Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

akidah

Abu Ubaidah VS Imam Nawawi : Allah Ada di Langit ?

Ustadz Salafy Wahabi tersebut sangat gigih menyebarkan paham batil tentang ALLAH ADA DI LANGIT.

Allah ada di langit ? Ini bantahan Imam Nawawi tentang faham aqidah Allah Ada Di Langit. Di bawah ini adalah bantahan dari seorang pengunjung blog Ustadz Abu Ubaidah (salah seorang  ustadz Salafi Wahabi). Di mana Ustadz Salafy Wahabi tersebut sangat gigih menyebarkan paham batil tentang ALLAH ADA DI LANGIT.
Bantahan dari pengunjung blog tersebut bernama Imam Nawawi sangat menarik untuk disimak. Selain argumentasinya yang kuat didukung oleh perkataan para Imam pengikut kaum Salaf dari Imam-imam Madzhab, bantahannya disertai penjelasan yang masuk akal dan ilmiyyah. Silahkan disimak semoga bermanfaat….

Imam Nawawisays:

April 15, 2010 at 10:22 am

Menyatakan Allah ada di langit sama juga mengatakan Allah ada dimana-mana. Karena di atas bumi langit, di bawah bumi langit, di kanan bumi langit, di kiri bumi juga langit. Jadi langit ada dari segala penjuru bagi makhluk yg tinggal di bumi.

 

Yusuf Abu Ubaidah says:

April 18, 2010 at 7:37 pm

Akhi Imam Nawawi, semoga Allah memberikan hidayah kepada anda. Amiin. Izinkan saya memberikan komentar singkat:
1. Masalah ketinggian Allah di atas langit adalah keyakinan yang berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an, hadits mutawatir, ijma’ ulama, akal dan fithrah sehat. (Lihat buku kami “Di Mana Allah, Pertanyaan Penting Yang Terabaikan”, cet Media Tarbiyah Bogor). Cukuplah bagi kita ucapan salah seorang sahabat senior Imam Syafi’i: “Dalam Al-Qur’an terdapat seribu lebih dalil bahwa Allah tinggi di atas langit”. Maka tanyakanlah pada diri anda: Apakah pantas bagi seorang muslim untuk sombong dan beriskukush menyelisihi dalil-dalil yang kuat di atas?!!!
2. Dalam risalah kami di atas, kami telah membawakan ucapan para imam panutan umat banyak sekali, di antaranya Imam Syafi’i, Abdul Qodir al-Jilani, Abul Hasan al-Asy’ari dll. Tapi menarik sekali di sini sebagai faedah akan kami nukilan ucapan Imam Nawawi, salah seorang ulama madzhab Syafi’i yang terkenal, dengan harapan agar anda bisa menirunya sebagaimana anda telah meniru namanya. Beliau mengatakan dalam kitabnya “Juz Fi Dzikri I’tiqod Salaf fil Huruf wal Ashwath”: “Kami beriman bahwa Allah di atas Arsy-Nya sebagaimana Allah khabarkan dalam KitabNya yang mulia. Kami tidak mengatakan bahwa Allah di setiap tempat, bahkan Allah di atas langit dan ilmuNya di setiap tempat”. Lalu beliau membawakan QS. Al-Mulk: 16, Fathir: 10, hadits budak wanita, lalu beliau mengatakan: “Demikian juga dalil-dalil lainnya dalam Al-Qur’an dan hadits banyak sekali, kami mengimaninya dan tidak menolaknya sedikitpun”.

Imam Nawawi juga menegaskan ketinggian Allah dalam kitabnya Thobaqot Fuqoha Syafi’iyyah 1/470 dan Roudhoh Tholibin 10/85, dan beliau juga menulis kitab Al-Ibanah karya Abul Hasan al-Asya’ari sebagaimana dalam Majmu Fatawa 3/224 yang di dalamnya terdapat ketegasan tentang ketinggian Allah. (Dinukil dari Ad-Dalail Al-Wafiyyah fii Tahqiqi Aqidah An-Nawawi Asalafiyyatun Am Kholafiyyah hlm. 42-47 oleh Syaikhuna Masyhur bin Hasan Alu Salman).
Nah, bagaimana akhi Imam Nawawi, mau kan sekarang mengikuti aqidah Imam Nawawi yang benar ini?!! Semoga Allah memberikan petunjuk kepada anda. Amiin.

*****

BACA JUGA:  Fakta Perbedaan Antara Akidah Wahabi dan Akidah Islam ( bag. I )

Imam Nawawi says:

June 28, 2010 at 9:47 am

1- Imam Abu hanifah:

لايشبه شيئا من الأشياء من خلقه ولا يشبهه شيء من خلقه

Maknanya:: (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun daripada makhlukNya, dan tidak ada sesuatu makhluk pun yang menyerupaiNya. Kitab Fiqh al Akbar, karangan Imam Abu Hanifah:

“ Berkata Imam Abu Hanifah: Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’ala ber istiwa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak berada/menetap di atas Arasy, Dialah yg menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain, sudah pasti Dia tidak mampu mencipta dan tidak mampu mentadbirnya sepeti jua makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum dicipta Arasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”.

BACA JUGA:  Gus Mus: Selamat Tahun Baru, Kawan

Amat jelas di atas bahwa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam (duduk) Allah di atas Arasy.

Semoga Mujassimah diberi hidayah sebelum mati dengan mengucap dua kalimah syahadah kembali kepada Islam.

2-Imam Syafii:

انه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لايجوز عليه التغيير

terjemahnya: sesungguhnya Dia Ta’ala ada (dari zaman azali) dan tempat (sewaktu) belum diciptanya (tempat), kemudian Allah menciptakan tempat dan Dia tetap dengan sifat-Nya yang azali itu sebagaimana sebelum terciptanya tempat, tidak mungkin Allah (mengalami) perubahan (dg butuh tempat). Dinuqilkan oleh Imam Al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil Muttaqin jilid 2 hal. 23
3-Imam Ahmad bin Hanbal :

-استوى كما اخبر لا كما يخطر للبشر

Maknanya: Dia (Allah) istawa sepertimana Dia khabarkan (di dalam al Quran), bukannya seperti yang terlintas di fikiran manusia. Dinuqilkan oleh Imam al-Rifa’i dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, dan juga al-Husoni dalam kitabnya Dafu’ syubh man syabbaha Wa Tamarrad.

وما اشتهر بين جهلة المنسوبين الى هذا الامام المجتهد من أنه -قائل بشىء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه

Maknanya: dan apa yang telah masyhur di kalangan orang-orang jahil yang menisbahkan diri mereka pada Imam Mujtahid ini ( Ahmad bin Hanbal ) bahwa dia ada mengatakan tentang (Allah) berada di arah atau seumpamanya, maka itu adalah pendustaan dan kepalsuan ke atasnya (Imam Ahmad) Kitab Fatawa Haditsiah karangan Ibn Hajar al- Haitami

4- Imam Malik :

الاستواء غير المجهول والكيف غير المعقول والايمان به واجب و السؤال عنه بدعة

Maknanya: Kalimah istiwa’ tidak majhul (diketahui dalam al quran) dan kaif (bentuk) tidak diterima akal, dan iman dengannya wajib, dan bertanya tentangnya (bagaimana istiwanya Allah) adl bid’ah (dlolalah).

BACA JUGA:  Kisah Alam Gaib; Penghuni Kuburan itu Saling Berkunjung

lihat disini : imam malik hanya menulis kata istiwa (لاستواء) bukan memberikan makna dhahir jalasa atau duduk atau bersemayam atau bertempat (istiqrar)

Kesimpulan:

Benarkah Allah ada di langit ? Dengan memperhatikan fatwa ke 4 imam madzhab Ahlussunnah wal jama’ah di atas, maka jelas aqidah para Imam tersebut adalah aqidah yg benar dan lurus. Mereka semua menolak tajsim dan menolak pemberian sifat kepada Allah seperti makhluk-Nya seperti bertempat atau ada di arah tertentu.

Allah sudah ada sejak zaman azali (zaman sebelum terciptanya seluruh makhluk) dan kelak Allah tetap ada saat kiamat (zaman musnahnya seluruh makhluk). Maka bisa kita pahami di zaman azali dan saat kiamat, langit dan arsy tidak ada, dan Allah tetap ada. Mustahil bagi Allah mempunyai sifat butuh terhadap makhluk, seperti butuh tempat yaitu ‘Arsy. Kalau Allah butuh tempat, maka tdk bisa disebut Tuhan, karena dg butuh akan tempat menunjukkan Dia lemah. Dan mustahil Tuhan bersifat lemah. Jika Allah ada di langit maka Allah butuh tempat, yaitu langit.

semoga kita semua selalu dalam aqidah yang benar dan lurus. Tidak sampai terpengaruh dg aqidah sesat mujassimah Wahabi yg menganggap Allah ada di langit. Mereka berkeyakinan Allah bertempat di atas ‘Arsy atau bertempat di atas langit. Karena aqidah ini aqidah sesat, sangat mustahil langit dan Arsy yg merupakan makhluk Allah yg kecil dan terbatas (bagi Allah) menjadi tempat Dzat Yang Maha Besar, Yang Ke-besar-an-Nya tidak terbatas.

*****

Selanjutnya tidak ada bantahan dari ustadz Yusuf Abu Ubaidah. Kecuali hujatan-hujatan kepada Imam Nawawi dari para pengunjung kaum Salafi Wahabi. Mereka mengaku pengikut kaum Salaf tetapi ketika Imam Nawawi mengajukan pendapat kaum Salaf dari Imam-imam Madzhab justru mereka malah semakin kencang hujatannya. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah. Semoga kita selamat dari fitnah kaum Salafi Wahabi, amin….

 

Source:

Tahukah Anda Di Mana Allah?

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

126 thoughts on “Abu Ubaidah VS Imam Nawawi : Allah Ada di Langit ?”

    1. Mas Ucep,
      dalam masalah ini, Wahabi sebenarnya sudah KO tetapi mereka kan terkenal ngeyel yang mana ngeyel adalah merupakan salah satu ciri2 pengikut aliran sesat. Karena tdak mampu menjelaskan akhirnya cuma ngeyel, biar keliru yg penting ngeyel pasti “menang”, kwk kwk kwk…..

  1. sanggahan yang bagus. sekedar info. ada buku kecil tentang aqidah 4 imam madzhab yang ditulis oleh salah satu tokoh wahabi nama penulisnya saya lupa hanya ingat nama belakangnya alkhumais. diterjemahkan oleh ali mustofa ya`qub (imam istiqlal). isi buku itu sangat kental dengan faham tajsimnya. saya rasa perlu ada buku bantahannya supaya ummat tidak tersesat. buku itu sepertinya dibagikan cuma-cuma.

  2. Bismillah
    Sekedar koreksi buat blog ummati mohon selektif dalam mengeposkan artikel..
    الاستواء غير المجهول والكيف غير المعقول والايمان به واجب و السؤال عنه بدعة
    Maknanya: Kalimah istiwa’ tidak majhul (diketahui dalam al quran) dan kaif (bentuk) tidak diterima akal, dan iman dengannya wajib, dan bertanya tentangnya (bagaimana istiwanya Allah) adl bid’ah (dlolalah).
    lihat disini : imam malik hanya menulis kata istiwa (لاستواء) bukan memberikan makna dhahir jalasa atau duduk atau bersemayam atau bertempat (istiqrar)
    saya hanya menanggapi dan ini tanggapan dari ustad abul jauza..
    1. Jika yang Anda maksud adalah bahwa “Salafy-Wahabiy” yang Anda anggap sebagaiMujassimah adalah orang yang membuat-buat perkataan tersebut, maka itu adalah keliru. Perkataan Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah :
    الاستواء معلوم والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة.
    “Istiwaa’ itu telah diketahui (maknanya), kaifiyah-nya tidak diketahui (majhuul), beriman kepadanya adalah wajib, dan menanyakan tentangnya adalah bid’ah”
    bukanlah buatan Salafy-Wahabiy. Apakah Anda tidak pernah membuka-buka kitab sehingga bisa menemukan perkataan Al-Imam Malik bin Anas ini dari para ulama terdahulu ? Simak perkataan Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah dalam Tafsir-nya :
    قال مالك رحمه الله: الاستواء معلوم – يعني في اللغة – والكيف مجهول، والسؤال عن هذا بدعة. وكذا قالت أم سلمة رضي الله عنها
    “Telah berkata Malik rahimahullah : ‘Al-Istiwaa’ adalah diketahui (ma’luum) – yaitu (diketahui) dalam bahasa (‘Arab) – , kaifiyah-nya tidak diketahui (majhuul), bertanya tentang hal ini adalah bid’ah’. Hal yang sama juga dikatakan oleh Ummu Salamahradliyallaahu ‘anhaa” [Tafsir Al-Qurthubi (Al-Jaami’ li-Ahkaamil-Qur’aan), 7/219-220, tahqiq : Hisyaam Samiir Al-Bukhariy; Daar ‘Aalamil-Kutub, Cet. Thn. 1423, Riyadl – atau 9/239, tahqiq : Dr. ‘Abdullah bn ‘Abdil-Muhsin At-Turkiy; Muassasah Ar-Risalah, Cet. 1/1427, Beirut]

    http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2537
    jilid 7
    http://ia600200.us.archive.org/2/items/waq61451/07_61454.pdf

    Juga Al-Ghazzaaliy dengan lafadh :
    …..واتباع ما تشابه من الكتاب والسنة. كما روي عن مالك – رحمه الله- أنه سُئل عن الاستواء، فقال: “الاستواء معلوم، والإيمان به واجب، والكيفية مجهولة، والسؤال عنه بدعة
    “……Dan mengikuti apa-apa serupa dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebagaimana diriwayatkan dari Maalik rahimahullah bahwasannya ia pernah ditanya tentang al-istiwaa’. Maka beliau menjawab : ‘Al-Istiwaa’ itu diketahui (ma’luum), beriman kepadanya adalah wajib, kaifiyah-nya tidak diketahui (majhuul), dan bertanya tentangnya dalah bid’ah” [Fashlut-Tafriqah Bainal-Kufr waz-Zindiqah, hal. 88; Cet. 1/1353 H].
    Juga Al-Imam Abu Bakr bin Al-‘Arabiy rahimahullah dengan lafadh :
    وقال مالك أنه لم يتأول. ومذهب مالك رحمه الله أن كل حديث منها معلوم المعنى ولذلك قال للذي سأله :الاستواء معلوم والكيفية مجهولة
    “Dan telah Malik bahwasannya ia tidak men-ta’wil-kannya. Madzhab Malikrahimahullah mengatakan bahwa semua hadits tentang sifat adalah diketahuinya maknanya. Oleh karena itu beliau berkata kepada orang yang bertanya kepadanya :‘Al-Istiwaa’ diketahui (ma’luum), kaifiyyah-nya tidak diketahui (majhuul)” [‘Aaridlatul-Ahwadziy, 3/166; Daarul-Kutub Al-‘Ilmiyyah, tanpa tahun].saya kasih link bukunya..
    http://www.waqfeya.com/book.php?bid=713
    untuk jilid 3
    http://s203841464.onlinehome.us/waqfeya/books/11/1034/1034_03.rar
    Al-Imam Al-Juwainiy rahimahullah dengan lafadh :
    الاستواء معلوم والكيفية مجهولة والسؤال عنه بدعه
    “Al-Istiwaa itu diketahui (ma’luum), kaifiyyah-nya tidak diketahui (majhuul), dan bertanya tentangnya adalah bid’ah” [Al-‘Aqiidah An-Nidhaamiyyah, hal. 23; Mathbaqah Al-Anwaar, Cet. Thn. 1948, Kairo].

    1. Ummu Abdillah, kami sudah cukup selektif dalam menampilkan artikel. Yang perlu anda sadari adalah bahwa UmmatiPress bukan Web milik Wahabi, jadi jangan paksakan ukuran “selektif” versi Wahabi untuk UmmatiPress.

      Ummu Abdillah, … الاستواء معلوم (Istiwaa’ itu telah diketahui maknanya), tolong jelaskan apa maksudnya. Sebab walaupun dikatakan maklum, maklumnya itu seperti apa? Silahkan jelaskan….

    2. sebaiknya Ummu Abdillah diskusi tidak asal copas , mas admin ikut nyimak ya…….? mudah-mudahan Ummu Abdillah dapat berdiskusi dengan baik.

    3. @mbak ummu abdillah, saya tidak berani berpanjang-panjang tentang ayat-ayat mutasyabbihat, namun saya hanya akan bertanya sedikit tentang redaksi

      PERKATAAN AL-IMAM AL-QURTHUBI RAHIMAHULLAH DALAM TAFSIR-NYA :
      قال مالك رحمه الله: الاستواء معلوم – يعني في اللغة – والكيف مجهول، والسؤال عن هذا بدعة. وكذا قالت أم سلمة رضي الله عنها
      “TELAH BERKATA MALIK RAHIMAHULLAH : ‘AL-ISTIWAA’ ADALAH DIKETAHUI (MA’LUUM) – YAITU (DIKETAHUI) DALAM BAHASA (‘ARAB) – , KAIFIYAH-NYA TIDAK DIKETAHUI (MAJHUUL), BERTANYA TENTANG HAL INI ADALAH BID’AH’

      Dengan pertanyaan sbb:
      1. apakah dalam kitab mu’tabaroh lafadznya memang seperti itu? Atau seperti makalah yang disampaikan admin Ummati, atau Cuma senada? Yakni:
      الاستواء غير المجهول والكيف غير المعقول والايمان به واجب و السؤال عنه بدعة
      Karena perbedaan lafadz dalam bahasa arab akan sangat berbeda kalau kita cermati secara mendalam.

      2. apakah dalam kitab-kitab ulama salaf ada pentafsiran يعني في اللغة – YAITU (DIKETAHUI) DALAM BAHASA (‘ARAB)? Karena kami kok belum menemukannya ya? Atau ini tafsiran ulama kontenporer?

      3. jalur sanad yang ada dalam maqolah imam malik ini statusnya gimana? Dan apakah ini benar dawuh imam malik atau lainnya (mis: gurunya?)

      Trims atas tanggapannya
      Wallohu a’lam

      1. Sedikit penjelasan dari pertanyaan kami:
        Tentang Sub 1 dan 2. Yang mengatakan redaksi seperti mbak ummu abdillah setelah kami lacak via syamilah, kebanyakan dari pendapat kitab-kitab salafi, dan hanya imam qurthubi yang seperti perkataan mbak, namun setelah itu beliau menjelaskan demikian:

        تفسير القرطبي – (ج 7 / ص 141) دار الكتب العلمية
        وهذا القدر كاف، ومن أراد زيادة عليه فليقف عليه في موضعه من كتب العلماء. والاستواء في كلام العرب هو العلو والاستقرار.
        “Pengertian ini sudahlah cukup, barang siapa yang menginginkan lebih silahkan melihat pada tempatnya dari kitab-kitab ulama. Adapun istiwa dalam kalam arab adalah tinggi (al uluw) dan menetap (al istiqror)”. Kemudian sampai ucapan:

        تفسير القرطبي – (ج 7 / ص 141) دار الكتب العلمية
        قلت: فعلو الله تعالى وارتفاعه عبارة عن علو مجده وصفاته وملكوته. أي ليس فوقه فيما يجب له من معاني الجلال أحد، ولا معه من يكون العلو مشتركا بينه وبينه، لكنه العلي بالإطلاق سبحانه.
        “Aku (Imam Qurthubi) berkata: Sifat Uluw alloh dan tinggiNYA (irtifa’) itu adalah ibarat (mempunyai pengertian:pent) dari TINGGINYA KEMULIAAN ALLOH , SIFAT-SIFATNYA DAN KEKUASAANNYA…”

        Jadi apakah pas atau cocok Dawuh Imam qurthubi untuk menafsiri maqolah imam Malik yang sesuai dengan pemahaman mbak? Walaupun Imam qurthubi mengatakan يعني في اللغة – YAITU (DIKETAHUI) DALAM BAHASA (‘ARAB)?
        Wallohu A’lam

    4. @Ummu Abdillah

      Al-Hafizh al-Bayhaqi dalam karyanya berjudul al-Asma’ Wa ash-Shifat, dengan sanad yang baik (jayyid), -sebagaimana penilaian al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari-, meriwayatkan dari al-Imam Malik dari jalur Abdullah ibn Wahb, bahwa ia -Abdullah ibn Wahb-, berkata:

      “Suatu ketika kami berada di majelis al-Imam Malik, tiba-tiba seseorang datang menghadap al-Imam, seraya berkata: Wahai Abu Abdillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimanakah Istawa Allah?. Abdullah ibn Wahab berkata: Ketika al-Imam Malik mendengar perkataan orang tersebut maka beliau menundukan kepala dengan badan bergetar dengan mengeluarkan keringat. Lalu beliau mengangkat kepala menjawab perkataan orang itu: “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa sebagaimana Dia mensifati diri-Nya sendiri, tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana, karena “bagaimana” (sifat benda) tidak ada bagi-Nya. Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”. Lalu kemudian orang tersebut dikeluarkan dari majelis al-Imam Malik (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408)”.

      “Penilaian al-Imam Malik terhadap orang tersebut sebagai ahli bid’ah tidak lain karena kesalahan orang itu mempertanyakan Kayfiyyah Istiwa bagi Allah. Hal ini menunjukan bahwa orang tersebut memahami ayat ini secara indrawi dan dalam makna zhahirnya. Tentu makna zhahir Istawa adalah duduk bertempat, atau menempelnya suatu benda di atas benda yan lain. Makna zhahir inilah yang dipahami oleh orang tersebut, namun ia meragukan tentang Kayfiyyah dari sifat duduk tersebut, karena itu ia bertanya kepada al-Imam Malik. Artinya, orang tersebut memang sudah menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah. Ini jelas merupakan keyakinan tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya), dan karena itu al-Imam Malik meyebut orang ini sebagai ahli bid’ah” (Furqan al-Qur’an Bain Shifat al-Khaliq Wa al-Akwan, h. 22).

    5. @Ummu Abdillah

      KESUCIAN AQIDAH IMAM MALIKI

      Tentang kesucian tauhid al-Imam Malik ibn Anas, al-Imam al-‘Allamah al-Qadli Nashiruddin ibn al-Munayyir al-Maliki, salah seorang ulama terkemuka sekitar abad tujuh hijriyah, dalam karyanya berjudul al-Muqtafa Fi Syaraf al-Musthafa telah menuliskan pernyataan al-Imam Malik bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dalam karyanya tersebut, al-Imam Ibn al-Munayyir mengutip sebuah hadits, riwayat al-Imam Malik bahwa Rasulullah bersabda: “La Tufadl-dliluni ‘Ala Yunus Ibn Matta” (Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta). Dalam penjelasan hadits ini al-Imam Malik berkata bahwa Rasulullah secara khusus menyebut nabi Yunus dalam hadits ini, tidak menyebut nabi lainya, adalah untuk memberikan pemahaman akidah tanzih, -bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah-. Hal ini karena Rasulullah diangkat ke atas ke arah arsy -ketika peristiwa Mi’raj-, sementara nabi Yunus dibawa ke bawah hingga ke dasar lautan yang sangat dalam -ketika beliau ditelan oleh ikan besar-,dan kedua arah tersebut, baik arah atas maupun arah bawah, keduanya bagi Allah sama saja. Artinya satu dari lainnya tidak lebih dekat kepada-Nya, karena Allah ada tanpa tempat. Karena seandainya kemuliaan itu diraih karena berada di arah atas, maka tentu Rasulullah tidak akan mengatakan “Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta”. Dengan demikian, hadits ini oleh al-Imam Malik dijadikan salah satu dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah (Lihat penjelasan ini dalam al-Muqtafa Fi syaraf al-Mustahafa. Perkataan Al-Imam Malik ini juga dikutip oleh Al-Imam Taqiyyuddin as-Subki dalam karya bantahannya atas Ibn al-Qayyim al-Jaiziyyah (murid Ibn Taimiyah); yang berjudul as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil. Demikian pula perkataan Al-Imam Malik ini dikutip oleh Al-Imam Muhammad Murtadla az-Zabidi dalam karyanya Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarah Ihya ‘Ulumiddin).

    6. @Ummu Abdillah

      Adapun riwayat yang dikemukan oleh Suraij ibn an-Nu’man dari Abdullah ibn Nafi’ dari al-Imam Malik, bahwa ia -al-Imam Malik- berkata: “Allah berada di langit, dan ilmu-Nya di semua tempat”, adalah riwayat yang sama sekali tidak benar (Ghair Tsabit). Abdullah ibn Nafi’ dinilai oleh para ahli hadits sebagai seorang yang dla’if. Al-Imam Ahmad ibn Hanbal berkata: “’Abdullah ibn Nafi’ ash-Sha’igh bukan seorang ahli hadits, ia adalah seorang yang dla’if”. Al-Imam Ibn Adi berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’ banyak meriwayatkan ghara-ib (riwayat-riwayat asing) dari al-Imam Malik”. Ibn Farhun berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’- adalah seorang yang tidak membaca dan tidak menulis” (Lihat biografi Abdullah ibn Nafi’ dan Suraij ibn an-Nu’man dalam kitab-kitab adl-Dlu’afa’, seperti Kitab ald-Dlu’afa karya an-Nasa-i dan lainnya).

      Dengan demikian pernyataan yang dinisbatkan kepada al-Imam Malik di atas adalah riwayat yang sama sekali tidak benar. Dan kata-kata tersebut yang sering kali dikutip oleh kaum Musyabbihah dan dinisbatkan kepada al-Imam Malik tidak lain hanyalah kedustaan belaka.

    7. @Ummu Abdillah

      Ahli tafsir terkemuka di kalangan Ahlussunnah, al-Imâm al-Mufassir Muhammad ibn Ahmad al-Anshari al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya yang sangat terkenal; al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, menuliskan sebagai berikut: “Nama Allah “al-‘Aliyy” adalah dalam pengertian ketinggian derajat dan kedudukan bukan dalam pengertian ketinggian tempat, karena Allah maha suci dari bertempat” (al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 3, h. 278, dalam QS. al-Baqarah: 255).

      Pada bagian lain dalam kitab yang sama al-Imâm al-Qurthubi menuliskan: “Makna Firman-Nya: “Fawqa ‘Ibadih…” (QS. al-An’am: 18), adalah dalam pengertian fawqiyyah al-Istila’ bi al-Qahr wa al-ghalabah; artinya bahwa para hamba berada dalam kekuasaan-Nya, bukan dalam pengertian fawqiyyah al-makan, (bukan dalam makna bertempat di atas)” (al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 6, h. 399, dalam QS. al-An’am: 18).

      Masih dalam kitabnya yang sama al-Imâm al-Qurthubi juga menuliskan sebagai berikut: “Kaedah (yang harus kita pegang teguh): Allah maha suci dari gerak, berpindah-pindah, dan maha suci dari berada pada tempat” (al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 6, h. 390, dalam QS. al-An’am: 3).

      Kemudian dalam menafsirkan firman Allah QS. Al An’am:158, al-Imâm al-Qurthubi menuliskan: Yang dimaksud dengan al-Maji’ pada hak Allah adalah adalah bukan dalam pengertian gerak, bukan pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, bukan pula dalam pengertian condong. Karena sifat-sifat seperti demikian itu hanya terjadi pada sesuatu yang merupakan Jism (tubuh) atau Jauhar (benda)” (al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 7, h. 148, dalam QS. al-An’am: 158).

      Pada bagian lain firman Allah tentang Nabi Yunus:
      وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَن لآإِلَهَ إِلآ أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (الأنبياء: 87) al-Imâm al-Qurthubi menuliskan: “Abu al-Ma’ali berkata: Sabda Rasulullah berbunyi :
      لاَ تُفَضِّلُوْنِي عَلَى يُوْنُس بْنِ مَتّى memberikan pemahaman bahwa saya (Nabi Muhammad) yang diangkat hingga ke Sidrah al-Muntaha tidak boleh dikatakan lebih dekat kepada Allah dibanding Nabi Yunus yang berada di dalam perut ikan besar yang kemudian dibawa hingga ke kedalaman lautan. Ini menunjukan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah” (al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 11, h. 333-334, dalam QS. al-Anbiya’: 87).

      Kemudian dalam menafsirkan firman Allah:
      وَجَآءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا (الفجر: 22) al-Imâm al-Qurthubi menuliskan: “Allah yang maha agung tidak boleh disifati dengan perubahan atau berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Dan mustahil Dia disifati dengan sifat berubah atau berpindah. Karena Dia ada tanpa tempat dan tanpa arah, dan tidak berlaku atas-Nya waktu dan zaman. Karena sesuatu yang terikat oleh waktu itu adalah sesuatu yang lemah dan makhluk” (al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 20, h. 55, dalam QS. al-Fajr: 22).

      Kemudian dalam menafsirkan firman Allah:
      ءَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَآءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ اْلأَرْضَ (الملك 16) al-Imâm al-Qurthubi menuliskan: “Yang dimaksud oleh ayat ini adalah keagungan Allah dan kesucian-Nya dari arah bawah. Dan makna dari sifat Allah al-‘Uluww adalah dalam pengertian ketinggian derajat dan keagungan bukan dalam pengertian tempat-tempat, atau arah-arah, juga bukan dalam pengertian batasan-batasan. Karena sifat-sifat seperti demikian itu adalah sifat-sifat benda (al-ajsam). Adapun bahwa kita mengangkat tangan ke arah langit dalam berdoa karena langit adalah tempat turunnya wahyu, tempat turunnya hujuan, tempat yang dimuliakan, juga tempat para Malaikat yang suci, serta ke sanalah segala kebaikan para hamba diangkat, hingga ke arah arsy dan ke arah surga, hal ini sebagaimana Allah menjadikan ka’bah sebagai kiblat dalam doa dan shalat kita. Karena sesungguhnya Allah yang menciptakan segala tempat, maka Dia tidak membutuhkan kepada ciptaannya tersebut. Sebelum menciptakan tempat dan zaman, Allah ada tanpa permulaan (Azali), tanpa tempat, dan tanpa zaman. Dan Dia sekarang setelah menciptakan tempat dan zaman tetap ada -sebagaimana sifat Azali-Nya- tanpa tempat dan tanpa zaman” (al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 18, h. 216, dalam QS. al-Mulk: 16).

      JADI, AQIDAH al-Imâm al-Qurthubi ADALAH ALLAH SWT. ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH.

    8. @Ummu Abdillah

      tolong dong di jawab pertanyaan saya yg sebelumnya, anda dapat meminta bantuan kepada al imam al mujtahid firanda andirja, al imam al mujtahid abul jauza dll.

      1. DIMANA ALLAH SWT. YANG MAHA SUCI SEBELUM MENCIPTAKAN TEMPAT?

      2. ‘ARASY ATAU TEMPAT BERSEMAYAMNYA ALLAH SWT YANG MAHA SUCI, BERSIFAT QADIM AZALI ATAU TIDAK?

  3. Assaalamu ‘alaikum wr.wb
    @ikhwan fi ad-din
    Numpang tanya ni…. akidah salafy apa mengikut akidah Imam Ahmad bin Hambal r.a. ? Dan bagaimana beliau dalam berakidah?. Mohon jawaban dilengkapi dgn maroji’ nya.
    Terima kasih sebelumnya. wassalam.

  4. assalamu ‘alaikum wr.wb
    Mohon penjelasan kepada ikhwan semua, Apakah salafy mengikut pada akidah Imam Ahmad bin Hambal r.a.?. Dan bagaimana pula dengan akidah beliau didalam tulisan beliau atau tulisan ashhabnya?. Mohon penjelsan. Syukron sebelumnya.

  5. assalamu ‘alaikum wr.wb
    Mohon penjelsan dari ikhwan semua :
    1. apakah salafy mengikut akidah imam Ahmad bin Hambal r.a.?
    2.Bagaimana sebenarnya akidah beliau?.
    Mohon lengakapi dengan maraji’nya. Terima kasih. wassalam

    1. waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh @. akhuna laitani

      pertanyaan antum : 1. apakah salafy mengikut akidah imam Ahmad bin Hambal r.a.?.

      jawab : jika ” salafi ” yang antum maksud adalah Wahabi maka jawabannya salafi/wahabi tidak mengikuti Aqidah Imam Ahmad Ibnu Hnbal ra.

      2.Bagaimana sebenarnya akidah beliau?.

      jawab : yang antum tanyakan dalam hal apa ……? mohon lebih spesifik sebab banyak sekali perbedaan Aqidah Imam Ahmad ra dengan aqidah kaum Wahabi/salafi.

    2. @laitani min al-muhibbin

      Anda dapat membaca kitab Daf’u Syubah At-Tasybih karya Ibn al Jawzi.Beliau adalah salah seorang Imam Ahlussunah wal Jama’ah dari kalangan mazhab Hanbali.

  6. Ummu Abdillah ini seperti BEO yang telah dilatih copy paste. Sampai2 waktu membantah tulisan Ustadz Abu Hiya, dengan terpaksa dikatakan oleh Abu Hiya “membantah tanpa ilmu yang cukup” sewaktu membela Ustadz Firanda. Kita akan buktikan atas partanyaan2 yang diajukan kepada dia di atas, pasti dia tidak bisa jawab dan hilang, kemudian kembali lagi dengan copy paste materi yang lain. Wahabi ga laki ga perempuan ga ustadnya, semuanya modal copy paste doang.

  7. Ust. Ahmadsahid bisa membantu saya dimakah referensi dan ucapan
    Imam Nawawi says:
    June 28, 2010 at 9:47 am
    1- Imam Abu hanifah:
    لايشبه شيئا من الأشياء من خلقه ولا يشبهه شيء من خلقه
    Maknanya:: (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun daripada makhlukNya, dan tidak ada sesuatu makhluk pun yang menyerupaiNya.Kitab Fiqh al Akbar, karangan Imam Abu Hanifah:
    “ Berkata Imam Abu Hanifah: Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’ala ber istiwa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak berada/menetap di atas Arasy, Dialah yg menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain, sudah pasti Dia tidak mampu mencipta dan tidak mampu mentadbirnya sepeti jua makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum dicipta Arasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”.
    Amat jelas di atas bahwa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam (duduk) Allah di atas Arasy.
    Semoga Mujassimah diberi hidayah sebelum mati dengan mengucap dua kalimah syahadah kembali kepada Islam.
    Setahu saya perkataan imam abu hanifah dibawah ini..
    Sikap Keras Abu Hanifah Terhadap Orang Yang Tidak Tahu Di Manakah Allah
    Imam Abu Hanifah mengatakan dalam Fiqhul Akbar,
    من انكر ان الله تعالى في السماء فقد كفر
    “Barangsiapa yang mengingkari keberadaan Allah di atas langit, maka ia kafir.”[ Lihat Itsbatu Shifatul ‘Uluw, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, hal. 116-117, Darus Salafiyah, Kuwait, cetakan pertama, 1406 H. Lihat pula Mukhtashor Al ‘Uluw, Adz Dzahabiy, Tahqiq: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 137, Al Maktab Al Islamiy.]
    Dan ini referensi kitabnya monggo di download yah…biar tambah ilmu dan tingkat keilmiahan kita…

    http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2572

    http://ia600508.us.archive.org/8/items/waq18296/18296.pdf

    1. Ummu abdillah nukilan anda diatas : diriwayatkan oleh abu muth`i al-hakam ibn abdillah al-balkhi namanya adalah al-hakam ibn abdillah ibn muslim abu muth`i al-balkhi dia adalah pendusta

      silahkan lihat lisanul mizan j 2 h.407 , kenapa sih kaum wahabi banyak menukil dari para pendusta …….?

  8. Dari Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy -pemilik kitab Al Fiqhul Akbar-, beliau berkata,

    سألت أبا حنيفة عمن يقول لا أعرف ربي في السماء أو في الأرض فقال قد كفر لأن الله تعالى يقول الرحمن على العرش استوى وعرشه فوق سمواته فقلت إنه يقول أقول على العرش استوى ولكن قال لا يدري العرش في السماء أو في الأرض قال إذا أنكر أنه في السماء فقد كفر رواها صاحب الفاروق بإسناد عن أبي بكر بن نصير بن يحيى عن الحكم
    Aku bertanya pada Abu Hanifah mengenai perkataan seseorang yang menyatakan, “Aku tidak mengetahui di manakah Rabbku, di langit ataukah di bumi?” Imam Abu Hanifah lantas mengatakan, “Orang tersebut telah kafir karena Allah Ta’ala sendiri berfirman,

    الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

    “Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”. Dan ‘Arsy-Nya berada di atas langit.” Orang tersebut mengatakan lagi, “Aku berkata bahwa Allah memang menetap di atas ‘Arsy.” Akan tetapi orang ini tidak mengetahui di manakah ‘Arsy, di langit ataukah di bumi. Abu Hanifah lantas mengatakan, “Jika orang tersebut mengingkari Allah di atas langit, maka dia kafir.”[Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, Adz Dzahabi, hal. 135-136, Maktab Adhwaus Salaf, Riyadh, cetakan pertama, 1995.]

    Kitab bisa di download dibawah ini..biar tambah ilmu saudaraku…

    http://ia600301.us.archive.org/29/items/waq25623/25623.pdf

  9. مَالك إِمَام دَار الْهِجْرَة
    وَقَالَ عبد الله بن أَحْمد بن حَنْبَل فِي الرَّد على الْجَهْمِية حَدثنِي أبي حَدثنَا شُرَيْح بن النُّعْمَان عَن عبد الله بن نَافِع قَالَ قَالَ مَالك بن أنس الله فِي السَّمَاء وَعلمه فِي كل مَكَان لَا يَخْلُو مِنْهُ شَيْء

    Imam Malik bin Anas, Imam Darul Hijroh Meyakini Allah di Atas Langit
    Dari Abdullah bin Ahmad bin Hambal ketika membantah paham Jahmiyah, ia mengatakan bahwa Imam Ahmad mengatakan dari Syraih bin An Nu’man, dari Abdullah bin Nafi’, ia berkata bahwa Imam Malik bin Anas mengatakan,

    الله في السماء وعلمه في كل مكان لا يخلو منه شيء

    “Allah berada di atas langit. Sedangkan ilmu-Nya berada di mana-mana, segala sesuatu tidaklah lepas dari ilmu-Nya.”[ Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 138.]

    Kitab yang sama dengan diatas..

    http://ia600301.us.archive.org/29/items/waq25623/25623.pdf

    1. nukilan ini sudah dijawab mas Agung : Adapun riwayat yang dikemukan oleh Suraij ibn an-Nu’man dari Abdullah ibn Nafi’ dari al-Imam Malik, bahwa ia -al-Imam Malik- berkata: “Allah berada di langit, dan ilmu-Nya di semua tempat”, adalah riwayat yang sama sekali tidak benar (Ghair Tsabit).

      Abdullah ibn Nafi’ dinilai oleh para ahli hadits sebagai seorang yang dla’if. Al-Imam Ahmad ibn Hanbal berkata: “’Abdullah ibn Nafi’ ash-Sha’igh bukan seorang ahli hadits, ia adalah seorang yang dla’if”. Al-Imam Ibn Adi berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’ banyak meriwayatkan ghara-ib (riwayat-riwayat asing) dari al-Imam Malik”. Ibn Farhun berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’- adalah seorang yang tidak membaca dan tidak menulis” (Lihat biografi Abdullah ibn Nafi’ dan Suraij ibn an-Nu’man dalam kitab-kitab adl-Dlu’afa’, seperti Kitab ald-Dlu’afa karya an-Nasa-i dan lainnya).

      semoga Ummu Abdillah sadar.

      1. ahmadsahid says

        nukilan ini sudah dijawab mas Agung : Adapun riwayat yang dikemukan oleh Suraij ibn an-Nu’man dari Abdullah ibn Nafi’ dari al-Imam Malik, bahwa ia -al-Imam Malik- berkata: “Allah berada di langit, dan ilmu-Nya di semua tempat”, adalah riwayat yang sama sekali tidak benar (Ghair Tsabit).

        Abdullah ibn Nafi’ dinilai oleh para ahli hadits sebagai seorang yang dla’if. Al-Imam Ahmad ibn Hanbal berkata: “’Abdullah ibn Nafi’ ash-Sha’igh bukan seorang ahli hadits, ia adalah seorang yang dla’if”. Al-Imam Ibn Adi berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’ banyak meriwayatkan ghara-ib (riwayat-riwayat asing) dari al-Imam Malik”. Ibn Farhun berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’- adalah seorang yang tidak membaca dan tidak menulis” (Lihat biografi Abdullah ibn Nafi’ dan Suraij ibn an-Nu’man dalam kitab-kitab adl-Dlu’afa’, seperti Kitab ald-Dlu’afa karya an-Nasa-i dan lainnya).
        semoga Ummu Abdillah sadar.

        AMIN ATAS DOANYA UST
        Ya sadar dari akidah seperti yang anda anut dan temen..UMMATIPRESS
        MUNGKIN SAYA TIDAK PANJANG LEBAR MENJAWABNYA..KARENA INI SUDAH DIJAWAB OLEH ABUL JAUZA..

        Sumber copi paste Anda itu tidak valid dan curang dalam mengutip komentar ulama.

        ‘Abdullah bin Naafi’ bin Abi Naafi’ Ash-Shaaigh Al-Makhzuumiy, Abu Muhammad Al-Madaniy; seorang yang tsiqah, shahiihul-kitaab, namun pada hapalannya terdapat kelemahan (layyin). Wafat tahun 206 H [idem, hal. 552, no. 3683].

        Ibnu Ma’iin berkata : “Tsiqah”. Abu Zur’ah berkata : “Tidak mengapa dengannya”. An-Nasaa’iy berkata : “Tidak mengapa dengannya”. Di lain tempat ia berkata : “Tsiqah”. Ibnu Hibbaan berkata : “Shahiihul-kitaab, namun jika ia meriwayatkan dari hapalannya, kadang keliru”. Al-‘Ijliy berkata : “Tsiqah”. Al-Khaliiliy berkata : “Tsiqah, Asy-Syaafi’iy memujinya”. Ibnu Qaani’ berkata : “Madaniy, shalih”. Al-Haakim berkata : “Tsiqah”.

        Memang benar, ada beberapa huffaadh mengkritik hapalan Ibnu Naafi’ seperti Abu Haatim, Al-Bukhaariy, Ad-Daaruquthniy, dan Abu Zur’ah dalam riwayatnya yang lain.

        Akan tetapi, bersamaan dengan itu, ia dikenal shaahibu Maalik dalam periwayatan dan lebih diutamakan dibanding yang lainnya.

        Ibnu Sa’d rahimahullah berkata :

        كان قد لزم مالك بن أنس لزوما شديدا لا يقدم عليه أحد

        “Ia melazimi Maalik bin Anas dengan amat sangat, tidak ada seorang pun yang mendahuluinya”.

        Ibnu ‘Adiy rahimahullah berkata :

        روى عن مالك غرائب ، و هو فى رواياته مستقيم الحديث

        “Ia meriwayatkan beberapa riwayat ghariib dari Maalik. Dan ia dalam riwayatnya (Maalik) mustaqiimul-hadiits”.

        Ibnu Ma’iin rahimahullah berkata :

        وعبد الله بن نافع ثبت فيه

        “Dan ‘Abdullah bin Naafi’ tsabt dalam riwayat Maalik”.

        Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata :

        كان عبد الله بن نافع أعلم الناس برأى مالك و حديثه ، كان يحفظ حديث مالك كله ثم دخله بآخرة شك

        “’Abdullah bin Naafi’ adalah orang yang paling mengetahui tentang pendapat dan hadits Maalik. Ia menghapal semua hadits Maalik, namun timbul keraguan di akhir hayatnya”.

        Abu Daawud rahimahullah berkata :

        وكان عبد الله عالما بمالك ، و كان صاحب فقه

        “’Abdullah adalah seorang ‘aalim tentang Maalik, seorang ahli fiqh”.

        Ahmad bin Shaalih Al-Mishriy rahimahullah berkata :

        كان أعلم الناس بمالك، و حديثه

        “Ia adalah orang yang paling mengetahui tentang Maalik dan haditsnya”.

        [lihat : Tahdziibut-Tahdziib, 6/52].

        Dan khusus Al-Imaam Ahmad (yang perkataannya di atas sering dijadikan alasan untuk melemahkan atsar ini), maka beliau menyepakati apa yang dikatakan Al-Imaam Maalik bin Anas rahimahullah dengan periwayatan dari ‘Abdullah bin Naafi’ ini.

        حدثنا أبو الفضل جعفر بن محمد الصندلى قال : حدثنا الفضل بن زياد قال : سمعت أبا عبد الله أحمد بن حنبل يقول : قال مالك بن أنس : الله عز وجل في السماء وعلمه في كل مكان ، لا يخلو منه مكان ، فقلت : من أخبرك عن مالك بهذا ؟ قال : سمعته من شريح بن النعمان ، عن عبد الله بن نافع
        Telah menceritakan kepada kami Abul-Fadhl Ja’far bin Muhammad Ash-Shandaliy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl bin Ziyaad, ia berkata : Aku mendengar Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal berkata : Telah berkata Maalik bin Anas : “Allah ‘azza wa jalla berada di langit dan ilmu-Nya ada di setiap tempat. Tidak ada sesuatupun yang luput dari-Nya”. Lalu aku (Al-Fadhl bin Ziyaad) berkata : “Siapakah yang mengkhabarkan kepadamu dari Maalik perkataan ini ?”. Ahmad berkata : “Aku mendengarnya dari Syuraih bin An-Nu’maan, dari ‘Abdullah bin Naafi’” [Diriwayatkan oleh Al-Aajuriiy dalam Asy-Syarii’ah, no. 696].

        Perkataan Ahmad bahwa ‘Abdullah bin Naafi’ itu mengalami keraguan di akhir hayatnya, maka itu tidaklah menggugurkan semua periwayatan ‘Abdullah bin Naafi’. Tentu saja ini dengan melihat penjamakan semua ulama tentangnya. Riwayatnya dihukumi wahm jika memang ada bukti kongkrit ia wahm dalam periwayatan. Jika tidak, maka shahih.

        Catatan terhadap komentar Anda (atau sumber copas Anda tentang ‘Abdullah bin Naafi’) :

        Perkataan Anda :

        Dia -Abdullah ibn Nafi’ banyak meriwayatkan ghara-ib (riwayat-riwayat asing) dari al-Imam Malik.

        maka ini memotong secara tidak fair perkataan Ibnu ‘Adiy. Sebab, kelanjutab perkataan beliau adalah : wahuwa fii riwayatihi mustaqiimul-hadiits (dan ia dalam riwayat Maalik, mustaqiimul-hadiits). Artinya, Ibnu ‘Adiy menghukumi riwayatnya dari Maalik adalah lurus atau shahih.

        Perkataan Anda :

        Al-Imam Ahmad ibn Hanbal berkata: “’Abdullah ibn Nafi’ ash-Sha’igh bukan seorang ahli hadits, ia adalah seorang yang dla’if”.

        Ini juga merupakan manipulasi dari perkataan Ahmad. Memang benar Ahmad berkata :

        ولم يكن صاحب حديث

        “Ia bukanlah seorang shaahibul-hadiits”.

        Namun Ahmad tidak mengatakan : “ia adalah seorang yang dla’iif”. Lain kali, kalau menukil perkataan ulama yang benar ya…. Seandainya Anda memang menemukannya dari kutub rijaal, silakan dicantumkan sumbernya, sebab saya sudah memeriksa di kitab Mausu’ah Aqwaal Al-Imaam Ahmad, perkataan beliau seperti yang Anda nukil itu tidak ada.

        Perkataan Anda :

        ” Ibn Farhun berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’- adalah seorang yang tidak membaca dan tidak menulis” (Lihat biografi Abdullah ibn Nafi’ dan Suraij ibn an-Nu’man dalam kitab-kitab adl-Dlu’afa’, seperti Kitab ald-Dlu’afa karya an-Nasa-i dan lainnya)”.

        Perkataan Ibnu Farhuun itu bukan jarh yang menjatuhkan mas. Jadi, Anda salah alamat mencantumkannya di sini. [Dan memangnya, sejak kapan seorang rawi yang tidak bisa membaca dan menulis itu dapat dilemahkan ?]. Selain itu, tidak ada dalam kitab Adl-Dlu’afaa’-nya An-Nasaa’iy yang mencantumkan ‘Abdullah bin Naafi’, sebab An-Nasaa’iy mentautsiqnya.

        Kesimpulan : Anda atau sumber copasan Anda menghukumi ‘Abdullah bin Naafi’ tidak dengan membuka kitab biografi.

        Oleh karena itu, riwayat ‘Abdullah bin Naafi’ ini adalah shahih. Seandainya tidak bisa dihukumi shahih, maka ia tidak jatuh dari derajat hasan.

        1. Ummu Abdullah,
          berikut ini artikel dari postingan di atas yg anda belum baca, silahkan dipikir Ummu….

          1- Imam Abu hanifah:

          لايشبه شيئا من الأشياء من خلقه ولا يشبهه شيء من خلقه
          Maknanya:: (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun daripada makhlukNya, dan tidak ada sesuatu makhluk pun yang menyerupaiNya.Kitab Fiqh al Akbar, karangan Imam Abu Hanifah:

          “ Berkata Imam Abu Hanifah: Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’ala ber istiwa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak berada/menetap di atas Arasy, Dialah yg menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain, sudah pasti Dia tidak mampu mencipta dan tidak mampu mentadbirnya sepeti jua makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum dicipta Arasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”.

          Amat jelas di atas bahwa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam (duduk) Allah di atas Arasy.

          Semoga Mujassimah diberi hidayah sebelum mati dengan mengucap dua kalimah syahadah kembali kepada Islam.

          2-Imam Syafii:

          انه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لايجوز عليه التغيير
          terjemahnya: sesungguhnya Dia Ta’ala ada (dari zaman azali) dan tempat (sewaktu) belum diciptanya (tempat), kemudian Allah menciptakan tempat dan Dia tetap dengan sifat-Nya yang azali itu sebagaimana sebelum terciptanya tempat, tidak mungkin Allah (mengalami) perubahan (dg butuh tempat). Dinuqilkan oleh Imam Al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil Muttaqin jilid 2 hal. 23
          3-Imam Ahmad bin Hanbal :

          -استوى كما اخبر لا كما يخطر للبشر
          Maknanya: Dia (Allah) istawa sepertimana Dia khabarkan (di dalam al Quran), bukannya seperti yang terlintas di fikiran manusia. Dinuqilkan oleh Imam al-Rifa’i dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, dan juga al-Husoni dalam kitabnya Dafu’ syubh man syabbaha Wa Tamarrad.

          وما اشتهر بين جهلة المنسوبين الى هذا الامام المجتهد من أنه -قائل بشىء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه
          Maknanya: dan apa yang telah masyhur di kalangan orang-orang jahil yang menisbahkan diri mereka pada Imam Mujtahid ini ( Ahmad bin Hanbal ) bahwa dia ada mengatakan tentang (Allah) berada di arah atau seumpamanya, maka itu adalah pendustaan dan kepalsuan ke atasnya (Imam Ahmad) Kitab Fatawa Haditsiah karangan Ibn Hajar al- Haitami

          4- Imam Malik :

          الاستواء غير المجهول والكيف غير المعقول والايمان به واجب و السؤال عنه بدعة
          Maknanya: Kalimah istiwa’ tidak majhul (diketahui dalam al quran) dan kaif (bentuk) tidak diterima akal, dan iman dengannya wajib, dan bertanya tentangnya (bagaimana istiwanya Allah) adl bid’ah (dlolalah).

          lihat disini : imam malik hanya menulis kata istiwa (لاستواء) bukan memberikan makna dhahir jalasa atau duduk atau bersemayam atau bertempat (istiqrar)

          Kesimpulan:
          dengan memperhatikan fatwa ke 4 imam madzhab Ahlussunnah wal jama’ah di atas, maka jelas aqidah mereka adalah aqidah yg benar dan lurus, menolak tajsim dan menolak pemberian sifat yang seperti makhluk-Nya seperti bertempat atau ada di arah tertentu.

          Allah sudah ada sejak zaman azali (zaman sebelum terciptanya seluruh makhluk) dan kelak Allah tetap ada saat kiamat (zaman musnahnya seluruh makhluk), maka bisa kita pahami di zaman azali dan saat kiamat, langit dan arsy tidak ada, dan Allah tetap ada, mustahil bagi Allah mempunyai sifat butuh terhadap makhluk, seperti butuh tempat yaitu ‘Arsy, kalau Allah butuh tempat, maka tdk bisa disebut Tuhan, karena dg butuh akan tempat menunjukkan Dia lemah, dan mustahil Tuhan bersifat lemah.

          semoga kita semua selalu dalam aqidah yang benar dan lurus, tidak sampai terpengaruh dg aqidah sesat mujassimah wahhaby yg menganggap Allah bertempat di atas ‘Arsy atau bertempat di atas langit. karena aqidah ini aqidah sesat, sangat mustahil langit dan Arsy yg merupakan makhluk Allah yg kecil dan terbatas (bagi Allah) menjadi tempat Dzat Yang Maha Besar, Yang Ke-besar-an-Nya tidak terbatas.

  10. mas Agung Mas Lasykar lanjutkan…..bongkar dusta dan Muslihat perkataan – perkataan yang dinisbatkan kepada Ulama Ahlu Sunnah seperti an-nawawi al-ghozali al-juwaini dll sangat banyak mari kita bahu membahu membongkarnya satu persatu karena Allah ta`ala , kasihan banyak yang tertipu.

    1. AQIDAH IMAM AL GHAZALI

      Al-Imâm Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali (w 505 H), nama yang sangat akrab dengan kita, seorang teolog, sufi besar, seorang yang ahli dalam banyak disiplin ilmu. Dalam kitab karyanya yang sangat agung; Ihya’ Ulumiddin, pada jilid pertama menuliskan bab khusus tentang penjelasan akidah mayoritas umat Islam; akidah Ahlussunnah, yaitu pada bagian Qawa’id al-Aqa’id. .Di antara yang beliau tulis adalah sebagai berikut:

      Allah Maha suci dari diliputi oleh tempat, sebagaimana Dia maha suci untuk dibatasi oleh waktu dan zaman. Dia ada tanpa permulaan, tanpa tempat, dan tanpa zaman, dan Dia sekarang (setelah menciptakan tempat dan arah) ada seperti sediakala tanpa tempat dan dan tanpa arah” (Ihya’ ‘Ulumiddin, j. 1, h. 108).

  11. Terima kasih atas tanggapan mbak ummu abdillah, mungkin ini agak sedikit menjawab kemusykilan anda dan kami berharap dapat menjadi sedikit renungan buat kawan-kawan aswaja.

    Dibawah makalah diatas, di link abu ubaidah ada sedikit koment yang membuat hati kami tergerak untuk coba-coba mengkoreksi sbb:

    • Abu Aisyah says:
    July 6, 2010 at 1:41 pm
    BUAT YANG MENGAKU IMAM NAWAWI:
    INILAH PERKATAAN ULAMA 4 MADZHAB YANG ANA YAKINI:
    1. SIKAP KERAS ABU HANIFAH TERHADAP ORANG YANG TIDAK TAHU DI MANAKAH ALLAH
    IMAM ABU HANIFAH MENGATAKAN DALAM FIQHUL AKBAR,
    من انكر ان الله تعالى في السماء فقد كفر
    “BARANGSIAPA YANG MENGINGKARI KEBERADAAN ALLAH DI ATAS LANGIT, MAKA IA KAFIR.” [LIHAT ITSBATU SHIFATUL ‘ULUW, IBNU QUDAMAH AL MAQDISI, HAL. 116-117, DARUS SALAFIYAH, KUWAIT, CETAKAN PERTAMA, 1406 H. LIHAT PULA MUKHTASHOR AL ‘ULUW, ADZ DZAHABIY, TAHQIQ: SYAIKH MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL ALBANI, HAL. 137, AL MAKTAB AL ISLAMIY.]

    PENJELASAN:
    Setelah kami lacak via maktabah syamilah, jami’ fiqh dan kitab yang kami punya terdapat kesimpulan:
    1. dalam syamilah dari 5000 an lebih kitab, yang keluar hanya satu yakni dari kitab Itsbatu sifatil uluw karya Syaikh abdulloh bin ahmad bin qudamah al maqdisi abu Muhammad DAN DI TAHQIQ SYAIKH BADR IBN ABDULLOH AL BADR PENERBIT DARUSSALAFIYYAH KUWAIT dengan redaksi:
    إثبات صفة العلو – (ج 1 / ص 116) عبد الله بن أحمد بن قدامة المقدسي أبو محمد. تحقيق: بدر عبد الله البدر
    وبلغني عن ابي حنيفة رحمه الله انه قال في كتاب الفقه الأكبر من انكر ان الله تعالى في السماء فقد كفر

    Namun dalam kitab asSarkhul Maisir karya Imam Abu hanifah an Nu’man ibn Tsabit ibn zathy al khozzaz al kuufi. Tahqiq: dr. Muhammad ibn abdirrohman al khomis. TERNYATA ADA SEDIKIT KALIMAT YANG DI HILANGKAN, YANG MENURUT KAMI SANGAT BERTENTANGAN DENGAN PENDAPAT IMAM ABU HANIFAH, sbb:

    الشرح الميسر – (ج 1 / ص 135(
    قال ابو حنيفة من قال لا اعرف ربي في السماء او في الأرض فقد كفر وكذا من قال إنه على العرش ولا ادري العرش أفي السماء او في الأرض.
    “(Imam) Abu Hanifah berkata: Barangsiapa berkata berkata: aku tidak mengetahui alloh di langit atau dibumi maka benar-benar kufur, DAN BEGITU PULA ORANG YANG MENGATAKAN ALLOH DI ATAS ARS, dan aku tidak tahu (apakah:pent) ars di langit atau di bumi”

    Pertanyaan yang mendasar adalah:
    1. Apakah benar dawuh abu hanifah dalam kitab tahqiqan Syaikh Badr, itu benar adanya? Letterluxkah? Ataukah hanya Senada dari kitab asli?

    2. kaidah umum: “apabila ada dua ibarat yang saling bertentangan, maka harus di kembalikan ke kitab asal”. Apakah kita kembalikan ke kitab yang asli karangan Imam Abu Hanifah atau lainnya?

    3. apakah kita berani mengatakan kitab karangan Imam Abu Hanifah salah dan yang lainnya benar? Padahal kitab lain tersebut mengaku mengambil dawuh Imam Abu Hanifah?

    Wallohu a’lam.

  12. ust laskar mungkin anda salah kopi mungkin perkataan seperti dibawah ini

    عن أبي مطيع البلخي : أنه سأل أبا حنيفة عمن قال : لا أعرف ربي في السماء أم في الأرض ؟ فقال : قد كفر ، لأن الله يقول : الرحمن على العرش استوى وعرشه فوق سبع سماواته، قلت : فإن قال : إنه على العرش ، ولكن يقول : لا أدري العرش في السماء أم في الأرض ؟ قال : هو كافر، لأنه أنكر أنه في السماء ، فمن أنكر أنه في السماء فقد كفر

    Abu Muthi’ Al-Balkhi bahwasannya ia bertanya kepada Abu Hanifah tentang orang yang mengatakan : ’Aku tidak mengetahui bahwa Rabbku di langit atau di bumi’. Beliau menjawab : “Sungguh dia telah kafir, karena Allah ta’ala telah berfirman : {الرّحْمَـَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىَ} “Ar-Rahman (Allah) beristiwaa’ di atas ‘Arsy” (QS. Thaha : 5); sedang ‘Arsy-Nya berada di atas langit”. Kemudian aku (Abu Muthi’) berkata : ”(Jika dia mengatakan) bahwasannya Allah bersemayam di atas ‘Arsy-Nya, akan tetapi dia mengatakan tidak tahu apakah ‘Arsy-Nya berada di langit atau di bumi?”. Maka beliau (Abu Hanifah) menjawab : ”Ia telah kafir karena ia telah mengingkari keberadaan Allah di atas langit. Barangsiapa yang mengingkari keberadaan keberadaan Allah di langit, maka dia telah kafir” [lihat Al-‘Ulluw oleh Adz-Dzahabi dengan Mukhtashar-nya oleh Al-Albani hal. 136 no. 118, Al-Maktab Al-Islamy, Cet. 1/1401; dan Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah oleh Ibnu Abil-’Izz Al-Hanafy hal. 386-387, tahqiq : Dr. ’Abdullah bin ’Abdil-Muhsin At-Turkiy, takhrij : Syu’aib Al-Arna’uth, Muassasah Ar-Risalah, Cet. 9/1417].

    BUKAN

    قال ابو حنيفة من قال لا اعرف ربي في السماء او في الأرض فقد كفر وكذا من قال إنه على العرش ولا ادري العرش أفي السماء او في الأرض.
    “(Imam) Abu Hanifah berkata: Barangsiapa berkata berkata: aku tidak mengetahui alloh di langit atau dibumi maka benar-benar kufur, DAN BEGITU PULA ORANG YANG MENGATAKAN ALLOH DI ATAS ARS, dan aku tidak tahu (apakah:pent) ars di langit atau di bumi”

    MONGGO DI DOWNLOAD LINK DIBAWAH INI
    TERSERAH ANDA TIDAK SEPENDAPAT ATAU TIDAK BANYAK KITAB YANG MENYATAKAN DEMIKIAN..

    ALLAHU A’LAM

    http://s203841464.onlinehome.us/waqfeya/books/22/37/muak.rar

  13. mbak ummu abdillah,,,, kami meng-kopi dari syamilah memang seperti itu:
    قال ابو حنيفة من قال لا اعرف ربي في السماء او في الأرض فقد كفر وكذا من قال إنه على العرش ولا ادري العرش أفي السماء او في الأرض.
    “(Imam) Abu Hanifah berkata: Barangsiapa berkata berkata: aku tidak mengetahui alloh di langit atau dibumi maka benar-benar kufur, DAN BEGITU PULA ORANG YANG MENGATAKAN ALLOH DI ATAS ARS, dan aku tidak tahu (apakah:pent) ars di langit atau di bumi”

    COBA MBAK CEK DENGAN KATA YANG PERSIS DALAM SYAMILAH ANDA. INSYA ALLOH PASTI ADA.

    Dan memang ibarat yang mbak lontarkan diatas pun juga ada dalam kitab syamilah namun kesemuanya, maaf dari kitab-kitab salafi atau minimal tahqiqan ulama salafi. Dan niscaya yang keluar hanya ada enam item yang sama, dari 5000an kitab syamilah bukan banyak seperti klaim mbak, salah satunya:

    شرح الطحاوية في العقيدة السلفية – (ج 2 / ص 192)
    وكلام السلف في إثبات صفة العلو كثير جدا : فمنه : ما روى شيخ الإسلام أبو إسماعيل الأنصاري في كتابه : الفاروق ، بسنده إلى مطيع البلخي : أنه سأل أبا حنيفة عمن قال : لا أعرف ربي في السماء أم في الأرض ؟ فقال : قد كفر ؛ لأن الله يقول : { الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى } (1) وعرشه فوق سبع سماوات ، قلت : فإن قال : إنه على العرش ، ولكن يقول : لا أدري العرش في السماء أم في الأرض ؟ قال : هو كافر ، لأنه أنكر أنه في السماء ، فمن أنكر أنه في السماء فقد كفر . وزاد غيره : لأن الله في أعلى عليين ، وهو يدعى من أعلى ، لا من أسفل . انتهى .

    Dengan memandang semua itu, saya kembalikan pertanyaan kami, APABILA DALAM KITAB ASLI DAN LAINNYA BERBEDA PANDANGAN, KITAB MANA YANG DIAMBIL?
    Wallohu a’lam

    1. untuk masalah itu kita harus mengetahui metode yang dipakai oleh mentahqiq buku tersebut..

      Sedikit saya contohkan,… Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adhiim karangan Al-Haafidh Ibnu Katsir. Kitab ini telah dicetak oleh macam-macam penerbit dan telah di-tahqiq oleh banyak peneliti. Salah satu versi terbitannya berjudul Lubaabut-Tafsiir min Ibni Katsiir hasil tahqiq dari Dr. ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdirrahman bin Ishaaq Alisy-Syaikh; Daarul-Hilaal, Cet. 1/1414 H (telah diterjemahkan oleh Pustaka Imam Asy-Syafi’i Bogor dengan judul : Tafsir Ibnu Katsir). Wahabiy tulen. Pentahqiq telah menjelaskan metodologinya dalam kitab tersebut, yaitu dengan meringkas, membuang sebagian besar riwayat-riwayat dla’if (apalagi maudlu’) dan israailiyyaat, melakukan sedikit tambahan penafsiran terhadap 3 ayat surat Al-Maaidah, memberikan takhrij seperlunya, dan yang lainnya. Oleh karena itu, jangan harap kita akan dapatkan keterangan tentang kisah Al-‘Utbiy dalam kitab ini, karena kisah ini adalah kisah palsu. Namun dalam Tafsir Ibnu Katsir 4/140; Muassasah Qurthubah, Cet. 1/1421 yang di-tahqiq oleh sekelompok peneliti Wahabiy (Mushthafa As-Sayyid Muhammad, Muhammad As-Sayyid Rasyaad, Muhammad Fadhl Al-‘Ajmaadiy, ‘Aliy Ahmad ‘Abdul-Baaqiy, dan Hasan ‘Abbaas Quthb) cerita Al-‘Utbiy tersebut tetap dicantumkan.

      dan disini saya berusaha bersifat adil..

      tidak serta MERTA menuduh ulama wahabi telah merobah2 kitab..

      oleh sebab itu sebaiknya kita semua belajar….tidak hanya taqlid pada pak ust dan yang lainnya..

      ALLAHU A’LAM..

    2. untuk masalah itu kita harus mengetahui metode yang dipakai oleh mentahqiq buku tersebut..

      Sedikit saya contohkan,… Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adhiim karangan Al-Haafidh Ibnu Katsir. Kitab ini telah dicetak oleh macam-macam penerbit dan telah di-tahqiq oleh banyak peneliti. Salah satu versi terbitannya berjudul Lubaabut-Tafsiir min Ibni Katsiir hasil tahqiq dari Dr. ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdirrahman bin Ishaaq Alisy-Syaikh; Daarul-Hilaal, Cet. 1/1414 H (telah diterjemahkan oleh Pustaka Imam Asy-Syafi’i Bogor dengan judul : Tafsir Ibnu Katsir). Wahabiy tulen. Pentahqiq telah menjelaskan metodologinya dalam kitab tersebut, yaitu dengan meringkas, membuang sebagian besar riwayat-riwayat dla’if (apalagi maudlu’) dan israailiyyaat, melakukan sedikit tambahan penafsiran terhadap 3 ayat surat Al-Maaidah, memberikan takhrij seperlunya, dan yang lainnya. Oleh karena itu, jangan harap kita akan dapatkan keterangan tentang kisah Al-‘Utbiy dalam kitab ini, karena kisah ini adalah kisah palsu. Namun dalam Tafsir Ibnu Katsir 4/140; Muassasah Qurthubah, Cet. 1/1421 yang di-tahqiq oleh sekelompok peneliti Wahabiy (Mushthafa As-Sayyid Muhammad, Muhammad As-Sayyid Rasyaad, Muhammad Fadhl Al-‘Ajmaadiy, ‘Aliy Ahmad ‘Abdul-Baaqiy, dan Hasan ‘Abbaas Quthb) cerita Al-‘Utbiy tersebut tetap dicantumkan.

      Metodologi dalam kitab tersebut berbeda dengan yang pertama. Ia mencantumkan seluruh matan kitab, melakukan koreksi (baik dengan tanda kurung ataupun dengan catatan kaki), serta men-takhrij sebagian besar riwayat-riwayat haditsnya. Hal yang sama ada dalam Tafsir Ibni Katsir 2/347-348; Daaruth-Thayyibah, Cet. 2/1420 yang di-tahqiq oleh Saamiy bin Muhammad Salaamah, kisah ‘Utbiy itu tidak dihilangkan. Namun dalam versi cetakan ini, pen-tahqiq memberikan penjelasan panjang lebar (pada catatan kaki) tentang tidak benarnya kisah ini serta kebathilan orang-orang yang menggunakan kisah ini sebagai hujjah dalam syari’at.

      RINGKASNYA ….LIHAT DULU MANHAJ PENTAHQIQ-ANNYA DI AWAL KITAB… !!

      dan disini saya berusaha bersifat adil..

      tidak serta MERTA menuduh ulama wahabi telah merobah2 kitab..

      oleh sebab itu sebaiknya kita semua belajar….tidak hanya taqlid pada pak ust dan yang lainnya..

      ALLAHU A’LAM..

  14. Berarti boleh merubah nash asli kitab? Apa bedanya dengan tahrif? Dan masihkah ada unsur kejujuran intelektual di dalamnya? Saya kira para akademisi akan sedikit gerah dengan hal ini. Bukankah dalam hal yang paling ringanpun, seperti membuat tesis atau sejenisnya hal ini sangat penting? DAN KALAUPUN TIDAK SETUJU DENGAN ISI KITAB BUKANKAN DICUKUPKAN BERKOMENTAR DIBAWAH IBID? TIDAK SAMPAI MERUBAH ATAU MALAH MEMBUANG ISI KITAB? mana kejujuran intelektualnya?
    Wallohu a’lam

  15. @Ummu Abdillah

    kisah al ‘utbi, bukan hanya diriwayatkan oleh Ibnu Katsir, tapi juga oleh para Imam Imam seperti An-Nawawi dalam kitabnya yang populer Al-Idhaah pada bab 6 hlm. 498. juga diriwayatkan oleh Al-Hafidh ‘Imadu Ad-Din Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Syaikh Abu Muhammad Ibnu Qudamah juga meriwayatkannya dalam kitabnya Al-Mughni jilid 3 hlm. 556. Syaikh Abu Al-Faraj ibnu Qudamah dalam kitabnya As-Syarh Al-Kabir jilid 3 hlm. 495, dan Syaikh Manshur ibn Yunus Al-Bahuti dalam kitabnya yang dikenal dengan nama Kasysyaafu Al-Qinaa’ yang notabene salah satu kitab paling populer dalam madzhab Hambali jilid 5 hlm. 30 juga mengutip kisah dalam hadits di atas.

    LOGIKA SAYA, TIDAK MUNGKIN USTADZ USTADZ WAHABI LEBIH CERDAS DARI PADA MEREKA.

    Dan setahu saya, Masalah tawassul dengan para nabi dan orang saleh ini hukumnya boleh dengan ijma’ para ulama Islam sebagaimana dinyatakan oleh ulama madzhab empat seperti al Mardawi al Hanbali dalam Kitabnya al Inshaf, al Imam as-Subki asy-Syafi’i dalam kitabnya Syifa as-Saqam, Mulla Ali al Qari al Hanafi dalam Syarh al Misykat, Ibn al Hajj al Maliki dalam kitabnya al Madkhal.

    Apakah para ulama di muka telah mengutip kekufuran dan kesesatan ? atau mengutip keterangan yang mendorong menuju penyembahan berhala dan kuburan ?Jika faktanya memang demikian, lalu dimanakah kredibilitas mereka dan kitab-kitab karya mereka ?

  16. @Ummu Abdillah

    daripada kita meributkan, siapa yg telah melakukan perubahan terhadap kitab para ulama atau siapa yg salah. mohon kiranya anda mau menjawab pertanyaan saya ini, setelah itu, insyaAllah akan saya jelaskan kebatilan AQIDAH BURUK SAUDARI.

    BERIKUT RINGKASAN AQIDAH BURUK SAUDARI. Jika anda mengatakan bahwa Allah swt. bertempat atau bersemayam di ‘arasy atau langit, maka pastinya Allah swt. itu memiliki ukuran dan penghabisan, bisa lebih kecil, sama besar atau lebih besar dari ‘arasy atau langit sebagaimana pendapat kalian yg mengatakan bahwa Allah swt. itu di langit.

    BERIKUT PERTANYAAN SAYA ;

    1. DIMANA ALLAH SWT. SEBELUM MENCIPTAKAN TEMPAT?
    2. ‘ARASY, LANGIT ATAU TEMPAT YG MENURUT KALIAN TEMPAT BERSEMAYAMNYA ALLAH ITU ADALAH MAKHLUK APA BUKAN? BAHARU ATAU AZALI?

  17. Ayo Umu Abdillah keluarin jurus copy paste dan TAKLID BUTA pada Ustadz Wahabi … perusak kitab ulama, agar terbongkar semuanya. Dengan begitu Anda telah membantu membongkar Kebohongan para Ustadz Wahabi. Mudah2an Anda dapat petunjuk.

  18. Yang jelas Al-Qur’an mencela orang2 yg melakukan penyelewengan/tahrif terhadap suatu perkara dan ucapan-ucapan. Apalagi itu dilakukan pada hadist Nabi Saw dan tulisan2 para Imam. Apakah saudara2 yg merasa dirinya mengikuti kaum Salaf sehingga menamai diri mereka dg Salafi ini memiliki dalil tentang bolehnya merubah tulisan para ulama yg menjadi sandaran jutaan orang? Jika boleh melakukan penghapusan, penambahan, sehingga menimbulkan perbedaan penafsiran yg menyebabkan umat menjadi terpecah belah, apakah ini bisa dikatakan sebagai akhlaknya kaum Salaf???

  19. Seru dan bermanfaat , dan yg perlu diperhatikan:
    ..Sama2 mengambil dari AlQur’an dan Hadist Nabi saw
    Mengambil referensi dari Tafsir dan Kitab2 Ulama’ klasik.

    Tetapi yg perlu digaris bawahi:
    1.UmmatiPress ,Dkk dg Argumen yg diambil dari Kitab2 ulama’ klasik yg tentunya melalui para gurunya terbukti UmmatiPress,Dkk masih bermadzab dg Madzab yg 4 seperti Para Ulama’ yg menulis Kitab2 tsb, Sedangkan SalafiWahabi mengambil juga dari Kitab2 ulama’ klasik yg telah di TAHRIF dan TAHQIQ para ulama mereka yg anti Madzab. Tanpa belajar dg Ulama’2 yg bersambung kepada penulis Kitab2 Ulama’ Klasik tsb.

    2.UmmatiPress,Dkk dg Kitab2 Klasik yg Asli, SalafiWahabi dg Kitab Palsu

    Pertanyaan kami:
    -Siapakah yg lebih layak diikuti ,Ulama’2 berMadzab atau Ulama’2 AntiMadzab yg suka tahrif dan tahqiq Kitab2 Ulama’2 Klasik alias Malsu KITAB?

    -Dengan Malsu Kitab2 Ulama’2 Klasik layakah mereka SalafiWahabi memakai jargon “Kembali ke AlQuran dan Sunnah”?

    -“Tiada Ilmu tanpa sanad” begitu kata Imam Syafi’i, Dengan menguraikan makna Istawa Kaum SalafiWahabi termasuk”“Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”.

  20. Merubah kitab orang kafir aja kita dilarang….karena itu bukan akhlak Nabi Muhammad Saw yg menjunjung tinggi kejujuran. Koq kaum Salafi ini membolehkan ulama mereka merubah kitab ulama-ulama klasik sih…. Mana kejujuran ilmiah kalian???? Katanya ilmiah, harus ada dalil….tapi koq tega merubah kitab ulama klasik??? Masya Allah…astaghfirullah….

  21. Nabi Muhammad Saw memiliki akhlak yg luar biasa, beliau Saw sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran. Ketika beliau Saw diangkat menjadi Nabi dan Rasul, apakah beliau Saw membolehkan merubah kitab ulama2 Nasrani dan Yahudi yg jelas2 sesat lagi menyesatkan? Demi Allah, hal itu tidak akan mungkin dilakukan oleh Nabi kita yg mulia tersebut….krn beliau Saw sangat menekankan pd kejujuran dan mengajarkan umatnya untuk berbuat jujur.

    Lalu mengapa kaum Salafi membolehkan ulama mereka merubah kitab-kitab ulama klasik? Bukankah ini adalah bentuk dr ketidakjujuran ilmiah?
    Wahai kaum yg merasa dirinya mengikuti jalan kaum Salaf, apakah ada ajaran kaum Salaf untuk merubah kitab ulama-ulama lain? Apakah jujur namanya jika menghapus satu kalimat dan menggantinya dengan kalimat lain yg bukan hasil pemikiran ulama klasik tersebut?
    Astaghfirullah…akibat perbuatan ulama2 kalian, membuat umat Islam menjadi bercerai-berai dalam hal akidah….

    Saya akui, kalian sholatnya tertib, tepat waktu, selalu berjama’ah….namun mengapa kalian tidak mempersoalkan masalah kejujuran ilmiah yg sangat penting ini??? Padahal kejujuran itu adalah buah dari shalat kalian…
    Jika shalat kalian memang baik, seharusnya kalian tidak berkompromi dengan ketidakjujuran meskipun itu dilakukan oleh ulama-ulama kalian…

  22. Metode yang mereka (wahaby) halalkan utk merubah kitab2 itu adalah untuk menutup KEDOK mereka agar bisa leluasa mengacak acak kitab ulama salaf. jadi ingat org YAHUDI yang memang lihai merubah kitab kitab Allah. Kok bisa sama ya…kemiripannya….

  23. golongan yg anti takwil dan anti majas tapi doyan tahrif, yg pada akhirnya tabrak sana tabrak sini pemahaman tentang nash2 Alqur’an dan hadist..

  24. BERIKUT RINGKASAN AQIDAH BURUK KAUM YG MENYATAKAN BAHWA ALLAH SWT. YG MAHA SUCI BERSEMAYAM DI LANGIT. Jika ada yg mengatakan bahwa Allah swt. bertempat atau bersemayam di ‘arasy atau langit, maka pastinya Allah swt. itu memiliki ukuran, bentuk dan penghabisan, bisa lebih kecil, sama besar atau lebih besar dari ‘arasy atau langit sebagaimana pendapat mereka yg mengatakan bahwa Allah swt. itu di langit.

    BERIKUT PERTANYAAN SAYA ;

    1. DIMANA ALLAH SWT. SEBELUM MENCIPTAKAN TEMPAT?
    2. ‘ARASY, LANGIT ATAU TEMPAT YG MENURUT KALIAN TEMPAT BERSEMAYAMNYA ALLAH ITU ADALAH MAKHLUK APA BUKAN? BAHARU ATAU AZALI?
    3. APA MAKNA AL-QUR’AN DAN HADIST BERIKUT, INGAT! KALIAN WAHABI SALAFI ITU ANTI TAKWIL.
    ”Mereka yang berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS. Al Fath : 10). APAKAH ADA TANGAN YG TURUN DARI LANGIT DAN DILETAKKAN DIATAS TANGAN PARA SAHABAT YG BERBAI’AT?

    Juga sebagaimana hadits qudsiy yang mana Allah berfirman : ”Barangsiapa memusuhi wali-Ku sungguh Ku-umumkan perang kepadanya, tiadalah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan hal – hal yang fardhu, dan Hamba-Ku terus mendekat kepada-Ku dengan hal– hal yang sunnah baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka Aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada-Ku niscaya Ku-beri permintaannya….” (Shahih Bukhari hadits No.6137). APAKAH ALLAH SWT. MENJADI, MATA , TANGAN, TELINGA DAN KAKI SEORANG HAMBANYA?
    Dan juga diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman : ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569). APAKAH ALLAH SWT. MEMILIKI SIFAT SAKIT?
    “dimanapun kalian menghadap, disanalah wajah Allah” (Al-Baqoroh : 115). JIKA KITA MENGAMBIL ZHAHIR AYAT INI, MAKA JELAS, BAHWA ALLHA ITU TIDAK ADA DI LANGIT, TAPI ADA DI MANA MANA?

    ADMIN DAN YG LAINNYA, TOLONG TITIP PERTANYAAN ITU UNTU UMMU ABDILLAH DAN YG SEJENIS DENGANNYA. KALAU PERLU, TOLONG DITANYAKAN LANGSUNG KEPADA USTADZ USTADZ SALAFI WAHABI YG ANTI TAKWIL ITU. TRM KSH.

  25. ummu abdillah akhsanta, mantaf ummu abdillah. cukupkanlah argumen ente tetap saja mereka tidak akan mengimani bahwasannya Allah istiwa diatas arsy-Nya.

    1. Jawab tuh pertanyaan dari mas Agung… biar kita pada tahu sejauh mana pemahaman aqidah yg ente anut, Jgan bisanya cuma ngehindar doang. Ente juga harus tahu bahwa banyak sekali pengunjung / pemerhati d blog ini walaupun mereka tidak pada komen

    2. @abu dzar
      Gimana masalah kebanjirannya ? Alhamdulillah ente sehat wal afiat. Ane tgl 19 jan kesana, tapi di cegah karena Banjir. Lain waktulah ane kesana.
      Arsy itu Ciptaan Allah / mahluk Allah bukan mas ? Kalau mahluk, berarti Allah menempati Mahluknya. Jadi jelas dong yang memaknai Wahdathul wujud adalah Wahabi ya !!!!

  26. @Abu Dzar

    Jadi anda ikut memperbolehkan ulama kalian merubah kitab2 ulama klasik? Bukankah ummu Abdillah tidak bisa menjawab manakala diberikan bukti2 kitab yg asli dari kitab2 yg di copy paste oleh beliau.

    Argumentasi yg diberikan ummu Abdillah berasal dari kitab2 ulama klasik yg sudah dirubah/ditahrif oleh ulama Salafi. Bukankah itu merupakan manipulasi dan penipuan ilmiah?

    Nabi Saw bersabda, “Bukan golonganku orang yg suka menipu.”

    Coba baca dari atas sekali tulisan ini sampai bukti2 kitab asli yg disodorkan oleh rekan2 di sini…apakah sama bunyinya dgn isi kitab2 yg disodorkan oleh ummu Abdillah.

    Wahai saudaraku kaum yg memakai atribut wah sebagai kaum Salafi, apakah kalian menghalalkan ulama kalian mentahrif/merubah/mengganti kalimat2 yg ada di kitab2 ulama klasik untuk menyebarluaskan doktrin mereka dalam hal akidah?

  27. kang ucep kumaha damang? alhamdulillah, Allah tlh mencegah ente kesana melalui banjir,heee. ane g on kmrin2 lgi sibuk bantu korban banjir, terakhir di jatiasih bekasi,klo ane simple aja mas agung selama Allah dan rosullnya tidak menetapkan / mengkabharkan tntng nama 2 & sifat2 nya maka sikap ahlusunnah tawaquf, ya masa sih gwe mau ngarang2 sndiri nama & sifat Allah,heeee, dan gwe pribadi tdak mau menyibukkan diri dngan pertanyaan dimana Allah seblm diciptakannya arsy? coz gwe lom dpatin imam madzhab yang nanya kaya gtu, n gwe jg lom dapetin keterangan dari rosulullah. n untuk orng yang nuduh salafi tidak membolehkan bermazhab bisa di pegang g thu perkataannnya,heee.gwe bermazhab tapi g fanatik kepada 1 madzhab,heee.okey cory nh bru komen.

    1. @abu dzar
      Alhamdulillah, ane pikir ente ikut pindah ke rusun Marunda. Tapi alhamdulillah ente sehat.

      “selama Allah dan rosullnya tidak menetapkan / mengkabharkan tntng nama 2 & sifat2 nya maka sikap ahlusunnah tawaquf, ya masa sih gwe mau ngarang2 sndiri nama & sifat Allah”

      Bisa dijelaskan maksudnya mas ?

  28. @Abu Dzar

    Sahabat saya pernah berkata, wahabi itu anak kemaren sore, yg baru ikut pesantren kilat, kemudian sudah berani bilang bid’ah. Kalau anda merasa benar dengan keyakinan/aqidah anda, TOLONG JAWAB PERTANYAAN SAYA INI :

    BERIKUT RINGKASAN AQIDAH BURUK KAUM YG MENYATAKAN BAHWA ALLAH SWT. YG MAHA SUCI BERSEMAYAM DI LANGIT. Jika ada yg mengatakan bahwa Allah swt. bertempat atau bersemayam di ‘arasy atau langit, maka pastinya Allah swt. itu memiliki ukuran, bentuk dan penghabisan, bisa lebih kecil, sama besar atau lebih besar dari ‘arasy atau langit sebagaimana pendapat mereka yg mengatakan bahwa Allah swt. itu di langit.

    BERIKUT PERTANYAAN SAYA ;

    1. DIMANA ALLAH SWT. SEBELUM MENCIPTAKAN TEMPAT?

    2. ‘ARASY, LANGIT ATAU TEMPAT YG MENURUT KALIAN TEMPAT BERSEMAYAMNYA ALLAH ITU ADALAH MAKHLUK APA BUKAN? BAHARU ATAU AZALI?

    3. APA MAKNA AL-QUR’AN DAN HADIST BERIKUT, INGAT! KALIAN WAHABI SALAFI ITU ANTI TAKWIL.

    ”Mereka yang berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS. Al Fath : 10). APAKAH ADA TANGAN YG TURUN DARI LANGIT DAN DILETAKKAN DIATAS TANGAN PARA SAHABAT YG BERBAI’AT?

    Juga sebagaimana hadits qudsiy yang mana Allah berfirman : ”Barangsiapa memusuhi wali-Ku sungguh Ku-umumkan perang kepadanya, tiadalah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan hal – hal yang fardhu, dan Hamba-Ku terus mendekat kepada-Ku dengan hal– hal yang sunnah baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka Aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada-Ku niscaya Ku-beri permintaannya….” (Shahih Bukhari hadits No.6137). APAKAH ALLAH SWT. MENJADI, MATA , TANGAN, TELINGA DAN KAKI SEORANG HAMBANYA?

    Dan juga diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman : ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569). APAKAH ALLAH SWT. MEMILIKI SIFAT SAKIT?

    “dimanapun kalian menghadap, disanalah wajah Allah” (Al-Baqoroh : 115). JIKA KITA MENGAMBIL ZHAHIR AYAT INI, MAKA JELAS, BAHWA ALLAH ITU TIDAK ADA DI LANGIT, TAPI ADA DI MANA MANA?

    ADMIN DAN YG LAINNYA, TOLONG TITIP PERTANYAAN ITU UNTU UMMU ABDILLAH, ABU DZAR DAN YG SEJENIS DENGANNYA. KALAU PERLU, TOLONG DITANYAKAN LANGSUNG KEPADA USTADZ USTADZ SALAFI WAHABI YG ANTI TAKWIL ITU. TRM KSH.

  29. Saya numpang nyimak, belajar dari sahabat smua.
    saya hanya seseorang yang miskin ilmu, hanya ingin belajar tentang ketidak tahuan saya.
    semoga ini bermanfaat bagi qt smua, terutama saya khususnya.
    amiinn….
    semoga Allah memberikan Rahmat, Taufiq dan Hidayahnya pada kita semua
    Amiin…

  30. saya seorang yang miskin ilmu, mohon izin nyiomak di blog ini sebagai penambah wawasan saya tentang sesuatu yang di anggap sebagai sebuah kebenaran.
    semoga ini bermanfaat bagi saya khususnya, dan bagi umat islam semua pada umumnya.
    semoga Rahmat, Taufiq dan Hidayah Allah serta Ridhonya diberikan pada kita semua.
    Amiin…

  31. SEBELUMNYA TERUS TERANG KAMI AGAK BINGUNG DENGAN STATEMEN MBAK UMMU ABDILLAH YANG BERTANYA PADA MAS AHMAD SYAHID SBB:

    “ummu abdillah on February 5, 2013 at 9:04 am
    Ust. Ahmadsahid bisa membantu saya dimakah referensi dan ucapan
    Imam Nawawi says:
    June 28, 2010 at 9:47 am
    1- Imam Abu hanifah:
    لايشبه شيئا من الأشياء من خلقه ولا يشبهه شيء من خلقه
    Maknanya:: (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun daripada makhlukNya, dan tidak ada sesuatu makhluk pun yang menyerupaiNya.Kitab Fiqh al Akbar, karangan Imam Abu Hanifah:”
    KARENA SETELAH KAMI TELUSURI VIA MAKTABAH SYAMILAH TIDAK MUNCUL LAFADZ DIATAS, KEMUDIAN KAMI MENCOBA MENCARI RUJUKAN ASLI DENGAN MENCOBA MEMBUKA SITUS MILIK AKHUNA IMAM NAWAWI (AL BARZAH) DAN TERNYATA ADA SEDIKIT PENAMBAHAN KOMENTAR PADA SITUS ABU’UBAIDAH COBA KITA BANDINGKAN:

    DI COPY DARI SITUS ABU UBAIDAH
    Imam Nawawisays:
    June 28, 2010 at 9:47 am
    1- Imam Abu hanifah:
    لايشبه شيئا من الأشياء من خلقه ولا يشبهه شيء من خلقه
    Maknanya:: (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun daripada makhlukNya, dan tidak ada sesuatu makhluk pun yang menyerupaiNya.Kitab Fiqh al Akbar, karangan Imam Abu Hanifah:
    “ Berkata Imam Abu Hanifah: Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’ala ber istiwa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak berada/menetap di atas Arasy, Dialah yg menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain, sudah pasti Dia tidak mampu mencipta dan tidak mampu mentadbirnya sepeti jua makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum dicipta Arasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”.
    Amat jelas di atas bahwa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam (duduk) Allah di atas Arasy.
    Semoga Mujassimah diberi hidayah sebelum mati dengan mengucap dua kalimah syahadah kembali kepada Islam.
    DAN DIBAWAH INI DIAMBILKAN DARI SITUS IMAM NAWAWI, AGAKNYA ADA SEDIKIT PENAMBAHAN LAFADZ, DAN PENGURANGAN TEKS ARAB
    DI COPY DARI SITUS MAS IMAM NAWAWI
    Bismillah
    1. Imam Abu Hanifah ra. mengatakan bahwa kata Istiwa sudah dipahami. Bahkan Imam Abu Hanifah menolak mereka yang berpahaman Tajsim dan Tasybih sebagaimana tertuang dalam kitab beliau Fiqh al Akbar:
    (KAMI KETIK ULANG KARENA PAKAI SCAN SBB:)
    قال المصنف أبو حنيفة رضي الله عنه (ونقر بأن الله تعالى على العرش استوى من غير أن يكون له حاجة واستقرار عليه وهو حافظ العرش وغير العرش من غير احتياج فلو كان محتاجا أقدر على إيجاد العالم وتدبيره كالمخلوقين ولو كان محتاجا إلى الجلوس والقرار فقبل خلق العرش أين كان الله تعالى عن ذلك علوا كبيرا)
    Berkata Imam Abu Hanifah: “Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’ala ber-istawa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak metetap di atas Arasy, Dialah menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain sudah pasti Dia tidak mampu mencipta Allah ini dan tidak mampu mentadbirnya sepeti juga makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum diciptakan Arasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”
    Amat jelas di atas bahwa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam(duduk) Allah di atas Arasy.
    Semoga Mujassimah diberi hidayah sebelum mati dengan mengucap dua kalimah syahadah kembali kepada Islam.
    APAKAH PENAMBAHAN LAFADZ DIATAS ADALAH DARI MAS IMAM NAWAWI ATAU BUKAN? WALLOHU A’LAM DAN SEDIKIT INFO PERKATAAN IMAM ABU HANIFAH TERSEBUT JUGA TERCANTUM DALAM MAKTABAH SYAMILAH SBB:
    أرشيف ملتقى أهل الحديث 2 – (ج 1 / ص 623)
    قال الإمام أبو حنيفة: ونقر بأن الله تعالى على العرش استوى من غير أن يكون له حاجة. [شرح الوصية ص10]
    Wallohu a’lam.

  32. @Abu Dzar : “coz gwe lom dpatin imam madzhab yang nanya kaya gtu, n gwe jg lom dapetin keterangan dari rosulullah.”

    JAWABANNYA ADALAH :

    Dengan demikian jika Allah membutuhkan untuk duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia? (Lihat al-Washiyyah dalam kumpulan risalah-risalah Imam Abu Hanifah tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 2. juga dikutip oleh Mullah Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqhul Akbar, h. 70). JADI, PERNYATAAN TERSEBUT DI LONTARKAN OLEH IMAM HANAFI, SALAH SEORANG IMAM MAZHAB YG EMPAT.

    Allah swt. yg maha suci dan maha sempurna, telah mengabarkan melalui Rasulullah saw., bahwa Allah swt. telah ada sebelum adanya tempat. Dalilnya adalah : “Dialah (Allah) Yang Maha Awal (wujudnya tanpa permulaan) dan Yang Maha Akhir (Wujudnya tanpa akhir).” (QS. al-Hadid : 3), dan “Allah-lah pencipta segala sesuatu.” (QS. al-Zumar : 62). Artinya, Allah swt. itu telah ada sebelum segala sesuatu itu ada, termasuk tempat, ‘arasy, langit dsb, dan Allah swt. lah pencipta segala sesuatu, termasuk tempat, langit, ‘arasy dsb.

    JADI, SAYA MOHON KEPADA ABU DZAR, UMMU ABDILLAH DAN YG SEPEMAHAMAN DENGAN KALIAN, TOLONG JAWAB PERTANYAAN SAYA DIATAS.

  33. assalam..
    sekedar lewat aja..
    moga2 sdr2 ku yg lainnya tahu bnyk buku2 yg telah di ubah2 kaum wahabi hik hik hik..,..

    Al Imam Abu Hanifah -semoga Allah meridlainya- berkata :
    “Barangsiapa yang mengatakan saya tidak tahu apakah Allah berada di langit ataukah berada di bumi maka dia telah kafir”. (diriwayatkan oleh al Maturidi dan lainnya).

    Al Imam Syekh al ‘Izz ibn ‘Abd as-Salam asy-Syafi’i dalam kitabnya “Hall ar-Rumuz” menjelaskan maksud Imam Abu Hanifah, beliau mengatakan :

    “Karena perkataan ini memberikan persangkaan bahwa Allah bertempat, dan barang siapa yang menyangka bahwa Allah bertempat maka ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan
    makhluk-Nya)”.

    wassalam…

  34. ilmu manusia itu sangat terbatas terlebih lagi untuk menjawab pertanyaan ttg Allah. hendaknya kita melihat dalil dari Alqur’an dan sunnah yg shahih dan memahaminya sesuai dengan pemahaman generasi salaf. jangan sampai kita menjadi ahli kalam dengan berusaha merasionalkan sifat dan zat Allah yang Maha suci.

    1. @rafi

      Dan juga diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman : ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569). APAKAH ALLAH SWT. MEMILIKI SIFAT SAKIT? INGAT, WAHABI ITU MENCELA TAKWIL, SEKARANG COBA ANDA JELASKAN MAKNA HADIST TERSEBUT.

      WAHABI YG ANTI TAKWIL MENGATAKAN BAHWA ALLAH SWT. BERSEMAYAM DI LANGIT. KALAU BEGITU, APA MAKNA AYAT BERIKUT INI : “dimanapun kalian menghadap, disanalah wajah Allah” (Al-Baqoroh : 115). JIKA KITA MENGAMBIL ZHAHIR AYAT INI, MAKA JELAS, BAHWA ALLAH ITU TIDAK ADA DI LANGIT, TAPI ADA DI MANA MANA? TOLONG ANDA JELASKAN.

  35. Betul mas rafi, kami aswaja, sebenarnya sangat menahan diri dari pembicaraan ilmu kalam sesuai pendapat Imam suyuthi:

    تنوير الحوالك الجزء الأول ص: 39
    عن النبي صلى الله عليه وسلّم. (ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة). هذا من المتشابه الذي يسكت عن الخوض فيه وإن كان لا بد فأولى ما يقال فيه ما في رواية النسائي: إن «الله يمهل حتى يمضي شطر الليل ثم يأمر منادياً يقول: هل من داع فيستجاب له»، فالمراد إذن نزول أمره، أو الملك بأمره. وذكر ابن فورك أن بعض المشايخ ضبطه ينزل بضم أوله على حذف المفعول أي ينزل ملكاً. قال الباجي: وفي العتبية سألت مالكاً عن الحديث الذي جاء في جنازة سعد بن معاذ في العرش فقال: لا تتحدثن به وما يدعو الإنسان إلى أن يحدث به وهو يرى ما فيه من التغرير

    “Dari nabi SAW. (Tuhan kita tabaaroka wa ta’ala nuzul setiap malam) INI ADALAH TERMASUK AYAT MUTASYABBIH YANG (LEBIH BAIK:PENT) DIAM DARI MEMBICARAKANNYA, dan apabila terpaksa maka yang terbaik di ucapkan adalah keterangan yang diriwayatkan Imam Nasai: (sesungguhnya Alloh menangguhkan (perkaraNYA:pent) sampai lewat setengah malam kemudian memerintahkan penyeru yang berkata: barang siapa yang berdoa maka akan di kabulkan) maka yang dikehendaki (dengan ayat mutayabbih ini: pent) adalah turunnya perkara Alloh atau malaikat-malikat dengan perintah Alloh……..”
    (Kitab Tanwirul khawalik oleh Imam Jalaluddin Al Suyuthi Juz 1 hal 39

    Namun yang membuat gerah adalah teman-teman salafi yang terus-menerus menyebarkan dan menancapkan pemahamnnya yang tidak sesuai dengan ijma’ ulama salaf, KALAU KAMI DIAM BUKANKAH SEAKAN-AKAN MENG IYAKAN MEREKA? KALAU TEMAN-TEMAN ASWAJA TIDAK MENANGKAL, SIAPA LAGI YANG MENANGKAL? Minimal orang awam mengetahui perbedaan aqidah aswaja dan salafi dengan berbagai caranya. Biarlah pemerhati, pembaca dan masyarakat yang menilai. Kita serahkan sepenuhnya pada Alloh SWT. Wallohu a’lam

    1. @agung.maaf sy tidak mendapatkan hadits yg saudara sebutkan pada kitab shahih muslim atw mungkin sy yg salah karena punya saya berbentuk softcopy dari lidwa pusaka softwarex bagus. mengenai ayat2 seperti yg saudara sebutkan baca Al-Imran ayat 6.

      pada kesempatan ini sy ingin bertanya apa ada terdapat dalam hadits yg shahih yang mengatakan Rasulullah ataupun para sahabat berpendapat zat Allah ada dimana-mana?, yg sy ketahui ada hadits yg mengatakan bahwa Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi berada dilangit,koreksi bila salah. perdebatan seperti ini tidak pernah ada pada jaman Rasulullah sebab mereka mendengar dan taat kepada setiap perkataan dari Nabi dan tidak mempertanyakan hal2 yang mutasyabihat mereka menyerahkan maknanya kepada Allah dan Rasulnya , hendaknya kita semua berpegang pada Al-qur’an dan sunnah sesuai dengan pemahaman Nabi dan sahabat sebab merekalah yang paling beriman dan paling paham mengenai agama ini.semoga kita semua diberikan kemudahan untuk memahami agama yang mulia ini

  36. Mas rafi… yang di ucapkan mas agung itu benar adanya, CUMA KALAU DI MAKTABAH SYAMILAN YANG MUNCUL NO 4661, coba kalau mas rafi punya syamilah di klik lafadz di bawah ini. Insya alloh pasti ada.
    شرح النووي على مسلم – (ج 8 / ص 371)
    4661 – قَوْله عَزَّ وَجَلَّ: ( مَرِضْت فَلَمْ تَعُدْنِي قَالَ : يَا رَبّ كَيْف أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبّ الْعَالَمِينَ ؟ قَالَ : أَمَا عَلِمْت أَنَّ عَبْدِي فُلَانًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ ، أَمَّا عَلِمْت أَنَّك لَوْ عُدْته لَوَجَدْتنِي عِنْده ؟ )
    قَالَ الْعُلَمَاء : إِنَّمَا أَضَافَ الْمَرَض إِلَيْهِ سُبْحَانه وَتَعَالَى ، وَالْمُرَاد الْعَبْد تَشْرِيفًا لِلْعَبْدِ وَتَقْرِيبًا لَهُ . قَالُوا : وَمَعْنَى ( وَجَدْتنِي عِنْده ) أَيْ وَجَدْت ثَوَابِي وَكَرَامَتِي ، وَيَدُلّ عَلَيْهِ قَوْله تَعَالَى فِي تَمَام الْحَدِيث : ” لَوْ أَطْعَمْته لَوَجَدْت ذَلِكَ عِنْدِي ، لَوْ أَسْقَيْته لَوَجَدْت ذَلِكَ عِنْدِي ” أَيْ ثَوَابه . وَاَللَّه أَعْلَم .

    Semula saya salut dengan anda yang ingin menghentikan perdebatan tentang hal ini, Tapi kemudian saya janggal dengan anda, di satu sisi anda ingin menghentikan perdebatan ini, tapi disisi lain anda ingin memulai kembali dengan perkataan anda sbb:

    “PADA KESEMPATAN INI SY INGIN BERTANYA APA ADA TERDAPAT DALAM HADITS YG SHAHIH YANG MENGATAKAN RASULULLAH ATAUPUN PARA SAHABAT BERPENDAPAT ZAT ALLAH ADA DIMANA-MANA?”

    Apa maksud anda? Ingin meneruskan perdebatan? KALAU IYA TOLONG SATU-SATU DIJAWAB DULU PERTANYAAN MAS AGUNG kemudian kalau sudah tuntas baru kita urai bersama-sama pertanyaan anda? Bagaimana?
    Dan satu hal lagi, anda mengatakan: “ALLAH ADA DIMANA-MANA”, ini merupakan penghinaankah, atau anda punya ta’wilan lain?
    Wallohu a’lam

  37. Oia mas rafi, kalau anda punya kitab shohih muslim maktabah toha putra semarang, bisa dilihat hadist yg disitir mas agung pada juz dua halaman 426 dalam bab fadlilah menengok orang sakit. Semoga berkenan. Wallohu a’lam

  38. mungkin ustad salah paham sy tdk pernah mengatakan Allah ada dimana-mana tolong dibaca kembali postingan sy. sy tidak mengatakan hal tersebut cuma ada yang berpendapat demikian ada juga yg mengatakan bahwa Zat Allah tidak diatas tidak dibawah tidak dimana-mana berarti mereka menafikan berbagai dalil dari Al-qur’an dan sunnah. mengenai pertanyaan agung, sy membenarkan dan mengimani setiap ayat dari Al-qur’an dan Alhadits yg shahih dari Rasulullah yg menjelaskan ttg sifat dan zat Allah tanpa menta’wil,menyamakannya dengan makhluk ataupun mengurangi maknanya. para sahabat ketika mendengar hadits tersebut tentu tidak bertanya macam2 seperti pertanyaan mas agung mengapa kita tidak mencontoh para sahabat.?. ttg pertanyaam sy itu murni krn memang sy tdk pernah mendapati dalil dari Alquran dn sunnah yg mengatakan Allah ada dimana2 atau dalil bahwa Allah tidak diatas atau dibawah atau tdk bertempat kalau ada tolong sampaikan.sebab ulama salaf berkata bahwa agama itu di ambil dari alquran dan sunnah jd kita tidak boleh berpendapat bila tdk ada dalil bila ada dalil maka kita memahami dalil tersebut sesuai dengan pemahaman nabi dn sahabat. wassalam

  39. @Mas rafi: MUNGKIN USTAD SALAH PAHAM SY TDK PERNAH MENGATAKAN ALLAH ADA DIMANA-MANA TOLONG DIBACA KEMBALI POSTINGAN SY.
    Penjelasan: maaf mas jangan panggil saya ustadz, saya Cuma santri pondok kecil di daerah nganjuk.
    Bukankah ini merupakan postingan mas yg saya copas?
    “Pada kesempatan ini sy ingin bertanya apa ada terdapat dalam hadits yg shahih yang mengatakan rasulullah ataupun para sahabat berpendapat zat allah ada dimana-mana?”

    @Mas rafi: SY TIDAK MENGATAKAN HAL TERSEBUT CUMA ADA YANG BERPENDAPAT DEMIKIAN ADA JUGA YG MENGATAKAN BAHWA ZAT ALLAH TIDAK DIATAS TIDAK DIBAWAH TIDAK DIMANA-MANA
    Penjelasan: mas ungkapan mas ini diambil dari keterangan dimana? Yang saya ketahui adalah alloh maujud tanpa tempat dan arah, bukan “Allah dimana-mana”, dan juga bukan “zat Allah tidak diatas tidak dibawah tidak dimana-mana”, tolong ini keterangan dibenahi.

    @Mas rafi: BERARTI MEREKA MENAFIKAN BERBAGAI DALIL DARI AL-QUR’AN DAN SUNNAH.
    Penjelasan: apakah mereka yang menafikan adalah para imam madzahib? Karena beliau-beliaulah yang mengatakan Alloh maujud tiada tempat dan arah seperti dawuh imam abu hanifah diatas dan Coba mas sebutkan satu saja diantara empat imam yang sependapat dengan mas. Tapi tolong disertakan referensi kitab asli tanpa tahrif. Dan saya kira sudah cukup hal itu dibahas antara mas agung dan mbak ummu abdillah.

    @Mas rafi: MENGENAI PERTANYAAN AGUNG, SY MEMBENARKAN DAN MENGIMANI SETIAP AYAT DARI AL-QUR’AN DAN ALHADITS YG SHAHIH DARI RASULULLAH YG MENJELASKAN TTG SIFAT DAN ZAT ALLAH TANPA MENTA’WIL,MENYAMAKANNYA DENGAN MAKHLUK ATAUPUN MENGURANGI MAKNANYA.
    Penjelasan: itulah mas perbedaan kita.
    1. anda tidak bisa menjawab pertanyaan mas agung, padahal sejak zaman tabiit tabiin yakni zaman Imam Abu Hanifah telah ada, dan tidak bisa terjawab, dengan alas an pertanyaan bid’ah.
    2. anda berbeda dengan pemahaman salafussolih yang mentakwil ayat mutasyabihat.
    Imam bukhori mentakwil
    Imam qurthubi mentakwil
    Imam suyuthi mentakwil
    Imam Nawawi mentakwil
    Dan imam-imam ahlu sunnah lainnya mentakwil ayat mutyabihat tersebut. Oleh karena itu mas, dengan posisi saya yang Cuma naqil/muqollid, saya mengikuti pendapat beliau-beliau ini yang telah terbukti mengharumkan islam, dan tidak berani berijtihad sendiri, apalagi mempermasalahkan ayat mutasyabihat.

    @Mas rafi: PARA SAHABAT KETIKA MENDENGAR HADITS TERSEBUT TENTU TIDAK BERTANYA MACAM2 SEPERTI PERTANYAAN MAS AGUNG MENGAPA KITA TIDAK MENCONTOH PARA SAHABAT.?.
    Penjelasan: Mas kalau boleh saya bertanya ilmu tauhid itu bid’ah apa tidak? Dan mulai adanya ilmu tauhid kapan? Zaman nabi? Atau setelahnya?

    @Mas rafi: TTG PERTANYAAM SY ITU MURNI KRN MEMANG SY TDK PERNAH MENDAPATI DALIL DARI ALQURAN DN SUNNAH YG MENGATAKAN ALLAH ADA DIMANA2 ATAU DALIL BAHWA ALLAH TIDAK DIATAS ATAU DIBAWAH ATAU TDK BERTEMPAT KALAU ADA TOLONG SAMPAIKAN.
    Penjelasan: saya tidak mau memperpanjang ayat-ayat mutasyabihat mas rafi, tapi cukuplah dawuh imam dzahabi dalam muhtashor uluw beliau dan di tahqiq Oleh SYAIKH NASIRUDDIN AL ALBANI sbb:
    مختصر العلو ص: 71 الحافظ سمش الدين الذهبي تحقيق: ناصر الدين الألباني
    إذا أحطت علما بكل ما سبق استطعت بإذن الله تعالى أن تفهم بيسر من الآيات القرآنية والأحاديث النبوية والآثار السلفية التي ساقها المؤلف رحمه الله في هذا الكتاب الذي بين يديك (مختصره) أن المراد منها إنما هو معنى معروف ثابت لائق به تعالى ألا وهو علوه سبحانه على خلقه واستواؤه على عرشه على ما يليق بعظمته وأنه مع ذلك ليس في جهة ولا مكان.
    “Jika (penjelasan) yang lewat telah kamu ketahui, maka dengan izin Allah, dari ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi serta atsar-atsar kalangan salaf yang telah dicantumkan oleh pengarang (al-Dzahabi) -rahimahullah- di dalam kitab ini yang di depanmu ini, maka kamu akan dengan mudah memahami bahwa yang dimaksud dari (teks-teks) itu adalah sebuah makna yang tsâbit dan dapat diketahui, serta yang layak bagi Allah ta‘âlâ. -Makna itu adalah- bahwa tinggi dan istiwâ’-Nya atas ‘arasy adalah berdasarkan yang layak untuk keagungan-Nya. SEMENTARA DENGAN HAL ITU, DIA TIADA BERJIHAT (ARAH) DAN TIADA BERTEMPAT”.
    Dan dalam kitab ini juga:
    فتاوى من موقع الإسلام اليوم – (ج 1 / ص 135)
    أما أهل الحق فقد أجمعوا على تنزيه الله عن المكان والجهات والحد والتغير والحدوث والجلوس والقعود وغيرها من العقائد التي تبثها المشبهة بين المسلمين، يلي ذكر القول من المذاهب الأربعة وغيرها على أن أهل السنة يقولون: الله موجود بلا مكان ولا جهة.
    “adapun ahli haq benar-benar bersepakat atas kemurnian Alloh dari tempat, arah, batasan, perubahan, hal-hal baru, duduk (julus), duduk (qu’ud) dan selainnya, dari akidah-akidah yang tertancap diantara muslimin yang menyerupakan. Teriring penuturan qoul madzahibul arba’ah dab lainnya (yang mengatakan:pent) SESUNGGUHNYA AHLU SUNNAH BERKATA: ALLOH MAUJUD DENGAN TANPA TEMPAT DAN ARAH.”
    Dan bolehkan saya juga menjawab, itu perkataan bid’ah dan seperti ungkapan anda:
    “Sy Membenarkan Dan Mengimani Setiap Ayat Dari Al-Qur’an Dan Alhadits”?

    @Mas rafi: SEBAB ULAMA SALAF BERKATA BAHWA AGAMA ITU DI AMBIL DARI ALQURAN DAN SUNNAH JD KITA TIDAK BOLEH BERPENDAPAT BILA TDK ADA DALIL BILA ADA DALIL MAKA KITA MEMAHAMI DALIL TERSEBUT SESUAI DENGAN PEMAHAMAN NABI DN SAHABAT. WASSALAM
    Penjelasan: tapi anehnya Imam madzahib menjawab hal tersebut, apakah Imam-Imam tersebut tidak tidak mengambil dari alqur-an dan as sunnah? Ataukah kita yang tidak mampu mencerna al qur’an dan as sunnah? Dan apakah pemahaman imam madzahib tidak sesuai dengan nabi dan sahabat?
    Wassalam. Wallohu a’lam.

  40. Orang awam bertanya….
    Wahabi yg mengatakan akidah “Alloh ada dimana-mana” adalah sesat,karena g mungkin Alloh menyatu dengan makhluknya.dalam kesempatan lain mereka mengatakan Alloh duduk diatas Arsy (makhluk),Alloh turun naik (sifat makhluk).
    Lah trus bedanya dimana (dimana2,disana,disini)?seandainya orang awam yg mereka beritau kayak gini (Alloh duduk/bersemayam diatas Arsy) gmn kira2 hayalan mereka?apakah mereka (wahabi) g memikirkan tentang itu (hayalan orang awam)?
    Maaf ini hanya unek2 orang awam,klo mau minta dalil maka kami (orang awam) hanya bisa menyodorkan mushaf Al-Qur’an dan silahkan cari sendiri dalilnya.
    Maha Suci Alloh dari membutuhkan makhluk.Maha Suci Alloh dari sifat2 makhluk.

    Asyhadu allaa ilaaha illalloh wa Asyhadu anna muhammadarrosululloh.
    Aku beriman pada Alloh
    Aku beriman pada malaikat2 Alloh
    Aku beriman pada kitab2 Alloh
    Aku beriman pada rosul2 Alloh
    Aku beriman pada hari akhir
    Aku beriman pada takdir Alloh

    Banyak kesalahan pd diri kami (awam) mohon maaf atas tutur kasar kami.
    Mohon koreksinya agar kami (orang awam) bisa memperbaiki akhlak kami.

  41. @lasykar
    terlalu lebar masalah yang saudara berikan,kalo mau dibahas satu-satu tdk akan habis. saudara jg belum menyampaikan ayat maupun hadits bahwa Allah tidak bertempat,yg saudara nukil perkataan imam.kita mensifati zat dan sifat Allah sesuai dgn Allah mensifati dirinya sendiri melalui alqur’an maupun sunnah. agar tidak salah paham segala zat dan sifat Allah yg disebutkan dlm Alqur’an maupun sunnah tdk boleh dianalogikan atau diqiyaskan dgn zat dan sifat makhluk.imam mazhab semoga Allah meridhoi mereka telah mengambil pendapat dari Al-qur’an dan Sunnah sesuai dgn kapasitasnya.
    imam syafi’i berkata seluruh perkataan manusia dapat diambil atau dibuang kecuali perkataan dari Rasulullah dan berbagai pernyataan dari para imam mazhab yang mendahulukan hadits dari Rasulullah dibanding pendapat mereka, singkat kata Rasulullah adalah ma’sum sdg para imam tdk shg bs salah. sepengetahuan sy imam mazhab pun jg tidak berpendapat spt saudara, wallahu a’lam. bhn rujukan lain silahkan buka http://salafy-indonesia.web.id/dimana-allah-menurut-al-quran-dimanakah-tempat-allah-157.htm, http://gizanherbal.wordpress.com/2011/06/12/101-perkataan-ulama-salaf-tentang-allah-di-atas-arsy-seri-allah-di-atas-arsy/,http://almanhajsalaf.wordpress.com/2012/11/21/bersemayamnya-allah-di-atas-arsy/ baca jg kitab tauhid karya syekh Muhammad bn Abdul wahhab, Qowaidul-Arba atau kitab – kitab dari syaikh Albani. TOLONG DIBACA DENGAN HATI YG TENANG, HILANGKAN BURUK SANGKA DULU SEKEDAR TABAYYUN DAN MENCARI ILMU SEBELUM KITA MEMVONIS SESUATU.
    hampir lupa kebetulan sy alumni dari slh 1 pondok pesantren di Makassar jadi sebutan mas rafi agak janggal bg sy ( he2… becanda tp serius)
    biasanya online pake smartphone low end fiturnya terbatas jd tdk ada bhs arabx.
    postingan terakhir, Allahummagfirlii, maaf atas segala kesalahan semoga Allah memudahkan kita untuk memahami agama yg mulia ini.wassalam

  42. @mas rafi
    Maaf saya memanggil mas, karena saudara saya anggap akhuna fil islam, semoga berkenan. Okelah biar tidak melebar kita Kembali ke topik, dari postingan mas rafi saya menangkap beberapa poin:

    1. saya tidak menampilkan quran dan assunnah, karena mas rafi pun juga tidak menjawab pertanyaan mas agung, apalagi dengan dasar qur’an dan sunnah.

    2. saya mengutip pendapat imam ad dzahabi dan kebetulan kitab yang kami punya pentahqiqnya adalah Syaikh Nashiruddin al albani yang notabene menjadi pedoman teman-teman salafi, DAN KALAU MAS SUDAH TAHU BAHWA PENDAPAT IMAM DZAHABI TERNYATA ALLOH MAUJUD TIADA TEMPAT DAN ARAH, APAKAH IMAM DZAHABI TIDAK SESUAI QUR’AN DAN SUNNAH? Atau dengan bahasa kasar sesat?

    3. memang betul mas kita tidak boleh menyamakan Alloh dengan makhluqnya, dan itulah faham akidah tauhid yang kami fahami, dan semestinya mas pun juga tahu bahwa dalam masalah ini ulama ahlu sunnah ada yang pakai metode tafwidl dan ta’wil. Sayang mas menolak metode ta’wil. Padahal banyak ulama yang memperbolehkannya.

    4. memang mas rosululloh ma’sum dan ulama’ tidak ma’sum. Tapi mas kan tahu sabda nabi yang menerangkan putusan hukum yang salahpun tetap mendapat satu pahala, dan pertanyaannya adalah kalau mas menganggap imam dzahabi tidak ma’sum, kenapa mas dan teman-teman salafi menjadikannya sebagai rujukan, apalagi dalam masalah tahrij hadist yang notabene menjadi tolok ukur pembuatan sebuah hukum? Apakah mas akan mengambil perkataan imam dzahabi yang cocok, dan akan meninggalkannya apabila tidak cocok. Kalau dalam madzhab syafi’I talfiq tidak boleh, apakah talfiq menurut madzhab mas boleh? Tolong kalau bisa disertakan ibarat yang ada arabnya bisa kita koreksi bersama.

    5.Imam madzhab yang mas klaim sepaham dengan anda pun setelah saya membaca pelan-pelan link yang mas sebutkan adalah Imam Malik, namun sayang masih ada kejanggalan, arti maklum versi imam malik dan sanad nusakh imam malik tersebut, apakah benar yang berkata imam malik atau bukan. Dan juga dalam link tersebut pendapat imam qurthubi dan imam juwaini pun masih dipertanyakan keabsahannya, antara tahrif dan tidak, serta alangkah lebih baiknya disertakan redaksi asli, karena terus terang mas maktabah syamilah yang saya punya Cuma sekedar washilah agar cepat mencari ibarat dikarenakan kami sedikit banyak punya referensi asli, lagian banyak kitab madzahib yang belum terekam maktabah syamilah yang kebetulan kami miliki, seperti albayan lil umroni, Sab’atul kutub dll. Oleh karena itu saya bertanya IMAM MADZHAB 4 YANG BERAKIDAH SEPERTI MAS SIAPA? Saya tekankan Imam Madzahib al arba’ah.

    6.kalau syaikh abdul wahab sama syaikh albani mah sudah tentu berbeda dengan imam madzahib kan mas, masak mas belum tahu? Coba pelan-pelan di googling ada kok, belum lagi kitab-kitab ahlusunnah. Silahkan mas…dan saya tidak memvonis sesuatu, bolehkan apabila saya pinjam istilah teman-teman salafi? “saya tidak mengatakan… tapi yang mengatakan adalah para ulama”.

    7. Alhamdulillah mas tamatan pondok pesantren, minimal gaya pemahaman kita ada sedikit persamaan, yakni sama-sama naqil dari sebuah kitab. Namun dalam perbincangan kita ini alangkah indahnya kalau mas juga menyertakan referensi yang orisinil, agar tukar ilmu ini bisa bermanfaat.

    8. Amin amin amin…. Sayapun juga pengen berdoa seperti mas…semoga berkenan
    ALLAHUMMAGFIRLII, MAAF ATAS SEGALA KESALAHAN SEMOGA ALLAH MEMUDAHKAN KITA UNTUK MEMAHAMI AGAMA YG MULIA INI.WASSALAM
    Wallohu a’lam

  43. “sy membenarkan dan mengimani setiap ayat dari Al-qur’an dan Alhadits yg shahih dari Rasulullah yg menjelaskan ttg sifat dan zat Allah tanpa menta’wil,menyamakannya dengan makhluk ataupun mengurangi maknanya.”

    kalimat diatas berasal dari orang yg meyakini bahwa Allah swt. yg maha suci itu bertempat. Namun, jika kita melihat ayat dan hadist berikut, maka kita akan melihat “kekurangajaran” mereka, bahkan terhadap yg maha pencipta. diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman : ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569). jadi, menurut mereka, Allah itu memiliki sifat sakit, tapi sakitNya Allah tidak seperti sakitnya makhluk.

    untuk saudara saudaraku asy’ariyyah wa maturidiyyah, kalau kita di vonis ahlul bid’ah oleh salafi wahabi, tidak perlu diambil hati, karena kepada Allah swt. yg maha sempurna dan maha suci, merekapun mengatakan hal yg buruk tentang Allah.

  44. Mas Agung, antum selalu mengulang-ngulang hadits itu untuk menipu ummat..

    Jika antum membacanya dengan utuh dan teliti, maka hadits tersebut tidak perlu ditakwil..
    Bukankah Allah azza wa jalla Sendiri telah menjawabnya bahwa bukan Allah yang sakit (Maha suci Allah dari sifat itu), tetapi yang dimaksud sakit adalah hamba Allah fulan…
    Coba baca lagi lanjutan haditsnya :
    “maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569).”

  45. ibnu manan, d awal hadist, ada kalimat, “wahai keturunan adam, Aku Sakit..” “aku sakit”, adalah pembicara yaitu Allah. Logika saja, tidak mungkin hadist d atas d pahami secara tekstual.

  46. kl bgt, apa yg d masksud dngn kalimat “wahai keturunan adam, Aku Sakit”..? Kl Allah swt. D langit, apa makna Baitullah (rumah Allah)?

  47. Bismillah..
    Ya akhi, dalam membaca suatu surah atau hadits semacam ini harus dibaca utuh, jangan sepotong-sepotong…
    Kalau sepotong-sepotong maka pengertiannya akan jauh melenceng…
    Tidakkah antum perhatikan misalnya dalam surat Al Mauun..?
    Fawaylullil mushalliin.. (Celakalah bagi orang-orang yang shalat).
    Jika ayat ini tidak dilanjutkan maka mengandung pengertian bahwa orang yang shalat itu akan celaka.. Namun jika dilanjutkan ke ayat berikutnya : Alladzinahum an shalaatihim saahuun.., Maka akan menjadi jelas pengertiannya bahwa yang dimaksud celaka adalah orang-orang yang lalai dari shalatnya…
    Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lain..
    Begitu juga hadits ini, jika hanya dibaca “Wahai keturunan Adam, Aku sakit”, maka seolah-seolah yang sakit itu Allah (Subhanallah..), tetapi jika dilanjutkan dengan pertanyaan si hamba “Bagaimana aku menjegukMu sedang Engkau Rabbul Alamiin “ Pertanyaan si hamba ini justru menunjukan bahwa Allah tidak mungkin sakit karena Allah adalah Rabbul Alamiin…
    Apalagi diperjelas lagi dengan penegasan dari Allah azza wa jalla bahwa yang dimaksud sakit adalah si fulan… .
    Inilah maksud perkataan saya tadi bahwa hadits ini tidak perlu ditakwil karena Allah Sendiri sudah menjawabnya…
    Jelas kan?????….

    Wallahu a’lam..

  48. @Ibnu Manan

    kita perjelas dulu, wahabi atau yang sering mengaku sebagai salafi memahami ayat atau hadist mutasyabihat secara zohir dan hakikat. Pada hadist qudsi yg berbunyi ““Hai anak Adam, Aku sakit tapi engkau tidak menjenguk-Ku. Ia [hamba] ber- kata, ‘Bagaimana aku menjenguk-Mu sementara Engkau adalah Rabbul ‘Âlamîin?’ Allah menjawab, ‘Tidakkah engkau mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan sakit, engkau tidak menjenguknya, tidakkah engkau mengetahui bahwa jika engkau menjenguknya engkau akan dapati Aku di sisinya…“”. pada kata kerja مَرِضْتُ adalah kata ganti pertama/aku/si pembicara yaitu Allah. Jadi berdasarkan dhahir tekts dalam hadits itu, Jika ada hambanNya yang soleh sakit, Allah swt. juga sakit.

  49. @Ibnu Manan

    contoh lagi, firman Allah:

    فَنَفَخْنَا فِيْها مِنْ رُوْحِنَا (الأنبياء: 91)

    [Makna literal ayat ini tidak boleh kita ambil, makna literalnya mengatakan: ”Maka Kami (Allah) tiupkan padanya (Maryam) dari ruh Kami”. Di sana, ada kalimat ”Min Rûhinâ”, penyebutan kata ”روح” dalam ayat tersebut dengan disandarkan kepada Allah (yaitu kepada zhamîr ”نا”). Makna literal ini seakan mengatakan bahwa Allah adalah ruh yang sebagian dari ruh tersebut adalah ruh Nabi Isa. Makna ayat ini tentu saja bukan seperti pemahaman sesat kaum Musyabbihah yang mengatakan bahwa Allah adalah ruh yang kemudian sebagian ruh tersebut dibagikan kepada Nabi Isa saat menciptakannya. oleh karena itulah, ”Min Rûhinâ” , ”من روحنا” itu harus ditakwil, bukan dalam pengertian zahir dan hakikatnya.

  50. @Ibnu Manan

    Kalau Allah di langit atau ‘arasy, lantas apa makna “….jika engkau menjenguknya engkau akan dapati Aku di sisinya…” Artinya, Allah tidak di langit, tapi disisi orang yang sedang sakit. mungkin syaik bisa menjelaskannya. oh iya syaikh, kalau membaca Al-qur’an atau Hadist, InsyaAllah saya masih bisa walaupun berantakan hehehehe….. tapi kalau menafsirkan, maaf mas, saya ini bukan ahlinya, jadi cuma bisa mengikuti pendapat ulama, mau mengutip pendapat sahabat saya tidak pernah bertemu.

  51. Bismillah..
    Ya Akhi..
    Pertama : Hadits itu tidak menunjukan bahwa jika si hamba sakit, maka Allah juga sakit, Subhanallah… Tapi yang dimaksud Allah azza wa jalla dari hadits itu adalah si hamba yang sakit.. . Artinya jika kita mengunjungi seorang hamba yang sakit, maka sama dengan mengunjungi Allah azza wa jalla (Wallahu a’lam..)..
    Mungkin antum harus belajar lagi tata bahasa Arab…
    Makna “….jika engkau menjenguknya engkau akan dapati Aku di sisinya” .. Justru ini menunjukan bahwa Allah ada diatas langit tetapi ilmuNya melampaui segala sesuatu. Karena Allah yang berada diatas langit, dengan kekuasaanNya dan ilmuNya yang tidak terbatas, maha melihat dan mendengar semua hambaNya, bahkan disisi hamba yang sedang sakit sesuai kehendakNya..
    Adapun untuk faham Allah ada tanpa tempat dan arah (yakni tidak diatas, tidak dibawah, tidak dikanan, tidak dikiri, tidak dilangit dan tidak dibumi) maka tidak sesuai dengan hadits ini.. Karena Allah berfirman bahwa Allah azaa wa jalla berada disisi hamba yang sakit..

    Kedua : Dalam menetapkan sifat-sifat Allah jangan kita menggunakan logika kita, karena logika manusia itu terbatas.. Ada hal-hal yang diluar nalar kita yang kita tidak sanggup untuk memikirkannya…
    Misalnya ada pertanyaan : Dimanakah Allah sebelum diciptakan langit dan Arsy?
    Atau pertanyaan : Mungkinkah Allah berpindah-pindah dari satu posisi ke posisi lain?.

    Pertama-tama kita harus bebaskan dulu Dzat Allah dari ikatan-ikatan yang berlaku atas makhlukNya.. Makhluk dibatasi oleh dimensi-dimensi, sedangkan Allah azza wa jalla bebas dari semua itu…
    Pertanyaan seperti diatas kan sangat kelihatan kalau si penanya berpikir dalam dimensi makhluk. Dia ingin memahami Allah dengan persepsi makhluk. Sebenarnya, Allah mau mengambil “ posisi ” dimanapun, itu hak Dia.
    Andaikan Allah tidak menunjuki diri-Nya di atas Arsy, tidak ada masalah bagi-Nya.
    Tetapi karena kasih-sayang Allah, di atas Keghaiban-Nya, Dia ingin memudahkan manusia memahami keghaiban itu, maka Dia berkehendak istiwa’ di atas Arsy.
    Dengan demikian, manusia mendapati satu kemudahan ketika ditanya “aina Allah” (dimana Allah)..
    Maka kita bisa menjawab secara pasti: Fis sama’i ‘alal Arsy (di langit, di atas Arsy).
    Dalam ajaran Islam banyak perkara yang bersifat ghaib. Ghaib bisa karena waktu (misalnya peristiwa-peristiwa di masa lalu, atau di masa depan).
    Ghaib bisa karena ruang (misalnya letaknya sangat jauh, atau sangat kecil, sehingga tak tampak oleh penglihatan normal).
    Ghaib juga bisa karena wujudnya (misalnya ada makhluk halus yang tak tampak, padahal mereka ada dan eksis, seperti jin, Malaikat, ruh, dll.).
    Di antara perkara ghaib itu ada yang Allah ajarkan, dan ada pula yang tidak Dia ajarkan.
    Contoh, hanya sebagian saja dari ribuan Nabi dan Rasul yang disebutkan kisahnya dalam Al Qur’an dan As Sunnah.
    Terhadap berita-berita yang Allah ceritakan, ya kita imani; adapun yang tidak Dia ceritakan, kita menahan diri untuk tidak masuk ke wilayah itu, agar tidak menjadi sesat karenanya. Na’uudzu billaahi min dzaalik.
    Informasi atau ilmu tentang dimana posisi Allah Ta’ala sebelum Diri-Nya menciptakan langit dan Arasy, adalah termasuk hal-hal sangat ghaib yang tidak diceritakan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya.
    Kalau terhadap kisah Nabi-nabi tertentu yang tidak dikisahkan dalam Al Qur’an, kita mau menahan diri untuk tidak mengorek-ngorek kisah seperti itu; lalu bagaimana mungkin kita akan mempertanyakan posisi Allah sebelum Dia menciptakan langit dan Arasy ?.
    Ketiga : Perlu antum ketahui bahwa bahwa Salafy wahaby tidak mengharamkan takwil secara mutlak.. Tetap takwil yang dibenarkan adalah yang sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh nash Kitabullah dan sunnah Nabi, sebaliknya takwil yang menyelisihi Kitabullah dan Sunnah Nabi adalah takwil fasid (rusak)..
    Berikut saya ringkaskan manhaj yang ditempuh oleh kelompok salafy dalam masalah aqidah, oleh Syaikh ‘Abdussalam bin Salim As Suhaimi..
    Manhaj generasi Salafus Shalih dalam masalah aqidah secara ringkas adalah sebagai berikut:
    1. Membatasi sumber rujukan dalam masalah aqidah hanya pada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam serta memahaminya dengan pemahaman Salafus Shalih
    2. Berhujjah dengan hadits-hadits shahih dalam masalah aqidah, baik hadits-hadits tersebut mutawatir maupun ahad.
    3. Tunduk kepada wahyu serta tidak mempertentangkannya dengan akal. Juga tidak panjang lebar dalam membahas perkara gaib yang tidak dapat dijangkau oleh akal.
    4. Tidak menceburkan diri dalam ilmu kalam dan filsafat
    5. Menolak ta’wil yang batil
    6. Menggabungkan seluruh nash yang ada dalam membahas suatu permasalahan
    Contoh takwil yang bathil adalah mentakwilkan Tangan Allah dengan Kekuasaan atau Kekuatan..
    Padahal Abul Hasan al Asy’ari rahimahullah berkata :
    وأن له يدين بلا كيف كما قال : { خَلَقْتُ بِيَدَيَّ } [ سورة ص ، الآية : 75 ] .
    وكما قال : { بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ } [ سورة المائدة ، الآية : 64 ] .

    “Bahwasannya Allah mempunyai dua tangan tanpa perlu ditanyakan bagaimananya (kaifiyah-nya), sebagaimana firman-Nya : ‘Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku’, dan juga sebagaimana firman-Nya : ‘Akan tetapi kedua tangan-Nya terbuka”. (al-Ibanah an Ushuli Diyanah hal. 17)

    Allah mempunyai dua tangan, tetapi tangan Allah tentu berbeda dengan tangan makhluk.. Haram mempertanyakan bagaimana tangan Allah..
    Jika kita menafsirkan “tangan” dengan kekuasaan, lalu bagaimana kita menafsirkan dua tangan?? Apakah Allah hanya mempunyai dua kekuasaan??..
    Keempat : Apa pendapat antum mengenai perkataan Abul Hasan Al Asy’ari dalam kitabnya : Risaalah ila Ahli Ats-Tsagr berikut ini :
    Dan mereka (para salaf) berkonsensus (ijmak) … bahwasanya Allah ta’aala di atas langit, diatas arsyNya bukan di bumi. Hal ini telah ditunjukan oleh firman Allah
    أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ
    Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu (QS Al-Mulk : 16).

    Dan Allah berfirman
    إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
    kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya (QS Faathir : 10).
    Dan Allah berfirman
    الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏
    “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arasy.” (QS. Thâhâ;5)
    Dan bukanlah istiwaa’nya di atas arsy maknanya istiilaa’ (menguasai) sebagaimana yang dikatakan oleh qodariah (Mu’tazilah-pent), karena Allah Azza wa Jalla selalu menguasai segala sesuatu. Dan Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang lebih samar dari yang tersembunyi, tidak ada sesuatupun di langit maupun di bumi yang tersembunyi bagi Allah, hingga seakan-akan Allah senantiasa hadir bersama segala sesuatu. Hal ini telah ditunjukan oleh Allah Azza wa Jalla dengan firmanNya :
    Dan bahwasanya Allah –subhaanahu- diatas arsyNya, sebagaimana Allah berfirman :
    الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏
    “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arasy.” (QS. Thâhâ;5)
    Dan Allah memiliki dua tangan tanpa ditanyakan bagaimananya… dan Allah memiliki wajah… (Maqoolaatul Islaamiyiin 1/345)
    Apakah antum berpendapat bahwa Imam Abul Hasan Al Asy’ari telah sesat atau kafir karena perkataan ini??
    Atau bagaimana pendapat antum mengenai perkataan Syaikh Abdul qadir Al Jailani berikut :
    Syaikh Abdul Qadir Al-Jailany berkata dalam kitabnya Al-Ghun-yah yang masyhur: [Allah berada di bagian atas langit, bersemayam di atas Arsy, menguasai kerajaan, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, kepada-Nya lah naik kata-kata yang baik dan amalan sholeh diangkatnya. Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, lalu urusan itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang sama dengan seribu tahun menurut perhitungan kalian.Tidak boleh Allah disifatkan bahwa Dia ada di segala tempat. Bahkan Dia di atas langit, di atas Arsy sebagaimana Allah berfirman, “Ar-Rahman (Allah) tinggi di atas Arsy”.
    Kitab Al-Ghun-yah di atas, judul lengkapnya adalah: “Ghun-yah Ath-Tholibin” sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Azhim Abadi dalam Aunul Ma’bud (3/300), dan Al-Mubarakfury dalam Tuhfah Al-Ahwadzi (7/430)
    Apakah antum juga berpendapat bahwa Syaikh Abdul qadir Jailani telah sesat atau kafir karena perkaan ini??
    Kalau antum masih mendustakan bahwa Allah berada diatas langit, lalu bagaimana pula pendapat antum mengenai firman Allah : أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ
    Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu (QS Al-Mulk : 16).
    Dan masih banyak lagi ayat-ayat al qur’an dan hadits-hadits Rasulullah yang menerangkan bahwa Allah azza wa jalla berada diatas langit, tetapi berada diluar alam, sedangkan IlmuNya melampaui segala sesuatu..

    Wallahu a’lam..

  52. Satu lagi pertanyaan saya untuk mas agung :

    Kita tentu mengimani bahwa di syurga nanti, kita (insya Allah) akan melihat Allah azza wa jalla secara langsung tanpa hijab.. Banyak ayat-ayat Al qur’an dan hadits-hadits yang shahih menerangkan tentang hal ini…
    Nah, jika menurut perkataan antum, Allah ada tanpa arah dan tempat, maka ke arah manakah pandangan kita akan tertuju apabila kita hendak melihat Allah azza wa jalla??

  53. Bismillah..
    Terus terang saya masih merasa heran dengan artikel diatas..
    Disebutkan bahwa empat imam mazhab sepakat dengan aqidah “ Allah ada tanpa arah dan tempat”..
    Padahal justru sebaliknya. Empat imam mazhab sepakat bahwa Allah ada diatas langit dan diatas Arsy, tetapi ilmuNya melampaui segala sesuatu..
    Berikut akan saya kutipkan sedikit :
    Pertama : Imam Abu Hanifah rahimahullah mengatakan dalam Fiqhul Akbar,
    من انكر ان الله تعالى في السماء فقد كفر
    “Barangsiapa yang mengingkari keberadaan Allah di atas langit, maka ia kafir.”
    Dari Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy -pemilik kitab Al Fiqhul Akbar-, beliau berkata,
    سألت أبا حنيفة عمن يقول لا أعرف ربي في السماء أو في الأرض فقال قد كفر لأن الله تعالى يقول الرحمن على العرش استوى وعرشه فوق سمواته فقلت إنه يقول أقول على العرش استوى ولكن قال لا يدري العرش في السماء أو في الأرض قال إذا أنكر أنه في السماء فقد كفر رواها صاحب الفاروق بإسناد عن أبي بكر بن نصير بن يحيى عن الحكم
    Aku bertanya pada Abu Hanifah mengenai perkataan seseorang yang menyatakan, “Aku tidak mengetahui di manakah Rabbku, di langit ataukah di bumi?” Imam Abu Hanifah lantas mengatakan, “Orang tersebut telah kafir karena Allah Ta’ala sendiri berfirman,
    الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
    “Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”. Dan ‘Arsy-Nya berada di atas langit.”
    Orang tersebut mengatakan lagi, “Aku berkata bahwa Allah memang menetap di atas ‘Arsy.” Akan tetapi orang ini tidak mengetahui di manakah ‘Arsy, di langit ataukah di bumi.
    Abu Hanifah lantas mengatakan, “Jika orang tersebut mengingkari Allah di atas langit, maka dia kafir.” (Fiqhul Akbar)..

    Kedua : Imam Malik bin Anas rahimahullah- berkata, “Allah berada di langit, sedang ilmu-Nya berada di mana-mana, tidak ada satu tempatpun yang kosong dari ilmu-Nya”.[ Lihat Syarah I’tiqod Ahlis Sunnah (3/401/673)]
    Diriwayatkan dari Yahya bin Yahya At Taimi, Ja’far bin ‘Abdillah, dan sekelompok ulama lainnya, mereka berkata,
    جاء رجل إلى مالك فقال يا أبا عبد الله الرحمن على العرش استوى كيف استوى قال فما رأيت مالكا وجد من شيء كموجدته من مقالته وعلاه الرحضاء يعني العرق وأطرق القوم فسري عن مالك وقال الكيف غير معقول والإستواء منه غير مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة وإني أخاف أن تكون ضالا وأمر به فأخرج
    “Suatu saat ada yang mendatangi Imam Malik, ia berkata: “Wahai Abu ‘Abdillah (Imam Malik), Allah Ta’ala berfirman,
    الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
    “Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”. Lalu bagaimana Allah beristiwa’ (menetap tinggi)?” Dikatakan, “Aku tidak pernah melihat Imam Malik melakukan sesuatu (artinya beliau marah) sebagaimana yang ditemui pada orang tersebut. Urat beliau pun naik dan orang tersebut pun terdiam.” Kecemasan beliau pun pudar, lalu beliau berkata,
    الكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ وَالإِسْتِوَاءُ مِنْهُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ وَالإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ وَإِنِّي أَخَافُ أَنْ تَكُوْنَ ضَالاًّ
    “Hakekat dari istiwa’ tidak mungkin digambarkan, namun istiwa’ Allah diketahui maknanya. Beriman terhadap sifat istiwa’ adalah suatu kewajiban. Bertanya mengenai (hakekat) istiwa’ adalah bid’ah. Aku khawatir engkau termasuk orang sesat.” Kemudian orang tersebut diperintah untuk keluar.

    Ketiga : Imam Asy Syafi’i rahimahullah -yang menjadi rujukan mayoritas kaum muslimin di Indonesia dalam masalah fiqih- meyakini Allah berada di atas langit..
    Syaikhul Islam berkata bahwa telah mengabarkan kepada kami Abu Ya’la Al Kholil bin Abdullah Al Hafizh, beliau berkata bahwa telah memberitahukan kepada kami Abul Qosim bin ‘Alqomah Al Abhariy, beliau berkata bahwa Abdurrahman bin Abi Hatim Ar Roziyah telah memberitahukan pada kami, dari Abu Syu’aib dan Abu Tsaur, dari Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy Syafi’i (yang terkenal dengan Imam Syafi’i), beliau berkata,
    القول في السنة التي أنا عليها ورأيت اصحابنا عليها اصحاب الحديث الذين رأيتهم فأخذت عنهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الإقرار بشهادة ان لااله الا الله وان محمدا رسول الله وذكر شيئا ثم قال وان الله على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وان الله تعالى ينزل الى السماء الدنيا كيف شاء وذكر سائر الاعتقاد
    “Perkataan dalam As Sunnah yang aku dan pengikutku serta pakar hadits meyakininya, juga hal ini diyakini oleh Sufyan, Malik dan selainnya : “Kami mengakui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah. Kami pun mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Lalu Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya yang berada di atas langit-Nya, namun walaupun begitu Allah pun dekat dengan makhluk-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Allah Ta’ala turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya.” Kemudian beliau rahimahullah menyebutkan beberapa keyakinan (i’tiqod) lainnya. (Mukhtashar Uluw)..

    Keempat Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah Meyakini Allah bukan Di Mana-mana, namun di atas ‘Arsy-Nya
    Adz Dzahabiy rahimahullah mengatakan, “Pembahasan dari Imam Ahmad mengenai ketinggian Allah di atas seluruh makhluk-Nya amatlah banyak. Karena beliaulah pembela sunnah, sabar menghadapi cobaan, semoga beliau disaksikan sebagai ahli surga. Imam Ahmad mengatakan kafirnya orang yang mengatakan Al Qur’an itu makhluk, sebagaimana telah mutawatir dari beliau mengenai hal ini. Beliau pun menetapkan adanya sifat ru’yah (Allah itu akan dilihat di akhirat kelak) dan sifat Al ‘Uluw (ketinggian di atas seluruh makhluk-Nya)”
    Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya,
    ما معنى قوله وهو معكم أينما كنتم و ما يكون من نجوى ثلاثه الا هو رابعهم قال علمه عالم الغيب والشهاده علمه محيط بكل شيء شاهد علام الغيوب يعلم الغيب ربنا على العرش بلا حد ولا صفه وسع كرسيه السموات والأرض
    “Apa makna firman Allah,
    وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
    “Dan Allah bersama kamu di mana saja kamu berada.”
    مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ
    “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya.”
    Yang dimaksud dengan kebersamaan tersebut adalah ilmu Allah. Allah mengetahui yang ghoib dan yang nampak. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu yang nampak dan yang tersembunyi. Namun Rabb kita tetap menetap tinggi di atas ‘Arsy, tanpa dibatasi dengan ruang, tanpa dibatasi dengan bentuk. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Kursi-Nya pun meliputi langit dan bumi.”
    Diriwayatkan dari Yusuf bin Musa Al Ghadadiy, beliau berkata,
    قيل لأبي عبد الله احمد بن حنبل الله عز و جل فوق السمآء السابعة على عرشه بائن من خلقه وقدرته وعلمه بكل مكان قال نعم على العرش و لايخلو منه مكان
    Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanyakan, “Apakah Allah ‘azza wa jalla berada di atas langit ketujuh, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, sedangkan kemampuan dan ilmu-Nya di setiap tempat (di mana-mana)?” Imam Ahmad pun menjawab, “Betul sekali. Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, setiap tempat tidaklah lepas dari ilmu-Nya.” (Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, 138)
    Abu Bakr Al Atsrom mengatakan bahwa Muhammad bin Ibrahim Al Qoisi mengabarkan padanya, ia berkata bahwa Imam Ahmad bin Hambal menceritakan dari Ibnul Mubarok ketika ada yang bertanya padanya,
    كيف نعرف ربنا
    “Bagaimana kami bisa mengetahui Rabb kami?” Ibnul Mubarok menjawab,
    في السماء السابعة على عرشه
    “Allah di atas langit yang tujuh, di atas ‘Arsy-Nya.” Imam Ahmad lantas mengatakan,
    هكذا هو عندنا
    “Begitu juga keyakinan kami.”

    Wallahu a’lam..

  54. maaf nimbrung

    @ibnu manan

    dalil antum sama kaya firanda n udah di bantah di blog abu salafy, owya alibanah yang ente kutip bisa jadi alibanah yang udah ditahrif sama golongan antum, karena salah satu kitab yang sudah di ubah isinya yaitu alibanah.

  55. Bismillah..
    @Abi Raka
    Maaf mas, kalau antum menganggap bahwa kitab al ibanah yang sudah beredar diseluruh dunia ini sudah di takhrif, silahkan antum tampilkan kitab al ibanah yang asli menurut antum..
    Jangan cuma bisa fitnah mas..

  56. TAFSIR HADIST AL HUJJATUL ISLAM IMAM AN NAWAWI

    ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569)

    Berkata Imam Nawawi berkenaan hadits qudsiy diatas dalam kitabnya yaitu Syarah Nawawiy alaa Shahih Muslim bahwa yang dimaksud sakit pada Allah adalah hamba-Nya, dan kemuliaan serta kedekatan-Nya pada hamba-Nya itu. ”Wa ma’na wajadtaniy indahu ya’niy wajadta tsawaabii wa karoomatii indahu” dan makna ucapan : akan kau temui aku disisinya adalah akan kau temui pahalaku dan kedermawanan-Ku dengan menjenguknya (Syarh Nawawi ala Shahih Muslim Juz 16 hal 125)

  57. @Ibnu Manan

    Jika ada yang bertanya, Di mana Allah swt. sebelum menciptakan langit, ‘arasy dsb? maka jawabannya adalah, Allah swt. telah ada sebelum segala sesuatu itu ada, termasuk langit, dan ‘arasy.

    “Dialah (Allah) Yang Maha Awal (wujudnya tanpa permulaan) dan Yang Maha Akhir (Wujudnya tanpa akhir).” (QS. al-Hadid : 3).

    “Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku berada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang sekelompok dari penduduk Yaman dan berkata: “Kami datang untuk belajar agama dan menanyakan tentang permulaan yang ada ini, bagaimana sesungguhnya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah telah ada dan tidak ada sesuatu apapun selain Allah.” (HR. al-Bukhari)

    “Abi Razin radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku berkata, wahai Rasulullah, di manakah Tuhan kita sebelum menciptakan makhluk-Nya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah ada tanpa sesuatu apapun yang menyertainya. Di atasnya tidak ada sesuatu dan di bawahnya tidak ada sesuatu. Lalu Allah menciptakan Arasy di atas air.” Ahmad bin Mani’ berkata, bahwa Yazid bin Harun berkata, maksud hadits tersebut, Allah ada tanpa sesuatuapapun yang menyertai (termasuk tempat). Al-Tirmidzi berkata: “hadits ini bernilai hasan”. (Sunan al-Tirmidzi).

    Orang yang mengatakan Allah swt. di langit atau ‘arasy, tidak terlepas dari hal berikut :

    Pertama, mengatakan bahwa tempat itu bersifat azali (tidak ada permulaannya), keberadaannya bersama wujudnya Allah dan bukan termasuk makhluk Allah. Demikian ini berarti Anda mendustakan firman Allah subhanahu wa ta‘ala: “Allah-lah pencipta segala sesuatu.” (QS. al-Zumar : 62).

    Kedua, mereka mungkin berpendapat, bahwa Allah itu baru, yakni wujudnya Allah terjadi setelah adanya tempat, dengan demikian berarti Anda mendustakan ayat al-qur’an Qs. Al Hadid : 3 di atas.

    Ketiga, mereka mungkin berpendapat, bahwa sebelumnya Allah swt. ada tanpa tempat dan arah, namun setelah menciptakan tempat, arah, langit, atau ‘arasy, mereka mengatakan ada perubahan pada zat Allah swt. dari tidak bertempat, menjadi bertempat.

  58. @Ibnu Manan

    “Bahwasannya Allah mempunyai dua tangan tanpa perlu ditanyakan bagaimananya (kaifiyah-nya), sebagaimana firman-Nya : ‘Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku’, dan juga sebagaimana firman-Nya : ‘Akan tetapi kedua tangan-Nya terbuka”. (al-Ibanah an Ushuli Diyanah hal. 17)

    Jawaban saya :

    Pertama, saya tidak yakin bahwa Imam al Asy’ary berkeyakinan seperti itu. Selain itu, Imam al Asy’ary adalah seorang tokoh besar, jika hal tersebut memang benar adanya, pastilah semua muridnya akan meriwayatkan hal tersebut. Nyatanya, tidak ada satupun orang yang bermazhab asy’ariyyah berkeyakinan seperti itu.

    Kedua, perkataan Imam al Asy’ary tersebut (yang saya yakin adalah sebuah kedustaan yang disandarkan kepada beliau), bertentangan dengan ayat berikut : وَالسّمَاءَ بَنيْنَاهَا بأيْد (الذاريات: 47)

    Dalam ayat ini dipergunakan kata ”أيدٍ”; bentuk jamak dari ”يد”. Ayat ini, kalau dipahami makna zahirnya yang mengatakan seakan Allah memiliki anggota badan; tangan yang sangat banyak, bukan memiliki dua tangan.

  59. @Ibnu Manan

    Kata al-yad ”اليد” dalam bahasa Arab memiliki makna yang sangat banyak, di antaranya dalam makna an-Ni’mah wa al-Ihsân ”النعمة والإحسان”, artinya; ”Karunia (nikmat) dan kebaikan”. Adapun makna perkataan orang-orang Yahudi dalam firman Allah: Yadullâh Maghlûlah ”يد الله مغلولة” adalah dalam makna Mahbûsah ’An an-Nafaqah ”محبوسة عن النفقة”, artinya menurut orang-orang Yahudi Allah tidak memberikan karunia dan nikmat, [bukan arti ayat tersebut bahwa Allah memiliki tangan yang terbelenggu].

    Makna lainnya, kata al-yad dalam pengertian ”al-Quwwah”, ”القوة” ; artinya ”Kekuatan atau kekuasaan”. Orang-orang Arab biasa berkata: ”Lahû Bi Hadzâ al-Amr Yad”, ”له بهذا الأمر يد”, artinya: ”Orang itu memiliki kekuatan (kekuasaan) dalam urusan ini”. Firman Allah: ”بل يداه مبسوطتان”; yang dimaksud adalah dalam pengertian ini, artinya bahwa nikmat dan kekuasaan Allah sangat luas [bukan artinya bahwa Allah memiliki dua tangan yang sangat lebar].

  60. @Ibnu Manan

    kata Istawâ “استوى” dalam bahasa Arab memiliki berbagai macam arti, di antaranya bermakna I’tadala “اعتدل”; artinya “sama sepadan”. Dalam makna ini sebagian kabilah Bani Tamim berkata:

    فَاسْتَوَى ظَالِمُ العَشِيْرَةِ وَالْمَظْلُوْمُ

    [Artinya “Menjadi sama antara orang yang zalim dari kaum tersebut dengan orang yang dizaliminya”. Kata Istawâ dalam bait sya’ir ini artinya “sama sepadan”].

    Kata Istawâ dapat pula bermakna tamma “تمّ” ; artinya sempurna. Dalam makna ini seperti firman Allah tentang Nabi Musa:

    وَلَمّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى ءَاتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا (القصص: 14)

    [”Ketika dia (Nabi Musa) telah mencapai kekuatannya dan telah sempurna Kami (Allah) berikan kepadanya kenabian dan ilmu”]. (QS. Al-Qashash: 14).

    Kata Istawâ dapat pula bermakna al-Qashd Ilâ asy-Syai’ “القصد إلى الشىء” artinya; bertujuan terhadap sesuatu. Dalam makna ini seperti firman Allah:

    ثُمّ اسْتَوَى إلَى السّمَاء (فصلت: 11)

    [Yang dimaksud Istawâ dalam ayat ini ialah qashada “قصد”, artinya bahwa Allah berkehendak (bertujuan) untuk menciptakan langit].

    Kata Istawâ dapat pula dalam makna al-Istîlâ’ ‘Alâ asy-Syai’ “الاستيلاء على الشىء” artinya; menguasai terhadap sesuatu. Dalam makna ini sebagaimana perkataan seorang penyair:

    إذَا مَا غَزَا قَوْمًا أبَاحَ حَرِيْمهُمْ وأضْحَى عَلى مَا مَلَكُوْهُ قَدِ اسْتَوَى

    [Maknanya: “Apa bila ia memerangi suatu kaum maka ia mendapatkan kebolehan atas sesuatu yang terlarang dari mereka, dan jadilah ia terhadap apa yang mereka miliki telah menguasai”].

    Imam al-Muhaddits Abu Abd ar-Rahman Abdullah al-Harari dalam salah satu kitab karyanya berjudul Izh-hâr al-‘Aqîdah as-Sunniyyah Bi Syarh al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah, hlm. 200, menuliskan sebagai berikut:

    “Penyebutan arsy secara khusus adalah untuk memberitakan kemuliaan arsy itu sendiri. Karena ada beberapa perkara yang secara tekstual disandarkan langsung kepada Allah dalam penyebutannya yang tujuannya adalah sebagai pemberitaan bahwa perkara tersebut adalah sesuatu yang diagungkan dan dimuliakan. Contohnya dalam firman Allah: “Nâqatullâh…” (QS. Hud: 64), yang dimaksud adalah unta betina yang secara khusus dimuliakan oleh Allah, yaitu yang diberikan kepada Nabi Shalih. Padahal semua unta betina, bagaimanapun ia pada dasarnya sama; adalah milik Allah”.

    Penggunaan semacam ini di dalam bahasa Arab disebut dengan Idlâfah at-Tasyrîf. Artinya; penyebutan secara khusus dari suatu objek benda dengan disandarkan kepada Allah adalah untuk memberikan pemahaman bahwa benda tersebut memiliki keunggulan dan kemuliaan atas benda-benda lainnya. Contoh lainnya yang sepaham dengan QS. Hud: 64 di atas adalah firman Allah:

    أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطّائِفِيْنَ (البقرة: 125)

    “Bersihkan oleh kalian berdua (Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il) “rumah-Ku” bagi orang-orang yang melakukan tawaf”. (al-Baqarah: 125)

    Bahwa maksud “rumah Allah” dalam ayat ini bukan berarti Allah berada dan bertempat di dalamnya, tetapi dalam pengertian bahwa rumah tersebut adalah rumah yang dimuliakan oleh Allah; dan yang dimaksud oleh ayat ini adalah ka’bah.

    Dengan demikian dapat kita pahami bahwa penyebutan arsy secara khusus dalam beberapa ayat tentang Istawâ adalah untuk memberitahukan bahwa arsy disamping sebagai makhluk Allah yang paling besar bentuknya, juga sebagai tempat yang dimuliakan oleh Allah. Hal itu karena arsy ini adalah tempat tawaf para Malaikat, sebagai ka’bah dimuliakan oleh Allah adalah karena ia tempat tawaf bagi manusia. Oleh karena itu Allah berfirman:

    وَتَرَى الْمَلاَئِكَةَ حَآفِّينَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ (الزمر: 75)

    ”Dan engkau (Wahai Muhammad) melihat para Malaikat melakukan tawaf mengelilingi arsy” (QS. Az-Zumar: 75)

    Ayat ini dengan jelas memberikan pemahaman bahwa para Malaikat itu melakukan tawaf dengan mengelilingi arsy.

  61. @Ibnu Manan

    Di antara ayat-ayat al-Qur’an yang seringkali disalahpahami oleh kaum Mujassimah adalah firman Allah:

    أأمنْتُمْ مَنْ فِي السّمَاء (الملك: 16)

    [Makna literal ayat ini tidak boleh kita ambil, makna literalnya mengatakan seakan Allah berada di langit: ”Adakah kalian merasa aman terhadap yang ada di langit?”].

    Argumen kuat dan nyata telah menegaskan bahwa yang dimaksud ayat ini bukan dalam makna zahirnya [seperti pemahaman sesat kaum Musyabbihah yang menyimpulkannya bahwa Allah berada di langit], karena dasar kata ”في” [yang artinya ”di dalam”] dalam bahasa Arab dipergunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang ”berada di dalam sebuah tempat dengan diliputi oleh tempat itu sendiri”( للظرفية ); padahal Allah tidak diliputi oleh suatu apapun. Pemahaman ayat di atas tidak sesuai jika dipahami dalam makna indrawi seperti ini, karena bila demikian maka berarti Allah diliputi oleh langit [dan itu artinya bisa jadi sama besar, lebih besar, atau lebih kecil dari langit itu sendiri]. Pemahaman yang benar adalah bahwa ayat tersebut untuk mengungkapkan keagungan dan kemuliaan Allah.

    Al-‘Allâmah Kamaluddin Ahmad bin Hasan al-Bayyadli al-Hanafi (w 1098 H) Isyarat al-Maram, h. 197 berkata: “المكان هو الفراغ الذي يشغله الجسم” “Tempat (al-Makân) adalah ruang yang dipenuhi oleh benda”.

    Oleh karena itulah, yang menjadikan ayat tersebut ssebagai dalil untuk menetapkan bahwa Allah swt. berada di langit dengan mengambil zahirnya, berarti menyamakan Allah swt. dengan benda.

  62. @Ibnu Manan

    Dalam al-Fiqh al-Absath, al-Imam Abu Hanifah menuliskan:

    قُلْتُ: أرَأيْتَ لَوْ قِيْلَ أيْنَ اللهُ؟ يُقَالُ لَهُ: كَانَ اللهُ تَعَالَى وَلاَ مَكَانَ قَبْلَ أنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ، وَكَانَ اللهُ تَعَالَى وَلَمْ يَكُنْ أيْن وَلاَ خَلْقٌ وَلاَ شَىءٌ، وَهُوَ خَالِقُ كُلّ شَىءٍ.

    “Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu” (Lihat al-Fiqh al-Absath karya al-Imam Abu Hanifah dalam kumpulan risalah-risalahnya dengan tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 20).

    Pada bagian lain dalam kitab al-Fiqh al-Absath, al-Imam Abu Hanifah menuliskan:

    “Allah ada tanpa permulaan (Azali, Qadim) dan tanpa tempat. Dia ada sebelum menciptakan apapun dari makhluk-Nya. Dia ada sebelum ada tempat, Dia ada sebelum ada makhluk, Dia ada sebelum ada segala sesuatu, dan Dialah pencipta segala sesuatu. Maka barangsiapa berkata saya tidak tahu Tuhanku (Allah) apakah Ia di langit atau di bumi?, maka orang ini telah menjadi kafir. Demikian pula menjadi kafir seorang yang berkata: Allah bertempat di arsy, tapi saya tidak tahu apakah arsy itu di bumi atau di langit” (al-Fiqh al-Absath, h. 57).

    Dalam tulisan al-Imam Abu Hanifah di atas, beliau mengkafirkan orang yang berkata: “Saya tidak tahu Tuhanku (Allah) apakah Ia di langit atau di bumi?”. Demikian pula beliau mengkafirkan orang yang berkata: “Allah bertempat di arsy, tapi saya tidak tahu apakah arsy itu di bumi atau di langit”.

    Klaim kafir dari al-Imam Abu Hanifah terhadap orang yang mengatakan dua ungkapan tersebut adalah karena di dalam ungkapan itu terdapat pemahaman adanya tempat dan arah bagi Allah. Padahal sesuatu yang memiliki tempat dan arah sudah pasti membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam tempat dan arah tersebut. Dengan demikian sesuatu tersebut pasti baharu (makhluk), bukan Tuhan.

    Tulisan al-Imam Abu Hanifah ini seringkali disalahpahami atau sengaja diputarbalikan pemaknaannya oleh kaum Musyabbihah. Perkataan al-Imam Abu Hanifah ini seringkali dijadikan alat oleh kaum Musyabbihah untuk mempropagandakan keyakinan mereka bahwa Allah berada di langit atau berada di atas arsy. Padahal sama sekali perkataan al-Imam Abu Hanifah tersebut bukan untuk menetapkan tempat atau arah bagi Allah. Justru sebaliknya, beliau mengatakan demikian adalah untuk menetapkan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Hal ini terbukti dengan perkataan-perkataan al-Imam Abu Hanifah sendiri seperti yang telah kita kutip di atas. Di antaranya tulisan beliau dalam al-Washiyyah: “Jika Allah membutuhkan untuk duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia?”.

    Dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa klaim kafir yang sematkan oleh al-Imam Abu Hanifah adalah terhadap mereka yang berakidah tasybih; yaitu mereka yang berkeyakinan bahwa Allah bersemayam di atas arsy. Inilah maksud yang dituju oleh al-Imam Abu Hanifah dengan dua ungkapannya tersebut di atas, sebagaimana telah dijelaskan oleh al-Imam al-Bayyadli al-Hanafi dalam karyanya; Isyarat al-Maram Min ‘Ibarat al-Imam (Lihat Isyarat al-Maram, h. 200). Demikian pula prihal maksud perkataan al-Imam Abu Hanifah ini telah dijelasakan oleh al-Muhaddits al-Imam Muhammad Zahid al-Kautsari dalam kitab Takmilah as-Saif ash-Shaqil (Lihat Takmilah ar-Radd ‘Ala an-Nuniyyah, h. 180).

    Asy-Syaikh ‘Ali Mulla al-Qari di dalam Syarah al-Fiqh al-Akbar menuliskan sebagai berikut:

    “Ada sebuah riwayat berasal dari Abu Muthi’ al-Balkhi bahwa ia pernah bertanya kepada Abu Hanifah tentang orang yang berkata “Saya tidak tahu Allah apakah Dia berada di langit atau berada di bumi!?”. Abu Hanifah menjawab: “Orang tersebut telah menjadi kafir, karena Allah berfirman “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa”, dan arsy Allah berada di atas langit ke tujuh”. Lalu Abu Muthi’ berkata: “Bagaimana jika seseorang berkata “Allah di atas arsy, tapi saya tidak tahu arsy itu berada di langit atau di bumi?!”. Abu Hanifah berkata: “Orang tersebut telah menjadi kafir, karena sama saja ia mengingkari Allah berada di langit. Dan barangsiapa mengingkari Allah berada di langit maka orang itu telah menjadi kafir. Karena Allah berada di tempat yang paling atas. Dan sesungguhnya Allah diminta dalam doa dari arah atas bukan dari arah bawah”.

    Kita jawab riwayat Abu Muthi’ ini dengan riwayat yang telah disebutkan oleh al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam dalam kitab Hall ar-Rumuz, bahwa al-Imam Abu Hanifah berkata: “Barangsiapa berkata “Saya tidak tahu apakah Allah di langit atau di bumi?!”, maka orang ini telah menjadi kafir. Karena perkataan semacam ini memberikan pemahaman bahwa Allah memiliki tempat. Dan barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat maka orang tersebut seorang musyabbih; menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya”. Al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam adalah ulama besar terkemuka dan sangat terpercaya. Riwayat yang beliau kutip dari al-Imam Abu Hanifah dalam hal ini wajib kita pegang teguh. Bukan dengan memegang tegung riwayat yang dikutip oleh Ibn ‘Abi al-Izz; (yang telah membuat syarah Risalah al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah versi akidah tasybih). Di samping ini semua, Abu Muthi’ al-Balkhi sendiri adalah seorang yang banyak melakukan pemalsuan, seperti yang telah dinyatakan oleh banyak ulama hadits” (Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 197-198).

    Asy-Syaikh Musthafa Abu Saif al-Hamami, salah seorang ulama al-Azhar terkemuka, dalam kitab karyanya berjudul Ghauts al-‘Ibad Bi Bayan ar-Rasyad menuliskan beberapa pelajaran penting terkait riwayat Abu Muthi’ al-Balkhi di atas, sebagai berikut:

    Pertama: Bahwa pernyataan yang dinisbatkan kepada al-Imam Abu Hanifah tersebut sama sekali tidak ada penyebutannya dalam al-Fiqh al-Akbar. Pernyataan semacam itu dikutip oleh orang yang tidak bertanggungjawab, dan dengan sengaja ia berdusta mengatakan bahwa itu pernyataan al-Imam Abu Hanifah dalam al-Fiqh al-Akbar, tujuannya tidak lain adalah untuk mempropagandakan kesesatan orang itu sendiri.

    Kedua: Kutipan riwayat semacam ini jelas berasal dari seorang pemalsu (wadla’). Riwayat orang semacam ini, dalam masalah-masalah furu’iyyah (fiqih) saja sama sekali tidak boleh dijadikan sandaran, terlebih lagi dalam masalah-masalah ushuliyyah (akidah). Mengambil periwayatan orang pemalsu semacam ini adalah merupakan pengkhiatan terhadap ajaran-ajaran agama. Dan ini tidak dilakukan kecuali oleh orang yang hendak menyebarkan kesesatan atau bid’ah yang ia yakini.

    Ketiga: Periwayatan pemalsu ini telah terbantahkan dengan periwayatan yang benar dari seorang al-Imam agung terpercaya (tsiqah), yaitu al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam. Periwayatan al-Imam Ibn Abd as-Salam tentang perkataan al-Imam Abu Hanifah jauh lebih terpercaya dan lebih benar dibanding periwayatan pemalsu tersebut. Berpegang teguh kepada periwayatan seorang pendusta (kadzdzab) dengan meninggalkan periwayatan seorang yang tsiqah adalah sebuah pengkhianatan, yang hanya dilakukan seorang ahli bid’ah saja. Seorang yang melakukan pemalsuan semacam ini, cukup untuk kita klaim sebagai orang yang tidak memiliki amanah. Jika orang awam saja melakukan pemalsuan semacam ini dapat menjadikannya seorang yang tidak dapat dihormati lagi, terlebih jika pemalsuan ini dilakukan oleh seorang yang alim, maka jelas orang alim ini tidak bisa dipertanggungjawabkan lagi dengan ilmu-ilmunya. Dan “orang alim” semacam itu tidak pantas untuk kita sebut sebagai orang alim, terlebih kita golongkannya dari jajaran Imam-Imam terkemuka, atau para ahli ijtihad. Dan lebih parah lagi jika pengkhianatan pemalsu ini dalam tiga perkara ini sekaligus. Padahal dengan hanya satu pengkhianatan saja sudah dapat menurunkannya dari derajat tsiqah. Karena jika satu riwayat sudah ia dikhianati, maka kemungkinan besar terhadap riwayat-riwayat yang lainpun ia akan melakukan hal sama (Lebih lengkap lihat Ghauts al-‘Ibad Bi Bayan ar-Rasyad, h. 99-100).

  63. @Ibnu Manan

    Satu lagi pertanyaan saya untuk mas agung :

    Kita tentu mengimani bahwa di syurga nanti, kita (insya Allah) akan melihat Allah azza wa jalla secara langsung tanpa hijab.. Banyak ayat-ayat Al qur’an dan hadits-hadits yang shahih menerangkan tentang hal ini… Nah, jika menurut perkataan antum, Allah ada tanpa arah dan tempat, maka ke arah manakah pandangan kita akan tertuju apabila kita hendak melihat Allah azza wa jalla?

    JAWAB

    dalam al-Fiqh al-Akbar, Al-Imam Abu Hanifah juga menuliskan sebagai berikut:

    وَاللهُ تَعَالى يُرَى فِي الآخِرَة، وَيَرَاهُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَهُمْ فِي الْجَنّةِ بِأعْيُنِ رُؤُوسِهِمْ بلاَ تَشْبِيْهٍ وَلاَ كَمِّيَّةٍ وَلاَ يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ خَلْقِهِ مَسَافَة.

    “Dan kelak orang-orang mukmin di surga nanti akan melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka melihat-Nya tanpa adanya keserupaan (tasybih), tanpa sifat-sifat benda (Kayfiyyah), tanpa bentuk (kammiyyah), serta tanpa adanya jarak antara Allah dan orang-orang mukmin tersebut (artinya bahwa Allah ada tanpa tempat, tidak di dalam atau di luar surga, tidak di atas, bawah, belakang, depan, samping kanan atau-pun samping kiri)”” ( Lihat al-Fiqh al-Akbar dengan syarah Syekh Mulla Ali al-Qari, h. 136-137).

    Pada bagian lain dari Syarh al-Fiqh al-Akbar, yang juga dikutip dalam al-Washiyyah, al-Imam Abu Hanifah berkata:

    ولقاء الله تعالى لأهل الجنة بلا كيف ولا تشبيه ولا جهة حق

    “Bertemu dengan Allah bagi penduduk surga adalah kebenaran. Hal itu tanpa dengan Kayfiyyah, dan tanpa tasybih, dan juga tanpa arah” (al-Fiqh al-Akbar dengan Syarah Mulla ‘Ali al-Qari’, h. 138).

    Pernyataan al-Imam Abu Hanifah ini sangat jelas dalam menetapkan kesucian tauhid. Artinya, kelak orang-orang mukmin disurga akan langsung melihat Allah dengan mata kepala mereka masing-masing. Orang-orang mukmin tersebut di dalam surga, namun Allah bukan berarti di dalam surga. Allah tidak boleh dikatakan bagi-Nya “di dalam” atau “di luar”. Dia bukan benda,karena, tempat dan arah hanya berlaku bagi benda.

    sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama, diantaranya Asy-Asy-Syaikh Salamah al-Qudla’i al-‘Azami asy-Syafi’i (w 1376 H) Furqan al-Qur’an, h. 62 menuliskan: “المكان هو الموضع الذي يكون فيه الجوهر على قدره، والجهة هي ذلك المكان” “Tempat (al-Makân) adalah ruang yang ada di dalamnya suatu benda yang mencukupinya, dan arah (al-Jihah) adalah tempat tersebut”.

    Asy-Syaikh Yusuf bin Sa’id ash-Shafati al-Maliki (w 1193 H) Hasyiyah ash-Shafati, Nawaqidl al-Wudlu’, h. 27 menuliskan: “Ahlussunnah berkata: “Tempat adalah ruang kosong yang menyatu (berada) di dalamnya suatu benda”.

    Al-‘Allâmah Kamaluddin Ahmad bin Hasan al-Bayyadli al-Hanafi (w 1098 H) Isyarat al-Maram, h. 197 berkata: “المكان هو الفراغ الذي يشغله الجسم” “Tempat (al-Makân) adalah ruang yang dipenuhi oleh benda”.

    asy-Syaikh Muhammad bin Mukarram al-Ifriqiy al-Mishriy yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnul Manzhur (w 711 H), seorang ulama terkemuka pakar Nahwu, pakar bahasa, dan pakar sastra, berkata: “والجِهةُ والوِجْهةُ جميعًا: الموضع الذي تتوجه إليه وتقصده” “Al-Jihah dan al-Wijhah (arah) memiliki makna yang sama, yaitu suatu tempat yang kamu menghadap kepadanya dan yang kamu tuju”.

    Dia ada tanpa tempat dan tanpa arah. Inilah yang dimaksud oleh Al-Imam Abu Hanifah bahwa orang-orang mukmin akan melihat Allah tanpa tasybih, tanpa Kayfiyyah, dan tanpa kammiyyah.

  64. @Ibnu Manan

    Kalau bisa, pertanyaan saya sebelumnya juga di jawab. ini saya tambah lagi satu pertanyaan. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Abu Musa bahwa Rasulullah bersabda:

    (قيل) جَنّتَانِ مِنْ فِضّةٍ ءَانِيَتهُمَا وَمَا فِيْهمَا وَلَيسَ بَينَ القَوْم وَبَيْن أنْ يَنظُرُوا إلَى رَبّهمْ إلاّ ردَاء الكبْريَاءِ عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنّةِ عَدْنٍ

    [Makna literal riwayat ini tidak boleh kita ambil, mengatakan: ”Ada dua surga dari perak; setiap bejana dan segala apa yang ada di dalam keduanya. Antara penduduk surga tersebut dengan Tuhan mereka tidak ada penghalang kecuali selendang keagungan yang ada pada wajah Allah di dalam surga ’Adn]. [Makna literal ini mengatakan seakan Allah memiliki anggota wajah (muka) yang tertutupi oleh selendang, dan seakan Allah berada di dalam surga].

  65. Beda sekali ya paparan anatara santri pesantren sama santri copas…! hehe. jangan2 nyungseb nie @ibnu manan ato nanya dulu ama mbah google.

  66. Bismillah..
    @Akhi Agung..
    Antum mengatakan : Orang yang mengatakan Allah swt. di langit atau ‘arasy, tidak terlepas dari hal berikut :
    Pertama, mengatakan bahwa tempat itu bersifat azali (tidak ada permulaannya), keberadaannya bersama wujudnya Allah dan bukan termasuk makhluk Allah. Demikian ini berarti Anda mendustakan firman Allah subhanahu wa ta‘ala: “Allah-lah pencipta segala sesuatu.” (QS. al-Zumar : 62).
    Kedua, mereka mungkin berpendapat, bahwa Allah itu baru, yakni wujudnya Allah terjadi setelah adanya tempat, dengan demikian berarti Anda mendustakan ayat al-qur’an Qs. Al Hadid : 3 di atas.
    Ketiga, mereka mungkin berpendapat, bahwa sebelumnya Allah swt. ada tanpa tempat dan arah, namun setelah menciptakan tempat, arah, langit, atau ‘arasy, mereka mengatakan ada perubahan pada zat Allah swt. dari tidak bertempat, menjadi bertempat.
    Jawab : Siapa yang punya keyakinan seperti itu ya akhi???
    Keyakinan kami adalah : Allah azza wa jalla ada sebelum segalanya ada, Allah adalah pencipta segala sesuatu, Allah tidak diliputi oleh tempat, berada diluar alam yang hanya Allah saja yang maha tahu akan hakekatnya..
    Allah ada diatas segalanya, diatas langit dan diatas Arsy, maha tinggi dari segalanya..
    Bukan seperti keyakinan anda yang mengatakan Allah ada tanpa tempat dan arah, yakni tidak diatas, tidak dibawah, tidak kiri tidak dikanan, tidak dilangit dan tidak dibumi, padahal jelas-jelas Allah berfirman bahwa Dia ada diatas langit dan Arsy..
    Justru antumlah yang mengingkari firman Allah dalam banyak surah yang menerangkan bahwa Allah Istiwa (bukan Istawla) diatas langit..
    Antum mengingkarinya sesuai dengan hawa nafsu antum dengan cara ta’thil, tamtsil, tahrif dan takyif..
    Ahlu sunnah menerima firman Allah tentang keberadaan Allah tanpa ta’thil (meniadakan), tanpa tamtsil (menyerupakan), tanpa tahrif (mengubah makna), dan tanpa takyif (bertanya bagaimananya)..
    Ahlus sunnah tidak mengatakan bahwa Allah berada di suatu tempat yang meliputi Allah, akan tetapi mereka mengatakan bahwasanya Allah berada di atas, yaitu di arah atas.
    Ahlu sunnah mengatakan Allah diatas langit, bukan didalam langit.. Allah diatas Arsy bukan didalam Arsy..
    Saya ingin bertanya : adakah para sahabat melakukan ta’thil, tamtsil, tahrif dan takyif terhadap firman Allah itu?..
    Kalau antum mengaku mengikuti manhaj salaf dengan pemahaman para sahabat, maka sekarang sebutkan siapa sahabat yang antum ikuti sehingga melakukan metode tersebut??
    Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa antum atas fitnah antum terhadap ahlu sunnah…

    Antum mengatakan : Pertama, saya tidak yakin bahwa Imam al Asy’ary berkeyakinan seperti itu. Selain itu, Imam al Asy’ary adalah seorang tokoh besar, jika hal tersebut memang benar adanya, pastilah semua muridnya akan meriwayatkan hal tersebut. Nyatanya, tidak ada satupun orang yang bermazhab asy’ariyyah berkeyakinan seperti itu.
    Jawab : Ketahuilah akhi, Imam Abul Hasan al asy’ari telah mengalami tiga fase pemikiran : yakni periode mu’tazilah, periode : menetapkan sifat ‘aqliyyah Allah kemudian mentakwilnya dan akhirnya beliau rujuk ke manhaj salaf.. Pendapat beliau yang sesuai dengan hawa nafsu antum itu adalah perkataan beliau sebelum beliau rujuk.
    Ibnu Katsiir rahimahulah berkata :
    إن الأشعري كان معتزلياً فتاب منه بالبصرة فوق المنبر، ثم أظهر فضائح المعتزلة وقبائحهم
    “”Sesungguhnya Al-Asy’ariy dulunya seorang Mu’taziliy, lalu bertaubat di kota Bashrah di atas mimbar. Kemudian ia menampakkan kekeliruan dan kebobrokan Mu’tazilah” [Al-Bidaayah wan-Nihaayah, 11/187].

    Beliau mengalami fase menjadi imam kaum mu’tazilah adalah selama sekitar 40 tahun, maka pantas bahwa murid-murid beliau yang berpaham mu’tazilah sangat banyak, yaitu murid-murid beliau yang antum dan golongan antum ikuti itu..
    Adapun fase beliau kembali ke manhaj salaf sekitar kurang dari empat tahun sebelum beliau wafat, maka pantas murid beliaupun yang bermanhaj salaf hanya sedikit sekali.. (Wallahu a’lam..)

    Selanjutnya antum menulis yang intinya menuduh telah terjadi pemalsuan kitab yang ditulis oleh Abu Hanifah..
    Akhi, jangan antum sembarang memfitnah.. Kelihatannya antum memaksa-maksakan, perkataan Abu Hanifah yang tidak sesuai dengan hawa nafsu antum, maka antum mengatakan bahwa telah terjadi pemalsuan kitab..
    Ketahuliah ya akhi bahwa akidah Allah diatas langit dianut oleh banyak sekali ulama ahlu sunnah yang lurus.. Hanya golongan syiah, mu’tazilah dan jahmiyah saja yang punya pemahaman seperti antum..
    Imam al-Alusiy yang merupakan murid utama Imam Syafi’i menjelaskan:
    “ Dan engkau mengetahui bahwa madzhabus Salaf menetapkan ketinggian Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan oleh al-Imam AtThohawy dan yang selainnya, mereka berdalil dengan sekitar 1,000 dalil” (Lihat Tafsir Ruuhul Ma’aaniy fii Tafsiiril Qur’aanil ‘Adzhiim was Sab’il Matsaaniy juz 5 halaman 263).
    Antum belum menanggapai perkataan Syaikh Abdul Qadir Jailany yang pernah saya tuliskan sebelumnya yang termaktub dalam kitab kitabnya Al-Ghun-yah yang masyhur:
    [Allah berada di bagian atas langit, bersemayam di atas Arsy, menguasai kerajaan, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, kepada-Nya lah naik kata-kata yang baik dan amalan sholeh diangkatnya. Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, lalu urusan itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang sama dengan seribu tahun menurut perhitungan kalian.Tidak boleh Allah disifatkan bahwa Dia ada di segala tempat. Bahkan Dia di atas langit, di atas Arsy sebagaimana Allah berfirman, “Ar-Rahman (Allah) tinggi di atas Arsy”.
    Kitab Al-Ghun-yah di atas, judul lengkapnya adalah: “Ghun-yah Ath-Tholibin” sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Azhim Abadi dalam Aunul Ma’bud (3/300), dan Al-Mubarakfury dalam Tuhfah Al-Ahwadzi (7/430)
    Nah, beranikah antum mengatakan Abdul Kadir Jailany sesat/kafir padahal kitab manakibnya dibaca oleh pesantren NU seluruh Indonesia??
    Kalau antum mengatakan sesat atau kafir maka antum harus menghimbau kepada pesantren NU seluruh Indonesia agar tidak membaca lagi kitab manakib yang menceritakan tentang ulama yang sesat itu..

    Selanjutnya antum menulis : Di antara ayat-ayat al-Qur’an yang seringkali disalahpahami oleh kaum Mujassimah adalah firman Allah:
    أأمنْتُمْ مَنْ فِي السّمَاء (الملك: 16)
    [Makna literal ayat ini tidak boleh kita ambil, makna literalnya mengatakan seakan Allah berada di langit: ”Adakah kalian merasa aman terhadap yang ada di langit?”].
    Argumen kuat dan nyata telah menegaskan bahwa yang dimaksud ayat ini bukan dalam makna zahirnya [seperti pemahaman sesat kaum Musyabbihah yang menyimpulkannya bahwa Allah berada di langit], karena dasar kata ”في” [yang artinya ”di dalam”] dalam bahasa Arab dipergunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang ”berada di dalam sebuah tempat dengan diliputi oleh tempat itu sendiri”( للظرفية ); padahal Allah tidak diliputi oleh suatu apapun. Pemahaman ayat di atas tidak sesuai jika dipahami dalam makna indrawi seperti ini, karena bila demikian maka berarti Allah diliputi oleh langit [dan itu artinya bisa jadi sama besar, lebih besar, atau lebih kecil dari langit itu sendiri]. Pemahaman yang benar adalah bahwa ayat tersebut untuk mengungkapkan keagungan dan kemuliaan Allah.
    Jawab : Semakin kelihatan bahwa antum adalah ustadz yang mencla-mencle alias berubah-rubah ucapannya.. Bagaimana orang bisa percaya pada antum sementara perkataan antum dalam pembahasan ini berbeda jauh dengan perkataan antum sebelumnya dipembahasan yang lain??
    Antum tentunya masih ingat debat antum dengan abu aisyah beberapa bulan yang lalu yang kebetulan saya ikut menyimaknya..
    Disitu antum mengatakan (entah darimana dalilnya) bahwa yang dimaksud Surah Al-Mulk 16,17 adalah malaikat.. Kemudian abu aisyah mempertanyakan : “Kalau memang “Dia” yang dimaksud ayat ini adalah malaikat, kenapa huruf “D” ditulis dengan huruf besar?? Bahkan bukan cuma di Indonesia kitab terjemahan diseluruh dunia inipun demikian.. Kata Man atau Dia, huruf awalnya ditulis capital yang menandakan bahwa yang dimaksud adalah Allah azza wa jalla…
    Kemudian mungkin karena tidak mampu menjawab antum menghilang alias kabur selama beberapa bulan.. Dan muncul kembali dengan pembahasan yang lain…
    Nah sekarang antum berubah lagi dengan argumen yang berbeda…
    Ini jelas menunjukkan antum mengambil dalil sesuai dengan hawa nafsu antum…

    Wallahu a’lam…

  67. @Ibnu Manan

    Siapa yang punya keyakinan seperti itu ya akhi??? Keyakinan kami adalah : Allah azza wa jalla ada sebelum segalanya ada, Allah adalah pencipta segala sesuatu, Allah tidak diliputi oleh tempat, berada diluar alam yang hanya Allah saja yang maha tahu akan hakekatnya.. Allah ada diatas segalanya, diatas langit dan diatas Arsy, maha tinggi dari segalanya.. Bukan seperti keyakinan anda yang mengatakan Allah ada tanpa tempat dan arah, yakni tidak diatas, tidak dibawah, tidak kiri tidak dikanan, tidak dilangit dan tidak dibumi, padahal jelas-jelas Allah berfirman bahwa Dia ada diatas langit dan Arsy..

    JAWAB

    ‘Arasy atau langit itu makhluk dan baharu bukan? Pasti jawabannya adalah makhluk. Dari keterangan anda diatas, berarti anda termasuk kesesatan yang ketiga, dari tidak bertempat di langit dan ‘arasy, setelah menciptakan langit dan ‘arasy Allah swt. Kemudian bertempat. Artinya ada perubahan pada zat Allah swt, dan hal tersebut adalah mustahil.

    Imam asy-Syafi’i Muhammad ibn Idris (w 204 H), seorang ulama Salaf terkemuka perintis madzhab Syafi’i, berkata:

    إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكان ولا يجوز عليه التغير في ذاته ولا التبديل في صفاته (إتحاف السادة المتقين بشرح إحياء علوم الدين, ج 2، ص 24)

    “Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap dengan sifat-sifat-Nya yang Azali sebelum Dia menciptakan tempat tanpa tempat. Tidak boleh bagi-Nya berubah, baik pada Dzat maupun pada sifat-sifat-Nya” (LIhat az-Zabidi, Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn…, j. 2, h. 24).

    Anda pun mengatakan, “Allah tidak diliputi tempat….. tapi Allah diatas langit dan ‘Arasy”. Itulah kedustaan Ibnu Manan. Karena bila anda menetapkan arah, sama saja dengan menetapakan tempat bagi Allah swt.

    Ahli bahasa terkemuka; asy-Syaikh Muhammad bin Mukarram al-Ifriqiy al-Mishriy yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnul Manzhur (w 711 H), seorang ulama terkemuka pakar Nahwu, pakar bahasa, dan pakar sastra, dalam Lisan al ‘Arab, j. 13, h. 556 berkata:” “Al-Jihah dan al-Wijhah (arah) memiliki makna yang sama, yaitu suatu tempat yang kamu menghadap kepadanya dan yang kamu tuju”.

    Asy-Syaikh Musthafa bin Muhammad ar-Rumiy al-Hanafiy yang dikenal dengan sebutan al-Kastulliy (w 901 H) dalam Hasyiyah al Kastulli ‘Ala Syarh al ‘Aqa’id Li at Taftazani, h. 72 berkata: “Penyebutan kata al-Jihah (arah); terkadang yang dimaksud adalah bagi sebuah penghabisan dari isyarat indrawi atau gerakan-gerakan yang lurus. Dengan demikian kata al-Jihah adalah ungkapan bagi penghabisan jarak terjauh; yang itu merupakan tempat.

    Al-‘Allâmah asy-Syaikh Kamaluddin Ahmad bin Hasan yang dikenal dengan sebutan al- Bayyadli (w 1098 H), pernah memangku jabatan hakim wilayah kota Halab (Aleppo), dalam Isyarat al Maram, h. 197 berkata: “Definisi al-Jihah (arah) adalah nama bagi penghabisan dari sebuah isyarat, penghabisan tempat bagi sesuatu yang bergerak kepadanya; maka demikian dua sifat ini tidak terjadi kecuali hanya pada benda dan sifat benda saja. Itu semua adalah perkara mustahil bagi Allah”.

    Al-‘Allâmah asy-Syaikh Abdul Ghaniy an-Nabulsiy (w 1143 H) dalam Ra’ihah al Jannah Syarh Idla’ah ad Dujinnah, h. 49 berkata: “Definisi al-Jihah (arah) menurut para ahli teologi adalah sama dengan tempat dengan melihat adanya suatu benda yang bersandar kepadanya (berada padanya)”

    Al-‘Allâmah al-Muhaddits al-Faqîh asy-Syaikh Abdullah al-Harari asy-Syafi’i al-Asy’ari yang dikenal dengan sebutan al-Habasyi berkatadalam Al Mathalib al Wafiyyah Bi Syarh al ‘Aqidah an Nasafiyyah, h. 47: Karena definisi arah itu adalah batasan dan ujung dari tempat, atau bahwa arah itu adalah tempat itu sendiri dengan melihat dari adanya sesuatu yang lain yang disandarkan kepadanya

    Dalam kitab Dafu Syubah al-Tasybih bi-Akaffi al-Tanzih karya Imam Ibnul Jauzi salah seorang pembesar mazhab hambali dikatakan “………….karena dasar kata ”في” [yang artinya ”di dalam”] dalam bahasa Arab dipergunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang ”berada di dalam sebuah tempat dengan diliputi oleh tempat itu sendiri……..”.

    JADI, DARI KETERANGAN DIATAS JELAS SEKALI, ORANG YANG MENETAPKAN ARAH, SAMA DENGAN MENETAPKAN TEMPAT BAGI ALLAH SWT, DAN HAL ITU ADALAH MUSTAHIL, KARENA TEMPAT HANYA BERLAKU UNTUK BENDA ATAU MAKHLUK. SEPERTI YANG DIKATAKAN OLEH Al-‘Allâmah Kamaluddin Ahmad bin Hasan al-Bayyadli al-Hanafi (w 1098 H) dalam Isyarat al-Maram, h. 197 berkata: “Tempat (al-Makân) adalah ruang yang dipenuhi oleh benda”.

  68. @Ibnu Manan

    Semakin kelihatan bahwa antum adalah ustadz yang mencla-mencle alias berubah-rubah ucapannya.. Bagaimana orang bisa percaya pada antum sementara perkataan antum dalam pembahasan ini berbeda jauh dengan perkataan antum sebelumnya dipembahasan yang lain?? Antum tentunya masih ingat debat antum dengan abu aisyah beberapa bulan yang lalu yang kebetulan saya ikut menyimaknya.. Disitu antum mengatakan (entah darimana dalilnya) bahwa yang dimaksud Surah Al-Mulk 16,17 adalah malaikat.. Kemudian abu aisyah mempertanyakan : “Kalau memang “Dia” yang dimaksud ayat ini adalah malaikat, kenapa huruf “D” ditulis dengan huruf besar?? Bahkan bukan cuma di Indonesia kitab terjemahan diseluruh dunia inipun demikian.. Kata Man atau Dia, huruf awalnya ditulis capital yang menandakan bahwa yang dimaksud adalah Allah azza wa jalla…

    Kemudian mungkin karena tidak mampu menjawab antum menghilang alias kabur selama beberapa bulan.. Dan muncul kembali dengan pembahasan yang lain… Nah sekarang antum berubah lagi dengan argumen yang berbeda… Ini jelas menunjukkan antum mengambil dalil sesuai dengan hawa nafsu antum…

    JAWAB

    Dalam kitab Dafu Syubah al-Tasybih bi-Akaffi al-Tanzih karya Imam Ibnul Jauzi, ketika menafsirkan Qs. Al Mulk : 16, Beliau berkata :

    Di antara ayat-ayat al-Qur’an yang seringkali disalahpahami oleh kaum Mujassimah adalah firman Allah:
    أأمنْتُمْ مَنْ فِي السّمَاء (الملك: 16)

    [Makna literal ayat ini tidak boleh kita ambil, makna literalnya mengatakan seakan Allah berada di langit: ”Adakah kalian merasa aman terhadap yang ada di langit?”].

    Argumen kuat dan nyata telah menegaskan bahwa yang dimaksud ayat ini bukan dalam makna zahirnya [seperti pemahaman sesat kaum Musyabbihah yang menyimpulkannya bahwa Allah berada di langit], karena dasar kata ”في” [yang artinya ”di dalam”] dalam bahasa Arab dipergunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang ”berada di dalam sebuah tempat dengan diliputi oleh tempat itu sendiri”( للظرفية ); padahal Allah tidak diliputi oleh suatu apapun. Pemahaman ayat di atas tidak sesuai jika dipahami dalam makna indrawi seperti ini, karena bila demikian maka berarti Allah diliputi oleh langit [dan itu artinya bisa jadi sama besar, lebih besar, atau lebih kecil dari langit itu sendiri]. Pemahaman yang benar adalah bahwa ayat tersebut untuk mengungkapkan keagungan dan kemuliaan Allah.

    Tafsir Qs. Al Mulk : 16, menurut al-Imam al-Hafizh al-Iraqi

    firman Allah: ”A-amintum Man Fi as-Sama’” (QS. al-Mulk: 16), bahwa yang dimaksud dengan “Man Fi as-Sama’” adalah para Malaikat. Takwil ini sebagaimana telah dinyatakan oleh al-Imam al-Hafizh al-Iraqi dalam penafsiran beliau terhadap hadits yang berbunyi:

    ارْحَمُوْا مَنْ فِي الأرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السّمَاء (رواه الترمذي)

    Al-Hafizh al-Iraqi menafsirkan hadits ini dengan hadits riwayat lainnya yang berasal dari jalur sanad Abdullah ibn Amr ibn al-Ash, dari Rasulullah, bahwa Rasulullah bersabda:

    الرّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرّحِيْمُ ارْحَمُوْا أهْلَ الأرْضِ يَرْحَمْكُمْ أهْلُ السّمَاءِ

    Al-Hafizh al-Iraqi menuliskan: “Diambil dalil dari riwayat hadits yang menyebutkan “Ahl as-Sama’” (hadits kedua di atas) bahwa yang dimaksud dengan hadits pertama (yang menyebutkan “Man Fi as-Sama’”) adalah para Malaikat” (Amali al-Iraqi, h. 77).

    Apa yang dilakukan oleh al-Hafzih al-Iraqi ini adalah sebaik-baiknya metode dalam memahami teks; yaitu menafsirkan sebuh teks yang datang dalam syari’at (warid) dengan teks lainnya yang juga warid, inilah yang disebut Tafsir al-Warib Bi al-Warid, atau dalam istilah lain disebut at-Tafsir Bi al-Ma-tsur. Karena itu al-Hafizh al-Iraqi sendiri berkata dalam Alfiah-nya:

    وَخَيْرُ مَا فَسَّرْتَهُ بالوَارِدِ كَالدُّخِّ بِالدُّخَانِ لاِبْنِ صَائِدِ

    “Sebaik-baik cara engkau menafsirkan teks yang warid adalah dengan menafsirkannya dengan teks yang warid pula, seperti penafsiran kata al-Dukh dengan makna al-Dukhan, sebagaimana telah dinyatakan oleh Ibn Sha’id”.

    Dengan demikian riwayat hadits ke dua ini menafsirkan makna firman Allah QS. al-Mulk: 16 tersebut di atas. Maka makna “yang ada di langit (Man Fi as-Sama’)” adalah para Malaikat, karena para Malaikat memiliki kekuasaan untuk menggulung bumi terhadap orang-orang musyrik seperti yang dimaksud oleh ayat tersebut. Artinya, jika para Malaikat tersebut diperintah oleh Allah untuk melakukan hal itu maka pastilah mereka akan melakukannya. Demikian pula dalam pengertian ayat seterusnya; ”Am Amintum Man Fi as-Sama…” (QS. al-Mulk: 17), yang dimaksud ayat ini adalah para Malaikat Allah. Artinya, bahwa para Malaikat yang berada di langit tersebut memiliki kekuasaan untuk mengirimkan angin keras yang dapat menghancurkan orang-orang musyrik.

    KESIMPULAN, SAYA HANYA MENUKIL DARI ULAMA, BUKAN MENAFSIRKAN SENDIRI. DARI KEDUA TAFSIRAN DIATAS, BENANG MERAHNYA ADALAH, YANG DIMAKSUD DI LANGIT BUKANLAH ALLAH SWT.

  69. @Ibnu Manan

    Ketahuilah akhi, Imam Abul Hasan al asy’ari telah mengalami tiga fase pemikiran : yakni periode mu’tazilah, periode : menetapkan sifat ‘aqliyyah Allah kemudian mentakwilnya dan akhirnya beliau rujuk ke manhaj salaf.

    JAWAB

    Asy-Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari mengatakan bahwa kitab al-Ibânah yang sekarang beredar sama sekali tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, karena kitab ini sudah lama sekali berada di bawah kekuasaan kaum Musyabbihah, hingga mereka telah melakukan reduksi terhadapnya dalam berbagai permasalahn pokok akidah. (Muqaddimât al-Imâm al-Kautsari, h. 247)

    BENARKAH IMAM ABU HASAN AL-ASY’ARI MELALUI TIGA FASE PEMIKIRAN ?

    Al-Imam Abu Bakr bin Furak berkata:

    “Syaikh Abu al-Hassan Ali bin Ismail al-Asy`ari radiyallahu`anhu berpindah daripada mazhab Muktazilah kepada mazhab Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah dan membelanya dengan hujjah-hujjah rasional dan menulis karangan-karangan dalam hal tersebut…” (Tabyin Kidzb al-Muftari, al-Hafiz Ibn Asakir(1347H) tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, Maktabah al-Azhariyyah li at-Turats, cet.1, 1420H, hal 104)
    Sejarawan terkemuka, al-Imam Syamsuddin Ibn Khallikan berkata: “Abu al-Hassan al-Asy`ari adalah perintis pokok-pokok akidah dan berupaya membela mazhab Ahl al-Sunnah. Pada mulanya Abu al-Hassan adalah seorang Muktazilah, kemudian beliau bertaubat dari pandangan tentang keadilan Tuhan dan kemakhlukan al-Quran di masjid Jami` Kota Basrah pada hari Jum’at”. (Wafayat al-A’yan, al-Imam Ibn Khallikan, Dar Shadir, Beirut, ed. Ihsan Abbas, juz 3, hal. 284)

    Sejarawan al-Hafiz al-Dzahabi berkata: “Kami mendapat informasi bahawa Abu al-Hassan al-Asy`ari bertaubat dari faham Muktazilah dan naik ke mimbar di Masjid Jami’ Kota Basrah dengan berkata, “Dulu aku berpendapat bahwa al-Quran itu makhluk dan Sekarang aku bertaubat dan bertujuan membantah terhadap faham Muktazilah”. (Siyar A`lam al-Nubala, al-Hafidz al-Dzahabi, Muassasah al-Risalah, Beirut, ed. Syuaib al-Arnauth, 1994, hal. 89)

    Sejarawan terkemuka, Ibn Khaldun berkata: “Hingga akhirnya tampil Syaikh Abu al-Hassan al-Asy`ari dan berdebat dengan sebagian tokoh Muktazilah tentang masalah-masalah shalah dan aslah, lalu dia membantah metodologi mereka (Muktazilah) dan mengikut pendapat Abdullah bin Said bin Kullab, Abu al-Abbas al-Qalanisi dan al-Harits al-Muhasibi dari kalangan pengikut Salaf dan Ahl al-Sunnah”. (Ibn Khaldum(2001), al-Muqaddimah, Dar al-Fikr, Beirut, ed. Khalil Syahadah, hal. 853)

    Fakta yang dikemukakan oleh Ibn Khaldun tersebut menyimpulkan bahwa setelah al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari keluar daripada faham Muktazilah, beliau mengikuti mazhab Abdullah bin Sa`id bin Kullab, al-Qalanisi dan al-Muhasibi yang merupakan pengikut ulama’ Salaf dan Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah.

    Demikian juga, fakta sejarah yang dinyatakan di dalam buku-buku sejarah yang menulis biografi al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari seperti Tarikh Baghdad karya al-Hafiz al-Khatib al-Baghdadi, Tabaqat al-Syafi`iyyah al-Kubra karya al-Subki, Syadzarat al-Dzahab karya Ibn al-Imad al-Hanbali, al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn al-Atsir, Tabyin Kizb al-Muftari karya al-Hafiz Ibn Asakir, Tartib al-Madarik karya al-Hafiz al-Qadhi Iyadh, Tabaqat al-Syafi`iyyah karya al-Asnawi, al-Dibaj al-Muadzahhab karya Ibn Farhun, Mir`at al-Janan karya al-Yafi`i dan lain-lain, semuanya sepakat bahwa setelah al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari keluar dari faham Muktazilah, beliau kembali kepada mazhab Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah yang mengikuti metodologi Salaf.

    KEMUDIAN IBNU MANAN MENUKIL PERKATAAN IBNU KATSIR

    “”Sesungguhnya Al-Asy’ariy dulunya seorang Mu’taziliy, lalu bertaubat di kota Bashrah di atas mimbar. Kemudian ia menampakkan kekeliruan dan kebobrokan Mu’tazilah” [Al-Bidaayah wan-Nihaayah, 11/187].

    DARI PERKATAAN IBNU KATSIR DIATAS, DI BAGIAN MANA BELIAU MENGATAKAN IMAM ABU HASAN AL ASY’ARY MELALUI 3FASE PEMIKIRAN SEBAGAIMANA YANG ANDA DAKWAKAN?

  70. @Ibnu Manan

    Ketahuliah ya akhi bahwa akidah Allah diatas langit dianut oleh banyak sekali ulama ahlu sunnah yang lurus.. Hanya golongan syiah, mu’tazilah dan jahmiyah saja yang punya pemahaman seperti antum..
    Imam al-Alusiy yang merupakan murid utama Imam Syafi’i menjelaskan: “ Dan engkau mengetahui bahwa madzhabus Salaf menetapkan ketinggian Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan oleh al-Imam AtThohawy dan yang selainnya, mereka berdalil dengan sekitar 1,000 dalil” (Lihat Tafsir Ruuhul Ma’aaniy fii Tafsiiril Qur’aanil ‘Adzhiim was Sab’il Matsaaniy juz 5 halaman 263).

    JAWAB

    Kata “fawq” dalam makna zhahir berarti “di atas”. Dalam penggunaannya, kata fawq ini tidak hanya untuk mengungkapkan tempat dan arah atau makna indrawi, tapi juga biasa dipakai dalam penggunaan secara maknawi; yaitu untuk mengungkapkan keagungan, kekuasaan dan ketinggian derajat. Kata fawq dengan dinisbatkan kepada Allah disebutkan dalam al-Qur’an dalam beberapa ayat, itu semua wajib kita yakini bahwa makna-maknanya bukan dalam pengertian tempat dan arah.

    Al-Hâfizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa makna ini; yaitu makna menguasai dan menundukan serta ketinggian derajat, adalah makna yang dimaksud dari salah salah satu sifat Allah; al-‘Uluww. Dan inilah makna yang dimaksud dari firman Allah: “Sabbihisma Rabbik al-‘Ala” (QS. Al-A’la: 1), dan firman-Nya: “Wa Huwa al-‘Alyy al-‘Azhim” (QS al-Baqarah: 255). Karena makna al-‘Uluww dalam pengertian indrawi, yaitu tempat atau arah atas hanya berlaku pada makhluk saja yang notabene sebagai benda yang memiliki bentuk dan ukuran, tentunya hal itu adalah suatu yang mustahil bagi Allah. Dalam hal ini Ibn Hajar menuliskan sebagai berikut: “Sesungguhnya mensifati Allah dengan sifat al-‘Uluww adalah dalam pengertian maknawi, karena mustahil memaknai al-‘Uluww (pada hak Allah) dalam pengertian indrawi. Inilah pengertian sifat-sifat Allah al-‘Aali, al-‘Alyy, dan al-Muta’ali”.

    Pada halaman lain dalam kitab yang sama, al-Hâfizh Ibn Hajar menuliskan alasan mengapa para ulama sangat keras mengingkari penisbatan arah bagi Allah, adalah tidak lain karena hal itu sama saja dengan menetapkan tempat bagi-Nya. Dan sesungguhnya Allah mustahil membutuhkan kepada tempat, karena Dia bukan benda yang memiliki bentuk dan ukuran, dan Dia tidak boleh disifati dengan sifat-sifat benda (Fath al-Bari Bi Syarh Shahih al-Bukhari, j. 3, h. 30, j. 7, h. 124, dan j. 11, h. 505).

    Al-Imâm Badruddin ibn Jama’ah dalam Idlah ad-Dalil menuliskan sebagai berikut:

    “Allah berfirman: “Wa Huwa al-Qahiru Fawqa ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18), dan berfirman tentang para Malaikat: “Yakhafuna Rabbahum Min Fawqihim” (QS. An-Nahl: 50). Ketahuilah bahwa penggunaan kata fawq dalam bahasa Arab terkadang dipergunakan untuk mengungkapkan tempat yang tinggi, terkadang juga dipergunakan untuk mengungkapkan kekuasaan, juga untuk mengungkapkan derajat yang tinggi. Contoh untuk mengungkapkan kekuasaan, firman Allah: “Yadullah Fawqa Aidihim” (QS. Al-Fath: 10), dan firman-Nya: “Wa Huwa al-Qahiru Fawqa ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18). Pemahaman fawq dalam dua ayat ini adalah untuk mengugkapkan kekuasaan. Contoh untuk mengungkapkan ketinggian derajat, firman Allah: “Wa Fawqa Kulli Dzi ‘Ilmin ‘Alim” (QS. Yusuf: 76). Tidak ada seorangpun yang memahami makna fawq dalam ayat ini dalam pengertian tempat, karena sangat jelas bahwa yang dimaksud adalah ketinggian kekuasaan dan kedudukan.

    Telah kita jelaskan di atas bahwa adanya tempat dan arah bagi Allah adalah sesuatu batil, maka dengan demikian menjadi jelas pula bagi kita bahwa pemaknaan fawq pada hak Allah pasti dalam pengertian ketinggian derajat dan keagungan-Nya. Karena itu dalam penggunaanya dalam ayat QS. Al-An’am: 18 di atas bersamaan dengan al-Qahhar; salah satu nama Allah yang berarti maha menguasai dan maha menundukan. Kemudian dari pada itu, penggunaan kata fawq jika yang dimaksud pegertian tempat dan arah maka sama sekali tidak memberikan indikasi kemuliaan dan keistimewaan. Karena sangat banyak pembantu atau hamba sahaya yang bertempat tinggal di atas atau lebih tinggi dari tempat tuannya, -apakah itu menunjukan bahwa pembantu dan hamba sahaya tersebut lebih mulia dari majikannya sendiri?!- Karenanya, bila dikatakan dalam bahasa Arab: “al-Ghulam Fawq as-Sulthan” atau “al-Ghulam Fawq as-Sayyid”, maka tujuannya bukan untuk pujian, tetapi yang dimaksud adalah untuk menyatakan tempat dan arah. Adapun penggunaan kata fawq untuk tujuan pujian maka makna yang dituju adalah dalam pengertian menguasai, menundukan, dan ketinggian derajat. Dan pengertian inilah yang dimaksud dengan ayat “Yakhafuna Rabbahum Min Fawqihim” (QS. An-Nahl: 50). Karena sesungguhnya seorang itu merasa takut terhadap yang memiliki derajat dan keagungan lebih tinggi darinya” (Idlah ad-Dalil Bi Qath’i Hujaj Ahl at-Ta’thil, h. 108-109).

    Inilah pengertian fawq pada hak Allah, yaitu bukan dalam pengertian tempat dan arah, tapi dalam pengertian ketinggian derajat dan keagungan-Nya. Pemaknaan inilah yang telah disepakati oleh para ulama ahli tafsir, seperti al-Imâm al-Qurthubi, dan lainnya (Lihat al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 3, h. 78, j. 20, 15, j. 12, h. 91, j. 4, h. 217, j. 11, h. 223 dan di banyak halaman lainnya).

    Al-Imâm Ibn Jahbal dalam Risalah Fi Nafy al-Jihah ‘An Allah menuliskan sebagai berikut:

    “Penggunaan kata fawq dikembalikan kepada dua pengertian. Pertama; Fawq dalam pengertian tempat bagi suatu benda yang berada di atas benda lainnya. Artinya posisi benda yang pertama berada di arah kepala posisi benda yang kedua. Pemaknaan semacam ini tidak akan pernah dinyatakan bagi Allah kecuali oleh seorang yang berkeyakinan tasybîh dan tajsîm. Kedua; Fawq dalam pengertian ketinggian derajat dan kedudukan. Contoh, bila dikatakan dalam bahasa Arab: “al-Khalifah Fawq as-Sulthan Wa as-Sulthan Fawq al-Amir”, maka artinya: “Khalifah lebih tinggi kedudukannya di atas raja, dan raja lebih tinggi kedudukannya di atas panglima”, atau bila dikatakan: “Jalasa Fulan Fawq Fulan”, maka artinya: “Si fulan yang pertama kedudukannya di atas si fulan yang kedua”, atau bila dikatakan: “al-‘Ilmu Fawq al-‘Amal” maka artinya: “Ilmu kedudukannya di atas amal”. Contoh makna ini dalam firman Allah: “Wa Rafa’na Ba’dlahum Fawqa Ba’dlin Darajat” (QS. Az-Zukhruf: 32), artinya Allah meninggikan derajat dan kedudukan sebagian makhluk-Nya atas sebagian yang lain. Makna ayat ini sama sekali bukan dalam pengertian Allah menjadikan sebagian makhluk-Nya berada di atas pundak sebagian yang lain. Contoh lainnya firman Allah tentang perkataan para pengikut Fir’aun: “Wa Inna Fawqahum Qahirun” (QS. Al-A’raf: 127). Yang dimaksud ayat ini adalah bahwa para pengikut yang setia kepada Fir’aun -merasa- menguasai dan lebih tinggi kedudukannya di atas Bani Isra’il. Makna ayat ini sama sekali bukan berarti para pengikut Fir’aun tersebut berada di atas pundak-pundak atau di atas punggung-punggung Bani Isra’il” (Lihat dalam Risalah fi Nafy al-Jihah dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah, j. 9, h. 47. Risalah ini adalah bantahan keras terhadap Ibn Taimiyah yang mengatakan bahwa Allah bertempat di atas arsy).

    Al-Imâm al-Hâfizh Jalaluddin as-Suyuthi dalam al-Itqan Fi ‘Ulum al-Qur’an menuliskan tentang pemahaman fawq pada hak Allah, sebagai berikut:

    “…antara lain sifat fawqiyyah, seperti dalam firman-Nya: “Wa Huwa al-Qahiru Fawqa ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18), dan firman-Nya: “Yakhafuna Rabbahum Min Fawqihim” (QS. An-Nahl: 50). Makna fawq dalam ayat ini bukan dalam pengertian arah atas. Makna fawq dalam ayat tersebut sama dengan makna fawq dalam firman Allah yang lain tentang perkataan Fir’aun: “Wa Inna Fawqahum Qahirun” (QS. Al-A’raf: 127), bahwa pengertiannya bukan berarti Fir’aun berada di atas pundak Bani Isra’il, tapi dalam pengertian ia menguasai Bani Isra’il”.

    Salah seorang ulama bahasa yang sangat terkenal, az-Zujaji, dalam kitab Isytiqaq Isma’ Allah al-Husna menuliskan bahwa makna al-‘Alyy dan al-‘Aali pada hak Allah adalah yang menguasai dan menundukan segala sesuatu.

    Al-Imâm Abu Manshur al-Baghdadi dalam kitab Tafsir al-Asma Wa ash-Shifat menuliskan sebagai berikut:

    “Makna ke tiga; bahwa pengertian al-‘uluww adalah al-Ghalabah (menguasai dan menundukan), seperti dalam firman Allah: “Wa Antum al-A’lawna…” (QS. Ali ‘Imran: 139), artinya: Kalian dapat menguasai dan menundukan musuh-musuh kalian. Contoh lainnya, seperti bila dikatakan dalam bahasa Arab: “’Alawtu Qarni…”, artinya: Saya telah menguasai teman-teman sebaya saya. Contoh lainnya, firman Allah: “Inna Fir’auna ‘Ala Fi al-Ardl” (QS. Al-Qashash: 4), artinya: Fir’aun seorang yang berkuasa, sombong, dan durhaka. Contoh lainnya, firman Allah: “Wa an La Ta’lu ‘Alallah” (QS. Ad-Dukhan 19), artinya: Janganlah kalian sombong atas Allah. Contoh lainnya, firman Allah tentang perkataan Nabi Sulaiman: “Alla Ta’lu ‘Alayya Wa’tuni Muslimin” (QS. An-Naml: 31), artinya: Janganlah kalian sombong atasku dan datanglah kalian kepadaku dalam keadaan Islam.

    Al-Imâm al-Qâdlî Badruddin ibn Jama’ah dalam Idlah ad-Dalil dalam menjelaskan firman Allah: “Wa Huwa al-‘Alyy al-‘Azhim” (QS. Al-Baqarah: 255), firman Allah: “Sabbihisma Rabbik al-A’la” (QS. Al-A’la: 1), dan firman Allah: “Wa Huwa al-‘Alyy al-Kabir” (QS. Saba’: 23), menuliskan bahwa makna-makna itu semua penjelasannya adalah dalam pemahaman ketinggian derajat, keagungan, dan kekuasaan-Nya, bukan dalam pengertian arah atau tempat yang tinggi. Kita semua sepakat dalam memahami makna-makna dari beberapa ayat tentang “Ma’iyyah Allah”, seperti dalam firman-Nya: “Wa Huwa Ma’aku Ainama Kuntun” (QS. Al-Hadid: 4), dan firman-Nya: “Inn Allah Ma’a al-Ladzinattaqau…” (QS. An-Nahl: 128), bahwa makna “Ma’a” dalam ayat-ayat semacam ini bukan dalam pengertian Dzat Allah menyertai setiap makhluk-Nya. Artinya, bahwa ayat-ayat ini tidak boleh dipahami secara zhahir (literal). Demikian pula dalam memahami makna al-‘Alyy, al-‘Aali, atau al-Muta’ali pada hak Allah, itu semua tidak boleh dipahami dalam makna zhahirnya. Banyak dalil yang menunjukan kepada pemahaman makna semacam di sini, di antaranya firman Allah: “Wa Antum al-A’lawna…” (QS. Ali ‘Imran: 139), juga firman Allah tentang Nabi Musa “La Takhaf Innaka Anta al-A’la” (QS. Thaha: 68), serta firman Allah: “Wa Kalimatullah Hiya al-‘Ulya” (QS. At-Taubah: 40). Ayat-ayat ini semua sama sekali bukan untuk menunjukan tempat dan arah atas, tapi yang dimaksud adalah ketinggian kedudukan dan martabat (Idlah ad-Dalil Fi Qath’i Hujaj Ahl at-Ta’thil, h. 110-111).

    Ahli tafsir terkemuka, al-Imâm al-Qurthubi dalam tafsirnya dalam penjelasan makna firman Allah: “Wa Annallaha Huwa al-‘Alyy al-Kabir” (QS. Al-Hajj: 62), menuliskan sebagai berikut:

    “al-‘Alyy artinya bahwa Allah maha menguasai atas segala sesuatu, Dia Maha Suci dari segala keserupaan dan penentang, dan Maha Suci dari segala pernyataan orang-orang kafir yang mensifati-Nya dengan sifat-sifat yang tidak sesuai bagi keagungan-Nya. Al-Kabir artinya bahwa Dia Allah yang maha agung dan maha besar dalam derajatnya, (bukan dalam makna bentuk). Menurut pendapat lain, makna al-Kabir adalah bahwa Dia Allah yang memiliki segala kesempurnaan. Artinya bahwa wujud Allah itu mutlak; Dia ada tanpa permulaan (al-Qadim al-Azali) dan tanpa penghabisan (al-Baqi al-Abadi)” (Tafsir al-Qurthubi, j. 12, h. 91).

    Al-Imâm Abu al-Qasim al-Anshari an-Naisaburi dalam kitab Syarh al-Irsyad (al-Irsyad, kitab teologi Ahlussunnah karya Imam al-Haramain) menuliskan pasal khusus dalam penjelasan makna-makna tentang ini semua. Simak tulisan beliau berikut ini:

    “Pasal; Tentang makna al-‘Azhamah, al-‘Uluww, al-Kibriya’ dan al-Fawqiyyah. Seluruh orang Islam telah sepakat bahwa Allah maha agung. Dia lebih agung dari segala sesuatu yang agung. Dan makna al-‘Azhamah, al-‘Uluww, al-Izzah, ar-Rif’ah, dan al-Fawqiyyah -dengan dinisbatkan kepada Allah-, semuanya satu pengertian. Yaitu bahwa Dia Allah maha memiliki segala sifat kesempurnaan dan segala sifat kesucian. Artinya bahwa Allah maha suci dari menyerupai makhluk-Nya, maha suci dari memiliki sifat-sifat benda, suci dari kebutuhan, suci dari kekurangan. Dan hanya Dia Allah yang memiliki sifat-sifat ketuhanan, seperti sifat Qudrah (kuasa) yang mencakup atas segala sesuatu -yang ja’iz ‘aqli-, sifat Iradah (kehendak) yang akan terlaksana bagi segala sesuatu yang ia kehendaki-Nya, sifat ‘Ilm (mengetahui) yang mencakup atas segala sesuatu dari makhluk-Nya, maha memiliki sifat al-Jud dan sifat ar-Rahmah, maha pemberi segala kenikmatan, maha memiliki sifat as-Sama’, al-Bashar, al-Qaul al-Qadim (sifat kalam yang bukan berupa huruf, suara dan bahasa), dan maha kekal”.

    Al-Hâfizh Ibn al-Jawzi dalam kitab Daf’u Syubah at-Tasybîh, dalam penjelasan firman Allah: “Wa Huwa al-Qahiru Fawqa ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18), menuliskan sebagai berikut: “Penggunaan kata fawq biasa dipakai dalam mengungkapkan ketinggian derajat. Seperti dalam bahasa Arab bila dikatakan:“Fulan Fawqa Fulan”, maka artinya si fulan yang pertama (A) lebih tinggi derajatnya di atas si fulan yang kedua (B), bukan artinya si fulan yang pertama berada di atas pundak si fulan yang kedua. Kemudian, firman Allah dalam ayat tersebut menyebutkan “Fawqa ‘Ibadih”, artinya, sangat jelas bahwa makna yang dimaksud bukan dalam pengertian arah. Karena bila dalam pengertian arah, maka berarti Allah itu banyak di atas hamba-hamba-Nya, karena ungkapan dalam ayat tersebut adalah “’Ibadih” (dengan mempergunakan kata jamak)“ (Daf’u Sybah at-Tasybîh Bi Akaff at-Tanzih, h. 23).

    di kalangan ulama madzhab Hanafi, masih pada periode Salaf pasca generasi al-Imâm Abu Hanifah, ada seorang ulama besar ahli teologi dan ahli hadits dan juga ahli fiqih, yaitu al-Imâm Abu Ja’far ath-Thahawi (w 321 H). Tulisan risalah akidah Ahlussunnah yang beliau bukukan, yang dikenal dengan al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah, menjadi salah satu rumusan yang benar-benar terkodifikasi sebagai penjabaran akidah al-Imâm Abu Hanifah dan para Imam Salaf secara keseluruhan. Hingga sekarang risalah al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah ini menjadi sangat mashur sebagai akidah Ahlussunnah, telah diterima dari masa ke masa, dan antara generasi ke genarasi. Walaupun al-Imâm Abu Ja’far ath-Thahawi tidak pernah bertemu dengan al-Imâm Abu Hanifah, karena memang tidak semasa dengan beliau, namun ungkapan-ungkapan yang beliau tulis dalam risalahnya tersebut adalah persis ungkapan-ungkapan al-Imâm Abu Hanifah yang beliau kutip dengan sanad-nya dari para murid-murid al-Imâm Abu Hanifah sendiri. Dalam pembukaan risalah al-‘Aqîdah ath Thahâwiyyah ini, al-Imâm ath-Thahawi menuliskan: “Ini adalah penjelasan akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah, di atas madzhab para ulama agama; Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit al-Kufi, Abu Yusuf Ya’qub ibn Ibrahim al-Anshari, dan Muhammad ibn al-Hasan asy-Syaibani. (Lihat matan al-‘Aqîdah at-Thahâwiyyah dalam Izhâr al-‘Aqîdah as-Sunniyyah Bi Syarh al ‘Aqîdah at-Thahâwiyyah, karya al-Imâm al-Hâfizh asy-Syaikh Abdullah al-Habasyi, h. 341)

    Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227- 321 H) berkata: “Maha suci Allah dari
    batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas
    akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota
    badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi
    oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti
    makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

    DARI PENJELASAN DIATAS, PENETAPAN KETINGGIAN BAGI ALLAH SWT. BUKAN DALAM HAL TEMPAT DAN ARAH, TAPI DALAM MAKNA KEAGUNGAN, KEKUASAAN DAN KETINGGIAN DERAJAT.

  71. @Ibnu Manan

    Selanjutnya antum menulis yang intinya menuduh telah terjadi pemalsuan kitab yang ditulis oleh Abu Hanifah.. Akhi, jangan antum sembarang memfitnah.. Kelihatannya antum memaksa-maksakan, perkataan Abu Hanifah yang tidak sesuai dengan hawa nafsu antum, maka antum mengatakan bahwa telah terjadi pemalsuan kitab..

    JAWAB

    Begini ya mas bro, anda mengutip pendapat Imam Hanafi yang diriwayatkan oleh Dari Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy.

    Asy-Syaikh ‘Ali Mulla al-Qari di dalam Syarah al-Fiqh al-Akbar menuliskan sebagai berikut:
    “Ada sebuah riwayat berasal dari Abu Muthi’ al-Balkhi bahwa ia pernah bertanya kepada Abu Hanifah tentang orang yang berkata “Saya tidak tahu Allah apakah Dia berada di langit atau berada di bumi!?”. Abu Hanifah menjawab: “Orang tersebut telah menjadi kafir, karena Allah berfirman “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa”, dan arsy Allah berada di atas langit ke tujuh”. Lalu Abu Muthi’ berkata: “Bagaimana jika seseorang berkata “Allah di atas arsy, tapi saya tidak tahu arsy itu berada di langit atau di bumi?!”. Abu Hanifah berkata: “Orang tersebut telah menjadi kafir, karena sama saja ia mengingkari Allah berada di langit. Dan barangsiapa mengingkari Allah berada di langit maka orang itu telah menjadi kafir. Karena Allah berada di tempat yang paling atas. Dan sesungguhnya Allah diminta dalam doa dari arah atas bukan dari arah bawah”.
    Kita jawab riwayat Abu Muthi’ ini dengan riwayat yang telah disebutkan oleh al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam dalam kitab Hall ar-Rumuz, bahwa al-Imam Abu Hanifah berkata: “Barangsiapa berkata “Saya tidak tahu apakah Allah di langit atau di bumi?!”, maka orang ini telah menjadi kafir. Karena perkataan semacam ini memberikan pemahaman bahwa Allah memiliki tempat. Dan barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat maka orang tersebut seorang musyabbih; menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya”. Al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam adalah ulama besar terkemuka dan sangat terpercaya. Riwayat yang beliau kutip dari al-Imam Abu Hanifah dalam hal ini wajib kita pegang teguh. Bukan dengan memegang tegung riwayat yang dikutip oleh Ibn ‘Abi al-Izz; (yang telah membuat syarah Risalah al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah versi akidah tasybih). Di samping ini semua, Abu Muthi’ al-Balkhi sendiri adalah seorang yang banyak melakukan pemalsuan, seperti yang telah dinyatakan oleh banyak ulama hadits” (Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 197-198).
    Asy-Syaikh Musthafa Abu Saif al-Hamami, salah seorang ulama al-Azhar terkemuka, dalam kitab karyanya berjudul Ghauts al-‘Ibad Bi Bayan ar-Rasyad menuliskan beberapa pelajaran penting terkait riwayat Abu Muthi’ al-Balkhi di atas, sebagai berikut: Bahwa pernyataan yang dinisbatkan kepada al-Imam Abu Hanifah tersebut sama sekali tidak ada penyebutannya dalam al-Fiqh al-Akbar. Pernyataan semacam itu dikutip oleh orang yang tidak bertanggungjawab, dan dengan sengaja ia berdusta mengatakan bahwa itu pernyataan al-Imam Abu Hanifah dalam al-Fiqh al-Akbar, tujuannya tidak lain adalah untuk mempropagandakan kesesatan orang itu sendiri.

    KESIMPULAN, RIWAYAT YANG ANDA BAWAKAN ADALAH LEMAH. KEMUDIAN, YANG MENGATAKAN TELAH TERJADI PEMALSUAN KITAB BUKAN SAYA, TAPI Asy-Syaikh Musthafa Abu Saif al-Hamami, SEBAGAIMANA DIA BERKATA “pernyataan yang dinisbatkan kepada al-Imam Abu Hanifah tersebut sama sekali tidak ada penyebutannya dalam al-Fiqh al-Akbar”.

  72. @Ibnu Manan

    asy-Syaikh Abd al-Qadir berkeyakinan seperti keyakinan al-Imâm Ahmad ibn Hanbal, dan benar pula asy-Syaikh Abd al-Qadir bermadzhab Hanbali, namun keyakinan beliau tidak seperti keyakinan kalian. Asy- Syaikh Abd al-Qadir seorang Ahl at-Tanzîh, sementara kalian adalah Ahl at-Tasybîh.

    Syaikh Abd al-Qadir seorang Ahl at-Tanzîh adalah seorang sufi. Beliau adalah salah satu panutan dalam tasawuf. Di kalangan NU, Tasawuf yang diterima, dalam masalah aqidah, harus bermazhab asy’ariyyah maturidiyyah. Seandainya Syaikh Abd al-Qadir berkeyakinan seperti yang anda dakwakan, tentu saja beliau tidak akan jadi rujukan

  73. @ibnu manan

    dulu, saya sering aktif karena blm bekerja. alhamdulillah skrng sy sudah bekerja. tempat kerja saya agak terpencil, saya internetan cuma modal hp nokia C2 yg tidak bisa 3G, hanya sebata GPRS DAN EDGE, tp alhamdulillah punya Hp 😀

  74. @ibnu manan

    kl buka web ummati lewat hp, agak susah. untuk pertanyaan mas bro yg tidak bisa saya jawab, saya haturkan permohonan maaf. besok sy jg mau berangkat k tmpt kerja, jd sepertiny tidak aktif lagi. satu hal lagi, saya bukan ahli istidalal, jd jngn panggil saya ustadz, saya cuma muqollid.

  75. Bismillah…

    Pertama :
    Fase pemikiran Imam Abul Hasan al Asy’ari..
    Imam Ibnu Katsir, beliau berkata: “Mereka (para ulama) menyebutkan tiga fase kehidupan Abul Hasan Al-Asy’ari, Fase pertama, berfaham Mu’tazilah. Fase kedua: penetapan sifat tujuh yaitu hayat, ilmu, qudroh, irodah, sam’u, bashar, dan kalam dengan berdasarkan kaidah akal. Adapun sifat Khobariyah, seperti wajah, dua tangan, kaki, betis dan lainnya dita’qil (ditahrif). Fase ketiga, menetapkan semua sifat khobariyah tadi dengan tanpa ditakyif dan tasybih menurut faham salaf. Inilah metode yang beliau tempuh seperti dijabarkan dalam kitab al Ibanah, karya terakhir beliau” (Ithaf Sadatil Muttaqin, Murtadho Az- Zabidi, 2/5 cet. Darul Fikr).
    Ibnu Taimiyah berkata: “Abul Hasan Al-Asy’ari dahulunya adalah seorang Mu’tazilah, ketika keluar darinya dia mengikuti faham Muhammad bin Kullab” (Majmu‘Fatawa 5 /556) hal ini diakui pula oleh Ad Dzahabi dan selainnya (lihat Siyar A’laminubala 2/228)

    Kedua :
    Antum masih ngotot bahwa yang dimaksud Man fissama… dalam surah al Mulk 16 adalah malaikat??
    Akhi, beberapa bulan yang lalu ketika saya umrah, saya melihat di Masjid Nabawi ada kitab-kitab tafsir Al qur’an dari seluruh dunia.. Kemudian saya teringat dialog antum dengan abu aisyah.. Saya ingin membuktikan apakah benar yang dikatakan abu aisyah bahwa semua tafsir Surah Al Mulk 16 diseluruh dunia ini menulis bahwa yang dimaksud Man atau Dia adalah Allah azza wa jalla bukan malaikat seperti tafsiran antum..
    Dan ternyata ketika saya cek satu persatu, benar kata abu aisyah..
    Tidak ada satu tafsiranpun diseluruh dunia ini yang menafsirkan Man atau Dia adalah malaikat seperti kata antum…
    Nah, apakah antum mungkin menuduh bahwa Pemerintah Arab Saudi telah memalsukan tafsiran kitab suci Al Qur’an diseluruh dunia??? .. Subhanallah…

    Ketiga : Antum berkata : Asy-Syaikh Abd al-Qadir berkeyakinan seperti keyakinan al-Imâm Ahmad ibn Hanbal, dan benar pula asy-Syaikh Abd al-Qadir bermadzhab Hanbali, namun keyakinan beliau tidak seperti keyakinan kalian. Asy- Syaikh Abd al-Qadir seorang Ahl at-Tanzîh, sementara kalian adalah Ahl at-Tasybîh.
    Syaikh Abd al-Qadir seorang Ahl at-Tanzîh adalah seorang sufi. Beliau adalah salah satu panutan dalam tasawuf. Di kalangan NU, Tasawuf yang diterima, dalam masalah aqidah, harus bermazhab asy’ariyyah maturidiyyah. Seandainya Syaikh Abd al-Qadir berkeyakinan seperti yang anda dakwakan, tentu saja beliau tidak akan jadi rujukan
    Jawab : Akhi, kenyataan yang terjadi bahwa Syaikh Abdul qadir Jailani beraqidah dengan pemahaman sebaliknya dari yang kalian pahami.. Ini tertulis dalam kitab beliau : Al-Ghun-yah yang judul lengkapnya adalah: “Ghun-yah Ath-Tholibin” sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Azhim Abadi dalam Aunul Ma’bud (3/300), dan Al-Mubarakfury dalam Tuhfah Al-Ahwadzi (7/430)..
    Apa antum juga menuduh kitab ini palsu??? Laa haula walaa quwwata illa billah…

  76. Bismillah….

    Maaf Mas Ibnu Manan@, diskusi yang pernah terjadi antara mas Agung dan mas Abu Aisyah saat itu kami yang melanjutkan, namun sayang diskusinya terhenti disebabkan mas Abu Aisyah tidak nongol lagi…

    Apakah anda ingin melanjutkan ?…. kami tunggu kesediaan anda dengan syarat dsiskusi tidak berhenti ditengah jalan….

    Salam Ukhuwah dari pelajar pemula…

  77. @ibnu manan

    dari kutipan ibnu taimiyah, cm d jelaskan, dari muktazilah mengikuti ibn kullab! jd, d bagian mana ibnu taimiyah dan ad zahabi mengatakan asy’ary melalui 3 fase pemikiran? mhn penjelasanny.

  78. @ibnu manan

    syaikh, apa arti ayat, “di manapun kalian menghadap, d sanalah Wajah Allah” al baqoroh : 115? Metode salaf dlm ayat mutasyabihat, mayoritas, d sebut tawfidh, mengimani, sifat benda mustahil, Allah maha suci, dan menyerahkan artinya kpd Allah.

  79. perdebatan seru. tp ada satu hal yg terlihat dlm pemahaman ibnu manan ga suka takwil ( kyknya asli gemblengan ulama wahabiyah saudi), ya semoga dia cepet tobat atas perkeliruannya

  80. Kalo dah kalah debatnya Si Sawah itu ujung2nya ya web ini, site ini ato si Fulan ini Si’ah yaaa.
    he he he… makanya mas Bro Jenggotnya dirapikan, karena kerapian adalah pangkal kepandaian,
    coba buku2 sekolah klo tidak rapi mau ujian bisa dapet Nol Besar, akhirnya ya copas sama tetangga sebelah yg ga tau benar salahnya… yg penting enjoy aja Bro… mau masuk Nar or Jannah bebaaaaasssss.

  81. Wah seru bacanya plus commentnya nih.. Nambah wawasan… Ibnu manan lg sibuk nyari rujakan y, eh rujukan maksud saya. Artikel ini alhamdulillah sangat membantu pemahaman saya… Tararenkyu admin. Semoga Allah selalu memberikan rahmat dan hidayahNya untuk kita semua. Amiin… Mohon maaf jika ada salah kata 🙂

  82. mudahan Pak Ibnu Manan sedang sibuk aja sehingga belum sempat merespond pertanyaan mas Agung, kekuatiran saya mungkin sama seperti mas mamak, Pak Ibnu Manan akhirnya enggan melanjutkan diskusi ini…
    mas Mamak, jika tidak merepotkan saya bisa minta link diskusi mas Agung dengan Pak Abu Aisyah sebelumnya??

  83. Al-hamdulillah UmmatiPress sudah aktif kembali meneruskan dakwah Ahlu Sunnah Wal-jama`ah , semoga saudara-saudara kita yang terkontaminasi / terpengaruh virus Nejd dapat tercerarahkan dan kembali pada Faham Aswaja.

    to mas Admin saya kesulitan meng akses Ummati press kalau dari PC di rumah barangkali ada saran …..?

  84. assalamu`alaikum warahmatullah wabarakatuh
    perdebatan yang mantap antara mas agung dan mas ibnu. kalo menurut pengamatanku dari bahasa dan argumentasi yang digunakan, terlihat mas agung seperti pemain bola yang lihai dan menguasai lapangan, sehingga lawan mainnya terlihat keteteran.

  85. saya tau maunya wahàbi dia mau menggantikan ahlussunnah. banyak kitab ahlussunnah dipalsukan. sehingga masyarakat gk bisa bedain lagi mana wahabi mana ahlussunnah, hadits najd di takwil irak agar yg dimaksud tanduk setan adalah para ulama ahlussunnah yg memang bnyak muncul diirak. sehingga ujung2nya dimasa mendatang yg dicap tanduk setan ya ahlusunnah wal jamaah bukan wahabi. makanya mereka bersikeras mentakwil najd jadi irak. pdhal kalau di ayat istiwa mereka gk mau takwil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker