakan Ikhwanul Muslimin yang dipelopori oleh Hasan Al-Banna, Surury nisbah kepada kelompok atau pemikiran Muhammad Surur Zainal ‘Abidin, Jahmy nisbah kepada Jahm bin Sofwan pembawa bendera bid’ah keyakinan bahwa Al-Qur`an adalah makhluk. Mu’tazily nisbah kepada kelompok pimpinan ‘Atho` bin Washil yang menyendiri dari halaqah Hasan Al-Bashry. Asy’ary nisbah kepada pemikiran Abu Hasan Al-Asy’ary yang kemudian beliau bertobat dari pemikiran sesatnya. Syi’iy nisbah kepada kelompok Syi’ah yang mengaku mencintai keluarga Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, dan masih ada ratusan penamaan lain, sangat meletihkan untuk menyebutkan dan menguraikan seluruh penamaan tersebut, maka nampaklah dengan jelas bahwa penamaan Salafiyun-Ahlus Sunnah Wal Jama’ah-Ath-Thoifah Al-Manshurah-Al-Firqoh An-Najiyah-Ahlul Hadits adalah sangat berbeda dengan penamaan-penamaan yang dipakai oleh golongan-golongan yang menyimpang dari beberapa sisi:

    Satu: Penamaan-penamaan syari’at ini adalah nisbah kepada generasi awal ummat Islam yang berada di atas tuntunan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, maka penamaan ini akan mencakup seluruh ummat pada setiap zaman yang berjalan sesuai dengan jalan generasi awal tersebut baik dalam mengambil ilmu atau dalam pemahaman atau dalam berdakwah dan lain-lainnya.

    Dua: Kandungan dari penamaan-penamaan syari’at ini hanyalah menunjukkan tuntunan Islam yang murni yaitu Al-Qur`an dan sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tanpa ada penambahan atau pengurangan sedikit pun.

    Tiga: Penamaan-penamaan ini mempunyai asal dalil dari sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam.

    Empat: Penamaan-penamaan ini hanyalah muncul untuk membedakan antara pengikut kebenaran dari jalan para pengekor hawa nafsu dan golongan-golongan sesat, dan sebagai bantahan terhadap bid’ah dan kesesatan mereka.

    Lima: Ikatan wala’ (loyalitas) dan baro’ (kebencian, permusuhan) bagi orang-orang yang bernama dengan penamaan ini, hanyalah ikatan wala’ dan baro’ di atas Islam (Al-Qur`an dan Sunnah) bukan ikatan wala’ dan baro’ karena seorang tokoh, pemimpin, kelompok, organisasi dan lain-lainnya.

    Enam: Tidak ada fanatisme bagi orang-orang yang memakai penamaan-penamaan ini kecuali kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam karena pemimpin dan panutan mereka hanyalah satu yaitu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, berbeda dengan orang-orang yang menisbahkan dirinya ke penamaan-penamaan bid’ah fanatismenya untuk golongan, kelompok/pemimpin.

    Tujuh: Penamaan-penamaan ini sama sekali tidak akan menjerumuskan ke dalam suatu bid’ah, maksiat maupun fanatisme kepada seseorang atau kelompok dan lain-lainnya.

    Lihat: Hukmul intima` hal 31-37 dan Mauqif Ahlus Sunnah wal Jama’ah 1/46-47.

    Wallahu Ta’ala A’lam.

    (Dikutip dari tulisan Al-Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain, judul asli Hakikat Dakwah Salafiyah. URL Sumber

  12. @abu said
    syukron atas keterangannya,,,
    ana mau nnya,, da pa ga ya keterangan tentang imam 4 madzhab yang terkenal itu,, bahwa mereka pernah berbuat bid’ah seperti umat-umat islam pada masa sekarang ini menganggapnya sbg bid’ah hasanah
    ??

  13. @ abu salman ilmu islam itu luas n dalam ….mustahil kalo dipelajari semua sampai tuntas ….kecuali kehendak Alloh . imam 4 madzhab adalah manusia2 pilihan Alloh yg seumur hidupnya hanya untuk islam …. bumi langit klo dibandingkan dgn kita terutama saya ….maka kalo kita gak cocok dgn mereka tidak mencela sudah bagus tapi jangan sampai ada tudingan bidah,…sesat ….nauzubillah …ati2 saudaraku Alloh gak tidur …..kalau belum tau lebih baik no coment drpd nambah dosa… maaf istigfar khi

  14. @kacung ngaran,

    antum say ke abu hannin…
    Assalamua’laikum Warahmatollahi wabarakatuh ya Abu Hanin
    Nanti antum akan ditanya lagi:
    1. Ada tidak larangan baca yaasin untuk mayyit;
    2. Ada tidak larangan bersalam-salaman seusai shalat fardhu;
    3. Ada tidak larangan adzan dua kali di dalam masjid pada saat shalat Jum’at dst….. dst….

    hehe…he…ky nya antum nggak tahu itu semua ya…duh kasihan ane melihat cara pandang berfaham antum jika benar antum menganngap itu semua tak ada…

  15. Saya Cuplikan 1 bab tentang Bid’ah Hasanah dari buku Kenalilah Akidahmu Karangan Habib Munzir Al Musawwa untuk Sharing…

    BID’AH BID’AH BID’AH BID’AH
    Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.
    Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan
    tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw : “Barangsiapa membuat
    buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang
    mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat
    buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang
    mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits
    no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi
    Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan
    makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.

    Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila
    kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yang membuat kebaikan atas
    islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yang tidak mencekik
    ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi
    ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian
    ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal hal yang baru
    demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk
    kesempurnaan agama ini, yang tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah
    makna ayat :

    “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM…”, yang artinya “hari ini
    Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan
    bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”,

    Maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi
    memperbaiki agama ini, semua hal yang baru selama itu baik sudah masuk dalam
    kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya
    islam,

    Bila yang dimaksud adalah tidak ada lagi penambahan, maka pendapat itu salah,
    karena setelah ayat ini masih ada banyak ayat ayat lain turun, masalah hutang dll,
    berkata para Mufassirin bahwa ayat ini bermakna Makkah Almukarramah sebelumnya
    selalu masih dimasuki orang musyrik mengikuti hajinya orang muslim, mulai kejadian
    turunnya ayat ini maka Musyrikin tidak lagi masuk masjidil haram, maka membuat
    kebiasaan baru yang baik boleh boleh saja.

    Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yang bertentangan
    dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa apa yang sudah
    diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw :
    “Barangsiapa yang membuat buat hal baru yang berupa keburukan…dst”, inilah yang
    disebut Bid’ah Dhalalah. Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yang baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yang ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yang buruk (Bid’ah dhalalah). Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yang dangkal dalam pemahaman
    syariah, karena hadits diatas jelas jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk
    sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan
    Tabi’in. Siapakah yang pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw?
    Ketika terjadi pembunuhan besar besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yang
    mereka itu para Huffadh (yang hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah
    Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra :

    “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas
    ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an,
    lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis
    Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh
    Rasulullah..?, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan
    dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan
    dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd)
    adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau
    telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah
    Alqur’an..!”

    Berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung
    daripada gunung gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan
    Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah
    saw?”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga
    iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku
    sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih
    Bukhari hadits no.4402 dan 6768).

    Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui
    dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku
    sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yang baru (bid’ah hasanah)
    yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan
    menjadi satu buku, tapi terpisah pisah di hafalan sahabat, ada yang tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yang memulainya. Kita perhatikan hadits yang dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yang membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata :
    “Wahai Rasulullah.. seakan akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri
    wasiatlah kami..” maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa
    kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang
    Budak afrika, sungguh diantara kalian yang berumur panjang akan melihat sangat
    banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan
    sunnah khulafa’urrasyidin yang mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat
    dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati hatilah dengan hal
    hal yang baru, sungguh semua yang Bid;ah itu adalah kesesatan”. (Mustadrak
    Alasshahihain hadits no.329).

    Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan
    sunnah khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yang
    baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yang baru, yang tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.

    Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin
    melakukan bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya
    memerintahkan pengumpulan Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula
    dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata :
    “Inilah sebaik baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu. Demikian pula hal yang dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bin Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873).
    Siapakah yang salah dan tertuduh?, siapakah yang lebih mengerti larangan Bid’ah?,
    adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna
    Bid’ah?

    Bid’ah Dhalalah
    Jelaslah sudah bahwa mereka yang menolak bid’ah hasanah inilah yang termasuk
    pada golongan Bid’ah dhalalah, dan Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti
    penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa’urrasyidin,
    nah…diantaranya adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar
    syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh
    Khulafa’urrasyidin, dan Rasul saw telah jelas jelas memberitahukan bahwa akan
    muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’urrasyidin,
    bagaimana Sunnah Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana
    sunnah Khulafa’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas
    hal inilah yang merupakan Bid’ah dhalalah, hal yang telah diperingatkan oleh Rasul
    saw.
    Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid’ah hasanah, maka kita telah menafikan
    dan membid’ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran
    pokok Agama Islam karena kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada
    perintah Rasulullah saw untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing,
    melainkan hal itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat
    Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat.
    Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak pernah ada perintah Rasul saw untuk membukukannya, tak pula Khulafa’urrasyidin memerintahkan
    menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasul saw.

    Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits, ini semua adalah perbuatan Bid’ah namun
    Bid’ah Hasanah.

    Demikian pula ucapan “Radhiyallahu’anhu” atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh
    Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa
    mereka para sahabat itu diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasul
    saw memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena
    kecintaan para Tabi’in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan
    tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu muncul
    pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di CD kan, Program Al-Quran di handphone, Al-
    Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah.

    Bid’ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena
    dengan adanya Bid’ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk
    mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-
    Quran dan tidak ada yang memungkirinya.

    Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila Al-Quran tidak
    dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan
    sejarah Islam ?

    Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra
    yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu Versi Al-Quran di
    zaman sekarang, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya,
    yang masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan
    hancurlah Islam. Namun dengan adanya Bid’ah Hasanah, sekarang kita masih
    mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita
    masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi,
    jelaslah sudah sabda Rasul saw yang telah membolehkannya, beliau saw telah
    mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yang berupa kebaikan (Bid’ah hasanah),
    mesti dimunculkan kelak, dan beliau saw telah melarang hal hal baru yang berupa
    keburukan (Bid’ah dhalalah).

    Saudara saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah ucapan
    Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan ucapannya adalah Mutiara Alqur’an,
    sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah : “sampai Allah
    menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”.

    Lalu berkata pula Zeyd bin haritsah ra :”..bagaimana kalian berdua (Abubakar dan
    Umar) berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?, maka Abubakar ra
    mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra)
    meyakinkanku (Zeyd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku
    sependapat dengan mereka berdua”.

    Maka kuhimbau saudara saudaraku muslimin yang kumuliakan, hati yang jernih
    menerima hal hal baru yang baik adalah hati yang sehati dengan Abubakar shiddiq ra,
    hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yang
    dijernihkan Allah swt,

    Dan curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal ini, maka
    barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dengan
    mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid’ah hasanah, dan
    Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah
    perbuatanku dan perbuatan khulafa’urrasyidin, gigit dengan geraham yang maksudnya
    berpeganglah erat erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.

    Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat
    dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi
    Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin

    Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah
    1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah
    (Imam Syafii)
    Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan
    bid’ah madzmumah (tercela), maka yang sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan
    yang tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar
    bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam
    Qurtubiy juz 2 hal 86-87)

    2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
    “Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi
    berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yang berbunyi : “seburuk buruk permasalahan
    adalah hal yang baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri
    muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yang dimaksud adalah hal hal yang tidak
    sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu
    ‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapa
    membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala
    orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan
    barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya
    dan dosa orang yang mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini BID’AH
    http://www.majelisrasulullah.org
    Kenalilah Akidahmu 9
    merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yang baik dan bid’ah yang sesat”. (Tafsir
    Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)

    3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy
    rahimahullah (Imam Nawawi)
    “Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam
    islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak
    berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang
    dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yang
    baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yang buruk, dan pada hadits ini terdapat
    pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yang baru adalah Bid’ah, dan semua
    yang Bid’ah adalah sesat”, sungguh yang dimaksudkan adalah hal baru yang buruk
    dan Bid’ah yang tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)

    Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah
    yang wajib, Bid’ah yang mandub, bid’ah yang mubah, bid’ah yang makruh dan bid’ah
    yang haram.

    Bid’ah yang wajib contohnya adalah mencantumkan dalil dalil pada ucapan ucapan
    yang menentang kemungkaran, contoh bid’ah yang mandub (mendapat pahala bila
    dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu
    syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yang Mubah adalah
    bermacam macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas
    diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yang umum,
    sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”.
    (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)

    Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy
    rahimahullah
    Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yang
    umum yang ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yang Menghancurkan
    segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau
    pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam
    dengan jin dan manusia keseluruhannya” QS Assajdah-13), dan pada
    kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna
    keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku
    dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun
    setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).

    Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yang bertentangan dengan pemahaman
    para Muhaddits maka mestilah kita berhati hati darimanakah ilmu mereka?,
    berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yang disebut imam padahal ia
    tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yang tak
    punya sanad, hanya menukil menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa
    memperdulikan fatwa fatwa para Imam?

    Walillahittaufiq

    1. -zaenalm & habib munzir-
      “maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yang membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah……”
      —————————————————————————-

      Maaf, masih ada yang kurang jelas, boleh saya tau, SIAPA ORANG yang memiliki wewenang membuat gagasan baru di dalam Islam saat ini? atau lebih mudahnya, SIAPA ORANG yang memiliki wewenang untuk membuat atau menciptakan bid’ah hasanah dalam Islam saat ini? kiayikah? Ustadzkah? Habibkah? atau semua muslim punya wewenang termasuk yang awam juga?

      Semoga zaenalm & habib munzir bukan termasuk orang yang hanya menukil hadits dan mentakwilkan semaunya.

      -terima kasih-

      1. Yusuf Ibrahim @

        Renungkanlah pertanyan ente, pertanyaan itu sudah benar apa ngawur? Pertanyaan ente itu sudah sesuai dengan konteks yang diajukan Sdr. Zainal M atau ngawur aja?

        Sepintas kalau tanpa dipikir memang tampak keren itu pertanyaan ente. Tapi renungkanlah lebih dalam jangan asal bikin pertanyaan yang tak ada realitasnya, ini saja saran saya. Terimakasih atas perhatiannya.

        1. -wong ko lutan-

          Saya bertanya seperti itu karena memang penjelasan habib anda itu masih rancu sekali.

          kalaulah pertanyaan saya itu ngawur, coba mohon petunjuk dibagian mana letak kengawuran saya?

          karena kalo cuma bilang ente ngawur, si fulan ngawur, si A ngawur, si B ngawur, saya rasa anak kecilpun juga bisa.

          terima kasih…..

  16. Yang pertama….

    Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.
    Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan
    tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw : “Barangsiapa membuat
    buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang
    mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat
    buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang
    mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits
    no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi
    Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan
    makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.

    Afwan akh, kalau hadist punya ana lebih lengkap dan tak di potong…

    Dari Jarir bin Abdillah, beliau berkata,

    ?????? ?????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??? ?????? ?????????? ????????? ?????? ??????? ??????? ?????????? ?????????? ???? ?????????? ???????????? ?????????? ???????????? ???? ?????? ???? ????????? ???? ?????? ??????????? ?????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ????? ?????? ???? ?????????? ???????? ????? ?????? ???????? ???????? ????????? ????????? ???????? ????? ?????? ???????

    ??? ???????? ???????? ???????? ????????? ??????? ?????????? ???? ?????? ????????? ????? ????? ???????? ????? ??????? ????? ?????????? ???????? ?????????? ??????? ??? ????????? ???????? ??????? ???????????? ?????? ??? ????????? ?????? ?????????? ???????

    ????????? ?????? ???? ?????????? ???? ?????????? ???? ???????? ???? ????? ??????? ???? ????? ???????? ?????? ????? ?????? ??????? ???????? ????? ??????? ?????? ???? ???????????? ????????? ??????? ??????? ???????? ??????? ???? ???? ???????? ????? ????? ????????? ???????? ?????? ???????? ?????????? ???? ??????? ????????? ?????? ???????? ?????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????????? ????????? ?????????? ??????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???? ????? ??? ???????????? ??????? ???????? ?????? ????????? ???????? ???? ?????? ????? ???????? ???? ?????? ???? ???????? ???? ??????????? ?????? ?????? ????? ??? ???????????? ??????? ????????? ????? ???????? ????????? ???????? ???? ?????? ????? ???? ???????? ???? ?????? ???? ???????? ???? ????????????? ??????

    Kami bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di pagi hari. Lalu datanglah satu kaum yang telanjang kaki dan telanjang dada berpakaian kulit domba yang sobek-sobek atau hanya mengenakan pakaian luar dengan menyandang pedang. Umumnya mereka dari kabilah Mudhar atau seluruhnya dari Mudhar, lalu wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah ketika melihat kefaqiran mereka. Beliau masuk kemudian keluar dan memerintahkan Bilal untuk adzan, lalu Bilal adzan dan iqamat, kemudian beliau shalat. Setelah shalat beliau berkhutbah seraya membaca ayat,

    ??????????? ???????? ???????? ????????? ??????? ????????? ????? ?????? ????????? ???????? ??????? ????????? ??????? ????????? ???????? ???????? ????????? ?????????? ????? ??????? ???????????? ???? ?????????????? ????? ????? ????? ?????????? ????????

    “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. An Nisa: 1)

    dan membaca ayat di surat Al Hasyr,

    ??????????? ????????? ????????? ???????? ????? ??????????? ??????? ????????????? ?????? ?????????? ????? ????? ????? ???????? ????? ???????????

    “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Hasyr:18) Telah bershodaqah seseorang dari dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, takaran sha’ kurmanya sampai beliau berkata walaupun separuh kurma.

    Jarir berkata, ‘Lalu seorang dari Anshar datang membawa sebanyak shurroh, hampir-hampir telapak tangannya tidak mampu memegangnya, bahkan tidak mampu’. Jarir berkata: ‘Kemudian berturut-turut orang memberi sampai aku melihat makanan dan pakaian seperti dua bukit, sampai aku melihat wajah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersinar seperti emas, lalu Rasulullah bersabda,

    “Barang siapa yang membuat contoh dalam Islam contoh yang baik, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barang siapa yang mencontohkan contoh jelek dalam islam maka ia mendapat dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka”.

    Takhrij Hadits

    Hadits ini dikeluarkan oleh : Imam Muslim dalam Shahih Muslim (7/103-104, dengan Syarah An Nawawi) dan (16/225-226), Ahmad dalam Al Musnad (4/357, 359, 361, 362), An Nasaa’i dalam Al Mujtaba’ (5/75-76-77), Al Tirmidzi dalam Al Jaami’ (5/42) no. 2675 dengan lafadz :

    ???? ????? ??????? ???????? ……… ?????? ????? ??? ???????????? ??????? ?????????

    dan Ibnu Majah dalam As Sunan (1/74) no 203.

    Ana tanya lagi akh, apa sedekah sesuatu yang baru dalam Islam..?
    Itu bukan perkara yang baru akh dan juga bukan bid’ah,…
    Jadi hadist ini gak bisa di jadikan alasan membagi bid’ah dholalah dan bid’ah
    hasanah….

    Yang Kedua..

    Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra :
    “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas
    ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an,
    lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis
    Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh
    Rasulullah..?, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan
    dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan
    dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd)
    adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau
    telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah
    Alqur’an..!”
    Berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung
    daripada gunung gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan
    Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah
    saw?”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga
    iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku
    sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih
    Bukhari hadits no.4402 dan 6768).

    Caba antum baca lagi sejarah akh, para sahabat tidak berbuat bid’ah, karena zaman Rasul al quran juga sudah ditulis di pelepah kurma, di kulit unta dan sebagainya, jadi mana bid’ahnya dan hal barunya…
    Dan lagipun, mereka semua sahabat adalah terpercaya dan apapun yang mereka lakukan itu tidak salah…
    Tentang sahabat,,

    [1]. Allah Berfirman.

    “Arti : Kalian ialah umat yg terbaik yg dilahirkan untuk manusia, kalian menyuruh yg ma’ruf dan mencegah yg munkar dan kalian beriman kpd Allah”. [Ali-Imran : 110].

    “Arti : Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kalian umat yg adil dan pilihan”. [Al-Baqarah : 143]

    [2]. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam Menjelaskan Bahwa Para Shahabat Dan Umat Islam Yang Mengikuti Jejak Mereka Adalah orang-orang yg adil.

    Sebagaimana sabda beliau.

    “Arti : Dari Abu Sa’id Al-Khudri ialah ia berkata :”Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nuh akan dipanggil pada hari kiamat. Lalu ia jawab :”Aku penuhi panggilan-Mu dan Maha Bahagia nama-Mu wahai Rabb-ku”. Allah berta :”Apakah sudah engkau sampaikan (dakwah/risalah) ?”. Ia berkata :”Ya sudah”. Lalu umat di ta ;”Apakah ia sudah menyampaikan (risalah) kpd kalian ?.” Mereka berkata :”Tidak pernah ada pengancam (Da’i) yg datang kpd kami ?! Allah berta lagi pada Nuh ‘Alaihi sallam :”Siapakah yg akan menjadi saksi bagimu (bahwa kamu sudah menyampaikan risalah)?” Ia (Nuh) jawab :”Muhammad dan umatnya”. Kemudian ia menjadi saksi bahwa ia telah menyampaikan risalah, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi saksi atas kalian. Demikianlah Allah berfirman :”Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kalian umat yg adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (peruntukan) manusia dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi saksi atas (peruntukan) kalian”. Wasath dalam ayat ini bermakna adil.[Hadits Shahih Riwayat Bukhari/Fathul Bari 8 : 171-172 No. 4487].

    [3].Allah Meridhai Mereka (Para Shahabat Dari Muhajirin Dan Anshar) Dan Orang-Orang Yang Mengikuti Jejak Mereka Dengan Baik.

    “Arti : Orang-orang yg terdahulu lagi yg pertama-tama (masuk Islam) dari orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yg mengikuti mereka dgn baik, Allah ridha kpd mereka dan merekapun ridha kpd Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yg mengalirkan sungai-sungai didalamnya, mereka kekal di dalam selama-lamanya. Itulah kemenangan yg besar”. [At-Taubah : 100].

    “Arti : Sesunggh Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kpd mu (Muhammad) di bawah pohon”. [Al-Fath : 18].

    “Arti : Muhammad Rasulullah dan orang-orang yg bersama beliau ialah keras terhadap orang kafir, tetapi berkasih sayg terhadap sesama mereka ; kalian lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya …”. [Al-Fath : 29]

    [4]. Sifat-Sifat Para Shahabat Yang Disebutkan Dalam Al-Qur’an Adalah :

    [a]. Mereka ialah orang-orang yg benar-benar beriman [Al-Anfaal : 74].
    [b]. Mereka ialah orang-orang yg mengikuti jalan yg lurus [Al-Hujuraat : 7]
    [c]. Mereka ialah orang-orang yg mendpt kemenangan [At-Taubah : 20]
    [d]. Mereka ialah orang-orang yg benar [At-Taubah : 119]
    [e]. Mereka ialah orang-orang yg bertaqwa [Al-Fath : 26]
    [f]. Mereka ialah orang-orang yg menjengkelkan orang-orang kafir dan mereka benci kpd kekafiran [Al-Fath : 29]
    [g]. Dan sifat-sifat lain yg termasuk dalam Al-Qur’an.

    [5]. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bersabda.

    “Arti : Sebaik-baik manusia ialah zamanku ini, kemudian yg sesudah itu, kemudian yg sesudah itu, kemudian nanti akan ada satu kaum dimana persaksian seorang dari mereka mendahului sumpahnya, dan sumpah itu mendahului persaksiannya”. [Hadits Shahih Riwayat Bukhari 4:189, Muslim 7:184-185, Ahmad 1:378,417,434,442 dan lain-lain].

    [6]. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bersabda.

    “Arti :Hendaklah orang yg hadir menyampaikan kpd yg tdk hadir”.
    Kata Ibnu Hibban :”Hadits ini sebesar-besar dalil yg menunjukkan bahwa semua shahabat adil dan tdk satupun diantara mereka yg tercela dan lemah. [Al-Jarh wat Ta’dil oleh Abi Lubabah ; Ibnu Hibban 1:123].

    Yang ketiga…

    Perkataan Umar Bin Khattab..[ini sebaik-baik bid’ah]

    Rasulullah SAW pada suatu malam keluar dan shalat di masjid, orang-orang pun ikut shalat bersamanya, dan mereka memperbincangkan shalat tersebut, hingga berkumpullah banyak orang, ketika beliau shalat, merekapun ikut shalat bersamanya, mereka memperbincangkan lagi, hingga bertambah banyaklah penghuni masjid pada malam ketiga, Rasulullah SAW keluar dan shalat, ketika malam keempat masjid tidak mampu menampung jama’ah, hingga beliau hanya keluar untuk melakukan shalat subuh. Setelah selesai shalat beliau menghadap manusia dan bersyahadat kemudian bersabda: “Amma ba’du, Sesungguhnya aku mengetahui perbuatan kalian semalam, namun aku khawatir diwajibkan atas kalian, sehingga kalian tidak mampu mengamalkannya.” Rasulullah wafat dalam keadaan tidak pernah lagi melakukan shalat tarawih secara berjama’ah.” (HR Bukhari dan Muslim)
    Ketika Rasulullah menemui Rabb-nya (dalam keadaan seperti keterangan hadits di atas) maka berarti syari’at ini telah tetap, maka shalat tarawih berjama’ah disyari’atkan karena kekhawatiran tersebut sudah hilang dan “illat telah hilang juga. Sesungguhnya ‘illat itu berputar bersama ma’lulnya, adanya atau tidak adanya.
    Dan yang menghidupkan kembali sunnah ini adalah Khulafa’ur Rasyid Umar bin Al Khaththab sebagaimana dikabarkan yang demikian oleh Abdurrahman bin Abdin Al Qoriy beliau berkata:
    “Aku keluar bersama Umar bin Al Khaththab suatu malam di bulan Ramadhan ke mesjid, ketika itu manusia berkelompok-kelompok. Ada yang shalat sendirian dan ada yang berjama’ah, maka Umar berkata: “Aku berpendapat kalau mereka dikumpulkan dalam satu imam, niscaya akan lebih baik.” Kemudian beliau mengumpulkan mereka dalam satu jama’ah dengan imam Ubay bin Ka’ab, setelah itu aku keluar bersamanya pada suatu malam, manusia tengah shalat bersama imam mereka, Umar pun berkata, ” Sebaik-baik bid’ah adalah ini, orang yang tidur lebih baik dari yang bangun, ketika itu manusia shalat di awal malam.” (Dikeluarkan Bukhari dan tambahannya dalam riwayat Malik, Abdurrazaq)

    Afwan akh, apa Umar Bin Khattab bikin bid’ah, tidak akh, justru beliau melaksanakan Sunnah Nabi..

    Wassalam….

  17. Abu Hanin@

    Nabi Muhammad tidak melakukan sholat tarawih sebulan penuh, tapi Syayidina Umar bin Khottob mempelopori Tarawih sebulan penuh. Itu namanya mempelopori bid’ah, tapi bid’ah Khasanah. Mudeng nggak Bos?

    Ini garis merahnya: Nabi shalat tarawih hanya beberapa hari saja, Sayyidina Umar sebulan penuh, beda kan?

    1. Nabi Muhammad tidak melakukan sholat tarawih sebulan penuh, tapi Syayidina Umar bin Khottob mempelopori Tarawih sebulan penuh. Itu namanya mempelopori bid’ah, tapi bid’ah Khasanah. Mudeng nggak Bos?
      Afwan akh, coba baca lagi komentar ana di atas yang kedua ya…!!!!
      Para sahabat itu sudah terjamin kebenarannya, Allah dan Rasul yang menjamin mereka benar, apapun yang mereka lakukan….
      Apa orang sekarang yang bikin bid’ah, tarolah katanya bid’ah hasanah,,,
      Siapa yang menjamin mereka..!!!

      Ini garis merahnya: Nabi shalat tarawih hanya beberapa hari saja, Sayyidina Umar sebulan penuh, beda kan?
      Baca lagi dong komentar ana yang ke tiga…
      Insya Allah antum bisa mudeng..:-)

      1. Cuma Sharing saudara Abu Hanin….
        Kalo anda yakin Sayidina Umar menghidupkan sunah dan terjaga kebenarannya apakah tarawih anda sama dengan Beliau? Rakaatnya contoh kecilnya dari paparan anda jangan sampai anda terhukum pendapat anda!!! pada hadist sama anda mengakui kebenaran Sayidina Umar tetapi jumlah rakaatnya tidak mengikuti beliau . Maaf saya tidak menuduh anda begitu tetapi banyak yang seperti itu.
        Wassalam

      2. @Abu Hanim, Ayat pertama yang turun adalah surat IQra’ (BACALAH). Sedangkan al-Qr’an yang ada sekarang, surat pertamanya (Ummul Kitab), yaitu surat al-Fatikhah.

        Itu sudah merupakan bid’ah lagi.

        Banyak sekali bid’ah di sekitar kita, dengan atau tanpa kita sadari. Tapi selama tidak bertentangan dengan syari’at, itu masih dibolehkan.

        Wahhabi tdk setuju dengan adanya pembagian bid’ah Hasanah dan bid’ah sayyiah. Tapi mereka malah bikin bid’ah, dengan membagi bid’ah urusan dunia, dan bid’ah urusan agama.

        Aneh, kan?

        Menolak pembagian bid’ah, tapi malah membagi bid’ah sendiri.

  18. kalau sholat memakai celana panjang bidah gak ????? isbal celana panjang dgn gamis beda gak yaaa ???? tolong yang tau hukumya di jawab . tapi jangan ada kepentingan yang menyangkut GOLONGAN ……HUKUM ISLAM yang sebenar benarnya ….terimakasih

  19. -KAIDAH MUDAH MEMAHAMI BID’AH-

    Saya ingin ‘sharing’ kepada saudara muslim disini bagaimana memahami bid’ah dengan mudah,

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/101-103) mengatakan, “Setiap perkara yang faktor pendorong untuk melakukannya di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu ada dan mengandung suatu maslahat, namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya, maka ketahuilah bahwa perkara tersebut bukanlah maslahat. Namun, apabila faktor tersebut baru muncul setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan hal itu bukanlah maksiat, maka perkara tersebut adalah maslahat.”

    Sebagai contoh adalah adzan menggunakan mikrophon dan speaker, apakah di zaman Rasulullah dan Sahabat ada faktor penghalang tidak digunakannya mikrophon dan speaker pada saat adzan? Jawabannya Ada ! karena dahulu teknologi tidak secanggih sekarang….lagipula mengenai perkembangan teknologi seperti mikrophon, speaker, hp, internet dll yang berkaitan dengan hal keduniaan, maka kita diperbolehkan seinovatif mungkin selama tidak mengandung unsur yang dilarang,

    “Apabila itu adalah perkara dunia kalian, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara agama kalian, kembalikanlah padaku.” (HR. Ahmad)

    contoh lainnya adalah dibukukannya Al-Quran, apakah ada faktor penghalang tidak dikumpulkannya Al-Quran di zaman Rasulullah? Jawabannya Ada ! karena memang ayat-ayat pada zaman Rasulullah hidup masih turun dan syari’at bisa berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kehendak Allah, selain itu, pengumpulan Al-Quran dalam satu mushaf ini juga merupakan hasil ijma (kesepakatan) para Sahabat yang sudah bisa dijadikan ‘pegangan’ dalam agama Islam ini….

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/97) mengatakan, “Sesuatu yang menghalangi untuk dikumpulkannya Al Qur’an adalah karena pada saat itu wahyu masih terus turun. Allah masih bisa mengubah dan menetapkan sesuatu yang Dia kehendaki. Apabila tatkala itu Al Qur’an itu dikumpulkan dalam satu mushaf, maka tentu saja akan menyulitkan karena adanya perubahan setiap saat. Tatkala Al Qur’an dan syari’at telah paten setelah wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam; begitu pula Al Qur’an tidak terdapat lagi penambahan atau pengurangan; dan tidak ada lagi penambahan kewajiban dan larangan, akhirnya kaum muslimin melaksanakan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan tuntutan (anjuran)-nya. Oleh karena itu, amalan mengumpulkan Al Qur’an termasuk sunnahnya. Jika ingin disebut bid’ah, maka yang dimaksudkan adalah bid’ah secara bahasa (yaitu tidak ada contoh sebelumnya).”

    Dan juga, selain itu semua, nama lain dari Al-Quran itu sendiri adalah ‘al-Kitab’, apa arti ‘al-kitab’wahai saudaraku seiman?

    “Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (Q.S Ad-Dukhaan : 2 & 3)

    “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,” (Q.S Al-Baqarah : 2)

    contoh berikutnya adalah mengumpulkan umat shalat tarawih dalam satu imam selama satu bulan penuh yang dilakukan oleh Sahabat Umar. Apakah ada faktor penghalang yang membuat Rasulullah tidak melakukan shalat tarawih terus-menerus selama satu bulan penuh? Jawabannya Ada ! karena Rasulullah khawatir jika beliau melakukan shalat tarawih satu bulan penuh, maka akan membuat shalat tarawih itu diwajibkan, sehingga dapat memberatkan umat muslim diseluruh dunia….dikatakan oleh Umar bid’ah karena memang pada zaman kekhalifahan sebelumnya (Abu Bakar), tidak pernah dilakukan shalat tarawih berjamaah satu bulan penuh dengan satu imam. Jadi, bid’ah dalam perkataan Umar tsb adalah bid’ah dalam pengertian secara bahasa yang memiliki makna yang umum (tidak ada contoh sebelumnya) yang dalam hal ini masa kekhalifahan sebelum Umar yakni Abu Bakar.

    lagipula shalat tarawih berjamaah satu bulan penuh memang boleh-boleh saja dilakukan selama terus menerus itu masih dilakukan di malam bulan Ramadhan, karena Rassulullah bersabda secara umum,

    “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)

    Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh An Nawawi. (Syarh Muslim, 3/101)

    Dari Abu Dzar:
    “Barang siapa qiyamul lail bersama imam sampai selesai, maka ditulis untuknya (pahala) qiyam satu malam (penuh).” (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah, Nasa’i, dan lain-lain)

    Lain masalahnya jika Umar mewajibkan shalat tarawih, maka itu baru termsuk bid’ah, karena shalat tarawih hukumnya tidak wajib.

    Berbeda halnya dengan merayakan hari kelahiran Rasulullah setiap tahun, apakah ada faktor penghalang tidak dilakukannya perayaan maulid di zaman Rasulullah dan zaman Sahabat? Jawabannya adalah TIDAK ADA ! tapi kenapa Rasulullah dan para Sahabat tidak melakukannya?pernahkah setelah Rasulullah wafat, para Sahabat merayakan hari kelahiran Rasulullah setiap tahunnya? Kalo memang memperingati maulid Nabi itu baik (maslahat) dan BUKAN MAKSIAT padahal tidak ada faktor penghalang dilakukannya perayaan maulid, lalu kenapa para Sahabat tidak ada yang melakukannya?

    Jawabannya adalah tentu karena memang merayakan hari kelahiran atau memperingati hari ulang tahun itu tidak ada anjurannya dalam Islam. Maka, jika tidak ada faktor penghalangnya, namun Rasulullah dan para Sahabat tidak melakukannya padahal bukan maksiat, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya perkara tsb bukanlah maslahat.

    “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S Ali-Imran : 31)

    “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah k dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak mengingat Allah Azza wa Jalla.” [al-Ahzâb/33: 21]

    SEANDAINYA PERBUATAN ITU BAIK, NISCAYA PARA SAHABAT TELAH LEBIH DAHULU MELAKUKANNYA.

    Al-Hâfizh Ibnu Katsîr berkata, “Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa setiap perkataan dan perbuatan yang tidak ada dasarnya dari Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bid’ah. Karena bila hal itu baik, niscaya mereka akan lebih dahulu melakukannya daripada kita. Sebab mereka tidak pernah mengabaikan satu kebaikan pun kecuali mereka telah lebih dahulu melaksanakannya.” [ Tafsîr Ibni Katsîr (VII/278-279)]

  20. tak selesai selesainya perbincangan mengenai bid’ah,hmm…

    yang ikut syeh ibnu taimiah,syeh bin baz,utsaimin,syeh al-banni dll, monggo dgn uraiannya dan penjelasannya…

    yang ikut imam syafii,imam ibnu hajar atsqolani,imam nawawi,imam ibnu hajar alhaitami,syeh nawawi dll, monggo dgn uraiannya dan penjelasannya…

    semua punya dalil dan keterangan,mana yg lebih kuat dr semua sudut keilmuan,ketaqwaan,ibadah,zaman…silahkan pilih…semua sdh mengerti…tak usah ramai lagi lah,…

    1. oke…..masuk akal juga.penjelasan anda @yusuf ibrahim…..aku belum sampai ilmunya utk mengomentari mslah maulid nabi ( klo dgn dalih penghalang )…tuan rumah BLOG ini mungkin ahlinya….cuman maaf yang sedikit mengganggu pikiran aku YANG DICONTOHKAN PARA SAHABAT banyak yang nggak mengerjakan ….apalagi yang nggak ada anjuranya ….. tambah masa bodoh …apakah acara maulid yang diisi dgn pembacaan AL QURAN tetep bidah ???? bacaan kitab suci bidah ???? APA KATA DUNIAAAAA

  21. Saya setuju Mas Gondrong….. Monggo silahkan aja yang mau ikut Syekh Albani, Syekh Utsaimin, syaikh-Syaikh Wahabi, silahkan monggo ikut aja mereka.

    Kalau saya semdiri sih ikut yang lebih kredibel, yaitu para Ulama’ Mu’tabar yang telah diakui secara luas di dunia Islam. Merka antara lain: imam syafii,imam ibnu hajar atsqolani,imam nawawi,imam ibnu hajar alhaitami,syeh nawawi dll.

  22. ana juga setuju…

    monggo…silahkan yang ikutan ke syekh ibnu taymiah,syehk ibnu abdul wahab,syehk utsaimin,syekh saleh fauzan,syehk al banni,syehk bin baz,silahkan….

    ane juga pilih sama dgn mas wongko lutan..
    yaitu para Ulama’ Mu’tabar yang telah diakui secara luas di dunia Islam. Merka antara lain: imam syafii,imam ibnu hajar atsqolani,imam nawawi,imam ibnu hajar alhaitami,syeh nawawi dll.
    monggo silahkan pilih saja,gampang toh…

    1. akhi muhammad hasan jangan dikira para ulama yang melaksanakan maulidan tabarruk tawassul dll tidak melaksanakan ibadah sesuai dengan yang diajarkan Rosulallah saw, mereka itu sangat manut dan cinta terhadap Rosulallah saw.

  23. @muhammad hassan

    memangnya antum dapat ajaran islam langsung dari rasululloh?
    melalui siapa antum mengenal/tahu hukum2 islam…klo bukan dr ulama2,
    melalui beliau2 inilah kita menjadi tahu a,b,…z nya

    jadi tinggal pilih aza melalui pengertian/keilmuan ulama mana yg antum mau ambil ajaran rasululloh tsb,begitu saudaraku…
    tinggal pilih aja melalui imam syafii..dst atau, melaui ibnu abdul wahab…dst..

  24. Untuk Sharing Saudaraku…
    Imam syafii membagi Bid’ah menjadi dua yaitu bid’ah Hasanah dan dhalalah, mengenai Imam Syafii, beliau telah dishahihkan dan diakui sebagai Imam Madzhab, dan diikuti oleh para Hujjatul islam dan Imam Imam (hujjatul Islam adalah gelar untuk yg telah hafal lebih dari 300 ribu hadits berikut sanad dan matan), semacam Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar, Hujjatul Islam Al Imam Nawawi, dan banyak lagi yg bermadzhabkan syafii, yg mereka itu semua adalah kaliber dalam ilmu hadits, maka tentu mereka sudah menelusuri seluruh fatwa Imam Syafii sebelum mereka memakai madzhab syafii, menunjukkan keshahihan hadits hadits fatwa Imam Syafii tidak diragukan lagi.

    mengenai hadits masa kini, adalah sisa sisa hadits yg ada dimasa itu, Imam Ahmad bin Hanbal hafal 1 juta hadits berikut sanad dan hukum matannya, dan ia berkata tidaklah kulihat orang yg lebih menjaga fatwanya dg hadits shahih melebihi Imam Syafii.

    Imam Ahmad hanya sempat menulis 20 ribu hadits saja pada musnadnya, maka 980 ribu hadits lainnya lenyap ditelan zaman, Imam Bukhari sudah hafal 600 ribu hadits saat usia remaja, dan beliau hanya sempat menulis sekitar 7000 hadits pada shahihnya, dan buku buku kecil lainnya, lalu kemana ratusan ribu hadits lainnya itu…?, hilang ditelan zaman.

    hadits yg ada masa kini tidak mencapai 100 ribu hadits, kecuali jika dipadu dg sanad sanad yg belum dicetak dan dibukukan,

    maka saya jadi berfikir bagaimana orang masa kini mau menghukumi Imam Syafii yg dimasa itu ada puluhan imam imam yg mengakui keshahihannya, sedangkan kita hanya mengandalkan kurang dari 10% hadits yg ada dimasa itu? Pendapat yang membagi Bid’ah dalam Keduniawian dan non duniawi, segi bahasa adalah pendapat “Ulama2” sekarang dan pembagian itu juga tidak ada hadisnya secara gamblang, semua sama syarah tentang Hadist Bid’ah. Jadi intinya serahkan kehati nurani kita untuk memilih dan minta petunjuk dari Allah secara sungguh2.

    pikiran itu merupakan kehati-hatian khususnya saya yang tidak hapal satu hadistpun sanad sama matannya sehingga saya mengikuti fatwa Imam syafeii yang lebih Mu’tabar dn terbukti bertahan lebih dari 1000 tahun.

    Wallahu a’lam

  25. Untuk Sharing saudaraku..
    Ada tulisan dari Nadirsyah Hosen tentang bagai mana memahami Bid’ah patut untuk kita simak..

    Selepas sholat maghrib, seperti biasanya Haji Yunus melakukan dialog dengan para jama’ah. Malam itu kebetulan terang bulan, dan udara pun tidak terlalu dingin. Suasana nyaman itu mendadak menjadi panas akibat pertanyaan seorang jama’ah.

    “Pak Haji, ijinkan saya bertanya soal bid’ah.” demikian pertanyaan Ace, nama anak muda itu. Jama’ah tersentak kaget. Sudah beberapa tahun ini masalah sensitif tersebut tidak disinggung dalam Masjid Jami’ di desa tersebut. Haji Yunus memang ingin menjaga keutuhan dan kekompakan ummat Islam di desa itu.

    “Silahkan,” jawab Haji Yunus dengan senyum khasnya. “Ada baiknya setelah sekian lama kita menahan diri dan bersikap toleran terhadap sesama, ada baiknya kalau sekarang kita dialogkan dengan toleran dan terbuka pula masalah ini. Biar kita terus dapat memelihara suasana persaudaraan di kampung ini.”

    Ace kemudian mulai bertanya, “saya sering membaca buku agama yang mewanti-wanti soal bid’ah. Baca Qunut bid’ah, Mauludan itu bid’ah, tahlilan itu bid’ah bahkan berzikir dg tasbih juga bid’ah. Padahal konon setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka! Mohon pencerahan pak Haji!”

    “Anakku,” sapa pak Haji dengan penuh kasih sayang. “Sekitar lima belas abad yang lampau, Rasulullah saw bersabda, ‘Sebaik-baiknya perkataan/berita adalah Kitabullah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk dari Muhammad. Sementara itu, sejelek-jelek urusan adalah membuat-buat hal yang baru (muhdastatuha) dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” [Lihat misalnya Shahih Muslim, Hadis Nomor [HN] 1.435; Sunan al-Nasa’i, HN 1560; Sunan Ibn Majah, HN 44 dengan sedikit perbedaan redaksi]

    “Berarti benar dong…bid’ah itu sesat!” cetus Mursalin, jama’ah yang semula hanya duduk di pojokan Masjid, kini mulai maju ke depan mendekati sang Ustadz.

    “Benar! Namun masalahnya apakah yang disebut bid’ah itu? apakah semua urusan yang belum ada pada jaman Nabi disebut bid’ah? Saya ke kantor pakai Honda, tetangga saya pakai Toyota, lalu Nabi pakai Onta. Apa ini juga bid’ah?” balas Burhanuddin, pegawai jawatan kereta api. Ada nada emosi di suaranya.

    “Sabar…sabar…”Haji Yunus berusaha menenangkan jama’ah yang mulai merasakan ‘hot’nya suasana. “Kita harus lihat dulu konteks hadis tersebut. Nabi sebenarnya saat itu sedang membuat perbandingan antara hal yang baik dengan hal yang buruk. Hal yang baik adalah berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi. Sedangkan hal yang buruk adalah melakukan sebuah perbuatan yang tidak ada dasarnya dalam kedua sumber itu.”

    “Tetapi…pak Ustadz…” Burhanuddin mencoba memotong keterangan ustadz.

    “Nah, anda sudah berbuat bid’ah saat ini. Tidak sekalipun Nabi memotong perbincangan sahabatnya atau perkataan orang kafir. Ini adalah contoh paling jelas dan nyata dari perbuatan bid’ah. Dengarkanlah dulu penjelasan saya sampai selesai. Setelah tiba giliran anda silahkan berkomentar.” tegur sang ustadz dengan lembut.

    “Maaf..ustadz….silahkan diteruskan…” Burhanuddin menyadari kekhilafannya. Kadangkala merasa diri benar telah menimbulkan hawa nafsu dan setan berhasil membangkitkan nafsu tersebut.

    “Saya ulangi, perbuatan bid’ah adalah perbuatan yang tidak ada dasarnya dalam kedua sumber utama kita tersebut. Namun ini baru setengah cerita. Bukankah seperti disebut ananda Burhanuddin tadi terdapat banyak urusan kita sehari-hari yang berbeda dengan yang dialami Nabi akibat perbedaan ruang dan waktu serta berkembangnya tekhnologi. Apakah ini juga tergolong bid’ah? Tidakkah menjadi mundur rasanya kalau kita harus memutar jarum sejarah lima belas abad ke belakang untuk mengikuti semua hal yang ada di jaman Nabi termasuk soal keduniawian? Tidak realistis rasanya kalau kita harus naik onta di desa ini hanya karena tidak ingin jatuh pada perbuatan bid’ah. Untuk itu perlu dipahami konteks bid’ah tersebut.”

    Jama’ah makin mendekat berdesak-desakan menunggu keterangan Haji Yunus selanjutnya.

    “Jama’ah sekalian….Syarh Sunan al-Nasa’i li al-Suyuti memberikan keterangan apa yang dimakud dengan “muhdastatuha” dalam hadis yang saya bacakan di atas. Disebut muhdastatuha kalau kita membuat-buat urusan dalam masalah Syari’at atau dasar-dasar agama (ushul). Dalam Syarh Shaih Muslim, Imam Nawawi menjelaskan lebih lanjut bahwa para ulama mengatakan bid’ah itu ada lima macam: wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah.”

    “Yang wajib adalah mengatur argumentasi berhadapan dengan para pelaku bid’ah. Yang mandub (sunnah) adalah menulis buku-buku agama mengenai hal ini dan membangun sekolah-sekolah. Ini tidak ada dasarnya dalam agama namun diwajibkan atau disunnahkan melakukannya. Yang dianggap mubah adalah beraneka ragam makanan sedangkan makruh dan haram sudah nyata dan jelas contohnya. Jadi kata bid’ah dalam hadis di atas dipahami oleh Suyuti dan Nawawi sebagai kata umum yang maksudnya khusus. Kekhususannya terletak pada persoalan pokok-pokok syari’at (ushul) bukan masalah cabang (furu’).

    “Jika kita menganggap hadis itu tidak berlaku khusus maka semua yang baru (termasuk tekhnis pelaksanaan ibadah) juga akan jatuh pada bid’ah. Kedua kitab Syarh tersebut juga mengutip ucapan Umar bin Khattab soal sholat tarawih di masanya sebagai ‘bid’ah yang baik’ (ttg ucapan Umar ini lihat Shahih Bukhari, HN 1871). Dengan demikian Umar tidak menganggap perbuatan dia melanggar hadis tersebut, karena sesungguhnya yang di-“modifikasi” oleh Umar bukan ketentuan atau pokok utama sholatnya, melainkan tekhnisnya. Mohon dicatat, penjelasan mengenai hadis ini bukan dari saya tetapi dari dua kitab syarh hadis dan keduanya saling menguatkan satu sama lain”

    “Kita juga harus berhati-hati dalam menerima sejumlah hadis masalah bid’ah ini. Sebagai contoh, hadis mengenai bid’ah yang tercantum dalam Sunan al-Tirmizi, HN 2701 salah satu rawinya bernama Kasirin bin Abdullah. Imam Syafi’i menganggap dia sebagai pendusta, Imam Ahmad menganggap ia munkar, dan Yahya menganggapnya lemah. Hadis masalah bid’ah dalam Sunan Ibn Majah, HN 48 diriwayatkan oleh Muhammad bin Mihshanin. Tentang dia, Yahya bin Ma’yan mengatakan dia pendusta, Bukhari mengatakan dia munkar, dan Abu Hatim al-Razi mengatakan dia majhul. Ibn Majah meriwayatkan hadis dalam masalah ini [HN 49], diriwayatkan oleh dua perawi bermasalah. Abu Zar’ah al-Razi mengatakan bahwa Bisyru bin Mansur tidak dikenal, Zahabi mengatakan Abi Zaid itu majhul. Kedua hadis Ibn Majah ini tidak dapat tertolong karena hanya diriwayatkan oleh Ibn Majah sendiri, yaitu “Allah menolak amalan pelaku bid’ah, baik sholatnya, puasanya…dst. Namun saya tidak bilang semua hadis ttg bid’ah itu lemah lho….”

    “Pak Haji, bisa tolong membuat batasan masalah pokok agama itu apa saja dan masalah cabang atau furu’ itu yang bagaimana” tanya Ace yang sebelumnya sibuk mencatat nomor hadis dan kitab hadis yg disebutkan Haji Yunus.

    “Yang disebut asal/pokok/dasar Agama adalah ibadah mahdhah yang didasarkan oleh nash al-Qur’an dan Hadis yang qat’i. Dia berkategori Syari’ah, bukan fiqh. Kalau sebuah amalan didasarkan pada dalil yang ternyata dilalahnya (petunjuknya) bersifat zanni maka boleh jadi amalan tersebut akan berbeda satu dengan lainnya. Ini disebabkan zanni al-dalalah memang membuka peluang terjadinya perbedaan pendapat. Sementara kalau dilalah atau dalalahnya bersifat qat’i maka dia masuk kategori Syari’ah dan setiap hal yang menyimpang dari ketentuan ini dianggap bid’ah. Jadi, sebelum menuduh bid’ah terhadap amalan saudara kita, mari kita periksa dulu apakah ada larangan dari Nabi yang bersifat qat’i (tidak mengandung penafsiran atau takwil lain) terhadap amalan tersebut?”

    “Jikalau tidak ada larangan, namun dia melanggar ma’lum minad din bid dharurah (ketentuan agama yang telah menjadi aksioma), maka dia jatuh pada bid’ah. Kalau tidak ada larangan, dan tidak ada ketentuan syari’at yang dilanggar, amalan tersebut statusnya mubah, bukannya bid’ah!”

    “Contohnya pak Kiyai….”

    “Baik, ini adalah contoh praktisnya: Apakah ada larangan memakai alat untuk berzikir (kita kenal dg tasbih atau rosario utk agama lain) ? Meskipun Nabi tidak pernah mencontohkannya, bukan berarti tidak boleh! Adalah benar dalam masalah ibadah berlaku kaidah, ‘asal sesuatu dalam ibadah itu haram kecuali ada dalil yg membolehkan atau mewajibkan’. Nah, apakah memakai tasbih itu termasuk ibadah mahdhah atau tidak? Indikasinya adalah apakah zikir kita tetap sah kalau tidak pakai tasbih? tentu saja tetap sah, karena yang disebut ibadah adalah zikirnya, bukan cara menghitung 33 atau 99nya. Tasbih memang dipakai dalam zikir tetapi dia hanya masalah tekhnis. Seseorang bisa jatuh pada bid’ah kalau menganggap wajib hukumnya memakai tasbih untuk berzikir. Tetapi kalau memandang tasbih
    hanya sebagai alat tekhnis saja, tentu tidakmasalah.

    “Ini yang saya maksud dengan membedakan mana ibadah inti dan mana tekhnis ibadah; mana ibadah mahdah dan mana ibadah ghaira mahdhah.” Contoh lain, haji itu wukuf di padang Arafah. Ini ketentuan Syari’ah; bukan fiqh. Kalau anda wukufnya di Mina, maka anda berbuat bid’ah.”

    “Contoh lain….Nabi menyuruh kita melihat bulan untuk berpuasa. Sekarang kita lihatnya pakai teropong? Apakah ini bid’ah? Fungsi teropong kan hanya membantu saja (tekhnis/alat bantu). Jadi, sama dg tasbih.”

    “Soal merayakan Maulid bagaimana?” tanya Mursalin.

    “Sama saja…gunakan kriteria atau batasan yang saya jelaskan di atas.Anda bisa menilai sendiri. Pertama, adakah nash yang melarang atau menyuruh kita merayakan maulid Nabi?”

    “Tidak ada” jawab jama’ah serempak.

    “Apakah maulid nabi bagian dari ibadah inti atau ibadah mahdhah?

    Apakah kita berdosa kalau meninggalkannya?”

    “Tidak….” jama’ah menjawab lagi.

    “Apakah hukumnya wajib menyelenggarakan maulid Nabi?”

    “Tidak!!!”

    “Bagus…anda sudah bisa menyimpulkan sendiri kan….Nah, contoh bid’ah yg nyata adalah menambah atau mengurangi jumlah rakaat dalam sholat. Karena ada perintah Nabi, “Shollu kama raytumuni ushalli”

    “Bagaimana dengan masalah melafazkan niat atau ushalli dalam sholatustadz?” tanya pak Haji Ya’qub, seorang juragan ayam di desa itu.

    “Yang diperintah itu adalah berniat. Di sini tidak ada perbedaan pendapat. Perbedaan mulai timbul: apakah niatnya itu kita lafazkan atau cukup dalam hati. Sama-sama tidak ada nash qat’i dalam hal ini, sehingga dia bukan masalah dasar atau pokok agama. Apalagi lafaz niatnya itu dibacanya sebelum takbiratul ihram. Sholat itu dimulai dari takbiratul ihram; apapun tindakan, ucapan atau pikiran anda
    sebelum anda takbiratul ihram sholat anda tetap sah. karena sholat dihitung dari saat anda mengucapkan takbiratul ihram.”

    “Bukankah ada hadis yg menyebutkan bahwa ketika sholat nabi langsungmengucap Allahu Akbar, tanpa membaca ushalli.” tanya pak Haji Ya’qubpenasaran.

    “Benar…selama kita tidak menganggap bacaan ushalli itu wajib dibaca dan bagian dari sholat maka itu masuk kategori tekhnis ibadah. Lebih tepat lagi tekhnis berniat dalam sholat. Dalam hal Nabi langsung membaca takbir, berarti Nabi saat berniat sholat sudah mantap menyatukan antara ucapan, perbuatan, pikiran, motivasi dan kepasrahan. Lalu bagaimana dengan mereka yang perlu berkonsenstrasi memusatkan perhatiannya dg melafazkan niat? Saya memandang ini bukan bid’ah, Wa Allahu A’lam. Yang jelas melafazkan niat bukan bagian dari ibadah sholat; itu dilakukan SEBELUM takbir. Lha wong anda sebelum takbir aja gossip boleh kok….”

    “Masak mau sholat nge-gossip dulu ustadz?” tanya Burhanuddin

    “Maksud saya, contoh ekstremnya demikian. Nge-gossip sebelum takbir tidak akan membatalkan sholat anda. Lha wong sholatnya belum dimulai, kok sudah batal. Nah daripada antum pada nge-gossip kan lebih baik berkonsentrasi dg segala cara agar sholatnya khusyu’.”

    Tanpa terasa…waktu isya’ telah tiba. Haji Yunus menutup dialog kali ini dengan menyatakan: “Apa yang saya sampaikan ini tentu belum sempurna dan belum memuaskanantum semua. Saya mohon ampun kepada Allah atas kekhilafan dan kekurangan saya. Semoga Allah senantiasa menunjuki kita ke jalan yang lurus.”

    ps. dialog di atas bersifat fiktif. Kesamaan nama ataupun lainnya hanya kebetulan semata.

  26. Al-Faqih abul Laits As Samarqandi menuturkan dari muhammad bin dawud, dari muhammad bin ja’far, dari ibrahim bin yusuf, dari al musayyab, dari auf, dari al hasan dari rasulullah S.A.W. beliau bersabda:
    “amal sedikit yang sesuai dengan sunnah lebih baik daripada amal banyak yang bid’ah.setiap bid’ah itu sesat dan setiap sesat itu di neraka.”

    Abdullah bin mas’ud r.a. berkata: “amal yang sedang-sedang saja dan sesuai dengan sunnah lebih baik daripada amal yang banyak tetapi bid’ah”.(tanbihul ghafilin 2/442)

    Abu sa’id al-khudri r.a meriwayatkan dari Rasulullah s.a.w. beliau bersabda: “barangsiapa yang memakan yang baik (halal), mengamalkan sunnah, dan orang-orang yang selamat dari gangguannya, maka ia masuk syurga. ada orang yang berkata “ya Rasulullah , banyak orang yang seperti itu?, itu yang akan terjadi pada generasi sesudahku, kemudian makin sedikit” (tanbihul ghafilin 2/447-448).

    peganglah dengan teguh sunnah rasulullah s.a.w walaupun orang-orang yang seperti itu akan semakin sedikit dari masa-kemasa.

    1. semua hadist anda mungkin benar tapi disitu tidak disebut secara specific bidah nya ……BIDAH ITU SESAT DAN SETIAP SESAT ITU DI NERAKA ???? terlalu global….multi tafsir …..kalo yang bloon pasti dimakan mentah2 berarti sahabat umar sesat dong , sahabat usman juga sesat karenan nglakuin BIDAH …..SEDANGKAN maaf anda dibanding mereka soal IBADAH gimana ??? apa lebih baik anda ???apa lebih sholeh anda ???? manusia dikasih Alloh akal dan pikiran …..gunakanlah sebaik baiknya wassalam….

  27. he..he…
    kayaknya antum mau lanjutkan juga…
    ya ane sih orang awam banget,hanya ingin tahu aja neh bgm sih ttg bid,ah dr sudut pandang antum itu…hal ini telah juga di bahas bang gondrong sama bang yusuf ibrahim,tapi jika antum ingin lanjut,ya nggak masalah,silahkan….

    kita definisikan dulu mengenai bidah itu…
    dari arti kata bahasa arab,menurut kamus bahasa,dari segi bahasa lainnya…
    dari sunnah nabi,yg di sesuaikan makna kata nya dgn arti dan makna kata di al-qura,an serta keterangan para imam2….dan dalam pelaksanaan nya keseharan kita…

    biar makna arti kata bid,ah tak rancu…
    bagaimana….silahkan antum definisikan ane orang awam akan menyimak nya…

  28. Inni arju an yukhroja min ashlabihim man yatawallalloh. Yg penting diketahui skrg bukan waktunya diam mendongkol dengan ocehan org2 yg pada taqlid dgn wahabi. Siapapun dan dimanapun kita, mari kita teriakkan kesesatan wahabi !! Insy tidak lama lg wahabiyyun indonesia akan musnah.. Allohu Akbar

  29. Muhammad mahfudh@

    Ya Mas…, Wahabi sudah mencoba eksis sejak Munculnya Muhammdiyah. Kemudian Muhammadiyah agak kendor terbentur fakta-fakta yang ada. Lalu disusul PERSIS, Al-Irsyad, dll, mereka sudah mulai menyesuaikan diri dengan keadaan kaum Muslimun yang lebih dulu eksis hasil dakwah WaliSongo. Lalu kini muncul SLAFY WAHABI yang gencar berkoar-koar memberantas TBC. Sebentar lagi juga akan DIAM menyadari kesesatannya sendiri. Menghadapi propaganda SALAFY WAHABI…, bersabarlah wahai kaum Muslimin….!

  30. @panjul

    saya rasa tak perlu jauh-jauh mengulang pada masalah definisi bid’ah toh antum sudah tau dari uraian mas gondrong dan mas yusuf ibrahim. meningan antum bantah aja keterangan mas yusuf ibrahim mengenai “kaidah mudah memahami bid’ah” dimana letak kesalahannya,,,??
    masalah sahabat umar dan ustman ane rasa semua setuju bahwa sunnah khulafaur rasydin itu pasti baik karena nabi sendiri bersabda “ikutilah sunnahku dan sunnah khulafaur rasydin yang terpuimpin sesudahku.”
    coba antum bawain keterangan para sahabat yang pernah melakukan amalan yang tak pernah dijalankan nabi s.a.w,,,???

  31. seharusnya sih bukan pada tempatnya antum nanya ke ane,krn ane awam banget,tapi yah apa boleh buat…

    ente nanya:
    coba antum bawain keterangan para sahabat yang pernah melakukan amalan yang tak pernah dijalankan nabi s.a.w,,,???

    dari berbagai sumber:

    Bissmillah…
    a. “Ubaidullah berkata dari Zaid bin Tsabit: dari Anas, “Salah seorang Anshar shalat mengimami orang-orang Anshar yang lain di Masjid Quba’. Sudah menjadi kebiasaannya membaca ‘Qul Huwallahu Ahad’ (setelah membaca surah al-Faatihah) apabila dia hendak membaca suatu bacaan di dalam shalat. Setelah selesai membaca surah itu (Qul Huwallaahu Ahad), dia membaca surah yang lain bersamanya. Hal itu ia lakukan pada setiap rakaat. Beberapa orang kawannya mengemukakan pembicaraan atau saran kepadanya dengan berkata, ‘Sesungguhnya Anda membaca surah itu dan tidak menganggapnya cukup, dan Anda membaca surah yang lain. Bagaimana kalau Anda membaca surah itu saja atau meninggalkannya dan membaca yang lain?’ Orang Anshar itu menjawab, ‘Aku sama sekali tidak akan meninggalkan bacaan surah ‘Qul Huwallahu Ahad’ itu. Oleh sebab itu, kalau kamu semua masih senang jika aku menjadi imam untukmu dengan cara sebagaimana yang kulakukan itu, maka aku akan mengerjakan (bertindak sebagai imam). Dan, jika kamu sudah tidak senang terhadap yang demikian itu, biarlah aku tinggalkan kamu.’ Mereka mengetahui bahwa dia adalah orang yang terbaik di antara mereka. Mereka pun tidak ingin orang lain menggantikannya untuk mengimami mereka. Pada waktu Nabi saw. datang kepada mereka seperti biasanya, mereka memberitahukan hal itu kepada beliau. Lalu Nabi bersabda kepada orang itu, ‘Hai Fulan, apa yang melarangmu dari melakukan sesuatu yang dimintai oleh sahabat-sahabatmu? Dan, apa yang mendorongmu untuk senantiasa membaca surah itu di dalam setiap rakaat?’ Dia menjawab, ‘Aku menyukai surah itu.’ Nabi bersabda, ‘Kecintaanmu kepada surah itu akan membuatmu masuk surga.’” [HR. Bukhari]

    b.”Abu Darda’ meriwayatkan bahwa Bilal bermimpi melihat Nabi SAW dalam tidurnya. Nabi berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, apa gerangan yang membuatmu memperlakukan aku seperti ini. Apakah emgkau tidak punya waktu untuk menziarahiku?” Bilal terbangun dalam keadaan duka, gemetar, dan takut. Bilal memacu kudanya langsung menuju Madinah dan mendatangi makam Rasulullah saw. Bilal menangis di sisi makam mulia itu dan menggosok-gosokkan wajahnya pada tanah makam itu. Lalu muncullah Hasan dan Husan. Bilal langsung memeluk dan mencium mereka berdua.”[Tahdzib Tarikh ad-Dimasyqi jilid 2 halaman 259, Usud al-Ghabah karya Ibnu Hajar Jilid: 1 Halaman: 208]

    c.”berkata Muhammad bin Qudaamah sungguh Mubasyir telah meriwayatkan padaku dari ayahnya bahwa bila wafat agar dibacakan awal surat Baqarah dan penutupnya, dan bahwa Ibn Umar berwasiat demikian pula. (Al Mughniy Juz 2 hal : 225)

    d.Dari Ikrimah bahwa Abu Hurayrah berkata, “Sungguh, aku menghadap kepada Allah memohon ampunan dan bertaubat 12.000 kali setiap hari.” [Riwayat ini disebutkan juga oleh Ibn Hajr Al-’Asqalaani di dalam Isaabah, juga Ibn Sa’ad, Al-Hafizh ibnu Hajar mengatakan bahwa atsar ini Shahih]
    ket,Rasul beristighfar sehari semalam sekitar 70-100 kali.

    e.Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata: “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu dihadapan Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg doa : wahai Allah bantulah ia (Hassan) dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul” (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)

    f.Diriwayatkan oleh Abi Jahiifah dari ayahnya, bahwa para sahabat berebutan air bekas wudhu Rasul saw dan mengusap2kannya ke wajah dan kedua tangan mereka, dan mereka yang tak mendapatkannya maka mereka mengusap dari basahan tubuh sahabat lainnya yang sudah terkena bekas air wudhu Rasul saw lalu mengusapkan ke wajah dan tangan mereka” (Shahih Bukhari hadits no.369, demikian juga pada Shahih Bukhari hadits no.5521, dan pada Shahih Muslim hadits no.503 dengan riwayat yang banyak).
    apakah nabi pernah berebut air wudhu bekas wudhu nabi yg lainnya..?

    g.Imam Thawus berkata: Seorang yang mati akan beroleh ujian dari Allah dalam kuburnya selama 7 hari. Untuk itu, sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan jamuan makan (sedekah) untuknya selama hari-hari tersebut. Sahabat Ubaid ibn Umair berkata: “Seorang mukmin dan seorang munafiq sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur. Bagi seorang mukmin akan beroleh ujian selam 7 hari, sedang seorang munafiq selama 40 hari di waktu pagi.” (Al Hawi lil Fatawa as Suyuti, Juz II hal 178)

    Jika suatu amaliyah atau ibadah sudah menjadi keputusan atau atsar atau amal sahabat (dalam hal ini T?awus) maka hukumnya sama dengan hadits mursal yang sanadnya sampai kepada Tabi’in, dan dikatagorikan shahih dan telah dijadikan hujjah mutlak (tanpa syarat). Ini menurut tiga imam (Maliki, Hanafi, Hambali).

    Sementara Imam Syafi’i hanya mau berhujjah dengan hadits mursal jika dibantu atau dilengkapi dengan salah satu ketetapan yang terkait dengannya, seperti adanya hadits yang lain atau kesepakatan sahabat. Dalam hal ini, seperti disebut di atas, ada riwayat dari Mujahid dan dari Ubaid bin Umair yang keduanya dari golongan Tabi’in, meski mereka berdua bukan sahabat.
    Maksud dari kalimat ?????????? ??????????????? atau “sebaiknya mereka” dalam keterangan di atas adalah bahwa orang-orang di zaman Nabi Muhammad SAW melaksanakan hal itu, sedang Nabi sendiri tahu dan mengafirmasinya. (Al Hawi lil Fatawa as Syuyuti, Juz II hal 183)

    h. Hadits dari Abu Hurairah: “Rasulallah saw. bertanya pada Bilal ra seusai sholat Shubuh : ‘Hai Bilal, katakanlah padaku apa yang paling engkau harapkan dari amal yang telah engkau perbuat, sebab aku mendengar suara terompahmu didalam surga’. Bilal menjawab : Bagiku amal yang paling kuharapkan ialah aku selalu suci tiap waktu (yakni selalu dalam keadaan berwudhu) siang-malam sebagaimana aku menunaikan shalat “. (HR Bukhori, Muslim dan Ahmad bin Hanbal).

    Dalam hadits lain yang diketengahkan oleh Tirmidzi dan disebutnya sebagai hadits hasan dan shohih, oleh Al-Hakim dan Ad-Dzahabi yang mengakui juga sebagai hadits shohih ialah Rasulallah saw. meridhoi prakarsa Bilal yang tidak pernah meninggalkan sholat dua rakaat setelah adzan dan pada tiap saat wudhu’nya batal, dia segera mengambil air wudhu dan sholat dua raka’at demi karena Allah swt. (lillah).

    Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam kitab Al-Fath mengatakan: Dari hadits tersebut dapat diperoleh pengertian, bahwa ijtihad menetapkan waktu ibadah diperbolehkan. Apa yang dikatakan oleh Bilal kepada Rasulallah saw.adalah hasil istinbath (ijtihad)-nya sendiri dan ternyata dibenarkan oleh beliau saw. (Fathul Bari jilid 111/276).

    i.Hadits lain berasal dari Khabbab dalam Shahih Bukhori mengenai perbuatan Khabbab shalat dua rakaat sebagai pernyataan sabar (bela sungkawa) disaat menghadapi orang muslim yang mati terbunuh. (Fathul Bari jilid 8/313).

    Dua hadits tersebut kita mengetahui jelas, bahwa Bilal dan Khabbab telah menetapkan waktu-waktu ibadah atas dasar prakarsanya sendiri-sendiri. Rasulallah saw. tidak memerintahkan hal itu dan tidak pula melakukannya, beliau hanya secara umum menganjurkan supaya kaum muslimin banyak beribadah. Sekalipun demikian beliau saw. tidak melarang, bahkan membenarkan prakarsa dua orang sahabat itu.

    j. Hadits riwayat Imam Bukhori dalam shohihnya II :284, hadits berasal dari Rifa’ah bin Rafi’ az-Zuraqi yang menerangkan bahwa: “Pada suatu hari aku sesudah shalat dibelakang Rasulallah saw. Ketika berdiri (I’tidal) sesudah ruku’ beliau saw. mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’. Salah seorang yang ma’mum menyusul ucapan beliau itu dengan berdo’a: ‘Rabbana lakal hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubarakan fiihi’ (Ya Tuhan kami, puji syukur sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya atas limpahan keberkahan-Mu). Setelah shalat Rasulallah saw. bertanya : ‘Siapa tadi yang berdo’a?’. Orang yang bersangkutan menjawab: Aku, ya Rasul- Allah. Rasulallah saw. berkata : ‘Aku melihat lebih dari 30 malaikat ber-rebut ingin mencatat do’a itu lebih dulu’ “.

    Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Fath II:287 mengatakan: Hadits tersebut dijadikan dalil untuk membolehkan membaca suatu dzikir dalam sholat yang tidak diberi contoh oleh Nabi saw. (ghair ma’tsur) jika ternyata dzikir tersebut tidak bertolak belakang atau bertentangan dengan dzikir yang ma’tsur ?dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad saw?. Disamping itu, hadits tersebut mengisyaratkan bolehnya mengeraskan suara ?bagi makmum? selama tidak mengganggu orang yang ada didekatnya…’.

    k. Hadits serupa diatas yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas bin Malik ra. “Seorang dengan terengah-engah (Hafazahu Al-Nafs) masuk kedalam barisan (shaf). Kemudian dia mengatakan (dalam sholatnya) al-hamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi (segala puji hanya bagi Allah dengan pujian yang banyak, bagus dan penuh berkah). Setelah Rasulallah saw. selesai dari sholatnya, beliau bersabda : ‘Siapakah diantara- mu yang mengatakan beberapa kata (kalimat) (tadi)’ ? Orang-orang diam. Lalu beliau saw. bertanya lagi: ‘Siapakah diantaramu yang mengatakannya ? Sesungguhnya dia tidak mengatakan sesuatu yang percuma’. Orang yang datang tadi berkata: ‘Aku datang sambil terengah-engah (kelelahan) sehingga aku mengatakannya’. Maka Rasulallah saw. bersabda: ‘Sungguh aku melihat dua belas malaikat memburunya dengan cepat, siapakah diantara mereka (para malaikat) yang mengangkatkannya (amalannya ke Hadhirat Allah) “. (Shohih Muslim 1:419 ).

    l. Dalam Kitabut-Tauhid Al-Bukhori mengetengahkan sebuah hadits dari ‘Aisyah ra. yang mengatakan: “Pada suatu saat Rasulallah saw. menugas- kan seorang dengan beberapa temannya ke suatu daerah untuk menangkal serangan kaum musyrikin. Tiap sholat berjama’ah, selaku imam ia selalu membaca Surat Al-Ikhlas di samping Surah lainnya sesudah Al-Fatihah. Setelah mereka pulang ke Madinah, seorang diantaranya memberitahukan persoalan itu kepada Rasulallah saw. Beliau saw.menjawab : ‘Tanyakanlah kepadanya apa yang dimaksud’. Atas pertanyaan temannya itu orang yang bersangkutan menjawab : ‘Karena Surat Al-Ikhlas itu menerangkan sifat ar-Rahman, dan aku suka sekali membacanya’. Ketika jawaban itu disampaikan kepada Rasulallah saw. beliau berpesan : ‘Sampaikan kepadanya bahwa Allah menyukainya’ “.

    m. Ashabus-Sunan, Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Hibban dalam Shohih-nya meriwayatkan sebuah hadits berasal dari ayah Abu Buraidah yang menceriterakan kesaksiannya sendiri sebagai berikut: ‘Pada suatu hari aku bersama Rasulallah saw. masuk kedalam masjid Nabawi (masjid Madinah). Didalamnya terdapat seorang sedang menunaikan sholat sambil berdo’a; Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa tiada tuhan selain Engkau. Engkaulah Al-Ahad, As-Shamad, Lam yalid wa lam yuulad wa lam yakullahu kufuwan ahad’. Mendengar do’a itu Rasulallah saw. bersabda; ‘Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, dia mohon kepada Allah dengan Asma-Nya Yang Maha Besar, yang bila dimintai akan memberi dan bila orang berdo’a kepada-Nya Dia akan menjawab’.

    n.Hadits dari Ibnu Umar katanya; “Ketika kami sedang melakukan shalat bersama Nabi saw. ada seorang lelaki dari yang hadir yang mengucapkan ‘Allahu Akbaru Kabiiran Wal Hamdu Lillahi Katsiiran Wa Subhaanallahi Bukratan Wa Ashiila’. Setelah selesai sholatnya, maka Rasulallah saw. bertanya; ‘Siapakah yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi? Jawab sese- orang dari kaum; Wahai Rasulallah, akulah yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi. Sabda beliau saw.; ‘Aku sangat kagum dengan kalimat-kalimat tadi sesungguhnya langit telah dibuka pintu-pintunya karenanya’. Kata Ibnu Umar: Sejak aku mendengar ucapan itu dari Nabi saw. maka aku tidak pernah meninggalkan untuk mengucapkan kalimat-kalimat tadi.” (HR. Muslim dan Tirmidzi). As-Shan’ani ‘Abdurrazzaq juga mengutipnya dalam Al-Mushannaf.

    _______________________
    sumber lainnya baca di:

    __________________
    di antara nya..
    Tim Lembaga Bahtsul Masa’il PC NU Jember dalam buku : “Membongkar Kebohongan Buku “Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat & Dzikir Syirik” yang juga menyebutkan Dalil – dalil tentang adanya Bid’ah Hasanah yang dilakukan oleh para Sahabat ra pada masa Rasulullah, yaitu :

    1. Hadits Muadz bin Jabal ra, yang diriwayatkan oleh al Thabarani dalam al Mu’jam al Kabir(20/271) dan al Imam Ahnad (5/233), Abu Dawud, Ibn Abi Syaibah dan lain-lain, yang menceritakan hal yang beliau (Muadz) lakukan ketika terlambat datang shalat berjama’ah. Hadits ini menunjukkan bolehnya membuat perkara baru dalam Ibadah, seperti shalat atau lainnya apabila sesuai dengan tuntunan syara’.

    2. Hadits al Ash bin Wa’il ra, yang diriwayatkan oleh al Thabarani, Al Hafizh al Haitsami –guru al Hafizh Ibnu Hajar- mengatakan dalam Majmu Zawaid (6/10631) para perawi hadits ini tsiqat dan perawi hadits shahih, yang menceritakan bagaimana suku Dzuhl bin Syaiban bertawassul dengan nama Nabi atas inisiatif pemimpin mereka dan belum mereka pelajari dari Nabi saw. Hadits ini menunjukkan bolehnya membuat perkara baru apabila sesuai dengan tuntunan syara’. Dengan demikian tidak selamanya perbuatan yang tidak diajarkan oleh Nabi saw selalu keliru dan buruk.

    3. Hadits Bilal ra, yang diriwayatkan oleh al Bukhari (1149), Muslim (6247), al Nasai dalam Fadhail al Shahabah (132), al Baghawi (1011), Ibn Hibban (7085), Abu Ya’la (6104), Ibn Khuzaimah (1208), Ahmad (5/354), dan al Hakim (1/313), yang menceritakan bagaimana beliau (Bilal ra) selalu menjaga wudhu dan shalat dua rakaat setiap selesai adzan ataupun wudhu. Hadits ini memberikan faedah bolehnya berijtihad dalam menentukan waktu ibadah, karena Bilal memperoleh derajat tsb berdasarkan Ijtihadnya sendiri, tanpa dianjurkan, dan tanpa bertanya kepada Nabi saw.

    4. Hadits Ibnu Abbas ra, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (3061), yang menceritakan beliau (Ibnu Abbas ra) mundur ke belakang berdasarkan Ijtihadnya, padahal sebelumnya Rasulullah saw telah menariknya berdiri lurus di sebelah beliau. Hadits ini membolehkan berijtihad membuat perkara baru dalam agama apabila sesuai dengan syara’.

    5. Hadist Ali Bin Abi Thalib ra, yang diiriwayatkan oleh Imam Ahmad (865), yang menceritakan bagaimana Abu Bakar ra membaca Al Quran dengan suara lirih dan Umar ra yang membaca dengan suara keras, sedangkan Ammar membaca dengan mencampur berbagai ayat al Qur’an. Hadits ini menunjukkan bolehnya membuat Bid’ah Hasanah dalam agama. Ketiga sahabat itu melakukan ibadah dengan caranya sendiri berdasarkan ijtihadnya masing-masing. Dari sini dapat disimpulkan bahwa tidak selamanya sesuatu yang belum diajarkan oleh oleh Nabi saw pasti buruk atau keliru. Dan agaknya cara Ammar bin Yasir membaca Al Quran sesuai dengan Tradisi Tahlil di kalangan Ahlussunnah wal Jamaah Indonesia.

    6. Hadits Amr bin Ash, yang diriwayatkan oleh Abu dawud (334), Ahmad (4/203), al Daruquthni (1/178), yang menceritakan beliau (Amr bin Ash) melakukan tayamum karena kedinginan berdasarkan ijtihadnya. Dengan demikian tidak semua perkara yang tidak diajarkan oleh Nabi saw itu pasti tertolak, bahkan dapat menjadi Bid’ah Hasanah apabila sesuai dengan tuntunan syara seperti dalam hadits ini.

    7. Hadits Umar bin Khaththab ra, yang diriwayatkan oleh Muslim (1357), al Tirmidzi (3592), al Nasai (884) dan Ahmad (2/14), yang menceritakan seorang laki laki yang mengucapkan Allahu akbar kabiran wal hamdulillahi katsiran wa subhanallahi bukratan wa ashila.

    8. Hadits Rifa’ah bin Rafi’ ra, yang diriwayatkan oleh al Bukhari (799), al Nasai (1016), Abu Dawud (770), Ahmad (4/340), dan Ibnu Khuzaimah (614), yang menceritakan kedua orang sahabat yang mengerjakan perkara baru yang belum pernah diterimanya dari Nabi saw, yaitu menambah bacaan dzikir dalam Iftitah dan dzikir dalam I’tidal. Hadits ini menjadi dalil bolehnya membuat dzikir baru dalam shalat, apabila tidak menyalahi dzikir yang ma’tsur (datang dari Nabi saw), dan bolehnya mengeraskan suara dalam bacaan dzikir selama tidak mengganggu orang lain.

    Bahkan di dalam buku tersebut juga diceritakan bagaimana Imam Ahmad bin Hanbal melakukan Bid’ah Hasanah yang belum pernah dilakukan oleh Nabi saw, yaitu beliau mendoakan Imam Syafi’i di dalam shalatnya selama 40 tahun (Al Hafizh al Baihaqi, Manaqib al Imam al Syafi’i, 2/254), dan bagaimana beliau membaca doa Khatmil Qur’an sebelum ruku’ (Ibn al Qayyim, Jala’ al Afham, hal. 226),

    Dan juga diceritakan bagaimana Bid’ah Hasanah yang dilakukan oleh Ibn Taimiyah dalam berzikir yaitu membaca mengulang-ulang surat al fatihah dari sejak setelah shalat subuh hingga matahari naik sambil pandangannya selalu diarahkan ke langit tanpa ada nash dari Nabi saw. (Umar bin Ali al Bazzar; Al A’lam al Aliyah fi Manaqib Ibn Taimiyah, hal 37-39).

  32. Disini perlu sebuah persamaan persepsi bahwa taqrir Rasulullah pada zaman kehidupan bersama beliau adalah petunjuk, karena kita yakin semua yang dari Rasulullah pasti datangnya dari Allah, maka itu adalah Syari’at. Sekarang yang jadi pertanyaan bersama adalah SESUATU YANG BARU DALAM HAL AGAMA, YANG TIDAK ADA DI ZAMAN RASULULLAH DAN SAHABAT DAN YANG MUNCUL PADA SAAT BELIAU TELAH TIADA, SIAPA YANG BERANI MENTAQRIRKAN, DAN SIAPA YANG BERANI BERKATA BAHWA ITU DATANGNYA DARI ALLAH.

    Ada poin yang perlu kita catat disini:
    hal peneguran sahabat yang lain terhadap apa yang telah dilakukan orang tersebut “Temann-temannya mengurnya, mereka berkata, “Engkau selalu mengawali bacaan dengan surah itu lalu engkau tambah dengan surah lain, jadi sekarang engkau plih, apakah membaca surah itu saja atau membaca surah lainnya saja.”….), lihatlah betapa para sahabat sangat takut kepada praktek-praktek yang tidak dilakukan oleh Rasulullah, dan jikalau pengertian Sunnah dan bid’ah seperti yang dipahami penulis maka tentunya sahabat tidak akan mempermasalahkan hal ini, dan toh mereka kemudian pada akhirnya meminta petunjuk dari Rasulullah. “Ketika mereka mendatangi Nabi saw. mereka melaporkannya.
    perhayikanlah “Nabi menegur orang itu seraya bersabda, “hai fulan, apa yang mencegahmu melakukan apa yang diperintahkan teman-temanmu? Apa yang mendorongmu untuk selalu membaca surah itu (Al Ikhlash) pada setiap raka’at?) Rasulullah orang yang paling tahu tentang makna kebajikan, karena setiap apa yang menjadi pernyataan beliau tentang kebajikan ini adalah dari Allah, lalu dalam peristiwa itu kenapa Rasulullah menegur sahabat padahal apa yang dilakukan sahabat adalah kebaikan yang terlihat oleh kasat mata sekalipun “SIAPA YANG MENGANGGAP MEMBACA SURAT AL-IKHLAS BUKAN SEBUAH KEBAIKAN”, namun mengapa Rasulullah masih tetap menegur padahal yang tampak pada beliau adalah kebaikan yang dilakukan Sahabat, KETAHUILAH SAUDARA-SAUDARAKU, BAHWA SEPANJANG KEHIDUPAN RASULULLAH ADALAH PROSES TURUNYA WAHYU-WAHYU ALLAH YANG DISAMPAIKAN KEPADA BELIAU, DAN SETELAH WAFATNYA BELIAU ADALAH AKHIR DARI TURUNYA WAHYU-WAHYU ALLAH, SEDANGKAN SYARI’AT IBADAH BERDASAR WAHYU ALLAH.. LALU RITUAL IBADAH YANG TIDAK PERNAH DILAKSANAKAN RASULULLAH DAN PARA SAHABAT PADA MASANYA, SIAPA YANG MENJAMIN BAHWA ITU ADALAH SESUAI DENGAN SYARI’AT (WAHYU ALLAH) SEDANG KITA SUDAH TIDAK BERSAMA MEREKA.

    Lihatlah pula sebuah hadist yang pada awal-awal dikutip oleh penulis:
    Hadis di atas dipertegas dengan hadis panjang riwayat Turmudzi, Abu Daud dan para muhaddis lain dari: Al-Irbâdh ibn Saariyah, ia berkata, pada suatu hari, seusai salat subuh Rasulullah saw. memberi wejangan kepada kami dengan mau’idzah yang luar biasa, karenanya mata-mata mencucurkan air mata dengan deras dan hati-hati menjadi takut, lalu ada seorang lelaki berkata, sepertinya ini wejangan perpisahan, lalu apa yang Anda perintahkan untuk kami wahai Rasulullah saw? beliau saw. menjawab
    Aku berwasiat kepadamu dengan ketaqwaan kepada Allah, mendengar dan taat walaupun kepada budak sahaya berkebangsaan Etiopia. Karena sesungguhnya siapa dari kamu yang hidup ia akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Hati-hatilah kamu dari perkara-perkara yang baru karena ia adalah kesesatan. Maka barang siapa dari kamu mengalami hal itu, hendaknya ia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa’ yang Râsyidiin dan Mahdiyyiin (yang terbimbing dan mendapat petunjuk), gigitlah ia dengan gigi geraham kamu (berpegang teguhlah dengannya)!.(Al-Turmudzi. Sunan (dengan Syarah Al-Mubarakfuuri).Vol.7,438-442. bab al-Akhdzu bil Sunnah wa ijtinaab al-Bid’ah)

    Jelaslah kedustaan penulis berbicara atas nama hadist Rasulullah.
    DI DALAM HADIST JELAS TERKANDUNG MAKNA WASIAT RASULULLAH, DAN PARA SAHABAT BERFIRASAT BAHWA ITU WASIAT PERPISAHAN MEREKA DENGAN BELIAU, JADI SEGALA ISI WASIAT DIMAKSUDKAN UNTUK KEHIDUPAN UMAT SEPENINGGALAN BELIAU. LALU BAGAIMANA BISA PENULIS MEMBERIKAN PEMBUKTIAN BOLEHNYA SESUATU KREASI DALAM IBADAH YANG MARAK PADA SAAT SEKARANG DENGAN MERUJUK PADA TAQRIR RASULULLAH (ketika BELIAU MASIH HIDUP DAN MEMBERI BIMBINGAN KEPADA PARA SAHABAT) SEDANG DALAM HADIST BELIAU JELAS “ Hati-hatilah kamu dari perkara-perkara yang baru karena ia adalah kesesatan” ADALAH PERINGATAN KEPADA KEHIDUPAN MASA SESUDAH KEHIDUPAN BELIAU.
    Lalu pembuktian yang mana yang akan antum kemukakan untuk membenarkan praktek-praktek bid’ah antum

    MAKA KAMI HANYA INGIN MENUNJUKKAN SATU BUKTI BAHWA BID’AH, MEMANGLAH BID’AH, DAN ITU ADALAH SESUATU YANG SANGAT DITAKUTI OLEH PARA SAHABAT DIMASANYA.

    DIMANA PARA PERISTIWA PERANG YAMAMAH BANYAK TENTARA ISLAM YANG GUGUR DAN SEBAGIAN DIANTARA MEREKA ADALAH PARA PENGHAFAL AL-QUR’AN, SAHABAT UMAR MERASA KAWATIR DENGAN PERISTIWA INI, KEMUDIAN BELIAU MENDATANGI KHALIFAH ABU BAKAR UNTUK MEMUSYAWARAHKAN HAL ITU. KARENA KEKAWATIRAN UMAR BIN KHATHAB HINGGA MEMUNCULKAN IDE YANG TENTUNYA DILANDASI DENGAN KEILMUANNYA UNTUK MENGUMPULKAN AYAT-AYAT QUR’AN TERSEBUT. HAL ITU PULALAH YANG JUSTRU MENJADI KEKAWATIRAN TERSENDIRI DARI KHALIFAT ABU BAKAR.

    ABU BAKAR BERKATA DALAM MUSYAWARAH ITU “ BAGAIMANA SAYA AKAN MELAKUKAN SESUATU YANG TIDAK PERNAH DILAKUKAN RASULULLAH”, TETAPI SETELAH DIYAKINKAN OLEH SAHABAT UMAR, BAHWA ITU AKAN MEMBAWA KEBAIKAN DARI PADA HAL ITU TIDAK DILAKSANAKAN, MAKA KHALIFAH AKHIRNYA MENYETUJUINYA.

    BEGITU PULA KETIKA HAL ITU DISAMPAIKAN KEPADA SAHABAT ZAID BIN TSABIT, BAGAIMANA BERATNYA ZAID BIN TSABIT UNTUK BISA MELAKSANAKAN HAL INI, SAMPAI-SAMPAI BELIAU MENGANDAIKANNYA DENGAN MENGANGKAT SEBUAH BUKIT ADALAH LEBIH RINGAN DARINYA, NAMUN BARU DAPAT MENCAPAI SEBUAH KESEPAKATAN SETELAH BENAR-BENAR ALLAH MEMBUKA JALANNYA.

    Dari kisah di atas maka akan kita ambil hikmah-hikmah sebagai berikut:
    Kekhawatiran khalifah abu bakar kepada pengumpulan ayat Al-Qur’an menjadi bukti nyata bahwa, Khalifah abu bakar sangat takut apabila apa yang akan dilakukannya itu masuk dalam tindakan yang dilarang oleh Rasulullah yaitu bid’ah.
    Satu permasalahan itu “meskipun telah jelas terlihat secara dzahir adalah baik” namun sahabat yang jelas-jelas merasakan sendiri pernah hidup bersama-sama dengan Rasulullah ternyata tidak mudah melaksanakannya, karena rasa kawatir terhadapnya.
    Sedangkan bid’ah-bid’ah mereka itu, di awal waktu kemunculannya, peernahkah pendakwah-pendakwah mereka mempermusyawarahkannya, hingga paling tidak ada kekawatiran dari padanya untuk terjerumus dalam kebid’ahan. Dan andaikata bid’ah hasanah itu adalah bagian dari sunnah Rasulullah maka bagaimana mungkin sahabat yang keilmuanya adalah hasil tempaan Rasulullah begitu sangat mengkhawatirkan hal tersebut, padahal berdasar kasat mata telah jelas nampak kebaikan disitu. Apakah ahlusysyubhat itu memandang para sahabat tidak bisa menilai langsung sisi kebaikan dari apa yang dilakukan, sehingga harus susah-susah bermusyawarah untuknya.
    Terlaksananya pengumpulan ayat-ayat Qur’an tersebut memang kadang dijadikan senjata bagi kaum penyuka bid’ah untuk dihunuskan kepada pengikut Ahlussunnah bahwa ternyata sahabat juga mempraktekkan sesuatu yang tidak ada dizaman Rasulullah.

    Berikut adalah jawaban untuk syubhat tersebut:
    Penulisan Ayat-ayat Allah telah terjadi pada zaman Rasulullah. Pada setiap Wahyu turun beliau selalu memerintahkan shahabat untuk menghafal dan menuliskannya keatas batu, pelepah pohon kurma, dan kulit onta. Tata urut Al-Qur’an juga telah ditetapkan oleh Rasulullah sendiri. Jadi sahabat pada waktu itu hanya mengumpulkan ayat-ayat sesuai dengan urutan ayat-ayat yang ditetapkan beliau Rasulullah, tidak mengubah baik posisi, penambahan dan pengurangan sedikitpun. adapun pengumpulan Ayat-ayat Al-Qur’an seperti yang dilakukan sahabat baru bisa dilaksanakan setelah wahyu benar-benar telah sempurna. pada kondisi dizaman Rasulullah tidak mungkin dilaksanakan,mengingat pada waktu itu Wahyu Allah masih turun, dan akan sangat memungkinkan akan merubah tata susunan ayat.

    Dari sini dapat disimpulkan bahwa, terbukti bahwa bid’ah adalah sesuatu yang ditakuti oleh para sahabat, sehingga melakukan sesuatu yang meragukan hati meskipun itu secara dzahir adalah baik dan terpuji, perlu sebuah musyawarah tentang hakikatnya. Meskipun kami memahami pengumpulan Al-Qur’an bukanlah bid’ah, sebagaimana yang dijadikan senjata oleh kaum khurafat untuk melanggengkan kebiasaan salahnya, namun setidaknya pada prosesnya membuktikan bahwa apa yang dikatakan penyuka bid’ah “ semua yang baik akan dimasukkan dalam Sunnah sedang yang menyimpang daripadanya adalah Bid’ah” telah dibantahkan oleh kisah tersebut.

    1. disinilah letak ketidak mampuan keilmuan para pengamal syariat mutlak tidak mau melihat ilmu islam yang sempurna ……apabila kita bisa berkomunikasi langsung kepada yang maha SEGALANYA apalagi yang diragukan dari sumber yang maha BENAR ????? makanya @muhammad hasan segeralah bertobat ,carilah Mursyid yang kamil mukamil dengan berbaiat kpd beliau maka anda akan di tuntun ke hadiratNya seperti Nabi Saaw dituntun jibril …tentu dgn metoda beliau ….jadi gak ada keraguan ….

  33. @muhammad hassan

    ehem…ya nama nya juga orang awam…
    kembali pada pertanyaan ente di awal..ente nanya apa? ane ingetin lagi oke..
    coba antum bawain keterangan para sahabat yang pernah melakukan amalan yang tak pernah dijalankan nabi s.a.w,,,?? nah ane dah kasih itu semua..oke

    lalu ente tulis tuh panjang lebar…(yg akan beda pemahaman ane dan ente)
    ane jawab juga akan nggak nyambung ntar nya percuma,hanya bantah-berbantahan saja jadinya,ttg khulafaur rasyidin dah di bahas yusuf-gondrong tak usah di ulang2 lagi,
    tapi ane seneng dpt tambah wawasan sejauh mana pemahaman ente tsb,

    nah sekarang gantian ane yang tanya ke ente,…
    ente hukumi apa para sahabat yang berebut wudhu bekas nabi,yg menangis di kubur nabi sambil menggosok2 muka nya pada tanah makam rosul, yg berlebihan istighfarnya melebihi nabi,yang membaca syair2 pujian tuk rosul di masjid ?dan ente hukumi apa pula imam ahmad dan syeh ibnu taymiah atas perbuatannya tsb?
    ane orang awam banget ingin tahu,dan akan menyimaknya,silahkan…

  34. Saya disini ingin berprasangka baik saja, anggaplah sebagian besar kisah yang dibawakan si ‘panjul’ itu shahih, maka ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi disini secara umum, yakni ;

    1. Dari sekian banyak kisah tsb, coba simak dengan teliti, sebagian besar kisah tsb menceritakan bahwa ‘inisiatif’ yang dilakukan oleh para Sahabat kebanyakan adalah telah melalui ‘restu’ dari Rasulullah, ada ‘persetujuan’ langsung dari Rasulullah, tetap dikembalikan kepada Rasulullah dan ada keterangannya dari Rasulullah. Sehingga Rasulullah mengetahui adanya perkara tsb.

    2. Khusus mengenai kisah Bilal yang ngusap-ngusap tanah kuburan Rasulullah, kisah tsb adalah kisah dho’if ;
    Kisah tsb dibawakan oleh:
    – Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyqi (137/7), dengan sanad
    – Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Usud Al Ghabbah (131/1), tanpa sanad
    – Al Mizzi dalam Tahdzibul Kamal mengisyaratkan kisah ini, namun tidak menyebut perihal menangis dan mencium kubur.
    “Ada yang mengatakan bahwa Bilal tidak pernah adzan setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam kecuali hanya sekali. Yaitu ketika ia datang ke Madinah untuk berziarah ke kubur Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Para sahabat memintanya ber-adzan, ia pun mengiyakan. Namun ia beradzan tidak sampai selesai” (Tahdzibul Kamal, 289/4)
    – Adz Dzahabi dalam Tarikh Islami (273/4), dengan sanad
    – Ali Bin Ahmad As Samhudi, dalam Al Wafa’ bi Akhbar Al Musthafa (44/1), tanpa sanad

    Jalan Periwayatan :
    Adz Dzahabi dalam Tarikh Islami membawakan kisah ini dengan sanad sebagai berikut:

    “Dari Abu Ahmad Al Hakim: Ibnu Fayd mengabarkan kepada kami: Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Sulaiman bin Bilad bin Abi Darda mengabarkan kepada kami: Ayahku (Muhammad) mengabarkan kepadaku: Dari Sulaiman: Dari Ummu Darda’: Dari Abu Darda’ ”
    Komentar Para Ulama

    Pertama: Adz Dzahabi dalam Tarikh Islami mengatakan:
    “Ibrahim bin Muhammad bin Sulaiman Asy Syami itu majhul (tidak dikenal), orang yang mengambil riwayat darinya hanya Muhammad bin Fayd Al Ghassani”
    Adz Dzahabi juga men-dhaif-kan kisah ini dalam Siyar A’lamin Nubala (357-358/1)

    Kedua: Ibnu Abdil Hadi berkata:
    “Atsar yang dikatakan dari Bilal ini tidak shahih” (Ash Sharimul Munkiy, 314)
    Nampaknya kisah ini dikatakan shahih oleh As Subki, maka Ibnu Abdil Hadi dalam Ash Sharimul Munkiy pun menyanggahnya:
    “Seluruh hadits yang dibawakan As Subki dalam masalah ini, yang diklaim berjumlah belasan hadits, bukan hadits-hadits shahih. Bahkan semuanya hadits yang sangat lemah” (Ash Sharimul Munkiy, 14)

    Ketiga: Ibnu Hajar Al Asqalani berkata:
    “Kisah ini adalah kedustaan yang nyata” (Lisanul Mizan, 107-108/1)

    Keempat: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
    “Hadits-hadits yang diriwayatkan dengan mengandung lafadz ‘ziarah kubur Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam‘ tidak ada yang shahih menurut para ulama hadits. Hadits-hadits seperti ini tidak pernah dibawakan oleh pemilik kitab Shahih, tidak juga pemilik kitab Sunan yang menjadi pegangan, seperti Sunan An Nasa-i atau semacamnya, tidak juga kitab Musnad yang menjadi pegangan, seperti Musnad Ahmad atau semacamnya, tidak juga kitab Muwatha Malik, tidak juga kitab Musnad Asy Syafi’i atau semacamnya. Hadits-hadits seperti ini tidak pernah dipakai para Imam Mazhab dalam berhujjah. Yaitu hadits yang didalamnya disebut lafadz ziarah kubur Nabi” (Majmu’ Fatawa, 216/27)

    Sumber : muslim.or.id

    3. Mengenai kisah para Sahabat yang berebut air wudhu bekas Rasulullah, maka itu merupakan hukum bahwa air musta’mal adalah air yang suci selama air tsb tidak berubah warna, rasa atau baunya yang dimana air musta’mal adalah air yang jatuh dari anggota wudhu orang yang berwudhu atau lebih mudahnya kita sebut air musta’mal dengan air bekas wudhu dan hal tsb mempertegas dibolehkannya berwudhu dengan menggunakan air musta’mal selama air tsb tidak berubah warna, rasa atau baunya.

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar bersama kami di al Hajiroh, lalu beliau didatangkan air wudhu untuk berwudhu. Kemudian para sahabat mengambil bekas air wudhu beliau. Mereka pun menggunakannya untuk mengusap.”[HR. Bukhari no. 187]

    Ibnu Hajar Al ‘Asqolani mengatakan, “Hadits ini bisa dipahami bahwa air bekas wudhu tadi adalah air yang mengalir dari anggota wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga ini adalah dalil yang sangat-sangat jelas bahwa air musta’mal adalah air yang suci.”[ Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 1/295, Darul Ma’rifah, Beirut.]

    Memang tidak kita ingkari bahwa para Sahabat dahulu pernah bertabaruk lewat air wudhu Rasulullah,

    “Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, mereka (para sahabat) hampir-hampir saling membunuh (karena memperebutkan) bekas wudhu beliau.”[HR. Bukhari no. 189]

    Namun perbuatan seperti bertabaruk dengan bekas air wudhu Rasulullah,mengambil keringatnya dan mengumpulkan rontokan rambutnya ketika beliau masih hidup memang dibenarkan, karena apa-apa yang ada pada diri Rasulullah semuanya adalah baik dan mengandung keberkahan yang tidak dimiliki oleh selain beliau karena beliau adalah seorang manusia yang maksum (terjaga dari segala kesalahan) dan tidak ada yang mengingkari keistimewaan seorang Rasulullah.

    Anas mengatakan : “Aku pernah menyaksikan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tengah dicukur oleh seorang tukang cukur. Beliau dikelilingi oleh para shahabatnya. Mereka tidak menginginkan sehelai rambut pun jatuh percuma tanpa didapatkan oleh orang di antara mereka” [HR. Muslim no. 2325].

    Dari Anas bin Malik ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari pernah masuk ke rumah Ummu Sulaim. Beliau lalu tidur di atas alas tidur Ummu Sulaim ketika ia tidak ada di rumah. Pada hari lainnya beliau juga datang dan melakukan hal yang sama. Ketika Ummu Sulaim datang, ada yang melapor bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidur di alas tidur di rumahnya. Segera saja Ummu Sulaim masuk dan mendapati Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersimbah keringat yang sangat banyak sehingga mengenai sepotong kulit yang berada di dekat alas tidur tersebut. Kemudian Ummu Sulaim menyeka keringat tersebut lalu memerasnya ke dalam botol-botol yang terbuat dari kaca. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam terbangun dan merasa kaget. Beliau bertanya : “Apa yang sedang kamu lakukan wahai Ummu Sulaim ?”. Ia menjawab : “Wahai Rasulullah, kami mengharapkan barakahnya untuk anak-anak kami”. Maka beliau berkata : “Engkau benar” [HR. Muslim no. 2331].

    Walaupun begitu, bukan berarti kita boleh melakukan perbuatan yang serupa kepada selain Rasulullah seperti kepada habib, kiayi, ustadz dll kerena tentu tidak sama antara Rasulullah dengan mereka (habib,kiayi dkk.) dan jangan pula perbuatan Sahabat tsb dianalogikan/diqiyaskan/disamakan dengan perbuatan-perbuatan saat ini seperti menganggap berkah tanah kuburan wali, kiyai, habib dll, batu nisan kuburan, batu keramat dan sejenisnya, maka itu tidak dibenarkan, karena sejak kapan tanah kuburan, batu keramat, nisan kuburan itu mengandung berkah?

    Abu Waqid Al-Laitsi menuturkan, Suatu saat kami pergi keluar bersama Rosululloh sholallahu alaihi wa sallam ke Hunain, sedang kami dalam keadaan baru saja masuk Islam. Kemudian kami melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik yang dinamakan Dzatu Anwath, mereka selalu mendatanginya dan menggantungkan senjata-senjata perang mereka pada pohon itu untuk mencari berkah. Kami pun berkata: “Ya Rosululloh, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana Dzatu Anwath mereka.” Maka Rosululloh bersabda: “Allahu Akbar, itulah tradisi (orang-orang sebelum kamu). Dan demi Alloh yang diriku hanya berada di Tangan-Nya, ucapan kalian seperti perkataan Bani Israil kepada Musa: ‘Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana tuhan orang-orang itu.’ Musa menjawab, ‘Sungguh, kamu adalah kaum yang tidak mengerti.’” Beliau bersabda lagi, “Sungguh kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kamu (Yahudi dan Nasrani).” (Hadits shohih, riwayat At-Tirmidzi)

    Contoh sesuatu yang mengandung keberkahan yang memang benar adanya keberkahan didalamnya yang sudah diterangkan melalui dalil adalah seperti makanan sahur, madu, air zam-zam, minyak zaitun, habatussauda’ (jintan hitam).

    “Sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat barakah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095]

    “Sesungguhnya dalam habbatus-saudaa’ itu terdapat penyembuh bagi seluruh penyakit, kecuali as-saam (kematian)” [HR. Muslim no. 2215]

    “…..Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia……” (Q.S An-Nahl : 69)

    Keberkahan juga bisa diperoleh jika seseorang berlaku jujur dalam jual beli. Dari Hakim bin Hizam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Orang yang bertransaksi jual beli masing-masing memilki hak khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang”.[ HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532]

    Ketika seseorang mencari harta dengan tidak diliputi rasa tamak, maka keberkahan pun akan mudah datang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada Hakim bin Hizam,

    “Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya (tidak tamak dan tidak mengemis), maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah”[ HR. Bukhari no. 1472] Yang dimaksud dengan kedermawanan dirinya, jika dilihat dari sisi orang yang mengambil harta berarti ia tidak mengambilnya dengan tamak dan tidak meminta-minta. Sedangkan jika dilihat dari orang yang memberikan harta, maksudnya adalah ia mengeluarkan harta tersebut dengan hati yang lapang.[ Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379 H, 3/336]

    Jadi, keberkahan itu datangnya dari Allah dan seandainya sesuatu itu mengandung berkah, tentu Allah akan memberitahukan sesuatu yang mengandung berkah tsb melalui Rasul-Nya. Jadi, mencari berkah terhadap sesuatu adalah dengan sesuatu yang memang ada padanya suatu berkah berdasarkan dalil yang shahih. Bukan berdasarkan perasaan dan prasangka semata dalam menetapkan suatu keberkahan.

    Bahkan ada sebagian dari kaum muslimin saat ini yang berusaha mencari barakah di beberapa tempat yang secara khusus tidak ditunjukkan dalil tentangnya seperti kuburan, goa, gunung dll.

    Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah yang berasal dari Marwan bin Suwaid Al-Asadi ia berkata : “Aku keluar bersama Amirul-Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab radliyallaahu ‘anhu keluar kota Makkah menuju Madinah. Ketika memasuki waktu pagi, beliau shalat bersama kami di pagi hari itu. Kemudian orang-orang terlihat pergi ke suatu tempat. Beliau bertanya : “Kemana mereka pergi ?”. Ada yang menjawab : “Wahai Amirul-Mukminin, mereka pergi ke masjid dimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah shalat di sana. Berbondong-bondong mereka mendatangi untuk shalat di sana. Beliau berkata :

    “Sesungguhnya orang sebelum kamu menjadi binasa disebabkan hal seperti ini. Mereka begitu memperhatikan peninggalan-peninggalan Nabi-nya lalu menjadikannya sebagai gereja-gereja dan tempat ibadah. Barangsiapa yang kebetulan melewati masjid ini dan telah tiba waktu shalat, maka hendaklah ia shalat di sini. Dan kalau tidak, hendaklah ia berlalu dan janganlah mendatangi dengan sengaja” [Al-Bida’ wan-Nahyu ‘anha oleh Ibnu Wadhdhah hal. 41].

    “Aku mendengar ‘Isa bin Yunus mengatakan : “Umar bin Al-Khaththab radlyallaahu ‘anhu memerintahkan untuk menebang pohon yang Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menerima baiat kesetiaan di bawahnya (Bai’atur-Ridlwan). Ia menebangnya karena banyak manusia yang pergi ke sana dan shalat di bawahnya, lalu hal itu membuatnya khawatir akan terjadi fitnah (bahaya kemusyrikan) terhadap mereka”
    [HR. Ibnu Abi Syaibah 2/376 dan Ibnu Wadldlah dalam Al-Bida’ hal. 42; shahih. Lihat Fathul-Majid hal. 233, Maktabah Taufiqiyyah].

    Coba perhatikan ! tempat petilasan Rasulullah yang memang benar adanya bahwa Rasulullah pernah disana saja tidak mempunyai keberkahan secara khusus, karena memang tidak ada dalil yang menunjukan/menjelaskan tentang keistimewaan dan keberkahan terhadap tempat tsb sehingga Umar khawatir dan memperingati bahkan bersikap tegas dan ‘keras’ yakni dengan menebang pohon tsb.

    Dari ‘Umar bin Al-Khaththab radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya ia mendatangi Hajar Aswad dan menciumnya. Kemudian ia berkata : “Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau hanyalah sebuah batu biasa yang tidak memberi mudlarat dan manfaat. Kalau aku tidak melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menciumnya, niscaya aku tidak akan sudi menciummu” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1597].

    Tentu kita semua tahu apa itu batu Hajar Aswad, tapi Apakah Umar mencium Hajar Aswad karena meyakini bahwa Hajar Aswad mempunyai barakah dzatiyyah (sehingga ia ber-tabarruk dengannya) ? jawabannya Tidak ! ‘Umar mencium Hajar Aswad (dalam ibadah haji) semata-mata hanya karena ittiba’ (mengikuti) beliau terhadap Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang juga menciumnya.
    Perkataan ‘Umar : “….engkau hanyalah sebuah batu biasa yang tidak memberi mudharat dan manfaat……”, menunjukkan bahwa Hajar Aswad tidaklah mempunyai barakah dzatiyyah secara khusus sebagaimana Masjidil-Haram atau Masjid Nabawy yang memang ada dalil secara khusus tentang keberkahan kedua tempat tsb.

    Waallahu ‘alam……

    1. akhirnya toh Umar tetap mencium yaa……….secara logika menurut aku sih waktu umar berkata tsb maaf mungkin belum tau ilmunya ….. nabi SAAW pasti berbuat gak mungkin sia sia …. itu mencontohkan kita jangan berprasangka buruk ….

  35. @hehe..
    ane nggak tanya itu bang yusuf..jawab dgn mudah aja yg ane tanya, klo jawaban ente itu mah ane juga dah tahu di abuljauzaa ada banyak lagi,tapi ane lebih percaya para muhaddist yg kredible, ane tanya ini,ane tegasin lagi…

    nah sekarang gantian ane yang tanya ke ente,…
    ente hukumi apa para sahabat yang berebut wudhu bekas nabi,yg menangis di kubur nabi sambil menggosok2 muka nya pada tanah makam rosul, yg berlebihan istighfarnya melebihi nabi,yang membaca syair2 pujian tuk rosul di masjid ?dan ente hukumi apa pula imam ahmad dan syeh ibnu taymiah atas perbuatannya tsb?
    ane orang awam banget ingin tahu,dan akan menyimaknya,silahkan…

  36. @kaya nya ibnu taymiah,ini….??

    Keempat: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
    “Hadits-hadits yang diriwayatkan dengan mengandung lafadz ‘ziarah kubur Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam‘ tidak ada yang shahih menurut para ulama hadits. Hadits-hadits seperti ini tidak pernah dibawakan oleh pemilik kitab Shahih, tidak juga pemilik kitab Sunan yang menjadi pegangan, seperti Sunan An Nasa-i atau semacamnya, tidak juga kitab Musnad yang menjadi pegangan, seperti Musnad Ahmad atau semacamnya, tidak juga kitab Muwatha Malik, tidak juga kitab Musnad Asy Syafi’i atau semacamnya. Hadits-hadits seperti ini tidak pernah dipakai para Imam Mazhab dalam berhujjah. Yaitu hadits yang didalamnya disebut lafadz ziarah kubur Nabi” (Majmu’ Fatawa, 216/27)

    —————————-
    “Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, namun kini berziarahlah kalian!. Dalam riwayat lain; ‘(Maka siapa yang ingin berziarah kekubur, hendaknya berziarah), karena sesungguhnya (ziarah kubur) itu mengingat- kan kalian kepada akhirat’. (HR.Muslim)

    “Dahulu saya melarang kalian menziarahi kubur, sekarang telah diizinkan dengan Muhammad untuk berziarah pada kubur ibunya, karena itu berziarah lah ke perkuburan sebab hal itu dapat mengingatkan pada akhirat”. (HR. Muslim (lht.shohih Muslim jilid 2 halaman 366 Kitab al-Jana’iz), Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i, Ahmad).

    “Adalah Nabi saw. pada tiap malam gilirannya keluar pada tengah malam kekuburan Baqi’ lalu bersabda: ‘Selamat sejahtera padamu tempat kaum mukminin, dan nanti pada waktu yang telah ditentukan kamu akan menemui apa yang dijanjikan. Dan insya Allah kami akan menyusulmu dibelakang. Ya Allah berilah ampunan bagi penduduk Baqi’ yang berbahagia ini’”. (HR. Muslim).

    hadist doif kah ini..?
    alhamdulillah ane lebih percaya imam muslim dari syeh ibnu taymiah,

  37. Ping-balik: Awas, tangan-tangan Wahabi Merubah Rute Ibadah Haji « UMMATI PRESS
  38. @mamocemanigombong

    duh…mas…mas… hati-hati dalam menggunakan logika situ,,,
    sebagian besar orang-orang ahli ilmu kalam jadi menyimpang karena logikanya,,,
    bisa-bisanya,, situ menganggap umar belom tau ilmunya,,,
    justru karena beliau sudah tau ilmunya makanya hal seperti itu beliau lakukan semata-mata tidak lain karena menuruti perintah Allah dan rasulNya,,, bukan karena menuruti hawa nafsunya semata…sepeerti kebanyakan manusia pada zaman sekarang ini….

    1. @ furqan tlg dibaca lagi komen aku yaa ….ada kata MAAF …ada kata MUNGKIN ….apa kata tsb gak ada artinya sama sekali buat anda ????? maksudnya MUNGKIN setelah kejadian umar mencium hajar Aswad umar terus mendapat pencerahan dari Nabi Saaw kita kan ngga tau …..itu yang dimaksud Ilmunya …..pasti ada ilmunya kalau Nabi melakukan sesuatu NGGAK MUNGKIN SIASIA …..@ furqan maaf kalau gak berkenan….

        1. maaf mas furqan aku nggak mau melayani debat anda obyektif aja anda bertanya yang udah tau jawabnya ……saran saya belajar bahasa INDONESIA lagi aja biar kalo baca komentar tau maksud dr yang komen jadi ngga berprasangka buruk….

  39. aku masih awam nih,, dalam soal bid’ah bahkan mungkin jauh lebih awam dari saudara panjul,, aku aga bingung maksud ibnu taimiyah yang hadist lemah ntu nabi yang berziarah kubur ato sahabat yang menziarahi kubur nabi,,,?? karena kalo yang dimaksud ibnu taimiyah ntu para sahabat yang menziarahi kubur nabi,, berarti jawaban panjul aga ga nyambung dong,,,??
    terus aku juga mau nnya,, dari hadist yang dibawain panjul itukan jelas sekali bahwa ziarah kubur itu tujuannya cuma untuk mengingatkan mati dan mendo’akan simayit,,, lalyu bagaimana dengan orang-orang yang berbondong-bondong kemakam para wali dan orang shaleh lainnya buat minta berkah,,???

    1. @ahmad

      bang panjul itu hanya jwb yg bawah itu yg ziarah kubur yg kata ibnu taymiah “Hadits-hadits yang diriwayatkan dengan mengandung lafadz ‘ziarah kubur Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam‘ tidak ada yang shahih menurut para ulama hadits.

      padahal…..?
      nah bang panjul itu jawabin ini lho ada kok yg shohih,jadi ibnu taymiah itu…???

  40. mengutip hadist yang dibawakan muhammad hassan:

    Al-Faqih abul Laits As Samarqandi menuturkan dari muhammad bin dawud, dari muhammad bin ja’far, dari ibrahim bin yusuf, dari al musayyab, dari auf, dari al hasan dari rasulullah S.A.W. beliau bersabda:
    “amal sedikit yang sesuai dengan sunnah lebih baik daripada amal banyak yang bid’ah.setiap bid’ah itu sesat dan setiap sesat itu di neraka.”

    Abdullah bin mas’ud r.a. berkata: “amal yang sedang-sedang saja dan sesuai dengan sunnah lebih baik daripada amal yang banyak tetapi bid’ah”.(tanbihul ghafilin 2/442)

    Abu sa’id al-khudri r.a meriwayatkan dari Rasulullah s.a.w. beliau bersabda: “barangsiapa yang memakan yang baik (halal), mengamalkan sunnah, dan orang-orang yang selamat dari gangguannya, maka ia masuk syurga. ada orang yang berkata “ya Rasulullah , banyak orang yang seperti itu?, itu yang akan terjadi pada generasi sesudahku, kemudian makin sedikit” (tanbihul ghafilin 2/447-448).

    kayanya hadist itu mengajak kita langsung melihat sekeliling kita,,
    coba kita perhatikan dengan adanya bid’ah hasanah,, maka amalan-amalan pun semakin banyak,,,karena tiap-tiap yang baik maka dihukumkan sunnah,,, sehingga ibadah ini,, semakin lama jadi semakin banyak,,,, lalu dihadist ketiga disebutkan bahwa orang-orang yang berpegang teguh pada sunnah akan semakin sedikit,,, coba kita lihat,, lebih banyak mana jama’ah shalat lima waktu di mesjid dengan tahlilan dirumah ahli mayit,,, entah mengapa apabila untuk mengajak orang lain pergi ke mesjid untuk shalat berjama’ah sangat sulit sekali tapi untuk mengajak orang untuk tahlilan ato mauludan tidak sesulit itu???

  41. Sepertinya si ‘panjul’ dan ‘prass’ ini tidak menyimak baik-baik perkataan Ibnu Taimiyah tsb, yang dimaksud dalil yang tidak shahih itu adalah dalil tentang ziarah kubur ke makam Rasulullah SECARA KHUSUS dengan mengharapkan ini dan itu dan meminta ini dan itu, BUKAN ziarah kubur secara umum, sedangkan dalil yang dibawakan si ‘panjul’ itu adalah dalil tentang disyariatkannya ziarah kubur secara umum termasuk didalamnya ziarah ke makam kerabat dan saudara kita yang telah wafat.

    Dikatakan tidak shahih dalil tentang ziarah kubur ke makam Rasulullah secara khusus karena Rasulullah bersabda,

    Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sakit dan dalam keadaan berbaring : “Allah telah melaknat Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid (tempat peribadatan)”. Aku (‘Aisyah) berkata : “Kalau bukan karena takut (laknat) itu, niscaya kuburan beliau ditempatkan di tempat terbuka. Hanya saja beliau takut kuburannya itu akan dijadikan sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1330, Muslim no. 529, Ahmad 6/80 & 121 & 255, Ibnu Abi Syaibah 2/376, Abu ‘Awaanah 1/399, Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah no. 508, Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad 13/52 & 183, Ath-Thabaraniy dalam Al-Ausath no. 7730, dan yang lainnya].

    Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Semoga Allah memerangi (mengutuk) orang-orang Yahudi dimana mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 437, Muslim no. 530, Abu Dawud no. 3227, An-Nasa’iy 4/95, Abu Ya’laa no. 5844, Ahmad 2/284, dan yang lainnya].

    Dari ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas, mereka berdua berkata : Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kesehatannya menurun pada saat-saat akhir hidupnya, beliau menutupkan kain khamishah-nya (selimut wolnya) pada wajahnya, namun beliau melepas kain tersebut dari wajahnya ketika bapasnya semakin terganggu seraya bersabda : “Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashrani dimana mereka telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid”. Aisyah berkata : “Beliau memperingatkan agar tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 435 & 436, Muslim no. 531, Ibnu Hibban no. 6619, Abu ‘Awaanah 1/399, An-Nasa’i 1/115; dan yang lainnya].

    Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata tentang hadits di atas :
    “Seakan-akan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mengetahui bahwa beliau akan wafat melalui sakit yang beliau derita, sehingga beliau khawatir kubur beliau akan diagung-agungkan seperti yang telah dilakukan orang-orang terdahulu. Oleh karena itu, beliau melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani sebagai isyarat yang menunjukkan celaan bagi orang yang berbuat seperti perbuatan mereka” [Fathul-Baariy, 1/532].

    Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata : Ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam jatuh sakit, maka beberapa orang istri beliau sempat membicarakan tentang sebuah gereja yang terdapat di negeri Habasyah (Ethiopia) yang diberi nama : Gereja Maria – dimana Ummu Salamah dan Ummu Habibah pernah mendatangi negeri Habasyah -, kemudian mereka (sebagian istri Nabi) membicarakan keindahan gereja dan gambar-gambar yang terdapat di dalamnya. ‘Aisyah bercerita : “(Kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepalanya) seraya bersabda : ‘Mereka itu adalah orang-orang yang apabila orang shalih mereka meninggal dunia, maka mereka membangun masjid di atas kuburnya tersebut, lalu menggambar dengan gambar-gambar tersebut. Mereka itu adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah pada hari kiamat” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 434, Muslim 528, Abu ‘Awaanah 1/400-401, Ibnu Hibban no. 3181, An-Nasa’i 2/41, Al-Baihaqiy 4/80; dan yang lainnya].

    Dari Zaid bin Tsabit radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Allah telah melaknat orang-orang Yahudi yang telah menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Ahmad 5/184 & 186 dan ‘Abd bin Humaid no. 244; shahih dengan syawahid-nya].

    Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (beliau bersabda) : “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala. Allah melaknat kaum yang menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Ahmad 2/246, Al-Humaidiy no. 1020, Ibnu Sa’d 2/241-242, Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid 5/43-44, Al-Bukhari dalam At-Taariikh Al-Kabiir 3/47, dan yang lainnya; shahih].

    Dari Al-Harits An-Najrani dia bercerita : Aku pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan wasiat lima hari sebelum wafat : “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kubur para Nabi mereka dan orang-orang shalih di antara mereka sebagai masjid. Maka, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Sesunguhnya aku melarang kalian melakukan hal tersebut” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/374-375; shahih sesuai persyaratan Muslim].

    Dari Abdullah (bin Mas’ud) ia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya sejelek-jelek manusia adalah orang yang menjumpai hari kiamat saat masih hidup, dan juga orang yang menjadikan kubur sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/405 & 435, Ath-Thabaraniy no. 10413, Ibnu Abi Syaibah 3/345, Al-Bazzaar no. 3420, Abu Ya’laa no. 5316, Ibnu Khuzaimah no. 789, Ibnu Hibbaan no. 6847, dan yang lainnya; hasan].

    Coba perhatikan ! terhadap makam Rasulullah saja beliau (Rasulullah sendiri) bersikap seperti itu, apalagi terhadap makam-makam selain makam Rasulullah seperti makam wali, habib, kiayi dkk.? Jawablah dengan akalmu itu.

    Adapun ziarah kubur secara umum tentu disyariatkan, TIDAK ADA yang melarang ziarah kubur disini, karena dalilnya sudah jelas sebagaimana yang dibawakan si ‘panjul’ tsb bahwa ziarah kubur merupakan sarana untuk mengingatkan kita pada kematian dan mendoakan ahli kubur, HANYA sebatas itu saja,

    “Mohonlah ampunan bagi saudara kalian. Dan mohonlah keteguhan baginya karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” (H.R Abu Dawud (3221) dari Ustman bin Affan.

    Maka, jika niat berziarah kuburnya SELAIN itu (mengingat kematian dan mendoakan ahli kubur), berarti ia telah menyelisihi apa yang sudah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

    Namun ternyata kenyataan di lapangan sekarang tidaklah demikian, masih ada sebagian kaum muslimin malah melakukan safar (perjalanan jauh),‘tour relligi’, wisata religi’ khusus ke makam-makam ‘keramat’, padahal Rasulullah bersabda,

    “Tidak boleh mengadakan safar/perjalanan (dengan tujuan ibadah) kecuali ketiga masjid, yaitu : Masjidil Haram, dan Masjidku ini (Masjid Nabawi) serta Masjid al-Aqsa.” (HR. Bukhari (no.1197,1864,1995), Muslim no. 827, dan yang lainnya dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudri. Terdapat juga di Shahih al-Bukhari (no.1189), Muslim no.1397, dann yang lainnya dari Sahabat Abu Hurairah)

    Bahkan yang lebih parah lagi, masih banyak kaum muslimin sekarang yang melakukan ziarah kubur ke makam-makam ’keramat’ dengan harapan keinginannya terkabul. Naudzubillah !

    ——————————————
    Jombang, zonaberita.com – Sejumlah peziarah diam-diam menjumput tanah di makam Gus Dur di kompleks Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang. Mereka meyakini tanah tersebut mengandung khasiat dan bisa digunakan sebagai ajimat.

    Salah seorang peziarah yang ditemui zonaberita.com mengatakan, kedatangannya ke makam Gus Dur selain berziarah, juga untuk mengambil tanah itu. Ia percaya tanah di makam Gus Dur mampu memberikan keharmonisan rumah tangganya.

    Termasuk untuk keselamatan agar keluarganya terhindar dari marabahaya. “Nanti saya taruh di pojok-pojok rumah. Untuk ajimat keselamatan,” kata peziarah yang mengaku bernama Mamat, warga Tembelang, Jombang, Sabtu (2/1/2010).

    Tidak saja Mamat, kedatangannya dan para tetangga juga dengan maksud sama. Ziarah dan mencari berkah. Hanya saja, khasiat tanah dipercayai membawa karomah yang berbeda-beda. Ada yang meyakini tanah tersebut mampu membuat anak-anaknya cerdas seperti Gus Dur. Ada juga yang meyakini tanah itu mampu mendatangkan kesembuhan. “Ya macam-macamlah khasiatnya. Gus Dur kan setengah wali (dewa),” tambahnya.

    Pihak pondok sendiri menyesalkan tindakan yang berbau klenik itu. Pengawasan juga sudah dilakukan. Tapi, toh, aksi sembunyi-sembunyi njumput (mengambil) tanah pekuburan tetap saja berlangsung. Padahal, “Pengawasan sudah kita lakukan,” kata Ketua Pengurus Pondok Pesantren Tebuireng Lukman Hakim.(rif/hs)

    ——————————————————
    INILAH.COM, Jakarta – Ribuan peziarah datang ke makam Gus Dur. Selain mendoakan, adapula peziarah yang sengaja mengambil taburan bunga dan tanah makam Gus Dur yang dipercayai sebagai obat.

    “Banyak peziarah yang datang dari kalangan ilmiah, orang-orang menengah ke bawah sampai orang yang sangat fanatis. Dari beragam orang tersebut, saya sempat melihat ada beberapa orang yang sengaja mengambil taburan bunga dan tanah, katanya untuk obat,” ujar Pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng, Lukman saat dihubungi INILAH.COM dari Jakarta, Rabu (6/1).

    Ia mengatakan, panitia pemakaman Gus Dur tidak bisa mengontrol banyaknya peziarah yang datang saat hari pertama Gus Dur dimakamkan. Alhasil, bunga taburan diatas makam Gus Dur habis diambil oleh para peziarah.

    “Memang hari pertama saat Gus Dur dimakamkan, kami panitia tidak bisa mengotrolnya, sampai saat kami lihat kondisi makam, bunga taburan diatas makam Gus Dur yang tadinya penuh, jadi habis,” ujar Lukman.

    Salah satu contoh peziarah yang mengambil untuk obat, yakni seorang ibu yang sempat mengeluh sakit perut dan meminta panitia untuk mengambilkan bunga di makam Gus Dur.

    “Waktu itu ada ibu yang sempat mengeluh sakit perut, lalu saya disuruh oleh ibu-ibu itu untuk mengambilkan kuncup bunga di makam Gus Dur untuk mengobati sakit perutnya itu,” kata Lukman

    Dengan kejadian tersebut, saat ini pengurus makam Gus Dur telah mengatur peziarah yang datang. “Kami saat ini sudah mempu mengatur peziarah yang datang dengan memberikan imbauan agar para peziarah tidak mengambil tanah dan taburan bunga. Lebih baik memberi sesuatu untuk Gus Dur daripada mengambilnya,” imbaunya.
    [Sumber : mut]

    ————————————————
    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat mengeluarkan fatwa syirik terhadap praktik ziarah di Makam Habib Hasan Alhadad atau Mbah Priok. “Ada penyimpangan dalam ibadah yang mengarah pada perbuatan syirik,” kata Ketua MUI Pusat, Ma’ruf Amien, usai konferensi pers di Islamic Center, Koja, Jakarta, Senin (9/8).

    Menurut Ma’ruf, MUI tidak akan mengeluarkan fatwa untuk melarang seluruh kegiatan yang dilakukan para peziarah. “Hanya yang menyimpang saja,” ujarnya.

    Mengeluarkan fatwa merupakan salah satu rekomendasi dari tim pengkaji kasus makam ini. Kajian tersebut menemukan, bahwa ada beberapa kegiatan dalam ziarah yang tidak sesuai syariat Islam.

    MUI pun memberi contoh beberapa hal yang berbau syirik. “Misalnya pengelola mengharuskan peziarah berpakaian serbaputih, tidak boleh bercelana panjang, dan meninggalkan makam harus dengan berjalan mundur,” ujar Ketua Tim Pengkaji, Syafi’i Mufid, di tempat yang sama.

    Ia juga menyebutkan peziarah mengultuskan makam tersebut secara berlebihan. “Peziarah meyakini air mineral yang dibawa ke makam bisa membawa berkah, bahkan disamakan dengan air zamzam,” paparnya.

    Selain itu, hasil kajian juga menunjukkan beberapa materi ceramah para peziarah yang menyimpang dari syariat Islam, seperti pernyataan ‘Mbah Priok akan hadir dan kembali ke dunia bersama kita (umat), minum kopi, dan makan bersama kita’. Bahkan ada pula penjelasan ‘nanti kalau kita mati akan dijemput oleh Habib Hasan dan Rasulullah SAW’.

    ——————————————————–

    Apakah anda (‘panjul’&’prass’) ingin mengatakan bahwa MUI adalah ‘wahabi’?

    “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya…..” (Az-Zumar : 3)

    Dari Firman Allah tsb, apakah mereka (orang-orang musyrikin) menyembah berhala? jawabannya TIDAK ! mereka mengingkari telah menyembah berhala, mereka hanya menjadikan berhala-berhala tsb sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah, tapi apa kata Allah? Allah menyebut mereka telah menyekutukan-Nya.

    Waallahu ‘alam !

    1. yusuf ibrahim mengatakan ” Dikatakan tidak shahih dalil tentang ziarah kubur ke makam Rasulullah secara khusus karena Rasulullah bersabda,yusuf ibrahim membawakan dalilnya,dalil dalil yang nt bawakan untuk mengatakan tidak ada dalil yang sohih tentang ziarah kubur ke makam Rosulallah sangatlah tidak tepat dari berbagai sisi, pertama menurut siapa dalil dalil tentang ziarah khusus ke makam Rosulallah itu tidak ada yang shohih ? kedua untuk mendoifkan sebuah hadist maka harus dikaji sanadnya, bukan dengan membawakan hadist lain yang sama sekali tidak berkaitan seperti yg nt bawakan, ketiga jika menurut nt hadist yang nt bawakan (riwayat aisyah dst )untuk mematahkan hadist tentang ziarah kubur ke makam Rosulallah saw masih berkaitan maka telah terjadi Ta`arudl antar dalil, ada beberapa cara atau solusi untuk menyelasaikan masalah Ta`arudl tadi. jadi sangat keliru jika yusuf ibrahim mengatakan tidak ada dalil yang shohih tentang ziarah khusus ke makam Rosulallah dengan alasan yang disebutkanya diatas.
      kemudia yusuf ibrahim membawakan cotoh – contoh diatas yang dianggapnya sebagai amalan atau perbuatan syirik, ibrahim kalo nt motongin bawang terus nt berkeyakinan bahwa pisaulah yang telah memotong bawang itu dengan ma`na Haqiqi nt sudah terjatuh kedalam kemusyrikan, jadi ga usah ke makam mbah priok ato makam gusdur di rumah aja nt bisa terjatuh kedalam kemusyrikan, jangan gampang memvonislah, seolah olah nt sudah membedah hati para penziarah saja !
      terakhir nt membawakan surat azzumar ayat 3 yang menurut saya terjemahan nt terhadap ayat 3 surat azzumar salah, terjemahan nt ; Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya…..” (Az-Zumar : 3)
      terjemahan yang benar adalah : tidaklah kami menyembah mereka kecuali untuk mendekatkan diri kami kepada ALLah dengan sedekat dekatnya.
      karena salah menterjemahkan ayat 3 surat azzumar akhirnya yusuf ibrahim keliru juga dalam memahami ayat 3 surat azzumar diatas padahal itu sangat gamblang dengan mengatakan : Dari Firman Allah tsb, apakah mereka (orang-orang musyrikin) menyembah berhala? jawabannya TIDAK ! mereka mengingkari telah menyembah berhala, mereka hanya menjadikan berhala-berhala tsb sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah, tapi apa kata Allah? Allah menyebut mereka telah menyekutukan-Nya.
      kekliruan nt ini fatal him, ayat itu sangat gamblang him, Musyrikin mengakui kalo mereka menyembah dengan tujuan untuk mendekatkan diri,bukan mengingkari seperti yang nt nyatakan, dan ini menunjukan kalo nt tuh ga ngerti bahasa arab, nafyu nafyi itu istbat him.fahamkan ?

      1. pertama menurut siapa dalil dalil tentang ziarah khusus ke makam Rosulallah itu tidak ada yang shohih ?

        jawab saya : coba anda baca kembali penjelasan saya diatas.

        “kedua untuk mendoifkan sebuah hadist maka harus dikaji sanadnya, bukan dengan membawakan hadist lain yang sama sekali tidak berkaitan seperti yg nt bawakan….”

        Jawab saya : sepertinya anda tidak memahami konteks saya dalam menjelaskan, memang anda benar, dalam mendhoifkan sebuah hadits, sangat diperlukan kajian yang sangat mendalam mengenai sanad dan sebagainya, akan tetapi kan saya disini sedang tidak membahas hadits mana saja yang dhoif secara terperinci, melainkan saya disini sebatas hanya menjelaskan hadits dhoif secara umum saja.

        Adapun mengenai dalil yang saya bawakan tsb, saya hanya ingin menunjukan kalo seandainya dalil tentang kekhususan ziarah ke makam Rasulullah itu shahih, maka akan bertentangan dengan dalil-dalil dari riwayat Aisyah dst yang saya bawakan. Jadi, mana mungkin Sabda Rasulullah kontradiktif atau anda menyebutnya ta’arudh?

        “ketiga jika menurut nt hadist yang nt bawakan (riwayat aisyah dst )untuk mematahkan hadist tentang ziarah kubur ke makam Rosulallah saw masih berkaitan maka telah terjadi Ta`arudl antar dalil…”

        Jawab saya : anda melihat sendiri bukan telah terjadi Ta`arudl antar dalil? maka dari itu saya membawakan dalil-dalil itu, apakah yang dhoif itu dalil tentang kekhususan ziarah ke makam Rasulullah atau dalil riwayat Aisyah dst. yang saya bawakan, karena mana mungkin ada dalil yang saling bertentangan satu sama lain?

        Meyakini dalil tentang ziarah kubur khusus ke makam Rasulullah dengan tujuan meminta sesuatu itu tentu memiliki konsekuensi, jika seandainya anda meyakini bahwa dalil-dalil tentang kekhususan ziarah ke makam Rasulullah untuk meminta hajat dunia kita terkabul itu shahih, maka konsekuensinya adalah secara tidak langsung anda telah menolak hadits-hadits (riwayat Aisyah dst.) yang saya bawakan tsb, begitu juga sebaliknya dengan saya. Lagipula, saya disini tidak memaksa anda untuk meyakini bahwa hadits yang saya bawakan itu shahih, jika anda ingin berpendapat lain, maka saya persilahkan.

        Perlu anda ketahui, adapun hadits-hadits yang saya bawakan tsb bukanlah mutlak satu-satunya alasan untuk mendhoifkan hadits ziarah kubur khusus ke makam Rasulullah, itu hanyalah penjelasan secara umum saja.

        Dan yang perlu saya garis bawahi pula dari kata-kata saya disini adalah yang saya maksud ziarah kubur ke makam Rasulullah SECARA KHUSUS adalah ziarah kubur yang bertujuan untuk mengharapkan sesuatu dan meminta sesuatu di kubur Nabi tsb, adapun ziarah ke makam Rasulullahnya saja secara umum TANPA ada niat meminta atau mengharapkan sesuatu agar HAJAT DUNIA kita terkabul, maka itu tidaklah terlarang.

        “jangan gampang memvonislah, seolah olah nt sudah membedah hati para penziarah saja !”

        Jawab saya : betul ! kita memang tidak boleh memvonis orang per orangnya sembarangan, lagipula tidak ada disini yang memvonis si A itu musyrik, si B itu ahlul bid’ah dsb, adapaun yang syirik itu perbuatannya, yang bid’ah itu perbuatannya, namun tidak lantas orang-orang yang melakukannya langsung divonis musyrik atau ahlul bid’ah, karena bisa saja mereka yang melakukannya masih belum tau bahwa perbuatan seperti itu syirik atau bid’ah sehingga masih diberi udzur, seperti halnya juga kita tidak boleh sembarangan mengatakan ‘kafir’ kepada seorang mukmin.

        Lagipula, MUI saja meyakini bahwa ada praktek—praktek yang mengandung kesyirikan yang terjadi di area makam keramat, itu MUI yang bilang, bukan saya ! apakah anda ingin mengatakan kalo MUI itu ‘wahabi’?

        Bagaimana dengan kata-kata semacam ini?
        “Nanti saya taruh di pojok-pojok rumah. Untuk ajimat keselamatan,” kata peziarah yang mengaku bernama Mamat, warga Tembelang, Jombang, Sabtu (2/1/2010).

        Ada juga yang meyakini tanah itu mampu mendatangkan kesembuhan. “Ya macam-macamlah khasiatnya. Gus Dur kan setengah wali (dewa),” tambahnya

        Apa yang anda pahami dari kata-kata mereka tsb?

        Mengenai masalah surat Az-Zumar : 3, sepertinya anda salah paham terhadap kata-kata saya, adapun yang saya maksud ‘tidak menyembah’ disitu bukanlah tidak menyembah dalam artian ‘tidak sujud’, melainkan ‘tidak menyembah’ dalam artian tidak meyakini bahwa berhala tersebutlah yang mengabulkan dan memenuhi hajat duniannya, karena mereka (orang-orang musyrikini) masih meyakini bahwa yang menciptakan mereka, memberi rizki mereka, menurunkan hujan dst kepada mereka adalah Allah, akan tetapi mereka tetap di dalam kesyirikan dengan menjadikan berhala sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah.

        “Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (Al-Mu’minuun : 86-89)

        “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah.” Katakanlah : “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” (Q.S Luqman : 25)

        “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah.” Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku.” Kepada- Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” (Az-Zumar : 38)

        Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya). (Q.S Al-Ankabut : 61 & 63)

        Waallahu ‘alam !

        ————————–
        sebagai penutup,
        Saya ingin mengucapkan ;

        “SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA”

        Taqqaballahu mina waminkum !

        1. To yusuf ibrahim
          jawab ibrahim yusuf : coba anda baca kembali penjelasan saya diatas.
          Jawab saya : maksudnya apa ?
          Jawab ibrahim yusuf : sepertinya anda tidak memahami konteks saya dalam menjelaskan, memang anda benar, dalam mendhoifkan sebuah hadits, sangat diperlukan kajian yang sangat mendalam mengenai sanad dan sebagainya, akan tetapi kan saya disini sedang tidak membahas hadits mana saja yang dhoif secara terperinci, melainkan saya disini sebatas hanya menjelaskan hadits dhoif secara umum saja.
          Jawab saya : pinter juga nt bikin alibi him, mengatakan saya tidak memahami penjelasan nt, tapi akhirnya nt juga mengakui ” saya disini sebatas hanya menjelaskan hadist dhoif secara umum saja ” , ini lebih parah him, menghukumi hadist-hadist dengan vonis dhoif secara umum tanpa Hujjah.
          Lanjut yusuf ibrahim : Adapun mengenai dalil yang saya bawakan tsb, saya hanya ingin menunjukan kalo seandainya dalil tentang kekhususan ziarah ke makam Rasulullah itu shahih, maka akan bertentangan dengan dalil-dalil dari riwayat Aisyah dst yang saya bawakan. Jadi, mana mungkin Sabda Rasulullah kontradiktif atau anda menyebutnya ta’arudh?
          Jawab saya : makin parah aja nt him, dalil yang nt bawakan itu sama sekali tidak berkaitan dengan masalah ziarah ke makam Rosulallah saw ,baik secara umum maupun khusus (menurut istilah nt), dalil yang nt bawakan itu, berbicara soal hukum menjadikan kubur Anbiya menjadi masjid, seperti orang – orang yahudi, bukan soal ziarah kubur, jadi yang nt nyatakan ingin menunjukan kalo seandainya dalil tentang kekhususan ziarah ke makam Rasulullah itu shahih, maka akan bertentangan dengan dalil-dalil dari riwayat Aisyah dst itu sangat jauh panggang dari api, sama sekali tidak nyambung.
          Jawab yusuf ibrahim : anda melihat sendiri bukan telah terjadi Ta`arudl antar dalil? maka dari itu saya membawakan dalil-dalil itu, apakah yang dhoif itu dalil tentang kekhususan ziarah ke makam Rasulullah atau dalil riwayat Aisyah dst. yang saya bawakan, karena mana mungkin ada dalil yang saling bertentangan satu sama lain?
          Jawab saya : letak kontradiksinya dimana him ? dalil yang nt bawakan bicara soal pelarangan menjadikan kubur Anbiya sebagai masjid, sementara hadist yang nt dhoifkan berbicara soal ziarah ke makam Rosulallah saw ? disini ga ada Ta`arudl him, ini sangat gamblang kok , mudah dipahami kan ?. meskipun nt mengatakan entah mana yang dhoif, karena untuk menguji keshahihan hadist hanya dapat diketahui dengan cara menguji sanadnya, dan pernyataan nt mana mungkin ada dalil yang saling bertentangan satu sama lain, menunjukan maaf sedikitnya pengetahuan yang nt miliki.
          yusuf ibrahim dalil yang saling bertentangan itu ada, jadi kalo nt mengatakan mana mungkin ?, tolong belajar lagi lah, cari guru yang Alim dan Sholih jangan Cuma baca buku tanpa guru, maaf ini sekedar saran.
          Yusuf ibrahim mengatakan : Meyakini dalil tentang ziarah kubur khusus ke makam Rasulullah dengan tujuan meminta sesuatu itu tentu memiliki konsekuensi, jika seandainya anda meyakini bahwa dalil-dalil tentang kekhususan ziarah ke makam Rasulullah untuk meminta hajat dunia kita terkabul itu shahih, maka konsekuensinya adalah secara tidak langsung anda telah menolak hadits-hadits (riwayat Aisyah dst.) yang saya bawakan tsb, begitu juga sebaliknya dengan saya. Lagipula, saya disini tidak memaksa anda untuk meyakini bahwa hadits yang saya bawakan itu shahih, jika anda ingin berpendapat lain, maka saya persilahkan.
          Jawab saya : vis a vis, nt langsung membenturkan, orang yang meyakini dalil tentang kekhususan ziarah ke makam Rosulallah saw, untuk meminta hajat dunia, dengan secara tidak langsung telah menolak hadist-hadist (riwayat A`isyah dst), letak penolakanya dimana him ? hadist yang nt bawakan bicara soal membangun kuburan Anbiya menjadi masjid , sementara dalil yang nt benturkan soal ziarah ke makam Rosulallah saw. Antar hadist ini tidak ada kontradiksi him, ini sangat gamblang him, ma`af anak anak juga tahu hadist hadist ini beda JUDULNYA.
          Yusuf ibrahim mengatakan : Perlu anda ketahui, adapun hadits-hadits yang saya bawakan tsb bukanlah mutlak satu-satunya alasan untuk mendhoifkan hadits ziarah kubur khusus ke makam Rasulullah, itu hanyalah penjelasan secara umum saja.
          Jawab saya : ma`af kalo nt tuh salah kaprah, dan ngawur kalo nt mencoba mendhoifkan Hadist dengan Hadist lainya yang tidak berkaitan, kalaupun ada hadist yang saling berkaitan bertabrakan /kontradiktif maka kita sama sekali tidak bisa menghakimi derajatnya dengan cara ini, sama sekali ! jalannya bukan dengan seperti itu, tapi dengan mengkaji SANAD nya oleh ahlinya. Nt pernah belajar Mushtolahul hadist kagak sih him ? sebab yang nt lakukan itu sama sekali tidak dikenal dalam ilmu Mushtholahul Hadist ? itu merupakan Bid`ah yang nt ciptakan, semua itu ada ilmunya him , ga cukup Cuma baca buku apalagi maaf Cuma terjemahan, sory yah ? santai aja ok ?
          Yusuf ibrahim mengatakan : Dan yang perlu saya garis bawahi pula dari kata-kata saya disini adalah yang saya maksud ziarah kubur ke makam Rasulullah SECARA KHUSUS adalah ziarah kubur yang bertujuan untuk mengharapkan sesuatu dan meminta sesuatu di kubur Nabi tsb, adapun ziarah ke makam Rasulullahnya saja secara umum TANPA ada niat meminta atau mengharapkan sesuatu agar HAJAT DUNIA kita terkabul, maka itu tidaklah terlarang.
          Jawab saya : dari mana nt dapet kata kata seperti itu him ? masya ALLAH menghalalkan atau mengharamkan itu harus ada dalilnya him ? udah deh ga usah ngomong dalil dulu jangan jangan nt juga ga ngerti apa itu dalil ?. gini aja deh jujur nt pernah minta enggak sama orang ? pastinya pernah kan ? yang nt mintai itukan makhluq bukan tuhan, apa kemudian nt di hukumi musyrik ? bisa ya bisa tidak, tergantung keyakinan dihati nt, kalo nt meyakini bahwa pada hakekatnya ALLAH yang memberikan, manusia itu hanya sebagai washilah saja, jelas murni ketauhidan nt, tapi sebaliknya jika nt meyakini bahwa pada hakekatnya orang itu yang memberi dan sama sekali bukan kuasa yang ALLAH berikan, waliyadzu biillah nt ter jatuh kedalam kemusyrikan.
          Jika nt mengatakan bahwa orang yang dikubur itu sudah mati tidak mempunyai daya upaya apapun, ya apa bedanya dengan orang hidup ? justru ketika kita membedakanya maka kita akan terjatuh kedalam kemusyrikan, karena menganggap ada manfaat dan madarot dari selain ALLAH Azza wajalla. (masalah ini akan sangat panjang karena berkaitan erat dengan masalah pokok aqidah,)
          Jawab yusuf ibrohim : betul ! kita memang tidak boleh memvonis orang per orangnya sembarangan, lagipula tidak ada disini yang memvonis si A itu musyrik, si B itu ahlul bid’ah dsb, adapaun yang syirik itu perbuatannya, yang bid’ah itu perbuatannya, namun tidak lantas orang-orang yang melakukannya langsung divonis musyrik atau ahlul bid’ah, karena bisa saja mereka yang melakukannya masih belum tau bahwa perbuatan seperti itu syirik atau bid’ah sehingga masih diberi udzur, seperti halnya juga kita tidak boleh sembarangan mengatakan ‘kafir’ kepada seorang mukmin.
          Lagipula, MUI saja meyakini bahwa ada praktek—praktek yang mengandung kesyirikan yang terjadi di area makam keramat, itu MUI yang bilang, bukan saya ! apakah anda ingin mengatakan kalo MUI itu ‘wahabi’?
          Jawab saya : emang ga ada him disini yang bilang si a musyrik si b ahlul bid`ah wong kita kenalan aja belum, atas dasar apa memvonis si a si b iyakan ? cuma gini him ada sekelompok kecil di dunia ini yang sering menuduh muslim lainya dengan kata syirik bid`ah bahkan kafir. Pedahal itu Cuma masalah furui`yah saja him ? kalo kata nt sih kelompok wahabi ya ? him katanya mengajak kepada Qur`an dan Sunnah ko MUI sih ? him, nt ngebedain yang syirik perbuatanya, yang bid`ah itu perbuatanya , kalo orangnya kita lihat dulu tau apa kaga dia , him ada hal-hal yang dinamakan ma`lum minadiin bidloruroh , mau tau atau kaga tetap kalo melakukan ya kena hukumnya, yang nt katakana itu Cuma akal-akalan mereka aja him biar tidak kelihat ekstrim / ghuluw, eh ngomong2 nt senengnya dipanggil yusuf apa ibrahim ? biar rada friendly nyapa nya.
          Yusuf ibrahim mengatakan : Bagaimana dengan kata-kata semacam ini?
          “Nanti saya taruh di pojok-pojok rumah. Untuk ajimat keselamatan,” kata peziarah yang mengaku bernama Mamat, warga Tembelang, Jombang, Sabtu (2/1/2010).Ada juga yang meyakini tanah itu mampu mendatangkan kesembuhan. “Ya macam-macamlah khasiatnya. Gus Dur kan setengah wali (dewa),” tambahnya Apa yang anda pahami dari kata-kata mereka tsb?
          Jawab saya : ga masalah him, selama mereka meyakini kalo itu Cuma sebab semata, yang pada hakekatnya ALLAH lah yang mengabulkan., ga beda kok kaya nt kalo pasang penangkal petir di atap atap rumah atau hotel, sama aja kaya nt kalo sakit kepala nyarinya Bodrek, yang penting I`tiqodnya him bahwa semua itu hanya Sebab atau perantara, yang pada hakekatnya ALLAH lah yang menjadi MUSABIBUL ASBAB.
          Yusuf ibrahim mengatakan : Mengenai masalah surat Az-Zumar : 3, sepertinya anda salah paham terhadap kata-kata saya, adapun yang saya maksud ‘tidak menyembah’ disitu bukanlah tidak menyembah dalam artian ‘tidak sujud’, melainkan ‘tidak menyembah’ dalam artian tidak meyakini bahwa berhala tersebutlah yang mengabulkan dan memenuhi hajat duniannya, karena mereka (orang-orang musyrikini) masih meyakini bahwa yang menciptakan mereka, memberi rizki mereka, menurunkan hujan dst kepada mereka adalah Allah, akan tetapi mereka tetap di dalam kesyirikan dengan menjadikan berhala sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah.
          Jawab saya : Iya him rupanya kita berdua aja banyak salah faham, gimana dengan muslim sedunia ya ? Qur`annya satu nabinya satu, yang salah paham tentunya pemahaman mereka dalam memahami qur`an hadist, padahal salah faham, tapi ada ya yang selalu menganggap kelompoknya lah yang paling benar sementara muslim lainya musyrik, bid`ah sesat pada hal-hal yang sifatnya Furu`iyah khilafiyah,
          Kemudian apakah Musyrikin yang disebutkan dalam ayat 3 azzumar itu hanya menyembah/sujud secara Fisik saja, hanya menjadikan mereka sebagai perantara saja tanpa meyakini bahwa berhala itu juga dapat memberikan manfaat dan mudhorot ? atau mereka menyembah secara fisik, sujud dan meyakini bahwa berhala dapat memberikan manfaat serta madhorot layaknya ALLAH ?
          Yusuf ibrahim, logic kah menyembah tanpa meyakini adanya manfaat dan mudhorot dari yang disembahnya ? tidak ada seorangpun yang berakal, yang mau menyembah sesuatu tanpa meyakini bahwa yang disembahnya itu memiliki segala sesuatu baik yang bersifat manfaat maupun mudhorot, bukan semata mata menjadikan berhala sebagai perantara seperti yang nt katakan ? oleh karena itulah mereka disebut MUSYRIK karena disamping menyembah ALLAH serta meyakini adanya manfaat dan mudhorot dari allah, mereka juga menyembah dan meyakini adanya manfaat dan mudhorot dari selain ALLAH dititik inilah terjadi kemusyrikan.
          Jadi antara ketauhidan dan kemusyrikan itu sangat tipis benang pemisahnya. Kemudian Ayat-ayat al-Qur`an yang nt bawakan : (Al-Mu’minuun : 86-89) ” (Q.S Luqman : 25) (Az-Zumar : 38) (Q.S Al-Ankabut : 61 & 63) sama sekali tidak mendukung kesimpulan akhir yang nt nyatakan dengan mengatakan : menjadikan berhala sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah.
          Tapi justru menunjukan bahwa
          disamping menyembah ALLAH serta meyakini adanya manfaat dan mudhorot dari allah swt , mereka juga menyembah dan meyakini adanya manfaat dan mudhorot dari selain ALLAH swt. Silahkan nt bolak balik lagi pelajari ayat ayat qur`an yang nt bawakan, apakah mendukung kesimpulan akhir yang nt nyatakan atau tidak ?. dan tolong juga pelajari lagi hadist-hadist tentang bid`ah karena nampaknya nt juga keliru dalam memahaminya. Maaf jika banyak kata yg tidak berkenan.

          wallahu a`lam bishowab

    2. yg nggak memahami pkataan ibnu taymiah siapa neh…
      yg ente bawain itu cuma separagraf,yg atas nya :
      Ketiga: Ibnu Hajar Al Asqalani berkata:
      “Kisah ini adalah kedustaan yang nyata” (Lisanul Mizan, 107-108/1),..
      coba lihat lagi…

  42. ternyata apa yang saya katakan itu ga salah-salah banget ya,, he,,
    jadi niat ziarah kubur itu cuma dua yaitu mengingat mati dan mendo’akan simayit,,,

    @prass
    maaf,, tapi ternyata andalah yang harus menyimak kembali perkataan ibnu taimiyah,, satu lagi,, anda meragukan ibnu taimiyah tetapi ternyata pemikiran andalah yang harus diragukan,,,

  43. maaf ikutan..
    klo bener itu ziarah yg antum maksudkan”
    Sepertinya si ‘panjul’ dan ‘prass’ ini tidak menyimak baik-baik perkataan Ibnu Taimiyah tsb, yang dimaksud dalil yang tidak shahih itu adalah dalil tentang ziarah kubur ke makam Rasulullah SECARA KHUSUS dengan mengharapkan ini dan itu dan meminta ini dan itu, BUKAN ziarah kubur secara umum, sedangkan dalil yang dibawakan si ‘panjul’ itu adalah dalil tentang disyariatkannya ziarah kubur secara umum termasuk didalamnya ziarah ke makam kerabat dan saudara kita yang telah wafat.

    sebutkan makna khusus nya atau antum bawain langsung satu halaman atau dua dari buku tsb biar jelas…

  44. Sepertinya golongan Wahabi/Salafi sulit untuk berdamai dengan golongan Al ASya’irah…??? Mungkin karena golongan Wahabi menganggap gol. Al Asya’irah itu Ahlul bid’ah, kufur , musyrik sedangkan golongan Al Asya’irah menganggap bahwa Wahabi itu bagian dari umat Islam yang mempunyai Pahaman Tauhid berbeda Wahabi mengambil Pahaman dari (Ibnu Taiymiyah dan Syeh Muhammad bin Abdul Wahab) sedangkan AL Asya’irah mengababil Pahaman dari (Abu Hasan Al Asy’ari dan Abu Mansyur Al Maturidiy ), itu yang saya pahami.. mohon ampun kepada Allah dari semua kesalahan.

    1. maaf mas anas, menurut saya sih kalo nt bingung mendingan Nanya, daripada banding bandingin, sebab belum tentu banding-bandingin juga bener, tapi kayaknya nt sering ngasih link deh, n kayaknya nt lagi ada order neh pesenan sp tuh ?.

  45. anas@

    ternyata FIRANDA.COM nggak berani memunculka komentar-komentarku, karena hujjahnya dia ngibuli orang awam kayak Anas ini. Memang tulisannya sepintas kelihatan keren dan ilmiyah tapi sebenarnya tidak. Banyak kelemahan, maklum dia masih muda cara berpikir dan jalan pikirannya nggak tertib. Orang awam bisa saja terpesona, tapi bagi mereka yang pernah belajar Islam di pesantren tidak akan terkecoh gaya tulisannya yang sok ilmiyah. Abu salafy tetap unggul dngan full fakta scan kitab-kitab mu’tabar.

  46. ALI ZAINAL ABIDIN
    Ali Zainal Abidin adalah putera Husein radiallahu’anhu , beliau dilahirkan di Madinah di rumah neneknya Fatimah Az Zahrah puteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam pada hari kamis tanggal 7 sya’ban 37 H . Ayahnya Husein radliyallahu ‘anhu mengajari berbagai ilmu agama sejak masa kanak – kanaknya . Oleh karenanya fikiran dan perasaannya berkembang dengan dipenuhi oleh bekal agama . Suatu ketika beliau pergi bersama ayahndanya Husein radliyallahu ‘anhu . dalam perjalan tersebut beliau menyaksikan dengan mata kepala sendiri tragedi karbala , padahal beliau ketika itu masih kanak-kanak . beliau menyaksikan pembantaian berdarah yang dilakukan oleh Ibn Ziyad kepada ahl al-bait , beliau menyaksikan saudaranya Ali Akbar saat terbunuh lalu mayatnya tergeletak didepan kemah para perempuan , beliau menyaksikan saudaranya Ali Ashghar saat terkena panah ketika mendampingi ayahnya yang kemudian dibantai , beliau melihat perbuatan Syamr Ibn Dzijausyan saat menginjak dada ayahnya kemudian kepalanya dipisahkan dari badannya . Semua itu beliau saksikan ketika usianya yang sangat muda , kepedihan tragedi itulah yang mendewasakan jiwanya dalam kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , taat dan tekun beribadah kepada-Nya . Pada suatu ketika , ada seorang sahabatnya mendatanginya disisi Ka’bah , sahabatnya itu menjumpai beliau ketika sedang berdo’a dan menangis didekat salah satu pojok Ka’bah . Setelah selesai beliau berdo’a , ia ( sahabatnya ) berkata kepadanya : “ Tenanglah wahai putera Husein , sesungguhnya Allah memberi karunia kepadamu dengan tiga perkara yang bisa membukakan pintu Rahmat-Nya kepadamu , pertama : bahwa engkau adalah putra cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam . kedua : kakekmu adalah orang yang bisa member syafa’at . ketiga : engkau adalah Ahl al-bait yang dekat dengan Rahmat Allah .
    Setelah orang tersebut selesai dari ucapannya , Ali Zainal Abidin memandanginya seraya berkata : “ Sesungguhnya garis keturunanku bersambung kepada Rasulullah itu adalah sebesar-besar nikmat yang diberikan kepadaku . tetapi Allah berfirman pada hari kiamat , “ Pada hari itu tidak berpengaruh garis keturunan , dan satu sama lain tidak dapat melimpahkan tanggung jawab”. Adapun kakekku yang engkau katakan pemberi syafa’at , maka sesungguhnya Allah berfirman ,” Tidak ada yang bisa memberi syafa’at , kecuali bagi siapa yang mendapat ridha-Nya”. Sedangkan rahmat Allah itu sesungguhnya dekat kepada setiap orang yang berbuat baik . ( dipetik dari kitab “ Hayat Ash – Shalihin “ , oleh syekh Abdul Mun’im Qindil )

    Allah SWT berfirman: ” Bahkan mereka mengambil pemberi syafa’at selain Allah . Katakanlah : ” Dan apakah ( kamu mengambilnya juga ) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal ”. Katakanlah : ” Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya . Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi . Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan ”. ( Q.S. 39 : 43-44 ).

    HADITS QUDSI .
    Dari Anas radhiallahu anhu . adalah Ibnu Malik Radhiallahu anhu, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “ Allah mengumpulkan manusia pada hari kiamat , maka mereka berkata : “ seandainya kita mohon syafa’at kepada Tuhan kita , sehingga Tuhan memberikan kelonggaran kepada kita di tempat kita ini , lalu mereka dating kepada Adam dan berkata : “ Engkaulah yang diciptakan Allah dengan tangan-Nya , Dia meniupkan Ruh – Nya padamu dan Allah telah memerintahkan malaikat sujud kepadamu , maka mohonkanlah syafa’at untuk kami disisi Tuhan kami. Lalu Adam menjawab : “ Aku tidaklah menempati tempat itu “ ia menyebutkan kesalahan – kesalahannya dan berkata : “ Datanglah kepada Nuh , maka Nuh menjawab : “ aku tidak menempati tempat itu “ dan ia menyebutkan kesalahan – kesalahnya – ia berkata : “ Datangilah Ibrahim yang mana Allah menjadikannya sebagai kekasih “ , lalu mereka datang kepada Ibrahim , maka Ibrahim menjawab : “ aku tidak menempati tempat itu “ dan ia menyebutkan kesalahnya , “datangilah Musa yang diajak bicara oleh Allah , lalu mereka mendatangi Musa , maka Musa menjawab : “ aku tidak menempati tempat itu – ia menyebutkan kesalahan nya , datangilah Isa “ lalu mereka mendatangi Isa , maka isa menjawab “ aku tidaklah menempati tempat itu “ datangilah Muhammad SAW yang telah diampuni dosa – dosanya yang terdahulu dan kemudian” lalu mereka datang kepadaku dan aku minta izin kepada Tuhan-ku . Ketika aku melihat-Nya aku sujud , dan Tuhan meninggalkanku sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya , kemudian diserukan “ Angkatlah kepalamu , mintalah , maka maka kamu akan diberi dan berkatalah maka kamu akan didengar mohonlah syafa’at maka akan diberi syafa’at.” Kemudian aku mengangkat kepala dan memuji Tuhan dengan pujian yang telah diajarkan kepadaku , lalu aku memohon syafa’at maka Allah membatasinya kepadaku , lalu aku mengeluarkan mereka dari neraka dan aku memasukkan mereka keSorga , kemudian aku kembali dan sujud seperti itu pada yang ketiga atau ke-empat kalinya ,sehingga yang ada dalam neraka itu hanyalah orang – orang yang telah dicegah oleh Al-Qur’an .” Abu Abdullah Al-Bukhari ra berkata : yaitu orang – orang yang wajib kekal ( dineraka ) atasnya. ( HR. Bukhari )
    Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa Syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah berbuat dosa besar “( Q.S. An – Nisa : 48 )

    HADITS QUDSI .
    Dari Anas bin Malik , ia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alihi wasallam bersabda : Allah berfirman : “ Wahai anak Adam ( manusia ) , sesungguh selama kamu berdo’a dan mengharap kepada-Ku, Aku memberi ampunan kepadamu terhadap apa ( dosa ) yang ada padamu dan Aku tidak memperdulikannya . Wahai anak Adam , seandainya dosamu sampai kelangit kemudian kamu minta ampun kepada-Ku maka Aku memberi ampunan kepadamu dan Aku tidak memperdulikannya . Wahai anak Adam , sesungguhnya apabila kamu datang kepada-KU dengan kesalahan sepenuh bumi kemudian kamu menjumpai Aku dengan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan “. (H.R.Tirmidzi)

    TUGAS UTAMA DIUTUSNYA SETIAP NABI DAN RASUL ADALAH MEMBASMI KEMUSYRIKAN.

    Allah Subhanahuwa ta’ala berfirman : ” Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap – tiap umat ( untuk menyerukan ) ” ber-ibadah-lah kepada Allah ( saja ) dan jauhilah Thaghut ( sesuatu yang dipertuhankan ) itu ” , maka diantara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya . Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul ) ”. ( Q S 16 : 36 )

    ” Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu , melain kan Kami wahyukan kepadanya , Bahwasanya tidak ada Tuhan ( yang hak ) melainkan Aku , maka beribadahlah kalian semua kepada –Ku ”. ( Q.S 21 : 25 )
    ” Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada ( nabi-nabi ) sebelum kamu , jika kamu mempersekutukan ( Allah ) , niscaya akan dihapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang rugi.
    ( QS.Az-Zumar : 65 )

    Perbuatan syirik menyebabkan hilangnya
    segala amal kebaikan

    ” itulah petunjuk Allah , yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya . Seandainya mereka mempersekutukan Allah , niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan .” ( Q S . 6 : 88 )

    Tuhannya orang-orang musyrik
    ternyata adalah Allah juga

    Firman Allah Swt : ” Dan sesungguhnya jika kamu bertanya kepada mereka ( orang – orang musyrik itu ) : ” Siapakah yang menciptakan mereka ? Niscaya mereka menjawab : ” ALLAH ” , maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan ” ( QS . 43 : 87 )

    ”Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab : “Allah”. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” ( Q.S 31 : 25 ).

    Beginilah jawaban orang – orang musyrik

    ” Ingatlah , hanya kepunyaan Allah – lah Agama yang bersih ( dari syirik ) . Dan orang – orang yang mengambil pelindung ( penolong ) selain Allah berkata : ” Kami tidak menyembah mereka , melainkan supaya mereka mendekatkan ( permohonan ) kami kepada Allah dengan sedekat – dekatnya ”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya . Sesungguh nya Allah tidak menunjuki orang – orang yang pendusta dan ingkar ”. ( Q S . 39 : 3 )

    DOSA SYIRIK DOSA TAK TERAMPUNI

    Allah SWT berfirman :
    ” Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik ,
    dan Dia ( Allah ) mengampuni segala dosa yang selain dari ( syirik ) itu , bagi siapa yang dikehendaki-Nya , barang – siapa yang mempersekutukan Allah , maka sesungguhnya dia telah berbuat dosa yang besar ” ( Q.S. An-Nisa : 48 ).

    Allah SWT berfirman :
    “ Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan
    ( sesuatu ) dengan Dia. Dan Dia ( Allah ) mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki – Nya . Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah , maka sesungguhnya dia telah tersesat sejauh– jauhnya. ( Q.S An – Nisa : 116 )

    Allah SWT berfirman :
    “ Sesungguhnya orang-orang yang mempersekutukan ( sesuatu dengan ) Allah , maka pasti Allah mengharamkan kepadanya sorga , dan tempatnya ialah neraka , tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolongpun. “
    ( Q.S Al-Maidah : 72 )

    Siapakah pemberi Syafa’at itu ?
    ” Bahkan mereka mengambil pemberi syafa’at selain Allah . Katakanlah :”Dan apakah ( kamu mengambilnya juga ) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal ”. Katakanlah : ” Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya . Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi . Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan ”. ( Q.S. 39 : 43-44 ).

    Mereka yang melampaui batas
    dan tidak percaya kepada ayat-ayat Allah

    ” Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya . Dan sesungguhnya azab di-akhirat itu lebih berat dan lebih kekal ”. ( QS. 20 : 127 )

    Mereka yang menyombongkan diri
    terhadap ayat-ayat Al-Quran

    ” Sesungguhnya orang – orang yang mendustakan ayat – ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali – kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu – pintu langit dan tidak ( pula ) mereka masuk sorga , hingga unta masuk kelubang jarum . Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang– orang jang berbuat kejahatan”. ( Q.S 7 : 40 )

    Orang-orang yang mengabaikan
    Al-Qur’an dan keluhan Rasulullah

    ” Dan ( ingatlah ) hari ( ketika itu ) orang – orang yang zalim mengigit dua tangannya seraya berkata : ” Aduhai sekiranya ( dahulu ) aku mengambil jalan bersama Rasul. Celaka besarlah bagiku , sekiranya aku ( dahulu ) tidak menjadikan sifulan itu teman akrabku , sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku , dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia . Berkata Rasul: ” Ya Tuhanku , Sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan ” ( Q S 25 : 27 – 30 )

    Berhati-hatilah terhadap orang yang suka memutar-mutar lidahnya terhadap ayat-ayat Allah

    Firman Allah SWT : ” Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan orang yang memutar-mutar lidahnya membaca al-Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari al- Kitab, padahal ia bukan dari al-Kitab. Dan mereka mengatakan : ” Ia ( yang dibacanya itu datang ) dari sisi Allah”. Padahal itu bukan dari sisi Allah , sedang mereka mengetahui. ( Q.S 3 : 78 )

    Memohon / meminta ( berdo’a )
    hanya kepada Allah tak perlu perantara

    ” Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku , maka sesungguhnya aku sangat dekat ( kepada mereka ) , Aku perkenankan do’a – do’a orang – orang yang mendo’a apabila ia memohon ( meminta ) kepada-Ku . Oleh sebab itu hendaklah mereka memenuhi ( seruan ) Ku dan hendaklah mereka ber-iman kepada-Ku , mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk ”. ( QS. 2 : 186 )

    Hanya Allah saja yang diseru .

    ” ( tidak ), tetapi hanya Dia ( Allah ) lah yang kamu seru , maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu ber-do’a kepada-Nya , jika Dia menghendaki , dan kamu tinggalkan sembahan – sembahan yang kamu sekutukan ( dengan Allah ) ”. ( Q.S 7 : 40 )

    Memohon atau meminta atau menyeru ( berdo’a )
    kepada selain Allah tidak memberi manfaat .

    “ Dan janganlah kamu menyeru / berdo’a kepada sesuatu selain daripada Allah , yaitu apa-apa yang tidak memberi manfaat dan mudharat bagimu , sebab jika kamu berbuat ( yang demikian itu ) , maka sesungguhnya kamu termasuk orang – orang yang zhalim . Jika Allah berkehendak menimpakan kemudharatan kepadamu , maka tidak ada seorangpun yang mampu menghindarkannya kecuali Dia sendiri , dan manakala Allah berkehendak memberikan sesuatu kebaikkan bagi kamu , maka tak seorangpun yang mampu menghambat karunia-Nya itu . Dia memberi karunia bagi hamba-hamba yang dikehendaki-Nya dan Dia maha Pengampun lagi Maha Pengasih “ ( QS 10 : 106 – 107 )

    “ Katakanlah : Apakah kita akan menyeru ( memohon dan meminta ) selain dari Allah , sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak ( pula ) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan ( apakah ) kita akan dikembalikan kebelakang ( menjadi musyrik kembali ), sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syetan dipesawangan yang menakut kan ; dalam keadaan bingung , dia mempunyai kawan kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus ( dengan mengatakan ) : “ marilah ikuti kami “. Katakanlah : “ Sesungguh nya petunjuk Allah itulah ( yang sebenarnya ) petunjuk ; dan kita disuruh agar berserah diri kepada Tuhan Semesta Alam ”. ( QS. 6 : 71 )

    1. 1. INI BID’AH ITU SYIRIK”
      Aku baca sirah dan maulid NABI
      Kata wahabi, aku musyrik
      Aku perbanyak salawat NABI
      Kata wahabi, aku musyrik
      Aku cintai para wali
      Kata wahabi, aku musyrik
      Aku berziarah kubur karena perintah NABI
      Kata wahabi, aku musyrik
      Aku kirimkan doa ‘tuk orang mati
      Kata wahabi, aku musyrik
      Aku katakan, Nabi pun mengajari tawassul
      Kata wahabi, aku musyrik
      Aku cium tangan para ulama
      Kata wahabi, aku musyrik
      Aku hormati anak cucu Nabi
      Kata wahabi, aku musyrik
      Aku hadiri majelis dzikir
      Kata wahabi, aku musyrik
      Aku bersihkan hati ini
      Kata wahabi, aku musyrik
      Ku katakan, Qur’an hadits tidak boleh ditafsiri sendiri
      Kata wahabi, aku musyrik
      Aku tak tahu, siapa yang sebenarnya musyrik
      Kata wahabi, musyrik adalah musyrik
      Aku kian bingung, apakah semua musyrik?
      Kata wahabi, sekali musyrik tetap musyrik..
      Kukatakan lagi, jika wirid kami syirik.. apa gerangan wiridmu?
      Kata wahabi, kami berwirid sepanjang hari
      Ku tanya, wirid apakah itu?..
      Kata wahabi, kami berwirid setiap saat
      Ku tanya lagi, wirid yang mana?
      Kata wahabi, wirid kami hanya satu
      Aduhai, kenapa bertele-tele… ajari kami wiridmu
      Kata wahabi, bunyinya begini, “ini bid’ah itu syirik”..
      “ini bid’ah itu syirik”….. (100x tiap hari)
      Jika Wali songo islamkan orang musyrik
      Wahabi bilang, selain wahabi semua musyrik..

  47. ahmadsyahid @

    Terima kasih puisinya, Mas. Sungguh memiliki kekuatan dalam renungan…, terus semangat berdakwah menyadarkan Ummat Islam agar tak mudah terpesona jargon kembali ke Al-Qur’an dan Hadits. Yang namanya jargon pastinya sangat mempesona bagi orang awam.

    1. maaf pa admin dan semuanya, puisi diatas bukan milik saya, saya cuma copas dari salah satu artikel yang ada di blog abu salafy, mohon maaf karena tergesa saya tidak sengaja sumbernya tidak tercopy, dan sampe sekarang saya coba cari lagi belum ketemu.

  48. -ahmadsyahid-

    Sebenarnya secara garis besar dari perkataan saya adalah berdasarkan yang saya pahami dengan merujuk kepada pemahaman Ibnu Hajar bahwa mengenai dalil-dalil tentang dilarangnya mendirikan masjid di kuburan dan sebaliknya itu menunjukan dalam dalil tsb bahwa kita (umat muslim) dilarang mengagung-agungkan kuburan beliau dan itu sangat gamblang juga menurut saya, adapun dalil tentang ziarah ke makam Rasulullah secara khusus kebanyakan isinya justru malah sebaliknya. Maka dari itu saya katakan kontradiktif, namun adapun ziarah ke makam Rasulullahnya saja secara umum TANPA ada niat meminta atau mengharapkan sesuatu agar HAJAT DUNIA kita terkabul, maka itu tidaklah terlarang.

    Namun saya tidak ingin berlarut-larut membahasnya, karena saya khawatir masuk ke dalam masalah yang saya tidak banyak mengetahui tentangnya.

    ———————————————————–

    “…..Gini aja deh jujur nt pernah minta enggak sama orang ? pastinya pernah kan ? yang nt mintai itukan makhluq bukan tuhan, apa kemudian nt di hukumi musyrik ? bisa ya bisa tidak, tergantung keyakinan dihati nt…..”

    Jawab saya : Meminta tolong/bantuan kepada orang yang masih hidup dengan orang yang sudah wafat tentu berbeda. Jika kita meminta kepada orang yang masih hidup yang notabenenya orang tsb bisa atau mampu melakukannya sendiri untuk kita atas izin Allah tentu boleh karena sesama muslim harus saling membantu dan tolong menolong, seperti contohnya saya meminta tolong anda untuk membukakan pintu, meminta tolong untuk mengambilkan segelas air, tentu hal tsb TIDAK dikatakan syirik. Jadi, jangan jadikan perumpamaan-perumpamaan sebagai dalil untuk melakukan pembenaran.

    Tolong menolong atau meminta bantuan di jalan Allah kepada sesama muslim tidak lantas dikatakan syirik mas selama orang tsb mampu melakukannya atas izin Allah, justru itu malah ada syariatnya.

    “……Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran….” (Q.S Al-Maidah : 2)

    Contoh lainnya adalah bertawasul dengan orang shaleh yang masih hidup, seperti saya meminta tolong kepada anda sebagai orang yang shaleh untuk mendoakan saya, lalu anda berdoa langsung kepada Allah. Maka itu bukanlah syirik, malah ada contohnya Rasulullah yang mendoakan Sahabat atas permintaan Sahabat sendiri.

    “Jika nt mengatakan bahwa orang yang dikubur itu sudah mati tidak mempunyai daya upaya apapun, ya apa bedanya dengan orang hidup ?justru ketika kita membedakanya maka kita akan terjatuh kedalam kemusyrikan, karena menganggap ada manfaat dan madarot dari selain ALLAH Azza wajalla….”

    Jawab saya : Jelas berbeda dong antara orang yang telah wafat dengan orang yang masih hidup, orang hidup masih bisa melakukan daya dan upaya dalam artian ikhtiar dan bisa mendengar. Berbeda dengan berhala, jangankan berikhtiar melakukan sesuatu, mendengar pun ia (berhala) tidak bisa.

    Namun jika yang anda maksud tidak punya daya upaya disitu dalam artian menurunkan hujan, memberikan rizki, menghidupkan yang mati dan mematikan yang hidup dll, tanpa anda jelaskan panjang lebar pun, orang Islam palling bodoh juga tau kalo hal tsb tidak mungkin bisa dilakukan oleh seorang makhluk Allah !

    Orang yang masih hidup masih bisa mendengar dan berikhtiar melakukan sesuatu di jalan Allah, baik kepada orang yang masih hidup maupun yang telah wafat, walaupun yang menentukan tetap hanyalah Allah semata, seperti yang saya contohkan dimana orang hidup khususnya orang shalih bisa mendoakan kita, kita meminta tolong secara langsung kepada orang shalih tsb untuk mendoakan kita kepada Allah agar diampuni dosa kita, kemudian orang shalih tsb mendengar permintaan kita untuk mendoakan kita, kemudian orang shalih tsb berdoa langsung kepada Allah dan hak mengabulkan tentu ada pada Allah. Begitu juga kita yang masih hidup, kita bisa mendoakan saudara dan kerabat kita yang telah wafat agar diringankan siksanya, diampunkan dosanya dsb. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memohon kepada Allah agar menjadikan ‘Ukasyah termasuk tujuh puluh ribu golongan yang masuk surga tanpa hisab. Maka perbuatan tsb bukanlah syirik !

    “Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). Ya’qub berkata: “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S Yusuf : 97-98)

    Coba bandingkan dengan orang yang telah wafat, apakah orang yang telah wafat bisa melakukan seperti apa yang dilakukan oleh orang yang masih hidup? jawablah dengan logikamu itu !

    “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang.” (Q.S An-Naml : 80)

    “…..Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit jari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (Q.S Faathir : 14)

    “dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar.” (Q.S Faathir : 22)

    “Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”. (QS. Nuh : 13)

    Ibnu Abbas radliyallaahu ‘anhu berkata dalam menafsirkan ayat yang mulia ini, “Ini adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nabi Nuh. Tatkala mereka meninggal, syaitan membisikkan kepada kaum mereka, ‘Dirikanlah patung-patung mereka pada tempat yang pernah diadakan pertemuan di sana, dan namailah patung-patung itu dengan nama-nama mereka.’ Orang-orang itu pun melaksanakan bisikan syaitan tersebut tetapi patung-patung mereka ketika itu belum disembah. Hingga orang-orang yang mendirikan patung itu meninggal dan ilmu agama dilupakan orang, barulah patung-patung tadi disembah” (HR Bukhari 5/382 no.4920)

    “…..kalo nt meyakini bahwa pada hakekatnya ALLAH yang memberikan, manusia itu hanya sebagai washilah saja, jelas murni ketauhidan nt, tapi sebaliknya jika nt meyakini bahwa pada hakekatnya orang itu yang memberi dan sama sekali bukan kuasa yang ALLAH berikan, waliyadzu biillah nt ter jatuh kedalam kemusyrikan….”

    Jawab saya : Masya Allah ! mereka yang ngalap berkah disitu menggunakan perantara tanah kuburan mas, bukan manusia, kalo pemahamannya seperti itu, lalu apa bedanya dengan kaum musyrikin terdahulu mas? mereka (orang-orang musyrikini) juga memiliki keyakinan yang anda sebut sebagai ketauhidan murni itu, di mana mereka juga meyakini bahwa tuhan pencipta langit dan bumi itu adalah Allah. Bahkan niat mereka dalam menyembah berhala tsb adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah !

    “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah.” Katakanlah : “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” (Q.S Luqman : 25)

    “…Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya….” (Q.S Az-Zumar : 3)

    “ga masalah him, selama mereka meyakini kalo itu Cuma sebab semata, yang pada hakekatnya ALLAH lah yang mengabulkan., ga beda kok kaya nt kalo pasang penangkal petir di atap atap rumah atau hotel, sama aja kaya nt kalo sakit kepala nyarinya Bodrek, yang penting I`tiqodnya him bahwa semua itu hanya Sebab atau perantara, yang pada hakekatnya ALLAH lah yang menjadi MUSABIBUL ASBAB.”

    Jawab saya : Na’udzubillah min dzallik ! semakinn parah saja pemahaman anda ! disatu sisi anda bilang mengambil manfaat dan menolak mudharat dengan menggunakan berhala dikatakan syirik, namun ada orang yang mangambil manfaat dan menolak mudharat dari TANAH KUBURAN dibilang tidak masalah, semakin kacau saja cara berpikir anda !

    Jika pemahaman anda hanya sebatas itu, berarti tidak jauh beda dengan kaum musyrikin terdahulu dong (perbuatannya –pen), cuma bedanya, orang musyrikin terdahulu meminta manfaat dan menolak mudharat dengan menggunakan media berhala, sedangkan sekarang menggunakan media tanah kuburan dan menurut anda itu tidak masalah? Astaghfirllah ! coba anda baca baik-baik apa yang dilakukan para peziarah di makam gus dur tsb.

    “mau tau atau kaga tetap kalo melakukan ya kena hukumnya, yang nt katakana itu Cuma akal-akalan mereka aja him biar tidak kelihat ekstrim / ghuluw…..”

    Jawab saya : Itu bukan akal-akalan mas, ada dasarnya, semua musllim termasuk saya dan anda memang tidak boleh langsung memvonis orang per orangnya kafir, musyrik, ahlu bid’ah dsb sebelum kita menyampaikan hujjah kepada mereka, namun bukan berarti orang yang melakukannya atas dasar ketidaktahuannya lantas terlepas dari dosa yang dilakukannya, namun dosanya tidak sebesar apabila ia sudah tau hukumnya.

    “Barang siapa kafir kepada Allah sesudah beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang pedih.” (Qs. An Nahl: 106)

    “…..maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (Q.S Al-Baqarah : 89)

    “Dan barang siapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti selain jalannya kaum mukminin maka Kami palingkan dia ke mana dia berpaling dan akan Kami masukkan ke dalam neraka jahanam, dan jahanam itu sejelek-jeleknya tempat kembali.” (Qs. An-Nisaa: 115)

    Nabi pernah bercerita tentang kegembiraan Allah terhadap taubat seorang hamba, satu kegembiraan yang melebihi kegembiraan seseorang yang kehilangan unta tunggangannya yang membawa perbekalan makan dan minumannya, kemudian lelaki itu berusaha mencarinya, tapi pencariannya tidak membuahkan hasil, akhirnya dia berbaring di bawah sebuah pohon, menanti ajal. Pada Saat kritis tersebut, tiba-tiba untanya berdiri di hadapannya, ia pun langsung meraih tali kendalinya, seraya berkata (karena luapan kegembiraan): “Ya Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu.” Ia salah ucap, karena hanyut oleh luapan kegembiraan . Apakah orang ini kafir? Jawabannya: Tidak. (HR. Muslim no: 2747 dari hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

    Walaupun kata-katanya mengandung kekufuran, namun tidak lantas orang yang mengucapkannya itu langsung tervonis kafir karena beberapa sebab !

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Para ulama tidak mengkafirkan orang yang melakukan sesuatu dari hal-hal yang diharamkan karena sebab baru masuk Islam atau karena hidup di pedalaman yang sangat jauh, karena vonis kafir tidak ada kecuali setelah sampainya risalah.” [Majmu Al Fatawa: 28/501]

    Dan beliau berkata juga: “Kekafiran setelah tegak hujjah mendatangkan adzab dan sebelumnya mengurangi nikmat dan tidak menambah.” [Majmu Al Fatawa: 16/254]

    “Yusuf ibrahim, logic kah menyembah tanpa meyakini adanya manfaat dan mudhorot dari yang disembahnya? tidak ada seorangpun yang berakal, yang mau menyembah sesuatu tanpa meyakini bahwa yang disembahnya itu memiliki segala sesuatu baik yang bersifat manfaat maupun mudhorot, bukan semata mata menjadikan berhala sebagai perantara seperti yang nt katakan ?”

    Jawab saya : sepertinya (maaf) logika anda tidak sampai ke logika saya, saya TIDAK MENGINGKARI bahwa mereka (kaum msuyrikin) meyakini bahwa berhala yang mereka buat dengan tangan-tangan kotor mereka dapat mendatangkan manfaat dan menolak mudharat, akan tetapi yang saya maksud adalah mereka TIDAK meyakini bahwa yang mengabulkan permintaan mereka itu adalah berhalanya, karena mereka tetap meyakini bahwa segala sesuatu Allah lah yang berkuasa.

    “……oleh karena itulah mereka disebut MUSYRIK karena disamping menyembah ALLAH serta meyakini adanya manfaat dan mudhorot dari allah, mereka juga menyembah dan meyakini adanya manfaat dan mudhorot dari selain ALLAH dititik inilah terjadi kemusyrikan.”

    Jawab saya : jangan seperti orang bingung gitu mas, mereka yang ngalap berkah tanah kuburan juga meyakini bahwa tanah kuburan yang mereka ambil tsb dapat memberikan manfaat dan menolak mudharat ! coba saja anda baca lagi berita yang saya kutip, apa yang dikatakan para peziarah di makam gus dur? bahkan anda mengatakan ‘itu tidak masalah’ !

    “Jadi antara ketauhidan dan kemusyrikan itu sangat tipis benang pemisahnya……”

    Jawab saya : TENTU TIDAK ! sangat berbeda jauh sekali mas antara ketauhidan dengan kemusyrikan, sejauh langit dan bumi, sejauh timur dan barat. Perbedaan antara ketauhidan dengan kemusyrikan juga sangat jelas sekali perbedaannya, sejelas matahari di siang bolong. Hanya saja, orang-orang seperti andalah yang membuat perbedaan antara keduanya menjadi sangat tipis sehingga orang awam terperdaya dan tertipu dengan syubhat-syubhat yang anda buat.

    Waallahu ‘alam !

    1. yusuf Ibrahim.
      awalnya saya ingin mengomentari jawaban YUSUF IBRAHIM huruf per huruf kata perkata kalimat per kalimat, namun ternyata hal itu tidak membawa manfaat, karena yusuf ibrahim senang berkelit, dan membuat alasan, dan suka MEMELINTIR perkataan saya, padahal perkataan saya tertulis dan masih bisa dibaca oleh siapapun, yusuf ibrahim cenderung tidak mau mengakui kekeliruan, yusuf ibrahim lebih cenderung mencari kemenangan bukan mencari kebenaran.,
      tapi baiklah itu hak yusuf ibrahim , inti diskusi kita adalah soal Syirik dan Tauhid, soal tawassul dan tabarruk, saya akan komentari yang penting-pentingnya saja, saya sengaja tidak banyak membawa dalil, sebab yusuf ibrahim sendiri meskipun banyak membawa dalil kebanyakan meleset, dan bukan pada tempatnya, seakan dia tidak faham cara Istidlal yang baik.

      yusuf ibrahim membedakan antara bertawassul kepada yang hidup dengan yang sudah meninggal, meskipun terhadap Rosulallah saw, karena beliau sudah wafat, yusuf ibrahim membolehkan tawassul dengan yang masih hidup, karena dianggap dapat memberikan manfaat dan mudhorot, dengan mengatakan :” orang hidup masih bisa melakukan daya dan upaya dalam artian ikhtiar dan bisa mendengar ” sementara bertawassul dengan orang yang sudah wafat diharamkan (syirik),dengan mengatakan ” Coba bandingkan dengan orang yang telah wafat, apakah orang yang telah wafat bisa melakukan seperti apa yang dilakukan oleh orang yang masih hidup? jawablah dengan logikamu itu !”.

      jawab saya : orang yang masih hidup dengan yang sudah meninggal adalah sama, dalam arti sama-sama tidak mempunyai daya dan upaya kecuali denga izin ALLAH, sama-sama tidak bisa memberikan manfaat dan mudhorot kecuali dengan izin ALLAH, adapun perbedaan yang mati dan yang masih hidup seperti yang dicontohkan oleh yusuf Ibrahim yaitu manfa`at – manfa`at fisik melihat, mendengar, dan berupaya, adalah manfaat dhohir yang juga bisa dilakukan oleh keledai dan binatang lainnya, persoalan manfaat disini adalah persoalan do`a , persoalan ma`nawi, bukan persoalan hissi seperti membukakan pintu mengambilkan air, atau memberi makan, atau bisa memukul adalah manfaat Fisik yang juga bisa dilakukan oleh Binatang bahkan kera pun mungkin bisa melakukanya ! jika hal seperti itu yang ente fahami sebagai perbedaan antara yang masih hidup dan yang sudah wafat, berarti pola pikir nt terkungkung bahwa manusia itu hanya badan fisik semata yang tidak beda dengan binatang, dan orang paling bodoh pun tahu itu, jadi yang saya maksud sama adalah sama-sama tidak bisa memberikan manfaat atau mudhorot, bukan sama seperti yang nt fahami, karena salah satu faktor penentu dikabul tidaknya sebuah do`a adalah derajat kesholehan orang yang berdo`a itu sendiri, apalagi jika ROSULALLAH dan ORANG ORANG SHOLIH YANG MENDOAKAN tentu akan lebih dekat dengan ijabah, meskipun mereka sudah wafat.

      Him, orang yang membolehkan tawassul dengan yang masih hidup dan melarang Tawassul dengan yang sudah meninggal, pada hakekatnya telah memasukan Syirik dalam I`tiqod dan tauhid mereka, karena mereka mengi`tiqodkan bahwa yang hidup bisa memberikan ta`tsir (pengaruh)baik manfaat maupun madhorot, sementara yang meninggal tidak bisa, padahal keduanya sama-sama tidak bisa memberikan pengaruh apapun, karena jika kita meyakini adanya manfaat dan mudhorot dari selain ALLAH, berarti kita berkeyakinan ada Pencipta selain ALLAH, dan jika kita berkeyakinan seperti itu, maka kita telah terjatuh dalam kemusyrikan.

      Kemudian soal tabaruk, apakah dengan mengatakan :
      ” orang musyrikin terdahulu meminta manfaat dan menolak mudharat dengan menggunakan media berhala, sedangkan sekarang menggunakan media tanah kuburan dan menurut anda itu tidak masalah? “apakah yusuf ibrahim bermaksud memusyrikkan orang yang bertabaruk dengan tanah kuburan ? masya ALLAH jangan disamakan him, kaum musyrikin terdahulu menyembah berhala dan tentunya meyakini bahwa berhala yang disembahnya itu dapat memberikan manfaat dan mudhorot, sementara mereka yang ber tabarruk dengan tanah kuburan, tidak pernah menyembah kuburan atau tanah kuburan dan jelas mereka tidak meyakini bahwa kuburan dapat memberikan manfaat maupun mudhorot, hanya ngalap berkah, karena mereka berkeyakinan bahwa ALLAH menaruh berkah di tempat tempatnya orang sholih karena kesholihannya, meskipun orang sholih itu sudah meninggal, memang saya sendiri katakan itu perbuatan bodoh him, tapi tidak boleh divonis bahwa mereka itu Musyrik him !..

      Pernyataan nt diatas itu berbahaya him, menyamakan kaum musyrikin yang nota bene menyembah berhala dengan orang yang ngalap berkah dikuburan Sholihin, perbedaannya sangat jauh him, jangan disamakan !.
      Lagi-lagi ini soal I`tiqod him, tanah kuburan dengan Bodrek yang nt minum, sama -sama benda yang pada hakekatnya tidak mempunyai khasiyat apapun, kacuali karena ALLAH menaruh berkah ditanah dan khasiat obat di bodrek, sama seperti halnya pisau yang allah beri khasiat untuk memotong.

      Yang terakhir soal ketauhidan dan kemusyrikan, kenapa saya katakan sangat tipis benang pemisahnya ?
      karena saking tipis dan halusnya benang pemisah antara syirik dan tauhid, mungkin yusuf ibrahim tidak merasakan dan tidak menyadari bahwa dengan membolehkan Tawassul dengan orang yang masih Hidup saja, berarti dia telah meyakini bahwa orang yang masih hidup dapat memberikan manfaat dan mudhorot, seperti yang yusuf ibrahim katakan : ” seperti yang saya contohkan dimana orang hidup khususnya orang shalih bisa mendoakan kita ” jika demikian secara tidak sadar yusuf ibrahim telah meyakini ada pencipta selain ALLAH jika yusuf ibrahim meyakini ada pencipta selain ALLAH maka ia telah memasukan syirik dalam aqidahnya, hal ini dikarenakan yusuf ibrahim juga melarang Tawassul dengan orang yang sudah meninggal , dan meyakini bahwa yang sudah meninggal tidak bisa memberikan manfaat dan mudhorot padahal yang hidup dan yang sudah mati, sama-sama tidak bisa memberikan manfaat maupun mudhorot,
      Allah berfirman “ALLAH lah pencipta segala sesuatu, dan Allah telah menciptakan kalian dan apa yang kalian lakukan ” .

      Dengan mengetahui begitu tipisnya benang pemisah antara tauhid dan syirik mudah mudahan kita dapat terhindar dari kemusyrikan, baik yang dzohir maupun yang batin, yang terlihat maupun yang tidak terlihat dan mudah mudahan dapat menghilangkan arogansi ” tawassul dengan yang hidup boleh dengan yang sudah wafat haram musyrik ” padahal secara sadar ataupun tidak dia telah meyakini adanya pengaruh manfaat atau mudhorot dari selain ALLAH ” ada pencipta selain ALLAH yaitu yang masih hidup, padahal yang yang hidup ataupun yang sudah wafat sama-sama tidak memiliki pengaruh apapun , sama-sama tidak mampu mencipta apapun Kecuali dengan kuasa dan izin ALLAH.. lantas kenapa harus dibedakan ?

  49. ahmad syahid@

    Sangat menarik apa yang diuraiakn di atas oleh saudara Ahnmad Syahid, itulah yang benar. Jadi baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat sama-sama tidak sanggup memberikan manfaat kecuali atas izin Allh Swt. Banyak dalil yang menyebutkan demikian. Baik dari Al-Qur’an atau hadits Rasulullah, maaf kalau tidak saya sebut dalilnya ini semata-mata memperjelas keterangan saja, tapi benar-benar ada dalil-dalil tentang ini semua.

    Jadi kalau menganngap hanya yang hidup saja yang bisa memberikan manfaat, itu sudah termasuk musyrik secara nggak sadar, memang sedemikian tipis benang pemisah antara kemusyrikan dan ketauhidan. Karena ketauhidan intinya adalah keyakinan dalam hati bahwa semuanya harus ditaalluk-kan (dikaitkan, disandarkan, digantungkan) kepada satu-satunya pemilik kekuasaan yaitu Allah Swt.

    Lalu di mana kekuasaan Allah Swt jika Yusuf Ibrahim berkeyakinan bahwa hanya yang masih hidup saja yang bisa memberi manfaat? Karena pada hakekatnya hanya Allah Swt saja yang bisa memberikan manfaat dan mudlorot baik kepada manusia yang masih hidup atau yang sudah wafat. Juga kepada benda-benda, tempat-tempat dan waktu-waktu. Yasuf Ibrahim harus lebih banyak menggali ilmu-ilmu tentang ini semua, dan di gudang ilmu Wahabi tidak tersedia karena sudah dibuang oleh para tokoh-tokoh ulama mereka.

    Inti dari semua itu bahwa ketauhidan adalah menggantungkan atau menyandarkan hanya kepada Allah Swt satu-satunya pemilik kekuasaan. INNALLOHA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR….. Hanya Allah Swt satu-satunya yang berkuasa atas segala sesuatu. Saya ulang: SEGALA SESUATU itu bermakna luas tak terbatas, sebab kekuasaan Allah memang tidak terbatas! Jadi bukan manusia yang masih hidup yang bisa memberikan manfaat seperti keyakinan Yusuf Ibrahim, kalau masih ngotot berkeyakian demikian ketahuilah bahwa ente secara tidak sadar telah musyrik, maaf terpaksa saya katakan ini hanya untuk menjelaskan saja. Hakekat yang sebenarnya hanya Allah saja yang MAHA TAHU.

    Hati-hatilah saudaraku Yusuf Ibrahim, mau mendakwahkan tauhid bisa-bisa malah kecebur pada kemusyrikan? Sadarlah wahai saudaraku Yusuf Ibrahim….!

    Wallohu a’lam bisshowab….

  50. Oke, salam kenal juga untuk Mas Ahmad Syahid dan Mas Mamo, salam kenal juga untuk saudara Yusuf Ibrahim dan para pengunjung yang lain.

    Saya lega rasanya bisa keluar masuk blog ini tanpa hambatan sama sekali. Di blog yang diasuh oleh orang-orang Wahabi, komentar saya belum pernah ada yang ditampilkan. Semoga blog ini istiqomah, jangan menutupi atau menghalangi komnetar biarpun ada perbedaan setajam apa pun! Biar pembaca yang menilainya, demikian harapan saya kepada Admin blog UMMATI PRESS.

  51. “ Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada
    Engkaulah kami memohon pertolongan” ( Q . S Al – Fatihah : 5 )

    Firman Allah SWT : “ Dan sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ( ayat – ayat Allah ) , dan mereka mempunyai mata ( tetapi ) tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah , dan mereka mempunyai telinga ( tetapi ) tidak dipergunakan untuk mendengar ( ayat-ayat Allah ). Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi . Mereka itulah orang – orang yang lalai “ . ( Q S.7:179 ) .

    ”Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.”. ( Q..S 25 : 73 )

    ” Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk ”. ( Q.S 43 : 36 – 37 )

    “ Ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, agar mereka mempelajari ayat-ayat-Nya dan agar orang-orang yang mempunyai akal dapat mengambil pelajaran “ ( Q.S 38 : 29 )]

    ” Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci ? ”
    ( Q S . 47 : 24 )

    “ Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya) “. ( Q S 7 : 2 – 3 )

    ” Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat – ayat Tuhannya , Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal ”. ( QS . 20 : 127 )

    ” Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Qur’an ini bermacam – macam perumpamaan . Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah ”( Q.S 18 : 54 )

    ” Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Qur’an ini bermacam – macam perumpamaan . Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah ” ( Q.S 18 : 54 )

    ” Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan – keterangan
    ( yang jelas ) dan petunjuk , setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab , mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati ( pula ) oleh semua ( makhluk ) yang dapat melaknati ”. ( QS . 2 : 159 )

    ” Dan ( ingatlah ) hari ( ketika itu ) orang – orang yang zalim mengigit dua tangannya seraya berkata : ” Aduhai sekiranya ( dahulu ) aku mengambil jalan bersama Rasul. Celaka besarlah bagiku , sekiranya aku ( dahulu ) tidak menjadikan sifulan itu teman akrabku , sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku , dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia . Berkata Rasul: ” Ya Tuhanku , Sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan ” ( Q S 25 : 27 – 30 )

    ” Dan barangsiapa berpaling dari peringatan -Ku , maka sesungguhnya baginya penghidup an yang sempit , dan Kami akan menghimpun
    kannya pada hari kiamat dalam keadaan buta . berkatalah ia : ” Ya Tuhanku mengapa engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta , padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat ?”. Allah berfirman : ” Demikianlah , telah datang kepadamu ayat – ayat Kami , maka kamu melupakannya , dan begitu ( pula ) pada hari ini kamu dilupakan . Dan demikianlah kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat – ayat Tuhan nya , dan sesungguhnya azab diakhirat itu lebih berat dan lebih kekal . Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka ( kaum – musyrikin ) berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka , padahal mereka berjalan ( dibekas – bekas ) tempat tinggal umat-umat itu ? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda – tanda bagi orang yang ber-akal ”.( Q S Thaahaa : 124 – 128 )

    ” Sesungguhnya orang – orang yang mendustakan ayat – ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali – kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu – pintu langit dan tidak ( pula ) mereka masuk sorga , hingga unta masuk kelubang jarum . Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang– orang jang berbuat kejahatan”. ( Q.S 7 : 40 )

    ” Wahai orang-orang yang beriman , bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar , niscaya Allah akan memperbaiki bagimu amal-amalmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu, dan barangsiapa menta’ati Allah dan rasul-Nya , maka sesungguhnya dia mendapat kemenangan yang besar ” ( Q . S Al – Ahzab : 70 – 71 ).

    ” Jika kamu menyeru mereka , mereka tiada mendengar seruanmu ; dan kalau mereka mendengar , mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu . Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberi kan keterangan kepadamu , sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui” ( QS . 35 : 14 )

    ” Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya , Jika ( Allah ) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak ( pula ) dapat menyelamatkanku ” ( Q S , 36 : 23 )

    ” Bahkan mereka mengambil pemberi syafaat selain Allah . Katakanlah : ” Dan apakah (kamu mengambil juga ) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal ?” Katakanlah : ” Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya . Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi . Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan ”. Dan apabila hanya nama Allah saja yang disebut , kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat ; dan apabila nama sembahan – sembahan selain Allah yang disebut , tiba-tiba mereka bergirang hati.”
    ( Q S . 39 : 43 – 45 )

    ”Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur’an, sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah-robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk.
    ( Q S 6 : 115 – 117 )

  52. Al-Husain bin Ali, cucu Rasulullah SAW menceriterakan bagaimana keagungan kakeknya itu didalam sebuah riwayat , ” aku bertanya kepada ayah ( Ali bin Abi Thalib ) tentang bagaimana akhlak Rasulullah .” Ayah berkata , ” Rasulullah selalu menyenangkan ,beliau selalu terbuka dan santai , mudah berkomunikasi dengan siapapun , lemah-lembut dan sopan ,tidak terlalu keras dan tidak terlalu lunak , tidak pernah mencela , tidak pernah menggerutu , tidak mengulur waktu dan tidak tergesa-gesa . Beliau meninggalkan sifat riya , boros dan sesuatu yang tidak berguna. Beliau tidak pernah mencaci seseorang dengan sebutan-sebutan yang buruk ketika menegur kasalahan orang, beliau tidak berbicara kecuali yang bermanfaat dan berfahala , kalau beliau berbicara maka yang lain diam menunduk seperti ada burung diatas kepalanya , tidak pernah dipotong disela atau dipotong pembicaraannya , tertawa bersama yang tertawa , heran bersama orang yang heran , rajin dan sabar menghadapi orang asing yang tidak sopan , segera memberi apa apa yang diperlukan orang yang berkesusahan , tidak menerima pujian kecuali dari yang pernah dipuji olehnya .” ( HR.Tirmidzi )

  53. Diantara pesan yang sering dilontarkan oleh Rasulullah

    adalah : “Seorang muslim adalah orang yang orang lain selamat dari perkataan dan tangannya , dan seorang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari apa yang dilarang Allah ” ( Muttafaq’alaih )

    juga diantara pesan beliau : ” Hendaklah seseorang itu menjaga perkataannya supaya tidak salah dan terjerumus kedalam neraka , walaupun dia harus berpisah menjauh dari timur dan barat ”
    ( Muttafaq’alaih )

  54. abdurahman alwani
    jika anda ingin ikut bediskusi silahkan, ga usah bawain ayat – ayat qur`an seolah anda sedang menghadapi orang kafir, musyrik yang membantah dan menolak ayat – ayat ALLAH, kita semua disini muslim ayo diskusi yang baik jangan cuma bisa bawa ayat qur`an seolah kami disini bukan muslim.
    karena dari sekian banyak ayat yang nt bawa cuma ada satu ayat yang relevan dengan topik diskusi kali.

  55. “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.”
    (Qur’an surah Ali Imran ayat 169)

    “Orang yang mati syahid memiliki enam keutamaan di sisi Allah yaitu : Dia diampuni pada awal penyerangannya, diperlihatkan tempat duduknya di Surga, dilindungi dari adzab kubur, merasa aman dari ketakutan yang dahsyat, diletakkan di atas kepalanya mahkota kehormatan yang permatanya lebih baik daripada dunia beserta isinya, dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari dan (diberi ijin) memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari keluarganya.” (HR. Tirmidzi dari Miqdam bin Ma’dikarib, dalam Shahih At Tirmidzi 2/132)

    Dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 85 Allah SWT menegaskan bahwa ruh itu urusan-Ku dan manusia tidak diberikan ilmu tentangnya kecuali sedikit saja.

    Maaf saudara yg menolak tawasul, tabaruk, dan hadiah , nampaknya anda seakan-akan mengerti urusan ruh yah, padahal Allah yg lebih mengetahui urusan ruh, kita hanya dikasih pengetahuan tentangnya hanya sedikit.

    Ruh manusia hanya Allah yang menguasainya, dan Allah berkehendak dengan kehendaknya, Orang yang bertabaruk, bertawasul, juga mengirimkan hadiah bacaan kepada mayyit, jika semua itu diizinkan Allah sampai, dan diizinkan Allah mendatangkan manfaat bisa saja, karna yang lebih menguasai ruh adalah Allah, Allah berkehendak tentang bagaimana keadaan ruh itu, Allah berkehendak mau diapakan “ruh”. kita hanya diberi pengetahuan tentang itu hanya sedikit.

    Imam Muslim meriwayatkan
    bahwa ‘Abd Allah, budak yang telah dibebaskan dari
    Asma’ binti Abu Bakr, paman (pihak ibu) dari anaknya
    si ‘Atha’ (ibn ‘Atha’), berkata: “Asma’ mengutus ku ke
    Abdullah ibn ‘Umar untuk mengatakan. “??…”. Aku
    (‘Abd Allah) kembali ke Asma’ dan memberitahunya
    tentang jawaban Ibn Umar, lalu dia berkata: “Ini
    adalah jubah Rasulullah, ” dan dia membawaku ke jubah
    yang terbuat dari kain Persia dengan kain leher dari
    kain brokat, dan lengannya juga dibordir dengan kain
    brokat, dan berkata “Ini adalah jubah Rasulullah
    sallAllahu `alayhi wasallam yang disimpan ‘Aisyah
    hingga wafatnya lalu aku menyimpannya. Nabi Allah
    sallAllahu `alayhi wasallam biasa memakainya, dan kami
    mencucinya untuk orang yang sakit hingga mereka dapat
    sembuh karenanya.”

    [Imam Muslim meriwayatkannya dalam bab pertama di
    kitab pakaian, Bab al-Libaas].

    Imam Nawawi mengomentari hadits ini dalam Syarah Sahih
    Muslim, karya beliau, juz 37 bab 2, “Hadits ini adalah
    bukti dianjurkannya mencari barokah lewat bekas dari
    orang-orang shalih dan pakaian mereka (wa fii hadza
    al-hadits dalil ‘ala istihbab al-tabarruk bi aatsaar
    al-shalihin wa tsiyaabihim).

    dari Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu, ia berkata : Kami bersama
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
    dalam suatu perjalanan. Ketika itu persediaan air sedikit. Maka beliau bersabda
    : “Carilah sisa air!” Para shahabat pun membawa bejana yang berisi sedikit air.
    Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
    sallam memasukkan tangan beliau ke dalam bejana tersebut seraya bersabda :
    “Kemarilah kalian menuju air yang diberkahi dan berkah itu dari Allah.” Sungguh
    aku (Ibnu Mas’ud) melihat air terpancar di
    antara jari-jemari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari
    dengan Fathul Bari 6/433.

    Dengan Hak Nabi Muhammad

    Utsman bin Hanif datang kepada Rasulullah saw agar beliau mendoakan kepada Allah swt. Kemudian beliau menyuruhnya berwudhu’ dan melakukan shalat dua rakaat dan berdoa sebagai berikut:
    “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan/melalui nabi-Mu nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad, denganmu aku menghadap kepada Tuhanku agar Dia menunaikan hajatku. Ya Allah, jadikan dia (Muhammad) pemberi syafaat bagiku.”

    Hadis tersebut terdapat di dalam:

    1) Sunan Ibnu Majah 1: 441, hadis ke 1385. 2) Musnad Ahmad 4: 138. 3) Mustadrak Ash-Shahihayn, Al-Hakim An-Naisaburi, jilid 1, halaman 313. 4) Jami’ Ash-Shaghir As-Suyuthi, halaman 59, mengutip dari At-Tirmidzi dan Al-Hakim. 5) Al-Tajul Jami’ 1: 286.

    Dengan Benda Mati

    “Dengan Nama Allah, dengan debu/tanah bumi kami, dengan air liur/ludah sebagian dari kami, sembuhlah yang sakit pada kami, dengan izin tuhan kami” (shahih Bukhari hadits no.5413, dan Shahih Muslim hadits no.2194)

    Dengan Keluarga Nabi

    Umar bin Khattab ra shalat istisqa lalu berdoa kepada Allah dengan doa : “wahai Allah, sungguh kami telah mengambil perantara (bertawassul) pada Mu dengan Nabi kami Muhammad saw agar kau turunkan hujan lalu kau turunkan hujan, maka kini kami mengambil perantara (bertawassul) pada Mu Dengan Paman Nabi Mu (Abbas bin Abdulmuttalib ra) yang melihat beliau sang Nabi saw maka turunkanlah hujan” maka hujanpun turun dengan derasnya. (Shahih Bukhari hadits no.964 dan hadits no.3507)

    Dengan Orang Soleh

    Abu Said Al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:
    “Barangsiapa yang keluar rumah untuk melakukan shalat, maka ucapkan: `Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan hak orang-orang yang bermohon pada-Mu…” (Sunan Ibnu Majah 1: 256, hadis ke 778).

    Dengan Nabi Yang sudah mati

    Doa Nabi ketika mendoakan bibinya saat pemakamannya : “Allah yang menghidupkan dan mematikan, Dialah Yang Hidup dan tidak mati, ampuni ibuku Fatimah binti Asad, dan luaskan kuburnya atasnya dengan hak nabi-Mu dan hak [b]para nabi sebelumku.”

    Hadis ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir wal-Awsath,
    dan Ibnu Hibban dan Al-Hakim, mereka menshahihkan hadis ini. Juga terdapat dalam kitab Hilyatul Awliya’ oleh Abu Na’im, jilid 3 hlm 121.

  56. Tuk wahabi

    Dalam hadis yang dapat kita baca dalam Hayâtush Shahâbah, terdapat riwayat sebagai berikut:
    Pada suatu saat, ketika Rasulullah saw berkumpul dengan para sahabatnya di Masjid, beliau berkata, “Sebentar lagi akan muncul seorang penghuni surga….” Tak lama kemudian masuk ke dalam masjid seorang lelaki dengan mengepit sandal di tangan kanannya. Dengan janggut yang masih basah oleh air wudhu, ia lalu salat. Keesokan harinya, Rasulullah menyebutkan hal yang sama dan lelaki yang sama kemudian masuk ke dalam masjid dan salat. Begitu pula keesokan harinya lagi. Tiga kali Rasulullah mengucapkan hal itu dan selalu lelaki yang itu pula muncul di masjid.

    Abdullah bin Amr bin Ash merasa penasaran. Ia ingin tahu apa yang dilakukan oleh lelaki itu sehingga Nabi yang mulia menyebutnya sebagai penghuni surga. Abdullah lalu mengunjungi rumah lelaki itu dan berkata, “Aku bertengkar dengan ayahku. Aku tak bisa tinggal serumah dengannya sementara ini. Bolehkah aku tinggal di tempatmu untuk beberapa malam?” pinta Abdullah. “Silahkan,” lelaki itu membolehkan.

    Tinggallah Abdullah di rumahnya. Setiap malam ia mengawasi ibadah orang itu. “Tentulah ibadahnya sangat menakjubkan sampai Nabi menyebutnya penghuni surga,” pikir Abdullah. Tapi ternyata tak ada yang istimewa dalam ibadahnya. Lelaki itu tak salat malam; ia baru bangun menjelang waktu subuh. Terkadang ia bangun di tengah malam, tapi itu hanya untuk menggeserkan tempat tidurnya, berzikir sebentar, lalu tidur lagi. Selama tiga malam, Abdullah tidak melihat sesuatu yang khusus yang dilakukan orang itu. Akhirnya Abdullah pamit.

    Sebelum pergi, Abdullah berkata terus terang, “Sebetulnya aku tak bertengkar dengan ayahku. Aku hanya ingin tahu apa yang menjadikanmu sangat istimewa sehingga Nabi menyebutmu penghuni surga?” Orang itu menjawab, “Aku adalah seperti yang engkau lihat. Memang itulah diriku.” Abdullah pun akhirnya pergi. Tapi setelah agak jauh, lelaki itu memanggil kembali Abdullah. Ia menjelaskan, “Aku memang seperti yang engkau lihat. Hanya saja aku tak pernah tidur dengan menyimpan niat jelek terhadap sesama kaum muslimin.” Abdullah berkata, “Justru itulah yang tidak mampu aku lakukan; tidak menyimpan rasa dendam, benci, dan dengki terhadap sesama kaum muslimin….”

    Mungkin kita semua seperti Abdullah bin Amr bin Ash, kita tak bisa membuang niat jelek kita terhadap sesama kaum muslimin. Boleh jadi kita mampu berlama-lama salat, mampu mengisi malam dengan zikir, tapi seringkali kita tidak mampu untuk menyingkirkan dendam di hati kita terhadap sesama kaum muslimin.

    1. astaqfirulloh……thanks @ al faqir anda mengingatkan aku jelas masih seperti Abdulah bin Amr bin Ash…..insyaAllah akan berusaha spt laki2 penghuni syurga …. semoga Allah SWT meridhoi amiiin YRA .

  57. abdurrahman alwani@

    Biasa Wahabi bawa-bawa dalil kayak keledai memikul kitab, mana mudeng itu keledai isi kitab? Tahu kan maksudnya? Jadi tidak usah ngancam-ngancam dengan bawa-bawa dalil, sebab bisa aja itu dalil tertuju kepada dirimu sendiri. Memang kamu tidak mengatakannya apa yang tersirat dari dalil-dalil itu seolah kamu menghadapi kaum dlolim dan kafir. Allah Swt. Maha tahu apa yang ada dalam hatimu biarpun kamu tidak mengatakannya. Allah tahu setiap daun yang jatuh dari dahan dan mengetahui isi hati setiap hambanya, jadi hati-hatilah membawa dalil yang begitu banyak bisa-bisa itu menimpa dirimu sendiri, Wallohu a’lam….

  58. Perayaan Maulid Nabi dan Kontroversi Ma’na Bid’ah

    Peryataan bahwa perayaan maulid Nabi adalah amalan bid’ah adalah peryataan sangat tidak tepat, karena bid’ah adalah sesuatu yang baru atau diada-adakan dalam Islam yang tidak ada landasan sama sekali dari dari Al-Qur’an dan as-Sunah. Adapun maulid walaupun suatu yang baru di dalam Islam akan tetapi memiliki landasan dari Al-Qur’an dan as-Sunah.

    Pada maulid Nabi di dalamya banyak sekali nilai ketaatan, seperti: sikap syukur, membaca dan mendengarkan bacaan Al-Quran, bersodaqoh, mendengarkan mauidhoh hasanah atau menuntut ilmu, mendengarkan kembali sejarah dan keteladanan Nabi, dan membaca sholawat yang kesemuanya telah dimaklumi bersama bahwa hal tersebut sangat dianjurkan oleh agama dan ada dalilnya di dalam Al-Qur’an dan as-Sunah.

    Pengukhususan Waktu

    Ada yang menyatakan bahwa menjadikan maulid dikatakan bid’ah adalah adanya pengkhususan (takhsis) dalam pelakanaan di dalam waktu tertentu, yaitu bulan Rabiul Awal yang hal itu tidak dikhususkan oleh syariat. Pernyataan ini sebenarnaya perlu di tinjau kembali, karena takhsis yang dilarang di dalam Islam ialah takhsis dengan cara meyakini atau menetapkan hukum suatu amal bahwa amal tersebut tidak boleh diamalkan kecuali hari-hari khusus dan pengkhususan tersebut tidak ada landasan dari syar’i sendiri(Dr Alawy bin Shihab, Intabih Dinuka fi Khotir: hal.27).

    Hal ini berbeda dengan penempatan waktu perayaan maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal, karena orang yang melaksanakan maulid Nabi sama sekali tidak meyakini, apalagi menetapkan hukum bahwa maulid Nabi tidak boleh dilakukan kecuali bulan Robiul Awal, maulid Nabi bisa diadakan kapan saja, dengan bentuk acara yang berbeda selama ada nilai ketaatan dan tidak bercampur dengan maksiat.

    Pengkhususan waktu maulid disini bukan kategori takhsis yang di larang syar’i tersebut, akan tetapi masuk kategori tartib (penertiban).

    Pengkhususan waktu tertentu dalam beramal sholihah adalah diperbolehkan, Nabi Muhammad sendiri mengkhusukan hari tertentu untuk beribadah dan berziaroh ke masjid kuba, seperti diriwatkan Ibnu Umar bahwa Nabi Muhammad mendatangi masjid Kuba setiap hari Sabtu dengan jalan kaki atau dengan kendaraan dan sholat sholat dua rekaat di sana (HR Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar mengomentari hadis ini mengatakan: “Bahwa hadis ini disertai banyaknya riwayatnya menunjukan diperbolehkan mengkhususan sebagian hari-hari tertentu dengan amal-amal salihah dan dilakukan terus-menerus”.(Fathul Bari 3: hal. 84)

    Imam Nawawi juga berkata senada di dalam kitab Syarah Sahih Muslim. Para sahabat Anshor juga menghususkan waktu tertentu untuk berkumpul untuk bersama-sama mengingat nikmat Allah,( yaitu datangnya Nabi SAW) pada hari Jumat atau mereka menyebutnya Yaumul ‘Urubah dan direstui Nabi.

    Jadi dapat difahami, bahwa pengkhususan dalam jadwal Maulid, Isro’ Mi’roj dan yang lainya hanyalah untuk penertiban acara-acara dengan memanfaatkan momen yang sesui, tanpa ada keyakinan apapun, hal ini seperti halnya penertiban atau pengkhususan waktu sekolah, penghususan kelas dan tingkatan sekolah yang kesemuanya tidak pernah dikhususkan oleh syariat, tapi hal ini diperbolehkan untuk ketertiban, dan umumnya tabiat manusia apabila kegiatan tidak terjadwal maka kegiatan tersebut akan mudah diremehkan dan akhirnya dilupakan atau ditinggalkan.

    Acara maulid di luar bulan Rabiul Awal sebenarnya telah ada dari dahulu, seperti acara pembacaan kitab Dibagh wal Barjanji atau kitab-kitab yang berisi sholawat-sholawat yang lain yang diadakan satu minggu sekali di desa-desa dan pesantren, hal itu sebenarnya adalah kategori maulid, walaupun di Indonesia masyarakat tidak menyebutnya dengan maulid, dan jika kita berkeliling di negara-negara Islam maka kita akan menemukan bentuk acara dan waktu yang berbeda-beda dalam acara maulid Nabi, karena ekpresi syukur tidak hanya dalam satu waktu tapi harus terus menerus dan dapat berganti-ganti cara, selama ada nilai ketaatan dan tidak dengan jalan maksiat.

    Semisal di Yaman, maulid diadakan setiap malam jumat yang berisi bacaan sholawat-sholawat Nabi dan ceramah agama dari para ulama untuk selalu meneladani Nabi. Penjadwalan maulid di bulan Rabiul Awal hanyalah murni budaya manusia, tidak ada kaitanya dengan syariat dan barang siapa yang meyakini bahwa acara maulid tidak boleh diadakan oleh syariat selain bulan Rabiul Awal maka kami sepakat keyakinan ini adalah bid’ah dholalah.

    Tak Pernah Dilakukan Zaman Nabi dan Sohabat

    Di antara orang yang mengatakan maulid adalah bid’ah adalah karena acara maulid tidak pernah ada di zaman Nabi, sahabat atau kurun salaf. Pendapat ini muncul dari orang yang tidak faham bagaimana cara mengeluarkan hukum(istimbat) dari Al-Quran dan as-Sunah. Sesuatu yang tidak dilakukan Nabi atau Sahabat –dalam term ulama usul fiqih disebut at-tark – dan tidak ada keterangan apakah hal tersebut diperintah atau dilarang maka menurut ulama ushul fiqih hal tersebut tidak bisa dijadikan dalil, baik untuk melarang atau mewajibkan.

    Sebagaimana diketahui pengertian as-Sunah adalah perkatakaan, perbuatan dan persetujuan beliau. Adapun at-tark tidak masuk di dalamnya. Sesuatu yang ditinggalkan Nabi atau sohabat mempunyai banyak kemungkinan, sehingga tidak bisa langsung diputuskan hal itu adalah haram atau wajib. Disini akan saya sebutkan alasan-alasan kenapa Nabi meninggalkan sesuatu:

    1. Nabi meniggalkan sesuatu karena hal tersebut sudah masuk di dalam ayat atau hadis yang maknanya umum, seperti sudah masuk dalam makna ayat: “Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”(QS Al-Haj: 77). Kebajikan maknanya adalah umum dan Nabi tidak menjelaskan semua secara rinci.

    2. Nabi meninggalkan sesutu karena takut jika hal itu belai lakukan akan dikira umatnya bahwa hal itu adalah wajib dan akan memberatkan umatnya, seperti Nabi meninggalkan sholat tarawih berjamaah bersama sahabat karena khawatir akan dikira sholat terawih adalah wajib.

    3. Nabi meninggalkan sesuatu karena takut akan merubah perasaan sahabat, seperti apa yang beliau katakan pada siti Aisyah: “Seaindainya bukan karena kaummu baru masuk Islam sungguh akan aku robohkan Ka’bah dan kemudian saya bangun kembali dengan asas Ibrahim as. Sungguh Quraiys telah membuat bangunan ka’bah menjadi pendek.” (HR. Bukhori dan Muslim) Nabi meninggalkan untuk merekontrusi ka’bah karena menjaga hati mualaf ahli Mekah agar tidak terganggu.

    4. Nabi meninggalkan sesuatu karena telah menjadi adatnya, seperti di dalam hadis: Nabi disuguhi biawak panggang kemudian Nabi mengulurkan tangannya untuk memakannya, maka ada yang berkata: “itu biawak!”, maka Nabi menarik tangannya kembali, dan beliu ditanya: “apakah biawak itu haram? Nabi menjawab: “Tidak, saya belum pernah menemukannya di bumi kaumku, saya merasa jijik!” (QS. Bukhori dan Muslim) hadis ini menunjukan bahwa apa yang ditinggalkan Nabi setelah sebelumnya beliu terima hal itu tidak berarti hal itu adalah haram atau dilarang.

    5. Nabi atau sahabat meninggalkan sesuatu karena melakukan yang lebih afdhol. Dan adanya yang lebih utama tidak menunjukan yang diutamai (mafdhul) adalah haram.dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang lain (untuk lebih luas lih. Syekh Abdullah al Ghomariy. Husnu Tafahum wad Dark limasalatit tark)

    Dan Nabi bersabda:” Apa yang dihalalakan Allah di dalam kitab-Nya maka itu adalah halal, dan apa yang diharamkan adalah haram dan apa yang didiamkan maka itu adalah ampunan maka terimalah dari Allah ampunan-Nya dan Allah tidak pernah melupakan sesuatu, kemudian Nabi membaca:” dan tidaklah Tuhanmu lupa”.(HR. Abu Dawud, Bazar dll.) dan Nabi juga bersabda: “Sesungguhnya Allah menetapkan kewajiban maka jangan enkau sia-siakan dan menetapkan batasan-batasan maka jangan kau melewatinya dan mengharamkan sesuatu maka jangan kau melanggarnya, dan dia mendiamkan sesuatu karena untuk menjadi rahmat bagi kamu tanpa melupakannya maka janganlah membahasnya”.(HR.Daruqutnhi)

    Dan Allah berfirman:”Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”(QS.Al Hasr:7) dan Allah tidak berfirman dan apa yang ditinggalknya maka tinggalkanlah.

    Maka dapat disimpulkan bahwa “at-Tark” tidak memberi faidah hukum haram, dan alasan pengharaman maulid dengan alasan karena tidak dilakukan Nabi dan sahabat sama dengan berdalil dengan sesuatu yang tidak bisa dijadikan dalil!

    Imam Suyuti menjawab peryataan orang yang mengatakan: “Saya tidak tahu bahwa maulid ada asalnya di Kitab dan Sunah” dengan jawaban: “Tidak mengetahui dalil bukan berarti dalil itu tidak ada”, peryataannya Imam Suyutiy ini didasarkan karena beliau sendiri dan Ibnu Hajar al-Asqolaniy telah mampu mengeluarkan dalil-dalil maulid dari as-Sunah. (Syekh Ali Jum’ah. Al-Bayanul Qowim, hal.28)

    Zarnuzi Ghufron
    Ketua LMI-PCINU Yaman dan sekarang sedang belajar di Fakultas Syariah wal Qonun Univ Al-Ahgoff, Hadramaut, Yaman

    1. al-faqir
      coba antum juga bikin tulisan yang mengulas masalah Bid`ah, menggunakan manhaj Ushuliyiin, sebab yang antum tulis diatas lebih dominan kepada salah satu dari sekian banyak masalah Bid`ah yaitu, maulid nabi.
      saya harap antum tidak berkeberatan karena banyak yang salah faham tentang masalah Bid`ah ini, terutama dari mereka yang belum mempelajari Ushul Fiqh, atau mempelajarinya namun belum mampu menerapkannya, sehingga banyak yang keliru dalam memahami hadist-hadist tentang Bid`ah, yang pada akhirnya banyak terjadi salah kaprah,yaitu membid`ah dolalahkan hampir semua amalan yang sebenarnya tidak masuk dalam kategori Bid`ah dolalah, sementara yang benar-benar Bid`ah dolalah dibiarkan begitu saja. ( thoriqotul Istinbaat lil-ahkamisyar`iyahnya )jazakallahu khoiro.

  59. mamo cemani gembong@ sama-sama pak, mudah mudahan kita termasuk hambanya yang mendapat ridho, rahmat, petunjuk, ampunan-Nya.. Amin

    Sesungguhnya Alloh ta’ala berfirman
    pada hari kiamat: Mana orang yang saling mencintai karena kebesaran Ku, hari
    ini Aku akan menaungi mereka pada saat tidak ada naungan selain naungan-Ku (HR
    muslim)

    Rasululloh bersabada:”Layak mendapatkan cinta-Ku bagi
    orang yang saling mencintai karena-Ku. Orang yang saling mencintai karena-Ku(di
    hari kiamat) akan ditempatkan di menara dari cahaya, tempat yang diingini oleh
    para nabi, orang-orang yang benar dan para syuhada” (Shahih jami)

    Abu hamzah , anas bin malik ra. menerangkan bahwa rasulullah saw bersabda, “tidak sempurna iman seseorang diantara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (HR bukhari dan muslim)

    Siapa yang ingin merasakan lezatnya iman maka cintailah seseorang hanya karena Alloh (HR Muslim)

    Mudah-mudahan juga orang-orang wahabi mendapat petunjuk dari Allah swt.. agar tidak membenci sesama muslim..

  60. “ Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan ( Al-Qur’an ) kepada hamba-Nya agar dia memberi peringatan kepada seluruh alam “ ( QS.25:1 ) .

    ” Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah suoaya mereka memperhatikan ayat – ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang – orang yang mempunyai fikiran ”
    ( QS Shaad : 29 )

    ” Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang ( syaitan ) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya ? .
    ( Q.S 47 : 14 )

    ” Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an ) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk , serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri ” ( Q S . An-Nahl : 89 )

    ” Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang ( syaitan ) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya ? ”.
    ( QS . 47 : 14 )

    ” Dan kebanyakan mereka tidaklah mengikuti kecuali prasangka saja., Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna mencapai kebenaran . Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan ” ( QS . 10 : 36 )

    ” Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah ( Al-Qur’an ) akan Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan ) , maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya . Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk”. ( Q S 43 : 36 -37 )

    ” Sesungguhnya orang-orang yang menyembinyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan – keterangan
    ( yang jelas ) dan petunjuk , setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab , mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati ( pula ) oleh semua ( makhluk ) yang dapat melaknati ”. ( QS . 2 : 159 )

  61. Akhlak Rasulullah

    ” Akhlak Rasulullah adalah Al – Qur’an ” ( HR. Muslim ) Begitu kata Aisyah ketika ditanya tentang Akhlak Rasulullah . Beliau ( Rasulullah SAW ) bersabda : ” Sesungguhnya aku diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia ” ( HR. Ahmad ) .

    Dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah bersabda : ” Tidak akan masuk sorga orang yang dihatinya ada setitik kesombongan.”
    ( HR Muslim )

    wahai Akhi semua , Agama itu nasehat bukan debat

    1. abdurahman alwani
      manis betuuul kata-kata nt bicara akhlak, seakan nt sudah berakhlak mulia sementara nt membawakan ayat suci al-qur`an, yang semestinya lebih pas jika ditujukan kepada musyrikin dan orang-orang yahudi, benar agama adalah nasihat, tapi kalo dengan cara seperti itu nt menasehati, subhanallah seolah oleh nt sedang menasehati kaum musyrik atau yahudi, kita semua di blog ini muslim, makanya saya ajak anda untuk berdiskusi bukan berdebat.
      dan jika nt masih saja ngeyel dan tetap membawakan ayat-ayat suci al-qur`an yang semestinya ditujukan kepada musyrikin dan kafirin, maka tidak lebih nt ini cuma tukang fitnah yang mengatas-namakan Al-qur`an.

      1. @ahmaddsyahid
        ketika dibawakan ayat suci al-qur’an,,, pahamilah makna yang terkandung didalamnya,,, jangan langsung bersu’udzhon seperti itu,,, apabila anda memang seorang mu’min dan tak menyimpang dari aqidah yang lurus maka berfikirlah positif,, jadikan ayat-ayat itu sebagai bahan renungan untuk memperkuat iman anda,, jangan sekali-kali menuduh seseorang tnpa alasan,,,

        1. al-furqan @

          Justru karena Ahmad Syahid merenung makanya dia merespon seperti itu. Berarti dia mudeng arah dalail yang dibawakan oleh Abd. Alwani itu.

          Antum sendiri menuduh Ahmad Syahid tidak merenungi ayat Qur’an, gemana ini? Melarang menuduh tapi malah menuduh sendiri? Mentang-mentang namamu Al-Furqan, mau mewakili AlQr’an?

          1. Mas Wong Kolutan , mohon tulisan agak lebih santun sedikit agar supaya forum diskusi tidak menjadi forum saling mencela

      2. Akhi Ahmad Syahid , ayat-ayat Al-Qur’an yang kami kutip tersebut memang ditujukan untuk kaum musyrikin , tapi kenapa anda yang sewoth , bukankah misi para Nabi dan Rasul untuk memberantas kemusyrikan (QS.16:36)

        1. abdurrahman alwani, kenapa sih anda cuma bisa mengutip ayat al-qur`an yang mestinya ditujukan kepada kaum musyrikin ? kenapa anda tidak mengutip ayat al-qur`an yang berkaitan dengan topik diskusi ? Misi Da`wah para Nabi dan Rosul bukan hanya memberantas kemusyrikan, tetapi juga memberantas ke Jahilan dan pembinaan Akhlaq, dimana Ilmu dan Akhlak Anda kalo masih seperti ini ?

        1. abdurrahman alwani, semua orang bisa menilai siapa yang berdiskusi dan siapa sebenarnya yang sedang mencela jika anda tidak mampu menyangkal kebenaran yang disampaikan kawan-kawan di Blog ini, silahkan anda belajar lagi biar tahu bagaimana cara diskusi yang baik , dalam rangka Ud`u ila sabili robika bilhikmati wal mau`idzotil hasanah.
          lihat tuh yusuf ibrahim, muhammad hasan dan yang lainnya mampu mengetengahkan pendapat dengan baik, sehingga diskusinya jalan, Ilmu dan akhlaqnya kelihatan.

  62. mas, mamo kata wong ko lutan,
    ” Saya lega rasanya bisa keluar masuk blog ini tanpa hambatan sama sekali. Di blog yang diasuh oleh orang-orang Wahabi, komentar saya belum pernah ada yang ditampilkan ”
    saya juga merasakan yang sama, mas mamo sendiri gimana ? merasakan hal yang sama dengan wong ko lutan tidak ? sebab katanya, arumi juga merasakan seperti itu ?.

    1. samaaaaaa bos makanya aku lebih baik online di blog yang jelas2 cocok n bener2 mengkaji ilmu islam yang insyaAllah bener bos …. aku juga males cari2 blognya wahabi cuma nambah tekanan darah naik …..dan nggak ada gunanya aku pikir ….salam bahagia @ahmadsyahid

  63. Assalamualaikum.
    Alhamdulillah. ada bog seperti ini, jadi bisa menambah pengetahuan agi saya yang masih awam agama ini,
    sering saya mendapat keritikan kalau Tahlilan , yasinan dan maulid nabi semua itu dikatakan bid’ah. tetapi dengan masuk ke blog ini saya jadi tahu dasar melaksanakan kegiatan keagamaan tersebut, terima kasih untuk pembuat blog ini dan rekan rekan yang meberikan dalil dan alasan yang masuk akal untuk melaksanakan
    kegiatan keagamaan tersebut. Nuwun.
    Wassalamualaikum

  64. @yusuf ibrahim
    mas,, aku mau nannya ni, boleh ga seseorang mengamalkan beberapa ayat qur’an dengan tujuan tertentu,, seperti memperbanyak membaca surah al-hadid supaya bisa kuat saat memukul orang lain, atau membaca beberapa ayat dri surah yusuf agar disukai banyak wanita,,??? teman-teman saya banyak yang melakukan hal itu,,

  65. mengambil tanah kuburan untuk,, tujuan tertentu,, dibilang gak masalah,,?? yakin mas..?? padahal MUI sekalipun melarangnya,,,
    mas yusuf,, kayanya kita mesti banyak bersyukur karena Allah telah menjadikan kita sebagai hambaNya yang tak terlalu mudah dalam menilai suatu perkara,,,

    1. Wahabinya dah datang nih…, ngaku-ngaku gak gampang menilai lag?! Muhammad Hasan, dalam komentar-komentar antum yang dulu-dulu mengatakan bahwa tidak ada bid’ah khasanah? Antum yakin dengan pernyataan tidak ada bid’ah khasanah? Jawab ya?

  66. Furqon @
    ayat-ayat suci alqur`an yang semestinya di tujukan kepada kaum musrikin atau kafirin dan dzolimin, jika di tujukan kepada Muslimin, mu`minin lantaran karena muslimin dan mu`minin itu hanya beda faham soal amalan tawashul dan tabarruk, maka tidak lain bahwa yang membawakan aya-ayat tersebut menganggap, bahwa muslimin mu`minin tersebut telah keluar dari rel Agama , baca (kafir, musyrik, dholim ) (kecuali yang membawakan ayat-ayat tersebut benar benar tidak faham apa yang dikandungnya,)
    lantas Furqon membela abdurahman al-wani, apakah seperti ini wahabi / salafi mengajarkan sikap dalam perbedaan ?.
    yang saya lakukan bukan lah tuduhan tanpa bukti , anda bisa baca sendiri ayat-ayat yang dibawakan Abdurahman alwani seperti apa, karena saya berfikir positif maka saya ajak abdurahman alwani dan anda furqon, kalau mo diskusi silahkan, sebelum menasehati orang lain lebih baik nasehati diri anda sendiri dan abdurahman alwani dulu, agar tidak sembarangan menuduh orang lain dengan membawa aya-ayat yang semestinya ditujukan sesuai dengan ma`na dan maksud ayat-ayat tersebut.

    muhammad hassan @
    pada hakekatnya semua makhluq baik manusia,malaikat, jin, tumbuhan, binatang, tanah, batu dan makhluq lainnya, tidak mempunyai kelebihan apapun, tidak dapat memberikan manfaat maupun mudhorot apapun, tidak mempunyai khasiat apapun, kecuali dan semata mata hanya karena Allah lah, yang menaruh manfaat dan mudhorot serta kashiat dalam ciptaannya itu.
    seperti halnya Bodrek atau obat lainnya, pada hakekatnya tidak mempunyai kekuatan atau khasiat penyembuh apapun kecuali karena Allah menaruh efek menyembuhkan, karena pada hakekatnya Allah Lah yang menyembuhkan.

    jadi jika kita sakit kepala kemudian mencari, membeli kemudian meminum bodrek, agar menghilangkan rasa sakit dikepala kita, apakah lantas kita berkeyakinan bahwa Bodrek itulah yang menyembuhkan kita ? kalo ya, terjatuhlah kita kedalam kemusyrikan, kalo tidak, karena menganggap Bodrek hanya sebagai washilah ,penyebab saja karena pada hakekatnya kita berkeyakinan Allah yang menyembuhkan maka murni lah Tauhid kita, lantas apa bedanya dengan tanah kuburan ? Toh sama -sama makhluq ALLAH yang tidak mempunyai pengaruh apapun, jadi benar-benar tergantung I`tiqod dan keyakinan dalam hati kita.

    Wallahu a`lam Bishowab

  67. Alhamdulillah, diskusi ini sangat menarik untuk diambil manfaatnya. Saya mengikuti terus. Ternyata bung Ahmad Syahi, Zaenalm…cs mampu mengetengahkan argumen2 yang menunjukkan bahwa para aswaja juga berdasarkan dalil yang relevan dan tidak hanya sekedar taqlid saja.
    Saya beberapa kali mengunjungi situs salafi cs, pernah saya kirim tanggapan/komentar namun tidak ditampilkan (walau saya ulang beberapa kali), beda jauh dengan blog2 aswaja yang seru diskusinya.
    Dan kayaknya salafi yang paling gencar masuk blog aswaja adalah nama2 Yusuf Ibrahim, Abu Salman, Abu Hanin, dst (kalau saya nggak salah barangkali orangnya sama).
    Saya menghargai kegigihan ybs. Al mu’min akhul mu’min.

    1. gondrong @

      Wah, kangenku sama Mas Gondrong sudah terobati nih, alhamdulillah…. Selama ini kemana aja sih Mas? Ditunggu-tunggu sampai deg-degan tahu? Kita belum pernah jumpa, tapi rasanya begitu dekat Mas Gondrong…. Sering-sering muncul dong, biar aku jadi pengamat aja….?

      1. @Wong Ko Lutan
        Assalam…
        hehe…Alhamdulillah ana ada yg kangenin…
        ana nggak kemana mana,ana jadi pengamat aja…walau ada kesibukan urusan cari nafkah tapi Insya Allah ana kan slalu ikuti perkembangan di ummatiummati ini..
        deg2an knapa neh mas wong? hehe…
        yap ana jg mrasa dekat juga dgn mas wong dan lainnya di ummati ini,tapi ana juga dah lama nggak lihat mas saliq muncul ya..? kmn juga dia ya,he..he..

    2. Lengkap sudah, ngumpul semuanya, he he he…
      Terimakasih buat Mas Gondrong, Mas Wong, Mas Mamo, Mas Ahmad Syahid, Arumi dll yang nggak bisa disebut satu persatu….
      Tolong jagain ini blog biar tetap eksis ya….?

  68. -ahmadsyahid-

    saya ingin memberi sedikit saran saja kepada ‘ahmadsyahid’ dan ‘wong ko lutan’ ini, apabila ingin menanggapi komentar saya, alangkah baiknya komentar saya itu dibaca baik-baik, disimak baik-baik, kalo perlu dibaca lagi 2 atau 3 kali baru anda berkomentar, jangan baru baca sekali langsung dikomentari yang pada akhirnya anda berdua HANYA mengulang kembali apa yang sudah saya jelaskan dan tidak ‘menyentuh’ kepada masalah yang sedang saya bicarakan !

    Saya sudah bilang sebelumnya, kalo yang dimaksud tidak mempunyai daya dan upaya disini adalah daya dan upaya dalam hal perkara ghaib seperti menurunkan hujan, memberikan rizki, menghidupkan yang mati, mematikan yang hidup, menetapkan (menentukan) yang baik dan yang buruk dll, tanpa anda jelaskan panjang lebar pun, orang Islam palling bodoh juga tau kalo hal tsb TIDAK MUNGKIN bisa dilakukan oleh seorang makhluk Allah ! BAHKAN ORANG-ORANG MUSYRIKIN TERDAHULU PUN MEMPUNYAI KEYAKINAN SEPERTI ITU !

    Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ber¬takwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi ti¬dak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Ka¬takanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu di¬tipu?” (Al-Mu’minun: 86-89)

    Maka dari itu, kita semua tentu sudah tau bahwa segala manfaat dan mudharat itu memang semuanya berasal dari Allah, dan ini sudah tidak bisa diutak-atik lagi dan saya rasa kita sudah sepakat akan hal ini, tidak ada seorang muslimpun yang mengingkari masalah ini !

    Cuma kan yang sedang saya bicarakan saat ini adalah bagaimana cara meraih/memperoleh manfaat dan menolak mudharat itu? apakah dengan cara beramal shalih? apakah dengan melalui doa orang shalih yang masih hidup? ataukah dengan melalui doa orang yang telah wafat? ataukah melalui benda-benda yang dikeramatkan seperti tanah kuburan, pohon tua, batu keramat dll yang sejenisnya? maka, dibagian inilah yang sedang saya bicarakan saat ini !

    Sampai disini sekiranya anda berdua sudah paham !

    ——————————————————
    “….karena yusuf ibrahim senang berkelit, dan membuat alasan, dan suka MEMELINTIR perkataan saya…..”

    Jawab saya : mohon diberi petunjuk, dibagian mana saya memelintir perkataan anda? mungkin saja saya khilaf.

    —————————————————-
    “……perbedaan yang mati dan yang masih hidup seperti yang dicontohkan oleh yusuf Ibrahim yaitu manfa`at – manfa`at fisik melihat, mendengar, dan berupaya, adalah manfaat dhohir yang juga bisa dilakukan oleh keledai dan binatang lainny……..”

    Jawab saya : iya memang daya dan upaya yang bisa dilakukan oleh orang yang hidup hanyalah sebatas daya dan upaya secara dhohir saja, yang nampak, yang kasat mata, yang terlihat oleh mata kepala kita yang rata-rata bisa dilakukan oleh hampir semua manusia walaupun tentu hasilnya berbeda-beda sesuai kehendak Allah. Dan BUKAN daya dan upaya dalam urusan ghaib pastinya, justru jika kita meyakini lebih dari itu, maka dikhawatirkan kita bisa terjerumus ke dalam kesyrikan,
    Namun, jika disamakan dengan binatang, saya rasa ini terlalu berlebihan dan mungkin orang paling bodohpun tidak akan menyimpulkan seperti itu, karena tentu berbeda antara manusia dengan binatang.

    Secara dhohir sebagian besar binatang punya mata, manusia punya mata, binatang punya telinga, manusia punya telinga, binatang punya mulut, manusia punya mulut dan lain sebagainya yang merupakan ciri-ciri dhohir yang tidak bisa kita ingkari lagi, lantas dengan HANYA melihat ciri-ciri dhohir seperti itu, apakah langsung bisa kita katakan kalo manusia sama dengan binatang?

    Jadi, (maaf) tidak sesempit itu anda menyimpulkan perkataan saya. Lagipula, saya rasa tidak semua manfaat dhohir yang bisa dilakukan manusia, bisa dilakukan oleh binatang !

    ————————————————
    “Him, orang yang membolehkan tawassul dengan yang masih hidup dan melarang Tawassul dengan yang sudah meninggal, pada hakekatnya telah memasukan Syirik dalam I`tiqod dan tauhid mereka karena mereka mengi`tiqodkan bahwa yang hidup bisa memberikan ta`tsir (pengaruh)baik manfaat maupun madhorot, sementara yang meninggal tidak bisa, ……”

    Jawab saya : melarang bertawasul dengan orang yang telah wafat dan membolehkan bertawasul kepada orang yang masih hidup BUKAN BERARTI meyakini bahwa manfaat itu datangnya BUKAN dari ALLAH mas, gimana anda ini? jangankan manusia, seekor lebah saja bisa bermanfaat koq bagi kehidupan manusia, masa’ manusia tidak bisa bermanfaat bagi manusia yang lainnya? walaupun tetap manfaat tentu datangnya dari Allah, manusia hanya bisa berusaha, Allah lah yang menentukan !

    Namun, jika kita meminta kepada orang yang telah wafat untuk mendoakan kita, maka ada keanehan disini, orang yang wafat mendoakan yang hidup, bukankah ini terbalik? Bukankah justru orang yang hiduplah yang harusnya mendoakan yang wafat? karena secara dhohir saja antara yang hidup dan yang mati sudah berbeda, kecuali anda masih belum bisa membedakan yang hidup dann yang mati secara dhohir !

    Keanehan ini bisa dilihat dari berbaga sisi, jika kita meminta orang yang telah wafat utuk mendoakan kita, maka apakah orang tsb bisa mendengar doa kita? Lalu seandainya dia dengar, apakah dia bisa mendoakan kita? bukankah Allah berfirman,
    “dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar.” (Q.S Faathir : 22)

    “……..Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit jari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (Q.S Faathir : 13-14)

    ———————————————–
    “…….mereka tidak meyakini bahwa kuburan dapat memberikan manfaat maupun mudhorot, hanya ngalap berkah, karena mereka berkeyakinan bahwa ALLAH menaruh berkah di tempat tempatnya orang sholih karena kesholihannya…….”

    Jawab saya : kalo boleh saya pinjam kata-kata anda (cuma saya ganti objeknya) ; “Hid, orang yang membolehkan bertabaruk dengan tanah kuburan, pohon tua, batu keramat dll, pada hakekatnya telah memasukan Syirik dalam I`tiqod dan tauhid mereka karena mereka mengi`tiqodkan bahwa benda mati yang dikeramatkan (disucikan secara kamus bahasa indonesia) itu bisa memberikan ta`tsir (pengaruh)baik manfaat maupun madhorot.”

    Kalo itu jelas ada faktanya, coba anda baca lagi testimoni para peziarah kubur tsb, mereka meyakini tanah kuburan itu bisa mendatangkan manfaat dan menolak mudharat, bahkan bisa bermanfaat untuk perkara ghaib seperti nolak bala !…..Astaghfirllah….

    Jadi maaf, saya tidak mungkin bisa dibodohi oleh hujjah semacam itu mas, hujjah-hujjah itu hampir mirip dengan hujjahnya kaum musyrikin terdahulu untuk membenarkan penyembahan berhala yang mereka lakukan, bahkan mereka (kaum musyrikin) berdalih bahwa penyembahan berhala yang mereka lakukan semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah.

    Kalaulah jika Allah memberikan berkah di kuburan, coba tunjukan dalil yang menjelaskan bahwa kuburan itu merupakan tempat yang mengandung berkah?

    ——————————————————–
    “orang yang masih hidup dengan yang sudah meninggal adalah sama, dalam arti sama-sama tidak mempunyai daya dan upaya kecuali denga izin ALLAH, sama-sama tidak bisa memberikan manfaat dan mudhorot kecuali dengan izin ALLAH…………”

    Jawab saya : Padahal pertanyaan saya hanyalah, apakah orang yang telah wafat bisa melakukan seperti apa yang dilakukan oleh orang yang masih hidup?

    ———————————————————-
    “…..karena mereka berkeyakinan bahwa ALLAH menaruh berkah di tempat tempatnya orang sholih karena kesholihannya, meskipun orang sholih itu sudah meninggal, memang saya sendiri katakan itu perbuatan bodoh him, tapi tidak boleh divonis bahwa mereka itu Musyrik him !…”

    Jawab saya : ini yang aneh, perbuatan bodoh koq masih dibela, masih dicari-cari pembenarannya lagi, anda kan sudah tau kalo itu perbuatan bodoh, lantas untuk apa anda terus membela perbuatan bodoh semacam itu? bahkan mencari-cari pembenaran !

    Lagipula saya tidak pernah memvonis mereka musyrik, hanya perbuatannya saja yang syirik, hanya perbuatannya saja yang menyerupai kaum musyrikin. Maka dari itu coba anda baca lagi penjelasan saya bahwa perbuatan syrik TIDAK otomatis pelakunya seorang musyrik !

    Seperti halnya di zaman modern saat ini, tidak sedikit kaum muslimin saat ini yang gaya hidupnya seperti orang-orang kafir nashrani, lantas apakah kaum muslimin yang menyerupai kaum nashrani tsb langsung divonis kafir, tentu tidak seperti itu bukan?

    Jadi tolong baca kembali penjelasan saya, agar anda tidak melulu menuduh dan memvonis saya sebagai orang yang suka mengkafirkan seorang muslim, memusyrikan seorang muslim ! karena perkataan anda itu akan dimintai tanggung jawabnya di akhirat nanti !

    —————————————————–
    “Lagi-lagi ini soal I`tiqod him, tanah kuburan dengan Bodrek yang nt minum, sama -sama benda yang pada hakekatnya tidak mempunyai khasiyat apapun, kacuali karena ALLAH menaruh berkah ditanah dan khasiat obat di bodrek……:

    Jawab saya : JANGAN MENCARI-CARI PERUMPAMAAN untuk melakukan pembenaran terhadap PERBUATAN yang sudah anda anggap BODOH mas ! JANGAN SAMAKAN bodrek dengan tanah kuburan mas, kalo saya adalah pemilik bodrek, saya akan marah kepada anda, masa produk saya disamakan dengan tanah kuburan? jangan-jangan anda juga menyamakan bodrek dengan ‘tai kebo kyai slamet’ yang dianggap bertuah itu lagi mas?

    Lagipula sejak kapan Allah menaruh berkah ditanah kuburan mas? adakah dalil yang menyebutkan bahwa tanah kuburan itu mengandung berkah?

    Adapun saya katakan berbeda dengan bodrek karena bodrek secara ilmu medis memang mengandung dzat-dzat yang memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit dan ini bisa dibuktikan secara ilmiah mas, walaupun tentu khasiat tsb datangnya dari Allah,
    Lain halnya dengan tanah kuburan, tanah kuburan tidak mempunyai khasiat apapun apabila dilihat dari berbagai sisi seperti,

    1. Dalil naqli, tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa tanah kuburan itu dapat menyembuhkan penyakit, bahkan bisa digunakan untuk perkara ghaib seperti nolak bala, keselamatan dll.

    2. Dalil aqli, tidak ada keterangan secara ilmiah (ilmu medis) kalo tanah kuburan itu dapat menyembuhkan penyakit.

    Apabila kita melihat beberapa peristiwa yang terjadi di makam keramat tsb, maka kita akan bertanya-tanya, sebenarnya apa khasiat dari tanah kuburan itu? menyembuhkan penyakit atau menolak bala?

    Jadi, jika kita masih tetap meyakini bahwa tanah kuburan itu memiliki khasiat ini dan itu, apalagi digunakan untuk perkara-perkara yang ghaib seperti untuk keselamatan, nolak bala dsb, maka jelas keyakinan semacam ini merupakan kebodohan yang nyata !

    Waallahu ‘alam !

    ————–

    Note : lagi juga, hare gene masih percaya sama tanah kuburan !

  69. @ yusuf Ibrahim ….maaf menyela …hanya menanggapi …….apa komentaar anda dengan orang yang sembuh dgn BATUNYA PONARI di jawa timur ?????? apa bedanya BATU PONARI dgn tanah kuburan ….apa bedanya BATU PONARI dgn bodrek ???? kalo nggak ada ijin Alloh benda2 tersebut pasti ngga ada gunanya untuk pengobatan . nggak akan ada org berbondong bondong ke tempat PONARI ……1x lagi maaf ….silahkan lanjut…..

  70. maaf tambahan …….bukan nyamain bodrek dgn batunya ponari secara harfiyah ( takut yang pnya bodrek marah )…. kalau butuh Dalil naqli/ aqli langsung aja studi banding ke jawa timur sekalian bawa bodrek ……he…he….

  71. –yusuf ibrahim –
    Alhamdulillah sudah lama saya tunggu –tunggu eh muncul juga neh, dari mana aja him ? udah seminggu neh nt ga komentar, nt baek-baek ajakan ? sukur deh.

    Yusuf ibrahim : saya ingin memberi sedikit saran saja kepada ‘ahmadsyahid’ dan ‘wong ko lutan’ ini, apabila ingin menanggapi komentar saya, alangkah baiknya komentar saya itu dibaca baik-baik, disimak baik-baik, kalo perlu dibaca lagi 2 atau 3 kali baru anda berkomentar, jangan baru baca sekali langsung dikomentari yang pada akhirnya anda berdua HANYA mengulang kembali apa yang sudah saya jelaskan dan tidak ‘menyentuh’ kepada masalah yang sedang saya bicarakan !

    Jawab saya : iya him komentar nt ini emang bener bener mengandung nilai sastra yang sangat tinggi, wajar dong kalo aku sama wong kolutan butuh 2 atau 3 kali buat mahaminnya, sory him ya ?. saran saya kalo bikin komentar sastranya jangan tinggi-tinggi him entar nyaingin qur`an lagi ? he he he.

    Yusuf ibrahim : Saya sudah bilang sebelumnya, kalo yang dimaksud tidak mempunyai daya dan upaya disini adalah daya dan upaya dalam hal perkara ghaib seperti menurunkan hujan, memberikan rizki, menghidupkan yang mati, mematikan yang hidup, menetapkan (menentukan) yang baik dan yang buruk dll, tanpa anda jelaskan panjang lebar pun, orang Islam palling bodoh juga tau kalo hal tsb TIDAK MUNGKIN bisa dilakukan oleh seorang makhluk Allah ! BAHKAN ORANG-ORANG MUSYRIKIN TERDAHULU PUN MEMPUNYAI KEYAKINAN SEPERTI ITU !.

    Jawab saya : him kalo yang nt maksudkan ” tidak mempunyai daya dan upaya disini adalah daya dan upaya dalam hal perkara ghaib seperti menurunkan hujan, memberikan rizki, menghidupkan yang mati, mematikan yang hidup, menetapkan (menentukan) yang baik dan yang buruk dll ” berarti nt meyakini diluar yang nt sebutkan diatas ,khususnya perkara dhohir seperti kemampuan mengendarai motor, mobil, berjalan, membukakan pintu, melempar dll, manusia yang masih hidup bisa melakukannya tanpa ada qodrat dan irodat ALLAH ?
    kalo seperti ini nt punya keyakinan, nt sudah terjatuh kedalam kemusyrikan him. Tidak ada satu makhluq pun yang mempunyai kemampuan, jangankan membukakan pintu, mengedipkan mata pun tanpa qudrot dan irodat ALLAH siapapun tidak bisa melakukannya !!. Hati-hati him benang pemisahnya sangat Tipis lo ingetkan ?
    jadi orang Paling Bodoh mana him, yang masih SAJA MEMBEDAKAN kemampuan daya dan upaya dalam hal perkara ghaib dengan daya upaya dalam perkara dohir ? padahal keduanya sama him, tanpa ada qodrat dan irodat ALLAH tidak mungkin bisa dilakukan ! BAHKAN AKAL NAMRUDZ PUN( karena kedangkalannya ) TIDAK MAMPU MEMAHAMI KATA-KATA NABI IBROHIM, HINGGA NABI IBRAHIM MENGATAKAN : sungguh ALLAH mendatangkan Matahari dari timur maka datangkanlah matahari itu olehmu dari arah barat !!, lihat seorang Namrudz yang kafir pun memiliki logika yang hampir mirip dengan nt him !.

    yusuf Ibrahim : Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (Al-Mu’minun: 86-89)
    Maka dari itu, kita semua tentu sudah tau bahwa segala manfaat dan mudharat itu memang semuanya berasal dari Allah, dan ini sudah tidak bisa diutak-atik lagi dan saya rasa kita sudah sepakat akan hal ini, tidak ada seorang muslimpun yang mengingkari masalah ini !

    Jawab saya : justeru ayat suci al-qur`an yang nt bawakan diatas , menunjukkan bahwa Kekuasaan hanya milik ALLAH semata, lantas kenapa nt masih membedakan, kemampuan pada hal yang ghaib makhluq tidak bisa melakukannya, sementara kemampuan yang dhohir makhluq bisa melakukannya, gimana nt him mahamin ayat yang gamblang aja masih bolak balik ga karuan, jangan jadi Namrudz abad millennium him ok ?

    Yusuf ibrahim : Cuma kan yang sedang saya bicarakan saat ini adalah bagaimana cara meraih/memperoleh manfaat dan menolak mudharat itu? apakah dengan cara beramal shalih? apakah dengan melalui doa orang shalih yang masih hidup? ataukah dengan melalui doa orang yang telah wafat? ataukah melalui benda-benda yang dikeramatkan seperti tanah kuburan, pohon tua, batu keramat dll yang sejenisnya? maka, dibagian inilah yang sedang saya bicarakan saat ini !Sampai disini sekiranya anda berdua sudah paham !

    Jawab saya : him yang kita bicarakan ini soal Tawassul dengan orang yang sudah meninggal, dan soal Tabarruk yang nt contohin dengan tanah kuburan, ente membedakan tawassul dengan yang masih hidup boleh, karena menurut nt punya kemampuan pada hal-hal dhohir, sementara yang mati tidak mempunyai kemampuan apapun. Sedangkan menurut saya keduanya sama-sama tidak mempunyai kemampuan/ kuasa, baik hal dhoir maupun hal ghaib, kecuali dengan izin qudrot dan irodat ALLAH swt. Jadi bukan soal cara meraih atau menolak seperti yang nt katakan.

    Jawab saya : mohon diberi petunjuk, dibagian mana saya memelintir perkataan anda? mungkin saja saya khilaf..

    Jawab saya : iya him manusia memang banyak khilafnya.

    Yusuf ibrahim : iya memang daya dan upaya yang bisa dilakukan oleh orang yang hidup hanyalah sebatas daya dan upaya secara dhohir saja, yang nampak, yang kasat mata, yang terlihat oleh mata kepala kita yang rata-rata bisa dilakukan oleh hampir semua manusia walaupun tentu hasilnya berbeda-beda sesuai kehendak Allah. Dan BUKAN daya dan upaya dalam urusan ghaib pastinya, justru jika kita meyakini lebih dari itu, maka dikhawatirkan kita bisa terjerumus ke dalam kesyrikan,
    Namun, jika disamakan dengan binatang, saya rasa ini terlalu berlebihan dan mungkin orang paling bodohpun tidak akan menyimpulkan seperti itu, karena tentu berbeda antara manusia dengan binatang.

    Jawab saya : keyakinan inilah him yang berbahaya nt katakan :” iya memang daya dan upaya yang bisa dilakukan oleh orang yang hidup hanyalah sebatas daya dan upaya secara dhohir saja, yang nampak, ” jika keyakinan nt seperti ini, nt sudah terjatuh kedalam kemusyrikan, karena nt meyakini adanya daya dan upaya dari selain ALLAH. Jadi tidak perlu lebih dari ini, seperti inipun sudah cukup membuat orang terjatuh kedalam kemusyrikan. Sebab kemampuan dan kuasa itu hanya milik ALLAH SEMATA ! La haula wala quwata illa billah / wama romaita idz romaita walakinnallaha roma ” tidak ada daya dan upaya kecuali dengan ijin, qudrat dan iradat ALLAH ” tidaklah engkau melempar ( wahai muhammad), akan tetapi ALLAH lah yang telah melempar. Adapun perbedaan antara manusia dengan binatang seperti yang yusuf ibrahim contohkan , tentu orang paling bodoh pun tahu itu, tanpa perlu yusuf ibrahim jelaskan panjang lebar.

    Yusuf Ibrahim : Secara dhohir sebagian besar binatang punya mata, manusia punya mata, binatang punya telinga, manusia punya telinga, binatang punya mulut, manusia punya mulut dan lain sebagainya yang merupakan ciri-ciri dhohir yang tidak bisa kita ingkari lagi, lantas dengan HANYA melihat ciri-ciri dhohir seperti itu, apakah langsung bisa kita katakan kalo manusia sama dengan binatang ?

    Jawab saya : terlalu berlebihan him nt menjelaskan seperti itu, tanpa dijelaskan panjang lebarpun orang paliiiiiing bodoh pun tahu itu.
    Jadi, (maaf) sesempit itu nt menyimpulkan perkataan saya.him, Lagipula, saya rasa manfaat dhohir bagi arwah orang yang sudah meninggal, tidak dibutuhkan lagi.

    Yusuf Ibrahim : melarang bertawasul dengan orang yang telah wafat dan membolehkan bertawasul kepada orang yang masih hidup BUKAN BERARTI meyakini bahwa manfaat itu datangnya BUKAN dari ALLAH mas, gimana anda ini?

    Jawab saya : jika nt meyakini bahwa manfaat itu datangnya dari ALLAH, lantas kenapa ente bedakan yang masih hidup dengan yang sudah mati ? toh sama-sama manfaat/mudhorot itu datangnya dari ALLAH ?
    sebab jika membolehkan tawassul dari yang masih hidup saja, berarti ada keyakinan bahwa yang masih hidup itu dapat memberikan manfa`at / mudhorot tanpa izin ALLAH, seperti yang nt katakan diatas, jika demikian berarti juga ada keyakinan, ada pencipta selain ALLAH dan ini Kemusyrikan yang nyata. jika nt menolak kesimpulan ini, kenapa nt masih ngotot ngebeda in antara yang hidup dan yang sudah meninggal dalam hal memberikan pengaruh positif atau negative ? toh keduanya sama-sama tidak bisa memberikan manfaat maupun mudhorot kecuali atas izin ALLAH !.

    yusuf ibrahim : jangankan manusia, seekor lebah saja bisa bermanfaat koq bagi kehidupan manusia, masa’ manusia tidak bisa bermanfaat bagi manusia yang lainnya?

    Jawab saya : manusia paliiiiiing bodoh pun paham itu him.

    Yusuf ibrahim : walaupun tetap manfaat tentu datangnya dari Allah, manusia hanya bisa berusaha, Allah lah yang menentukan !.

    jawab saya : seperti yang saya katakan him, manfaat dan mudhorot itu, datangnya hanya dari Allah semata, manusia hanya bisa berusaha itupun hanya dengan izin ALLAH, tanpa izin dan kehendakNYA mustahil manusia bisa berusaha.

    Yusuf ibrahim : Namun, jika kita meminta kepada orang yang telah wafat untuk mendoakan kita, maka ada keanehan disini, orang yang wafat mendoakan yang hidup, bukankah ini terbalik? Bukankah justru orang yang hiduplah yang harusnya mendoakan yang wafat? karena secara dhohir saja antara yang hidup dan yang mati sudah berbeda, kecuali anda masih belum bisa membedakan yang hidup dan yang mati secara dhohir !.
    Keanehan ini bisa dilihat dari berbaga sisi, jika kita meminta orang yang telah wafat utuk mendoakan kita, maka apakah orang tsb bisa mendengar doa kita? Lalu seandainya dia dengar, apakah dia bisa mendoakan kita? bukankah Allah berfirman,
    .” (Q.S Faathir : 22).” (Q.S Faathir : 13-14)

    jawab saya : him, aneh itu terjadi jika sebab keanehannya belum diketahui, jika penyebab keanehan diketahui maka tidak aneh lagi, dan bagi ALLAH tidak ada yang aneh, persoalan yang ghaib tidak bisa di rasionalisasi him, justeru keheranan nt inilah yang lebih aneh lagi seakan nt tidak pernah membaca ayat suci Al-qur`an yang lain seperti firman ALLAH ” “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.”(QS. Ali Imran ayat 169) atau hadist Rosulallah :“Orang yang mati syahid memiliki enam keutamaan di sisi Allah yaitu : Dia diampuni pada awal penyerangannya, diperlihatkan tempat duduknya di Surga, dilindungi dari adzab kubur, merasa aman dari ketakutan yang dahsyat, diletakkan di atas kepalanya mahkota kehormatan yang permatanya lebih baik daripada dunia beserta isinya, dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari dan (diberi ijin) memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari keluarganya.” (HR. Tirmidzi dari Miqdam bin Ma’dikarib, dalam Shahih At Tirmidzi 2/132).
    Dan hadist hadist lainnya him, terus terang saya rada males bawain dalil-dalil sebab nt sendiri sering banyak bawa dalil tapi ga tepat sasaran, seperti dua ayat yang ente bawakan diatas adalah Hujjah yang ALLAH sampaikan untuk musyrikin dan kafirin atas sesembahan mereka, bukan Hujjah yang ALLAH tegakkan atas keadaan Sholihin dalam kubur mereka, sebagaimana dijelaskan oleh ayat 169 qs al-imran diatas , sangat jauh berbeda him antara orang mati dalam keadaan Kafirin Musyrikin dengan orang yang mati dalam keadaan Mu`minin Sholihin.
    Sekali-kali jangan di sama kan him !. malahan Justeru ayat yang nt bawakan (Q.S Faathir : 22) “dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar.” Adalah boomerang, senjata makan tuan bagi nt him, nt faham Tafsirran ayat yang nt kira mendukung Pernyataan nt itu ? subhanallah Belajar lagi aja him nt ini banyak bawa senjata makan tuan him, kalo nt pengen jelas tafsirannya apa , tanya dong ok ?.
    Kemudian him soal keanehan nt ” orang yang wafat mendoakan yang hidup, bukankah ini terbalik? Bukankah justru orang yang hiduplah yang harusnya mendoakan yang wafat? karena secara dhohir saja antara yang hidup dan yang mati sudah berbeda, kecuali anda masih belum bisa membedakan yang hidup dan yang mati secara dhohir !.
    ente merasa aneh karena nt mencoba MERASIONALISASIKAN perkara Ghaib him, atau nt tidak pernah mendengar Rosulallah saw, ber Tawassul dengan para Nabi yang nota bene telah Wafat ? atau nt belum pernah mendengar Hadist yang diriwayatkan oleh sayidina Jabir bin abdillah bahwa Rosulallah saw bersabda :” sesungguhnya semua amal kalian akan dipertontonkan kepada kerabat dan keluarga kalian dikubur mereka, jika amalan kalian baik, maka ahli kubur akan merasa bahagia, dan jika amal kalian jelek, mereka ( yg sudah wafat ) Berdo`a ya ALLAH, ilhamkanlah kepada mereka (yg masih hidup) untuk melakukan ketaatan kepadamu ”
    Atau menurut nt hadist-hadist itu adalah hadist Doif ? sejak kapan nt jadi Muhadist him ? atau jangan –jangan nt belum faham apa itu Tawassul ? sebab diatas ente mengatakan : ” jika kita meminta orang yang telah wafat utuk mendoakan kita, maka apakah orang tsb bisa mendengar doa kita ” ini menunjukan nt belum faham apa itu Tawassul him, makanya ayo ikut dengan saya tawassulan, mau ?

    Yusuf ibrahim : kalo boleh saya pinjam kata-kata anda (cuma saya ganti objeknya) ; “Hid, orang yang membolehkan bertabaruk dengan tanah kuburan, pohon tua, batu keramat dll, pada hakekatnya telah memasukan Syirik dalam I`tiqod dan tauhid mereka karena mereka mengi`tiqodkan bahwa benda mati yang dikeramatkan (disucikan secara kamus bahasa indonesia) itu bisa memberikan ta`tsir (pengaruh)baik manfaat maupun madhorot.”

    Jawab saya : ini salah satu contoh bagaimana kata-kata saya dipelintir sama nt him, kata-kata itu, saya gunakan dalam konteks Tawassul bukan Tabarruk seperti yang nt sampaikan, karena pemahamannya akan sangat berbeda him, jika dipotong dari konteks aslinya dan diberi objek yang beda seperti itu him, apa nt tidak bisa lebih kreatif ketimbang hanya pinjam kata-kata saya dengan memotong konteks aslinya ?

    Yusuf ibrahim : Kalo itu jelas ada faktanya, coba anda baca lagi testimoni para peziarah kubur tsb, mereka meyakini tanah kuburan itu bisa mendatangkan manfaat dan menolak mudharat, bahkan bisa bermanfaat untuk perkara ghaib seperti nolak bala !…..Astaghfirllah….

    Jawab saya : inilah kekeliruan manhaj salafi/wahabi him, mereka melarang adanya ta`wil, semua harus dima`nai sesuai ma`na Aslinya, pake kamus segala seakan sedang menerjemahkan Al-qur`an atau dokumen berharga lainnya, him kata-kata itu ada majaz, lafdzi, dan hakiki, dalam kasus diatas sama sekali ente tidak boleh mengartikannya secara hakiki, sebagai mana kamus karena beberapa hal 1. ente tidak melakukan klarifikasi secara langsung, apa maksud dan tujuan perkataan mereka itu 2. masalah keyakinan itu masalah hati him, tidak cukup hanya lewat prasangka saja seperti yang nt lakukan 3. kata-kata tidak bisa 100% mewakili maksud hati bahkan 50% pun tidak, kecuali nt malaikat yang ALLAH beri kemampuan mengetahui isi hati orang lain 4. kata-kata ” mereka meyakini tanah kuburan itu bisa mendatangkan manfaat dan menolak mudharat, bahkan bisa bermanfaat untuk perkara ghaib seperti nolak bala !” mempunyai nilai yang sama jika ente mengatakan : dokter meyakini tumbuhan a itu bisa menyembuhkan penyakit anu, atau jagal meyakini pisau bisa untuk menyembelih ” kata-kata seperti ini harus dipahami sebagai mazaz saja bukan hakiki, karena seperti itulah komunikasi manusia dalam interaksi social 5. jika nt tetap memahami itu dengan ma`na hakiki sesuai kamus, apa buktinya kalau itu yang memang dimaksud oleh orang yang mengatakannya (selain kata-katanya) ? sebab isi hati orang tidak ada yang tahu kecuali ALLAH, atau nt merasa tahu yang Ghaib ? tahu isi hati orang ? hingga menghukumi mereka telah melakukan perbuatan syirik ?.

    Yusuf ibrahim : Jadi maaf, saya tidak mungkin bisa dibodohi oleh hujjah semacam itu mas, hujjah-hujjah itu hampir mirip dengan hujjahnya kaum musyrikin terdahulu untuk membenarkan penyembahan berhala yang mereka lakukan, bahkan mereka (kaum musyrikin) berdalih bahwa penyembahan berhala yang mereka lakukan semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah.

    Jawab saya : he he he ente kok su`udzon aja sih siape yang mo bodohin NT ? he heh he him, ente sudah ngulangin kata-kata nt lagi aja, menyamakan kita yang berTawassul berTabarruk dengan kaum Musyrikin ? kan udah kita bahas ayat 3 surat azzumar itu ? masa ente ga faham-faham ? kebodohan itu jangan dipertahankan him open mind lah , beda jauh him antar menyembah berhala sama ber Tawassul dan Tabarruk, jujur nt faham Tawassul enggak sih ?

    Yusuf ibrahim : Kalaulah jika Allah memberikan berkah di kuburan, coba tunjukan dalil yang menjelaskan bahwa kuburan itu merupakan tempat yang mengandung berkah?

    Jawab saya : ini baru pembodohan yang sangat nyata him, masa ente enggak ngerasa dibodohin sama fahamnya wahabi/salafy ? apa ente gak sadar him ente berdiri, berjalan, tidur, makan bahkan semua aktifitas kehidupan ente ini diatas tanah, itu semuanya Berkat tanah Him, masa keberadaan Matahari dan bulan masih perlu dalil yang bener aja nt him ? him, kuburannya orang kafir/Musyrik tidak sama dengan kuburannya orang muslim, kuburan orang muslimpun berbeda, satu sama lainnya sesuai dengan kesholehan masing-masing, ada kuburan Awliya para wali Dan Anbiya para Nabi , jadi sebenarnya bukan dzat kuburannya yang ALLAH beri berkah tetapi orang yang menempatinya, makanya Allah berfirman : ” “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.”(QS. Ali Imran ayat 169) Subhanallah didalan kuburpun mereka hidup dan diberi Rizki apa itu bukan keberkahan him ?

    Yusuf ibrahim : Padahal pertanyaan saya hanyalah, apakah orang yang telah wafat bisa melakukan seperti apa yang dilakukan oleh orang yang masih hidup ?

    Jawab saya : masa yang kaya gitu masih ditanyain him ? orang yang paliiiiiiing …….. ……juga tahu bedanya him

    Yusuf ibrahim : ini yang aneh, perbuatan bodoh koq masih dibela, masih dicari-cari pembenarannya lagi, anda kan sudah tau kalo itu perbuatan bodoh, lantas untuk apa anda terus membela perbuatan bodoh semacam itu? bahkan mencari-cari pembenaran !

    Jawab saya : him, yang namanya hukum ya hukum him, harus dikatakan apa adanya, jangan sampe kita membolehkan perbuatan yang dilarang atau melarang perbuatan yang dibolehkan oleh Syare`at, sebab menghalalkan apa yang diharamkan atau mengharamkan apa yang di halalkan oleh ALLAH, bisa membuat pelakunya menjadi Kafir menurut Ijma` Ulama.

    Yusuf ibrahim : Lagipula saya tidak pernah memvonis mereka musyrik, hanya perbuatannya saja yang syirik, hanya perbuatannya saja yang menyerupai kaum musyrikin. Maka dari itu coba anda baca lagi penjelasan saya bahwa perbuatan syrik TIDAK otomatis pelakunya seorang musyrik !
    Seperti halnya di zaman modern saat ini, tidak sedikit kaum muslimin saat ini yang gaya hidupnya seperti orang-orang kafir nashrani, lantas apakah kaum muslimin yang menyerupai kaum nashrani tsb langsung divonis kafir, tentu tidak seperti itu bukan?

    Jawab saya : silahkan saja nt seperti itu , menggunakan kata-kata yang umum ditujukan untuk perbuatan yang umum dilakukan oleh masyarakat ,kemudian ditarik menjadi penilaian yang subjektif, personal. Seperti halnya menuduh si a telah mencuri, namun ketika ditanyakan bukti, dengan enteng dijawab oh engga perbuatannya aja kok yang mirip pencuri, coba baca lagi him pernyataan nt.

    Yusuf ibrahim : Jadi tolong baca kembali penjelasan saya, agar anda tidak melulu menuduh dan memvonis saya sebagai orang yang suka mengkafirkan seorang muslim, memusyrikan seorang muslim ! karena perkataan anda itu akan dimintai tanggung jawabnya di akhirat nanti !

    Jawab saya : Tunjukkan him, di point yang mana saya melulu menuduh dan memvonis nt sebagai orang yang suka mengkafirkan seorang muslim, memusyrikan seorang muslim ! jadi tolong baca lagi pernyataan saya, dan ini jelas penyataan nt
    ” saya tidak mungkin bisa dibodohi oleh hujjah semacam itu mas, hujjah-hujjah itu hampir mirip dengan hujjahnya kaum musyrikin terdahulu untuk membenarkan penyembahan berhala yang mereka lakukan, bahkan mereka (kaum musyrikin) berdalih bahwa penyembahan berhala yang mereka lakukan semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah.”
    Apakah ini bukan upaya menyamakan Muslimin Mu`minin sejak zaman Rosulallah saw hingga hari ini, yang melakukan Tawassul Tabarruk dengan Kaum Musyrikin yang menyembah Berhala ? Bahkan Rosulallah dan para Sahabatnya pun terkena generalisasi yang nt lakukan, karena Rosulallah saw beserta Sahabatnya melakukan Tawassul dengan para Nabi yang Nota bene sudah wafat ?. pernyataan nt itu akan dimintai tanggung jawabnya di akhirat nanti ! (kalo gak segera tobat)

    Yusuf ibrahim : JANGAN MENCARI-CARI PERUMPAMAAN untuk melakukan pembenaran terhadap PERBUATAN yang sudah anda anggap BODOH mas ! JANGAN SAMAKAN bodrek dengan tanah kuburan mas, kalo saya adalah pemilik bodrek, saya akan marah kepada anda, masa produk saya disamakan dengan tanah kuburan? jangan-jangan anda juga menyamakan bodrek dengan ‘tai kebo kyai slamet’ yang dianggap bertuah itu lagi mas ?.

    Jawab saya : hukum itu harus dikatakan apa adanya him seperti yang sudah saya jelaskan diatas, adapun saya jelaskan dengan logika semata-mata hanya untuk mendekatkan pemahaman, karena betapa tipisnya benang pemisah antara syirik dan tauhid itu, sebab percuma saya bawain dalail jika nt juga gak paham, Buktinya dalil baik qur`an maupun hadist yang nt bawakan kebanyakan tidak tepat sasaran Rosulallah pun melakukan Tawassul sebagaimana diriwayatkan oleh Imam atthobroni yang menurut, alhafidz alghimari hadist itu hasan, sementara menurut Ibnu hibban Hadist itu Shohih, dan saya lebih percaya kepada alghimari dan ibnu hibban ketimbang Al-bani yang banyak kontradiksinya. Soal pemilik bodrek marah atau tidak itu tergantung nyikapinnya him, masa produknya saya promosiin marah ? kan malah jadi populer tuh bodrek. Kenapa saya pake contoh bodrek ? karena saya suka pake dan cocok lagi pula saya tahu yang punya bukan nt, kalo yang punya nt ga bakal tuh saya pake, soalnya nadanya emosi terus, nanti ketularan darah tinggi lagi he he he

    Yusuf Ibrahim : Lagipula sejak kapan Allah menaruh berkah ditanah kuburan mas? adakah dalil yang menyebutkan bahwa tanah kuburan itu mengandung berkah ?

    Jawab saya : dalil dan penjelasannya sudah saya sampaikan diatas silahkan cek lagi , dan Hanya orang-orang yang buta saja, yang menanyakan bukti keberadaan Matahari.

    Yusuf ibrahim : Adapun saya katakan berbeda dengan bodrek karena bodrek secara ilmu medis memang mengandung dzat-dzat yang memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit dan ini bisa dibuktikan secara ilmiah mas, walaupun tentu khasiat tsb datangnya dari Allah,
    Lain halnya dengan tanah kuburan, tanah kuburan tidak mempunyai khasiat apapun apabila dilihat dari berbagai sisi seperti,
    1. Dalil naqli, tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa tanah kuburan itu dapat menyembuhkan penyakit, bahkan bisa digunakan untuk perkara ghaib seperti nolak bala, keselamatan dll.
    2. Dalil aqli, tidak ada keterangan secara ilmiah (ilmu medis) kalo tanah kuburan itu dapat menyembuhkan penyakit.
    Apabila kita melihat beberapa peristiwa yang terjadi di makam keramat tsb, maka kita akan bertanya-tanya, sebenarnya apa khasiat dari tanah kuburan itu? menyembuhkan penyakit atau menolak bala ?.

    Jawab saya : sekali lagi saya katakan, kekliruan ente adalah mencoba MERASIONALISASI sesuatu yang bukan domainnya akal, dan sangat lah bodoh jika perkara ghaib disamakan dengan perkara dhohir, ingin pembuktian empiric, ilmiyah pada wilayah yang ghaib, sejak kapan ada LABORATORIUM alam ghaib him ? dan sekali lagi saya ingatkan bahwa : sebenarnya bukan dzat tanah kuburannya yang ALLAH beri berkah tetapi orang yang menempatinya, makanya Allah berfirman : ” “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.”(QS. Ali Imran ayat 169) Subhanallah didalan kuburpun mereka hidup dan diberi Rizki apa itu bukan keberkahan him ?
    Yusuf ibrahim : Jadi, jika kita masih tetap meyakini bahwa tanah kuburan itu memiliki khasiat ini dan itu, apalagi digunakan untuk perkara-perkara yang ghaib seperti untuk keselamatan, nolak bala dsb, maka jelas keyakinan semacam ini merupakan kebodohan yang nyata !.
    Jawab saya : sebelumnya nt mengatakan itu perbuatan syirik lalu saya katakan itu perbuatan bodoh Alhamdulillah nt ikutin istilah saya, meskipun beda maksud, karena yang saya maksud perbuatan bodoh adalah pengambilan tanah kuburan itu bisa menyebabkan kuburannya Amblas, sama sekali saya tidak menafikan adanya khasiat tertentu didalamnya, karena kita sama sekali tidak mengetahui hal yang ghaib, lagi pula ketika tidak ada dalil secara khusus tentang keberkahan tanah kuburan, apakah itu juga berarti menunjukan tidak adanya khasiat ? sangatlah bodoh jika mengatakan sama sekali tidak ada khasiatnya, seolah pernah melakukan penelitian atas tanah kuburan atau memang nt mengetahui hal yang ghaib ? atau nt mengetahui segala sesuatu ? jangan hanya karena kita tidak tahu kemudian kita katakan tidak ada, katakan saja saya tidak tahu, jangan sok tahu karena hanya akan menampakan kebodohan saja.
    Waallahu ‘alam !

    Terakhir ente tahukan ceritanya Nabi Ibrahim dengan Raja Namrudz, bisa diambil hikmah permainan logikanya tuh, ketika Nabi Ibrahim as, katakan ALLAH tuhanku yang menghidupkan dan yang mematikan, saking dangkalnya tuh namrudz dia katakan ” saya juga menghidupkan dan mematikan ” oh rupanya nalarnya ikut bicara tanpa faham apa sesungguhnya maksud Nabi Ibrahim as, tapi awas jangan hanya ada kesamaan nama ” Ibrahim ” terus ngaku Nabi lagi ? he he he

  72. Muhammad hassan yang tepat muhammad hasan, satu s sesuai ejaan Arab.

    sebaik baik media Tawassul, Tabarruk adalah menggunakan Al-qur`an, Asmaul husna, para Nabi dan Rosul, orang-orang sholeh baik yang masih Hidup maupun yang sudah Wafat, sisa-sisa atau barang-barang Bekas peninggalan para Nabi, Rosul dan Orang orang Sholih, Termasuk didalamnya para Wali Dan Kuburan mereka.

    Lafadz Tawassul dan Tabarruk, ” Ya Allah dengan kedudukan Nabimu fulan atau Walimu Fulan Kabulkanlah Hajat , maksud dan tujuanku atau doaku ….. (isi dengan Hajat/maksud tujuan).
    Ya Allah aku mohon keberkahan Rambut, Baju,tanah kuburan, Wali fulan agar engkau ya Allah mengaabulkan Hajatku,……./ kesembuhan…….

    Ya Rosulallah mintakanlah kepada Allah agar mengampuni dosaku , Ya Rosulallah telah sempit dunia ini dan aku tidak tidak kuat lagi menahannya mintakanlah kepada Allah agar kesusahan dan cobaan ini dihilangkan, atau dengan kata-kata lain yang relevan meskipun kalimatnya seperti, sedang meminta kepada yang masih hidup.

    demikian semoga bermanfa`at.

    1. saya rasa apa yang disampaikan oleh mas Arumi sudah cukup, bagi orang yang mencari kebenaran, namun untuk menghapus keraguan Saudara Muhammad Hasan ada Baiknya kita Nukilkan satu Hadist Nabi, bahwa Abu Musa Al-Asy`ari R.A mengatakan dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan Abu JUhfah R.A darinya, Nabi SAW meminta diambilkan secawan air lantas membasuh kedua tangan dan Wajah beliau dengan air tersebut lantas menuangkannya, kemudian beliau bersabda kepada Abu Musa R.A dan Abu Juhfah R.A : ” minumlah kalian berdua darinya dan tuangkanlah pada wajah dan leher kalian berdua “, ( HR. Bukhori 185 ) hadist ini adalah perintah dari Rosulallah SAW agar melakukan Tabarruk pada bekas-bekas beliau. dan masih banyak Hadist lain yg se ma`na.
      adapun pernyataan bahwa tabarruk ini merupakan perbuatan yang sia-sia tanpa makna, dan tidak ada faedah bagi mereka yang melakukannya, maka sungguh jauh kemungkinannya para Sahabat melakukan perbuatan yang tiada arti sama sekali, dan jauh kemungkinannya Rosulallah menetapkan perbuatan yang tiada arti.

  73. masalah tawassul,,pada nabi memang ada hadistnya,, meskipun masih terjadi perdebatkan ulama tentang kesahihan hadist itu. tapi tentang tawassul pada barang-barang peninggalan nabi, kuburan nabi dan para wali,, apa itu ada keterangannya???

  74. Mas Ahmad Syahid @

    (Maaf Mas Ahmad Syahid, saya menyela diskusi antum dengan Muh. Hasan, tolong nanti tambahi saja biar lebih lengkap).

    muhammad hasan,
    Antum suka sekali mempertanyakan keterangan tentang amalan tawassul, kalau sudah diberitahu apakah mau mengamalkan? Kenapa saya tanya ini, karena syaikh-syaikh wahabi mengingkari tawassul dan tabarruk tentunya antum sebagai pengikut setia akan tetap mengingkari juga. Kitab-kitab ulama yang menjelaskan tentang tawassul inginnya mereka hapus semuanya, tapi man mampu? Sebab kitabnya terlalu banyak wahai Muhammad Hasan. Di bawah ini saya akan berikan kepadamu sedikit penjelasan tawssul menurut Nabi sendiri dan para Salafuna Shalih. Simaklah agar selanjutnya antum tidak lagi jadi orang ngeyel memusyrikkan orang-orang yang bertawassul, sebab antum tidak akan dapat pahala melainkan dosa. Ya, memusyrikkan orang yang bukan musyrik adalah dosa besar, bisa-bisa antum sendiri yang akan terjerumus pada kemusyrikan. Manganggap musyrik pihak lain walaupun hanya sekedar lintasan dalam hati, Allah mahatahu apa yang terlintas di hati. Jadi ini bukan perkara main-main wahai Muhammad Hasan.

    1)- Ketika memakamkan ibu Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang bernama Fathimah binti Asad, Rasulullah turun sendiri ke liang lahat kemudian memuji Allah dan berdoa:
    ???????? ????????? ????????? ?????? ?????? ???????????? ?????????? ????????? ????????? ??????????? ??????? ????????? ??????????????? ???? ???????? ..

    “Ampunilah ibuku, Fathimah binti Asad, dan tun-tunlah ia akan hujjahnya (jawaban pertanyaan kubur) dan lapangkanlah tempatya, dengan kebenaran Nabi-Mu dan Nabi-Nabi sebelumku..” (H.R. Ath-Thabrani dan Ad-Dailami, dinyatakkan shahih oleh Al-Hai-tsami)
    Hadits ini menyimpulkan bahwa tawassul dengan orang shaleh yang telah meninggal itu juga diajarkan oleh Rasulullah, karena para Nabi yang ditawassuli oleh beliau telah meninggal semua.

    2)- Allah berfirman:

    .. ?????????? ???? ?????? ???????????????? ???? ?????????? ????????? ???????? ????????? ??? ????????? ????????? ????

    “.. Dan adalah mereka sebelumnya telah memohon (kepada Allah) akan kemenangan atas orang-orang kafir. Dan ketika datang apa yang mereka kenal itu merekapun kemudian mengingkarinya. ..” (Q.S. Al-Baqarah : 89)
    Kata Sahabat Abdullah bin Abbas, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Ktasir dalam Tafsirnya: “Yang dimaksud ayat itu adalah orang Yahudi Khaibar, ketika berperang dengan orang-orang Ghathfan, mereka terdesak dan kemudian berdoa kepada Allah bertawassul dengan Nabi akhir zaman. Akan tetapi setelah Rasulullah muncul mereka malah mengingkari beliau.” Riwayat ini menyimpulkan bahwa Allah SWT membenarkan orang yang bertawassul dengan orang shaleh walaupun ia belum lahir, apabila kelahiranya telah dikabarkan oleh Allah.

    3)- Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua karena tiba-tiba ada batu besar terjatuh dari atas gunung dan menutup pintu gua itu. Kemudian mereka bertawassul dengan menyebut amal shaleh mereka masing-masing, sehingga batu itupun bergeser dan terbukalah pintu gua. Hadits ini menyimpulkan bahwa bertawassul dengan amal shaleh juga diajarkan oleh Rasulullah SAW.

    4)- Al-Bukhari, Muslim dan Abu Dawud meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah mencukur rambut un-tuk tahallul haji, kemudian rambut itu beliau serahkan pada Sahabat Thalhah untuk dibagikan pada Sahabat-sahabat yang lain. Maka para sahabatpun berebut rambut Rasulullah, tentu saja untuk ngalap berkah (tabarruk), karena rambut tidak bisa dimakan. Diantara mereka ada yang mencelup rambut Rasulullah ke dalam air kemudian airnya diminumkan pada orang sakit.

    5)- Al-Hafizh Ibnu Hajar meriwayatkan dalam kitabya, “al-Mathalib al-‘Aliyah” (IV:90), bahwa Sahabat Khalid bin al-Walid berebut rambut Rasulullah ketika bercucukur untuk tahallul umroh, kemudian rambut itu segera ia selipkan di kopiahnya. Khalid berkata: “Dalam memimpin setiap pertempuran aku selalu menang tanpa cedera sedikitpun apabila aku memakai kopiah yang ada rambut Rasulullah itu.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan Abu Ya’la serta dinyatakan shahih oleh al-Haitsami dan al-Bushiri.

    6)- Al-Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Asma’ binti Abi Bakar memiliki jubah Rasulullah dan beliau berkata: “Jubah ini dulunya ada pada Aisyah, setelah ia meninggal akupun mewarisinya. Jubah itu pernah dipakai oleh Rasulullah SAW. Maka kamipun suka merendam jubah itu ke dalam air dan airnya kami minumkan pada orang sakit untuk mengharap kesembuhan.”

    Seperti apakah Syirik yang sebenarnya itu?

    Syirik yang sebenarnya adalah ketika kita meminta pada seseorang, baik yang diminta itu masih hidup atau sudah mati, dengan berkeyakinan bahwa dia mampu memberi dengan kemampuan mutlak sebagaimana kemampuan yang dimiliki Allah. Coba kita tanya pada “santri-sanrti” yang bertawassul dengan para wali itu, seawam apapun mereka tidak pernah meyakini bahwa para wali yang diwassuli itu mampu memberi dengan kemampuan mutlak sebagaimana kemampuan yang dimiliki Allah.

    begitu juga dengan tabarruk, ketika mereka menyentuh, mencium dan meminum air sisa minuman (bekas) orang shaleh, mereka tidak pernah menganggap benda (bekas) itu memiliki kekuatan sebagaimana kekuatan yang dimiliki Allah. Mereka hanya berharap dengan itu Allah berkenan untuk mengabulkan doa mereka, atau berharap untuk mendapat ridha Allah. Hal ini kira-kira hampir sama dengan perihal orang yang mencium hadiah pemberian Anda di hadapan Anda. Coba apa yang Anda pikirkan tentang orang itu? Menurut Anda apa yang ia tuju dengan mencium hadiah itu di hadapan Anda? Anda pasti berfikir bahwa dia melakukan itu untuk membuat Anda senang.

    Demikian pulalah yang terjadi pada orang yang bertabarruk, mereka berharap Allah senang dengan tabarruk itu, karena yang mereka tabarruki adalah orang atau benda bekas (sisa) orang yang dicintai Allah. Itulah yang terjadi pada umumnya kaum muslimin yang bertabarruk. Kecuali orang awam yang memang masih dalam pengaruh kepercayaan kuno pra Islam, bisa saja terjadi kesalahan dalam praktek niatan hatinya. Dan untuk orang seperti ini tentu saja kita wajib memberi penjelasan dan pengarahan.

    Wallahu a’lam….

  75. saya rasa apa yang disampaikan oleh mas Arumi sudah cukup, bagi orang yang mencari kebenaran, namun untuk menghapus keraguan Saudara Muhammad Hasan ada Baiknya kita Nukilkan satu Hadist Nabi, bahwa Abu Musa Al-Asy`ari R.A mengatakan dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan Abu JUhfah R.A darinya, Nabi SAW meminta diambilkan secawan air lantas membasuh kedua tangan dan Wajah beliau dengan air tersebut lantas menuangkannya, kemudian beliau bersabda kepada Abu Musa R.A dan Abu Juhfah R.A : ” minumlah kalian berdua darinya dan tuangkanlah pada wajah dan leher kalian berdua “, ( HR. Bukhori 185 ) hadist ini adalah perintah dari Rosulallah SAW agar melakukan Tabarruk pada bekas-bekas beliau. dan masih banyak Hadist lain yg se ma`na.
    adapun pernyataan bahwa tabarruk ini merupakan perbuatan yang sia-sia tanpa makna, dan tidak ada faedah bagi mereka yang melakukannya, maka sungguh jauh kemungkinannya para Sahabat melakukan perbuatan yang tiada arti sama sekali, dan jauh kemungkinannya Rosulallah SAW menetapkan perbuatan yang tiada arti.

    demikian mudah-mudahan Allah SWT memudahkan dan menolong kita semua untuk tetap berdzikir , bersyukur dan beribadah kepadanya.

  76. Fenomena Ziarah Wali

    Pengultusan individu sangat bertolak belakang dengan ajaran penghulu para wali, yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau telah melarang umatnya mengkultuskan beliau secara berlebihan dalam sabdanya,

    ?? ?????????? ????? ???????? ??????????? ????? ???????? ?????????? ????? ???????? ????????? ?????? ??????? ???????????

    “Janganlah kalian memujiku secara berlebihan seperti kaum Nasrani memuji ‘Isa bin Maryam (puncak pengkultusan kaum Nasrani kepada nabi ‘Isa adalah menuhankan ‘Isa bin Maryam ‘alaihis salam, pen-). Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka panggillah aku dengan hamba Allah dan rasul-Nya” (HR. Bukhari nomor 3261).

    Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah mengatakan,

    ???? ?? ?????? ?? ??????? ???? ??????? ??? ??? ????? ?? ???? ????? ???? ?? ???? ?????? ???? ??? ?? ???? ?????? ?? ????

    “Maksud sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah janganlah kalian mengkultuskanku seperti perbuatan kaum Nasrani yang mengkultuskan ‘Isa bin Maryam kemudian menjadikannya sesembahan di samping Allah atau bahkan lebih dari itu sebagian dari mereka mengklaim ‘Isa adalah Allah atau anak Allah” (Fathul Baari 12/149).

    Pengkultusan inilah yang mendorong sebagian besar kaum muslimin untuk berkunjung ke kuburan para wali. Wisata religi, penamaan sebagian orang atas kegiatan ini. Meski kegiatan tersebut membuat masyarakat merogoh kocek dalam-dalam, menempuh perjalanan yang jauh serta berpeluh, toh mereka tidak peduli karena mereka berkeyakinan mengunjungi kuburan para wali adalah perbuatan yang memiliki keutamaan, apalagi fenomena ini telah berlangsung sekian lama dan rutin dilakukan oleh sebagian besar penduduk negeri.

    Oleh karena itu, kami akan membahas hadits syaddur rihal yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Sa’id Al Khudri radliallahu ‘anhu. Karena hadits ini memiliki kaitan yang erat dengan fenomena ziarah kubur wali atau yang dibungkus dengan label wisata religi.

    Hadits Syaddur Rihal

    Dari Abu Sa’id al Khudri radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    ?? ??? ?????? ??? ??? ????? ????? ???? ?????? ????? ?????? ??????

    “Janganlah suatu perjalanan (rihal) diadakan, kecuali ke salah satu dari tiga masjid berikut: Masjidil Haram, masjid Al Aqsha, dan masjidku (Masjid Nabawi).” (HR. Bukhari nomor 1197).

    Dalam hadits yang lain, Abu Sa’id mengatakan, “Aku mendengar rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    ?? ????? ?????? ??? ??? ????? ????? ????? ??? ??????? ?????? ??????? ??????

    “Janganlah kalian mempersiapkan perjalanan (bersafar), kecuali ke salah satu dari tiga masjid berikut: masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha.” (HR. Muslim nomor 827).

    Hadits Nabi yang mulia di atas menyatakan keutamaan dan nilai lebih ketiga masjid tersebut daripada masjid yang lain. Hal tersebut dikarenakan ketiganya merupakan masjid para nabi ‘alaihimus salam. Masjidil Haram merupakan kiblat kaum muslimin dan tujuan berhaji, Masjidil Aqsha adalah kiblat kaum terdahulu dan masjid Nabawi merupakan masjid yang terbangun di atas pondasi ketakwaan (Al Fath 3/64). Oleh karena itu, kaum muslimin disyari’atkan untuk melakukan safar menuju ketiga tempat tersebut dan mereka dilarang untuk melakukan safar ke tempat lain dalam rangka melakukan peribadatan di tempat tersebut meskipun tempat itu adalah masjid.

    Ziarah Kubur Wali

    Larangan yang tercantum dalam hadits Abu Sa’id diatas juga mencakup perbuatan yang sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia, yaitu menziarahi berbagai tempat yang diyakini memiliki keutamaan apabila seorang beribadah disana seperti kubur para wali rahimahumullah.

    Dalil yang menunjukkan hal ini adalah riwayat yang dibawa oleh imam Ahmad dalam Musnad-nya yang menyebutkan pengingkaran sahabat Abu Basrah Al Ghifari radliallahu ‘anhu atas tindakan Abu Hurairah radliallahu ‘anhu yang mengunjungi bukit Thursina kemudian melaksanakan shalat disana (HR. Ahmad nomor 23901 dengan sanad yang shahih). Abu Basrah mengatakan kepada beliau, “Jika aku berjumpa denganmu sebelum dirimu berangkat, tentulah engkau tidak akan pergi kesana (karena aku akan melarangmu).” Kemudian beliau berdalil dengan hadits syaddur rihal di atas dan Abu Hurairah menyetujuinya.

    Pengingkaran Abu Basrah terhadap apa yang diperbuat oleh Abu Hurairah merupakan indikasi bahwa larangan yang terkandung dalam hadits bersifat umum, mencakup seluruh tempat yang diyakini memiliki keutamaan dan dapat mendatangkan berkah.

    Diantara dalil yang menguatkan hal ini adalah riwayat yang shahih dari Qaz’ah. Dia berkata, “Aku berkeinginan untuk pergi menuju bukit Thursina maka aku pun bertanya kepada Ibnu ‘Umar mengenai keinginanku tersebut.” Ibnu ‘Umar pun mengatakan, “Tidakkah engkau mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Janganlah suatu perjalanan diadakan, kecuali ke salah satu dari tiga masjid berikut, Masjidil Haram, masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Masjidil Aqsha”?! Urungkan niatmu tersebut dan janganlah engkau mendatangi bukit Thursina!” (HR. Al Azraqi dalam Akhbaru Makkah hal. 304 dengan sanad yang shahih).

    Syaikhul Islam Ahmad bin ’Abdil Halim Al Harrani rahimahullah mengemukakan sebuah alasan yang logis mengenai hal ini. Beliau mengatakan,

    ??? ??? ??????? ???? ??? ?????? ?? ????? ??????? ?? ?????? ???????? ? ?????? ?? ?????? ? ???? ?? ???? ????? ????? ? ??? ?? ???? ????? ??? ???? ??? ??????? ??????? . ?????? ???? ??? ????? ??? ??? ?? ???? ???? -??? ???????- ?? ???? ? ?? ?? ???? ???? ???? ??? ???? ? ?????? ???? ? ??? ??? ?? ??? ??????? ?? ????? ?? ?? ????- ?????? ??? ???? ?????? ?? ????? ???? ?? ?? ????

    ”Sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut sangat memahami bahwa bukit Thursina dan berbagai tempat semisalnya, yang notabene adalah tempat-tempat yang pernah dikunjungi oleh para nabi tercakup dalam keumuman larangan. Oleh karena itu, bersafar menuju tempat-tempat tersebut tidak diperbolehkan, sebagaimana bersafar ke masjid selain tiga masjid yang disebutkan dalam hadits juga tidak diperkenankan. Bersafar (mengadakan perjalanan jauh) ke salah satu masjid Allah tidak diperkenankan, padahal pergi menuju masjid terkadang diwajibkan atau dianjurkan bagi penduduk kampung karena terdapat banyak keutamaan yang tak terhitung akan hal itu. Apabila hal tersebut tidak diperbolehkan, maka tentu bersafar menuju kuburan para hamba-Nya lebih layak untuk tidak diperkenankan.” (Al Iqtidla 2/183).

    Syaikh Ash Shan’ani rahimahullah mengatakan,

    ”Konteks hadits ini menunjukkan pengharaman bersafar untuk mengunjungi berbagai tempat selain ketiga tempat yang disebutkan di dalam hadits seperti menziarahi orang-orang shalih, baik yang hidup maupun telah wafat dengan tujuan bertaqarrub (beribadah) disana. Selain itu, larangan tersebut mencakup tindakan bersafar ke berbagai tempat yang diyakini memiliki keutamaan dengan tujuan bertabarruk dan melaksanakan shalat disana. Pendapat ini merupakan pendapat Syaikh Abu Muhammad Al Juwaini (imam Al Haramain-pen) dan juga Al Qadli ’Iyadl (keduanya merupakan ulama Syafi’iyyah-pen).” (Subulus Salam 1/89).

    Penutup

    Berdasarkan penjelasan diatas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa tindakan yang dilakukan sebagian kaum muslimin, yaitu berziarah ke kuburan para wali rahimahumullah telah menyelisihi ajaran nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat ridlwanullah ’alaihim jami’an. Larangan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri radliallahu ‘anhu mencakup perbuatan mereka tersebut.

    Patut dicamkan hal ini bukan berarti melarang kaum muslimin untuk berziarah kubur. Akan tetapi, yang terlarang adalah melakukan perjalanan jauh dan berpeluh untuk mengunjungi tempat atau kuburan yang diyakini memiliki keutamaan dalam rangka beribadah disana. Adapun menziarahi kubur tanpa melakukan safar, maka hal ini disyari’atkan dalam agama kita apabila dilakukan dalam rangka mendo’akan mayit, mengingat kematian dan kehidupan akhirat.

    Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi menetapkan,

    “Tidak diperbolehkan bersafar untuk menziarahi kuburan para nabi dan orang shalih atau selain mereka. Hal ini adalah perbuatan yang tidak memiliki tuntunan dalm agama Islam. Dan dalil yang melarang hal tersebut adalah sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah suatu perjalanan (rihal) diadakan, kecuali ke salah satu dari tiga masjid berikut: Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi) dan masjid Al Aqsha.” Begitupula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak ada tuntunan dari kami, maka amal tersebut tertolak.” Adapun menziarahi kubur mereka tanpa melakukan safar maka hal ini dianjurkan berdasarkan sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Ziarahilah kubur, sesungguhnya hal itu dapat mengingatkan seorang pada kehidupan akhirat.” Diriwayatkan Muslim dalam Shahih-nya.” (Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhutsi Al ’Ilmiyah wa Al Ifta, jawaban pertanyaan ketiga dari Fatwa nomor 4230, Maktabah Asy Syamilah).

    Wash shalatu was salamu ’ala nabiyyinal mursalin. Al hamdu lillahi rabbil ’alamin.

    Sumber :

  77. ya allah..sudahlah untuk orang2 wahabi memang keras hati dan kejam..lihat saja sejarahnya gak usah debat.coba lihat siapa yg bunuh orang gak salah@bom di indonesia dgn dasar faham wahabi…orang2 berfaham wahabi khan..sesat memang wahabi..,yusuf bilang tanah gak berkah ..?tanah got aja berkah ,apalagi tanah kuburan wali.emang yusuf injak apa?..bukan tanah kali..hantu wahabi. Matahari yg panas aja berkah.

  78. al Qur’an dan sunnah. Sehingga ketika dikatakan kepada masyarakat awam: Peringatan maulid itu bid’ah sesat, Manaqiban itu tidak ada dasarnya, dan membaca hikayat Samman adalah khurafat, lihat saja di Negara-negara Arab tidak ada acara-acara semacam ini !? Jika kalangan awam yang diajukan kepadanya pertanyaan-pertanyaan semacam ini maka mereka akan kebingungan, namun sikap fanatik mereka akan menyelamatkan mereka.

  79. “Yang di perintah kerjakan. Yang di larang hindarkan.Yang tidak di perintah, dan yang tidak di larang jangan di permasalahkan” Demikian Sabda Rasullulah. Hai Kaum Muslimin Dunia menanti Anda bersama-sama mewujudkan Rahmatan Lil Alamin.Selain itu ingat lagu ketika kita di SD. Begini: ‘Pelangi- pelangi alangkah indahmu….. ditutup akhir baitnya ..Pelang-pelangi Ciptaan Tuhan.Sabar dan bersyukur.

  80. Wahabi sampai kapanpun selalu membelit ketika diajukan dalil..mereka hanya sibuk membid’ah-bid’ahkan orang lain..tpi mreka sndiri diam ketika ada acara musik yg lebih banyak mudhoratnya..mereka berdakwah sembunyi-sembunyi..mengadakan majelis2 ilmu pun hnya ditempat tertentu..selalu menyalahkan ulama-ulama terdahulu..para walisongo yg telah mengislamkan hampir seluruh negeri ini..namun apa yg mereka lakukan..sibuk menyalahkan satu sama lain..
    Nabi saw pun pernah mengambarkan kelak ada golongan seperti ini akan ada dua tanduk setan yg akan muncul di daerah Najd (Riyadh)..dan wahabi ini muncul didaerah Riyadh..dan Mekkah pun kini dikuasai wahabi..
    imam mereka yg menjadi rujukan yaitu Ibnu Taimiyah…ternyata beliau itu banyak membuat fatwa yg bertentangan dengan para ulama-ulama besar….setelah diajak berdiskusi akhirnya ibnu taimiyah bertaubat….namun buku-buku yg dikarangnya terlanjur tersebar sehingga akhirnya ibnu taimiyah membuat buku-buku yg baru ketika beliau bertaubat..
    sudahlah jangan terlalu dipermasalahkan..
    kami punya dalil kalian punya dalil…sampai kapanpun kalian tdak pernah akan menerima pendpat kami…

  81. Ping-balik: - Ummati Press
  82. Ping-balik: url short

Tinggalkan Balasan

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker