Salafi Wahabi

Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi dan Tabarruk Imam Syafi’i

Tabarruk Imam Syafi’i dengan Imam Abu Hanifah adalah penggalan kisah yang sangat masyhur di kalangan Umat Islam. Tetapi oleh Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi seorang aktifis Wahabisme dari jawa Timur itu dikatakan sebagai kisah bathil. Alasannya, menurut Abu Ubaidah Sidawi dalam kisah tersebut ada Umar bin Ishaq yang tidak dikenal dan tidak disebutkan dalam kitab-kitab perowi hadits “Silsilah Ahadits Adh-Dho’ifah” karya Al Albani.

Rupanya Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi tidak bisa membedakan  mana hadits dan bukan hadits. Dan kisah tabarruk Imam Syafi’i itu jelas-jelas bukan hadits. Lalu kenapa dicarikan perowinya di Silsilah Ahadaits Adh dhoifah?

Padahal kisah tersebut ditulis oleh seorang yang kredibel di bidangnya, yaitu Al-Khatib Al-Baghdadi. Itulah intinya, apakah Abu Ubaidah Yusuf  As-Sidawi hendak mengatakan Al Khatib Al Baghdadi seorang pendusta sebagai penulis Tarikh Baghdad? Na’udzubillah mindzaalik.

Karena itulah untuk menganalisa apakah tulisan Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi berbobot Ilmiyyah atau sekedar HOAX murahan, mari kita simak artikelnya lebih lengkap. Dan silahkan kasih komentar untuk tulisan tersebut. Ada banyak hal terdapat dalam tulisan tersebut yang bisa dikomentari untuk membongkar kedustaan Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi.

Berikut ini tulisan berwarna merah adalah artikelnya, setelah membacanya monggo dikritisi ….

Imam Syafii Tabarruk dengan Abu hanifah - Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi dan Tabarruk Imam Syafi'i

IMAM SYAFI’I rahimahullah NGALAP BERKAH DI KUBURAN IMAM ABU HANIFAH rahimahullah ??

MUQODDIMAH

Sengketa lahan di area pemakaman Mbah Priok alias Habib Hasan bin Muhammad al Haddad, Koja, Jakarta Utara, Rabu (14/4), berubah menjadi pertikaian berdarah. Lebih dari seratus orang, baik dari warga maupun petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Polisi mengalami luka-luka.

Mbah Priok dikenal sebagai penyebar ajaran agama Islam di tanah Batavia, pada abad ke-18. Sosoknya begitu dihormati, sehingga kerap kali umat Islam berziarah ke makamnya. Rasa hormat warga terhadap sosok karismatik Mbah Priok laksana bensin dan percikan api yang mudah terbakar apabila tokoh yang mereka hormati direndahkan.

Demikian sekilas berita yang hangat baru-baru ini terjadi. Kita semua menyayangkan aksi itu terjadi. Tragedi itu harus diambil pelajaran agar jangan sampai terulang kembali dalam sejarah Indonesia. Caranya adalah dengan melakukan pencerahan dan pemahaman kepada masyarakat dan para tokoh.

Dari tragedi tersebut terdapat pelajaran yang sangat penting sekali, yakni bahwasannya sedemikian kuatnya sikap berlebih-lebihan mayoritas kaum muslimin kepada kuburan yang dikeramatkan, sehingga mereka rela mengorbankan jiwa guna mempertahankannya. Bagaimanakah sebenarnya hukum ‘ngalap’ berkah dengan kuburan?! Inilah yang akan kita bahas dalam kajian kita melalui sebuah kisah tak nyata tentang Imam Syafi’i rahimahullah.

TEKS KISAH

Konon, diceritakan bahwa Imam Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan: “Saya ngalap berkah dengan Abu Hanifah rahimahullah. Aku mendatangi kuburannya setiap hari. Apabila aku ada hajat, maka aku pergi ke kuburannya, sholat dua roka’at dan berdo’a di sisi kuburan Abu Hanifah rahimahullah, kemudian tak lama dari itu Alloh ‘azza wajalla mengabulkan do’aku”.

TAKHRIJ DAN DERAJAT KISAH

BATIL. Kisah ini dicantumkan oleh al-Khothib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad 1/123 dari jalur Umar bin Ishaq bin Ibrohim dari Ali bin Maimun dari asy-Syafi’i. Riwayat ini adalahlemah, bahkan batil, karena Umar bin Ishaq tidak dikenal dan tidak disebutkan dalam kitab-kitab perowi hadits.[1]

Kisah ini adalah kedustaan yang amat nyata. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahberkata: “Ini adalah kedustaan yang sangat nyata bagi orang yang memiliki ilmu hadits… Orang yang menukil kisah ini hanyalah orang yang sedikit ilmu dan agamanya.”[2] Ibnu Qoyyim rahimahullah juga berkata: “Kisah ini termasuk kedustaan yang sangat nyata.”[3] Dalam kitab Tab’id Syaithon dijelaskan: “Adapun cerita yang dinukil dari Imam Syafi’irahimahullah bahwa beliau biasa pergi ke kuburan Abu Hanifah rahimahullah, maka itu adalah kisah dusta yang amat nyata.”[4] Maka janganlah engkau dengarkan apa yang dikatakan oleh al-Kautsari bahwa sanad kisah ini adalah shohih[5], karena ini adalah termasuk kesalahannya.

Bukti-Bukti Kebatilan Kisah

Beberapa bukti yang menguatkan kedustaan kisah ini adalah sebagai berikut.

  1. Tatkala imam Syafi’i rahimahullah datang ke Baghdad, di sana tidak ada kuburan yang biasa didatangi untuk berdo’a.
  2. Imam Syafi’i rahimahullah telah melihat di Hijaz, Yaman, Syam, Iraq, Mesir, kuburan-kuburan para Nabi, sahabat dan tabi’in dimana mereka lebih utama daripada Abu Hanifah rahimahullah. Lantas, mengapa beliau hanya pergi ke kuburan Abu Hanifahrahimahullah saja?
  3. Dalam kitabnya al-Umm 1/278, Imam Syafi’i rahimahullah telah menegaskan bahwa beliau membenci pengagungan kubur karena khawatir fitnah dan kesesatan. Maksud beliau dengan pengagungan yaitu sholat dan berdo’a di sisinya. Apakah mungkin beliau menyelisihi ucapannya sendiri?![6]
  4. Hal yang menguatkan batilnya kisah ini adalah pengingkaran Imam Abu Hanifahrahimahullah terhadap meminta-minta kepada selain Alloh subhanahu wa ta’aala. Dalam kitab ad-Durr al-Mukhtar dan kitab-kitab Hanafiyyah sering dinukil ucapan Imam Abu Hanifah rahimahullah: “Saya membenci seorang meminta kecuali hanya kepada Alloh ‘azza wajalla”. “Tidak boleh bagi seorang pun meminta kepada selain Alloh ‘azza wajalla akan tetapi justru kepada-Nya saja.” Dan tidak ragu lagi bahwa dalam masalah tawassul pendapat Imam Syafi’i rahimahullah adalah sama dengan pendapat Abu Hanifah rahimahullah. Lantas, bagaimana mungkin beliau bertawassul kepadanya padahal ia tahu bahwa Abu Hanifah rahimahullah membenci dan mengharamkannya? Sama sekali tidak masuk akal. Bahkan hal itu akan membuat murka Imam Abu Hanifahrahimahullah. Semua itu adalah mustahil, kedua Imam ini berlepas diri dari kisah dusta tersebut. Namun, apa yang kita katakan kepada para pendusta?! Hanya kepada Alloh ‘azza wajalla kita mengadu. Ya Alloh, kami berlepas diri dari apa yang mereka perbuat.”[7]

Memahami Masalah Tabarruk

Kisah ini dijadikan dalil oleh sebagian kalangan untuk melegalkan ngalap berkah yang tidak disyari’atkan[8] seperti ngalap berkah kepada kuburan-kuburan orang sholih. Oleh karenanya, masalah tabarruk akan kami singgung secara singkat.

Ketahuilah wahai saudaraku bahwa sesungguhnya tabarruk atau yang biasa disebut dengan ngalap berkah ada dua macam:

1.Tabarruk masyru’, yaitu tabarruk dengan hal-hal yang disyari’atkan. Seperti al-Qur’an, air zam-zam, bulan Romadhon dan sebagainya. Akan tetapi tidak boleh ber tabarruk dengan hal-hal tersebut kecuali sesuai syari’at dan dengan niat bahwa hal itu hanyalah sebab, sedangkan yang memberikan barokah adalah Alloh subhanahu wa ta’aala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam:

الْبَرَكَةُ مِنَ اللهِ

Barokah itu (bersumber) dari Alloh subhanahu wa ta’aala.”[9]

2.Tabarruk Mamnu’, yaitu tabarruk dengan hal-hal yang tidak disyari’atkan. Hukumnya tidak boleh, seperti tabarruk dengan pohon, batu ajaib (!), kuburan, dzat kyai dan lain sebagainya.[10]

Yakinlah bahwa tidak ada yang bisa mendatangkan manfaat dan menolak madhorot kecuali hanya Alloh ‘azza wajalla semata. Semua itu adalah khurofat jahiliyyah yang diberantas oleh agama Islam. Oleh karena itu, simaklah ucapan Amirul mukminin Umar bin Khoththobradhiyallahu ‘anhu tatkala berkata ketika mencium hajar aswad:

إِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ ، وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Saya tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan bahaya atau manfaat. Seandainya saya tidak melihat Rosululloh shalallahu ‘alayhi wa sallam menciummu maka saya tidak menciummu.”[11]

Imam Ibnul Mulaqqin rahimahullah berkata tentang atsar di atas: “Ucapan ini merupakan pokok dan landasan yang sangat agung dalam masalah ittiba’ (mengikuti) kepada Nabishalallahu ‘alayhi wa sallam sekalipun tidak mengetahui alasannya, serta meninggalkan ajaran jahiliyyah berupa pengagungan terhadap patung dan batu. Karena memang tidak ada yang dapat memberikan manfaat dan menolak bahaya kecuali Alloh ‘azza wajalla semata. Sedangkan batu tidak bisa memberikan manfaat, lain halnya dengan keyakinan kaum jahiliyyah terhadap patung-patung mereka.

Maka Umar radhiyallahu ‘anhu ingin memberantas anggapan keliru tersebut yang masih melekat dalam benak manusia.”[12] Jenis tabarruk ini telah diingkari secara keras oleh para ulama Syafi’iyyah. Menarik sekali dalam masalah ini apa yang telah dikisahkan bahwa tatkala ada berita kepada Imam Syafi’i rahimahullah, bahwa sebagian orang ada yang bertabarruk dengan peci Imam Malik rahimahullah, maka serta merta beliau mengingkari perbuatan itu.[13]

Imam Nawawi rahimahullah berkata:

وَمَنْ خَطَرَ بِبَالِهِ أَنَّ الْمَسْحَ بِالْيَدِ وَنَحْوِهِ أَبْلَغُ فِي الْبَرَكَةِ فَهُوَ مِنْ جَهَالَتِهِ وَغَفْلَتِهِ لِأَنَّ الْبَرَكَةَ إِنَّمَا هِيَ فِيْمَا وَافَقَ الشَّرْعَ وَكَيْفَ يَنْبَغِي الْفَضْلَ فِيْ مُخَالَفَةِ الصَّوَابِ؟

“Barangsiapa yang terbersit dalam hatinya, bahwa mengusap-usap dengan tangan dan semisalnya lebih mendatangkan barokah, maka hal itu menunjukkan kejahilannya dan kelalaiannya. Karena barokah itu hanyalah yang sesuai dengan syari’at. Bagaimanakah mencari keutamaan dengan menyelisihi kebenaran?!.”[14]

Al-Ghozali juga berkata:

فَإِنَّ الْمَسَّ وَالتَّقْبِيْلَ لِلْمَشَاهِدِ عَادَةُ الْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى

“Sesungguhnya mengusap-usap dan menciumi kuburan merupakan adapt istiadat kaum Yahudi dan Nasrani.”[15]

Demikianlah ketegasan para ulama Syafi’iyyah.[16] Bandingkanlah hal ini dengan fakta yang ada pada kaum muslimin sekarang!! Berikut ini dua kisah nyata tentang fakta di lapangan sekarang, kemudian saya serahkan komentar dan hukumnya kepada para pembaca sekalian.

Pertama: Kisah yang dibawakan oleh akhuna (saudara kami), al-Ustadz Abdulloh Zaen: “Ketika penulis diberi kesempatan ke kota Martapura, sebagian kaum muslimin di sana dengan penuh keprihatinan bercerita: “Kira-kira 1 bulan setelah guru Ijay[17] dimakamkan, nisan di atas kuburannya hampir ambruk. Pasalnya setiap hari puluhan atau ratusan orang berziarah berebut menciumi dan mengusap-usap nisan tersebut!!” Hanya kepada Alloh ‘azza wajalla kita mengadu kejahilan sebagian kaum muslimin tersebut.[18]

Kedua: Kisah yang dibawakan oleh al-Ustadz Muhammad Arifin Badri: “Saya pernah mendengar penuturan salah seorang kawan saya sendiri (dan kisah ini adalah kisah yang ia alami secara langsung). Kawan saya berasal dari salah satu pondok pesantren di Kota Jombang Jawa Timur. Pada suatu hari ia diajak oleh bibinya berkunjung ke daerah Nganjuk –Jawa Timur untuk mengunjungi seorang wali. Setibanya di rumah wali itu, dia dipersilahkan masuk ke ruang tamu laki-laki, sedangkan bibinya dipersilahkan masuk ke ruang tamu wanita. Sepulang dari rumah wali itu, bibinya berkata: “Wah, tadi di ruang wanita, saya menyaksikan beberapa wali, di antaranya ada wali laki-laki yang keluar menemui kita dengan telanjang bulat dan tidak sehelai benang pun menempel di badannya. Setelah berada di tengah-tengah ruangan, wali telanjang itu disodori sebatang rokok oleh sebagian pelayannya. Ia pun mulai mengisap rokok, dan baru beberapa isapan rokoknya dicampakkan ke lantai. Melihat puntung rokok tergeletak di lantai itu, ibu-ibu yang sedang berada di ruang tamu berebut memungutnya. Setelah seorang ibu berhasil mendapatkannya ia langsung memerintahkan anaknya yang masih kecil untuk ganti mengisap puntung rokok tersebut. Alasannya “agar mendapatkan keberkahan sang wali dan menjadi anak pandai.”[19]

Demikianlah pembahasan singkat tentang masalah ini. Semoga bermanfaat bagi semuanya. Amiin.[20]

 

BACA JUGA:  Mengaku Tak Bermazhab Itu Keblinger

________________________________________

[1] Lihat Silsilah Ahadits Adh-Dho’ifah 1/78 oleh al-Albani.

[2] Iqtidho’ Shirothil Mustaqim 2/685-686.

[3] Ighotsatul Lahfan 1/399.

[4]  At-Tawashul Ila Haqiqoti Tawassul hlm. 339-340.

[5] Maqolat al-Kautsari hlm. 381.

[6] Lihat Iqtidho’ Shirothil Mustaqim 2/686 oleh Ibnu Taimiyyah dan at-Tabarruk hlm. 345 oleh Dr. Nashir al-Judai’.

[7]  Qoshoshun Laa Tatsbutu 2/85-86 oleh Syaikhuna Masyhur bin Hasan Salmanhafidzahullahu ta’ala.

[8] Persis dengan kisah ini juga kisah tentang tabarruknya Imam Syafi’i rahimahullah dengan bajunya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Kisah ini dibawakan oleh Ibnul Jauzi dalamManaqib Imam Ahmad bin Hanbal hlm. 609-610. Kisah ini adalah kisah yang tidak shohih. (Lihat Siyar A’lam Nubala’ 12/587-588 oleh adz-Dzahabi, at-Tabarruk hlm. 386-387 oleh Dr. Nashir al-Juda’i, Qoshoshun Laa Tatsbutu 4/85-90 oleh Yusuf al-‘Atiq).

[9]  HR. Bukhori 3579.

[10] Lihat masalah tabarruk secara luas dan bagus dalam kitab “at-Tabarruk Anwa’uhu wa Ahkamuhu” oleh DR. Nashir bin Abdirrohman al-Judai’.

[11] HR. Bukhori 1597 dan Muslim 1270.

[12] Al-I’lam bi Fawa’id Umdatil Ahkam 6/190. Lihat komentar indah para ulama madzhab Syafi’i lainnya tentang atsar ini dalam Juhud Syafi’iyyah fi Taqrir Tauhidil Ibadah oleh DR. Abdulloh al-‘Anquri hlm. 582-584.

[13]  Lihat Manaqib Syafi’I 1/508 oleh al-Baihaqi dan Syarh Arba’in al-‘Ajluniyyah hlm. 262-263 oleh Syaikh Jamaluddin al-Qosimi.

[14]  Al-Majmu’ Syarh Muhadzab 8/275.

[15] Ihya’ Ulumuddin 1/254.

[16] Lihat secara luas upaya ulama madzhab Syafi’iyyah dalam menjelaskan tauhid ibadah dan memberantas syirik dalam Juhud Syafi’iyyah fi Taqrir Tauhid Ibadah oleh Dr. Abdulloh al-‘Unquri, Bayanu Syirki ‘Inda Ulama Syafi’iyyah oleh Dr. Abdurrohman al-Khumais, Imam Syafi’i Menggugat Syirik oleh akhuna al-Fadhil al-Ustadz Abdulloh Zaen.

[17]  Dia bernama Muhammad Zaini bin Abdul Ghoni, salah seorang yang sangat ditokohkan di Kalimantan. Meninggal pada 05 Rojab 1426 H/10 Agustus 2005. Di antara keanehannya dia pernah mengaku mimpi bertemu Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam dan Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam sujud kepadanya!!! Allohul Musta’an.

[18]  Imam Syafi’i Menggugat Syirik hlm. 115-116.

[19] Dzikir ‘Ala Tasawwuf  hlm. 45.

[20] Pembahasan ini dinukil dari bahan buku yang sedang disusun oleh penulis dengan judul “Manhaj Salafi Imam Syafi’i.” Semoga Alloh ta’ala memudahkan penyempurnaannya dengan rohmat-Nya.Amiin.

Suimber http://abiubaidah.com/imam-syafi%E2%80%99i-rahimahullah-ngalap-berkah-di-kuburan-imam-abu-hanifah-rahimahullah.html/#more-780

BACA JUGA:  Terbukti! Ustadz Firanda adalah Pembohong di Tengah Salafiyyin

 

Anda juga bisa baca kisah ini untuk perbandingan:

Lagi, Imam asy-Syafi’i Bertabarruk dengan Bajunya Imam Ahmad bin Hanbal

Di dalam kitab Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra karya Imam Taajuddin as-Subki pada juz 2 halaman 36 (kitab ini dapat diunduh di http://waqfeya.net/book.php?bid=1283), disebutkan bahwasanya imam asy-Syafi’i Radhiyallaahu ‘anhu bertabarruk dengan bajunya imam Ahmad bin Hanbal Radhiyallaahu ‘anhu. Berikut ini riwayat lengkapnya:

BACA JUGA:  Jika Dianggap Berdosa Karena Cinta Ahlul Bait, Aku Tidak Akan Bertaubat dari Dosaku Itu

Berkata ar-Rabi’ bin Sulaiman, bahwasanya imam asy-Syafi’i Radhiyallaahu ‘anhu pergi ke Mesir.

Beliau berkata kepadaku: “Wahai Rabi’ ambil kitabku ini, bawa pergi serta sampaikan kepada Abi Abdillah (Yakni al-Imam Ahmad bin Hanbal Radhiyallaahu ‘anhu) dan bawakan kepadaku jawaban dari beliau”.

Berkata ar-Rabi’, “Kemudian aku memasuki kota Baghdad dan ada padaku sebuah kitab. Aku menghadap kepada al-Imam Ahmad ibn Hanbal di waktu sholat Shubuh. Manakala beliau melangkah dari mihrab, aku sampaikan kitab tersebut kepada beliau, dan aku katakan kepada beliau bahwasanya kitab ini dari saudara engkau yang berada di Mesir. Kemudian beliau berkata kepadaku: “Apakah engkau telah melihat apa yang terdapat di dalamnya?“ Aku menjawab, “Tidak.“ Maka kemudian beliau segera membuka segelnya dan membacanya, dan terlihat mata beliau berlinang penuh air mata.

Aku berkata kepada beliau, “Ada apa di dalamnya wahai Abu Abdillah?“ Beliau menjawab, “Disebutkan di dalamnya bahwasanya beliau (imam asy-Syafi’i Radhiyallaahu ‘anhu) melihat Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam di waktu tidur. Kemudian Beliau Shollallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan: Tulislah, kemudian sampaikan kepada Abu Abdillah, dan Beliau Shollallaahu ‘alaihi wa sallam pun membacakan (apa yang harus dituliskan) dan katakan kepadanya sesungguhnya engkau akan diuji dan dipaksa mengatakan bahwa Alquran itu makhluq, maka jangan engkau turuti permintaan mereka itu, niscaya Allah akan meninggikan panji bagi engkau hingga hari akhir.“”

Berkata ar-Rabi’, “Maka aku katakan kepada beliau, ini berita baik wahai Abu Abdillah.” Maka beliau langsung melepas salah satu bajunya yang menempel di kulit beliau dan memberikannya kepadaku. Dan aku mengambil jawaban dari beliau ini, kemudian aku pergi ke Mesir dan segera menyampaikannya kepada al-Imam asy-Syafi’i Radhiyallaahu ‘anhu.

Beliau al-Imam asy-Syafi’i Radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Apa yang akan engkau berikan kepadaku?” Aku jawab, “Baju dari beliau”. Kemudian beliau berkata, “Janganlah engkau merasa tertekan. Segeralah engkau basahi baju itu dengan air, karena aku ingin bertabarruk dengannya.” (Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra, juz 2, halaman 36)

Demikianlah…. Lihatlah, bagaimana Ulama’ sekaliber Imam asy-Syafi’i Radhiyallaahu ‘anhu saja bertabarruk dengan baju yang pernah menempel di kulit orang shalih, dalam hal ini adalah bajunya Imam Ahmad bin Hanbal Radhiyallaahu ‘anhu. Tentunya tidak mungkin tindakan beliau ini menyelisihi Al-Qur’an dan as-Sunnah, karena beliau adalah seseorang yang ahli di bidang ini.

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi dan Tabarruk Imam Syafi'i
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.
Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

25 thoughts on “Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi dan Tabarruk Imam Syafi’i”

  1. Kalau saya sih gampang, lebih percaya kepada Al Khatib Al Baghdadi daripada Abu Ubaidah Yusuf As -Sidawi. Apalagi setelah terbukti ustadz2 Salafi termasyhur dalam tipu muslihat demi membela apa yg menjadi keyakinannya walaupun salah.

    Rata2 mereka adalah pendusta, bagaimana tidak akan berdusta jika yg dibelanya adalah kebatilan? Dan modal dasar mereka dalam berdakwah adalah kedustaan yg dibungkus ILMIYYAH untuk menipu orang2 awam agama.

    1. Abu Ubaidah hanya mengutip ucapan Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qoyyim, jadi jangan suka ngarang2. Atau memang kebiasaan Asjam (Asy’ariyah-Jahmiyyah) memang suka ngarang karena biasa ngarang bid’ah? Asjam lebih percaya mana, Ibnul Qoyyim atau Al-Khatib?

      1. Pak Dul, antum belum tuntas berdialog dg Mas Yanto Jenggot soal Gus Dur di FAKTA-FAKTA TENTANG WAHABI lho, Kok bisa2nya antum sudah loncat ke sini? Repot ya lawan Mas Yanto Jenggot?

        Saya mau tanya simple aja neh, lebih percaya Gus Dur yang penyayang atau Syaikh Muhammad bin Abdul wahhab yg kejam terhadap Ulama dan Ummat Islam? Monggo pak Dul …

        1. Maleslah nanggapi cerita takhayul gak mutu, terlalu banyak ghuluw-nya. gus dur sayang dengan orang kafir, tetapi berlaku keras terhadap orang Islam. Gak heran kamu masih percaya cerita fiksi tentang MAW, lha cerita fiksi tentang gus dur aja ditelan mentah2.

          1. Pak Dul,
            Ha ha ha… jadi Muh bin AW itu cuma kisah fiksi ya, lalu kenapa kalian sembah2 ajarannya sebagai kebenaran satu2nya? Sampean aneh sekali pak Dul….

            Jangan2 di kepala antum sdh muncul tanduk Syetan Najd? Coba diraba2 kepala antum pak Dul….

  2. Yang perlu diluruskan dari artikel Abu Ubaidah Sidawi itu adalah tentang tuduhannya terhadap Imam Imam Syafi’i tabarruk dg kuburan. Itu benar2 fitnah.

    Yang benar adalah Imam Syafi’i bertabarruk dg kemuliaan Imam Abu Hanifah di makam Abu Hanifah. Jadi tidak bertabarruk dg makam/kuburan. Itulah kisah sebenarnya yg ada dalam Tarikh Baghdad-nya Al Khotib Al Baghdadi.

    Sebagai Ustadz, sudah seharusnya Abu Ubaidah jujur dalam menyampaikan ilmu, jangan main pelintir menuruti hawa nafsu sendiri. Takutlah akan dosa fitnah2 yg engkau tebarkan di tengah kaum muslimin. Bertobatlah, sebab tuduhan antum kepada Imam syafi’i itu akibat perbuatan antum memelintir berita yg disampaikan oleh Al Khotib Al Baghdadi.

  3. Setelah menukil pernyataan Imam An Nawawi dan Imam Al Ghazali mengenai mangusap makam si penulis mengatakan,”Demikianlah ketegasan para ulama Syafi’iyyah.[16] Bandingkanlah hal ini dengan fakta yang ada pada kaum muslimin sekarang!! Berikut ini dua kisah nyata tentang fakta di lapangan sekarang, kemudian saya serahkan komentar dan hukumnya kepada para pembaca sekalian.”

    Tabiat buruk kaum Wahabiyah yang perlu diwaspadai adalah menukil pendapat sebagian ulama kemudian tidak memunculkan pendapat ulama lainnya, hingga seakan-akan para ulama Syafi’iyah sepakat tidak memandang mengusap makam merupakan hal yang dibolehkan. So, perlu diungkap juga para ulama Syafi’yah yang membolehkan.
    1. Ibnu Jama’ah termasuk yang membolehkan, bahkan beliau mengkritik Imam An Nawawi menukil dari Al Halimi mengenai makruhnya mengusap-usap makam dengan pendapat Imam Ahmad (lihat, Hasyiyah Al Idhah.
    2.As Subki menyebutkan bahwa pendapat tidak mengusap bukanlah ijma, beliau yang termasuk mempertahankan pendapat bolehnya mengusap.
    3. Ar Ramli melihat bahwa hal itu makruh karena berkenaan dengan adab, adapaun jika dilakukan untuk tabarruk tidak mengapa.
    4. Syeikh Al Islam Zakariya Al Anshari menyatakan,”Telah berfatwa ayahku dan syeikh kami bahwa bukanlah perkara yng makruh mencium makam para shalihin untuk tabarruk.
    Pernyataan pra ulama diatas disebutgkan dalam fatwa Al Allamah Sulaiman Al Kurdi Al Madani (lihat Misbah Ad Dholam karya Sayyid Al Alawi Al Haddad)
    5. Al Hafidz Al Iraqi menyatakan;”Tidak mengapa mencium tempat-tempat mulia, tangan dan kaki orang-orang shalih untuk bertabarruk.” (Syarh Shahih Al Bukhari Al Aini, 9/241)
    6. Ibnu Abi Shaif Al Yamani seorang ulama Syafi’iyah Makkah juga menyatakan bolehnya mencium mushaf, kitab hadits serta kubur orang-orang shalih. Ini disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar dalam Al Fath (3/475)

    Nah, loh mereka itu juga ulama Syafi’iyah?
    Dan yang perlu diketahui bahwa Imam An Nawawi manyatakan makruh, bukan haram apalagi syirik, jadi dah berbeda dengan pendapatnya wahaby. Dan para ulama lainnya menyatakan boleh.

    1. Saya sependapat dengan NAKA@, bahkan yg lebih parah, Wahabi suka menukil sebagiannya dari pendapat seorang ulama, jadi nukilannya tidak lengkap yg bertujuan menggiring pembaca untuk menyetujui pendapat Wahabi. Itulah songongnya mereka. Banyak kasus seperti itu.

  4. Assalamu alaikum

    Bagian artikel:
    “[17] Dia bernama Muhammad Zaini bin Abdul Ghoni, salah seorang yang sangat ditokohkan di Kalimantan. Meninggal pada 05 Rojab 1426 H/10 Agustus 2005. Di antara keanehannya dia pernah mengaku mimpi bertemu Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam dan Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam sujud kepadanya!!! Allohul Musta’an.”

    Sedikit mengomentari bagian dari artikel diatas :
    Kami mendengar(disiarkan melalui radio) dari KH.Ahmad Bakri (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mursyidul Amin di Gambut,Kab.Banjar,Kal-Sel)bahwasanya beliau menerangkan dan menanggapi kesimpangsiuran cerita yg beredar dimasyarakat luas.

    Tanggapan beliau berawal dari adanya perkataan ” WAH, KALAU BEGITU GURU IJAI LEBIH HEBAT DARI RASULULLAH SAW”. Dan perkataan ini dikerenakan mendengar bagian dari cerita yaitu ” Rasululullah SAW MENCIUM TANGAN guru Ijai”.

    Kemudian beliau menanggapi dengan perkataan ” INI BUKAN MASALAH SIAPA YANG LEBIH HEBAT ” yg kemudian beliau lanjutkan dengan memberikankan pengandaian agar masyarakat awam bisa mengerti dari bagian cerita tersebut. Dan pengandaian tersebut adalah ” Apabila seorang kakek yg rindu dan bangga kepada cucunya lalu kemudian bertemu maka yg timbul adalah rasa senang dan gembira. Rasa rindu dan bangga itu kemudian dilakukan dengan mencium tangan dan memeluk sang cucu. Kemudian beliau mengakhiri tanggapan dengan dengan pertanyaan “Apakah kehormatan seorang kakek akan turun dengan mencium tangan cucunya ?”

    Dan cerita Guru Ijai bertemu dengan Rasulullah SAW itu BUKAN DIDALAM MIMPI tetapi pertemuan itu terjadi pada saat beliau ziarah kemakam Rasulullah SAW disaat umrah terakhir sebelum beliau meninggal dunia.

    Dan kepada yg membaca cerita kami ini…cerita ini hanya sebagian. Jadi utk lebih jelasnya silahkan tanya langsung kepada KH.Ahmad Bakri (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mursyidul Amin di Gambut,Kab.Banjar,Kal-Sel) agar tidak menimbulkan fitnah seperti artikel diatas kerena TIDAK ADA didalam cerita itu Rasulullah SAW SUJUD kepada Guru Ijai.

    Maaf kalau ada salah kata.

    1. M Husaini@

      syukron atas penjelasannya tentang guru Ijai, sejak awal saya membaca artikel di atas sdh merasa janggal tentang Nabi Muhammad sujud kepada gur Ijai. Dalam hati saya membatin pasti ini fitnah yg dilancarkan kaum Salafi Wahabi, sungguh terlalu. Semoga mereka diberi hidayah-NYA sehingga mereka berubah menjadi muslim yg baik, muslim yang jujur sehingga segala apa yg keluar dari tangan2 mewreka tidak berisi fitnah-fitnah belaka. Amiiiin….

  5. Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi berkata dalam aertikel di atas begini: “Yakinlah bahwa tidak ada yang bisa mendatangkan manfaat dan menolak madhorot kecuali hanya Alloh ‘azza wajalla semata.”

    Pertanyaan saya adalah: *Emangnya siapa yg mengatakan bahwa manfaat dan mudhorotu bukan dari Allah? Adakah Ummat Islam yg bertabarruk itu tidak mengimani tentang hal itu?”

    Oke, saya jawab sendiri: Tidak Ada wahai ustadz Abu Ubaidah!!

    Dalam artikel di atas banyak pernyataan-pernyataan ustadz Abu Ubaidah tentang hal yang benar, akan tetapi sayang menimbulkan fitnah terhadap orang2 yg melakukan sunnah tabarruk. Seolah2 pelaku sunnah tabarruk itu tidak beriman tentang manfaat dan mudhorot beraal dari Alloh semata2.

  6. ora setuju isi artikel n mau koment tapi gak bisa bikin kalimatnya yg bagus, maaf sekadar uneg2 tentang kebodohan saya sendiri.

    Terimakasih kpd yg pinter2 sdh koment bagus2 di sini.

  7. Mumpung ada waktu
    As Sidawi mengatakan: “Beberapa bukti yang menguatkan kedustaan kisah ini adalah sebagai berikut”

    1. Tatkala imam Syafi’i rahimahullah datang ke Baghdad, di sana tidak ada kuburan yang biasa didatangi untuk berdo’a.

    Jawab: Tahu dari mana bro? Kalau bener, itu pun kagak ada hubungannya sama sekali. Kalau orang ingin berziarah dan berdoa ke makam ulama tidak harus menunggu makam itu ramai para peziarah yang berdoa. Suka-suka yang berziarah.

    As Sidawi mengatakan: 2.Imam Syafi’i rahimahullah telah melihat di Hijaz, Yaman, Syam, Iraq, Mesir, kuburan-kuburan para Nabi, sahabat dan tabi’in dimana mereka lebih utama daripada Abu Hanifah rahimahullah. Lantas, mengapa beliau hanya pergi ke kuburan Abu Hanifahrahimahullah saja?

    Jawab:
    Adanya data bahwa Imam As Syafi’i berziarah di makam Imam Abu Hanifah tidak memberikan konsekwensi bahwa hanya makam Imam Abu Hanifah saja yang diziarahi. Ada kabar bahwa si fulan pergi ke AS tidak otomatis bahwa si fulan hanya pernah pergi ke AS saja, bisa ia pergi ke negara lain bisa juga tidak, so tak bisa dipastikan.

    Sidawi mengatakan: 3 Dalam kitabnya al-Umm 1/278, Imam Syafi’i rahimahullah telah menegaskan bahwa beliau membenci pengagungan kubur karena khawatir fitnah dan kesesatan. Maksud beliau dengan pengagungan yaitu sholat dan berdo’a di sisinya. Apakah mungkin beliau menyelisihi ucapannya sendiri?![6]

    Jawab:
    Perlu dirinci:
    1. Berdoa di makam: Imam As Syafi’i tidak mempermasalahkan bahkan beliau menganjurkan agar membaca doa setelah meletakkan jenazah. Tidak hanya berdoa untuk mayit tapi ada juga doa untuk umat Islam,”Shafi’ jama’atana fih”. So, bebas berdoa di makam.
    2. Shalat:
    Ada dua macam dalam pembahasan Imam As Syafi’i mengenai shalat. Beliau menyatakan makruh shalat di atas makam atau menghadap makam. Kalau dilakukan shalat tetap sah namun hal itu adalah prilaku yang buruk.Silahkan lihat di Al Umm di kitab Janaiz.

    So, beda dengan pendapat para wahabiyun yang menyatakan haram atau bahkan syirik. Imam As Syafi’i menyatakan makruh dan sah, meski itu merupakan adab yang buruk.

    Nah, apakah yang disampaikan Imam As Syafi’i di Al Umm itu bertentangan dengan kisah itu? Tentu tidak. Soalnya di kisah itu Imam As Syafi’i shalat di sisi makam Imam Abu Hanifah. Sedangkan yang dihukumi makruh (bukan haram) dalam Al Umm adalah shalat di atas makam dan menghadap makam. Dan shalat di samping makam bukan juga menghadap makam karena posisi makam di samping Imam As Syafi’i.

    Dan perlu diketahui juga bahwa imam As Syafi’i menghukumi makruh (bukan haram) namun tetap sah, shalat menghadap makam dan di atas makam juga dengan hadits,”Allah telah memerangi yahudi dan nashara yang menjadikan kuburan para nabinya sebagai masjid” disamping karena adab buruk untuk yang shalat di atas kubur

    So, menjadikan makam sebagai masjid adalah shalat di atas makam atau shalat menghadap makam. Sedangkan Imam As Syafi’i shalat di sampingnya makam. Bukan menjadikan makam sabagi masjid tapi menjadikan samping makam sebagai masjid dan ini tidak dilarang. Walhasil, tidak ada pertantangaan antara pernyataan Imam As Syafi’i dan amalan beliau.

    3. Hal yang menguatkan batilnya kisah ini adalah pengingkaran Imam Abu Hanifahrahimahullah terhadap meminta-minta kepada selain Alloh subhanahu wa ta’aala. Dalam kitab ad-Durr al-Mukhtar dan kitab-kitab Hanafiyyah sering dinukil ucapan Imam Abu Hanifah rahimahullah: “Saya membenci seorang meminta kecuali hanya kepada Alloh ‘azza wajalla”.

    Jawab: Imam Abu Hanifah tidak setuju kepada perbuatan meminta-minta selain Allah sedangkan Imam As Syafi’i dalam kisah itu berdoa dan shalat kapada Allah di sisi makam Imam Abu Hanifah. So, kagak nyambung.

    Ok, sementara ini dulu, mudah-mudahan bisa disambung….

  8. @Mas Naka

    Emang ulama’2 Salafy/Wahabi (Sawah) sering gak nyambung bawakan dalil. Waktu gue nonton Video Dialog Buya Yahya Vs Ust. Thoharoh episode 2, Buya jg nunjukin kagak nyambungnya dalil2 yg mereka bawakan. So..Monggo di telaah lagi lah ya?

      1. Pak Dul,

        Teman2 Nte sdh pada takut koment di sini, kenapa Pak Dul, takut semakin terbongkar kejahilan ajaran Wahabi ya? Si Ajam, si Ibnu Abi Irfan, si Yusuf Ibrohim, si Abahna Jibril, si Donpay, ha ha.. kemana mereka kok pada tiarap saja?

  9. Hehehe…dari awal saya baca saya ketawa aja,
    Gak ada ulama wahabi yang pinter.
    yang di arab aje blo’on,apalagi yang di indonesia??????

    kasihan banget ya korban2 doktrin madzhab blo’on sawah nejd>>>>>>>.

  10. klu di perhatikan kaum wahabi ini sering kali menyembunyikan fakta yg sebenarnya,benarlah apa yg pernah saya dengar dr ustadz di kampung saya mereka ini ngajinya sepotong2,,,,makanya bawa dalil2 kg nyambung, sorry ya bukan ngejelekin tp fakta seperti artikel di atas yg di kupas oleh mas Naka di atas.

  11. afwan ana mau tanyak apa pendapat antum tentang nma2 berikut ini:
    1.syaikh muhammad bin shalih al-utsaimin
    2 syaikh bin baz
    3 syaikh albani
    4. syaikh fauzan

  12. @Salafi

    Syaikh al Albani Rahimahullah mengatakan, Adalah merupakan kedzaliman jika mengatakan mereka (yaitu an-Nawawi dan Ibnu Hajar al ‘Asqalani) dan orang-orang semacam mereka termasuk ke dalam golongan ahli bid’ah. Menurut Syaikh al Albani, meskipun keduanya beraqidah Asy’ariyyah, tetapi mereka tidak sengaja menyelisihi al Kitab dan as Sunnah. Anggapan mereka, aqidah Asy’ariyyah yang mereka warisi itu adalah dua hal: Pertama, bahwa Imam al Asy’ari mengatakannya, padahal beliau tidak mengatakannya, kecuali pada masa sebelumnya, (lalu beliau tinggalkan dan menuju aqidah Salaf,). Kedua, mereka menyangka sebagai kebenaran, padahal tidak.

    Sumber : http://qaulan-sadida.blogspot.com/2011/12/ummatipress-bantahan-atas-artikel-web.html

    Berikut komentar saya:

    Syaikh al Albani Rahimahullah mengatakan, mereka (yaitu an-Nawawi dan Ibnu Hajar al ‘Asqalani) tidak sengaja menyelisihi al Kitab dan as Sunnah. Pertanyaan yg timbul adalah, siapakah yg lebih paham tentang Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, Syaikh al Albani Rahimahullah atau Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani?

    Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani beraqidah Asy’ariyyah. Syaikh al Albani Rahimahullah mengatakan mereka (Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani) menyangka sebagai kebenaran, padahal tidak. Aqidah itu adalah pokok pokok agama, jika aqidah kedua Imam agung tersebut salah, lantas, aqidah siapakah yg benar? Apakah aqidah Syaikh al Albani Rahimahullah lebih benar dari pada akidah kedua Imam Agung tersebut?

  13. @Salafi

    Syaikh al Albani Rahimahullah mengatakan, Adalah merupakan kedzaliman jika mengatakan mereka (yaitu an-Nawawi dan Ibnu Hajar al ‘Asqalani) dan orang-orang semacam mereka termasuk ke dalam golongan ahli bid’ah. Menurut Syaikh al Albani, meskipun keduanya beraqidah Asy’ariyyah, tetapi mereka tidak sengaja menyelisihi al Kitab dan as Sunnah. Anggapan mereka, aqidah Asy’ariyyah yang mereka warisi itu adalah dua hal: Pertama, bahwa Imam al Asy’ari mengatakannya, padahal beliau tidak mengatakannya, kecuali pada masa sebelumnya, (lalu beliau tinggalkan dan menuju aqidah Salaf,). Kedua, mereka menyangka sebagai kebenaran, padahal tidak.

    Sumber : http://qaulan-sadida.blogspot.com/2011/12/ummatipress-bantahan-atas-artikel-web.html

    Berikut komentar saya:

    Syaikh al Albani Rahimahullah mengatakan, mereka (yaitu an-Nawawi dan Ibnu Hajar al ‘Asqalani) tidak sengaja menyelisihi al Kitab dan as Sunnah. Pertanyaan yg timbul adalah, siapakah yg lebih paham tentang Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, Syaikh al Albani Rahimahullah atau Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani?

    Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani beraqidah Asy’ariyyah. Syaikh al Albani Rahimahullah mengatakan mereka (Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani) menyangka sebagai kebenaran, padahal tidak. Aqidah itu adalah pokok pokok agama, jika aqidah kedua Imam agung tersebut salah, lantas, aqidah siapakah yg benar? Apakah aqidah Syaikh al Albani Rahimahullah lebih benar dari pada akidah kedua Imam Agung tersebut?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker