Berita Indonesia

Agama Jangan Jadikan Sebagai Juru Kampanye

Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai Ketuhanan Yang Maha Esa memberi arti sesungguhnya Indonesia adalah negara beragama tapi bukan negara agama. Keharmonisan antara agama-agama ini diuji dikala ada pemilu persiden, gubernur serta pemilu lainnya.

Dalam Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) misalnya masyarakat yang beragama ini kembali diuji karena dalam kehidupan masyarakat kita mengenal lima agama resmi yang di akui oleh negara. Kelima pemeluk agama ini, semua memiliki hak memilih calon pemimpin dalam pesta demokrasi yang diselenggarakan melalui pemilihan calon kepala daerah di wilayah masing-masing. Mereka berhak menentukan calon pemimpin sekalipun dari kalangan yang tidak seiman.

Pilkada yang rencananya akan dilaksanakan serentak Desember 2015, di seluruh Indonesia, diperkirakan tidak jauh-jauh dari kondisi pemilu-pemilu lainnya, terutama tidak lepas dari isu agama. Sehingga tingkat toleransi beragama di masyarakat, kadangkala dihadapkan pada resistensi cukup mengkhawatirkan, bahkan pada titik tertentu dapat dianggap membahayakan. Misalnya berbagai olok-olok yang dikeluarkan oleh masing-masing kubu, baik kubu pendukung Prabowo maupun kubu pendukung (Presiden) Jokowi, saat rivalitas memperebutkan bangku kepresidenan berlansung 2014 lalu. Hingga kini olok-olok itu masih bisa dijumpai diberbagai meme di internet.

BACA JUGA:  Jangan Saling Menyalahkan, Mari Perkuat Ekonomi Bangsa

 

Ilustrasi

 

Bahkan sebagian besar diantaranya juga menyinggung soal isu Sara keagamaan. Intoleransi antar umat beragama banyak dipicu oleh ambisi dan kepentingan sesaat politik seseorang. Bahkan dari kalangan pemangku mandat agama, amanah agama yang seharusnya berlaku universal, acapkali juga turut berubah seolah menjadi mahluk hidup menakutkan, meneriakkan slogan kampanye untuk menguntungkan seseorang tertentu.

BACA JUGA:  Mahfud MD: Hasil Muktamar NU Tidak Bisa Digugat ke Ranah Hukum

Dan semakin ironis, karena pada saat yang sama sekaligus merusak lawan. Perilaku seperti ini, tak jarang menciptakan konflik lima tahunan diantara umat seagama. Sehingga kerap menyisakan tanda tanya di hati kita, apa yang salah dalam pesta demokrasi itu, sehingga konflik lima tahunan tetap selalu berulang, sehingga menimbulkan kesan memang dibiarkan tanpa penanganan yang berarti. Kita semua tidak ingin, kepentingan sesaat yang hanya menguntungkan pihak tertentu ini merusak tatanan masyarakat. Kejahatan seperti itu sering tampil seperti pembela kepentingan masyarakat kecil, karena slogan yang digunakan memang demikian.

Namun hakikatnya tidak jarang justru menjerumuskan masyarakat kecil pada konflik sosial yang tidak mereka pahami. Apa guna membela demokrasi jika kita tetap saja melanggengkan perpecahan dan permusuhan paska pesta demokrasi? Mari kita berbenah, dengan menjaga dan mempertahankan hal-hal bermanfaat bagi bangsa, namun dengan serius menjauhkan bangsa ini dari hal-hal yang tidak berguna, apalagi membahayakan keutuhannya.

BACA JUGA:  Eggy Sudjana: Presiden Jokowi Gila, Presiden Brengsek

Hingga relevan dengan apa yang dikatakan ulama tradisional dulu, “Almuhafadzoh ‘ala Qodimis sholeh wal akhdzu bil jadidil Ashlah,” Menjaga tradisi yang baik, namun siap berubah manakala terdapat pilihan yang lebih baik lagi. Sehingga kita dituntut untuk menggali apa yang lebih baik itu, tentu saja yang sesuai dengan karakteristik bangsa yang heterogen ini.

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker