Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Berita Fakta

Abul Jauzaa dan Pembelaannya Terhadap Kedustaan Ustadz Firanda

Tanggapan atas Beberapa Catatan Abul Jauzaa dalam Pembelaannya Terhadap Dusta-dusta Firanda

oleh: Ahmad Syahid 

Abul Jauzaa dalam blognya beliau menulis :

Tulisan kali ini akan sedikit membahas tanggapan seorang mukhaalif atas artikel yang ditulis Ustadz Firanda hafidhahullah di : http://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/76-mengungkap-tipu-muslihat-abu-salafy-cs. Sayang sekali, harapan saya mendapatkan faedah dari tulisan mukhaalif tersebut sia-sia karena apa yang ditulisnya hanyalah daur ulang perkataan ngawur kawan-kawannya terdahulu, yang ia kemas dengan bungkus baru. But,…the content remains the same. Nothing’s new….

Tanggapan saya:

Sampah sekalipun ketika didaur ulang dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, sayang  Abul Jauzaa tidak dapat mengambil faidah dari tulisan yang konon menurutnya adalah daur ulang dari perkataan ngawur, tanpa mampu menunjukkan perkataan siapa yang didaur ulang? Lalu dimana letak ngawurnya ? Atau malah tulisan abul jauza yang daur ulang dan ngawur? Mari kita lihat….

Strike to the point, berikut ulasannya :
1. Qutaibah bin Sa’iid
Ustadz Firanda hafidhahullah berkata :
Beliau[1] berkata :
هذا قول الائمة في الإسلام والسنة والجماعة: نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه ، كما قال جل جلاله:الرحمن على العرش استوى
“Ini perkataan para imam di Islam, Sunnah, dan Jama’ah ; kami mengetahui Robb kami di langit yang ketujuh di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana Allah Jalla Jalaaluhu berfirman : Ar-Rahmaan di atas ‘arsy beristiwa” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103 no 434)
Adz-Dzahabi berkata, “Dan Qutaibah -yang merupakan seorang imam dan jujur- telah menukilkan ijmak tentang permasalahan ini. Qutaibah telah bertemu dengan Malik, Al-Laits, Hammaad bin Zaid, dan para ulama besar, dan Qutaibah dipanjangkan umurnya dan para hafidz ramai di depan pintunya” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103).

Mukhaalif berkata :
Qutaibah bin Said syeikh Khurosan tidak diragukan ke-imamannya, hanya saja riwayat ini diriwayatkan oleh Abu Bakar an-Naqosy seorang Pemalsu hadist. Llihat Lisanul Mizan juz 5 hal 149, an-Naqosy juga disebutkan dalam al-Kasyf al-Hatsist tentang rawi-rawi yang tertuduh dengan pemalsuan dengan nomer 643, meninggal tahun 351 hijriyah. Sementara Abu Ahmad al-Hakim meninggal tahun 398 hijriyah terpaut waktu 39 tahun, sehingga tidaklah benar jika dia meriwayatkan dari Abul abbas as-siraj, karena as-siraj lahir pada tahun 218 h meninggal tahun 313 , dalam usia 93 tahun , sebagaimana disebutkan dalam Tarikh baghdad juz 1 hal 248. Artinya ketika as-siraj meninggal al-hakim baru berusia 7 tahun bagaimana bisa shahih riwayatnya? Jelas ucapan ini adalah Dusta yang dibuat an-naqosy, terlebih an-naqosy terkenal sebagai pemalsu !

Saya jadi heran kenapa Ustadz Firanda sebagai salah satu tokoh Salafi (wahabi) Indonesia kok ber-Hujah dengan yang dusta alias Palsu? Dengan demikian Status Hujjah ini: gugur!

( Abul-Jauzaa ) berkata :
Atsar Al-Imaam Qutaibah bin Sa’iid rahimahullah tersebut shahih. Yang disebutkan oleh Adz-Dzahabiy merupakan bagian dari perkataan beliau yang panjang mengenai ketetapan-ketetapan ‘aqiidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Atsar tersebut diriwayatkan oleh Abu Ahmad Al-Haakim rahimahullah sebagai berikut (saya ringkas matannya) :
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْحَاقَ الثَّقَفِيَّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا رَجَاءٍ قُتَيْبَةَ بْنَ سَعِيدٍ، قَالَ: ” هَذَا قَوْلُ الأَئِمَّةِ الْمَأْخُوذِ فِي الإِسْلامِ وَالسُّنَّةِ: الرِّضَا بِقَضَاءِ اللَّهِ، ………وَيَعْرِفَ اللَّهَ فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ عَلَى عَرْشِهِ كَمَا قَالَ: الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى
Aku mendengar Muhammad bin Ishaaq Ats-Tsaqafiy, ia berkata : Aku mendengar Abu Rajaa’ Qutaibah bin Sa’iid berkata : “Ini adalah perkataan para imam yang diambil dalam Islam dan Sunnah : ‘Ridlaa terhadap ketetapan Allah…… dan mengetahui Allah berada di langit yang tujuh, di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana firman Allah : ‘Ar-Rahmaan di atas ‘Arsy beristiwa’. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah’ (QS. Thaha : 5)…..” [Syi’aar Ashhaabil-Hadiits, hal. 30-34 no. 17, tahqiq : As-Sayyid Shubhiy As-Saamiraa’iy, Daarul-Khulafaa’, Cet. Thn. 1404 H; sanadnya shahih].
Muhammad bin Ishaaq Ats-Tsaqafiy, ia adalah Abul-‘Abbaas As-Sarraaj; seorang yang haafidh, tsiqah, lagi mutqin. Lahir tahun 218 H, dan wafat pada usia 95/96/97 tahun [lihat : Zawaaid Rijaal Shahiih Ibni Hibbaan oleh Yahyaa bin ‘Abdillah Asy-Syahriy, hal. 1117-1124 no. 520, desertasi Univ. Ummul-Qurra’].

Catatan penting : Abu Ahmad Al-Haakim, lahir tahun 285 H, dan wafat tahun 378 H. Abul-’Abbaas As-Sarraaj sendiri merupakan syaikh dari Al-Haakim [lihat muqaddimah kitab Syi’aar Ashhaabil-Hadiits, hal. 11]. Oleh karena itu, tidak benar klaim mukhaalif bahwa Abu Ahmad Al-Haakim tidak meriwayatkan dari As-Sarraaj. Apalagi jelas, Al-Haakim menyampaikan riwayat dengan perkataan : ‘sami’tu’ (aku mendengar) dari As-Sarraaj.
Adapun Qutaibah bin Sa’iid, maka telah mencukupi apa yang disebutkan di atas. Beliau lahir tahun 150 H, dan wafat tahun 240 H [At-Taqriib, hal. 799 no. 5557, tahqiq : Abu Asybal Al-Baakistaaniy; Daarul-‘Aashimah].
Konsekuensinya – bagi mukhaalif – perkataan ‘syaikh Khurasaan yang tidak diragukan keimamannya’ ini harus Anda ambil, karena atsar tersebut shahih dan dikatakan oleh orang yang Anda akui keimamannya.

Tanggapan saya ( Ahmad Syahid ) :

BACA JUGA:  Para Blogger Pendobrak Kepalsuan

1. Bukankah riwayat yang dibawakan Abul Jauzaa ini adalah daur ulang dari riwayat yang telah dibawakan oleh  Ustadz Firanda, yang dinukil dari kitab al-uluw ?

2. Abul jauzaa menghukumi riwayat ini shahih, tanpa mampu menunjukkan jika an-naqosy yang tertuduh sebagai pemalsu hadist adalah tsiqoh yang dapat diambil riwayatnya. Abu jauza malah menampilkan bioghrafi rawi yang sama sekali tidak tertuduh,  sementara rawi yang tertuduh ”An-Naqosy” tidak dia tampilkan sama sekali.

3. Abul Jauza mengatakan: ”Konsekuensinya – bagi mukhaalif – perkataan ‘Syaikh Khurasaan yang tidak diragukan keimamannya’  ini harus Anda ambil, karena atsar tersebut shahih dan dikatakan oleh orang yang Anda akui keimamannya ”.  Inilah perkeliruan dan ngawurnya Abul Jauzaa, sebab jangankan perkataan Ulama, sabda Nabi pun jika dalam sanad riwayatnya terdapat Rawi yang tertuduh, maka hukum dari riwayat perkataan Nabi tadi menjadi dhaif bahkan maudhu’  jika dalam sanadnya terdapat seorang pemalsu seperti An-Naqqosy.  Atau Abul Jauza tidak mengerti syarat shahihnya sebuah sanad ?

 

Daur ulang kedua abul jauzaa:

2. Abu ‘Utsmaan Ash-Shaabuuniy.

Ustadz Firanda hafidhahullah berkata :

Beliau berkata, “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab (Al Qur’an)….
Para ulama dan pemuka umat dari generasi salaf tidak berselisih bahwasanya Allah di atas ‘arsy-Nya dan ‘arsy-Nya berada di atas langit-Nya.” (Aqidatus Salaf wa Ashaabil hadiits hal 44)
Adz Dzahabi berkata, “Syaikhul Islam Ash Shabuni adalah seorang yang faqih, ahli hadits, dan sufi pemberi wejangan. Beliau adalah Syaikhnya kota Naisaburi di zamannya” (Al-’Uluw 2/1317)

Mukhaalif berkata :
Yang shahih dari Ucapan Imam As-shobuni hanya : “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab (Al Qur’an) …. kata-kata setelah ini (para pemuka dst….) adalah tambahan yang entah Imam aDzahabi dapat dari mana? Silahkan rujuk ”Majmu`ah ar-Rosail al-Muniriyah juz 1 hal 109 risalah as-Shobuni, pernyataan al-imam as-Shobuni ini sama sekali tidak mendukung klaim Ijma’ tentang keberadaan Allah di langit sebagaimana yang di Klaim oleh Ustadz firanda. Inilah yang disebut dengan tafwidh yang juga ditolak oleh Salafi Wahabi. Status Hujjah salah alamat!.

Saya ( Abul-Jauzaa ) berkata :
Nampaknya Anda setengah sadar dalam melakukan bantahan. Kalimat :
وعلماء الأمة وأعيان الأئمة من السلف – رحمه الله – لَم يختلفوا في أن الله على عرشه، وعرشه فوق سمواته،……
“Para ulama dan pemuka umat dari generasi salaf tidak berselisih bahwasanya Allah di atas ‘arsy-Nya dan ‘arsy-Nya berada di atas langit-Nya…..”
adalah kalimat asli Ash-Shaabuuniy dalam kitabnya yang berjudul ‘Aqiidatus-Salaf wa Ashhaabil-Hadiits, bukan tambahan Adz-Dzahabiy rahimahullah. Perkataan Adz-Dzahabiy rahimahullah yang dinukil hanyalah berkaitan dengan informasi singkat biografi Abu ‘Utsmaan Ash-Shaabuuniy. Tidakkah Anda membaca scan kitabnya yang dinukil Ustadz Firanda[2] ? Atau,… Anda memang tidak pernah membaca kitab ‘Aqiidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits-nya Ash-Shaabuuniy ?.
Saya tambahkan versi cetakan dari lain penerbit dan muhaqqiq :

[Terbitan : Maktabah Al-Imaam Al-Waadi’iy, Cet. 1/1428, tahqiq : Abu ‘Abdirrahmaan ‘Abdul-Majiid Asy-Syamiiriy, hal. 22-23].
Bantahan dan tanggapan mukhaalif  itulah yang salah alamat, tidak akurat, dan mengada-ada. Adakah sumber penukilan perkataan seseorang yang lebih valid daripada penukilan kitab tulisannya sendiri ?. Sebagaimana komentar saya sebelumnya, kali ini Anda juga harus membesarkan jiwa Anda menerima kenyataan perkataan Ash-Shaabuuniy yang – mungkin tidak Anda inginkan – bertentangan dengan apa yang Anda yakini saat ini.

Tanggapan saya (ahmad Syahid ) : Andai Abu Jauza membaca utuh tulisan Ash-Shobuni , nisacaya Abu Jauza akan malu sebab sesungguhnya Ash-shobuni adalah seorang Mufawwidh. Tolong Abul Jauzaa perhatikan dengan seksama scan kitab yang dibawakannya sendiri diatas , pada baris ketiga dari bawah , dalam scan tersebut terdapat pernyataan Ash-Shobuni yang sangat jelas menunjukkan jika beliau  adalah seorang Mufawwidh

BACA JUGA:  Ustadz Firanda Pendusta, Berhujjah dengan Hujjah Dusta dan Palsu (3)

ويمرو نه علي ظا هره ؤيكلو ن علمه الي الله…. الخ ,,,,,,,,,

Pernyataan ash-shobuni ini luput dari perhatian Abu Jauzaa, lihatlah jika Ash-Shobuni mewakilkan imunya ( maknanya) kepada Allah.  Inilah Tafwidh yang shorih dari sang Imam, yang sangat berbeda dengan metodologi kaum wahabiyyin di mana mereka (wahabiyyin termasuk Abu Jauzaa ) menolak Tafwidh karena menurut dia dan golongannya, bahwa Tafwidh (menyerahkan makna kepada Allah) adalah penyimpangan, bid’ah dan Ilhad.

Saya (ahmad Syahid) ucapkan: kali ini Anda juga harus membesarkan jiwa Anda menerima kenyataan perkataan Ash-Shaabuuniy yang – mungkin tidak Anda inginkanbertentangan dengan apa yang Anda yakini saat ini.

Abu jauza berkata :

3. Abu Zur’ah Ar-Raaziy dan Abu Haatim Ar-Raaziy rahimahumallaah.
Ustadz Firanda hafidhahullah berkata :
Berkata Ibnu Abi Hatim :
“Aku bertanya pada bapakku (Abu Hatim-pent) dan Abu Zur’ah tentang madzhab-madzhab ahlussunnah pada perkara ushuluddin dan ulama di seluruh penjuru negeri yang beliau jumpai serta apa yang beliau berdua yakini tentang hal tersebut? Beliau berdua mengatakan, “Kami dapati seluruh ulama di penjuru negeri baik di hijaz, irak, syam maupun yaman berkeyakinan bahwa:
Iman itu berupa perkataan dan amalan, bertambah dan berkurang…
Allah ‘azza wa jalla di atas ‘arsy-Nya terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana Dia telah mensifati diri-Nya di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menanyakan bagaimananya, Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat”(Syarh Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah karya Al-Laalikaai 1/198)

Ibnu Abi Haatim juga berkata berkata,
“Aku mendengar bapakku berkata, ciri ahli bid’ah adalah memfitnah ahli atsar, dan ciri orang zindiq adalah mereka menggelari ahlussunnah dengan hasyawiyah dengan maksud untuk membatalkan atsar, ciri jahmiyah adalah mereka menamai ahlussunnah dengan musyabbihah, dan ciri rafidhoh adalah mereka menamai ahlussunnah dengan naasibah.” (selesai)
Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah wal jama’ah lil imam al Laalikai 1/200-201

Mukhaalif berkata :
Riwayat ini tidak sah dinisbatkan kepada Abu Zur’ah begitu juga jika dinisbatkan kepada Abu hatim. Riwayat ini diriwayatkan dari tiga jalur sebagaimana disebutkan oleh Adz-Dzahzbi dalam Al-Uluw. Dua jalur pertama terdapat dua Rawi yang majhul, keduanya yaitu : Ali ibn Ibrohim meriwayatkan dari Ibn Jami’ , rawi majhul yang satunya Al-hasan bin Muhammad bin Hubaisy Al Muqri tidak ada bioghrafi yang jelas tentangnya dan tidak ada seorangpun Ahli jarh wa ta’dil yang men-tsiqoh-kannya dan dia adalah Majhul. Sebagaimana riwayatnya terdapat dalam sarh Sunnah Al-Lalikai juz 1 hal 176 , jalur ketiga atsar ini diriwayatkan oleh Ibn Murdik jarak kematiannya dengan Abu Hatim 60 tahun sebagaimana disebutkan dalam Tarikh Baghdad juz 12 hal 30.

Seperti diketahui secara luas oleh ahli bahwa Abu Zur’ah dan Abu Hatim tidak dikenal berbicara dalam masalah seperti ini sebagaimana keduanya juga dikenal tidak mempunyai karya tulis dalam Bab Aqidah persis seperti teman keduanya yaitu Imam Ahmad Ibn Hambal yang juga mengatakan: “Tidak ada yang melewati jembatan Baghdad orang yang lebih Hafidz dari Abu Zur’ah, beliau adalah termasuk salah satu Wali Abdal yang dengannya Bumi terjaga.”

Saya Ahmad Syahid katakan:

Andai pernyataan sepert itu Muncul dari golongan Asy’ariyah atau Sufiyah Pasti kaum wahabiyyin akan menuduh Kafir, Musyrik, dan Ahli Bid’ah!

Status Hujjah gugur, karena rawi-rawinya Majhul.

Saya (Abul-Jauzaa’) berkata :
Katanya, riwayat perkataan dua imam tersebut lemah (dla’iif) dengan sebab adanya para perawi majhuul. Mari kita lihat sanad riwayat yang dibawakan oleh Al-Imaam Al-Laalikaa’iy rahimahullah :
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُظَفَّرِ الْمُقْرِئُ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَبَشٍ الْمُقْرِئُ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي حَاتِمٍ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبِي وَأَبَا زُرْعَةَ عَنْ مَذَاهِبِ أَهْلِ السُّنَّةِ فِي أُصُولِ الدِّينِ، وَمَا أَدْرَكَا عَلَيْهِ الْعُلَمَاءَ فِي جَمِيعِ الأَمْصَارِ، وَمَا يَعْتَقِدَانِ مِنْ ذَلِكَ، فَقَالا: أَدْرَكْنَا الْعُلَمَاءَ فِي جَمِيعِ الأَمْصَارِ حِجَازًا وَعِرَاقًا وَشَامًا وَيَمَنًا فَكَانَ مِنْ مَذْهَبِهِمُ:……
Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Al-Mudhaffar Al-Muqriy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Muhammad bin Habsy Al-Muqriy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Abi Haatim, ia berkata : ”Aku pernah bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah tentang madzhab Ahlus-Sunnah dalam ushuuluddiin (pokok-pokok agama) dan apa yang mereka temui dari para ulama di seluruh pelosok negeri dan yang mereka berdua yakini tentang hal itu, maka mereka berdua berkata : ”Kami telah bertemu dengan para ulama di seluruh pelosok negeri, baik di Hijaz, ’Iraq, Mesir, Syaam, dan Yaman, maka yang termasuk madzhab mereka adalah : …….. (kemudian beliau menyebut macam-macam ’aqiidah, sebagaimana telah dituliskan Ustadz Firanda di atas) [Syarh Ushuulil-I’tiqaad, 1/176].

Keterangan perawi :
a. Muhammad bin Al-Mudhaffar bin ’Aliy bin Harb, Abu Bakr Al-Muqri’ Ad-Diinawariy; seorang syaikh yang shaalih, mempunyai keutamaan, lagi shaduuq. Wafat 415 H [Taariikh Baghdaad, 4/430 no. 1624, tahqiq : Dr. Basyaar ’Awwaad Ma’ruuf; Daarul-Gharb, Cet. 1/1422 H].
b. Al-Husain bin Muhammad bin Habsy, Abu ’Aliy Ad-Diinawariy Al-Muqri’; seorang yang tsiqah lagi ma’muun [lihat : Taariikh Islaamiy oleh Adz-Dzahabiy, 26/538-539, tahqiq : Dr. ’Umar bin ’Abdis-Salaam At-Tadmuriy; Daarul-Kitaab Al-’Arabiy, Cet. 1/1409 H].
c. Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Abi Haatim; ia adalah anak dari Abu Haatim Ar-Raaziy, seorang imam yang tidak perlu ditanyakan lagi.
Kesimpulan : Sanad riwayat ini shahih. Tidak ada rawi majhuul sebagaimana klaim mukhaalif.

Konsekuensinya, Anda (mukhaalif) juga harus menerima dan membuang jauh-jauh perkataan Anda di atas. Apapun dalihnya. Abu Zur’ah dan Abu Haatim adalah imam yang terpercaya menurut Anda.
Itulah perkataan empat orang ulama yang disepakati keimamannya antara ’Wahabiy’ dan mukhaalif. Sengaja saya hanya batasi bahasannya untuk empat imam saja. Saya tidak membahas tuduhan ngawur mukhaalif terhadap Ibnu Qutaibah, Ibnu Khuzaimah[3], Ad-Daarimiy, dan Abu ’Umar Ath-Thalamankiy rahimahumullah sebagai mujassim. Begitu juga tuduhan ngawur lainnya terhadap Ibnu Baththah rahimahullah sebagai pemalsu hadits. Begitu juga ulasan ngawur-nya terhadap aqwaal para imam. Mungkin bisa dilakukan lain waktu, lain orang, bahkan – mungkin – oleh Ustadz Firanda sendiri.[4]
Akhirnya,… sesuatu yang tidak bisa diraih semuanya, tidaklah ditinggalkan semuanya. Semoga yang sedikit ini dapat memberikan manfaat bagi saya dan rekan-rekan.

Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
[abul-jauzaa’ – sardonoharjo, ngaglik, sleman, yk – next, job from boss must be done tonite].

 

BACA JUGA:  Inilah Tasawuf, Ilmu Tentang Membersihkan Hati yang Berkarat

Tanggapan saya ( ahmad syahid ) :

Ttiga orang rawi majhul yang saya maksud adalah :

1. ali bin Ibrahim ,

2. al-hasan bin muhammad bin hubaisy al-muqri ,

3 . ibn murdik .

Sangat disayangkan biografi yang didatangkan oleh Abu Jauza adalah :

1. Muhammad bin Al-Mudhaffar bin ’Aliy bin Harb, Abu Bakr Al-Muqri’ Ad-Diinawariy;

2. Al-Husain bin Muhammad bin Habsy, Abu ’Aliy Ad-Diinawariy Al-Muqri,

3. Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Abi Haatim.

Sangat tidak nyambung, ( yang saya sebut majhul yang mana ? Yang dibawakan Abul Jauzaa yang mana ? ) upaya Abul Jauzaa hanyalah pemaksaan kehendak yang tidak akan tercapai.  Sebab Syeikh kontradiktif pun ( Al-Albani ) mengakui dalam mukhtasor ala-uluw halaman 205,  jika dalam sanad- sanad ini ( riwayat dari abu hatim dan abu zur’ah)  ada beberapa orang yang tidak dia ketahui alias majhul,  kecuali jika Abul Jauzaa merasa lebih hebat dari syaikhnya (Al-Albani)  yang kontradiktif  itu.

 

Catatan abul jauzaa :

[1] Maksudnya, Qutaibah bin Sa’iid rahimahullah.
[2] Kitab yang beliau nukil adalah terbitan Daarul-Minhaaj, Cet. 1/1423 H, dengan tahqiq : Abul-Yamiin Al-Manshuuriy.
[3] Telah ada artikel yang menyebutkan biografi Ibnu Khuzaimah rahimahullah : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/09/biografi-ibnu-khuzaimah.html
[4] Sebenarnya, Ustadz Firanda lah yang berhak menjawab apa yang dituliskan dan disebarkan mukhaalif tersebut. Dan saya yakin, tidaklah terlampau sukar bagi beliau untuk menjelaskan kekeliruan argumentasi susunan mukhaalif tersebut.
Namun, ada perkataan mukhaalif tersebut yang benar tentang atsar Al-Auza’iy rahimahullah, ia adalah atsar lemah (dilemahkan oleh muhaqqiq kitab Al-Asmaa’ wash-Shifaat : ‘Abdullah Al-Haasyidiy, 2/304 dengan sebab Muhammad bin Katsiir). Namun harus juga dikatakan, apa yang dijelaskan Ustadz Firanda dalam artikelnya sudah lebih dari cukup bagi orang yang fair dan bisa berpikir jernih, tanpa dikotori nafsu ’asal bantah’ sebagaimana dilakukan mukhaalif.

Tanggapan saya (Ahmad Syahid) :

1. Riwayat dari al-auza’i bukanlah atsar.

2. Riwayat qoul al-auza’i adalah Madhu’  bukan hanya dhaif.

3. Entah siapa yang lebih layak menyandang:  ”Orang yang fair dan bisa berpikir jernih, tanpa dikotori nafsu  ’ASAL BANTAH’  sebagaimana dituduhkan Abu Jauzaa.

Demikian tanggapan atas catatan Abul Jauzaa.

 

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

193 thoughts on “Abul Jauzaa dan Pembelaannya Terhadap Kedustaan Ustadz Firanda”

  1. Sudah di jawab oleh Ust. Abul Jauza, ustadz, silahkan di komentari:

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/10/beberapa-catatan-tentang-ijmaa.html

    (Kolom komentar)

    [1. Qutaibah bin Sa’iid]

    Pak Ust. Ahmad Syahid mengkritik riwayat jalur An-Naqosiy, sedangkan Ust. Abul Jauzaa menggunakan jalur Abu Ahmad Al-Hakim yang menurut beliau SHAHIH.

    Ada komentar pak Ustadz?, mengenai jalur riwayat yang digunakan Ust. Abul Jauza

    [2. Abu ‘Utsmaan Ash-Shaabuuniy]

    Ust. Ahmad mempersoalkan nukilan Adz-Dzhahabi, Ust. Abul Jauza jelaskan bahwa itu ada dalam Kitab ‘Aqiidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits (Ash-Shobuni), apakah Ust. Ahmad bisa mengeceknya?

    Untuk masalah Tafwidh, sepertinya ada perbedaan…Tafwidh versi Ust. Abul Jauza adalah Tafwidh Kaifiyat sedangkan versi Ust. Ahmad adalah Tafwidh Ma’na (CMIIW), saya usul masalah Tafwidh ini dibahas berikutnya saja.

    [3. Abu Zur’ah Ar-Raaziy dan Abu Haatim Ar-Raaziy rahimahumallaah]

    Ust. Ahmad menganggap perawi dalam riwayat ini adalah MAJHUL, apakah Ust. Ahmad sudah mengecek Kitab Syarh Ushuulil-I’tiqaad seperti yang dijelaskan Ust. Abul Jauza?

    Tolong dijelaskan perawinya

    [4. Al-Auza’iy]

    Ust. Ahmad menganggap riwayat Al-Awza’i PALSU tanpa memberikan penjelasan mengenai para perawi nya, sedangkan Ust. Abul Jauza memberikan nukilan penilaian terhadap para perawi dan menurut beliau Dha’if/kalaupun Sangat Dha’if pun TIDAK HARUS PALSU.

    Silahkan Ust. Ahmad Syahid jelaskan para perawi Riwayat Al-Awza’i tersebut

    Semoga Allah tambahkan kebaikan kepada Umat Nabi yang senantiasa jujur dan senantiasa merasa takut berdusta karena diperhatikan Allah…Amin

    1. Pak Gunawan ini bagaimaa kok asal COPAS aja seh? Justru Postingan di atas itu jawaban buat yg antum COPAS, makanya biasakan baca dulu postingan baru komentar biar nyambung. Duh Pak Gunawan, Pak Gunawan…. kenapa rata-rata para Wahabiyyin itu kelakuannya seperti antum, Asala COPAS aja n buat komentar. Mungkin karena hati yg keras membatu sehingga baca postingan selain Wahabisme ogah, kalau sudah begini bagaimana mau dapat hidayah?

      Obatilah hati yg keras dg banyak baca istighfar dan banyak2 baca Sholawat Nabi Saw, insyaallah hati jadi lembut dan terbuka n jujur.

      Sekali lagi ana kasih tahu ya Pak Gunawan, yg antum COPAS dari blog Abul Jauza’ itu justru jawabannya ada dalam postingan di atas. Bacalah bagaimaa Abul Jauza’ itu ternyata juga tidak nyambung …. Mungkin karena TELMI atau dikuasai nafsu ASAL BANTAH sehingga bantahannya tidak nyambung. Atau mungkin juga karena punya hati yg keras membatu sehingga tercermin dalam tulisannya yg asal membantah saja dan sangat kuat kesan sengaja membohongi orang-orang awam pengikutnya. Semoga semuanya dapat hidayah seandainya hatinya tidak sekeras batu gunung Uhud, amin….

      1. Aryati memang setipe sama Putri, logikanya pake logika bakul mlijo yang asal mangap. Bantahan saudara Ahmad Syahid sudah dikuliti kemarin di komentar artikel, saya juga sudah menganjurkan kepada saudara Ahmad Syahid supaya langsung nimbrung langsung di kolom komentar, karena ustadz Abul Jauzaa sekarang sedang ada waktu untuk meladeni Asy’ariyah yang suka ngeyel. Kasihan kan dianth dibantai habis tanpa bisa menjawab, dibilangin cheerleader Ahmad Syahid pula 😆

        1. Pak Abdullah dikibulin Abul Jauzaa cuma manggut2 n manut aja seh? Lihat aja n baca sendiri Postingan di atas memang Abul Jauzaa itu tidak nymabung bantahannya. Masa gak lihat antum, kalau gak lihat itu bukan gak lihat tetapi akal antum yg gak mampu bernalar akibat tertutup oleh kesombongan.

          Jadi orang pintar-pintarlah membandingkan dan gunakan akal. Bukankah antum punya akal juga seperti kami?

          1. Aryati, Aryati. Kebanyakan minta di kuburan sih, jadi kehilangan akal, gak sadar kalo saudara Ahmad Syahid pujaannya dibantai habis. Mau main2in kitab, eh, ketahuan.

          2. Abdullah@

            Pak Dul, lihat tuh koment Mas Syahid di bawah…. jangan nyerocos kaya kaya waria di jalanan…. emang antum yg nggak mutu kok nggak nyadar2 sih Pak, afwan yo Pak Dul?

            Pesan ana, mikirlah sedikit Pak Dul biar gak mudah kena tipu ustadz2 yg emang dapurnya ngebul dari perbuatan dustanya. Klau gak dusta dapurnya gak ngebul kali ya? Kebenaran kok dikorbankan/ditukar dg ngebulnya dapur? Na’udzubillah….

          3. Putri mau minta bukti kejantanan saya? Ayo sini jadi istri kedua! Putri cukup beranak saja yang banyak. Logika bakul mlijo tapi udah merasa paling pinter sendiri.

            Contoh ulama yang dapurnya ngebul dari perbuatan dusta, itu kebanyakan ulama yang ngaku aswaja. Misalnya dulu waktu jaman asas tunggal, banyak kyai yang dapat Pajero, pesantrennya dapat duit banyak, sedangkan kyai yang menolak asas tunggal pesantrennya tetap reot. Atau yang lagi ngetren, kyai yang suka menjajakan pluralisme, dapat duit tuh dari Asia foundation. Atau kyai yang suka pake jin, tuh, yang suka ngisi ilmu kebal buat anggota Banser. Atau Kyai suka jual ijasah ilmu pengasihan, ilmu cepat kaya, ilmu perlindungan, jimat, “mengisi” sabuk atau benda2 lain, dengan “mahar” yang sangat mahal. Semuanya ngaku aswaja. Merekalah yang menukar petunjuk dengan kesesatan.

            Om Dianth sedang dibantai habis tuh di blog Abul Jauzaa, termasuk kopas andalannya dikuliti habis ke akar2nya. Apakah saudara Ahmad Syahid tidak kasihan dan membantu Om Dianth? Atau saudara Ahmad Syahid takut dikuliti hujjah2nya sehingga pamornya jatuh di Ummatipress? Paling enak memang ngeles di sini, banyak cheerleader yang taklid buta.

          4. ey otak cabul, jaga mulut ente
            ga boleh liat wanita cantik nih orang, pengen kawinin aje

            soal blog sampah ky gt ga usah ente banggain. Kalo berani, suruh adminnya dateng k sini, paling dikulitin

            gmn bs bales kalo komentar yg nohok langsung di del?
            Lagian ngulitin gmn sih?
            Paling ente aj yg kepedean
            wahhabi kan biasa ngoceh ga nyambung ky bakul rombeng

          5. mending saudara perempuan ente aj ente suruh jd TKW di Arab Saudi
            biar ente tau gmn nafsunya wahhabi2 cabul ky ente

  2. hehehe, seru, saling balas, saya hanya bisa melihat saja, skor saat ini 2-1 untuk manchester city, semoga MU kalah…………heheehehe

    1. @anas….waduh salah alamat buung, kalo mau Bola, ane MU, ga bakal city menang, la wong plagiat gitu, banyak duit…minim gelar, tapi berbanding terbalik dg wahabi, sedikit jama’ah, tapi banyak bikin masalah, dari sejarah awal penuh pertumpahan darah..malah sodara sendiri Syaikh Sulaiman mau dibunuh juga…., berkonco dg ibnu Saud yg trahnya yahudi, yaah ikut bermesraan dg AS, lihat lah perjanjian-2 ibnu saud dg inggris, supaya memberikan palestina ke Israel, makanya ampe skrg Saudi ga pernah bela Palestina….

  3. Ping-balik: Abul Jauzaa dan Pembelaannya Terhadap Kedustaan Ustadz Firanda « Artikel Islami – Blog Pembela Ahlus Sunnah
  4. Sebelumnya ingin saya sampaikan bahwa Ijmak Ahlu sunnah wal-jama`ah adalah sifat al-uluw ( sifat – ketinggian ) , bukan Jihah al-uluw ( Arah atas ).

    1. sifat al-uluw (sifat ketinggian ) telah disebutkan dalam Al-Qur`an dan Sunnah shahihah disinilah terjadi Ijmak atau consensus Ulama Islam , barang siapa mengingkari sifat ketinggian Allah dengan keagungan dan kesempurnaan dzat sifat dan kedudukan maka ia kafir tanpa ragu.

    2. Arah atas (jihah al-uluw) secara fisik dan berjarak karena jauhnya tempat , adalah Bid`ah qoul dan Aqidah , tidak pernah disebut dalam Al-Qur`an maupun Sunnah shahihah, tidak juga diyakini oleh seorang Sahabat Nabi SAW , inilah Aqidah Ustadz Firanda yang coba dibela oleh ustadz Abu Jauza.

    Gunawan (pembawa berita dari Abul jauza) says:

    [1. Qutaibah bin Sa’iid]
    Pak Ust. Ahmad Syahid mengkritik riwayat jalur An-Naqosiy, sedangkan Ust. Abul Jauzaa menggunakan jalur Abu Ahmad Al-Hakim yang menurut beliau SHAHIH.
    Ada komentar pak Ustadz?, mengenai jalur riwayat yang digunakan Ust. Abul Jauza.

    Tanggapan : sudah saya sampaikan pada awal artikel bahwa Abu ahmad al-hakim berusia 7 tahun ketika As-sarraj meninggal , sebagaimana disebutkan dalam Tarikh Baghdad juz 1 halaman 248 , bahwa as-sarraj lahir tahun 218 meninggal tahun 313 sementara Abu Ahmad al-hakim meninggal tahun 398 pada usia 93 tahun dan saya menganggap tidak sahnya riwayat anak kecil .

    [2. Abu ‘Utsmaan Ash-Shaabuuniy]
    Ust. Ahmad mempersoalkan nukilan Adz-Dzhahabi, Ust. Abul Jauza jelaskan bahwa itu ada dalam Kitab ‘Aqiidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits (Ash-Shobuni), apakah Ust. Ahmad bisa mengeceknya?
    Untuk masalah Tafwidh, sepertinya ada perbedaan…Tafwidh versi Ust. Abul Jauza adalah Tafwidh Kaifiyat sedangkan versi Ust. Ahmad adalah Tafwidh Ma’na (CMIIW), saya usul masalah Tafwidh ini dibahas berikutnya saja.
    Tanggapan : saya tidak mempermasalahkan Nukilan Abu Jauza yang saya permasalahkan adalah ” pemahaman ” abu jauza atas nukilannya beliau sendiri (scan yang ditampilkan abul jauza) ada hal penting yang luput dari ustadz abul jauza

    dalam scan tersebut terdapat pernyataan Ash-Shobuni yang sangat jelas menunjukkan jika beliau adalah seorang Mufawwidh
    ويمرو نه علي ظا هره ؤيكلو ن علمه الي الله…. الخ

    Inilah yang coba saya koreksi dari ” pemahaman ” abul jauza , sama sekali bukan Nukilannya abul Jauza.

    [3. Abu Zur’ah Ar-Raaziy dan Abu Haatim Ar-Raaziy rahimahumallaah]
    Ust. Ahmad menganggap perawi dalam riwayat ini adalah MAJHUL, apakah Ust. Ahmad sudah mengecek Kitab Syarh Ushuulil-I’tiqaad seperti yang dijelaskan Ust. Abul Jauza?
    Tolong dijelaskan perawinya.

    Tanggapan : 1. sebelumnya ingin saya koreki bahwa yang saya maksud adalah salah seorang rawi , saya tidak ” menganggap perawi dalam riwayat ini adalah majhul ” sebagaimana dalam tulisan gunawan , yang meng-isyaratkan bahwa semua rawi dalam riwayat ini Majhul.

    2. semua jalur riwayat ini sudah saya jelaskan silahkan lihat kembali dalam artikel maupun dalam tanggapan atas catatan Abul Jauza , termasuk Riwayat al-lalikai dalam syarh Ushulil I`tiqod.

    [4. Al-Auza’iy]
    Ust. Ahmad menganggap riwayat Al-Awza’i PALSU tanpa memberikan penjelasan mengenai para perawi nya, sedangkan Ust. Abul Jauza memberikan nukilan penilaian terhadap para perawi dan menurut beliau Dha’if/kalaupun Sangat Dha’if pun TIDAK HARUS PALSU.

    Silahkan Ust. Ahmad Syahid jelaskan para perawi Riwayat Al-Awza’i tersebut

    Tanggapan : 1. saya nilai riwayat ini maudhu` karena Muhammad bin katsir al-mashishi disifati sangat lemah menerima riwayat dari seorang yang tertuduh dusta yaitu Ibrahim bin al-haitsam al-baladi , orang yang sangat lemah hafalkannya menerima riwayat dari seorang tertuduh ber Dusta , inilah penyebab utama diasebut Maudhu`.

    2. jika Abu Jauza menganggap riwayat dengan susunan rawi seperti ini sebagai Dhaif , lalu yang dinilai Maudhu` harus seperti apa susunan rawinya…..? atau Abul Jauza punya kaidah tersendiri yang tidak mengikuti kaidah Ulama Jarh wa- at-ta`dil……?

    3. kalaupun saya mengalah bahwa riwayat itu Sangat Dha`if ( riwayat itu Maudhu`, tidak dapat dinilai lemah) , maka tidak selayaknya menyampaikan riwayat riwayat yang ” sangat dha`if ” dalam Hal Aqidah ” semboyan hanya menggunakan hadist-hadist shahih jadi dipertanyakan.

    Silahkan ustadz Abul Jauza mengomentari seluruh isi artikel (seperti yang saya lakukan untuk artikel ustadz firanda ) jangan hanya 4 poin , masih banyak poin yang membatalkan Klaim Ijmak ustadz Firanda dan All wahabiyyin dalam artikel tersebut , silahkan Abu Jauza mengomentari seluruh artikel disitulah kita semua akan tahu jika riwayat – riwayat itu dibawakan hanya dijadikan pemikat , tameng dan batu loncatan untuk Aqidah sebenarnya yang diyakini Ustadz firanda cs. (silahkan lihat pada seri berikutnya) .

    Semoga Allah tambahkan kebaikan kepada Umat Nabi yang senantiasa jujur dan senantiasa merasa takut berdusta karena diperhatikan Allah…Amin.

    Catatan : untuk selanjutnya saya tidak akan mengomentari ustadz abu Jauza jika beliau hanya mengomentari beberapa poin saja , saya hanya akan komentari abul jauza jika beliau mengomentari seluruh Artikel saya , sehingga tidak ada yang berbangga hati ” seolah artikel saya sudah dikuliti semuanya ” padahal hanya 4 dari puluhan poin , dan itupun sudah saya kembalikan dan kuliti kembali , saya mohon tidak ada yang berbangga diri atau kelompok sebelum seluruh artikel di bantah dari A sampai Z ,.

    Sebab yang kita cari semata – mata adalah kebenaran sejati bukan semata-mata kemenangan Palsu.

    1. Alhadulillah, Tipu daya Abul Jauza n kesombongannya memang harus dilumpuhkan sebelum menular ke anak-anak muda kaum Muslimin. Kasihan yg jadi korban penipuan Abul Jauza CS.

      1. iya si abdullaoh menuduh semua dukun & penyembah kubur itu aswaja….buktinya apa?? tanya pada mrk, apa mrk aswaja?? laaaa kalo mrk kepercayaan, animisme dinamisme gimana?? dan dia ga pernah bisa jawab, kalo semua teroris di Indonesia sampe al-qaeda itu berfaham wahabi, buatan yahudi, tapi mereka di doktrin sama ustadz-2 bayaran dari Saudi membuat biografi/sejarah Abdul Wahab & wahabi itu di dalamnya baiiiiiik bgt, ga pernah baca kitab Abdul Wahab sendiri apa yah? kalo dia begitu bangga nya membunuh org yg ga sefaham dg dia….Inna lillahi…

  5. Subhanallah Ustadz Ahmad Syahid terima kasih. Ternyata banyak sekali orang yang sok “banyak ilmu” dan bilang semua sudah “dikuliti”, dan ternyata “banyak ilmu ngeles dan ngalor ngidul serta jago mengalihkan pembicaraan”. Ah itu mah penipuan secara halus ….. Jadi ingat peristiwa Nabi Adam ditipu ama ….

    1. ass,,,,,numpang lewat ya…ampe kiamat juga wahabism ga kan nyadar2….nech….awas bentukan zionism berkedok islam….mutasi dari model freemansory terselubung….pemegang trah kebenaran tunggal “titik tanpa koma”

    2. Ternyata saudara Ahmad Syahid ngibul nggak baca kitab. Kalau sesama orang yang tidak baca kitab, bisalah buat ngibul, tetapi di hadapan orang yang baca kitab, ketahuan belangnya.

    1. Sungguh dusta, di kitab apa Imam Syafi’i menetapkan akidah sifat 20? Kenapa menjadikan Imam Syafi’i untuk jadi tameng akidah sifat 20? Modus operandi macam ini sudah sering terjadi, dinalar dulu pakai akal, kalau bisa diterima akal, baru cari dalil naqli pendukungnya.

  6. para rekan ummati sekalian, pernah saya mampir ke firanda.com, banyak menyanggah dan mengucilkan khotba2 Habib Munzir, apakah rekan2 ummati spt Mas Syahid, Mas Dianth dan lainnya bisa memberikan argumennya disana? soalnya kok ga ada dari aswaja yg kasih komen yah?

  7. Wkwkwk, kalau anda pintar dan cermat, maka ente sebenernya bisa lihat, abul jauzza itu menguliti kebodohannya sendiri. Apa anda tak perhatikan si abul jauzza tidak bisa membuktikan dalil dan hujah tafwidh kaifiyah? Dia hanya ngotot dgn riwayat imam malik, biar ada dalilnya bahwa ada tafwidh kaifiyah. Kasihan amat penggemarnya, ditipu oleh kesombongannya. Masih berlanjut, simak aja. Yg cerdas dan cermat akan dapat manfaat yg oon akan tertipu.

    1. Anda nggak malu ngomong gitu? Kalau memang niatnya mencari kebenaran, nggak usah jaim, kalau memang salah ya diakui saja.

      Semua dalil2 kopas yang Anda pegang belasan tahun sudah dikuliti habis, tetapi Anda tetap tak bergeming. Lalu Anda ganti jurus dari dalil kopas ke dalil pokoknya. Pokoknya Wahabi itu mujassim semua. Ya kalau begitu caranya, kebenaran dari siapapun tidak akan sampai.

        1. Ini orang mabuk kecubung ya? Liat sendiri arsip Washington Post 17 september 1969, gak ada berita yang dituduhkan, alias ngarang. Kebiasaan percaya cerita2 Israiliyat sama minta2 di kuburan sih.

          http://pqasb.pqarchiver.com/washingtonpost_historical/results.html?st=advanced&uid=&MAC=50a23aa1f3f5c6104e90e36051420d61&QryTxt=*&sortby=RELEVANCE&datetype=6&frommonth=09&fromday=17&fromyear=1969&tomonth=09&today=17&toyear=1969&By=&Title=&at_hist=article

          1. cari lagi boss, jgn pake hawa nafsu amarah gitu…..yg ente kasih link itu bisa aja dihapus sama saudi & AS sbg mitra partner, laaaah ente lihat sendiri di berita kan? Saudi mesra dg AS, tentara saudi dilatih AS, belajar sejarah doong, saudi ttd perjanjian dg inggris, untuk berikan palestina ke israel, ente lihat saudi peduli palestina ga ??? bedul…bedul….

          2. Kebiasaan pendusta kalau ketahuan belangnya, langsung menuduh sumber berita diubah. Sama persis seperti pendusta yang menuduh Wahabi mengubah kitab2. Sumbangan Saudi buat Palestina adalah yang paling besar. Nggak cuma duit, juga makanan dan obat2an. Banyak orang2 yang terluka dibawa ke rumah sakit Saudi. Sementara kamu cuma bisa mencela penyumbang Palestina, sementara sumbangan kamu cuma omong doang.

          3. hahahahah bedul…bedul….perjanjian sudah tercatat, lihat saja kemesraan saudi dg AS, anda tidak tahu??? cukup payah

          4. buat saudaraku seiman akhi abdullah,sudah ga usah dilayananin mereka percuma kalo belum mendapat petunjuk dan hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala hati mereka akan tetap keras dengan kebenaran, aku dulu juga sama dengan mereka bisanya hanya prasangka buruk aja, alhamdulillah jalan kebenaran sudah datang kepadaku dan saya doakan semoga saudaraku semuanya segera mendapatkan hidayahNya amiin….

  8. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ,

    أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ – بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

    = AQIDAH ANTI MADZHAB =

    Pada Buku = RASIONALITAS AL-QUR’AN = Studi Kritis atas Tafsir Al-Manar ( yang membahas kesesatan para Dedemit WAHABI ) = karya – M.Quraish Shihab . MA. = di Halaman 74 nomor 3 menyatakan :

    “ Syaikh Abdul Ghani ar-Rafi , mengajarkannya ( kepada Rasyid Redha al-Mu’tazili ) sebagian dari kitab hadits NAIL al AUTHAR yang dikarang oleh : asy-Syaukani yang bermadzhab Syi’ah Zaidiyah “

    …Ulama Besar Syi’ah dijadikan MASCOT oleh para DEDENGKOT WAHABI…lucu…maksud hati ingin meluruskan AQIDAH ….akhirnya …berkolaborasi dengan Aqidah Syi’ah….Na’udzubillah tsumma Na’udzubillah.

    وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

    لا تجتمع هذه الأمة على ضلا

    “Umat ini tidak akan bersepakat diatas Kesesatan.”

    (HR. Asy-Syafi’I dalam Ar-Risalah)

    http://thesaltasin.wordpress.com/2011/09/16/o/

  9. Anda kok ndak pintar juga, coba lìat baik2, yg mengalihkan pokok masalah itu si abul jauzaa. Lah, sy kopas itu ada hubungannya dgn diskusi, apanya yg dikuliti? apanya yg bolak balik? Jadi orang itu yg cerdas om…

  10. Ahmad Syahid:
    Sebelumnya ingin saya sampaikan bahwa Ijmak Ahlu sunnah wal-jama`ah adalah sifat al-uluw ( sifat – ketinggian ) , bukan Jihah al-uluw ( Arah atas ).

    1. sifat al-uluw (sifat ketinggian ) telah disebutkan dalam Al-Qur`an dan Sunnah shahihah disinilah terjadi Ijmak atau consensus Ulama Islam ,barang siapa mengingkari sifat ketinggian Allah dengan keagungan dan kesempurnaan dzat sifat dan kedudukan maka ia kafir tanpa ragu.

    2. Arah atas (jihah al-uluw) secara fisik dan berjarak karena jauhnya tempat , adalah Bid`ah qoul dan Aqidah , tidak pernah disebut dalam Al-Qur`an maupun Sunnah shahihah, tidak juga diyakini oleh seorang Sahabat NabiSAW , inilah Aqidah Ustadz Firanda yang coba dibela oleh ustadz Abu Jauza.

    Gunawan (pembawa berita dari Abul jauza) says:

    [1. Qutaibah bin Sa’iid]
    Pak Ust. Ahmad Syahid mengkritik riwayat jalur An-Naqosiy, sedangkan Ust. Abul Jauzaa menggunakan jalur Abu Ahmad Al-Hakim yang menurut beliau SHAHIH.
    Ada komentar pak Ustadz?, mengenai jalur riwayat yang digunakan Ust. Abul Jauza.

    Tanggapan: sudah saya sampaikan pada awal artikel bahwa Abu ahmad al-hakim berusia 7 tahun ketika As-sarraj meninggal , sebagaimana disebutkan dalam Tarikh Baghdad juz 1 halaman 248 , bahwa as-sarraj lahir tahun 218 meninggal tahun 313 sementara Abu Ahmad al-hakim meninggal tahun 398 pada usia 93 tahun dan saya menganggap tidak sahnya riwayat anak kecil .

    OK, jadi versi Pak Ust. Ahmad Syahid (melalui Tarikh Baghdad yang tidak dicantumkan tahun kelahiran) Abu Ahmad Al-Hakim berusia 7 tahun ketika As-Sarraj meninggal.

    Versi Ust. Abul Jauzaa melalui Muqadimmah Syarh Ashabil Hadits, Abu Ahmad Al-Hakim lahir 285 H..ini artinya saat As-Sarraj meninggal beliau berumur 28 tahun. (313 H – 285 H = 28)

    Ada komentar Pak Ust. Ahmad

    [2. Abu ‘Utsmaan Ash-Shaabuuniy]
    Ust. Ahmad mempersoalkan nukilan Adz-Dzhahabi, Ust. Abul Jauza jelaskan bahwa itu ada dalam Kitab ‘Aqiidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits (Ash-Shobuni), apakah Ust. Ahmad bisa mengeceknya?
    Untuk masalah Tafwidh, sepertinya ada perbedaan…Tafwidh versi Ust. Abul Jauza adalah Tafwidh Kaifiyat sedangkan versi Ust. Ahmad adalah Tafwidh Ma’na (CMIIW), saya usul masalah Tafwidh ini dibahas berikutnya saja.
    Tanggapan : saya tidak mempermasalahkan Nukilan Abu Jauza yang saya permasalahkan adalah ” pemahaman ” abu jauza atas nukilannya beliau sendiri (scan yang ditampilkan abul jauza) ada hal penting yang luput dari ustadz abul jauza

    dalam scan tersebut terdapat pernyataan Ash-Shobuni yang sangat jelas menunjukkan jika beliauadalah seorang Mufawwidh
    ويمرو نه علي ظا هره ؤيكلو ن علمه الي الله…. الخ

    Inilah yang coba saya koreksi dari ” pemahaman ” abul jauza , sama sekali bukan Nukilannya abul Jauza.

    Ust. Ahmad, sebelumnya saat Ust. Ahmad mengomentari ucapannya Ash-Shobuni (artikel Ust. Firanda) kan memang Ust. Ahmad sendiri yang menyatakan “kata-kata setelah ini (para pemuka dst….) adalah tambahan yang entah Imam aDzahabi dapat dari mana?”…

    karena itulah Ust. Abul Jauzaa menjelaskan sumber nukilannya Adz-Dzhahabi..ini saja.

    Mengenai tafwidh, mungkin Ust. Ahmad berkenan membantah tulisan nya Ust. Abul Jauza, supaya lebih fokus penjelasannya

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/03/at-tafwidl.html

    Silahkan

    [3. Abu Zur’ah Ar-Raaziy dan Abu Haatim Ar-Raaziy rahimahumallaah]
    Ust. Ahmad menganggap perawi dalam riwayat ini adalah MAJHUL, apakah Ust. Ahmad sudah mengecek Kitab Syarh Ushuulil-I’tiqaad seperti yang dijelaskan Ust. Abul Jauza?
    Tolong dijelaskan perawinya.

    Tanggapan : 1. sebelumnya ingin saya koreki bahwa yang saya maksud adalah salah seorang rawi , saya tidak ” menganggap perawi dalam riwayat ini adalah majhul ” sebagaimana dalam tulisan gunawan , yang meng-isyaratkan bahwa semua rawi dalam riwayat ini Majhul.

    2. semua jalur riwayat ini sudah saya jelaskan silahkan lihat kembali dalam artikel maupun dalam tanggapan atas catatan Abul Jauza , termasukRiwayat al-lalikai dalam syarh Ushulil I`tiqod.

    Ust. Ahmad, sebelumnya Ust. Ahmad menulis:

    “Riwayat ini diriwayatkan dari tiga jalur sebagaimana disebutkan oleh Adz-Dzahzbi dalam Al-Uluw”

    “Dua jalur pertama terdapat dua Rawi yang majhul, keduanya yaitu : Ali ibn Ibrohim meriwayatkan dari Ibn Jami’ , rawi majhul yang satunya Al-hasan bin Muhammad bin Hubaisy Al Muqri tidak ada bioghrafi yang jelas tentangnya dan tidak ada seorangpun Ahli jarh wa ta’dil yang men-tsiqoh-kannya dan dia adalah Majhul.”

    Sedangkan jalur yang SHAHIH dipakai oleh Ust. Abul Jauza adalah:

    خْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُظَفَّرِ الْمُقْرِئُ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَبَشٍ الْمُقْرِئُ

    a. Muhammad bin Al-Mudhaffar bin ’Aliy bin Harb, Abu Bakr Al-Muqri’ Ad-Diinawariy; seorang syaikh yang shaalih, mempunyai keutamaan, lagi shaduuq. Wafat 415 H [Taariikh Baghdaad, 4/430 no. 1624, tahqiq : Dr. Basyaar ’Awwaad Ma’ruuf; Daarul-Gharb, Cet. 1/1422 H].

    b. Al-Husain bin Muhammad bin Habsy, Abu ’Aliy Ad-Diinawariy Al-Muqri’; seorang yang tsiqah lagi ma’muun [lihat : Taariikh Islaamiy oleh Adz-Dzahabiy, 26/538-539, tahqiq : Dr. ’Umar bin ’Abdis-Salaam At-Tadmuriy; Daarul-Kitaab Al-’Arabiy, Cet. 1/1409 H].

    c. Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Abi Haatim; ia adalah anak dari Abu Haatim Ar-Raaziy, seorang imam yang tidak perlu ditanyakan lagi.

    Kesimpulan : Sanad riwayat ini shahih. Tidak ada rawi majhuul sebagaimana klaim mukhaalif.

    Berarti pembahasan ini memang TIDAK NYAMBUNG, Ust. Ahmad Syahid menjelaskan Riwayat yang ada perawi yang MAJHUL sedangkan Ust. Abul Jauza menjelaskan riwayat yang perawinya TIDAK MAJHUL.

    Apapun itu berarti Riwayat Abu Hatim dan Abu Zur’ah memiliki SANAD yang SHAHIH kan (seperti yang dijelaskan oleh Ust. Abul Jauza) ?

    [4. Al-Auza’iy]
    Ust. Ahmad menganggap riwayat Al-Awza’i PALSU tanpa memberikan penjelasan mengenai para perawi nya, sedangkan Ust. Abul Jauza memberikan nukilan penilaian terhadap para perawi dan menurut beliau Dha’if/kalaupun Sangat Dha’if pun TIDAK HARUS PALSU.

    Silahkan Ust. Ahmad Syahid jelaskan para perawi Riwayat Al-Awza’i tersebut

    Tanggapan : 1. saya nilai riwayat ini maudhu` karena Muhammad bin katsir al-mashishi disifati sangat lemah menerima riwayat dari seorang yang tertuduh dustayaituIbrahim bin al-haitsam al-baladi , orang yang sangat lemah hafalkannya menerima riwayat dari seorang tertuduh ber Dusta , inilah penyebab utama diasebut Maudhu`.

    2. jika Abu Jauza menganggap riwayat dengan susunan rawi seperti ini sebagai Dhaif , lalu yang dinilai Maudhu` harus seperti apa susunan rawinya…..? atau Abul Jauza punya kaidah tersendiri yang tidak mengikuti kaidah Ulama Jarh wa- at-ta`dil……?

    3. kalaupun saya mengalah bahwa riwayat itu Sangat Dha`if ( riwayat itu Maudhu`, tidak dapat dinilai lemah) ,maka tidak selayaknya menyampaikan riwayat riwayat yang ” sangat dha`if ” dalam Hal Aqidah ” semboyan hanya menggunakan hadist-hadist shahih jadi dipertanyakan.

    Insya Allah, akan saya sampaikan pada beliau

    Silahkan ustadz Abul Jauza mengomentari seluruh isi artikel (seperti yang saya lakukan untuk artikel ustadz firanda ) jangan hanya 4 poin , masih banyak poin yang membatalkan Klaim Ijmak ustadz Firanda dan All wahabiyyin dalam artikel tersebut , silahkan Abu Jauza mengomentari seluruh artikel disitulah kita semua akan tahu jika riwayat – riwayat itu dibawakan hanya dijadikan pemikat , tameng dan batu loncatan untuk Aqidah sebenarnya yang diyakini Ustadz firanda cs. (silahkan lihat pada seri berikutnya) .

    Semoga Allah tambahkan kebaikan kepada Umat Nabi yang senantiasa jujur dan senantiasa merasa takut berdusta karena diperhatikan Allah…Amin.

    Catatan : untuk selanjutnya saya tidak akan mengomentari ustadz abu Jauza jika beliau hanya mengomentari beberapa poin saja , saya hanya akan komentari abul jauza jika beliau mengomentari seluruh Artikel saya , sehingga tidak ada yang berbangga hati ” seolah artikel saya sudah dikuliti semuanya ” padahal hanya 4 dari puluhan poin , dan itupun sudah saya kembalikan dan kuliti kembali , saya mohon tidak ada yang berbangga diri atau kelompok sebelum seluruh artikel di bantah dari A sampai Z ,.

    Sebab yang kita cari semata – mata adalah kebenaran sejati bukan semata-mata kemenangan Palsu.

    Insya Allah…

    1. ini jawaban ust.abuljauzaa,

      5. Atsar Al-Auza’iy.

      Jika Anda paham penyikapan Ahmad Syahid sebagaimana yang saya jelaskan di atas, maka di sini Anda akan lebih ‘memahami’ penyikapan Ahmad Syahiid atas atsar Al-Auza’iy.

      Saya telah sarankan kepadanya untuk merujuk ke kitab Tahdziibul-Kamaal atau Tahdziibut-Tahdziib untuk biografi Muhammad bin Katsiir. Entah, ia benar-benar membuka dua kitab itu apakah tidak. Namun dilihat dari perkataannya, sepertinya tidak. Tapi sebelumnya, simaklah perkataannya :

      “saya nilai riwayat ini maudhu` karena Muhammad bin katsir al-mashishi disifati sangat lemah menerima riwayat dari seorang yang tertuduh dusta yaitu Ibrahim bin al-haitsam al-baladi , orang yang sangat lemah hafalkannya menerima riwayat dari seorang tertuduh ber Dusta , inilah penyebab utama diasebut Maudhu`”.

      NB : Yang benar, Al-Haitsam menerima riwayat dari Muhammad bin Katsiir, bukan sebaliknya. Dari sini saja Anda sudah mengetahui ketidakakuratan perkataan Ahmad Syahiid itu.

      Kemudian saya berkata :

      Perkataannnya ini hanya membuat orang menangis sekaligus tertawa. Sekaligus menunjukkan bahwa Ahmad Syahiid itu sangat-sangat awam tentang ilmu riwayat. Ia membuat kaedah aneh seperti di atas. Seandainya kaedah itu bukan buatannya, siapakah yang mencetuskan pertama kali ? (riwayat seorang perawi lemah dinilai maudlu’ secara mutlak hanya karena ada di antara riwayatnya berasal dari perawi yang tertuduh berdusta).

      Saya tidak akan mengomentari perkataan lucu ini. Cukuplah dibiarkan, karena menanggapi perkataan di luar jalur ilmu hanyalah kesia-siaan.

      Perkataan Ibnu Hajar yang merangkum beberapa komentar tentang diri Muhammad bin katsiir dengan perkataan : “Shaduuq katsiirul-ghalath”; dan Adz-Dzahabiy : “Shaduuq, namun mengalami ikhtilaath (percampuran hapalan) di akhir usianya” — cukup menggambarkan bagaimana sebenarnya keadaan Muhammad bin Katsiir ini.

      Adapun riwayat Ibraahiim bin Haitsam Al-Baladiy, saya sudah menyebutkannya. Tidak mengapa saya ulang :

      “Ibraahiim bin Al-Haitsam itu perawi tsiqah. Ibnu ‘Adiy mengatakan : ‘Hadits-haditsnya lurus”. Dan kemudian beliau mengatakan tidak menemukan hadits-haditsnya yang munkar kecuali satu saja. Al-Kahthiib berkata : “Tsiqah lagi tsabat”. Ad-Daaruquthniy mengatakan tsiqah. Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat. Adz-Dzahabiy mengatakan : “Shaadiq”. Hanya Ibnu Ma’iin yang mengatakan : “Riwayat-riwayatnya diingkari”. Namun perkataan ini tidaklah menjatuhkan kredibilitas Ibraahiim secara keseluruhan”.

      Jika melihat data-data seperti di atas, benarkah omongan Ahmad Syahiid itu bahwa riwayat Al-Auza’iy palsu ?.

    2. untuk pernyataan yang kedua, inilah jawaban beliau..

      “Saya tidak akan mengomentari seluruh tulisannya itu, karena tiga atau empat point pokok di atas sudah cukup bisa mengungkap bagaimana sebenarnya Ahmad Syahiid itu.”

    3. Semoga Ustadz Ahmad Syahid diberikan kesehatan oleh Allah.

      Pak Ustadz, pertanyaan saya yang saya tanyakan dari tanggal 24 October sudah bisa dijawab belum?

      Gunawan says:
      October 24, 2011 at 5:46 pm

      Mudah-mudahan pak Ustadz tidak pelit dengan Ilmu yang Ustadz miliki,

      kalau sekiranya Ustadz bisa jawab silahkan dijelaskan saja, adapun mengenai syarat yang Ustadz minta supaya Ust. Abul Jauza mengomentari seluruh artikel Ustadz dan beliau tidak lakukan mungkin Ust. Abul Jauza tidak ingin menyerobot “Proyek” untuk Ust. Firanda.

      Jadi harapan saya, mohon pertanyaan saya dijawab kalau memang Ustadz punya argumentasi yang kuat.

      Jazakallah

  11. Rekan-rekan ini saya sampaikan tanggapan saya buat blog Abul jauzaa, yang mulai tidak menampilkan tanggapan saya dan mulai meracau ( dia selalu emosi menanggapi komentar ana). Semoga mau ditampilkannya, sudah saya kirim ke blognya.

    Maksud saya biar semua paham bagaimana pemahaman saya agar tidak terjadi salah paham karena jidal, dan ini komentar terakhir ana disana :

    Buat Abul jauzaa, saya berharap kalau anda punya amanat ilmiah, anda mesti menyampaikan dan menampilkan koment saya yang ini, karena ini komentar saya yang terakhir di artikel anda ini. Kalau koment sebelumnya anda anggap mutar-mutar dan sebagainya, sehingga tidak anda tampilkan, maka itu urusan anda, tetapi setiap yang saya sampaikan ada hal baru yang perlu dipahami.

    Dan demi amanat ilmiah, dan juga karena ini koment saya yang terakhir harap ditampilkan komentar saya ini. Krena ini bermanfaat buat pembaca blog anda dalam mencari kebenaran. Apakah anda takut ?

    1. Riwayat Al-Imaam Maalik dari Suraij bin An-Nu’maan.

    Koment yang tidak anda tampilkan itu sebenarnya adalah penghentian jidal, yaitu saya tidak sepakat dengan anda yang menghasankan atau mengsahihkan riwayat ini, dengan alasan yang sudah saya sebutkan, jadi ini bukan pengulangan. Dan ini berarti perbedaan pendapat tentang masalah riwayat ini. Intinya saya tidak sependapat karena para ulama mengatakan intinya bahwa hapalan ABDULLAH BIN NAFI atas riwayat hadist lemah dan ulama sepakat yang disahihkan adalah tulisannya (bukan hapalannya), dan riwayat ini hanya ABDULLAH BIN NAFI yang meriwayatkannya.
    Jadi kita tidak sepakat dalam hal ini.

    2. Tentang masalah perkataan Imam Malik tentang istiwa.

    Saya akan hentikan jidal ini dengan menjelaskan perbedaan pendapat ini :

    – Al-Istiwaa’ adalah diketahui (ma’luum),

    > Menurut anda Jika dikatakan sesuatu ma’luum secara bahasa, maka itu ma’luum dalam maknanya (sehingga tidak perlu ditanyakan lagi.

    >> Menurut saya, ma’luum itu benar diketahui secara bahasa, tetapi ma’luum dalam kosa kata, jadi kata istiwa itu sendiri yang ma’luum maknanya, sedangkan maknanya dalam satu kalimat yang utuh, belum tentu ma’luum.

    – wal-kaifu ghairu ma’quulin (kaifiyyahnya tidak dapat dinalar)

    > Menurut anda maksud dari kaifiyyahnya adalah majhuul (tidak diketahui, Sesuatu yang majhuul dalam bahasa Arab itu bukan berarti tidak ada. Ada, tapi tidak diketahui. Seperti halnya perkataan imam hadits tentang seorang perawi : Huwa majhuul. Maksudnya, ia tidak diketahui namanya (tapi ada). Artinya menurut anda sudah jelas, kaifiyahnya ada sebagaimana makna zhahirnya, tetapi tidak diketahui.

    >> Menurut saya, wal-kaifu ghairu ma’quulin (kaifiyyahnya tidak dapat dinalar) itu adalah kaifiyahnya tidak ada, atau kaifiyahnya tidak masuk akal ada sebagaimana makna zhahirnya, jadi bukan hanya tidak diketahui tetapi tidak mungkin ada kaifiyahnya sebagaimana zhahirnya makna.

    untuk lebih jelas nya anda memahami pemahaman saya ini, saya contohkan seperti ini :

    Kalau dikatakan singa menggaruk kepalanya, maka saya katakan kaifiyahnya, atau bagaimana singa menggaruk kepala itu masuk akal, karena Singa punya kaki untuk menggaruk dan kepala untuk digaruk, tetapi saya tidak tahu bagaimana caranya singa menggaruk kepala.

    Bila ada perkataan yang harus kita yakini seperti ini :dikatakan langit menggaruk kepalanya, maka saya katakan bahwa kata menggaruk kepala itu ma’luum, atau kita pahami secara bahasa, tetapi kaifiyah atau bagaimana langit menggaruk kepala itu tidak bisa dicerna akal. karena langit yang saya pahami itu tidak mempunyai tangan dan kepala. Artinya makna zhahir dari menggaruk kepala pada langit itu tidak bisa dipahami kaifiyahnya.
    Dengan adanya perkataan seperti ini, ada 4 perbedaan :
    1. Orang yang mengingkari perkataan ini, dan tidak mau meyakininya.
    2. Orang yang meyakini perkataan ini secara zhahirnya dan mau tak mau dia berkeyakinan bahwa langit punya tangan dan juga punya kepala.
    3. Orang yang menyerahkan maksud perkataan ini kepada orang yang mengatakannya, karena orang yang mengatakannya paling tahu maksudnya.
    4. Orang yang melakukan takwil atas perkataan ini, sesuai kemampuannya dengan mencari petunjuk agar lebih dekat maknanya pada kebenaran.
    ini hanya contoh untuk dapat memahami maksud saya.

    Dan Perkataan Imam Malik, saya pahami bahwa kaifiyah atau bagaimana Allah istiwa itu tidak bisa dicerna oleh akal karena menurut saya, Imam Malik memahami bahwa Allah itu tidak mungkin bersemayam sebagaimana makna bersemayam yang kita pahami, yang mengharuskan ada bentuk dan pergerakan atau perpindahan. Dan yang saya pahami Imam Malik mensucikan Allah dari bentuk/batasan dan pergerakan atau perpindahan karena ini sifat mahluk.
    Maka anda dapat memahami, bahwa saya berkeyakinan bahwa Imam Malik menyerahkan makna dan maksud ayat ini kepada Allah yang mangatakannya (tafwidh).

    Jadi dapat anda pahami perbedaan ini dan maksud saya ? anda boleh menanggapinya boleh tidak..dan biar pembaca yang memilih.

    yang ini juga harus anda tampilkan, kenapa harus takut ? ini bukan soal menang atau kalah, tapi demi amanat ilmiah :

    3. Masalah sifat-sifat Allah.

    Saya jelaskan secara ringkas saja bahwa Asy ariyah mensucikan Allah dari sifat-sifat kekurangan, dan yang tidak layak bagi Allah.

    Maka intinya bukanlah masalah penyerupaan ini berhubungan dengan hal-hal yang spesifik, tetapi menolak sifat yang berhubungan dengan sesuatu yang diciptakan/sifat-sifat huduts ( baru ) dan sifat-sifat yang bermakna kekurangan/kelemahan.

    dan Allah telah menjelaskan bahwa segala sesuatu itu mempunyai ukuran dan telah ditetapkan dengan takdirNya.

    Al-Ra’d/13:8 : “Segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ukuran”

    “Sesungguhnya Kami ciptakan segala sesuatu menurut ukuran (qadar)” (QS al-Qamar, 54: 49)

    sifat sesuatu itu mempunyai ukuran dan ditetapkan oleh takdir Allah, artinya sifat mahluk itu mempunyai ukuran, artinta mempunyai bentuk dan terbatas baik zat maupun sifatnya sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dan selalu tergantung dengan kehendak Allah.

    Adapun Allah sifat Allah itu tidak mempunyai batas, mutlak sempurna dan tidak ada yang memberi ukuran padaNya, tidak ada yang membatasiNya.

    Dengan demikian, kami menolak segala makna sifat yang berhubungan dengan bentuk, batasan, dan ukuran.

    Oleh karena itulah kami menolak makna tangan, mata, wajah secara zhahir, karena maknanya secara zhahir berhubungan dengan bentuk( batasan dan ukuran)yang asli merupakan sifat mahluk /huduts (baru).

    Jadi inilah pemahaman kami, asy ariyah.

    Dan kami bukanlah jahmiyah, karena kami menerima apa yang datang sebagaimana zhahirnya, dan kami tetap menetapkan bahwa Allah istiwa diatas arsy, dan Adam diciptakan oleh kedua TanganNya. tanpa tha’til pada bahasanya, dan tanpa perlu mengubah kalimatnya.

    Hal ini sebagaimana kita memahami sabda nabi ‘surga di bawah kaki ibu’, kita menerima sebagaimana datangnya tanpa tha’til dan tahrif, namun kita menafsirkan dengan makna yang sesuai dengan maksudnya.

    4. Masalah hadist-hadist yang berindikasi tajsim.

    Mengapa saya anda katakan bingung ? Bukankah saya hanya menuliskan komentar para ulama tentang pendapatnya terhadap hadist-hadist seperti ini. Itu artinya anda anggap Ibnu Hajar, Ibnu jauzi dan Sulaiman al Khitabi bingung ???

    Hadist itu hadist Bukhari, kenapa anda tidak mau menampilkan keterangan Ibnu Hajar pensyarah hadist Bukhari, walaupun Ibnu hajar anda anggap menyimpang: Ibnu Hajar al Asqolani dalam Fathul Bari, Kitab Tauhid, bagian akhir Bab “ Wa Litushna’a ‘Ala ‘Aini “ .

    “ …Saya pernah ditanya tentang bolehkan orang yang membaca hadits-hadits – yang secara dzohir mengesankan adanya tajsim – seraya melakukan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAAW – yakni menunjuk pada bagian-bagian tubuh tertentu—maka saya ( Ibnu Hajar ) menjawab : Jika pembaca hadits itu berada ditengah-tengah orang-orang yang memiliki I’tiqod yang sama dengannya dalam men-sucikan ( tanzih ) Allah SWT dari sifat-sifat huduts ( baru ) , serta berniat mencontoh Nabi SAAW saja, maka hal itu boleh. Namun sebaiknya tidak dilakukan , sebab ditakutkan akan memasukkan syubhat tasybih ( menyerupakan Allah dengan makhluq ) kepada orang-orang yang melihatnya… “. ( Fathul Bari 14 : 333 ).

    Artinya Ibnu Hajar memahami bahwa Allah tidak mempunyai mata (anggota tubuh), karena mata itu adalah huduts (baru.

    Ibnu Hajar mengutip pula pernyataan al Baihaqi tentang hadits yang dinukil oleh Ibnu Katsir di dalam QS. An Nisa’ : 58 ) ….

    “Nabi SAAW menghendaki dengan isyarat ini –yakni menunjuk pada telinga dan mata—menyatakan penetapan sama’ dan bashor bagi Allah SWT dengan menjelaskan tempat keduanya pada manusia….

    ….(hingga pernyataan al Baihaqi ) …

    “ Dan Nabi SAAW tidak lah menghendaki dengan isyaratnya itu bahwa Allah memiliki anggota tubuh ( al jarihah ) sebab Allah SWT itu Maha Suci ( munazzah / tanzih ) dari keserupaan dengan para makhluq “ .

    ( Teks lengkap silakan rujuk Fathul Bari, Kitab Tauhid, Bab “Wa Kaanallaahu Samii’an Bashiiron”, Juz 14 : 317 , terbitan Darul Kutub, Lebanon, 2009 ).

    Mohon anda tampilkan… kenapa takut ?

    Selanjutnya saya akan komentari pendapat anda tentang hadist dari At-Tirmidziy.

    …..Mereka berkata : Sungguh telah shahih riwayat-riwayat tentang hal ini, mereka mengimaninya, tidak salah paham, dan mereka tidak menanyakan ‘bagaimana’ (hakekat sifat tersebut). Demikianlah yang diriwayatkan dari Maalik, Sufyaan bin ‘Uyainah, ‘Abdullah bin Al-Mubaarak, bahwasannya mereka berkata dalam hadits-hadits ini : ‘Kami memperlakukannya tanpa menanyakan ‘bagaimana’. Dan demikianlah perkataan para ulama dari kalangan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Adapun Jahmiyyah mengingkari riwayat-riwayat ini. Mereka (Jahmiyyah) berkata : “Ini adalah tasybih”. Allah ‘azza wa jalla telah di tempat yang lain dalam Kitab-Nya : tangan (al-yadd), pendengara (as-sam’), dan penglihatan (al-bashar), maka Jahmiyyah menta’wilkan dan mentafsirkan ayat-ayat ini selain dari yang ditafsirkan para ulama. Mereka (Jahmiyyah) berkata : “Sesungguhnya Allah tidah menciptakan Adam dengan kedua tangan-Nya”. Dan mereka (Jahmiyyah) berkata : “Sesungguhnya makna tangan dalam ayat ini adalah kekuatan (al-quwwah)”.

    Anda lihat bagaimana mereka memahami seperti perkataan Imam Malik : bagaimana itu terangkat dariNya. Karena kaifiyah sehubungan dengan makna zhahirnya bagi Allah itu tidak bisa dicerna oleh akal.

    Artinya sebagaimana yang saya jelaskan tentang perkataan Imam Malik, bagaimananya seperti makna zhahirnya itu tidak ada, dan mereka menyerahkan makna/takwilnya kepada Allah.

    lihat lagi : mereka mengimaninya (lihat Ali Imran ayat 7), tidak salah paham (mereka tidak mencari-cari takwilnya dan tidak memaknainya secara zhahir, lihat lagi Ali Imran ayat 7) dan mereka tidak menanyakan ‘bagaimana’ (hakekat sifat tersebut),(karena bagaimana itu menanyakan kaifiyah pada makna zhahirnya yang tidak bisa dicerna akal, karena turun itu mengharuskan perpindahan/pergerakan dari atas kebawah, mengharuskan ada bentuk dan ruang yang melingkupinya, sedangkan Allah tidak berpindah, tidak berukuran/terbatas dan tidak dilingkupi oleh ruang.)

    Adapun Jahmiyyah mengingkari riwayat-riwayat ini. Mereka (Jahmiyyah) berkata : “Ini adalah tasybih”

    Asy ariyah tidak mengingkari riwayat-riwayat ini.

    mereka (Jahmiyyah) berkata : “Sesungguhnya makna tangan dalam ayat ini adalah kekuatan (al-quwwah)”

    Asy ariyah menetapkan zhahirnya lafaz namun hanya mempunyai kemiripan dalam lafaz takwil. Perbedaanya bahwa Asy ariyah menetapkan sifat kekuatan sebagai sifat, sedangkan jahmiyah/mu’tazilah menetapkan sifat sebagai zat (meniadakan sifat).

    “Tasybih itu hanya terjadi ketika seseorang itu mengatakan : ‘Tangan (Allah) seperti tangan (makhluk), pendengaran (Allah) seperti pendengaran (makhluk).

    Apakah yang kita pahami dari makna zhahir selain makna yang berhubungan dengan mahluk ?, kita tidak punya dan tidak mengetahui makna selain itu, kecuali kita serahkan maknanya kepada Allah atau makna itu mempunyai takwil.

    dan perkataan ini semakin menegaskan Tafwidh : Adapun jika seseorang mengatakan seperti firman Allah : ’Tangan, pendengaran, penglihatan’ , kemudian ia tidak mengatakan : ’bagaimana’ dan tidak pula mengatakan’seperti’ pendengaran makhluk; maka itu tidak termasuk tasybih.

    ’seperti’ pendengaran makhluk, jelas menunjukkan kaifiyah pendengaran mahluk yaitu dengan organ pendengaran yaitu telinga, maka tidak pula mengatakan’seperti’ pendengaran makhluk artinya Allah tidak mempunyai organ/telinga untuk mendengar. Bukan perbedaan bentuk, karena perbedaan bentuk adalah perbedaan mahluk dengan mahluk, Maha suci Allah dari bentuk, karena Dialah yang menciptakan bentuk (ukuran dan batasan).

    Alhamdulillah.

    1. Subhanalloh, ilmu yg sangat bermanfaat dari Kang Dianth, ane jadi cepet ngerti atas pnjelasannya, kalo ” Tangan-NYA ” sama tidak Kang dg pengertian ” si fulan tangan kanannya boss ” ? mohon pencerahannya supaya saya tidak salah mengerti….

      1. tdk begitu mas. Kita, spt dikatakan mas dianth, menerima dan mengimani lafazh ayat dan hadits mutasyabihat, tetapi makna yg sesungguhnya dr lafazh itu kita serahkan kpd Allah. Tetapi untuk orang umum, takwil dpt menyelamatkan dari tajsim dan tasybih. Maka para ulama mengusahakan ta’wil terdekat.
        Mengenai ‘Tangan’ terdapat dlm banyak ayat dan hadits, dan konteksnya beda2.

        1. ohhh gitu yah Kang AI, terima kasih kang atas penjelasannya, maklum masih dangkal ilmu ane, makanya tiap hari sering nongol di mari, sediki demi sedikit ane makin ngerti dari rekan-2 ummati sekalian, buat bekel diri & keluarga ane…..

  12. dianth:
    Menurut anda maksud dari kaifiyyahnya adalah majhuul (tidak diketahui, Sesuatu yang majhuul dalam bahasa Arab itu bukan berarti tidak ada. Ada, tapi tidak diketahui. Seperti halnya perkataan imam hadits tentang seorang perawi : Huwa majhuul. Maksudnya, ia tidak diketahui namanya (tapi ada). Artinya menurut anda sudah jelas, kaifiyahnya ada sebagaimana makna zhahirnya, tetapi tidak diketahui.

    Dah ketahuan akidah si bloger. Bahwa ia menetapkan adanya, kaif. Hanya saja ia tidak tahu kaifnya.

    Sedangkan Ahlus Sunnah menetapkan sifat-sifat itu tanpa kaif.

  13. mengenai ar-Rahman ‘alal ‘arsyistawa, sbenarnya ana agak risih juga jk diterjemahkan dg ar-Rahman istiwa di atas ‘arsy, tetapi ini lbh baik drpd kata istiwa diterjemahkan sbg bersemayam.
    Perlu diingat bhw ‘ala tdk melulu bermakna di atas, adakalanya bs dimaknai terhadap, atas, bagi, untuk, oleh, dsb. Karena ‘ala termasuk harf. Sehingga kata ‘ala juga sebaiknya tdk diterjemahkan.
    Koreksi saya jika saya salah.

  14. @dianth
    ternyata para blog kaum sa-wah sama aja,.. 💡
    mau yg ustadz nya macam firanda dan abul jauza,.ataupun blog para pengikut nya,demen banget nggak nampilin comment yg bersebrangan,… 😆 😆 :mrgreen:
    mantab mas dianth,….

  15. @dianth

    Hujjah tambahan yang kamu tulis itu nggak banyak perubahan, intinya tetap saja jalan di tempat. Hal ini karena kengototan kamu pada akidah yang lebih mendahulukan aqli daripada naqli, sehingga dalil yang tidak sesuai dengan akal harus disesuaikan dulu dengan akal, kalau tidak sesuai harus ditolak dengan cara apapun.
    1. Ini yang paling sering terjadi dalam argumen2 Asy’ariyyah, seperti yang sudah diungkapkan ustadz Abul Jauzaa, mereka tidak amanah dan tidak ilmiah. Kalau ada sumber yang menentang, maka jahr diutamakan, ta’dl diabaikan. Demikian juga yang sebaliknya. Lalu disebutkan dinukil dari kitab ini. Lalu buat yang membantah, disuruh membaca kitab yang dimaksud, padahal dia sendiri cuma kopas tidak pernah baca. Maka tidak heran kalau kita sering lihat di blog2 pendusta judul2 yang bombastis, seperti “Tuhannya Wahabi berambut keriting dan berjambul”, “Tuhannya Wahabi duduk di atas 8 kambing hutan”, dll, tapi isinya jauh dari ilmiah dan penuh kedustaan.
    2. Anda merasa perlu mentafsir perkataan para Imam yang sudah sederhana dan mudah dimengerti. Tetapi karena tidak sesuai dengan akal/akidah Anda, ditambahkanlah tafsir yang berbelit-belit dan susah dimengerti. Anda juga mengeluarkan permisalan yang tidak masuk akal, tetapi kalau misalnya hal itu terjadi, Anda juga yang pertama mengingkari. Misalnya, ada hadits yang mengatakan matahari beredar mengelilingi bumi, ketika sampai di bawah ‘arsy bersujud. Lalu diperintahkan bangkit, matahari beredar kembali. Menjelang hari kiamat, matahari diperintahkan terbit dari sebelah barat. Asy’ariyyah menentang hadits ini karena tidak sesuai dengan akalnya, ada yang mentertawakan bagaimana matahari sujud, dll.
    3. Sesungguhnya teori pembatasan sifat dzatiyah ini asalnya dari akal pemikiran belaka, dalilnya baru mengikuti kemudian. Makanya tidak heran kalau perkataan para Imam perlu ditafsir ulang sehingga sesuai dengan akal.
    4. Jawaban ustadz Abul Jauzaa sangat jelas untuk hal ini.

    1. Para imam berbicara di hadapan murid2nya. Murid2nya ini, jika tidak paham, mereka bertanya apa maksud dari perkataan tsb. Lalu penjelasan itu diajarkan pula ke murid2 selanjutnya. Kita sering melihat ada 1 kitab fiqh, ringkas. Kemudian bagi 1 kitab fiqh ini ada beberapa kitab syarh. Siapa yang mensyarh? Murid2nya, atau murid dari murid2nya pengarang.

      Jadi, ilmu yg seperti ini ada sanadnya. Nah kalo orang2 macam para syaikh wahhabi, apa mereka punya sanad ilmu kepada para imam?

      Mengenai hadits yg dianggap mendukung geosentris dan soal matahari bersujud, itu merupakan hadits yg samar. Kita tidak bisa menerimanya secara tekstual begitu saja. Kita mungkin bisa menerima hadits itu dan tidak mengingkarinya, saya blm tau bagaimana hukum hadits itu. Tetapi haqiqah dari hadits itu, makna dari hadits itu tidak bisa kita ambil secara zhahiriyah. Kalo soal sujud, sesungguhnya atom2 pun bersujud kpd Allah. Bulan, bintang (termasuk matahari), planet2, semua tunduk patuh kepada Allah. jadi, hadits itu tidak bs dimaknai secara tekstual seperti itu sehingga terkesan mendukung teori geosentris macam Gereja di masa kegelapan.

    2. mengenai tuduhan rasionalis
      Seseorang bisa siebut rasionalis ketika ia mengedepankan aqal dari pada naqli. Tetapi ketika ia menggali dalil naqli dg menggunakan aqalnya, ini namanya ijtihad. Dan ini boleh dilakukan oleh para mujtahid.

      Pernahkah Rasul berkata bahwa rukun wudhu ada 6?
      Tidak ada.
      Tetapi para imam mujtahid menggali dalil2 yg ada spt hadits innamal-a’maalu bin-niyyaat, kemudian al-Maidah ayat 6, kemudian hadits2 tentang cara Rasul berwudhu

      dari itu semua mereka menetapkan mana yg rukun dan mana yg sunnah. Walau nabi tak pernah berkata bahwa tertib termasuk rukun wudhu, namun kita dapat melihat bahwa Rasul berwudhu dg urutan yg sama.

      penggalian sumber2 naqli dg menggunakan aqal ini pula yg dilakukan dalam hal aqidah

    3. Sekali-sekali, pergilah Anda ke puncak yang tinggi, karena di sana, Anda akan dapat melihat matahari terbit dari kaki langit. Saya tidak sedang berbicara sebagai seorang ilmuwan di dalam seminar. Saya sedang berbincang-bincang dengan Anda, dan adalah wajar jika saya mengajak Anda untuk melihat matahari terbit dari kaki langit. Para sastrawan akan memahami bahwa perkataan saya ini tidak mengandung muatan ilmiah. Ini adalah perkataan yang wajar dalam pembicaraan sehari-hari.

      Seperti halnya orang-orang pergi ke pantai di sore hari untuk menyaksikan matahari terbenam ditelan lautan. Kata-kata tadi tentu dipahami para sastrawan. Hanya orang-orang bodoh yang menganggap perkataan itu sebagai perkataan seorang ilmuwan astronomi yang sedang mengajarkan ilmu astronomi.

  16. Perkataan Ibnu Hajar yang merangkum beberapa komentar tentang diri Muhammad bin katsiir dengan perkataan : “Shaduuq katsiirul-ghalath”

    Itu maknanya riwayat itu dhaif.
    Biar clear, kita beber di sini perkataan para Imam tentang Muhammad bin Katsir:
    1. أبو أحمد الحاكم : ليس بالقوي عندهم
    2. أبو حاتم بن حبان البستي: يخطئ ويغرب
    3. أبو جعفر العقيلي: حدث عن معمر بمناكير لا يتابع منها على شيء
    4. أبو دواد السجستاني: لم يكن يفهم الحديث
    5. أحمد بن حنبل :منكر الحديث يروي أشياء منكرة ومرة: لم يكن عندي ثقة ومرة: ليس بشيء يحدث بأحاديث مناكير ليس
    لها أصل، ومرة عن البخاري ضعفه أحمد
    6. أحمد بن شعيب النسائي :ليس بالقوي، كثير الخطأ
    7. محمد بن إسماعيل البخاري: لين جدا، يروي مناكير
    8. علي بن المديني: ضعفه
    9. يحيى بن معين: صدوق
    Walhasil, jarhnya mufassar, yakni masalah hafalannya dimana Muhammad bin Katsir banyak salah. Ini lebih utama dibandingkan ta’dil.
    Walhasil, riwayat belom bisa ditolong karena dhaif.
    Yang dhaif dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam saja gak dipakai dalam akidah. Apalagi yang bukan hadits.

  17. Naka: Itumaknanyariwayatitudhaif.
    Biarclear,kitabeberdisiniperkataanparaImamtentangMuhammadbinKatsir:
    1.أبوأحمدالحاكم :ليسبالقويعندهم
    2.أبوحاتمبنحبانالبستي: يخطئويغرب
    3.أبوجعفرالعقيلي: حدثعنمعمربمناكيرلايتابعمنهاعلىشيء
    4.أبودوادالسجستاني: لميكنيفهمالحديث
    5.أحمدبنحنبل :منكرالحديثيرويأشياءمنكرةومرة:لميكنعنديثقةومرة:ليسبشيءيحدثبأحاديثمناكيرليس
    لهاأصل،ومرةعنالبخاريضعفهأحمد
    6.أحمدبنشعيبالنسائي :ليسبالقوي،كثيرالخطأ
    7.محمدبنإسماعيلالبخاري: لينجدا،يرويمناكير
    8.عليبنالمديني: ضعفه
    9.يحيىبنمعين:صدوق
    Walhasil,jarhnyamufassar,yaknimasalahhafalannyadimanaMuhammadbinKatsirbanyaksalah.Inilebihutamadibandingkanta’dil.
    Walhasil,riwayatbelombisaditolongkarenadhaif.
    YangdhaifdariNabiMuhammadShallallahuAlaihiWasallamsajagakdipakaidalamakidah.Apalagiyangbukanhadits.

    Mas Naka, Ust. Abul Jauza sendiri menilai riwayat yang ada Muhammad Bin Katsir adalah Dhaif, sedangkan penilaian dari Ust. Ahmad Syahid riwayat Muhammad Bin Katsir adalah MAUDHU

    Mungkin maksudnya mas Naka, penjelasannya antum itu buat Ust. Ahmad Syahid ya, yang menilai riwayat tersebut MAUDHU’

    ======

    * Mudah-mudahan Ust. Ahmad Syahid diberi kemudahan oleh Allah untuk menjawab apa-apa yang saya tanyakan…amin

  18. salam mas admin coba ditinjau lagi.
    menurut saya judulnya terlalu bertele2 saya sarankan begini:

    Ketika Abu Jauza (konon seorang muslim) bela hujjah palsu >>jadi lebih jurnalistik

  19. salam mas admin coba ditinjau lagi.
    menurut saya judulnya terlalu bertele2 saya sarankan begini:

    Ketika Abu Jauza (konon seorang muslim) bela kemungkaran syariah>>jadi lebih jurnalistik

    1. Isi kepala dodol seperti antum kok pakai menggurui orang. Sekalian aja usulin ganti judul “KETIKA WAHABI BERMUKA DUA”, sept mukanya antum, 😆
      😆 😆

      1. saudariku aryati,dulu saya juga seperti kamu keras,semua yang berbau wahabi lah atau apalah dalam pikiran saya semua salah tapi alhamdulillah kebenaran menghampiriku,pesan saya belajar terus dan jangan anggap diri atau kelompoknya atau guru2 kita selalu betul jangan kedepankan buruk sangka dulu dan banyak2 ngaji pasti hati kamu akan lembut….

    2. satria iqtidar ini dah ane blaclist di blog ane
      nama lainnya shofwan
      ini orang cuma provokator
      kesannya aswaja, pk foto al-musnid al-habib Umar
      pdhl tujuannya cuma memancing kita melakukan kesalahan
      lalu kesalahan itu digunakannya untuk alat bukti
      contohnya usulan dia kali ini
      kalo dituruti, ini akan ia gunakan untuk bikin image bhw kita mentakfir orang
      ane saranin utk blacklist aja

    1. silahkan juga dibaca dg teliti artikel mas ahmad syahid di atas
      jangan krn taqlid buta antum pd suatu golongan dan kebencian antum kpd golongan lain, menyebabkan antum terhalang dr kebenaran

      1. Tholabul Ilmi, belum baca artikel di atas udah main komentar aja? Antum tahu nggak sih, link yg antum kasih itu isinya sudah dibabat habis oleh artikel Mas Ahmad Syahid di tas. Makanya baca dulu …. biar gak nunjukin ngawurnya antum. Kebiasaan deh Wahabiyyin ngawur….

  20. Mbak Aryati bisa tahu orang “bermuka dua” maca Iqtidar Bergitar, mantab deh.

    Yah, begitulah Wahabi si kepala dodol, usulannya gak mutu. Bagusan juga Judulnya Mas Admin, cakep tuh dan SEO mindeed, juga punya nilai artistik lebih enak artikulasinya ketimbang judul usulan Iqtidar si Muka Dua tsb. Yang mau menyamar jadi ASWAJA tapi ketahuan oleh Mbak Aryati n Ustadz AI@. Syukron atas kejelian dalam melihat ketidak-wajaran seperti Iqtidar si penyamar ini.

  21. Maaf kang numpang copas…

    Setahu saya berdasarkan penjelasan Imam at Tirmidzi di Kitab Sunan beliau, bahwa biang kerok pertama tukang takwil Asma’ dan Shifat Allah adalah Kaum Jahmiyyah, rasanya penjelasan beliau dah cukup

    Ketika Abu ‘Isa At Tirmidzi menyebutkan hadits Abu Hurairah,

    إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ الصَّدَقَةَ وَيَأْخُذُهَا بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا

    “Allah menerima sedekah dan mengambilnya dengan tangannya lalu mengembangkannya.”[15]

    Abu ‘Isa At Tirmidzi kemudian berkata,

    وَقَدْ قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ فِى هَذَا الْحَدِيثِ وَمَا يُشْبِهُ هَذَا مِنَ الرِّوَايَاتِ مِنَ الصِّفَاتِ وَنُزُولِ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالُوا قَدْ تَثْبُتُ الرِّوَايَاتُ فِى هَذَا وَيُؤْمَنُ بِهَا وَلاَ يُتَوَهَّمُ وَلاَ يُقَالُ كَيْفَ هَكَذَا رُوِىَ عَنْ مَالِكٍ وَسُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ أَنَّهُمْ قَالُوا فِى هَذِهِ الأَحَادِيثِ أَمِرُّوهَا بِلاَ كَيْفٍ. وَهَكَذَا قَوْلُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ.

    Tidak sedikit dari ulama yang mengatakan tentang hadits ini dan yang semisalnya yang membicarakan tentang sifat turunnya Rabb tabaroka wa ta’ala setiap malam ke langit dunia. Mereka katakan bahwa riwayat-riwayat semacam ini adalah shahih, mereka mengimaninya, tidak salah paham, dan mereka tidak menanyakan bagaimanakah hakekat dari sifat tersebut. Demikianlah yang diriwayatkan dari Malik, Sufyan bin ‘Uyainah, ‘Abdullah bin Al Mubarok, mereka katakan bahwa kami mengimaninya tanpa menanyakan bagaimanakah hakekat sifat tersebut. Demikianlah yang dikatakan oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

    وَأَمَّا الْجَهْمِيَّةُ فَأَنْكَرَتْ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ وَقَالُوا هَذَا تَشْبِيهٌ. وَقَدْ ذَكَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِى غَيْرِ مَوْضِعٍ مِنْ كِتَابِهِ الْيَدَ وَالسَّمْعَ وَالْبَصَرَ فَتَأَوَّلَتِ الْجَهْمِيَّةُ هَذِهِ الآيَاتِ فَفَسَّرُوهَا عَلَى غَيْرِ مَا فَسَّرَ أَهْلُ الْعِلْمِ وَقَالُوا إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَخْلُقْ آدَمَ بِيَدِهِ. وَقَالُوا إِنَّ مَعْنَى الْيَدِ هَا هُنَا الْقُوَّةُ. وَقَالَ إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ إِنَّمَا يَكُونُ التَّشْبِيهُ إِذَا قَالَ يَدٌ كَيَدٍ أَوْ مِثْلُ يَدٍ أَوْ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ. فَإِذَا قَالَ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ فَهَذَا التَّشْبِيهُ وَأَمَّا إِذَا قَالَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَدٌ وَسَمْعٌ وَبَصَرٌ وَلاَ يَقُولُ كَيْفَ وَلاَ يَقُولُ مِثْلُ سَمْعٍ وَلاَ كَسَمْعٍ فَهَذَا لاَ يَكُونُ تَشْبِيهًا وَهُوَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ ).

    Adapun Jahmiyah, mereka mengingkari riwayat semacam ini dan mengatakan orang yang menetapkannya sebagai musyabbihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk). Ketika Allah Ta’ala menyebutkan di tempat yang lain dalam Al Qur’an, misalnya menyebut tangan, pendengaran dan penglihatan, Jahmiyah pun mentakwil (menyelewengkan) maknanya dan mereka menafsirkannya tanpa mau mengikuti penjelasan para ulama tentang ayat-ayat tersebut. Jahmiyah malah mengatakan bahwa Allah tidaklah menciptakan Adam dengan tangan-Nya. Jahmiyah katakan bahwa makna tangan adalah quwwah (kekuatan). Ishaq bin Ibrahim mengatakan bahwa yang dimaksud tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) adalah seperti perkataan tangan Allah seperti atau semisal tangan ini, pendengaran Allah seperti atau semisal pendengaran ini, Jika dikatakan demikian, barulah disebut tasybih. Namun jika seseorang mengatakan sebagaimana yang Allah Ta’ala katakan bahwa Allah memiliki pendengaran, penglihatan, dan tidak dikatakan hakekatnya seperti apa, tidak dikatakan pula bahwa penglihatan Allah semisal atau seperti ini, maka ini bukanlah tasybih. Menetapkan sifat semacam itu, inilah yang dimaksudkan firman Allah Ta’ala,

    لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

    “Allah tidak semisal dengan sesuatu pun. Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syura: 11)[16]

    [15] HR. Tirmidzi no. 662. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.

    1. Kami pertengahan
      Kami tidak mengingkari riwayat semacam ini, tetapi kami tidak memaknainya secara zhahiriyyah

      Perhatikan perkataan Imam at-Tirmidzi:
      “Tidak sedikit dari ulama yang mengatakan tentang hadits ini dan yang semisalnya yang membicarakan tentang sifat turunnya Rabb tabaroka wa ta’ala setiap malam ke langit dunia. Mereka katakan bahwa riwayat-riwayat semacam ini adalah shahih, mereka mengimaninya, tidak salah paham, dan mereka tidak menanyakan bagaimanakah hakekat dari sifat tersebut.”

      Jadi mereka tidak menanyakan bagaimana haqiqat sifat “turun”. Mereka tak mau memperdalam soal itu. Karena hal itu termasuk hadits mutasyabihat, yang tidak mengetahui haqiqatnya kecuali Allah. Mereka menyerahkan maknanya kepada Allah.

      madzhab seperti itu disebut tafwidh ma’a tanzih

      Sedangkan di zaman ini, dimana pemahaman musyabbihah telah merajalela melalui salafy wahhabi, maka madzhab ta’wil itu lebih dapat menyelamatkan.

      Pahamilah bhw ketika seseorang berkata bahwa Allah benar2 turun tetapi tidak seperti turunnya makhluq, maka dia telah tasybih. Dimana letak tasybihnya? Pada kalimat “Allah benar2 turun”. Dan itu juga merupakan tajsim. Karena benar2 turun itu terjadi pd jisim.

      Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Rabb kita Tabaaraka wa Ta’ala turun di setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: “Siapa yang berdo’a kepadaKu pasti Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepadaKu pasti Aku penuhi dan siapa yang memohon ampun kepadaKu pasti Aku ampuni.” (Shahih Bukhari no. 1077, 5846, 6940)

      Bandingkan dg riwayat dalam sunan al-Kubra an-Nasa-i no.10243 (10316 dlm cetakan lain) :
      Sesungguhnya Allah menunggu hingga setengah malam yang awal kemudian menyuruh (malaikat) penyeru utk berseru, dia berkata, “Adakah yang berdoa? Maka diijabah baginya. Siapa yang meminta ampun, diampunkan baginya. Siapa yang meminta, diberi. ”

      Jadi siapa yg turun dan berseru?

      Allah berfirman dalam Hadits Qudsi:

      وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

      “Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekatkan diri kepadanya sedepa, jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku mendatanginya dalam keadaan berlari.” (Shahih Bukhari no. 6856)

      Apakah seseorang mendekatkan diri kepada Allah dengan cara memindahkan jasadnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, selangkah demi selangkah? Nyatanya hamba mendekatkan dirinya kepada Allah dengan ibadah, dengan shalat, dzikir, doa, shadaqoh, dsb. Hal ini merupakan kiasan yang dapat dipahami maknanya. Dengan cara yang sama kita memahami firman Allah, “Aku mendekatkan diri kepadanya sedepa, ” dan “Aku mendatanginya dalam keadaan berlari.”

      Hal ini menunjukkan bahwa jika kita mendekat kepada Allah dengan ibadah, maka Allah lebih dekat lagi dengan lebih memperhatikan kita, lebih memperhatikan segala keadaan kita, lebih memperhatikan segala kebutuhan kita, lebih memperhatikan apa yang kita minta. Jika kita beribadah kepada Allah dengan segera tanpa menunda-nunda, Allah lebih cepat lagi mengabulkan doa-doa dan permohonan kita, bahkan sebelum bibir kita bergerak untuk memohon kepada-Nya.

      Dengan cara yang sama pula kita dapat memahami hadits, “Rabb kita Tabaaraka wa Ta’ala turun di setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: ‘Siapa yang berdo’a kepadaKu pasti Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepadaKu pasti Aku penuhi dan siapa yang memohon ampun kepadaKu pasti Aku ampuni.’”

      Allah tak terikat ruang dan waktu. Allah menugaskan para malaikat-Nya untuk memperhatikan hamba-hamba-Nya yang bangun di malam hari untuk beribadah kepada-Nya seraya menyuruh para malaikat-Nya berseru, “Siapa yang berdo’a (kepada Allah) pasti dikabulkan baginya dan siapa yang memohon ampun (kepada Allah) pasti diberikan ampunan baginya dan siapa yang meminta (kepada Allah) pasti diberi.”

      وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

      Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)

      Dalam tafsir Jalalain dijelaskan bahwa Allah dekat dengan hamba-Nya dengan ilmu-Nya. Maka pahamlah kita bahwa Allah Mahadekat, Allah Mahamengetahui. Allah selalu memperhatikan hamba-hamba-Nya. Anda Mungkin berada di dekat seseorang, tetapi orang itu belum tentu benar-benar mengetahui keadaan Anda. Itulah tembok tebal yang memisahkan Anda dengan orang tersebut. Tetapi Allah Mahamengetahui keadaan Anda, bahkan apa yang tersirat di dalam hati Anda, tidak ada hijab antara Anda dengan Allah, inilah dekat yang sesungguhnya.

      Anda mungkin dekat dengan seseorang, tetapi belum tentu orang itu memperhatikan kebutuhan Anda. Tetapi Allah Mahamengetahui kebutuhan Anda dan memenuhinya. Inilah dekat yang sesungguhnya.

      Maka jelaslah bahwa ta’wil bukanlah hal bid’ah. Karena para ulama terdahulu dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah pun menggunakan methode ta’wil disamping ada juga yg memilih madzhab tafwidh ma’a tanzih.

  22. yah nama na aja wahaby ,guru na aja nama na FIR’AUNDA,kan udah di jelas kan tuh ,FIR’AUNDA sendiri udah di kata kan pendusta ama sesama na

  23. Sudah sahih bagi kita bahwa Allah pasti dan sangat jelas tidak bertempat dan berarah. Keyakinan ini adalah keyakinan yang pasti, hujjah dan dalilnya sangat tegas dan jelas, baik secara naqli maupun aqli.

    Kalau kalian (wahabi) katakan bahwa Allah berada diatas secara indrawi/hakiki, maka kalian telah membuat hal-hal bidah yang luar biasa :

    1. kalian menjadikan Allah mempunyai sifat yang baru, karena tinginya Allah diatas arsy atau langit ada setelah adanya arsy dan langit. Kalau tidak ada langit dan arsy bagaimana ada sifat seperti itu ?
    2. Kalian membuat mahluk mempengaruhi keadaan ZatNya, karena mahluk membuat Allah mempunyai sifat diatas. Dia disifati berada di arah atas langit atau arsy setelah langit dan arsy maujud.
    3. Kalian membatasi Allah, karena kalian membuatnya berjarak, dan memberi Allah batasan/penghabisan pada ZatNya.

    Allah ta’ala tidak di langit, tidak di atas ‘Arsy, tidak di atas langit-langit-(Nya), tidak di bumi, tidak berada di dalam alam, tidak di luar alam, tidak terpisah dari makhluk-Nya, dan tidak pula melekat dengannya !. Mereka (ahli kalam) berkata : ‘Semua hal ini merupakan sifat jism (tubuh), dan Allah ta’ala suci dari sifat jism (tubuh)’.

    lihat penipuan kalian mengatasnamakan sunnah dan atsar :

    Orang-orang yang berpegang pada sunnah dan atsar (Ahlus-Sunnah wal-Atsar) berkata kepada mereka : ‘Kami tidak akan berlarut-larut dalam hal itu. Kami mengatakan apa yang telah kami sebutkan tentangnya, yaitu mengikuti nash-nash. Dan seandainya kalian menyangkakan sesuatu, …. maka kami tidak akan berkata dengan perkataan kalian, karena pernyataan-pernyataan tersebut adalah sifat-sifat bagi sesuatu yang tidak ada (ma’duum).

    kalian katakan bila Allah tidak diluar alam dan tidak didalam alam dan tidak berarah, maka kalian katakan Allah tidak ada. Ini kejahilan yang sangat luar biasa.

    Lalu apa makna Allah adalah Al Awal, Dia telah ada sebelum segala sesuatu ada. Bukankah ketika tidak ada Alam, Allah tidak berada didalam dan diluar alam, dan tidak ada arah bagiNya? Apakah ketika Alam tidak ada, Allah juga tidak ada ?

    sungguh jelas kerusakan akidah kalian… bertobatlah sebelum terlambat.

    Sesungguhnya sifat Allah itu azali, tidak berawal dan tidak berakhir bersama ZatNya, maka Allah adalah Maha Pencipta, sebelum ada ciptaanNYa, Dia telah berkuasa dan Raja sebelum ada alam semesta, Dia telah menjadi ArRahman dan ArRahim sebelum ada mahlukNya.

    Maka makna Allah diatas langit dan sifat perbuatanNya istiwa diatas Arsy adalah ungkapan sifat Ulluw Allah yang azali bukan baru, yaitu Ketinggian derajat dan kekuasaanNya.

    Mengapa Salaf meyakini tidak bisa dikatakan ‘bagaimana’ (bukan seperti terjemahan wahabi ‘tidak ditanyakan’; mereka bukan hanya tidak menanyakan tetapi juga meyakini ‘tidak bisa dikatakan bagaimana’), karena bagaimana itu adalah tentang kaifiyah sebagaimana zhahirnya ayat, tidak bisa dikatakan bagaimana itu artinya tidak bisa ada kaifiyah sebagaimana zhahirnya ayat, itu artinya mereka tidak memaknai dengan makna zhahirnya. Karena makna zhahir itu berhubungan dengan kaifiyahnya, bila tidak bisa dihubungkan lagi, maka maknanya adalah bukan lagi sebagai makna zhahir, tetapi takwil.

    Pahamkan : kata ‘turun’ itu secara zhahir artinya adalah pergerakan atau perpindahan suatu zat dari atas ke bawah. Ini artinya mengharuskan ada bentuk dan ruang yang melingkupi bentuk. Adakah makna zhahir yang lain ? Dari makna ini saja kita ketahui bahwa makna seperti ini tidak layak bagi Allah. Kalau kita katakan makna ini adalah untuk mahluk, sedangkan bagi Allah bukan seperti ini…. maka makna zhahir mana yang kalian maksud ? Kalian katakan makna zhahir, tetapi kalian sendiri menolak maknanya ? apakah kalian tidak menyadari absurdnya akidah kalian ? renungkanlah……

    lihat lagi tulisan Mas AI, tentang maksud ayat tersebut, pahamilah………

    1. Pahami dulu tulisan di link itu, kalau udah…monggo kita diskusikan di sini. Jangan hanya bisa nitip link aja.

      Untuk admin yang baik, alangkah baiknya jika link-link syubhat seperti ini tidak diteruskan ke sumbernya. Karena bisa menaikan hit website mereka.

  24. ijin copas lagi kang…coba dipahami atsar di bawah ya…

    -Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu-
    حَدَّثَنَا بَحْرُ بْنُ نَصْرِ بْنِ سَابِقٍ الْخَوْلانِيُّ، قَالَ: ثنا أَسَدٌ، قَالَ: ثنا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ عَاصِمِ ابْنِ بَهْدَلَةَ، عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: ” مَا بَيْنَ سَمَاءِ الدُّنْيَا وَالَّتِي تَلِيهَا مَسِيرَةَ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَبَيْنَ كُلِّ سَمَاءٍ مَسِيرَةَ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَبَيْنَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ وَبَيْنَ الْكُرْسِيِّ خَمْسِ مِائَةِ عَامٍ، وَالْعَرْشُ فَوْقَ السَّمَاءِ، وَاللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَوْقَ الْعَرْشِ، وَهُوَ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ ”
    Telah menceritakan kepada kami Bahr bin Nashr bin Saabiq Al-Khaulaaniy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Asad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari ‘Aashim bin Bahdalah, dari Zirr bin Hubaisy, dari Ibnu Mas’uud, ia berkata : “Jarak antara langit dunia dan langit di atasnya sejauh perjalanan selama 500 tahun. Jarak antara setiap langit dengan langit lainnya sejauh perjalanan selama 500 tahun. Jarak antara langit ketujuh dan kursi sejauh perjalanan selama 500 tahun. Dan ‘Arsy di atas langit, dan Allah tabaaraka wa ta’ala berada di atas ‘Arsy. Ia mengetahui apa yang kalian lakukan” [Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhiid, hal. 242-243, tahqiq : Dr. ‘Abdul-‘Aziiz Asy-Syahwaan; Daarur-Rusyd, Cet. 1/1408 H].
    Sanadnya hasan.

    1. Al Arsy di atas langit, fauqiyah Al Arsy (makhluk) terhadap Langit (Makhluk) berbeda dengan fauqiyah Allah (Khalik) terhadap Al Arsy (Makhluk). Kalau ada yang memahami fauqiyah Allah sama dengan fauqiyah sesama makhluk, maka ia telah melakukan penyerupaan dan takyif, bahwa fauqiyah Allah sama dengan fauqiyah makhluk.

      Fauqiyah Al Arsy (makhluk) terhadap langit (Makhluk) adalah fauqiyah tempat. Sehingga menyamakan fauqiyah Allah (Khalik )terhadap Al Arsy seperti fauqiyah Al Arsy (Makhluk) terhadap langit (makhluk) sebagai fauqiyah tempat merupakan takyif sharih.

      Dalam Hal ini salah satu madzhab Ahlu Sunnah Al Asyairah memahami bahwa Fauqiyah Allah atas Al Arsy bila kaif alias tafwidh. Sedangan kaum musyabih memahami fauqiyah Allah terhadap Al Arsy adalah fauqiyah tempat seperti fauqiyah Al Arsy terhadap langit yang juga fauqiyah tempat. Yang ini penyerupaan terhadap makhluk sekaligus menentukan takyif.

      Dalilnya jalas sharih dan qathi’i,”laisa kamistlihi syai'”

      Kami mengimani fauqiyah tapi fauqiyah tanpa kaif.

      Sedangkan kaum musyabih mengimani fauqiyah sekaligus melakukan takyif yakni fauqiyah tempat. Sama dengan fauqiyah antar makhluk yang juga fauqiyah tempat.

      Kenalilah sifat makhluk agar tahu sifat Allah yang berbeda mutlak dengan makhluknya.

  25. Dalil-dalil tentang ketinggian Dzat Allah di atas ‘Arsy, di atas langit, di atas seluruh makhlukNya terbagi dalam berbagai sisi pendalilan. Pada tiap sisi pendalilan terdapat banyak dalil. Sisi-sisi pendalilan tersebut di antaranya:
    Penyebutan ‘alFauqiyyah (ketinggian) Allah dengan kata penghubung ‘min’. Seperti dalam firman Allah:

    وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ دَابَّةٍ وَالْمَلَائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ () يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

    “ dan milik Allah sajalah segala yang ada di langit dan di bumi berupa makhluk melata dan para Malaikat, dalam keadaan mereka tidaklah sombong. Mereka takut terhadap Rabb mereka yang berada di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan” (Q.S AnNahl:49-50).
    Ibnu Khuzaimah –rahimahullah- meyatakan:

    فأعْلمَنا الجليلُ جلَّ وعلا في هذهِ الآيةِ أنَّ ربَّنا فوقَ ملائكتهِ، وفوقَ ما في السَّماواتِ وما في الأرضِ مِنْ دَابَّةٍ، وأَعْلَمَنا أنَّ ملائكتَهُ يخافونَ ربَّهم الذي فوقهم

    “Maka Allah Yang Maha Mulya dan Maha Tinggi memberitahukan kepada kita dalam ayat ini bahwa Rabb kita berada di atas para MalaikatNya, dan berada di atas segala yang ada di langit dan di bumi berupa makhluk melata, dan (Allah) mengkhabarkan kepada kita bahwa para Malaikat takut terhadap Rabb mereka yang berada di atas mereka” (Lihat Kitaabut Tauhid karya Ibnu Khuzaimah halaman 111).
    Perhatikanlah, Ibnu Khuzaimah memahami ayat tersebut bahwa memang Allah Ta’ala berada di atas seluruh makhlukNya. Siapakah Ibnu Khuzaimah sehingga kita perlu mengambil rujukan (tentang Ketinggian Allah ini) darinya? Ibnu Khuzaimah adalah salah seorang ulama’ bermadzhab Asy-Syafi’i. Beliau merupakan salah satu murid al-Bukhari. Al-Bukhari dan Muslim juga mengambil ilmu (hadits) darinya, namun tidak dikeluarkan dalam As-Shahihain. Ibnu Khuzaimah adalah guru Ibnu Hibban al-Busty, sedangkan Ibnu Hibban adalah guru al-Haakim.
    Al-Hafidz Adz-Dzahaby menyatakan tentang Ibnu Khuzaimah:

    محمد بن إسحاق بن خزيمة بن المغيرة بن صالح بن بكر. الحافظ الحجة الفقيه، شيخ الاسلام، إمام الائمة، أبو بكر السلمي النيسابوري الشافعي

    “ Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah bin alMughirah bin Sholih bin Bakr. (Beliau) adalah al-Hafidz, al-Hujjah, alFaqiih, Syaikhul Islam, Imamnya para Imam. Abu Bakr As-Sulamy anNaisabuury Asy-Syaafi’i (bermadzhab Asy-Syafi’i)(Lihat Siyaar A’laamin Nubalaa’ juz 14 halaman 365).

    Sisi pendalilan yang pertama ini juga sebagaiman disebutkan dalam hadits Nabi, bahwa Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menyatakan kepada Sa’ad bin Mu’adz ketika Sa’ad memberi keputusan terhadap Bani Quraidzhah:

    لقدْ حَكَمَ فيهمُ اليومَ بحُكْمِ اللهِ الذي حَكمَ بهِ مِنْ فوقِ سبعِ سماواتٍ

    “ Sungguh engkau telah menetapkan hukum (pada hari ini) dengan hukum Allah yang telah Allah tetapkan dengannya dari atas tujuh langit” (diriwayatkan oleh anNasaa-i dalam Manaaqibul Kubraa, Ibnu Sa’ad dalam atThobaqoot, atThohaawy dalam Syarh al-Maa’niy, al-Haakim dalam al-Mustadrak. Al-Hafidz Ibnu Hajar menghasankan hadits ini dalam Takhriijul Mukhtashor.

    1. Jawaban ane seperti yang di atas. Fauqiyah hakiki antar makhluk adalah fauqiyah tempat. Nah, fauqiyah Allah atas makhluk tidak sama dengan fauqiyah antar makhluk. Walhasil fauqiyah Allah atas makhluk bukan fauqiyah tempat.

      Kami mengimana ayat-ayat istiwa bila kaif (tafwidh). Sedangkan kaum musyabih mengimani ayat-ayat istiwa dengan menentukan kaif, yakni bertempat. Seperti istiwa’nya makhluk di atas singgasananya, yang merupakan istiwa tempat.

    1. wah wah….masuk lagi anothe sawah follower, tapi ini lebih gentle, langsung ustadz nya sendiri yg masuk di mari ( kalo bener iD : abufahmiabdullah, di mari sama dg pembuat blog di sono ), siap menunggu Kang Ahmad Syahid, Kang AI, Kang Dianth, Kang ucep dll untuk menanggapi & memberi jawabannya….

      1. bener tuch, saya aja kasi tanggapan situs abi ubaidah yusuf assidawi saja di tahrif alias diedit. saya ingat dan masih saya simpan filenya ketika itu ust abi ubaidah menulis ttg kemungkaran2 maulid. demi ALLAH nich bukti saya jawab ke dia.
        1. David says:
        May 4, 2012 at 9:36 am
        Your comment is awaiting moderation.
        Perayaan Maulid Nabi dan Kontroversi Ma’na Bid’ah Peryataan bahwa perayaan maulid Nabi adalah amalan bid’ah adalah peryataan sangat tidak tepat, karena bid’ah adalah sesuatu yang baru atau diada-adakan dalam Islam yang tidak ada landasan sama sekali dari dari Al-Qur’an dan as-Sunah. Adapun maulid walaupun suatu yang baru di dalam Islam akan tetapi memiliki landasan dari Al-Qur’an dan as-Sunah.
        Pada maulid Nabi di dalamya banyak sekali nilai ketaatan, seperti: sikap syukur, membaca dan mendengarkan bacaan Al-Quran, bersodaqoh, mendengarkan mauidhoh hasanah atau menuntut ilmu, mendengarkan kembali sejarah dan keteladanan Nabi, dan membaca sholawat yang kesemuanya telah dimaklumi bersama bahwa hal tersebut sangat dianjurkan oleh agama dan ada dalilnya di dalam Al-Qur’an dan as-Sunah.
        Pengukhususan Waktu
        Ada yang menyatakan bahwa menjadikan maulid dikatakan bid’ah adalah adanya pengkhususan (takhsis) dalam pelakanaan di dalam waktu tertentu, yaitu bulan Rabiul Awal yang hal itu tidak dikhususkan oleh syariat. Pernyataan ini sebenarnaya perlu di tinjau kembali, karena takhsis yang dilarang di dalam Islam ialah takhsis dengan cara meyakini atau menetapkan hukum suatu amal bahwa amal tersebut tidak boleh diamalkan kecuali hari-hari khusus dan pengkhususan tersebut tidak ada landasan dari syar’i sendiri(Dr Alawy bin Shihab, Intabih Dinuka fi Khotir: hal.27).
        Hal ini berbeda dengan penempatan waktu perayaan maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal, karena orang yang melaksanakan maulid Nabi sama sekali tidak meyakini, apalagi menetapkan hukum bahwa maulid Nabi tidak boleh dilakukan kecuali bulan Robiul Awal, maulid Nabi bisa diadakan kapan saja, dengan bentuk acara yang berbeda selama ada nilai ketaatan dan tidak bercampur dengan maksiat.
        Pengkhususan waktu maulid disini bukan kategori takhsis yang di larang syar’i tersebut, akan tetapi masuk kategori tartib (penertiban).
        Pengkhususan waktu tertentu dalam beramal sholihah adalah diperbolehkan, Nabi Muhammad sendiri mengkhusukan hari tertentu untuk beribadah dan berziaroh ke masjid kuba, seperti diriwatkan Ibnu Umar bahwa Nabi Muhammad mendatangi masjid Kuba setiap hari Sabtu dengan jalan kaki atau dengan kendaraan dan sholat sholat dua rekaat di sana (HR Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar mengomentari hadis ini mengatakan: “Bahwa hadis ini disertai banyaknya riwayatnya menunjukan diperbolehkan mengkhususan sebagian hari-hari tertentu dengan amal-amal salihah dan dilakukan terus-menerus”.(Fathul Bari 3: hal. 84)
        Imam Nawawi juga berkata senada di dalam kitab Syarah Sahih Muslim. Para sahabat Anshor juga menghususkan waktu tertentu untuk berkumpul untuk bersama-sama mengingat nikmat Allah,( yaitu datangnya Nabi SAW) pada hari Jumat atau mereka menyebutnya Yaumul ‘Urubah dan direstui Nabi.
        Jadi dapat difahami, bahwa pengkhususan dalam jadwal Maulid, Isro’ Mi’roj dan yang lainya hanyalah untuk penertiban acara-acara dengan memanfaatkan momen yang sesui, tanpa ada keyakinan apapun, hal ini seperti halnya penertiban atau pengkhususan waktu sekolah, penghususan kelas dan tingkatan sekolah yang kesemuanya tidak pernah dikhususkan oleh syariat, tapi hal ini diperbolehkan untuk ketertiban, dan umumnya tabiat manusia apabila kegiatan tidak terjadwal maka kegiatan tersebut akan mudah diremehkan dan akhirnya dilupakan atau ditinggalkan.
        Acara maulid di luar bulan Rabiul Awal sebenarnya telah ada dari dahulu, seperti acara pembacaan kitab Dibagh wal Barjanji atau kitab-kitab yang berisi sholawat-sholawat yang lain yang diadakan satu minggu sekali di desa-desa dan pesantren, hal itu sebenarnya adalah kategori maulid, walaupun di Indonesia masyarakat tidak menyebutnya dengan maulid, dan jika kita berkeliling di negara-negara Islam maka kita akan menemukan bentuk acara dan waktu yang berbeda-beda dalam acara maulid Nabi, karena ekpresi syukur tidak hanya dalam satu waktu tapi harus terus menerus dan dapat berganti-ganti cara, selama ada nilai ketaatan dan tidak dengan jalan maksiat.
        Semisal di Yaman, maulid diadakan setiap malam jumat yang berisi bacaan sholawat-sholawat Nabi dan ceramah agama dari para ulama untuk selalu meneladani Nabi. Penjadwalan maulid di bulan Rabiul Awal hanyalah murni budaya manusia, tidak ada kaitanya dengan syariat dan barang siapa yang meyakini bahwa acara maulid tidak boleh diadakan oleh syariat selain bulan Rabiul Awal maka kami sepakat keyakinan ini adalah bid’ah dholalah.
        Tak Pernah Dilakukan Zaman Nabi dan Sohabat
        Di antara orang yang mengatakan maulid adalah bid’ah adalah karena acara maulid tidak pernah ada di zaman Nabi, sahabat atau kurun salaf. Pendapat ini muncul dari orang yang tidak faham bagaimana cara mengeluarkan hukum(istimbat) dari Al-Quran dan as-Sunah. Sesuatu yang tidak dilakukan Nabi atau Sahabat –dalam term ulama usul fiqih disebut at-tark – dan tidak ada keterangan apakah hal tersebut diperintah atau dilarang maka menurut ulama ushul fiqih hal tersebut tidak bisa dijadikan dalil, baik untuk melarang atau mewajibkan.
        Sebagaimana diketahui pengertian as-Sunah adalah perkatakaan, perbuatan dan persetujuan beliau. Adapun at-tark tidak masuk di dalamnya. Sesuatu yang ditinggalkan Nabi atau sohabat mempunyai banyak kemungkinan, sehingga tidak bisa langsung diputuskan hal itu adalah haram atau wajib. Disini akan saya sebutkan alasan-alasan kenapa Nabi meninggalkan sesuatu:
        1. Nabi meniggalkan sesuatu karena hal tersebut sudah masuk di dalam ayat atau hadis yang maknanya umum, seperti sudah masuk dalam makna ayat: “Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”(QS Al-Haj: 77). Kebajikan maknanya adalah umum dan Nabi tidak menjelaskan semua secara rinci.
        2. Nabi meninggalkan sesutu karena takut jika hal itu belai lakukan akan dikira umatnya bahwa hal itu adalah wajib dan akan memberatkan umatnya, seperti Nabi meninggalkan sholat tarawih berjamaah bersama sahabat karena khawatir akan dikira sholat terawih adalah wajib.
        3. Nabi meninggalkan sesuatu karena takut akan merubah perasaan sahabat, seperti apa yang beliau katakan pada siti Aisyah: “Seaindainya bukan karena kaummu baru masuk Islam sungguh akan aku robohkan Ka’bah dan kemudian saya bangun kembali dengan asas Ibrahim as. Sungguh Quraiys telah membuat bangunan ka’bah menjadi pendek.” (HR. Bukhori dan Muslim) Nabi meninggalkan untuk merekontrusi ka’bah karena menjaga hati mualaf ahli Mekah agar tidak terganggu.
        4. Nabi meninggalkan sesuatu karena telah menjadi adatnya, seperti di dalam hadis: Nabi disuguhi biawak panggang kemudian Nabi mengulurkan tangannya untuk memakannya, maka ada yang berkata: “itu biawak!”, maka Nabi menarik tangannya kembali, dan beliu ditanya: “apakah biawak itu haram? Nabi menjawab: “Tidak, saya belum pernah menemukannya di bumi kaumku, saya merasa jijik!” (QS. Bukhori dan Muslim) hadis ini menunjukan bahwa apa yang ditinggalkan Nabi setelah sebelumnya beliu terima hal itu tidak berarti hal itu adalah haram atau dilarang.
        5. Nabi atau sahabat meninggalkan sesuatu karena melakukan yang lebih afdhol. Dan adanya yang lebih utama tidak menunjukan yang diutamai (mafdhul) adalah haram.dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang lain (untuk lebih luas lih. Syekh Abdullah al Ghomariy. Husnu Tafahum wad Dark limasalatit tark)
        Dan Nabi bersabda:” Apa yang dihalalakan Allah di dalam kitab-Nya maka itu adalah halal, dan apa yang diharamkan adalah haram dan apa yang didiamkan maka itu adalah ampunan maka terimalah dari Allah ampunan-Nya dan Allah tidak pernah melupakan sesuatu, kemudian Nabi membaca:” dan tidaklah Tuhanmu lupa”.(HR. Abu Dawud, Bazar dll.) dan Nabi juga bersabda: “Sesungguhnya Allah menetapkan kewajiban maka jangan enkau sia-siakan dan menetapkan batasan-batasan maka jangan kau melewatinya dan mengharamkan sesuatu maka jangan kau melanggarnya, dan dia mendiamkan sesuatu karena untuk menjadi rahmat bagi kamu tanpa melupakannya maka janganlah membahasnya”.(HR.Daruqutnhi)
        Dan Allah berfirman:”Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”(QS.Al Hasr:7) dan Allah tidak berfirman dan apa yang ditinggalknya maka tinggalkanlah.
        Maka dapat disimpulkan bahwa “at-Tark” tidak memberi faidah hukum haram, dan alasan pengharaman maulid dengan alasan karena tidak dilakukan Nabi dan sahabat sama dengan berdalil dengan sesuatu yang tidak bisa dijadikan dalil!
        Imam Suyuti menjawab peryataan orang yang mengatakan: “Saya tidak tahu bahwa maulid ada asalnya di Kitab dan Sunah” dengan jawaban: “Tidak mengetahui dalil bukan berarti dalil itu tidak ada”, peryataannya Imam Suyutiy ini didasarkan karena beliau sendiri dan Ibnu Hajar al-Asqolaniy telah mampu mengeluarkan dalil-dalil maulid dari as-Sunah. (Syekh Ali Jum’ah. Al-Bayanul Qowim, hal.28)
        2. David says:
        June 12, 2012 at 8:49 am
        Your comment is awaiting moderation.
        assalamu’alaikum,
        teruntuk saudaraku ust abu yusuf assidawi, sebelumnya saya sdh menjawab secara gambang mengenai hal ini, saat itu yang saya check bahwa paparan saya masih your comment is waiting moderation, tapi kenapa ko yang ditampilkan malah yang satu saja ” ada yang aneh paparan saya mengenai ULAMA WAHABI SUKA DENGAN MAULID Ko Ga di Tampilkan, ada apa dengan ustadz, apakah antum takut kalo kenyataannya memang demikian. saya masih punya copy nya dan sdh saya print
        3. David says:
        June 12, 2012 at 8:52 am
        Your comment is awaiting moderation.
        Ulama Kesukaan Wahabi Ternyata Cinta Maulid Nabi
        Hari yang baik, bulan yang baik serta dengan niat yang baik pula, kami awali tulisan ini dengan Firman Allah berikut ini, agar hati tenang dan nyaman ketika membaca nya dengan baik-baik nanti nya.
        Allah ta’ala berfirman :
        قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
        “Katakanlah: jika bapak-bapak kamu , anak-anak kamu, saudara-saudara kamu, isteri-isteri kamu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”.[QS At-Taubah :24].
        Rasulullah bersabda :
        لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين
        “Tidak beriman seseorang kamu sehingga adalah saya lebih dicintai nya dari orang tua nya dan anak nya dan semua manusia”.[HR Bukhari dan Muslim].
        Sikap anti berlebihan terhadap Maulid Nabi, terkesan seakan peringatan Maulid Nabi adalah kesalahan yang mutlak, namun di balik ingkar mereka yang melampaui batas, ternyata ajaran ingkar Maulid Nabi baru ada sejak mereka ada, belum ada jauh sebelum peringatan Maulid ini telah diperingati dan di akui oleh Muslim dan Ulama sedunia, latar belakang ulama yang mereka sukai ternyata para pecinta Maulid dan salah satu dari sekian Para Motivator Maulid, berikut ini sebagian bukti nya :
        Pendapat Ibnu Taymiyah Tentang Maulid Nabi
        Ibnu Taymiyah berkata :
        فتعظيم المولد واتخاذه موسمًا قد يفعله بعض الناس، ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده، وتعظيمه لرسول الله صلى الله عليه واله وسلم
        “Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutin, itu dikerjakan oleh sebagian manusia, dan mereka mendapat pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya terhadap Rasulullah SAW”. [Lihat kitab Iqtidha’ Shirathil Mustaqim : 297].
        Ibnu Taymiyah juga berkata :
        فتعظيم المولد واتخاذه موسماً قد يفعله بعض الناس ويكون لهم فيه أجر عظيم لحسن قصدهم وتعظيمهم لرسول الله صلى الله عليه وسلم
        “Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutin, itu dikerjakan oleh sebagian manusia, dan mereka mendapat pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya terhadap Rasulullah SAW”. [Lihat kitab Majmu’ Fatawa 23: 134].
        TERNYATA :
        Ibnu Taymiyah sosok Syaikhul Islam nya para Wahhabi dan Tokoh Yang Dipuja dan dibela mati-matian oleh Syaikh-Syaikh Wahabi-Saudi justru membela Maulid Nabi, ada apa dengan Wahabi, kenapa sebagian mereka mengingkari pendapat Ibnu Taymiyah, kenapa sebagian mereka menyangka ini fitnah terhadap Ibnu Taymiyah, kenapa sebagian mereka justru tidak pernah tahu pendapat Ibnu Taymiyah sebenarnya dalam masalah Maulid Nabi, mereka ingin berlepas diri dari Ibnu Taymiyah, yang sangat jelas mendukung Maulid Nabi, seandainya Maulid Bid’ah atau Tasyabbuh, sungguh Ibnu Taymiyah lebih dulu memerangi perayaan Maulid, karena di masa nya perayaan Maulid telah dirayakan setiap tahun, tidak pernah ia bilang Bid’ah, tidak pernah ia bilang Tasyabbuh dengan Natal, tidak pernah ia permasalahkan adakah Nabi dan para sahabat merayakan Maulid seperti ini, tapi Ibnu Taymiyah malah menyatakan Maulid Nabi adalah amalan yang baik, bahkan mendapat pahala bagi yang merayakan nya, karena menurut Ibnu Taymiyah Maulid adalah termasuk sebagian dari cara mengagungkan Nabi, dan termasuk salah satu cara mencintai Nabi, dengan kata lain Ibnu Taymiyah mengakui kebenaran Fatwa Ulama yang membolehkan perayaan Maulid, perbedaan persepsi dalam memahami hakikat makna Bid’ah antara Ibnu Taymiyah dan Wahabi/Salafi, otomatis berujung pada perbedaan kategori, Ibnu Taymiyah punya dua kategori Bid’ah yaitu Bid’ah Dholalah/Sayyiah dan Bid’ah Hasanah, tentu saja setiap hal atau cara baru dalam beramal tidak serta-merta dapat divonis sesat, sementara Wahabi yang salah memahami hakikat makna Bid’ah, membuat mereka tidak punya pilihan lain, setiap hal baru otomatis sesat menurut mereka, dan status hukum bukan lagi pada dalil nya, tapi lebih kepada ada atau tidak nya itu di masa Nabi dan Sahabat, sehingga wajar kalau pada setiap permasalahan yang mereka pertanyakan bukanlah dalil syar’i, dan tanpa sadar mereka telah mengingkari sebagian syari’at Islam atau dengan kata lain inilah ciri Manipulasi Fatwa Ala Wahhabi, semoga kekaguman mereka terhadap Ibnu Taymiyah bisa memperkecil perbedaan selama ini.
        Pendapat Ibnu Katsir Tentang Maulid Nabi
        Ibnu Katsir memuji Raja Mudhaffar Abu Sa’id Al-Kukburi sebagai berikut :
        وكان يعمل المولد الشريف في ربيع الأول ويحتفل به احتفالا هائلا
        وكان مع ذلك شهما شجاعا فاتكا بطلا عاقلا عالما عادلا رحمه الله وأكرم مثواه
        “Dan dia [Raja Mudhaffar] menyelenggarakan Maulid yang mulia di bulan Rabi’ul awwal secara besar-besaran. Ia juga seorang raja yang cerdas, pemberani kesatria, pandai, dan adil, semoga Allah mengasihinya dan menempatkannya ditempat yang paling baik” [Lihat Kitab Bidayah wan-Nihayah 13 :136]
        Ibnu Katsir juga berkata :
        إن أول من أرضعته صلى الله عليه وسلم هي ثويبة مولاة أبي لهب وكان قد أعتقها حين بشرته بولادة النبي صلى الله عليه وسلم. ولهذا لما رآه أخوه العباس بعد موته في المنام بعدما رآه بشر خيبة، سأله: ما لقيت؟ قال: لم ألق بعدكم خيراً غير أني سقيت في هذه بعتاقتي لثويبة (وأشار إلى النقرة التي بين الإبهام والتي تليها من الأصابع).
        “Sesungguhnya orang pertama kali menyusui Nabi SAW adalah Tsuwaybah yaitu budak perempuan Abu Lahab, dan ia telah dimerdekakan dan dibebaskan oleh Abu Lahab ketika Abu Lahab gembira dengan kelahiran Nabi SAW, karena demikian setelah meninggal Abu Lahab, salah seorang saudaranya yaitu Abbas melihatnya dalam mimpi, salah seorang familinya bermimpi melihat ia dalam keadaan yang sangat buruk,
        dan Abbas bertanya : “Apa yang engkau dapatkan ?”
        Abu Lahab menjawab : “Sejak aku tinggalkan kalian [mati], aku tidak pernah mendapat kebaikan sama sekali, selain aku diberi minuman di sini [Abu Lahab menunjukkan ruang antara ibu jarinya dan jari yang lain] karena aku memerdekaan Tsuwaybah”. [Lihat kitab Bidayah wan-Nihayah 2 : 272-273, kitab Sirah Al-Nabawiyah 1 :124, kitab Maulid Ibnu Katsir 21].
        Ibnu Katsir mengagungkan malam Maulid Nabi, berikut kata beliau :
        إن ليلة مولد النبي صلى الله عليه وسلم كانت ليلة شريفة عظيمة مباركة سعيدة على المؤمنين، طاهرة، ظاهرة الأنوار جليلة المقدار
        “Sungguh malam kelahiran Nabi SAW adalah malam yang sangat mulia dan banyak berkah dan kebahagiaan bagi orang mukmin dan malam yang suci, dan malam yang terang cahaya, dan malam yang sangat agung”. [Lihat kitab Maulid iIbnu Katsir 19], sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Ad-Durar Al-Kaminah mengatakan bahwa kitab tersebut adalah kitab Ibnu Katsir yang membolehkan Maulid Nabi dan di dalam nya membahas tentang perayaan peringatan Maulid Nabi.
        TERNYATA :
        Ibnu Katsir yang dianggap sama oleh Salafi-Wahabi dengan mereka dalam semua hal, juga mengagungkan Maulid, bahkan beliau punya kitab tentang kebolehan dan keagungan Maulid Nabi, perbedaan yang sangat mencolok ini tentu tidak aneh, karena Ibnu Katsir adalah seorang Ahlus Sunnah Waljama’ah [Aswaja], cuma mereka tidak mau melepaskan Ibnu Katsir, karena tanpa Ibnu Katsir, mereka tidak punya lagi Ulama hebat, yang bisa mereka sandarkan ajaran mereka, dan penganut Wahabi akan semakin berkurang drastis, dan separuh kebohongan yang mereka tutupi selama ini akan terkuak dengan sendiri nya, buktinya dalam hal ini Ibnu Katsir terlepas dari ajaran Wahabi, perayaan Maulid yang telah dirayakan setiap tahun di masa nya, tidak memvonis pecinta Maulid Nabi dengan Ahlu Bid’ah, apa lagi sampai menyamai dengan perayaan Kuffar [Na’uzubillah], dalam kitab nya Ibnu Katsir memuji Raja Mudhaffar, karena kedermawanan nya dalam perayaan Maulid besar-besaran, bahkan lebih dari itu, ketika para penganut Wahabi menganggap “orang yang merayakan Maulid sama dengan Abu Lahab” ternyata Ibnu Katsir membenarkan kisah tersebut, Ibnu Katsir membenarkan Abu Lahab membebaskan budak nya Tsuwaibah karena kegembiraan nya dengan berita kelahiran Nabi dan dengan sebab itu ia mendapat sedikit air yang dapat ia minum di kubur, karena kekufuran nya telah menghalangi pahala dan fadhilah besar yang seharus nya. Tidak cuma itu, Ibnu Katsir juga percaya bahwa malam Maulid Nabi adalah malam yang penuh berkah, malam yang lebih dari malam lain nya, tentu saja ini sangat bertolak-belakang dengan anggapan Wahabi, karena mereka anggap malam Maulid tidak tidak punya kelebihan apa pun, sama seperti malam sebelum nya atau sesudah nya, semoga perasaan mereka terhadap Ibnu Katsir bisa menimbulkan benih cinta mereka terhadap Maulid Nabi SAW, inyaallah.
        Pendapat Imam Al-Dzahabi Tentang Maulid Nabi
        Az-Zahabi juga memuji Abu Said Al-Kukburi :
        وكان متواضعًا ، خيِّرًا سنّيًا ، يحبّ الفقهاء والمحدّثين
        “Dan adalah ia [Raja Mudhaffar] itu yang rendah diri, dan baik dan juga Sunni [Ahlus Sunnah Waljama’ah] dan ia mencintai Fuqaha’ [Ulama Fiqih] dan Muhadditsin [Ulama Hadits]“.[Lihat Siyar A’lam An-Nubala’ 22 : 336]
        TERNYATA :
        Al-Dahabi sama hal nya dengan Ibnu Katsir, ia juga memuji Raja Maulid [raja Mudhaffar], dan dengan jelas Al-Dzahabi menyebut nya dengan Sunni yakni Ahlus Sunnah Waljama’ah, tapi kenapa Wahabi menyebut pecinta Maulid dengan Ahlu Bid’ah ? tidakkah mereka malu kepada Imam mereka ? kenapa justru mencari-cari alasan untuk mengingkari kebenaran dari Ulama yang mereka sukai, kenapa harus menutupi kebenaran yang datang dari diri mereka sendiri, kalau saja kebenaran datang dari orang yang ia musuhi dan benci selama ini, mungkin saja terlalu berat menerima dan mengakui nya, tapi ini kebenaran dari diri mereka sendiri.
        Semoga ini menjadi sebuah renungan bagi siapa pun yang terlalu anti dengan Maulid Nabi, bila pun terlalu berat mengakui kelebihan nya, cukuplah dengan berdiri di tengah-tengah saja, tidak perlu ikutan Maulid, dan juga jangan ikutan mencaci-maki Maulid, biarpun nanti nya juga akan sangat menyesal karena tidak bisa merasakan bila ternyata begitu besar nya fadhilah Maulid di akhirat kelak nantinya. atau silahkan kembali membaca PENJABARAN MENGENAI BID’AH HASANAH DAN DHOLALAH .
        4. David says:
        June 12, 2012 at 8:58 am
        Your comment is awaiting moderation.
        Amalan umat islam ahlusunnah wal jamaah pada saat “maulid”
        – Perintah mengingati Hari – Hari Allah (12 rabiul awwal adalah hari lahir, hijrah (nabi sampai di madinah) dan wafat nabi Muhammad SAW)
        14:5] Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah781“. Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur. (QS Ibrahim 5)
        (Hari/peristiwa dimana Allah memberikan Nikmat kepada Orang-orang yang beriman dan Hari/peristiwa dimana Allah menimpakan azab bagi orang orang kafir)
        Ketahuilah bahwa maulid /kelahian Nabi adalah Nikmat terbesar bagi semua Makhluq!!
        – membaca sirah/kisah Nabi Muhammad SAW (Dalam bentuk syair maupun bayan/ceramah)
        Sirah, atau sejarah hidup Rasulullah SAW itu sangat perlu dibaca dan dikaji karena penuh inspirasi dan bisa memantapkan iman. Allah SWT berfirman
        [11:120] Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (QS Hud 120)
        – Membaca shalawat.
        Bahkan Allah SWT dan para malaikat bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW :
        [33:56] Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (Surat Al-ahzab 56)
        Sebagaimana diketahui, setiap tanggal 12 Rabiul Awal, kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan ini dimaksudkan untuk mengingat tiga peristiwa besar yang dialami oleh Rasulullah SAW, yakni kelahiran, Hijrah dan wafatnya Muhammad SAW.
        Mengenai Maulid Lagi
        Tersebut di dalam kitab I’anathuth Tholibin oleh Sayyidisy-Syaikh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi:-
        Telah berkata Imam Hasan al-Bashri (Wafat 116H, pernah bertemu dengan lebihkurang 100 orang shahabat): “Aku kasih jika ada bagiku seumpama gunung Uhud emas untuk kunafkahkan atas pembacaan mawlid ar-Rasul”.
        Telah berkata Shaikh Junaid al-Baghdadi (wafat 297H): “Sesiapa yang hadir mawlid ar-Rasul dan membesarkan kadar baginda, maka telah berjayalah dia dengan iman”.
        Kata-kata ulama ini juga boleh didapati didalam kitab an-Nafahatul Miskiyyah fi fadhilathi qiraati maulidi khairil bariyyah karangan asy-Shaikh Muhammad bin Abdullah as-Suhaimi dan juga terjemahannya yang bertajuk Hembusan Kasturi oleh Fadhilatul Ustaz Taha as-Suhaimi.
        Selain itu bagi menjawab tohmahan mereka kononnya ulamak silam mencerca sambutan ini, kita bawakan kata-kata yang jelas dari tiga ulamak yang kehebatan mereka diakui semua.
        1) Al-Imam al-Hujjah al-Hafiz as-Suyuthi:
        Di dalam kitab beliau, al-Hawi lil Fatawa, beliau telah meletakkan satu bab yang dinamakan Husnul Maqsad fi ‘Amalil Maulid, halaman 189, beliau mengatakan: Telah ditanya tentang amalan Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم pada bulan Rabiul Awal, apakah hukumnya dari sudut syara’? Adakah ia dipuji atau dicela? Adakah pelakunya diberikan pahala atau tidak?
        Dan jawapannya di sisiku: Bahawasanya asal kepada perbuatan maulid, iaitu mengadakan perhimpunan orangramai, membaca al-Quran, sirah Nabi dan kisah-kisah yang berlaku pada saat kelahiran baginda dari tanda-tanda kenabian, dan dihidangkan jamuan, dan bersurai tanpa apa-apa tambahan daripadanya, ia merupakan bid’ah yang hasanah yang diberikan pahala siapa yang melakukannya kerana padanya mengagungkan kemuliaan Nabi صلى الله عليه وسلم dan menzahirkan rasa kegembiraan dengan kelahiran baginda yang mulia.
        2) Syeikh Ibn Taimiyah : “Di dalam kitab beliau, Iqtidha’ as-Shiratil Mustaqim, cetakan Darul Hadis, halaman 266, beliau nyatakan: Begitu juga apa yang dilakukan oleh sebahagian manusia samada menyaingi orang Nasrani pada kelahiran Isa عليه السلام, ataupun kecintaan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم dan mengagungkan baginda, dan Allah mengurniakan pahala kepada mereka atas kecintaan dan ijtihad ini…”
        Seterusnya beliau nyatakan lagi : “Ia tidak dilakukan oleh salaf, tetapi ada sebab baginya, dan tiada larangan daripadanya.”
        Kita pula tidak mengadakan maulid melainkan seperti apa yang dikatakan oleh Ibn Taimiyah sebagai: “Kecintaan kepada Nabi dan mengagungkan baginda.”
        3) Syeikhul Islam wa Imamussyurraah al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani: Berkata al-Hafiz as-Suyuthi dalam kitab yang disebutkan tadi: Syeikhul Islam Hafizul ‘Asr Abulfadhl Ibn Hajar telah ditanya tentang amal maulid, dan telah dijawab begini: “Asal amal maulid (mengikut cara yang dilakukan pada zaman ini) adalah bid’ah yang tidak dinaqalkan dari salafussoleh dari 3 kurun (yang awal), walaubagaimanapun ia mengandungi kebaikan serta sebaliknya. Maka sesiapa yang melakukan padanya kebaikan dan menjauhi yang buruk, ia merupakan bid’ah yang hasanah.
        Telah jelas bagiku pengeluaran hukum ini dari asal yang tsabit iaitu apa yang tsabit dalam shahihain (shahih al-Bukhari dan shahih Muslim) bahawa Nabi صلى الله عليه وسلم ketika tiba di Madinah mendapati orang Yahudi berpuasa Asyura’, lalu baginda bertanya kepada mereka (sebabnya). Mereka menjawab: Ia merupakan hari ditenggelamkan Allah Fir’aun dan diselamatkan Musa, maka kami berpuasa kerana bersyukur kepada Allah. Maka diambil pengajaran darinya melakukan kesyukuran kepada Allah atas apa yang Dia kurniakan pada hari tertentu, samada cucuran nikmat atau mengangkat kesusahan.”
        Seterusnya beliau berkata lagi: Dan apakah nikmat yang lebih agung dari nikmat diutuskan Nabi ini صلى الله عليه وسلم, Nabi Yang Membawa Rahmat, pada hari tersebut? Dan ini adalah asal kepada amalan tersebut. Manakala apa yang dilakukan padanya, maka seharusnya berlegar pada apa yang difahami sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah Ta’ala samada tilawah, memberi makan, sedekah, membacakan puji-pujian kepada Nabi, penggerak hati atau apa sahaja bentuk kebaikan dan amal untuk akhirat.”
        Inilah istinbat-istinbat yang dikatakan oleh mereka yang menentang sambutan maulid (anti-maulid) sebagai istidlal yang bathil serta qias yang fasid, lalu mereka mengingkarinya. Cukuplah bagi kita memerhatikan siapakah yang mengingkari dan siapa pula yang mereka ingkari!!!
        PERINGATAN MAULID NABI SAW
        ketika kita membaca kalimat diatas maka didalam hati kita sudah tersirat bahwa kalimat ini akan langsung membuat alergi bagi sebagian kelompok muslimin, saya akan meringkas penjelasannya secara ‘Aqlan wa syar’an, (logika dan syariah).
        Sifat manusia cenderung merayakan sesuatu yg membuat mereka gembira, apakah keberhasilan, kemenangan, kekayaan atau lainnya, mereka merayakannya dengan pesta, mabuk mabukan, berjoget bersama, wayang, lenong atau bentuk pelampiasan kegembiraan lainnya, demikian adat istiadat diseluruh dunia.
        Sampai disini saya jelaskan dulu bagaimana kegembiraan atas kelahiran Rasul saw. Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya
        • Firman Allah : “(Isa berkata dari dalam perut ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS Maryam 33)
        • Firman Allah : “Salam Sejahtera dari kami (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS Maryam 15)
        • Rasul saw lahir dengan keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala shahihain hadits no.4177)
        • Berkata Utsman bin Abil Ash Asstaqafiy dari ibunya yg menjadi pembantunya Aminah ra bunda Nabi saw, ketika Bunda Nabi saw mulai saat saat melahirkan, ia (ibu utsman) melihat bintang bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan diatas kepalanya, lalu ia melihat cahaya terang benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat terang benderangnya kamar dan rumah (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
        • Ketika Rasul saw lahir kemuka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam)
        • Riwayat shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saw saat melahirkan Nabi saw melihat cahaya yg terang benderang hingga pandangannya menembus dan melihat Istana Istana Romawi (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
        • Malam kelahiran Rasul saw itu runtuh singgasana Kaisar Kisra, dan runtuh pula 14 buah jendela besar di Istana Kisra, dan Padamnya Api di Kekaisaran Persia yg 1000 tahun tak pernah padam. (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
        Kenapa kejadian kejadian ini dimunculkan oleh Allah swt?, kejadian kejadian besar ini muncul menandakan kelahiran Nabi saw, dan Allah swt telah merayakan kelahiran Muhammad Rasulullah saw di Alam ini, sebagaimana Dia swt telah pula membuat salam sejahtera pada kelahiran Nabi nabi sebelumnya.
        Rasulullah saw memuliakan hari kelahiran beliau saw Ketika beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw menjawab : “Itu adalah hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan” (Shahih Muslim hadits no.1162).
        dari hadits ini sebagian saudara2 kita mengatakan boleh merayakan maulid Nabi saw asal dg puasa. Rasul saw jelas jelas memberi pemahaman bahwa hari senin itu berbeda dihadapan beliau saw daripada hari lainnya, dan hari senin itu adalah hari kelahiran beliau saw. Karena beliau saw tak menjawab misalnya : “oh puasa hari senin itu mulia dan boleh boleh saja..”, namun beliau bersabda : “itu adalah hari kelahiranku”, menunjukkan bagi beliau saw hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah dari hari hari lainnya, contoh mudah misalnya zeyd bertanya pada amir : “bagaimana kalau kita berangkat umroh pada 1 Januari?”, maka amir menjawab : “oh itu hari kelahiran saya”. Nah.. bukankah jelas jelas bahwa zeyd memahami bahwa 1 januari adalah hari yg berbeda dari hari hari lainnya bagi amir?,
        dan amir menyatakan dengan jelas bahwa 1 januari itu adalah hari kelahirannya, dan berarti amir ini termasuk orang yg perhatian pada hari kelahirannya, kalau amir tak acuh dg hari kelahirannya maka pastilah ia tak perlu menyebut nyebut bahwa 1 januari adalah hari kelahirannya, dan Nabi saw tak memerintahkan puasa hari senin untuk merayakan kelahirannya, pertanyaan sahabat ini berbeda maksud dengan jawaban beliau saw yg lebih luas dari sekedar pertanyaannya, sebagaimana contoh diatas, Amir tak mmerintahkan umroh pada 1 januari karena itu adalah hari kelahirannya, maka mereka yg berpendapat bahwa boleh merayakan maulid hanya dg puasa saja maka tentunya dari dangkalnya pemahaman terhadap ilmu bahasa. Orang itu bertanya tentang puasa senin, maksudnya boleh atau tidak?, Rasul saw menjawab : hari itu hari kelahiranku, menunjukkan hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah pada pribadi beliau saw, sekaligus diperbolehkannya puasa dihari itu. Maka jelaslah sudah bahwa Nabi saw termasuk yg perhatian pada hari kelahiran beliau saw, karena memang merupakan bermulanya sejarah bangkitnya islam.
        Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi saw Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai
        Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417)
        Kasih sayang Allah atas kafir yg gembira atas kelahiran Nabi saw Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.4813, Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi’bul iman no.281, fathul baari Almasyhur juz 11 hal 431). Walaupun kafir terjahat ini dibantai di alam barzakh, namun tentunya Allah berhak menambah siksanya atau menguranginya menurut kehendak Allah swt, maka Allah menguranginya setiap hari senin karena telah gembira dg kelahiran Rasul saw dengan membebaskan budaknya.
        Walaupun mimpi tak dapat dijadikan hujjah untuk memecahkan hukum syariah, namun mimpi dapat dijadikan hujjah sebagai manakib, sejarah dan lainnya, misalnya mimpi orang kafir atas kebangkitan Nabi saw, maka tentunya hal itu dijadikan hujjah atas kebangkitan Nabi saw maka Imam imam diatas yg meriwayatkan hal itu tentunya menjadi hujjah bagi kita bahwa hal itu benar adanya, karena diakui oleh imam imam dan mereka tak mengingkarinya.
        Rasulullah saw memperbolehkan Syair pujian di masjid Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul” (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)
        Ini menunjukkan bahwa pembacaan Syair di masjid tidak semuanya haram, sebagaimana beberapa hadits shahih yg menjelaskan larangan syair di masjid, namun jelaslah bahwa yg dilarang adalah syair syair yg membawa pada Ghaflah, pada keduniawian, namun syair syair yg memuji Allah dan Rasul Nya maka hal itu diperbolehkan oleh Rasul saw bahkan dipuji dan didoakan oleh beliau saw sebagaimana riwayat diatas, dan masih banyak riwayat lain sebagaimana dijelaskan bahwa Rasul saw mendirikan mimbar khusus untuk hassan bin tsabit di masjid agar ia berdiri untuk melantunkan syair syairnya (Mustadrak ala shahihain hadits no.6058, sunan Attirmidzi hadits no.2846) oleh Aisyah ra bahwa ketika ada beberapa sahabat yg mengecam Hassan bin Tsabit ra maka Aisyah ra berkata : “Jangan kalian caci hassan, sungguh ia itu selalu membanggakan Rasulullah saw”(Musnad Abu Ya’la Juz 8 hal 337).
        Pendapat Para Imam dan Muhaddits atas perayaan Maulid sebelumnya perlu saya jelaskan bahwa yg dimaksud Al Hafidh adalah mereka yg telah hafal lebih dari 100.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya, dan yg disebut Hujjatul Islam adalah yg telah hafal 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya.
        1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
        Telah jelas dan kuat riwayat yg sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yg berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata :
        “hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yg diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dg pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yg melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN
        ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS Al Imran 164)
        2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
        Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dg sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun,
        dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yg kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yg telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman teman dan saudara saudara, menjamu dg makanan makanan dan yg serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus
        mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid” .
        3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
        Merupakan Bid’ah hasanah yg mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yg diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dg kelahiran Nabi saw.
        4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
        Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah
        demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yg Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yg gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.
        5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy
        dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :
        Serupa dg ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits Abu Lahab
        6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah berkata ”tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pd malamnya dg berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yg sangat besar”.
        7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
        dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : ”ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw”
        8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
        dengan karangan maulidnya yg terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dg tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yg membacanya serta merayakannya” .
        9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah
        dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyya h juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: ”Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kpd orang yg menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.
        10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad
        yg terkenal dg Ibn Dihyah alkalbi dg karangan maulidnya yg bernama ”Attanwir fi maulid basyir an nadzir”
        11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri dg maulidnya ”urfu at ta’rif bi maulid assyarif”
        12. Imam al Hafidh Ibn Katsir yg karangan kitab maulidnya dikenal dg nama : ”maulid ibn katsir”
        13. Imam Al Hafidh Al ’Iraqy dg maulidnya ”maurid al hana fi maulid assana”
        14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy
        telah mengarang beberapa maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al lafad arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.
        15. Imam assyakhawiy dg maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi
        16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi dg maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah
        17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yg terkenal dg ibn diba’
        dg maulidnya addiba’i
        18. Imam ibn hajar al haitsami dg maulidnya itmam anni’mah alal alam bi maulid syayidi waladu adam
        19. Imam Ibrahim Baajuri mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dg nama tuhfa al basyar ala
        maulid ibn hajar
        20. Al Allamah Ali Al Qari’ dg maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi
        21. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji dg maulidnya yg terkenal maulid barzanji
        23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani dg maulid Al yaman wal is’ad bi maulid khair al ibad
        24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy dg maulid jawahir an nadmu al badi’ fi maulid as syafi’
        25. Imam Ibrahim Assyaibaniy dg maulid al maulid mustofa adnaani
        26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy dg maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi”
        27. Syihabuddin Al Halwani dg maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif
        28. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati dg maulid Al Kaukab al azhar alal ‘iqdu al jauhar fi maulid nadi al azhar
        29. Asyeikh Ali Attanthowiy dg maulid nur as shofa’ fi maulid al mustofa
        30. As syeikh Muhammad Al maghribi dg maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.
        Tiada satupun para Muhadditsin dan para Imam yg menentang dan melarang hal ini, mengenai beberapa pernyataan pada Imam dan Muhadditsin yg menentang maulid sebagaimana disampaikan oleh kalangan anti maulid,
        maka mereka ternyata hanya menggunting dan memotong ucapan para Imam itu, dengan kelicikan yg jelas jelas meniru kelicikan para misionaris dalam menghancurkan Islam.
        Berdiri saat Mahal Qiyam dalam pembacaan Maulid Mengenai berdiri saat maulid ini, merupakan Qiyas dari kerinduan pada Rasul saw, dan menunjukkan semangat atas kedatangan sang pembawa risalah pada kehidupan kita, hal ini lumrah saja, sebagaimana penghormatan yg dianjurkan oleh Rasul saw adalah berdiri, sebagaimana diriwayatkan ketika sa’ad bin Mu’adz ra datang maka Rasul saw berkata kepada kaum anshar : “Berdirilah untuk tuan kalian” (shahih Bukhari hadits no.2878, Shahih Muslim hadits no.1768), demikian pula berdirinya Thalhah ra untuk Ka’b bin Malik ra.
        Memang mengenai berdiri penghormatan ini ada ikhtilaf ulama, sebagaimana yg dijelaskan bahwa berkata Imam Alkhattabiy bahwa berdirinya bawahan untuk majikannya, juga berdirinya murid untuk kedatangan gurunya, dan berdiri untuk kedatangan Imam yg adil dan yg semacamnya merupakan hal yg baik, dan berkata Imam Bukhari bahwa yg dilarang adalah berdiri untuk pemimpin yg duduk, dan Imam Nawawi yg berpendapat bila berdiri untuk penghargaan maka taka apa, sebagaimana Nabi saw berdiri untuk kedatangan putrinya Fathimah ra saat ia datang,
        namun adapula pendapat lain yg melarang berdiri untuk penghormatan. (Rujuk Fathul Baari Almasyhur Juz 11 dan Syarh Imam Nawawi ala shahih muslim juz 12 hal 93)
        Namun sehebat apapun pendapat para Imam yg melarang berdiri untuk menghormati orang lain, bisa dipastikan mereka akan berdiri bila Rasulullah saw datang pada mereka, mustahil seorang muslim beriman bila sedang duduk lalu tiba tiba Rasulullah saw datang padanya dan ia tetap duduk dg santai..
        Namun dari semua pendapat itu, tentulah berdiri saat mahal qiyam dalam membaca maulid itu tak ada hubungan apa apa dengan semua perselisihan itu, karena Rasul saw tidak dhohir dalam pembacaan maulid itu, lepas
        dari anggapan ruh Rasul saw hadir saat pembacaan maulid, itu bukan pembahasan kita, masalah seperti itu adalah masalah ghaib yg tak bisa disyarahkan dengan hukum dhohir, semua ucapan diatas adalah perbedaan pendapat mengenai berdiri penghormatan yg Rasul saw pernah melarang agar sahabat tak berdiri
        untuk memuliakan beliau saw. Jauh berbeda bila kita yg berdiri penghormatan mengingat jasa beliau
        saw, tak terikat dengan beliau hadir atau tidak, bahwa berdiri kita adalah bentuk kerinduan kita pada nabi saw, sebagaimana kita bersalam pada Nabi saw setiap kita shalat pun kita tak melihat beliau saw.
        Diriwayatkan bahwa Imam Al hafidh Taqiyuddin Assubkiy rahimahullah, seorang Imam Besar dan terkemuka dizamannya bahwa ia berkumpul bersama para Muhaddits dan Imam Imam besar dizamannya dalam perkumpulan yg padanya dibacakan puji pujian untuk nabi saw, lalu diantara syair syair itu merekapun seraya berdiri termasuk Imam Assubkiy dan seluruh Imam imam yg hadir bersamanya, dan didapatkan kesejukan yg luhur dan cukuplah perbuatan mereka itu sebagai panutan, dan berkata Imam Ibn Hajar Alhaitsamiy rahimahullah bahwa Bid’ah
        hasanah sudah menjadi kesepakatan para imam bahwa itu merupakan hal yg sunnah, (berlandaskan hadist shahih muslim no.1017 yg terncantum pd Bab Bid’ah) yaitu bila dilakukan mendapat pahala dan bila ditinggalkan
        tidak mendapat dosa, dan mengadakan maulid itu adalah salah satu Bid’ah hasanah,
        Dan berkata pula Imam Assakhawiy rahimahullah bahwa mulai abad ketiga hijriyah mulailah hal ini dirayakan dengan banyak sedekah dan perayaan agung ini diseluruh dunia dan membawa keberkahan bagi mereka yg mengadakannya. (Sirah Al Halabiyah Juz 1 hal 137)
        Pada hakekatnya, perayaan maulid ini bertujuan mengumpulkan muslimin untuk Medan Tablig dan bersilaturahmi sekaligus mendengarkan ceramah islami yg diselingi bershalawat dan salam pada Rasul saw, dan puji pujian pada Allah dan Rasul saw yg sudah diperbolehkan oleh Rasul saw, dan untuk mengembalikan kecintaan mereka pada Rasul saw, maka semua maksud ini tujuannya adalah kebangkitan risalah pada ummat yg dalam ghaflah, maka Imam dan Fuqaha manapun tak akan ada yg mengingkarinya karena jelas jelas merupakan salah satu cara membangkitkan keimanan muslimin, hal semacam ini tak pantas dimungkiri oleh setiap muslimin
        aqlan wa syar’an (secara logika dan hukum syariah), karena hal ini merupakan hal yg mustahab (yg dicintai), sebagaiman kaidah syariah bahwa “Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib”, semua yg menjadi penyebab kewajiban dengannya maka hukumnya wajib. contohnya saja bila sebagaimana kita ketahui bahwa menutup aurat dalam shalat hukumnya wajib, dan membeli baju hukumnya mubah, namun suatu waktu saat kita akan melakukan shalat kebetulan kita tak punya baju penutup aurat kecuali harus membeli dulu, maka membeli baju hukumnya
        berubah menjadi wajib, karena perlu dipakai untuk melaksanakan shalat yg wajib .
        contoh lain misalnya sunnah menggunakan siwak, dan membuat kantong baju hukumnya mubah saja, lalu saat akan bepergian kita akan membawa siwak dan baju kita tak berkantong, maka perlulah bagi kita membuat kantong baju untuk menaruh siwak, maka membuat kantong baju di pakaian kita menjadi sunnah hukumnya, karena diperlukan untuk menaruh siwak yg hukumnya sunnah.
        Maka perayaan Maulid Nabi saw diadakan untuk Medan Tablig dan Dakwah, dan dakwah merupakan hal yg wajib pada suatu kaum bila dalam kemungkaran, dan ummat sudah tak perduli dg Nabinya saw, tak pula perduli apalagi mencintai sang Nabi saw dan rindu pada sunnah beliau saw, dan untuk mencapai tablig ini adalah dengan perayaan Maulid Nabi saw, maka perayaan maulid ini menjadi wajib, karena menjadi perantara Tablig dan Dakwah serta pengenalan sejarah sang Nabi saw serta silaturahmi.
        Sebagaimana penulisan Alqur’an yg merupakan hal yg tak perlu dizaman nabi saw, namun menjadi sunnah hukumnya di masa para sahabat karena sahabat mulai banyak yg membutuhkan penjelasan Alqur’an, dan menjadi
        wajib hukumnya setelah banyaknya para sahabat yg wafat, karena ditakutkan sirnanya Alqur’an dari ummat, walaupun Allah telah menjelaskan bahwa Alqur’an telah dijaga oleh Allah.
        Hal semacam in telah difahami dan dijelaskan oleh para khulafa’urrasyidin, sahabat radhiyallahu’ anhum, Imam dan Muhadditsin, para ulama, fuqaha dan bahkan orang muslimin yg awam, namun hanya
        sebagian saudara saudara kita muslimin yg masih bersikeras untuk menentangnya, semoga Allah memberi mereka keluasan hati dan kejernihan, amiin.
        5. David says:
        June 12, 2012 at 9:06 am
        Your comment is awaiting moderation.
        jawaban 1:
        semua sepakat apabila maulid dilakukan dengan cara judi, pasti jelas diharamkan, adapaun rebana hukumnya boleh, lihat saat Nabi SAW disambut oleh kaum ansor di madinah, dan hal Nabi tidak melarang.
        jawaban 2:
        tolong saudarau ust yusuf jangan mengambil ayat sepotong sepotong ayat sebelumnya saya cantumkan Al-Isro 26) Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. jika dalil yang dikemukakan dgn QS. al-Isro’ ([17]: 27, tidak lah tepat ditujukan utk peringatan maulid, Inti kandungan dari dua ayat tersebut adalah agar kita mengatur dan membelanjakan harta kita secara tepat, yaitu dengan membelanjakan di jalan Allah, memberikan bagian harta kita kepada yang berhak dan tidak menghamburkan harta kita atau boros.karena maulid sifatnya Syiar Islam yang dibolehkan, baik dimasjid maupun musholla dan diseluruh penjuru dunia yang melakukan maulid Nabi. beramal utk syiar islam hukumnya boleh Surat Al-Hadid Ayat 7,
        Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan infaqkanlah sebagian harta yang Allah telah menjadikanmu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman diantara kamu dan berinfaq, bagi mereka itu ada ganjaran yang besar.
        Allah SWT berfirman didalam Surat Al-Hadid Ayat 10,
        Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah? Padahal Allah-lah yang mempusakai (memiliki) langit dan bumi.
        Jawaban 3:
        kalo dulu zaman Ustadz Hasyim Asy’ari sebagian daerah dijombang ada merayakan mulid dgn berjudi dan maksiat maka hal itu benar terlarang alias Haram. silahkan pelajari sejarah kabupaten jombang sebelum adanya pesantren tebu ireng disana, namun kita tidak bisa memukul rata dan menganggap perayaan maulid yang dilakukan masyarakat muslim diberbagai penjuru dunia itu terang-terangan dalam maksiat. sungguh tuduhan yang tidak bijaksana.
        jawaban 4:
        tidak ada manusia yang bersih dan suci didunia ini kecuali para Nabi dan Para Rosul, nifak penyakit hati. maka jangan berburuk sangka kepada saudaramu karena buruk sangka itu dosa oleh karena itu maka kedepan kan aspek kasih sayang diantara kita
        QS Al-Hujurat ayat 10-13
        • “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat nikmat.”
        • “Hai orang-orang yang beriman,janganlah suatu kaum mengolok-olok suatu kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
        • “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjingkan sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
        surat An-Najm ayat 32
        Yaitu mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji kecuali kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu itu amat luas ampunannya. Dia lebih mengetahui keadaanmu, sejak mulai diciptakan dari unsur tanah dan sejak kamu masih dalam kandungan ibumu, sebab itu janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih tahu siapa yang bertakwa. SEMUA MANUSIA BERTANGGUNG JAWAB ATAS PERBUATANNYA MASING-MASING
        jawaban 5:
        bahwa orang yang melakukan kegiatan maulid merusak agama, tidak ada DALIL nya, justru sebaliknya dengan semangat kelahiran beliau dapat mengambil hikmah dari perjuangan beliau dan menjadikan beliau sebagai suri tauladan yang BAIK “sungguh telah ada pada diri NABI itu suri tauladan yang baik “. pertanyaannya apakah kita sudah mengikuti perilaku NABI semuanya ??? apakah kita sdh santun dan saling menyayangi kepada sesama muslim ???
        jawaban 6:
        sekali lagi tolong kepada ust yusuf jangan ambil dalil sepotong sepotong, silahkan lihat Surat Al-Ahzab ayat 56 sebelumnya ”
        “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.
        pada ayat ini kita diperintahkan utk bersholawat,Fiil AMAR bukankah dalam maulid NABI yang dilakukan oleh ummat islam hampir diseluruh penjuru dunia juga membaca sholawat apapun jenis sholawat itu, ALLAH lah yang menerimanya. jadi kalo dikatakan penginaan kepada ROSUL pada ayat 57 surat Al-Ahzab adalah orang – orang yang tidak mau bersholawat dan melangar perintah ALLAH dan Rosulnya.
        Jawaban 7:
        “Jika engkau ditanya mengenai Ruh, katakan Ruh itu urusan ROBB ku, dan Aku tidak diberi pengetahuan akan hal itu kecuali sedikit”.
        silahkan baca hadits nabi dari shohih bukhori maupun muslim, mengenai adab berziarah, Nabi SAW yang ketika itu berziarah dan menyampaikan Salam kepada Ahli Qubur” bukankah mereka ahli qubur Ruh nya ada dalam genggaman ALLAH, maka ALLAH SWT sangat punya Kuasa untuk mengembalikan pada saat ada orang yang sedang berziarah. ALLAH MAHA BESAR. dan yang mengatakan kalo tidak berdiri “KAFIR” saya belum pernah menemukannya sampai detik ini, ini hanyalah FITNAH.
        jawaban 8:
        hadits palsu tidak bisa dijadikan hujjah, dalil maulid silahkan baca dan cari dari berbagai kitab. hadits dhoif bisa dijadikan landasan dalam fadlail amal, sepakat para ulama.
        yang sangat mengherankan adalah bukankah wahabi salafi menolak hadits qudsi, namun ust yusuf menyitir hadits qudsi dalam tulisan yang saya kutip dibawah
        KEENAM: Termasuk Jenis Penghinaan Kepada Rosululloh n
        “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya.” (HR. al-Bukhori: 6502 dengan sanad dho’if, tetapi hadits ini shohih dengan berbagai jalannya, lihat Fath al-Bari: 13/143 dan Silsilah Shohihah no. 1640)
        hal ini menunjukan sikap Inkonsistensi kaum wahabi salafi,mereka menolak hadits dhoif tapi disaat terdesak mereka memakai utk melegitimasi kemauannya.
        Saran saya sebagai sesama muslim, mari bersama kita pedomani AL-QUR’AN sebagai Kitab suci, Kalam ALLAH SWT yang disampaikan oleh lisan suci ROSUL SAW, mari kita baca setiap saat, sebanyak-banyak nya kita mengkhatamkan AL-QUR’AN maka ALLAH akan memberikan kepada kita kemudahan dalam mendalami ayat-ayat ALLAH, mari jaga persatuan dan kesatuan ummat islam, gunakankah kasih sayang kepada saudara-saudara kita se iman se keyakinan, sungguh ROSUL sangat menyayangi umatnya dan beliau nanti yang akan memberikat syafaatnya. jangan gunakan hawa nafsu kita dan jangan segampang itu membid’ahkan saudara kita. bukan kah membid’ahkan sama saja dengan mengkafirkan saudara kita, hanya saja dibungkus dgn hadits yang shohih.
        6. David says:
        June 12, 2012 at 9:13 am
        Your comment is awaiting moderation.
        Ustadz, kau tidak perlu mencemaskan kami hanya karena kau melihat amalan kami yang kau cap sesat dan bid’ah seperti maulid, tahlil, nisyfu sya’ban, dzikir bersama . Kau pun tidak perlu bersusah-payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa kami memang pantas masuk neraka. Karena pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, kita semua adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia mau memasukkan kami ke sorga atau ke neraka. Untuk memasukkan hambaNya ke sorga atau neraka, sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai Ustadz, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang yang melakukan amalan tsb diatas dan yang kau pandang sebelah mata itu, pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat denganNya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya. Bukankah begitu?’ Kau harus lebih berhati-hati dgn pemahamanmu Cobaan yang berupa pengetahuan tidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang berupa penderitaan. Hayya ‘alash sholah, Hayya ‘alal falah. INSYA ALLAH umat ISLAM akan MENANG.

    2. Mengimani fauqiyah yang dinisbatkan kepada Allah adalah kewajiban, tapi kalau meyakni fauqiyah sebagai fauqiyah tempat seperti fauqiyah makhluk dengan makhluk adalah bid’ah dholalah. Karena melakukan penyerupakan dan takyif.

    1. sabar kawan, nanti rekan-2 ummati pasti menjawabnya, kalo blog spt firanda.com kan rekan-2 aswaja susah bikin komen or ga ditampilin komen-2nya termasuk ane coba jg ga bisa-2, disini tidak spt itu, sabar yah, mungkin rekan-2 ummati lg sibuk dg jihad untuk keluarga…..

  26. Semoga Ustadz Ahmad Syahid diberikan kesehatan oleh Allah.

    Pak Ustadz, pertanyaan saya yang saya tanyakan dari tanggal 24 October sudah bisa dijawab belum?

    Gunawan says:
    October 24, 2011 at 5:46 pm

    Mudah-mudahan pak Ustadz tidak pelit dengan Ilmu yang Ustadz miliki,

    kalau sekiranya Ustadz bisa jawab silahkan dijelaskan saja, adapun mengenai syarat yang Ustadz minta supaya Ust. Abul Jauza mengomentari seluruh artikel Ustadz dan beliau tidak lakukan mungkin Ust. Abul Jauza tidak ingin menyerobot “Proyek” untuk Ust. Firanda.

    Jadi harapan saya, mohon pertanyaan saya dijawab kalau memang Ustadz punya argumentasi yang kuat.

    Jazakallah

  27. Hidayah memang mahal harganya..
    Semoga Allah Subhanahuwata’ala selalu memberikan kemudahan, umur panjang dan kesehatan kepada orang2 yang menyampaikan dakwah islam secara haq. Saya tidak bisa membayangkan, apa jadinya jika negara ini tidak ada dakwah ahlussunnah, kesyirikan akan kian merajalela dan kesesatan akan mudah tumbuh di negeri ini. Na’udzubillah. Sehingga wajib bagi kita untuk menghormati pada ulama2 isalam yang telah diketahui kesalihannya dan sebagai penyambung lidah para sahabat dari apa yang disampaikan oleh Rasulullah (baik perilaku, maupu ucapan beliau Salallahu’alaihi wassallam), yang merupakan cerminan dari Al-Quran. Saatnya kita menyadari, jika kita mengaku sebagai umat Rasulullah, sudahkah kita menjalani tuntunan islam secara kaffah sesuai yang dituntunkan dan dicontohkan oleh Rasul mulia kita. Dan tidak sepantasnya kita berkeras kepala dalam memahami ilmu, jika memang niat kita untuk mencari kebenaran. Syukron

    1. Antum ternyata memang asal-asalan kalau ngomong, tidak berdasar fakta yg ada. Ternyata nama antum mencerminkan omongan antum yg asal-asalan.

  28. @yanto jenggot
    koq namanya ada kata ” jenggot” segala bung! bukannya malah brengos yg dipelihara? hayoo ngaku…dan tak ada gunanya mengomentari koment2 slanjutnya. bgi ana, hidayah ini sdh cukup dr sgalanya. smoga yg msh keras hati, segera dilunakkan dan dibukakan pintu hidayah yg agung ini, yaitu kembali pada pemahaman para sahabat. jika blm, maka selamat berpusing2 ria.

  29. @yanto jenggot
    koq namanya ada kata ” jenggot” segala bung! bukannya malah brengos yg dipelihara? hayoo ngaku…dan tak ada gunanya mengomentari koment2 slanjutnya. bgi ana, hidayah ini sdh cukup dr sgalanya. smoga yg msh keras hati, segera dilunakkan dan dibukakan pintu hidayah yg agung ini, yaitu kembali pada pemahaman para sahabat. jika blm, maka selamat berpusing2 ria.

    1. hah hah hah ha …. antum mungkin belum dapat hidayah, tapi ente tersangkut di ujung tanduk setan Najd. Kalau tersangkut tanduk kerbau sakit, tapi kalau tersangkut tanduk setan Najd rasanya enak kali ya? Kok sampai2 merasa ke-pede-an?

      Klau PEDE sih bagus, tapi kalau ke-pede-an itu yg nggak nguati.

  30. Ulama semacam al Bouti & hassoun yang dukung bashar, si syiah pembantai ahlussunnah kok malah dipromosikan? Aneh nih situs yang mengaku ahlussunnah malah hormati ulama macam gitu.

    1. Sebetulnya apa yg telah terjadi di Suriah itu akibat infiltrasi fitnah yg dilancarkan Wahabi (Arab saudi), intel2 Wahabi sukses mengacak-acak persepsi sehingga terjadilah konflik yg semprawut, padahal sebelumnya antara Syi’ah dan Aswaja di sana hidup rukun damai dan sejahtera. “Pesantren2” Aswaja di sana berjalan dg baik, perkembangan dan trasnfer ilmu di antara Aswaja berjalan dg baik tanpa gangguan, sehingga mencetak Ulama2 Aswaja berbobot di sana, contohnya Al Bouti tsb. Semuanya menjadi keruh setelah Wahabi masuk dan berperan menyebar fitnah, salah satu fitnah yg paling besar adalah Wahabi mengatasnamakan dirinya Ahlussunnah Wal Jam,ah (aswaja) di sana.

      Alhamdulillah, sekarang Para ulama di sana sekarang menyadari akan hal itu. Semoga Suriah segera kembali damai seperti sedia kala, amin….

      1. @ Jabir :

        Kalau anda baru denger katanya, ga usah comment tentang masalah Suriah. Sudah anda datang kesana…? Sudah melakukan pengamatan secara langsung…?

        Yang kami lihat dan amati disana justru orang2 Salafy lah yang membantu Rakyat Sunni disana akibat kekejaman rezim syiah. TIDAK ADA SATU ORANGPUN atau LEMBAGA apapun yang dari Aswaja datang membantu saudara-saudaranya yang sedang dalam keadaan menderita disana. Apa mungkin terlalu sibuk untuk menghujat sesama saudara semuslim Salafy, yang jelas jelas mempunyai kesamaan dalam Aqidah….?

        Jangan selalu MENGUNGGULKAN kemampuan redaksional dan kemampuan menulis dengan baik saja yang difocuskan, dan mengorbankan sesuatu yang penting diluar sana.

        Saya sebagai orang yang mencoba mengamati berbagai Manhaj yang ada saja, sudah bisa melihat perbedaan dari luar dengan NYATA, antara Aswaja dengan Salafy. Beberapa kali secara diam-diam saya mengikuti pengkajian Salafy di Mesjid2 besar, sedang dan kecil dengan berbagai macam Ustadnya, tidak pernah saya dengar penghujatan KAFIR terhadap suatu kaum, pengkajian Aswaja… Dalam hal barisan duduk saja sudah diatur, seakan akan yang bergelar HABIB atau lainnya mendapatkan previllege khusus saja dibandingkan dengan orang2 yang biasa saja.

        Salafy KERAS dan BERTENTANGAN dengan pihak syiah.
        Aswaja… Terkesan membela dan lebih manusiawi perlakuannya dibandingkan dengan saudara sealirannya Salafy.

        Balik ke postingan saya beberapa bulan lalu (dan coba di backdate), tidak ada satupun artikel yang membahas dan memaki secara keji terhadap paham syiah di web ini.

        Ada keuntungan bagi saya yang tidak terkena Taqlid buta dari kedua kubu ini (Salafy dan Aswaja), agar saya sendiri dapat menilai secara adil dan menggunakan HATI NURANI, mana yang memang secara batin (personal) dapat diterima dengan baik.

        Kalau saya dipaksa untuk memilih, saya lebih condong ke arah Salafy.

        Jadi untuk Jabir… Kemukakan yang anda tau tentang Suriah dengan bukti, Insya Allah saya akan menanggapinya juga dengan bukti.

        Kebenaran hanya milik Allah SWT semata.

        1. Lha emang antum seorang Salafi or Wahabi kok pakai nyamar, emangnya gak ketahuan dari gaya antum ya? Khas sekali aroma Wahabinya. Udah deh gak perlu taqiyah, bau wahabi dari antum ini nyengat sekali, he he he….

          Terungkapnya Jati Diri Para Aktor di Syria (SURIAH)

          (dimuat di IRIB dan The Global Review)

          Oleh: Dina Y. Sulaeman*

          Konflik di Syria telah memasuki fase baru. Bila sebelumnya kaum oposisi ‘berjuang’ di bawah bendera Syrian National Council dan Free Syrian Army (FSA), kini masing-masing faksi di dalamnya mulai berpecah dan menampakkan ideologinya masing-masing. SNC dan FSA dibentuk di Turki. Di dalam FSA bernaung sebagian besar milisi (sebagian pihak menyebutnya ‘mujahidin’), termasuk Al Qaida. Mereka menjadikan Sheikh Adnan Al-Arour yang tinggal di Arab Saudi sebagai pemimpin spiritual. Dalam salah satu pidatonya yang bisa dilihat di You Tube, Al Arour menjanjikan bahwa bila pasukan mujahidin menang, kaum Alawi akan ‘dicincang lalu dberikan ke anjing’.

          Kaum muslim ‘moderat’, dipimpin oleh Ikhwanul Muslimin, memilih untuk bergabung dalam National Coalition for Syrian Revolutionary and Opposition Forces yang baru dibentuk bulan November lalu di Doha, Qatar. Koalisi baru ini didukung oleh Qatar, Arab Saudi, AS, Inggris, dan Prancis. Negara-negara tersebut selama ini memang sudah membiayai, mengirimi senjata, dan memfasilitasi kedatangan pasukan ‘jihad’ dari berbagai negara Arab dan Libya untuk membantu FSA, namun kini secara terbuka telah menyatakan akan mengirim bantuan senjata kepada koalisi baru tersebut. Jadi, meskipun ‘moderat’, koalisi baru ini tetap akan angkat senjata melawan rezim Assad.

          Kelompok-kelompok yang berhaluan Hizbut Tahrir (meski tidak mengatasnamakan diri Hizbut Tahrir, tetapi mendapat dukungan secara terbuka dari berbagai cabang HT di dunia, termasuk dari Indonesia), mengecam pembentukan koalisi baru tersebut. Kelompok ini, antara lain, Gabhat al Nousra, Ahrar Al Sham Kataeb, Liwaa al Tawhiid, dan Ahrar Souria memilih memisahkan diri dan mendeklarasikan perjuangan untuk membentuk khilafah di Syria.

          Meski ‘bercerai-berai’, kelompok oposisi Syria memiliki suara dan tekad yang sama: menumbangkan “rezim Assad yang sesat dan kafir”. Mereka pun selama ini saling membantu dalam menciptakan opini publik: betapa kejam dan brutalnya rezim Assad dalam membantai rakyatnya sendiri. Semua ini mengaburkan fakta yang sebenarnya terang benderang: AS dan Israel ingin menggulingkan rezim Assad dan menggantikannya dengan rezim yang mau ‘mengamankan’ Israel. Konflik Syria-Israel adalah catatan sejarah yang panjang yang kini coba diabaikan dan ditutupi oleh isu perjuangan jihad melawan kaum ‘Alawi yang kafir’ itu.

          AS dan sekutunya sebenarnya menggunakan skenario yang persis sama dengan Libya: dukung kelompok oposisi dengan persenjataan. Ketika pemerintah berusaha mengendalikan pemberontakan (lalu, apalagi yang harus dilakukan pemerintah menghadapi pemberontak? Apa yang harus dilakukan pemerintah Indonesia bila misalnya, tiba-tiba sekelompok gerilyawan di Jawa Barat angkat senjata dan ingin mengambil alih pemerintahan? Diam saja dan menyerahkan pemerintahan atas nama demokrasi?), kelompok oposisi pun berteriak meminta bantuan internasional (dengan nama indah: ‘humanitarian intervention’). Lalu, datanglah NATO membombardir Libya. Qaddafi tumbang, pemerintahan pun digantikan oleh tokoh-tokoh yang ‘lunak’ dan membiarkan semua proyek rekonstruksi dan eksplorasi minyak diambil oleh perusahaan-perusahaan Barat.

          Inilah yang sedang terjadi di Syria. Awalnya, sejak Januari 2011, rakyat Syria diseru via facebook dan twitter untuk turun ke jalan. Ada aksi demo, tapi sangat tidak signifikan, apalagi bila dibandingkan dengan aksi demo di Kairo. Lalu, terjadilah tragedi Daraa, kota kecil berpenduduk 75.000 jiwa yang dekat perbatasan Jordania. Jurnalis independen Prancis, Thierry Meyssan sejak awal mengendus pemilihan Daraa sebagai titik awal gerakan bersenjata kaum oposisi karena mudahnya suplai senjata dan milisi jihad dari Jordan. Demo di Daraa terjadi tanggal 23 Maret 2011. Jumlah yang tewas adalah 7 polisi dan sedikitnya 4 demonstran. Adanya data bahwa polisi tewas dalam demonstrasi itu sangat penting karena ini menunjukkan bahwa ada tembak-menembak antara polisi dan demonstran. Artinya, demonstrasi saat itu bukanlah demonstrasi damai seperti diklaim media massa Barat. Selain itu, pemberitaan media (salah satunya, Aljazeera) juga menunjukkan bahwa markas kantor Partai Baath dan kantor pengadilan juga dirusak massa. Demonstrasi damaikah ini?

          Berbeda dengan kondisi di Mesir dan Tunisia di mana aksi demo local memuncak menjadi demo nasional yang berpusat di ibu kota negara, justru menyusul tragedi di Daraa, muncul demo besar-besaran yang mendukung Assad. Demo itu terjadi di Damaskus, tanggal 26 Maret 2011. Kantor berita Reuters yang menyiarkan foto-fotonya, namun, tidak disebut-sebut dalam pemberitaan media-media mainstream. Televisi Syria menyiarkannya secara live. Rekaman aksi demo dengan jumlah massa yang sangat massif ini bisa didapatkan di You Tube.

          Selanjutnya terjadi aksi-aksi kerusuhan bersenjata di berbagai tempat, dengan korban di dua pihak, polisi dan massa. Tapi, tentu saja, yang disebarluaskan media massa dunia dan media massa Islam yang berafiliasi dengan organisasi ‘mujahidin’ adalah rezim Assad melakukan kebrutalan terhadap rakyat. Fakta yang ditemukan jurnalis-jurnalis independen sejak awal, terkait suplai senjata dan pasukan dari negara-negara Arab, diabaikan begitu saja. Temuan para blogger tentang rekayasa foto-foto dan film yang disebarkan media massa juga dianggap sepi, padahal semua begitu jelas: gambar demo di Tunisia disebut demo di Syria, gambar demo pendukung Assad, disebut demo anti-Assad, gedung hancur di Palestina disebut gedung yang hancur di Syria; orang tewas berdarah-darah di Palestina disebut korban pembunuhan Assad; serangan brutal yang dilakukan mujahidin diklaim sebagai serangan tentara Assad, dan banyak lagi.

          Dan tentu saja, sekali lagi, ketika pasukan mujahidin bersenjata sedemikian lengkap dan didukung pasukan jihad multinasional, lalu pemerintah melawan, pastilah ada korban di kedua pihak. Keduanya harus diekspos seimbang. Namun yang selalu diungkap oleh media mainstream dan yang berafiliasi dengannya adalah korban di pihak ‘mujahidin’. Untunglah, ada jurnalis-jurnalis independen dan citizen journalist yang dengan gigih melakukan pengimbangan berita.

          Para pengamat politik yang concern pada masalah Syria akan sepakat bahwa Rezim Assad berideologi sosialis dan haluan pemerintahannya sangat sekuler. Rezim Assad jauh sekali dari definisi ‘pemerintahan berhaluan Alawi’. Tapi karena ‘kebetulan’ dia dan kalangan elit pemerintahnya bermazhab Alawi, isu Sunni-Syiah dijadikan pretext jihad. Mengingat 80% rakyat Syria adalah Sunni, tentu logikanya, mereka sangat kuat. Data-data menunjukkan bahwa mayoritas anggota militer Syria adalah Sunni, meski elitnya Alawi. Bila mayoritas mereka memang membenci Assad, sangat mudah menumbangkannya, sebagaimana tumbangnya para diktator lain: Syah Reza Pahlevi, Ben Ali, Mubarak. Tak perlu ada pasukan asing yang didatangkan dari berbagai penjuru Arab; tak perlu mengemis bantuan senjata dari luar; tak perlu menyebarkan isu mazhab; tak perlu berkoalisi dengan AS yang jelas-jelas sekutu Israel.

          Dulu, Syah Pahlevi di Iran, kurang kuat apa secara militer? Militer Iran saat itu yang terkuat di Timteng, dilatih langsung oleh CIA dan MOSAD, dukungan besar pun diberikan Barat karena kilang-kilang minyak Iran saat itu dikuasai Inggris dan AS. Tapi karena mayoritas rakyat Iran, apapun mazhab dan agamanya, memang sudah muak, mereka bangkit tanpa senjata, hanya berdemo masif berpekan-pekan. Tentu saja, mereka ditembaki tentara Syah; tapi mereka tidak membalas dengan senjata, dan tidak pula minta bantuan asing. Akhirnya, Syah pun tumbang, hanya dengan aksi demo; sebagaimana juga Ben Ali dan Mubarak.

          Lalu bagaimana ujung dari konflik ini? Minimalnya ada dua hal yang bisa diprediksi:

          1. Seandainya Assad terguling dan kelompok jihad meraih kekuasaan, di antara mereka pun akan muncul peperangan karena perbedaan manhaj; di antara mereka sejak awal sudah ada perbedaan visi, model pemerintahan Islam seperti apa yang akan dibentuk? Sejak sekarang pun di antara mereka sudah saling kecam.

          2. AS sendiri sedang ketakutan melihat potensi berdirinya khilafah. Selain telah memasukkan Gabhat Al Nousra dalam daftar teroris, AS pun mulai berupaya terjun langsung ke medan perang. Thierry Meyssan melaporkan, AS tengah berencana mengirim 6000 pasukan jihad, termasuk 4000 orang dari Lebanon, lalu beberapa mantan jenderal angkatan bersenjata pemerintah akan mengklaim berhasil meraih kekuasaan dan meminta bantuan internasional. Hal ini, ditambah dengan isu penggunaan senjata kimia oleh Assad akan dijadikan pretext perang yang melibatkan NATO atau PBB.

          Apapun yang akan terjadi ke depan, yang jelas, mayoritas rakyat Syria kini menderita. Syria, negeri yang indah dan disebut sebagai the craddle of civilization itu kini luluh lantak. Lebih setengah juta rakyat hidup menderita di pengungsian. Kaum perempuan Syria juga jadi korban perdagangan perempuan, dijual ke lelaki-lelaki hidung belang dari negara-negara Arab pendukung perang. Dan akar semua ini adalah ketidakmampuan sebagian elemen Syria mengidentifikasi siapa musuh mereka sebenarnya. Mereka merasa sedang berjuang, padahal sebenarnya sedang menari bersama iringan genderang musuh.

          *magister Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Reserch Associate of Global Future Institute.

          Saya copas dari sini : http://dinasulaeman.wordpress.com/2012/12/17/terungkapnya-jati-diri-para-aktor-di-syria/

          1. Beginilah tabiat orang2 yang merasa LEBIH BAIK dari yang lainnya. Anda menuduh saya tanpa bukti otentik sedikitpun… Ya, saya keras dengan SYIAH, karena saya melihat bukti penyiksaannya terhadap Rakyat Sunni di Syria. Bukan berarti saya Salafy atau Wahabi. Maaf ya… Anak SD yang ngga naik kelas berkali kali pun, tau… Bukti apa yang bisa dijadikan landasan hanya dari penulisan gaya bahasa….?

            Kang Jabir yang harus hati-hati menggunakan bibir…

            Maaf… Kalau ilmu copas-copas an, saya perlu kasih tau juga ke Anda, Nenek-Nenek HAMIL TUA pun bisa melakukannya. Tulisan itu bisa dipesan dan dibiayai Kang, dan itu kita ketahui bersama, siapa yang memegang kendali didunia Informasi….?

            Saya minta Anda tunjukkin BUKTI dari yang anda ketahui dan anda rasakan dengan menggunakan semua indera yang ada ditubuh Kang Jabir, kalau ga tau ga usah berusaha meyakinkan orang dengan ILMU COPAS2AN. Malu Kang sama anak SD.

          2. mas @dodol
            Mas @jabir tidak asal bicara lho, lihat aja link yang diberikan dibawah dan yang nyusun juga seorang Magister UNPAD, apakah bisa dipertanggung jawabkan, ente tanya sama orangnya.
            Israel menyerang negara2 Arab aja di adem ayemkan oleh Negara yang katanya menjalankan al Qur’an dan Sunnah (Arab Saudi).
            Dimana ? kata “memperjuangkan sunnah dan Al Qur’an”. Kata dialek orang Perancis “Omong Kosong”.

          3. @ Kang Ucep :

            Lihat postingan saya setelahnya….
            Mau Magister kek
            Mau Professor kek
            Mau Super Duper Profesor kek. Saya TIDAK PEDULI.

            Kalau Aswaja ngakunya Sunnah, jangan ambil sumber dari Syiah dong. Gunakan link dan Ustadz2 Aswaja yang ada disana.

          4. @dodol
            Kalau itu Ilmu pengetahuan Politik luar negeri, gak dari mana aja sumbernya mas. Yang penting itu aktual dan Fakta yang bisa dipercaya dan dipertanggung jawabkan…. ya gak !!

          5. Saya setuju Kang Ucep…

            Ambil source yang netral dong, jangan diambil dari kepentingan salah satu pihak. Jadinya nanti akan ada conflict of interest.

            Coba anda lihat cari tau Kang Ucep… Dyna Y Sulaeman itu banyak membuat buku2 yang membahas tentang Iran dan Para Pemimpinnya. Dan hasil copasan dari Kang Jabir, juga bukan dari buah tulisan Dyna sendiri.

            Saya sih mau teman2 Aswaja juga melihat dan memperhatikan sumber2 yang diambil, bukan semata-mata untuk menjatuhkan lawan debat.

            Coba terima itu sebagai masukan dan Kebenaran, bukan berusaha untuk mencari PEMBENARAN, sehingga semua sumber dijadikan acuan untuk menghantam lawan debat.

            Setuju Kang Ucep….?

          6. Mas @dodol
            Kalau itu Fakta dan aktual kenapa tidak, siapapun penulisnya dari mana sumbernya yang penting FAKTA. Seperti ente baca koran Kompas, Suara pembaharuan dll siapa yang punya ? kan mereka ya. Juga yang memberitakan didalamnya siapa ?, masa kita gara2 dari siapanya, kemudian kita gak baca berita, wah ketinggalan zaman kita. Jangalah mas berpikir sempit ya gak… yang penting Fakta bicara.

          7. Kang @Ucep :

            Siapa yang bisa menjamin itu FAKTA atau FAKTUAL….? Kalau sumbernya dari salah satu kepentingan.

            Dan saya tidak melarang untuk membaca semua berita terkini dari sumber manapun, justru saya hanya mengingatkan, silahkan saja baca… Cuma kalau mau dijadikan landasan untuk membuat KESIMPULAN, jangan mengikuti HAWA NAFSU… Mentang2 materinya cocok untuk mendebat golongan tertentu, langsung saja hantam kromo.

            That’s not Fair Enough…!!!

          8. @dodol
            Tingkat kesarjaannya yang dia pertahankan dong, jadi itu suatu Fakta !!!
            Kalau ente berpatokan pada faham dalam menganalisa suatu berita, apakah kita harus satu aqidah ?. Misalkan, ente faham wahabi, apakah beritanya dari golongan wahabi ? wah gak maju2 kita, diam ditempat.

          9. dodol@

            antum kan minta bukti kpd saya, lalu saya kasih bukti bersumber dari bu Dina Sulaiman, lalu antum malah kebakaran jenggot sembari meremehkan gelar bu Dina, lalu antum maunya apa? Kok bebal amat antum? Itu kan ciri khas kaum wahabi, bebal n dungu, kapan Wahabi maju teknologinya melawan Iran kalau kalian bersikap bebal dan dungu selama-lamanya seperti ini?

            Dari sejak Muhammad bin Abdul Wahhab sampai sekarang kedunguan n kebebalannya nggak sembuh2, mau saya rendam di sumur biar sembuh?

          10. Hahahahahahahaha….

            Itu bukan BUKTI, itu COPAS tauuu…!!!

            Ini keinginan saya :
            “Saya minta Anda tunjukkin BUKTI dari yang anda ketahui dan anda rasakan dengan menggunakan semua indera yang ada ditubuh Kang Jabir, kalau ga tau ga usah berusaha meyakinkan orang dengan ILMU COPAS2AN. Malu Kang sama anak SD.”

            Yang BEBAL siapa….? Anda mungkin, BEBAL = BElum BAca Lancar. Xixixixixixixixixi

            Saya mintanya apa, dia jawabnya apa.

            Siapa yang meremehkan gelar profesi seseorang….? Saya juga civitas akademika yang insya Allah satu tingkat diatas Bu Dyna, Memangnya gelar bisa memperlancar apa diakhirat kelak….? Saya ga bahas masalah ini ya -skip-.

            Kenapa anda jadi senewen….? Ketauan kalau anda tidak punya bukti otentik, hanya mengandalkan COPAS atau anda benar2 kepanjangan kata dari BEBAL diatas…?

          11. Kang @Ucep :

            Amppuuuunnn daaahhh…

            Sayakan juga sudah kasih tau diatas, bahwa tingkat kesarjanaannya Bu Dyna, tidak ada pengaruhnya apa-apa. Kan saya bilang, dia mengambil sumber dari IRIB, bukan buah tangan dari Bu Dyna sendiri.

            Kalau itu tulisan tangannya sendiri, dia berkunjung, dia menganalisa, dia melakukan wawandara dia melihat kondisi secara langsung, naah itu wajib kita hargai gelar kesarjanaannya. Masalahnya dia kan mengambil sumber informasi dari musuhnya Sunni.

            Gitu loh Kang Ucep

          12. @dodol
            Nih ane kasih tahu supaya jelas : Dibagian Hubungan International itu ada banyak wilayah Negara yang dipegang. Kalau sudah S2, biasanya sudah spesialisasi wilayah, Mungkin Dyna Sulaiman mengambil wilayah Negara Persia (Iran), jadi dia fokus kepada negara Iran.
            Apalagi dia civitas akademika UNPAD, jadi dia specialis Iran.
            Seperti ente kerja di PT A, pegang Jabatan X, kan sebelumnya ditanya specialist ente apa ? specialist ente X, jadi jabatan itu yang dikasih ke ente.
            Mungkin pemikiran ente yang mengkrucut Syiah, jadi ya gitu jadinya sudhzon melulu sama yang berbau syiah.

          13. Kang Ucep…

            Bukan masalah penjurusan di Hubungan Internationalnya kan yang kita bahas.. Titk beratnya kan apakah itu tulisan tangan dari Bu Dyah atau bukan….?

            Kalau dilihat dari blognya, maka artikel tersebut diambil dari GFI Global Review, artinya bukan 100% tulisan tangan Bu Dyah

          14. Satu lagi Kang Jabir….

            Anda tau kepanjangan IRIB….?
            Islamic Republic of Iran broadcasting atau IRIB World Service.

            Ketauankan asal copas aja untuk mencari PEMBENARAN dan bukan KEBENARAN.

            Tidak bisa dipungkiri, bahwa IRAN adalah pusatnya SYIAH. Jelas dong Kang Bibir…. Eh maaf, Kang Jabir, dia akan menulis sesuai dengan kepentingan dari Syiah, dan menjelekkan Sunni. Kok acuan ngambilnya di sumber yang tidak sesuai dengan manhaj Aswaja.

            Aneh memang orang2 Aswaja, katanya Ahlus Sunnah, tapi ambil berita dari source Syiah. Heleh heleh….. Coba lihat di detik.com sekarang MUI MENGELUH dengan diadakannya Tabligh Akbar yang sering dilakukan dengan menutup jalan (menganggu hak orang lain). Anehkan….? Mau Ibadah tapi merugikan hak orang lain.

            Anda sekolah dulu deh yang bener, baru coba berusaha memposting yang baik dan benar.

          15. benar dodol antum ini, sekarang ini sumber berita yg membela ummat Islam yg terbaik dari mana? Masak dari Wahabi, mana ada Wahabi bela Islam, paling cuma bela kepentingan Wahabi demi pertahanan kerajaan Saudi kan? Lihat siapa penolong Arab Saudi, orang2 mukmin apa orang2 kafir dari Barat? Siapa sekarang yg menjaga Arab Saudi dg bayaran yg bukan main-main?

            Makanya jangan banyak omong antum, ntar malah semakin kebongkar kebejatan Wahabi terhadap muslimin.

          16. dodol, pakailah nama yg terbaik, nama antum itu semakin memperjelas dirimu yg memang dodol banget.

            Saya ingatkan, jengan bilang : Suny Sunny, tapi bilanglah Wahabi, oke? Kalian itu Wahabi, ya sudah pakai aja Wahabi nggak usah pakai Sunny-suny itu fitnah tahu? Emang kalian nggak takut dosa kerjaan fitnah memlulu setiap waktu semnjak dulu. Kapan sembuh?

  31. Beginilah tabiat orang2 yang merasa LEBIH BAIK dari yang lainnya. ….

    Anda sekolah dulu deh yang bener, baru coba berusaha memposting yang baik dan benar…..

    SEBENARNYA YANG SOMBONG ITU SIAPA YA …?! NGERTI GA SIH OMONGAN SENDIRI ?!

    1. Kang @Bima :

      Ada saya tulis dan bahas masalah SOMBONG….?

      Kita bahas disini masalah Syria, tidak usah membolak balikan pokok bahasan diskusi sehingga jadi melebar.

  32. Mau ikut belajar bagi info ah … Tapi jangan ada yang bilang BODOH yah ?

    Inilah Upaya Terselubung Saudi di Suriah
    Selasa, 27 November 2012, 12:42 WIB
    REPUBLIKA.CO.ID, Arab Saudi mengumumkan pembentukan lembaga Amar Makruf Nahi Munkar di kota Aleppo Suriah dan mendirikan cabang Wahabi di kota ini.
    Lembaga Amar Makruf Nahi Munkar Aleppo adalah institusi Saudi yang dikenal dengan lembaga pelaksana agama dan mayoritas anggotanya terdiri dari orang-orang ekstrim yang dikenal dengan nama Muthawi, demikian dilaporkan Fars News Selasa (27/11).
    Dua hari setelah didirikan, lembaga tersebut langsung mengeluarkan fatwa melarang perempuan mengemudi. Terkait fatwa ini, kelompok pemberontak Suriah, Free Syrian Army (FSA) menegaskan bahwa pelanggar fatwa itu harus dihukum dan dianggap sebagai teroris.
    Sheikh Ahmad Abdul Latif Abdullah, salah seorang ulama dan mubaligh Suriah mengatakan, fatwa ini aneh bagi masyarakat Suriah mengingat warga negara ini tidak mengenal interpretasi ekstrim dari prinsip agama seperti yang terjadi di Saudi.
    Ia menambahkan, hal ini membuktikan dengan jelas intervensi Saudi dalam krisis Suriah dan menunjukan upaya untuk mengubah Aleppo mejadi kawasan Salafi ekstrim guna mencegah terbentuknya Muqawama di kawasan, bahkan mereka mengkafirkan setiap pihak yang mendukung Muqawama dan perjuangan melawan rezim Zionis Israel.
    Sheikh Abdullah yang juga anggota pakar hukum agama Damaskus mengkritik keras Wahabi dan mengatakan, Wahabi dengan kedok agama berusaha memposisikan dirinya sebagai wakil Islam yang sebenarnya, hal ini tidak boleh dibiarkan terjadi di Suriah.
    Wahabi di Saudi, masih kata Sheikh Abdullah, tidak sedang melaksanakan hukum-hukum fikih Islam, sebab para fuqaha tidak mempunyai argumentasi syariah yang melarang perempuan mengemudi. Pendekatan Saudi ini dan pendekatan-pendekatan Wahabi lainnya hanya khusus Al Saud dan tidak ada hubungannya dengan Islam, tetapi penafsiran salah tentang Islam.
    Menurut Sheikh Abdullah, pembentukan Wahabi di Suriah yang diprakarsai oleh Wahabi Saudi, FSA dan front An-Nusra yang berafiliasi dengan al-Qaeda sebagai upaya untuk menyerang rakyat negara ini.
    Lebih lanjut ulama Suriah ini memperingatkan langkah-langkah Wahabi Saudi dan menegaskan bahwa langkah untuk mengalihkan pandangan masyarakat Suriah merupakan upaya yang sangat berbahaya, sebab dengan mengeluarkan fatwa-fatwa aneh, mereka ingin menyulut ketegangan di antara masyarakat dan memanfaatkannya untuk merealisasikan langkah-langkah anti-Islamnya.
    Redaktur: Endah Hapsari

    1. @ Kang Bima…

      Cuapeeeee deeeh….!!!!

      Wong lagi bahas masalah Suriah, tidak mendeskreditkan Salafy or Aswaja, kok jadi bulan2an menyerang Manhaj tertentu.

      Disini semuanya jago copas ya… Yang mana artikel yang menyerang lawan debatnya, langsung dipsoting, tanpa mau tau sumbernya netral atau tidak.

      Saya kasih tau saja untuk source anda, walaupun mengambil dari sumber Republika, tetapi penulisnya tetap mengambil Source dari IRIB.

      Saya tampilkan kembali apa kepanjangan IRIB.
      Anda tau kepanjangan IRIB….?
      Islamic Republic of Iran broadcasting atau IRIB World Service.

      Sunni VS Syiah akan terjadi selamanya, bagaikan minyak dan air, tidak mungkin menyatukan kedua belah pihak.

      Kalau sumbernya dari Iran ya berarti keluar dari golongan syiah. Sekali lagi deh saya mau bertanya…. Kang Bima ini Aswaja BENERAN atau JADI-JADIAN…? Sumber2 dari jelas2 musuh Sunni kok diambil sebagai dasar.

      Susahkan memang… Kalau orang2 yang keras hatinya, cuma berkali kali cari PEMBENARAN bukan KEBENARAN. Mungkin dipokok2 bahasan yang lain semuanya seperti itu ya. Cuma mengandalkan ilmu seribu ilmu — COPAS —

      Biar anda kelihatan apa Kang Bima….?

      1. Dodol dodol, dodol kog diperlihara..sunni dan syiah bisa akur…buktinya diirak (sebelum invasi amerika) adem ayem tuh syiah sunni, di yaman sunni syiah adem ayem, Di indonesia jg adem ayem ga ada konflik besar. Palastina Hamas (sunni) dibantu Iran. Setelah ada Wahabi, sunni syiah mulai dikomporin alias di adudomba..

        1. Tepat mbak shofy, itulah yg saya maksudkan, makanya saya larang dodol@ agar jangan sebut Sunny-sunny… lha Wahabi pakai kedok Sunny ya kisruh alias ontran-ontran banjir darah. Makanya hati2 dah sama fitnah Wahabi, fitnah Wahabi salah satunya adalah ngaku2 Sunny. Mestinya mereka gentle menyebut dirinya Wahabi biar gak menimbulkan fitnah.

          Syi’ah itu aliran sesat sesat tapi gentle, mereka bangga menyebut dirinya Syi’ah. Lha kalau Wahabi? Mendompleng kepda nama besar Sunny, apa nggak menimbulkan fitnah?

          1. Jabir….

            Apa pangkat anda melarang larang saya menggunakan kata-kata Sunni…? Kalau sudah terpojok dan tidak bisa menjawab, langsung menuding orang dengan seenaknya. Yang mulai dengan bahasa BEBAL, DUNGU dlsbnya kan anda, bukan Saya.

            Balik kepokok bahasan, ini bermula dari anda Kang Jabir.

            Kang @Bima :
            Oh ya… Taukan dodol garut, makanan tradisional masakan jawa barat yang sangat lezat tersebut…? Karena itulah saya menggunakan nama saya, karena saya suka sekali dengan kuliner. Dodol konitasi negatif, akan keluar dari orang2 yang NEGATIF pula.

            Siapa yang Salafy…?
            Siapa yang Wahabi…?

            Kenapa ujung2nya selalu dikaitjan disana…? Saya sudah buka front di replynya Mas @Cok. Datang aja Kang, saya ingin melihat bibir anda yang melambai indah karena terbiasa menghina sesama muslim.

          2. Lha nte salahin diri sendiri, kenapa nte pakai nama dodol, kan di masyarakat sudh terkenal dodol itu kalau dikaitkan dg orang maka konotasinya pasti negative, bisa otak udang, bebal, dungu . Coba tanya deh ke masyarakat, atau antum panggil orang dg nama dodol, pasti marah, minimal sakit hati. Lha nte malah bangga.

            Bukan berarti saya nggak suka makanan dodol lho, sebab teman2 saya suka bawain dodol Garut yg enak, he he he…

          3. Jabir….

            Karena anda orangnya NEGATIF, makanya jadi negatif.

            Kalau anda memanggil teman anda dengan kata DODOL, dan niat dalam hati untuk mnghina, pasti teman anda tersinggung.

            Semakin anda berkomentar semakin kelihatan tabiat anda

        2. Mba Shoffy ya ternyata…
          (Maaf, tadi dibawah saya panggilnya Kang)

          Satu lagi orang yang selalu berlandaskan dengan “KATANYA”…. Ga baik ah, kalau memang hasil dari pengamatan sendiri, saya angkat topi buat Mba Shoffy.

          1. kang dodol, Apakah kamu rela suni syiah saling berperang, sesama org islam perang? jangan bawa2 suni syiah dalam masalah suriah. Yang terjadi di suriah adalah Perang KEPENTINGAN
            Orang suriah cuma jadi korban kepentingan. Dilihat dr sudut pandang kepentingan, siapakah dibelakang kelompok pemberontak (AS, Israel, Turki,Arab Saudi) Apa motif mereka begitu bernafsu ikut terlibat dalam perang, apakah karena kemanusiaan dan demokrasi (tidak mungkin contoh kasus libia) atau ada maksud ekonomi dan keamanan israel?

            Berpikirlah yang jernih lihat masalah jangan dr satu sisi aja

          2. Mba Shofy…

            Kalau saya menginginkan perpecahan, ga mungkin saya reply komentar dari Mas Cok, untuk menggalang persatuan umat Muslim.

            Anda berhak kok untuk terkontaminasi dengan informasi-informasi yang berbeda dan terkesan saling bertolak belakang.

            Permasalahannya… Informasi yang kami punyai adalah bersumber dari Rakyatnya sendiri.

            Jujur… Awalnya juga saya berfikiran seperti Mba Shofy… Karena awalnya saya menerima informasi hanya SATU ARAH saja. Kalau memang Mba Shofy bisa membuktikan dari hasil investigasi Mba Shofy langsung, ya monggo Mba… Diperbolehkan kok.

            Saya tidak akan menyanggah akan hal tersebut… Kan sama-sama sumbernya dari Suriah langsung.

            Tapi kalau hanya KATANYA… Dan tulisan orang lain dijadikan landasan pemikiran Mba… Berarti kita ngebahasnya bukan apple to apple. Jadinya ga sebanding Mba.

            Coba juga buka hati Mba untuk menerima informasi yang A1, dan tidak bersumber dari kedua belah pihak yang berkonflik.

          3. Apa bener situ dapet informasi dari rakyat suriah semuanya? Sudah berapa responden yg ente wawancarai? Apakah dr 10 org rakyat suriah sudah mewakili pendapat seluruh rakyat suriah?

          4. he he he… betul juga ya mbak shofy, atau mungkin kang dodol bersama teamnya lagi bikin LSS (Lembaga Survey Suriah) di Damaskus

          5. @Shofy, @Ayu, @Sarah…

            Saya heran dengan kalian semua… Kok nda Pria atau Wanita yang ada disini (tidak semuanya sih), diajarkan berakhlak seperti itu. Anda perempuan2 yang berhati lembut, tidak sepantasnya berbicara seperti itu, terutama Sarah. Kalau memang anda Aswaja sejati, tidak mungkin berakhlak demikian.

            Dalam penelitian ilmiah, ada urutan proses yang harus dilakukan antara lain :
            1. Perumusan Masalah
            2. Pengumpulan Data dan Informasi
            3. Pengolahan Data
            4. Hipotesa

            HIPOTESA yang kami simpulkan adalah berdasarkan sampling dari populasi yang sudah kami uji juga dengan ilmu statistik, yaitu uji kecukupan data.

            HIPOTESA yang ada adalah 1 Juta % MUTLAK milik kami, karena kami yang melakukan pengujiannya, bukan milik Salafy, bukan milik Aswaja, bukan milik IRIB or IRNA, bukan milik CNN dlsbnya.

            Apa yang kamu punyai Sarah…? Kamu nda pegang data2 saja, sudah seperti manusia yang mempunyai KEBENARAN SEJATI. Saya yakin ini bukan bentuk ajaran Aswaja… Akhlak seperti yang kalian punya akibat dari HABIT atau DIMANA SEHARI HARI ANDA BERGAUL.

            Baca comment2 sebelumnya… Saya tidak melarang anda semua mendapatkan informasi dari manapun, tetapi kalau mau dijadikan acuan, coba berpihak kepada sumber yang netral. Kamu sudah melakukan penelitian yang ilmiah belum disana….? Baru boleh membantah saya.

            Ayuuukk…. Kita duduk bersama, biar saya sajikan hasil pengamatan kami dalam bentuk responden dan video rekaman kami, dari kelompok masyarakat yang berbeda disana.

            Anggaplah bukan perang Sunni VS Suiah disana, banyak saudara kita semuslim yang menderita kedinginan sekarang akibat kejadian ini.

            Apa yang 3 dara sudah pikirkan (saya tidak bertanya apa yang sudah anda lakukan) untuk masyarakat Muslim yang menderita disana….? Kepikiran pun TIDAK… Hanya berusaha membela teman2nya saja yang terpojok disini, akibat berbalas pantun di web ini. Apalagi anda mempunyai data otentik.

            Bagi Teman seperjuangannya 3 Dara ini, mohon dibantu dididik akhlak yang baik terhadap mereka, jangan hanya bermodal “PRET PRET PRET” saja.

            Kasihan sekali calon2 suami dan suami mereka.

            Kebenaran hanya milik Allah Semata.

          6. Bagi saya nggak masalah nte bilang apa pun tentang saya, prinsipnya orang sombong kayak nte harus dilawan nggak perlu pakai sopan-sopanan, itu saja!

          7. @Sarah…

            Yang SOMBONG siapa….? Tidak pernah saya membual tentang apapun.

            Harus DILAWAN….? Masya Allah, jadi misi kamu disini bukan untuk mencari KEBENARAN…?
            Lawan saja
            Hantam saja
            Hancurkan saja
            Itu yang kamu inginkan…? Kok jadi tidak jernih pikiran anda ya.

            padahal kita tidak pernah ada masalah PERSONAL. Luar biasa budi pekerti hasil didikan orang tua kamu ya.

            Perbedaan itu INDAH… Kalau kamu tidak suka perbedaan, hidup saja dengan sekelompok orang2 kamu. Jangankan sebatas teman di web ini, sesama saudara sekandung pun terkadang ada perbedaan.

            Semua langsung lari ke masalah INDIVIDU, bukan menyelesaikan apa yang menjadi TOPIK pembahasan.

            Istighfar sarah…!!! Anda merepresentasikan Aswaja yang memang tidak berkelakuan yang sama dengan anda, kasihan bagi Aswaja yang masih punya kesantunan dalam berdiskusi.

          8. dodol, ga usah ngeluarin tanduk gitu dong say….. hati kita tetap lembut kok…. apalagi buat orang dodol, harus sabar….he he he
            lanjut dong say ceritanya di suriah…… sy setia menemanimu

            Kebenaran hanya milik Allah semata, bukan milik kaum wahabi

          9. dodol santai aja say, a usah keluarin tanduk segala….. he he he hati kita tetap lembut kok apalagi buat orang yang dodol,……. ayo terusin ceritanya di suriah dong say…

            Kebenaran hanya milik Allah semata, bukan milik wahabi

          10. Dol@

            Cari aja berita perkembangan konflik Suriah yg terbaru, sekarang ini rakyat suriah sudah sadar dan bersatu membantu pemerintah mengatasi gerakan terorist wahabi di sana. Jadi nte jangan membual deh. kalau lihat gayamu gak mungkin doyan informasi dari selain Wahabi, ketahuan prett banget nte Dol, he he he heh….

          11. dodol,
            Iblis itu sombongnya baukan main, tapi lihatlah iblis merasa biasa2 aja, ya kan dol?

            nih lho saya kasih tahu daftar kesombongan nte, kayaknya kok nte nggak tahu kalau nte ini sombongnya bukan main?

            Amppuuuunnn daaahhh…

            Sayakan juga sudah kasih tau diatas, bahwa tingkat kesarjanaannya Bu Dyna, tidak ada pengaruhnya apa-apa. Kan saya bilang, dia mengambil sumber dari IRIB, bukan buah tangan dari Bu Dyna sendiri.

            Lihat postingan saya setelahnya….
            Mau Magister kek
            Mau Professor kek
            Mau Super Duper Profesor kek. Saya TIDAK PEDULI

            Sayakan juga sudah kasih tau diatas, bahwa tingkat kesarjanaannya Bu Dyna, tidak ada pengaruhnya apa-apa. Kan saya bilang, dia mengambil sumber dari IRIB, bukan buah tangan dari Bu Dyna sendiri.

            Bukan masalah penjurusan di Hubungan Internationalnya kan yang kita bahas.. Titk beratnya kan apakah itu tulisan tangan dari Bu Dyah atau bukan….?

            Kalau dilihat dari blognya, maka artikel tersebut diambil dari GFI Global Review, artinya bukan 100% tulisan tangan Bu Dyah

            Tidak bisa dipungkiri, bahwa IRAN adalah pusatnya SYIAH. Jelas dong Kang Bibir…. Eh maaf, Kang Jabir, dia akan menulis sesuai dengan kepentingan dari Syiah, dan menjelekkan Sunni. Kok acuan ngambilnya di sumber yang tidak sesuai dengan manhaj Aswaja.

            Sunni VS Syiah akan terjadi selamanya, bagaikan minyak dan air, tidak mungkin menyatukan kedua belah pihak.

            Kalau sumbernya dari Iran ya berarti keluar dari golongan syiah. Sekali lagi deh saya mau bertanya…. Kang Bima ini Aswaja BENERAN atau JADI-JADIAN…? Sumber2 dari jelas2 musuh Sunni kok diambil sebagai dasar.

            Tapi kalau hanya KATANYA… Dan tulisan orang lain dijadikan landasan pemikiran Mba… Berarti kita ngebahasnya bukan apple to apple. Jadinya ga sebanding Mba.

            Kamu sudah melakukan penelitian yang ilmiah belum disana….? Baru boleh membantah saya.

            nah… Itulah sedikit daftar perkataan nte yg mencerminkan nte itu sombong kayak iblis, yg mana iblis pun nggak paham kalau dirinya sombong. Yang mana kesombongan nte karena bersumber dari aktifitas nte sebagai bagian dari terorris Wahabi di Suriah. Padahal yg melakukan pengamatan di san bukan nte saja. Ente hanya ibarat sebatang jarum di tumpukan jerami, diantara para pengamat di tengah karut marut konflik Suriah.

          12. Dodol says:
            January 10, 2013 at 7:04 pm
            “Sunni VS Syiah akan terjadi selamanya, bagaikan minyak dan air, tidak mungkin menyatukan kedua belah pihak.”

            Ini maksutnya apa? Ngomporin apa provokator. Katanya
            “Dodol says:
            January 11, 2013 at 11:17 am

            Mba Shofy…

            Kalau saya menginginkan perpecahan, ga mungkin saya reply komentar dari Mas Cok, untuk menggalang persatuan umat Muslim.”
            tolong dijelasken

  33. @ Mas Dodol

    Dodol:”Disini semuanya jago copas ya… Yang mana artikel yang menyerang lawan debatnya, langsung dipsoting, tanpa mau tau sumbernya netral atau tidak.”

    Coba tunjukan bahwa source berita anda juga netral..tidak condong pada kepentingan Wahabi.. Justru saudara2 kita disini sebagian besar meragukan sumber berita dari media yang condong pada wahabi..

    Dodol : “Yang kami lihat dan amati disana justru orang2 Salafy lah yang membantu Rakyat Sunni disana akibat kekejaman rezim syiah. TIDAK ADA SATU ORANGPUN atau LEMBAGA apapun yang dari Aswaja datang membantu saudara-saudaranya yang sedang dalam keadaan menderita disana. Apa mungkin terlalu sibuk untuk menghujat sesama saudara semuslim Salafy, yang jelas jelas mempunyai kesamaan dalam Aqidah….?”

    Apakah anda mengamati langsung atau baca dari sumber berita luar negeri?
    Setahu saya..Wahabi itu mengkafirkan syiah..banyak tersebar di situs situs salafy wahabbi berbagai argumen kekafiran syiah..maka wajar jika wahabi sangat benci.

    Sedangkan Aswaja sangat berhati-hati menilai syiah..menimbang dengan sangat hati-hati kesesatan dalam konsep yang ada pada syiah..perkara akidah wahabi dan aswaja, berbagai artikel tersebar di situs ini menunjukan banyaknya aqidah wahabi yang melenceng dari aswaja.. pun demikian tidak ada kawan2 aswaja yang sembrono berani mengkafirkan wahabi..aswaja bukan takfiri seperti perbuatan wahabi terhadap syiah.

    1. Mas @Cok dkk
      (Kenapa jadi main keroyokan gini yah)

      Saya mengamati dengan kepala sendiri terhadap kejadian di Syria. Saya tidak mengambil berita dari media massa manapun akan hal ini.

      Jadinya sourcenya adalah kami dan team. Bukan dari siapa-siapa, dan tidak mengandalkan ilmu beribu ilmu “Copas”.

      Kalau Mas Cok dkk punya BUKTI OTENTIK, mendingan kita KOPI DARAT aja.
      Kang Jabir (ahli Bibir dan Bebal), Kang Ucep, Kang Bima, Kang Shofy dan yang lainnya. Ayuuukkk…

      Kebetulan anda semua mengecap saya adalah Salafy, katanya orang2 Salafy takut untuk duduk bareng diskusi secara ilmiah. Kalau saya berani, apakah masuk golongan tersebut….?

      Seandainya dipertemuan nanti, anda tidak bisa membuktikan bukti otentik yang anda miliki dari sumber yang anda dapatkan sendiri, saya cuma minta… Anda mengaku SALAH dan MEMINTA MAAF didalam web ini. Setuju….?

      1. mulai ngeluh ya, merasa dikroyok. Makanya kalau masuk sini siap mental, he he he…. terus yg gentle, kalau Wahabi ya Wahabi, nggak usah nyamar. Pasti ketahuan dari gaya nte!

        1. Kang Jabir…

          Saya hanya takut dan mengeluh kepada Allah semata. Monggo… Mau seberapa banyak pun untuk kasus Syria ini saya akan jabanin.

          1. Kang Jabir…

            Sudah berkali-kali saya bilang itu bukan tulisan Bu Dyna… Dia mengambil link dari GFI, perlu saya munculkan juga linknya disini, bahwa diakhir tulisannya ada “Sumber : GFI-IRIB”…?

            Nanti anda mali sendiri loh, karena semuanya kan online, sekali klik keliahatan apakah saya membual atau tidak.

      2. Lho bukan main keroyokan mas..anda pun boleh memanggil teman2 anda untuk diskusi disini..blog ini tidak dimoderasi kok..

        Jadi sekarang anda dan tim sedang di Syria mas? dalam rangka apa?

        1. Mas @Cok :

          Sudah di Indonesia Mas… Makanya saya 3 bulan tidak pernah online. Dalam rangka memberikan sumbangan dari Rakyat Indonesia tanpa melihat dari Manhaj mana yang memberikan sumbangan.

          Kalau boleh jujur… Rakyat disana justru mengidolakan FSA yang memberikan rasa keamanan bagi mereka, dan yang mereka ketahui, FSA adalah kebanyakan dari Rakyat Suriah yang Sunni.

          Seiring berjalan perang yang berlarut larut… Mulai banyak Mujahidin2 dan Brigade2 yang berdatangan dari negara terdekat dengan Suriah. Bahkan Bule Australia pun banyak yang mengikuti gerakan Jihad disana.

          Begitu dibilang Indonesia…. Apakah dia negara muslim…? Kata Rakyat Suriah. Geteeeerrr nda hati Mas Cok…? Kita Muslim terbesar di dunia, tidak dikenal dengan baik oleh mereka.

          Kita terlalu sibuk berdiskusi menuding Manhaj yang tidak sealiran dengan apa yang kita anut.

          Ada baiknya kita berpegangan tangan satu sama lain saling melengkapi saja, misalnya :
          Mau belajar Hadits : Salafy (sama2 ke Salafy)
          Mau belajar ngumpulin Massa : Aswaja (sama2 bersilaturahmi)
          Mau mendidik mental : FPI (sama2 mendidik mental berani)
          Mau belajar pertahanan diri : HAMAS : (sama2 belajar hal tsb)
          Mau belajar mengislamkan : JT
          Mau belajar Jihad : Jihadis
          Dlsbnya.

          BESAR dan KUAT ngga kalau ISLAM seperti diatas, saling melengkapi dari semua Manhaj.

          1. nggak usah membual, dol. Klaau mau kalian aja datang ke Buya Yahya atau Tengku Zulkarnaen, atau ke ustadz Muhammad Idrus Ramli, mentalah pencerahan kepada beliau2 ini, kalian kalau diundang diskusi aja pada nggak berani muncul,

            Lihat aja di Arab saudi, Imam Masjid yg dulu diimami oleh 4 mazhab sekarang imamnya diborong Wahabi sendiri, jadi jangan membual soal persatuan Islam wong kalian sukanya menyempal n menyendiri. Kalau ada umat Islam rukun, eh kalian datang mengadu domba. Malah fakta kalau di Libya itu masjid diobrak-abrik pakai buldoser, persatuan Islam macam apa yg nte maksudlkan?

          2. Kamu urus dulu orang tua kamu dengan benar ya… Kenapa saya dikaitkan dengan kelompok tertentu…?

            Saya melempar wacana untuk persatuan malah diabaikan. Hebaaatt…!!! Seakan akan kamu orang yang paling cinta PERSATUAN. Apa ngga kebalik dengan tulisan anda sendiri

          3. itulah fakta dol, makanya jangan sok berseru tentang persatuan Islam. kalau maksud nte yg disebut persatuab Islam itu muslim harus ikut fdaham Wahabi, maka lupakan Dol. itu bukan persatuan Islam, tetapi persatuan Wahabi.

            Mengenai keberangkatan nte ke Suriah, kalau nte benar kesana, apakah saya harus biklang “WOW” gitu ya? Sama sekali saya nggak gumun atau kagum, biasa itu. Lalu pulang ke Indonesia mengabarkan Sunny dibantai syi’ah. Kalau ya, ngapain para Ulama Aswaja membantu pemerintah di sana? Saya lebih percaya Ulama Aswaja (Sunny) daripada nte. Paham? jadi jangan maksa ya?

            Lagian perkembangan Suriah sekarang sudah berbeda, Wahabi akan gigit jari sebab tujuannya tidak akan tercapai di sana. Kasusnya beda dg Mesir atau Libya yg mana Wahabi Sukses besar.

  34. Dodol Doktor Bloon. Maunya sumber Arab Saudi doang. Emang cuma LO doang yang bisa merendahkan orang dengan SURUH Belajar. Seolah-olah udah paling pintar. Ga merasa sombong. Lo salahin aja Republika dan semua yang tidak sesuai dengan nafsu lu. Emang LO doang yang bisa ngomong kasar?

        1. Bima + Jabir…

          Coba bersikap tenang ya. Yang tidak percaya dengan Republika siapa…? Saya juga langganan korannya juga kok.

          Naaah… Untuk membuktikan saya membual atau tidak. Kan tadi Kang Bima mengcopas link di Republika. Tapi sourcenya ga ditampilin.

          Kebetulankan semuanya sedang ONLINE, maka coba buka tautan link dibawah ini, redakturnya benar dan disitu tercantum “Sumber : IRIB”

          //m.republika.co.id/tablet#/mobile/berita/internasional/global/12/11/27/me4t7i-inilah-upaya-terselubung-saudi-di-suriah
          (Tambahin “http:” ya depannya, biar ga usah menunggu di approve moderator)

          Monggo dilihat, apakah saya membuat atau tidak. Kalau saya benar bahwa ada sumbernya dari IRIB, dan bukan hasil pengamatan langsung dari wartawan, maka itu hanya sekedar bacaan saja.

          Dan jika saya benar lagi…. Kang Bima, buru2 cuci kaki saja. Bobo deh udah malem, nanti besok terlambat masuk sekolah. Belajar yang rajin ya nak.

          1. Dari kalimat2 nte inilah bisa diketahui nte Wahabi atau yg lain, makanya dari awal ngaku aja Wahabi biar gentle. Seperti Syi’ah aja gentle, mereka bangga sebagai syi’ah, lah anda belum apa-apa sdah bilang; “saya bukan Wahabi….dst.” Cek tuh koment antum dari awal sekali.

          2. Anda saja yang ngecek… Supaya lancar bacaan anda. Lagi2 ke Salafy dan Wahabi… Apa yang ditulis diatas direply dengan yang ngga nyambung.

            Jaka Sembung Membuka Tabir
            Jabir ga nyambung suka mencibiiiiiiiirrrrrr….!!!!

          3. Mas dodol, sudah suratan taqdir kita diciptakan berbeda-beda dg ciri khas masing2. Wahabi dan orang2nya punya cirikhas tersendiri, begitu juga Aswaja, juga Syi’ah. Dalam khotbah Jum’at aja beda lho cirikhasnya antara Wahabi, Syi’ah dan Aswaja.

            Begitu juga dalam berkoment di blog, selalu ketahuan walau pakai kedok apa pun, sadar nggak mas? Walaupun bahasanya dihalus-haluskan ketika menyamar agar nggak ketahuan akhirnya tetap ketahuan, sebabnya adalah Cirikhas tadi, dan bisa tahu tentu yg sudah malang melintang di dunia koment berkoment.

          4. kang dodol, setelah saya cek dan cari2 antum di postingan2 terdahulu, emang antum seorang Wahabi tulen. antum di blog ini emang sukanya ngaco, itu saya lihat koment2 antum di postingan2 tahun 2010. Antum sudah lama mnghilang, eh sekarang muncul lagi belum ada perubahan gaya, ngaconya masih seperti yg dulu….. he he he kayak lagu “AKU MASIH SEPERTI YG DULU”.

          5. Jabir….

            Perlu saya tekankan… Demi Allah saya baru bergabung di comment web ini di tahun 2012. Kalau ada comment saya di tahun 2010, saya pastikan bahwa itu bukan saya. Anda bisa melihat AVATAR nya apakah sama dengan ID AVATAR saya…?

            Khusus tantangan… Mohon maaf, anda saya cap seperti anak kecil, membuang energi saya saja meladeni anda.

          6. Berarti antum sudah mencabut tantangan kpd saya? Siapa tahu nantinya kita bisa lanjut bertemu secara offline? Bukankah itu sangat bagus, akhi dodol?

          7. Hai Jabir…

            Kelihatannya anda memang benar-benar buta huruf ya… Posisi anda sudah kalah telak disini, dan anda malu terhadap teman2 Aswaja anda. Sehingga sok-soknya dengan berani mengumbar tantangan kepada saya. Supaya kelihatan hebat, benar dan berani ya melakukan hal tsb. Kalau boleh jujur… Kasihan saya melihat anda, hanya melakukan perbaikan PENCITRAAN terhadap diri anda.

            Dari tadi anda kemana…? Bolak balik saya offering hal tersebut.

            Sudahlah…. Tidur aja sana, nanti Mama kamu marah lagi, anaknya malam-malam masih onlineeee aja.

          8. Maaf tadi aku jalan2 dulu, emangnya saya kalah telak dalam apa sih, dimulai aja belum kok sudah kalah telak? Ayo, sekarang dimulai mas, silahkan….

  35. Kalau Republika dituduh Syi’ah, apkah yang di bawah ini juga Syia’ah? Atau semua yang tidak sesuai dengan keinginan Anda adalah Syi’ah?

    Kenapa Suriah?
    Kita ikut berduka-cita karena banyaknya korban berjatuhan akibat krisis di Suriah ini, baik di pihak oposisi dan pemerintah.
    Tapi kenapa Suriah?
    Dr. Joserizal Jurnalis, SpOT, salah seorang relawan medis dan Presidium MER-C yang telah berpengalaman di berbagai lokasi perang dan konflik baik di dalam maupun di luar negeri, menuliskan analisanya terhadap konflik yang tengah terjadi di Suriah saat ini.
    Suriah adalah negara dengan jumlah penduduk 22.517.750 orang (estimasi 2010). Komposisi penduduknya berdasarkan agama adalah Muslim Sunni 74%, Muslim Alawi-Syiah-Druze 16%, Kristen 10%, dll.
    Presiden Suriah sekarang adalah Bashar Assad yang menggantikan bapaknya, Hafesz Assad, seorang Marsekal. Hafesz Assad adalah pemimpin Suriah yang keras dan diktator. Bersama saudaranya Rifyad Assad, mereka membawa Suriah melalui masa-masa sulit terutama dalam perang 6 hari tahun 1967. Hafesz berhasil menangkap Ellie Cohen seorang mata-mata Israel yang menyusup ke pemerintah Suriah sampai menjadi teman dekat Hafesz. Hafesz kemudian menggantung Ellie Cohen walaupun dia diprotes banyak negara. Hafesz juga memberangus Ikhwanul Muslimin, banyak korban berjatuhan karenanya. Namun di sisi lain dia juga mau menerima Hamas berkantor di Damaskus ketika negara-negara Arab tidak mau menerima mereka membuka perwakilan. Hafesz banyak menampung pengungsi Palestina, salah satu kamp yang pernah penulis bersama relawan MER-C kunjungi adalah kamp Yarmuk.
    Bashar jauh lebih lembut dari bapaknya karena dia orang sipil (dokter mata?). Kesalahan Bashar adalah track-record keluarganya yang keras dan diktator, tidak transparan soal keuangan negara dan belum mengembangkan proses demokrasi di negaranya. Tapi kelebihannya, dia kommit terhadap perjuangan rakyat Palestina dengan menyediakan tempat buat Hamas di Suriah dan mendukung penuh Hizbullah. Hamas (Sunni) dan Hizbullah (Syiah) DIDUKUNG PENUH oleh Bashar karena mereka adalah kelompok perlawanan (muqowwamah) terhadap Israel.
    Penulis bersama relawan MER-C pada saat berkunjung ke Lebanon saat-saat akhir perang 34 hari tahun 2006, menyaksikan bahwa kantor Hamas berada di kompleks Hizbullah yang hancur dihajar Israel saat perang 34 hari tahun 2006. Ini sengaja penulis kemukakan untuk MEMBANTAH bahwa Hizbullah PURA-PURA kerjasama dengan Hamas. Hizbullah berhasil mengalahkan Israel dalam perang darat tersebut.
    Saat ini yang jelas melakukan perlawanan BERSENJATA di Timur Tengah terhadap Israel adalah Hamas dan Hizbullah. Penulis bersama relawan MER-C sempat menyaksikan dua pertempuran dahsyat dua kelompok ini melawan Israel. Penulis bersama relawan MER-C masuk ke Gaza saat Israel menyerang Gaza dengan dahsyatnya, 1-2 hari sebelum gencatan senjata. Dalam pertempuran ini, tepatnya 27 Desember 2009 sampai 18-19 Januari 2010, Hamas berhasil menahan laju serangan darat Israel bahkan mengalahkannya.
    Israel sangat serius memandang ancaman kedua kelompok perlawanan ini karena secara kekuatan mereka bukan negara tapi dapat mengimbangi bahkan mengalahkan Israel ketika Israel mulai melakukan serangan darat.
    Tentu Israel harus memikirkan bagaimana caranya melumpuhkan kedua kelompok perlawan bersenjata ini. Untuk Hamas, Israel melakukan kebijakan blokade Gaza karena Hamas memerintah di sini dan terus melakukannya sampai saat ini.
    Untuk melumpuhkan Hizbullah, secara logika yang mudah saja, PUTUS JALUR PENDUKUNGnya. Jalur pendukung tersebut adalah SURIAH. Oleh sebab itu Suriah harus dikuasai secara politik, yaitu GANTI PENGUASANYA !!
    Saat ini di dunia Arab sedang ada trend mengganti penguasa yang sudah lama berkuasa dalam suatu gerakan Arab Spring dengan dalih untuk menegakkan demokrasi. Ini adalah road map-nya kebijakan luar negeri Amerika. Kita tahu kebijakan luar negeri AS ditentukan oleh badan-badan lobby Israel (AIPAC, ADL, CFR, RAND COORPORATION, Bilderberg dll). Dari penguasa yang sudah tumbang dan yang sedang diusahakan tumbang, QADAFI dan BASHAR mempunyai KONTRIBUSI BESAR untuk Palestina. Penulis menyaksikan sendiri bantuan Qaddafi bertruk-truk antri di Raffah Mesir saat Gaza diserang Israel tahun 2009.
    Rencana penurunan Bashar ini semata-mata bukan persoalan Bashar demokratis atau tidak dan tiran atau tidak, karena ada penguasa Arab seperti ini tidak disuruh turun oleh AS, malah diajak kerjasama oleh AS utk menurunkan Qaddafi dan Bashar. Israel menginginkan Bashar TURUN !! Seperti biasa Israel memperalat Amerika Serikat melalui kebijakan luar negerinya.
    Bersamaan dengan semangat Arab Spring, Israel dan AS menunggangi isu ini utk menurunkan Bashar. Supaya lebih efektif isu ini ditambah tonasenya dengan isu sektarian, konflik Sunni-Syiah sama seperti Qaddafi yang disebut inkar sunnah.
    Israel, AS, Arab Saudi, Qatar, Turki dan Eropa berada dalam satu blok melawan Rusia, Cina dan Iran dalam konflik Suriah ini.
    Rusia sangat berkepentingan melawan dominasi AS di Timur Tengah karena tinggal Suriah tempat berpijak Rusia setelah Libya jatuh ke tangan Barat. Selain itu AS juga mengacak-acak Rusia dengan cara meletakkan perimeter anti rudalnya di bekas negara Uni Soviet seperti Georgia.
    Cina tidak mau ketinggalan dalam melawan AS. Setelah berhasil menahan hegemoni AS dibidang ekonomi, Cina diancam oleh AS melalui pergerakan Angkatan Laut AS di Pasifik. Cina saat ini berhasil menciptakan kapal perang anti radar yang membuat AS khawatir.
    Iran adalah negara yang tidak disenangi oleh Saudi Arabia, Qatar dan negara Arab lainnya karena berhasil melakukan REVOLUSI 79 menumbangkan Raja Reza Pahlevi yang juga sahabat penguasa Saudi Arabia. Para raja-raja khawatir revolusi tersebut diekspor ke negara-negara mereka. Salah satu cara untuk mempertahankan kekuasaan mereka, isu yang paling ampuh ditiupkan adalah Iran adalah negara SYIAH bukan negara Islam karena Syiah SESAT.
    Iran mempunyai kepentingan yang besar di Suriah karena Bashar bisa menjamin JALUR LOGISTIK Hizbullah.
    Israel dan Barat menggunakan segala cara untuk menurunkan Bashar termasuk mempersenjatai oposisi dengan senjata berat. Di sinilah peranan Saudi Arabia, Qatar dan sedkit Turki. Israel dan Barat juga menggunakan MEDIA dan PBB untuk membantu mereka. Hal ini mulai terlihat ketika terjadinya pembantaian 25 Mei di Houla Suriah. Korban adalah penduduk sipil termasuk anak-anak dan wanita. BBC langsung menampilkan foto tumpukan korban pembantaian yang sudah dibungkus kain kaffan. Ternyata kemudian terkuak foto tersebut adalah foto korban pembantaian di Irak tahun 2003. Untung pengambil fotonya, Marco Di Lauro mengenali foto tersebut dan memprotes BBC. Pertanyaannya apakah ini keteledoran atau bagian dari kampanye anti Bashar?
    UN Commisioner for Human Right membuat tuduhan bahwa yang melakukan pembantaian tersebut adalah milisi yang loyal dengan Bashar yaitu Shabiyya. Padahal mereka hanya dapat info dari ORANG LOKAL per TELEFON.
    UN Security Council, korban di Houla adalah akibat tembakan ARTILERI dan TANK pada hari Minggu 27 Mei 2012. Tapi pada hari Selasa tanggal 29 Mei 2012 diralat oleh UN High Commission for Human Right bahwa korban DITEMBAK DARI JARAK DEKAT dan DIGOROK LEHERnya. Tapi tuduhan tetap ke milisi pro Bashar. Kemudian terkuak bahwa yang terbunuh itu adalah PENDUKUNG Bashar. Bagaimana mungkin sesama pendukung Bashar saling bunuh?
    Tampak dengan jelas bagaimana media dan PBB berusaha MEMPERKERUH situasi supaya AS dan NATO dapat melakukan intervensi dengan payung PBB atas nama KEMANUSIAAN.
    Konflik belum selesai, kita lihat bagaimana permainan Israel ini berjalan…
    Dr. Joserizal Jurnalis, SpOT
    Relawan Medis MER-C

    Siapa yang pertama kali komentarnya NGACO?

    Dodol says:
    January 9, 2013 at 11:14 pm

    @ Jabir :

    Kalau anda baru denger katanya, ga usah comment tentang masalah Suriah. Sudah anda datang kesana…? Sudah melakukan pengamatan secara langsung…?

    Jawab :
    Apa pangkat Anda bilang “ga usah comment …”

    Dodol say :
    Beginilah tabiat orang2 yang merasa LEBIH BAIK dari yang lainnya. ….

    Doldo juga berkata :
    Anda sekolah dulu deh yang bener, baru coba berusaha memposting yang baik dan benar…..

    Jawab :
    Emang Anda siapa ….? Siapa yang sebenarnya merasa lebih baik dari yang lain? Yang nyuruh orang lain sekolah yang benar. Yang bangga dengan DOKTOR.

    1. Sssstttt….. Bobo aja dehh.

      Saya ga bilang Republika Syiah. Saya langganan korannya juga kok.

      Udahhh cepeteaaan bobo aja sana, tukang COPAS.

    2. syukron Mas Bima……..

      kang dodol, itu jabanin juga fakta yg diajukan Mas Bima, sumbernya dari Dr. Joserizal Jurnalis, SpOT, kenal kan sama beliau? Silahkan dijabanin juga ya?

        1. jawab yg jujur, emangnya anda sudah pergi ke Suriah? Atau anda bagian dari intel Wahabi yg disebar di Suriah untuk mengacak-acak Suriah? Kalau Ya, berarti antum melihat sendiri kejadian2 di sana. Mantab kalau begitu kang?

          1. Ga usah saya jawab ya…

            Anda bisa scroll aja keatas. Ngapain jawab pertanyaan anda, dari tadi saya mengajukam pertanyaan juga tidak di amini oleh anda.

            Ujung2nya nuduh
            Ujung2nya berkilah
            Ujung2nya mau muter2 aja, ga pernah pertanyaan saya dijawab dengan tegas.

            Terakhir saya bicara ke anda… Anda bener bener BEBAL (BElum BAca Lancar) ya…?, ga pernah nyambung berdiskusi dengan anda. Contoh Mas Cok diatas, beliau dengan kalimat yang sopan, sayapun menanggapinya juga dengan sopan.

          2. lho, antum jadi nantang saya nggak? kalau masih nantangin ya jawab dong, itu saya mulai dg pertanyaan, he he he…. lanjuut.

  36. Dodol kate :

    Kang @Ucep :

    Amppuuuunnn daaahhh…

    Sayakan juga sudah kasih tau diatas, bahwa tingkat kesarjanaannya Bu Dyna, tidak ada pengaruhnya apa-apa. Kan saya bilang, dia mengambil sumber dari IRIB, bukan buah tangan dari Bu Dyna sendiri.

    Kalau itu tulisan tangannya sendiri, dia berkunjung, dia menganalisa, dia melakukan wawandara dia melihat kondisi secara langsung, naah itu wajib kita hargai gelar kesarjanaannya. Masalahnya dia kan mengambil sumber informasi dari musuhnya Sunni.

    Gitu loh Kang Ucep

    Bagaimana dengan Dr. Joserizal dari MER-C Indonesia, yang terjun dan mengamati langsung? Apakah Syi’ah juga ?

  37. @mas Dodol
    Mungkin perlu anda kemukakan disini, kenapa sumber berita IRIB/IRNA atau syiah begitu anda tolak.. Apakah keluarga Asad itu sudah kafir sehingga harus diperangi sehingga para penentangnya (FSA) mendapat titel mujahidin?

    1. Mas Cok…

      Saya mencoba semampu saya meresume dari awal didalam keterbatasan kalimat di web ini ya Mas.

      Awalnya konflik yang terjadi adalah tirani kekuasaan yang turun menurun yang terjadi disana selama berpuluh2 tahun (seperti yang dicopas sama Kang Bima)’ karena kediktatoran Ayahnya Asad dan kroni2nya, itu yang membekas di Rakyat Suriah. Akhirnya disaat kepemimpinan Asad, bahwa hegemoni kediktatoran itu terkesan masih ada dan dengan keterbukaan dunia informasi sekarang ini, masyarakat Suriah disana, bisa membandingkan dengan dunia luar.

      Persis kejadiannya seperti dengan Soeharto di Indonesia, sudah terlalu lama beliau memimpin Indonesia, bukan berarti Soeharto Syiah, terus digulingkan oleh Rakyat Indonesia, tapi yang digulingkan adalah gaya kepemimpinannya yang diktator.

      Singkat kata….

      Karena pengaruh dari keadaan Timur Tengah dan ketakutan Asad bahwa apa2 yang menimpa Negara Negara Teluk berimbas ke negaranya, maka dengan ketakutan akan hal itu terjadi, disikapi berlebihan oleh Pemerintahan Asad.

      Setiap ada demonstrasi untuk melakukan perubahan iklim demokrasi di Suriah oleh rakyatmya sendiri, disikapi dengan berlebihan oleh Pemerintahan Asad, dengan menembaki, memukuli, menghantam dan mengejar sampai dengan diakhirnya dengan penyiksaan. Bahkan Tentara Tentara Kepemerintahan membabi buta menghancurkan Masjid Masjid Muslim Sunni, mungkin dianggap banyak Rakyat Suriah yang bersembunyi disana. Bisa jadi ini juga sebagai pemicu cikal bakal masuk ke perang sektearian.

      Akhirnya mereka (Rakyat Suriah) berupaya untuk bertahan diri dahulu, sebelum diputuskan untuk melawan. Dan dalam kenyataannya bahwa banyak Tentara Tentara Kepemerintahan yang membelot ke Rakyat, rata-rata pada umumnya adalah Tentara yang Sunni, karena sudah mendapatkan informasi, bahwa Tentara2 Sunni yang berada didalam organisasi angkatan bersenjata Suriah dikumpulkan dalam satu penjara besar, dan tidak boleh melakukan apa-apa. Lucunya…. Semua Tentara yang dibawah kepemerintahan Asad yang Sunni, tidak diberikan kesempatan untuk maju memberangus “Pemberontak” yang bisa merongrong kedaulatan negara.

      Semenjak itulah konflik ini jadi meluas, yang tadinya hanya menginginkan demokrasi yang bukan berbasiskan kekeluargaan atau turun menurun, menjadi konflik antara Sunni dan Syiah.

      Dan itu pulalah yang kelihatan oleh Rakyat Suriah sendiri, bahwa tidak perduli Rakyat Suriah itu lemah atau tidak (wanita dan anak-anak), maka Tentara Shahibah melakukan pemerkosaan thd wanita Sunni dan membunuh mereka termasuk anak-anaknya. Bahkan ada salah satu cerita yang saya dengar, hanya gara2 anak tersebut bernama “UMAR”, anak tersebut dimasukkan kedalam OVEN (pemanas makanan) hidup2 didepan kedua orang tuanya.

      Banyak hal yang bisa saya ceritakan mengapa akhirnya Iran + Rusia + China berhadapan dengan Amerika + Israel dan para negara teluk lainnya.

      Saya cukupkan saja sampai disini… Ini pun saya rela mengetik berlama-lama dengan tablet saya (tanpa keyboard) karena permintaan Mas Cok.

      Karena saya respek dengan kesantunan dari Mas Cok.

      Demikian dari saya Mas Cok

    2. Mas Cok…

      Supaya agak nyambung dengan pertanyaan Mas Cok… Bahwa kenapa sumber dari IRIB atau IRNA saya tolak… Karena konflik ini sudah berkembang kearah Sunni VS Syiah, bukan lagi masalah internal demokrasi.

      Mungkin karena Asad dianggap sebagai Syiah Alawiyah… Yang masih turunan dari Syiah, maka banyak dukungan materi dan non materi yang dilakukan oleh kepemerintahan Iran, bahkan ada istilahnya “MOSSAD” nya Iran yang membantu pergerakan Tentara Suriah dan tertangkap oleh Rakyat Suriah.

      Dari Passportnya diketahui bahwa ybs berasal dari Iran dengan menggunakan seragam yang mirip-mirip dengan Tentaranya Asad.

      Jadinya…. Saya menolak sumber2 dari IRIB atau IRNA, karena saya melihat adanya conflict of interest disana (konflik berkembang menjadi Sunni VS Syiah).

      Demikian Mas Cok

      1. Oh jadi yang FSA perjuangkan itu memang demokrasi ya?
        Agak mengherankan juga ya Saudi Arabia membantu demokratisasi di negara tetangganya..
        Ya mudah mudahan konflik syiria cepat berakhir dengan hasil yang terbaik bagi umat Islam..

        1. Mas Cok

          Sebenarnya FSA muncul hanya untuk sekedar bertahan dari gempuran Tentara dan akhirnya membesar seiring bergesernya konflik dari internal mejadi sektearian.

          Dan Suriah dijadikan ladang Jihad, bagi para Mujahidin dinegara negara sekitar Suriah, yang sudah mendengar kabar, bahwa dilakukannya pembakaran dan peronekan Al Quran dan bagaimana Tentara Asad mencoreti Masjid Masjid Suni dengan kata kata kotor.

          Cukup banyak sih Mas Cok yang bisa saya sharing disini… Mungkin lain waktu kalau memang ada kesempatan, baik melalui dunia maya maupun hubungan silaturahmi sebagai sesama Muslim, jika termungkinkan nantinya.

          Selamat Istirahat Mas Cok

          Jazakumullah… Senang rasanya ada saudara se Aqidah yang bisa menyejukkan hati sesama saudara Muslim lainnya.

  38. Dodol dijual di pasar
    Aneka jenis dan rasa
    Dodol nyuruh orang belajar
    Bodohnya sendiri ga dirasa

    Dodol ke Grogol naik motor
    Mampir sebenar di Hotel Mariot
    Dodol ngakunya Doktor
    Kelakuannya mirip idiot

    1. Cup cup cup cup…

      Kasihan nih anak kecil… Tidurnya mengigau. Pasti siangnya kecapaian main lari-larian.

      Cup cup cup cup…!!!

      (Btw…. Saya malu loh kalau diorganisasi Aswaja yang kita cintai ini, ada orang2 seperti Bima, Jabir dllnya yang tidak bisa berdiskusi secara sehat, lama2 justru akan menurunkan derajat Aswaja itu sendiri)

  39. Kang dodol, gemana antum masih anntang saya atau anda sudah kapok? Kalau masih nantang silahkan maju duluan, sampaikan apa yag antum tahu tentanh kisruh di suriah, silahkan…. tapi jangan Co(m)pas ya? kalau COPAS saya nggak ladenin, ok?

  40. @Mas Jabir
    Ke-GR-an dia. Di mana di menangnya. Minta fakta, pas dikasih, alasannya ada aja kaya bukan seorang DOKTOR. Mengelak disebut WAHABI, diskusinya sama Mas Derajat memperlihatkan kalau dia Wahabi Tulen. Mau nyaru kaya apa pun pasti ketahuan…

    Menggambar pake spidol
    Boleh juga pake stabilow
    Mau tau kepanjangan Dodol
    Doktor Dongo Low

      1. Assalamualaikum…dokter dodol.
        Maaf ea numpang nanya.
        knp kbanyakan postingan dr kaum wahabi mengadu domba aswaja dan syi’ah?
        contohnya gini:yg mula” mngadakan maulidur Rosul itukan syi’ah knp aswaja ngikutin?
        atau begini:seharusnya yg aswaja perangi itu syi’ah bukan wahabi.
        Kayaknya ada sesuatu yg g beres gt.

        Sekali lg maaf ea.aku cm lulus SMP dan perlu bljar lg.
        Assalamualaikum

  41. Wah, ini kok pembahasan melocat ke Suriah? Buakannya di postingan membahas Abul jauzaa?

    Mas dodol, gemana ini ceritanya kok jadi membahas Suriah? Kabar paling gress yg saya tahu dari sumber2 yg dapat dipercaya bahwa rakyat Suriah sudah sadar telah diadu domba. Kasihan ya mereka, sadarnya sudah terlanjur babak belur berdarah-darah. Semoga syiah – Aswaja di sana cepat rukun kembali dan saling bergandenngan tangan untuk melawan terroris yg telah mengadu domba mereka. amin…….

  42. Waktu baru terjadi puncaknya panas konflik di suriah, ustadz2 Wahabi berkotbah Jum;’at sangat berapi-api mengompori muslimin agar membenci Syi’ah, tetapi muslimin rupanya menggapi dingin-dingin saja, alhamdulillah akhirnya cuma terjadi sebuah insident di Sampang Madura.

    Makanya saya himbau kpd kaum muslimin semuanya jangan terpancing jika ada khotbah Jum’at yg provokatif. Dengarkan saja apa yg disampaikan tapi jangan dimasukkan ke hati, maka akan aman-aman aja ini Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker