Berita Fakta

Agar Syubhat Terungkap Jelas

Agar Syubhat Terungkap Jelas – Bagaimana sikap saya terhadap tuduhan kafir, musyrik, penyembah kuburan dan ahlul bid’ah yang ditujukan kepada mayoritas kaum muslimin Indonesia? Duh…, memang ini problem yang benar-benar terus berkecamuk di tengah –tengah Ummat Islam. Efek fitnahnya sungguh luar biasa. Tapi alhamdulillah, insya Allah Ummat Islam bisa bersabar akan semuanya itu. Bahkan secara pribadi saya mengapresiasi semua tuduhan miring yang terkadang kelewat kasar dalam penyampaiannya. Lewat tulisan ini sebenarnya saya ingin memberikan suatu wacana yang agak sejuk. Saya akan tetap khusnudlon jika seandainya  ada yang tidak menerima. Artinya ya tidak apa-apa, gitu lho, saya tidak akan emosi….

blur image - Agar Syubhat Terungkap Jelas

Atau saya tidak akan berbalik menyesatkan Para Penuduh karena berbeda dengan saya. Sungguh, saya sadar Ummat Islam pun berhak beribadah dengan cara yang diyakininya, yang diajarkan oleh guru-gurunya yang menurut mereka benar. Cuma pesan saya, setelah membaca tulisan ini hendaknya jangan terlalu gemar mennyesatkan atau membid’ahkan atau memvonis  orang lain sesat hanya karena berbeda pandangan. Nah, saya untuk selanjutnya akan sering berganti nama menjadi “kami”, sebab saya akan mencoba mewakili aspirasi orang-orang yang saya bela dalam tulisan ini.

Kami sering mendengar, begitu mudahnya orang menuduh ahlul bid’ah kepada orang lain. Tidak sadarkah kalau tuduhan itu akan memunculkan fitnah? Sebaiknya  dipelajari dulu apa yang kami lakukan. Jangan asal gebyah uyah atau hantam kromo, atau pukul rata dalam menudingkan segala tuduhan itu. Jangan memulai perkara jika tidak ada dasarnya yang komprehensif. Coba contoh Ibnu Taimiyah (inspirator faham salafy yang kemudian dilanjutkan fahamnya oleh Syeikh Muhammad bin Wahab yang menurut Imam Abu Zahroh sudah tidak seperti Ibnu Taimiyah lagi. Betapa mudahnya membid’ahkan apa yang di ‘perbolehkan’ agama, sehingga melahirkan banyak perdebatan sampai sekarang).

Ya, Ibnu Taimiyah tidak seperti pengikutnya sekarang. Beliau memang ekspresif dalam tutur kata tetapi bergaul luas, tidak over protektif.  Dia sebagai seorang prajurit sekaligus ulama,  wajar bila bawaannya keras dan extrim, tetapi semua ada batasan. Bisa dibaca di buku biografi Ibnu Taimiyah karangan Imam Muhaddits Abu Zahroh bab terakhir tentang Wahabi. Jadi yang perlu diluruskan lagi adalah vonis ahlul bida’  kepada kami. Atau kepada ratiban Al-Haddad kami, tahlilan kami, yasinan kami, ziarah kubur kami, zikir bersama kami, biji tasbih kami, tawassul kami….

Dulu kami khusu’ dalam keihlasan dengan kebiasaan amalan kami tersebut. Tetapi setelah diserbu wahabisme dari ”arab saudi”, sekitar tahun 70 atau 80-an hingga kini, suasana menjadi panas. Tidak nyaman dihujani lontaran fitnah-fitnah kebid’ahan dan kemusyrikan. Padahal sudah dijelaskan dalil-dalil tentang perbuatan tercela ini oleh Ibnu hajar, Imam Hakim di dalam kitab al-Mustadroknya, Al-Baihaqi, As-Suyuthi (pengarang Al-Itqan Fii Ulumi Al-Qur’an, biasanya kitab ini di pelajari oleh Mufassir sebagai kaedah dasar selain kitab Al-Burhan-nya Az-Zarkasyi), Ibnu Jauzi dalam kitab Al-Wafa’, As-Syaukani, Qodli ‘Iyadl, Imam Nawawi penyusun hadits arba’in, imam jazairi, Az-Zarqoni, Imam Ibnu Katsir, Al-Qurtubi, dan banyak lagi.

Semua penjelasannya bisa dibaca secara komprehensif pada karangan-karangan mereka. Bisa juga dibaca di dalam kitab Mafaahim Yujiibu An Tushahhah karya Dr. Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki al-Hasani, Cet As-Sofwah, Mekkah al-Mukarromah, Hal 171. Dan banyak lagi kitab-kitab lain yang tidak saya tuliskan disini.

******

Walhasil pada kenyataannya, semua akan merasa benar sendiri. Termasuk orang kafir pun akan merasa benar dengan apa yang mereka yakini. Tidak terkecuali anda wahai saudara kami. Jadi kalau saya merasa benar itu semata-mata hanya “dzon” dan dzon itu adalah sebagaian dari keyakinan. Anda heran kan, kok bisa dzon sebagian dari keyakinan? Itulah kaedah tafsir. Bisa dilihat di kitab Al-Burhan bab Az-Dzon dan Kitab Usul Fiqh manapun. Tapi bukan dzon yang selama ini kita fahami, namun inilah banyak orang salah interpretasi tentang terma dzon. Beda antara dzon yang di Al-Qur’an yang dilarang dengan dzon dalam kaidah Ushul dan Tafsir. Saya lanjutkan, walaupun saya yang memiliki dzon tersebut, saya tidak serta merta menyesatkan atau membid’ahkan orang lain. Karena saya yakin seseorang  pun mempunyai “dzon” itu, walau berbeda realitanya dengan kami.

banner gif 160 600 b - Agar Syubhat Terungkap Jelas

Jadi maksud saya adalah tidak usah latah membid’ahkan orang sebelum mendengar argumennya. Jangan membid’ahkan atau menyesatkan orang kalau hanya berbeda dengan anda. Yah, jelasnya ialah hendaknya kita harus banyak mendengarkan orang, dan jangan hanya maunya di dengar. Dari awal pastinya ada yang sinis dan menganggap tulisan ini berdasar hawa nafsu, sebab saya tidak menyebutkan hadis atau Ayat Al-Qur’an sebagai hujjah. Saya katakan, bagaimana akan saya sebutkan sesuatu yang tidak ada relevansinya yang jika dipaksakan justru akan bikin bingung?

Selain Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai hujjah, ada Ijma’ dan Qiyas. Inilah kesepakatan ulama-ulama Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah. Adapun Ijma’  itu sudah ada sejak pada zaman Sahabat. Misalnya: ketika Muaz bin Jabal dikirim ke Yaman. Atau masalah perbedaan interpretasi Sahabat tentang shalat asar di bani quraidzoh dan lain-lain. Walaupun masih sedikit jumlahnya, namun menunjukkan adanya masalah ijma’. Tetapi ketika ada yang berkata bahwa ada qiyas di zaman sahabat, rasanya saya baru mendengar ada Qiyas di zaman Sahabat. Ah, mungkin saya saja yang belum banyak belajar dan mengikuti halaqoh pengajian serta tidak banyak mendengarkan orang.

Tetapi yang saya tahu Qiyas itu mempunyai kaidah-kaidah ushul fiqh yang harus ditaati dan dipenuhi syarat-syaratnya yang ketat. Jadi tidak sembarangan asal ‘kutip’ lalu berkata: ini qiyasnya! Dan Ilmu Ushul Fiqh itu belum ada pada zaman Rasul Muhammad Saw, tetapi secara praktek sudah ada. Nah, berdasar praktek-praktek itulah maka Ilmu Ushul Fiqh itu disusun secara sistematik.

Narik becak, ngojek sepeda ontel, jadi badut di Taman Mini juga tidak ada di zaman Rasul SAW. Tetapi pekerjaan ini bisa bernilai ibadah jika diniatkan ibadah dengan ikhlas dan tidak melanggar apa yang diharamkan serta tidak menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah. Dan Ibadah akan mendapat balasan dari Allah. Hukum ibadah dalam contoh di atas berdasarkan qiyas (analogi).

Kemudian yang namanya syubhat itu artinya tidak jelas. Tidak menampilkan komentar saya atau komentar saudara-saudara saya yang lain dalam blog anda, itu juga namanya berusaha untuk berbuat syubhat. Apakah karena kami berbeda dengan Anda, lalu untuk memproteksi jama’ah anda maka komentar kami dikrangkeng? Ini artinya anda berusaha menyembunyikan kesyubhatan yang ingin kami jelaskan. Kami tidak mau kesyubhatan merajalela di dunia Islam, khusunya di Indonesia yang kita rebut dari Belanda dan Jepang dengan darah ulama, santri serta darah masyarakat Indonesia yang lain.

Saya beri contoh suatu yang syubhat selain syubhat diatas: Syekh Al-Albani mengatakan shalat ba’diyah asar itu adalah Sunnah (lihat silsilah al-Ahadits ash-Shahihah juz 6 halaman 1013-1014). Syeihk bin Baz mengatakan shalat ba’diyah asar itu Haram (lihat Majmu’ Fatawa Wa Maqalat Mutranawwiyah Syaihk bin Baz Juz 11 Hal. 286). Kemudian Seikh Utsaimin berkata: “Shalat asar itu tidak memiliki rawatib baik qobliyah maupun ba’diyah. Yang disunnatkan bagi manusia adalah shalat dua rakaat sebelumnya sebagai shalat mutlaq. Dan apabila anda tidak mendapatkan shalat tersebut sebelum shalat asar, anda jangan mengerjakannya setelah asar karena diharamkan kepada siapapun menunaikan sholat sunnat pada waktu-waktu yang terlarang kecuali shalat yang memiliki sebab berdasarkan sabda Nabi: Tidak ada sholat setela asar hingga terbenam matahari”. Lihat Majmu’ Fatawa Wal-Rasail syekh Utaimin juz 14 hal. 343-344)

Nah, bingung kan?

Akhina yang terhormat, ini lho satu contoh dari suatu yang nggak jelas atau syubhat. Dan banyak lagi yang lebih dari pada ini. Di dalam satu mazhab saja banyak kontraversi. Dan Ummat ini mau dibawa kemana bila Syeikh-syeikhnya saja tidak jelas? Bila Imam saling berlawanan dan bentrok pendapat, maka kasihan pengikutnya. Apakah tidak takut tersesat? Lalu siapa yang harus diikuti? Dalam kasus shalat sunnat asar di atas, menurut Al-Albani Sunnah, berarti dapat pahala. Menurut Bin Baz Haram, berarti dosa. Sedangkan menurut Syeikh Utsaimin tidak ada dalilnya, berarti bid’ah. Nah, kan bingung? Mungkin ini hanya wacana saja untuk sekedar jadi renungan hangat bagi mereka yang hoby menuduh bid’ah dan mencela  jama’ah lain. Ingatlah Anda sendiri secara factual masih di dalam kesyubhatan yang benar-benar aktul! Wallahu A’lam.

Oleh: Ahmad Khoiruddin

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

62 thoughts on “Agar Syubhat Terungkap Jelas”

  1. saya rasa pem-bid’ah-an yg biasa dilakukan disini tentu ada dasarnya, adapun yg saya tau vonis bid’ah ditujukan thd perbuatannya, bukan org per orgnya krna bs aj org tsb blm tau krna msh ada syubhat dikepalanya…..
    Mngenai kegiatan tahlilan, yasinan, maulidan dsb itu sangat jelas tidak ada perintah dan contoh sebelumnya dan kita sbg umat Islam tidak boleh menambah-nambahkan (dlm urusan agama) krna Islam adalah agama yg sempurna (Al-Maidah :4) yg tidak perlu tambahan2 lagi….

    1. Maaf ya, antum belum baca artikel diatas kok sudah berkomentar sih? Makanya komentarnya gak nyambung.

      Tapi baiklah, antum bilang: “saya rasa pem-bid’ah-an yg biasa dilakukan disini tentu ada dasarnya, adapun yg saya tau vonis bid’ah ditujukan thd perbuatannya, bukan org per orgnya krna bs aj org tsb blm tau krna msh ada syubhat dikepalanya…..

      Coba cerna lagi komentar antum (yang tercetak tebal dan yang miring), betapa tidak tertibnya jalan pikiran antum. Kalau vonis bid’ah ditujukan terhadap perbuatannya, bukankah otomatis antum memmvonis pelakunya ahli bid’ah?

      Kalau begitu cara antum, berarti kurang lebih Empat puluh juta Muslim di Indonesia ditambah jutaan Muslim di Malaysia, Thailand, philipina, Yaman, Mesir, Maroko dan masih banyak lagi, semuanya ahli bid’ah. Lalu antum dan oarang-orang yang seperti antum saja dong yang ahli sunnah? Sungguh memprihatinkan cara antum memahami dalil-dalil agama, terlalu leterlek alias pakai kaca mata kuda. Ya jadinya nggak bisa lihat kiri kanan, ya kami maklum deh….

  2. Oo…ga sperti itu, saya tegaskn lg klo saya ga prnh bilang klo semua org yg melakukn perbuatan bid’ah itu adalah seorang ahli bid’ah, justru antum sndiri yg secara langsng telah memvonis berpuluh-puluh juta org muslim di berbagai negara tsb adalah seorg ahli bid’ah….

    Perlu dipahami trlebih dahulu dsni bahwa se2org itu udh bs dkatakn ahli bid’ah JIKA sdah tegak dakwah atw nasihat sampai kpadanya akan tetapi org tsb MASIH melakukan perbuatan bid’ah,
    jika blm smpai nasihat kpdnya, maka org tsb blm bs dikatakn ahli bid’ah krna hukum tdk berlaku bagi org2 yg tdk tau (bkn brarti tdk mau tau, qta sbg umat muslim yg sdh baliq jg WAJIB utk menuntut ilmu)……

    “Amma ba’du ! Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah (Al-Quran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sejelek-jelek urusan adalah yang baru (muhdats), dan setiap muhdats adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”
    (H.R Muslim juz III hal.11, Nasaa-i juz III hal.188-189 dan kedua tambahan dlm kurung ( ) dari riwayatnya Ahmad juz III hal.310&371 dan Ibnu Majah no.45)

    “Barangsiapa yang mengerjakan sesuatu amal yang tidak ada keterangan dari Kami (Allah dan Rasul-Nya), maka tertolaklah amalnya itu.”
    (H.R Muslim jus V hal.133)

    1. 1- Jawaban saudara ini, menunjukkan bahwa saudara belum menyadari apa yang ditulis pada pernyataan sebelumnya. Awas, jangan seperti burung beo, bisa bunyi tapi gak ngerti maksudnya.

      2. di negara-negara yang kami sebutkan sebelumnya, juga di bangladesh, India, dan dimana-mana di kolong jagat, mayoritas Muslimnya juga suka tahlilan. Cuma namanya aja yang beda, tapi esensinya sama saja. Apakah dakwah belum sampai pada mereka? Ada-ada saja teori yang saudara sampaikan. Dakwah sudah sampai di sana ya Akhi… , kalau belum sampai sana ya nggak ada Muslim di sana dong? Kalau saudara merasa tidak mengatakan mereka ahli bid’ah, itu artinya saudara nggak memahami pernyataan sendiri.

      3. Semua dalil yang saudara sebutkan itu shahih, dan kami sangat mematuhi dan taat pada hadits-hadits Shahih. Hanya saja, jika saudara memandang kami melanggarnya, itu disebabkan oleh alur pemahaman kita yang beda. Dan kami menghormati pemahaman yang saudara ikuti. Tapi yang jadi masalah dan menimbulkan efek fitnah di tengah Ummat adalah ketika orang-orang seperti anda menebar vonis ‘Ahlul Bid’ah’ kepada yang berbeda pemahaman terhadap teks dalil.

      4. Kami tambahkan untuk memperjelas, cobalah baca artikel di atas: “Agar Syubhat Terungkap Jelas”. Syekh-syekh itu begitu transparan dalam perbedaan. Ngomong-omong, Saudara ikut yang mana di antara mereka bertiga?

  3. Bgni mksd saya, perlu saya lbh rinci lg prnyataan saya tsb,
    adapun yg saya mksud dakwah atw nasihat dsni adalah dakwah atw nasihat mengenai terlarangnya suatu perbuatan bid’ah, bukan dakwah ajaran Islam secara umum krna utk saat ini ga semua umat muslim paham tntng apa itu bid’ah, perbuatan2 apa aja yg termasuk bid’ah….
    skr bgni, brp bnyk org yg msh melakukan kegiatan tahlilan 7 harian, 40 harian, 100 harian, 1000 harian (yg memakan biaya yg tidak sedikit)? apakah kbnyakan umat muslim tau klo kegiatan2 tsb perrnah dilakukan oleh Rasulullah dan para Sahabatnya atw tidak?
    brp bnyk umat muslim yg msh meminta-minta kpd ahli kubur? menjadikan ahli kubur tsb sbg perantara utk meminta kpd Allah, apakah sbagian saudara kita umat muslim itu tau klo perbuatan tsb akan dpt mendekatkan mereka menuju ke perbuatan syirik?

    perlu diketahui, iblis dan bala tentaranya lbh menyukai umat muslim melakukan perbuatan bid’ah drpd perbuatan maksiat krna perbuatan maksiat bs memungkinkan org utk bertobat, sdangkan perbuatan bid’ah akan sulit membuat org utk bertobat krna mngangggap perbuatan tsb bnr kcuali Allah berkehendak lain yg bs membuat org yg melakukan bid’ah tsb bertobat….

    mngenai perbedaan pendapat ketiga Ulama Besar tsb, saya blm bs komentar apa2 krna saya msh blm layak mngomentari ketiga Ahli Ilmu tsb…..

      1. saya ingin tertibkan kembali pernyataan2 saya sebelumnya agar lbh jelas lg :

        1. saya ingin mengoreksi komentar saya yg prtama bahwa Islam adalah agama yg sempurna (Al-Ma’dah : 3) -bukan ayat 4 sbagaimana yg saya tulis- (maaf atas kekeliruannya), sehingga ajaran Islam tdk memerlukan tambahan2 lg….

        2. saya ga prnh bilang bahwa si fulan itu ahli bid’ah, si fulan sesat, si fulan musyrik dsb.

        3. mengenai ahli bid’ah, se2org diktakan ahli bid’ah jika org yg melakukan perbuatan bid’ah itu telah mengetahui tentang terlarangnya perbuatan bid’ah akan tetapi msh melakukan perbuatan bid’ah atw bahasa sederhananya “udh diksh tau klo perbuatan bid’ah itu terlarang, tp dia msh ttp melakukanya jg”.
        Adapun apabila org yg melakukan perbuatan bid’ah itu msh blm mngetahui/mengenal apa itu bid’ah, terlarangnya perbuatan bid’ah, prbuatan2 apa aja yg trmasuk bid’ah, maka org tsb blm bs dibilang seorang ahli bid’ah krna hukum tdk berlaku bagi org yg tdk tau, akn tetapi qta diwajibkan utk menuntut ilmu agar qta tdk terus menerus mjd org yg tdk tau……

        4. mngenai tanggapan trakhir bapak, saya rasa bpk ini (maaf) ga paham konteks kalimat yg saya buat, distu sangat jelas saya tmpatkan kalimat “yg memakan biaya yg tdk sedikit” itu di dlm kurung ( ) krna bkn itu inti dr kalimat saya, adapaun inti dr kalimat saya yg ingin saya sampaikan itu trdapat pd kalimat “apakah kbnyakan umat muslim tau klo kegiatan2 tsb perrnah dilakukan oleh Rasulullah dan para Sahabatnya atw tidak?”,
        apakah tahlilan itu prnh dilakukan oleh Rasulullah dan para Sahabatnya?
        jika prnh, mana dalil yg menerangkannya?
        jika mereka tdk prnh melakukannya, lalu qta ikut siapa dlm beragama? siapa yg qta contoh selain dr mereka? apakah ada contoh yg jauh lbh baik dlm hal taat kpd Allah selain dr mereka (Rasulullah dan Sahabatnya)?

        5. mengenai biaya yg tdk sedikit yg sempat saya singgung, hal itu merupakan sisi lain dr kgiatan tahlilan krna realitanya ga sdikit keluarga mayit hrz menyiapkan mkanan, nasi kotak, membayar sang ustadz dll.
        pdhl adab2 Islam dlm menyikapi tetangga atw kerabat yg sedang brduka tidaklah seperti itu, malah sebaliknya, justru qtalah yg hrz memberikan mkanan yg mengenyangkan kpd keluarga mayit sbagaimana yg telah dianjurkan oleh Rasulullah ketika sampai kpdanya kbar wafatnya Ja’far bin Abi Thalib yg gugur di medan perang,
        “Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far, sesungguhnya mereka tengah ditimpa musibah yang menyibukkan mereka.” (HR. Abu Dawud (3132), At-Tirmidzi (998), Ibnu Majah (1610))

  4. Alangkah baiknya jika kita menggunakn satu kaidah bsr yg dikeluarkan oleh Ibnu Katsir ;
    “…kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentu para sahabat telah mendahului kita mengamalkannya” (Tafsir Ibnu Katsir surat An-Najm : 38 & 39)

    saya ingn mnutup diskusi ilmiah ini dg satu kisah dr seorg tabi’in bsr brnama Said bin Mussayeb,
    prnh dia melihat se2org shalat qabliyah subuh 4 rakaat, lalu Said mnegurnya, kmudian org tsb brtnya kpd Said,
    “apakah Allah akn mengadzabku krna aku mngerjakn shalat?”
    lalu Said mnjwb,
    “Allah tdk akn mengadzabmu krna kmu shalat, mlainkn Allah akn mengadzabmu krna kmu mnyelisihi sunnah Rasulullah.”
    (krna Rasulullah tdk prnh shalat qabliyah subuh 4 rakaat…)

    dr kisah tsb dpt dsimpulkn bhwa Allah tdk akn mnghukum org krn org tsb mmbaca surat yasin, mndoakn org mati, mengingat klahiran Nabi dsb, mlainkn krna mnyelisihi sunnah Rasulullah krna Rasulullah tdk prnh mngkhususkn mmbaca surat yasin bramai-ramai pd mlm jumat, brkmpul2 drmh kluarga mayit di hri ke 7, 40, 100 mmbaca surat yasin dsb..

    …Sukron…

    1. Ya…. memang disayangkan kenapa ada orang yang mengajak menggunakan kaidah seperti itu untuk tujuan yang buruk? Imam Ibnu Katsir membuat kaidah itu bukan untuk meumukul rata, tetapi hanya menggunakanya untuk hal-hal yang relevan saja. Sementara kalian menggunakannya untuk ‘menyikat habis’ apa saja yang menurut persangkaan kalian nggak ada contoh atau dalilnya. Menggunakan kaidah ini secara sembarangan tentu akan mencoreng nama baik Imam Ibnu Katsir, sebab kaidah ini jika dipakai serampangan ujung-ujungnya jika dikejar akan menunjukkan kelemahannya. Itulah kenapa memaksakan kaidah ini untuk segala hal yang kalian kira tak berdalil, hanya akan mencoreng nama Imam Ibnu Katsir jika terbukti ada dalilnya.

      Jika anda benar-benar berniat baik dalam diskusi ilmiah ini, maka kami akan mengemukakan sebuah hadits riwayat Imam Bukari dalam Shahihnya dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya hak yang paling pantas kalian ambil pahalanya adalah pembacaan Kitabullah Ta’ala, yaitu Al-Qur’an ( HR. Bukhari IV/16). Bagi mereka (para Ulama) yang memiliki pandangan luas, tentu akan mengetahui maksud hadts ini. Dan kami mengkuti apa-apa yang dijelaskan oleh para ulama’ yang mu’tabar.

      Kami hanya bisa berdo’a, Semoga Allah SWT menuntun siapa saja yang berniat baik ingin mendapatkan Hidayah-Nya. Nah, jika anda benar-benar berniat baik dalam dikusi ilmiah ini dan ingin mengetahui dalil-dalil dari permasalahan yang anda tuduhkan menyelisihi sunnah Rasulullah SAW dan Salaful Ummah, silahkan lihat masalah tersebut di Blok Link Ini, ada juga DI SINI dan ada juga LINK INI

  5. Bgmana bs anda menuduh saya menggunakan kaidah tsb secara sembarangan, sedangkan anda sendiri menafsirkan perkataan Ibnu Katsir tsb secara sembarangan pula dg mengatakan ;

    “Imam Ibnu Katsir membuat kaidah itu bukan untuk memukul rata, TETAPI hanya menggunakanya untuk hal-hal yang relevan saja.”

    apakah di dalam perkataan Ibnu Katsir tsb ada ‘pengecualian’ sebagaimana yg anda katakan (tafsirkan) sehingga maknanya mjd beda? saya ingin tanya, siapa yg menafsirkan perkataan Ibnu Katsir seperti yg anda katakan itu?
    coba jelaskan kpd saya dan para pengunjung blog anda ini, apa “hal-hal yg relevan” yg anda maksud itu? Apakah “hal-hal yg relevan” itu hanya berdasarkan akal pikiran anda saja dg mendahulukan akal daripada wahyu al Kitab dan wahyu as Sunnah? atw bahasa sederhananya anda sedang berusaha mendalilkan amal anda, bukan mengamalkan dalil……..?

    saya rasa sudah sangat jelas sekali perkataan beliau bahwa apabila perbuatan itu baik (ambillah contoh brkumpul-kumpul yasinan di mlm jumat & tahlilan di rmh duka di hari ke 7, 40, 100), tentu para sahabat telah melakukannya terlebih dahulu drpd kita yakni melakukannya dg CARA, KETETAPAN dan KETENTUAN yg sama seperti itu yakni membaca surat yasin di MALAM JUMAT secara BERAMAI-RAMAI di masjid atw di rmh2 sahabat, KUMPUL-KUMPUL di rmh duka di HARI ke 7, 40, 100 dll……

    Apa perlu saya tampilkan secara utuh tafsir Ibnu Katsir tsb?

    Baiklah akan saya tampilkan,

    “Bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya manusia tidak akan memperoleh (kebaikan) kecuali apa yang telah diusahakan.” (Q.S An-Najm : 38-39)

    Berkata Al-Hafidz Ibnu Katsir di dalam menafsirkan ayat diatas :
    “Yaitu, sebagaimana seseorang tidak tidak akan memikul dosa orang lain demikian juga seseorang tidak akan memperoleh ganjaran (pahala) kecuali apa-apa yang telah ia usahakan untuk dirinya sendiri. Dan dari ayat yang mulia ini Al Imam Asy-Syafi’iy bersama para ulama yang mengikutinya telah mengeluarkan hukum : Bahwa bacaan Qur’an tidak akan sampai hadiah pahalanya kepada orang yang telah mati karena bacaan tersebut bukan dari amal dan usaha mereka. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mensyariatkan umatnya (untuk menghadiahkan bacaan Qur’an kepada orang yang telah mati) dan tidak juga pernah menggemarkannya atau memberikan petunjuk kepada mereka baik dengan nash (dalil yang tegas dan terang) dan tidak juga dengan isyarat (sampai-sampai dalil isyarat pun tidak ada). Dan tidak pernah dinukil dari seorangpun sahabat (bahwa mereka pernah mengirim bacaan Qur’an kepada orang yang telah mati). KALAU SEKIRANYA PERBUATAN ITU BAIK TENTU PARA SAHABAT TELAH MENDAHULUI KITA MENGAMALKANNYA. Dan dalam masalah peribadatan hanya terbatas pada dalil tidak boleh dipalingkan dengan bermacam qiyas dan ra’yu (pikiran).”

    Mengenai hadist ini ;
    “Sesungguhnya hak yang paling pantas kalian ambil pahalanya adalah pembacaan Kitabullah Ta’ala, yaitu Al-Qur’an” ( HR. Bukhari IV/16).

    apa maksud anda menampilkan hadist tsb? dan apa jg korelasinya dg pembahasan kita kali ini?

    1. 1- Demikianlah kami menangkap maksud tersembunyi dari perkataan Imam Ibnu Katsir. Sebab menurut kami Imam Ibnu Katsir jangan sampai menjadi korban dari kebodohan berpikir sehingga namanya menjadi cemar.

      2- Saudara kuldesak87, coba munculkan satu dalil yg mengharamkan acara Tahlil? (acara berkumpulnya muslimin untuk mendo’akan yg wafat). Tidak di Al Qur’an, tidak pula di Hadits, tidak pula di Qaul Sahabat, tidak pula di kalam Imamulmadzahib, hanya muncul dari mereka saja yg mengada-ada dari kesempitan pemahamannya.
      Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yg melarangnya. Itu adalah Bid’ah Hasanah yg sudah diperbolehkan oleh Rasulullah SAW. Justru kita perlu bertanya, ajaran Islamkah mereka yg melarang orang mengucapkan Laa ilaaha illallah? Siapa yg alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan Iblis dan pengikutnya? Siapa yg membatasi orang mengucapkan Laa ilaaha illallah? Muslimkah dia dan mereka? Semoga Allah memberi hidayah pada muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha illallah, tak pula ada larangan untuk melarang yg berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun. Pelarangan atas hal ini adalah kemungkaran yg nyata.

      3- Berkata Imam Ibn Katsir : “ Yakni sebagaimana dosa seseorang tidak dapat menimpa kepada orang lain, demikian juga manusia tidak dapat memperoleh pahala melainkan dari hasil amalanya sendiri, dan dari ayat yang mulia ini (ayat 39,Surah An-Najm) Imam Syaf’i dan Ulama-ulama yang mengikutinya mengambil kesimpulan, bahwa bacaan yang pahalanya dikirimkan kepada mayit adalah tidak sampai, karena bukan dari hasil usahanya sendiri. Oleh karena itu Rosulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam tidak pernah menganjurkan umatnya untuk mengamalkan (pengiriman pahala melalui bacaan), dan tidak pernah memberikan bimbingan baik dengan nash maupun isyarat, dan tidak ada seorangpun (shahabat) yang mengamalkan perbuatan tersebut, jika amalan itu baik, tentu mereka lebih dahulu mengamalkanya, padalah amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala hanya terbatas yang ada nash-nashnya dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, dan tidak boleh dipalingkan dengan qiyas-qiyas dan pendapat-pendapat….”
      Pertanyaan kami kepada anda, kenapa anda memutusnya sampai disini? Bukankan masih ada kalimat lanjutannya? Atau anda tidak melihatnya? Demikian kelicikan anda dan mereka, padahal kelanjutannya adalah :
      “Namun mengenai doa dan sedekah maka hal itu sudah sepakat seluruh ulama atas sampainya, dan telah ada Nash nash yg jelas dari syariah yg menjelaskan keduanya” (Tafsir Imam Ibn Katsir juz 4 hal 259).


      Nah…. Telah jelas bahwa tahlilan itu adalah do’a yang tidak perlu rukun-rukun sebagaimana shalat, dan semua pengiriman amalan itu dengan do’a : “Wahai Allah, sampaikanlah apa yg kami baca, dari…. dst, hadiah yg sampai, dan rahmat yg turun, dan keberkahan yg sempurna, kehadirat…..”
      Bukankah ini doa, ya akhi? Maka Imam Ibn Katsir telah menjelaskan mengenai do’a dan sedekah maka tak ada yg memungkirinya.

      Kesimpulannya bahwa hal ini merupakan ikhtilaf ulama, ada yg mengatakan pengiriman amal pada mayyit sampai secara keseluruhan, ada yg mengatakan bahwa pengiriman bacaan Alqur’an tidak sampai, namun kesemua itu bila dirangkul dalam doa kepada Allah SWT untuk disampaikan maka tak ada ikhtilaf lagi.

      Dan kita semua dalam tahlilan itu pastilah ada ucapan : Allahumma awshil, tsawabaa maa qaraa’naa minalqur’anilkarim… dst (Wahai Allah, sampaikanlah pahala apa apa yg kami baca, dari alqur’anulkarim…dst). Maka jelaslah sudah bahwa Imam Syafii dan seluruh Imam Ahlussunnah waljamaah tak ada yg mengingkarinya dan tak adapula yg mengatakannya tak sampai. Wllahu A’lam….

      Demikian akhina kuldesak87 yg kami muliakan, semoga setelah ini tidak lagi mencari-cari perkara yang menurut anda tidak ada dalilnya. Kalau tidak ada dalilnya, tentu Ummat Islam Mayoritas tidak akan melakukannya. Tak lupa kami mohon maaf kalau selama berdiskusi ilmiah ini ada kata-kata yang kurang berkenan. Semoga Allah mengampuni kita semua, amin….

  6. Ping-balik: KONTROVERSI YASINAN KAPAN BERAKHIR « UMMATI PRESS
  7. Sebelum saya berkomentar, saya ingin garisbawahi sekali lagi bahwa yg mjd permasalahan di sini adalah mengenai SIFAT dan TATA CARA PELAKSAAN Ibadah yg dilaksanakan secara menyimpang (tidak sesuai dg tuntunan Rasulullah dan Sahabat) yang justru dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin sekarang ini sehingga mendekatkan diri mereka menuju ke perbuatan Bid’ah yg terlarang.

    ======================================================

    Anda berkata ;
    “Justru kita perlu bertanya, ajaran Islamkah mereka yg MELARANG orang mengucapkan Laa ilaaha illallah? Siapa yg alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan Iblis dan pengikutnya? Siapa yg membatasi orang mengucapkan Laa ilaaha illallah? Muslimkah dia dan mereka? Semoga Allah memberi hidayah pada muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha illallah,”

    Komentar saya ;
    Saya ingin tanya kpd anda,siapa yg MELARANG org mengucapkan kalimat Laa ilahaillallah? apakah ADA di dlm kalimat saya yg menyebutkan atau yg menggambarkan bahwa saya MELARANG org utk mengucapkan kalimat Laa ilahaillallah? Apakah ada? Apakah perkataan anda tsb hanyalah prasangkaan (su’udzon) anda saja kpd saya dan org2 yg sepaham dg saya? jgn sampai perkataan anda tsb menimbulkan opini bahwa org yg melarang tahlilan, yasinan dsb itu brarti diatelah melarang org utk mendoakan org yg telah mati, melarang org utk membaca Al-Quran dsb, ini jelas KEKELIRUAN yg AMAT SANGAT BESAR yg dpt mendekatkan se2org menuju ke perbuatan FITNAH.

    =====================================================

    Anda berkata ;
    “Saudara kuldesak87, coba munculkan satu dalil yg mengharamkan acara Tahlil? “

    Komentar saya ;
    Dari pertanyaan anda tsb, sangat jelas sekali bahwa anda (maaf) tdk paham mengenai kaidah ibadah, perlu diketahui wahai sodaraku bahwa sesungguhnya kaidah dlm beribadah itu adalah “TERLARANG MELAKUKAN IBADAH SEBELUM DATANGNYA PERINTAH”, berbeda dg kaidah dlm hal muamalah (bermasyarakat), kita boleh melakukan apa aja sebelum datangnya larangan.
    Apabila dilihat dari kaidah tsb, justru saya yg harusnya bertanya kpd anda, mana dalil yg memerintahkan (menetapkan) bahwa tahlilan itu merupakan ibadah? INGAT ! yg saya minta yakni DALIL KHUSUS yg memerintahkan (menetapkan) mengenai SIFAT dan CARA PELAKSANAAN tahlilan itu sendiri, BUKAN perintah dalil secara umum yg memerintahkan kita utk saling mendoakan atau perintah kita utk membaca Al-Quran….

    Seandainya kita menggunakan kaidah ibadah itu secara terbalik sebagaimana yg anda katakan yakni kita boleh beribadah sebelum adanya larangan, maka akan KACAU Agama kita ini, karna apa? krna nanti org akan beribadah kpd Allah dg CARA-CARA yg serampangan (tidak sesuai dg sunnah Rasulullah dan Sahabat) walaupun niatnya baik, karena syarat sahnya ibadah ialah ; Ikhlas karena Allah dan cara pelaksanaannya harus sesuai dg tuntunan sunnah Nabi. Itu artinya NIAT BAIK sajaTIDAKLAH CUKUP dlm beribadah kpd Allah.

    Jika kita menggunakan kaidah ibadah seperti yg anda katakan itu, nanti bisa aja ada org sebelum shalat dhuha melakukan adzan terlebih dahulu atw nanti ada org yg khomat dulu sebelum shalat tarawih, bahkan nanti bisa aja ada org yg shalat subuh sampai 3 rakaat, maka saya mau tanya, apakah perbuatan2 tsb salah? bukankah perbuatan2 tsb tdk ada larangannya? bukankah adzan merupakan syi’ar terbesar dlm Islam? bukankah didlm shalat banyak doa2 yg diucapkan? semakin banyak rakaatnya, bukankah semakin banyak pula doa yg diucapkan? Apakah nanti org yg melarang perbuatan2 tsb berarti org tsb telah melarang se2org utk adzan, khomat dan shalat subuh?……Lalu apa yg salah dari perbuatan2 tsb? tentu jawabannya adalah karena perbuatan2 tsb tidak pernah diperintahkan, ditetapkan atau dicontohkan baik dari Rasulullah maupun para Sahabatnya.

    ======================================================

    Saya ingin mengutip komentar2 saya dan anda sebelumnya yakni ;

    Saya pernah berkomentar dg menampilkan hadits shahih, Rasulullah bersabda ;
    “Amma ba’du ! Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah (Al-Quran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sejelek-jelek urusan adalah yang baru (muhdats), dan setiap muhdats adalah bid’ah, dan SETIAP BID’AH adalah SESAT dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”
    (H.R Muslim juz III hal.11, Nasaa-i juz III hal.188-189 dan kedua tambahan dlm kurung ( ) dari riwayatnya Ahmad juz III hal.310&371 dan Ibnu Majah no.45)

    Lalu anda menanggapi hadist tsb dg berkata ;
    “Semua dalil yang saudara sebutkan itu shahih, dan kami sangat mematuhi dan taat pada hadits-hadits Shahih.”

    Kemudian di komentar anda yg terakhir, anda berkata ;
    “Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yg melarangnya. ITU ADALAH BID’AH HASANAH yg sudah diperbolehkan oleh Rasulullah SAW. tak pula ada larangan untuk melarang yg berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun. Pelarangan atas hal ini adalah kemungkaran yg nyata.”

    Komentar saya ;
    Ini jelas kurang konsistennya anda dlm berkomentar atw memberi tanggapan, di satu sisi anda mematuhi dan taat bahwa “…..SETIAP BID’AH ADALAH SESAT…..”, akan tetapi di sisi lain anda meyakini mengenai adanya BID’AH HASANAH, padahal (saya ulangi) di dlm komentar anda sebelumnya bahwa anda telah MEMATUHI dan TAAT bahwa SETIAP BID’AH ADALAH SESAT ! apakah mungkin ada KESESATAN YANG HASANAH (BAIK)?
    Saya mau tanya, knp anda berani berkata bahwa bid’ah hasanah DIPERBOLEHKAN oleh Rasulullah? Atas dasar apa anda berkata seperti itu?

    Inilah perkataan Imam Malik yg sangat terkenal :
    “Barangsiapa yg membuat bid’ah di dalam Islam yg ia menganggapnya sebagai bid’ah hasanah, maka sesungguhnya ia telah menuduh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkhianat dalam (menyampaikan) risalah Allah. Karena sesungguhnya Allah berfirman :
    “…….Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kamu Agama kamu….” (Al-Ma’idah:3)
    Maka, apa-apa yg tidak menjadi Agama pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi Agama pada hari ini.”
    (al I’tisham oleh Imam asy Syathibi juz I hal. 49)
    Perkataan tsb sangat jelas menunjukan bahwa segala sesuatu yg tidak termasuk ajaran Agama Islam pada hari itu (pada saat turunnya ayat tsb), pastinya tidak akan termasuk ajaran Agama Islam pada hari ini…..

    Abdullah bin Umar berkata ;
    “Setiap bid’ah itu kesesatan, sekalipun manusia menganggapnya hasanah (baik).” (Al-Ibaanah, no.205 (1/339) Al-Laalikaa-iy, no. 126 (1/92)

    ======================================================

    1. Mengenai tafsir Ibnu Katsir yg anda tambahankan yakni ;
      “Namun mengenai doa dan sedekah maka hal itu sudah sepakat seluruh ulama atas sampainya, dan telah ada Nash nash yg jelas dari syariah yg menjelaskan keduanya” (Tafsir Imam Ibn Katsir juz 4 hal 259).

      Tentu konteksnya berbeda donk antara berdoa dg membaca Al-Quran (walaupun saya tidak mengingkari bahwa di dalam Al-Quran terdapat banyak doa). Dengan ditambahkannya tafsiran tsb dr anda sehingga mjd lebih lengkap lg, maka semakin jelas dan terang. coba simak baik2 tafsir tsb dari awal sampai akhir, di dlm tafsir Ibnu Katsir tsb dijelaskan bahwa para ulama berhukum bahwa MEMBACAKAN Al-QURAN utk si mayit TIDAK PERNAH disyariatkan dlm Islam, akan tetapi apabila kita ingin MENDO’AKANNYA tentulah diperbolehkan, mengapa? karena Rasulullah bersabda ;
      “Mohonlah ampunan bagi saudara kalian. Dan mohonlah keteguhan baginya karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” (H.R Abu Dawud (3221) dari Ustman bin Affan.

      Perkataan Ibnu Katsir tsb hampir sama konteksnya dg sabda Rasulullah yg berbunyi,
      “……ketauhilah bahwa aku dilarang membaca Al-Qur’an ketika rukuk dan sujud. Saat rukuk, agungkanlah Ar-Rabb. Saat sujud, bersungguh-sungguhlah untuk berdo’a, kemungkinan besar do’amu dikabulkan.” (H.R Muslim (479))

      Apabila kita jahil (bodoh), tentu kita akan bertanya, MENGAPA RASULULLAH MELARANG KITA MEMBACA AL-QURAN PD SAAT SUJUD? PADAHAL BELIAU MENGANJURKAN KITA UTK BERSUNGGUH-SUNGGUH DLM BERDOA KPD ALLAH DISAAT SUJUD, BUKANKAH DI DALAM AL-QURAN TERDAPAT BANYAK DOA-DOA?

      Kalo kita lebih jernih (tanpa syubhat) lagi dlm memahami hadist diatas, maka dapat dipetik pelajaran bahwa membaca Al-Quran pun apabila kita membacanya itu tidak tepat waktu dan tempatnya, maka terlarang hukumnya. Begitu jg dg mendoakan org yg telah mati, mendoakan org mati DIPERBOLEHKAN, akan tetapi jika PELAKSAANNYA itu tidak sesuai dengan ketentuan, tentu terlarang hukumnya seperti BERKUMPUL-KUMPUL di rumah duka dsb.

      Dan telah diriwayatkan bahwasanya Jarir pernah bertamu kepada Umar. Lalu Umar bertanya ;
      “Apakah mayit kamu ratapi?”, Jawab Jarir ; “Tidak !”
      Umar bertanya lagi ; “Apakah mereka berkumpul dirumah ahli mayit dan mereka membuat makanan?”
      Jawab Jarir ; “Ya !”
      Berkata Umar ; “Itulah ratapan !”

      Diriwayatkan dari Jarir bin Abdillah Al-Bajali ia berkata ; “Dahulu kami menganggap berkumpul di rumah keluarga mayit dan membuat makanan setelah penguburannya termasuk niyaahah (meratap).” (diriwatkan oleh Ahmad (II/204) dan Ibnu Majah (1612) dengan sanad shahih dan telah dishahihkan oleh An-Nawawi, Al-Busheiri, Asy-Syaukaani dan lainnya)

      ==================================================

      Mengenai bolehnya membaca Al-Quran di kuburan, ada hadits yg berbunyi ;

      Dari Abu Hurairah ; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ; “Janganlah kamu jadikan rumah-rumah kamu itu sebagai kuburan. Sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang dibacakan didalamnya surat Al-Baqarah.”(Hadits Shahih riwayat Muslim 2/188)

      Dari Hadits diatas, maka dapat dipetik suatu pelajaran yg sangat besar bahwa ;
      1. Rumah yg TIDAK PERNAH dikerjakan di dalamnya ibadah seperti shalat dan tilawah (membaca) Al-Quran, maka Nabi samakan rumah tsb dengan kubburan.
      2. Sehingga yg dapat kita pahami adalah bahwa kuburan bukanlah tempat yg tepat utk kita membaca Al-Quran.
      3. Sekali lagi yg dapat kita pahami dari sunnah Nabi tsb adalah bahwa Al-Quran bukanlah bacaan utk org2 yg telah mati. Kalau sekiranya Al-Quran itu boleh dibacakan utk org yg telah mati tentulah Rasulullah tdk menyamakan rumah yg di dalamnya tdk dibacakan Al-Quran dg kuburan, melainkan beliau akan bersabda ; “JADIKANLAH RUMAH-RUMAH KAMU ITU SEPERTI KUBURAN.”
      4. Di dalam Al-Quran itu penuh dg perintah dan larangan serta lain2 yg masih banyak lagi yg dpt diambil banyak manfaat di dalamnya, maka mungkinkah org2 yg telah mati itu dapat mengambil manfaat dari Al-Quran seperti mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya? padahal dia sudah mati.

      Ada lagi satu Hadits yg dpt menguatkan Hadits diatas,
      Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri dari Rasulullah bahwa beliau bersabda ;
      “Seluruh tempat di bumi ini adalah masjid (tempat shalat) kecuali tempat pemandian dan perkuburan.” (Hadts Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (492), At-Tirmidzi (317), Ibnu Majah (745), Ahmad (III/83 dan 96), Al-Hakim (I/251), Al-Baihaqi (II/435), Al-Baghawi (506), Ibnu Hibban (1699), Ibnu Khuzaimah (791) dan lainnya dari jalur Amru bin Yahya Al-Anshaari dari ayahnya Abu Sa’id Al-Khudri secara marfu)

      ======================================================

      Saya rasa tidak ada khilaf ulama dlm masalah tahlilan disini ;
      1. Madzhab Syafi’i
      Dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab (V/186) : “Adapun hidangan yang disiapkan oleh keluarga si mayit dan mengumpulkan orang banyak pada hidangan tersebut maka tidak ada satupun dalil yang menyebuttkannya. Amalan seperti itu tidak dianjurkan bahkan termasuk bid’ah.”
      An-Nawawi menukil ucapan Imam Asy-Syafi’I dalam kitab Al-Um (I/473) : “Aku membenci acara ma’tam, yaitu berkumpul di tempat orang mati walaupun tanpa disertai tangisan. Karena hal itu bisa mengingatkan kembali kesedihan dan dapat membebani keluarga si mayit.”

      2. Telah berkata Imam Ibnu Qudamah di ktabnya Al-Mughni (juz 3 halaman 496-497) cetakan baru ditahqiq oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki : “Adapun ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak maka itu satu hal yang dibenci. Karena akan menambah (kesusahan) diatas musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukkan mereka dan menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyyah.”

      3. Telah berkata Al-Imam Asy-Syairoziy di kitabnya Muhadzdzab yg kemudian disyarahkan oleh Imam Nawawi dengan nama Al-Majmu syarah Muhadzdzab : “Tidak disukai/dibenci duduk-duduk (ditempat ahli mayit) dengan alasan untuk ta’ziyah karena sesungguhnya yang demikian itu muhdats sedangkan muhdats adalah bid’ah.”

      4. Al-Imam Ahmad bin Hambal ketika ditanya tentang masalah ini beliau menjawab : “dibuatkan makanan untuk mereka (ahli mayit) dan tidaklah mereka (ahli mayit) membuatkan makanan untuk para penta’ziyah.” (Masaa-il Imamm Ahmad bin Hambal oleh Imam Abu Dawud hal : 139)

      5. Berkata Imam Al-Ghazali di kitabnya Al-Wajiz fi fiqhi Al Imam Asy-Syafi’I (1/79) : “disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit.”

      6. Telah berkata Syaikh Ahmad Abdurrahman al-Banna di kitabnya Fathurrabbani tartib musnad Imam Ahmad bin Hambal (8/95-96) : “Telah sepakat Imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad) atass tidak disukainya ahli mayit membuat makanan unntuk orang banyak yang mana mereka berkumpul disitu berdalil dengan hadits Jarir bin Abdullah. Dan zharirnya adalah HARAM karena meratapi mayit hukumnya haram, sedangkan para sahabat telah memasukkannya (yakni berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit) bagian dari meratap dan dia itu (jelas) haram.

      Kemudian Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna di akhir syarahnya atas hadits Jarir menegaskan :
      “ Maka, apa yang biasa dikerjakan oleh kebanyakan orang sekarang ini yaitu berkumpul-kumpul (ditempat ahli mayit) dengan alasan ta’ziyah dan mengadakan penyembelihan, menyediakan makanan, memasang tenda dan permadani dan lain-lain dari pemborosan harta yang banyak dalam seluruh urusan yang bid’ah ini kecuali untuk bermegah-megah dan pamer supaya orang-orang memujinya bahwa si fulan telah mengerjakan ini dan itu dan menginfakkan hartanya untuk tahlilan bapak-nya. Semua itu adalah HARAM menyalahi petunjuk dari Rasulullah dan salafus shalih dari para sahabat dan tabi’in dan tidak pernah diucapkan oleh seorangpun juga dari Imam-Imam Agama (kita). Kita memohon kepada Allah keselamatan !”

      7. Al-Imam Ibnul Qayim dlm kitabnya Zaadul Ma’aad (1/527-528) menegaskan bahwa berkumpul-kumpul (dirumah ahli mayit) dengan alasan ta’ziyah dan membacakan Qur’an utk mayit adalah Bid’ah yang tidak ada petunjuknya dari Rasulullah.

      8. Al-Imam Asy-Syaukani di kitabnya Nailul Authar (4/148) menegaskan bahwa hal tsb MENYALAHI SUNNAH.

      9. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “disukai membuat makanan untuk ahli mayit dan mengirimnya kepada mereka. Akan tetapi tidak disukai mereka membuat makanan untuk para penta’ziyah. Demikian menurut madzhab Ahmad dan lain-lain (Al-Ikhtiyaaraat Fiqhiyyah hal : 93)

  8. Sebelum saya berkomentar, saya ingin garisbawahi sekali lagi bahwa yg mjd permasalahan di sini adalah mengenai SIFAT dan TATA CARA PELAKSAAN Ibadah yg dilaksanakan secara menyimpang (tidak sesuai dg tuntunan Rasulullah dan Sahabat) yang justru dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin sekarang ini sehingga mendekatkan diri mereka menuju ke perbuatan Bid’ah yg terlarang.

    ======================================================

    Anda berkata ;
    “Justru kita perlu bertanya, ajaran Islamkah mereka yg MELARANG orang mengucapkan Laa ilaaha illallah? Siapa yg alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan Iblis dan pengikutnya? Siapa yg membatasi orang mengucapkan Laa ilaaha illallah? Muslimkah dia dan mereka? Semoga Allah memberi hidayah pada muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha illallah,”

    Komentar saya ;
    Saya ingin tanya kpd anda,siapa yg MELARANG org mengucapkan kalimat Laa ilahaillallah? apakah ADA di dlm kalimat saya yg menyebutkan atau yg menggambarkan bahwa saya MELARANG org utk mengucapkan kalimat Laa ilahaillallah? Apakah ada? Apakah perkataan anda tsb hanyalah prasangkaan (su’udzon) anda saja kpd saya dan org2 yg sepaham dg saya? jgn sampai perkataan anda tsb menimbulkan opini bahwa org yg melarang tahlilan, yasinan dsb itu brarti diatelah melarang org utk mendoakan org yg telah mati, melarang org utk membaca Al-Quran dsb, ini jelas KEKELIRUAN yg AMAT SANGAT BESAR yg dpt mendekatkan se2org menuju ke perbuatan FITNAH.

    ==================================================

    Anda berkata ;
    “Saudara kuldesak87, coba munculkan satu dalil yg mengharamkan acara Tahlil? “

    Komentar saya ;
    Dari pertanyaan anda tsb, sangat jelas sekali bahwa anda (maaf) tdk paham mengenai kaidah ibadah, perlu diketahui wahai sodaraku bahwa sesungguhnya kaidah dlm beribadah itu adalah “TERLARANG MELAKUKAN IBADAH SEBELUM DATANGNYA PERINTAH”, berbeda dg kaidah dlm hal muamalah (bermasyarakat), kita boleh melakukan apa aja sebelum datangnya larangan.

    Apabila dilihat dari kaidah tsb, justru saya yg harusnya bertanya kpd anda, mana dalil yg memerintahkan (menetapkan) bahwa tahlilan itu merupakan ibadah? INGAT ! yg saya minta yakni DALIL KHUSUS yg memerintahkan (menetapkan) mengenai SIFAT dan CARA PELAKSANAAN tahlilan itu sendiri, BUKAN perintah dalil secara umum yg memerintahkan kita utk saling mendoakan atau perintah kita utk membaca Al-Quran…..

    Seandainya kita menggunakan kaidah ibadah itu secara terbalik sebagaimana yg anda katakan yakni kita boleh beribadah sebelum adanya larangan, maka akan KACAU Agama kita ini, karna apa? krna nanti org akan beribadah kpd Allah dg CARA-CARA yg serampangan (tidak sesuai dg sunnah Rasulullah dan Sahabat) walaupun niatnya baik, karena syarat sahnya ibadah ialah ; Ikhlas karena Allah dan cara pelaksanaannya harus sesuai dg tuntunan sunnah Nabi (Tafsir Ibnu Katsir (I/231)). Itu artinya, NIAT BAIK saja TIDAKLAH CUKUP dlm beribadah kpd Allah.

    Jika kita menggunakan kaidah ibadah seperti yg anda katakan itu, nanti bisa aja ada org sebelum shalat dhuha melakukan adzan terlebih dahulu atw nanti ada org yg khomat dulu sebelum shalat tarawih, bahkan nanti bisa aja ada org yg shalat subuh sampai 3 rakaat, maka saya mau tanya, apakah perbuatan2 tsb salah? bukankah perbuatan2 tsb tdk ada larangannya? bukankah adzan merupakan syi’ar terbesar dlm Islam? bukankah didlm shalat banyak doa2 yg diucapkan? semakin banyak rakaatnya, bukankah semakin banyak pula doa yg diucapkan? Apakah nanti org yg melarang perbuatan2 tsb berarti org tsb telah melarang se2org utk adzan, khomat dan shalat subuh?……Lalu apa yg salah dari perbuatan2 tsb? tentu jawabannya adalah karena perbuatan2 tsb tidak pernah diperintahkan, ditetapkan atau dicontohkan baik dari Rasulullah maupun para Sahabatnya.

    1. Saya ingin mengutip komentar2 saya dan anda sebelumnya yakni ;

      Saya pernah berkomentar dg menampilkan hadits shahih, Rasulullah bersabda ;
      “Amma ba’du ! Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah (Al-Quran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sejelek-jelek urusan adalah yang baru (muhdats), dan setiap muhdats adalah bid’ah, dan SETIAP BID’AH adalah SESAT dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”
      (H.R Muslim juz III hal.11, Nasaa-i juz III hal.188-189 dan kedua tambahan dlm kurung ( ) dari riwayatnya Ahmad juz III hal.310&371 dan Ibnu Majah no.45)

      Lalu anda menanggapi hadist tsb dg berkata ;
      “Semua dalil yang saudara sebutkan itu shahih, dan kami sangat mematuhi dan taat pada hadits-hadits Shahih.”

      Kemudian di komentar anda yg terakhir, anda berkata ;
      “Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yg melarangnya. ITU ADALAH BID’AH HASANAH yg sudah diperbolehkan oleh Rasulullah SAW. tak pula ada larangan untuk melarang yg berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun. Pelarangan atas hal ini adalah kemungkaran yg nyata.”

      Komentar saya ;
      Ini jelas kurang konsistennya anda dlm berkomentar atw memberi tanggapan, di satu sisi anda mematuhi dan taat bahwa “…..SETIAP BID’AH ADALAH SESAT……”, akan tetapi di sisi lain anda meyakini mengenai adanya BID’AH HASANAH, padahal (saya ulangi) di dlm komentar anda sebelumnya bahwa anda telah MEMATUHI dan TAAT bahwa SETIAP BID’AH ADALAH SESAT ! apakah mungkin ada KESESATAN YANG HASANAH (BAIK)?

      Saya mau tanya, knp anda berani berkata bahwa bid’ah hasanah DIPERBOLEHKAN oleh Rasulullah? Atas dasar apa anda berkata seperti itu?

      Inilah perkataan Imam Malik yg sangat terkenal :
      “Barangsiapa yg membuat bid’ah di dalam Islam yg ia menganggapnya sebagai bid’ah hasanah, maka sesungguhnya ia telah menuduh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkhianat dalam (menyampaikan) risalah Allah. Karena sesungguhnya Allah berfirman :
      “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kamu Agama kamu….” (Al-Ma’idah:3)
      Maka, apa-apa yg tidak menjadi Agama pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi Agama pada hari ini.”
      (al I’tisham oleh Imam asy Syathibi juz I hal. 49)

      Perkataan tsb sangat jelas menunjukan bahwa segala sesuatu yg tidak termasuk ajaran Agama Islam pada hari itu (pada saat turunnya ayat tsb), pastinya tidak akan termasuk ajaran Agama Islam pada hari ini…..

      Abdullah bin Umar berkata ;
      “Setiap bid’ah itu kesesatan, sekalipun manusia menganggapnya hasanah (baik).” (Al-Ibaanah, no.205 (1/339) Al-Laalikaa-iy, no. 126 (1/92)

      ======================================================

      Mengenai tafsir Ibnu Katsir yg anda tambahankan yakni ;
      “Namun mengenai doa dan sedekah maka hal itu sudah sepakat seluruh ulama atas sampainya, dan telah ada Nash nash yg jelas dari syariah yg menjelaskan keduanya” (Tafsir Imam Ibn Katsir juz 4 hal 259).

      Tentu konteksnya berbeda donk antara berdoa dg membaca Al-Quran (walaupun saya tidak mengingkari bahwa di dalam Al-Quran terdapat banyak doa). Dengan ditambahkannya tafsiran tsb dr anda sehingga mjd lebih lengkap lg, maka semakin jelas dan terang. coba simak baik2 tafsir tsb dari awal sampai akhir, di dlm tafsir Ibnu Katsir tsb dijelaskan bahwa para ulama berhukum bahwa MEMBACAKAN Al-QURAN utk si mayit TIDAK PERNAH disyariatkan dlm Islam, akan tetapi apabila kita ingin MENDO’AKANNYA tentulah diperbolehkan, mengapa? karena Rasulullah bersabda ;
      “Mohonlah ampunan bagi saudara kalian. Dan mohonlah keteguhan baginya karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” (H.R Abu Dawud (3221) dari Ustman bin Affan.

      Perkataan Ibnu Katsir tsb hampir sama konteksnya dg sabda Rasulullah yg berbunyi,
      “……ketauhilah bahwa aku dilarang membaca Al-Qur’an ketika rukuk dan sujud. Saat rukuk, agungkanlah Ar-Rabb. Saat sujud, bersungguh-sungguhlah untuk berdo’a, kemungkinan besar do’amu dikabulkan.” (H.R Muslim (479))

      Apabila kita jahil (bodoh), tentu kita akan bertanya, MENGAPA RASULULLAH MELARANG KITA MEMBACA AL-QURAN PD SAAT SUJUD? PADAHAL BELIAU MENGANJURKAN KITA UTK BERSUNGGUH-SUNGGUH DLM BERDOA KPD ALLAH DISAAT SUJUD, BUKANKAH DI DALAM AL-QURAN TERDAPAT BANYAK DOA-DOA?

      Kalo kita lebih jernih (tanpa syubhat) lagi dlm memahami hadist diatas, maka dapat dipetik pelajaran bahwa membaca Al-Quran pun apabila kita membacanya itu tidak tepat waktu dan tempatnya, maka terlarang hukumnya. Begitu jg dg mendoakan org yg telah mati, mendoakan org mati DIPERBOLEHKAN, akan tetapi jika PELAKSAANNYA itu tidak sesuai dengan ketentuan, tentu terlarang hukumnya seperti BERKUMPUL-KUMPUL di rumah duka dsb.

      Dan telah diriwayatkan bahwasanya Jarir pernah bertamu kepada Umar. Lalu Umar bertanya ;
      “Apakah mayit kamu ratapi?”, Jawab Jarir ; “Tidak !”
      Umar bertanya lagi ; “Apakah mereka berkumpul dirumah ahli mayit dan mereka membuat makanan?”
      Jawab Jarir ; “Ya !”
      Berkata Umar ; “Itulah ratapan !”

      Diriwayatkan dari Jarir bin Abdillah Al-Bajali ia berkata ; “Dahulu kami menganggap berkumpul di rumah keluarga mayit dan membuat makanan setelah penguburannya termasuk niyaahah (meratap).” (diriwatkan oleh Ahmad (II/204) dan Ibnu Majah (1612) dengan sanad shahih dan telah dishahihkan oleh An-Nawawi, Al-Busheiri, Asy-Syaukaani dan lainnya)

      =================================================

      Mengenai bolehnya membaca Al-Quran di kuburan, ada hadits yg berbunyi ;
      Dari Abu Hurairah ; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ; “Janganlah kamu jadikan rumah-rumah kamu itu sebagai kuburan. Sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang dibacakan didalamnya surat Al-Baqarah.”(Hadits Shahih riwayat Muslim 2/188)
      Dari Hadits diatas, maka dapat dipetik suatu pelajaran yg sangat besar bahwa ;

      1. Rumah yg TIDAK PERNAH dikerjakan di dalamnya ibadah seperti shalat dan tilawah (membaca) Al-Quran, maka Nabi samakan rumah tsb dengan kubburan.

      2. Sehingga yg dapat kita pahami adalah bahwa kuburan bukanlah tempat yg tepat utk kita membaca Al-Quran.

      3. Sekali lagi yg dapat kita pahami dari sunnah Nabi tsb adalah bahwa Al-Quran bukanlah bacaan utk org2 yg telah mati. Kalau sekiranya Al-Quran itu boleh dibacakan utk org yg telah mati tentulah Rasulullah tdk menyamakan rumah yg di dalamnya tdk dibacakan Al-Quran dg kuburan, melainkan beliau akan bersabda ; “JADIKANLAH RUMAH-RUMAH KAMU ITU SEPERTI KUBURAN.”

      4. Di dalam Al-Quran itu penuh dg perintah dan larangan serta lain2 yg masih banyak lagi yg dpt diambil banyak manfaat di dalamnya, maka mungkinkah org2 yg telah mati itu dapat mengambil manfaat dari Al-Quran seperti mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya? padahal dia sudah mati.
      Ada lagi satu Hadits yg dpt menguatkan Hadits diatas,
      Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri dari Rasulullah bahwa beliau bersabda ;
      “Seluruh tempat di bumi ini adalah masjid (tempat shalat) kecuali tempat pemandian dan perkuburan.” (Hadts Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (492), At-Tirmidzi (317), Ibnu Majah (745), Ahmad (III/83 dan 96), Al-Hakim (I/251), Al-Baihaqi (II/435), Al-Baghawi (506), Ibnu Hibban (1699), Ibnu Khuzaimah (791) dan lainnya dari jalur Amru bin Yahya Al-Anshaari dari ayahnya Abu Sa’id Al-Khudri secara marfu)

      ======================================================

      Saya rasa tidak ada khilaf ulama dlm masalah tahlilan disini ;
      1. Madzhab Syafi’i
      Dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab (V/186) : “Adapun hidangan yang disiapkan oleh keluarga si mayit dan mengumpulkan orang banyak pada hidangan tersebut maka tidak ada satupun dalil yang menyebuttkannya. Amalan seperti itu tidak dianjurkan bahkan termasuk bid’ah.”
      An-Nawawi menukil ucapan Imam Asy-Syafi’I dalam kitab Al-Um (I/473) : “Aku membenci acara ma’tam, yaitu berkumpul di tempat orang mati walaupun tanpa disertai tangisan. Karena hal itu bisa mengingatkan kembali kesedihan dan dapat membebani keluarga si mayit.”

      2. Telah berkata Imam Ibnu Qudamah di ktabnya Al-Mughni (juz 3 halaman 496-497) cetakan baru ditahqiq oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki : “Adapun ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak maka itu satu hal yang dibenci. Karena akan menambah (kesusahan) diatas musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukkan mereka dan menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyyah.”

      3. Telah berkata Al-Imam Asy-Syairoziy di kitabnya Muhadzdzab yg kemudian disyarahkan oleh Imam Nawawi dengan nama Al-Majmu syarah Muhadzdzab : “Tidak disukai/dibenci duduk-duduk (ditempat ahli mayit) dengan alasan untuk ta’ziyah karena sesungguhnya yang demikian itu muhdats sedangkan muhdats adalah bid’ah.”

      4. Al-Imam Ahmad bin Hambal ketika ditanya tentang masalah ini beliau menjawab : “dibuatkan makanan untuk mereka (ahli mayit) dan tidaklah mereka (ahli mayit) membuatkan makanan untuk para penta’ziyah.” (Masaa-il Imamm Ahmad bin Hambal oleh Imam Abu Dawud hal : 139)

      5. Berkata Imam Al-Ghazali di kitabnya Al-Wajiz fi fiqhi Al Imam Asy-Syafi’I (1/79) : “disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit.”

      6. Telah berkata Syaikh Ahmad Abdurrahman al-Banna di kitabnya Fathurrabbani tartib musnad Imam Ahmad bin Hambal (8/95-96) : “Telah sepakat Imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad) atass tidak disukainya ahli mayit membuat makanan unntuk orang banyak yang mana mereka berkumpul disitu berdalil dengan hadits Jarir bin Abdullah. Dan zharirnya adalah HARAM karena meratapi mayit hukumnya haram, sedangkan para sahabat telah memasukkannya (yakni berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit) bagian dari meratap dan dia itu (jelas) haram.
      Kemudian Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna di akhir syarahnya atas hadits Jarir menegaskan : “ Maka, apa yang biasa dikerjakan oleh kebanyakan orang sekarang ini yaitu berkumpul-kumpul (ditempat ahli mayit) dengan alasan ta’ziyah dan mengadakan penyembelihan, menyediakan makanan, memasang tenda dan permadani dan lain-lain dari pemborosan harta yang banyak dalam seluruh urusan yang bid’ah ini kecuali untuk bermegah-megah dan pamer supaya orang-orang memujinya bahwa si fulan telah mengerjakan ini dan itu dan menginfakkan hartanya untuk tahlilan bapak-nya. Semua itu adalah HARAM menyalahi petunjuk dari Rasulullah dan salafus shalih dari para sahabat dan tabi’in dan tidak pernah diucapkan oleh seorangpun juga dari Imam-Imam Agama (kita). Kita memohon kepada Allah keselamatan !”

      7. Al-Imam Ibnul Qayim dlm kitabnya Zaadul Ma’aad (1/527-528) menegaskan bahwa berkumpul-kumpul (dirumah ahli mayit) dengan alasan ta’ziyah dan membacakan Qur’an utk mayit adalah Bid’ah yang tidak ada petunjuknya dari Rasulullah.

      8. Al-Imam Asy-Syaukani di kitabnya Nailul Authar (4/148) menegaskan bahwa hal tsb MENYALAHI SUNNAH.

      9. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “disukai membuat makanan untuk ahli mayit dan mengirimnya kepada mereka. Akan tetapi tidak disukai mereka membuat makanan untuk para penta’ziyah. Demikian menurut madzhab Ahmad dan lain-lain (Al-Ikhtiyaaraat Fiqhiyyah hal : 93)

  9. Sebelum saya berkomentar, saya ingin garisbawahi sekali lagi bahwa yg mjd permasalahan di sini adalah mengenai SIFAT dan TATA CARA PELAKSAAN Ibadah yg dilaksanakan secara menyimpang (tidak sesuai dg tuntunan Rasulullah dan Sahabat) yang justru dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin sekarang ini sehingga mendekatkan diri mereka menuju ke perbuatan Bid’ah yg terlarang.

    ======================================================

    Anda berkata ;
    “Justru kita perlu bertanya, ajaran Islamkah mereka yg MELARANG orang mengucapkan Laa ilaaha illallah? Siapa yg alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan Iblis dan pengikutnya? Siapa yg membatasi orang mengucapkan Laa ilaaha illallah? Muslimkah dia dan mereka? Semoga Allah memberi hidayah pada muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha illallah,”

    Komentar saya ;
    Saya ingin tanya kpd anda,siapa yg MELARANG org mengucapkan kalimat Laa ilahaillallah? apakah ADA di dlm kalimat saya yg menyebutkan atau yg menggambarkan bahwa saya MELARANG org utk mengucapkan kalimat Laa ilahaillallah? Apakah ada? Apakah perkataan anda tsb hanyalah prasangkaan (su’udzon) anda saja kpd saya dan org2 yg sepaham dg saya? jgn sampai perkataan anda tsb menimbulkan opini bahwa org yg melarang tahlilan, yasinan dsb itu brarti diatelah melarang org utk mendoakan org yg telah mati, melarang org utk membaca Al-Quran dsb, ini jelas KEKELIRUAN yg AMAT SANGAT BESAR yg dpt mendekatkan se2org menuju ke perbuatan FITNAH.

    ======================================================

    Anda berkata ;
    “Saudara kuldesak87, coba munculkan satu dalil yg mengharamkan acara Tahlil? “

    Komentar saya ;
    Dari pertanyaan anda tsb, sangat jelas sekali bahwa anda (maaf) tdk paham mengenai kaidah ibadah, perlu diketahui wahai sodaraku bahwa sesungguhnya kaidah dlm beribadah itu adalah “TERLARANG MELAKUKAN IBADAH SEBELUM DATANGNYA PERINTAH”, berbeda dg kaidah dlm hal muamalah (bermasyarakat), kita boleh melakukan apa aja sebelum datangnya larangan.
    Apabila dilihat dari kaidah tsb, justru saya yg harusnya bertanya kpd anda, mana dalil yg memerintahkan (menetapkan) bahwa tahlilan itu merupakan ibadah? INGAT ! yg saya minta yakni DALIL KHUSUS yg memerintahkan (menetapkan) mengenai SIFAT dan CARA PELAKSANAAN tahlilan itu sendiri, BUKAN perintah dalil secara umum yg memerintahkan kita utk saling mendoakan atau perintah kita utk membaca Al-Quran….

    Seandainya kita menggunakan kaidah ibadah itu secara terbalik sebagaimana yg anda katakan yakni kita boleh beribadah sebelum adanya larangan, maka akan KACAU Agama kita ini, karna apa? krna nanti org akan beribadah kpd Allah dg CARA-CARA yg serampangan (tidak sesuai dg sunnah Rasulullah dan Sahabat) walaupun niatnya baik, karena syarat sahnya ibadah ialah ; Ikhlas karena Allah dan cara pelaksanaannya harus sesuai dg tuntunan sunnah Nabi (Tafsir Ibnu Katsir (I/231)). Itu artinya, NIAT BAIK sajaTIDAKLAH CUKUP dlm beribadah kpd Allah.

    Jika kita menggunakan kaidah ibadah seperti yg anda katakan itu, nanti bisa aja ada org sebelum shalat dhuha melakukan adzan terlebih dahulu atw nanti ada org yg khomat dulu sebelum shalat tarawih, bahkan nanti bisa aja ada org yg shalat subuh sampai 3 rakaat, maka saya mau tanya, apakah perbuatan2 tsb salah? bukankah perbuatan2 tsb tdk ada larangannya? bukankah adzan merupakan syi’ar terbesar dlm Islam? bukankah didlm shalat banyak doa2 yg diucapkan? semakin banyak rakaatnya, bukankah semakin banyak pula doa yg diucapkan? Apakah nanti org yg melarang perbuatan2 tsb berarti org tsb telah melarang se2org utk adzan, khomat dan shalat subuh?……Lalu apa yg salah dari perbuatan2 tsb? tentu jawabannya adalah karena perbuatan2 tsb tidak pernah diperintahkan, ditetapkan atau dicontohkan baik dari Rasulullah maupun para Sahabatnya.

    ======================================================

    Saya ingin mengutip komentar2 saya dan anda sebelumnya yakni ;
    Saya pernah berkomentar dg menampilkan hadits shahih, Rasulullah bersabda ;
    “Amma ba’du ! Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah (Al-Quran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sejelek-jelek urusan adalah yang baru (muhdats), dan setiap muhdats adalah bid’ah, dan SETIAP BID’AH adalah SESAT dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”
    (H.R Muslim juz III hal.11, Nasaa-i juz III hal.188-189 dan kedua tambahan dlm kurung ( ) dari riwayatnya Ahmad juz III hal.310&371 dan Ibnu Majah no.45)

    Lalu anda menanggapi hadist tsb dg berkata ;
    “Semua dalil yang saudara sebutkan itu shahih, dan kami sangat mematuhi dan taat pada hadits-hadits Shahih.”

    Kemudian di komentar anda yg terakhir, anda berkata ;
    “Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yg melarangnya. ITU ADALAH BID’AH HASANAH yg sudah diperbolehkan oleh Rasulullah SAW. tak pula ada larangan untuk melarang yg berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun. Pelarangan atas hal ini adalah kemungkaran yg nyata.”

    Komentar saya ;
    Ini jelas kurang konsistennya anda dlm berkomentar atw memberi tanggapan, di satu sisi anda mematuhi dan taat bahwa “…..SETIAP BID’AH ADALAH SESAT……”, akan tetapi di sisi lain anda meyakini mengenai adanya BID’AH HASANAH, padahal (saya ulangi) di dlm komentar anda sebelumnya bahwa anda telah MEMATUHI dan TAAT bahwa SETIAP BID’AH ADALAH SESAT ! apakah mungkin ada KESESATAN yang HASANAH (BAIK)?
    Saya mau tanya, knp anda berani berkata bahwa bid’ah hasanah DIPERBOLEHKAN oleh Rasulullah? Atas dasar apa anda berkata seperti itu?

    Inilah perkataan Imam Malik yg sangat terkenal :
    “Barangsiapa yg membuat bid’ah di dalam Islam yg ia menganggapnya sebagai bid’ah hasanah, maka sesungguhnya ia telah menuduh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkhianat dalam (menyampaikan) risalah Allah. Karena sesungguhnya Allah berfirman :
    “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kamu Agama kamu….” (Al-Ma’idah:3)
    Maka, apa-apa yg tidak menjadi Agama pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi Agama pada hari ini.”
    (al I’tisham oleh Imam asy Syathibi juz I hal. 49)
    Perkataan tsb sangat jelas menunjukan bahwa segala sesuatu yg tidak termasuk ajaran Agama Islam pada hari itu (pada saat turunnya ayat tsb), pastinya tidak akan termasuk ajaran Agama Islam pada hari ini…..

    Abdullah bin Umar berkata ;
    “Setiap bid’ah itu kesesatan, sekalipun manusia menganggapnya hasanah (baik).” (Al-Ibaanah, no.205 (1/339) Al-Laalikaa-iy, no. 126 (1/92)

    1. Mengenai tambahan tafsir Ibnu Katsir dr anda yakni ;
      “Namun mengenai doa dan sedekah maka hal itu sudah sepakat seluruh ulama atas sampainya, dan telah ada Nash nash yg jelas dari syariah yg menjelaskan keduanya” (Tafsir Imam Ibn Katsir juz 4 hal 259).

      Tentu konteksnya berbeda donk antara berdoa dg membaca Al-Quran (walaupun saya tidak mengingkari bahwa di dalam Al-Quran terdapat banyak doa). Dengan ditambahkannya tafsiran tsb dr anda sehingga mjd lebih lengkap lg, maka semakin jelas dan terang. coba simak baik2 tafsir tsb dari awal sampai akhir, di dlm tafsir Ibnu Katsir tsb SANGAT JELAS bahwa para ulama berhukum bahwa MEMBACAKAN Al-QURAN utk si mayit TIDAK PERNAH disyariatkan dlm Islam, akan tetapi apabila kita ingin MENDO’AKANNYA tentulah diperbolehkan, mengapa? karena Rasulullah bersabda ;
      “Mohonlah ampunan bagi saudara kalian. Dan mohonlah keteguhan baginya karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” (H.R Abu Dawud (3221) dari Ustman bin Affan.

      Tafsir Ibnu Katsir tsb hampir sama konteksnya dg sabda Rasulullah yg berbunyi,
      “……ketauhilah bahwa aku dilarang membaca Al-Qur’an ketika rukuk dan sujud. Saat rukuk, agungkanlah Ar-Rabb. Saat sujud, bersungguh-sungguhlah untuk berdo’a, kemungkinan besar do’amu dikabulkan.” (H.R Muslim (479))

      Apabila kita jahil (bodoh), tentu kita akan bertanya, MENGAPA RASULULLAH MELARANG KITA MEMBACA AL-QURAN PD SAAT SUJUD? PADAHAL BELIAU MENGANJURKAN KITA UTK BERSUNGGUH-SUNGGUH DLM BERDOA KPD ALLAH DISAAT SUJUD, BUKANKAH DI DALAM AL-QURAN TERDAPAT BANYAK DOA-DOA?

      Kalo kita lebih jernih (tanpa syubhat) lagi dlm memahami hadist diatas, maka dapat dipetik pelajaran bahwa membaca Al-Quran pun apabila kita membacanya itu tidak tepat waktu dan tempatnya, maka TERLARANG hukumnya. Begitu jg dg mendoakan org yg telah mati, mendoakan org mati DIPERBOLEHKAN, akan tetapi jika PELAKSAANNYA itu tidak sesuai dengan ketentuan, tentu terlarang hukumnya seperti BERKUMPUL-KUMPUL di rumah duka dsb.

      Dan telah diriwayatkan bahwasanya Jarir pernah bertamu kepada Umar. Lalu Umar bertanya ;
      “Apakah mayit kamu ratapi?”, Jawab Jarir ; “Tidak !”
      Umar bertanya lagi ; “Apakah mereka berkumpul dirumah ahli mayit dan mereka membuat makanan?”
      Jawab Jarir ; “Ya !”
      Berkata Umar ; “Itulah ratapan !”

      Diriwayatkan dari Jarir bin Abdillah Al-Bajali ia berkata ; “Dahulu kami menganggap berkumpul di rumah keluarga mayit dan membuat makanan setelah penguburannya termasuk niyaahah (meratap).” (diriwatkan oleh Ahmad (II/204) dan Ibnu Majah (1612) dengan sanad shahih dan telah dishahihkan oleh An-Nawawi, Al-Busheiri, Asy-Syaukaani dan lainnya)

      ===============================================

      Mengenai bolehnya membaca Al-Quran di kuburan, ada hadits yg berbunyi ;
      Dari Abu Hurairah ; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ; “Janganlah kamu jadikan rumah-rumah kamu itu sebagai kuburan. Sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang dibacakan didalamnya surat Al-Baqarah.”
      (Hadits Shahih riwayat Muslim 2/188)

      Dari Hadits diatas, maka dapat dipetik suatu pelajaran yg sangat besar bahwa ;
      1. Rumah yg TIDAK PERNAH dikerjakan di dalamnya ibadah seperti shalat dan tilawah (membaca) Al-Quran, maka Nabi samakan rumah tsb dengan kubburan.
      2. Sehingga yg dapat kita pahami adalah bahwa kuburan bukanlah tempat yg tepat utk kita membaca Al-Quran.
      3. Sekali lagi yg dapat kita pahami dari sunnah Nabi tsb adalah bahwa Al-Quran bukanlah bacaan utk org2 yg telah mati. Kalau sekiranya Al-Quran itu boleh dibacakan utk org yg telah mati tentulah Rasulullah tdk menyamakan rumah yg di dalamnya tdk dibacakan Al-Quran dg kuburan, melainkan beliau akan bersabda ; “JADIKANLAH RUMAH-RUMAH KAMU ITU SEPERTI KUBURAN.”
      4. Di dalam Al-Quran itu penuh dg perintah dan larangan serta lain2 yg masih banyak lagi yg dpt diambil banyak manfaat di dalamnya, maka mungkinkah org2 yg telah mati itu dapat mengambil manfaat dari Al-Quran seperti mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya? padahal dia sudah mati.

      Ada lagi satu Hadits yg dpt menguatkan Hadits diatas,
      Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri dari Rasulullah bahwa beliau bersabda ;
      “Seluruh tempat di bumi ini adalah masjid (tempat shalat) kecuali tempat pemandian dan perkuburan.”
      (Hadts Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (492), At-Tirmidzi (317), Ibnu Majah (745), Ahmad (III/83 dan 96), Al-Hakim (I/251), Al-Baihaqi (II/435), Al-Baghawi (506), Ibnu Hibban (1699), Ibnu Khuzaimah (791) dan lainnya dari jalur Amru bin Yahya Al-Anshaari dari ayahnya Abu Sa’id Al-Khudri secara marfu)

      ======================================================

      Saya rasa tidak ada khilaf ulama dlm masalah tahlilan disini ;
      1. Madzhab Syafi’i
      Dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab (V/186) : “Adapun hidangan yang disiapkan oleh keluarga si mayit dan mengumpulkan orang banyak pada hidangan tersebut maka tidak ada satupun dalil yang menyebuttkannya. Amalan seperti itu tidak dianjurkan bahkan termasuk bid’ah.”
      An-Nawawi menukil ucapan Imam Asy-Syafi’I dalam kitab Al-Um (I/473) : “Aku membenci acara ma’tam, yaitu berkumpul di tempat orang mati walaupun tanpa disertai tangisan. Karena hal itu bisa mengingatkan kembali kesedihan dan dapat membebani keluarga si mayit.”

      2. Telah berkata Imam Ibnu Qudamah di ktabnya Al-Mughni (juz 3 halaman 496-497) cetakan baru ditahqiq oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki : “Adapun ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak maka itu satu hal yang dibenci. Karena akan menambah (kesusahan) diatas musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukkan mereka dan menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyyah.”

      3. Telah berkata Al-Imam Asy-Syairoziy di kitabnya Muhadzdzab yg kemudian disyarahkan oleh Imam Nawawi dengan nama Al-Majmu syarah Muhadzdzab : “Tidak disukai/dibenci duduk-duduk (ditempat ahli mayit) dengan alasan untuk ta’ziyah karena sesungguhnya yang demikian itu muhdats sedangkan muhdats adalah bid’ah.”

      4. Al-Imam Ahmad bin Hambal ketika ditanya tentang masalah ini beliau menjawab : “dibuatkan makanan untuk mereka (ahli mayit) dan tidaklah mereka (ahli mayit) membuatkan makanan untuk para penta’ziyah.” (Masaa-il Imamm Ahmad bin Hambal oleh Imam Abu Dawud hal : 139)

      5. Berkata Imam Al-Ghazali di kitabnya Al-Wajiz fi fiqhi Al Imam Asy-Syafi’I (1/79) : “disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit.”

      6. Telah berkata Syaikh Ahmad Abdurrahman al-Banna di kitabnya Fathurrabbani tartib musnad Imam Ahmad bin Hambal (8/95-96) : “Telah sepakat Imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad) atass tidak disukainya ahli mayit membuat makanan unntuk orang banyak yang mana mereka berkumpul disitu berdalil dengan hadits Jarir bin Abdullah. Dan zharirnya adalah HARAM karena meratapi mayit hukumnya haram, sedangkan para sahabat telah memasukkannya (yakni berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit) bagian dari meratap dan dia itu (jelas) haram.
      Kemudian Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna di akhir syarahnya atas hadits Jarir menegaskan : “ Maka, apa yang biasa dikerjakan oleh kebanyakan orang sekarang ini yaitu berkumpul-kumpul (ditempat ahli mayit) dengan alasan ta’ziyah dan mengadakan penyembelihan, menyediakan makanan, memasang tenda dan permadani dan lain-lain dari pemborosan harta yang banyak dalam seluruh urusan yang bid’ah ini kecuali untuk bermegah-megah dan pamer supaya orang-orang memujinya bahwa si fulan telah mengerjakan ini dan itu dan menginfakkan hartanya untuk tahlilan bapak-nya. Semua itu adalah HARAM menyalahi petunjuk dari Rasulullah dan salafus shalih dari para sahabat dan tabi’in dan tidak pernah diucapkan oleh seorangpun juga dari Imam-Imam Agama (kita). Kita memohon kepada Allah keselamatan !”

      7. Al-Imam Ibnul Qayim dlm kitabnya Zaadul Ma’aad (1/527-528) menegaskan bahwa berkumpul-kumpul (dirumah ahli mayit) dengan alasan ta’ziyah dan membacakan Qur’an utk mayit adalah Bid’ah yang tidak ada petunjuknya dari Rasulullah.

      8. Al-Imam Asy-Syaukani di kitabnya Nailul Authar (4/148) menegaskan bahwa hal tsb MENYALAHI SUNNAH.

      9. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “disukai membuat makanan untuk ahli mayit dan mengirimnya kepada mereka. Akan tetapi tidak disukai mereka membuat makanan untuk para penta’ziyah. Demikian menurut madzhab Ahmad dan lain-lain (Al-Ikhtiyaaraat Fiqhiyyah hal : 93)

      Note :
      Berhubung kayaknya anda memblokir akun saya (kuldesak87) supaya saya tidak bs menanggapi perkataan anda, maka saya berusaha sebisa mungkin agar dapat menanggapi perkataan anda demi meluruskan permasalahan ini agar tdk terjadi salah paham, sehingga saya hrz menggunakan nickname lain…..
      ga usah takut saudaraku, disini kita bahas ilmu…..

  10. Mohon beberapa artikel ini dibuat dalam blog antum, supaya dibaca oleh banyak orang; (syukur2 semuanya), Barakallah fik……..!!!!!

    Karya-karya ulama kita yang harus anda baca, klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=287937743329&1&index=1

    Materi tauhid dalam menjelaskan ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA ARAH, klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=276190138329&1&index=2

    Bantahan Terhadap Kaum Anti Takwil [ALLAH MAHA SUCI DARI TEMPAT DAN ARAH; Mewaspadai Ajaran Wahhabi], klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=312724543329&1&index=0

    Materi penjelasan kesesatan aqidah hulul dan wahdah al-wujud, klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=178832598329

    Pernyataan sebagian ulama Ahlussunnah terkemuka dalam menjelaskan ALLAH ADA TANPA TEMPAT, klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=177358813329

    Dari tulisan al-‘Arif Billah as-Sayyid Abdullah ibn Alawi al-Haddad (Shahib ar-Ratib); supaya anda kenal siapa Ahlussunnah Wal Jama’ah, klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=174232968329

    Materi penjelasan hakekat bid’ah dari a sampe z (supaya jangan sembarangan menuduh ahli bid’ah kepada orang lain), klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=171331573329

    Dari tulisan Imam al-Ghazali dalam menjelaskan bahwa ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA ARAH, klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=171126758329

    dan berbagai materi lainnya, banyak buuaaanggeeett… klik aja di sini http://www.facebook.com/notes.php?id=1789501505

  11. knp anda tidak menjelaskannya (membantahnya) sendiri disini? knp harus ngasih link2 tsb dan menyuruh saya melihatnya sendiri? apakah itu tandanya bahwa sebenarnya anda sendiri msh blm paham thd masalah ini? padahal disisi lain anda SUDAH BERANI menjelek-jelekan para Ulama dlm blog anda ini……

    saya rasa bantahan2 saya di komen2 saya sebelumnya sudah sangat jelas sekali, kecuali jika anda memang sudah taklid buta thd habib dan kelompok anda….
    =======================================================

    Peasan dari Admin:
    1- Bantahan-bantahan anda tidak perlu kami bantah, hanya buang-buang waktu dan tenaga. Tidak bermanfaat. Lebih bermanfaat jika kami pergunakan buat edit postingan. Kami sibuk, maaf ya?

    2- pengunjung blog ini bukan anda saja. Anda hanya salah satu dari 100 – 200-an pengunjung perhari. Jadi anda gak usah ge-er kayak gitu.

    3- Sejak awal, kami sudah mengakui memang kami muqallid (orang yang taklid). Lihat tulisan-tulisan di blog ini, anda akan paham kami memang muqallid. Jadi anda nggak usah repot menuduh kami taklid. Memangnya kalau anda seorang mujtahid ya? Kalau bukan mujtahid, berarti anda juga seorang muqallid (taklid). Kalau begitu anda jangan ge-er, merenung dan berzikir itu lebih utama.

    4- ulama yang mana yang dijelekin di blog ini? Jangan asal nuduh!!!

    5- Anda nafsu amat sih ngajak bantah-bantahan di sini, sampai dobel-dobel nulisnya? Udah gitu pakai dua nama lag? Maaf, nanti salah satunya akan kami delete karena kembar. Boleh ya?

  12. 1- Bantahan-bantahan anda tidak perlu kami bantah, hanya buang-buang waktu dan tenaga. Tidak bermanfaat. Lebih bermanfaat jika kami pergunakan buat edit postingan. Kami sibuk, maaf ya?

    ====================================

    Hanya buang-buang waktu atau memang sebenarnya anda sendiri masih belum paham terhadap bid’ah yg anda bela mati-matian itu?
    Padahal didalam blog-blog anda ini, anda keliahatan begitu sangat ‘hebat’ dan ‘gagah’ sekali pada saat menjelek-jelekan Ulama-Ulama Saudi Arabia.

    2- pengunjung blog ini bukan anda saja. Anda hanya salah satu dari 100 – 200-an pengunjung perhari. Jadi anda gak usah ge-er kayak gitu.

    =====================================

    Saya tau koq kalo sebenarnya ‘dakwah’ anda ini memang orientasinya adalah menggaet massa yg banyak, bukan dakwah al-haq (kebenaran) dan satu hal lagi, anda ga perlulah menyombongkan diri seperti itu karena masih banyak koq blog-blog yg pengunjungnya itu jauuuh lebih banyak dari blog anda ini……..

    3- Sejak awal, kami sudah mengakui memang kami muqallid (orang yang taklid). Lihat tulisan-tulisan di blog ini, anda akan paham kami memang muqallid. Jadi anda nggak usah repot menuduh kami taklid. Memangnya kalau anda seorang mujtahid ya? Kalau bukan mujtahid, berarti anda juga seorang muqallid (taklid). Kalau begitu anda jangan ge-er, merenung dan berzikir itu lebih utama.

    ==========================================

    Anda koq bangga sekali ya mengaku muqallid (taklid buta)? padahal hal tsb dilarang dalam agama (Islam), karena Islam menyuruh seorang muslim beramal dengan memakai ilmu, beramal tanpa dengan ilmu ga akan membawa faedah, malah ditakutkan akan terjerumus kepada perbuatan bid’ah seperti yg anda alami skr ini.

    Taklid buta adalah tradisi kaum awam dan kaum jahil. Seperti yang ditegaskan oleh para Imam ahli ilmu, diantaranya perkataan At Thahawi:”Tidak ada yang bertaklid kecuali orang jahil atau bodoh.”Dan perkataan As Syuyuthi, :”Orang yang bertaklid, tidak disebut alim”AsSyaukani menjelaskan lagi:”Sesungguhnya taklid adalah kejahilan bukan ilmu”.
    Ibnu ayyim Al Jauziyyah mengatakan:”Tidak boleh berfatwa atas dasar taklid, karena taklid bukanlah ilmu, sedangkan fatwa tanpa ilmu hukumnya haram.

    4- ulama yang mana yang dijelekin di blog ini? Jangan asal nuduh!!!

    =============================================

    Sebenarnya anda ini sadar atau tidak sih pada saat nulis (copy-paste) dalam blog ini? Makanya jgn asal kopas doank donk Pak, anda mencaci maki dan menjelek-jelekan Ulama-Ulama Saudi Arabia yg notabenenya mereka adalah para Ulama pembela sunnah, memangnya anda ini siapa jika dibandingkan dengan mereka? bagaimana bisa anda meremehkan keilmuan mereka? wong…..anda saja masih belum bisa membedakan antara kaidah beribadah dengan kaidah bermuamalah koq, tapi gencar sekali menjelek-jelekan mereka.
    Saya rasa anda ini sudah termasuk golongan orang-orang yg sombong nih kayanya, yakni menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.

    5- Anda nafsu amat sih ngajak bantah-bantahan di sini, sampai dobel-dobel nulisnya? Udah gitu pakai dua nama lag? Maaf, nanti salah satunya akan kami delete karena kembar. Boleh ya?

    ==============================================

    Sebenarnya saya cuma mo meluruskan saja kekeliruan-kekeliruan yg anda buat, penyalah tafsiran yg anda ciptakan, tuduhan-tuduhan serta caci maki yg anda tujukan terhadap para pembela sunnah….
    Silahkan aja kalo mo apus beberapa diantaranya, komen saya yg dobel kan ada 6, mungkin antum bisa menghapus 4 diantara komen saya yg saling berkaitan tsb….

      1. saya bukan seorang yg taklid buta dan bukan juga seorang majtahid, karena umat muslim itu dilarang taklid buta terhadap kiayi, ustadz atau habib-nya…..

        Agama Islam itu memerintahkan para pemeluknya untuk mengikuti dalil dan tidak memperkenankan seseorang untuk bertaklid (baca: mengekor/membeo) kecuali dalam keadaan darurat (mendesak), yaitu tatkala seorang tidak mampu mengetahui dan mengenal dalil dengan pasti.
        Agama ini tidak memperkenankan seorang untuk bertaklid pada suatu pendapat tanpa memperhatikan dalilnya.
        Maka, jika telah datang dalil-nya secara pasti, maka seseorang wajib mengikuti dalil tsb.

        ===================================================
        Kami jawab:

        Intinya, anda keberatan disebut taklid buta kan? Padahal kami tahu persis faktanya anda sendiri juga membeo pendapat-pendapat dari syekh-syekh…. Kami juga sering ketemu yang kayak gini…. Bagi kami, anda ini lucu dan sangat ironis!

        Orang-orang yang anda sebut sebagai taklid buta, faktanya mereka belajar ilmu agama di pesantren dari kecil sampai dewasa, mereka sudah mengenal agama dari TK sampai perguruan tinggi dari guru-guru yang memiliki dedikasi tinggi pada dakwah Islam, sampai ada yang dapat gelar MA, Doktor, bahkan ada yang proffesssorrr…. Singkatnya mereka juga memiliki dalail, punya argumen sendiri yang tidak sama dengan anda. Ini fakta yang harus disikapi dengan seimbang.

        Di UMMATI PRESS ada tulisan tentang amalan yang di vonis bid’ah tapi terbukti sebagai amalan Ahlussunnah:
        Tawassul,
        membaca Qur’an di kuburan,
        mencium tangan,
        Penjelasan tentang Bid’ah,
        dan masih banyak lagi….
        semuanya pakai dalil yang kuat dari Al-Qur’an dan hadits.

  13. @ kuldesak87

    oh ana baru tahu neh boss…. kalo ada orang yg wafat lalu kita berkumpul (silaturrahmi=sunnah),mendoakan mayyit bersama=(sunnah), dan para sanak keluarga dan anak nya menghidangkan makanan sekedarnya yang mana di niatkan sedekah=(sunnah) dan pahala kebaikannya untuk si mayyit=(sunnah) ternyata nggak boleh =(bidah)ya ….

    oh ane baru tahu juga tuh boss… Al-Imam Ibnul Qayim dlm kitabnya Zaadul Ma’aad (1/527-528) menegaskan bahwa berkumpul-kumpul (dirumah ahli mayit) dengan alasan ta’ziyah dan membacakan Qur’an utk mayit adalah Bid’ah yang tidak ada petunjuknya dari Rasulullah.tapi di satu sisi…dalam kitab arruh nya mengatakan sampai nya pahala dst….mana yang bener ya boss….

    tolong pencerahannya…

    1. oh ana baru tahu neh boss….kalo ada orang yg wafat lalu kita berkumpul (silaturrahmi=sunnah),mendoakan mayyit bersama=(sunnah), dan para sanak keluarga dan anak nya menghidangkan makanan sekedarnya yang mana di niatkan sedekah=(sunnah) dan pahala kebaikannya untuk si mayyit=(sunnah) ternyata nggak boleh =(bidah)ya…..

      =====================================================

      Perlu digaris bawahi dulu bang, kalo perlu di pilah dulu. Dalam masalah ini, yg termasuk perbuatan bid’ah itu BUKAN silaturahminya, mendoakan org matinya, atau bersedekahnya, melainkan yg termasuk perbuatan bid’ah itu adalah SIFAT & CARA PELAKSAAN tahlilan itu sendiri bang yg menyelisihi sunnah karena TATA CARA PERIBADATAN yg umumnya terjadi seperti sekarang ini itu TIDAK PERNAH diperintahkan, dilakukan atau ditetapkan oleh Rasulullah dan para Sahabatnya karena syarat sahnya ibadah ialah ;
      Ikhlas karena Allah dan cara pelaksanaannya harus sesuai dg tuntunan sunnah Nabi (Tafsir Ibnu Katsir (I/231)). Itu artinya kita beribadah tidak boleh dg cara2 yg serampangan, asal-asalan, berdasarkan perasaan aja, bahkan bermodalkan niat baik saja belumlah cukup.

      Perlu dipahami dulu mengenai kaidah ibadah disini bahwa seseorang tidak boleh melaksanakan suatu ibadah sebelum datangnya perintah, berbeda dalam hal bermuamalah, seseorang boleh melakukan apa saja sebelum adanya larangan.

      1. Adapun jika kita ingin melakukan silaturahmi kepada keluarga, kerabat atau tetangga tentunya tidak terkait sama sekali dg kematian, kapanpun kita ingin bersilaturahmi, maka bersilaturahmilah tanpa harus menunggu adanya orang yg mati terlebih dahulu. Bukankah begitu?

      2. Adapun mendoakan orang yg telah mati tentu BOLEH dilakukan, siapa juga yg MELARANG? karena Rasulullah bersabda :
      “Mohonlah ampunan bagi saudara kalian. Dan mohonlah keteguhan baginya karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” (H.R Abu Dawud (3221) dari Ustman bin Affan.

      3. Apabila kita ikut dalam shalat jenazah pun, itu saja kita sudah termasuk mendoakan ahli mayit juga toh? tanpa harus berkumpul-kumpul membaca yasin, makan-makan yg menyediakan makanannya itu adalah keluarga duka itu sendiri dan justru bertentangan dg apa yg telah dianjurkan oleh Rasulullah pada saat sampai kabar kematian Ja’far yg gugur (di medan perang),
      “Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far, sesungguhnya mereka tengah ditimpa musibah yang menyibukkan mereka. “ (H.R Abu Dawud (3132), At-Tirmidzi (998), Ibnu Majah (1610) dan lainnya dengan sanad yang hasan)

      Hadits itulah yang diamalkan oleh orang-orang shalih dari kaum Salafush Shalih (orang-orang terdahulu yang shalih) sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i dalam kitab Al-Umm (I/278) : “Tetangga mayit atau kaum kerabatnya wajib membuatkan makanan yang mengenyangkan untuk keluarga mayit pada siang dan pada malam harinya. Hal itu merupakan sunnah dan perbuatan yang mulia. Dan merupakan perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang shalih sebelum dan sesudah kami.”

      Berdasarkan dalil dan pendapat Ulama diatas, maka saya tanya, apakah tahlilan yg kebanyakan dilakukan oleh kaum muslimin seperti sekarang ini sudah sesuai dg apa yg telah dianjurkan oleh Rasulullah dan Ulama Ahli Ilmu atau tidak?

      Adapun dalil-dalil khusus yg melarang kegiatan tahlilan antara lain ;
      1. Telah diriwayatkan bahwasanya Jarir pernah bertamu kepada Umar. Lalu Umar bertanya;
      “Apakah mayit kamu ratapi?”, Jawab Jarir ; “Tidak !”
      Umar bertanya lagi ; “Apakah mereka berkumpul dirumah ahli mayit dan mereka membuat makanan?”
      Jawab Jarir ; “Ya !”
      Berkata Umar ; “Itulah ratapan !”

      2. Diriwayatkan dari Jarir bin Abdillah Al-Bajali ia berkata ; “Dahulu kami menganggap berkumpul di rumah keluarga mayit dan membuat makanan setelah penguburannya termasuk niyaahah (meratap).” (diriwatkan oleh Ahmad (II/204) dan Ibnu Majah (1612) dengan sanad shahih dan telah dishahihkan oleh An-Nawawi, Al-Busheiri, Asy-Syaukaani dan lainnya)

      Mengenai keraguan bang gondrong apakah tahlilan (yang didalamnya termasuk membacakan Al-Quran untuk si mayit) itu termasuk bid’ah atau sunnah, maka bang gondrong bisa liat komen2 saya sebelumnya diatas, apakah dalil-dalil dan pendapat-pendapat para Ulama lebih condong bahwa tahlilan itu termasuk bid’ah atau sunnah?

      Sebenarnya begini bang, kenapa banyak kiayi, ustadz, atau habib pada mendukung dan membela mati-matian acara2 bid’ah seperti tahlilan, maulidan, yasinan dll.?
      karena apabila kaum muslimin tau bahwa perbuatan2 tsb termasuk bid’ah dlm agama dan termasuk perbuatan yg sesat dan segala kesesatan tempatnya di neraka, maka mereka (kiayi dkk.) ga akan ‘laku’ lagi donk, dan otomatis mereka akan kehilangan ‘job’ karena dari acara2 seperti itulah mereka bisa memperoleh rupiah….bahkan seorang pelawak saja bisa menjadi ustadz (langsung ceramah) di dalam acara2 bid’ah seperti itu…..pahit memang untuk mengatakannya, tapi itulah realitanya…….

      Saya berharap bang gondrong bertanya karena bang gondrong benar2 ingin tau….

      -sukron-

  14. @kuldesak87

    Assalam…

    @Saya berharap bang gondrong bertanya karena bang gondrong benar2 ingin tau…
    =================================================

    ane tak mau banyak comment,ane hnya sedikit mo cerita di lingkungan ane..

    Jika ada sesuatu musibah,baik itu warga sakit,wafat, Alhamdulillah mereka cepat berkumpul mengulurkan bantuan.(krn susah kumpul jika tak ada hal serupa kecuali arisan)

    jika ada yg wafat mereka membantu sumbangan baik berupa apa saja yg kita bisa ada yg berupa uang, beras, makanan kecil,dll. para wanita menyiapkan sesuatu di dapur (jika di dapur ybs tak memunginkan akan di pindahkan ke tetangga lainnya), para laki menyiapkan lainnya,spt tempat duduk,tenda (gratis) melaporkan adanya yg wafat ke…s/d.. bgt pula kepengurusan penguburannya,

    dan di tempat kami jika ada yg wafat dan almarhum terdaftar sbg anggota tetap iuran dana kematian, keluarga akan mendapat santunan berupa uang….

    mengenai hal lainnya (tahlilan,baca yasinan dll) tinggal bgm kita menafsirkannya sendiri krn masing2 punya dalil, saya tak mau comment..

    @Mengenai keraguan bang gondrong apakah tahlilan (yang didalamnya termasuk membacakan Al-Quran untuk si mayit) itu termasuk bid’ah atau sunnah, maka bang gondrong bisa liat komen2 saya sebelumnya diatas, apakah dalil-dalil dan pendapat-pendapat para Ulama lebih condong bahwa tahlilan itu termasuk bid’ah atau sunnah?

    ======================================

    sudah ana baca langsung (hal yg serupa) di .

    oh iya, bgm ttg buku zaadul maad dan ar-ruh nya ibnul qoyyim, blm ada pencerahannya…?!

    wassalam…

    1. kalo soal buku tsb, saya ga mau masuk ke wilayah yg ga saya ketahui ya,

      cuma saya ingin mencoba mengutip perkataan Ibnu Katsir dlm tafsir surat An-Najm : 38-39,
      “……ayat yang mulia ini (maksudnya Q.S An-Najm :38-39), Al Imam Asy-Syafi’iy bersama para ulama yang mengikutinya telah mengeluarkan hukum : Bahwa bacaan Qur’an tidak akan sampai hadiah pahalanya kepada orang yang telah mati karena bacaan tersebut bukan dari amal dan usaha mereka (yakni orang yg telah mati tsb)……”

      1. Sebenarnya jalan pikir sederhananya siy ky bgni, kalo seandainya kita bisa memberikan (menyedekahkan) pahala kita utk org lain, maka kalo bgtu, kita jg bisa donk memberikan dosa atau minimal menanggung dosa org lain jg? yg dmna dosa yg kita tanggung itu tdk prnh kita lakukan, apa bisa seperti itu? lagipula, bgaimana bisa seseorang mendapatkan pahala dari suatu amal baik yg tidak dilakukannya?

        Adapun yg bisa kita lakukan hanyalah sebatas meminta kpd Allah agar diterima segala amal ibadah org yg kita ingin doakan tsb, meminta kpd kpd Allah utk memaafkan kesalahan yg telah dilakukan org lain yg kita doakan tsb dan lain sebagainya.

        sesungguhnya Allah Maha Adil, seseorang akan mendapatkan ganjaran sesuai dg apa yg telah dilakukannya/diusahakannya sebagaimana firman Allah :
        “Bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya manusia tidak akan memperoleh (kebaikan) kecuali apa yang telah diusahakan.”
        (Q.S An-Najm : 38-39)

  15. Ummati :
    Intinya, anda keberatan disebut taklid buta kan? Padahal kami tahu persis faktanya anda sendiri juga membeo pendapat-pendapat dari syekh-syekh…. Kami juga sering ketemu yang kayak gini…. Bagi kami, anda ini lucu dan sangat ironis!

    =================================================

    ya tentu saja saya keberatan disebut taklid buta, karena seorang muslim itu dilarang utk taklid buta dan wajib mengikuti dalil, adapun mengikuti pendapat syaikh-syaikh, hal itu terkait dg dalil tentunya, dalil yg shahih tetaplah yg mjd nomor satu yg harus dijadikan patokan, pendapat syaikh hanya menguatkan dalil yg telah ada sebelumnya karena Syaikh-Syaikh Ahlus Sunnah mengajarkan seorang muslim utk tidak taklid buta thd pendapat2nya……

    Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan,

    ???? ??? ??? ???? ????? ??????? ?? ???? ??? ?? ???? ?????? ?????? ????? ??? ?? ?? ????? ?????? ?????? ???????

    “Aku hanyalah seorang manusia, terkadang benar dan salah. Maka, telitilah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan al-Quran dan sunnah nabi, maka ambillah. Dan jika tidak sesuai dengan keduanya, maka tinggalkanlah.” (Jami’ Bayan al-’Ilmi wa Fadhlih 2/32).

    Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan,

    ??? ????? ?? ????? ???? ??? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ?????? ???? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ????? ?? ???

    “Apabila kalian menemukan pendapat di dalam kitabku yang berseberangan dengan sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ambillah sunnah tersebut dan tinggalkan pendapatku.” (Al-Majmu’ 1/63).

    Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah mengatakan,

    ?? ?????? ??? ???? ????? ??? ?????? ??? ???????? ??? ?? ??? ?????

    “Janganlah kalian taklid kepadaku, jangan pula bertaklid kepada Malik, ats-Tsauri, al-Auza’i, tapi ikutilah dalil.” (I’lam al-Muwaqqi’in 2/201;Asy-Syamilah,).

    Justru disinilah yg lucu, disatu sisi Islam melarang seseorang utk bertaklid buta thd kiayi, ustadz atau habibnya, tp disisi lain bpk malah dg bangga mengakui bahwa “kami memang seorang yg taklid buta”…..

    Ummati :
    Singkatnya mereka juga memiliki dalil, punya argumen sendiri yang tidak sama dengan anda. Ini fakta yang harus disikapi dengan seimbang.

    =================================================

    bagaimana bisa bapak mengharapkan orang lain utk bersikap seimbang, tp bapak sendiri tidak imbang dlm bersikap yakni dg menjelek-jelekan Ulama-Ulama Saudi, serta meremehkan keilmuan mereka? mengapa bapak bisa bersikap seperti itu? apakah karena mereka tidak mempunyai gelar MA, Doktor atau bahkan Professoorrrr?
    ========================================

    @Bapak Kuldesak87,

    1)- Mengenai Ucapan para Imam Mazhab tersebut, kita harus mengartikan sebagai sikap tawadlu’ mereka. Maksudnya itu menunjukkan bahwa mereka tidak arogan, tidak sombong, tidak mengklaim kebenaran miliknya sendiri. Mereka masih mau diperbaiki kalau terbukti menyalahi Al-Qur’an dan Sunnah. Memangnya anda menemukan kesalahan mereka dalam berijtihad?

    4)- Adapun mengenai istilah “taklid buta”, andalah yang menuduhkannya kepada kami, dan kami mengakuinya sebagi orang muqallid yang berarti kami mengikuti pendapat Ulama yang berdasar Al-Qur’an, Al-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Jadi bukan taklid buta. Tentang taklid buta yang anda lontarkan itu adalah tuduhan kosong yang berbalik kepada anda sendiri. Demikianlah faktanya, bahwa para Kiyai dan Habaib yang anda remehkan itu adalah para pemegang sanad keilmuan kepada Rasulullah Saw. Merkalah para pemilik dan pemelihara sanad keilmuan Islam. Bukan wahhabi yang menyempal pemahamannya dari mayoritas ulama ahlussunnah!

    2)- Kami perlu jelaskan pada pengunjung yang lain, bahwa ketika ada tokoh-tokoh yang diagung-agungkan ‘setinggi langit’ oleh kelompok orang-orang yang seakan-akan sempurna yang hobby membid’ahkan, memusrikkan, dan menganggap taklid buta kepada orang yang berbeda pandangan, lalu di sisi lain kami menyajikan fakta miring tentang tokoh-tokoh tersebut, itu tidak berarti kami menjelekkan mereka. Hanya sebagai warning, itu saja kok? Kenyataannya seperti ini lho mereka itu, tidak sesempurna yang dipromosikan oleh para pengikutnya. Jangan jadi korban promosi produk baru yang mengaku memiliki ‘resep asli dan murni’.

    3)- Terus terang kami juga menghormati mereka sebagi manusia, tidak ada maksud menjelekkan. Mengenai sajian fakta, memang kami harus menyajikannya kepada sebanyak-banyaknya kaum muslimin agar mereka punya pertimbangan yang adil dalam memilih manhajnya. Fakta-fakta tersebut diungkap dan ditulis oleh mereka yang kredibel, dan kami merasa perlu untuk memberitakannya. Agar bagi mereka yang masih punya hati bisa merenung, memikirkan, membandingkan, mana yang memiliki dalil lebih kuat, kemudian silahkan pilih sendiri dengan segala konsekwnsinya. Demikianlah, informasi tentang hal ini memang harus dibuka dari ketersumbatannya, biarkan mengalir, biarkan orang-orang mengambil manfaatnya.

    1. 1. Kutipan yg saya nukil itu cuma dlm rangka mengingatkan bapak aja agar tidak taklid buta, soalnya bpk dg tegas mengakui bahwa bpk seorang muqallid yg tak lain artinya adalah org yg taklid, pdhl di sisi lain para Imam Mazhab itu melarang seorang muslim utk taklid buta thd mereka, yakni dg maksud utk menghindari agar umat muslim tidak bersikap ghuluw dg menganggap mereka maksum karena hanya Rasulullah-lah yg maksum. Akan tetapi perlu digaris bawahi disini bahwa bukan berarti saya mengabaikan pendapat2 mereka, karena secara keilmuan dan ketakwaan, mereka tentu sangat jauh diatas kita. Bahkan pendapat2 mereka banyak digunakan oleh sebagaian besar ulama di seluruh dunia sbg penjelas dari dalil-dalil yg telah ada.

      2. Apapun bahasa lain yg bpk gunakan, ttp aja saya menganggap bahwa itu merupakan penghinaan, menjelek-jelekkan, serta meremehkan mereka (Syaikh-Syaikh Saudi) pdhl mereka terkenal sbg Ulama2 abad ini yg selalu berpegang teguh tdh Sunnah Rasulullah yg tidak menjadikan dakwah/ceramah mereka sbg ‘mata pencaharian’.
      Skr bgni aja dh, apakah bpk udah baca seluruh buku-buku karya mereka? apakah bpk jg udh mempelajari biografi (riwayat perjalanan hidup) mereka? apakah bpk udah menyimak kajian2 yg mereka lakukan selama ini?
      maka, hemat saya adalah sbg muslim yg baik, alangkah baiknya kalo bpk ini jgn asal kutip (copy-paste) trz main ‘lempar’ bgtu aja ke public, pdhl bpk sendiri msh ga tau siapa mereka.
      Akan tetapi tidak ada disini termasuk saya yg mengagung-agungkannya setinnggi langit serta menganggap mereka seolah-olah sempurna karena umat muslim dilarang berbuat seperti itu kpd sesama manusia.
      ==========================================

      Note: Mengakui atau pun tidak mengakui, Kita adalah sungguh-sungguh para muqallid. Yaitu taklid kepada yang kita ikuti pemahaman agamanya. Ada pemahaman ala empat Imam Mazhab, ada juga pemahaman ala wahabi.

      1. kynya bpk blm jwb pertanyaan saya, bpk udh baca seluruh kitab2 karya Syaikh2 Saudi blm? udh mempelajari riwayat hidup mereka blm? karena ini menyangkut nama baik dan kehormatan seorang muslim pak….

        dan satu lg, bpk selalu bilang si ini wahabi….si itu wahabi….wahabi seperti ini….wahabi seperti itu…..wahabi…wahabi…..wahabi
        tp bpk sendiri udh membaca seluruh kitab2 karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab?

        1. Bapak Kuldesak ini memang aneh pertanyaannya, tapi baiklah….

          1-) Kami sudah baca kitab induk Wahabi yang berjudul “Kasyfu Syubuhat” bahkan lengkap dengan syarahnya. Kitab ini sudah mewakili jalan pikiran, maaf…, ala wahabi. Ini kalau mau ikut baca:

          1. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 1
          2. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 2
          3. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 3
          4. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 4
          5. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 5
          6. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 6
          7. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 7
          8. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 8
          9. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 9
          10. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 10
          11. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 11
          12. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 12
          13. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 13
          14. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 14
          15. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 15
          16. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 16
          17. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 17
          18. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 18
          19. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 19
          20. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 20
          21. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 21
          22. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 22
          23. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 23
          24. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 24
          25. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 25
          26. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 26
          27. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 27
          28. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 28
          29. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 29
          30. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 30
          31. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 31
          32. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 32

          33. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 33

          34. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 34

          35. Kitab Kasyfu Asy-Syubuhat Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas 35

          2-) Bapak kuldesak memang aneh dan ajaib. Seharusnya Bapak bangga dong dengan sebutan wahabi, Paham yang Bapak anut. Kok malah marah? Memangnya ada apa dengan wahabi? Memangnya ada yang salah dengan wahabi ini, Kok tidak bangga?

  16. @cumanliwat

    Bisa kang…klik aja http://islam-download.net lalu ada bacaan: download islamic file,dan di bawah nya file menu islam download.net, nah disitu tertera banyak tinggal download aja, mis ttg bi’dah sehari-hari,dsn ada bahaya bidah,maulid dll nah tinggal download aja…

  17. @kuldesak87

    cuma saya ingin mencoba mengutip perkataan Ibnu Katsir dlm tafsir surat An-Najm : 38-39,
    “……ayat yang mulia ini (maksudnya Q.S An-Najm :38-39), Al Imam Asy-Syafi’iy bersama para ulama yang mengikutinya telah mengeluarkan hukum : Bahwa bacaan Qur’an tidak akan sampai hadiah pahalanya kepada orang yang telah mati karena bacaan tersebut bukan dari amal dan usaha mereka (yakni orang yg telah mati tsb)……”

    Oh ya kang ada kelanjutannya jangan kelewat ….

    “Namun mengenai doa dan sedekah maka hal itu sudah sepakat seluruh ulama atas sampainya, dan telah ada Nash nash yg jelas dari syariah yg menjelaskan keduanya” (Tafsir Imam Ibn Katsir juz 4 hal 259).

    Bagaimana dengan penjelasan hujjatul islam Imam Nawawi,dll. yang bermadzhabkan Imam syafii,yg mempunyai sanad keilmuan samapi ke imam syafii,seperti:

    Ucapan Imam Nawawi dalam Syarah Nawawi Ala shahih Muslim Juz 1 hal 90 menjelaskan :

    “Barangsiapa yg ingin berbakti pada ayah ibunya maka ia boleh bersedekah atas nama mereka (kirim amal sedekah untuk mereka), dan sungguh pahala shadaqah itu sampai pada mayyit dan akan membawa manfaat atasnya tanpa ada ikhtilaf diantara muslimin, inilah pendapat terbaik, mengenai apa apa yg diceritakan pimpinan Qadhiy Abul Hasan Almawardiy Albashriy Alfaqiihi Assyafii mengenai ucapan beberapa Ahli Bicara bahwa mayyit setelah wafatnya tak bisa menerima pahala, maka pemahaman ini Batil secara jelas dan kesalahan yg diperbuat oleh mereka yg mengingkari nash nash dari Alqur’an dan Alhadits dan Ijma ummat ini, maka tak perlu ditolelir dan tak perlu diperdulikan….dst”

    Mengenai pahala Alqur’an menurut pendapat yg masyhur dalam madzhab Syafii bahwa tak sampai pada mayyit, namun adapula pendapat dari sahabat sahabat Syafii yg mengatakannya sampai, dan sebagian besar ulama mengambil pendapat bahwa sampainya pahala semua macam ibadah, berupa shalat, puasa, bacaan Alqur’an, ibadah dan yg lainnya, sebagaimana diriwayatkan dalam shahih Bukhari pada Bab : “Barangsiapa yg wafat dan atasnya nadzar” bahwa Ibn Umar memerintahkan seorang wanita yg wafat ibunya yg masih punya hutang shalat agar wanita itu membayar(meng qadha) shalatnya, dan dihikayatkan oleh Penulis kitab Al Hawiy, bahwa Atha bin Abi Ribah dan Ishaq bin Rahawayh bahwa mereka berdua mengatakan bolehnya shalat dikirim untuk mayyit,dst…

    “Sungguh sedekah untuk dikirimkan pada mayyit akan membawa manfaat bagi mayyit dan akan disampaikan padanya pahalanya, demikian ini pula menurut Ijma (sepakat) para ulama, demikian pula mereka telah sepakat atas sampainya doa doa, dan pembayaran hutang (untuk mayyit) dengan nash2 yg teriwayatkan masing masing, dan sah pula haji untuk mayyit bila haji muslim,
    demikian pula bila ia berwasiat untuk dihajikan dengan haji yg sunnah, demikian pendapat yg lebih shahih dalam madzhab kita (Syafii), namun berbeda pendapat para ulama mengenai puasa, dan yg lebih benar adalah yg membolehkannya sebagaimana hadits hadits shahih yg menjelaskannya,
    dan yg masyhur dikalangan madzhab kita bahwa bacaan Alqur’an tidak sampai pada mayyit pahalanya, namun telah berpendapat sebagian dari ulama madzhab kita bahwa sampai pahalanya, dan Imam Ahmad bin Hanbal berpegang pada yg membolehkannya” (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 7 hal 90)

    dalam syarah al kanz

    “sungguh boleh bagi seseorang untuk mengirim pahala amal kepada orang lain, shalat kah, atau puasa, atau haji, atau shadaqah, atau Bacaan Alqur’an, dan seluruh amal ibadah lainnya, dan itu boleh untuk mayyit dan itu sudah disepakati dalam Ahlussunnah waljamaah.
    Namun hal yg terkenal bahwa Imam Syafii dan sebagian ulamanya mengatakan pahala pembacaan Alqur’an tidak sampai, namun Imam Ahmad bin hanbal, dan kelompok besar dari para ulama, dan kelompok besar dari ulama syafii mengatakannya pahalanya sampai, demikian dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al Adzkar,..

    yang lainnya….

    dan doa itu sudah Muttafaq alaih (tak ada ikhtilaf) bahwa doa itu sampai dan bermanfaat pada mayyit bahkan pada yg hidup, keluarga dekat atau yg jauh, dengan wasiat atau tanpa wasiat, dan dalil ini dengan hadits yg sangat banyak” (Naylul Awthar lil Imam Assyaukaniy Juz 4 hal 142, Al majmu’ Syarh Muhadzab lil Imam Nawawiy Juz 15 hal 522)

    Fathul muin:
    “Berfatwa dgn sampai pahala bacaan kebanyakan dari imam2 madzhab kita (syafii) begitu juga fatwa yang mutamad dari imam Subki dan lain2.. (fathulmuin bab wasiat)

    I’anatut Thalibin :
    “perkataan tiada sampai pahala bacaan kepada mayat”adalah pendapat yang dhoif, dan berfatwa sebagian shahabat katanya sampai,begitu tersebutdalam kitab bujairimi” I’anatut Thalibin juz 3 hal 221

    Nah kang para ulama syafiiah katakan sampai nya pahala…

    ibnu katsir bermadzhab syafii apa bukan ya kang?
    dan bagaimana korelasi antara ibnu katsir dgn para ulama syafii lainnya? dapatlah kira nya menjelaskan pd ane……

    1. @ Al Akh Gondrong rohimahulloh

      Sesuatu yang dilarang oleh dalil umum, kemudian ada dalil khusus yang membolehkannya, maka dalil khusus tersebut tidak bisa diqiyakan untuk amalan lain yang serupa.

      membayarkan zakat atau menunaikan haji seorang mayit itu dilarang oleh dalil umum, “Barangsiapa yang kafir maka dia sendiriah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan barangsiapa yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan).” (QS. Ar Ruum [30]:44)

      “Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang diusahakannya.” [QS. An-Najm [53]: 39].

      dilarang juga dengan hadits shohih, “Apabila anak Adam telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali atas tiga hal : shadaqah jaariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shalih yang mendoakannya. (HR. Muslim)

      namun kedua perkara di atas ada dalil khusus yang membolehkannya.

      Seorang laki-laki mendatangi Rosululloh, kemudian berkata, ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia secara mendadak dan tidak sempat berwasiat. Saya kira, jika ia sempat berbicara niscaya ia akan bershadaqah. Adakah baginya pahala jika saya bershadaqah untuknya ?”. Maka beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab : ”Ya” [HR. Bukhari no. 1322 dan Muslim no. 1004]

      Rosululloh bersabda: “Barangsiapa yang meninggal dunia dan ia masih memiliki kewajiban puasa, maka hendaklah walinya berpuasa untuknya.” [HR. Bukhari no. 1851, Muslim no. 1147, Abu Dawud no. 2400, dan yang lainnya]

      TARJIH

      menghadiahkan pahala amalan selain dari amalan yang disebutkan oleh dalil-dalil yang shohih adalah terlarang. apa gunanya dalil-dalil umum jika setiap amalan bisa diqiyaskan dengan dalil khusus yang berlawanan?

      lebih jelas lagi, Rosululloh bersabda: “Seseorang tidak boleh shalat untuk menggantikan shalat orang lain, dan tidak pula puasa untuk menggantikan puasa orang lain. Akan tetapi memberikan makanan darinya setiap hari sebanyak satu mud biji gandum.” [HR. An-Nasa’i dalam Al-Kubraa no. 2918 dan Ath-Thahawi dalam Musykilul-Aatsaar 3/141].

      selain itu, prinsip dalam amal sholih adalah tauqif, yaitu diam sampai ada dalil yang mensyariatkannya. bagaimana mungkin kita mendahului apa yang dilewatkan oleh Rosululloh dan para sahabat?

    2. @ Al Akh Gondrong rohimahulloh

      ana juga mendapati atsar dari Imam An Nawawi rohimahulloh dalam Syarh Shohih Muslim 1/90:

      “Adapun bacaan Al-Qur’an (yang pahalanya dikirmkan kepada si mayit), maka yang masyhur dalam madzhab Syafi’i adalah bahwa perbuatan tersebut tidak akan sampai pahalanya kepada mayit yang dikirimi…… Adapun dalil Imam Syafi’i dan para pengikutnya adalah firman Allah (yang artinya) : ”Dan tidaklah seseorang itu memperoleh balasan kecuali dari yang ia usahakan” (QS. An-Najm : 39); dan juga sabda Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam (yang artinya) : ”Apabila anak Adam telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali atas tiga hal : shadaqah jaariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shalih yang mendoakannya.” [Lihat Syarh Shahih Muslim oleh An-Nawawi 1/90]

      sedangkan Al Haitsami rohimahulloh berkata:

      “Mayit, tidak boleh dibacakan apapun berdasarkan keterangan yang mutlak dari ulama’ mutaqaddimiin (terdahulu); bahwa bacaan (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit) adalah tidak sampai kepadanya. Sebab pahala bacaan itu adalah untuk pembacanya saja. Sedang pahala hasil amalan tidak bisa dipindahkan dari ’aamil (orang yang mengamalkan) perbuatan tersebut, berdasarkan firman Allah ta’ala (yang artinya) : ”Dan tidaklah seseorang itu memperoleh balasan kecuali dari yang ia usahakan.” (QS. An-Najm : 39) [Lihat Al-Fatawaa Al-Kubraa Al-Fiqhiyyah oleh Al-Haitsami 2/9].

      dan Ibnu Katsir rohimahulloh berkata:

      ”Yakni sebagaimana dosa seseorang tidak dapat menimpa kepada orang lain. Demikian juga manusia tidak memperoleh pahala melainkan dari hasil amalnya sendiri. Dan dari ayat yang mulia ini (ayat 39 QS. An-Najm), Imam Asy-Syafi’i dan ulama-ulama lain yang mengikutinya mengambil kesimpulan bahwa bacaan yang pahalanya dikirimkan kepada mayit adalah tidak dapat sampai, karena bukan dari hasil usahanya sendiri. Oleh karena itu Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam tidak pernah menganjurkan umatnya untuk mengamalkannya (pengiriman pahala bacaan), dan tidak pernah memberikan bimbingan, baik dengan nash maupun dengan isyarat. Dan tidak ada seorang shahabat pun yang pernah mengamalkan perbuatan tersebut. Kalaupun amalan semacam itu memang baik, tentu mereka lebih dahulu mengerjakannya, padahal amalan pendekatan diri kepada Allah tersebut hanya terbatas pada nash-nash (yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah) dan tidak boleh dipalingkan dengan qiyas-qiyas dan pendapat-pendapat” [Lihat Tafsir Al-Qur’aanil-’Adhiim li-Bni Katsiir, tafsir surat An Najm 39]

  18. @ Al Akh Ahmad Khoiruddin rohimahulloh

    ana hanya menanggapi secuplik dari tulisan antum yang ana anggap perlu dan mampu untuk ana tanggapi.

    antum menulis: “Dalam kasus shalat sunnat asar di atas, menurut Al-Albani Sunnah, berarti dapat pahala. Menurut Bin Baz Haram, berarti dosa. Sedangkan menurut Syeikh Utsaimin tidak ada dalilnya, berarti bid’ah. Nah, kan bingung? Mungkin ini hanya wacana saja untuk sekedar jadi renungan hangat bagi mereka yang hoby menuduh bid’ah dan mencela jama’ah lain.”

    HADITS TENTANG MASYRU’NYA SHOLAT SUNNAT BA’DA ‘ASAR

    Dari Ummu Salamah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallham dibuat sibuk atas satu urusan sehingga tidak sempat mengerjakan shalat dua raka’at sebelum ‘Asar. Maka beliau mengerjakannya setelah ‘Ashar” [HR. An-Nasa’i dalam Al-Mujtabaa’ nomor 580]

    Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata : “Demi Allah, beliau tidak pernah meninggalkan shalat dua raka’at sehingga beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bertemu dengan Allah, dan beliau tidak bertemu dengan Allah ta’ala hingga beliau merasa berat melakukan shalat. Dan beliau sering melakukan shalatnya dengan duduk, yaitu shalat (sunnah) dua raka’at setelah ‘Ashar dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam biasa mengerjakan shalat (sunnah) dua raka’at setelah ‘Ashar itu tidak di dalam masjid karena takut akan memberatkan umatnya dan beliau senang terhadap sesuatu yang membuat ringan bagi umatnya” [HR. Al-Bukhari nomor 565]

    Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata : “Dua shalat yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam di rumahku dalam keadaan apapun yaitu : Dua raka’at sebelum Fajar/Shubuh dan dua raka’at setelah ‘Ashar” [HR. Al-Bukhari nomor 566-567 dan Muslim nomor 835].

    Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata : “Tidaklah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasalam mendatangiku di suatu hari setelah ‘Ashar melainkan beliau mengerjakan shalat dua raka’at” [HR. Al-Bukhari nomor 568]

    Dari ‘Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Janganlah seseorang shalat setelah ‘Ashar kecuali bila matahari masih putih dan tinggi’ [HR. Ibnu Khuzaimah nomor 1284 – lihat pula yang semakna di nomor 1285; Abu Dawud nomor 1274; An-Nasa’i dalam Al-Mujtabaa nomor 573, dan lain-lain]

    kesimpulannya, sholat sunnat ba’da ‘asar adalah perkara yang masyru’, namun memiliki syarat, yaitu matahari masih putih dan tinggi. apabila matahari mulai redup, maka tidak dibolehkan lagi sholat sunnah ba’da ‘asar.

    adapun sebab kenapa Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Utsaimin berseberangan pendapat dengan Syaikh Al Albani dimungkinkan karena kedua Syaikh tersebut belum mengetahui dalilnya, sedangkan Syaikh Al Albani yang lebih tinggi pengetahuannya di bidang hadits tentu lebih mengetahui mana yang benar.

    sebagaimana kaidah, “Orang yang mengetahui adalah hujjah bagi orang yang tidak mengetahui.”

    Alloh berfirman: “Supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya.” (QS Al Baqarah [2]: 282)

    ==========================================
    @ibnu abi irfan
    adapun sebab kenapa Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Utsaimin berseberangan pendapat dengan Syaikh Al Albani dimungkinkan karena kedua Syaikh tersebut belum mengetahui dalilnya, sedangkan Syaikh Al Albani yang lebih tinggi pengetahuannya di bidang hadits tentu lebih mengetahui mana yang benar.

    Notes: Bagaimana orang berfatwa tentang ibadah kok belum tahu dalilnya?
    Bukankah anda tahu, ibadah itu bukan barang mainan? Terus orang sekaliber beliau-beliau itu yang sudah berani berfatwa kok anda bisa mengatakan belum tahu dalilnya? Kalaulah benar asumsi anda, berarti tidak pantas dong mereka disebut ulama mujtahid? Bukankah anda lebih paham dan lebih tahu dari syekh-syekh itu?

  19. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Ma’af ikut sedikit nibrung… tuk saudara ku kuldesak87 … sepertinya antum sangat ahli dengan kitab-2 arab … bisakah anda membuktikan bahwa kitab Al Azkar yg diterbitkan oleh percetakan Saudi Arabia … menghilangkan / mengganti BAB. Tentang Ziaroh Qubr Rosullillah SAW .. yg isinya ada berkaitan dengan tawassul dan istighosah …. sebagaimana yg telah dituduhkan dan dibuktikan oleh sebagian Ulama Ahlus sunah waljama’ah .. khususnya .. ulama Indonesia.

    Saya pernah berdiskusi sedikit dengan Ustadz Abul Jauzza … tentang Walisongo… dimana beliau mengatakan itu adalah cerita belaka … yang banyak mengandung khurafatnya & kesyirikannya ( masya Alloh ), karena menurut beliau tidak ilmiah / tidak ada dalil yg valid akan cerita itu, sehingga kesimpulan beliau akan Walisongo yaitu = cerita yg banyak khurafatnya…titik.

    Namun begitu saya tanya… apakah Ustadz tidak bersikap ilmiah juga dalam menilai Walisongo? ( tidak bisa jawab ) kata saya = seharusnya orang yg ilmiah ketika tidak ada dalil yg valid / ilmiah tidak bisa berkesimpulan atau memponis itu salah / sesat / khurafat atau sebaliknya, mestinya tidak berpendapat / netral, bukannya hanya mempercayai cerita yg negatifnya saja tentang walisongo, karena dimasyarakat juga ada cerita positif tentang Walisongo, ( atsar mereka ada, peninggalan mereka juga ada, qubur mereka juga ada namun Yth. Ustadz Abul Jauzza menafikannya….. inikah gambaran orang yg ‘alim dengan ilmunya ).

    Dan saya katakan kepada Beliau Yth. Abul Jauzza ……. bahwa kebenaran tidak harus atau mutlaq memerlukan dalil yang ilmiah, untuk pembenarannya. ( bukankah kita beragama ISLAM dan beramal karena keyakinan dan keimanan ).

    Ketika saya tanya dengan Beliau Yth = … klo begitu siapa yg mengislamkan / berda’wah / berjasa dalam pengIslaman Orang Indonesia sebelum abad 16 / 17 ?….. Bagaimana pula hal keadaan nenek moyang kamu atau saya yg telah meninggal dunia sebelum abad itu. apakah musyrik / kafir juga? ( tidak bisa jawah beliau ).

    Ketika saya tanya lagi kepada beliau … Bagaimana ke Islaman pada sahabat yg dulunya musyrik namun akhirnya percaya dan beriman kepada Rasullulloh ? …. apakah para sahabat meminta dalil / argument kepada Rosullulloh sehingga mereka percaya dan beriman, sedang Rasul … tidak bisa baca dan tulis.

    Saya katakan kepada beliau ….. para sahabat percaya dan beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya… karena melihat akan sosok pribadi Rosul, akhlaq , perilaku , budipekertinya, kecerdasan, sifat , sikap, ucapannya dan hatinya yg sempurna. ( karena mereka sudah tau dan kenal Rosul sejak beliau kecil – kanak-kanak – remaja dan dewasanya ) sehingga risalah beliau dapat diterima.

    Namun sayang akhirnya IP adress saya diblokir dan beberapa posting (qouete) saya juga di dellete oleh beliau.

    Saya juga ada tanya kepada salah satu ustadz yg sepaham dengan beliau ” Apa syarat sehingga Syeich / ulama bisa disebut / diberi gelar Al-MUHADDIST, Al Hafidz dan yg semisal ? ….. apakah syeich / ulama yg mendhoifkan sebagian kecil hasist-hadist yg oleh jumhur ulama masa lalu telah ditetapkan sebagai hadist shohih, atau syeich yg dalam menilai / mengkategorikan hadist-hadist Rosul baik sanad – matan dan hukum matannya tidak menggunakan kaidah-kaidah standart yg telah ditetapkan jumhur ulama, … fatwa atau pendapatnya bisa dijadikan hujjah?
    Sampai saat ini juga belum dijawab .. mungkin antum bisa bantu saya..

    Saya juga pernah comment di salah satu web site, pada pembahasan Qunut Shubuh, karena penjelasannya ada menggunakan pendapat / rujukan

    Dalam Syarhul Mumthi’ Syarh Zaadul Mustaqni’ (45/4) kitab fiqh mazhab Hambali, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:

    “Perhatikanlah para ulama yang sangat memahami pentingnya persatuan. Imam Ahmad berpendapat bahwa membaca qunut ketika shalat shubuh itu bid’ah. Namun ia berkata: ‘Jika seseorang shalat bermakmum pada imam yang membaca qunut maka hendaknya ia mengikuti dan mengamini doanya’. Ini dalam rangka persatuan, dan mengaitkan hati dan menghilangkan kebencian diantara kaum muslimin”

    Namun sayang terjemah nya berbeda dengan redaksi bahasa arabnya = seharusnya ….. ” Jika aku sholat bermakmum dibelakang imam ………..maka mengikutinya ……………..”.

    Namun tak masalah , siapapun yg menjadi makmum apakah itu Imam Ahmad ibnu Hambali rohimahulloh atau orang lain , yang jelas perkataan beliau Imam Hambali bahwa qunut shubuh itu bid’ah tidaklah membatalkan sholat beliau / orang lain yg bermakmum pada imam yg berqunut pada sholat shubuhnya, dan di iyakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin.

    Timbul pertanyaan saya … sekiranya qunut shubuh itu bid’ah dan tidak disyareatkan mengapa Imam Hambali rh merasa perlu membahas dan menjelaskannya, bukankah cukup beliau katakan sholatnya makmum tidak shoh, karena setiap bid’ah itu dholalah. Apakah beliau tidak tau makna bid’ah ? ataukah beliau mempunyai pengertian bid’ah itu ada yg mahmudah dan madzmumah ? ….

    Begitu pula tentunya Imam Syafi’e rohimahulloh, tidak dengan sembrono beliau menghukumi qunut shubuh itu sebagai sunnah muakkad, karena beliau juga berbeda pendapat dengan guru beliau Imam Malik rohimahulloh, yg juga tidak mensyareatkan qunut pada sholat shubuh. Padahal kita tau Imam Hambali rh adalah murid dari Imam Syafi’e rh. Adakah kedua Imam besar tsb, Guru dan murid Imam Syafi’e rh mengatakan bahwa beliau ahli bid’ah? ….. apakah antum bisa bantu pencerahan bagi saya .

    Dan pertanyaan khusus saya buat saudara kuldesak87 … apa hikmah / pelajaran yang Alloh abadikan dlm suratul Kahfi ” kisah tentang perjalanan Nabi Muza alaihissalam dengan Nabi Khidir as untuk Nabi Muhammad dan kita ummat beliau?

    semoga antum tak keberatan untuk menjawabnya.
    Waasalamu’alaikum
    ABU MUZAKKI

  20. @ Al Akh Ahmad Khoiruddin rohimahulloh

    Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Al Utsaimin bukannya sembrono berfatwa tanpa ilmu. Mereka katakan sholat ba’da ‘asar itu haram karena mereka mengetahui dalil yang melarangnya. Bahkan orang awwam seperti kita saja mengetahuinya, tentu saja mereka yang lebih tinggi ilmunya lebih mengetahui perkara ini.

    di antaranya:

    Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang dua macam shalat : Shalat ba’da Shubuh hingga terbit matahari dan shalat ba’da ‘Ashar hingga terbenamnya matahari” [HR. Al-Bukhari nomor 563 dan Muslim nomor 825]

    Dari ‘Amr bin ‘Abasah radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda : “…..Jika bayangan telah condong (waktu zawal), maka kerjakanlah shalat, karena shalat pada waktu itu disaksikan dan dihadiri (oleh para malaikat). Hingga engkau mengerjakan shalat ‘Ashar. Setelah itu, janganlah engkau shalat hingga matahari terbenam. Karena matahari terbenam di antara dua tanduk syaithan. Pada saat itu, orang-orang kafir sujud padanya” [HR. Muslim nomor 832]

    yang tidak diketahui oleh kedua Syaikh ini adalah dalil tentang masyru’nya sholat ba’da ‘asar. jangankah kedua Syaikh ini, bahkan Umar bin Al Khoththob pun melakukan kesalahan karena memukul Tamim Ad Darr yang melakukan sholat sunnat ba’da ‘asar. Beliau memukul Tamim Ad Darr karena beliau mengetahui dalil haramnya sholat ba’da ‘asar seperti hadits Abu Hurairah dan ‘Amr bin ‘Abbasah di atas, namun belum sampai pada beliau dalil tentang masyru’nya sholat ba’da ‘asar seperti yang ana sampaikan sebelumnya.

    Nah, beranikah antum katakan bahwa Umar bin Al Khoththob memukul Tamim Ad Darr atas dasar kesembronoan?

    kasus lain, Ibnu Abbas pernah berfatwa bahwa hukum nikah mut’ah adalah boleh. alasan beliau berkata demikian adalah karena memang beliau mengetahui dalil kebolehannya nikah mut’ah, namun beliau belum mengetahui dalil yang menasakhnya.

    nah, beranikah antum katakan bahwa Ibnu Abbas sembrono berfatwa tanpa ilmu?
    =====================================

    ADMIN

    @Ibnu Irvan
    Kami maklum dengan penjelasan antum, sebagai pengikut dengan kadar guluw tingkat kronis, wajar jika membela dengan segala cara sebagaimana tradisi kalian. Hanya saja, yang jadi pertanyaan lebih lanjut jika memang penjelasan antum benar menurut antum, apakah para syekh itu sudah mencabut fatwa dari kitabnya? Ingat, kitabnya masih bisa dibaca, dan itu adalah rekaman otentik dari hasil fatawa mereka. Syekh Al-Albani mengatakan shalat ba’diyah asar itu adalah Sunnah (lihat silsilah al-Ahadits ash-Shahihah juz 6 halaman 1013-1014). Syeihk bin Baz mengatakan shalat ba’diyah asar itu Haram (lihat Majmu’ Fatawa Wa Maqalat Mutranawwiyah Syaihk bin Baz Juz 11 Hal. 286). Kemudian Seikh Utsaimin berkata: “Shalat asar itu tidak memiliki rawatib baik qobliyah maupun ba’diyah”, kalau dikerjakan berarti berbuat bid’ah kan?! Tidakkah ketiga pendapat itu saling bertentangan bagaikan surga dan neraka?!

    Catatan: Maaf, antum tidak sedang berdialog dengan Akhina Khoiruddin
    tapi dengan Admin blog Ummati Press.

  21. Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kpd Ibnu Abi Irfan yg udh membantu saya utk menjawab,

    @Bang Gondrong % Ummati :

    Jadi, ingin saya tertibkan dulu agar lbh jelas knp saya meyakini bahwa bacaan Al-Quran itu tidak akan sampai pahala bacaannya :

    1. Seseorang akan mendapatkan ganjaran baik itu pahala ataupun dosa sesuai dg apa yg telah dilakukannya/diusahakannya sebagaimana firman Allah :
    “Bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya manusia tidak akan memperoleh (kebaikan) kecuali apa yang telah diusahakan.”
    (Q.S An-Najm : 38-39).

    “……..Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya………”. (Surah al-Baqarah, 2: 286)
    “Siapa yang mengerjakan amal yang soleh, maka amal tersebut adalah untuk dirinya sendiri dan siapa yang melakukan kejahatan (dosa), maka itu adalah atas dirinya sendiri dan tidaklah Tuhanmu menganiaya hambanya.” (Surah Fushilat, 41: 46)

    “Kamu tidak akan diberi balasan melainkan apa yang telah kamu usahakan.“(Surah as-Saffat, 37: 39)

    Sedangkan utk pahala membaca Al-Quran tentu yg mendapatkan pahalanya adalah sang pembaca Al-Qurannya itu sendiri, bukan yg membaca Al-Quranya kita, tapi yg mendapatkan pahalanya orang lain. Hal itu tentu bertentangan dg firman Allah diatas.

    2. Imam Ibnu Katsir menfsirkan ayat diatas (Q.S An-Najm : 38-39) bahwa “……ayat yang mulia ini (maksudnya Q.S An-Najm :38-39), Al Imam Asy-Syafi’iy bersama para ulama yang mengikutinya telah mengeluarkan hukum : Bahwa bacaan Qur’an tidak akan sampai hadiah pahalanya kepada orang yang telah mati karena bacaan tersebut bukan dari amal dan usaha mereka (yakni orang yg telah mati tsb)……”

    3. Adapun kelanjutannya di akhir2 kalimat tafsiran tsb yg menyebutkan bahwa “……namun mengenai doa dan sedekah maka hal itu sudah sepakat seluruh ulama atas sampainya, dan telah ada Nash nash yg jelas dari syariah yg menjelaskan keduanya…..”, tentu itu sangat jelas berbeda konteks dan maknanya dg kalimat “….tidak sampainya hadiah pahalanya kepada orang yang telah mati…..”, kalau seandainya konteks dan makna kalimatnya sama, berarti antara kalimat awal dg kalimat akhir saling bertentangan donk? di kalimat awal mengatakan “…tidak sampai…”, tapi di kalimat akhir dikatakan “….sampai….”, tentu tidak seperti itu bukan? saya harap kita disini jgn pura2 bodoh ya?

    4. Jadi, salah besar jika menggunakan kalimat tafsir Ibnu Katsir yg menyebutkan “…..namun mengenai doa dan sedekah maka hal itu sudah sepakat seluruh ulama atas sampainya, dan telah ada nash nash yg jelas dari syariah yg menjelaskan keduanya…..” sbg hujjah (alasan) bahwa pahala bacaan Al-Quran sampai kpd ahli mayit, karena kalimat tafsiran tsb diperuntukan untuk hukum bolehnya mendoakan dan bersedekah utk ahli mayit seperti contohnya doa kita dlm shalat jenazah dsb, menyedekahkan harta kita utk membayarkan hutang ahli mayit dll, karenahal tsb terkait dg dalil yg memerintahkan kpd kita utk mendoakan org yg telah wafat yakni :
    “Mohonlah ampunan bagi saudara kalian. Dan mohonlah keteguhan baginya karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” (H.R Abu Dawud (3221) dari Ustman bin Affan.

    Sehingga, antara mengirimkan bacaan Al-Quran dg mendoakan atau bersedekah utk ahli mayit, tentu berbeda (bukan berarti saya mengingkari bahwa did lm Al-Quran banyak sekali doa). Maksudnya, membaca Al-Quran pun jika tidak tepat waktu dan tempatnya, maka hukumnya terlarang, sebagaimana Rasulullah bersabda :
    “……ketauhilah bahwa aku dilarang membaca Al-Qur’an ketika rukuk dan sujud. Saat rukuk, agungkanlah Ar-Rabb. Saat sujud, bersungguh-sungguhlah untuk berdo’a, kemungkinan besar do’amu dikabulkan.” (H.R Muslim (479))

    5. Apabila seseorang telah wafat, maka terputuslah segala amalannya, sehingga org yg telah wafat tsb tidak bisa menerima/menambahkan pahalanya kecuali utk 3 hal yakni amal jariyah, anak sholeh yg selalu mendoakannya, serta ilmu yg bermanfaat sebagaimana Sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “Bila anak Adam meninggal maka amalnya terputus kecuali dari tiga hal, anak shalih yang mendoakannya, shadaqah jariyah, dan ilmu yang bermanfaat.”

    6. Adapun tiga perkara tsb pada hakikatnya adalah bagian dari usahanya, jerih payah dan amalnya. Sebagaimana terdapat dalam hadits:
    “Di antara yang terbaik dari apa yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri dan sungguh anaknya adalah termasuk dari usahanya.” (HR. Abu Dawud)

    Shadaqah jariyah juga seperti wakaf dan sejenisnya, termasuk bagian dari amalnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” (Yasin: 12)

    Begitu jg dg ilmu yg bermanfaat yg dia sebarkan di tengah manusia sehingga orang-orang mengikutinya setelah dia meninggal, itu juga termasuk dari usahanya.
    Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:
    “Barangsiapa yang mengajak menuju hidayah maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tapi tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka. Barangsiapa yang mengajak menuju kesesatan maka dia mendapatkan dosa seperti doa orang-orang yang mengikutinya, tapi tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim no. 2674)

    7. Seandainya menghadiahkan bacaan Al-Quran itu sesuatu yang disyariatkan, tentu Rasulullah dan para Sahabatnya telah mendahului kita melakukannya.
    8. Sesungguhnya bacaan Al-Quran itu diperuntukkan utk orang-orang yg hidup karena hanya orang hiduplah yg dpt mengambil pelajaran dari bacaan2 Al-Quran, karena mana mungkin orang yg telah wafat sudah tidak bisa lg mengambil hikmah dan pelajaran dari Al-Quran? hal tsb sebagaimana firman Allah :
    “Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup”. (Surah Yaasiin, 36: 69-70)

    9. Perkataan Imam asy-Syafi’e rahimahullah:
    “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memberitahu sebagaimana yang diberitahu oleh Allah, bahwasanya dosa setiap orang adalah untuk kecelakaan dirinya sendiri sebagaimana amalannya yang juga buat dirinya sendiri dan bukan untuk kecelakaan orang lain.” (Ikhtilaful Hadis, 1/538, (??? ??????? ?????? ?????? ??????), Maktabah Syamilah.)

    Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:
    “Ada pun berkenaan bacaan al-Qur’an maka yang masyhur di kalangan mazhab asy-Syafi’e bahwa tidak sampai pahala bacaan yang dikirim kepada orang yang telah mati dan sebagian sahabat berpendapat sampai pahala bacaan kepada si Mati.”

    Kemudian beliau menjelaskan lagi:
    “Dan semua mazhab-mazhab tersebut (yang membolehkan menghadiahkan pahala kepada orang mati – Penulis) adalah jelas lemahnya, dan dalil yang mereka gunakan untuk membolehkan (amalan sedekah pahala kepada si mati) hanyalah qias yang diqiaskan dengan doa, sedekah dan haji. Maka sesungguhnya tidak sampai secara ijma’ (kesepakatan ulama). Dan dalil asy-Syafi’e serta mereka yang mengikutinya adalah (ayat al-Qur’an): (Sesungguhnya tidaklah ada yang diperolehi oleh setiap manusia, kecuali apa yang telah diusahakan). “Apabila mati anak Adam, terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (iaitu): 1 – Sedekah jariah, 2 – ilmu yang bermanfaat dan 3 – anak yang soleh yang mendoakannya”.” (Imam an-Nawawi, Syarah an-Nawawi ‘ala Muslim, 1/90.)

    “Dan yang masyhur di dalam mazhab kami (Mazhab asy-Syafi’e) adalah pahala bacaan al-Qur’an itu tidak sampai pahalanya (kepada si mati).” (Imam an-Nawawi, Syarah an-Nawawi ‘ala Muslim, 7/89-90.)

    Imam Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah berkata:
    “Mayat tidak boleh dibacakan al-Qur’an ke atasnya sebagaimana keterangan yang ditetapkan oleh orang-orang terdahulu, bahawa bacaan al-Qur’an pahalanya tidak sampai kepada si Mati, lantaran pahala bacaan hanya untuk si Pembaca. Pahala amalan pula tidak boleh dipindah-pindahkan dari si pembuat berdasarkan firman Allah Ta’ala: Dan manusia tidak memperolehi pahala kecuali dari amalan yang mereka telah usahakannya sendiri.” (Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah, 2/26.)

    Al-Hafiz Ibnu Katsir di dalam Tafsirnya sekali lagi:
    “Sebagaimana tidak dipertanggungjawabkan dosa orang lain, begitulah juga seseorang itu tidak mendapat ganjaran melainkan apa yang telah dia kerjakan (usahakan) sendiri.”(al-Hafiz Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’anil Adzim, 7/465.)

    “Sesungguhnya manusia itu hanya menerima balasan berdasarkan amalnya, jika baik, maka baiklah balasannya dan jika buruk, maka buruklah balasannya dan bahawasanya seseorang itu tidaklah menanggung dosa bagi seseorang yang lain.” (al-Hafiz Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’anil Adzim,3/384.)

    Note for all : sebenarnya disini saya cuma ingin diskusi aja, adu hujjah, sekedar ingin mengeluarkan pandangan saya aja, ga ada maksud utk menjelek-jelekan atau menyudutkan pihak lain, bagi yg ga setuju atau ga sependapat, bisa dijabarkan alasannya secara ilmiah (ga usah bilang si itu wahabi, si ini wahabi….wahabi….wahabi……dll), nanti biar masyarakat sendiri yg menilai dan memilih, hujjah mana yg lebih kuat…..karena tidak ada paksaan dlm Islam…
    ==========================================

    @-kuldesak87
    (ga usah bilang si itu wahabi, si ini wahabi….wahabi….wahabi……dll)

    Notes: Rupanya Bapak sangat sensitive dengan sebutan “itu” ya? Memangnya ada apa dengan sebutan “itu”?

    Kami sangat terkejut dengan keberatan anda ini, bukankah seharusnya Bapak bangga?

    Karena terkejut, maka serta merta kami segera cari dan ubek-ubek tulisan kami, dimana saja yang ada sebutan wahabi berkali-kali, ternyata tidak ada. Tolong Bapak sebutkan di mana tempatnya biar kami bisa meralatnya. Nggak apa-apa yang penting Bapak kuldesak bisa happy.

    Oh, ya Pak kuldesak…, itu di atas ada Abu Muzakki minta pencerahan, sudah lama nunggunya. Jangan pelit, kasih dong pencerahannya.

    1. 1. Bukannya sensitive pak, cuma menghindari dosa aja, supaya ga ada lg org2 yg bilang wahhabi seperti ini dan itu yg kbanyakan dr mereka sendiri pd dasarnya ga tau hakikat dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab itu seperti apa, akan tetapi cuma ikut2an aja.(saya liat di beberapa blog bpk + komen2 tentang wahhabi yg mcm2)

      2. Saya siy sbnrnya ga keberatan dg pengucapan ‘wahhabi’ selama pengucapan tsb niatnya memang utk menggambarkan atau mendeskripsikan bagi org2 yg anti terhadap bid’ah, menjauhi syirik, menjauhi kurafat, selalu taat thd sunnah Rasulullah dll. akan tetapi kn selama ini yg saya tau bahwa label ‘wahhabi’ itu memang merupakann istilah yg diciptakan oleh para ahlus syirik dan ahlu bid’ah plus didukung oleh org2 diluar Islam (baca: kafir) utk mengejek dan mengolok-olok agar manusia menjauhi dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yg mengajak kpd Allah yg tidak ada sekutu bagi-Nya (menjauhi syirik) dan selalu menyeru kpd sunnah Rasulullah (menjauhi bid’ah).

      3. Taukah bpk kalau pengucapan label ‘wahhabi’ itu sbnrnya sangat keliru jika ditujukan kpd Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab?
      Jika diliat dr segi bahasa, tentu istilah tsb kalau mau dikritisi jelas sekali kekeliruannya jika ditujukan kpd Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jika bnr ingin ditujukan kpd beliau, maka yg pas adalah ‘Muhammadiyah’ karena nama beliau adalah Muhammad, bukan malah ayahnya yg tidak ada sangkut pautnya yakni Abdul Wahhab.
      Dari awal sini aja udah sangat jelas kekeliruannya…

      4. Namun, dg takdir Allah, yg awalnya tujuan org2 yg melontarkan label ‘Wahhabi’ itu adalah utk mencela mereka dan menggambarkan bahwa mereka adalah ahli bid’ah dan tidak cinta kpd Rasul, akan tetapi label tsb skr udh mjd simbol bagi setiap org yg mengajak kpd Al-Quran dan Sunnah, menyeru kpd dalil, melawan bid’ah dan khurafat, serta berpijak kpd manhaj salaf.
      Bisa kita liat sama2 bahwa saat ini setiap org yg mengingkari kebid’ahan di masyarakat, dia akan disebut ‘Wahhabi’. Jadi, bisa dibilang label tsb skr merupakan pujian dan simbol bagi setiap golongan yg mengikuti Al-Quran dan Sunnah sesuai dg pemahaman Salafush Shalih (Org2 terdahulu yg Shalih-Shalih).
      =======================================
      ADMIN@
      Bapak kuldesak87,
      kami anggap itu klarifikasi anda, walaupun sifatnya klaim semata yang nggak sesuai kenyataan, silahkan saja.

      Sebenarnya kami tidak ingin lagi menjawab, sebab kami pikir kurang berguana. Tapi dalam pernyataan anda no.2, jelas sekali anda mnganggap orang diluar kelompok anda sebagai ahlu syirik dan bid’ah? Kalau anda tahu, orang yang hobby berkata demikian merupakan ciri-ciri firqah apa?

      “Jika Anda mengetahui hal tersebut dan mengetahui bahwa jalan menuju Allah Swt senantiasa dipenuhi oleh musuh-musuh yang merintangi; mereka Ahli-Ahli bahasa (fasih), pemilik ilmu dan argumentasi, maka wajib bagi Anda untuk mempelajari agama yang dapat anda gunakan sebagai senjata untuk memerangi mereka; para setan yang pemimpin dan senior mereka telah berkata kepada Allah Swt: “Saya benar-benar akan (menghalang- halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur ( taat ). (Al-A’raf: 16-17)”

  22. # Al Akh Admin rohimahulloh

    Ana tidak tahu apakah Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Al Utsaimin merubah pendapatnya atau belum, karena ana belum tahu apakah mereka telah mendengar hadits2 tentang masyru’nya sholat sunnah berjama’ah atau tidak.

    dari mana antum bisa memastikan bahwa kedua Syaikh tidak mencabut fatwanya (jika mereka telah mendengar hadits2 masyru’nya sholat sunnat ba’da ‘asar)? apakah antum mengikuti aktualisasi fatwa2 kedua syaikh sampai mereka wafat?

    tentang Umar memukul Tamim Ad Darr yang ana sampaikan sebelumnya, apakah antum mendapati perubahan sikap Umar, yaitu meminta maaf kepada Tamim dan mengikuti pendapat masyru’nya sholat sunnat ba’da ‘asar.

    jika tidak, seharusnya antum juga bersu’udzon pada Umar bahwa beliau tetap ngotot mengharamkan sholat sunnat ba’da ‘asar. tapi kenapa antum hanya berhusnudzon kepada Umar saja dan tidak kepada Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Al Utsaimin?

    ana bukannya membela kedua Syaikh. hanya saja kita harus fair dalam menyikapi segala persoalan. jika kita tidak tahu hakikatnya, sebaiknya diam sampai datang bukti yang jelas. jika antum tidak tahu apakah mereka tetap dalam pendiriannya ataukah telah merubah sikap, maka jangan main vonis sembarangan.
    ========================

    ADMIN:
    @ibnu abi irfan, Antum berkata: ana bukannya membela kedua Syaikh. hanya saja kita harus fair dalam menyikapi segala persoalan. jika kita tidak tahu hakikatnya, sebaiknya diam sampai datang bukti yang jelas. jika antum tidak tahu apakah mereka tetap dalam pendiriannya ataukah telah merubah sikap, maka jangan main vonis sembarangan….

    Inilah yang sangat mengherankan buat kami. Antum sangat sensitive dan emosional. Tolong baca kembali, teliti artikel di atas, di mana tidak fairnya? Bukankah kami hanya mempertanyakan? Lalu di mana vonis kami yang sembarangan itu? Tidak ada vonis dari kami, kami hanya mempertnyakan saja kok? Karena kami memang bukan tukang vonis seperti kalian, yang hobby memvonis musyrik, kafir, bid’ah kepada orang lain. Lihat diblog-blog milik kalian yang memvonis Imam Busyiri musyrik, dan lain-lain…

    Terus kalau kalian boleh memvonis dengan keji seperti itu, lalu kami sekedar mempertanyakan saja kok nggak boleh? kok dibilang nggak fair, kok dituduh memvonis sembarangan?

    1. saya rasa kita disini ga ada yg emosional dh, biasa aja kali, perasaan bpk aja kali ni yg terlalu sensitive.

      memang bpk Ummati cuma bertanya, akan tetapi maksud dr pertanyaan bpk Ummati itu bukan didasari karena bpk ingin tau, melainkan utk membenturkan dg sengaja pendapat2 ketiga Syaikh tsb dg tujuan utk memberikan syubhat khususnya bagi umat muslim yg awam.

      memang bpk tdk memvonis secara langsung, namun ‘pertanyaan’ bpk dlm blog ini memang utk menggiring umat muslim agar umat muslim meragukan keilmuan mereka. Bisa terliat koq dr gaya bahasa bertanya bpk. Jadi disini, bpk ga usah pura2 bodoh ky gtu lah dg berlagak bertanya : “kami hanya mempertanyakan saja koq…..”
      ================================
      ADMIN@
      sebagi muslim, dapat info yang faktual itu seharusnya jadi renungan atau introspeksi diri. Bukannya malah ngotot seperti ini yang justeru mempertontonkan keburukan sendiri.

  23. @ibnu abi irfan

    assalam…

    ya saudaraku…

    jangan sepotong2 dalam mengambil pendapat para imam….
    akan berbeda apa yang akan di maksud dan akan berbeda penafsiran jika di ambil sepotong2 saja…

    ibnu abi irfan say…

    ana juga mendapati atsar dari Imam An Nawawi rohimahulloh dalam Syarh Shohih Muslim 1/90:

    “Adapun bacaan Al-Qur’an (yang pahalanya dikirmkan kepada si mayit), maka yang masyhur dalam madzhab Syafi’i adalah bahwa perbuatan tersebut tidak akan sampai pahalanya kepada mayit yang dikirimi……

    kita lihat selengkapnya…

    Mengenai pahala Alqur’an menurut pendapat yg masyhur dalam madzhab Syafii bahwa tak sampai pada mayyit, namun adapula pendapat dari kelompok Syafii yg mengatakannya sampai, dan SEKELOMPOK BESAR ULAMA MENGAMBIL PENDAPAT bahwa SAMPAINYA PAHALA SEMUA MACAM IBADAH, berupa shalat, puasa, bacaan
    Alqur’an, ibadah dan yg lainnya, sebagaimana diriwayatkan dalam shahih Bukhari pada Bab : “Barangsiapa yg wafat dan atasnya nadzar” bahwa Ibn Umar memerintahkan seorang wanita yg wafat ibunya yg masih punya hutang shalat agar wanita itu membayar(meng qadha) shalatnya, dan dihikayatkan oleh Penulis kitab Al Hawiy, bahwa Atha bin Abi Ribah dan Ishaq bin Rahawayh bahwa mereka berdua mengatakan bolehnya shalat dikirim untuk mayyit…

    Sungguh beda jauh penafsiran jika di ambil sepotong2 dan di ambil dengan lengkap…

    @ibnu abi irfan say..

    Yakni sebagaimana dosa seseorang tidak dapat menimpa kepada orang lain. Demikian juga manusia tidak memperoleh pahala melainkan dari hasil amalnya sendiri. Dan dari ayat yang mulia ini (ayat 39 QS. An-Najm), Imam Asy-Syafi’i dan ulama-ulama lain yang mengikutinya mengambil kesimpulan bahwa bacaan yang pahalanya dikirimkan
    kepada mayit adalah tidak dapat sampai, karena bukan dari hasil usahanya sendiri. Oleh karena itu Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam tidak pernah menganjurkan umatnya untuk mengamalkannya (pengiriman pahala bacaan), dan tidak pernah memberikan bimbingan, baik dengan nash maupun dengan isyarat. Dan tidak ada
    seorang shahabat pun yang pernah mengamalkan perbuatan tersebut. Kalaupun amalan semacam itu memang baik, tentu mereka lebih dahulu mengerjakannya, padahal amalan pendekatan diri kepada Allah tersebut hanya terbatas pada nash-nash (yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah) dan tidak boleh dipalingkan dengan qiyas-qiyas dan pendapat-pendapat” [Lihat Tafsir Al-Qur’aanil-’Adhiim li-Bni Katsiir, tafsir surat An Najm 39]

    nah janganlah di putus sampai disini…..,ada kelanjutannya saudaraku…
    akan beda penafsiran jika main potong2 kalimat saja…

    “Namun mengenai doa dan sedekah maka hal itu sudah sepakat seluruh ulama atas sampainya, dan telah ada Nash nash yg jelas dari syariah yg menjelaskan keduanya” (Tafsir Imam Ibn Katsir juz 4 hal 259).

    Sungguh beda jauh penafsiran jika di ambil sepotong2 dan di ambil dengan lengkap…

    “ya Allah jadikanlah kami dan semua umat muslim orang yang berAmanah dalam mengambil pendapat para ulama2 kami…
    ampunkanlah semua dosa2 kami, dan juga jika salah dalam tindakan,perkataan dan penafsiran nya, karena kami tidak ada pengetahuan untuk semua itu…amiiin”

    wassalam…

  24. @ibnu abi irfan..

    ibnu abi irfan say:

    “Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang diusahakannya.” [QS. An-Najm [53]: 39].
    ——————————————————————————-
    ” ayat tersebut menerangkan apa hukum yang terjadi pd syariat nabi musa dan ibrahim,bukan untuk yg terjadi dlm syariat nabi Muhammad,dlm syariat nabi musa dan ibrahim memang begitu,tetapi syariat nabi muhammad tidak, kita lihat ayat tsb selengkapnya jangan sepotong2…pangkal ayat ini berbunyi seluruhnya begini:

    “atau belumkah di kabarkan kpdnya apa yang ada dalam kitab2 nabi Musa dan nabi Ibrahim yg memenuhi kewajibannya,bhw tiada memikul seseorang akan dosa orang lain,dan bahwa sanya tiada yang di dapat oleh manusia selain apa yang di usahakannya”(annajm 36-39)

    jelas dlm susunan ayat ini adalah syariat nabi musa dan ibrahim as..
    tafsir khazin jilid VI hal 223 :”adalah yang demikian itu untuk kaum ibrahim dan musa,dan adapun bagi ini ummat(umat islam) maka mereka bisa mendapat pahala dari usahanya dan dari orang lain”

    dan berkata sahabat nabi ahli tafsir utama Ibnu abbas,rda. dalam menafsirkan ayat surat an najm 39 itu:
    “ini di batalkan hukumnya dalam syariat ini dengan perkataan Tuhan pada surat Thur ayat 21,maka di masukkan anak ke dalam syurga dengan kebajikan yang di perbuat bapak nya.(khazin juz VI hal 223)

    jadi ayat yang tsb di atas sudah mansukh dalam syariat islam dari nabi muhammad,tak dapat di jadikan dalil utk tidak sampai nya pahala…

    ———————————————————————————-
    @ibnu irfan…
    “Apabila anak Adam telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali atas tiga hal : shadaqah jaariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shalih yang mendoakannya. (HR. Muslim)
    ——————————————————————————-

    jelas ini untuk yang wafat,
    sedangkan kita yang hidup maka (orang orang lain) yg mengirim amal, dzikir dll untuknya ini jelas jelas bukanlah amal perbuatan si mayyit, karena Rasulullah SAW menjelaskan terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang lain yg dihadiahkan untuk si mayyit, dan juga sebagai hujjah bahwa Allah memerintahkan di dalam Al Qur’an untuk mendoakan orang yg telah wafat : “WAHAI TUHAN KAMI AMPUNILAH DOSA-DOSA KAMI DAN BAGI SAUDARA-SAUDARA KAMI YG MENDAHULUI KAMI DALAM KEIMANAN”, (QS Al Hasyr-10).

    Rasulullah SAW pun menghadiahkan Sembelihan Beliau SAW saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk ummatnya, “Wahai Allah terimalah sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad” (Shahih Muslim hadits no.1967).

    jelas sekali:
    Nabi berkorban yg pahalanya untuk beliau,untuk keluarga dan untuk seluruh ummat beliau

    “Dari hanasy,bhw sayyidina Ali kw,berkorban dgn2 ekor kibas,satu (pahalanya)untuk nabi muhammad saw,dan yang kedua(pahalanya) untuk diri beliau, maka org bertanya kpd nya tentang ini,beliau jawab: “Demikian itu di suruh oleh Nabi kpd saya, karena itu saya memperbuat selalu dan tidak pernah meninggalkannya”( H.R.Tirmidzi,sahih tirmidzi juz VI hal 219)

    jelas sekali:
    Nabi memerintahkan memperbuat kebaikan dgn berkorban seekor kambing dan pahalanya di berikan untuk beliau,dan perintah ini di kerjakan terus oleh sahabat Ali kw.

    ——————————————————————————–
    @ibnu irfan..
    membayarkan zakat atau menunaikan haji seorang mayit itu dilarang oleh dalil umum, “Barangsiapa yang kafir maka dia sendiriah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan barangsiapa yang beramal saleh maka untuk diri
    mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan).” (QS. Ar Ruum [30]:44)
    ——————————————————————————

    kang dalil umum penjelasan siapa kang?…ulama mana? sahabat nabi yg mana? apakah ke ilmuannya setingkat Imam Nawawi, atau Imam Ibnu hajar atsqolani? yg nb muhaddist, hujjatul islam sanad dan matan nya nyambung ke rasul? beliau semua dekat masa nya ke rasulullah, di banding kita?

    simak BAIK2 kang……….

    “dari ibnu abbas,bhw nabi Muhammad saw mendengar seorang laki2 membaca talbiah (dlm ibadah haji) labbaika an syubrumah(ooh, Tuhan,saya perkenankan seruanmu untuk mengganti syubrumah)……dst…apakah engkau sdh mengerjakan haji untukmu? tny nabi,”belum” jwbnya, nabi berkata haji dululah utk dirimu kemudian baru menghajikan syubrumah”(H.R Abu daud dll,sunan abu daud juz II hal 162)

    “dari Abdullah bin abbas…adalah fadhal(bin abbas) pengiring Rasulullah ketika itu datang seorang wanita dr suku khats’am dst……..wanita itu berkata: ketika kewajiban haji datang kpd bapakku,ia sudah tua,tdk sanggup lagi naik kendaraan, apa kah saya boleh menggantikannya? jawab nabi : “BOLEH” hal tsb terjadi pd ketika haji Wada.(H.R Imam bukhari,kitab fathul bari juz IV hal 439-440)

    Nyata jelas:
    Seorang anak wanita dpt menggantikan ibadah haji ayah nya yg sudah tua dan dpt membebaskan bapak nya dr kewajiban ibadah HAJI.

    Dari Ibnu Abbas rda,bhw seorang wanita dari suku juhainah dtng pd nabi saw,lalu bertanya: bhw sanya ibuku bernazar akan naik haji, apakah boleh saya menggantikan haji nya itu? jawab nabi: YA BOLEH, naik hajilah menggantikan dia!
    perhatikanlah,umpama ia berhutang tentu engkau bisa membayar hutangnya, maka hutang kpd Tuhan lebih berhak untuk di bayar,(H.R Imam bukhari dll,lht fathul bari juz IV hal 437)

    Jelas sekali:
    apakah boleh saya menggantikan haji nya itu? jawab nabi: YA BOLEH,

    wassalam

    1. @ Al Akh Gondrong rohimahulloh

      antum sendiri juga menukil dari Imam An Nawawi dan Ibnu Katsir terputus, jadi bersikaplah fair.

      QS An Najm adalah bagian dari Al Quran. Al Quran itu kitab yang diturunkan kepada Muhammad. selama tidak ada penegasan bahwa syariat itu telah dinasakh, maka syariat itu tetap berlaku untuk ummat Muhammad.

      misalnya hukum mengenai orang yang bersumpah dengan menyebut nama Alloh. dalam syariat Nabi Isa, ada seorang pencuri yang tertangkap tangan tengah mencuri. ketika diinterogasi, dia bersumpah dengan menyebut nama Alloh bahwa dia tidak mencuri. kemudian nabi Isa melepaskannya. syariat ini berlaku juga untuk ummat Muhammad.

      nah, adakah antum menemukan dalil yang menasakh QS An Najm 39? jika tidak, berarti syariat Nabi Musa dan Ibrahim masih berlaku untuk umat Nabi Muhammad.

      adapun QS Ath Thur 21 tidak menasakh QS An Najm 39, karena ini beda konsep. menghubungkan keduanya adalah qiyas ma’al fariq (qiyas yang tidak pas). QS Ath Thur 21 adalah tentang seorang bapak yang mendidik anak cucunya amal sholih. maka dia mendapatkan pahala yang terus mengalir, sebagaimana hadits “man sanna fil islami sunnatan hasanatan…”. tidak ada penyebutan anak cucunya itu mengirimkan pahala amalannya untuk bapaknya. selain itu, mohon antum menyebutkan sanad atsar Ibnu Abbas tersebut!!!

      jika QS An Najm telah dinasakh oleh QS Ath Thur 21, maka apa gunanya sabda Nabi: ”Seseorang tidak boleh shalat untuk menggantikan shalat orang lain, dan tidak pula puasa untuk menggantikan puasa orang lain. Akan tetapi memberikan makanan darinya setiap hari sebanyak satu mud biji gandum” [HR. An-Nasa’i dalam Al-Kubraa no. 2918 dan Ath-Thahawi dalam Musykilul-Aatsaar 3/141]

    2. terserah bang gondrong siy, mau pake tafsir khazin apa tafsir Ibnu Katsir, yg jelas dlm tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa pahala bacaan Al-Quran itu tidak akan sampai kpd mayit, akan tetapi yg disyariatkan adalah mendoakan dan bersedekah utk mayit.

      ——————————————————————–

      Bang gondrong kn meyakini bahwa seseorang bs mendapatkan pahala dr hasil usaha org lain, lalu bagaimmana dg ayat-ayat ini?

      “Setiap diri bertanggungjawab ke atas apa yang telah dilakukannya.” (Surah al-Muddatsir, 74: 38)

      “Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (Surah al-Baqarah, 2: 286)

      “Sesiapa yang mengerjakan amal yang soleh, maka amal tersebut adalah untuk dirinya sendiri dan sesiapa yang melakukan kejahatan (dosa), maka itu adalah atas dirinya sendiri dan tidaklah Tuhanmu menganiaya hambanya.” (Surah Fushilat, 41: 46)

      “Kamu tidak akan diberi balasan melainkan apa yang telah kamu usahakan.” (Surah as-Saffat, 37: 39)

      “Sesiapa yang kafir, maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya dan sesiapa yang beramal soleh, maka amal tersebut adalah untuk diri mereka sendiri.” (Surah ar-Ruum, 30: 44)

      “Maka pada hari kiamat tiada seorang pun yang dianiaya dan tidak dibalas kepada kamu melainkan apa yang kamu telah kerjakan.” (Surah Yasin, 36: 54)

      ———————————————————————

      Bang Gondrong :
      jelas ini untuk yang wafat,
      sedangkan kita yang hidup maka (orang orang lain) yg mengirim amal, dzikir dll untuknya ini jelas jelas bukanlah amal perbuatan si mayyit, karena Rasulullah SAW menjelaskan terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang lain yg dihadiahkan untuk si mayyit, dan juga sebagai hujjah bahwa Allah memerintahkan di dalam Al Qur’an untuk mendoakan orang yg telah wafat : “WAHAI TUHAN KAMI AMPUNILAH DOSA-DOSA KAMI DAN BAGI SAUDARA-SAUDARA KAMI YG MENDAHULUI KAMI DALAM KEIMANAN”, (QS Al Hasyr-10).

      =========================================================

      ya jelas bang, jgn dibalik gtu donk logikanya, udh pasti itu mah kalo org yg udh wafat itu ga bakal bisa beramal lg dan juga udh ga bisa menerima pahala lg dari manapun jg kecuali 3 hal yg disebutkan dlm hadits diatas yg dimana ketiga hal tsb pada dasarnya adalah hasil dari apa yg udh dilakukannya selama msh hidup, bukan dari hasil usaha org lain, jd coba donk simak baik2 hadits tsb…
      Adapun dalil QS Al Hasyr-10, itu mah lafadz doa bang, bukan mengirimkan pahala ke org lain, lagipula ulama mana yg menjadikan ayat tsb sbg dalil utk mengirimkan pahala kpd org lain?

      ———————————————————–

      bang gondrong :
      dari ibnu abbas,bhw nabi Muhammad saw mendengar seorang laki2 membaca talbiah (dlm ibadah haji) labbaika an syubrumah(ooh, Tuhan,saya perkenankan seruanmu untuk mengganti syubrumah)……dst…apakah engkau sdh mengerjakan haji untukmu? tny nabi,”belum” jwbnya, nabi berkata haji dululah utk dirimu kemudian baru menghajikan syubrumah”(H.R Abu daud dll,sunan abu daud juz II hal 162)

      “dari Abdullah bin abbas…adalah fadhal(bin abbas) pengiring Rasulullah ketika itu datang seorang wanita dr suku khats’am dst……..wanita itu berkata: ketika kewajiban haji datang kpd bapakku,ia sudah tua,tdk sanggup lagi naik kendaraan, apa kah saya boleh menggantikannya? jawab nabi : “BOLEH” hal tsb terjadi pd ketika haji Wada.(H.R Imam bukhari,kitab fathul bari juz IV hal 439-440)

      Nyata jelas:
      Seorang anak wanita dpt menggantikan ibadah haji ayah nya yg sudah tua dan dpt membebaskan bapak nya dr kewajiban ibadah HAJI.

      Dari Ibnu Abbas rda,bhw seorang wanita dari suku juhainah dtng pd nabi saw,lalu bertanya: bhw sanya ibuku bernazar akan naik haji, apakah boleh saya menggantikan haji nya itu? jawab nabi: YA BOLEH, naik hajilah menggantikan dia!
      perhatikanlah,umpama ia berhutang tentu engkau bisa membayar hutangnya, maka hutang kpd Tuhan lebih berhak untuk di bayar,(H.R Imam bukhari dll,lht fathul bari juz IV hal 437)

      Jelas sekali:
      apakah boleh saya menggantikan haji nya itu? jawab nabi: YA BOLEH,

      ====================================================

      Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:
      “Ada pun berkenaan bacaan al-Qur’an maka yang masyhur di kalangan mazhab asy-Syafi’e bahwa tidak sampai pahala bacaan yang dikirim kepada orang yang telah mati dan sebagian sahabat berpendapat sampai pahala bacaan kepada si Mati.”

      Kemudian beliau menjelaskan lagi:
      “Dan semua mazhab-mazhab tersebut (yang membolehkan menghadiahkan pahala kepada orang mati) adalah jelas lemahnya, dan dalil yang mereka gunakan untuk membolehkan (sedekah pahala kepada si mati) hanyalah qias yang diqiaskan dengan doa, sedekah dan haji. Maka sesungguhnya tidak sampai secara ijma’ (kesepakatan ulama). Dan dalil asy-Syafi’e serta mereka yang mengikutinya adalah (ayat al-Qur’an): (Sesungguhnya tidaklah ada yang diperolehi oleh setiap manusia, kecuali apa yang telah diusahakan). “Apabila mati anak Adam, terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (iaitu): 1 – Sedekah jariah, 2 – ilmu yang bermanfaat dan 3 – anak yang soleh yang mendoakannya”.” (Imam an-Nawawi, Syarah an-Nawawi ‘ala Muslim, 1/90.)

  25. @kuldesak87

    assalam…
    ———————————————————————————–
    @kuldesak87:
    ya jelas bang, jgn dibalik gtu donk logikanya, udh pasti itu mah kalo org yg udh wafat itu ga bakal bisa beramal lg dan juga udh ga bisa menerima pahala lg dari manapun jg kecuali 3 hal yg disebutkan dlm hadits diatas yg dimana ketiga hal tsb pada dasarnya adalah hasil dari apa yg udh dilakukannya selama msh hidup, bukan dari hasil usaha org lain, jd coba donk simak baik2 hadits tsb…
    Adapun dalil QS Al Hasyr-10, itu mah lafadz doa bang, bukan mengirimkan pahala ke org lain, lagipula ulama mana yg menjadikan ayat tsb sbg dalil utk mengirimkan pahala kpd org lain?
    ————————————————————–
    logikanya begini itu dalil untuk orang yang wafat,dan emang yg wafat gak bs beramal lg lha wong udah wafat,
    dan untuk yg hidup kita dapat memberikan sesuatu sbg penghubung nya? banyak sekali mis doa,perkenan haji, najar, pembayaran hutang si mayit,dll yg di bayarkan dari yang hidup untuk yang wafat,
    klo gak sampe buat apa kita mendoakan mayyit,mensholati nya yg isi nya doa buat mayyit, juga buat apa bayar hutang mayyit,pelunasan nazar,haji dll kalo tidak sampai,mendingan duduk2 aja lebih enak kali yaa…

    contoh:
    seseorang sengaja di tempatkan di hutan belantara yg lebat dan gelap,”terputus semua sarana” kecuali 3 air mengalir di sungai,baju dan celana….
    nah sekarang apa tindakan org tsb untuk mendapatkan yang lebih? tak ada
    kecuali bantuan dari fihak lain lah yang membantu nya….,apakah tak boleh org membantu nya?tak ada yang melarang silahkan,baik itu berupa bantuan a,b,c,d dll..
    contoh nyatanya jika terjadi bencana alam yang semua sarana tak ada kecuali bantuan dari fihak lain semua terputus kecuali apa yg di kenakan dan yg ada pd saat bencana…

    sungguh islam agama yang indah, rahmatan lil a’lamin, dan pantas sekali sesama muslim kita dinyatakan bersaudara,karena dari setiap doa muslim,tak lepas dari mendoakan saudara2 nya sesama muslim,baik yg masih hidup ataupun yg telah wafat,sungguh indah sekali agama ini…
    Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dlm keimanan.”
    ————————————————————————–
    @kuldesak87:

    Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:
    “Ada pun berkenaan bacaan al-Qur’an maka yang masyhur di kalangan mazhab asy-Syafi’e bahwa tidak sampai pahala bacaan yang dikirim kepada orang yang telah mati dan sebagian sahabat berpendapat sampai pahala bacaan kepada si Mati.”

    Kemudian beliau menjelaskan lagi:
    “Dan semua mazhab-mazhab tersebut (yang membolehkan menghadiahkan pahala kepada orang mati) adalah jelas lemahnya, dan dalil yang mereka gunakan untuk membolehkan (sedekah pahala kepada si mati) hanyalah qias yang diqiaskan dengan doa, sedekah dan haji. Maka sesungguhnya tidak sampai secara ijma’ (kesepakatan ulama). Dan dalil asy-Syafi’e serta mereka yang mengikutinya adalah (ayat al-Qur’an): (Sesungguhnya tidaklah ada yang diperolehi oleh setiap manusia, kecuali apa yang telah diusahakan). “Apabila mati anak Adam, terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (iaitu): 1 – Sedekah jariah, 2 – ilmu yang bermanfaat dan 3 – anak yang soleh yang mendoakannya”.” (Imam an-Nawawi, Syarah an-Nawawi ‘ala Muslim, 1/90.)
    ———————————————————–

    Untuk menjelaskan hal ttg sampai tidak nya pahala yg terkirim dlm madzhab syafii kita lihat penuturan ulama2 nya,& yg lainnya:

    marilah kita lihat penuturan imam Nawawi dalam Al-adzkar halaman 140 :
    “Dalam hal sampainya bacaan al-qur’an para ulama berbeda pendapat. Pendapat yang masyhur dari madzab Syafei dan sekelompok ulama adalah tidak sampai. Namun menurut Imam ahmad bin Hanbal dan juga Ashab Syafei berpendapat bahwa pahalanya sampai. Maka lebih baik adalah si pembaca menghaturkan doa : “Ya Allah sampaikanlah bacaan yat ini untuk si fulan…….”

    Tersebut dalam al-majmu jilid 15/522 :
    “Berkata Ibnu Nahwi dalam syarah Minhaj: “Dalam Madzab syafei menurut qaul yang masyhur, pahala bacaan tidak sampai. Tapi menurut qaul yang Mukhtar, adalah sampai apabila dimohonkan kepada Allah agar disampaikan pahala bacaan terbut. Dan seyogyanya memantapkan pendapat ini karena dia adalah doa. Maka jika boleh berdoa untuk mayyit dengan sesuatu yang tidak dimiliki oleh si pendoa, maka kebolehan berdoa denagn sesuatu yang dimiliki oleh si pendoa adalah lebih utama”.

    “Sungguh sedekah untuk dikirimkan pada mayyit akan membawa manfaat bagi mayyit dan akan disampaikan padanya pahalanya, demikian ini pula menurut Ijma (sepakat) para ulama, demikian pula mereka telah sepakat atas sampainya doa doa, dan pembayaran hutang (untuk mayyit) dengan nash2 yg teriwayatkan masing masing, dan sah pula haji untuk mayyit bila haji muslim,

    demikian pula bila ia berwasiat untuk dihajikan dengan haji yg sunnah, demikian pendapat yg lebih shahih dalam madzhab kita (Syafii), namun berbeda pendapat para ulama mengenai puasa, dan yg lebih benar adalah yg membolehkannya sebagaimana hadits hadits shahih yg menjelaskannya,

    dan yg masyhur dikalangan madzhab kita bahwa bacaan Alqur’an tidak sampai pada mayyit pahalanya, namun telah berpendapat sebagian dari ulama madzhab kita bahwa sampai pahalanya, dan Imam Ahmad bin Hanbal berpegang pada yg membolehkannya” (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 7 hal 90)

    al mughniy juz 2/225:
    “Tidak ada larangannya membaca Alqur’an dikuburan , dan telah diriwayatkan dari Ahmad bahwa bila kalian masuk pekuburan bacalah ayat alkursiy, lalu Al Ikhlas 3X, lalu katakanlah : Wahai Allah, sungguh pahalanya untuk ahli kubur”.

    dan dijelaskan dalam Syarh Al Minhaj oleh Ibn Annahwiy : “tidak sampai pahala bacaan Alqur’an dalam pendapat kami yg masyhur, dan maka sebaiknya adalah pasti sampai bila berdoa kepada Allah untuk memohon penyampaian pahalanya itu,

    Fathul muin:
    “Berfatwa dgn sampai pahala bacaan kebanyakan dari imam2 madzhab kita (syafii) begitu juga fatwa yang mutamad dari imam Subki dan lain2.. (fathulmuin bab wasiat)

    I’anatut Thalibin :
    “perkataan tiada sampai pahala bacaan kepada mayat”adalah pendapat yang dhoif, dan berfatwa sebagian shahabat katanya sampai,begitu tersebutdalam kitab bujairimi” I’anatut Thalibin juz 3 hal 221

    Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24/306, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,” mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.

    Syaikh ahmad bin qasim al-ubadi dalam hasyiah Tuhfatul Muhtaj Jilid VII/74 :
    “Kesimpulan Bahwa jika seseorang meniatkan pahala bacaan kepada mayyit atau dia mendoakan sampainya pahala bacaan itu kepada mayyit sesudah membaca Al-qur’an atau dia membaca disamping kuburnya, maka hasilah bagi mayyit itu seumpama pahala bacaannya dan hasil pula pahala bagi orang yang membacanya”.

    kitab arruh ibn qoyyim hal 17-19,dgn kalimat yg panjang yg isi sebagian nya:
    Telah memberitahuku Al-Hasan bin Haitsam, katanya aku mendengar Abu Bakar atrusy berkata : Ada seorang lelaki datang ke kubur ibunya pada hari jum’at, kemudian ia membaca surat Yasin disitu. Bercerita Abu Bakar seterusnya : Maka aku pun datang kekubur ibuku dan membaca surah Yasiin, kemudian aku mengangkat tangan : Ya Allah ! Ya Tuhanku ! Kalau memang Engkau memberi pahala lagi bagi orang yang membaca surat ini, maka jadikanlah pahala itu bagi sekalian ahli kubur ini !

    Apabila tiba hari jum’at yang berikutnya, dia ditemui seorang wanita. Wanita itu bertanya : Apakah kau fulan anak si fulanah itu ? Jawab Abu Bakar : Ya ! Berkata wanita itu lagi : Puteriku telah meninggal dunia, lalu aku bermimpikan dia datang duduk diatas kuburnya. Maka aku bertanya : Mengapa kau duduk disini ? Jawabnya : Si fulan anak fulanah itu telah datang ke kubur ibunya seraya membacakan Surat Yasin, dan dijadikan pahalanya untuk ahli kuburan sekaliannya. Maka aku pun telah mendapat bahagian daripadanya, dan dosaku pun telah diampunkan karenanya.

    Berkata Muhammad bin ahmad al-marwazi :
    “Saya mendengar Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Jika kamu masuk ke pekuburan, maka bacalah Fatihatul kitab, al-ikhlas, al falaq dan an-nas dan jadikanlah pahalanya untuk para penghuni kubur, maka sesungguhnya pahala itu sampai kepada mereka. Tapi yang lebih baik adalah agar sipembaca itu berdoa sesudah selesai dengan: “Ya Allah, sampaikanlah pahala ayat yang telah aku baca ini kepada si fulan…” (Hujjatu Ahlis sunnah waljamaah hal. 15)

    intinya ane berpendapat sampainya pahala yg di kirim baik doa,sedekah,nazar,hutang dll untuk yg wafat…
    kalau kang kuldesak87 berpendapat tak sampai ..terserah akang,
    rambut sama hitam kalo pendapat ya berbeda…
    masing2 punya pemikiran dan pemahaman yang berbeda….ane hormati itu semua.

    wassalam…

  26. @ Al Akh Admin rohimahulloh

    sikap tidak fair antum adalah meragukan kapastas kedua Syaikh sebagai seorang mufti. jangankan mereka berdua, antum saja mungkin baru mengetahui hadits2 tentang masyru’nya sholat sunnah ba’da ‘asar setelah ana beri tahu bukan? lalu atas dasar apa antum meragukan kapasitas mereka berdua tetapi PD dengan kapasitas diri sendiri? meskipun mereka berseberangan pendapat, bukankah mereka berfatwa dengan dalil2 shohih dan shorih?

    ambil contoh, perselisihan antara Ibnu Mas’ud dengan Ubay bin Ka’ab tentang sah atau tidaknya sholat dengan hanya mengenakan sehelai kain. jika antum mencela syaikh Al Albani, Ibnu baz dan Al utsaimin karena perselisihan pendapat di antara mereka, apakah antum juga akan mencela Ibnu Ma’ud dan Ubay bin Ka’ab?
    ==================================
    @Admin+
    Kok hoby amat menuduh nggak fair orang lain? Antum sendiri sudah menghujat Syeh Muh. Abdul Wahhab? Lihat tuh ceramah antum kepada beliau di atas (Debat Terbuka NU-Wahabi) KLIK DISINI

  27. @ Al Akh Admin rohimahulloh

    ana mengetahui bahwa penulis artikel di atas, yakni al akh ahmad khoiruddin cenderung sependapat dengan syaikh Ibnu Baz dan Al Utsaimin tentang haramnya sholat sunnah ba’da ‘asar. dari siapa dia ko bisa tahu bahwa pendapat inilah yang benar? apakah syaikh2 yang dia ikuti madzhabnya (mungkin seperti syaikh alwi al maliki, al qordhowi, sayyid quthb dll, Wallohu’alam) mengetahui hadits2 tentang masyru’nya sholat sunnah ba’da ‘asar?

    jika tidak, maka keadaannya sama dengan Syaikh Ibnu Baz dan Al Utsaimin. jika mereka mengetahui tetapi tetap keukeuh dengan pendapatnya semula, berarti mereka adalah orang2 yang ingkar sunnah.

    kenapa antum berdua rohimakumalloh tidak mengkritik syaikh2 pujaan antum dan hanya melihat sisi buruknya dari orang lain?
    ======================================
    @ADMIN
    Sobat…, lebih baik antum berceramah kepada syekh Muh. Abdul wahhab seperti yang antum lakukan di atas (Debat Terbuka NU-Wahabi) KLIK DISINI. Jangan mengulang-ulang ceramah ngalor-ngidul di sini, sobat. Rupanya antum ini termasuk orang yang tak punya rasa malu…. Ingat, malu itu termasuk tanda keimanan
    .

  28. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Ma’af Numpang lagi….. pembahasan diatas mengingatkan saya akan acara REALIGI yg ditayangkan oleh TRANSTV tayang setiap Malam Selasa dan Kamis yg dipandu oleh MAS ERWIN dkk, pada episode yg tayang pertengahan Februari 2010 ada realigi yg mengetengahkan tentang seorang pengusaha dan juga rentenir yang dalam memberikan pinjaman uang kepada orang yg minta tolong untuk melakukan CAP JEMPOL DARAH ( yg dalam cerita masyarakat didaerahnya dikatakan apabila si peminjam tidak bisa mengembalikan uang sesuai tempo waktu kesepakatan maka si peminjam akan mati, karena jadi tumbal kekayaan untuk di rentenir itu ) dan dalam episode tsb yg berlangsung beberapa hari / minggu ada 2 orang warga setempat yg pinjam ke rentenir itu mengalami kematian karena tidak bisa bayar utangnya. Dan di acara itu juga ditayangkan tentang kemusyrikan orang tsb saat mengadakan sesembahan di daerah angker. Akhirnya team realigi ( MAS ERWIN dkk ) minta bantuan pada seorang Usradz / tokoh masyarakat di daerah rentenir tsb. Singkat cerita … akhirnya Ustadz tersebut bersedia untuk mengadakan / pinjam uang kepada Rentenir tsb untuk waktu 7 hari dan melakukan CAP JEMPOL DARAH sesuai permintaan si orang tsb.
    Di acara tersebut pada hari ke 7, bukannya Ustadz yg mengalami musibah, sebaliknya justru di rentenir tsb mengalami kepanasan yg luar biasa, yg aklhirnya oleh team realigi Ustadz tsb dipanggil datang ke rumah si rentenir itu, dan setelah beliau BERDO’A kepada ALLOH, orang tersebut terlepas dari kepanasannya. Si Ustadz mengajak kepada orang tsb untuk taubat dan kembali kepada hanya menyembah Alloh serta menjelaskan bahwa berbuatannya tsb jika diteruskan nanti klo mati akan dapat siksa di qubur lebih-lebih di akherat nanti. Namun orang tsb tidak percaya dan bahkan menantang Ustadz teb untuk membuktikannya. Akhirnya Ustadz tsb mempersilahkan orang tsb untuk datang ke pesantren nya, klo mau dibuktikan, akhirnya pada malam harinya diantar team realigi orang tsb diantar menemui Ustadz tsb, dan selanjutnya oleh Ustadz tsb diajak ke sebuah kuburan muslimin yg disana sudah disiapkan sebuah lubang ( layaknya liang lahat ) yg digali disekitar kubur-kubur yg ada, oleh Ustadz orang tsb disuruh masuk liang lahat dan berbaring sebagaimana posisi ketika jenazah di letakkan di liang lahat, kemudian si Ustadz dan beberapa santrinya berdo’a dan berdzikir,…. selang beberapa waktu kemudian si rentenir berteriak teriak ketakutan dan menangis serta berkata ampun-ampun. dan di achir episode orang tersebut taubat dan kembali kepada syare’at yg benar untuk beribadah kepada Alloh. selesai ceritanya. ( INI ADALAH BENAR dan BUKAN KARANGAN SAYA – EPISODE tsb BISA ANDA MINTA ke REDAKSI TRANSTV, sekiranya RAGU ).
    Yang ingin saya katakan adalah :
    1. Ini merupakan salah satu bentuk da’wah yg nyata dalam memerangi kemusyrikkan. ( ada sebagian besar episode dari acara REALIGI yg juga memerangi kemusyrikkan / kebathilan ), walau mungkin pada awal konsep acara ini dibuat bukan untuk hal tsb, namun pada kenyatannya banyak membantu orang yg melapor pada team realigi pada permasalahan kemusyrikkan. yang terkadang penyelesaian 1 kasus ada sampai 2 – 3 bulan. Saya cukup salut akan acara tsb.
    2. Ternyata untuk mengajak orang kembali ke jalan yg benar menjauhi ke musyrikkan tidak harus seorang ustadz , tidak harus orang yg ahli dengan dalil al-qur’an dan hadist dan kita-kitam Imam lainnya, namun cara dan penyampaiannya yg sabar dan menghargai kemanusiaan seseorang ternyata itu juga bisa diterima. ( karena beberapa episode REALIGI mas Erwin dan team tidak dibantu oleh seorang Ustadz, namun akhirnya si pelaku bisa sadar dan kembali kepada syare’at yg benar ).
    3. Ternyata ada beberapa orang di dunia ini yang karena amal sholeh dan ketaqwaannya kepada Alloh, diberi kelebihan oleh-Nya sehingga bisa melihat dan membukakan mata dan batin seseorang untuk melihat hal-hal ghoib seperti alam qubur pada keterangan saya tsb diatas.
    4. Berkaitan dengan permasalahan bahasan pada sub topik web ini, saya sarankan anda yg tidak sependapat atau mungkin menentang akan bahwa bacaan al-qur’an – TAHLIL – YASSIN – DZKIR – dan yg sejenis yg pahalanya di tujukan kepada orang yg sudah mati / wafat tidak sampai kepada nya (yg mati/wafat) bisa saja menggunakan metode seperti yg saya uraikan dalam cerita / EPISODE tsb diatas untuk membuktikannya. Wallohu A’lam

    Mudahan-mudahan posting saya ini bisa sedikit mewarnai dan menambah wawasan kita, Bahwa ILMU – NYA ALLOH sangat tak terbatas, yg tak bisa disangka dan dibayangkan oleh makhluq-Nya. LIHAT pula cerita yg Alloh abadikan dalam surah AL-Kahfi tentang perjalanan Nabi Musa alaihissalam dan Nabi Khidir alaihissalam, begitu pula tentang sosok seorang sholeh ketika Nabi Sulaiman alaihissalam minta mendatangkan singgasana Ratu BILQIS, dan banyak lagi. Dan saya juga ada cerita tentang perjalanan keponakan saya yg melakukan perjalanan ke gunung ci salak ( klo tak salah itu namanya ), yg kata sebagian warga disana ada sungai yg disitu bisa temui seorang yg sholeh yg oleh warga sekitar disebut / digelari Mbah AINUN / Mbah Alif, menurut keponakan saya … dari tengah sungai tsb mucul seorang tua yg menggunakan baju gamis putih berjalan diatas air dan menuju ke arah dia yg berada di tepian sungai tsb ( sebelum orang tsb mucul dari air didahului beterbangannya beberapa ekor burung di sekitar tempat pemuculannya ), kemudian dia diberi orang sholeh tsb secarik kertas yg ada tulisannya, kemudian orang sholeh tsb kembali berjalan diatas air kembali ke tempat saat dia muncul dan seterusnya masuk kedalam sungai / air tsb. Masya ALLOH —-

    Wassalamu’alaikum

    ABU MUZAKKI

    Semoga hati dan pikiran kitas semua dijauhkan Alloh dari segala penyakit bathin yang meliputinya, Amiieeeeen

  29. wah…seru ni,
    saya cuma mo komen sedikit aja, klo misalnya pahala baca quran bisa dikirimin ke org lain, berarti enak bgt y org yg semasa hidupnya ga pernah baca qur’an, tp dia bisa dpt pahala baca quran yg dikirim dari org lain…..
    ===================

    ADMIN@: Orang Islam tentunya rajin Baca Qur’an. Sedangkan orang kafir tidak boleh dido’akan. Jadi, syaratnya harus muslim untuk berhak dido’akan menerima pahala bacaan Al-Qur’an.

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker